Anda di halaman 1dari 13

ANLISIS JAMU BERSODA

Oleh :

MUHAMMAD HASHFIANSHAH
GABRIEL FRANCISCO
CHINTIA

KELAS : XI-IPA

SMA YADIKA 6 PONDOK AREN


JL.Jurangmangu Barat Raya No 25 A, Pondok Aren
Tangerang – Banten 15223
LEMBAR PENGESAHAN

Karya tulis ini di buat sebagai pengaju dalam perlombaan karya tulis yang akan di lombakan dan
telah disetujui oleh :

Mengetahui,

Kepala SMA Yadika 6 Pembimbing

Dra.Efriska.Ompusunggu Drs.Imansyah

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas karunia-Nya, penulis dapat
menyelesaikan karya tulis yang berjudul pembuatan ”Jamu Bersoda”

Karya tulis ilmiah ini dibuat untuk mengikuti perlombaan pemuatan karya tulis,di samping itu,
penulis juga berharap karya tulis ini meberikan konstribusi dalam menunjang pengetahuan para
siswa pada khususnya dan pihak lain pada umumnya.

Dengan terselesaikanya karya tulis ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak
yang telah membantu dan memberikan bantuan dalam pembuatan karya tulis ini yang tidak dapat
disebut satu persatu.

Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih masih jauh dari sempurna.Oleh karena itu penulis
mangharapkan saran dan kerituk yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi
kesempurnaan karya tulis ini.

Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi semua.

Tangerang.7 Oktober 2009

Tim Penulis

Ii
DAFTAR ISI

Lembar pengesahan …………………………………………………………i


Kata Pengantar …………………………………………………………ii
Daftar Isi …………………………………………………………iii

BAB I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang ………………………………………………….1
1.2 Rumusan Masalah …………………………………………2
1.3 Tujuan Penelitian …………………………………………2
1.4 Metode Penelitian …………………………………………2

BAB II. Landasan Teori


2.1 Asal-Usul Jamu …………………………………………3

BAB III. Isi


3.1.1 Manfaat jamu secaraUmum…………………………………….5
3.1.2 Manfaat jamu secara kesehatan..……………………………….7

3.1.3 Manfaat dari baha-bahan jamu………………………………….7

BAB IV. PENUTUP


4.1 Kesimpulan …………………………………………………..8
4.2 Saran …………………………………………………………..8

DAFTAR PUSTAKA
iii

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Jamu adalah suat minuman tradisional khas Indonesia yang sudah ada dari zaman dahulu
Hal ini dibuktikan dengan adanya prasasti Madhawapura dari zaman majapahit yang menyebut
adanya tukang peramu jamu yang disebut acaraki.Jamu dapat bermanfaat sebagai penjaga
kesehatan,dapat menghilangkan rasa pegal – pegal,mengencangkan kulit wajah,dan lain-lain yang
tidak dapat disebutkan satu persatu.dan kami ingin masyarakat luas tidak salah kaprah terhadap
minuman jamu yang dikenal pahit,tapi ternyata di dalam kandungan dalam bahan pembuatan
jamu banyak zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh kita.contohnya adalah jamu pahitan jamu ini
dapat bermanfaat dalam pengobatan gatal-gatal dan kencing manis.
Pada saat ini masyarakat Indonesia masih tidak mangerti manfaat jamu yang sebanarnya,yang
jika dikupas satu persatu permasalahnya dapat menghasilkan manfaat yang luar biasa dalam
kesehatan, karena jamu terbuat dari bahan-bahan herbal yang tidak terkandung hal-hal kimia
didalamnya.
1

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang dapat diangkat dalam permasalahan ini adalah:


Bagaimana pengaru jamu dalam ilmu kesehatan.

1.3 Tujuan Penelitian

1. Pengaruh jamu bagi kesehatan


2. Menambah pengetahuan tarhadap diri sendiri
3. Memberi refrensi pustaka sekolah

1.4 Metode Penelitian

Metode yang akan kami ambil dalam maslah ini adalah metode kepustakaan
Yaitu mengumpilkan data dengan mengambil data dari bahan pustaka yang relevan dengan bahan
penelitian.Selaiin itu metode yang digunakan ada lah metode obsevasi yaitu,metode dengan
pengumpulan data dengan menggunakan indera
2
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Asal Usul Jamu

Jamu adalah produk ramuan tunggal atau campuran dari bahan alam yang digunakan untuk
pemaliharaan kesehatan,pencegahan penyakit,pengobatan penyakit,pemulihan kesehatan
,kebugaran dan kecantikan.
Jamu adalah produk ramuan tunggal atau campuran dari bahan alam yang digunakan untuk
pemeliharaan kesehatan,pencegahan penyakit,pengobatan penyakit,pemulihan
kesehatan,kebugaran dan kecantikan.
Penggunaan jamu dimilai sejak zaman pra-sejarah, bukti sejarah yang mendukung asal usul jamu
di Indonesia dapat di telusuri melalui penemuan peralatan batu dari zaman Mesolithikum dan
Neolithikum berupa lumping yang telah digunakan oleh nenek moyang untuk memperoses
makanan dan jamu.
data artefaktual di bidang pengobatan ditemukan pada relief Karmawipangga pada candi
Borobudur, relief candi Brambang komplek candi Prambanan yang dibangun sekitar abad 8-9
masehi, juga candi Panataran, sukuh dan Tekalwangi. Relief pada candi Borobudur
menggambarkan pembuatan jamu menggunakan pipisan untuk perawatan kesehatan dengan
pemijatan dan penggunaan ramuan jamu atau Saden Saliro.

Sejak abad 5 Masehi, bukti tertulis mengenai penggunaan jamu dalam pengobatan ditemukan
pada naskah atau primbon. Terbukti dengan adanya prasasti candi Perot tahun 772 Masehi,
Haliwangbang tahun779 Masehi, dan Kadadu tahun 1216 Masehi. Penggunaan jamu dan resep-
resep jamu dalam pengobatan juga ditemukan pada daun lontar menggunakan bahasa jawa kuno,
Sansekerta dan Bahasa Bali. Lontar yang ditulis dengan menggunakan bahasa bali yaitu: Usada
atau Lontar Kesehatan pada tahun 991 – 1016 Masehi. Berbagai prasasti lainnya pada sekitar
abad 13 Masehi mendukung bukti sejarah penggunaan jamu. Pada prasasti tersebut banyak
memuat profesi dibidang kesehatan antara lain terdapat pada prasasti Madhawapura yang
menyebutkan profesi ACARAKI atau peracik Jamu. Istilah jamu muncul pada zaman Jawa Baru,
dimulai sekitar abad pertengahan 15-16 masehi.

Menurut pakar bahasa Jawa Kuno, jamu berasal dari singkatan dua kata, Djampi dan Oesodo.
Djampi adalah bahasa Jawa Kuno yang berarti penyembuhan yang menggunakan ramuan obat-
obatan atau doa doa dan ajian-ajian dan Oesodo berarti kesehatan. Kata Dlampi kenal sebagai
bahasa jawa Kromo Inggil yang digunakan oleh Priyayi Jawa. Sedangkan istilah yang digunakan
oleh masyarakat umum (Bahasa Jawa Madyo) untuk pengobatan adalah jamu yang diperkenalkan
oleh dukun atau tabib, ahli pengobatan tradisional pada masa itu.
Primbon terlengkap mengenai Djampi baru ditulis setelah zaman kerajaan Kartosuro adalah Serat
Centhini yang ditulis atas perintah Kanjeng Gusti Adipati Anom
Amengkunegoro III yang memerintah Surakarta pada tahun 1820-1823 masehi dan Serat Kaoro
Bap Djampi-Djampi atau tulisan pengetahuan tentang jamu Jawa yang dituis pada tahun 1858
masehi memuat sebanyak 1734 ramuan Djampi. Catatan yang sudah menggunakan istilah jamu
ditemukan pada Serat Parimbon Djampi Ingkang Sampoen Kangge Ing Salami-laminipoen tahun
1875 masehi dan buku RESEP.

3
Berbagai karya tulis tentang tanaman di Nusantara yang berkhasiat obat, pencegahan penyakit
serta pengobatan yang pada berbagai etnis di Indonesia berperan cukup besar dalam
perkembangan pengetahuan tentang jamu di Indonesia. produksi jamu gendong diawali pada abad
16 masehi dan berkembang menjadi industri jamu sekala rumah tangga yang dirintis oleh Ny.
Item dan Ny. Kembar di Ambarawa, Jawa Tengah pada tahun 1825 masehi.

Di awal tahun 1900an, industri jamu semakin berkembang seiring dengan trend “Back To
Nature” yang melanda pasar di dunia. Berkat industri-industri ini, jamu yang dulunya hanya
digunakan oleh kalangan terbatas, kini dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Jamu
menjadi mudah diperoleh di seluruh pelosok negeri, bahkan sampai di eksport ke mancanegara.
Penggunaan jamu menjadi sangat khas, yaitu sebagai pemeliharaan kesehatan, pencegahan
penyakit, pengobatan penyakit, pemulihan kesehatan, kebugaran, relaksasi dan kecantikan.

Saat ini diperkirakan 80% penduduk Indonesia menggunakan jamu. Produk jamu kini telah
diproses secara modern dengan menggunakan teknologi terbaru, baik dalam pengolahan,
pengemasan dan pengujian secara klinis yang lebih terjamin. Standarisasi bahan baku, pengujian
keamanan dan khasiat telah banyak dilakukan dan sistem produksi telah mengacu kepada cara
pembuatan obat yang baik. Produk jamu dikelompokkan menjadi; jamu tradisional, jamu
terstandar dan jamu fitofarmaka.

Sampai saat ini jumlah industri jamu yang tergabung dalam GP Jamu sebanyak 1166 industri,
yang menyerap tenaga kerja kurang lebih 3 juta orang dengan perkiraan omzet pada tahun 2008
sebesar 7,2 trilyun rupiah atau naik 20% dari tahun 2007. Bertitik tolak dari bukti sejarah diatas
dan eratnya penggunaan ramuan bahan alam dalam kehidupan sehari-hari, jamu sudah menjadi
bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Sehingga jamu telah menjadi ciri khas Bangsa
Indonesia. Jamu adalah Brand Indonesia.
4

BAB III
ISI

3.1 Manfaat jamu Tradisional bagi kesehatan

3.1.1 Manfaat jamu secara umum

Manfaat Jamu Tradisional Indonesia

Terlahir dan dibesarkan dalam kalangan keluarga yang lebih mengedepankan


pengobatan tradisional, tentu aroma jamu-jamuan sudah tidak asing lagi bagi indera
penciuman saya. Sejak kecil saya sudah dijejali atau istilah dalam bahasa jawa
“dicekok” dengan aneka jamu-jamuan, mulai dari jamu beras kencur untuk nafsu makan
dan menghindari masuk angin. Jamu asem kunyit agar badan segar terutama selagi
menstruasi, serta jamu sirih agar rahim sehat dan selaput keperawanan tetap kencang.
Sirih yang akan diracik menjadi jamu pun harus yang tulang batang didaunnya bertaut
satu sama lain. Entah alasan apa yang mendasarinya, tapi mitos itu sangat dipercaya
oleh para leluhur dan keturunan yang terus melestarikannya. Ada pemikiran bahwa
bentuk sirih yang menyerupai area “V” perempuan dipercaya mempunyai kekuatan
magis dan zat antiseptik alami yang tak hanya memberi aroma segar pada daerah
sensitif perempuan, tapi juga mengencangkan panggul rahim sehabis melahirkan.

Disamping itu, ada jenis sirih merah yang berguna untuk mengobati penyakit diabetes,
darah tinggi, asam urat, maag, kencing manis dan kelelahan. Caranya sangat
sederhana, cukup minum 1 gelas rebusan sirih merah setiap hari untuk mengobati
berbagai macam penyakit tersebut.

Bagaimana dengan rasanya ? Namanya saja jamu tradisional yang bahan-bahannya


murni dari alam, tentu tidak ada yang rasa orange apalagi strawberry. Karena tidak
diramu secara kimiawi yang dengan menambahkan bahan pemanis buatan. Semua rasa
pahit harus ditelan dalam satu kali tegukan agar aroma menyengat dan rasa pahit tidak
berlama-lama ada di tenggorokan kita.

Bila kita ingin mengkaji sejauh mana manfaat dari Jamu Tradisional Indonesia,
sepertinya akan menghabiskan bab demi bab yang begitu banyak mengurai bahan-
bahan alami jamu yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan yang ada di Indonesia. Apalagi
pengetahuan tentang pengobatan tradisional dengan jamu, sudah dikenal sejak periode
kerajaan Hindu-Jawa. Hal ini dibuktikan dengan adanya Prasasti Madhawapura dari
jaman Majapahit yang menyebut adanya tukang meramu jamu yang disebut Acaraki.
Pada relief candi Borobudur sekitar tahun 800 – 900 masehi, juga menggambarkan
adanya kegiatan membuat jamu.Konon, pada zaman dahulu kala para selir raja yang
jumlahnya bisa mencapai 40 orang. Saling berlomba mempelajari ilmu meracik jamu.
Semakin bervariasi dan tinggi ilmu yang dimilikinya terutama untuk urusan area ’V’.
Maka kemungkinan untuk ‘didatangi’ sang raja akan semakin sering. Hingga semakin
berkembanglah metode dan racikan jamu untuk menyenangkan kaum lelaki, bahkan
akhir-akhir ini tampak semakin menjamur salon V spa untuk ratus vagina yang memakai
bahan dasar ramuan tradisional jamu Indonesia.

3.2.2 Manfaat jamu dalam bidang kesehatan

Badan Kesehatan Dunia (WHO) melalui World Health Asembly


merekomendasikan penggunaan herbal medicine dalam pemeliharaan
kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit, terutama
untuk penyakit-penyakit kronis, degeneratif dan kanker. Namun demikian,
dalam penerapannya, diperlukan kebijakan dan regulasi yang
jelas.Khususnya, menyangkut peran obat tradisional dalam pelayanan
kesehatan, serta memastikan bahwa mekanisme tersebut tidak melanggar
undang-undang yang berlaku.

3.3.3 Manfaat dari bahan – bahan pembuat jamu

Kegunaan dan manfaat kunyit sebagai obat adalah rimpang; untuk, antikoagulan, antiedemik,
menurunkan tekanan darah, obat malaria, obat cacing, obat sakit perut, memperbanyak ASI,
stimulan, mengobati keseleo, memar dan rematik.

Jahe merupakan pereda rasa sakit yang alami dan dapat meredakan nyeri rematik, sakit kepala,
dan migren.

Sereh dikenal diengan minyak astiri dapat digunakan sebagai bahan urut rematik, Batangnya
dapat digunakan sebagai peluruh air seni, peluruh keringat, peluruh dahak/obat batuk, bahan
untuk kumur penghangat badan. Sedangkan daunnya dapat digunakan sebagai peluruh angin
kentut, penambah nafsu makan, pengoabatan pasca persalinan, penurun panas dan pereda kejang.

Asam jawa (tamarindus indica) adalah sebuah kultivar (varietas) daerah tropis dan termasuk
tumbuhan berbuah polong. Buah asam per 100 gram mengandung kalori sebesar 239 kal, protein
(memperkuat daya tahan tubuh) 2,8 gram, lemak (sumber energi bagi tubuh) 0,6 gram, hidrat
arang (zat penambah tenaga) 62,5 gram, kalsium (mengisi kepadatan tulang) 74 miligram, fosfor
(memperkuat tulang) 113 miligram, zat besi (metabolisme energi dan sistem kekebalan tubuh)
7

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan.
Ternyata di Negara Indoneisa ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui benar tantang
manfaat dari jamu.terutama dalam asal -usulnya maupun cara pembuatanya
Namun tidak sedikit juga yang mengetahui manfata jamu bagi kesehatan.

4.2 Saran
Sebaiknya masyarakat Indonesia mengerti manfaat jamu karena selain berguna untuk menjaga
kesehatan dapat juga merangsang perkembangan tubuh dan otak,dan sebaiknya jangan sekali
sekali meremehkan kahasiat jamu tradisional karena bahan bahan yang terbuat dari bahan alami
lebih baik dari pada bahan bahan yang terbuat dari bahan kimia, karena jikalau bahan kimia itiu
dipergunakan secara terus menerus dapat menyebabkan kerusakan fatal pada organ tubuh kita
8

DAFTAR PUSTAKA

www.google.com
www.yahoo.com