Anda di halaman 1dari 5

1

AbstrakPercobaan dengan judul penggunaan alat ukur


VOM telah selesai dilakukan. Percobaan ini bertujuan untuk
mempelajari karakteristik VOM, pada pengukuran tegangan,
arus searah dan bolak-balik, serta menggunakan alat ukur VOM
untuk mengukur hambatan (), tegangan (V), dan arus (I).
Prinsip kerja yang dilakukan dalam percobaan ini adalah
menggunakan prinsip elektromagnetik yang terjadi pada sistem
kumparan putar magnet permanen atau yang disebut dengan
prinsip moving coil darsonval. Prinsip kerjanya secara singkat
adalah ketika kumparan pada inti besi menerima arus, dan inti
besi tersebut terdapat dalam sebuah medan magnet dari sebuah
magnet permanen, akan menyebabkan kumparan tersebut
berputar. Ketika kumparan berputar, jarum penunjuk akan ikut
bergerak yang menyebabkan kopel pegas yang ada akan
menyeimbangkan kopel magnetik, sehingga jarum akan
menunjuk pada skala tertentu. Pada percobaan ini, dilakukan 3
pengukuran, yaitu pengukuran arus searah, pengukuran
tegangan searah, dan pengukuran arus bolak-balik. Percobaan
ini dilakukan pada tegangan 5 volt, 12 volt, dan 15 volt. Setelah
didapatkan semua data, maka dilakukan perhitungan untuk
V
hitung
, V
min
, V
max
, I
hitung
, I
min
, I
max
, dan R
in
. Hasil percobaan
menunjukkan bahwa VOM merupakan alat ukur listrik yang
dapat digunakan untuk mengukur nilai hambatan, tegangan, dan
arus yang ada pada suatu rangkaian AC maupun DC. Dalam
penggunaan alat ukur VOM ini diperlukan ketepatan
pembacaan skala yang terukur dan menggunakan range atau
batasan yang dimiliki oleh alat ukur. Saat V dan I melebihi batas
maksimal ataupun batas minimal suatu alat, maka tidak akan
terbaca nilai besarnya.

Kata KunciAlat ukur listrik, moving coil dArsonval,
resistor, tegangan, arus.
I. PENDAHULUAN
esaran-besaran listrik seperti hambatan, tegangan, arus
dan lain-lain tidak dapat diukur secara langsung,
sehingga dibutuhkanlah sebuah alat yang fungsinya
mentransformasikan suatu pengamatan fisis yang ada ke
dalam besaran listrik dan dapat diamati nilainya secara
langsung oleh pengamat. Secara umum, ada beberapa jenis
alat ukur listrik, yaitu berdasarkan jenis arus yang masuk dan
juga prinsip kerja yang dilakukan oleh alat ukur dalam
melakukan pengukuran. Untuk alat ukur listrik berdasarkan
jenis arus yang masuk dibagi lagi menjadi dua, yaitu alat ukur
listrik untuk arus searah (DC) dan alat ukur listrik untuk arus
bolak-balik (AC), baik untuk tegangan maupun arus.
Sedangkan yang berdasarkan prinsip kerja, dibagi menjadi alat
ukur listrik digital, yang bekerja berdasarkan sistem digital
atau elektronik, dan juga alat ukur listrik analog, yang bekerja
berdasarkan prinsip elektromagnetik dan hasil pengukuran
yang didapatkan diperoleh dengan menganalogikan sudut
simpangan jarum penunjuk dengan kuat arus atau pun
tegangan yang menyebabkannya[1]. VOM atau Volt-Ohm-
Miliamper merupakan sebuah alat ukur listrik yang dapat
digunakan dalam pengukuran besarnya hambatan, tegangan,
serta arus, baik yang searah maupun bolak-balik. VOM juga
bisa disebut sebagai multitester atau multimeter. Berdasarkan
prinsipnya multimeter ini terbagi menjadi 2 jenis multimeter
analog dan multimeter digital.
Percobaan ini menggunakan prinsip moving coil
darsonval yakni mekanisme kumparan putar magnet
permanen, yang tidak jauh dengan prinsip dari galvanometer.
Galvanometer merupakan sebuah alat ukur yang fungsinya
sebagai detektor arus listrik karena adanya kumparan putar[1].
Prinsip kerja galvanometer adalah ketika arus melewati
kumparan yang telah dililitkan pada inti besi yang terpasang
didalam inti besi, dan kumparan tersebut berada di dalam
sebuah medan magnet, kumparan tersebut akan bergerak. Bila
arus mengalir di dalam kumparan maka torsi elektromagnetik
yang dihasilkan akan menyebabkan perputaran kumparan
tersebut[5]. Medan magnet yang ada disekitar inti besi tersebut
merupakan suatu medan yang disebabkan oleh magnet
permanen berbentuk tapal kuda. Inti besi tersebut diletakkan
sedemikian rupa sehingga dapat bergerak dan terdapat sedikit
ruang antara kutub magnet permanen dengan silinder
kumparan. Arus yang melewati kumparan tersebut akan
menyebabkan terjadinya garis-garis medan magnet yang ada
di antara kumparan dengan magnet permanen. Pada saat
kumparan bergerak, jarum penunjuk akan ikut bergerak
sehingga pegas yang ada di ujung inti besi akan menegang dan
menghasilkan suatu kopel yang melawan kopel magnetik.
Kumparan maupun jarum penunjuk akan berhenti ketika kopel
magnetik setimbang dengan kopel pegas, dan saat berhenti
tersebut, jarum akan menunjuk angka pada skala yang
merupakan nilai dari besaran yang diukur. Jika tiba-tiba arus
diputus, jarum penunjuk akan kembali ke nol, karena tidak ada
arus yang mengalir pada kumparan. Sehingga posisi jarum
penunjuk akan kembali ke posisi semula, yaitu angka nol.
Resistor merupakan suatu alat yang membatasi arus listrik
yang akan mengalir ke suatu komponen elektronik. Setiap
bahan mempunyai nilai tahanan tertentu terhadap aliran
listrik[2]. Semakin besar arus yang diinginkan maka nilai
resistansi suatu resistor harus semakin kecil, berlaku juga
sebaliknya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa resistor
berbanding terbalik dengan arus yang mengalir dalam suatu
rangkaian. Bila resistor disambungkan seri, selisih potensial
total yang melewati gabungan itu adalah jumlah selisih
potensial individu. Sedangkan untuk arus yang melalui tiap-
tiap resistor adalah sama dan sama besar dengan arus yang
melalui gabungan resistor seri tersebut. Apabila resistor
disambungkan paralel, selisih potensial adalah sama besar
untuk tiap-tiap resistor dan sama dengan selisih potensial yang
melewati gabungan paralel itu. Dan arus total yang melalui
gabungan itu sama dengan jumlah arus yang melalui resistor
Penggunaan Alat Ukur (E1)
Maria Fransisca Gracynthia, Indah Ayu P
Jurusan Fisika, Fakultas MIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail: mfransisca@ymail.com
B
2
individual[3]. Resistor yang sudah diketahui nilainya,
mempunyai nilai toleransi sendiri-sendiri. Nilai toleransi
tersebut merupakan suatu acuan yang digunakan sebagai
penentuan batas bawah dan batas atas dari sebuah resistor.
Resistor tersebut dapat diketahui nilainya dari cincin-cincin
warna yang terdapat pada bagian luar resistor tersebut.
Bila di dalam konduktor terdapat medan listrik, gerakan
muatan-muatan baik yang bermuatan positif maupun negatif,
yang mulanya bergerak sembarang akan searah, yaitu muatan
positif bergerak searah medan listrik sedangkan muatan
negatif akan melawan arah medan, dan terjadilah arus
listrik[4].
II. METODE
A. Tahap Telaah
Dalam percobaan ini, ada beberapa langkah dalam
penggunaan alat ukur VOM. Langkah pertama adalah
rangkaian dasar dari alat ukur VOM dipersiapkan terlebih
dahulu, yaitu resistor, catu daya, project board, multimeter
analog dan penjepit buaya. Kemudian, rangkaian tersebut
disusun pada project board sesuai dengan prosedur untuk
setiap pengukuran yang telah ditentukan. Resistor yang
digunakan dalam percobaan ini ada 4 buah, yaitu 2 resistor
bernilai 200 , dan 2 resistor lagi bernilai 1000 . Dalam
percobaan kali ini, praktikan harus bisa membaca nilai dari
resistor yang tidak diketahui besarnya. Nilai resistor dapat
diketahui dari cincin-cincin warna yang ada pada setiap
resistor. Kemudian, tegangan sumber yang digunakan adalah 5
volt dan 12 volt untuk pengukuran tegangan dan arus searah,
sedangkan 12 volt dan 15 volt untuk pengukuran tegangan
bolak-balik. Dalam percobaan ini dilakukan 3 macam
pengukuran yang berbeda, yaitu pengukuran tegangan searah
(DC), pengukuran arus searah (DC), dan pengukuran tegangan
bolak-balik (AC).

2.1. Pengukuran tegangan searah

Gambar 1. Rangkaian alat untuk pengukuran tegangan searah

Rangkaian disusun sesuai dengan gambar 1. Kemudian
rangkaian tersebut disambungkan dengan catu daya yang
telah terhubung dengan tegangan sumber (PLN). Setelah itu,
besar tegangan diukur dengan menggunakan multimeter pada
titik A-B dan titik B-C. Pengukuran dilakukan pada tegangan
5 volt untuk range VOM 10-50 dan pada tegangan 12 volt
untuk range VOM 50-250. Selanjutnya, dicatat dalam tabel
nilai tegangan terukur yang terlihat pada multimeter.

2.2. Pengukuran arus searah

Gambar 2. Rangkaian alat untuk pengukuran arus searah

Rangkaian disusun sesuai dengan gambar 2. Kemudian
rangkaian tersebut disambungkan dengan catu daya yang
telah terhubung dengan tegangan sumber (PLN). Setelah itu,
besar arus diukur dengan menggunakan multimeter.
Pengukuran dilakukan pada tegangan 5 volt untuk range VOM
10-50 dan pada tegangan 12 volt untuk range VOM 50-250.
Dan R yang digunakan adalah hambatan sebesar 100 .
Selanjutnya, dicatat dalam tabel nilai arus terukur yang terlihat
pada multimeter.

2.3. Pengukuran tegangan bolak-balik


Gambar 3. Rangkaian alat untuk pengukuran tegangan bolak-balik

Rangkaian disusun sesuai dengan gambar 3. Kemudian
rangkaian tersebut disambungkan dengan catu daya yang
telah terhubung dengan tegangan sumber (PLN). Setelah itu,
besar tegangan diukur dengan menggunakan multimeter pada
titik A-B dan titik D-E. Pengukuran dilakukan pada tegangan
12 volt untuk range VOM 50-250 dan pada tegangan 15 volt
untuk range VOM 50-250. Selanjutnya, dicatat dalam tabel
nilai tegangan terukur yang terlihat pada multimeter.

B. Tahap Perhitungan
Setelah semua pengukuran telah dilakukan dan semua
data telah tercatat dalam tabel hasil percobaan, didapatkan
nilai tegangan minimum dan maksimum, dengan persamaan:

(1)

(2)

3
Dari persamaan 1 dan 2, terdapat besaran Rmax dan Rmin
untuk setiap resistor, yang didapatkan dari persamaan:
(3)

(4)

Sedangkan persamaan untuk mendapatkan arus minimum dan
maksimum adalah:

(5)

(6)


Dan nilai R
in
didapatkan dari persamaan:
(7)
R
in
adalah sebuah hambatan dalam, yang berfungsi untuk
menghambat jalannya arus supaya arus yang mengalir tidak
terlalu besar dan tidak akan menyebabkan kerusakan alat.

V
hitung
didapatkan dari persamaan pembagi tegangan, yaitu:

(8)

Dan I
hitung
didapatkan dari persamaan hukum ohm, yaitu:

(9)

Sedangkan untuk menghitung nilai error suatu alat, digunakan
persamaan:

||

(10)


||

(11)

Dengan V adalah tegangan yang terukur di antara 2 titik,
dalam satuan volt (V). I adalah arus yang mengalir dalam
suatu rangkaian, dalam satuan ampere (A). Dan R adalah
hambatan yang nilainya telah ditentukan sebelumnya, dalam
satuan ohm ().
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah semua percobaan telah dilakukan, analisa data dan
perhitungan, didapatkan hasil percobaan yang telah tercantum
dalam tabel 1, tabel 2, dan tabel 3. Dapat dilihat dalam tabel
tersebut bahwa nilai tegangan dan arus yang dihasilkan akan
dipengaruhi oleh hambatan serta susunan rangkaian yang
diberikan.

Tabel 1. Hasil percobaan untuk pengukuran tegangan searah (DC)

(V)
Range
VOM
VAB (V) VBC (V)
ukur hitung Vmin Vmax ukur hitung Vmin Vmax
5 10 4 4,17 4,09 4,23 0,8 0,83 0,77 0,91
5 50 25 4,17 4,09 4,23 5 0,83 0,77 0,91
12 50 10 10 9,83 10,16 0,4 2 1,84 2,17
12 250 10 10 9,83 10,16 5 2 1,84 2,17

(V)
Range
VOM
Error alat
(%)
5 10 0,04
5 50 5
12 50 0
12 250 0

Tabel 2. Hasil percobaan untuk pengukuran arus searah (DC)
(V)
Range
VOM
Iukur
(A)
Ihitung
(A)
Imin
(A)
Imax
(A)
Rin
(k)
Error
alat
(%)
5 0,025 0,005 0,005 0,0048 0,0053 0 0
5 0,25 0,0025 0,005 0,0048 0,0053 1 0,5
12 0,025 0,012 0,012 0,0114 0,0126 0 0
12 0,25 0,005 0,012 0,0114 0,0126 1,4 0,583

Tabel 3. Hasil percobaan untuk pengukuran tegangan bolak-balik (AC)

(V)
Range
VOM
VAB (V) VDE (V)
ukur hitung Vmin Vmax ukur
hitu
ng
Vmin Vmax
12 50 3 4 1,84 2,17 9 20 9,83 10,16
12 250 2,5 4 1,84 2,17 15 20 9,83 10,16
15 50 3 5 2,3 2,71 12 25 12,28 12,7
15 250 2,5 5 2,3 2,71 15 25 12,28 12,7

(V)
Range
VOM
Error alat
(%)
12 50 0,333
12 250 0,6
15 50 0,67
15 250 1

Pada tabel 1 dan tabel 3, menunjukkan hasil tegangan
yang terukur dengan hambatan yang berbeda, mempunyai
nilai tegangan yang berbeda pula. Pada tabel 1, terlihat bahwa
tegangan di titik A-B (V
AB
) nilainya lebih besar dibandingkan
dengan tegangan di titik B-C (V
BC
). Pada tegangan 5 volt
didapatkan V
AB
ukur sebesar 4 volt sedangkan untuk V
BC
ukur
sebesar 0,8 volt. Dari salah satu hasil tersebut terlihat bahwa
perhitungan dengan metode pembagi tegangan adalah benar.
Karena dapat kita lihat bahwa, pada gambar 1, R
AB
dengan
nilai sebesar 1000 posisi pada rangkaian adalah hambatan
yang pertama setelah rangkaian tersebut dialiri arus dari
sumber tegangan, sehingga hasilnya lebih kecil dari tegangan
pada sumber. Pada rangkaian seri, nilai arus selalu sama pada
setiap bagian rangkaian, sedangkan tegangan berubah sesuai
dengan besarnya hambatan yang dilalui. Dan pada R
BC
yang
nilainya sebesar 200 , akan menghambat arus yang
sebelumnya telah dihambat oleh R
AB
. Dari tabel 1 dapat
terlihat bahwa besar tegangan V
BC
lebih kecil dari V
AB
, karena
arus yang mengalir telah dihambat oleh 2 resistor. Sedangkan
pada tabel 3, terlihat bahwa tegangan di titik A-B (V
AB
)
nilainya lebih kecil dibandingkan dengan tegangan di titik D-
E (V
DE
). Hal itu disebabkan karena titik A-B dipasang paralel
dengan titik D-E. Terbukti pula pada pengukuran ini yaitu
pada rangkaian paralel, besarnya tegangan selalu sama.
4
Sedangkan nilai arus berbeda, karena arus yang ada terbagi
sesuai dengan paralel yang ada. Sehingga, dari semua data
yang dihasilkan dapat dikatakan bahwa hambatan yang
diberikan berfungsi dalam menghambat jalannya arus, dan
menyebabkan tegangan yang dihasilkan menjadi lebih kecil
dari tegangan yang belum mendapatkan hambatan dari
resistor.
Untuk memastikan apakah percobaan ini benar, maka
dilakukan perhitungan dengan cara manual, sehingga dapat
diketahui seberapa akurat data yang diperoleh. Selain dengan
cara perhitungan manual secara matematis tersebut, dapat
dilihat pula presentase error. Sebagai contoh, presentase error
yang didapat pada percobaan tegangan searah untuk tegangan
sebesar 5 volt adalah 0,04%. Terlihat bahwa hasil dari
percobaan ini, nilai besaran yang ingin kita dapatkan besarnya
hampir mendekati nilai yang didapatkan dari perhitungan
secara matematis dari persamaan yang ada. Hal ini mungkin
saja terjadi karena setiap alat ukur listrik tidak pernah
mempunyai besar yang akurat karena setiap alat tersebut
mempunyai toleransi alat, yang besarnya akan mempengaruhi
hasil dari pengukuran yang dilakukan.
Pada tabel 2, dapat dilihat pula bahwa ada nilai arus yang
terukur dan arus yang dihitung besarnya sama, ada pula yang
berbeda. Dari presentase error alat, terlihat pula bahwa nilai
arus yang didapatkan sama untuk range VOM yang sama yaitu
0,025. Sedangkan untuk range VOM 0,25, presentase error
alat sebesar 0,5% hingga 0,6%. Sehingga dapat disimpulkan
untuk pengukuran arus searah nilai yang didapatkan
mendekati kebenaran, karena telah ditinjau dari 2 sudut
pandang, yaitu pengukuran dan perhitungan.
IV. KESIMPULAN
Dari percobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
VOM merupakan alat ukur listrik yang dapat digunakan untuk
mengukur tegangan, arus searah dan bolak-balik, serta
hambatan. Dalam penggunaan alat ukur VOM ini diperlukan
ketepatan pembacaan skala yang terukur dan menggunakan
range atau batasan yang dimiliki oleh alat ukur. Saat V dan I
melebihi batas maksimal ataupun batas minimal suatu alat,
maka tidak akan terbaca nilai besarnya.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Artoto Arkundato, Alat Ukur dan Metode Pengukuran, Jakarta:
Universitas terbuka, 2007.
[2] A. R. Margunadi, Teori rangkaian, Jakarta: Penerbit erlangga, 1990.
[3] Douglas. C. Giancoli, FISIKA, Jakarta: Erlangga, 2001.
[4] Dosen-dosen Fisika FMIPA ITS, Fisika II, Surabaya: Yayasan
Pembina Jurusan Fisika FMIPA ITS, 2010.
[5] David Halliday, Fisika, Jakarta: Erlangga, 1996.

5
PERTANYAAN
1. Jelaskan prinsip rangkaian seri dan paralel !
2. Jelaskan cara kerja galvanometer !
3. Ceritakan tentang praktikum !

PENYELESAIAN
1. Prinsip rangkaian seri dan rangkaian paralel :
Rangkaian Prinsip
Seri Nilai arus yang mengalir selalu
sama di setiap bagian dalam
rangkaian tersebut.
Nilai tegangan total merupakan
jumlah komponen-komponen
tersebut secara terpisah.
Nilai hambatan ekuivalen
merupakan jumlah komponen-
komponen tersebut secara terpisah.
Besar arus yang mengalir pada
rangkaian seri lebih kecil daripada
pada rangkaian paralel, karena
hambatan ekuivalen merupakan
jumlah komponen secara terpisah.
Paralel Nilai tegangan selalu sama di setiap
bagian dalam rangkaian tersebut.
Nilai arus total merupakan jumlah
komponen-komponen tersebut
secara terpisah.
Nilai hambatan ekuivalen adalah


Besar arus yang mengalir pada
rangkaian paralel lebih besar
daripada pada rangkaian seri.


2. Prinsip kerja galvanometer adalah ketika arus melewati
kumparan yang telah dililitkan pada inti besi yang
terpasang didalam inti besi, dan kumparan tersebut
berada di dalam sebuah medan magnet, kumparan
tersebut akan bergerak. Bila arus mengalir di dalam
kumparan maka torsi elektromagnetik yang dihasilkan
akan menyebabkan perputaran kumparan tersebut.
Medan magnet yang ada disekitar inti besi tersebut
merupakan suatu medan yang disebabkan oleh magnet
permanen berbentuk tapal kuda. Inti besi tersebut
diletakkan sedemikian rupa sehingga dapat bergerak dan
terdapat sedikit ruang antara kutub magnet permanen
dengan silinder kumparan. Arus yang melewati
kumparan tersebut akan menyebabkan terjadinya garis-
garis medan magnet yang ada di antara kumparan dengan
magnet permanen. Pada saat kumparan bergerak, jarum
penunjuk akan ikut bergerak sehingga pegas yang ada di
ujung inti besi akan menegang dan menghasilkan suatu
kopel yang melawan kopel magnetik. Kumparan maupun
jarum penunjuk akan berhenti ketika kopel magnetik
setimbang dengan kopel pegas, dan saat berhenti
tersebut, jarum akan menunjuk angka pada skala yang
merupakan nilai dari besaran yang diukur. Jika tiba-tiba
arus diputus, jarum penunjuk akan kembali ke nol,
karena tidak ada arus yang mengalir pada kumparan.
Sehingga posisi jarum penunjuk akan kembali ke posisi
semula, yaitu angka nol.

3. Praktikum ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik
VOM dan menggunakan alat ukur listrik ini untuk
mengetahui besar tegangan, arus, dan hambatan.
Percobaan ini dilakukan dalam 3 macam percobaan
dengan pengukuran yang berbeda, yaitu pengukuran
tegangan searah, pengukuran arus searah, dan
pengukuran tegangan bolak-balik. Sebelum melakukan
percobaan, praktikan diberi 4 buah resistor yang belum
diketahui nilainya, dan praktikan wajib mengetahui besar
nilai resistansi dari resistor tersebut, karena nantinya
akan digunakan dalam perhitungan. Setelah diketahui
nilai resistansinya yang dapat diketahui dari cincin-cincin
warna pada tiap resistor, didapatkan bahwa 2 resistor
bernilai 200 dan 2 resistor yang lain bernilai 1000 .
Sebelum kami merangkai alat, kami melakukan briefing
praktikum terlebih dahulu dengan asisten Elektronika
Dasar I, yaitu mengenai penggunaan project board dan
pemasangan komponen-komponen pada project board
tersebut. Kemudian, praktikan langsung merangkai alat
sesuai dengan yang ada di modul percobaan. Setelah
semua alat selesai terangkai, kami dapat melakukan
praktikum. Pada praktikum ini didapatkan data berupa
nilai tegangan terukur pada 2 buah resistor yang
dilakukan pada tegangan searah, nilai arus terukur pada 1
buah resistor yang dilakukan pada arus searah, dan nilai
tegangan terukur pada 4 buah resistor yang dilakukan
pada tegangan bolak-balik. Nilai tegangan yang diukur
hanya pada 2 buah resistor yang memiliki nilai resistansi
yang berbeda. Kemudian, dilakukan briefing mengenai
format pembuatan jurnal sebagai laporan praktikum.

Tugas Tambahan (E1)