Anda di halaman 1dari 28

BRONKIOLITIS

Yunia zulanda
0910.211.007
Adalah infeksi saluran pernafasan yang ditandai
oleh obstruksi inflamasi saluran nafas kecil
(bronkiolus)

EPIDEMIOLOGI
Bronkiolitis sering mengenai anak usia dibawah 2
tahun dengan insiden tertinggi pada bayi usia 6
bulan. Bayi yang menderita bronkiolitis berat
mungkin oleh karena kadar antibodimaternal
(maternal neutralizing antibody) yang rendah
Pada daerah yang penduduknya padat insiden
bronkiolitis
Insiden infeksi sam a pada laki-Iaki dan wanita,
namun bronkiolitis berat lebih sering terjadi pada
laki-Iaki.
Di negara dengan 4 musim, bronkiolitis
banyak terdapat pada musim dingin sampai awal
musim semi
Di negara tropis pada musim hujan. Di Bagian Ilmu
Kesehatan Anak RSU Dr. Soetomo Surabaya pada
tahun 2002 dan tahun 2003,bronkiolitis banyak
didapatkan pada bulan Januari sampai bulan Mei .
ETIOLOGI
Bronkiolitis terutama disebabkan oleh Respiratory
Syncitial Virus (RSV),6090% dari kasus, dan
sisanya disebabkan oleh virus Parainfluenzae tipe
1,2, dan 3, Influenzae, Adenovirus tipe, atau
Mycoplasma
FAKTOR RESIKO
Laki laki
status sosial ekonomi rendah
jumlah anggota keluarga yang banyak
perokok pasif
berada pada tempat penitipan anak atau ke tempat-
tempat umum yang ramai
rendahnya antibodi maternal terhadap RSV
dan bayi yang tidak mendapatkan air susu ibu RSV
menyebar melalui droplet dan inokulasi/kontak
langsung,


RSV
adalah single stranded RNA virus yangberukuran
sedang (80-350nm), termasuk paramyxovirus.
Terdapat dua glikoprotein permukaan yang merupakan
bagian penting dari RSV untuk menginfeksi sel, yaitu
protein G (attachmentprotein )yang mengikat sel dan
protein F (fusion protein) yang menghubungkan partikel
virusdengan sel target dan sel tetangganya. Kedua
protein ini merangsang antibodi neutralisasiprotektif
pada host.
Terdapat dua macam strain antigen RSV yaitu A dan B.
RSV strain A menyebabkan gejala yang pernapasan
yang lebih berat dan menimbulkan sekuele. Masa
inkubasi RSV 2 - 5 hari.
DROPLET YANG BESAR DAPAT BERTAHAN DI UDARA
BEBAS SELAMA 6 JAM, DAN SEORANG PENDERITA
DAPAT MENULARKAN VIRUS TERSEBUT SELAMA 10
HARI
Virus bereplikasi di dalam nasofaring kemudian
menyebar dari saluran nafas atas ke saluran nafas
bawah melalui penyebaran langsung pada epitel saluran
nafas dan melalui aspirasi sekresi nasofaring.
RSV mempengaruhi sistem saluran napas melalui
kolonisasi dan replikasi virus pada mukosa bronkus dan
bronkiolus yang memberi gambaran patologi awal berupa
nekrosis sel epitel silia.
Nekrosis sel epitel saluran napas menyebabkan terjadi
edema submukosa dan pelepasan debris dan fibrin
kedalam lumen bronkiolus
PATOFISIOLOGI


Virus yang merusak epitel bersilia mengganggu gerakan
mukosilier

mukus tertimbun didalam bronkiolus
kerusakan epitel saluran napas meningkatkan
ekpresi Intercellular Adhesion Molecule-1(ICAM-1)dan
produksi sitokin yang akan menarik eosinofil dan sel-sel
inflamasi.

Jadi, bronkiolus menjadisempit karena kombinasi dari
proses inflamasi, edema saluran nafas, akumulasi sel-sel
debris dan mukus serta spasme otot polos saluran napas
Resistensi aliran udara saluran nafas meningkat pada
fase inspirasi maupun pada fase ekspirasi.
Infeksi yang berulang pada saluran napas bawah
akan meningkatkan resistensi terhadap penyakit.
Akibat infeksi yangberulang-ulang, terjadi cumulatif
immunity sehingga pada anak yang lebih besar
dan orang dewasa cenderung lebih tahan terhadap
infeksi bronkiolitis dan pneumonia karena RSV

Gambaran yang terjadi adalah atelektasis yang
tersebar dan distensi yang berlebihan
(hyperaerated) sehingga dapat terjadi gangguan
pertukaran gas serius, gangguan
ventilasi/perfusi dengan akibat akan terjadi
hipoksemia (PaO
2
turun) dan hiperkapnea (Pa CO
2
meningkat). Kondisi yang berat dapat terjadi gagal
nafas.
GEJALA KLINIS
Didahului infeksi saluran napas atas dengan batuk,
pilek tanpa demam atau hanya sub febris.
Sesak napas makin lama,makin berat, disertai
napas cepat dandangkal
Pernapasan cuping hidung (+)
Retraksi intercostals dan suprasternal (+)
Sianosis sekitar hidung dan mulut.
Gelisah, ekspirasi memanjang atau mengi
(Wheezing)

PX PENUNJANG
Px darah tepi tidak khas
Px fota dada AP dan lateral dapat terlihat gambaran
hiperinflasi paru (emfisema) dengan anteroposterior
membesar pada foto lateral serta dapat terlihat
pada bercak konsolidasi yang tersebar
Pada keadaan yang berat gambaran analisis gas
darah akan menunjukkan hiperkapnia, karena
karbondioksida tidak dapat dikeluarkan akibat
edema dan hipersekresi bronkiolus, sebagai tanda
air trapping, asidosis respiratorik atau metabolik
Pemeriksaan RSV : Serologis atau uji
imunoflourosensi cepat ataumemeriksan adanya
antigen dalam bilasan nasopharingeal.
Sensitifitas pemeriksaan ini adalah 80-90%
Sebuah rontgen dada menunjukkan hiperinflasi paru-
paru dengan diafragma datar dan atelektasis bilateral di
daerah basal kanan dan kiri apikal pada bayi 16-hari-
X ray dari seorang anak dengan RSV menunjukkan
perihilar yang penuh khas bilateral bronchiolitis


DIAGNOSIS BANDING
asma bronkiale
Pneumonia
aspirasi benda asing
refluks gastroesophageal
sistik fibrosis
gagal jantung
miokarditis
TATA LAKSANA
Prinsip dasar penanganan bronkiolitis adalah terapi
suportif: oksigenasi,pemberian cairan untuk
mencegah dehidrasi, dan nutrisi yang adekuat.
Bronkiolitis ringanbiasanya bisa rawat jalan dan
perlu diberikan cairan peroral yang adekuat.
Bayi dengan bronkiolitis sedang sampai berat harus
dirawat inap. Penderita resiko tinggi harus dirawat
inap,diantaranya: berusia kurang dari 3 bulan,
prematur, kelainan jantung, kelainan
neurologi,penyakit paru kronis, defisiensi imun,
distres napas.
Steroid sistemik diberikan pada kasuskasus berat.
Antibiotika diberikan bilamana keadaan umum
penderita kurang baik, atau ada dugaan infeksi
sekunder dengan bakteri
1. Cairan dan nutrisi:adekuat, tergantung kondisi
penderita
2. Oksigenasi dengan oksigen nasal atau masker,
monitor dengan pulse oxymetry dan bila perlu
dilakukan analisa gas darah. Bila ada tanda gagal
napasdiberikan bantuan ventilasi mekanik.
3. Bronkodilator: nebulasi agonis beta2: salbutamol
0,1mg/kg BB/dosis, diencerkan dengan cairan
normal saline, diberikan 4 6 kali per-hari
4. Steroid, pada bronkiolitis berat: deksametason
0,1-0,2 mg/kg/dosis, IV
5. Antibiotika: penyakit berat,keadaan umum
kurang baik, curiga infeksi sekunder
6. Digitalisasi: bila ada tanda payah jantung Terapi
Oksigen harus diberikan kepada semua penderita
kecuali untuk kasus-kasus yangsangat ringan.
Saturasi oksigen menggambarkan kejenuhan
afinitas hemoglobin terhadap oksigendi dalam
darah.



Terapi berdasarkan rekomendasi dari
Agency for healthcare research and
quality
PROGNOSIS
Studi kohort : Inf bronkiolitis akut berat akan
berkembang Asma
23% bronkiolitis Asma usia 3 th

Norwegia
Kecendrungan asma & fungsi paru usia 7 th
40 50 % bronkiolitis RSV mengi dikemudian
hari
PENCEGAHAN
Dianjurkan pemberian ASI pada bayi Mengurangi
risiko terjadinya infeksi saluran nafas bawah.
Harus dihindarkan dari asap rokok.
edukasi tentang kebersihan tangan dancara
desinfeksinya pada petugas kesehatan dan
keluarga pasien dengan alkohol atau sabun
antiseptik

REFERENSI
http://cpddokter.com/home/index.php?option=com_conte
nt&task=view&id=140&Itemid=38
http://www.scumdoctor.com/Indonesian/disease-
prevention/infectious-
diseases/virus/bronchiolitis/Bronchiolitis-Guidelines.html
http://www.scribd.com/doc/56178191/Ppt-Bronkiolitis-Baru
http://en.wikipedia.org/wiki/Bronchiolitis

para-rsv-aden.htm

Nelson pediatri