Anda di halaman 1dari 64

UCAPAN-UCAPAN SPIRITUAL

SYEKH SITI JENAR

SATU

“Allah itu adalah keadaanku, kenapa kawan-kawan pada memakai


penghalang? Sesungguhnya aku inilah haq Allah pun tiada wujud dua,
nanti Allah sekarang Allah, tetap dzahir batin Allah, kenapa kawan-
kawan masih memakai pelindung?” (Babad Tanah Sunda, Sulaeman
Sulendraningrat, 1982, bagian XLIII).

Ucapan spiritual Syekh Siti Jenar tersebut diucapkan pada saat para
wali menghendaki diskusi yang membahas masalah Micara Ilmu tanpa
Tedeng Aling-aling. Diskusi para wali diadakan setelah Dewan Walisanga
mendengar bahwa Syekh Siti Jenar mulai mengajarkan ilmu ma’rifat dan
hakikat. Sementara dalam tugas resmi yang diberikan oleh Dewan
Walisanga hanya diberi kewenangan mengajarkan syahadat dan tauhid.

Sementara menurut Syekh Siti Jenar justru inti paling mendasar


tentang tauhid adalah manunggal, di mana seluruh ciptaan pasti akan
kembali menyatu dengan yang menciptakan.

Pada saat itu, Sunan Gunung Jati mengemukakan, “Adapun Allah itu
adalah yang berwujud haq”;

Sunan Giri berpendapat, “Allah itu adalah jauhnya tanpa batas,


dekatnya tanpa rabaan.”;

Sunan Bonang berkata, “Allah itu tidak berwarna, tidak berupa,


tidak berarah, tidak bertempat, tidak berbahasa, tidak bersuara,
wajib adanya, mustahil tidak adanya.”;

Sunan Kalijaga menyatakan, “Allah itu adalah seumpama memainkan


wayang.”;

Syekh Maghribi berkata, “Allah itu meliputi segala sesuatu.”;

Syekh Majagung menyatakan, “Allah itu bukan disana atau disitu,


tetapi ini.”;

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 1
Syekh Bentong menyuarakan, “Allah itu itu bukan disana sini, ya
inilah.”;

Setelah ungkapan Syekh Bentong inilah, tiba giliran Syekh Siti Jenar dan
mengungkapkan konsep dasar teologinya di atas. Hanya saja ungkapan
Syekh Siti Jenar tersebut ditanggapi dengan keras oleh Sunan Kudus,
yang salah menangkap makna ungkapan mistik tersebut, “Jangan suka
terlanjur bahasa menurut pendapat hamba adapun Allah itu tidak
bersekutu dengan sesama.”

Mulai persidangan itulah hubungan Syekh Siti Jenar dengan para wali
memanas, sebab Syekh Siti Jenar tetap teguh pada pendirian tauhid
sejatinya. Sementara para Dewan Wali mengikuti madzhab resmi yang
digariskan oleh kerajaan Demak, Sunni-Syafi’i. Sampai masa persidangan
penentuannya, Syekh Siti Jenar tetap menyuarakan dengan lantang
teologi manunggalnya bahwa, “Utawi Allah iku nyataning sun kang
sampurna kang tetep ing dalem dhohir batin,” (bahwa Allah itu
nyatanya aku yang sempurna yang tetap di dalam dzahir dan batin) .
(Riwayat yang agak sama juga tercantum dalam Babad Cerbon, terbitan
Brandes (1911) pada Pupuh 23, Kinanti bait 1-8.)

DUA
“Jika ada seorang manusia yang percaya kepada kesatuan lain selain dari
Tuhan yang Mahakuasa, ia akan kecewa karena ia tidak akan memperoleh
apa yang ia inginkan.” (S. Soebardi, The Book of ebolek, hlm. 103).

Menurut beberapa sumber, di antaranya Soebardi (1975), beberapa saat


setelah Syekh Siti Jenar wafat, para wali mendengar suara yang berasal
dari roh Syekh Siti Jenar yang berupa ungkapan mistik tersebut.
Ungkapan mistik itu merupakan ungkapan terakhir dari sang sufi sebagai
bukti bahwa sampai sesudah wafatnya, dia memperoleh apa yang
diinginkannya, dan menjadi bukti kebenaran ajarannya, yakni kehidupan
sejati dalam kesatuan; manunggaling kawula-Gusti.

TIGA

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 2
“… tidak usah kebanyakan teori semu, sesungguhnya ingsun inilah Allah.
Nyata Ingsun Yang Sejati, bergelar Prabu Satmata, yang tidak ada lain
kesejatiannya, yang disebut sebangsa Allah…” (R. Tanoyo: Walisanga, hlm.
124)

Maksud bebas ungkapan tersebut adalah “tidak usah kebanyakan bicara


tentang teori keTuhanan, sesungguhnya ingsun (aku sejati) inilah
Allah. Yaitu Ingsun (Kedirian) Yang Sejati, juga bergelar Prabu
Satmata (Tuhan Yang Maha Melihat, mengetahui segala-galanya),
dan tidak boleh ada yang lain yang penyebutannya mengarah kepada
Allah sebagai Tuhan”.

EMPAT
“Mungguh sajatine ananing zdat kang sanyata iku muhung ana anteping
tekat kita, tandhane ora ana apa-apa, ananging kudu dadi sabarang sedya
kita kang satuhu” [Sebenarnya, keberadaan dzat yang nyata itu hanya
berada pada mantapnya tekad kita, tandanya tidak ada apa-apa, akan
tetapi harus menjadi segala niat kita yang sungguh-sungguh]. (Serat
Candhakipun Riwayat Jati, hlm. 1).

Menurut Syekh Siti Jenar, keberadaan dzat hanya ada beserta


kemantapan hati dalam merengkuh Tuhan. Dalam diri tidak ada apa-apa
kecuali menjadikan menunggal sebagai niat dan yang mewarnai segala hal
yang berhubungan dengan asma, sifat dan af’al Pribadi. Inilah di antara
maksud utama ungkapan di atas.

Jadi pemahaman atas ungkapan itu harus tetap berada dalam lingkup
kemanunggalan. Kemanunggalan tidak akan berhasil jika hanya
mengandalkan perangkat syari’at dan tarekat.

Apalagi sekedar syari’at lahiriyah (nominal).

Kemanunggalan akan berhasil seiring dengan tekad hati dan


keseluruhan Pribadi dalam merengkuh Allah, sebagaimana roh Allah
pada awalnya ditiupkan atas setiap pribadi manusia.

LIMA

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 3
“…marilah kita berbicara dengan terus terang. Aku ini Allah. Akulah yang
sebenarnya disebut Prabu Satmata, tidak ada lain yang bernama Allah…
saya menyampaikan ilmu tertinggi yang membahas ketunggalan. Ini bukan
badan, selamanya bukan, karena badan tidak ada. Yang kita bicarakan
ialah ilmu sejati dan untuk semua orang kita membuka tabir [artinya
membuka rahasia yang paling tersembunyi.]” (Serat Siti Jenar
Asmarandana, hlm. 15, bait 20-22).

ENAM
“Tidak usah banyak tingkah, saya inilah Tuhan, Ya, betul-betul saya ini
adalah Tuhan yang sebenarnya, bergelar Prabu Satmata, ketahuilah
bahwa tidak ada bangsa Tuhan yang lain selain saya. …. Saya ini
mengajarkan ilmu untuk betul-betul dapat merasakan adanya
kemanunggalan. Sedangkan bangkai itu selamanya kan tidak ada. Adapun
yang dibicarakan sekarang ini adalah ilmu yang sejati yang dapat
membuka tabir kehidupan. Dan lagi, semuanya sama. Sudah tidak ada
tanda secara samar-samar, bahwa benar-benar tidak ada perbedaan lagi.
Jika ada perbedaan yang bagaimanapun, saya akan tetap
mempertahankan tegaknya ilmu tersebut.” (Boekoe Siti Djenar, Tan
Khoen Swie, hlm. 18-20).

TUJUH
“Jika Anda menanyakan dimana rumah Tuhan, jawabnya tidaklah
sulit. Allah berada pada dzat yang tempatnya tidak jauh, yaitu
bersemayam di dalam tubuh. Tetapi hanya orang yang terpilih yang
bisa melihatnya, yaitu orang yang suci.” (Suluk Wali Sanga, R. Tanaja,
hlm. 42-46).

Ungkapan no. 5, 6, dan 7.

Dinyatakan dalam sidang para wali yang dipimpin oleh Sunan Giri
bertempat di Giri Kedaton. Penjelasan Syekh Siti Jenar bahwa dirinya
bukan badan menanggapi pernyataan Maulana Maghribi yang bertanya,
“Tetapi yang kau tunjukkan itu hanya badan.” Syekh Siti Jenar
menyampaikan ajaran “ingsun” yang dikemukakan secara radikal, yang
mengajarkan kesamaan tuntas antara sang pembicara dengan Allah. Ini
sebagai efek dari berbagai pengalaman spiritualnya yang demikian tinggi,

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 4
sehingga Manunggaling Kawula-Gusti juga meniscayakan adanya
manunggalnya kalam (pembicaraan, sabda, firman).

Adapun gelar Prabu Satmata memiliki makna sama dengan Hyang Manon
atau Yang Maha Tahu. Gelar tersebut juga diberikan kepada para
Walisanga kepada Sunan Giri. Nampak bahwa Syekh Siti Jenar memiliki
pendirian tegas, bahwa ilmu spiritual harus diajarkan kepada semua
orang. Karena justru dengan membuka tabir itulah, orang akan
mengetahui hakikat kehidupan dan rahasia hidupnya.

DELAPAN
“Syekh Lemah Abang namaku, Rasulullah ya aku, Muhammad ya aku,
Asma Allah itu sesungguhnya diriku; ya Akulah yang menjadi Allah
ta’ala.” (Wawacan Sunan Gunung Jati terbitan Emon Suryaatmana dan
T.D. Sudjana, Pupuh 38 Sinom, bait 13).

Ungkapan mistik Syekh Siti Jenar tersebut menunjukkan, bahwa dalam


teologi manunggaling kawula-Gusti, tidak hanya terjadi proses kefanaan
antara hamba dan pencipta sebagaimana apa yang dialami oleh Bayazid al-
Bustami dan Manshur al-Hallaj. Dalam kasus pengalaman mistik Syekh
Siti Jenar, antara syahadat Rasul dan syahadat Tauhid ikut larut dalam
kefanaan.

Sehingga dalam pengalaman mistik manunggal ini, terjadi kemanunggalan


diri, Rasul dan Tuhan. Suatu titik puncak pengalaman spiritual, yang
sudah dialami oleh para ulama sufi sejak abad ke-9, yakni sejak fana’nya
Bayazid al-Busthami, Junaid al-Baghdadi, “ana al-Haqq”-nya Manshur
al-Hallaj, juga ‘Aynul Quddat al-Hamadani, dan Syaikh al-Isyraq
Syuhrawardi al-Maqtul, dan akhirnya menemukan titik kulminasinya pada
teologi Manunggaling Kawula-Gusti Syekh Siti Jenar.

SEMBILAN
“Sesungguhnyalah, Lafal Allah yaitu kesaksian akan Allah, yang tanpa
rupa dan tiada tampak, membingungkan orang, karena diragukan
kebenarannya. Dia tidak mengetahui akan diri pribadinya yang sejati,
sehingga ia menjadi bingung. Sesungguhnya nama Allah itu untuk
menyebut wakil-Nya, diucapkan untuk menyatakan yang dipuja dan

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 5
menyatakan suatu janji. Nama itu ditumbuhkan menjadi kalimat yang
diucapkan: “Muhammad Rasulullah”.

Padahal sifat kafir berwatak jisim, yang akan membusuk, hancur lebur
bercampur tanah.” “Lain jika kita sejiwa dengan Zat Yang Maha Luhur. Ia
gagah berani, maha sakti dalam syarak, menjelajahi alam semesta. Dia itu
Pangeran saya, yang menguasai dan memerintah saya, yang bersifat
wahdaniyah, artinya menyatukan diri dengan ciptaan-Nya. Ia dapat
abadi mengembara melebihi peluru atau anak sumpitan, bukan budi bukan
nyawa, bukan hidup tanpa asal dari manapun, bukan pula kehendak tanpa
tujuan.” “Dia itu yang bersatu padu menjadi wujud saya. Tiada susah
payah, kodrat dan kehendak-Nya, pergi ke mana saja tiada haus, tiada
lelah tanpa penderitaan dan tiada lapar. Kekuasan-Nya dan kemampuan-
Nya tiada kenal rintangan, sehingga pikiran keras dari keinginan luluh
tiada berdaya. Maka timbullah dari jiwa raga saya kearif-bijaksanaan
tanpa saya ketahui keluar dan masuk-Nya, tahu-tahu saya menjumpai Ia
sudah ada disana”. (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sastrawijaya, Pupuh III
Dandanggula, 45-48).

Pernyataan di atas adalah tafsir sederhana dari sasahidan yang menjadi


intisari ajaran Syekh Siti Jenar, dan landasan mistik teologi
kemanunggalan. Kalimah syahadat yang hanya diucapkan dengan lisan dan
hanya dihiasi dengan perangkat kerja fisik (pelaksanaan fiqih Islam
dengan tanpa aplikasi spiritual), hakikatnya adalah kebohongan.

Pelaksanaan aspek fisik keagamaan yang tidak disertai dengan implikasi


kemanunggalan roh, sebenarnya jiwa orang itu mencuri, yakni mencuri
dari perhatiannya kepada aspek Allah dalam diri. Itulah sebenar-
benarnya munafik dalam tinjauan batin, dan fasik dalam kacamata lahir.

Sebab manusia sebagai khalifah-Nya adalah cermin Ilahiyah yang harus


menampak kepada seluruh alam. Sebagai alatnya adalah kemanunggalan
wujudiyah sebagaimana terdapat dalam Sasahidan. Terdapat kesatu-
paduan antara Allah, Rasul dan manusia. Masing-masing bukanlah sesuatu
yang saling asing mengasingkan.

KESEJATIAN HIDUP DAN KEHIDUPAN

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 6
SEPULUH.
“Rahasia kesadaran kesejatian kehidupan, ya ingsun ini kesejatian hidup,
engkau sejatinnya Allah, ya ingsun sejatinya Allah; yakni wujud (yang
berbentuk) itu sejatinya Allah, sir (rahsa=rahasia) itu Rasulullah, lisan
(pangucap) itu Allah, jasad Allah badan putih tanpa darah, sir Allah, rasa
Allah, rahasia kesejatian Allah, ya ingsun (aku) ini sejatinya Allah.”
(Wejangan Walisanga: hlm. 5).
Subtansi dari ungkapan spiritual tersebut adalah bahwa kesejatian hidup,
rahasia kehidupan hanya ada pada pengalaman kemanunggalan antara
kawula-Gusti. Dan dalam tataran atau ukuran orang ‘awam hal itu bisa
diraih dengan memperhatikan uraian dan wejangan Syekh Siti Jenar
tentang “Shalat Tarek Limang Waktu”.

SEBELAS
“Adanya kehidupan itu karena pribadi, demikian pula keinginan hidup
itupun ditetapkan oleh diri sendiri. Tidak mengenal roh, yang
melestarikan kehidupan, tiada turut merasakan sakit ataupun lelah. Suka
dukapun musnah karena tiada diinginkan oleh hidup. Dengan demikian
hidupnya kehidupan itu, berdiri sendiri sekehendak.” (Serat Syaikh Siti
Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 32).

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya kebebasan manusia dalam


menentukan jalan hidup. Manusia merdeka adalah manusia yang terbebas
dari belenggu kultural maupun belenggu struktural. Dalam hidup ini, tidak
boleh ada sikap saling menguasai antar manusia, bahkan antara manusia
dengan Tuhanpun hakikatnya tidak ada yang menguasai dan yang dikuasai.
Ini jika melihat intisari ajaran manunggalnya Syekh Siti Jenar. Sebab
dalam manusia ada roh Tuhan yang menjamin adanya kekuasaan atas
pribadinya dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Dan allah itulah satu-satunya Wujud. Yang lain hanya sekedar mewujud.
Cahaya hanya satu, selain itu hanya memancarkan cahaya saja, atau
pantulannya saja. Subtansi pernyataan Syekh Siti Jenar tersebut adalah
Qs. Al-Baqarah/2;115, “Timur dan Barat kepunyaan Allah. Maka ke mana
saja kamu menghadap di situlah Wajah Allah. ” Wujud itu dalam Pribadi,
dan di dunia atau alam kematian ini, memerlukan wadah bagi pribadi untuk
mengejawantah, menguji diri sejauh mana kemampuannya mengelola
keinginan wadag, sementara Pribadinya tetap suci.

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 7
TUHAN DAN KEMANUSIAAN

DUA BELAS
“Zat wajibul maulana adalah yang menjadi pemimpin budi yang menuju ke
semua kebaikan. Citra manusia hanya ada dalam keinginan yang tunggal.
Satu keinginan saja belum tentu dapat melaksanakan dengan tepat, apa
lagi dua. Nah, cobalah untuk memisahkan zat wab/jibul maulana dengan
budi, agar supaya manusia dapat menerima keinginan yang lain”. (Serat
Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 44).

Manusia yang mendua adalah manusia yang tidak sampai kepada derajat
kemanunggalan. Sementara manusia yang manunggal adalah pemilik jiwa
yang iradah dan kodratnya telah pula menyatu dengan Ilahi. Sehingga
akibat terpecahnya jiwa dengan roh Ilahi, maka kehidupannya dikuasai
oleh keinginan yang lain, yang dalam al-Qur’an disebut sebagai hawa
nafsu. Maka agar tidak terjadi split personality, dan tidak
mengakibatkan kerusakan dalam tatanan kehidupan, harus ada
keterpaduan antara Zat Wajibul Maulana dengan budi manusia. Dan sang
Zat Wajibul Maulana ini berada di dalam kedirian manusia, bukan di
luarnya.

TIGA BELAS
“Hyang Widi, kalau dikatakan dalam bahasa di dunia ini, baka bersifat
abadi, tanpa antara, tiada erat dengan sakit ataupun rasa tidak enak. Ia
berada baik di sana, maupun di sini, bukan itu bukan ini. Oleh tingkah
yang banyak dilakukan dan yang tidak wajar, menuruti raga, adalah
sesuatu yang baru. Segala sesuatu yang berwujud, yang tersebar di dunia
ini, bertentangan dengan sifat seluruh yang diciptakan, sebab isi bumi itu
angkasa yang hampa.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III
Dandanggula, 30).

Tuhan adalah yang maha meliputi. Keberadaannya, tidak dibatasi oleh


lingkup ruang dan waktu, keghaiban atau kematerian. Hakikat keberadaan
segala sesuatu adalah keberadaan-Nya. Oleh karenanya keberadaan
segala sesuatu di hadapan-Nya sama dengan ketidakberadaan segala
sesuatu, termasuk kedirian manusia. Maka sikap yang selalu menuruti

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 8
raga disebut sebagai “sesuatu yang baru” dalam arti tidak mengikuti
iradah-Nya. Raga seharusnya tunduk kepada jiwa yang dinaungi roh Ilahi.
Sebab raga hanyalah sebagai tempat wadag bagi keberadaan roh itu.
Jangan terjebak hanya menghiasi wadahnya, namun seharusnya yang
mendapat prioritas untuk dipenuhi perhiasan dan dicukupi kebutuhannya
adalah isi dari wadah.

EMPAT BELAS
“Gagasan adanya badan halus itu mematikan kehendak manusia.
Dimanakah adanya Hyang Sukma, kecuali hanya diri pribadi. Kelilingilah
cakrawala dunia, membumbunglah ke langit yang tinggi, selamilah dalam
bumi sampai lapisan ke tujuh, tiada ditemukan wujud yang Mulia.”
“Ke mana saja sunyi senyap adanya; ke utara, selatan, barat, timur dan
tengah, yang ada di sana-sana hanya di sini adanya. Yang ada di sini bukan
wujud saya. Yang ada didalamku adalah hampa yang sunyi. Isi dalam
daging tubuh adalah isi perut yang kotor. Maka bukan jantung bukan otak
yang pisah dari tubuh, laju pesat bagaikan anak panah lepas dari busur,
menjelajah Mekah dan Madinah.”

“Saya ini bukan budi, bukan angan-angan hati, bukan pikiran yang sadar,
bukan niat, bukan udara, bukan angin, bukan panas dan bukan kekosongan
atau kehampaan. Wujud saya ini jasad, yang akhirnya menjadi jenazah,
busuk bercampur tanah dan debu. Napas saya mengelilingi dunia, tanah,
api, air dan udara kembali ke tempat asalnya atau aslinya, sebab
semuanya barang baru, bukan asli.”

“Maka saya ini Zat yang sejiwa, menyukma dalam Hyang Widi. Pangeran
saya bersifat jalal dan jamal, artinya Mahamulia dan Mahaindah. Ia tidak
mau shalat atas kehendak sendiri, tidak pula mau memerintahkan untuk
shalat kepada siapapun. Adapun orang shalat, itu budi yang menyuruh,
budi yang laknat dan mencelakakan, tidak dapat dipercaya dan diturut,
karena perintahnya berubah-ubah. Perkataannya tidak dapat dipegang,
tidak jujur, jika diturut tidak jadi dan selalu mengajak mencuri.” (Serat
Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 33-36).

Menurut Syekh Siti Jenar, Allah bukanlah sesuatu yang asing bagi diri
manusia. Allah juga bukan yang ghaib dari manusia. Walaupun Ia
penyandang asma al-Ghayb, namun itu hanya dari sudut materi atau raga
manusia. Secara rohiyah, Allah adalah ke-Diri-an manusia itu. Dalam diri

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 9
manusia terdapat roh al-idhafi yang membimbing manusia untuk mengenal
dan menghampirinya. Sebagai sarananya, dalam otak kecil manusia, Allah
menaruh God-spot (titik Tuhan) sebagai filter bagi kerja otak, agar tidak
terjebak hanya berpikir materialistik dan matematis. Inilah titik
spiritual yang akan menghubungkan jiwa dan raga melalui roh al-idhafi.
Dari sistem kerja itulah kemudian terjalin kemanunggalan abadi. Maka
kalau ada anggapan bahwa Allah itu ghaib bagi manusia, sesuatu yang jauh
dari manusia, pandangan itu keliru dan sesat.

Sekali lagi apa yang terurai di atas, adalah suatu kedaaan dan kesadaran
yang sudah tidak ada tingkatan lagi. Jika masih ada terdapat tingkatan
maka sebaiknya disempurnakan lagi. Karena tingkatan itu telah dilebur
menjadi satu dengan nama keyakinan, sehingga tidak ada perbedaan atau
tingkatan. Semuanya berpulang kepada Allah, Tuhan sekalian Alam, apa
kata Alam ini ialah juga kehendak-Nya yang merupakan wujud ADA dalam
kehidupan manusia beserta makhluk lainnya…allahu akbar.

LIMA BELAS
“Syukur kalo saya sampai tiba di alam kehidupan yang sejati. Dalam alam
kematian ini saya kaya akan dosa. Siang malam saya berdekatan dengan
api neraka. Sakit dan sehat saya temukan di dunia ini. Lain halnya apabila
saya sudah lepas dari alam saya kematian ini. Saya akan hidup sempurna,
langgeng tiada ini itu.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh VI
Pangkur, 20-21).

Dalam prespektif kemanunggalan, dunia adalah alam kematian yang


sesungguhnya, dikarenakan roh Ilahinya terpenjara dalam badan
wadagnya. Dengan badan wadag yang berhias nafsu itulah, terjadi dosa
manusia. Sehingga keberadaan manusia di dunia penuh dengan api neraka.
Ini sangat berbeda kondisinya dengan alam setelah manusia memasuki
pintu kematian. Manusia akan manunggal di alam kehidupan sejati setelah
mengalami mati. Disanalah ditemukan kesejatian Diri yang tidak parsial.
Dirinya yang utuh, sempurna, dengan segala kehidupan yang juga
sempurna.

ENAM BELAS
“Menduakan kerja bukan watak saya! Siapa yang mau mati! Dalam alam
kematian orang kaya akan dosa! Balik jika saya hidup yang tak kenal ajal,
akan langgeng hidup saya, tidak perlu ini itu. Akan tetapi bila saya

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 10
disuruh milih hidup atau mati saya tidak sudi! Sekalipun saya hidup, biar
saya sendiri yang menentukan! Tidak usah Walisanga memulangkan saya
ke alam kehidupan! Macam bukan wali utama saya ini, mau hidup saja
minta tolong pada sesamanya. Nah marilah kamu saksikan! Saya akan
pulang sendiri ke alam kehidupan sejati.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki
Sasrawijaya, Pupuh VIII Dandanggula, 14-16).

Karena kematian hanya sebagai pintu bagi kesempurnaan hidup yang


sesungguhnya, maka sebenarnya kematian juga menjadi bagian tidak
terpisahkan dari keberadaan manusia sebagai pribadi. Oleh karena itu,
kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan bukan sesuatu yang bisa
dipilih orang lain. Kematian adalah hal yang muncul dengan kehendak
Pribadi, menyertai keinginan pribadi yang sudah berada dalam kondisi
manunggal. Oleh karena itu, dalam sistem teologi Syekh Siti Jenar,
sebenarnya tidak ada istilah “dimatikan” atau “dipulangkan”, baik oleh
Allah atau oleh siapapun. Sebab dalam hal mati ini, sebenarnya tidak ada
unsur tekan-menekan atau paksaan. Pintu kematian adalah sesuatu hal
yang harus dijalani secara sukarela, ikhlas, dan harus diselami
pengetahuannya, agar ia mengetahui kapan saatnya ia menghendaki
kematiannya itu. Barulah jika seseorang memang tidak pernah
mempersiapkan diri, dan tidak pernah mau mempelajari ilmu kematian,
tanpa tau arahnya ke mana, dan tidak mengerti apa yang sedang dialami.

TUJUH BELAS
“…Betapa banyak nikmat hidup manfaatnya mati. Kenikmatan ini dijumpai
dalam mati, mati yang sempurna teramat oleklah dia. Manusia sejati-
sejatinya yang sudah meraih puncak ilmu. Tiada dia mati, hidup
selamanya. Menyebutkan mati syirik, lantaran tak tersentuh lahat, hanya
beralih tempatlah dia dengan memboyong kratonnya. Kenikmatan mati tak
dapat dihitung…” “…Tersasar, tersesat, lagi terjerumus, menjadikan
kecemasan, menyusahkan dalam patinya, justru bagi ilmu orang remeh…”
(Babad Jaka Tingkir-Babad Pajang, hlm. 74).

Menurut penuturan Babad Jaka Tingkir, ungkapan mistik itu keluar dari
ucapan darah Syekh Siti Jenar, setelah dipenggal kepalanya oleh Dewan
Walisanga. Darah yang menyembur, jatuh ke tanah melukis kaligrafi la
ilaaha illallah, dan mengeluarkan ucapan-ucapan mistik tersebut. Para wali
dan masyarakat yang menyaksikannya terkejut campur bingung. Setelah
beberapa saat, dari lisan kepala yang sudah dipenggal, keluar ucapan yang

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 11
memerintahkan agar darah kembali ke jasadnya, demikian pula kepala
menyatu dengan tubuh. Jelas bahwa kematian fisik tak mampu menyentuh
Syekh Siti Jenar. Mati ada dalam hidup, hidup ada dalam mati.hidup
selamanya tidak mati, kembali ke tujuan, langgeng selamanya. Setelah
berpamitan dan mengucapkan salam kepada semua yang menyaksikan,
Syekh Siti Jenar dengan diliputi oleh semerbak bau harum terbungkus
cahaya gemerlapan yang menyorot ke atas, kemudian lenyap terserap ke
dalam al-Ghaib, Dia Yang Sudah Dimuliakan. Iringan cahaya bersinar
cemerlang, berkilau gemilang, berkobar menyala, menyuramkan sinar sang
mentari, menyilaukan pandang semua orang yang menyaksikan.

Adapun pelaksanaan hukuman atas dirinya, oleh Syekh Siti Jenar sengaja
dibiarkan terlaksana, guna memenuhi hukum duniawi, sekaligus sebagai
monumen kebenaran ajarannya. Tanpa bukti yang dinampakkan secara
dzahir, maka kebenaran ajaran Manunggaling Kawula-Gusti tidak akan
pernah terwujud. Sebab pembuktian itu –sebagaimana sudah terjadi pada
Mansur al-Hallaj, al-Syuhrawardi dan ‘Aynul Quddat al-Hamadani sebagai
pendahulunya – memang menuntut jasad sang Guru sebagai martir atau
syahid bagi kesufiannya. Dengan kemartirannya dan kesediannya sebagai
syuhada’ bagi sufisme di Tanah Jawa itulah ia disebut sebagai Syekh
Jatimurni, Guru Pemilik Inti Kesejatian atau Pusar Ilmu Kasampurnan.

AJARAN TENTANG PENERAPAN RUKUN IMAN, ISLAM DAN


IHSAN

Materi Pokok Pengajaran Syekh Siti Jenar

DELAPAN BELAS
“…Kepada mereka, Siti Jenar pertama-tama mengajarkan akan asal usul
kehidupan, kedua diberitahukan akan pintu kehidupan. Ketiga, tempat
besok bila sudah hidup kekal abadi, keempat alam kematian yaitu yang
sedang dijalani sekarang ini. Lagipula mereka diberitahu akan adanya
Yang Maha Luhur…” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh IV
Sinom, 6-7).

Kepada pada muridnya, Syekh Siti Jenar mengajarkan ilmu ma’rifat


secata bertahap, yang harus dikuasai oleh seseorang, jika ingin menjadi

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 12
manusia sempurna (al-insan al-kamil), serta bagi yang ingin menempuh
laku manunggal dengan Tuhan.
(1) Pertama-tama Syekh Siti Jenar mengajarkan tentang asal-usul
manusia [ngelmu sangkan-paran];
(2) Langkah berikutnya, ia mengajarkan masalah yang berkaitan
dengan kehidupan, khususnya apa yang disebut sebagai pintu
kehidupan;
(3) Langkah ketiga Syekh Siti Jenar menunjukkan tempat manusia
besok ketika sudah hidup kekal abadi;
(4) Faham keempat, ia menunjukkan tempat alam kematian, yaitu yang
sedang dialami dan dijalani manusia sekarang ini, di dunia ini, serta
berbagai kiat cara menghadapinya;
(5) Langkah terakhir Syekh Siti Jenar mengajarkan tentang adanya
Tuhan Yang Maha Luhur yang menjadikan bumi dan angkasa,
sebagai pelabuhan akhir bagi kemanunggalan dan keabadian.

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 13
SASAHIDAN : INTISARI AJARAN SYEKH SITI JENAR

SEMBILAN BELAS
“Ingsun anakseni ing Datingsun dhewe, satuhune ora ana Pangeran
amung Ingsun, lan nakseni Ingsun satuhune Muhammad iku utusan
Ingsun, iya sajatine kang aran Allah iku badan Ingsun, Rasul iku
rahsaning-Sun, Muhammad iku cahyaning-Sun, iya Ingsun kang eling
tan kena ing lali, iya Ingsun kan langgeng ora kena owah gingsir ing
kahanan jati, iya Ingsun kang waskitha ora kasamaran ing sawiji-
wiji, iya Ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora
kukurangan ing pangerti, byar.. sampurna padhang terawang-an, ora
karasa apa-apa, ora ana keton apa-apa, mung Insun kang nglimputi
ing ngalam kabeh, kalawan kodrating-Sun.”
(R. Ng. Ranggawarsita, WIRID Punika Serat Wirid Anyariyo-saken
Wewejanganipun Wali VIII, Administrasi Jawi Kandha Surakarta,
penerbit Albert Rusche & Co., Surakarta, 1908, hlm.15-16).

Terjemahan, “Aku angkat saksi di hadapan Dzat-Ku sendiri,


sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Aku, dan Aku angkat saksi
sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku, sesungguhnya yang disebut
Allah Ingsun diri sendiri (badan-Ku), Rasul itu Rahsa-Ku, Muhammad
itu cahaya-Ku, Akulah Dzat yang hidup tidak akan terkena mati,
Akulah Dzat yang selalu ingat tidak pernah lupa, Akulah Dzat yang
kekal tidak ada perubahan dalam segala keadaan, (bagi-Ku) tidak
ada yang samar sesuatupun, Akulah Dzat yang Maha Menguasai,
yang Kuasa dan Bijaksana, tidak kekurangan dalam pengertian,
sempurna terang benerang, tidak terasa apa-apa, tidak kelihatan
apa-apa, hanya Aku yang meliputi sekalian alam dengan kodrat-Ku.”

Ajaran tersebut disebut sebagai ajaran atau wejangan Sasahidan Serat


Wirid Hidayat Jati merupakan naskah paling terkenal hasil karya R. Ng.
Ranggawarsita. Menurut R. Ng. Ranggawarsita, naskah tersebut
merupakan wejangan wali ke-8. wali VIII yang dimaksud adalah Sunan
Kajenar atau Syekh Siti Jenar. Ini sesuai dengan pernyataan
Ranggawarsita sendiri dalam naskah tersebut pada halaman 5 dan 6,
dimana wejangannya adalah Sasahidan atau Penyaksian. Oleh
Ranggawarsita, Sunan Kajenar disebut sebagai wali dalam dua angkatan,
yakni angkatan pertama di awal Kerajaan Demak dan angkatan dua, yakni
pada masa akhir Kerajaan Demak. Melihat pernyataan ini, logis jika tahun

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 14
wafatnya Syekh Siti Jenar ditetapkan pada tahun 1517, sebab setelah
kekuasaan Raden Fatah usia Kerajaan Demak tidak berlangsung lama,
disambung dengan Kerajaan Pajang.

Dari wejangan Sasahidan itu, nampaklah pengalaman spiritual dan


keadaan kemanunggalan pada diri Syekh Siti Jenar terjadi dalam waktu
yang lama, dan mendominasi keseluruhan wahana batin Syekh Siti Jenar.
Nampak juga bahwa dalam intisari ajaran tersebut, konsistensi sikap
batin dan sikap dzahir dari ajaran Syekh Siti Jenar. Jika ilmu tidak ada
yang dirahasiakan dalam pengajaran, maka demikian pula pengalaman
batin dari keagamaan juga tidak bisa disembunyikan. Dan pengalaman
keagamaan yang terlahir tidak harus ditutup-tutupi walaupun dengan
dalih dan selubung syari’at. Dan akhirnya dalam ajaran Sasahidan itulah,
semua ajaran Syekh Siti Jenar tersimpul.

KEMANUNGGALAN KE-IMAN-AN

DUA PULUH
“Adapun manunggalnya keimanan, itu menjadi tempat berkumpulnya
jauhar (mutiara) Muhammad, terdiri atas 15 perkara, seperti perincian di
bawah ini:
a. Imannya imam, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan
mensekutukan, engkau adalah keberadaan Allah.
b. Imannya tokide (tauhid), maksudnya adalah jangan ragu dan jangan
mensekutukan, engkau adalah panunggale (tempat manunggalnya)
Allah.
c. Imannya syahadat, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan
mensekutukan, engkau adalah sifatullah (sifatnya Allah).
d. Imannya ma’rifat, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan
mensekutukan, engkau adalah kewaspadaan Allah.
e. Imannya shalat, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan
mensekutukan, engkau adalah menghadap Allah.
f. Imannya kehidupan, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan
mensekutukan, engkau adalah kehidupannya Allah.
g. Imannya takbir, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan
mensekutukan, engkau adalah kepunyaan keangungan Allah.
h. Imannya saderah, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan
mensekutukan, engkau adalah pertemuan Allah.

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 15
i. Imannya kematian, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan
mensekutukan, engkau adalah kesucian Allah.
j. Imannya junud, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan
mensekutukan, engkau adalah wadahnya Allah.
k. Imannya jinabat, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan
mensekutukan, engkau adalah kawimbuhaning (bertambahnya ni’mat
dan anugerah) Allah.
l. Imannya wudlu, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan
mensekutukan, engkau adalah asma (Nama) Allah.
m. Imannya kalam (perkataan), maksudnya adalah jangan ragu dan
jangan mensekutukan, engkau adalah ucapan Allah.
n. Imannya akal, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan
mensekutukan, engkau adalah juru bicara Allah.
o. Imannya nur, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan
mensekutukan, engkau adalah wujudullah, yaitu tempat berkumpulnya
seluruh jagat (makrokosmos), dunia akhirat, surga neraka, ‘arsy
kursi, loh kalam (lauh al-kalam), bumi langit, manusia, jin, belis (iblis)
laknat, malaikat, nabi, wali, orang mukmin, nyawa semua, itu
berkumpul di pucuknya jantung yang disebut alam kiyal (‘alam al-
khayal), maksudnya adalah angan-angannya Tuhan, itulah yang agung
yang disebut alam barzakh, yang dimaksudnya adalah pamoring gusti
kawula, yang disebut alam mitsal, yang dimaksudnya adalah awal
pengetahuan, yaitu kesucian dzat sifat asma af’al, yang disebut alam
arwah, maksudnya berkumpulnya nyawa yang adalah dipenuhi sifat
kamal jamal.” (Wedha Mantra, hlm. 54-55).

Ajaran tersebut terkenal dengan sebutan panunggaling iman. Dari aplikasi


iman dalam bentuk keimanan Manunggaling Kawula-Gusti tersebut
tampak, bahwa fungsi manusia sebagai khalifatullah (wakil real Allah) di
muka bumi betul-betul nyata. Manusia adalah cermin dan pancaran wujud
Allah, dengan fungsi iradah dan kodrat yang berimbang. Semua bentuk
syari’at agama ternyata memiliki wujud implementasi bagi tekad hatinya,
sekaligus ditampakkan melalui tingkah lahiriyahnya.

Jelas sudah bahwa dalam sistem sufisme Imannya kehidupan, maksudnya


adalah jangan ragu dan jangan mensekutukan, engkau adalah
kehidupannya Allah, ajaran “langit” Allah berhasil “dibumikan” oleh
Imannya kehidupan, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan
mensekutukan, engkau adalah kehidupannya Allah. Melalui doktrin utama

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 16
Manunggaling Kawula-Gusti. Manusia diajak untuk membuktikan
keberadaan Allah secara langsung, bukan hanya memahami “keberadaan”
dari sisi nalar-pikir (ilmu) dan rasa sentimen makhluk (perasaan yang
dipaksa dengan doktrin surga dan neraka). Imannya kehidupan,
maksudnya adalah jangan ragu dan jangan mensekutukan, engkau adalah
kehidupannya Allah. Mengajarkan dan mengajak manusia bersama-sama
“merasakan” Allah dalam diri pribadi masing-masing.

DUA PULUH SATU


Adapun yang menjadi maksud:
a. Iman, adalah pangandeling (pusaka andalan), roh.
b. Tokid (tauhid), panunggale (saudara tak terpisah, tempat manunggal)
roh.
c. Ma’rifat, penglihatan roh.
d. Kalbu, penerimaan (antena penerima) roh.
e. Akal, pembicaraannya roh.
f. Niat, pakaremaning roh.
g. Shalat, menghadapnya roh.
h. Syahadat, keadaan roh.” (Wedha Mantra, hlm. 54).

Pernyataan Syekh Siti Jenar tersebut mempertegas maksud


Manunggalnya Iman di atas. Di dalam hal ini, Syekh Siti Jenar
menjelaskan maksud dari masing-masing doktrin pokok tauhid dan fiqih
ketika dikaitkan dengan spiritual. Iman, tauhid, ma’rifat, qalbu, dan akal
adalah doktrin pokok dalam wilayah tauhid; dan niat, shalat serta
syahadat adalah doktrin pokok fiqih. Oleh Syekh Siti Jenar semua itu di
rangkai menjadi bentuk perbuatan roh manusia, sehingga masing-masing
memiliki peran dan fungsi yang dapat menggerakkan seluruh kepribadian
manusia, lahir dan batin, roh dan jasadnya. Itulah makna keimanan yang
sesungguhnya. Sebab rukun iman, rukun Islam dan ihsan pada hakikatnya
adalah suatu kesatuan yang utuh yang membentuk kepribadian Illahiyah
pada kedirian manusia.

DUA PULUH DUA


“Yang disebut kodrat itu yang berkuasa, tiada yang mirip atau yang
menyamai. Kekuasaannya tanpa piranti, keadaan wujudnya tidak ada baik
luar maupun dalam merupakan kesantrian yang beraneka ragam.

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 17
Iradatnya artinya kehendak yang tiada membicarakan, ilmu untuk
mengetahui keadaan, yang lepas jauh dari pancaindera bagaikan anak
gumpitan lepas tertiup.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh
III Dandangula, 31).
Bagi Syekh Siti Jenar, kodrat dan iradat bukanlah hal yang terpisah dari
manusia, dan bukan mutlak milik Allah. Kodrat dan iradat menurut Syekh
Siti Jenar terkait erat dengan eksistensi sang Pribadi (manusia). Pribadi
adalah eksistensi roh. Maka jika roh adalah pancaran cahaya-Nya, pribadi
adalah tajalli-Nya, penjelmaan Diri-Nya. Pribadi adalah Allah yang
menyejarah. Maka Syekh Siti Jenar mengemukakan bahwa dirinya adalah
sang pemilik dua puluh sifat ketuhanan. Oleh karena itu kodrat
merupakan kuasa pribadi, sifat yang melekat pada pribadi sejak zaman
azali dan itu langgeng. Demikian pula adanya iradat, kehendak atau
keinginan.

Antara karsa, keinginan dan kuasa, adalah hal yang selalu berkelindan
bagi wujud keduanya. Tentu menyangkut kehendak, setiap pribadi
memiliki karsa yang mandiri dan yang berhak merumuskan hanyalah
“perundingan” antara pemilik iradah dengan Yang Maha Memiliki Iradah.
Kemudian untuk mewujudkan rasa cipta itu, perlu juga pelimpahan kodrat
Allah pada manusia. Untuk itu semua, Syekh Siti Jenar mendidik manusia
untuk mengetahui Yang Maha Kuasa, dan mengetahui letak pintu
kehidupan serta kematian. Tujuannya jelas, agar manusia menjadi Pribadi
Sejati, pemilik iradah dan kodrat bagi dirinya sendiri.

SYAHADAT

DUA PULUH TIGA


“Inilah maksud Syahadat: ‘Ashadu;jatuhnya rasa, ilaha;kesejatian
rasa, illallah; bertemu rasa. Muhammad hasil karya yang maujud,
Pangeran; kesejatian kehidupan.”

Dalam hal Syahadat ini, Syekh Siti Jenar mengajarkan berbagai macam
Syahadat dan hal itu selaras dengan konsep utama ajarannya,
manunggaling kawula-Gusti, serta tetap di atas fondasi ajaran shalat
daim. Syahadat dalam hal ini, adalah menjadi keadaan roh, bukan sekedar
ucapan lisan, dan hasil pengolahan nalar-pikiran, atau bisikan hati.
Susunan kalimat syahadat adalah campuran bahasa Arab dan bahasa

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 18
Jawa. Hal ini menjadi kebiasaan Syekh Siti Jenar dalam mengajarkan
ajaran-ajarannya, sehingga dengan mudah dan gamblang murid serta
pengikutnya mampu memahami dan mengamalkan ajaran tersebut, tanpa
kesulitan akibat kendala bahasa.
Beberapa wali di Jawa, selain Syekh Siti Jenar juga memiliki dan
mengajarkan syahadat.

Misalnya Syahadat Sunan Giri, “Bismillahirrahmanirrahim, syahadat


kencana sinarawedi, sahadu minangka kencana sinarawedi, dzat
sukma kang ginawa mati, kurungan mas ilang tanpa kerana, sira
muliha maring kubur.”

Syahadat Sunan Bonang, “Bismillahirrahmanirrahim, syahadat


kencana, linggih ing maligi mas, ulir sjroh-ning geni muskala, ilang ing
kawulat aja kari, ya hu ya hu ya hu, sirna kurungan tanpa kerana.”

Dan syahadat Sunan Kalijaga, “Bismillahirrahmanirrahim, syahadat


kencana, kurungan mas, kuliting jati sajatining sukma, ginawa mati,
sirna tan ana kari, sukma ilang jiwa ilang, kang lunga padha rupane,
dap lap ilang,” (Wejangan Walisanga, hlm. 50).

Dibawah ini adalah aplikasi syahadat menurut Syekh Siti Jenar. Sebagian
Syahadat yang ada merupakan Dzikir dan Wirid ketika Syekh Siti Jenar
mengajarkan cara melepaskan air kehidupan (tirta nirmaya) untuk
membuka pintu kematian menuju kehidupan sejati di alam akhirat.
Syahadat-syahadat sejenis juga diajarkan oleh Ki Ageng Pengging kepada
Sunan Kudus, sebelum wafatnya.

Jatunya rasa (tibaning rasa) maksudnya adalah meresapnya Allah dalam


kehendak dan kedalaman jiwa. Ini kemudian dipupuk dengan laku spiritual
yang melahirkan sajatining rasa (kesejatian rasa), di mana ruang
keseluruhan jiwa telah terdominasi oleh al-Haqq (Allah). Kemudian
lahirlah ungkapan illallah sebagai puncak, yakni pertemuan rasa,
manunggalnya yang mengungkapkan “asyhadu” dengan sarana ungkapan,
yakni Allah.

Kemanunggalan ini memunculkan tenaga dan energi kreativitas positif,


dalam bentuk karya yang berbentuk nyata, bermanfaat dan berdaya
guna, serta bersifat langgeng, yang diidentifikasikan dengan sebutan

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 19
Muhammad (Yang Memiliki Segala Keterpujian) sebagai perwujudan riil
dari sang Wajib al-Wujud.

Maka diri manusia sebagai ”Pangeran” (Tuhan) itulah yang perupakan


kesejatian hidup atau kehidupan.
Syahadat dalam sistem ajaran Syekh Siti Jenar bukanlah hanya
sekedar bentuk pengakuan lisan yang berupa Syahadat Tauhid dan
Syahadat Rasul. Namun Syahadat adalah Persaksian Batin, yang
teraplikasi dalam tindakan Dzahir sebagai Wujud Kemanunggalan
Kawula-Gusti. Dengan demikian Syahadat mampu melahirkan karya-
karya yang bermanfaat.

DUA PULUH EMPAT


“Mengertilah, bahwa sesungguhnya ini Syahadat Sakarat, jika tidak tau
maka sekaratnya masih mendapatkan halangan, hidupnya dan matinya
hanya seperti hewan.

Lafalnya mengucapkan adalah :


“Syahadat Sakarat Sajati, iya Syahadat Sakarat, wus gumanang
waluya jati sirne eling mulya maring tunggal, waluya jati iya
sajatining rasa, lan dzat sajatining dzat pesthi anane langgeng tan
kenaning owah, dzat sakarat roh madhep ati muji matring nyawa,
tansah neng dzatullah, kurungan mas melesat, eling raga tan rusak
sukma mulya Maha Suci.” (Mantra Wedha, bab 205, hlm. 53).

Terjemahan :
(Syahadat Sakarat Sejati adalah Syahadat Sakarat [Menjelang dan
proses datangnya pintu kematian], sudah nyata penuh kesempatan
hilangnya ingatan kemuliaan kepada yang tunggal, keselamatan dan
kesentosaan itu adalah sejatinya kehidupan, tunggal sejatinya hidup,
hidup sejatinya rasa dan sejatinya rasa dan dzat sejatinya dzat
pasti dalam keberadaan kelanggengan tidak terkena perubahan, dzat
sekarat roh menghadap hati memuji nyawa, selalu berada dalam
dzatullah, sangkar mas hilang, mengingat raga tidak terkena
kerusakan sukma mulia Maha Suci).

Syahadat Sakarat adalah syahadat atau persaksian menjelang kematian.


Sebagaimana diketahui, bahwa salah satu ajaran Syekh Siti Jenar adalah

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 20
kemampuan memadukan Iradah dan Qudrat diri dengan Iradah dan
Qudrat Ilahi, sebagai efek kemanunggalan.

Sehingga apa yang menjadi ilmu Allah, maka itu adalah ilmu diri manusia
yang manunggal. Maka orang yang sudah meninggal mencapai al-Insan al-
Kamil, juga mengetahui kapan saatnya dia meninggalkan alam kematian di
dunia ini, menuju alam kehidupan sejati di akhirat, untuk menyatu
selamanya dengan Allah. Syahadat sekarat yang terpapar di atas, adalah
syahadat sakarat yang bersifat umum, sebab nanti masih ada beberapa
syahadat.

Semua Syahadat yang diajarkan Syekh Siti Jenar menjadi lafal harian
atau Dzikir, terutama saat menjelang tidur, agar dalam kondisi tidur juga
tetap berada dalam kondisi kemanunggalan Iradah dan Qodrat.

Namun Syahadat-syahadat yang ada tidak hanya sekedar ucapan, sebab


saat pengucapan harus disertai dengan Laku (meditasi) dan paling tidak
mengheningkan daya cipta, rasa dan karsa, sehingga lafal-lafal yang
berupa syahadat tersebut, menyelusup jauh ke dalam diri atau dalam
Sukma.

DUA PULUH LIMA


“Syahadat Allah, Allah, Allah lebur badan, dadi nyawa, lebur nyawa dadi
cahya, lebur cahya dadi idhafi, lebur idhafi dadi rasa, lebur rasa dadi
sirna mulih maring sajati, kari amungguh Allah kewala kang langgeng tan
kena pati.”

Terjemahan :
(Syahadat Allah, Allah, Allah badan lebur menjadi (roh) Idhafi, (roh)
Idhafi lebur menjadi Rasa, Rasa lebur Sirna kembali kepada yang sejati,
tinggallah hanya Allah semata yang abadi tidak terkena kematian).
[Mantra Wedha, hlm. 53).

Syahadat Paleburan diucapkan ketika (menjalani keheningan = samadhi),


menyatukan diri kepada Allah. Lafal tersebut lahir dari pengalaman
Syekh Siti Jenar ketika memasuki relung-relung kemanunggalan, di mana
jasad fisiknya ditinggalkan rohnya, sesudah semua Nafs dalam dirinya
mengalami Kasyaf.

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 21
DUA PULUH ENAM
“Ashadu-ananingsun, la ilaha rupaningsun, illallah – Pangeransun,
satuhune ora ana Pangeran angging Ingsun, kang badan nyawa kabeh”
(ashadu-keberadaanku, la ilaha – bentuk wajahku, illallah – Tuhanku,
sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Aku, yaitu badan dan nyawa
seluruhnya).

Inilah yang disebut Syahadat Sajati. Pengakuan sejati ini adalah


ungkapan yang sebenarnya bersifat biasa-biasa saja, di mana ungkapan
tersebut lahir dari hati dan rohnya, sehingga dari ungkapan yang ada
dapat diketahui sampai di mana tingkatan tauhidnya (tauhid dalam arti
pengenalan akan ke-Esaan Allah), bukan sekedar pengenalan akan nama-
nama Allah.

DUA PULUH TUJUH


“Sakarat pujine pati, maksude napas pamijile napas, kaketek meneng-
meneng, iya iku sing ameneng, pati sukma badan, mulya sukma sampurna,
mulih maring dzatullah, Allah kang bangsa iman, iman kang bangsa nur,
nur kang bangsa Rasulullah, iya shalat albar, Muhammad takbirku, Allah
Pangucapku, shalat jati asembahyang kalawan Allah, ora ana Allah, ora
ana Pangeran, amung iku kawula tunggal, kang agung kang kinasihan.”
(mantra Wedha, hlm. 53).

Terjemahan :
“Sekarat ku kemuliaan kematian, maksudnya adalah napas munculnya
napas, yang hilang berangsur-angsur secara diam-diam, yaitu yang
kemudian diam, kematian sebagai sukma badan-wadag, kemuliaan sukma
kesempurnaan, kembali kepada Dzatullah, Allah sebagai labuhan iman,
iman yang berbentuk cahaya, cahaya yang berwujud Rasulullah, yaitu
adalah shalat yang agung, Muhammad sebagai takbirku, Allah sebagai
ucapanku, shalat sejati menyembah Allah, tidak ada Allah tidak ada
Tuhan, hanyalah aku (kawula) yang tunggal saja, yang agung dan dikasihi.”

Ini adalah Syahadat Sakarat Permulaan Kematian. Ketika seseorang


sudah melihat akhir hayatnya, maka orang tersebut diajarkan untuk

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 22
memperbanyak melafalkan dan mengamalkan “syahadat sakarat wiwitane
pati” ini.

DUA PULU DELAPAN


“Ashadu ananingsun, anuduhake marga kang padhang, kang urip tan
kenaning pati, mulya tan kawoworan, elinge tan kena lali, iya rasa iya
rasulullah, sirna manjing sarira ening, sirna wening tunggal idhep
jumeneng langgeng amisesa budine, angen-angene tansah amadhep ing
Pangeran.” (mantra Wedha, hlm. 54).

Terjemahan :
(Ashadu keberadaanku, yang menunjukkan jalan yang terang, yang hidup
tidak terkena kematian, yang mulia tanpa kehinaan, kesadaran yang tidak
terkena kematian, yang mulia tanpa kehinaan, kesadaran yang tidak
terkena lupa, itulah rasa yang tidak lain adalah Rasulullah, selesailah
berada di alam terang, itulah hakikat Rasulullah, hilang musnah ketempat
wujud yang hening, hilang keheningan menyatu-tunggal menempati secara
abadi memelihara budi, angan-angan selalu menghadap Tuhan).

Syahadat Sekarat Hati pada hakikatnya adalah syahadat Nur


Muhammad. Suatu penyaksian bahwa kedirian manusia adalah bagian dari
Nur Muhammad. Dari inti syahadat ini, jelas bahwa kematian manusia
bukanlah jenis kematian pasif, atau kematian negatif, dalam arti
kematian yang bersifat memusnahkan. Kematian dalam pandangan
sufisme Syekh Siti Jenar hanya sebagai gerbang menuju kemanunggalan,
dan itu harus memasuki alam Nur Muhammad. Bentuk konkretnya, dalam
pengalaman kematian itu, orang tersebut tidaklah kehilangan akan
kesadaran manunggal-Nya. Ia melanglang buana menuju asal muasal hidup.

Oleh karenanya keadaan kematiannya bukanlah suatu kehinaan


sebagaimana kematian makhluk selain manusia. Di sinilah arti penting
adanya syafa’at sang Utusan (Rasulullah) dalam bentuk Nur Muhammad
atau hakikat Muhammad. Nur Muhammad adalah roh kesadaran bagi tiap
Pribadi dalam menuju kemanunggalannya. Sehingga dengan Nur
Muhammad itulah maka pengalaman kematian oleh manusia, bagi Syekh
Siti Jenar bukan sejenis kematian yang pasif, atau kematian yang
negatif, dalam arti kematian dalam bentuk kemusnahan sebagaimana yang
terjadi terhadap hewan.

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 23
Kematian itu adalah sesuatu aktivitas yang aktif. Sebab ia hanyalah pintu
menuju keadaan manunggal. Dalam ajaran Syekh Siti Jenar yang
diperuntukkan bagi kaum ‘awam (orang yang belum mampu mengalami
Manunggaling Kawula-Gusti secara sempurna) di atas, nampak bahwa
dalam kematian itu, seseorang tetap tidak kehilangan kesadaran
kemanunggalannya. Dengan hakikat Muhammadnya ia tetap sadar dalam
pengalaman kematian itu, bahwa ia sedang menempuh salah satu lorong
manunggal. Melalui lorong itulah kediriannya menuju persatuan dengan
Sang Tunggal. Kematian manusia adalah proses aktif sang al-Hayyu (Yang
Maha Hidup), sehingga hanya dengan pintu yang dinamakan kematian
itulah, manusia menuju kehidupan yang sejati, urip kang tan kena pati,
hidup yang tidak terkena kematian.

DUA PULUH SEMBILAN


“Syahadat Panetep panatagama, kang jumeneng roh idlafi, kang ana
telenging ati, kang dadi pancere urip, kang dadi lajere Allah, madhep
marang Allah, iku wayanganku roh Muhammad, iya, iku sajatining manusia,
iya iku kang wujud sampurna. Allahumma kun walikun, jukat astana Allah,
pankafatullah ya hu Allah, Muhammad Rasulullah.” (mantra Wedha, hlm.
54).

Terjemahan :
(Syahadat Penetap Panatagama, yang menempati roh idlafi, yang ada di
kedalaman hati, yang menjadi sumbernya kehidupan, yang menjadi
bertempatnya Allah, menghadap kepada Allah, bayanganku adalah roh
Muhammad, yaitu sejatinya manusia, yaitu wujudnya yang sempurna.
Allahumma kun walikun jukat astana Allah, pankafatullah ya hu Allah,
Muhammad Rasulullah).

Syahadat ini adalah sejenis syahadat netral, yakni yang memiliki fungsi
dan esensi yang umum. Pengucapannya tidak berhubungan dengan waktu,
tempat, dan keadaan tertentu sebagaimana syahadat yang lain. Hakikat
Syahadat ini hanyalah berfungsi untuk meneguhkan hati akan tauhid al-
wujud.

TIGA PULUH

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 24
“Ini adalah syahadat sakaratnya roh (pecating nyawa), yang meliputi
empat perkara :
1. Ketika roh keluar dari jasad, yakni ketika roh ditarik sampai pada
pusar, maka bacaan syahadatnya adalah, “la ilaha illalah, Muhammad
rasulullah.”
2. Kemudian, ketika roh ditarik dari pusar sampai ke hati, syahadat
rohnya adalah “la ilaha illa Anta”.
3. Kemudian roh ditarik sampai otak, maka syahadatnya “la ilaha illa
Huwa”.
4. Maka kemudian roh ditarik dengan halus. Saat itu sudah tidak
mengetahui jalannya keluar roh dalam proses sekarat lebih lanjut.

Sekaratnya manusia itu sangat banyak sakitnya, seakan-akan hidupnya


sekejap mata, sakitnya sepuluh tahun. Dalam keadaan seperti itulah
manusia kena cobaan setan, sehingga kebanyakkan kelihatan bahwa kalau
tidak melihat jalan keluarnya roh menjadi lama dalam proses sekaratnya.

Jika rohnya tetap mendominasi kesadarannya, tidak kalah oleh sifat


setan, maka syahadatnya roh adalah “la ilaha illa Ana”. (Mantra Wedha,
bab 211, hlm. 57).

Ajaran tentang syahadat pecating nyawa tersebut diberikan oleh Syekh


Siti Jenar bagi orang yang belum mampu menempuh laku manusia
manunggal, sehingga diperlukan prasyarat lahiriyah yang berupa syahadat
pecating nyawa tersebut.

Bagi yang sudah mampu menempuh laku manunggal, maka prosesnya


seperti yang dilakukan Syekh Siti Jenar, kematian bukan masalah kapan
ajalnya datang, juga bukan masalah waktu. Kematian termasuk dalam
salah satu agenda manunggalnya Iradah dan Qudrat kawula Gusti dan
sebaliknya.

Kalau diperhatikan secara seksama, ajaran Syekh Siti Jenar yang


dikhususkan bagi kalangan ‘awam (yang tidak mampu mengalami
Manunggaling Kawula Gusti secara sempurna) tersebut hampir sama
dengan ajaran Syuhrawardi.

SHALAT (TAREK DAN DAIM)

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 25
Syekh Siti Jenar mengajarkan dua macam bentuk shalat, yang disebut
shalat tarek dan shalat daim.

Shalat tarek adalah Shalat Thariqah, diatas sedikit dari Syari’at. Shalat
Tarek diperuntukkan bagi orang yang belum mampu untuk sampai pada
tingkatan Manunggaling Kawula Gusti.

Sedang shalat daim merupakan shalat yang tiada putus sebagai efek
dari kemanunggalannya.

Sehingga Shalat Daim merupakan hasil dari pengalaman batin atau


pengalaman spiritual. Ketika seseorang belum sanggup melakukan hal itu,
karena masih adanya hijab batin, maka yang harus dilakukan adalah
shalat tarek. Shalat tarek masih terbatas dengan adanya lima waktu
shalat, sedang shalat daim adalah shalat yang tiada putus sepanjang
hayat, teraplikasi dalam keseluruhan tindakan keseharian ( penambahan,
mungkin efeknya adalah berbentuk suci hati, suci ucap, suci pikiran );
pemaduan hati, nalar, dan tindakan ragawi.

Kata “tarek” berasal dari kata Arab “tarki” atau “tarakki” yang memiliki
arti pemisahan. Namun maksud lebih mendalam adalah terpisahnya jiwa
dari dunia, yang disusul dengan tanazzul (manjing)-nya al-Illahiyah dalam
jiwa. Shalat tarek yang dimaksud di sini adalah shalat yang dilakukan
untuk dapat melepaskan diri dari alam kematian dunia, menuju
kemanunggalan. Sehingga menurut Syekh Siti Jenar, shalat yang hanya
sekedar melaksanakan perintah Syari’at adalah tindakan kebohongan, dan
merupakan kedurjanaan budi.

Pengambilan shalat tarek ini berasal dari Kitab Wedha Mantra bab 221;
Shalat Tarek Limang Wektu. (Sang Indrajit: 1979, hlm. 63-66).

Keterangan bagi yang mengamalkan ilmu shalat tarek lima waktu ini.
(Semua hal yang berkaitan dengan Shalat Tarek ini diterjemahkan
dengan apa adanya dari Kitab Wedha Mantra. Makna terjemahan yang
bertanda kutip hanyalah arti untuk memudahkan pemahaman. Adapun
maksud dan substansi yang ada dalam kalimat-kalimat asli dalam bahasa
Jawa-Kawi, lebih mendalam dan luas dari pemahaman dan terjemahan
diatas. (penulisnya wanti-wanti banget).

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 26
Pelaksanaan shalat tarek bisa saja diamalkan bersamaan dengan Shalat
Syari’at sebagaimana biasa, bisa juga dilaksanakan secara terpisah.
Hanya saja terdapat perbedaan dalam hal wudlunya.

Jika dalam Shalat Syari’at, anggota wudhu yang harus dibasuh adalah
wajah, tangan, sebagian kepala, dan kaki, sementara dalam Shalat Tarek
adalah di samping tempat-tempat tersebut, harus juga membasuh
seluruh rambut, tempat-tempat pelipatan anggota tubuh, pusar,
dada, jari manis, telinga, jidat, ubun-ubun, serta pusar tumbuhnya
rambut (Jawa; unyeng-unyengan). Walhasil wudlu untuk shalat tarek
sama halnya dengan mandi besar (junub/jinabat).
Bahwa kematian orang yang menerapkan ilmu ini masih terhenti pada
keduniaan, akan tetapi sudah mendapatkan balasan surga sendiri. Maka
paling tidak ujaran-ujaran shalat tarek ini hendaknya dihafalkan, jangan
sampai tidak, agar memperoleh kesempurnaan kematian.

Bagi yang akan membuktikan, siapa saja yang sudah melaksanakan ilmu ini,
dapat saja dibuktikan. Ketika kematian jasadnya didudukkan di daratan
(di atas tanah), di kain kafan serta diberi kain lurub (penutup) serta
selalu ditunggu, kalau sudah mendapatkan dan sampai tujuh hari, bisa
dibuka, niscaya tidak akan membusuk, (bahkan kalau iradah dan
qudrahnya sudah menyatu dengan Gusti), jasad dalam kafan tersebut
sudah sirna. Kalau dikubur dengan posisi didudukkan, maka setelah
mendapat tujuh hari bisa digali kuburnya, niscaya jasadnya sudah sirna,
dan yang dikatakan bahwa sudah menjadi manusia sempurna. Maka karena
itu, orang yang menerapkan ilmu ini, sudah menjadi manusia sejati.

Sedangkan tentang ilmu ini, bukanlah manusia yang mengajarkan, cara


mendapatkannya adalah hasil dari laku-prihatin, berada di dalam khalwat
(meditasi, mengheningkan cipta, menyatu karsa dengan Tuhan
sebagaimana diajarkan Syekh Siti Jenar).

Tentang anjuran untuk pembuktian di atas, sebenarnya tidak diperlukan,


sebab yang terpenting adalah penerapan pada diri kita masing-masing.
Justru pembuktian paling efektif adalah jika kita sudah mengaplikasikan
ilmu tersebut. Apalagi pembuktian seperti itu jika dilaksanakan akan
memancing kehebohan, sebagaimana terjadi dalam kasus kematian Syekh
Siti Jenar serta para muridnya.

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 27
TIGAPULUH SATU

Shalat Subuh
Niat yang paling awal, “Niyat ingsun shalat, roh Kudus kang shalat, iya iku
rohing Allah. Allah iku lungguh ana ing paningal, shalat iku sajrone shalat
ana gusti, sajroning gusti ana sukma, sajroning sukma ana nyawa,
sajroning nyawa ana urip, sajro-ning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu
akbar, tetep mantep weruh ing awakku.”

Terjemahan :
(Aku berniat shalat, roh Kudus yang melaksanakan shalat, yaitulah rohnya
Allah. Allah yang menempati penglihatan, shalat yang di dalam shalat itu
ada gusti, di dalam gusti ada sukma, di dalam sukma ada nyawa, di dalam
nyawa terdapat kehidupan, di dalam kehidupan terdapat kesadaran
menyeluruh, kewajiban dari Allah ta’ala, Allahu akbar tetap mantap
mengerti akan diriku sendiri).

Malaikatnya adalah Haruman (malaikat Rumman), memujinya dengan “Ya


Hu, Ya Hu.” Seratus kali.

Niatnya, “Niyatingsun shalat, sirku kang shalat, pardlu ta’ala Allahu


akbar, tetep madhep langgeng weruh ing sirku.”
Terjemahan :
(Aku berniat shalat, sir [rahasia]-ku yang shalat, wajib dari Allah ta’ala,
Allahu akbar, tetap menghadap dengan abadi mengerti akan sir [rahasia]-
ku).

Malaikatnya Haruman, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.


Kemudian memuji; “ya Rajamu, ya Rajaku.” (Arab; Ya maliku al-Mulku).
Seratus kali.

Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.

Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jumeneng Allah, nur gumulung,
gumulung agawe jagat,” (Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah,
rahasia tempat berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung membuat
semesta). Seratus kali.

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 28
Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing Allahku.”
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada
Allahku).Seratus kali.

Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing
Allahku”, (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada
Allahku), Seratus kali.

TIGA PULUH DUA


Shalat Luhur
Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh idlafi kang shalat, iya iku
rohing Pangeran. Pangeran iku lungguhe ana ing kaketek, shalat iku
sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana urip,
sajroning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep weruh
ing Pangeranku.”

Terjemahan :
(Aku berniat shalat, roh Idlafi yang melaksanakan shalat, yaitulah rohnya
Tuhan. Tuhan yang menempati ketiak, shalat yang di dalam sahalat itu
ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di dalam sukma terkandung
nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di dalam kehidupan terdapat
kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap
mantap mengerti akan Tuhanku). Malaikatnya adalah Jabarail (malaikat
Jibril), memujinya dengan, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.

Niatnya, “Niyatingsun shalat, kang shalat osikku, pardlu ta’ala Allahu


akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing osikku.” (Aku berniat
shalat, yang shalat bisikan dan gerak hatiku, wajib dari Allah ta’ala,
Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti akan
bisikan nuraniku).

Malaikatnya Jabarail, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.


Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-Mulku).
Seratus kali.

Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 29
Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur
gumulung, gumulung agawe jagat,” (Sungguh puncak dari segala puncak
adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung
membuat semesta). Seratus kali.

Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing Allahku.”
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada
Allahku).Seratus kali.

Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing
Allahku”,
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada Allahku),
Seratus kali.

TIGA PULUH TIGA

Shalat ‘Ashar
Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh Abadi kang shalat, iya iku
rohing Rasul. Rasul iku lungguhe ana ing poking ilat, shalat iku sajroning
sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana urip, sajroning
urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep weruh ing
Rasulku.”
Terjemahan :
(Aku berniat shalat, roh keabadian yang melaksanakan shalat, yaitulah
rohnya Utusan. Utusan Tuhan yang menempati ujung lidah, shalat yang di
dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di dalam
sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di dalam
kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah ta’ala,
Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan Utusanku).

Malaikatnya adalah Mikail, memujinya dengan, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus


kali.

Niatnya, “Niyatingsun shalat, angen-angenku kang shalat, pardlu ta’ala


Allahu akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing angen-angenku.”
(Aku berniat shalat, angan-anganku yang shalat, wajib dari Allah ta’ala,
Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti akan
angan-anganku).

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 30
Malaikatnya Mikail, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-Mulku).
Seratus kali.

Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.


Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur
gumulung, gumulung agawe jagat,” (Sungguh puncak dari segala puncak
adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung
membuat semesta). Seratus kali.

Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing Allahku.”
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada
Allahku).Seratus kali.
Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing
Allahku”, (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada
Allahku), Seratus kali.

TIGA PULUH EMPAT

Shalat Maghrib
Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, rokhani kang shalat, iya iku
rohing Muhammad. Muhammad iku lungguhe ana ing talingan, shalat iku
sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana urip,
sajroning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep weruh
ing Muhammadku.”

(Aku berniat shalat, rohani yang melaksanakan shalat, yaitulah rohnya


Muhammad. Muhammad yang menempati ujung telinga, shalat yang di
dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di dalam
sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di dalam
kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah ta’ala,
Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan Muhammadku).

Malaikatnya adalah Israfil, memujinya dengan, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus


kali.

Niatnya, “Niyatingsun shalat, tekadku kang shalat, pardlu ta’ala Allahu


akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing tekadku.”

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 31
(Aku berniat shalat, tekadku yang shalat, wajib dari Allah ta’ala, Allahu
akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti akan tekadku).
Malaikatnya Israfil, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.

Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-Mulku).


Seratus kali.

Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.

Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur
gumulung, gumulung agawe jagat,” (Sungguh puncak dari segala puncak
adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung
membuat semesta). Seratus kali.
Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing Allahku.”
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada
Allahku).Seratus kali.

Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing
Allahku”, (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada
Allahku), Seratus kali.

TIGA PULUH LIMA

Shalat ‘Isya’
Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh Robbi kang shalat, iya iku
rohing urip. urip iku lungguhe ana ing napas, shalat iku sajroning sukma,
sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana urip, sajroning urip ana
eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep weruh ing uripku.”
Terjemahan :
(Aku berniat shalat, roh Pembimbing yang melaksanakan shalat, yaitulah
rohnya kehidupan. Utusan Tuhan yang menempati napas, shalat yang di
dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di dalam
sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di dalam
kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah ta’ala,
Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan kehidupanku).

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 32
Malaikatnya adalah Izrail, memujinya dengan, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus
kali.

Niatnya, “Niyatingsun shalat, karepku kang shalat, pardlu ta’ala Allahu


akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing karepku.”
(Aku berniat shalat, keinginanku yang shalat, wajib dari Allah ta’ala,
Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti akan
keinginanku).

Malaikatnya Izrail, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.


Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-Mulku).
Seratus kali.

Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.


Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur
gumulung, gumulung agawe jagat,” (Sungguh puncak dari segala puncak
adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung
membuat semesta). Seratus kali.

Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing Allahku.”
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada
Allahku).Seratus kali.

Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing
Allahku”, (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada
Allahku), Seratus kali.

TIGA PULUH ENAM


“Inilah shalat satu raka’at salam, yang dilaksanakan setiap tanggal (bulan
purnama), dengan waktu tengah malam tepat :
a. Inilah niatnya, “Ushalli urip dzatullah Allahu akbar” (Aku berniat
melaksanakan shalat kehidupan dzatullah, Allahu akbar).
b. Membaca surat al-Fatihah, kemudian membaca ayat dengan menyebut,
“aku pan Sukma” (Aku sang pemilik Sukma).
c. Melakukan ruku’ dengan menyebut, “langgeng urip dzatullah”
(Kehidupan abadi dzatullah).
d. Sujud dengan mengucapkan, “ibu bumi dzatullah”.

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 33
e. Duduk di antara dua sujud dengan doa, “langgeng urip dzatullah tan
kena pati” (kehidupan abadi dzatullah yang tidak terkena kematian).
f. Sujud lagi dengan bacaan, “Ibu bumi dzatullah”.
g. Tahiyat dengan membaca, “Urip dzatullah”.
h. Membaca syahadat dengan bacaan, “Ashadu uripingsun lan sukma”
(Ashadu kehidupanku dan Sukma).
i. Salam dengan bacaan, “Ingsun kang agung, ingsun kang memelihara
kehidupan yang tidak terkena kema-tian.
j. Membaca doa, “Allahumma papan tulis hadhdhari langgeng urip tan
kena pati” (Allahumma papan tulis segala sesuatu yang abadi hidup
yang tak pernah terkena mati).
k. Kemudian berdoa dalam hati, “Ingsun kang agung ingsun kang wisesa
suci dhiriningsun” (ingsun yang Agung, ingsun yang memelihara, suci
diriku sendiri [ingsun]).

Dalam Islam dikenal shalat satu raka’at, namun itu hanya sebagian dari
shalat witir (shalat penutup akhir malam dengan raka’at yang ganjil).
Shalat satu raka’at salam dalam ajaran Syekh Siti Jenar bukanlah shalat
witir, namun shalat ngatunggal, atau shalat yang dilaksanakan dalam
rangka mencapai kemanunggalan diri dengan Gusti.

Bacaan-bacaan shalat ngatunggal tidak semuanya memakai bahasa Arab,


hanya lafazh takbir dan al-Fatihah serta ayat-ayat yang dibaca satu
madzhab fiqih Islam sekalipun (yakni madzhab Imam Hanafi, dan di
Indonesia terutama madzhab Hasbullah Bakri), bacaan dalam shalat
selain takbir dan al-Fatihah boleh diucapkan dengan bahasa ‘ajam (selain
bahasa Arab).

TIGA PULUH TUJUH


“Shalat lima kali sehari, puji dan dzikir itu adalah kebijaksanaan dalam
hati menurut kehendak pribadi. Benar atau salah pribadi sendiri yang
akan menerima, dengan segala keberanian yang dimiliki.” (Serat Syaikh
Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 33).

Syekh Siti Jenar menuturkan bahwa sebenarnya shalat sehari-hari itu


hanyalah bentuk tata krama dan bukan merupakan shalat yang
sesungguhnya, yakni shalat sebagai wahana memasrahkan diri secara
total kepada Allah dalam kemanunggalan. Oleh karenanya dalam tingkatan

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 34
aplikatif, pelaksanaannya hanya merupakan kehendak masing-masing
pribadi.

Demikian pula, masalah salah dan benarnya pelaksanaan shalat yang lima
waktu dan ibadah sejenisnya, bukanlah esensi dari agama. Sehingga
merupakan hal yang tidak begitu penting untuk menjadi perhatian
manusia. Namanya juga sebatas krama, yang tentu saja masing-masing
orang memiliki sudut pandang sendiri-sendiri.

TIGA PULUH DELAPAN


“Pada waktu saya shalat, budi saya mencuri, pada waktu saya dzikir, budi
saya melepaskan hati, menaruh hati kepada seseorang, kadang-kadang
menginginkan keduniaan yang banyak. Lain dengan Zat Allah yang bersama
diriku. Nah, saya inilah Yang Maha Suci, Zat Maulana yang nyata, yang
tidak dapat dipikirkan dan tidak dapat dibayangkan.” (Serat Syaikh Siti
Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 37).
Pada kritik yang dikemukakan Syekh Siti Jenar terhadap Islam formal
Walisanga tersebut, namun jelas penolakan Syekh Siti Jenar atas model
dan materi dakwah Walisanga. Pernyataan tersebut sebenarnya
berhubungan erat dengan pernyataan-pernyataan pada point 37 diatas,
dan juga pernyataan mengenai kebohongan syari’at yang tanpa
spiritualitas di bawah.

Menurut Syekh Siti Jenar, umumnya orang yang melaksanakan shalat,


sebenarnya akal-budinya mencuri, yakni mencuri esensi shalat yaitu
keheningan dan kejernihan busi, yang melahirkan akhlaq al-karimah. Sifat
khusyu’nya shalat sebenarnya adalah letak aplikasi pesan shalat dalam
kehidupan keseharian.

Sehingga dalam al-Qur’an, orang yang melaksanakan Shalat namun tetap


memiliki sifat Riya’ dan enggan mewujudkan pesan kemanusiaan disebut
mengalami celaka dan mendapatkan siksa neraka Wail. Sebab ia
melupakan makna dan tujuan shalat (QS. Al-Ma’un/107;4-7).

Sedang dalam Qs.Al-Mukminun/23; 1-11 disebutkan bahwa orang yang


mendapatkan keuntungan adalah orang yang shalatnya Khusyu’.

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 35
Dan shalat yang khusyu’ itu adalah shalat yang disertai oleh akhlak
berikut :
(1) menghindarkan diri dari hal-hal yang sia-sia dan tidak berguna,
juga tidak menyia-siakan waktu serta tempat dan setiap
kesempatan;
(2) menunaikan zakat dan sejenisnya;
(3) menjaga kehormatan diri dari tindakan nista;
(4) menepati janji dan amanat serta sumpah;
(5) menjaga makna dan esensi shalat dalam kehidupannya. Mereka
itulah yang disebutkan akan mewarisi tempat tinggal abadi;
kemanunggalan.

Namun dalam aplikasi keseharian, apa yang terjadi? Orang muslim yang
melaksanakan shalat dipaksa untuk berdiam, konsentrasi ketika
melaksanakan shalat. Padahal pesan esensialnya adalah, agar pikiran yang
liar diperlihara dan digembalakan agar tidak liar. Sebab pikiran yang liar
pasti menggagalkan pesan khusyu’ tersebut. Khusyu’ itu adalah buah dari
shalat.
Sedangkan Shalat hakikatnya adalah eksperimen manunggal dengan
Gusti. Manunggal itu adalah al-Islam, penyerahan diri (Wong Jowo
ngomonge’ Pasrah Bongkoan). Sehingga doktrin manunggal bukanlah
masalah paham Qadariyah atau Jabariyah, Fana’ atau Ittihad.

Namun itu adalah inti kehidupan. Khusyu’ bukanlah latihan konsentrasi,


bukan pula meditasi. Konsentrasi dan meditasi hanya salah satu alat
latihan menggembalaan pikiran. Wajar jika Syekh Siti Jenar menyebut
ajaran para wali sebagai ajaran yang telah dipalsukan dan menyebut
Shalat yang diajarkan para Wali adalah model Shalatnya para Pencuri.

PUASA , ZAKAT, DAN HAJI

TIGA PULUH SEMBILAN


“Syahadat, Shalat dan Puasa itu, sesuatu yang tidak diinginkan, jadi
tidak perlu. Adapun zakat dan naik haji ke Mekah, itu semua omong
kosong (palson kabeh). Itu seluruhnya kedurjanaan budi, penipuan
terhadap sesama manusia. Orang-orang dungu yang menuruti Aulia,
karena diberi harapan Surga di kelak kemudian hari, itu sesungguhnya
keduanya orang yang tidak tahu. Lain halnya dengan saya, Siti Jenar.

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 36
Tiada pernah saya menuruti perintah budi, bersujud-sujud di mesjid
mengenakan jubah, pahalanya besok saja, bila dahi sudah menjadi tebal,
kepala berbelulang. Sesungguhnya hal ini tidak masuk akal! Di dunia ini
semua manusia adalah sama. Mereka semua mengalami suka-duka,
menderita sakit dan duka nestapa, tiada beda satu dengan yang lain.
Oleh karena itu saya, Siti Jenar, hanya setia pada satu hal saja,
yaitu Gusti Zat Maulana.” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya,
Pupuh III Dandanggula, 38-39>.

Syekh Siti Jenar menyebutkan bahwa syariat yang diajarkan para wali
adalah “omong kosong belaka”, atau “wes palson kabeh” (sudah tidak ada
yang asli). Tentu istilah ini sangat amat berbeda dengan anggapan orang
selama ini, yang menyatakan bahwa Syekh Siti Jenar menolak syari’at
Islam. Yang ditolak adalah reduksi atas syari’at tersebut. Syekh Siti
Jenar menggunakan istilah “iku wes palson kabeh”, yg artinya “itu sudah
dipalsukan atau dibuat palsu semua.” Tentu ini berbeda pengertiannya
dengan kata “iku palsu kabeh” atau “itu palsu semua.”

Jadi yang dikehendaki Syekh Siti Jenar adalah penekanan bahwa Syari’at
Islam pada masa Walisanga telah mengalami perubahan dan pergeseran
makna dalam pengertian syari’at itu. Semuanya hanya menjadi formalitas
belaka. Sehingga manfaat melaksanakan syariat menjadi hilang. Bahkan
menjadi mudharat karena pertentangan yang muncul dari aplikasi formal
syariat tsb.

Bagi Syekh Siti Jenar, Syariat bukan hanya pengakuan dan


pelaksanaan, namun berupa penyaksian atau kesaksian. Ini berarti
dalam pelaksanaan syariat harus ada unsur pengalaman spiritual.
Nah, bila suatu ibadah telah menjadi palsu, tidak dapat dipegangi
dan hanya untuk membohongi orang lain, maka semuanya merupakan
keburukan di bumi. Apalagi sudah tidak menjadi sarana bagi
kesejahteraan hidup manusia. Ditambah lagi, justru syariat hanya
menjadi alat legitimasi kekuasaan (seperti sekarang ini juga). Yang
mengajarkan syari’at juga tidak lagi memahami makna dan manfaat
syari’at itu, dan tidak memiliki kemampuan mengajarkan aplikasi
syari’at yg hidup dan berdaya guna. Sehingga syari’at menjadi hampa
makna dan menambah gersangnya kehidupan rohani manusia.

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 37
Nah, yg dikritik Syekh Siti Jenar adalah shalat yg sudah kehilangan
makna dan tujuannya itu. Shalat haruslah merupakan praktek nyata bagi
kehidupan. Yakni shalat sebagai bentuk ibadah yg sesuai dgn bentuk
profesi kehidupannya. Orang yg melakukan profesinya secara benar,
karena Allah, maka hakikatnya ia telah melaksanakan shalat sejati, shalat
yang sebenarnya. Orientasi kepada yang Maha Benar dan selalu berupaya
mewujudkan Manunggaling Kawula Gusti, termasuk dalam karya, karsa-
cipta itulah shalat yg sesungguhnya. Itulah pula yang menjadi rangkaian
antara iman, Islam, dan Ihsan.

Lalu bagaimana posisi shalat lima waktu? Shalat lima waktu dalam hal
ini menjadi tata krama syari’at atau shalat nominal.

MAKNA IHSAN

EMPAT PULUH
“Itulah yang dianggap Syekh Siti Jenar Hyang Widi. Ia berbuat baik dan
menyembah atas kehendak-NYA. Tekad lahiriahnya dihapus. Tingkah
lakunya mirip dengan pendapat yang ia lahirkan. Ia berketetapan hati
untuk berkiblat dan setia, teguh dalam pendiriannya, kukuh menyucikan
diri dari segala yang kotor, untuk sampai menemui ajalnya tidak
menyembah kepada budi dan cipta. Syekh Siti Jenar berpendapat dan
menggangap dirinya bersifat Muhammad, yaitu sifat rasul yg sejati, sifat
Muhammad yg kudus.”

EMPAT PULUH SATU


“Gusti Zat Maulana. Dialah yg luhur dan sangat sakti, yg berkuasa maha
besar, lagipula memiliki dua puluh sifat, kuasa atas kehendak-NYA. Dialah
yg maha kuasa, pangkal mula segala ilmu, maha mulia, maha indah, maha
sempurna, maha kuasa, rupa warna-NYA tanpa cacat seperti hamba-NYA.
Di dalam raga manusia Ia tiada nampak. Ia sangat sakti menguasai segala
yg terjadi dan menjelajahi seluruh alam semesta, Ngindraloka”.

Dua kutipan di atas adalah aplikasi dari teologi Ihsan menurut Syekh Siti
Jenar, bahwa sifatullah merupakan sifatun-nafs. Ihsan sebagaimana
ditegaskan oleh Nabi dalam salah satu hadistnya (Sahih Bukhari, I;6),
beribadah karena Allah dgn kondisi si ‘Abid dalam keadaan menyaksikan

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 38
(melihat langsung) langsung adanya si Ma’bud. Hanya sikap inilah yg akan
mampu membentuk kepribadian yg kokoh-kuat, istiqamah, sabar dan tidak
mudah menyerah dalam menyerukan kebenaran.

Sebab Syekh Siti Jenar merasa, hanya Sang Wujud yg mendapatkan haq
untuk dilayani, bukan selain-NYA. Sehingga, dengan kata lain, Ihsan
dalam aplikasinya atas pernyataan Rasulullah adalah membumikan
sifatullah dan sifatu-Muhammad menjadi sifat pribadi.

Dengan memiliki sifat Muhammad itulah, ia akan mampu berdiri kokoh


menyerukan ajarannya dan memaklumkan pengalamannya dalam
“menyaksikan langsung” ada-NYA Allah. “Persaksian langsung” itulah
terjadi dalam proses manunggal.

EMPAT PULUH DUA


“Bonang, kamu mengundang saya datang di Demak. Saya malas untuk
Datang, sebab saya merasa tidak di bawah atau diperintah oleh siapapun,
kecuali oleh hati saya. Perintah hati itu yang saya turutinya, selain itu
tidak ada yang saya patuhi perintahnya. Bukankah kita sesama mayat?
Mengapa seseorang memerintah orang lain? Manusia itu sama satu
dengan yang lain, sama-sama tidak mengetahui siapa Hyang Sukma itu.
Yang disembah itu hanya nama-Nya saja. Meskipun demikian ia bersikap
sombong, dan merasa berkuasa memerintah sesama bangkai.” (Serat
Syaikh Siti Jenar, Ki Sasrawijaya, Pupuh VII Asmarandana, 50-51).

Ihsan berasal dari kondisi hati yg bersih. Dan hati yg bersih adalah
pangkal serta cermin seluruh eksistensi manusia di bumi. Keihsanan
melahirkan ketegasan sikap dan menentang ketundukan membabi-buta
kepada makhluk. Ukuran ketundukan hati adalah Allah atau Sang Pribadi.
Oleh karena itu, sesama manusia dan makhluk saling memiliki
kemerdekaan dan kebebasan diri. Dan kebebasan serta kemerdekaan itu
sifatnya pasti membawa kepada kemajuan dan peradaban manusia, serta
tatanan masyarakat yg baik, sebab diletakkan atas landasan Ke-Ilahian
manusia. Penjajahan atas eksistensi manusia lain hakikatnya adalah
bentuk dari ketidaktahuan manusia akan Hyang Widhi…Allah (seperti
Rosul sering sekali mengatakan bahwa “Sesungguhnya mereka tidak
mengerti”).

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 39
Karena buta terhadap Allah Yang Maha Hadir bagi manusia itulah, maka
manusia sering membabi-buta merampas kemanusiaan orang lain. Dan hal
ini sangat ditentang oleh Syekh Siti Jenar. Termasuk upaya sakralisasi
kekuasaan Kerajaan Demak dan Sultannya, bagi Syekh Siti Jenar harus
ditentang, sebab akan menjadi akibat tergerusnya ke-Ilahian ke dalam
kedzaliman manusia yang mengatas-namakan hamba Allah yang shalih dan
mengatasnamakan demi penegakan syari’at Islam.

EMPAT PULUH TIGA


“Hyang Widi, wujud yang tak nampak oleh mata, mirip dengan ia sendiri,
sifat-sifatnya mempunyai wujud, seperti penampakan raga yang tiada
tampak. Warnanya melambangkan keselamatan, tetapi tanpa cahaya atau
teja, halus, lurus terus-menerus, menggambarkan kenyataan tiada
berdusta, ibaratnya kekal tiada bermula, sifat dahulu yang meniadakan
permulaan, karena asal dari diri pribadi.”

Pribadi adalah pancaran roh, sebagai tajalli atau pengeja-wantahan


Tuhan. Dan itu hanya terwujud dengan proses wujudiyah, Manuggaling
Kawula-Gusti, sebagai puncak dan substansi tauhid. Maka manusia
merupakan wujud dari sifat dan dzat Hyang Widi itu sendiri. Dengan
manusia yang manunggal itulah maka akan menjadikan keselamatan yang
nyata bukan keselamatan dan ketentraman atau kesejahteraan yang
dibuat oleh rekayasa manusia, berdasarkan ukurannya sendiri. Namun
keselamatan itu adalah efek bagi terejawantah-NYA Allah melalui
kehadiran manusia.

Sehingga proses terjadinya keselamatan dan kesejahteraan manusia


berlangsung secara natural (sunnatullah), bukan karena hasil sublimasi
manusia, baik melalui kebijakan ekonomi, politik, rekayasa sosial dan
semacamnya sebagaimana selama ini terjadi.

Maka dapat diketahui bahwa teologi Manuggaling Kawula Gusti adalah


teologi bumi yang lahir dengan sendirinya sebagai Sunnatullah. Sehingga
ketika manusia mengaplikasikannya, akan menghasilkan manfaat yg
natural juga dan tentu pelecehan serta perbudakan kemanusiaan tidak
akan terjadi, sifat merasa ingin menguasai, sifat ingin mencari
kekuasaan, memperebutkan sesama manusia tidak akan terjadi. Dan tentu
saja pertentangan antar manusia sebagai akibat perbedaan paham

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 40
keagamaan, perbedaan agama dan sejenisnya juga pasti tidak akan
terjadi.

EMPAT PULUH EMPAT


“Sabda sukma, adhep idhep Allah, kang anembah Allah, kang sinembah
Allah, kang murba amisesa.” (Kitab Mantra Yoga, hlm. 63).

Pernyataan Syekh Siti Jenar di atas sengaja penulis nukilkan dalam


bahasa aslinya, dikarenakan multi-interpretasi yang dapat muncul dari
mutiara ucapan tersebut. Secara garis besar maknanya adalah,

“Pernyataan roh, yang bertemu-hadapan dengan Allah, yang


menyembah Allah, yang disembah Allah, yang meliputi segala
sesuatu.”

Inilah adalah salah satu sumber pengetahuan ajaran Syekh Siti Jenar
yang maksudnya adalah Sukma (Roh di kedalaman Jiwa) sebagai pusat
kalam (pembicaraan dan ajaran). Hal itu diakibatkan karena di kedalaman
roh batin manusia tersedia cermin yang disebut mir’ah al-haya’ (cermin
yang memalukan). Bagi orang yang sudah bisa mengendalikan hawa
nafsunya serta mencapai fana’ cermin tersebut akan muncul, yang
menampakkan kediriannya dengan segala perbuatan tercelanya. Jika ini
telah terbuka maka tirai-tirai rohani juga akan tersingkap, sehingga
kesejatian dirinya beradu-satu (adhep-idhep), “aku ini kau, tapi kau aku”.
Maka jadilah dia yang menyembah sekaligus yang disembah, sehingga
dirinya sebagai kawula-Gusti memiliki wewenang murba amisesa, memberi
keputusan apapun tentang dirinya, menyatu iradah dan kodrat kawula-
Gusti.

EMPAT PULUH LIMA


“Hidup itu bersifat baru dan dilengkapi dengan pancaindera.
Pancaindera ini merupakan barang pinjaman yang jika sudah diminta
oleh yang empunya, akan menjadi tanah dan membusuk, hancur-lebur
bersifat najis.

Oleh karena itu pancaindera tidak dapat dipakai sebagai pedoman


hidup. Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran,

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 41
berasal dari pancaindera, tidak dapat dipakai sebagai pegangan
hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur, dan
seringkali tidak jujur. Akal itu pula yang siang malam mengajak
dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. Dengki dapat pula
menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan, untuk akhirnya
jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya.
Kalau sudah sampai sedemikian jauhnya, baru orang menyesalkan
perbuatannya.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III
Dandanggula, 42-44).

Menurut Syekh Siti Jenar, baik pancaindera maupun perangkat akal tidak
dapat dijadikan pegangan dan pedoman hidup. Sebab semua itu bersifat
baru, bukan azali. Satu-satunya yang bisa dijadikan gondhelan dan
gandhulan hanyalah Zat Wajibul Maulana, Zat Yang Maha Melindungi.
Pancaindera adalah pintu nafsu, dan akal adalah pintu bagi ego. Semuanya
harus ditundukkan di bawah Zat Yang Wajib Memimpin.

Karena itu Dialah yang menunjukkan semua budi baik. Jadi pencaindera
harus dibimbing oleh budi dan budi dipimpin oleh Sang Penguasa Budi atau
Yang Maha Budi.

Sedangkan Yang Maha Budi itu tidak terikat dalam jeratan dan jebakan
nama tertentu. Sebab nama bukanlah hakikat. Nama itu bisa Allah, Hyang
Widhi, Hyang Manon, Sang Wajibul Maulana, dan sebagainya. Semua itu
produk akal sehingga nama tidak perlu disembah. Jebakan nama dalam
syari’at justru malah merendahkan Nama-Nya.

EMPAT PULUH LIMA


“Apakah tidak tahu bahwa penampilan bentuk daging, urat, tulang,
sungsum, bisa rusak dan bagaimana cara Anda memperbaikinya?
Biarpun bersembahyang seribu kali setiap harinya akhirnya mati
juga. Meskipun badan Anda, Anda tutupi akhirnya menjadi debu
juga. Tetapi jika penampilan bentuknya seperti Tuhan, Apakah para
Wali dapat membawa pulang dagingnya, saya rasa tidak dapat. Alam
semesta ini baru. Tuhan tidak akan membentuk dunia ini dua kali dan
juga tidak akan membuat tatanan baru, dalilnya layabtakiru
hilamuhdil yang artinya tidak membuat sesuatu wujud lagi tentang

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 42
terjadinya alam semesta sesudah dia membuat dunia.” (Suluk Wali
Sanga R. Tanaja, hlm. 44, 51).

Dari pernyataan Syekh Siti Jenar tersebut, nampak bahwa Syekh Siti
Jenar memandang alam semesta sebagai makrokosmos sama dengan
mikrokosmos (manusia). Sekurangnya kedua hal itu merupakan barang
baru ciptaan Tuhan yang sama-sama akan mengalami kerusakan, tidak
kekal dan tidak abadi.

Pada sisi yang lain, pernyataan Syekh Siti Jenar tersebut juga memiliki
muatan makna pernyataan sufistik, “Barangsiapa mengenal dirinya,
maka ia pasti mengenal Tuhannya.” Sebab bagi Syekh Siti Jenar,
manusia yang utuh dalam jiwa raganya merupakan wadag bagi penyanda,
termasuk wahana penyanda alam semesta. Itulah sebabnya pengelolaan
alam semesta menjadi tanggungjawab manusia. Maka, mikrokosmos
manusia tidak lain adalah blueprint dan gambaran adanya jagat besar
termasuk semesta.

Bagi Syekh Siti Jenar, manusia terdiri dari jiwa dan raga yang intinya
ialah jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan (sang Pribadi). Sedangkan
raga adalah bentuk luar dari jiwa yang dilengkapi pancaindera, berbagai
organ tubuh seperti daging, otot, darah dan tulang. Semua aspek
keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yang suatu saat setelah
manusia terlepas dari pengalaman kematian di dunia ini, akan kembali
berubah menjadi tanah. Sedangkan rohnya yang menjadi tajalli Ilahi,
manunggal ke dalam keabadian dengan Allah.
Manusia tidak lain adalah ke-Esa-an dalam af’al Allah. Tentu ke-Esa-an
bukan sekedar af’al, sebab af’al digerakkan oleh dzat. Sehingga af’al yang
menyatu menunjukkan adanya ke-Esa-an dzat, ke mana af’al itu
dipancarkan.

EMPAT PULUH LIMA


“Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini pada hakikatnya adalah
af’al (perbuatan) Allah. Berbagai hal yang dinilai baik maupun buruk pada
hakikatnya adalah dari Allah juga. Jadi keliru dan sesat pandangan
yang mengatakan bahwa yang baik dari Allah dan yang buruk selain
Allah.”

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 43
“…Af’al Allah harus dipahami dari dalam dan luar diri. Saat manusia
menggoreskan pena misalnya, di situlah terjadi perpaduan dua
kemampuan kodrati yang dipancarkan oleh Allah kepada makhluk-Nya,
yakni kemampuan kodrati gerak pena. Di situlah berlaku dalil Wa Allahu
khalaqakum wa ma ta’malun (QS. Ash-Shaffat:96), yang maknanya Allah
yang menciptakan engkau dan segala apa yang engkau perbuat. Di sini
terkandung makna mubasyarah. Perbuatan yang terlahir dari itu disebut
al-tawallud.

Misalnya saya melempar batu. Batu yang terlempar dari tangan saya itu
adalah berdasar kemampuan kodrati gerak tangan saya. Di situ berlaku
dalil Wa ma ramaitaidz ramaita walakinna Allaha rama (QS. Al-Anfal:17),
maksudnya bukanlah engkau yang melempar, melainkan Allah jua yang
melempar ketika engkau melempar. Namun pada hakikatnya antara
mubasyarah dan al-tawallud hakikatnya satu, yakni af’al Allah sehingga
berlaku dalil la haula wa la quwwata illa bi Allahi al-‘aliyi al-adzimi.
Rasulullah bersabda la tataharraku dzarratun illa bi idzni Allahi, yang
maksudnya tidak bergerak satu dzarah pun melainkan atas izin Allah.”
(Suluk Syekh Siti Jenar, I, hlm. 182-283).

EMPAT PULUH DELAPAN


Menurut Syekh Siti Jenar, bahwa al-Fatihah adalah termasuk salah satu
kunci sahnya orang yang menjalani laku manunggal (ngibadah). Maka
seseorang wajib mengetahui makna mistik surat al-Fatihah. Sebab
menurut Syekh Siti Jenar, lafal al-Fatihah disebut lafal yang paling tua
dari seluruh sabda-Sukma.
Inilah tafsir mistik al-Fatihah Syekh Siti Jenar. (Primbon Sabda
Sasmaya; hlm. 26-27).
Bis ................................. kedudukannya ……… ubun-ubun.
Millah ............................ kedudukannya ……… rasa.
Al-Rahman-al-Rahim ..... kedudukannya ……… penglihatan (lahir batin).
Al-hamdu ....................... kedudukannya ……… hidupmu (manusia).
Lillahi ............................ kedudukannya ……… cahaya.
Rabbil-‘alamin ............... kedudukannya ……… nyawa dan napas.
Al-Rahman al-Rahim ..... kedudukannya ……… leher dan jakun.
Maliki ............................ kedudukannya ……… dada.
Yaumiddin ..................... kedudukannya ……… jantung (hati).
Iyyaka ........................... kedudukannya ……… hidung.

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 44
Na’budu ......................... kedudukannya ……… perut.
Waiyyaka nasta’in ......... kedudukannya ……… dua bahu.
Ihdinash ........................ kedudukannya ……… sentil (pita suara).
Shiratal ......................... kedudukannya ……… lidah.
Mustaqim ………………………… kedudukannya ……… tulang punggung (ula-ula).
Shiratalladzina .............. kedudukannya ……… dua ketiak.
An’amta ......................... kedudukannya ……… budi manusia.
‘alaihim .......................... kedudukannya ……… tiangnya (pancering) hati.
Ghairil ........................... kedudukannya ……… bungkusnya nurani.
Maghdlubi ...................... kedudukannya ……… rempela/empedu.
‘alaihim ........................... kedudukannya ……… dua betis.
Waladhdhallin ................ kedudukannya ……… mulut dan perut (panedha).
Amin ............................... kedudukannya ……… penerima.

Tafsir mistik Syekh Siti Jenar tetap mengacu kepada Manunggaling


Kawula-Gusti, sehingga baik badan wadag manusia sampai kedalaman
rohaninya dilambangkan sebagai tempat masing-masing dari lafal surat
al-Fatihah. Tentu saja pemahaman itu disertai dengan penghayatan
fungsi tubuh seharusnya masing-masing, dikaitkan dengan makna surahi
dalam masing-masing lafadz, maka akan ditemukan kebenaran tafsir
tersebut, apalagi kalau sudah disertai dengan pengalaman
rohani/spiritual yang sering dialami.

Konteks pemahaman yang diajukan Syekh Siti Jenar adalah, bahwa al-
Qur’an merupakan “kalam” yang berarti pembicaraan. Jadi sifatnya
adalah hidup dan aktif. Maka taksir mistik Syekh Siti Jenar bukan
semata harfiyah, namun di samping tafsir kalimat, Syekh Siti Jenar
menghadirkan tafsir mistik yang bercorak menggali makna di balik simbol
yang ada (dalam hal ini huruf, kalimat dan makna historis).

EMPAT PULUH SEMBILAN


“Di di dunia ini kita merupakan mayat-mayat yang cepat juga akan
menjadi busuk dan bercampur tanah…Ketahuilah juga, apa yang
dinamakan kawula-Gusti tidak berkaitan dengan seorang manusia biasa
seperti yang lain-lain. Kawula dan Gusti itu sudah ada dalam diriku, siang
malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya untuk
saat ini nama kawula-Gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti,
kalau saya sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 45
hidupku sendiri, ketentraman langgeng dalam Ada sendiri. Bila kau belum
menyadari kebenaran kata-kataku maka dengan tepat dapat dikatakan,
bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian.

Di sini memang terdapat banyak hiburan aneka warna. Lebih banyak lagi
hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa
itu hanya akibat pancaindera. Itu hanya impian yang sama sekali tidak
mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan cepat lenyap. Gilalah orang
yang terikat padanya. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat
dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan, ialah kembali
kepada kehidupan.” <Serat Syekh Siti Jenar, Sinom, Widya Pustaka; hlm.
25-26 bait 30-36>.

Syekh Siti Jenar menyatakan secara tegas bahwa dirinya sebagai Tuhan,
ia memiliki hidup dan Ada dalam dirinya sendiri, serta menjadi Pangeran
bagi seluruh isi dunia. Sehingga didapatkan konsistensi antara keyakinan
hati, pengalaman keagamaan, dan sikap perilaku dzahirnya.

Juga ditekankan satu satu hal yang selalu tampil dalam setiap ajaran
Syekh Siti Jenar. Yakni pendapat bahwa manusia selama masih berada di
dunia ini, sebetulnya mati, baru sesudah ia dibebaskan dari dunia ini, akan
dialami kehidupan sejati. Kehidupan ini sebenarnya kematian ketika
manusia dilahirkan. Badan hanya sesosok mayat karena ditakdirkan untuk
sirna. (bandingkan dengan Zotmulder; 364). Dunia ini adalah alam kubur,
di mana roh suci terjerat badan wadag yang dipenuhi oleh berbagai goda-
nikmat yang menguburkan kebenaran sejati, dan berusaha mengubur
kesadaran Ingsun Sejati.

LIMA PULUH
“Syekh Siti Jenar berpendapat dan mengganggap dirinya bersifat
Muhammad, yaitu sifat Rasul yang sejati, sifat Muhammad yang kudus. Ia
berpendapat juga, bahwa hidup itu bersifat baru dan dilengkapi dengan
pancaindera. Pancaindera ini merupakan barang pinjaman, yang jika sudah
diminta oleh empunya akan menjadi tanah dan membusuk, hancur-lebur
bersifat najis. Oleh karena itu pancaindera tidak dapat dipakai sebagai
pedoman hidup.”

“Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari


pancaindera, tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 46
menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur, dan sering kali tidak jujur. Akal
itu pula yang siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan
orang lain. Dengki dapat pula menuju perbuatan jahat, menimbulkan
kesombongan, untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga
menodai nama dan citranya.” (Serat Syekh Siti Jenar, Ki Sasrawijaya,
Pupuh III : Dandang Gula, 27-28; Falsafah Sitidjenar, hlm. 33).

“Kalau kamu ingin berjumpa dengan dia, saya pastikan kamu tidak akan
menemuinya, sebab Kyai Ageng berbadan sukma, mengheningkan puja
ghaib. Yang dipuja dan yang memuja, yang dilihat dan melihat yang
bersabda sedang bertutur, gerak dan diam bersatu tunggal. Nah, buyung
yang sedang berkunjung, lebih baik kembali saja.” (Pupuh XIII Sinom, 29;
Falsafah Sitidjenar, hlm. 34).

Ini adalah pandangan Syekh Siti Jenar tentang psikologi dan


pengetahuan. Menurut Syekh Siti Jenar, sumber ilmu pengetahuan itu
terdiri atas tiga macam; pancaindera, akal-nalar, dan Intuisi (wahyu).
Hanya saja pancaindera dan nalar tidak bisa dijadikan pedoman pasti.
Hanya intuisi yang berasal dari orang yang sudah manunggallah yang
betul-betul diandalkan sebagai pengetahuan.

Oleh karenanya, konsistensi dengan pendapat tersebut, Syekh Siti Jenar


menegaskan bahwa baginya Muhammad bukan semata sosok utusan fisik,
yang hanya memberikan ajaran Islam secara gelondongan, dan setelah
wafat tidak memiliki fungsi apa-apa, kecuali hanya untuk diimani.

Justru Syekh Siti Jenar menjadikan Pribadi Rasulullah Muhammad


sebagai roh yang bersifat aktif. Dalam memahami konsep syafa’at, Syekh
Siti Jenar berpandangan bahwa syafa’at tidak bisa dinanti dan diharap
kehadirannya kelak di kemudian hari. Justru syafa’at Muhammad hanya
terjadi bagi orang yang menjadikan dirinya Muhammad, me-Muhammad-
kan diri dengan keseluruhan sifat dan asmanya. Rahasia asma Allah dan
asma Rasulullah adalah bukan hanya untuk diimani, tetapi harus merasuk
dalam Pribadi, menyatu-tubuh dan rasa. Itulah perlunya Nur Muhammad,
untuk menyatu cahaya dengan Sang Cahaya. Dan itu semua bisa terjadi
dalam proses Manunggaling Kawula-Gusti.

LIMA PULUH SATU

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 47
“Bukan kehendak, angan-angan, bukan ingatan, pikir atau niat, hawa nafsu
pun bukan, bukan juga kekosongan atau kehampaan. Penampilanku bagai
mayat baru, andai menjadi gusti jasadku dapat busuk bercampur debu,
napasku terhembus ke segala penjuru dunia, tanah, api, air, kembali
sebagai asalnya, yaitu kembali menjadi baru. Syekh Siti Jenar belum mau
menuruti perintah sultan. Hal ini disebabkan karena bumi, langit, dan
sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia. Manusialah yang
memberikan nama. Buktinya sebelum saya lahir tidak ada.

Syekh Siti Jenar menghubungkan antara alam yang diciptakan Allah,


dengan konteks kebebasan dan kemerdekaan manusia. Kebebasan alam
mencerminkan kebebasan manusia. Segala sesuatu harus berlangsung dan
mengalami hal yang natural (alami), tanpa rekayasa, tanpa pemaksaan
iradah dan qudrah. Maka ketidakmauannya memenuhi penggilan sultan,
dikarenakan dirinya hanyalah milik Dirinya Sendiri. Jadi seluruh manusia
masing-masing mamiliki hak mengelola alam. Alam bukan milik negara atau
raja, namun milik manusia bersama. Maka setiap orang harus memiliki dan
diberi hak kepemilikan atas alam. Ada yang harus dimiliki secara privat
dan ada juga yang harus dimiliki secara kolektif.

Dari wejangan Syekh Siti Jenar tersebut, juga diketahui bahwa hakikat
seluruh alam semesta adalah tajaliyat Tuhan (penampakan wajah Tuhan).
Adapun mengenai alam yang kemudian memiliki nama, bukanlah nama yang
sesungguhnya, sebab segala sesuatu yang ada di bumi ini, manusialah yang
memberi nama, termasuk nama Tuhanpun, dalam pandangan Syekh Siti
Jenar, diberikan oleh manusia. Dan nama-nama itu seluruhnya akan
kembali kepada Sang Pemilik Nama yang sesungguhnya. (Untuk sejarah
pemberian nama Tuhan, lihat buku Karen Armstrong, The History of God:
The 4.000 Quest of Judaism, Christianity and Islam. New York:
Ballatine, 1993). Maka memang nama itu perlu, namun jangan sampai
menjebak manusia hanya untuk memperdebatkan nama.

TAREKAT DAN JALAN MISTIK SYEKH SITI JENAR

LIMA PULUH DUA


“Adapun asalnya kehidupan itu, berdasar kitab Ma’rifat al’iman, seperti
dijelaskan di bawah ini, terbebani 16 macam titipan;

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 48
Yang dari Muhammad : roh, napas.
Yang dari Malaikat : budi, iman.
Yang dari Tuhan : pendengaran, penciuman, pengucapan, penglihatan.
Yang dari Ibu : kulit, daging, darah, bulu.
Yang dari Bapak : tulang, sungsum, otot, otak.

Inilah maksud dari lafal “kulusyaun halikun ilawajahi”, maksudnya semua


itu akan rusak kecuali dzat Allah yang tidak rusak. (Sang Indrajit,
Wedha Mantra : 1979, Bab 203, hlm. 51).

Kitab Ma’rifat al-Iman adalah karya dari Maulana Ibrahim al-Ghazi, al-
Samarqandi, yang menjadi salah satu sumber bacaan Syekh Siti Jenar.

Kalimat “kulusyaun halikun ilawajahi” lebih tepatnya berbunyi “kullu syai-


in halikun illa wajhahu” (Segala sesuatu itu pasti hancur musnah,
kecuali wajah-Nya (penampakan wajah Allah)) [QS : Al-
Qashashash / 28:88].

Dari kalimat inilah Syekh Siti Jenar mengungkapkan pendapatnya, bahwa


badan wadag akan hancur mengikuti asalnya, tanah. Sedangkan Ingsun
Sejati (Jiwa) mengikuti “illa wajhahu”, (kecuali wajah-Nya). Ini juga
menjadi salah satu inti dan kunci dalam memahami teori kemanunggalan
Syekh Siti Jenar. Maka kata wajhahu di sini diberikan makna Dzatullah.

Bagi Syekh Siti Jenar, antara Nur Muhammad, Malaikat, dan Tuhan,
bukanlah unsur yang saling berdiri sendiri-sendiri sebagaimana umumnya
dipahami manusia. Nur Muhammad dan malaikat adalah termasuk dalam
Ingsun Sejati. Ini berhubungan erat dengan pernyataan Allah, bahwa
segala sesuatu yang diberikan kepada manusia (seperti pendengaran,
penglihatan dan sebagainya) akan dimintakan pertanggungjawabannya
kepada Allah, maksudnya adalah apakah dengan alat titipan itu, manusia
bisa manunggal dengan Allah atau tidak. Sedangkan proses kejadian
manusia yang melalui orangtua, adalah sarana pembuatan jasad fisik, yang
di alam kematian dunia, roh berada dalam penjara badan wadag tersebut.

LIMA PULUH TIGA


“Kehilangan adalah kepedihan. Berbahagialah engkau, wahai musafir
papa, yang tidak memiliki apa-apa. Sebab, engkau yang tidak

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 49
memiliki apa-apa maka tidak pernah kehilangan apa-apa.” (Suluk
Syekh Siti Jenar, I, hlm. 292).

Hakikat Zuhud bukanlah meninggalkan atau mengasingkan diri dari dunia.


Zuhud adalah perasaan tidak memiliki apa-apa terhadap makhluk lain,
sebab teologi kepemilikan itu hakikatnya tunggal. Manusia baru memiliki
segalanya ketika ia telah berhasil Manunggal dengan Gustinya, sebab
Gusti adalah Yang Maha Kuasa, otomatis Yang Maha Memiliki. Sehingga
dalam menjalani kehidupan di dunia ini, sikap yang realistis adalah
perasaan tidak memiliki, karena sebatas itu antara makhluk (manusia)
dengan makhluk lain (apa pun yang bisa ‘dimiliki’ manusia) tidak bisa saling
memiliki dan dimiliki. Karena semua itu merupakan aspek dari
ketunggalan.

Orang yang masih selalu merasa ‘memiliki’ akan makhluk lain, pasti tidak
akan berhasil menjadi salik (penempuh jalan spiritual) yang akan sampai
ke tujuan sejatinya, yakni Allah Yang Maha Tunggal, karena memang ia
belum mampu untuk manunggal. Nah, zuhud dalam pandangan Syekh Siti
Jenar adalah menjadi satu maqamat menuju kemanunggalan dan menjadi
salah satu poros keihsanan dan keikhlasan.

LIMA PULUH EMPAT


“Jika engkau kagum kepada seseorang yang engkau anggap Wali Allah,
janganlah engkau terpancang pada kekaguman akan sosok dan perilaku
yang diperbuatnya. Sebab saat seseorang berada pada tahap kewalian
maka keberadaan dirinya sebagai manusia telah lenyap, tenggelam ke
dalam al-Waly. Kewalian bersifat terus-menerus, hanya saja saat Sang
Wali tenggelam dalam al-Waly. Berlangsungnya Cuma beberapa saat. Dan
saat tenggelam ke dalam al-Waly itulah sang wali benar-benar menjadi
pengejawantahan al-Waly. Lantaran itu, sang wali memiliki kekeramatan
yang tidak bisa diukur dengan akal pikiran manusia, di mana karamah itu
sendiri pada hakikatnya adalah pengejawantahan dari kekuasaan al-Waly.
Dan lantaran itu pula yang dinamakan karamah adalah sesuatu di luar
kehendak sang wali pribadi. Semua itu semata-mata kehendak-Nya
mutlak.

Kekasih Allah itu ibarat cahaya. Jika ia berada di kejauhan, kelihatan


sekali terangnya. Namun jika cahaya itu di dekatkan ke mata, mata kita

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 50
akan silau dan tidak bisa melihatnya dengan jelas. Semakin dekat cahaya
itu ke mata maka kita akan semakin buta tidak bisa melihatnya. Engkau
bisa melihat cahaya kewalian pada diri seseorang yang jauh darimu.
Namun, engkau tidak bisa melihat cahaya kewalian yang memancar dari
diri orang-orang yang terdekat denganmu.” (Suluk Syekh Siti Jenar, II,
hlm. 246-248).

Doktrin kewalian Syekh Siti Jenar sangat berbeda dengan doktrin


kewalian orang Islam pada umumnya. Bagi Syekh Siti Jenar, yang
menentukan seseorang itu wali atau bukan hanyalah pemilik nama al-
Waliy, yaitu Allah. Sehingga seorang wali tidak akan pernah peduli dengan
berbagai tetek-bengek pandangan manusia dan makhluk lain terhadapnya.
Demikian pula terhadap orang yang memandang kewalian seseorang.

Syekh Siti Jenar menasihatkan agar jangan terkagum-kagum dan


menentukan kewalian hanya karena perilaku serta kewajiban yang muncul
darinya. Yang harus diingat adalah bahwa para Auliya’ Allah adalah
pengejawantahan dari Allah al-Waliy. Sehingga apapun yang lahir dari
wali tersebut, bukanlah perilaku manusia dalam wadagnya, namun itu
adalah perbuatan Allah. Seorang wali dalam pandangan Syekh Siti Jenar
tidak lain adalah manusia yang manunggal dengan al-Waliy dan itu
berlangsung terus-menerus. Hanya saja perlu diingat, setiap tajalliyat-
Nya adalah bagian dari si Wali tersebut, namun tidak semua sisi dan
perbuatan si wali adalah perbuatan atau af’al al-Waliy.

Oleh karena itu sampai di sini, kita harus menyikapi dengan kritis
terhadap sebagian naskah-naskah Jawa Tengahan yang menyatakan
bahwa Syekh Siti Jenar pernah mengungkapkan pernyataan, “di sini
tidak ada Syekh Siti Jenar, yang ada hanya Allah,” serta ungkapan
sebaliknya “di sini tidak ada Allah, yang ada hanya Siti Jenar.”
Kisah yang berhubungan dengan pernyataan tersebut, hanya anekdot
atau kisah konyol dan bukan kisah yang sebenarnya. Dan itu
merupakan bentuk penggambaran ajaran anunggaling Kawula Gusti
yang salah kaprah.

Pernyataan pertama “di sini tidak ada Syekh Siti Jenar, yang ada hanya
Allah,” memang benar adanya. Namun pernyataan kedua, “di sini tidak
ada Allah, yang ada hanya Siti Jenar,” tidak bisa dianggap benar,
dan jelas keliru.

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 51
Teologi Manunggaling Kawula Gusti bukanlah teologi Fir’aun yang
menganggap kedirian-insaniyahnya menjadi Tuhan, sekaligus dengan
keberadaan manusia sebagai makhluk di dunia ini. Jadi kita harus ekstra
hati-hati dalam memilah dan memilih naskah-naskah tersebut., sebab
banyak juga pernyataan yang disandarkan kepada Syekh Siti Jenar,
namun nyatanya itu bukan berasal dari Syekh Siti Jenar.

Ajaran Syekh Siti Jenar menurut Ki Lonthang Semarang


“Kalau menurut wejangan guru saya, orang sembahyang itu siang malam
tiada putusnya ia lakukan. Hai Bonang ketahuilah keluarnya napasku
menjadi puji. Maksudnya napasku menjadi shalat. Karena tutur
penglihatan dan pendengaran disuruh melepaskan dari angan-angan, jadi
kalau kamu shalat masih mengiaskan kelanggengan dalam alam kematian
ini, maka sesungguhnyalah kamu ini orang kafir.”

“Jika kamu bijaksana mengatur tindakanmu, tanpa guna orang menyembah


Rabbu’l ‘alamien, Tuhan sekalian alam, sebab di dunia ini tidak ada Hyang
Agung. Karena orang melekat pada bangkai, meskipun dicat dilapisi emas,
akhirnya membusuk juga, hancur lebur bercampur dengan tanah.
Bagaimana saya dapat bersolek?”

“Menurut wejangan Syekh Siti Jenar, orang sembahyang tidak


memperoleh apa-apa, baik di sana, maupun di sini. Nyatanya kalau ia sakit,
ia menjadi bingung. Jika tidur seperti budak, disembarang tempat. Jika
ia miskin, mohon agar menjadi kaya tidak dikabulkan. Apalagi bila ia
sakaratul maut, matanya membelalak tiada kerohan. Karena ia segan
meninggalkan dunia ini. Demikianlah wejangan guru saya yang bijaksana.”

“Umumnya santri dungu, hanya berdzikir dalam keadaan kosong dari


kenyataan yang sesungguhnya, membayangkan adanya rupa Zat u’llahu,
kemudian ada rupa dan inilah yang ia anggap Hyang Widi.”
“Apakah ini bukan barang sesat? Buktinya kalau ia memohon untuk
menjadi orang kaya tidak diluluskan. Sekalipun demikian saya disuruh
meluhurkan Dzat’llahu yang rupanya ia lihat waktu ia berdzikir, mengikuti
syara’ sebagai syari’at, jika Jum’at ke mesjid berlenggang mengangguk-
angguk, memuji Pangeran yang sunyi senyap, bukan yang di sana, bukan
yang di sini.”

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 52
“Saya disuruh makbudullah, meluhurkan Tuhan itu, serta akan ditipu
diangkat menjadi Wali, berkeliling menjual tutur, sambil mencari nasi
gurih dengan lauknya ayam betina berbulu putih yang dimasak bumbu
rujak pada selamatan meluhurkan Rasulullah. Ia makan sangat lahap,
meskipun lagaknya seperti orang yang tidak suka makan. Hal itulah
gambaran raja penipu!”

“Bonang, jangan berbuat yang demikian. Ketahuilah dunia ini alam


kematian, sedang akhirat alam kehidupan yang langgeng tiada mengenal
waktu. Barang siapa senang pada alam kematian ini, ia terjerat goda,
terlekat pada surga dan neraka, menemui panas, sedih, haus, dan lapar”.
<Serat Syaikh Siti Jenar, Ki Sastrawijaya, Pupuh XI Pangkur, 9-20>.

“Tiada usah merasa enggan menerima petuahku yang tiga buah jumlahnya.
Pertama janganlah hendaknya kamu menjalankan penipuan yang
keterlaluan, agar supaya kamu tidak ditertawakan orang di kelak
kemudian hari.
Yang kedua, jangan kamu merusak barang-barang peninggalan purba,
misalnya : lontar naskah sastra yang indah-indah, tulisan dan gambar-
gambar pada batu candhi. Demikian pula kayu dan batu yang merupakan
peninggalan kebudayaan zaman dulu, jangan kamu hancur-leburkan.
Ketahuilah bagi suku Jawa sifat-sifat Hindu-Budha tidak dapat dihapus.
Yang ketiga, jika kamu setuju, mesjid ini sebaiknya kamu buang saja
musnahkan dengan api. Saya berbelas kasihan kepada keturunanmu,
sebab tidak urung mereka menuruti kamu, mabuk do’a, tersesat mabuk-
tobat, berangan-angan lam yakunil.”

“…orang menyembah nama yang tiada wujudnya, harus dicegah. Maka dari
itu jangan kamu terus-teruskan, sebab itu palsu.” (Serat Syaikh Siti
Jenar, Ki Sastrawijaya, Pupuh XI Pangkur, 25-36).

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 53
Khotbah Perpisahan Sunan Panggung

“Banyak orang yang gemar dengan kesejatian, tapi karena belum pernah
berguru maka semua itu dipahami dalam konteks dualitas. Yang satu
dianggap wujud lain. Sesungguhnya orang yng melihat sepeti ini akan
kecewa. Apalagi yang ditemui akan menjadi hilang. Walaupun dia
berkeliling mencari, ia tidak akan menemukan yang dicari. Padahal yang
dicari, sesungguhnya telah ditimang dan dipegang, bahkan sampai
keberatan membawanya. Dan karena belum tahu kesejatiannya, ciptanya
tanpa guru menyepelekan tulisan dan kesejatian Tuhan.”

“Walaupun dituturkan sampai capai, ditunjukkan jalannya, sesungguhnya


dia tidak memahaminya karena ia hanya sibuk menghitung dosa besar dan
kecil yg diketahuinya. Tentang hal kufur kafir yang ditolaknya itu, bukti
bahwa ia adalah orang yang masih mentah pengetahuannya. Walaupun
tidak pernah lupa sembahyang, puasanya dapat dibangga-banggakan tanpa
sela, tapi ia terjebak menaati yang sudah ditentukan Tuhan.

Sembah puji dan puasa yang ditekuni, membuat orang justru lupa akan
sangkan paran (asal dan tujuan). Karena itu, ia lebih konsentrasi melihat
dosa besar-kecil yang dikhawatirkan, dan ajaran kufur kafir yang dijauhi
justru membuat bingung sikapnya. Tidak ada dulu dinulu. Tidak merasa,
tidak menyentuh. Tidak saling mendekati, sehingga buta orang itu. Takdir
dianggap tidak akan terjadi, salah-salah menganggap ada dualisme antara
Maha Pencipta dan Maha Memelihara.

Jika aku punya pemikiran yang demikian, lebih baik aku mati saja ketika
masih bayi. Tidak terhitung tidak berfikir, banyak orang yang merasa
menggeluti tata lafal, mengkaji sembahyang dan berletih-letih berpuasa.
Semua itu dianggap akan mampu mengantarkan. Padahal salah-salah
menjadikan celaka dan bahkan banyak yang menjadi berhala.”

“Pemikiran saya sejak kecil, Islam tidak dengan sembahyang, Islam tidak
dengan pakaian, Islam tidak dengan waktu, Islam tidak dengan baju dan
Islam tidak dengan bertapa. Dalam pemikiran saya, yang dimaksud Islam
tidak karena menolak atau menerima yang halal atau haram.

Adapun yang dimaksud orang Islam itu, mulia wisesa jati, kemuliaan
selamat sempurna sampai tempat tinggalnya besok. Seperti bulu

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 54
selembar atau tepung segelintir, hangus tak tersisa. Kehidupan di dunia
seperti itu keberadaannya.”

“Manusia, sebelum tahu makna Alif, akan menjadi berantakan….Alif


menjadi panutan sebab uintuk semua huruf, alif adalah yang pertama.
Alif itu badan idlafi sebagai anugerah. Dua-duanya bukan Allah. Alif
merupakan takdir, sedangkan yang tidak bersatu namanya alif-lapat.
Sebelum itu jagat ciptaan-Nya sudah ada. Lalu alif menjadi gantinya,
yang memiliki wujud tunggal. Ya, tunggal rasa, tunggal wujud. Ketunggalan
ini harus dijaga betul sebab tidak ada yang mengaku tingkahnya. ALif
wujud adalah Yang Agung. Ia menjadi wujud mutlak yang merupakan
kesejatian rasa. Jenisnya ada lima, yaitu alif mata, wajah, niat jati, iman,
syari’at.”

“Allah itu penjabarannya adalah dzat Yang Maha Mulia dan Maha Suci.
Allah itu sebenarnya tidak ada lain, karena kamu itu Allah. Dan Allah
semua yang ada ini, lahir batin kamu ini semua tulisan merupakan ganti
dari alif, Allah itulah adanya.”

“Alif penjabarannya adalah permulaan pada penglihatan, melihat yang


benar-benar melihat. Adapun melihat Dzat itu, merupakan cermin
ketunggalan sejati menurun kepada kesejatianmu. Cahaya yang keluar,
kepada otak keberadaan kita di dunia ini merupakan cahaya yang terang
benderang, itu memiliki seratus dua puluh tujuh kejadian. Menjadi
penglihatan dan pendengaran, napas yang tunggal, napas kehidupan yang
dinamakan Panji. Panji bayangan dzat yang mewujud pada kebanyakkan
imam. Semua menyebut dzikir sejati, laa ilaaha illallah.” (Serat Suluk
Malang Sumirang, Pupuh 4).

Kematian di Mata Sunan Geseng


“Banyak orang yang salah menemui ajalnya. Mereka tersesat tidak
menentu arahnya, pancaindera masih tetap siap, segala kesenangan sudah
ditahan, napas sudah tergulung dan angan-angan sudah diikhlaskan, tetapi
ketika lepas tirta nirmayanya belum mau. Maka ia menemukan yang serba
indah.”

“Dan ia dianggap manusia yang luar biasa. Padahal sesungguhnya ia adalah


orang yang tenggelam dalam angan-angan yang menyesatkan dan tidak
nyata. Budi dan daya hidupnya tidak mau mati, ia masih senang di dunia ini

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 55
dengan segala sesuatu yang hidup, masih senang ia akan rasa dan
pikirannya. Baginya hidup di dunia ini nikmat, itulah pendapat manusia
yang masih terpikat akan keduniawian, pendapat gelandangan yang pergi
ke mana-mana tidak menentu dan tidak tahu bahwa besok ia akan hidup
yang tiada kenal mati. Sesungguhnyalah dunia ini neraka.”

“Maka pendapat Kyai Siti Jenar betul, saya setuju dan tuan benar-benar
seorang mukmin yang berpendapat tepat dan seyogyanya tuan jadi
cermin, suri tauladan bagi orang-orang lain. Tarkumasiwalahu (Arab asli :
tarku ma siwa Allahu), di dunia ini hamba campur dengan kholiqbta,
hambanya di surga, khaliknya di neraka agung.” (Serat Syaikh Siti Jenar
Ki Sasrawijaya, Pupuh VIII Dandanggula, 29-31)

Syari’at Palsu Para Wali Menurut Ki Cantula


“Menurut ajaran guruku Syekh Siti Jenar, di dunia ini alam kematian.
Oleh karena itu, dunia yang sunyi ini tidak ada Hyang Agung serta
malaikat. Akan tetapi bila saya besok sudah ada di alam kehidupan saya
akan berjumpa dan kadang kala saya menjadi Allah. Nah, di situ saya akan
bersembahyang.”

“Jika sekarang saya disuruh sholat di mesjid saya tidak mau, meskipun
saya bukan orang kafir. Boleh jadi saya orang terlantar akan Pangeran
Tuhan. Kalau santri gundul, tidak tahunya yang ada di sini atau di sana. Ia
berpengangan kandhilullah, mabuk akan Allah, buta lagi tuli.”

“Lain halnya dengan saya, murid Syekh Siti Jenar. Saya tidak
menghiraukan ujar para Wali, yang mengkukuhkan Syari’at palsu, yang
merugikan diri sendiri. Nah, Syekh Dumba, pikirkanlah semua yang saya
katakan ini. Dalam dadamu ada Al-Qur’an. Sesuai atau tidak yang saya
tuturkan itu, kanda pasti tahu.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya,
Pupuh V Pangkur, 8-18).

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 56
Jawaban Ki Bisono Tentang Semesta, Tuhan dan Roh
Ki Bisana menyanggupi kemudian menjawab pertanyaan dari Sultan
Demak:

“Pertanyaan pertama : Pertanyaan, bahwa Allah menciptakan alam


semesta itu adalah kebohongan belaka. Sebab alam semesta itu barang
baru, sedang Allah tidak membuat barang yang berwujud menurut dalil :
layatikbiyu hilamuhdil, artinya tiada berkehendak menciptakan barang
yang berwujud. Adapun terjadinya alam semesta ini ibaratnya :
drikumahiyati : artinya menemukan keadaan. Alam semesta ini : la awali.
Artinya tiada berawal. Panjang sekali kiranya kalau hamba menguraikan
bahwa alam semesta ini merupakan barang baru, berdasarkan yang ditulis
dalam Kuran.”

“Pertanyaan yang kedua : Paduka bertanya di mana rumah Hyang Widi.


Hal itu bukan merupakan hal yang sulit, sebab Allah sejiwa dengan semua
zat. Zat wajibul wujud itulah tempat tinggalnya, seumpamanya Zat
tanahlah rumahnya. Hal ini panjang sekali kalau hamba terangkan. Oleh
karena itu hamba cukupkan sekian saja uraian hamba.”

“Selanjutnya pertanyaan ketiga : berkurangnya nyawa siang malam,


sampai habis ke manakah perginya nyawa itu. Nah, itu sangat mudah
untuk menjawabnya. Sebab nyawa tidak dapat berkurang, maka nyawa itu
bagaikan jasad , berupa gundukan, dapat aus, rusak dimakan anai-anai.
Hal inipun akan panjang sekali untuk hamba uraikan. Meskipun hamba
orang sudra asal desa, akan tetapi tata bahasa kawi hamba mengetahui
juga, baik bahasa biasa maupun yang dapat dinyanyikan. Lagu tembang
sansekerta pun hamba dapat menyanyikan juga dengan menguraikan arti
kalimatnya, sekaligus hamba bukan seorang empu atau pujangga,
melainkan seorang yang hanya tahu sedikit tentang ilmu.”

“Itu semua disebabkan karena hamba berguru kepada Syekh Siti Jenar,
di Krendhasawa, tekun mempelajari kesusasteraan dan menuruti perintah
guru yang bijaksana. Semua murid Syekh Siti Jenar menjadi orang yang
cakap, berkat kemampuan mereka untuk menerima ajaran guru mereka
sepenuh hati.”

“Adapun pertanyaan yang keempat : paduka bertanya bagaimanakah


rupa Yang Maha Suci itu. Kitab Ulumuddin sudah memberitahukan :

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 57
walahu lahir insan, wabatinul insani baitu-baytullahu (Arab asli : wa Allahu
dzahir al-insan, wabathin, al-insanu baytullahu), artinya lahiriah manusia
itulah rupa Hyang Widi. Batiniah manusia itulah rumah Hyang Widi.
Banyak sekali yang tertulis dalam Kitab Ulumuddin, sehingga apabila
hamba sampaikan kepada paduka, Kanjeng Pangeran Tembayat tentu
bingung, karena paduka tidak dapat menerima, bahkan mungkin paduka
mengira bahwa hamba seorang majenun.

Demikianlah wejangan Syekh Siti Jenar yang telah hamba terima.”

“Guru hamba menguraikan asal-usul manusia dengan jelas, mudah diterima


oleh para siswa, sehingga mereka tidak menjadi bingung. Diwejang pula
tentang ilmu yang utama, yang menjelaskan tentang dan kegunaan budi
dalam alam kematian di dunia ini sampai alam kehidupan di Akhirat.
Uraiannya jelas dapat dilihat dengan mata dan dibuktikan dengan nyata.”

“Dalam memberikan pelajaran, guru hamba Syekh Siti Jenar, tiada


memakai tirai selubung, tiada pula memakai lambang-lambang. Semua
penjelasan diberikan secara terbuka, apa adanya dan tanpa
mengharapkan apa-apa sedikitpun. Dengan demikian musnah segala tipu
muslihat, kepalsuan dan segala perbuatan yang dipergunakan untuk
melakukan kejahatan. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan para
guru lainnya. Mereka mengajarkan ilmunya secara diam-diam dan
berbisik-bisik, seolah-olah menjual sesuatu yang gaib, disertai dengan
harapan untuk memperoleh sesuatu yang menguntungkan untuk dirinya.”

“Hamba sudah berulang kali berguru serta diwejang oleh para wali
mu’min, diberitahu akan adanya Muhammad sebagai Rosulullah serta Allah
sebagai Pangeran hamba. Ajaran yang dituntunkan menuntun serta
membuat hamba menjadi bingung dan menurut pendapat hamba ajaran
mereka sukar dipahami, merawak-rambang tiada patokan yang dapat
dijadikan dasar atau pegangan. Ilmu Arab menjadi ilmu Budha, tetapi
karena tidak sesuai kemudian mereka mengambil dasar dan pegangan
Kanjeng Nabi. Mereka mematikan raga, merantau kemana-mana sambil
menyiarkan agama. Padahal ilmu Arab itu tiada kenal bertapa, kecuali
berpuasa pada bulan Romadan, yang dilakukan dengan mencegah makan,
tiada berharap apapun.”

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 58
“Jadi jelas kalau para wali itu masih menganut agama Budha, buktinya
mereka masih sering ketempat-tempat sunyi, gua-gua, hutan-hutan,
gunung-gunung atau tepi samudera dengan mengheningkan cipta, sebagai
laku demi terciptanya keinginan mereka agar dapat bertemu dengan
Hyang Sukma. Itulah buktinya bahwa mereka masih dikuasai setan ijajil.

Menurut cerita Arab Ambiya, tiada orang yang dapat mencegah sandang
pangan serta tiada untuk kuasa berjaga mencegah tidur kecuali orang
Budha yang mensucikan dirinya dengan jalan demikian. Nah, silahkan
memikirkan apa yang hamba katakan, sebagai jawaban atas empat
pertanyaan paduka.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh V
Pangkur, 22-45).

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 59
Wasiat dan Ajaran Syekh Amongraga
”Syekh Amongraga adalah salah seorang pewaris ajaran Syekh Siti Jenar
pada masa Sultan Agung Hanyokusumo (1645). Mengenai rincian
kehidupan dan ajaran Syekh Amongraga dapat dibaca di serat Centini”.

Syekh Amongraga mewasiatkan berbagai inti ajaran yang meliputi


(Primbon Sabda Sasmaya; hlm. 24):
1. Rahayu ing Budhi (selamat akhlak dan moral).
2. Mencegah dan berlebihnya makanan.
3. Sedikit tidur.
4. Sabar dan tawakal dalam hati.
5. Menerima segala kehendak dan takdir Tuhan.
6. Selalu mensyukuri takdir Tuhan.
7. Mengasihi fakir dan miskin.
8. Menolong orang yang kesusahan.
9. Memberi makan kepada orang yang lapar.
10. Memberi pakaian kepada orang yang telanjang.
11. Memberikan payung kepada orang yang kehujanan.
12. Memberikan tudung kepada orang yang kepanasan.
13. Memberikan minum kepada orang yang haus.
14. Memberikan tongkat penunjuk kepada orang yang buta.
15. Menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat.
16. Menyadarkan orang yang lupa.
17. Membenarkan ilmu dan laku orang yang salah.
18. Mengasihi dan memuliakan tamu.
19. Memberikan maaf kepada kesalahan dan dosa sanak-kandung, saudara,
dan semua manusia.
20.Jangan merasa benar, jangan merasa pintar dalam segala hal, jangan
merasa memiliki, merasalah bahwa semua itu hanya titipan dari Tuhan
yang membuat bumi dan langit, jadi manusia itu hanyalah sudarma
(memanfaatkan dengan baik dengan tujuan dan cara yang baik pula)
saja. Pakailah budi, syukur, sabar, menerima, dan rela.
- Ajaran Syekh Amongraga itu sebenarnya meliputi semua tindakan
manusia di dalam menyelami kehidupan di bumi ini, yang disebut
Syekh Siti Jenar sebagai alam kematian. Dalam memahami 20
ajaran tersebut, hendaknya jangan terjebak dalam segi
kontekstualnya saja, namun hendaknya diselami dengan segenap
nalar dan rasa batin.

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 60
Ajaran Syekh Siti Jenar Menurut Pangeran Panggung
“….Saya mencari ilmu sejati yang berhubungan langsung dengan asal dan
tujuan hidup, dan itu saya pelajari melalui tanajjul tarki. Menurut saya ,
untuk mengharapkan hidayah hanyalah bias didapat dengan kesejatian
ilmu. Demi kesentausaan hati menggapai gejolak jiwa, saya tidak ingin
terjebak dalam syariat.”

“Jika saya terjebak dalam syariat, maka seperti burung sudah bergerak,
akan tetapi mendapatkan pikiran yang salah. Karena perbuatan salah
dalam syariat adalah pada kesalahpahaman dalam memahami larangan.
Bagi saya kesejatian ilmu itulah yang seharusnya dicari dan disesuaikan
dengan ilmu kehidupan. Kebanyakan manusia itu, jika sudah sampai pada
janji maka hatinya menjadi khawatir, wataknya selalu was-was…
senantiasa takut gagal….Alam dibawah kolong langit, diatas hamparan
bumi dan semua isi didalamnya hanyalah ciptaan Yang Esa, tidak ada
keraguan. Lahir batin harus bulat, mantap berpegang pada tekad.” (Serat
Suluk Malang Sumirang, Pupuh 1-2).

“Yang membuat kita paham akan diri kita, Pertama tahu akan datang ajal,
karena itu tahu jalan kemuliaannya, Kedua, tahu darimana asalnya ada
kita ini sesungguhnya, berasal dari tidak ada. Kehendak-Nya pasti jadi,
dan kejadian itu sendiri menjadi misal. Wujud mustahil pertandanya
sebagai cermin yang bersih merata keseluruh alam. Yang pasti dzatnya
kosong, sekali dan tidak ada lagi. Dan janganlah menyombongkan diri,
bersikaplah menerima jika belum berhasil. Semua itu kehendak Sang
Maha Pencipta. Sebagai makhluk ciptaan, manusia didunia ini hanya satu
repotnya. Yaitu tidak berwenang berkehendak, dan hanya pasrah kepada
kehendak Allah.”

“Segala yang tercipta terdiri dari jasad dan sukma, serta badan dan
nyawa. Itulah sarana utama, yakni cahaya, roh, dan jasad. Yang tidak tahu
dua hal itu akan sangat menyesal. Hanya satu ilmunya, melampaui Sang
Utusan. Namun bagi yang ilmunya masih dangkal akan mustahil mencapai
kebenaran, dan manunggal dengan Allah. Dalam hidup ini, ia tidak bisa
mengaku diri sebagai Allah, Sukma Yang Maha Hidup. Kufur jika
menyebut diri sebagai Allah. Kufur juga jika menyamakan hidupnya
dengan Hidup Sang Sukma, karena sukmaitu adalah Allah.” <Serat Suluk
Malang Sumirang, Pupuh 2>.

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 61
”Waktu shalat merupakan pilihan waktu yang sesungguhnya berangkat
dari ilmu yang hebat.

Mengertikah Anda, mengapa shalat dzuhur empat raka’at?


Itu disebabkan kita manusia diciptakan dengan dua kaki dan dua tangan.

Sedang shalat ‘Ashar empat raka’at juga, adalah kejadian bersatunya


dada dengan Telaga al-Kautsar dengan punggung kanan dan kiri.

Shalat Maghrib itu tiga raka’at, karena kita memiliki dua lubang hidung
dan satu lubang mulut.

Adapun shalat ‘Isya’ menjadi empat raka’at karena adanya dua telinga
dan dua buah mata.
Adapun shalat Subuh, mengapa dua raka’at adalah perlambang dari
kejadian badan dan roh kehidupan.

Sedangkan shalat tarawih adalah sunnah muakkad yang tidak boleh


ditinggalkan dua raka’atnya oleh yang melakukan, menjadi perlambang
tumbuhnya alis kanan dan kiri.”

“Adapun waktu yang lima, bahwa masing-masing berbeda-beda yang


memilikinya.

Shalat Subuh, yang memiliki adalah Nabi Adam. Ketika diturunkan


dari surga mulia, berpisah dengan istrinya Hawa menjadi sedih karena
tidak ada kawan. Lalu ada wahyu dari melalui malaikat Jibril yang
mengemban perintah Tuhan kepada Nabi Adam, “Terimalah cobaan
Tuhan, shalat Subuhlah dua raka’at”. Maka Nabi Adampun siap
melaksanakannya. Ketika Nabi Adam melaksanakan shalat Subuh pada
pagi harinya, ketika salam. Telah mendapati istrinya berada
dibelakangnya, sambil menjawab salam.

Shalat Dzuhur dimaksudkan ketika Kanjeng Nabi Ibrahim pada zaman


kuno mendapatkan cobaan besar, dimasukkan ke dalam api hendak
dihukum bakar. Ketika itu Nabi Ibrahim mendapat wahyu ilahi, disuruh
untuk melaksanakan shalat Dzuhur empat raka’at. Nabi Ibrahim
melaksanakan shalat, api padam seketika.

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 62
Adapun shalat Ashar, dimaksudkan ketika Nabi Yunus sedang naik
perahu dimakan ikan besar. Nabi Yunus merasakan kesusahan ketika
berada di dalam perut ikan. Waktu itu terdapat wahyu Ilahi, Nabi Yunus
diperintahkan melaksanakan shalat Ashar empat raka’at. Nabi Yunus
segera melaksanakan, dan ikan itu tidak mematikannya. Malah ikan itu
mati, kemudian Nabi Yunus keluar dari perut ikan.

Sedangkan shalat Maghrib pada zaman kuno yang memulainya adalah


Nabi Nuh. Ketika musibah banjir bandang sejagat, Nabi Nuh bertaubat
merasa bersalah. Dia diterima taubatnya disuruh mengerjakan shalat.
Kemudian Nabi Nuh melaksanakan shalat Maghrib tiga raka’at, maka
banjirpun surut seketika.

Shalat ‘Isya sesungguhnya Nabi Isa yang memulainya. Ketika kalah


perang melawan Raja Harkiyah (Juga disebut Raja Herodes, atasan
Gubernur Pontius Pilatus) semua kaumnya bingung tidak tahu utara,
selatan, barat, timur dan tengah. Nabi Isa merasa susah, dan tidak lama
kemudian datang malaikat Jibril membawa wahyu dengan uluk salam. Nabi
Isa diperintahkan melaksanakan shalat ‘Isya. Nabi Isa menyanggupinya,
dan semua kaumnya mengikutinya, dan malaikat Jibril berkata, “Aku yang
membalaskan kepada Pendeta Balhum.” (Serat Suluk Malang Sumirang,
Pupuh 2).

“Menurut pemahaman saya, sesuai petunjuk Syekh Siti Jenar dahulu,


anasir itu ada empat yang berupa anasir batin dan anasir lahir.

Pertama, anasir Gusti. Perlu dipahami dengan baik dzat, sifat, asma
dan af’al (perbuatan) kedudukannya dalam rasa.

Dzat maksudnya adalah bahwa diri manusia dan apapun yang kemerlap di
dunia ini tidak ada yang memiliki kecuali Tuhan Yang Maha Tinggi, yang
besar atau yang kecil adalah milik Allah semua. Ia tidak memiliki
hidupnya sendiri. Hanya Allah yang Hidup, yang Tunggal.

Adapun sifat sesungguhnya segala wujud yang kelihatan yang besar atau
kecil, seisi bumi dan langit tidak ada yang memiliki hanya Allah Tuhan
Yang Maha Agung.

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 63
Adapun asma sesungguhnya, nama semua ciptaan seluruh isi bumi adalah
milik Tuhan Allah Yang Maha Lebih Yang Maha Memiliki Nama.
Sedangkan artinya af’al adalah seluruh gerak dan perbuatan yang
kelihatan dari seluruh makhluk isi bumi ini adalah tidak lain dari
perbuatan Allah Yang Maha Tinggi, demikian maksud anasir Gusti.”

“Anasir roh, ada empat perinciannya yang berwujud ilmu yang dinamai
cahaya persaksian (nur syuhud). Maksudnya adalah sebagai berikut :
pertama, yang disebut wujud sesungguhnya adalah hidup sejati atau
manusia sejati seperti perempuan yang masih perawan itulah yang
dimaksud badarullah yang sebenarnya.
Kedua, yang disebut ilmu adalah pengetahuan batin yang menjadi nur
atau cahaya kehidupan atau roh idhafi, cahaya terang menyilaukan
seperti bintang kejora.
Ketiga, yang dimaksud syuhud adalah kehendak batin kejora.
KeEMPAT, yang dimaksud Batin Kejora adalah kehendak batin tatkala
memusatkan perhatian terutama ketika mengucapkan takbir. Demikianlah
penjelasan tentang anasir roh, percayalah kepada kecenderungan hati.”

“Anasir manusia maksudnya hendaklah dipahami bahwa manusia itu


terdiri dari bumi, api, angin dan air. Bumi itu menjadi jasad, api
menjadi cahaya yang bersinar, angin menjadi napas keluar masuk, air,
menjadi darah. Keempatnya bergerak tarik menarik secara ghaib.
Demikianlah penjelasan saya tentang anasir. (Serat Suluk Malang
Sumirang, Pupuh 3).

_______________________________
*) Dikumpulkan dari pelbagai sumber, terutama dari Mas Djoko Prasetyo (Dipo)

UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR


Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana Page 64