Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Kanker kandung kemih lebih sering ditemukan pada pasien-pasien yang berusia di atas
50 tahun dan lebih banyak mengenai laki-laki daripada wanita (3:1).Statistik menunjukkan
bahwa tumor ini menyebabkan hampir 1 dari 25 kasus kanker yang terdiagnosis di Amerika
Serikat. Ada dua bentuk kanker kandung kemih, yaitu: bentuk superfisial (yang cenderung
kambuhan) dan bentuk invasif. Sekitar 80% hingga 90 % dari semua kanker kandung kemih
merupakan sel transisional (yang berarti bahwa tumor tersebut berasal dari sel-sel transisionala
kandung kemih), sementara tipe lainnya tumor tersebut adalah sel skuamosa dan adenokarsinoma
(Brunner & Suddarth, 2001).
Neoplasma adalah kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh terus
menerus secara terbatas, tidak berkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi
tubuh. Kanker adalah Istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan gangguan
pertumbuhan selular dan merupakan kelompok penyakit dan bukan hanya penyakit tunggal.
Kanker adalah Istilah umum yang mencakup setiap pertumbuhan malignan dalam setiap bagian
tubuh. Pertumbuhan ini tidak bertujuan, bersifat parasit dan berkembang dengan mengorbankan
manusia yang menjadi hospesnya. Sedangkan Carsinoma adalah pertumbuhan kanker pada
jaringan epitel.
Bulibuli adalah tempat penampungan urine yang berasal dari ginjal.Kanker buli-buli
adalah tumor ganas yang didapatkan dalam buli-buli (kandung kemih). Dinding vesika urinaria
dilapisi olehsel transisional dan sel skuamosa. Lebih dari 90% kanker vesika urinaria berasal
dari sel transisional dan disebutkarsinoma sel transisional, sisanya adalah karsinoma sel
skuamosa.

2. Rumusan Masalah
A. Bagaimana konsep dari kanker kandung kemih?
B. Bagaimana asuhan keperawatan pasien dengan kanker kandung kemih?
C. Bagaimana contoh kasus malpraktek pada pasien dengan kanker kandung kemih?


3. Tujuan
A. Mahasiswa mampu memahami bagaimana konsep kanker kandung kemih.
B. Mahasiswa mampu mengaplikasikan asuhan keperawatan pada pasien dengan kanker
kandung kemih.
C. Mahasiswa memahami bagaimana contoh kasus malpraktek pada pasien dengan kanker
kandung kemih.

4. Manfaat
Manfaat bagi masyarakat, masyarakat mengerti tentang urolithiasis.Sehingga masyarakat
dapat melakukan pencegahan agar tidak mengalaminya, serta bagi pasien yang telah
mengidapnya untuk mencegah kekambuhan.
Bagi tenaga kesehatan, dengan mengetahui konsep dan proses keperawatan tentang
urolithiasis serta kasus malpraktik yang terjadi maka tenaga kesehatan dapat meminimalisasi
kejadian malpraktik.

















BAB II
TINJAUAN PUTAKA

A. Definisi
Kanker (karsinoma) kandung kemih (buli-buli / vesika urinaria) adalah suatu kondisi
medis yang ditandai dengan pertumbuhan abnormal sel kanker atau tumor pada kandung kemih.
Kanker buli-buli adalah kanker yang mengenai organ buli-buli (kandung kemih).Buli-buli adalah
organ yang berfungsi untuk menampung air kemih yang berasal dari ginjal. Jika buli-buli telah
penuh maka air kemih akan dikeluarkan.
Carcinoma buli adalah tumor yang didapatkan pada buli-buli atau kandung kemih yang akan
terjadi gross hematuria tanpa rasa sakit yaitu keluar air kencing warna merah terus.

B. Etiologi
Penyebab yang pasti dari kanker vesika urinaria tidak diketahui. Tetapi penelitian telah
menunjukkan bahwa kanker ini memiliki beberapa faktor resiko:
1.Usia, resiko terjadinya kanker kandung kemih meningkat sejalan dengan pertambahan usia.
2. Merokok,merupakan faktor resiko utama.
3. Lingkungan kerja. Beberapa pekerja memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita kanker
ini karena di tempatnya bekerja ditemukan bahan-bahan karsinogenik(penyebab kanker).
Misalnya pekerja industri karet, kimia, kulit.
4.Infeksi, terutama infeksi saluran kemih.
5.Ras, orang kulit putih memiliki resiko 2 kali lebih besar, resiko terkecil terdapat pada orang
Asia.Pria, memiliki resiko 2-3 kali lebih besar.
6. Riwayat keluarga. Orang-orang yang keluarganya ada yang menderita kanker kandung kemih
memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita kanker ini.

C. Anatomi Fisiologi
Sistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana terjdinya proses penyaringan darah sehingga
darah bebas dari zat-zat yang yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang
masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh larut dlam air
dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).
Sistem perkemihan terdiri dari: a) dua ginjal (renal) yang menghasilkan urin, b) dua ureter yang
membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria (kandung kemih), c) satu vesika urinaria (VU),
tempat urin dikumpulkan, dan d) satu urethra, urin dikeluarkan dari vesika urinaria.
Vesika urinaria bekerja sebagai penampung urin. Organ ini berbentuk seperti buah pir (kendi)
dan letaknya di belakang simfisis pubis di dalam rongga panggul. Vesika urinaria dapat
mengembang dan mengempis seperti balon karet.

Dinding kandung kemih terdiri dari:
a. Lapisan sebelah luar (peritoneum).
b. Tunika muskularis (lapisan berotot).
c. Tunika submukosa.
d. Lapisan mukosa (lapisan bagian dalam).

Buli-buli adalah organ berongga yang dindingnya terdiri dari otot-otot halus yang disebut
muskulus detrusol. Otot ini terdiri dari yang arah seratnya sedemikian rupa sehingga bila
berkontraksi menyebabkan buli-buli mengkerutdan volumenya mengecil. Di bagian distal yaitu
dekat dasar panggul (Diafgrama Urogenital) otot detrusor membentuk tabung dan melapisi
uretra posterior.
Lapisan sebelah dalam dari buli-buli adalah mukosa yang terdiri dari epitel sel transisi.
Disebelah luar dilapisi oleh serosa dan bagian fundus (kubah) ditutup oleh peritonium. Bila buli-
buli penuh peritonium terdesak kekranial. Buli terletak dirongga perut bagian bawah, tepatnya
didalam rongga pelvis dan extra peritonial. Berada tepat dibelakang simfis pubis. Pada pria
dibagian belakang berdekatan dengan rektum dan pada wanita berdekatan dengan uterus dan
vagina. Berbeda dengan traktus urinarius bagian atas (ginjal dan ureter), maka untuk traktus
urinarius bagian bawah, buli ke distal, persyaratan amat penting peranannya untuk menjalankan
fungsi organ tersebut. Persyarafan buli dan uretra dilaksanakan oleh system syaraf otonom yang
terdiri dari parasimpatis dan simpatis. Persyarafan ini berpusat di medula spinalis segmen
torakolumbal. (Th XII LIII) dan segmen sakral II-IV ( parasimpatis).
Terdapat tiga fungsi penting dari buli yaitu reservoir, ekspulsi urin, dan anti reflek. Sebagai
reservoir, buli-buli manusia mempunyai kapasitas antara 200 sampai dengan 400 ML. Setelah
miksi buli-buli diisi lagi dengan urin yang datang dari ginjal. Selama pengisian ini sampai
kapasitasnya terpenuhi, tekanan dalam buli-buli tetap rendah, kurang dari 20 cm H20. bila buli-
buli penuh dindingnya teregang dan menyebabkan rangsangan pada reseptor di dinding buli-
buli, akibatnya tekanan dalam buli-buli meningkat dan dirasakan sebagai perasaan ingin kencing.
Pada keadaan demikian uretra posterior otomatis membuka. Urin belum keluar karena masih
ditahan oleh sfingter eksterna yang terdiri dari otot bergaris dengan persyasarafan sema omotoris
yang bekerja secara disadari ( volunter ). Sfingter ini akan membuka bila di perintahkan oleh
yang bersangkutan. Pada waktu ekspulasi tekanan dalam buli- buli meningkat antara 70 100
cm H20. Urin yang ada dalam buli-buli tidak akan mengalir ke arah ginjal. Arah ureter bagian
distal yang serong. Panjangnya ureter intravesikal serta lokasinya yang submukos menyebabkan
terjadinya mekanisme klep yang mencegah urin ke arah ginjal (refluk).

D. Patofisiologi
Kanker kandung kemih lebih sering terjadi pada usia di atas 50 tahun dan angka kejadian laki-
laki lebih besar daripada perempuan. Karena usia yang semakin tua, maka akan terjadi
penurunan imunitas serta rentan terpapar radikal bebas menyebabkan bahan karsinogen
bersirkulasi dalam darah. Selanjutnya masuk ke ginjal dan terfiltrasi di glomerulus. Radikal
bebas bergabung dg urin terus menerus, masuk ke kandung kemih. Radikal bebas mengikat
elektron DNA & RNA sel transisional sehingga terjadi kerusakan DNA. Mutasi pada genom sel
somatik menyebabkan pengaktifan oonkogen pendorong pertumbuhan, perubahan gen yang
mengendalikan pertumbuhan, dan penonaktifan gen supresor kanker. Sehingga produksi gen
regulatorik hilang dan replikasi DNA berlebih. Akhirnya terjadi kanker pada kandung kemih.

E. Manifestasi Klinis
Gejalanya bisa berupa:
a. Hematuria (adanya darah dalam kencing).
b. Rasa terbakar atau nyeri ketika berkemin.
c. Desakan untuk berkemih.
d. Sering berkemih terutama malam hari dan pada fase selanjutnya sukar kencing.
e. Badan terasa panas dan lemah.
f. Nyeri pinggang karena tekanan saraf.
g. Nyeri pada satu sisi karena hydronefrosis.
Gejala dari kanker vesika uranaria menyerupai gejala infeksi kandung kemih (sititis) dan kedua
penyakit ini bisa terjadi secara bersamaan. Patut dicurigai suatu kanker jika dengan pengobatan
standar untuk infeksi, gejalanya tidak menghilang.

F. Pemeriksaan Diagnostik
a. Tidak ada tes screening dini yang akurat untuk menemukan penyakit ini, namun dapat
dilakukan sitologi urine untuk melihat adanya sel kanker. Lavase kandung kemih dengan salin
mungkin akurat. Aliran sitometri dari urine untuk memeriksa ploidi DNA. Pielogram IV untuk
mengevaluasi traktus urinarius bagian atas dan pengisian kandung kemih. Biopsy pada daerah
yang dicurigai.
b. Pemeriksaan air kemih menunjukkan adanya darah dan sel-sel kanker.
c. Sistografi atau urografi intravena bisa menunjukkan adanya ketidakteraturan pada garis
luar dinding kandung kemih.
d. USG, CT scan atau MRI bisa menunjukkan adanya kelainan dalam kandung kemih.
e. Sistoskopi dilakukan untuk melihat kandung kemih secara langsung dan mengambil contoh
jaringan untuk pemeriksaan mikroskopik.
f. Kadang sistoskopi digunakan untuk mengangkat kanker.

G. Penatalaksanaan
Penanganan kanker kandung kemih tergantung pada derajat tumornya (yang didasarkan pada
derajat deferiensi sel), stadium pertumbuhan tumor (derajat invasi local serta ada tidaknya
metastase) dan multisentrisitas tumor tersebut (apakah tumor tersebut memiliki banyak
pusat).Usia pasiaen dan status fisik, mental serta emosional harus dipertimbangkan dalam
menentukan bentuk terapinya.
Reseksi transuretra atau vulgurasi (kauterisasi) dapat dilakukan pada papiloma yang tunggal
(tumor epitel benigna) prosedur ini akan melenyapkan tumor lewat insisi bedah atau arus listrik
dengan menggunakan instrument yang dimasukkan melalui uretra.
Penatalaksanaan kanker kandung kemih superficial merupakan suatu pantangan karena biasanya
mudah terjadi abnormalitas yang meluas pada mukosa kandung kemih.Keseluruhan lapisan
dinding saluran kemih atau urotelium menghadapi resiko mengingat perubahan karsinoma
mukosa bukan hanya ditemukan dalam mukos kandung kemih tetapi juga dalam mukosa pelvis
renal, ureter dan uretra. Kekambuhan merupakan masalah yang serius, kurang lebih 25 persen
hingga 40 persen tumor superficial akan kambuh kembali sesudah dilakukan vulgerasi atau
reseksi transuretra. Penderita piloma benigna harus menjalani tindak lanjut dengan pemeriksaan
sitologi dan sistoskopi secara berkala sepanjang hidupnya karena kelainan malignansi yang
agresif dapat timbul dari tumor ini.
Kemoterapi dengan menggunakan kombinasi metotreksat, vinblastin, doxorubisin (adreamisin)
dan cisplatin (M-VAC) terbukti efektif untuk menghasilkan remisi parsial karsinoma sel
transisional kandung kemih pada sebagian pasien. Kemoterapi intra vena dapat dapat dilakukan
bersama dengan terapi radiasi.
Kemoterapi topical (kemoterapi intravesikal atau terapi dengan memasukkan larutan obat anti
neoplastik kedalam kandung kemih yang membuat obat tersebut mengenai dinding kandung
kemih) dapat dipertimbangkan jika terdapat resiko kekambuhan yang tinggi, jika terdapat kanker
in situ atau jika resksi tumor tidak tuntas.Kemoterapi topical adalah pemberian medikasi dengan
konsentrasi yang tinggi (thiotepa, doxorubisin, mitomisin, ethoglusid dan Bacilus Calmette
Guerin atau BCG) untuk meningkatkan penghancuran jaringan tumor. BCG kini dianggap
sebagai preparat intravesikal yang paling efektif untuk kanker kandung kemih yang kambuhan
karena preparat ini akan menggalakkan respon imun tubuh terhadap kanker. Pasien dibolehkan
makan dan minum sebelum prosedur pemasukan (instilasi) obat dilaksanakan, tetapi kandung
kemih terisi penuh, pasien harus menahan larutan preparat intravesikal tersebut selama 2 jam
sebelum mengalirkannya keluar dengan berkemih. Pada akhir prosedur, pasien dianjurkan untuk
buang air kecil dan meminum cairan sekehendak hati untuk membilas preparat tersebut dari
kandung kemih.
Radiasi tumor dapat dilakukan sebelum pembedahan untuk mengurangi mikroekstensi
neoplasma dan viabilitas sel-sel tumor sehingga kemungkinan timbulnya kanker tersebut
didaerah sekitarnya atau kemungkinan penyebaran sel-sel kanker lewat sirkulasi darah atau
system infatik dapat dikurangi.Terapi radiasi juga dilakukan bersama pembedahan atau
dilakukan untuk mengendalikan penyakit pada pasien dengan tumor yang tidak dapat dioperasi.
Sistektomi sederhana (pengangakatan kandung kemih) atau sistektomi radikal dilakukan pada
kanker kandung kemih yang invasive atau multifocal.Sistektomi radikal pada pria meliputi
pengangkatan kandung kemih, prostat serta vesikulus seminalis dan jaringan vesikal
disekitarnya.Pada wanita, sistektomi radikal meliputi pengangkatan kandung kemih, ureter
bagian bawah, uterus, tuba fallopi, ovarium, vagina anterior dan uretra.Operasi ini dapat
mencakup pula limfadenektomis (pengangkatan nodus limfatikus).Pengangkatan kandung kemih
memerlukan prosedur difersi urin (mengalihkan aliran urin dari kandung kemih ketempat keluar
yang baru, yang biasanya melalui lubang yang dibuat lewata pembedahan pada kulit (stoma).
Kanker kandung kemih varietas sel transitional memiliki respon yang buruk terhadap
kemoterapi.Cisplatin, doxorubisin dan siklofosfamid sudah digunakan dengan berbagai takaran
serta jadwal pemberian dan tampaknya merupakan kombinasi yang paling efektif.
Kanker kandung kemih juga dapat diobati dengan infuse langsung preparat sitotoksik melalui
suplai darah arterial organ yang terkena sehingga bisa tercapai konsentrasi preparat
kemoterapeutik yang lebih tinggi dengan efek toksik sistemik yang lebih kecil. Untuk kanker
kandung kemih yang lebih lanjut atau untuk pasien hematuria yang membandel (setelah terapi
radiasi), sebuah balon besar berisi air yang ditempatkan dalam kandung kemih akan membuat
nekrosis tumor dengan mengurangi suplai darah kedinding kandung kemih (terapi hidrostatik).
Terapi instilasi dengan cara memasukkan larutan formali, fenol atau perak nitrat dapat
meredahkan gejala hematuria dan stranguria (pengeluaran urin yang lambat dan nyeri) pada
sebagian pasien.















BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
Identitas Pasien.
Riwayat Keperawatan
a) Keluhan Utama : Pasien nyeri saat BAK dan agak mengedan, ada benjolan pada abdomen
sebelah bawah, sulit BAB, dan nyeri diseluruh tubuh terutama dipinggang.
b) Riwayat Penyakit Sekarang(riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk rumah sakit).
Darah keluar sedikit-sedikit saat BAK dan terasa nyeri sera sulit BAB.
c) Riwayat Penyakit Dahulu (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah
diderita oleh pasien).
d) Riwayat Kesehatan Keluarga, penyakit yang pernah diderita anggota keluarga yang menjadi
faktor resiko.
e) Riwayat psikososial dan spiritual.
f) Kondisi lingkungan rumah.
g) Kebiasaan sehari-hari (pola eliminasi BAK, pola aktivitas latihan, pola kebiasaan yang
mempengaruhi kesehatan (rokok, ketergantungan obat, minuman keras)).
Pemeriksaan Fisik
a. Aktivitas/Istirahat
Gejala : Merasa lemah dan letih
Tanda : Perubahan kesadaran
b. Sirkulasi
Gejala : Perubahan tekanan darah normal (hipertensi)
Tanda : Tekanan darah meningkat, takikardia, bradikardia, disritmia
c. Integritas Ego
Gejala : Perubahan tingkah laku atau kepribadian
Tanda : Cemas, mudah tersinggung
d. Eleminasi
Gejala : Perubahan gejala BAK
Tanda : Nyeri saat BAK, Urine bewarna merah
e. Makanan & Cairan
Gejala : Mual muntah
Tanda : Muntah
f. Neurosensori
Gejala : Kehilangan kesadaran sementara (Vertigo)
Tanda : Perubahan kesadaran sampai koma, perubahan mental
g. Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Sakit pada daerah abdomen
Tanda : Wajah menyeringai, respon menarik pada rangsangan nyeri
h. Interaksi Sosial
Gejala : Perubahan interaksi dengan orang lain
Tanda : Rasa tak berdaya, menolak jika diajak berkomunikasi
i. Keamanan
Gejala : Trauma baru
Tanda :Terjadi kekambuhan lagi
j. Seksualisasi
Gejala : Tidak ada sedikitnya tiga silus menstruasi berturut-turut
Tanda : Atrofi payudara, amenorea
k. Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala : Riwayat keluarga lebih tinggi dari normal untuk insiden depresi
Tanda : Prestasi akademik tinggi

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf,
infiltrasi system suplai syaraf, obtruksi jalur syaraf, inflamasi).
b. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan obstruksi / iritasi kandung kemih.
c. Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang
berhubungan dengan kanker.
d. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit.


3. Intervevsi
1) Dx 1 : Nyeri berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf,
infiltrasi system suplai syaraf, obtruksi jalur syaraf, inflamasi).
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam diharapkan nyeri pasien terkontrol.
Dengan kriteria hasil:
Skala nyeri berkurang sampai hilang.
Pasien mengungkapkan perasaan nyaman berkurangnya nyeri.
Intervensi:
1. Kaji nyeri : karakteristik, intensitas, lamanya dan faktor yang mempengaruhi nyeri.
2. Beri kompres hangat pada daerah yang nyeri.
3. Berikan terapi non farmakologis untuk menghilangkan nyeri seperti teknik nafas dalam dan
teknik distraksi.
4. Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan seperti mendengarkan
musik atau nonton TV.
5. Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian analgesik.

2) Dx 2 : Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan obstruksi.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam diharapkan pola eliminasi urine kembali
normal. Dengan kriteria hasil : tidak ada nyeri saat BAK.
Intervensi :
1. Observasi output dan intake cairan selama 24 jam.
2. Anjurkan pasien mempertahankan intake cairan yang adekuat.
3. Jelaskan pada pasien dan keluarga bahwa kanker kandung kemih menyebabkan iritasi
kandung kemih sehingga terjadi frekuensi dan urgensi.
4. Kolaborasi pemberian analgesik atau antipasmodik untuk mengurangi gejala iritasi saat
BAK dan menghambat kontraksi kandung kemih yang tidak stabil.

3) Dx 3 : Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik
yang berhubungan dengan kanker.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 7x24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi pasien adekuat.
Dengan kriteria hasil :
Porsi makan pasien habis.
Pasien menunjukkan berat badan stabil, hasil lab normal dan tidak ada tanda malnutrisi.
Intervensi:
1. Monitor intake makanan setiap hari, apakah klien makan sesuai dengan kebutuhannya
untuk memberikan informasi tentang status gizi klien.
2. Timbang dan ukur berat badan, ukur trisep serta amati penurunan berat badan untuk
memberikan informasi tentang penambahan dan penurunan berat badan klien.
3. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori dengan intake cairan yang
adekuat (porsi sedikit tapi sering). Anjurkan pula makanan kecil untuk klien.
4. Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk atau bising. hindarkan makanan yang terlalu
manis, lemak dan pedas untuk mencegah mual muntah, distensti berlebihan, dyspepsia yang
menyebabkn penurunan nafsu makan seta mengurangi stimulus berhaya yang dapat
meningkatkan ansietas.
5. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya makan bersama teman atau
keluarga.
6. Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi, latihan moderate sebelum makan.
7. Anjurkan komunikasi terbuka tentang problem anoreksia yang dialami klien.
8. Kolaboratif:Amati studi laboraturium seperti total limposit, serum transferin dan albumin.

4) Dx 4 : Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam diharapkan cemas pasien berkurang. Dengan
kriteria hasil:
Pasien tidak menanyakan terus menerus tentang penyakitnya.
Rileks dan dapat melihat dirinya secara obyektif.
Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam pengobatan.
Intervensi:
1. Berikan informasi tentang prognosis secara akurat.
2. Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan rasa marah, takut, konfrontasi. Beri
informasi dengan emosi wajar dan ekspresi yang sesuai.
3. Jelaskan pengobatan, tujuan dan efek samping. Bantu klien mempersiapkan diri dalam
pengobatan.
4. Catat koping yang tidak efektif seperti kurang interaksi sosial, ketidak berdayaan dll.
5. Anjurkan untuk mengembangkan interaksi dengan support system.
6. Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman.
7. Pertahankan kontak dengan klien, bicara dan sentuhlah dengan wajar.

4. Implementasi
a. Mendorong individu untuk bertanya mengenai masalah, penanganan, perkembangan dan
prognosis kesehatan
b. Mengidentivikasi factor lingkungan yang memungkinkan resiko terjadinya cedera
c. Menjelaskan kembali mengenai patofisiologi / prognosis penyakit dan perlunya pengobatan
/ penanganan dalam jangka waktu yang lama sesuai prosedur.
d. Meninjau kembali obat-obat yang didapat, penting sekali memakan obat sesuai petunjuk,
dan tidak menghentikan pengobatan tanpa pengawasan dokter. Termasuk petunjuk untuk
pengurangan dosis.
e. Memerikan informasi pada keluarga tentang tindakan yang harus dilakukan selama pasien
merasakan sakit.

KESIMPULAN
1. Pada penelitian ini didapatkan penderita karsinoma buli-buli terdapat pria : wanita = 6.3 : 1
dan terbanyak pada usia ~70 tahun.
2. Dari hasil pemeriksaan Patologi Anatomi didapatkan 100% Transisional sel karsinoma
pada stadium II dan III.
3. Terapi yang dilakukan terbanyak adalah radio therapi 68.2 %.








DAFTAR PUSTAKA

Tanagho EA dan Mc Annch JW. Smith's General Urologi. Ed 14. Appleton Lange Medical
Publication, 1995 page 353 363.
Walsh PC, Retik AB, Vaughan ED, dan Wein AJ. Campbell's Urology 3 vol Ed 7. Philadelphia:
W.B. Saunders, 1998. page 2329 2383.
Sjamsuhidayat R dan long WD. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed 4.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC, 1997 hal 780 782.
Basuki B Purnomo, Dasar-dasar Urology, Ed 1 jakarta: penerbit CV Sagung Seto, 2000: 145-
158.
Urological cancer page 85 105.