Anda di halaman 1dari 11

Kelompok VI

Moh. Rifaldi
Miftahul ulum
Nasrullah A. Supu (Ahli hadits)
HADITS MARFU
Definisi
Secara Bahasa (Etimologi)
Marfu adalah isim maful (objek) dari kata kerja

(mengangkat)


(meletakkan atau merendahkan), maka
seolah-olah hadits ini dinamakan dengan hadits Marfu
dikarenakan ia dinisbatkan/disandarkan kepada pemilik
kedudukan yang tinggi, yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam.

Secara Istilah (Terminologi)
Hadits Marfu adalah apa-apa yang disandarkan kepada
Nabi shallallahu alaihi wasallam, baik berupa ucapan,
perbuatan, ketetapan (persetujuan) maupun sifat.
Penjelasan Definisi
Maksudnya, ia (hadits Marfu) adalah apa-apa yang
dinisbatkan atau disandarkan kepada Nabi shallallahu
'alaihi wasallam, sama saja apakah yang disandarkan
itu berupa ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
atau perbuatan beliau, atau penetapan (pengakuan)
beliau ataupun sifat beliau. Dan sama saja apakah yang
menisbatkan atau menyandarkan adalah seorang
Shahabat atau yang dibawahnya (Tabiin dan yang
lainnya), baik sanadnya Muttashil (bersambung)
ataupun Munqathi (terputus). Maka masuk ke dalam
kategori hadits Marfu hadits Maushul, hadits Mursal
(hadits yang disandarkan oleh Tabiin kepada Nabi),
hadits Muttashil (sanadnya bersambung) dan hadits
Munqathi (sanadnya terputus).
Macam-Macam Hadits Marfu
A. Marfu Qawli (Marfu yang berupa ucapan)
1. Marfu Qawli Hakiki
Ialah apa yang disandarkan oleh sahabat kepada Nabi tentang
sabdanya, bukan perbuatannya atau iqrarnya, yang dikatakan dengan
tegas bahwa nabi bersabda. Seperti pemberitaan sahabat yang
menggunakan lapazh qauliyah :

Aku mendengar Rasulullah saw bersabda begini
Contohnya :
:


( )
Warta dari Ibn Umar r a, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda :
Shalat jamaah itu lebih afdhal dua puluh tujuh tingkat dari pada shalat
sendirian ( HR Bukhari dan Muslim)

2. Marfu Qawli Hukmi
Ialah hadits marfu yang tidak tegas penyandaran sahabat
terhadap sabda Nabi, melainkan dengan perantaran qarinah
(keterangan) yang lain, bahwa apa yang disandarkan sahabat itu
berasal dari sabda nabi. Seperti pemberitaan sahabat yang
menggunakan kalimat :
.
Aku diperintah begini., aku dicegah begitu
Contohnya :
( )
Bilal r.a. diperintah menggenapkan adzan dan mengganjilkan
iqamah (HR Mutafaqqun Alaih)
Walaupun dalam hadits ini tidak dijelaskan bahwa Rasulullah
SAW. Yang memerintahkan bilal, tetapi sudah dapat di pahami
bahwa tidak ada orang yang lain memerintahkan bilal untuk
azan kecuali Rasulullah SAW. Dengan karinah (keterangan) ini,
hadits tersebut secara hukmi dapat dinyatakan sebagai hadits
marfu.

B. Hadits Marfu fili (Marfu yang berupa perbuatan)
1. Marfu Fili Haqiqi
Yang dimaksud dengan hadits marfu fili haqiqi ialah perbuatan
Rasulullah saw. misalnya,

, ( :

( ) )
Warta dari Aisyah r.a. bahwa rasulullah saw mendoa di waktu sembahyang,
ujarnya: Ya Tuhan, aku berlindung kepada Mu dari dosa dan hutang (HR
Bukhari).
2. Marfu Fili Hukmi
Ialah perbuatan sahabat yang dilakukan dihadapan Rasulullah atau
diwaktu Rasulullah masih hidup. Apabila perbuatan sahabat itu tidak disertai
penjelasan atau tidak dijumpai suatu qarinah yang menunjukkan perbuatan
itu dilaksanakan di zaman Rasulullah, bukan dihukumkan hadits marfu
melainkan dihukumkan hadits mauquf. Sebab mungkin adanya persangkaan
yang kuat, bahwa tindakan sahabat tersebut diluar pengetahuan Rasulullah
saw.
Contohnya :
:

( )
Jabir r.a. berkata : Konon kami makan daging Kuda diwaktu Rasulullah saw
masih hidup (HR Nasai).


C. Marfu Taqririyah (Marfu yang berupa persetujuan).
Misalnya terjadi suatu perbuatan di hadapan Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam atau salah seorang Shahabat
melakukan sesuatu di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam dan beliau tidak mngingkari perbuatan tersebut.
1. Marfu Taqririyah Hakiki
Ialah tindakan sahabat dihadapan Rasulullah dengan
tiada memperoleh reaksi, baik reaksi itu positif maupun negatif
dari beliau.
Contohnya, Seperti pengakuan Ibnu Abbas r.a:


kami shalat dua rakaat setelah terbenam matahari, sedang
Rasulullah saw. Melihat kami dan beliau tidak memerintahkan
kepada kami dan tidak pula melarangnya.
2. Marfu Taqririyah Hukmy
Ialah apabila pemberitaan sahabat diikuti dengan
kalimat-kalimat sunnatu Abi Qasim, Sunnatu Nabiyyina
atau minas Sunnati.
Contohnya, perkataan Amru Ibnu Ash r.a kepada
Ummul Walad:

( )
Jangan kau campur-adukkan pada kami sunnah nabi
kami. (HR. Abu Dawud )
Perkataan di atas tidak lain adalah sunnah Nabi
Muhammad saw, akan tetapi kalau yang memberitakan
dengan kalimat minas sunnati dan yang sejenis dengan
itu seorang tabiin, maka hadits yang demikian itu
bukan disebut hadits marfu, tetapi disebut hadits
mauquf.

Kesimpulan
Hadits marfu merupakan segala perktaan,
perbuatan, maupun takrir, yang disandarkan
kepada Nabi SAW. Baik bersambung sanadnya
maupun tidak. Jadi yang terpenting adalah
berita tersebut disandarkan kepada Nabi SAW.