Anda di halaman 1dari 15

PENDAHULUAN

Memahami persoalan Jabariyah dan Qadariyah yang menjadi salah satu


pokok bahasan utama dalam sejarah teologi Islam, dapat dilihat dari dua sisi
pandang, yang pertama adalah sosiologis masyarakat Arab dan kedua yaitu apa
yang kita sebut dengan institusi atau aliran pemahaman.

A. Sosiologis masyarakat Arab


Kondisi sosiologis masyarakat Arab, dengan suasana teriknya panas dan
tanah berupa padang pasir tandus, menjadikan mereka tidak banyak menemukan
cara untuk merubah hidup ke arah yang lebih baik. Hal inilah kemudian
menggiring pemahaman jabary atau fatalism ke dalam paradigma berfikir
mereka.1
Disamping itu, kuatnya iman terhadap qudrat dan iradat Allah SWT,
ditambah pula dengan sifat wahdaniyat-Nya juga mendorong kuatnya pola fikir
tersebut.2

B. Institusi atau aliran pemahaman


Pola fikir masyarakat Arab seperti tersebut di atas, menjadi sebuah aliran
(institusi) setelah muncul orang (figur) yang menguatkan dan mengembangkan
pemahaman tersebut. Tertulis dalam buku-buku sejarah, dua aliran yang saling
bertentangan dalam hal pemikiran teologi yaitu Jabariyah dan Qadariyah.

Makalah ini akan membahas persoalan teologi kedua aliran tersebut, yaitu
asal-usul, dasar ajaran dan perbandingan pemikiran teologi terkait dengan
perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia, dengan lebih mengedepankan telaah
institutif, dan tidak secara sosiologis.

1
Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-aliran, sejarah analisa perbandingan, UI Press,
Jakarta, 1983, hal 31.
2
Abdul Mun’im Thaib Thahir, Ilmu Kalam, Widjaya, Jakarta, 1986, hal 101.

1
PEMBAHASAN

A. QADARIYAH
1. Asal – usul
Penamaan aliran Qadariyah didasarkan pada pandangan kelompok ini yang
percaya akan tidak adanya intervensi Tuhan terhadap perbuatan manusia. Kata
Qadara berasal dari bahasa Arab, artinya kemampuan, kekuatan, memutuskan.
Dalam bahasa Inggris, sering disebut dengan istilah free will atau free act
(kebebasan berkehendak dan kebebasan berbuat).
Arti Qadariyah secara terminologis adalah satu aliran yang percaya akan
kebebasan manusia bertindak dan menentukan pilihan perbuatan tanpa peran
Tuhan. Setiap manusia adalah pencipta bagi perbuatannya, dengan demikian, kita
dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. Manusia
memiliki qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dapat memilih
mana yang baik dan mana yang buruk. 3
Secara pasti, tidak dapat diketahui kapan tepatnya aliran Qadariyah ini lahir
dan hal ini masih menjadi perdebatan di kalangan ahli sejarah. Pendapat yang
populer, mengatakan bahwa faham Qadariyah pertama kali dimunculkan pada
akhir masa Sahabat sekitar tahun 70 H/689 M, oleh Ma’bad al-Juhani (w. 80
H/699 M) dan Ghailan ad-Dimasyqi (w. 105 H/722 M).4
Ma’bad al-Juhani adalah seorang Taba’i yang dapat dipercaya dan pernah
berguru dengan Hasan al-Basri. Sedangkan Ghailan ad-Dimasyqi adalah seorang
orator berasal dari Damaskus. Faham Qadariyah diduga berasal dari orang Irak
bernama Susan5 yang beragama Kristen, kemudian memeluk agama Islam, dan

3
Terdapat dua pendapat tentang penamaan aliran Qadariyah; pertama, pendapat yang
menyandarkan kepada orang-orang yang berpendapat bahwa manusia adalah pencipta
dan memiliki kekuatan mutlak terhadap apa yang akan diperbuatnya, tanpa intervensi
apapun dari Tuhan. Dan kedua, adalah orang-orang yang berkeyakinan bahwa qudrah
manusia bukan pada penciptaan perbuatan tetapi pada pemilihan dan pelaksanaan
perbuatan tersebut.
4
Ketika terjadi perbedaan pendapat di kalangan ahli sejarah tentang aliran Qadariyah atau
Jabariyah yang lebih dulu hadir? Penulis makalah berpendapat bahwa aliran Qadariyah
lebih dahulu muncul, disebabkan 2 hal; Pertama, dilihat dari tahun wafat pencetus faham
ini yaitu Ma’bad al-Juhani. Kedua, faham jabary atau fatalism yang ada waktu dulu
belum berbentuk sebuah institusi aliran.

2
kembali lagi ke Kristen. Dari Susan inilah Ma’bad dan Ghailan mengambil faham
tersebut.
Pendapat lain, W. Montgomery Watt menemukan dokumen lain yang
menyatakan bahwa faham Qadariyah terdapat dalam Kitab ar-Risalah dan ditulis
untuk Khalifah Abdul Malik oleh Hasan al-Basri sekitar tahun 700 M.6
Dengan disebutkannya Ma’bad al-Juhani pernah berguru dengan Hasan al-
Basri pada keterangan Adz-Dzahabi dalam kitab Mizan al-I’tidal, maka sangat
mungkin faham Qadary mula-mula dikenalkan oleh Hasan al-Basri dalam bentuk
kajian-kajian keIslaman, kemudian dicetuskan oleh Ma’bad al-Juhani dan Ghailan
ad-Dimasyqi dalam bentuk aliran (institusi).

2. Sebab-sebab munculnya aliran Qadariah


Ada dua sebab utama yang dapat dikategorikan menjadi sebab munculnya
faham dan aliran Qadariyah yaitu :
a. Masyarakat Arab yang cenderung fatalis, kehidupan yang serba sulit, faktor
alam yang tidak mendukung untuk lepas dari faham tersebut. Agama Islam
yang dianut oleh mereka justru menjadikan mereka bertambah dalam ke
faham fatalis tersebut. Allah SWT telah menentukan nasib manusia terlebih
dahulu, dalam perbuatannya, manusia hanya bertindak menurut nasib yang
ditentukan sejak azali. Ada Sunnatullah yang hadir dalam setiap detak dan
detik denyut kehidupan semesta ini, dan manusia hanya bertindak menurut
nasib yang telah ditentukan.
b. Secara politis, pemerintah yang berkuasa ketika itu, Bani Umayyah,
menganut dan menekankan faham fatalis, serta menjadikannya legitimasi

5
Susan adalah penganut filsafat Nasrani Sekte Nestorian yang mendirikan sekolah filsafat
di Gundisapur, dan berdekatan dengan Basrah. Sekte Nestorian ini mengadopsi filsafat
Yunani aliran Epikureanisme (Abiquriyyun), dengan konsepnya : Dikarenakan
perbuatan-perbuatan kita adalah bebas, dan kepada merekalah (perbuatan-perbuatan
tersebut) dilekatkan pujian dan celaan. Shobarin Syakur, Sejarah Ilmu Kalam dan
Pemahaman Qada dan Qadar, makalah tidak terbitkan. Lihat
www.elvingunawan.blog.frienster.com/2007/02/sejarah-ilmu-kalam-dan-pemahaman-
qada-da-qadar/.
6
www.ahmad-mubarok.blogspot.com/2008/09/ilmu-kalam.html. pendapat ini mengutip
buku Rosihan Anwar, Ilmu Kalam, Bandung : Pustaka Setia, 2006, hal. 70.

3
kekuasaan yang dipegang. Apa yang menjadi ketetapan penguasa adalah
takdir Tuhan, sehingga siapapun yang menentang, maka sama saja dengan
menentang ketentuan Tuhan. Hadirnya Qadariyah dianggap sebagai
hambatan dan dukungan kepada kelompok yang kritis terhadap rezim.
Faham Takdir yang dikembangkan Qadariyah sangat berbeda dengan
keyakinan pemerintah.

Seiring perjalanan penyebaran faham ini, Ma’bad al-Juhani terlibat dalam


gerakan politik menentang pemerintahan Umayyah. Beliau memihak kepada
‘Abdurrahman ibn al-Asy’as, Gubernur Sajistan wilayah kekuasann Bani
Umayyah. Dan pada satu pertempuran, Ma’bad al-Juhani terbunuh pada tahun
80H.
Ghailan ad-Dimasyqi menjadi penerus aliran Qadariyah pasca terbunuhnya
Ma’bad al-Juhani. Faham ini menyebar luas ke wilayah Damaskus, namun
mendapat larangan dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Setelah Umar bin Abdul Aziz wafat, penyebaran faham ini dapat
berlangsung lama, tapi Ghailan dihukum mati oleh Khalifah Hisyam bin Malik
(724-743 M). Ada dialog singkat sebelum dia dibunuh :

“Manusia berkuasa atas perbuatan-perbuatannya, manusia sendirilah yang


melakukan perbuatan-perbuatan baik atas kehendak dan kekuasaannya sendiri.
Dan manusia sendiri yang melakukan atau menjauhi perbuatan-perbuatan jahat
atas kemauan dan dayanya sendiri” 7

3. Dasar Ajaran
Faham Qadariyah, bukanlah faham yang semata-mata disandarkan kepada
akal fikiran saja. Terbukti, mereka banyak menjadikan ayat-ayat al-Qur’an
sebagai pijakan dan penafsiran faham mereka, antara lain :
a. QS. Al-Kahfi : 29

7
www.zanikhan.multiply.com/profile. tulisan ini mengutip apa yang ditulis Ali al-
Mustafa al-Ghurabi, Tarikh al-Firaq al-Islamiyah, Kairo, tt. Hal. 33.

4
      
   
   
   
   
   
  
  
   
  
 
29. Dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka
barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang
ingin (kafir) Biarlah ia kafir". Sesungguhnya kami Telah sediakan bagi orang
orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka
meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang
mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan
tempat istirahat yang paling jelek.

b. QS. Ali Imran : 165

 
  
   
     
    
165. Dan Mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud),
padahal kamu Telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-
musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya
(kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri".
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

c. QS. Ar-Ra’d : 11
   
  
  
     
   
 
  

5
     
    
11. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di
muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.
Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka
merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah
menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat
menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

d. QS. An-Nisaa : 111


  
  
   
  
111. Barangsiapa yang mengerjakan dosa, Maka Sesungguhnya ia
mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. dan Allah Maha
mengetahui lagi Maha Bijaksana.

e. QS. Fussilat : 40
   
   
   
    
  
  
    
  
40. Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat kami, mereka tidak
tersembunyi dari kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam
neraka lebih baik, ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada
hari kiamat? perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya dia Maha
melihat apa yang kamu kerjakan.

f. QS. As-Sajadah : 40
  
 
   
   
    
    
   

6
4. Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara
keduanya dalam enam masa, Kemudian dia bersemayam di atas 'Arsy [1188]. tidak
ada bagi kamu selain dari padanya seorang penolongpun dan tidak (pula)
seorang pemberi syafa'at[1189]. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?
[1188] bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan
kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.
[1189] Syafa'at: usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau
mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain. syafa'at yang tidak diterima di sisi Allah adalah
syafa'at bagi orang-orang kafir.

Dari ayat-ayat di atas, faham tentang taqdir ini meluas dan berkembang.8
Dalam faham Qadariyah, Takdir difahami sebagai ketentuan Allah yang
diciptakannya bagi alam semesta beserta seluruh isinya sejak azali, yaitu hukum
alam yang dalam isltilah al-Qur’an disebut Sunnatullah. Seseorang diberi ganjaran
baik dengan balasan surga kelak di akhirat. Dan seseorang akan diberi ganjaran
siksa di neraka. Semua ini atas pilihan sadar manusia sendiri, bukan pilihan akhir
Tuhan. Tidaklah pantas manusia menerima siksaan atas tindakan salah yang
dilakukan bukan atas keinginan dan kemampuannya sendiri. 9
Kemudian, dengan potensi yang diberikan Tuhan, manusia dapat
mengembangkan sunnatullah yang ada. Contoh; manusia yang ditakdirkan tidak
dapat mengangkat beban seperti kekuatan gajah. Tapi potensi yang ada, manusia
dapat berfikir mengangkat dengan menggunakan alat. Kreatifitas inilah yang
menjadi keyakinan aliran ini. Hanya saja faham ini masih menyisakan pertanyaan,
sejauh mana kebebasan yang dimiliki manusia? Siapa yang membatasi daya
imajinasi manusia? Dimana batas akhir kreatifitas manusia?
Dilihat dari pendapat di atas, Qadariyah yang ada, lebih cenderung kepada
pendapat yang mengatakan bahwa aliran Qadariyah disandarkan kepada orang-
orang yang meyakini adanya sunnatullah sebagai alternative-alternatif pilihan

8
Dalam Kitab al-Milal wan Nihal, pembahasan masalah Qadariyah disatukan dengan
pembahasan doktrin-doktrin Mu’tazilah, sehingga perbedaan kedua aliran ini tidak begitu
jelas. Ahmad Amin juga menjelaskna bahwa doktrin Qadar lebih luas dikupas oleh
kalangan Mu’tazilah, sebab faham ini juga menjadikan salah satu doktrin Mu’tazilah.
Akibatnya orang menamakan Qadariyah dengan Mu’tazilah karena kedua lairan ini sama-
sama percaya bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tindakan tanpa
campur tangan Tuhan. Lihat www.sherikay.blogspot.com/2008/11/aliran-qadariyah.html.
9
Ibid, hal. 3

7
yang diciptakan Tuhan dan manusia mempunyai kebebasan untuk memilih dan
menentukan perbuatan tersebut.10

B. JABARIYAH
1. Asal – usul
Aliran muncul di masa Pemerintahan Bani Umayyah berkuasa, kondisi
sosiologis masyarakat sangat mendukung sehingga kelompok ini muncul. Faham
ini dikenal dengan sebutan Fatalism atau Predestination.
Kata Jabara dalam bahasa arab berarti memaksa. Secara terminologis,
Jabariyah diartikan dengan aliran yang berkeyakinan bahwa tidak adanya
perbuatan manusia secara hakekat dan menyandarkan perbuatan tersebut kepada
Allah SWT. Segala perbuatan hanya terjadi dengan qudrat dan Iradat-Nya.
Manusia tidak mempunyai Qudrat dan Iradat, manusia hanya merupakan wadah
bagi apa yang Allah kehendaki.
Manusia tidak mampu melakukan sesuatu dan memang tidak bisa disebut
mampu. Didalam aktifitasnya, ia terpaksa karena ia tidak mempunyai
kemampuan, kehendak dan kebebasan. Pahala dan siksa serta kewajiban
merupakan keterpaksaan seperti semua perbuatan.11
Aliran Jabariyah pertama kali dicetuskan oleh Ja’ad ibn Dirham. Namun
dalam sejarah tertulis bahwa penyebar faham ini adalah Jahm ibn Safwan (w. 127
H/745 M), lahir di kota Samarkand, Khurasan, Iran dan menetap di Iraq. Ia
seorang budak yang sudah dimerdekakan (mawali). Aliran ini dimulai di kota
Tirmizh (Iran Utara), dan dikenal juga dengan aliran Jahmiyah.12
10
Berbeda dengan apa yang penulis baca pada makalah Zainal Abidin Syamsuddin, Lc.
Beliau mengutip Hadits dari Abdullah ibn Umar : Nabi SAW bersabda : Qadariyah
adalah majusinya umat ini, jika mereka sakit janganlah kalian menjenguknya dan jika
mereka mati janganlah kalian menyaksikan jenazahnya. (Shahih: dikeluarkan oleh Imam
Abu Dawud dalam Sunannya 4691), Imam Ahmad dalam Musnadnya (5584 2/86), Imam
al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra. Dipublikasikan oleh :
www.ibnuramadhan.wordpress.com. Wallahu a’lam bish showab.
11
www.rdemha65.blogspot.com/2009/03/persoalan-kalam-satu.html, Pendapat ini dikutip
dari pernyataan al-Syahrastani.
12
Faham ini diduga berasal dari filsafat Yunani yang didirikan oleh Zeno (336-264 SM)
dari kota Citium pada tahun 30 SM yang kemudian dikembangkan oleh para pengikutnya

8
Filsafat Yunani mulai diadopsi oleh bangsa Persia, menjadi pembahasan-
pembahasan yang cukup mendapat tempat di kalangan ahli-ahli fikir. Konsep
‘ruang kosong’nya Zeno yang disitir oleh Aristoteles yaitu : Everything that is in
motion must be moved by something (segala sesuatu yang bergerak, pasti
digerakkan oleh sesuatu. Artinya tidak ada sesuatu gerakan yang terjadi dengan
sendirinya (spontanea).13
Konsep ini dikaji oleh Iban ibn Sam’an, seorang Yahudi Syam, kemudian
disampaikan dan difahami serta diyakini oleh Ja’ad ibn Dirham yang tak lain
adalah guru dari Jahm ibn Safwan. Namun diyakini bahwa pengadopsian konsep
filsafat Yunani ini hanya sebatas kulitnya saja (intifa’) bukan dalam bentuk
substansi (Ta’aththur).
Jahm ibn Safwan pernah menjadi sekretaris Syuraih ibn al-Haris, golongan
Murji’ah. Ia mengatakan bahwa : Manusia tidak mempunyai kekuasaan untuk
berbuat apa-apa; manusia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak
sendiri dan tidak mempunyai pilihan, manusia dalam perbuatan-perbuatannya
adalah dipaksan dengan tidak ada kemauan dan pilihan baginya.14 Sebenarnya
aliran Jabariyah ini sangat disukai dan didukung oleh Pemerintah Bani Umayyah,
namun karena Jahm ibn Safwan terlibat pemberontakan terhadap Rezim penguasa,
maka ia ditangkap dan dibunuh oleh Salma ibn Ahwaz al-Mazini, penguasa yang
ditunjuk oleh bani Umayyah di Marwa (wilayah Turmekistan, Rusia)15

Aliran Jabariyah terbagi ke dalam dua kelompok :


a. Moderat
Kelompok ini dipelopori oleh al-Husain ibn Muhammad an-Najjar dan
Dirar ibn ‘Amr, yang berpendapat Tuhanlah yang menciptakan perbuatan-
perbuatan manusia baik yang buruk atau jahat. Tetapi, manusia memiliki
yang disebut dengan Stoisis (Rawwaqiyyun). Kata Stoisis diambil dari nama gedung
tempat ajaran filsafat ini dikembangkan yaitu Stoa. Lihat
www.elvingunawan.blog.frienster.com/2007/02/sejarah-ilmu-kalam-dan-pemahaman-
qada-da-qadar. hal. 3
13
Ibid.
14
Abudin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat danTtasawuf (Dirasah Islamiyah), Jakarta: Grafindo
Persada, hal. 39.
15
www. Alwifaqih.blogspot.com/2008/02/qadariyah-vs-jabariyah.html. hal. 1

9
ruang untuk mewujudkan perbuatan tersebut. Manusia tidak semata-mata
menjadi wayang saja (dipaksa) namun ada kerjasama antara keduanya.
Kelompok ini menjadi penengah antara Qadariyah dan Jabariyah Ekstrem.

b. Ekstrem (radikal)
Kelompok ini yang menjadi arus utama aliran Jabariyah, dipelopori
oleh Jahm ibn Safwan langsung. Melalui Jahm inilah faham fatalisme ini
berkeyakinan bahwa manusia hanya wayang yang dipaksa untuk mengikuti
takdir Tuhan.

2. Dasar Ajaran
Dalam menyebarkan fahamnya, aliranini menunjukkan dalil-dalil al-Qur’an
untuk mendukung pendapatnya :
a. QS. Ash-Shaffat : 96
  
 
96. Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu".

b. QS. Al-Anfal : 17
 
   
   
   
  
    
   
17. Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi
Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu
melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk
membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang
mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar
lagi Maha Mengetahui.

c. QS. Al-Ihsan : 30

10
   
     
  
30. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki
Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

d. QS. Al-An’am : 39 dan 112


 
  
    
   
  
 
39. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami adalah pekak, bisu dan
berada dalam gelap gulita. barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya),
niscaya disesatkan-Nya[473]. dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk
diberi-Nya petunjuk), niscaya dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang
lurus.
[473] disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau
memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, Karena mereka itu ingkar dan tidak mau
memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu
menjadi sesat.

  


  
   
  
   
   
   
 
112. Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-
syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan
kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk
menipu (manusia)[499]. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak
mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.
[499] maksudnya syaitan-syaitan jenis jin dan manusia berupaya menipu manusia agar tidak
beriman kepada nabi.

e. QS. Al-Hadid : 22

11
    
   
     
   
   
22. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada
dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum
kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah.

f. QS. Hud : 6, 107-108


    
   
 

   
  
6. Dan tidak ada suatu binatang melata[709] pun di bumi melainkan Allah-lah
yang memberi rezkinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan
tempat penyimpanannya[710]. semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh
mahfuzh).
[709] yang dimaksud binatang melata di sini ialah segenap makhluk Allah yang bernyawa.
[710] menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan tempat berdiam di sini ialah dunia dan
tempat penyimpanan ialah akhirat. dan menurut sebagian ahli tafsir yang lain maksud tempat
berdiam ialah tulang sulbi dan tempat penyimpanan ialah rahim.

   


  
     
     
  
  
  
  
    
  
107. Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi[736], kecuali jika
Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana
terhadap apa yang dia kehendaki.

12
108. Adapun orang-orang yang berbahagia, Maka tempatnya di dalam syurga,
mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu
menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.
[736] alam akhirat juga mempunyai langit dan bumi tersendiri.

g. QS. Al-Qamar : 49
   
 
49. Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.

h. QS. Ar-Rum : 40
   
  
    
   
   
 
  
40. Allah-lah yang menciptakan kamu, Kemudian memberimu rezki, Kemudian
mematikanmu, Kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang
kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian
itu? Maha sucilah dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.

i. QS. Asy-Syura : 12
 
  
   
   
    
12. Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi; dia melapangkan
rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya
dia Maha mengetahui segala sesuatu.
j. QS. Taha : 50

... ‫خْلَقُه ُثّم َهَدى‬


َ ‫يٍء‬
ْ ‫ش‬
َ ‫ل‬
ّ ‫ط ٰى ُك‬
َ‫ع‬ْ ‫َرّبَنا اّلِذي َأ‬
Artinya : Tuhan Kamilah yang memberikan segala sesuatu kejadiannya,
kemudian Allah memberi petunjuk kepadanya.

13
Dari dalil-dalil al-Qur’an di atas, setidaknya ada empat hal pokok yang
menjadi doktrin aliran jabariyah :
1. Sifat Allah SWT, mereka tidak membenarkan Allah SWT diberi sifat-sifat
yang terdapat pada makhluk-Nya. Ayat al-Qur’an yang menyebutkan
Allah mendengar, berbicara, melihat dan lain-lain, tidak difahami secara
tekstual tetapi secara kontekstual (majazi).
2. Surga dan Neraka serta aktifitasnya tidaklah kekal, meskipun banyak ayat
yang menyatakan kekekalannya. Hal ini juga difahami secara majazi,
karena hanya Allah yang kekal, jika ada makhluk yang kekal, maka Allah
tidak lagi absolut.
3. Iman dan Kufur yang menyertai manusia, adalah sebagai sarana Allah
menunjukkan kekuasaan-Nya. Manusia tidak akan menjadi kafir meskipun
ia ingkar terhadap Allah, dan sebaliknya.
4. Qudrat dan Iradat Manusia. Manusia tidak mampu melakukan suatu
perbuatan, tidak memiliki kemauan bahkan tidak memiliki kekuatan untuk
menentukan pilihan. Semua adalah ciptaan Allah. Manusia hanya sebagai
wayang yang digerakkan oleh dalang.

KESIMPULAN

Perbandingan Pemahaman Teologi Qadariyah dan Jabariyah dalam hal


Perbuatan Tuhan dan Perbuatan Manusia

14
A. Konsep Pemikiran Qadariyah tentang Perbuatan Tuhan dan Perbuatan
Manusia

Tuhan adalah pencipta alternative atau pilihan takdir. Alternatif ketentuan


Allah yang diciptakan bagi alam semesta beserta seluruh isinya sejak azali, yaitu
hukum alam yang dalam istilah al-Qur’an disebut Sunnatullah.
Manusia menjadi penentu akhir perbuatan yang akan dilakukannya, karena
memiliki kekuatan dan kemampuan untuk memilih yang baik atau yang buruk
tanpa intervensi Tuhan.
Seseorang diberi ganjaran baik dengan balasan surga kelak di akhirat. Dan
seseorang akan diberi ganjaran siksa di neraka. Semua ini atas pilihan sadar
manusia sendiri, bukan pilihan akhir Tuhan. Tidaklah pantas manusia menerima
siksaan atas tindakan salah yang dilakukan bukan atas keinginan dan
kemampuannya sendiri.

B. Konsep Pemikiran Jabariyah tentang Perbuatan Tuhan dan Perbuatan


Manusia

Tuhan adalah Pencipta segala sesuatu di alam semesta, dan Tuhan pula yang
menggerakkan & memaksakan ciptaan-Nya tersebut ke seluruh gerak makhluk-
Nya. Ketika manusia berbuat, itu sama saja dengan sunnah benda mati yang
‘melakukan’ aktifitasnya seperti matahari, air mengalir, hujan, dll.
Manusia berbuat, perbuatan baik atau buruk, hanya sebagai wayang, yang
dipaksa melakukan segala sesuatu tergantung dalang. Sehingga jika nanti
mendapat ganjaran surga atau neraka, maka itulah bagian dari kekuatan Tuhan
dalam menjalankan qadar-Nya. Apapun perbuatan manusia, adalah kekuatan
Tuhan yang mencipta dan merealisasikannya.16

16
Ini adalah pendapat major dari aliran Jabariyah (ekstrem), sedikit berbeda dengan
kelompok moderat.

15