Anda di halaman 1dari 25

ETIKA DALAM PRAKTIK AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

A. Pengertian Akuntansi Sektor Publik


Organisasi sektor publik adalah organisasi-organisasi yang menggunakan dana
masyarakat, sehingga perlu melakukan pertanggungjawaban ke masyarakat, dan
mempunyai karakter yang menunjukkan variasi sosial, ekonomi, politik, dan karakteristik
menurut undang-undang. Akuntansi sektor publik memiliki kaitan erat dengan penerapan
dan perlakuan akuntansi pada domain publik yang memiliki wilayah lebih luas dan
kompleks dibandingkan sektor swasta atau bisnis. Keluasan wilayah publik tidak hanya
disebabkan keluasan jenis dan bentuk organisasi yang berada di dalamnya, tetapi juga
kompleksitas lingkungan yang mempengaruhi lembaga-lembaga publik tersebut.
Secara kelembagaan, domain publik antara lain meliputi badan-badan
pemerintahan (Pemerintah Pusat dan Daerah serta unit kerja pemerintah), perusahaan
milik negara dan daerah (BUMN dan BUMD), yayasan, universitas, organisasi politik
dan organisasi massa, serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
B. Profesi sebagai Akuntan Sektor Publik
Perkembangan profesi menunjukkan bahwa di dunia praktis, akuntansi sukses
berkompetisi dengan konsultan manajemen. Hal ini memunculkan perluasan batas-batas disiplin
akuntansi. Tanpa mengubah karakter inti disiplin akuntansi, utilitas akuntansi telah berkembang.
Jadi, para akademisi bekerja untuk mengobservasi penggunaan akuntansi dalam mengelola
perusahaan dan pencapaian kesejahteraan masyarakat. Ini berarti fungsi akuntansi dalam
pelaporan akan semakin penting.
Persepsi masyarakat dialihkan bahwa penyelenggara kebutuhan adalah perusahaan
utilitas, bukan pemerintah daerah. Proses pelayanan ini menjadi sektor publik terbesar, di luar
sektor pertahanan dan keamanan. Akuntansi nampaknya dieksplorasi secara serius dalam
menciptakan proses pengambilan keputusan yang rasional. Akuntansi di pemerintah daerah atau
kota praja dan perusahaannya disebut akuntansi sektor publik. Namun demikian, istilah sektor
publik menjadi lebih disukai. Istilah ini membuka representasi akuntan professional di luar
sektor swasta. Akibatnya, akuntansi sektor publik menjadi wadah intrerdicipliner tentang materi
kesejahteraan masyarakat. Dan pada saat yang sama, bidang akuntansi manajemen sektor publik
dan audit sektor publik diubah orientasinya ke pelayanan publik.
Perkembangan profesi akuntan sektor publik di Indonesia belum semaju perkembangan
profesi akuntan di Inggris. Bahkan dibandingkan dengan profesi akuntan lain, seperti akuntan
sektor swasta, akuntansi sektor publik masih ketinggalan. Hal ini berkaitan dengan sistem
sentralisasi pemerintah yang berdampak pada penggunaan sistem dan prosedur pelaporan
keuangan yang seragam dan terpusat. Dengan berubahnya orientasi publik dan ekonomi di era
reformasi, organisasi profesi akuntan, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) mulai memunculkan
Kompartemen Akuntan Sektor Publik. Kompartemen ini mewadahi para pekerja bidang
akuntansi dan akuntan yang bekerja di organisasi sektor publik. Dan tentunya, permasalahan
standarisasi praktik-praktik akuntansi sektor publik harus dipecahkan. Selain itu, mitra kerja
Kompartemen Akuntan Sektor Publik juga telah dibangun dalam Kompartemen Akuntan
Pendidik yang disebut Kajian Pendidik Akuntansi Sektor Publik.
Dari pembahasan di atas, proses pengembangan bidang akuntansi sektor publik sangat
dipengaruhi oleh kapasitas dan tujuan kebijakan ekonomi, sehingga aspek budaya, sosial, dan
politik ekonomi menjadi dominan. Selain itu, orientasi pengelolaan organisasi sektor publik akan
mengubah arah pengembangan organisasi akuntansi. Namun, heterogenitas bidang sektor publik
akan menjadi alasan logis untuk menciptakan kompleksitas bidang akuntansi sektor publik. Ini
berarti, kunci pemecahan permasalahan akuntansi sektor publik adalah penyederhanaan yang
logis dalam pengelolaan sektor publik.
C. Dimensi Akuntabilitas Publik
Akuntabilitas publik adalah kewajiban agen untuk mengelola sumber daya,
melaporkan, dan mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang berkaitan dengan
penggunaan sumber daya publik kepada pihak pemberi mandate (principal). Dalam
konteks organisasi pemerintah, akuntabilitas publik adalah pemberian informasi atas
aktivitas dan kinerja pemerintah kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Penekanan
utama akuntabilitas publik adalah pemberian informasi kepada publik dan konstituen
lainnya yang menjadi pemangku kepentingan (stakeholder). akuntabilitas publik juga
terkait dengan kewajiban untuk menjelaskan dan menjawab pertanyaan mengenai apa
yang telah, sedang, dan direncanakan akan dilakukan oleh organisasi sektor publik.
Akuntabilitas sektor publik yang harus dilakukan oleh organisasi sektor publik terdiri dari
beberapa aspek. Dimensi akuntabilitas publik yang harus dipenuhi oleh lembaga-lembaga
publik tersebut antara lain:
1. Akuntabilitas hukum dan kejujuran. Akuntabilitas hukum dan kejujuran adalah
akuntabilitas lembaga-lembaga publik untuk berperilaku jujur dalam bekerja dan
mentaati ketentuan hukum yang berlaku. Penggunaan dana publik harus dilakukan
secara benar dan telah mendapat otorisasi.
2. Akuntabilitas manajerial. Akuntabilitas manajerial adalah pertanggungjawaban
lembaga publik untuk melakukan pengelolaan organisasi secara efisien dan efektif.
Akuntabilitas manajerial dapat juga diartikan sebagai akuntabilitas kinerja.
3. Akuntabilitas program. Berkaitan dengan pertimbangan apakah tujuan yang
ditetapkan dapat dicapai atau tidak, dan apakah organisasi telah mempertimbangkan
alternatif program yang memberikan hasil yang optimal dengan biaya yang minimal
4. Akuntabilitas kebijakan. Berkaitan dengan pertanggungjawaban lembaga publik atas
kebijakan-kebijakan yang diambil. Lembaga-lembaga publik hendaknya dapat
mempertanggungjawabkan kebijakan yang telah diterapkan dengan
mempertimbangkan dampak di masa depan.
5. Akuntabilitas financial. Merupakan pertanggungjawaban lembaga-lembaga publik
untuk menggunakan uang publik secara ekonomi, efisien, dan efektif, tidak ada
pemborosan dan kebocoran dana serta korupsi. Akuntabilitsa financial menekankan
pada ukuran anggaran dan financial. Akuntabilitas financial sangat penting karena
pengelolaan keuangan publik akan menjadi perhatian masyarakat.
D. Penyajian Laporan Keuangan
Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintah (PSAP) No. 01 menyebutkan
tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan,
realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan suatu entitas pelaporan yang
bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai
alokasi sumber daya. Sementara tujuan khusus pelaporan keuangan pemerintah adalah
untuk menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dan untuk
menunjukkan akuntabilitas entitas atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya
dengan:
1. Menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, dan
ekuitas dana pemerintah.
2. Menyediakan informasi mengenai perubahan sumber daya ekonomi, kewajiban, dan
ekuitas dana pemerintah
3. Menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya
ekonomi.
4. Menyediakan informasi mengenai ketaatan realisasi terhadap anggarannya.
5. Menyediakan informasi mengenai cara entitas pelaporan mendanai aktivitasnya dan
memenuhi kebutuhan kasnya.
6. Menyediakan informasi mengenai potensi pemerintah untuk membiayai
penyelenggaraan kegiatan pemerintah.
7. Menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi kemampuan entitas
pelaporan dalam mendanai aktivitasnya.
Komponen laporan keuangan pokok:
1. Laporan Realisasi Anggaran. Laporan realisasi anggaran menyajikan ikhtisar sumber,
alokasi dan penggunaan sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah
pusat/daerah dalam satu periode pelaporan. Laporan realisasi anggaran
mengungkapkan kegiatan keuangan pemerintah pusat/daerah yang menunjukkan
ketaatan terhadap APBN/APBD.
2. Neraca. Neraca menggambarkan posisi keuangan pemerintah mengenai asset,
kewajiban, dan ekuitas dana pada tanggal tertentu.
3. Laporan Arus Kas. Menyajikan informasi mengenai sumber, penggunaan, perubahan
kas dan setara kas pada tanggal pelaporan.
4. Catatan Atas Laporan Keuangan. Menyajikan informasi mengenai penjelasan dari
setiap akun yng terdapat pada laporan keuangan perusahaan.
Komponen laporan keuangan tersebut disajikan oleh setiap entitas pelaporan,
kecuali Laporan Arus Kas yang hanya disajikan oleh unit yang mempunyai fungsi
perbendaharaan (Bendahara Umum Negara/Daerah). Selain menyajikan laporan
keuangan pokok, entitas pelaporan diperkenankan menyajikan:
a. Laporan Kinerja Keuangan. Disajikan oleh entitas yang menerapkan basis akrual.
Laporan Kinerja Keuangan sekurang-kurangnya menyajikan pos-pos sebagai berikut:
- pendapatan dari kegiatan operasional
- beban berdasarkan klasifikasi fungsional dan klasifikasi ekonomi
- surpluls atau deficit
b. Laporan Perubahan Ekuitas. Dalam laporan perubahan ekuitas sekurang-kurangnya
hanya disajikan pos-pos:
- Sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran
- Setiap pos pendapatan dan belanja serta totalnya seperti diisyaratkan dalam
standar-standar lainnya, yang diakui secara langsung dalam ekuitas
- Efek kumulatif atas perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan yang
mendasar diatur dalam suatu standar terpisah.
E. Audit Kinerja Sektor Publik
Akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan pemerintah pusat
maupun daerah sebagai organisasi sektor publik merupakan tujuan penting dari reformasi
akuntansi dan administrasi sektor publik. Seiring dengan tuntutan masyarakat agar
organisasi sektor publik meningkatkan kualitas, profesionalisme dan akuntabilitas publik
dalam menjalankan aktivitasnya, diperlukan audit yang tidak hanya terbatas pada
keuangan dan kepatuhan saja, tetapi perlu diperluas dengan melakukan audit terhadap
kinerja sektor publik. Audit yang dilakukan pada sektor publik pemerintah berbeda
dengan yang dilakukan pada sektor swasta. Perbedaan tersebut disebabkan oleh adanya
perbedaan latar belakang institusional dan hukum, dimana audit sektor publik pemerintah
mempunyai prosedur dan tanggung jawab yang berbeda serta peran yang lebih luas
dibanding audit sektor swasta. Secara umum, ada tiga jenis audit dalam audit sektor
publik, yaitu audit keuangan (financial audit), audit kepatuhan (compliance audit) dan
audit kinerja (performance audit). Audit keuangan adalah audit yang menjamin bahwa
system akuntansi dan pengendalian keuangan berjalan secara efisien dan tepat serta
transaksi keuangan diotorisasi serta dicatat secara benar. Audit kepatuhan adalah audit
yang memverifikasi/memeriksa bahwa pengeluaran-pengeluaran untuk pelayanan
masyarakat telah disetujui dan telah sesuai dengan peraturan undang-undang. Audit yang
ketiga adalah audit kinerja yang merupakan perluasan dari audit keuangan dalam hal
tujuan dan prosedurnya. Audit kinerja memfokuskan pemeriksaan pada tindakan-
tindakan dan kejadian-kejadian ekonomi yang menggambarkan kinerja entitas atau fungsi
yang diaudit. Audit sektor publik tidak hanya memeriksa serta menilai kewajaran laporan
keuangan sektor publik, tetapi juga menilai ketaatan aparatur pemerintahan terhadap
undang-undang dan peraturan yang berlaku. Di samping itu, auditor sektor publik juga
memeriksa dan menilai sifat-sifat hemat (ekonomis), efisien serta efektivitas dari semua
pekerjaan, pelayanan atau program yang dilakukan pemerintah. Dengan demikian, bila
kualitas audit sektor publik rendah, akan mengakibatkan risiko tuntutan hukum
(legitimasi) terhadap pejabat pemerintah dan akan muncul kecurangan, korupsi, kolusi
serta berbagai ketidakberesan. Kualitas audit sektor publik pemerintah ditentukan oleh
kapabilitas teknikal auditor dan independensi auditor. Kapabilitas teknikal auditor telah
diatur dalam standar umum pertama, yaitu bahwa staf yang ditugasi untuk melaksanakan
audit harus secara kolektif memiliki kecakapan professional yang memadai untuk tugas
yang disyaratkan, serta pada standar umum yang ketiga, yaitu bahwa dalam pelaksanaan
audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya
secara cermat dan seksama. Independensi auditor diperlukan karena auditor sering
disebut sebagai pihak pertama dan memegang peran utama dalam pelaksanaan auditor
kinerja, karena auditor dapat mengakses informasi keuangan dan informasi manajemen
dari organisasi yang diaudit, memiliki kemampuan professional dan bersifat independen.
Untuk meningkatkan sikap independensi auditor sektor publik, maka kedudukan auditor
sektor publik harus terbebas dari pengaruh dan campur tangan serta terpisah dari
pemerintah, baik secara pribadi maupun kelembagaan.
Etika dalam Praktik Akuntansi Sektor Publik
Dalam dua tahun terakhir ini, masyarakat Indonesia mengalami perubahan yang
cukup mendasar dan besar, yang ditandai dengan meningkatnya keinginan akan
akuntabilitas dan transparansi kinerja terhadap pengelolaan sektor publik. Perlawanan
terhadap budaya manipulasi baru saja dimulai dengan berakhirnya era pemerintahan yang
mengutamakan stabilitas. Istilah reformasi merupakan cetusan untuk mendudukkan
kembali keseimbangan antara pembangunan fisik dan pembangunan nilai. Akibatnya,
reformasi menjadi lebih menekankan pembangunan nilai yang diungkap dalam good
governance.
Pengembangan Akuntansi Sektor Publik
Pertama, di tahun 1952, fase sektor publik untuk pertama kalinya diajarkan di dunia
akademis (Kamus Inggris Oxford, edisi kedua, 1989, hal 779).
Kedua, karakter organisasi sektor publik menunjukkan variasi sosial, ekonomi,
politik, dan karakteristik menurut undang-undang.
Ketiga, aktivitas organisasi sektor publik amat beraneka ragam
Keempat, kondisi organisasi sektor publik amat mandiri, atau mampu lepas dari
mekanisme murni pasar.
Kelima, fokus kesuksesan penyelenggaraan aktivitas publik adalah kompetensi
manajemen.
Keenam, kondisi proses pertanggungjawaban yang dilakukan oleh badan-badan
sektor publik masih bersifat umum.
Akuntansi sektor publik yang diharapkan lebih ditekankan pada sistem dan pemeriksaan
akuntansi. Sistem akuntansi sektor publik yang selama ini dikembangkan lebih melayani
karakteristik persaingan swasta. Ini tentunya merupakan kesalahan besar karena karakter dan
evaluasi kinerja publik amat berbeda dengan yang ada di sektor swasta. Pengukuran prestasi dan
kinerja sektor publik merupakan titik berat pengembangan akuntansi sektor publik. Penekanan
terhadap efisiensi keuangan dan efektivitas manajemen akan menjadi dua titik awal fokus
pengembangan bidang akuntansi manajemen sektor publik ini. Jadi, tuntutan masyarakat
terhadap pengembangan peranan akuntansi di sektor publik menjadi suatu yang harus dijawab.
Ungkapan pemerintah yang bersih dapat diinterpretasikan sebagai perwujudan indicator
kejujuran pemerintah. Selama dua puluh tahun yang lampau, kejujuran pemerintah lebih
diartikan sebagai stabilitas pemerintah. Sedangkan di masa reformasi, kejujuran diartikan sebagai
pemerintah yang bersih. Akibatnya, mekanisme manipulasi yang dipraktekkan di masa lalu harus
diganti dengan mekanisme transparansi.
Peranan akuntansi yang telah bergeser ternyata tidak membuat akuntansi sebagai mekanisme
pertanggungjawaban. Perubahan politik dan krisis ekonomi telah menyebabkan munculnya
kesadaran baru di kalangan masyawakat Indonesia. Fungsi akuntansi saat ini, diharapkan
menjadi turunan dari perkembangan tuntutan masyarakan terhadap bidang akuntansi untuk
memajukan sector public.
Akuntansi di masa awal reformasi telah menghadapi kehinaan yang secara eksplisit terbukti
dengan ditunjuknya akuntan asing untuk melakukan due diligence dalam berbagai sector public
dan kasus-kasus skandal. Terlepas dari alasan untuk membangkitkan kepercayaan asing terhadap
perekonomian kita, fakta itu menunjukkan rendahnya kredibilitas akuntan kita, termasuk di
dalamnya akuntan sector public, di mata dunia internasional. Akibatnya, praktik kejujuan
akuntan harus ditingkatkan. Etika pemeriksaan akuntan harus ditegakkan, dalam artian
pelanggaran bukan hanya berdampak terhadap keanggotaan profesi, namun kerugian yang
ditimbulkan juga bisa diambil tuntutan di jalur hukum.
Penegakan etika profesi akuntan pemeriksa saat ini menjadi suatu hal yang mendesak. Selama
ini, tuntutan dibatasi hanya oleh profesi, dalam artian sepanjang aturan profesi dipatuhi akuntan
dianggap sudah memenuhi kewajiban baik secara profesi maupun kemasyarakatan. Hal ini telah
dinilai tidak wajar. Sehingga, masyarakat menuntut agar akuntan bisa dituntut di jalur hukum.
Profesionalisme profesi, dalam hal ini terkait dengan kejujuran keahlian dan pribadi, telah
dituntut untuk dapat dibawa sebagai kredibilitas profesi di mata prosedur hukum masyarakat. Ini
berarti yang diminta sebenarnya adalah perubahand ari sekedar moralitas menjadi realitas hukum
masyarakat. Salah satu cirri khas gerakan reformasi adalah tuntutan akan pemerintah yang
bersih. Akuntan sebagai suatu profesi diminta untuk terlibat secara aktif, terkait dengan
pelaksanaan transparansi ekonomi. Secara umum, pemahaman/keahlian penyusunan system
keuangan merupakan kompetensi akuntansi. Akuntansi sector public yang diharapkan lebih
ditekankan pada system dan pemeriksaan akuntansi. System akuntansi sector public yang selama
ini dikembangkan lebih melayani karakteristik persaingan swasta. Ini tentunya merupakan
kesalahan besar karena karakter dan evaluasi kinerja public amat berbeda dengan yang ada di
sector swasta.
Titik Kritis dalam Praktik Akuntansi Sektor Publik
Melihat pentingnya reformasi akuntansi, penerapan perspektif organisasi atau yang
dikenal dengan menemukan kembali pemerintahan, harus dilandasi dengan menemukan kembali
peranan akuntansi. Praktik akuntansi sektor publik (Penlebury, 1992) di Indonesia mempunyai
empat titik kritis sebagai berikut:
1. Praktik pertanggungjawaban akuntansi yang layak
Prosedur penghasilan dan pembayaran dari pusat pertanggungjawaban organisasi sektor
publik dapat dilakukan dengan pemenuhan otorisasi, baik dari DPR/DPRD atau
komisaris. Kadangkala proses otorisasi ini dihasilkan dari proses demokrasi melalui
pengambilan suara/voting.
2. Prinsip bruto
Seluruh penghasilan dibayarkan bruto, dan biaya yang terjadi dibebankan sebagai
pengurang penghasilan dan harus dilaporkan secara lengkap ke setiap pusat
pertanggungjawaban yang terkait.
3. Periodical
Semua pengeluaran harus dipertanggungjawabkan per periode, sehingga otorisasi
pengeluaran akan dinilai berdasarkan prestasi periode terkait. Kelebihan dana di atas
pengeluaran dapat diketahui dan dikembalikan ke manajemen pusat pertanggungjawaban.
4. Spesifikasi
Pengeluaran untuk tujuan khusus harus dilandasi oleh persetujuan DPR/DPRD atau
komisaris. Konsep by exception/pengecualian ini harus diatur dalam peraturan tersendiri
tanpa mengabaikan tingkat pencapaian prestasi manajemen organisasi sektor publik yang
terkait.
Tipe praktik pertama lebih menekankan keseimbangan antar proses perencanaan dan
pertanggungjawaban. Dalam proses perencanaan, faktor pengendalian kas menjadi perhaitan
utama. Kas seringkali diartikulasikan sebagai dampak perubahan harga atau nilai ekonomi riil.
Anggaran belanja merupakan hasil dari harga kali kuantitas, di mana kuantitas adalah kuantitas
dari masukan.
Sebagai alternatif dari dasar volume anggaran belanja adalah pendekatan dasar kuantitas
uang tunai yang diterapkan untuk menata anggaran belanja sebanyak uang tunai implisit dengan
kuantitas barang atau pelayanan/jasa yang dibeli. Pendekatan ini dilandasi pada asumsi akurasi
penataan anggaran belanja dan akan menyebabkan penetapan anggaran untuk pos yang terkait
langsung dengan masyarakat, seperti tunjangan kesehatan dan pensiun, akan lebih ditentukan
oleh tuntutan kehidupan sehari-hari. Atau, dengan kata lain, pembengkakan kebutuhan kas
sangat mungkin terjadi. Oleh sebab itu, manajemen sering memisahkan pos-pos tersebut dari
kebijakan anggaran belanja dan membuat ketetapan tersendiri, seperti anggaran subsidi.
Keseimbangan peranan perencanaan dan pertanggungjawaban akan menjadi ciri
pengelolaan organisasi sektor publik di era reformasi ini. Sebaiknya, kejelasan konsep
pertanggungjawaban harus dijabarkan secara terbuka sebelum pekerjaan dimulai. Berbagai
indikator keuangan dan nonkeuangan harus dirumuskan, sehingga bisa menjawab berbagai
keraguan tentang optimalitas manfaat laporan keuangan. Selain itu, lekatnya proses
pertanggungjawaban denagn karakter setiap organisasi sektor publik juga perlu diperhatikan
untuk mengakomodasi perbedaan antar berbagai organisasi sektor publik.
Dari penjelasan di atas, faktor akuntabilitas amat penting dalam pengelolaan dana
masyarakat. Praktik pemilihan program dengan dana masyarakat perlu dikembangkan dalam
konteks visi kesejahteraan masyarakat. Ini berarti akuntabilitas manajemen kesejahteraan
masyarakat sangat menentukan perkembangan akuntansi sektor publik.
Peran Pemerintah Semakin Berkurang
Tugas pemerintah adalah mengendalikan, bukannya seperti mendayung sebuah perahu (E.S.
Savas).
Di berbagai negara lain, filosofi ini benar-benar diterapkan. Di St. Paul, Minnesota,
George Latimer (1975) yang terpilih sebagai walikota berusaha memulihkan ekonomi kota
tersebut dengan mengubah sumber daya kota yang ada dengan cara mengkombinasikannya
dengan berbagai sumber daya dari sektor privat, meminta bantuan dana, dan membawa
pengembang masuk. Selain itu, dia juga melakukan usaha lain yang diserahkan kepada swasta
seperti mendirikan sarana perumahan yang terjangkau dan menggunakan jasa tenaga kerja sosial
bernilai jutaan dollar. Hasilnya, Latimer mampu meningkatkan wibawa pemerintahannya
walaupun ada pengurangan karyawan sebanyak 12%, menjaga anggaran, mempertahankan
tingkat pertumbuhan pajak propertinya di bawah inflasi, serta mengurangi hutang kota. Keadaan
tersebut sangat berbeda dengan di Indonesia. Pemerintah kota sangat bergantung pada pajak,
iklan, dan pungutan lain. Para pengembang kurang berminat karena kondisi sosial politik yang
tidak stabil dan tingkat inflasi yang tinggi. Selain itu, pemerintah kota sangat bergantung pada
pemerintah pusat.
Tingginya Pengaruh Politik terhadap Sistem Organisasi
Sterling (1973) berpendapat bahwa hampir semua masalah praktis yang dihadapi dalam
praktik akuntansi bisa dipecahkan dengan teori. Ketika sebuah masalah muncul, isu sebenarnya
adalah bahwa manajemen tidak sependapat dengan pandangan akuntansi. Dengan demikian,
masalahnya bukan teknis tetapi merupakan masalah politis. Sebuah studi yang dilakukan oleh
Watts and Zimmerman (1978) memunculkan pertanyaan mengapa suatu perusahaan
membelanjakan sumber daya untuk mempengaruhi standar akuntansi. Hasil studi tersebut
memperlihatkan bahwa manajer mempunyai alasan yang kuat untuk menginginkan kepastian
prosedur akuntansi dibanding dengan yang lain.
Masalahnya adalah bahwa akuntan memberikan respon tanpa adanya kekuatan untuk
menekan keputusan pihak pemerintah. Profesi akuntan akan memberikan respon untuk
memastikan bahwa laporan keuangan yang telah dipublikasikan sesuai dengan standar yang
ditetapkan. Tetapi hal itu tidak diterima secara legal oleh profesi akuntan karena pendapat
auditor yang terdiri dari adverse, qualified, dan disclaimer dalam laporan hasil pemeriksaan atas
laporan keuangan, jarang digunakan. Tindakan yang dapat dilakukan adalah memperbaiki citra
profesi akuntan atau menghindar dari tanggung jawab. Selain itu, ada pernyataan sederhana
bahwa lingkungan akuntansi itu merupakan arena politik. Angka-angka dalam laporan keuangan
mempunyai dampak sosial, di mana perkiraan dan tingkah laku dari banyak orang akan
terpengaruhi. Akan tetapi, beberapa akuntan berpendapat bahwa proses standar yang telah
diformulasikan menjadi faktor politis.
Professors May dan Sundem State (1976) menyatakan,
Visi kesejahteraan sosial dari laporan akuntansi secara jelas dapat diakui. Bagaimanapun
juga,
Melihat kenyataan yang terjadi sekarang, lembaga-lembaga yang mengikrarkan sebagai
lembaga independen sedikit banyak juga tersentuh oleh politik pemerintahan. Bahkan BPK yang
menjadi salah satu lembaga tinggi negara juga tidak dapat dipungkiri terintervensi oleh
pemerintah, terutama di masa Orde Baru.
Sekarang masalahnya adalah apakah standar tersebut seharusnya dalam standar sektor
privat atau sektor publik. Penelitian yang dilakukan oleh Professor Ronen dan Schiff (1978)
yang telah menyebarkan kuesioner sebanyak 1.329 kepada para responden seperti beberapa
eksekutif perusahaan besar, akuntan sektor publik, akademisi akuntansi, analis keuangan,
pengacara, dan banker menyimpulkan bahwa 91,9% responden menyatakan bahwa standar
seharusnya dibuat sesuai format untuk sektor privat. Ini berarti standar yang dibuat untuk sektor
publik seharusnya harmonis dengan praktik yang ada untuk sektor swasta.
A. Kode Etik IAI KASP
Aturan etika merupakan penjabaran lebih lanjut dari prinsip-prinsip etika dan ditetapkan
untuk masing-masing kompartemen. Untuk akuntan sektor publik, aturan etika ditetapkan oleh
IAI Kompartemen Akuntan Sektor Publik (IAI-KASP). Sampai saat ini, aturan etika ini masih
dalam bentuk exposure draft, yang penyusunannya mengacu pada Standard of Professional
Practice on Ethics yang diterbitkan oleh the International Federation of Accountants (IFAC).
Berdasarkan aturan etika ini, seorang profesional akuntan sektor publik harus memiliki
karakteristik yang mencakup:
intelektual yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan.
untuk auditan.

yang tinggi.
Penerapan aturan etika ini dilakukan untuk mendukung tercapainya tujuan profesi
akuntan yaitu: bekerja dengan standar profesi yang tinggi, mencapai tingkat kinerja yang
diharapkan dan mencapai tingkat kinerja yang memenuhi persyaratan kepentingan masyarakat.
Oleh karena itu, menurut aturan etika IAI-KASP, ada tiga kebutuhan mendasar yang harus
dipenuhi, yaitu:


gguna layanan bahwa adanya kerangka etika professional dan standar teknis
yang mengatur persyaratan-persyaratan layanan yang tidak dapat dikompromikan.
Aturan etika IAI-KASP memuat tujuh prinsip-prinsip dasar perilaku etis auditor dan
empat panduan umum lainnya berkenaan dengan perilaku etis tersebut. Ketujuh prinsip dasar
tersebut adalah: integritas, obyektivitas, kompetensi dan kehati-hatian, kerahasiaan, ketepatan
bertindak, dan standar teknis dan profesional. Empat panduan umum mengatur hal-hal yang
terkait dengan good governance, pertentangan kepentingan, fasilitas dan hadiah, serta penerapan
aturan etika bagi anggota profesi yang bekerja di luar negeri.
Integritas
Integritas berkaitan dengan profesi auditor yang dapat dipercaya karena menjunjung
tinggi kebenaran dan kejujuran. Integritas tidak hanya berupa kejujuran tetapi juga sifat dapat
dipercaya, bertindak adil dan berdasarkan keadaan yang sebenarnya. Hal ini ditunjukkan oleh
auditor ketika memunculkan keunggulan personal ketika memberikan layanan professional
kepada instansi tempat auditor bekerja dan kepada auditannya. Misalnya, auditor seringkali
menghadapi situasi di mana terdapat berbagai alternatif penyajian informasi yang dapat
menciptakan gambaran keuangan atau kinerja yang berbeda-beda. Dengan berbagai tekanan
yang ada untuk memanipulasi fakta-fakta, auditor yang berintegritas mampu bertahan dari
berbagai tekanan tersebut sehingga fakta-fakta tersaji seobyektif mungkin. Auditor perlu
mendokumentasikan setiap pertimbangan-pertimbangan yang diambil dalam situasi penuh
tekanan tersebut.
Obyektivitas
Auditor yang obyektif adalah auditor yang tidak memihak sehingga independensi
profesinya dapat dipertahankan. Dalam mengambil keputusan atau tindakan, ia tidak boleh
bertindak atas dasar prasangka atau bias, pertentangan kepentingan, atau pengaruh dari pihak
lain. Obyektivitas ini dipraktikkan ketika auditor mengambil keputusan-keputusan dalam
kegiatan auditnya. Auditor yang obyektif adalah auditor yang mengambil keputusan berdasarkan
seluruh bukti yang tersedia, dan bukannya karena pengaruh atau berdasarkan pendapat atau
prasangka pribadi maupun tekanan dan pengaruh orang lain.
Obyektivitas auditor dapat terancam karena berbagai hal. Situasisituasi tertentu dapat
menghadapkan auditor pada tekanan yang mengancam obyektivitasnya, seperti hubungan
kekerabatan antara auditor dengan pejabat yang diaudit. Obyektivitas auditor juga dapat
terancam karena tekanantekanan pihak-pihak tertentu, seperti ancaman secara fisik. Untuk itu,
auditor harus tetap menunjukkan sikap rasional dalam mengidentifikasi situasi-situasi atau
tekanan-tekanan yang dapat mengganggu obyektivitasnya. Ketidakmampuan auditor dalam
menegakkan satu atau lebih prinsip-prinsip dasar dalam aturan etika karena keadaan atau
hubungan dengan pihak-pihak tertentu menunjukkan indikasi adanya kekurangan obyektivitas.
Hubungan finansial dan non-finansial dapat mengganggu kemampuan auditor dalam
menjalankan prinsip obyektivitas. Misalnya, auditor memegang jabatan komisaris bersama-sama
dengan auditan pada suatu perusahaan sedikit banyak akan mempengaruhi obyektivitas auditor
tersebut ketika mengaudit auditan. Transaksi peminjaman dari auditan atau investasi pada
auditan dapat mendorong auditor menyajikan temuan audit yang berbeda dengan keadaan
sebenarnya, terutama bila temuan tersebut berpengaruh terhadap keuangannya.
Kompetensi dan Kehati-hatian
Agar dapat memberikan layanan audit yang berkualitas, auditor harus memiliki dan
mempertahankan kompetensi dan ketekunan. Untuk itu auditor harus selalu meningkatkan
pengetahuan dan keahlian profesinya pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa
instansi tempat ia bekerja atau auditan dapat menerima manfaat dari layanan profesinya
berdasarkan pengembangan praktik, ketentuan, dan teknik-teknik yang terbaru. Berdasarkan
prinsip dasar ini, auditor hanya dapat melakukan suatu audit apabila ia memiliki kompetensi
yang diperlukan atau menggunakan bantuan tenaga ahli yang kompeten untuk melaksanakan
tugas-tugasnya secara memuaskan.
Berkenaan dengan kompetensi, untuk dapat melakukan suatu penugasan audit, auditor
harus dapat memperoleh kompetensi melalui pendidikan dan pelatihan yang relevan. Pendidikan
dan pelatihan ini dapat bersifat umum dengan standar tinggi yang diikuti dengan pendidikan
khusus, sertifikasi, serta pengalaman kerja. Kompetensi yang diperoleh ini harus selalu
dipertahankan dan dikembangkan dengan terus-menerus mengikuti perkembangan dalam profesi
akuntansi, termasuk melalui penerbitan penerbitan nasional dan internasional yang relevan
dengan akuntansi, auditing, dan keterampilan-keterampilan teknis lainnya.
Kerahasiaan
Auditor harus mampu menjaga kerahasiaan atas informasi yang diperolehnya dalam
melakukan audit, walaupun keseluruhan proses audit mungkin harus dilakukan secara terbuka
dan transparan. Informasi tersebut merupakan hak milik auditan, untuk itu auditor harus
memperoleh persetujuan khusus apabila akan mengungkapkannya, kecuali adanya kewajiban
pengungkapan karena peraturan perundang-undangan. Kerahasiaan ini harus dijaga sampai
kapanpun bahkan ketika auditor telah berhenti bekerja pada instansinya. Dalam prinsip
kerahasiaan ini juga, auditor dilarang untuk menggunakan informasi yang dimilikinya untuk
kepentingan pribadinya, misalnya untuk memperoleh keuntungan finansial.
Prinsip kerahasiaan tidak berlaku dalam situasi-situasi berikut:
tempat ia bekerja. Dalam melakukan pengungkapan ini, auditor harus mempertimbangkan
kepentingan seluruh pihak, tidak hanya dirinya, auditan, instansinya saja, tetapi juga termasuk
pihak-pihak lain yang mungkin terkena dampak dari pengungkapan informasi ini.
pidana pencucian uang, tindakan KKN, dan tindakan melanggar hukum lainnya.
-undang. Bila
auditor memutuskan untuk mengungkapkan informasi karena situasisituasi di atas, ada tiga
hal yang harus dipertimbangkan, yaitu:
-fakta yang diungkapkan telah mendapat dukungan bukti yang kuat atau adanya
pertimbangan profesional penentuan jenis pengungkapan ketika fakta-fakta tersebut tidak
didukung dengan bukti yang kuat.
-pihak yang menerima informasi adalah pihak yang tepat dan memiliki tanggung jawab
untuk bertindak atas dasar informasi tersebut.
sebelum melakukan pengungkapan informasi.
Ketepatan Bertindak
Auditor harus dapat bertindak konsisten dalam mempertahankan reputasi profesi serta
lembaga profesi akuntan sektor publik dan menahan diri dari setiap tindakan yang dapat
mendiskreditkan lembaga profesi atau dirinya sebagai auditor profesional. Tindakan-tindakan
yang tepat ini perlu dipromosikan melalui kepemimpinan dan keteladanan. Apabila auditor
mengetahui ada auditor lain melakukan tindakan yang tidak benar, maka auditor tersebut harus
mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi masyarakat, profesi, lembaga
profesi, instansi tempat ia bekerja dan anggota profesi lainnya dari tindakan-tindakan auditor lain
yang tidak benar tersebut. Untuk itu, ia harus mengumpulkan bukti-bukti dari tindakan yang
tidak benar tersebut dan menuangkannya dalam suatu laporan yang dibuat secara jujur dan dapat
dipertahankan kebenarannya. Auditor kemudian melaporkan kepada pihak yang berwenang atas
tindakan yang tidak benar ini, misalnya kepada atasan dari auditor yang melakukan tindakan
yang tidak benar tersebut atau kepada pihak yang berwajib apabila pelanggarannya menyangkut
tindak pidana.
Standar teknis dan profesional
Auditor harus melakukan audit sesuai dengan standar audit yang berlaku, yang meliputi
standar teknis dan profesional yang relevan. Standar ini ditetapkan oleh Ikatan Akuntan
Indonesia dan Pemerintah Republik Indonesia. Pada instansi-instansi audit publik, terdapat juga
standar audit yang mereka tetapkan dan berlaku bagi para auditornya, termasuk aturan perilaku
yang ditetapkan oleh instansi tempat ia bekerja. Dalam hal terdapat perbedaan dan/atau
pertentangan antara standar audit dan aturan profesi dengan standar audit dan aturan instansi,
maka permasalahannya dikembalikan kepada masing-masing lembaga penyusun standar dan
aturan tersebut.
Panduan Umum Lainnya pada Aturan Etika IAI-KASP
Seperti telah dikemukakan sebelumnya, panduan umum lainnya yang tercantum dalam
aturan etika IAI-KASP terdiri dari tiga hal yaitu panduan good governance dari
organisasi/instansi tempat auditor bekerja, panduan identifikasi pertentangan kepentingan,
panduan atas pemberian fasilitas dan hadiah, dan panduan penerapan aturan etika bagi auditor
yang bekerja di luar wilayah hukum aturan etika.
Good Governance. Auditor diharapkan mendukung penerapan good governance pada organisasi
atau instansi tempat ia bekerja, yang meliputi prinsip-prinsip berikut:
1. Tidak mementingkan diri sendiri
2. Integritas
3. Obyektivitas
4. Akuntabilitas
5. Keterbukaan
6. Kejujuran
7. Kepemimpinan
Pertentangan Kepentingan
Beberapa hal yang tercantum dalam aturan etika yang dapat mengindikasikan adanya
pertentangan kepentingan yang dihadapi oleh auditor sektor publik adalah:
1. Adanya tekanan dari atasan, rekan kerja, maupun auditan di tempat kerja (instansinya).
2. Adanya tekanan dari pihak luar seperti keluarga atau relasi.
3. Adanya tuntutan untuk bertindak yang tidak sesuai dengan standar atau aturan.
4. Adanya tuntutan loyalitas kepada organisasi atau atasan yang bertentangan dengan kepatuhan
atas standar profesi.
5. Adanya publikasi informasi yang bias sehingga menguntungkan instansinya.
6. Adanya peluang untuk memperoleh keuntungan pribadi atas beban instansi tempat auditor
bekerja atau auditan.
Fasilitas dan Hadiah
Auditor dapat menerima fasilitas atau hadiah dari pihak-pihak yang memiliki atau akan
memiliki hubungan kontraktual dengannya dengan mengacu dan memperhatikan seluruh
peraturan perundang-undangan mengenai tindak pidana korupsi, dengan melakukan tindakan-
tindakan:
1. Melakukan pertimbangan atau penerimaan fasilitas atau hadiah yang normal dan masuk akal,
artinya auditor juga akan menerima hal yang sama pada instansi tempat ia bekerja apabila ia
melakukan hal yang sama.
2. Meyakinkan diri bahwa besarnya pemberian tidak menimbulkan persepsi masyarakat bahwa
auditor akan terpengaruh oleh pemberian tersebut.
3. Mencatat semua tawaran pemberian fasilitas atau hadiah, baik yang diterima maupun yang
ditolak, dan melaporkan catatan tersebut.
4. Menolak tawaran-tawaran fasilitas atau hadiah yang meragukan.
Pemberlakuan Aturan Etika bagi Auditor yang Bekerja di Luar Negeri
Pada dasarnya auditor harus menerapkan aturan yang paling keras apabila auditor
dihadapkan pada dua aturan berbeda yang berlaku ketika ia bekerja di luar negeri, yaitu aturan
etika profesinya di Indonesia dan aturan etika yang berlaku di luar negeri.
Kode Etik Auditor BPK-RI
Auditor profesional dalam melaksanakan tugas pemeriksaan tidak hanya berpegang pada
standar audit profesi (SAP-SPAP IAI), tetapi harus pula secara paralel mematuhi kode etik
profesi. Kode etik profesi auditor berisi tuntunan moral dan nilai-nilai yang harus dijunjung
tinggi oleh auditor dalam melaksanakan pemeriksaan. Tujuan dikeluarkannya kode etik ini
adalah agar setiap pegawai BPK-RI menjunjung tinggi kehormatan BPK-RI, yang berarti
mengandung nilai-nilai moral yang harus dipahami, dihayati dan diamalkan dengan baik seluruh
pegawai BPK-RI. Kode etik auditor BPK-RI terdiri dari Sapta Prasetya Jati dan Ikrar Pemeriksa.
Sapta Prasetya Jati berlaku untuk seluruh pegawai BPK-RI sedangkan Ikrar Pemeriksa berlaku
untuk pegawai BPK-RI yang menyandang Jabatan Fungsional Auditor.
Sapta Prasetya Jati
1. Karyawan BPK-RI menghayati dan mengamalkan Pancasila, Undang- Undang Dasar 1945,
Undang-undang tentang Badan Pemeriksa Keuangan serta Peraturan Perundangan lainnya,
Sumpah Pegawai Negeri Sipil dan Sumpah Jabatan dengan rasa tanggung taqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa.
2. Karyawan BPK-RI mempunyai kesadaran tanggung jawab yang tinggi dalam mengembankan
ilmu dan pengabdiannya bagi kemajuan negara dan bangsa serta kesejahteraan dan
kebahagiaan masyarakat.
3. Karyawan BPK-RI dengan segala kesadaran dan kehormatannya membantu dan menyertai
pimpinan menegakkan disiplin kerja demi wibawa dan martabat BPK-RI sebagai lembaga
pemeriksa tertinggi kekayaan negara.
4. Karyawan BPK-RI membina rasa dan jiwa kesetiakawanan berdasarkan kejujuran dan
keikhlasan antar sesama rekan demi kerukunan, kegembiraan kerja maupun kelancaran dan
kesempurnaan pelaksanaan tugas.
5. Karyawan BPK-RI menciptakan dan membina suasana yang sehat bagi pertumbuhan
pengertian dan kerja sama yang konstruktif antara semua pihak yang bertanggung jawab dan
yang menaruh minat atas keberesan dan ketertiban pengelolaan kekayaan bangsa.
6. Karyawan BPK-RI senantiasa berusaha mengembangkan dan mencurahkan segenap ilmu
pengetahuan dan kemahirannya untuk melaksanakan tugas secara tepat, cermat dan hemat.
7. Karyawan BPK-RI dalam melakukan tugas sebagai pemeriksa wajib melaksanakan Ikrar
Pemeriksa.
Ikrar Pemeriksa
Dalam melaksanakan tugas sebagai pemeriksa, auditor di lingkungan BPK-RIRI berikrar
sebagai berikut:
1. Dalam mengemban kehormatan tugas pemeriksa, auditor BPK-RI-RI menegakkan
kemerdekaan dan kebebasan diri pribadi serta menolak setiap bentuk dan macam usaha atau
pengaruh yang dapat mengurangi obyektivitas dan kebenaran laporan atau yang dapat
menurunkan wibawa dan martabatnya sebagai pemeriksa.
2. Berdasarkan keyakinan akan kecakapan teknis sebagai pemeriksa, auditor BPK-RI-RI
mengutamakan sikap membina dan mendidik, tanpa mengurangi kesungguhan kerja, sikap
tegas dan jujur dalam menilai dan dalam membuat laporan hasil pemeriksaan.
3. Auditor BPK-RI-RI berusaha untuk selalu menghindarkan diri dari tindakan yang
mencemarkan martabat jabatan dan dari tindakan menyalahgunakan kepercayaan yang
diberikan.
4. Sesuai dengan peraturan perundangan yang memuat diantaranya tentang ketentuan tentang
rahasia jabatan dan tentang penggunaan keterangan yang diperoleh pada waktu menunaikan
tugas BPK-RI, auditor BPK-RI-RI hanya memberi keterangan kepada mereka yang berhak
dan kepada mereka yang telah mendapatkan persetujuan dari pimpinan BPK-RI.
5. Auditor BPK-RI-RI tidak menyatakan suatu pendapat tentang hasil pemeriksaan selain yang
diperlukan untuk menyelesaikan tugasnya.
6. Bila ada suatu fakta penting yang diketahui bahwa hal tersebut akan menimbulkan akibat yang
merugikan instansi yang diperiksa dan/atau merugikan negara, auditor BPK-RI-RI
berkewajiban untuk mengungkapkan fakta tersebut kepada pimpinan BPK-RI-RI.
7. Auditor BPK-RI-RI menyadari bahwa pelanggaran terhadap Ikrar Pemeriksa dikenakan
hukuman menurut peraturannya.
Peranan dan Tanggung Jawab Auditan dan Auditor pada Sektor Publik
Dalam hal pemanfaatan sumber daya public secara optimal, berdasarkan konsep standar
pemeriksaan keuangan negara, terdapat dua pihak yang terkait yaitu yang pertama lembaga atau
instansi yang bertanggungjawab mengelola sumber daya public yang terbatas tersebut secara
optimal. Yang kedua yaitu auditor sector public yang memiliki tanggung jawab penting untuk
memastikan bahwa instansi-instansi sector public sebagai auditan, telah mengelola sumber daya
public tersebut secara ekonomis, efisien, efektif, dan sah. Menurut Murwanto, dkk, secara rinci
seperti yang tertera pada Government Auditing Standards 2003 Revision (GAGAS 2003), para
pejabat dari entitas yang diaudit bertanggung jawab atas hal-hal berikut:
1) Menggunakan sumber-sumber daya secara efisien, ekonomis, efektif dan sah untuk mencapai
tujuan-tujuan penyediaan sumber-sumber daya tersebut atau program-program yang telah
ditetapkan. Sumber daya yang dipertanggungjawabkan ini meliputi sumber daya keuangan,
fisik maupun informasional. Sumber daya tersebut dapat dipercayakan kepada pejabat publik
atau pihak lainnya yang ditunjuk, misalnya yayasan atau lembaga non-pemerintahan. Sumber
daya tersebut dapat berasal dari konstituennya, misalnya yang dialokasikan melalui proses
legislatif dalam anggaran belanja, maupun dari tingkatan pemerintah lainnya, misalnya dari
pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.
2) Menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku, mencakup identifikasi ketentuan-
ketentuan yang harus ditaati oleh entitas dan pejabatnya dan menyelenggarakan sistem-
sistem yang dirancang untuk mencapai ketaatan tersebut.
3) Membentuk dan menyelenggarakan pengendalian intern yang efektif untuk memastikan
bahwa tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran yang ditetapkan telah tercapai; sumber daya
digunakan secara efisien, ekonomis, efektif, dan diamankan dengan baik; peraturan
perundang-undangan ditaati; dan laporan-laporan yang sesuai kepada berbagai pihak yang
mengawasi tindakan mereka dan kepada publik dalam rangka pertanggungjawaban sumber-
sumber daya yang digunakan untuk menjalankan program-program pemerintah dan hasil-
hasil yang dicapai dari program-program pemerintah ini.
4) Menangani temuan-temuan dan rekomendasi-rekomendasi auditor dan menetapkan dan
menyelenggarakan suatu proses untuk memonitor status dari temuan-temuan dan
rekomendasi-rekomendasi tersebut.
5) Dalam hal auditan melakukan pengadaan untuk audit dan penugasan atestasi lainnya, auditan
harus mengikuti praktik pengadaan yang baik, termasuk memastikan bahwa telah ada
prosedur-prosedur untuk memantau kinerja dari kontrak pengadaan tersebut. Tujuan-tujuan
dan ruang lingkup audit atau penugasan atestasi lainnya harus jelas. Faktor-faktor yang dapat
dipertimbangkan dalam mengevaluasi proposal penawaran audit atau penugasan atestasi
lainnya adalah harga, kecepatan tanggapan penawar atas permintaan proposal, ketersediaan
staf yang memiliki kualifikasi profesional dan kemampuan teknis yang sesuai dan hasil dari
peer review dari penawar.
Dalam melaksanakan tanggung jawab tersebut, kedua pihak yang terkait harus
mendasarkan pekerjaannya sesuai aturan yang berlaku serta tentunya harus mematuhi kode etik.
Akuntan yang bekerja pada instansi public apabila tidak disertai adanya etika dalam
pekerjaannya, tentunya akan terjadi banyak pelanggaran yang mengakibatkan penyampaian
laporan pengelolaan sumber daya kepada pihak-pihak yang berkepentingan, menjadi kurang
optimal. Akan banyak adanya peluang KKN apabila pihak instansi publik tidak melaporkan
secara jujur mengenai pengelolaan dana masyarakat, tidak mematuhi peraturan perundang-
undangan yang berlaku, serta tidak menyelenggarakan pengendalian intern yang efektif. Hal ini
terkait dengan tersedianya sumber daya yang terbatas, serta harapan masyarakat yang tinggi akan
pengelolaan sumber daya tersebut secara akuntabel dan bertanggungjawab untuk peningkatan
kesejahteraan masyarakat.
Masih menurut Murwanto, dkk, berdasarkan GAGAS 2003, bagi auditor pada sektor
publik, ada dua tanggung jawab utama dalam melaksanakan tanggung jawab profesionalnya,
yaitu menjalankan prinsip-prinsip pelayanan kepentingan umum dan mempertahankan tingkat
integritas, obyektivitas dan independensi setinggi mungkin. Dalam hal ini, yang dimaksud
dengan kepentingan umum adalah keberadaan kolektif dari komunitas masyarakat dan entitas
yang dilayani oleh auditor. Disinilah peran etika dalam mengendalikan tidakan auditor dalam
melaksanakan tanggungjawabnya. Dalam melayani kepentingan umum, auditor harus mengambil
keputusan-keputusan yang konsisten dengan kepentingan publik atau program atau aktivitas
yang diaudit. Untuk itu, auditor sering menghadapi berbagai tekanan dari manajemen entitas
yang diaudit, pejabat pemerintah, ataupun pihak-pihak lain. Pegangan utama bagi auditor dalam
mengatasi konflik ini adalah bertindak dengan integritas yang tinggi dengan pedoman bahwa bila
auditor memenuhi tanggung jawabnya kepada publik maka kepentingan individu-individu dan
organisasi-organisasi ini telah dilayani dengan cara terbaik.
Tujuan dari auditor mempertahankan tingkat integritas, obyektivitas dan independensi
yang tinggi adalah untuk menjaga dan meningkatkan kepercayaan masyarakat. Auditor harus
profesional, obyektif, berdasarkan fakta, tidak memiliki kepentingan politik maupun ideologis
dalam hubungannya dengan entitas yang diaudit dan dengan pengguna laporan audit. Auditor
harus jujur dan terbuka kepada entitas yang diaudit dan pengguna laporan dalam pelaksanaan
tugasnya. Akan tetapi kejujuran dan keterbukaan ini dibatasi oleh aturan-aturan atau kebijakan-
kebijakan kerahasiaan dari entitas yang diaudit. Auditor dilarang menggunakan informasi yang
diperolehnya dalam penugasan audit untuk keuntungan pribadinya atau hal-hal yang dapat
merusak tujuan-tujuan yang sah dan etis dari entitas yang diaudit.
Akuntabilitas, Akuntansi, dan Auditing Sektor Publik
Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN), yang masih dalam bentuk konsep dan
mengacu pada Government Auditing Standards yang diterbitkan GAO, menyatakan bahwa
akuntabilitas adalah kata kunci yang memunculkan kebutuhan akan akuntansi dan auditing.
Demikian pula dalam proses-proses pelaksanaan pemerintahan di Indonesia, konsep akuntabilitas
merupakan kunci penyelenggaraan kepemerintahan yang baik. Berbagai stakeholder organisasi
pemerintahan, baik legislatif, eksekutif, maupun masyarakat luas, memerlukan informasi
tentang:
Penggunaan sumber daya publik secara benar dan sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Penyelenggaraan program-program pemerintah yang mencapai tujuan-tujuan dan sasaran-
sasaran yang diharapkan.
Penyediaan layanan kepada masyarakat secara efisien, ekonomis dan efektif.
Tugas utama pertanggungjawaban hal-hal di atas kepada legislatif dan masyarakat luas
berada di tangan jajaran pegawai dan pejabat pemerintahan. Auditor berperan dalam pelaksanaan
akuntabilitas dengan menyediakan laporan-laporan yang menambah kredibilitas dan keandalan
informasi yang dilaporkan oleh pegawai dan pejabat pemerintah tersebut. Sebagai suatu proses,
auditing berhubungan dengan prinsip dan prosedur akuntansi yang digunakan oleh organisasi.
Auditor mengeluarkan suatu opini atas laporan keuangan suatu entitas. Laporan keuangan
merupakan hasil dari sebuah sistem akuntansi dan diputuskan atau dibuat oleh pihak pengelola.
Pengelola suatu entitas mengunakan data-data mentah akuntansi untuk kemudian dialokasikan ke
masing-masing laporan surplus-defisit dan neraca serta menyajikan hasilnya dalam suatu bentuk
laporan yang dipublikasikan.
Hubungan antara akuntansi dengan auditing merupakan suatu hubungan yang tertutup.
Auditor selalu menggunakan data-data akuntansi dalam melaksanakan kerja auditing. Lebih jauh
lagi, auditor harus membuat suatu keputusan tentang pengalokasian data-data akuntansi yang
dibuat oleh pihak manajemen. Auditor juga harus memutuskan apakah laporan keuangan yang
telah disajikan telah sesuai atau terdapat salah saji. Untuk membuat keputusan-keputusan
tersebut, auditor tidak dapat membatasi dirinya hanya dengan menggunakan perekaman bukti
akuntansi dan rekening-rekening yang ada di dalam organisasi. Dalam kenyataanya, auditor juga
harus memperhatikan seluruh hal yang ada di dalam organisasi, karena perilaku organisasi tidak
hanya akan mempengaruhi data yang ada, tetapi yang lebih penting lagi, akan mempengaruhi
kebijakan manajemen berkaitan dengan akuntansi dan pelaporan data. Menurut Jones dan Bates,
terdapat empat faktor yang melatarbelakangi pentingnya audit dalam sektor publik, yaitu:
pertumbuhan volume dan kompleksitas transaksi ekonomi, pemisahan sumber dana, rendahnya
independensi pihak manajemen, dan pengaruh keputusan organisasi sektor publik terhadap
masyarakat (sosial).
1. Pertumbuhan Volume dan Kompleksitas Transaksi Ekonomi
Pertumbuhan aktivitas sektor publik mengakibatkan level dan kompleksitas aktivitas
ekonomi pun meningkat. Pertumbuhan volume dan kompleksitas tersebut mengakibatkan
klasifikasi anggaran, pengukuran dan pelaporan aset, kewajiban, ekuitas dana, pendapatan dan
beban menjadi lebih sulit. Hal tersebut mengakibatkan kesulitan dalam merancang sistem
akuntansi untuk pelaporan transaksi ekonomi secara tepat. Lebih lanjut, aparat pemerintah
biasanya tidak terlatih untuk mengerjakan prosedur akuntansi lanjutan. Permasalahan tersebut
diperburuk oleh peningkatan jumlah standar akuntansi pemerintah. Kombinasi dari
peningkatan kompleksitas, system akuntansi dan standar akuntansi pemerintah telah membuat
perspektif akuntansi profesional semakin dibutuhkan. Salah satu cara untuk mendapatkan
perspektif ini adalah melalui fungsi audit.
2. Pemisahan Sumber Dana
Saat ini, dalam sektor publik terjadi pemisahan antara pihak yang mendanai dengan
pihak yang bertanggung jawab untuk mengelola sumber daya. Pemisahan tersebut disebabkan
oleh: jarak yang menyulitkan akses ke sebuah organisasi, perbedaan keahlian teknis antara
pihak yang mempunyai dana dan yang mengelola sumber daya, dan perbedaan ukuran
organisasi jasa. Lebih lanjut, pemisahan tersebut akan meningkatkan kemungkinan terjadinya
kesalahan informasi dan kesalahpahaman baik disengaja maupun tidak. Disinilah audit
berperan sebagai alat komunikasi.
3. Rendahnya Independensi Manajemen Pemerintahan
Ketika informasi disajikan oleh pihak yang memiliki kepentingan sendiri terhadap
laporannya, pengguna informasi tersebut harus menguji keandalan data yang diberikan. Suatu
informasi diragukan kebenarannya ketika interaksi antara sumber informasi dan penggunanya
rendah. Semakin rendah interaksi yang terjadi antara sumber informasi dan pengguna maka
semakin penting bagi pengguna informasi untuk menguji reabilitas informasi yang disajikan,
dan di saat yang bersamaan pengujian reabilitas semakin sulit. Rendahnya independensi
manajemen dapat dilihat dari berbagai bentuk, yaitu antara lain sebagai berikut:
1) Perkiraan yang terlalu optimis, contoh: volume aktivitas di masa mendatang, pendapatan
pajak, hibah, dan tingkat pertumbuhan ekonomi.
2) Ditetapkan terlalu rendah, contoh: biaya, hutang, permintaan jasa, biaya sosial dan
kebutuhan teknologi.
3) Ditetapkan terlalu tinggi, contoh: pendapatan, keuntungan sosial dan aset.
4) Kelalaian tidak mecantumkan, contoh: undang-undang masa depan, gangguan administarasi
atau lingkungan, kumpulan data yang digunakan untuk mendeteksi program yang tidak efektif
atau efisien dan kehilangan pegawai.
4. Pengaruh Keputusan Organisasi Sektor Publik Terhadap Masyarakat
Keputusan pemerintah mempunyai dampak ganda bagi kebutuhan auditing. Pertama,
masyarakat perlu mengetahui apakah pengelolaan sumber daya oleh pemerintah pusat
maupun daerah telah dilaksanakan secar efektif dan efisien. Dalam hal ini, terdapat
peningkatan kebutuhan auditor sektor publik untuk melaporkan pertanggungjawaban
pengelolaan keuangan negara kepada masyarakat. Kedua, presiden selaku pemegang
kekuasaan pengelolaan keuangan negara perlu mengetahui dampak sosial dari program yang
telah dilaksankan. Disinilah terjadi peningkatan kebutuhan auditor untuk melaporkan
keuangan negara kepada presiden. Pernyataan ini lebih dititikberatkan pada unit
pemerintahan. Tentu saja masyarakat memiliki kepentingan yang tak kalah penting di
organisasi publik lainnya. Dengan sumber daya yang terbatas, setiap organisasi publik
berkewajiban melaporkan pengelolaan keuangan negara secara akurat.
Keempat factor tersebut tentunya merupakan permasalahan nyata yang terjadi dalam
sector public. Dalam mengatasi permasalahan tersebut diperlukan kerjasama dan integrasi yang
baik dari pihak-pihak yang terkait, seperti manajemen, dalam hal ini yaitu jajaran instansi sector
public, serta auditor. Penerapan kode etik merupakan hal yang sangat penting bagi pihak-pihak
terkait dalam melaksanakan tugasnya. Dengan diterapkannya etika, manajemen sector public
tentunya akan melaksanakan tanggungjawabnya secara profesional dengan terus meningkatkan
pengetahuan secara berkesinambungan sehingga dapat menyesuaikan prosedur akuntansi dengan
perkembangan standar akuntansi yang berlaku. Selain itu, dengan adanya etika, akan dapat
diminimalisir adanya kesalahpahaman antara pihak penyedia dan pihak pengguna dana public.
Selanjutnya, semakin etis tenaga akuntansi pada organisasi sector public sebagai pihak yang
lebih mengetahui informasi, maka akan semakin independen, sehingga informasi yang disajikan
lebih reliabel.







Sumber:
Bastian, Indra. 2006. Akuntansi Sektor Publik: Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga.
Murwanto, Rahmadi, dkk. Audit Sektor Publik: Suatu Pengantar Bagi Akuntabilitas Instansi
Pemerintah. Jakarta: Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Departemen Keuangan
Republik Indonesia.
http://www.scribd.com/doc/74211023/Etika-Dalam-Praktik-Akuntansi-Sektor-Publik