Anda di halaman 1dari 9

BAB II

LANDASAN TEORITIS
2.1 PENGERTIAN DEPRESI
Depresi adalah gangguan mental umum yang menyajikan dengan mood
depresi, kehilangan minat atau kesenangan, perasaan bersalah atau rendah
diri, tidur terganggu atau nafsu makan, energi rendah, dan hilang konsentrasi.
Masalah ini dapat menjadi kronis atau berulang dan menyebabkan gangguan
besar dalam kemampuan individu untuk mengurus tanggung jawab sehari-
harinya (WHO, 2011). Episode depresi biasanya berlangsung selama 6
hingga 9 bulan, tetapi pada 15-20% penderita bisa berlangsung selama 2
tahun atau lebih

2.2 JENIS DAN TINGKATAN DEPRESI
Pembagian depresi dimaksudkan untuk mempermudah dalam mengambil
tindakan perawatan dan pengobatan. Ada tiga tingkatan dalam depresi antara
lain :
a. Depresi Sesaat
Depresi sesaat terjadi karena kita bereaksi terhadap keadaan yang
terjadi, misalnya patah hati. Depresi ini terbilang tingkat ringan karena
kemudian bisa hilang begitu kondisi tak menyenangkan dilalui. Tidak
membutuhkan waktu yang lama untuk mengatasi depresi ini, karena jika
kita menemukan sesuatu yang baru maka depresi ini akan hilang dengan
sendirinya
b. Depresi Neurotik
Penyembuhan depresi ini memakan waktu bertahun dan lebih
sering ditemukan di antara orang-orang yang tidak menikah, pengguna
narkoba dan alkoholik. Dari sana menunjukkan bahwa kasus depresi bisa
terjadi pada orang segala usia. Tidak hanya orang dewasa tetapi juga
pada orang yang sangat tua maupun anak
c. Depresi Berat
Pada orang yang terkena gangguan depresi neurotik, sekitar 40 persen
menjadi depresi berat. Tingkat depresi berat itu adalah yang paling parah
karena sebagian menjadi gila dan mendapat perawatan rumah sakit.
Biasanya kerja mulai terganggu atau tidak bisa bekerja. Sedangkan
depresi neurotik, biasanya diri sendiri merasa terganggu tetapi dari luar
belum kentara terganggu kualitasnya. Terganggu pada pekerjaan tetapi
masih bisa berjalan. Pada tingkatan depresi berat penderita harus selalu
mendapatkan perawatan yang intensif baik dari segi medis maupun
melalui psikiater.

2.3 PENYEBAB DEPRESI
Dasar penyebab depresi yang pasti tidak diketahui, banyak usaha untuk
mengetahui penyebab dari gangguan ini. Menurut Kaplan, faktor-faktor yang
dihubungkan dengan penyebab depresi dapat dibagi atas: faktor biologi,
faktor genetik dan faktor psikososial. Dimana ketiga faktor tersebut juga
dapat saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya (Sadock & Sadock,
2010).
a. Faktor Biologi
Faktor neurotransmiter: Dari biogenik amin, norepinefrin dan
serotonin merupakan dua neurotransmiter yang paling berperan dalam
patofisiologi gangguan mood. Norepinefrin hubungan yang dinyatakan
oleh penelitian ilmiah dasar antara turunnya regulasi reseptor B-
adrenergik dan respon antidepresan secara klinis memungkinkan indikasi
peran sistem noradrenergik dalam depresi.
Bukti-bukti lainnya yang juga melibatkan presinaptik reseptor
adrenergik dalam depresi, sejak reseptor reseptor tersebut diaktifkan
mengakibatkan penurunan jumlah norepinefrin yang dilepaskan.
Presipnatik reseptor adrenergik juga berlokasi di neuron serotonergik dan
mengatur jumlah serotonin yang dilepaskan. Dopamin juga sering
berhubungan dengan patofisiologi depresi. Faktor neurokimia lainnya
seperti gammaaminobutyric acid (GABA) dan neuroaktif peptida
(vasopressin dan opiate endogen) telah dilibatkan dalam patofisiologi
gangguan mood (Rush et al., 1998).

b. Faktor Genetik
Data genetik menyatakan bahwa faktor yang signifikan dalam
perkembangan gangguan mood adalah genetik. Pada penelitian anak
kembar terhadap gangguan depresi berat pada anak, pada anak kembar
monozigot adalah 50%, sedangkan dizigot 10-25% (Sadock & Sadock,
2010). Menurut penelitian Hickie et al., menunjukkan penderita late
onset depresi terjadi karena mutasi pada gene methylene tetrahydrofolate
reductase yang merupakan kofaktor yang terpenting dalam biosintesis
monoamin. Mutasi ini tidak bisa diketemukan pada penderita early onset
depresi (Hickie et al, 2001).

c. Faktor Psikososial
Peristiwa kehidupan dan stres lingkungan dimana suatu
pengamatan klinik menyatakan bahwa peristiwa atau kejadian dalam
kehidupan yang penuh ketegangan sering mendahului episode gangguan
mood. Suatu teori menjelaskan bahwa stres yang menyertai episode
pertama akan menyebabkan perubahan fungsional neurotransmiter dan
sistem pemberi tanda intra neuronal yang akhirnya perubahan tersebut
menyebabkan seseorang mempunyai resiko yang tinggi untuk menderita
gangguan mood selanjutnya (Sadock & Sadock, 2010).
Faktor kepribadian premorbid menunjukkan tidak ada satu
kepribadian atau bentuk kepribadian yang khusus sebagai predisposisi
terhadap depresi. Semua orang dengan ciri kepribadian manapun dapat
mengalami depresi, walaupun tipe kepribadian seperti dependen, obsesi
kompulsif, histironik mempunyai risiko yang besar mengalami depresi
dibandingkan dengan lainnya (Sadock & Sadock, 2010).
Faktor Psikoanalitik dan Psikodinamik : Freud (1917) menyatakan
suatu hubungan antara kehilangan objek dan melankoli. Ia menyatakan
bahwa kemarahan pasien depresi diarahkan kepada diri sendiri karena
mengidentifikasikan terhadap objek yang hilang. Freud percaya bahwa
introjeksi merupakan suatu cara ego untuk melepaskan diri terhadap
objek yang hilang (Sadock & Sadock, 2010).
Menurut penelitian Bibring mengatakan depresi sebagai suatu efek
yang dapat melakukan sesuatu terhadap agresi yang diarahkan kedalam
dirinya. Apabila pasiendepresi menyadari bahwa mereka tidak hidup
sesuai dengan yang dicita-citakannya, akan mengakibatkan mereka putus
asa (Tasman, 2008).
Faktor ketidakberdayaan yang dipelajari dimana ditunjukkan dalam
hewan percobaan, dimana binatang secara berulang-ulang dihadapkan
dengan kejutan listrik yang tidak dapat dihindarinya, binatang tersebut
akhirnya menyerah dan tidak mencoba sama sekali untuk menghindari
kejutan selanjutnya. Mereka belajar bahwa mereka tidak berdaya. Pada
penderita depresi, dapat menemukan hal yang sama dari keadaan ketidak
berdayaan tersebut (Sadock & Sadock, 2010).
Pada teori kognitif, Beck menunjukkan perhatian gangguan
kognitif pada depresi. Dia mengidentifikasikan 3 pola kognitif utama
pada depresi yang disebut sebagai triad kognitif, yaitu pandangan negatif
terhadap masa depan, pandangan negatif terhadap diri sendiri, individu
menganggap dirinya tak mampu, bodoh, pemalas, tidak berharga, dan
pandangan negatif terhadap pengalaman hidup (Sadock & Sadock, 2010).

2.4.GAMBARAN KLINIS
Pada penderita depresi dapat ditemukan berapa tanda dan gejala umum
menurut Diagnostic Manual Statistic IV (DSM-IV): (American Psychiatric
Association, 2000)
a. Perubahan fisik
Penurunan nafsu makan
Gangguan tidur
Kelelahan atau kurang energi
Agitasi
Nyeri, sakit kepala, otot kram dan nyeri tanpa penyebab fisik
b. Perubahan Pikiran
Merasa bingung, lambat berpikir
Sulit membuat keputusan
Kurang percaya diri
Merasa bersalah dan tidak mau dikritik
Adanya pikiran untuk membunuh diri
c. Perubahan Perasaan
Penurunan ketertarikan dengan lawan jenis dan melakukan
hubungan suami istri.
Merasa sedih
Sering menangis tanpa alasan yang jelas.
Irritabilitas, mudah marah dan terkadang agresif.
d. Perubahan pada Kebiasaan Sehari-hari
Menjauhkan diri dari lingkungan sosial
Penurunan aktivitas fisik dan latihan.
Menunda pekerjaan rumah.

2.5 DAMPAK DEPRESI
Depresi tidak hanya menyerang psikis seseorang, tetapi juga dapat
menimbulkan efek-efek lain bagi tubuh yang secara langsung dapat
mengganggu aktifitas dan kesehatan penderita. Efek paling berat paling
dirasakan pada orang yang mengalami depresi berat, karena pada tingkatan
depresi ini sebagian besar harus mendapatkan perawatan di rumah sakit jiwa.
Lingkungan rumah sakit maupun efek obat untuk terapi tentu akan
berpengaruh secara langsung terhadap fisik pasien depresi di rumah sakit.
Ada berbagai macam dampak depresi dari yang paling ringan hingga yang
sangat berat bahkan menimbulkan kematian. Dampak-dampak tersebut antara
lain :
a. Depresi biasanya akan disertai dengan penyakit fisik, seperti asma,
jantung koroner, sakit kepala dan maag
b. Menurut seorang ahli yang juga penulis buku, yaitu Philip Rice, depesi
akan meningkatkan resiko seseorang terserang penyakit karena kondisi
depresi cenderung meningkatkan sirkulasi adrenalin dan kortisol
sehingga menurunkan tingkat kekebalan tubuhnya. Jika sistem kekebalan
tubuh menjadi lemah maka penyakit akan mudah untuk menyerang
penderita depresi
c. Penyakit mudah hinggap karena orang yang terkena depresi sering
kehilangan nafsu makan, kebiasaan makannya jadi berubah (terlalu
banyak makan atau sulit makan), kurang berolah raga, mudah lelah dan
sulit tidur
d. Selain penurunan daya tahan tubuh, depresi dipandang berbahaya bagi
kesehatan psikis dan fisik karena bisa menyebabkan penurunan fungsi
kognitif, emosi dan produktifitas dalam pekerjaan.
e. Dampak depresi tidak hanya akan mempengaruhi diri sendiri penderita
tersebut tapi juga akan berdampak bagi orang lain sekitarnya. Seperti
halnya jika kita terserang flu, maka seluruh tubuh kita merasa lemas dan
tidak enak. bukan hanya itu, orang lain yang ada disekitar kita juga
berpotensi untuk tertular oleh penyakit flu kita.
f. Ada pula dimana depresi tidak menyebabkan penyakit, tetapi justru
penyakit yang tak kunjung sembuh yang akhirnya menyebabkan depresi
sehingga akan memperparah penyakit tersebut. Contoh kasus adalah
depresi yang dialami penderita kanker, asma, sakit punggung yang
biasanya berlangsung bertahun-tahun.

2.6 PERAWATAN DEPRESI
Depresi sebenarnya mudah untuk disembuhkan kecuali pada depresi
berat. Pada tingkatan depresi ini diperlukan terapi pengobatan yang agak
sulit. Karena depresi berat sudah mengarah pada gangguan kejiwaan.
Kebanyakan orang khawatir dengan dampak pengobatan antidepresan yang
apabila digunakan dalam secara terus menerus dan dalam jangka waktu yang
lama akan dapat mempengaruhi kerja otak. Rata-rata dua dari tiga penderita
depresi bisa disembuhkan, pada tingkat tertentu, yaitu pada tingkatan depresi
sesaat dan neurologis. Sedangkan pada depresi berat diperlukan pemberian
antidepresan.
Terapi psikis umumnya tidak memerlukan seorang psikiater tapi lebih
cenderung pada menerapkan disiplin diri dan mencari jalan keluar untuk
menghadapi masalah yang menjadi sumber depresi tersebut.
a) Perhatian utama dalam menangani masalah depresi adalah adanya
komitmen dan persistensi untuk menyelesaikannya. Fokuskan perhatian
pasien pada hal tersebut agar keinginannya untuk sembuh meningkat.
Sehingga pasien lebih kooperatif dan kita mudah untuk mengetahui
permasalahan pasien
b) Banyak pasien depresi merasa terkucil dan putus asa, untuk itu
diperlukan sikap kita yang lebih berteman. Sehingga pasien tidak akan
merasa kesepian dan dengan leluasa dapat mencurahkan segala
permasalahan hidupnya.
c) Beritahu pasien bahwa depresi itu umum terjadi, sehingga pasien tidak
merasa terkucilkan lagi
d) Bantulah pasien untuk menemukan stressor atau masalah utama yang
dihadapi sehingga mengakibatkan depresi. Stressor dapat berupa
individu, kelompok, maupun lingkungan. Dengan menemukan stressor
dapat mengurangi perasaan dosa dan rendah diri pasien
e) Tekankan pada pasien bahwa depresi merupakan suatu penyakit, seperti
juga hipertensi yang membutuhkan pengobatan medik
f) Perbaiki segala macam anggapan dan ambivalensi pasien. Berikan
penjelasan bila terdapat ambivalensi sehingga pasien ragu untuk mencari
pengobatan. Anggapan yang beredar di masyarakat biasanya orang yang
pergi ke psikiater adalah orang gila.
g) Hindari harapan yang kosong
h) Memperbaiki hubungan interpersonal. Apabila pasien memiliki
hubungan dengan seseorang yang suka menganiaya atau hubungan
dengan seseorang yang selalu mencela pasien, sulit bagi pasien untuk
sembuh dari depresi
i) Terapi dari pasangan dan terapi keluarga bisa membantu mengatasi
depresi, hampir setiap komunitas terdekat memiliki program untuk
membantu pasien. Termasuk keluarga. Keluarga diharapkan bisa
membantu mengenali keluhan fisik akibat depresi, mengawasi kondisi
pasien dan memotivasi pasien untuk sembuh
j) Memperbaiki hubungan dengan orang terdekat dapat membantu
memperoleh dukungan positif saat pasien berusaha menyembuhkan
depresi
k) Penjadwalan aktifitas, hal ini dimaksudkan agar pasien lebih
meningkatkan aktifitasnya terutama aktifitas yang menyenangkan.
Untuk pengobatan depresi, sering kali menekankan pada peningkatan
jumlah aktifitas mingguan yang menyenangkan dan yang dapat
menimbulkan perasaan puas. Karena dengan hal itu pasien akan merasa
lebih baik

2.7 PENCEGAHAN DEPRESI
Depresi memang dapat diobati namun depresi juga dapat dicegah, ingat
mencegah lebih baik daripada mengobati. Berikut adalah cara mencegah
depresi :
a) Usahakan untuk selalu punya seseorang yang dekat untuk bercurah hati.
Jangan pernah untuk menyimpan sendiri beban hidup kita. Karena hal ini
dapat memperburuk depresi yang sdah dialami mapun dapat
mengakibatkan depresi.
b) Berpartisipasi dalam suatu kegiatan yang dapat membuat diri lebih baik,
hal ini dapat mengalihkan perhatian kita terhadap masalah yang sedang
kita hadapi. Ingat kita bkan lari dari masalah tetapi labih cenderung
menyegarkn pikiran kita sehingga kita lebih siap untuk menghadapinya
lagi nanti.
c) Berpikir realistis, jangan terlalu menghayal dan berimajinasi. Hilangkan
kata seandainya saya dalam hidup kita
d) Melakukan olahraga, aktif dalam kelompok agama dan sosial, kegiatan
tersebut membuat kita lebih jarang melamun
e) Mengubah suasana hati, Usahakan untuk selalu membuat suasan hati kita
gembira karena hal tersebut dapat menghindarkan diri dari menyalahkan
diri sendiri
f) Jangan banyak berpengharapan
g) Berpikir positif
h) Lapang hati dan sabar dalam mengadapi segala cobaan hidup dapat
menjauhkan diri kita dari depresi