Anda di halaman 1dari 29

1

1

STATUS ILMU PENYAKIT DALAM
SMF PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT IMANUEL, LAMPUNG

Nama Mahasiswa : Cyntia Meta Tanda Tangan :
NIM : 11-2011-217
Dokter Pembimbing : dr Haryono, Sp.PD
dr. Fajar R, Sp.PD


IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap : Tn. S Jenis kelamin : laki-laki
Usia : 36 th Suku bangsa : Jawa
Status perkawinan : Kawin Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta Pendidikan : SD
Alamat : Ngesti karya waway karya, Lampung Timur

A. ANAMNESIS

Keluhan Utama: Mencret 1 hari sebelum masuk rumah sakit

Riwayat Penyakit Sekarang:
1 hari sebelum masuk rumah sakit penderita mencret. Mencret 15 kali
sebanyak 1 2 sendok makan setiap kali mencret, berwarna kehitaman dengan sedikit
ampas, ada lendir, ada darah yang bercampur dengan feses, dan tidak ada berbau busuk.
Sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit penderita mencret awalnya 3 sampai 4 kali
sehari, kemudian semakin lama semakin sering. Awalnya tanpa darah, namun kemudian
kadang- kadang disertai sedikit darah dan lendir. Buang air kecil tidak ada keluhan.
Penderita juga merasakan nyeri perut terutama pada perut bagian bawah, ada mual
tidak ada muntah. Nafsu makan menurun dan dirasakan ada penurunan berat badan.
2

2

Tidak ada demam. Tidak ada batuk pilek, tidak didapatkan keluhan sesak maupun
keringat malam.
Penderita tidak ada riwayat pergi ke daerah endemis diare sebelumnya. Penderita
tidak mengkonsumsi obat berupa antibiotika, penderita suka mengkonsumsi jamu.
Penderita juga tidak ada riwayat merokok, minum alcohol, memakai obat obatan
terlarang, tidak pernah menerima donor darah, dan tidak pernah melakukan seks bebas.
Riwayat keluarga dengan diare tidak ada, tetapi ada riwayat TBC paru dengan
pengobatan tuntas pada kakak penderita yang tinggal 1 rumah.

Penyakit Dahulu (Tahun)
( - ) Cacar ( - ) Malaria ( - ) Batu Ginjal / Saluran Kemih
( - ) Cacar air ( - ) Disentri ( - ) Burut (Hernia)
( - ) Difteri ( - ) Hepatitis ( - ) Penyakit Prostat
( - ) Batuk Rejan ( - ) Tifus Abdominalis ( - ) Wasir
( - ) Campak ( - ) Skirofula ( - ) Diabetes
(+) Influenza ( - ) Sifilis ( + ) Alergi
( - ) Tonsilitis ( - ) Gonore ( - ) Tumor
( - ) Khorea ( - ) Hipertensi ( - ) Penyakit Pembuluh
( - ) Demam Rematik Akut ( - ) Ulkus Ventrikuli ( - ) Perdarahan Otak
( - ) Pneumonia ( - ) Ulkus Duodeni ( - ) Psikosis
( - ) Pleuritis ( - ) Gastritis ( - ) Neurosis
( - ) Tuberkulosis ( - ) Batu Empedu Lain-lain: ( - ) Operasi
( - ) Kecelakaan


Riwayat Keluarga

Hubungan Umur
(tahun)
Keadaan Kesehatan Penyebab
Meninggal
Ayah 72 Sehat
Ibu 69 Sehat
3

3

Saudara 41
32
Post pengobatan TBC 6 bulan
Sehat

Anak 12
8
Sehat
Sehat


Adakah Kerabat Yang Menderita:

Penyakit Ya Tidak Hubungan
Alergi
Asma
Tuberkulosis Kakak kandung
Arthritis
Rematisme
Hipertensi
Jantung
Ginjal
Lambung


ANAMNESIS SISTEM
Catatan keluhan tambahan positif disamping judul-judul yang bersangkutan

Kulit
( - ) Bisul ( - ) Rambut ( - ) Keringat malam
( - ) Kuku ( - ) Kuning / Ikterus ( - ) Sianosis
( - ) Lain-lain

Kepala
( - ) Trauma ( - ) Sakit kepala
( - ) Sinkop ( - ) Nyeri pada sinus

4

4

Mata
( - ) Nyeri ( - ) Radang
( - ) Sekret ( - ) Gangguan penglihatan
( - ) Kuning / Ikterus ( - ) Ketajaman penglihatan

Telinga
( - ) Nyeri ( - ) Gangguan pendengaran
( - ) Sekret ( - ) Kehilangan pendengaran
( - ) Tinitus

Hidung
( - ) Trauma ( - ) Gejala penyumbatan
( - ) Nyeri ( - ) Gangguan penciuman
( - ) Sekret ( - ) Pilek
( - ) Epistaksis

Mulut
( - ) Bibir ( - ) Lidah
( - ) Gusi ( - ) Gangguan pengecap
( - ) Selaput ( - ) Stomatitis

Tenggorokan
( - ) Nyeri tenggorokan ( - ) Perubahan suara

Leher
( - ) Benjolan ( - ) Nyeri leher

Dada (Jantung / Paru)
( - ) Nyeri dada ( - ) Sesak napas
( - ) Berdebar ( - ) Batuk darah
( - ) Ortopnoe ( - ) Batuk
5

5


Abdomen (Lambung / Usus)
( - ) Rasa kembung ( -) Wasir
( + ) Mual ( +) Mencret
( - ) Muntah ( + ) Tinja darah
( - ) Muntah darah (- ) Tinja berwarna dempul
( - ) Sukar menelan ( - ) Benjolan
( + ) Nyeri perut
( - ) Perut membesar

Saluran Kemih / Alat kelamin
( - ) Disuria ( - ) Kencing nanah
( - ) Stranguria ( - ) Kolik
( - ) Poliuria ( - ) Oliguria
( - ) Polakisuria ( - ) Anuria
( - ) Hematuria ( - ) Retensi urin
( - ) Kencing batu ( - ) Kencing menetes
( - ) Ngompol (tidak disadari)( - ) Penyakit Prostat

Saraf dan Otot
(- ) Anestesi (- ) Sukar mengingat
( -) Parestesi ( -) Ataksia
(- ) Otot lemah ( -) Hipo / hiperesthesi
( -) Kejang (- ) Pingsan
(- ) Afasia (- ) Kedutan (Tick)
(- ) Amnesia (- ) Pusing (vertigo)
(- ) Lain-lain (- ) Gangguan bicara (Disartri)

Ekstremitas
(-) Bengkak (- ) Deformitas
(-) Nyeri sendi (- ) Sianosis
6

6


BERAT BADAN
Berat badan rata-rata (Kg) : 54 kg
Berat tertinggi Kg) : 55 kg
Berat badan sekarang (Kg) : 49 kg

(Bila pasien tidak tahu dengan pasti)
Tetap ( )
Turun (+)
Naik ( )

RIWAYAT HIDUP

Riwayat Kelahiran
Tempat lahir : ( + ) Di rumah ( ) Rumah Bersalin ( ) RS Bersalin
Ditolong oleh : ( ) Dokter ( ) Bidan (+ ) Dukun
( ) Lain-lain

Riwayat Imunisasi
(? ) Hepatitis (? ) BCG (?) Campak (?) DPT
(? ) Polio (?) Tetanus

Riwayat Makanan
Frekuensi / Hari : 3x/hari
Jumlah / Hari : 1-2 porsi
Variasi / Hari : variasi
Nafsu makan : kurang

Pendidikan
(+ ) SD ( ) SLTP () SLTA ( ) Sekolah Kejuruan ( ) Akademi
( ) Universitas ( ) Kursus ( ) Tidak sekolah
7

7

Kesulitan
Keuangan : ada
Pekerjaan : tidak ada
Keluarga : tidak ada
Lain-lain : -


A. PEMERIKSAAN JASMANI (tanggal 10.11.2012)

Pemeriksaan Umum
Tinggi badan : 164 cm
Berat badan : 49 kg
Indek massa tubuh : 18.2 (Underweight)
Tekanan darah : 100/60 mmHg
Nadi : 92x / menit, lemah, regular, ekual
Suhu :37,6
o
C
Pernapasan (Frekuensi dan tipe) : 22x / menit ; torakoabdominal
Keadaan gizi : Normal
Kesadaran : compos mentis
Sianosis : Tidak ada
Udema umum : Tidak ada
Cara berjalan : normal
Mobilitas (Aktif / Pasif) : aktif
Umur menurut taksiran pemeriksa : sesuai dengan usia sebenarnya

Aspek Kejiwaan
Tingkah laku : wajar / gelisah / tenang / hipoaktif / hiperaktif.
Alam perasaan : biasa / sedih / gembira / cemas / takut / marah.
Proses pikir : wajar / cepat / gangguan waham / fobia / obsesi.

8

8

Kulit
Warna : sawo matang Effloresensi : tidak ada
Jaringan parut : tidak ada Pigmentasi : tidak ada
Pertumbuhan rambut : merata Pembuluh darah : teraba pulsasi
Suhu raba : hangat Lembab / kering : kering
Keringat Umum: (+) Turgor : baik
Setempat: (-) Ikterus : tidak ada
Lapisan lemak : merata Edema : tidak ada
Lain-lain : spider nevi (-), palmar eritem (-), caput medusa (-)

Kelenjar Getah Bening
Submandibula : tidak teraba membesar Leher : tidak teraba membesar
Supraklavikula : tidak teraba membesar Ketiak : tidak teraba membesar
Lipat paha : tidak teraba membesar

Kepala
Ekspresi wajah : wajar Simetri muka : Simetri
Rambut : hitam dan beruban, merata Pembuluh darah temporal: teraba pulsasi

Mata
Exophthalmus : tidak ada Enopthalmus : tidak ada
Kelopak : normal Lensa : normal
Konjungtiva : anemis +/+ Visus : normal
Sklera : ikterik -/- Gerakan mata : normal
Lapangan penglihatan : normal Tekanan bola mata: normal
Deviatio konjungae : tidak ada Nystagmus : tidak ada
Mata cekung : tidak ada

Telinga
Tuli : -/- Selaput pendengaran : utuh
Lubang : +/+ Penyumbatan : -/-
9

9

Serumen : -/- Perdarahan : -/-
Cairan : -/-

Hidung
Bentuk : normal
Septum :deviasi septum tidak ada
Sekret : sekret tidak ada

Mulut
Bibir : normal Tonsil : tidak membesar
Langit-langit : normal Bau pernapasan: normal
Gigi geligi : caries (-) Trismus : tidak ada
Faring : tidak hiperemis Selaput lendir : normal
Lidah : tidak kering

Leher
Tekanan vena Jugularis (JVP) : 5 2 cmH
2
O
Kelenjar Tiroid : : tidak teraba membesar
Kelenjar Limfe : : tidak teraba membesar

Dada
Bentuk : simetris
Pembuluh darah : tidak tampak


Paru-paru
Depan Belakang
Inspeksi Kiri Simetris saat statis dan dinamis Simetris saat statis dan dinamis
Kanan Simetris saat statis dan dinamis Simetris saat statis dan dinamis
Palpasi Kiri - Tidak ada penonjolan iga
- Fremitus taktil simetris
Fremitus taktil simetris

Kanan - Tidak ada penonjolan iga Fremitus taktil simetris
10

10

- Fremitus taktil simetris
Perkusi Kiri Sonor di seluruh lapang paru Sonor di seluruh lapang paru
Kanan Sonor di seluruh lapang paru Sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi Kiri - Suara vesikuler
- Wheezing (-), Ronki (-)
- Suara vesikuler
- Wheezing (-), Ronki (-)
Kanan - Suara vesikuler
- Wheezing (-), Ronki (-)
- Suara vesikuler
- Wheezing (-), Ronki (-)

Jantung
Inpeksi Ictus cordis tidak tampak
Palpasi Ictus cordis teraba pada sela iga V linea midclavicula kiri
Perkusi Batas kanan jantung Sela iga linea parasternal kanan
Batas kiri jantung Sela iga linea midclavicula kiri
Batas atas jantung Sela iga 3 linea parasternal kiri
Auskultasi Katup aorta - A2 > A1 reguler murni
- Murmur (-), Gallop (-)
Katup pulmonal - P2 > P1 reguler murni
- Murmur (-), Gallop (-)
Katup mitral - M1 > M2 reguler murni
- Murmur (-), Gallop (-)
Katup trikuspid - T1 > T2 reguler murni
- Murmur (-), Gallop (-)

Pembuluh darah
Arteri Temporalis : teraba pulsasi
Arteri Karotis : teraba pulsasi
Arteri Brakhialis : teraba pulsasi
Arteri Radialis : teraba pulsasi
Arteri Femoralis : teraba pulsasi
Arteri Poplitea : teraba pulsasi
Arteri Tibialis Posterior : teraba pulsasi
11

11

Arteri Dorsalis Pedis : teraba pulsasi

Abdomen
Inspeksi - Simetris
- Jaringan parut (-)
- Vena kolateral (-)
Palpasi Dinding perut Lemas
Hati Tidak teraba membesar
Limpa Tidak teraba membesar
Ginjal - Ballotement (-)
- Nyeri ketok costovertebral (+/-)
Lain-lain - Nyeri tekan inguinal kanan,
suprapubik, inguinalis kiri
- Nyeri tekan Mc Burney (+)
Perkusi Shifting dullness (-)
Auskultasi Bising usus (+) meningkat


Alat kelamin (atas indikasi) : tidak dilakukan pemeriksaan

Anggota gerak
Lengan Kanan Kiri
Otot Tonus Normotonus Normotonus
Massa Normal Normal
Gerakan Aktif Aktif
Sendi Normal Normal
Kekuatan +5 +5
Lain-lain Akral hangat
Tungkai dan Kaki Kanan Kiri
Luka Tidak ada Tidak ada
12

12

Varises Tidak ada Tidak ada
Otot Tonus Normotonus Normotonus
Massa Normal Normal
Gerakan Aktif Aktif
Sendi Normal Normal
Kekuatan +5 +5
Edema Tidak Ada Tidak Ada
Lain lain Akral hangat


Refleks Kanan Kiri
Bisep (+) (+)
Trisep (+) (+)
Patella (+) (+)
Achilles (+) (+)
Kremaster Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Refleks patologis (-) (-)

Colok dubur (atas indikasi) : tidak dilakukan pemeriksaan

Diagnosis klinis
1. Disentri
DD/
- Infesi amoeba
- Infeksi bakteri
Diagnosis diferensial
1. Kolitis tuberculosa
2. Kolitis pseudomembranosa
3. Penyakit crohn
4. HIV

13

13

LABORATORIUM
diperiksa tanggal 24 November 2012 jam 13.12 WIB
- Hb : 9.3 (14 18 g/dl)
- Ht : 31% (37-54%)
- Eritrosit : 4.1 juta/ul (3.5 5.5 juta/ul)
- Trombosit : 511 ribu/uL (150.000 450.000 /ul)
- Lekosit : 11 300 /uL (4800 10.800 /uL)
- Segmen : 68 (50 70%)
- Limfosit : 18 (20 40%)
- Monosit : 13 (2 8%)
- Eosinofil : 1 (0 1%)
- MCHC : 31 g/dl ( 31-36)
- MCH : 23 pg (27-32)
- MCV : 75 fl (77-94)
- MPV : 8 fl (6-12)
- Gambaran Eritrosit
Hipokromia : sedikit
Trombosit : BANYAK

Imunoserologi
Infeksi lain
Anti HIV : Negatif

Kimia Darah
Diabetes
Glukosa Sewaktu : 94 mg/dl (70-200)
Elektrolit
Sodium / Na : 132 Meq/L (137 150)
Potasium / K : 3.5 Meq/L (3.6 5.2)
Fungsi Hati
- SGOT : 28 (15-37 UI/L)
14

14

- SGPT : 36 (30-65 UI/L)
Ginjal Hipertensi
Urea : 14 mg/dl (10-50)
- BUN : 6 (5-20 mg/dl)
- Creatinin : 0.67 (0,5 1,2 mg/menit)

21.58
FAECES
Analisa faeces
Warna : Cokelat
Konsistensi : lembek
Lendir : negatif
Darah : negatif
Parasit : Tidak ditemukan OVA dan AMOEBA.
RBC = Banyak. WBC = Banyak
Benzidine / Darah samar : positif

Tanggal 25 November 2012
Rontgen thorax
Kesan : Cor dan pulmo tampak dalam batas normal

Tanggal 26 November 2012 jam 07.45 WIB
- Hb : 9.0 (14 18 g/dl)
- Ht : 29.% (37-54%)
- Eritrosit : 3.87 juta/ul (3.5 5.5 juta/ul)
- Trombosit : 515 ribu/uL (150.000 450.000 /ul)
- Lekosit : 9080 /uL (4800 10.800 /uL)
- Segmen : 69 (50 70%)
- Limfosit : 16 (20 40%)
- Monosit : 11 (2 8%)
- Eosinofil : 4 (0 1%)
15

15

- MCHC : 30.5 g/dl ( 31-36)
- MCH : 23.3 pg (27-32)
- MCV : 76.2 fl (77-94)
- MPV : 8.3 fl (6-12)
- Gambaran Eritrosit
Hipokromia : sedikit
Trombosit : BANYAK

Pemeriksaan USG
Kesan :
- Hepatomegali tanpa kelaianan di dalamnya
- Hydrops vesica felea
- Lien dan pancreas serta kedua renal dan vesica urinaria tampak ada dalam
keadaan batas normal
suspek ileus dengan dd/TBC usus

Tanggal 28 November 2012
CT SCAN abdomen
Dilakukan CT Scan Abdomen , potongan axial, slice 10mm, tanpa dan dengan kontras
- Hepar : sedikit melebar, permukaan rata, densitas homogeny. V. hepatica dan
v. porta tidak melebar. Duktus biliaris intrahepatal dan extrahepatal tak
melebar. Tidak tampak bayangan massa intrahepatal
- Intestine dan colon tidak melebar,post contrast tampak enchancement pada
dinding lumen caecum, tidak tampak bayangan massa intralumen
Tidak tampak bayangan cairan bebas intraabdomen. Di kedua rongga pleura
tampak sedikit bayangan cairan
Kesan : susp. Proses inflamasi di daerah caecum dengan effuse pleura minimal dan
hepatomegali ringan. Tidak jelas gambaran lymphadenopathy paraorta.


16

16

Tanggal 29 November 2012
Kolonoskopi
Hasil :
- Anorectal : tampak haeoroid interna grade 3 jam 1,,6 dan 11
- Kolon : mukosa sulit dikenali, sepanjang lumen mukosa oedematous, tampak
papiloma papiloma, disebagian ditutupi selaput putih dan sebagian mukosa
disertai pendarahan. Pada 70cm anocutan line mukosa tampak mukosa
oedematous disertai perdarahan dan susah membuka sehingga scope tak dapat
dilanjutkan ke proksimal.
Kesimpulan :
- Tunggu hasil PA
- Colitis TB
- Candidiasis

jam 18.16 WIB
- Hb : 8.4 (14 18 g/dl)
- Ht : 27.7% (37-54%)
- Eritrosit : 3.66 juta/ul (3.5 5.5 juta/ul)
- Trombosit : 574 ribu/uL (150.000 450.000 /ul)
- Lekosit : 6020 /uL (4800 10.800 /uL)
- Segmen : 46 (50 70%)
- Limfosit : 36 (20 40%)
- Monosit : 12 (2 8%)
- Eosinofil : 6 (0 1%)
- MCHC : 30.3 g/dl ( 31-36)
- MCH : 23 pg (27-32)
- MCV : 75.7 fl (77-94)
- MPV : 8.2 fl (6-12)
- Gambaran Eritrosit
Hipokromia : sedikit
Trombosit : BANYAK
17

17


Tanggal 30 November 2012
Transfusi
Transfusi Pack Cel darah PMI Sudah A pos 220cc
Transfusi Pack Cel darah PMI Sudah A pos 201cc

jam 12.25 WIB
- Hb : 11.2 (14 18 g/dl)
- Ht : 34.7% (37-54%)
- Eritrosit : 4.58 juta/ul (3.5 5.5 juta/ul)
- Trombosit : 620 ribu/uL (150.000 450.000 /ul)
- Lekosit : 5170 /uL (4800 10.800 /uL)
- Segmen : 74 (50 70%)
- Limfosit : 14 (20 40%)
- Monosit : 12 (2 8%)
- MCHC : 32.3 g/dl ( 31-36)
- MCH : 24.5 pg (27-32)
- MCV : 75.8 fl (77-94)
- MPV : 8.7 fl (6-12)
- Gambaran Eritrosit
Hipokromia : Normal
Trombosit : BANYAK

Ringkasan
1 hari sebelum masuk rumah sakit penderita mencret. Mencret 15 kali
sebanyak 1 2 sendok makan setiap kali mencret, berwarna kehitaman dengan sedikit
ampas, ada lendir, ada darah yang bercampur dengan feses, dan tidak ada berbau busuk.
Sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit penderita mencret awalnya 3 sampai 4 kali
sehari, kemudian semakin lama semakin sering. Awalnya tanpa darah, namun kemudian
kadang- kadang disertai sedikit darah dan lendir. Buang air kecil tidak ada keluhan.
18

18

Penderita juga merasakan nyeri perut terutama pada perut bagian bawah, ada mual
tidak ada muntah. Nafsu makan menurun dan dirasakan ada penurunan berat badan.
Tidak ada demam. Tidak ada batuk pilek, tidak didapatkan keluhan sesak maupun
keringat malam.
Penderita tidak ada riwayat pergi ke daerah endemis diare sebelumnya. Penderita
tidak mengkonsumsi obat berupa antibiotika, penderita suka mengkonsumsi jamu.
Penderita juga tidak ada riwayat merokok, minum alcohol, memakai obat obatan
terlarang, tidak pernah menerima donor darah, dan tidak pernah melakukan seks bebas.
ada riwayat TBC paru dengan pengobatan tuntas pada kakak penderita yang
tinggal 1 rumah.

FAECES
Analisa faeces
Parasit : Tidak ditemukan OVA dan AMOEBA. RBC = Banyak. WBC = Banyak
Benzidine / Darah samar : positif

Pemeriksaan USG
Kesan :
suspek ileus dengan dd/TBC usus

Tanggal 28 November 2012
CT SCAN abdomen
Kesan : susp. Proses inflamasi di daerah caecum dengan effuse pleura minimal dan
hepatomegali ringan. Tidak jelas gambaran lymphadenopathy paraorta.


Tanggal 29 November 2012
Kolonoskopi
Kesimpulan :
- Tunggu hasil PA
- Colitis TB
- Candidiasis
19

19


Diagnosis kerja dan dasar diagnosis
Kolitis TB

Dasar diagnosis :
Keluhan nyeri perut, diare yang awalnya ringan bercampur dengan darah, anoreksia,
penurunan berat badan.
Pada pemeriksaan USG ditemukan kesan suspek ileus dengan dd/TBC usus
Pada pemeriksaan Kolonoskopi ditemukan kesimpulan Colitis TB yang dimana
pemeriksaan ini adalah pemeriksaan yang penting.

Penatalaksanaan
INH 300mg. 1x1
Etambutol 500mg . 3x1/2
Rifampisin 450mg. 1x1
Pirazinamid 500mg . 2x1


Pencegahan
Primer :
Dengan promosi kesehatan sebagai salah satu pencegahan TBC paling efektif,
walaupun hanya mengandung tujuan pengukuran umum dan mempertahankan standar
kesehatan sebelumnya yang sudah tinggi. Proteksi spesifik dengan tujuan pencegahan
TBC yang meliputi ; (1) Imunisasi Aktif, melalui vaksinasi BCG secara nasional dan
internasional pada daerah dengan angka kejadian tinggi dan orang tua penderita atau
beresiko tinggi dengan nilai proteksi yang tidak absolut dan tergantung Host tambahan dan
lingkungan, (2)Chemoprophylaxis, obat anti TBC yang dinilai terbukti ketika kontak
dijalankan dan tetap harus dikombinasikan dengan pasteurisasi produk ternak, (3)
Pengontrolan Faktor Prediposisi, yang mengacu pada pencegahan dan pengobatan diabetes,
silicosis, malnutrisi, sakit kronis dan mental.

20

20

Sekunder :

Dengan diagnosis dan pengobatan secara dini sebagai dasar pengontrolan kasus TBC
yang timbul dengan 3 komponen utama ; Agent, Host dan Lingkungan.
Kontrol pasien dengan deteksi dini penting untuk kesuksesan aplikasi modern kemoterapi
spesifik, walau terasa berat baik dari finansial, materi maupun tenaga. Metode tidak
langsung dapat dilakukan dengan indikator anak yang terinfeksi TBC sebagai pusat,
sehingga pengobatan dini dapat diberikan. Selain itu, pengetahuan tentang resistensi obat
dan gejala infeksi juga penting untuk seleksi dari petunjuk yang paling efektif.
Langkah kontrol kejadian kontak adalah untuk memutuskan rantai infeksi TBC, dengan
imunisasi TBC negatif dan Chemoprophylaxis pada TBC positif. Kontrol lingkungan
dengan membatasi penyebaran penyakit, disinfeksi dan cermat mengungkapkan
investigasi epidemiologi, sehingga ditemukan bahwa kontaminasi lingkungan memegang
peranan terhadap epidemi TBC. Melalui usaha pembatasan ketidakmampuan untuk
membatasi kasus baru harus dilanjutkan, dengan istirahat dan menghindari tekanan
psikis.

Tersier :

Rehabilitasi merupakan tingkatan terpenting pengontrolan TBC. Dimulai dengan
diagnosis kasus berupa trauma yang menyebabkan usaha penyesuaian diri secara psikis,
rehabilitasi penghibur selama fase akut dan hospitalisasi awal pasien, kemudian
rehabilitasi pekerjaan yang tergantung situasi individu. Selanjutnya, pelayanan kesehatan
kembali dan penggunaan media pendidikan untuk mengurangi cacat sosial dari TBC,
serta penegasan perlunya rehabilitasi.
Selain itu, tindakan pencegahan sebaiknya juga dilakukan untuk mengurangi perbedaan
pengetahuan tentang TBC, yaitu dengan jalan sebagai berikut :
1. Perkembangan media.
2. Metode solusi problem keresistenan obat.
3. Perkembangan obat Bakterisidal baru.
21

21

4. Kesempurnaan perlindungan dan efektifitas vaksin.
5. Pembuatan aturan kesehatan primer dan pengobatan TBC yang fleksibel.
6. Studi lain yang intensif.
7. Perencanaan yang baik dan investigasi epidemiologi TBC yang terkontrol.

Prognosis
ad vitam : dubia ad bonam
ad fungsionam : dubia ad bonam
ad sanasionam : dubia ad bonam


ANALISA MASALAH
1. Bagaimana penatalaksanaan pada TBC ekstraparu?
2. Apa saja yang dapat menyebabkan diare kronik?


1. Penatalaksanaan pada TBC extraparu

PENGOBATAN TB
Tujuan Pengobatan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian, mencegah
kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman
terhadap OAT.
Jenis, sifat dan dosis OAT
22

22



Prinsip pengobatan
Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai berikut:
OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup
dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan gunakan OAT tunggal
(monoterapi) . Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT KDT) lebih
menguntungkan dan sangat dianjurkan.
Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan langsung
(DOT
= Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.
Tahap awal (intensif)
- Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara
langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.
- Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien
menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
- Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan.
Tahap Lanjutan
- Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka
waktu yang lebih lama
23

23

- Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah
terjadinya kekambuhan
Paduan OAT yang digunakan di Indonesia
Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di
Indonesia:
- Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
- Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.
Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan obat sisipan (HRZE)
- Kategori Anak: 2HRZ/4HR
Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat
kombinasi dosis tetap (OAT-KDT), sedangkan kategori anak sementara ini disediakan
dalam bentuk OAT kombipak.
Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet.
Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket
untuk satu
pasien.
Paket Kombipak.
Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket, yaitu Isoniasid, Rifampisin,
Pirazinamid dan Etambutol. Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi pasien
yang mengalami efek samping OAT KDT.
Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket, dengan tujuan untuk memudahkan
pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai.
Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan.
KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB:
1. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat
dan mengurangi efek samping.
2. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi
obat
ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep
3. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi
sederhana
24

24

dan meningkatkan kepatuhan pasien
Paduan OAT dan peruntukannya.
1. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
Pasien baru TB paru BTA positif.
Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif
Pasien TB ekstra paru



2. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya:
Pasien kambuh
Pasien gagal
Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus)

25

25


Catatan:
Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah
500mg tanpa memperhatikan berat badan.
Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus.
Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest
sebanyak 3,7ml sehingga menjadi 4ml. (1ml = 250mg)
3. OAT Sisipan (HRZE)
Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang
diberikan selama sebulan (28 hari).

Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin)
dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang
jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama. Di
samping itu dapat juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua.

2. Penyebab diare kronik

Etiologi
Klasifikasi penyebab diare kronik :
1. Kelainan di saluran makan
Yang dapat dibagi lagi, yaitu:
a. kelainan di lambung atau gastrogenous dapat disebabkan:
- akilia gastrika
- tumor
- pasca gastrektomi
26

26

- vagotomi
b. kelainan di usus halus atau enterogenous
- enteristis regionalis dan enterokolitis
- pasca bedah, misalnya: enterektomi, enterokolektomi, enterokolostomi
- gangguan absorpsi, misalnya pada sindroma malabsorpsi baik primer
maupun sekunder
- fistula intestinal
- obstruksi intestinal parsial
- divertikulosis
- tumor
c. kelainan di usus besar
- kolitis ulserosa kronik
- tumor
- divertikulosis
- poliposis
- kolitis pasca iradiasi
- obstruksi kolon parsial
- endometriosis
2. Karena penyakit infeksi
a. infeksi parasit
- Ameba
- Balantidium kol
- Helmentiasis (askaris, ankolis, sistosoma, dll)
b. infeksi bakteri
- Sigela
- Salmonela
- E. coli
- Klostridium
- Tuberkulosis
c. infeksi virus: entero virus
d. infeksi jamur: monilia
27

27

3. Kelainan di luar saluran makan
Beberapa penyakit di luar saluran makan yang dapat menimbulkan diare kronis,
di antaranya adalah:
- Penyakit pankreas, misalnya pankreatitis kronis, karsinoma pankreas
- Kelainan endokrin, misalnya: hipertiroidisme, diabetes mellitus, penyakit
Adison
- Kelainan hepatobilier
- Uremia
- Penyakit kolagen
- Tb paru
- Penyakit neurologis (ganglioneroblastoma)
- Akibat keracunan makanan
- Akibat pemberian antibiotika

Patofisiologi
Diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih patofisiologi/mekanisme

Diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih patofisiologi/patomekanisme dibawah ini:
1. Diare sekretorik
Diare tipe ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi air dan elektrolit dari usus,
menurunnya absorpsi. Yang khas pada diare ini yaitu secara klinis ditemukan diare
dengan volume tinja yang banyak sekali. Diare tipe ini akan tetap berlangsung
walaupun dilakukan puasa makan/minum (Simadibrata, 2006).
2. Diare osmotic
Diare tipe ini disebabkan meningkatnya tekanan osmotik intralumen dari usus
halus yang disebabkan oleh obat-obat/zat kimia yang hiperosmotik (antara lain
MgSO4, Mg(OH)2), malabsorpsi umum dan defek dalam absorpsi mukosa usus
missal pada defisiensi disakaridase, malabsorpsi glukosa/galaktosa (Simadibrata,
2006)
3. Malabsorpsi asam empedu dan lemak
28

28

Diare tipe ini didapatkan pada gangguan pembentukan/produksi micelle empedu
dan penyakit-penyakit saluran bilier dan hati (Simadibrata, 2006).
4. Defek sistem pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit
Diare tipe ini disebabkan adanya hambatan mekanisme transport aktif NA+K+
ATPase di enterosit dan absorpsi Na+ dan air yang abnormal (Simadibrata, 2006).
5. Motilitas dan waktu transit usus yang abnormal
Diare tipe ini disebabkan hipermotilitas dan iregularitas motilitas usus sehingga
menyebabkan absorpsi yang abnormal di usus halus. Penyebabnya antara lain:
diabetes mellitus, pasca vagotomi, hipertiroid (Simadibrata, 2006).
6. Gangguan permeabilitas usus
Diare tipe ini disebabkan permeabilitas usus yang abnormal disebabkan adanya
kelainan morfologi membran epitel spesifik pada usus halus (Simadibrata, 2006).
7. Diare inflamasi
Proses inflamasi di usus halus dan kolon menyebabkan diare pada beberapa
keadaan. Akibat kehilangan sel epitel dan kerusakan tight junction, tekanan
hidrostatik dalam pembuluh darah dan limfatik menyebabkan air, elektrolit, mukus,
protein dan seringkali sel darah merah dan sel darah putih menumpuk dalam lumen.
Biasanya diare akibat inflamasi ini berhubungan dengan tipe diare lain seperti diare
osmotik dan diare sekretorik (Juffrie, 2010)
8. Diare Infeksi
Infeksi oleh bakteri merupakan penyebab tersering dari diare. Dari sudut kelainan
usus, diare oleh bakteri dibagi atas non-invasif dan invasif (merusak mukosa). Bakteri
non-invasif menyebabkan diare karena toksin yang disekresikan oleh bakteri tersebut
(Simadibrata, 2006).







29

29










DAFTAR PUSTAKA
1. Oesman, Nizam. Kolitis Infeksi. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I
Edisi IV. 2006
2. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi ke -2. Cetakkan pertama.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006
3. Daldiyono. Simadibrata, Marcellus. Doare Akut. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jilid I Edisi IV. 2006