Anda di halaman 1dari 33

1

STATUS ILMU PENYAKIT DALAM


SMF PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT IMANUEL, LAMPUNG

Nama Mahasiswa : Cyntia Meta Tanda Tangan :
NIM : 11-2011-217
Dokter Pembimbing : dr Haryono, Sp.PD
dr. Fajar R, Sp.PD


IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap : Ny. K Jenis kelamin : Perempuan
Tempat / tanggal lahir :11 November 1960 Suku bangsa : Indonesia
Status perkawinan : Kawin Agama : Islam
Pekerjaan : Pedagang Pendidikan : SMA
Alamat : Sidomulyo Lampung Selatan

A. ANAMNESIS

Keluhan Utama:
Demam naik turun 3 hari sebelum masuk rumah sakit

Riwayat Penyakit Sekarang:
3 hari SMRS pasien demam. Demam naik turun tidak diukur dengan
menggunakan thermometer, tidak menentu naik atau turun pada siang atau malam.
Demam tidak disertai mengigil. Pasien juga ada mual dan muntah. Mual terutama
sesudah makan. Muntah 2x berisi makanan yang dimakan, muntah tidak ada darah
gelas aqua sekali muntah. Pasien juga nyeri pada sendi sendi terutama pada punggung.
BAK lancar, tapi sangat sering, >20x per hari. BAK tidak ada nyeri, darah, batu. BAB
lancar.



2

Beberapa jam SMRS demam masih naik turun. Pasien lemas pada seluruh badan.
Nyeri kepala berdenyut terutama ketika berdiri. Mual tetapi tidak muntah dan
memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.
Pasien mengatakan tidak ada riwayat berpergian ke daerah tertentu maupun
pantai. Tapi karena pasien seorang pedagang, kesehariannya adalah berpergian ke pasar.
Pasien juga tinggal di perumahan yang pada musim hujan banyak genangan air tetapi
tidak sampai banjir. Tidak ada riwayat gusi berdarah, bintik-bintik merah di kulit.
Pasien juga mengatakan ada batuk sejak 3 bulan yang lalu. Batuk tidak sering
dengan dahak yang sulit dikeluarkan. Tidak ada darah. Tidak ada keringat malam. Batuk
tidak disertai sesak napas, dan tidak berkurang atau bertambah berat ketika posisi
berbaring pada satu sisi. Pasien meminum obat warung tetapi keluhan tidak berkurang.
Tidak ada penurunan berat badan secara mendadak. Sepengetahuan pasien tidak ada
kontak dengan penderita TB.
Selain itu pasien juga mengatakan terdapat riwayat diabetes 10 tahun dengan
pengobatan kurang teratur. Kurang mengetahui obat yang di minum bila berobat ke
puskesmas. Sering BAK, mudah merasa lapar dan haus. Tidak merasa ada baal,
penglihatan kabur. Tidak merokok minum alcohol. Tidak ada riwayat hipertensi.

Penyakit Dahulu (Tahun)
( + ) Cacar ( - ) Malaria ( - ) Batu Ginjal / Saluran Kemih
( - ) Cacar air ( - ) Disentri ( - ) Burut (Hernia)
( - ) Difteri ( - ) Hepatitis ( - ) Penyakit Prostat
( - ) Batuk Rejan ( - ) Tifus Abdominalis ( - ) Wasir
( - ) Campak ( - ) Skirofula ( + ) Diabetes
( +) Influenza ( - ) Sifilis ( - ) Alergi
( - ) Tonsilitis ( - ) Gonore ( - ) Tumor
( - ) Khorea ( - ) Hipertensi ( - ) Penyakit Pembuluh
( - ) Demam Rematik Akut ( - ) Ulkus Ventrikuli ( - ) Perdarahan Otak
( - ) Pneumonia ( - ) Ulkus Duodeni ( - ) Psikosis
( - ) Pleuritis ( - ) Gastritis ( - ) Neurosis
( - ) Tuberkulosis ( - ) Batu Empedu Lain-lain: ( - ) Operasi



3

( - ) Kecelakaan
Riwayat Keluarga

Hubungan Umur
(tahun)
Keadaan Kesehatan Penyebab Meninggal
Ayah 75 Meninggal Tua
Ibu 73 Meninggal Tua
Saudara 58
49
Sehat
Sehat

Anak 30
28
Sehat
Sehat


Adakah Kerabat Yang Menderita:

Penyakit Ya Tidak Hubungan
Alergi
Asma
Tuberkulosis
Arthritis
Rematisme
Hipertensi
Jantung
Ginjal
Lambung

ANAMNESIS SISTEM
Catatan keluhan tambahan positif disamping judul-judul yang bersangkutan

Kulit
( - ) Bisul ( - ) Rambut ( - ) Keringat malam
( - ) Kuku ( - ) Kuning / Ikterus ( - ) Sianosis



4

( - ) Lain-lain
Kepala
( - ) Trauma ( +) Sakit kepala
( - ) Sinkop ( - ) Nyeri pada sinus

Mata
( - ) Nyeri ( - ) Radang
( - ) Sekret ( - ) Gangguan penglihatan
( - ) Kuning / Ikterus ( - ) Ketajaman penglihatan

Telinga
( - ) Nyeri ( - ) Gangguan pendengaran
( - ) Sekret ( - ) Kehilangan pendengaran
( - ) Tinitus

Hidung
( - ) Trauma ( - ) Gejala penyumbatan
( - ) Nyeri ( - ) Gangguan penciuman
( - ) Sekret ( - ) Pilek
( - ) Epistaksis

Mulut
( - ) Bibir ( - ) Lidah
( - ) Gusi ( - ) Gangguan pengecap
( - ) Selaput ( - ) Stomatitis

Tenggorokan
( - ) Nyeri tenggorokan ( - ) Perubahan suara

Leher
( - ) Benjolan ( - ) Nyeri leher



5



Dada (Jantung / Paru)
( - ) Nyeri dada ( - ) Sesak napas
( - ) Berdebar ( - ) Batuk darah
( - ) Ortopnoe ( + ) Batuk

Abdomen (Lambung / Usus)
( - ) Rasa kembung ( -) Wasir
( + ) Mual ( -) Mencret
( + ) Muntah ( - ) Tinja darah
( - ) Muntah darah (- ) Tinja berwarna dempul
( - ) Sukar menelan ( - ) Tinja berwarna merah terang
( + ) Nyeri perut ( - ) Benjolan
( - ) Perut membesar

Saluran Kemih / Alat kelamin
( - ) Disuria ( - ) Kencing nanah
( - ) Stranguria ( - ) Kolik
( +) Poliuria ( - ) Oliguria
( - ) Polakisuria ( - ) Anuria
( - ) Hematuria ( - ) Retensi urin
( - ) Kencing batu ( - ) Kencing menetes
( - ) Ngompol (tidak disadari)( - ) Penyakit Prostat

Katamenia
( - ) Leukore ( - ) Perdarahan
( - ) Lain-lain

Haid
( -) Haid terakhir (- ) Jumlah dan lamanya (- ) Menarche



6

(- ) Teratur / tidak (- ) Nyeri (- ) Gejala Klimakterium
(- ) Gangguan Haid (+ ) Pasca Menopause 1 tahun

Saraf dan Otot
(- ) Anestesi (- ) Sukar mengingat
( -) Parestesi ( -) Ataksia
(- ) Otot lemah ( -) Hipo / hiperesthesi
( -) Kejang (- ) Pingsan
(- ) Afasia (- ) Kedutan (Tick)
(- ) Amnesia (- ) Pusing (vertigo)
(- ) Lain-lain (- ) Gangguan bicara (Disartri)

Ekstremitas
(-) Bengkak (- ) Deformitas
(+) Nyeri sendi (- ) Sianosis

BERAT BADAN
Berat badan rata-rata (Kg) : 63kg
Berat tertinggi Kg) : 65kg
Berat badan sekarang (Kg) : 62kg

(Bila pasien tidak tahu dengan pasti)
Tetap (-)
Turun (+)
Naik (-)
RIWAYAT HIDUP

Riwayat Kelahiran
Tempat lahir : ( + ) Di rumah ( ) Rumah Bersalin ( ) RS Bersalin
Ditolong oleh : ( ) Dokter ( ) Bidan (+) Dukun
( ) Lain-lain



7


Riwayat Imunisasi
(? ) Hepatitis (? ) BCG (?) Campak (?) DPT
(? ) Polio (?) Tetanus

Riwayat Makanan
Frekuensi / Hari : 3-4x/hari
Jumlah / Hari : 1 porsi
Variasi / Hari : variasi
Nafsu makan : meningkat

Pendidikan
( ) SD ( ) SLTP (+) SLTA ( ) Sekolah Kejuruan ( ) Akademi
( ) Universits ( ) Kursus ( ) Tidak sekolah

Kesulitan
Keuangan : tidak ada
Pekerjaan : tidak ada
Keluarga : tidak ada
Lain-lain : -


A. PEMERIKSAAN JASMANI (tanggal 12.11.2012)

Pemeriksaan Umum
Tinggi badan : 165 cm
Berat badan : 62 kg
Indek massa tubuh : 22.77 (BB Normal)
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Nadi : 80x / menit, isi cukup, regular, ekual
Suhu : 37,6
o
C



8

Pernapasn (Frekuensi dan tipe) : 20x / menit ; thorakoabdominal
Keadaan gizi : Baik
Kesadaran : compos mentis
Sianosis : Tidak ada
Udema umum : Tidak ada
Cara berjalan : normal
Mobilitas (Aktif / Pasif) : aktif
Umur menurut taksiran pemeriksa : sesuai dengan usia sebenarnya

Aspek Kejiwaan
Tingkah laku : wajar / gelisah / tenang / hipoaktif / hiperaktif.
Alam perasaan : biasa / sedih / gembira / cemas / takut / marah.
Proses pikir : wajar / cepat / gangguan waham / fobia / obsesi.

Kulit
Warna : sawo matang Effloresensi : tidak ada
Jaringan parut : ada (di dada) Pigmentasi : tidak ada
Pertumbuhan rambut : merata, tidak rontok Pembuluh darah : teraba pulsasi
Suhu raba : hangat Lembab / kering : kering
Keringat Umum: (+) Turgor : normal
Setempat: (-) Ikterus : tidak ada
Lapisan lemak : merata Edema : tidak ada
Lain-lain : ptekie (-), lesi luka (-)

Kelenjar Getah Bening
Submandibula : tidak teraba membesar Leher : tidak teraba membesar
Supraklavikula : tidak teraba membesar Ketiak : tidak teraba membesar
Lipat paha : tidak teraba membesar

Kepala
Ekspresi wajah : wajar Simetri muka : Simetri



9

Rambut : hitam dan beruban, merata Pembuluh darah temporal: teraba
pulsasi

Mata
Exophthalmus : tidak ada Enopthalmus : tidak ada
Kelopak : normal Lensa : normal
Konjungtiva : anemis -/- Visus : normal
Sklera : ikterik -/- Gerakan mata : normal
Lapangan penglihatan : normal Tekanan bola mata: normal
Deviatio konjungae : tidak ada Nystagmus : tidak ada

Telinga
Tuli : -/- Selaput pendengaran : utuh
Lubang : +/+ Penyumbatan : -/-
Serumen : -/- Perdarahan : -/-
Cairan : -/-

Hidung
Bentuk : normal
Septum :deviasi septum tidak ada
Sekret : sekret tidak ada
Epistaksis : Tidak ada


Mulut
Bibir : normal Tonsil : tidak membesar
Langit-langit : normal Bau pernapasan: normal
Gigi geligi : caries (-) Trismus : tidak ada
Faring : tidak hiperemis Selaput lendir : normal
Lidah : normal




10

Leher
Tekanan vena Jugularis (JVP) : 5 2 cmH
2
O
Kelenjar Tiroid : : tidak teraba membesar
Kelenjar Limfe : : tidak teraba membesar

Dada
Bentuk : simetris
Pembuluh darah : tidak tampak


Paru-paru
Depan Belakang
Inspeksi Kiri Simetris saat statis dan dinamis Simetris saat statis dan dinamis
Kanan Simetris saat statis dan dinamis Simetris saat statis dan dinamis
Palpasi Kiri - Tidak ada penonjolan iga
- Fremitus taktil simetris
Fremitus taktil simetris

Kanan - Tidak ada penonjolan iga
- Fremitus taktil simetris
Fremitus taktil simetris

Perkusi Kiri Sonor di seluruh lapang paru Sonor di seluruh lapang paru
Kanan Sonor di seluruh lapang paru Sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi Kiri - Suara vesikuler
- Wheezing (-), Ronki (-)
- Suara vesikuler
- Wheezing (-), Ronki (-)
Kanan - Suara vesikuler
- Wheezing (-), Ronki (-)
- Suara vesikuler
- Wheezing (-), Ronki (-)

Jantung
Inpeksi Ictus cordis tidak tampak
Palpasi Ictus cordis tidak kuat angkat
Perkusi Batas kanan jantung Batas kiri : linea midclavicula kiri.
Batas kiri jantung Batas kanan : linea parasternalis
kanan.
Batas atas jantung ICS II linea parasternal kiri.



11

Auskultasi BJ I-II reguler murni, murmur (-), gallop (-)

Pembuluh darah
Arteri Temporalis : teraba pulsasi
Arteri Karotis : teraba pulsasi
Arteri Brakhialis : teraba pulsasi
Arteri Radialis : teraba pulsasi
Arteri Femoralis : teraba pulsasi
Arteri Poplitea : teraba pulsasi
Arteri Tibialis Posterior : teraba pulsasi
Arteri Dorsalis Pedis : teraba pulsasi

Abdomen
Inspeksi - Simetris
Tidak cembung
- Jaringan parut (-)
- Vena kolateral (-)
Palpasi Dinding perut Supel, Nyeri Tekan (-)
Hati Tidak teraba membesar
Limpa Tidak teraba membesar
Ginjal - Ballotement (-)
- Nyeri ketok costovertebral (-)
Lain-lain (-)
Perkusi Shifting dullness (-)
Auskultasi Bising usus (+) normal


Alat kelamin (atas indikasi) : tidak dilakukan pemeriksaan

Anggota gerak
Lengan Kanan Kiri



12

Otot Tonus Normotonus Normotonus
Massa Normal Normal
Gerakan Aktif Aktif
Sendi Normal Normal
Kekuatan +5 +5
Lain-lain Akral hangat, Ulkus diabetikum (-)
Tungkai dan Kaki Kanan Kiri
Luka Tidak ada Tidak ada
Varises Tidak ada Tidak ada
Otot Tonus Normotonus Normotonus
Massa Normal Normal
Gerakan Aktif Aktif
Sendi Normal Normal
Kekuatan +5 +5
Edema Tidak Ada Tidak Ada
Lain lain Akral hangat, Ulkus diabetikum (-)

Refleks Kanan Kiri
Bisep (+) (+)
Trisep (+) (+)
Patella (+) (+)
Achilles (+) (+)
Kremaster Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Refleks patologis (-) (-)

Colok dubur (atas indikasi) : tidak dilakukan pemeriksaan

Diagnosis klinis

Demam berdarah
Influenza



13

Diabetes Melitus

Diagnosis diferensial

Malaria
Demam Tifoid
Leptospirosis
Brokitis Kronik
Bronkiektasis
TBC

LABORATORIUM
Tanggal 11 November 2012
10.33
- Hb : 14.8 g/dl (14 18 g/dl)
- Ht : 42% (37-54%)
- Eritrosit : 5.16 juta (3.5 5.5)
- Trombosit : 100 ribu/uL (150.000 450.000 /ul)
- Lekosit : 2670 /uL (4800 10.800 /uL)
- Segmen : 69 %(50 70%)
- Limfosit : 21(20 40%)
- Monosit : 10(2 8%)
- MCHC : 35 g/dl ( 31-36)
- MCH : 29 pg(27-32)
- MCV : 82 fl (77-94)
- MPV : 11 fl 6-12
- Gambaran Eritrosit : Normal
- Gambaran Trombosit : kurang

- Gula darah sewaktu : 302 (< 200 mg/dl)
- Sodium : 128mEq/L



14

- Kalium : 3.66mEq/L
- SGOT : 71 (15-37 UI/L)
- SGPT : 37 (30-65 UI/L)
- Urea : 48 (10 50 mg/dl)
- BUN : 22.42 (5-20 mg/dl)
- Creatinin : 0.91 (0,5 1,2 mg/menit)

13.41
Glukosa sewaktu : 226 mg/dl (70-200)
20.08
Glukosa 2jPP : 152mg/dl (76-140mg/dl)

Tanggal 12 November 2012
05.41
Trombosit : 63 ribu/ul (150-350)
LED : 20/jam (L<10 P <15 )
Hb : 13.3 mg/dl (12-17; P 11-15)
Ht : 37.3 % (37-54)
10.11
Glukosa 2jPP 215mg/dl (76-140)
16.58
Glukosa 2jPP 122mg/dl (76-140)

Tanggal 13 November 2012
05.01
Trombosit : 24 ribu/ul (150-350)
Hb : 14.1 mg/dl (12-17; P 11-15)
Ht : 40.3 % (37-54)

Tanggal 14 November 2012
05.23



15

Trombosit : 27ribu/ul (150-350)
Hb : 14.7 g/dl (12-17; P 11-15)
Ht : 42 % (37-54)
10.00
SGOT : 101 ul/l (L : <38; P :<32)
SGPT : 48 u/l (L : 9-36 : P: 9-43)
Urea : 25 mg/dl (10-50)
BUN : 12 mg/dl (6-20)
Creatinin : 0.68 mg/dl (L : <1.3 P : 1.1)
13.52
Glukosa 2j PP : 82 mg/dl (76-140)
20.20
Glukosa 2j PP : 174 mg/dl (76-140)
19.32
Glukosa sewaktu : 102 mg/dl (70-200)

Tanggal 15 November 2012
Jam 08.09
Trombosit 35 ribu/ul (150-350 ribu/ul)
Hb : 13.1 g/dl (L : 12-17; P 11-15)
Ht : 38 % (37 54)

Glukosa Puasa : 111mg/dl (76-110)
Jam 14.04 dan 16.43
Bakteri AFB 1+(ditemukan 10 99 BTA/100 LPB)

Radiologi
- Cor tidak membesar
- Sinuses dan Diafragma : normal
- Pulmo : Tampak bercak infiltrate dan lapang atas dextra, serta rongga berbatas tebal
di lapang atas kiri



16

Kesan : Susp KP aktif dengan pembentukkan caverna

Tanggal 16 November 2012
Trombosit 76
Hb 12.8
Ht 37.2

Ringkasan
3 hari SMRS pasien demam. Demam naik turun tidak diukur dengan
menggunakan thermometer, tidak menentu naik atau turun pada siang atau malam.
Demam tidak disertai mengigil. Pasien juga ada mual dan muntah. Mual terutama
sesudah makan. Muntah 2x berisi makanan yang dimakan, muntah tidak ada darah
gelas aqua sekali muntah. Pasien juga nyeri pada sendi sendi terutama pada punggung.
BAK lancar, tapi sangat sering, >20x per hari. BAK tidak ada nyeri, darah, batu. BAB
lancar.
Beberapa jam SMRS demam masih naik turun. Pasien lemas pada seluruh badan.
Nyeri kepala berdenyut terutama ketika berdiri. Mual tetapi tidak muntah dan
memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.
Pasien mengatakan tidak ada riwayat berpergian ke daerah tertentu maupun
pantai. Tapi karena pasien seorang pedagang, kesehariannya adalah berpergian ke pasar.
Pasien juga tinggal di perumahan yang pada musim hujan banyak genangan air tetapi
tidak sampai banjir. Tidak ada riwayat gusi berdarah, bintik-bintik merah di kulit.
Pasien juga mengatakan ada batuk sejak 3 bulan yang lalu. Batuk dengan dahak
yang sulit dikeluarkan. Tidak ada darah. Tidak ada keringat malam. Batuk tidak disertai
sesak napas, dan tidak berkurang atau bertambah berat ketika posisi berbaring pada satu
sisi. Pasien meminum obat warung tetapi keluhan tidak berkurang. Tidak ada penurunan
berat badan secara mendadak. Sepengetahuan pasien tidak ada kontak dengan penderita
TB.
Selain itu pasien juga mengatakan terdapat riwayat diabetes 10 tahun dengan
pengobatan kurang teratur. Kurang mengetahui obat yang di minum bila berobat ke



17

puskesmas. Sering BAK, mudah merasa lapar dan haus. Tidak merasa ada baal,
penglihatan kabur. Tidak merokok minum alcohol. Tidak ada riwayat hipertensi.

LABORATORIUM
Tanggal 11 November 2012
10.33
- Hb : 14.8 g/dl (14 18 g/dl)
- Ht : 42% (37-54%)
- Trombosit : 100 ribu/uL (150.000 450.000 /ul)
- Monosit : 10(2 8%)
- Gambaran Trombosit : kurang

- Gula darah sewaktu : 302 (< 200 mg/dl)
- Urea : 48 (10 50 mg/dl)
- BUN : 22.42 (5-20 mg/dl)

13.41
Glukosa sewaktu : 226 mg/dl (70-200)
20.08
Glukosa 2jPP : 152mg/dl (76-140mg/dl)

Tanggal 12 November 2012
05.41
Trombosit : 63 ribu/ul (150-350)
Hb : 13.3 mg/dl (12-17; P 11-15)
Ht : 37.3 % (37-54)
10.11
Glukosa 2jPP 215mg/dl (76-140)
16.58
Glukosa 2jPP 122mg/dl (76-140)




18

Tanggal 13 November 2012
05.01
Trombosit : 24 ribu/ul (150-350)
Hb : 14.1 mg/dl (12-17; P 11-15)
Ht : 40.3 % (37-54)

Tanggal 14 November 2012
05.23
Trombosit : 27ribu/ul (150-350)
Hb : 14.7 g/dl (12-17; P 11-15)
Ht : 42 % (37-54)

13.52
Glukosa 2j PP : 82 mg/dl (76-140)
20.20
Glukosa 2j PP : 174 mg/dl (76-140)
19.32
Glukosa sewaktu : 102 mg/dl (70-200)

Tanggal 15 November 2012
Jam 08.09
Trombosit 35 ribu/ul (150-350 ribu/ul)
Hb : 13.1 g/dl (L : 12-17; P 11-15)
Ht : 38 % (37 54)

Glukosa Puasa : 111mg/dl (76-110)
Jam 14.04 dan 16.43
Bakteri AFB 1+(ditemukan 10 99 BTA/100 LPB)

Radiologi
- Cor tidak membesar



19

- Sinuses dan Diafragma : normal
- Pulmo : Tampak bercak infiltrate dan lapang atas dextra, serta rongga berbatas tebal
di lapang atas kiri
Kesan : Susp KP aktif dengan pembentukkan caverna

Tanggal 16 November 2012
Trombosit 76 ribu/ul (150-350 ribu/ul)
Hb 12.8 g/dl (L : 12-17; P 11-15)
Ht 37.2 % (37 54)

Diagnosis kerja dan dasar diagnosis

Demam Dengue
Diabetes Melitus tipe 2
TBC

1. Demam Dengue

Dasar diagnosis :
Pada pasien ini didapatkan demam, nyeri kepala, mialgia. Pada pemeriksaan lab
didapatkan trombositopenia dengan tidak adanya bukti kebocoran plasma, kerena itu
dapat di simpulkan bahwa pada pasien ini menderita Demam Degue.

Demam Dengue
Merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan dua atau
lebih manifestasi klinis sebagai berikut:
Nyeri kepala.
Nyeri retro-oebital.
Mialgia / artralgia.
Ruam kulit.
Manifestasi perdarahan (petekie atau uji bending positif).



20

Leukopenia.
dan pemeriksaan serologi dengue positif, atau ditemukan pasien DD/DBD yang
sudah dikonfirmasi pada lokasi dan waktu yang sama.




2. Diabetes Melitus tipe 2
Dasar diagnosis :

Pada pasien ini ditemukan ciri khas penderita DM yaitu berupa poliuria, polidipsia,
polifagia, lemah. Selain itu pasien juga mengatakan bahwa ia menderita DM selama 10
tahun dengan pengobatan yang tidak teratur. Pada pemeriksaan glukosa darah sewaktu
maupun puasa, dapat disimpulkan pasien ini menderita diabetes tipe 2.



21




3. TBC
Pada pemeriksaan Bakteri AFB 1+ (ditemukan 10 99 BTA/100 LPB), pemeriksaan
rontgen juga di dapatkan Susp KP aktif dengan pembentukkan caverna


Pemeriksaan yang dianjurkan
- Cek Hematologi (Hemoglobin, Hematokrit, leukosit, dan trombosit) tiap 24 jam
- Pemeriksaan Sputum BTA 3x pagi-sewaktu-pagi
- Ro Thorax



22

- GDS tiap 24 jam
- HBa1C

Rencana pengelolaan

- Diet DM 1700 kalori

- Tab psidii 3x2 tab
Mekanisme kerja PSIDII dapat menghambat perkembangbiakan virus dengue dengan
menghambat enzim reverse transcriptase. Selain itu juga dapat meningkatkan kadar GM-
CSF yang menstimulasi pembentukan megakariosit sebagai bahan awal trombosit,
sehingga produksi trombosit dapat ditingkatkan.

- Paracetamol 3x500mg

- Neurobion Vit B komplkes 5000mg
Melindungi efek samping dari rifampisin yaitu defisiensi vit B6

- Inj humulin r 3x100cc 1/2/ ml

- Rimstar 4 FDC 2tab/hr
Rifampisin 150 mg, INH 75 mg, Pirazinamid 400 mg, Etambutol 275 mg.

- Nexium 1x40mg

- HP Pro 3x1 tab
Digunakan untuk menghentikan nekroinflamasi hepar, meningkatkan kemampuan
detoksifikasi (menetralkan racun) sel hepar terhadap bahan toksik, mencegah kerusakan
sel hepar akibat lipid peroksida, mencegah kerusakan sel hepar akibat radikal bebas,
meningkatkan salah satu enzim anti oksidan fisiologi sel hepar yang penting yaitu super
oxide dismutase (SOD), menstimulasi sintesa albumin & glikogen oleh sel hepar.



23

Pencegahan
Demam Berdarah
1. Primer :
- Mencegah gigitan nyamuk dengan menggunakan repelant.
- Melakukan fogging
- Menjaga kebersihan lingkungan
- Melaksanakan abatisasi pada bak-bak penampungan air
- Melaksanakan 3M(menguras bak air, menutup tempat penampungan air, dan
mengubur barang bekas)

2. Sekunder
- Melakukan terapi suportif dengan pemberian
Rumus Pemberian Cairan Kristaloid per Hari:
1500 + {20 x (BB(kg) 20)}
- Terapi gejala yang muncul dengan obat-obatan simptomatis
- Pemeriksaan darah lengkap (Hb,Ht,leukosit, dan trombosit)

3. Tersier
- Bila terjadi syok, diberikan oksigen 2-4 Liter/menit dan pengguyuran 10-20
ml/kgBB cairan kristaloid dan dievaluasi setelah 15-40 menit, bila renjatan
teratasi jumlah cairan dikurangi menjadi 7 ml/kgBB dan bila stabil dalam
waktu 60 menit, pemberican cairan menjadi 5 ml/kgBB.
- Bila terjadi DIC(Disseminated Intravascular Coagulation) diberikan heparin.
- Bila terjadi perdarahan spontan dengan jumlah trombosit < 100.000/mm
3
diberikan transfusi trombosit.
- Pemberian tranfusi FFP bila PT dan APTT memanjang untuk mencegah
terjadinya perdarahan masif.
- Pemasangan kateter untuk memantau keseimbangan cairan.
- Pemantauan kondisi pasien setiap 3 jam (tanda-tanda vital, diuresis,
hematologi).




24

TBC
1. Pencegahan Primer
Dengan promosi kesehatan sebagai salah satu pencegahan TBC paling efektif,
walaupun hanya mengandung tujuan pengukuran umum dan mempertahankan standar
kesehatan sebelumnya yang sudah tinggi.
Proteksi spesifik dengan tujuan pencegahan TBC yang meliputi ; (1) Imunisasi
Aktif, melalui vaksinasi BCG secara nasional dan internasional pada daerah dengan
angka kejadian tinggi dan orang tua penderita atau beresiko tinggi dengan nilai proteksi
yang tidak absolut dan tergantung Host tambahan dan lingkungan, (2)Chemoprophylaxis,
obat anti TBC yang dinilai terbukti ketika kontak dijalankan dan tetap harus
dikombinasikan dengan pasteurisasi produk ternak, (3) Pengontrolan Faktor Prediposisi,
yang mengacu pada pencegahan dan pengobatan diabetes, silicosis, malnutrisi, sakit
kronis dan mental.
2. Pencegahan Sekunder
Dengan diagnosis dan pengobatan secara dini sebagai dasar pengontrolan kasus TBC
yang timbul dengan 3 komponen utama ; Agent, Host dan Lingkungan.
Kontrol pasien dengan deteksi dini penting untuk kesuksesan aplikasi modern kemoterapi
spesifik, walau terasa berat baik dari finansial, materi maupun tenaga. Metode tidak
langsung dapat dilakukan dengan indikator anak yang terinfeksi TBC sebagai pusat,
sehingga pengobatan dini dapat diberikan. Selain itu, pengetahuan tentang resistensi obat
dan gejala infeksi juga penting untuk seleksi dari petunjuk yang paling efektif.
Langkah kontrol kejadian kontak adalah untuk memutuskan rantai infeksi TBC, dengan
imunisasi TBC negatif dan Chemoprophylaxis pada TBC positif. Kontrol lingkungan
dengan membatasi penyebaran penyakit, disinfeksi dan cermat mengungkapkan
investigasi epidemiologi, sehingga ditemukan bahwa kontaminasi lingkungan memegang
peranan terhadap epidemi TBC. Melalui usaha pembatasan ketidakmampuan untuk
membatasi kasus baru harus dilanjutkan, dengan istirahat dan menghindari tekanan
psikis.
3. Pencegahan Tersier
Rehabilitasi merupakan tingkatan terpenting pengontrolan TBC. Dimulai dengan
diagnosis kasus berupa trauma yang menyebabkan usaha penyesuaian diri secara psikis,



25

rehabilitasi penghibur selama fase akut dan hospitalisasi awal pasien, kemudian
rehabilitasi pekerjaan yang tergantung situasi individu. Selanjutnya, pelayanan kesehatan
kembali dan penggunaan media pendidikan untuk mengurangi cacat sosial dari TBC,
serta penegasan perlunya rehabilitasi.
Selain itu, tindakan pencegahan sebaiknya juga dilakukan untuk mengurangi perbedaan
pengetahuan tentang TBC, yaitu dengan jalan sebagai berikut :
1. Perkembangan media.
2. Metode solusi problem keresistenan obat.
3. Perkembangan obat Bakterisidal baru.
4. Kesempurnaan perlindungan dan efektifitas vaksin.
5. Pembuatan aturan kesehatan primer dan pengobatan TBC yang fleksibel.
6. Studi lain yang intensif.
7. Perencanaan yang baik dan investigasi epidemiologi TBC yang terkontrol.

Prognosis
ad vitam : dubia ad bonam
ad fungsionam : dubia ad bonam
ad sanasionam : dubia ad bonam















26

ANALISIS MASALAH
1. Bagaimana pendekatan terhadap demam <1 minggu?
Demam adalah kenaikkan suhu tubuh melebihi normal berkisar antara
36,5-37,5C.


Fever of unknown origin
(FUO) dapat diartikan sebagai suatu keadaandimana suhu lebih tinggi dari 3
8.3C (101F), yang berlangsung lebih dari 3minggu tanpa adanya penegakan diagnosis
meskipun telah dilakukan investigasiseksama selama di rawat-inap pada orang dewasa.
Empat kategori etiologi potensial dari fever of unknown origin adalah klasik,
nosokomial, defisiensi imun dan humanimmunodeficiency virus (HIV).
Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu penyakit tertentu
misalnya tipe demam intermiten untuk malaria. Seorang pasien dengan keluhan demam
mungkin dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jela seperti : abses,
pneumonia, infeksi saluran kencing, malaria, tetapi kadang sama sekali tidak dapat
dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas. Dalam praktek 90% dari para pasien



27

dengan demam yang baru saja dialami, pada dasarnya merupakan suatu penyakit yang
self-limiting seperti influensa atau penyakit virus sejenis lainnya. Namun hal ini tidak
berarti kita tidak harus tetap waspada terhadap inveksi bakterial.
Kausa demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan toksemia,
karena keganasan atau reaksi terhadap pemakaian obat. Juga gangguan pada pusat
regulasi suhu sentral dapat menyebabkan peninggian temperatur seperti pada heat stroke,
pendarahan otak, koma atau gangguan sentral lainnya. Pada pendarahan internal pada
saat terjadinya reabsorpsi darah pula menyebabkan peningkatan temperatur. Dalam
praktek perlu sekali diketahui penyakit-penyakit infeksi yang endemik di lingkungan
tempat tinggal pasien, dan mengenai kemungkinan infeksi import dapat dinetralisasi
dengan pertanyaan apakah pasien baru pulang dari suatu perjalanan dari daerah mana dan
tempat apa saja yang telah dikunjunginya. Pada dasarnya untuk mencapai ketepatan
diagnosis penyebab demam diperlukan antara lain, ketelitian pengambilan riwayat
penyakit pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisis yang seteliti mungkin, observasi
perjalanan penyakit dan evaluasi pemeriksaan laboratorium serta penunjang lainnya
secara tepat dan holistik.
Salah diagnosis paling sering dibuat karenan pemeriksaan fisis yang tergesa-gesa
sehingga kurang lengkap atau tidak tepat, dan terlalu cepat mendeduksi suatu kesimpulan
dari suatu keadaan tertentu saja dengan tidak melihat kasus yang dihadapi dalam konteks
keseluruhan. Beberapa hal yang secara khusus perlu diperhatikan pada demam, adalah
cara timbul demam, lama demam, sifat harian demam, tinggi demam dan keluhan serta
gejala lain yang menyertai demam. Demam yang tiba-tiba tinggi lebih sering disebabkan
oleh penyakit virus. Waktu yang dikorbankan untuk menanyakan riwayat penyakit yang
terperinci dan akurat dalam kenyataannya adalah waktu yang digunakan demi
kepentingan pasien yang mencari pertolongan sehingga dapat terhindar dari orientasi
diagnosis yang salah dan sebagai konsekuensinya mungkin pemberian obat yang kurang
tepat serta permintaan pemeriksaan laboratorium yang mungkin salah pula, yang
kesemuanya merupakan beban yang perlu ditanggung pasien. Salah orientasi ini dalam
konteks yang luas merupakan suatu pemborosan fasilitas kesehatan yang disediakan dan
merupakan pengorbanan finansial pasien yang sama sekali tidak diinginkan.




28

2. Bagaimana penanganan DM dengan adanya infeksi?

DM dihubungkan dengan abnormalitas metabolik, hormonal dan
mikrovaskular gangguan banyak sistem organ. Konsekuesi : memperngaruhi ginjal, mata,
sistem kardiovaskuler dan pernapasan, kerusakkan organ dan infeksi. Infeksi pada DM
misalnya saja pyelonefritis, infeksi jaringan lunak, kaki diabetes, infeksi jamur candida,
otitis eksterna.
Penyebabnya adalah
1. Sistem imun pada hiperglikemia
- Fungsi neutrofil dan makrofag terganggu : kemotaksis, adherence, fagositosis
- Kemampuan membunuh kuman dengan fagositosis dengan radikal bebas
terganggu
- Jumlah komplemen berkurang
2. Perubahan Mikrosirkulasi
Mikroangiopati pada pembuluh darah menyebabkan suplai oksigen ke jaringan
menurun sehingga dapat menyebabkan oksigen sehingga dapat meningkatkan
resiko infeksi

Adanya infeksi pada pasien sangat berpengaruh terhadap pengendalian glukosa
darah. Infeksi dapat memperburuk kendali glukosa darah, dan kadar glukosa darah yang
tinggi meningkatkan kemudahan atau memperburuk infeksi.
Prinsip penting dalam mengobati infeksi adalah menjaga glukosa darah pasien
terkontrol. Antibiotik sering digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Obat antijamur
dapat digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh jamur. Krim antibiotik
topikal dapat digunakan untuk mengobati beberapa infeksi kulit ringan. Dalam kasus
tulang atau kulit yang lebih parah, pembedahan mungkin diperlukan untuk
menghilangkan jaringan yang terinfeksi.







29


3. Bagaimana penanganan DM dengan TBC?
Pengobatan DM pada TB paru meliputi pengobatan terhadap DM nya dan
pengobatan terhadap TB parunya.
Pengobatan DM adalah sama saja pengobatan DM pada umumnya yang meliputi
terapi perencanaan makan /diet, anti diabetes oral maupun insulin.
Perencanaan makan selain untuk menormalkan kadar glukosa darah , juga untuk
mengembalikan berat badan ke berat badan ideal. Bila pasien DM kurus diberikan diet
DM yang lebih tinggi kalori sedang apabila gemuk maka diturunkan berat badan. Pada
umumnya pengobatan diet diabetes berkisar 2000-2400 kalori.
Pemberian obat anti diabetes pada DM disertai dengan TB paru dipilih
pengobatan dengan insulin. Bagi pasien yang sementara dapat pengobatan anti diabetes
oral, seperti sulfonilurea dan biguanid sebaiknya diganti dengan insulin. Pemberian
sulfonilurea pada DM dengan TB paru adalah kontra indikasi karena tuberkulosis
dianggap penyakit dengan infeksi serius yang intercurrent. Sedang biguanid tidak
diberikan karena pada umumnya TB paru mempunyai keluhan nafsu makan menurun ,
berat badan menurun dan adanya malabsorbsi glukosa, dimana metformin mempunyai
mekanisme kerja sama diatas.
Pemberian rifampicin pada DM dengan TB paru dapat mempercepat
metabolisme obat-obat anti diabetik oral, menginaktifasi sulfonilurea dan meningkatkan
kebutuhan insulin. Disamping itu rifampicin menyebabkan early hyperglicaemia pada
non DM maupun non TB paru dan meningkatkan absorbsi glukosa di usus. Sebaliknya
isoniazid dapat mengganggu absorpsi karbohidrat di usus dan bekerja antagonis dengan
sulfonilurea. Walaupun jarang isoniazid menyebabkan pankreatitis dan menghambat efek
metformin pada absorbsi glukosa di usus.
Pada DM tipe 2 disertai tuberkulosis paru pemberian insulin dianjurkan selama
infeksi masih aktif.
Telah dikenal berbagai macam insulin mulai kerja cepat, pendek, sedang sampai
lama yang disuntikkan sendiri (tunggal) atau mixed dalam satu semprit. Saat ini tersedia
insulin analog yang kerja cepat yaitu insulin lispro dan insulin aspart. Sedang untuk kerja



30

pendek tersedia Actrapid, HumulinR, kerja sedang seperti monotard, insulatard dan
humulin N. Sedang kerja lama atau panjang adalah ultra lente, insulin glargine(lantus).
Insulin yang dikombinasi (tercampur) antara insulin kerja pendek dan sedang
adalah Insulin mixtard, yang terdiri Monotard 70% dan Actrapid 30%. Insulin yang
beredar sekarang insulin murni atau human insulin yang dibuat dengan teknologi
rekombinan DNA dan mempunyai kerja lebih cepat dan lama kerja lebih pendek
dibanding dengan insulin babi.7 Di Indonesia hanya beredar insulin dengan dosis 40 unit
per ml dan 100 unit per ml. Di luar negeri tersedia pula insulin dengan dosis 500 unit per
ml yang ditujukan pada kasus-kasus resistensi insulin dimana memerlukan insulin dosis
besar.
Pemberian insulin pada DM dengan TB paru diindikasikan pada keadaan penurunan berat
badan yang cepat, hiperglikemia berat apalagi disertai ketosis, perlu penanganan lebih
ketat kadar glukosa darah dan obat-obat anti TB paru mengurangi efektifitas obat oral
anti diabetes.
Pemberian insulin sebaiknya dimulai dengan insulin kerja cepat seperti actrapid
atau humulin R dengan dosis kecil 5 unit diberikan tiap jam sebelum makan dan dosis
ditingkatkan 2-4 unit dalam waktu 2-4 hari. Macam dan jadwal pemberian insulin dapat
diubah sesuai respons pasien.
Bila pengendalian DM berlangsung baik dan keadaan TB paru sudah membaik
maka insulin kerja pendek dapat dilanjutkan dengan insulin kerja menengah seperti
monotard atau Humulin N dengan dosis 2/3 dari dosis total insulin kerja pendek. Bila
dosis total perhari diperlukan kurang 30 unit perhari maka cukup pemberian insulin kerja
menengah sekali perhari dan apabila dosis lebih 30 unit maka pemberian insulin
diberikan 2 kali perhari yaitu 2/3 dosis sebelum makan pagi dan 1/3 dosis sebelum makan
malam.
Pemberian insulin mixed lebih baik dalam menormalkan kadar glukosa darah
dibanding insulin tunggal. Namun demikian insulin campuran sebaiknya mengikuti
petunjuk dan prosedur standar pemberian seperti penyuntikan dilakukan 15 menit
sebelum makan, dianjurkan hanya pada pasien yang sudah terkontrol baik. Tidak
dianjurkan menggambungkan antara lente insulin dengan NPH karena Zink pospat dapat
mempresipitasi sehingga insulin kerja lambat akan menjadi kerja pendek. Demikian pula



31

insulin glargine tidak dapat dicampur dengan insulin lainnya karena pH rendah karena
akan saling mengencerkan.
Dosis insulin pada pasien DM tergantung respos glikemik setiap individu dan
asupan makanan serta latihan jasmani. Pada umumya pada pemberian awal diberikan 3
kali atau lebih suntikan perhari dengan insulin kerja pendek untuk memperoleh derajat
euglikemik. Jadwal penyuntikan tergantung dari kadar glukosa darah, jumlah asupan
makanan, aktifitas fisik (olahraga) dan tipe insulin yang dipakai.. Pada umumnya
penyuntikan dilakukan 30 menit sebelum makan khusus untuk insulin kerja pendek
karena penyuntikan setelah makan atau segera sebelum makan akan menyebabkan
hipoglikemia atau insulin tidak efektif menekan kenaikan glukosa darah postprandial.
Pada saat ini setiap pemberian insulin khususnya dalam periode lama seperti DM
dengan TB paru maka perlu monitor glukosa darah sendiri . Untuk memantau kadar
glukosa dapat dipakai darah kapiler dengan memakai meter. Hasil pemeriksaan kadar
glukosa darah dengan meter dapat dipercaya sejauh kalibrasi dilakukan dengan baik dan
cara pemeriksaan dilakukan sesuai dengan cara standar yang dianjurkan. Secara berkala ,
hasil pemantauan dengan cara meter atau reagens kering perlu dibandingkan dengan cara
konvensional. Waktu pemeriksaan untuk pemantauan adalah pada saat sebelum makan
dan waktu tidur untuk menilai risiko hipoglikemia. Pemeriksaan glukosa darah 2 jam
setelah makan untuk menilai ekskursi maksimal glukosa selama sehari.
Pengobatan antituberkulosis untuk pasien dengan DM adalah terapi quadripel
yang meliputi rifampicin, isoniazid, pirazinamid dan etambutol. Selama 2 bulan pertama,
dan diikuti 4 bulan berikutnya dengan pengobatan rifampicin dan isonoazid.
Pemberian rifampicin pada DM dengan TB paru dapat mempercepat
metabolisme obat-obat anti diabetik oral dan meningkatkan kebutuhan insulin.
Sebaliknya isoniazid dapat mengganggu absorpsi karbohidrat di usus dan bekerja
antagonis dengan sulfonilurea.
Sebagai petunjuk atau guidelines untuk pengelolalaan DM selama infeksi adalah
sebagai berikut :
Pada pasien yang berobat jalan tindakan adalah :
- Monitor kadar glukosa plasma sekurang-kurangnya 4 jam terakhir.



32

- Pada pasien yang sudah mendapat pengobatan dengan insulin, dosis insulin
ditingkatkan untuk mengantisipasi hiperglikemia persisten.
- Kebutuhan kalori disesuaikan dengan berat badan. Bagi pasien yang kurus
kebutuhan kalori lebih besar dari yang semestinya, demikian pula pada pasien
gemuk, kalori yang diberikan lebih rendah dari kalori standard. Indeks massa tubuh
dipertahankan antara 18,5-23.
- Kendalikan DM seoptimal mungkin yaitu mempertahankan kadar glukosa darah
puasa antara 80-109 mg/dl, 2 jam setelah makan antara 80-144 mg/dl, A 1c <6,5,
Kendalikan kadar dari fraksi lipid antara lain kadar kolesterol total dipertahankan <
200 mg/dl, kolesterol LDL < 100mg/dl, kolesterol HDL>45, trigliserid <150 mg/dl.
Tekanan darah dipertahankan < 130/80 mgHg .
- Awasi bila timbul muntah-muntah atau terjadi hiperglikemia berat atau
hipoglikemia dan tindaki segera.
Pada pasien rawat nginap tindakan adalah sebagai berikut:
- Monitor kadar glukosa plasma 4 jam terakhir; tingkatkan dosis insulin untuk
mengatasi hiperglikemia bila perlu berikan insulin intravena atau tetes.
- Pada pasien yang memakai obat hipoglikemia oral pertimbangkan untuk mengganti
atau menambah dengan insulin
















33

DAFTAR PUSTAKA

1. Juwita, Erni. Lima Puluh Masalah Keshatan di Bidang Ilmu Penyakit Dalam.
Pusat Penerbit Ilmu Penyakit Dalam 2011
2. Ezung T, Taruni Devi NG, Singh NT, Sing THB. Pulmonary tuberculosis and
Diabetes mellitus-A Study JIMA 2002;100:1-2.