Anda di halaman 1dari 16

1

1

BAB I
GAMBARAN UMUM KELUARGA DAMPINGAN

1.1 Profil Keluarga Dampingan
Salah satu yang menjadi fakous dari Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan
Pemberdayaan Masyarakat Periode VIII adalah Program Pendampingan Keluarga.
Program ini menugaskan mahasiswa untuk mendampingi keluarga miskin ataupun
pra-sejahtera. Keluarga keluarga yang tergolong dalam kelompok Rumah Tangga
Miskin (RTM) dan Pra Sejahtera di Banjar Timbul Desa Pupuan berjumlah 25 Kepala
Keluarga, sejalan dengan pelaksanaan program pemberdayaan keluarga maka LPPM
Universitas Udayana merancang program pendampingan keluarga yang merupakan
rangkaian dari Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat.
Program Pendampingan Keluarga ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk
mempelajari permasalahan yang dihadapi oleh keluarga pra-sejahtera dan kemudian
memberikan solusi berkaitan dengan permasalahan yang dihadapinya.
Banjar Timbul yang menjadi pusat konsentrasi KKN PPM Universitas Udayana
di Desa Pupuan Tegallalang telah menetapkan 25 KK yang keadaannya paling
memenuhi syarat untuk program pendampingan keluarga. Dengan jumlah mahasiswa
peserta KKN yang mencapai 25 orang maka setiap keluarga pra sejahtera yang
terpilih akan didampingi oleh satu orang mahasiswa yang berasal dari jurusan yang
berbeda sehingga mampu mengobservasi masalah dari sudut pandang yang berbeda.
Keluarga yang didampingi penulis dalam kesempatan ini adalah keluarga pra-
sejahtera dengan kepala keluarga bernama I Ketut Pinda. Beliau bertempat tinggal di
daerah Banjar Timbul tepatnya bagian timur dekat dengan perkebunan
jeruk.lokasinya yang tergolong dekat ini mempermudah akses mahasiswa
pendamping untuk melakukan pendampingan dan pelaksanaan program
pendampingan keluarga.
Bapak Ketut Pinda saat ini sudah almarhum yang dimana sekarang yang menjadi
kepala keluarganya adalah anaknya yang bernama bapak komang.Bapak komang
2



lahir di Timbul pada tanggal 20 juli 1987,saat ini beliau berusia 27 tahun. Kediaman
beliau tergolong sederhana dengan 2 buah bangunan utama yakni dapur merangkap
tempat kerja serta kamar tidur. Kendati demikian, keadaan dari masing masing
bangunan ini masih cukup memprihatinkan.
Beliau tinggal bersama istrinya yakni Ibu Ni Luh Widya dan anak kandungnya
yakni I Komang Wira. Sejak Bapak I Ketut Pinda meninggal, Bapak Komang Sutira
hanya tinggal bertiga dengan istri serta seorang anaknya.
Keluarga ini termasuk dalam golongan keluarga Pra-Sejahtera yang ada di Banjar
Timbul, ini dilihat dari tingkat penghasilannya dan taraf kehidupannya yang masih
kurang. Berikut adalah data lengkap anggota keluarga Bapak Komang;

No Nama Status Umur Pendidikan Pekerjaan Ket
1 I Ketut Pinda Menikah almarhu
m
- - -
2. Ni Wayan Tingen Menikah almarhu
m
- - -
3. I Komang Sutira Menikah 27 SLTP/
sederajat
Pengerajin Kepala
Keluarga
4. I Luh Widya Menikah 27 SLTP/
sederajat
Petani Istri
5. I Komang Wira Belum
menikah
3 - - Anak

Keluarga pra-sejahtera ini hidup seadanya dengan pekerjaan Bapak Komang
Sutira sebagai pengrajin patung kayu dan istrinya yang bekerja sebagai petani.
Sebagai keluarga pra-sejahtera keluarga ini mengalami beberapa permasalahan
terutamanya dalam hal perekonomian keluarga. Meski demikian Bapak Komang
Sutira mampu menghidupi keluarganya dalam kehidupan sehari hari.
3




1.2 Ekonomi Keluarga Dampingan
1.2.1 Pendapatan Keluarga
Pendapatan keluarga Bapak Komang Sutira bersumber dari kepala keluarga
dan istri. Bapak Komang yang berprofesi sebagai pengrajin patung kayu
penghasilannya tidak menentu bergantung dari banyaknya tidaknya order yang
mampu dikerjakan. Adapun kisaran pendapatannya yakni dari Rp 20.000,00 hingga
Rp 70.000,00, sedangkan untuk Ibu Widya setiap harinya mampu memperoleh
penghasilan sejumlah Rp 30.000,00 dari hasil bekerja sebagai buruh tani.
Selain dari pendapatan di atas keluarga ini tidak memiliki sumber pendapatan
alternatif atau tambahan pendapatan. Pendapatan ini kemudian dikelola masing
masing tanpa ada transparansi dana ataupun pembagian penghasilan.
Bapak Komang sutira menyampaikan bahwa pendapatannya pribadi rata rata
berada pada kisaran Rp 70.000,00 setiap harinya, sehingga dalam satu bulan beliau
mampu memperoleh Rp 2.100.000,00; ini dimanfaatkan untuk kebutuhan pribadi dan
sebagiannya disisihkan untuk anaknya.Pendapatan istrinya yang juga tidak tentu
seringkali dimanfaatkan untuk keperluan dapur dan pembelian kebutuhan pribadi
lainnya.

1.2.2 Pengeluaran Keluarga
1.2.2.1 Kebutuhan Sehari Hari
Pengeluaran Bapak Komang Sutira untuk kebutuhan sehari hari tidaklah
menentu. Masalah pengeluaran tidak pernah dirundingkan bersama. Bapak Komang
biasanya memberikan sebagian upahnya kepada istrinya dan menggunakan sisanya
untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, begitu pula dengan istrinya yang
menggunakan penghasilan pribadi untuk keperluan rumah dan pribadinya tanpa
menawarkan kepada suaminya.
Setiap harinya diperkirakan keluarga ini menghabiskan dana sejumlah Rp
40.000,00 untuk biaya makan dan dana tambahan sebesar Rp 100.000,00 tiap bulan
4



untuk keperluan lain sehingga total dalam satu bulan diperlukan biaya sejumlah Rp
1.300.000,00 untuk kebutuhan sehari hari. Tidak ada alokasi dana khusus untuk
membeli kebutuhan MCK maupun kebutuhan kecil lainnya.Suami dan istri membeli
kebutuhannya sendiri, dengan uang diperolehnya masing masing. Begitupula
dengan memberikan biaya hidup pada kedua orang anaknya, tidak ada sistem yang
jelas dalam mengorganisir keuangannya.
Terkadang terdapat kekurangan dana dalam memenuhi kebutuhan sehari hari,
masalah seperti ini diselesaikan dengan meminjam uang kepada Lembaga Perkreditan
Desa ataupun Koperasi Banjar Timbul.
Biaya sehari hari lainnya yakni pengeluaran untuk biaya air dan biaya listrik,
biasanya dibayarkan bergiliran dengan KK lain yang berada dalam satu pekarangan.
Pengeluaran untuk membayar tagihan berkisar antara Rp 50.000,00 hingga Rp
100.000,00 untuk jangka waktu 2 bulan. Beliau mengakui bahwa pembayaran listrik
mengalami penambahan semenjak adanya penaikkan daya listrik di kediamannya.

1.2.2.2 Pendidikan
Untuk bagian pendidikan,keluarga bapak Komang hanya memiliki satu anak
yang baru berumur 3 tahun bernama komang Wira,yang dimana pada saat ini dia
belum bersekolah jadi belum memerlukan biaya pendidikan.untuk masa nanti Bapak
Komang juga belum mempersiapkan biaya pendidikan,yang dimana persiapan untuk
pendidikan nanti belum ada ancang ancang karena Komang Wira akan bersekolah
taman kanak kanak pada usia 5 Tahun jadi masih ada 2 tahun.

1.2.2.3 Kesehatan
Bapak Komang maupun istrinya tidak pernah mengalokasikan pendapatannya
untuk dana kesehatan. Kesadaran akan menjaga kesehatan juga masih sangat rendah.
Mereka hanya berobat ke puskesmas di kala sakit saja. Layanan JKBM juga tidak
dimanfaatkan oleh Bapak Likub dikarenakan proses yang berbelit belit dan rumit.
5



Bapak Komang lebih memilih untuk mengeluarkan lebih banyak uang pribadi
daripada menggunakan layanan JKBM.

1.2.2.4 Sosial dan Kehidupan Bermasyarakat
Dari segi sosial Bapak Komang mengakui bahwa cukup banyak dana harus
diluangkan untuk kehidupan sosialnya. Selayaknya orang Bali pada umumnya,
memang diperlukan alokasi dana untuk upacara adat maupun acara adat lainnya.
Keluarga ini memang tidak mengalokasikan dana khusus untuk bersosialisasi
(menyama braya) namun tetap saja hampir tiap bulannya dibutuhkan untuk bidang
ini. Beliau bahkan mengakui bahwa dalam kesempatan tertentu seperti rahinan dan
piodalan maka pengeluaran untuk banten akan bertambah dan bahkan dalam satu
kesempatan piodalan pengeluaran sempat membengkak sekitar Rp 4.000.000,00.
Dana untuk kehidupan sosial ini nampaknya memang menghabiskan cukup banyak
jumlah dana pendapatan Bapak Komang dan istrinya.















6



BAB II
IDENTIFIKASI DAN PRIORITAS MASALAH

2.1 Permasalahan Keluarga
Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi dengan keluarga Bapak Komang
Sutira, terdapat beberapa permasalahan yang diidentifikasi yaitu:

2.1.1 Lingkungan/Penataan Bangunan
Rumah yang ditempati oleh keluarga Bapak Komang Sutira merupakan tanah
yang dibeli seluas 2 are dan tinggal bersama anaknya atau dengan kata lain dalam
satu pekarangan terdapat Satu KK sehingga lahan yang ditempati tidak begitu luas
dan terbatas penggunaan fasilitas dalam keluarga. Dalam pekarangan Bapak Komang
Sutira terdiri dari 2 bangunan dimana bangunan tersebut berfungsi sebagai tempat
istirahat, dan bangunan sebagai dapur.
Pentingnya penataan bangunan serta lingkungan rumah tampaknya kurang
diperhatikan oleh keluarga Bapak Komang Sutira. Di pekarangan rumah tidak terlihat
adanya tanaman bunga maupun tanaman obat karena terbatasnya luas tanah
pekarangan yang tidak memungkinkan melakukan penanaman pohon/bunga atau
yang lainnya.
.
2.1.2 Ekonomi
Penghasilan Bapak Komang Sutira sebagai KK penerus I Ketut Pinda dari
pengerajin dari kayu dapat membantu perekonomian keluarga akan tetapi hasil dari
kerajinan tersebut setiap bulannya tidak menentu yang dimana penghasilannya
tergantung dari orderan yang datang.jika ditaruh di pengepul maka harga jualnya
akan jauh murah.penghasilan yang didapat dari pengerajin tersebut harus disisihkan
untuk biaya transportasi untuk memasarkan barang dagangannya.untuk Ni Luh
Widya bekerja sebagai petani yang dimana penghasilannya tidak menentu setiap
7



harinya, sebagian besar penghasilan dari bertani digunakan untuk membeli kebutuhan
dapur.
2.1.3 Pendidikan
Untuk pendidikan saat ini belumlah menjadi masalah prioritas dikaranakan I
Komang Wira selaku anak Dari Bapak Komang Sutira masih berumur 3 Tahun jadi
biaya pendidikan akan ada untuk nanti di 2 tahun kedepan.

2.1.4 Kesehatan
Keluarga Bapak Komang Sutira sangat diberatkan jika ada anggota keluarga
yang sakit karena akan menambah pengeluaran keluarga. Hal ini disebabkan oleh
keluarga Bapak Komang Sutira tidak mendapatkan bantuan kesehatan seperti JKBM,
Jamkesmas, maupun askes yang menyebabkan biaya berobat dikeluarkan secara
pribadi.

2.1.5 Sosial
Dalam kegiatan bermasyarakat, tiap warga dikenakan iuran untuk banjar
maupun pura-pura yang ada di Desa Pupuan yang tentunya juga menambah
pengeluaran dari keluarga Bapak Komang Sutira

2.1.6 Masalah Tabungan
Kehidupan ekonomi keluarga Bapak Komang Sutira tergolong kurang karena
kurangnya penghasilan yang diperoleh. Oleh sebab itu untuk uang tabungan
jumlahnya tidak menentu

2.2 Masalah Prioritas
Berdasarkan identifikasi permasalahan keluarga Bapak Komang Sutira di atas
serta analisis KUWAT (Kesempatan, Uang, Waktu, Alat, dan Tenaga), maka
diprioritaskan beberapa masalah yaitu sebagai berikut:

8



2.2.1Kesulitan dalam Memenuhi Kebutuhan Pangan Pokok
Hal ini merupakan permasalahan yang menjadi prioritas utama dari penulis.
Kurangnya penghasilan yang diperoleh oleh keluarga ini, maka untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari terutama bahan pangan pokok seperti beras, minyak, dan
gula dirasakan sulit.

2.2.2 Masalah Kesehatan Keluarga
Untuk masalah kesehatan seperti penyakit-penyakit ringan seperti sakit
kepala, maag, flu, dan demam, keluarga ini jarang berobat ke puskesmas maupun
dokter dan lebih sering membiarkan penyakit tersebut sembuh dengan sendirinya
dikarenakan tidak adanya bantuan asuransi kesehatan maupun biaya yang mencukupi.

2.2.3 Kesehatan Lingkungan
Penataan bangunan dan pekarangan keluarga Bapak Komang Sutira belum
maksimal. Pekarangan yang ada sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai lahan untuk
menanam tanaman bunga dan tanaman obat, di samping itu juga bisa ditanami
tanaman untuk kebutuhan sehari-hari seperti cabe, jahe, dan kunyit agar tidak
membeli ke pasar lagi.











9



BAB III
USULAN PENSOLUSIAN MASALAH
USULAN PENSOLUSIAN MASALAH
3.1 Program
Adapun program yang dilaksanakan untuk menangani permasalahan yang ada
di keluarga Bapak Komang Sutira adalah sebagai berikut:

3.1.1 Program Solusi Masalah Ekonomi
Dari uraian permasalahan ekonomi keluarga dampingan telah diketahui bahwa
penghasilan keluarga ini sangatlah kurang, bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari. Untuk itu penulis memiliki inisiatif memberikan beberapa masukan untuk
pemasaran kerajinan dari kayu tersebut jangan hanya mengunggu orderan serta
memberikan ke pengepul dari kerajinan tersebut,alangkah baiknya barang kerajinan
tersebut dijual sendiri ke pembeli atau dititip di art shop,selain itu juga memberikan
bantuan kebutuhan sehari-hari seperti beras, minyak, dan gula untuk meringankan
beban keluarga dampingan selama sebulan.

3.1.2 Program Peningkatan Kesehatan
Untuk menangani permasalahan ini, dilakukan program peningkatan
kesehatan dengan memberikan konseling mengenai pola hidup sehat meliputi pola
makan, makanan yang harus dihindari, olahraga ringan yang teratur, obat-obatan yang
digunakan, serta menghindari stres. Dengan konseling ini, diharapkan keluarga
almarhum Bapak Komang Sutira bisa lebih menjaga kesehatan.

3.1.3 Program Peningkatan Kebersihan dan Penataan Lingkungan
Dalam program ini, dilakukan pemberian pemahaman kepada keluarga
dampingan mengenai pentingnya menjaga dan menata lingkungan sekitar. Penulis
menyarankan agar keluarga Bapak Komang Sutira lebih memanfaatkan pekarangan
10



yang kosong dengan menanam tanaman bunga maupun Tanaman Obat Keluarga
(TOGA) sehingga selain dapat memperindah lingkungan juga dapat dimanfaatkan
sebagai obat. Selain itu pekarangan juga dapat ditanami dengan tanaman seperti cabe,
jahe, dan kunyit sehingga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
dan tidak perlu membeli lagi di pasar.

3.2 Jadwal Kegiatan
Adapun jadwal kegiatan yang dilakukan selama melaksanakan program KK
dampingan dapat dilihat pada tabel berikut:
No
Hari,
Tanggal
Waktu
(Wita)
Masalah
Pemecahan
Masalah
JKEM
1. kamis,
20 Februari
2014
13.00-
15.00
Belum didapatkan
data KK
dampingan
Briefing mengenai
KK dampingan
1x2 jam
= 2jam
15.00-
16.00
Belum didapatkan
data KK
dampingan
Berkoordinasi
dengan kelian
banjar timbul
mengenai KK
dampingan
1x1 jam
= 1 jam
2. Jumat,
21 Februari
2014
15.00-
18.00
Belum diketahui
lokasi KK
dampingan
Survei lokasi dan
berkenalan dengan
KK dampingan
1x3 jam
= 3 jam
3 Sabtu,
22 Februari
2014
13.00-
18.00
Belum diketahui
profil KK
dampingan
Ramah tamah
dengan KK
dampingan
sekaligus
menanyakan
informasi

1x3 jam
= 3 jam
4. Senin,
24 Februari
2014
15.00-
17.00
Belum diketahui
masalah
perekonomian KK
dampingan
Diskusi dengan
keluarga Bapak
Komang Sutira
terkait masalah
perekonomian
keluarga



1x2 jam
= 2 jam
11



5. Rabu,
26 februari
2014
16.00-
18.00
Belum diketahui
masalah kesehatan
KK dampingan
Diskusi dengan
keluarga Bapak
Komang Sutira
terkait masalah
kesehatan KK
dampingan
1x4, jam
= 4 jam
6. Senin,
3 Maret 2014
14.00-
18.00
Belum mendapat
data yang cukup
mengenai
lingkungan rumah
KK dampingan
Diskusi dan
observasi langsung
lingkungan rumah
KK dampingan
1x4 jam
= 4 jam
7. Selasa,
4 Maret 2014
11.00-
17.00
Data mengenai
anak-anak KK
dampingan belum
mencukupi
Diskusi dengan
keluarga Bapak
Komang Sutira
mengenai anak-
anak KK
dampingan
1x6 jam
= 6 jam
8. Rabu,
5 Maret 2014
12.00-
17.00
Data mengenai
pekerjaan keluarga
Bapak Komang
Sutira
Berdialog dengan
keluarga Bapak
Komang Sutira
mengenai
pekerjaan anggota
keluarga
1x5 jam
= 5 jam
9. Kamis,
6 Maret 2014
16.00-
19.00
- Melihat proses
pembuatan
kerajinan kayu
berbentuk jerapah
oleh Bapak
Komang Sutira
1x4 jam
= 4 jam
10. Jumat,
7 Maret 2014
15.00-
18.00
- Memberikan
konseling
mengenai
kesehatan

1x3 jam
= 3 jam
11. Sabtu,
8 Maret 2014
13.00-
18.00
Memberikan opsi
atau jalan keluar
untuk memasarkan
produk kerajinan

1x5 jam
= 5 jam

12. Minggu,
9 Maret 2014
13.00-
17.00
Memberikan
pengetahuan
tentang tanaman
1x4 jam
= 4 jam

12



TOGA

13. Senin,10
Maret 2014
14.00-
18.00
- Membantu
membersihkan
lahan pekarangan
KK dampingan
1x4 jam
= 4 jam
14. Selasa,11
Maret 2014
13.00-
18.00
- Memberikan
konseling
mengenai
kesehatan

1x5 jam
= 5jam
15. Kamis, 13
Maret 2014
11.00-
17.00
- Ramah tamah dan
berdialog mengenai
kehidupan sehari-
hari KK dampingan
1x6 jam
= 6 jam
16. Jumat, 14
Maret 2014
09.00-
15.00
- Ramah tamah dan
berdialog mengenai
kehidupan sehari-
hari KK dampingan
1x6 jam
= 6 jam
17. Sabtu, 15
Maret 2014
10.00-
16.00
- Ramah tamah
,memberikan
bingkisan dan
perpisahan dengan
KK dampingan
1x6 jam
= 6 jam












13




BAB IV
PELAKSANAAN, HASIL DAN KENDALA
PENDAMPINGAN KELUARGA
PELAKSANAAN, HASIL DAN KENDALA PENDAMPINGAN KE
4.1 Pelaksanaan
Program pendampingan keluarga ini dilakukan sebanyak 17 kali kunjungan
dalam kurun waktu satu bulan dan dilakukan sesuai dengan program yang telah
dijabarkan sebelumnya. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain dengan
memberikan masukan atau saran mengenai pemasaran hasil kerajinan kayu yaitu
dengan memperluas penjualan serta berani menjual sendiri ke pelanggan tanpa
melalui pengepul agar keuntungan lebih banyak didapat. Sedangkan untuk
meningkatkan kesehatan keluarga ini, dilakukan konseling mengenai pola hidup sehat
bagi keluarga. Dengan pemberian konseling ini diharapkan kesehatan keluarga dari
Bapak Komang Sutira dapat meningkat. Untuk program peningkatan kebersihan dan
penataan lingkungan, dilakukan pemberian pemahaman mengenai pentingnya
menjaga dan menata lingkungan sekitar serta memberikan saran agar keluarga KK
dampingan memanfaatkan pekarangan yang kosong dengan menanam tanaman bunga
maupun TOGA.

4.2 Hasil
Adapun hasil yang diperoleh dari program pendampingan keluarga ini adalah
munculnya kemauan keluarga KK dampingan untuk menjual sendiri barang kerajinan
kayu tersebut karena diketahui bahwa untungnya lebih besar dibandingan ke
pengepul. Selain itu, dengan adanya bantuan bahan pangan pokok seperti beras, gula,
dan minyak, beban keluarga ini dapat sedikit berkurang.
Dengan adanya program di bidang kesehatan, kesadaran keluarga ini mengenai
pola hidup sehat serta pengetahuan mengenai obat-obatan standar untuk penyakit-
14



penyakit umum seperti nyeri, sakit kepala, demam, flu, diare, dan sebagainya menjadi
meningkat. Informasi yang diberikan dapat diserap dengan cukup baik dilihat dari
respon serta jawaban-jawaban yang diberikan pada saat penulis melakukan evalusi
atas informasi yang diberikan.
Untuk program peningkatan kebersihan dan penataan lingkungan, hasil yang
diperoleh adalah munculnya kemauan KK dampingan untuk memperindah
lingkungan rumahnya dengan tanaman bunga serta TOGA. Namun untuk program ini
tidak dapat dilakukan monitoring karena keterbatasan waktu.
Kendala dalam pelaksanaan program pendampingan keluarga ini, penulis
menemukan kendala antara lain yaitu akses jalan menuju kediaman Bapak Bapak
Komang Sutira yang dimana jalan yang dilalui berlubang lubang serta jika malam
lampu penerangan jalan tidak ada sehingga untuk malam hari tidak bisa berkunjung
ke KK dampingan.begitu juga jika ingin berkunjung ke KK dampingan , jika siang
hari sering kali tidak ada orang disana karena masing masing mempunyai kesibukan
tersendiri yang dimana mencari penghasilan untuk kebutuhan sehari hari.
15



BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil analisis dan observasi yang dilakukan selama satu bulan
terhadap keluarga dampingan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa keluarga Bapak
Komang Sutira memiliki permasalahan yang cukup mendasar di bidang ekonomi,
kesehatan, dan lingkungan. Dengan program-program yang telah dilaksanakan maka
sangat diharapkan adanya peningkatan kualitas dan pemahaman keluarga dampingan
di ketiga bidang tersebut. Program peningkatan ekonomi keluarga yang dilakukan
dengan pemberian saran diharapkan dapat meningkatkan pendapatan keluarga
terutama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.pemasaran produk kerajinan juga
diperluas serta Pemberian bantuan berupa beras, gula, dan minyak juga diharapkan
dapat meringankan beban keluarga ini. Program peningkatan kesehatan keluarga yang
dilakukan dengan konseling diharapkan dapat meningkatkan kualitas kesehatan
keluarga dampingan. Program peningkatan kebersihan serta penataan lingkungan
dengan memberikan masukan mengenai pemanfaatan pekarangan rumah untuk
menanam tanaman bunga dan TOGA diharapkan dapat membuat lingkungan rumah
menjadi lebih asri dan sehat.

5.2 Rekomendasi
Setelah berakhirnya program pendampingan keluarga KKN-PPM Universitas
Udayana Periode VII ini diharapkan keluarga Bapak Komang Sutira kedepannya
tetap berusaha memanfaatkan peluang-peluang yang ada untuk meningkatkan taraf
hidup keluarga serta bekerja dengan lebih giat. Kesehatan keluarga serta kondisi
lingkungan juga harus tetap dijaga dengan baik. Selain berusaha dalam wujud nyata,
keluarga Bapak Komang Sutira juga harus tetap berdoa kepada Tuhan Yang Maha
16



Esa agar senantiasa diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menjalani kehidupan
sehari-hari.
Sedangkan saran untuk Pemerintah diantaranya lebih memeperjelas aturan
dan pemberian bantuan untuk keluarga miskin terutama dalam pemberian bantuan
kesehatan untuk keluarga yang memang membutuhkan. Pemerintah juga diharapkan
mampu membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas untuk keluarga miskin
sehingga taraf kehidupan masyarakat lebih terjamin.