Anda di halaman 1dari 20

Fakultas Kedokteran UWKS

RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo





BAB I
PENDAHULUAN

Koriokarsinoma adalah salah satu jenis dari Penyakit Trofoblastik Gestasional
(PTG) dimana merupakan suatu tumor ganas yang berasal dari sel-sel sito-
trofoblas serta sinsitiotrofoblas yang menginvasi miometrium, merusak jaringan di
sekitarnya termasuk pembuluh darah sehingga menyebabkan perdarahan.
Angka kejadian tertinggi penyakit ini di dunia ditemukan terbanyak pada
daerah Asia, Afrika dan Amerika Latin. Juga disebutkan bahwa angka kejadian
rata-rata terendah secara signifikan terlihat di daerah Amerika Utara, Eropa dan
Australia.
Di Amerika angka kejadian koriokarsinoma berkisar 1 dari 20-40 ribu
kehamilan, dimana diperkirakan angka kejadiannya 1 dari 40 kehamilan mola
hidatidosa, 1 dari 5.000 kehamilan ektopik, 1 dari 15.000 kasus abortus, dan 1 dari
150.000 kehamilan normal.
Sedangkan di Indonesia sendiri disebutkan bahwa angka kejadian penyakit
trofoblas secara umum bervariasi, di antara 1/120 hingga 1/200 kehamilan.
Penyakit ini dapat didahului oleh suatu proses fertilisasi seperti mola
hidatidosa, kehamilan biasa, abortus dan kehamilan ektopik, selain itu juga dapat
merupakan produk langsung dari hasil konsepsi atau yang bukan didahului oleh
suatu kehamilan. PGT yang didahului proses pembuahan sel telur digolongkan
sebagai koriokarsinoma dengan kehamilan (gestational choriocarcinoma)
sedangkan yang tanpa didahului pembuahan sel telur dikenal sebagai
koriokarsinoma tanpa kehamilan (non gestational choriocarcinoma) yakni yang
berasal dari tumor sel germinal pada ovarium. Hal-hal di atas menggambarkan
bahwa setiap wanita mempunyai resiko akan kemungkinan menderita penyakit
trofoblas ganas ini.
Fakultas Kedokteran UWKS
RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo


2
Penyakit ini sering terjadi pada usia 14-49 tahun dengan rata-rata 31,2 tahun.
Resiko terjadinya PTG yang non metastase 75% didahului oleh mola hidatidosa
dan sisanya oleh abortus, kehamilan ektopik atau kehamilan aterm. Resiko
terjadinya PTG yang metastase 50% didahului oleh mola hidatidosa, 25% oleh
abortus, 22% oleh kehamilan aterm dan 3% oleh kehamilan ektopik.
Pada jenis invasif mola 12,5% berasal dari mola komplit dan 1,5% berasal
dari mola partial. Pada koriokarsinoma1,7% berasal dari mola komplit dan 0,2%
dari mola partial, koriokarsinoma setelah kehamilan normal lebih sering terjadi
dibandingkan mola invasif.


















Fakultas Kedokteran UWKS
RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo


3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Anatomi Placenta
Plasenta berbentuk bundar diskoid dengan diameter 15-20 cm dan tebal 2-3
cm. Berat plasenta rata-rata 500-1000 gram. Tali pusat berhubungan dengan
plasenta biasanya ditengah (letak sentral). Keadaan ini disebut insersio sentralis.
Bila hubungan ini terletak agak ke pinggir, maka disebut insersio lateralis, dan
bila tepi plasenta, maka disebut insersio marginalis. Kadang tali pusat berada
diluar plasenta dan hubungan dengan plasenta terjadi melalui selaput janin. Jika
hal demikian terjadi, maka disebut insersio velamentosa.
(1,2,3)

Plasenta yang matang terdiri dari dua bagian, yaitu sisi uterin atau maternal,
dan sisi janin. Kedua sisi ini dapat dibedakan dari keadaan fisiknya. Sisi janin
lebih lembut dan licin dengan adanya insersi tali pusat dari permukaannya,
sedangkan sisi maternal berwarna lebih merah dan permukaannya berbenjol-
benjol karena adanya massa villi korionik yang terbenam dalam endometrium
(anchoring villi). Anchoring villi ini membagi plasenta kedalam 7-10 massa yang
disebut kotiledon.
(1,3)


Gambar 1. (A) Sisi Janin; (B) Sisi Maternal
Fakultas Kedokteran UWKS
RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo


4
Umumnya plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan kurang lebih 16
minggu dengan ruangan amnion telah mengisi seluruh kavum uteri. Meskipun
ruang amnion membesar sehingga amnion tertekan ke arah korion, namun amnion
hanya menempel saja, tidak sampai melekat pada korion.
Letak plasenta umumnya di depan atau di belakang dinding uterus, agak ke
atas ke arah fundus uteri. Hal ini adalah fisiologis karena permukaan bagian atas
korpus uteri lebih luas, sehingga lebih banyak tempat untuk implantasi. Bila
diteliti baik-baik, maka plasenta sebenarnya berasal dari sebagian besar bagian
janin, yaitu villi korialis yang berasal dari korion, dan sebagian kecil dari bagian
ibu yang berasal dari desidua basalis.
(2,4,5)
Darah ibu dan janin dipisahkan oleh dinding pembuluh darah janin dan
lapisan korion. Plasenta yang demikian dinamakan plasenta jenis hemokorial.
Disini tidak ada percampuran antara darah ibu dan darah janin. Ada juga sel-sel
desidua yang tidak dapat dihancurkan oleh trofoblas dan sel-sel ini akhirnya
membentuk lapisan fibrinoid yang disebut lapisan Nitabuch. Pada proses
persalinan, plasenta terlepas dari endometrium pada lapisan Nitabuch ini. Bila
oleh sesuatu sebab pada abortus terjadi kuretase yang terlalu dalam, maka jonjot-
jonjot plasenta tumbuh diantara otot-otot miometrium (plasenta akreta) atau dapat
pula dijumpai plasenta perkreta yang dapat menimbulkan ruptura uteri spontan.
(2)

Darah ibu yang berada di ruang interviller berasal dari spiral arteries yang
berada di desidua basalis. Pada sistol, darah disemprotkan dengan tekanan 70-80
mmHg ke dalam ruang interviller sampai mencapai lempeng korion (chorionic
plate), yang merupakan pangkal dari kotiledon-kotiledon janin. Darah membasahi
seluruh villi koriales dan kembali perlahan-lahan dengan tekanan 8 mmHg ke
vena-vena desidua.
(5,6)

2.2. Fungsi Placenta
Plasenta sebagai organ yang kompleks, melepaskan berbagai macam hormon
dan enzim ke dalam sirkulasi darah ibu. Selain itu, plasenta juga berfungsi sebagai
Fakultas Kedokteran UWKS
RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo


5
organ transpor untuk pertukaran oksigan dan CO2 antara janin dan ibu. Dapat
dikemukakan bahwa fungsi plasenta adalah sebagai berikut :

Fungsi nutritif (transpor zat-zat makanan bagi janin)
Fungsi ekskresi (mengeluarkan sisa metabolisme janin)
Fungsi respirasi (pertukaran oksigen dan karbondioksida)
Pembentukan hormon
Transpor antibodi, obat-obatan, dan berbagai zat.
(2,5,6)


2.3. Definisi
Koriokarsinoma adalah salah satu jenis dari Penyakit Trofoblastik
Gestasional (PTG) dimana merupakan suatu tumor ganas yang berasal dari sel-sel
sito-trofoblas serta sinsitiotrofloblas (pembentuk plasenta) yang menginvasi
miometrium, merusak jaringan di sekitarnya termasuk pembuluh darah sehingga
menyebabkan perdarahan.
(7)

Koriokarsinoma ialah suatu keganasan, berasal dari jaringan trofoblas dan
kanker yang bersifat agresif, biasanya dari plasenta. Hal ini ditandai dengan
metastase perdarahan yang cepat ke paru-paru.
(8)


Gambar 2. Koriokarsinoma dalam uterus.

Koriokarsinoma adalah tumor ganas yang berasal dari jaringan yang
mengandung trofoblas, seperti: lapisan trofoblas ovum yang sedang tumbuh, vili
dari plasenta, gelembung mola, dan emboli sel-sel trofoblas dimanapun di dalam
tubuh.
(9)

Fakultas Kedokteran UWKS
RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo


6
Korio adalah istilah yang diambil dari vili korionik yaitu salah satu jenis
selaput pada rahim manusia. Istilah Karsinoma merupakan kanker yang berasal
dari sel-sel epithelial. Karena kanker ini merupakan kanker yang berasal dari salah
satu plasenta yaitu korion maka salah satu ciri khusus dari kanker ini adalah
menghasilkan hormon hCG (Human Chorionic Gonadothropin) yang sangat tinggi
bahkan melebihi kadar hCG pada wanita hamil. Koriokarsinoma bisa menyerang
semua wanita yang pernah hamil termasuk wanita yang pernah mengalami mola
hidatidosa. Tidak seperti mola hidatidosa, korikarsinoma bisa menyerang banyak
organ dalam tubuh, seperti hati, limpa, paru-paru, tulang belakang, otak juga
dinding rahim.

2.4. Epidemiologi
Penyakit Trofoblas Gestasional (PTG) adalah spektrum tumor yang
berasal dari proliferasi abnormal jaringan trofoblas plasenta, mencakup mola
hidatidosa (komplit dan parsial), mola invasif, koriokarsinoma, placental site
trophoblastic tumor, dan epithelioid trophoblastic tumor. Keempat bentuk
terakhir termasuk ke dalam kelompok Tumor Trofoblas Gestasional (TTG) yang
dapat menginvasi, bermetastasis, dan menyebabkan kematian bila tidak ditangani.
Studi epidemiologi melaporkan variasi regional yang luas pada insidensi
mola hidatidosa. Studi yang dilakukan di Amerika Utara, Australia, Selandia
Baru, dan Eropa menunjukkan insidensi yang tinggi yaitu 2 dari 1.000 kehamilan.
Negara-negara dengan frekuensi mola hidatidosa tertinggi adalah Mexico, Iran,
dan Indonesia. Sejumlah studi dilakukan untuk mencari hubungan antara insidensi
mola hidatidosa yang lebih tinggi pada kelompok etnis tertentu dengan faktor
genetik dan berbagai faktor lingkungan seperti makanan, defisiensi vitamin A,
kemiskinan, dan virus.
Data tentang insidensi koriokarsinoma lebih jarang ditemukan
dibandingkan dengan mola hidatidosa dan sulit membedakan koriokarsinoma post
molar dari mola invasif. Di Eropa dan Amerika Utara, koriokarsinoma terjadi
pada 1 per 40.000 kehamilan dan 1 per 40 mola hidatidosa, sedangkan di Asia
Fakultas Kedokteran UWKS
RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo


7
Tenggara dan Jepang angka kejadian lebih tinggi yaitu 9,2 dan 3,3 per 40.000
kehamilan.

2.5. Etiologi
Etiologi terjadinya koriokarsinoma belum jelas diketahui. Trofoblas normal
cenderung menjadi invasif dan erosi pembuluh darah berlebih-lebihan. Metastase
sering terjadi lebih dini dan biasanya sering melalui pembuluh darah jarang
melalui getah bening. Tempat metastase yang paling sering adalah paru-paru
75% dan kemudian vagina 50%. Pada beberapa kasus metastase dapat terjadi
pada vulva, ovarium, hepar, ginjal, dan otak.
(10)

Wikipedia, 2009 menyebutkan bahwa koriokarsinoma selama kehamilan bisa
didahului oleh :
Mola hidatidosa (50% kasus)
Aborsi spontan (20% kasus)
Kehamilan ektopik (2% kasus)
Kehamilan normal (20-30% kasus)
(7)


Faktor-faktor yang menyebabkan antara lain:
1. Faktor ovum
Ovum memang sudah patologik.
2. Immunoselektif dari trofoblast
Yaitu dengan kematian fetus, pembuluh darah pada stroma villi menjadi jarang
dan stroma villi menjadi sembab dan akhirnya terjadi hiperplasia sel-sel
trofoblas.
3. Keadaan sosial ekonomi yang rendah
Keadaan sosial ekonomi akan berpengaruh terhadap pemenuhan gizi ibu yang
pada akhirnya akan mempengaruhi pembentukan ovum abnormal yang
mengarah pada terbentuknya mola hidatidosa.
4. Paritas tinggi
Fakultas Kedokteran UWKS
RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo


8
Ibu dengan paritas tinggi, memiliki kemungkinan terjadinya abnormalitas pada
kehamilan berikutnya, sehingga ada kemungkinan kehamilan berkembang
menjadi mola hidatidosa dan berikutnya menjadi koriokarsinoma.
5. Infeksi virus dan faktor kromosom.
(12)


2.6. Patofisiologi
Bentuk tumor trofoblas yang sangat ganas ini dapat dianggap sebagai suatu
karsinoma dari epitel korion, walaupun perilaku pertumbuhan dan metastasisnya
mirip dengan sarkoma. Faktor-faktor yang berperan dalam transformasi keganasan
korion tidak diketahui. Pada koriokarsinoma, kecenderungan trofoblas normal
untuk tumbuh secara invasif dan menyebabkan erosi pembuluh darah sangatlah
besar. Apabila mengenai endometrium, akan terjadi perdarahan, kerontokan dan
infeksi permukaan. Massa jaringan yang terbenam di miometrium dapat meluas
keluar, muncul di uterus sebagai nodul-nodul gelap irreguler yang akhirnya
menembus peritoneum.
Gambaran diagnostik yang penting pada koriokarsinoma, berbeda dengan
mola hidatidosa atau mola invasif adalah tidak adanya pola vilus. Baik unsur
sitotrofoblas maupun sinsitium terlibat, walaupun salah satunya mungkin
predominan. Dijumpai anplasia sel, sering mencolok, tetapi kurang bermanfaat
sebagai kriteria diagnostik pada keganasan trofoblas dibandingkan dengan pada
tumor lain. Pada pemeriksaan hasil kuretase uterus, kesulitan evaluasi sitologis
adalah salah satu faktor penyebab kesalahan diagnosis koriokarsinoma. Sel-sel
trofoblas normal di tempat plasenta secara salah didiagnosis sebagai
koriokarsinoma. Metastasis sering berlangsung dini dan umumnya hematogen
karena afinitas trofoblas terhadap pembuluh darah.
Koriokarsinoma dapat terjadi setelah mola hidatidosa, abortus, kehamilan
ektopik atau kehamilan normal. Tanda tersering, walaupun tidak selalu ada,
adalah perdarahan irreguler setelah masa nifas dini disertai subinvolusi uterus.
Perdarahan dapat kontinu atau intermitten, dengan perdarahan mendadak dan
Fakultas Kedokteran UWKS
RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo


9
kadang-kadang masif. Perforasi uterus akibat pertumbuhan tumor dapat
menyebabkan perdarahan intraperitonium.
Pada banyak kasus, tanda pertama mungkin adalah lesi metastatik. Mungkin
ditemukan tumor vagina atau vulva. Wanita yang bersangkutan mungkin
mengeluh batuk dan sputum berdarah akibat metastasis di paru. Pada beberapa
kasus, di uterus atau pelvis tidak mungkin dijumpai koriokarsinoma karena lesi
aslinya telah lenyap, dan yang tersisa hanya metastasis jauh yang tumbuh aktif.
Apabila tidak diterapi, koriokarsinoma akan berkembang cepat dan pada
mayoritas kasus pasien biasanya akan meninggal dalam beberapa bulan. Kausa
kematian tersering adalah perdarahan di berbagai lokasi.
Pasien di golongkan beresiko tinggi jiika penyakit lebih dari 4 bulan, kadar
gonadotropin serum lebih dari 40.000 mIU/ml, metastasis ke otak atau hati, tumor
timbul setelah kehamilan aterm, atau riwayat kegagalan kemoterapi, namun
menghasilkan anagka kesembuhan tertinggi dengan kemoterapi kombinasi yaitu
menggunakan Etoposide, Metotreksat, Aktinomisin, Siklofosfamid, dan
Vinkristin.
(14)


2.7. Klasifikasi
Klasifikasi klinik Penyakit Trofoblas Ganas ( PTG ) :
1. PTG non metastasis
2. PTG bermetastasis
a. Prognosis baik
hCG < 100.000 IU/urin 24 jam atau < 40.000 IU/ml serum
Simptom < 4 bulan
Tidak ada metastasis di otak, liver
Belum pernah dapat kemoterapi
Bukan berasal dari kehamilan aterm
b. Prognosis buruk
hCG > 100.000 IU/ urin 24 jam atau > 40.000
Simptom > 4 bulan
Fakultas Kedokteran UWKS
RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo


10
Metastasis di otak, liver
Gagal dengan khemoterapi sebelumnya
Didahului kehamilan aterm
(11)


Koriokarsinoma dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam bentuk, yaitu:
a. Koriokarsinoma Villosum
Penyakit ini termasuk ganas tetapi derajat keganasannya lebih rendah.
Sifatnya seperti mola, tetapi dengan daya penetrasi yang lebih besar. Sel-sel
trofoblas dengan villi korialis akan menyusup ke dalam miometrium
kemudian tidak jarang mengadakan perforasi pada dinding uterus dan
menyebabkan perdarahan intraabdominal. Walaupun secara lokal mempunyai
daya invasi yang berlebihan, tetapi penyakit ini jarang disertai metastasis.
Invasif mola berasal dari mola hidatidosa.
b. Koriokarsinoma Non Villosum
Penyakit ini merupakan yang terganas dari penyakit trofoblas. Sebagian besar
didahului oleh mola hidatidosa (83,3%) tetapi dapat pula didahului abortus
atau persalinan biasa masing-masing 7,6%. Tumbuhnya sangat cepat dan
sering menyebabkan metastasis ke organ-organ lain, seperti paru-paru, vulva,
vagina, hepar dan otak. Apabila tidak diobati biasanya pasien meninggal
dalam 1 tahun.
Apabila dibandingkan dengan jenis kanker ginekologik lainnya,
Koriokarsinoma mempunyai sifat yang berbeda, misalnya:
Koriokarsinoma mempunyai periode laten yang dapat diukur, yaitu jarak
waktu antara akhir kehamilan dan terjadinya keganasan
Sering menyerang wanita muda
Dapat sembuh secara tuntas tanpa kehilangan fungsi reproduksi, dengan
pengobatan sitostatika
Dapat sembuh tanpa pengobatan melalui proses regresi spontan.
c. Koriokarsinoma Klinis
Apabila setelah pengeluaran jaringan mola hidatidosa kadar hCG turun
lambat apalagi menetap atau meningkat, maka kasus ini dianggap sebagai
penyakit trofoblas ganas. Artinya ada sel-sel trofoblas yang aktif tumbuh lagi
Fakultas Kedokteran UWKS
RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo


11
di uterus atau di tempat lain (metastasis) dan mengahasilkan hCG. Diagnosis
keganasan tidak ditentukan oleh pemeriksaan histopatologik tetapi oleh
tingginya kadar hCG dan adanya metastasis.

2.8. Stadium Koriokarsinoma
Berdasarkan jauhnya penyebaran koriokarsinoma dibagi menjadi 4, yaitu:
Stadium I, yang terbatas pada uterus
Stadium II, sudah mengalami metastasis ke parametrium, serviks dan vagina
Satadium III, mengalami metastasis ke paru-paru
Stadium IV, metastasis ke oragan lain, seperti usus, hepar atau otak.
Ada beberapa sistem yang digunakan untuk mengkategorikan penyakit
trofoblas ganas. Semua sistem mengkorelasikan antar gejala klinik pasien dan
risiko kegagalan pada kemoterapi. Sistem Skoring FIGO tahun 2000 merupakan
modifikasi sistem skoring WHO.
(13)


Tabel I : Skoring Faktor Risiko Menurut FIGO (WHO) Dengan
Stagging FIGO
Skor faktor risiko
menurut FIGO (WHO)
dengan staging FIGO
0 1 2 4
Usia < 40 40 - -
Kehamilan sebelumnya mola Abortus Aterm -
Interval dengan
kehamilan tersebut
(bulan)
< 4 4 - 6 7 - 12 > 12
Kadar hCG sebelum
terapi (mIU/mL)
< 10 1000 -
10000
> 10000
100000
>
100000
Ukuran tumor terbesar,
termasuk uterus
- 3 - 4 5 cm -
Lokasi metastasis, Paru-paru Limpa, Traktus Otak,
Fakultas Kedokteran UWKS
RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo


12
termasuk uterus ginjal gastrointesti
nal
hepar
Jumlah metastasis yang
diidentifikasi
- 1 - 4 5 - 8 > 8
Kegagalan kemoterapi
sebelumnya
- - Agen
tunggal
Agen
multipel
Klasifikasinya adalah sebagai berikut :
(13)

1. Risiko rendah, skor total 4
2. Risiko sedang, skor total 5 - 7
3. Risiko tinggi, skor total 8

2.9. Tanda dan Gejala Koriokarsinoma
Karena koriokarsinoma merupakan penyakit yang bisa menyerang banyak
bagian tubuh manusia, maka klien pun akan merasakan banyak tanda dan gejala,
antara lain:
a. Peningkatan jumlah kadar -hCG
Kadar -hCG normal pada tiap umur kehamilan berbeda, dari 5-25 IU/ml
Kadar -hCG yang dianggap mola < 100.000 IU/urine 24 jam
Kadar -hCG yang dianggap kanker adalah > 100.000 IU/urine 24 jam >
40.000 u/ml dalam interval lebih dari 4 bulan
b. Perdarahan per vaginam
c. Batuk berdarah dan sesak nafas
d. X-ray dada menunjukkan adanya perembesan cairan di ujung kedua paru-paru
e. Sakit kepala dan hemiplegi
f. Sakit tulang belakang
g. Perut bengkak dan sklera menjadi kuning
h. Hilang selera makan dan berat badan turun.
(12)



Fakultas Kedokteran UWKS
RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo


13
Gambar 3. X-ray dada menunjukkan adanya perembesan cairan di ujung
kedua paru-paru.

2.10. Manifestasi Klinis
Gejala klinis :
1. Rahim membesar
2. Perdarahan dan syok
3. Ekspulsi gelembung mola
4. Anemis dan gejala sekunder.
Anamnesa/keluhan :
1. Terdapat gejala-gejala hamil muda yang kadang-kadang lebih parah
dari kehamilan biasa, seperti:
2. Kadang ada tanda toksemia gravidarum
3. Terdapat perdarahan yang sedikit atau banyak, tidak teratur, bewarna
tengguli tua atau kecoklatan
4. Pembesaran uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan seharusnya
(lebih besar)
5. Keluarnya jaringan mola seperti buah anggur atau mata ikan (tidak
selalu ada) yang merupakan diagnosa pasti.
Pemeriksaan dalam
Terdapat pembesaran rahim, rahim terasa lembek, tidak ada bagian-bagian
janin, terdapat perdarahan dan jaringan dalam kanalis servikalis dan
cavum vagina, serta evaluasi keadaan serviks.
(14)
a. Inspeksi
1. Muka dan kadang-kadang badan terlihat pucat kekuning-kuningan
yang disebut muka mola (mola face).
2. Kalau gelembung mola keluar dapat dilihat dengan jelas.
(14)

b. Palpasi
Fakultas Kedokteran UWKS
RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo


14
1. Uterus lebih besar/membesar tidak sesuai dengan tuanya
kehamilan, teraba lembek
2. Tidak teraba bagian-bagian janin dan ballottement juga gerakan
janin
3. Adanya fenomena harmonica: darah dan gelembung mola keluar
dan fundus uteri turun, lalu naik lagi karena terkumpulnya darah
baru.
(14)


c. Auskultasi
1. Tidak terdengar bunyi DJJ
2. Terdengan bising dan bunyi khas.
(14)

Reaksi kehamilan
Karena kadar HCG yang tinggi maka uji biologik dan uji imunologik (galli
mainini dan planotest) akan positif setelah pengenceran (titrasi).
a. Galli mainini 1/3000 (+) maka suspect mola hidatidosa atau
koriokarsinoma
b. Galli mainini 1/2000 (+) maka kemungkinan mola atau hamil kembar.
(14)


2.11. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Menurut The International Federation of Gynecology and Oncology (FIGO)
menetapkan beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk mendiagnosis PTG
termasuk koriokarsinoma adalah :
1. Menetapnya kadar -hCG pada empat kali penilaian dalam 3 minggu atau
lebih (misalnya hari 1,7, 14 dan 21).
2. Kadar -hGC meningkat pada selama tiga minggu berturut-turut atau lebih
(misalnya hari 1,7 dan 14).
3. Tetap terdeteksinya -hCG sampai 6 bulan pasca evaluasi mola.
4. Gambaran patologi anatomi adalah koriokarsinoma.
(15)


Fakultas Kedokteran UWKS
RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo


15
b. Pemeriksaan Penunjang
a) Klinis :
Untuk kasus koriokarsinoma yang berasal dari MHK, diagnosis lebih
mudah dibuat karena sebelumnya mereka pasti sudah diberi informasi
tentang adanya kemungkinan keganasan, dan diharuskan untuk
melakukan follow up selama satu tahun. Bila selama follow up
ditemukan distorsi dari kurva regresi -hCG sebelum minggu ke-12,
atau kenaikan lagi setelah pernah mencapai kadar normal,
kemungkinan adanaya keganasan sudah dapat dipikirkan, hanya saja
tidak langsung disebut sebagai koriokarsinoma, melainkan Persistent
Trophoblastic Disease (PTD), karena tidak dilakukan pemeriksaan
PA.
Untuk kasus yang didahului oleh jenis kehamilan lain seperti abortus,
kehamilan ektopik, atau aterm, diagnosis lebih sulit ditegakkan.
Untuk itu, Acosta Sison mengusulkan kriteria Hbes, yang berarti :
(1)

H : having expelled a product of conception
B : Bleeding
es : enlargement and softness of the uterus
Jadi, menurut Acosta Sison, pada semua wanita yang pernah mengeluarkan
hasil kehamilan, apapun jenisnya, kemudian mengalami perdarahan
pervaginam, yang disertai adanya subinvolusi uterus, maka wanita tersebut
patut dicurigai adanya keganasan. Apalagi disertai dengan adanya kenaikan
kadar B-hCG atau tanda-tanda metastasis lainnya.
(16)

b) Pemeriksaan laboratorium :
o adanya peninggian kadar -hCG
o sebaiknya setiap kasus koriokarsinoma, diperiksa juga T3, T4, dan
TSH sehunbungan dengan adanya penyulit tirotoksikosis.
(16)

c) USG :
o biasanya akan tampak masa kompleks dengan disertai adanya
neovaskularisasi
o kadang dapat juga menunjukkan adanya ancaman perforasi.
(16)

d) Diagnosis pasti :
Fakultas Kedokteran UWKS
RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo


16
o ditentukan juga dari hasil PA. Pada umumnya gambaran PA nya
menunjukkan adanya sel-sel trofoblas yang atipik, tanpa vili korialis,
disertai hemoragi dan nekrosis.
(16)



Gambar 4. Gambaran mikroskopis Koriokarsinoma

2.12. Penatalaksanaan
Untuk penatalaksanaan terapi korikarsinoma bisa dilakukan dengan :
a. Kemoterapi
Koriokarsinoma merupakan tumor yang sensitif terhadap obat-obatan
kemoterapi, dari hasil survei menunjukkan bahwa dengan kemoterapi pasien
dengan koriokarsinoma mengalami kesembuhan 90-95%.
Terapi dengan agen single Methotrexate atau Actinomycin D
Terapi ini digunakan untuk koriokarsinoma yang belum bermetastase
meluas ke seluruh tubuh atau dengan skala ringan.
Terapi kombinasi EMACO (Etoposide, Methotrexate, Actinomycin D,
Cyclosphosphamide dan Oncovin)
Terapi komplek ini digunakan untuk koriokarsinoma dengan skala sedang
atau berat.

Fakultas Kedokteran UWKS
RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo


17
b. Operasi
Tujuan operasi adalah :
1. mengontrol perdarahan
2. mengurangi atau menghilangkan masa tumor
3. mengurangi kompresi terhadap organ.

Operasi hanya merupakan tindakan tambahan saja, karena pada prinsipnya kita
ingin mempertahankan fungsi reproduksi. Indikasi dilakukannya tindakan
operasi adalah :
a) indikasi absolut :
perdarahan pervaginam yang tidak terkontrol secara medikamentosa
perforasi uterus, terutama bila disertai akut abdomen
b) indikasi relatif
uterus lebih besar dari 14 minggu
ancaman perforasi uterus, berdasarkan hasil USG
kemoterapi gagal
jumlah anak cukup
Histerektomi bukanlah satu-satunya jenis operasi pada koriokarsinoma.
Pada keadaan dimana masa tumor tidak terlalu besar, soliter, dan berkapsul
yang jelas, dapat dipikirkan untuk melakukan reseksi parsial uterus, terutama
yang masih menginginkan fungsi repoduksi.
Jenis operasi lain yang bisa dilakukan adalah ekstirpasi metastasis di
vulva/vagina, lobektomi, atau kraniotomi untuk metastasis di paru-paru dan
otak yang resisten terhadap kemoterapi. Apapun jenis operasinya, selalu harus
diikuti dengan pemberian kemoterapi.
Soper membagi tindakan histerektomi menjadi dua bagian, yaitu
histerektomi primer, bila dilakukan sebelum pemberian kemoterapi, dan
histerektomi sekunder dilakukan bila kemoterapi pertama dianggap gagal.
Histerektomi primer akan lebih berhasil jika dilakukan pada golongan resiko
rendah yang sudah tidak memerlukan lagi fungsi reproduksinya.
Fakultas Kedokteran UWKS
RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo


18
Untuk tindakan ekstirpasi, yang umum dilakukan adalah dengan membuat
pullstring ligation pada dasar tangkai, baru kemudian memotong tangkai
tersebut diatas ikatan tadi. Cara ini banyak dilakukan pada kasus dengan
tangkai yang tidak terlalu besar, dan hubungannya dengan dinding vagina tidak
terlalu erat. Teknik ini akan sukar jika metastasis pada vaginanya berdasar
lebar. Untuk itu, sebaiknya mukosa vagina diatas tumor dibuka, lalu masa
tersebut dikeluarkan secara digital. Setelah perdarahan dirawat, mukosa vagina
ditutup kembali. Hati-hati dengan perdarahan, karena banyak metastasis
berdasar lebar yang disertai vaskularisasi yang berlebihan. Karena itu, setelah
tindakan ekstirpasi selalu harus dipasang tampon vagina selama 24 jam.
(16)


c. Radiasi
Radioterapi banyak digunakan pada stadium IV dengan metastasis di otak.
Begitu diagnosis ditegakkan, langsung dilakukan whole brain irradiation,
dengan dosis 3000 cGy. Dosis tersebut diberikan dalam 10 kali fraksi.
Radiasi ini sebaiknya diberikan bersamaan dengan kemoterapi, karena radiasi
berfungsi sebagai hemostatika dan tumorisidal untuk mengurangi resiko
terjadinya perdarahan spontan.

2.13. Prognosis
Koriokarsinoma merupakan varian TTG yang paling ganas. Dahulu, wanita
yang menderita penyakit ini hampir selalu diikuti dengan kematian. Namun,
sekarang di negara maju, 90% dari kasus koriokarsinoma dapat diobati secara
tuntas.
Fakultas Kedokteran UWKS 19
RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo


BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Koriokarsinoma adalah salah satu jenis dari Penyakit Trofoblastik Gestasional
(PTG) dimana merupakan suatu tumor ganas yang berasal dari sel-sel sito-trofoblas
serta sinsitiotrofloblas (pembentuk plasenta) yang menginvasi miometrium, merusak
jaringan di sekitarnya termasuk pembuluh darah sehingga menyebabkan perdarahan.
Pasien dengan koriokarsinoma mengalami kesembuhan 90-95%. Terapi dapat
dilakukan dengan agen single methotrexate atau actinomycin D maupun dengan terapi
kombinasi EMACO (Etoposide, Methotrexate, Actinomycin D, Ayclosphosphamide
dan Oncovin), jika karsinoma sudah menginvasi miometrium maka dapat dilakukan
histerektomi.















Fakultas Kedokteran UWKS 20
RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo


DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham F. G, Kenneth L, Steven B, John H, Larry G, Katharine W. 2005.
Williams Obstetrics: Implantation, Embryogenesis, and Placental
Development;; 22
nd
ed; McGraw Hill: Philadelphia; Hlm 49-82.
2. Winkjosastro H. 1992. Plasentasi dan Likuor Amnii; Ilmu Kebidanan;
YBPSP:Jakarta; hlm 66-73.
3. Knuppel R. A. 1998. Current Obstetric and Gynecologic Diagnosis and
Treatment: Maternal-Fetal-Placental Unit-;Fetal and Early NeonatalPhysiology.
USA. Appleton and Lange Hlm 155-63.
4. Gest T. 1999. Placenta and Extraembryonic Membranes. diakses tanggal 21 Juli
2012 dari www.med.umich.edu/lrc/coursepages/embryo /links.html.
5. Cunningham F. G, Kenneth L, Steven B, John H, Larry G, Katharine W. 2005.
Williams Obstetrics: Implantation, Embryogenesis, and Placental
Development;; 22
nd
ed; McGraw Hill: Philadelphia; Hlm 619-26.
6. Menton D. 2007. The Placenta. Diakses tanggal 3 April 2014 dari
http://www.answersingenesis.org/assets/images/articles/am/v2/n1/placenta-fig-
4.gif.
7. H. Soekimin. Penyakit Trofoblas Ganas. 24 Maret 2005. Diakses tanggal 3
April 2014 dari www.repository.usu.ac.id/bitstream/.../2042/3/patologi-
soekimin3.pdf.txt.
8. Anonymus.Koriokarsinoma. http://www.en.wikipedia.org/wiki/Choriocar-
cinoma. Diakses tanggal 4 April 2014.
9. Dito A, Koriokarsinoma. 6 Juni 2008. Diakses tanggal 4 April 2014 dari
www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=3jd...thn=2008...23.
10. Cunningham, MacDonald, Gant. Gestationnal Trofoblastic Tumors, Williams
Obstetrics 9th. 1990:746-50.
11. Anonymus. Tumor Trofoblastik Plasental Site. Diakses tanggal 3 April 2014
dari www. digilib.unsri.ac.id/download/PSTT.pdf.
12. Pratidina Lestiyani. Khoriokarsinoma. Diakses tanggal 5 April 2014 dari
http://pratidinalestiyani.wordpress.com/2011/06/15/khoriokarsinoma.