Anda di halaman 1dari 7

PELABUHAN

LATAR BELAKANG
Indonesia sebagai Negara kepulauan, maka peran angkutan laut merupakan hal yang sangat penting.
Angkutan barang melalui laut sangat efisien disbanding moda angkutan darat dan udara. Kapal
mempunyai daya angkut yang jauh lebih besar dari pada kendaraan darat dan udara. Hampir semua
barang import
ekspor dan muatan dalam jumlah sangat besar diangkut menggunakan kapal laut. Untuk mendukung
sarana angkutan laut diperlukan prasarana yang berupa pelabuhan, tempat berlabuh kapal untuk
melakukan berbagai kegiatan seperti menaik turunkan penumpang, bongkar muat barang, pengisian
bahan bakar dan aor tawar, melakukan reparasi, mengadakan dan sebagainya.

DEFINISI DAN FUNGSI PELABUHAN

DEFINISI
Pelabuhan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan disekitarnya dengan batas-batas
tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang digunakan sebagai tempat
bersandar, berlabuh, naik turun penumpang, bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas
keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan mitra dan
antar moda transportasi (UU No. 21 Tahun 1992 Bab I Pasal 1)
]Kepelabuhanan adalah meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan penyelenggaraan pelabuhan dan
kegiatan lainnya dalam melaksanakan fungsi pelabuhan untuk menunjang kelancaran keamanan dan
ketertiban arus lalu lintas kapal, penumpang dan barang, keselamatan berlayar serta tempat
perpindahan intra antar moda ( UU No. 21 Tahun 1992 Pasal 1)

FUNGSI
1. Sebagai Pintu gerbang (gateway)
Pelabuhan berfungsi sebagai pintu gerbang (gateway) suatu Negara atau daerah karena suatu kapal
dapat memasuki suatu Negara daerah melalui pelabuhan Negara atau daerah yang bersangkutan
2. Sebagai penghubung (interface)
Pelabuhan berfungsi sebagai penghubung (interface), maksudnya bahwa pelabuhan dengan segala
fasilitasnya yang tersedia dapat melakukan kegiatan pemindahan muatan dari angkutan laut (kapal) ke
angkutan darat atau sebaliknya
3. Sebagai mata rantai (link)
Pelabuhan berfungsi sebagai mata rantai (link), maksudnya adalah bahwa pelabuhan merupakan mata
rantai dari proses transportasi (pengangkutan) muatan dari daerah produsen (asal barang) sampai ke
daerah konsumen (penerima barang)
4. Sebagai kawasan industry (industry entity)
Pelabuhan sebagai kawasan industry (industry entity) maksudnya adalah karena pelabuhan merupakan
lingkungan kerja yang bersifat dinamis, maka penyediaan berbagai fasilitas pelabuhan perlu
dikembangkan termasuk fasilitas indutri, terutama industry yang ada hubungannya dengan perkapalan
dan transportasi laut lainnya

JENIS JENIS PELABUHAN
Dintinjau dari sudut teknis :
1. Pelabuhan alam adalah suatu daerah yang terbentuk secara alami yang menjurus ke dalam
terlindung dari suatu pulau. Contoh Dumai, Cilacap, New York, Hamburg, dsb
2. Pelabuhan buatan adalah suatu daerah yang dibuat manusia sedemikian sehingga terlindung
terhadap ombak, badai, arus yang memungkinkan kapal dapat merapat. Contoh Tanjung Priok,
Colombo, dsb.
3. Pelabuhan Semi Alam adalah suatu daerah yang memang terbentuk secara alami dan sebagian lain
disbuat oleh manusia. Contoh Palembang
Ditinjau dari sudut bina Penguasaan / Manajemen Pelabuhan :
1. Pelabuhan golongan (a) ditinjau dari jenis pemungutan jasa - jasa meliputi :
a. Pelabuhan yang diusahakan ialah pelabuhan dalam pembinaan pemerintah yang sesuai dengan
kondisi kemampuan dan pengembangan potensinya, diusahakan menurut azas hokum perusahaan
b. Pelabuhan yang tidak diusahakan ialah pelabuhan dalam pembinaan pemerintah yang sesuai
kondisi kemampuan dan pengembangan potensinya masih sesuai kondisi kamampuan dan
pengembangan potensinya masih menonjol sifat overheid zog (perongsokan, eksploitasi, dan
pengeluaran tambahan)
c. Pelabuhan otonom ialah pelabuhan yang disewakan wewenangnya untuk mengatur diri sendiri.
2. Pelabuhan golongan (b) ditinjau dari perdagangan, meliputi :
a. Pelabuhan sungai (local) ialah pelabuhan yang terbuka bagi jenis perdagangan di lingkungan sungai
/ daerah setempat
b. Pelabuhan pantai (interinsuler) ialah pelabuhan yang terbuka bagi jenis perdagangan dalam negeri
c. Pelabuhan laut (internasional) ialah pelabuhan yang terbuka untuk jenis perdagangan dalam dan
luar negeri yang menganut (UU Pelayaran Indonesia, UU No 17 Tahun 2008 dan PP No. 61 Tahun 2009
tentang Kepelabuhan)
3. Pelabuhan golongan (c) ditinjau dari jenis pelayanan kepada kapal dan muatannya, meliputi :
a. Pelabuhan utama (mayor port) yaitu merupakan pelabuhan yang melayani kapal kapal besar dan
merupakan pelabuhan pengumpul / embagi muatan.
b. Pelabuhan cabang (feeder port) yaitu merupakan pelabuhan yang melayani kapal kapal kecil yang
mendukung pelabuhan utama.
Ditinjau dari kegiatan khusus, meliputi :
a. Pelabuhan umum yaitu merupakan pelabuhan yang diselenggarakan untuk kepentingan
masyarakat yang secara teknis dikelola oleh badan usaha
b. Pelabuhan industry yaitu merupakan pelabuhan sebagai bongkar muat barang industry
c. Pelabuhan minyak / tambang yaitu pelabuhan yang digunakan untuk bongkar muat minyak /
barang tambang
d. Pelabuhan militer yaitu merupakan pelabuhan yang diselenggarakan untuk kepentingan militer
yang secara teknisdikelola oleh militer

SARANA DAN PRASARANA ANGKUTAN LAUT
SARANA (Kapal Kapal laut)
Secara geografis besar teknologi peralatan bongkar muat dapat di bagi sebagai berikut :
1. Lo / Lo (Lift On / Lift off) yaitu penanganan muatan dimana pergerakan pemindahan muatan
dilakukan secara vertical (tegak lurus) karena besar muatan yang berat, maka gerakan ini hanya
dimungkinkan dengan menyediakan krein krien khusus)
2. Ro /Ro (Roll On / Roll Off) yaitu jenis kapal dimana pergerakan pemindahan muatan secara
horizontal (mendatar. Tenaga pemindah ini dapat dilakukan dengan tenaga manusia atau mesin
menyatu diri, misalnya truk atau lepas misalnya dengan Luf (Lift Up Frame)
3. Hisap (suction) yakni jenis kapal curah dimana penanganan muatannya dengan cara menghisap /
memompa melalui pipa, pada jenis muatan benda padat (butiran, tepung) biasanya selain penghisapan
dikombinasikan dengan peralatan ban berjalan (convertor belt). Termasuk pada jenis ini, yaitu kapal
kapal curah yang menangani.
4. Khusus (special) yaitu jenis kapal curah lain yang menangani satu jenis muatan, biasanya dikaitkan
dengan sebuah industry misalnya kapal kayu gelondongan (logs carier), peti kemas (container ship),
kapal bijih besi (bulk ore ship).
Jenis jenis kapal kerja :
1. Kapal kapal kerja (working boats) misalnya kapal tunda (tug boat), kapal dorong (pusher boat),
kapal suplai (supplay vessel), kapal bantu penyelamatan (salvage vessel), kapal krein apung (floating
crane boat), pemancang tiang apung (flating pilling boat)
2. Kapal kapal keruk (dredger) dengan jenis jenis pokok misalnya kapal kapal timba (bucket
dredger), kapal kapal cakram (grap / depper dredger), kapal kapal pemotong tanah (cutter dredger),
kapal kapal pemotong dan penghisap (cutter suction dredger), kapal kapal penghisap dengan
lambung (suction hopper derdger).

PRASARANA (Fasilitas Pelabuhan)
Untuk memperlancar tugas tugasnya dan ditinjau dari segi baerhasil melaksanakan pelayanan dalam
menunjang perdaganyan (arus barang / penumpang), maka pelabuhan secara operasional didukung
oleh:
1. Kapal kapal kerja, kapal tunda, kapal keruk, dan sebagainya
2. Sistem telekomunikasi
3. Sistem jaringan jalan dengan daerah pendukung (pendalaman) yaitu jalan raya dan atau jalan
kereta api
4. Sistem jaringan peayaran (route system)

ARUS PASANG SURUT DAN PENGENDAPAN
Perubahan taraf permukaan air laut akibat pasang surut di beberapa lokasi bumi yang berbeda
mengakibatkan pergerakan air secara horizontal. Perpindahan air di bawah permukaan ini umumnya
disebut arus pasang surut (tidal current / stream)
Sebab sebab sedimentasi :
1. Akibat arus (current effect, vortex pada mulut pelabuhan karena terjadinya perubahan energy)
2. Akibat pasang surut (Pada saat pasang, muka air pasang masuk ke dalam kolam)
3. Akibat berat jenis (density effect, pada mulut pelabuhan terdapat perbedaan berat jenis air laut
dan air tawar yang mengandung lumpur)

TRANSFORMASI GELOMBANG
Dalam perjalanannya menuju tepian pantai,gelombang mengalami beberapa proses perubahan tinggi
gelombang seperti pada proses pendangkalan gelombang (wave shoaling), proses refraksi gelombang
(wave refraction), proses difraksi gelombang (wave diffraction) sebelum gelombang tersebut pecah
(wave breaking).
1. Proses pendangkalan gelombang adalah proses berkurangnya tinggi gelombang akibat perubahan
kedalaman
2. Kecepatan gerak gelombang juga berkurang seiring dengan pengurangan kedalaman dasar laut
sehingga menyebabkan puncak gelombang yang ada di air dangkal bergerak lebih lambat dibandingkan
puncak gelombang yang berada di perairan yang lebih dalam. Terjadilah pembelokanarah gerak puncak
gelombang mengikuti bentuk kontur kedalaman laut dimana terjadi juga perubahan tingi gelombang,
maka proses perubahan arah ini disebut refraksi gelombang.
3. Difraksi gelombang adalah proses pemindahan energy gelombang kea rah daerah yang terlindungi
oleh pulau, bukit batu / karang yang menjorok ke laut atau bangunan pantai.

Gelbang pecah :
1. Spilling biasanya terjadi apabila gelombang dengan kemiringan kecil menuju ke pantai yang datar
(kemiringan kecil). Gelombang mulai pecah pada jarak yang cukup jauh dari pantai dan pecahnya terjadi
berangsur-angsur. Buih terjadi pada puncak gelombang selama mengalami pecah dan meninggalkan
suatu lapis tipis buih pada jarak yang cukup panjang
2. Plunging, apabila kemiringan gelombang dan dasar bertambah , gelombang akan pecah dan
puncak gelombang akan memutar dengan massa air pada puncak gelombang akan terjun ke depan.
Energi gelombang pecah dihancurkan dalam turbulensi, sebagian kecil dipantulkan pantai ke laut, dan
tidak banyak gelombang baru terjadi pada air yang lebih dangkal.

3. Surging terjadi pada pantai dengan kemiringan yang sangat besar seperti yang terjadi pada pantai
berkarang. Daerah gelombang pecah sangat sempit, dan sebagian besar energi dipantulkan kembali ke
laut dalam. Gelombang pecah tipe surging ini mirip dengan plunging, tetapi sebelum puncaknya terjun,
dasar gelombang sudah pecah.
Beberapa bentuk dasar dermaga :
1. Bentuk dermaga memanjang
2. Bentuk dermaga menyerupai jari (finger type wharf)

Kedalaman kolam pelabuhan dan taraf (Niveuu) dermaga
Pada umumnya kedalaman dari dasar kolam pelabuhan ditetapkan berdasarkan syarat maksimum
(maxsimum draft) kapal yang bertambat ditambah dengan jarak aman (clearance) sebesar 0,80 1,00 m
di bawah luas kapal, jarak aman ini ditentukan berdasarkan ketentuan operasional pelabuhan
(penambatan kapal dengan / tanpa kapal tunda) dan konstruksi dermaga. Taraf dermaga ditetapkan
antara 0,50 1,00 M di atas MHWS sesuai dengan besarnya kapal

Penentuan Lebar dermaga
a. Pelabuhan muatan umum
Tipe pelabuhan ini biasanya dipakai untuk bongkar muat dengan cara lama (konvensional). Disebabkan
adanya kecenderungan bertambah besarnya ukuran kapal dan cara bongkar muat yang dilakukan (keran
kapal, keran dermaga) atau fasilitas angkut yang dipakai (truk, gerbong kereta api) maka ukuran apron
dengan berkecenderungan pula makin diperlebar pada saat ini umumnya diambil 3,00 25,00 m,
demikian pula ukuran gudang gudang transito yang melayani penyimpanan barang ekspor / impor
cenderung makin diperlebar dan sedapat mungkin ditengah tanpa ada hambatan tiang.
b. Pelabuhan muatan cair
Tipe pelabuhan ini tidak memerlukan lebar dermaga yang besar, karena penanganan muatan dilakukan
dengan transport melalui pipa padanya dibutuhkan rumah pompa hisap / tekan.
c. Pelabuhan muatan curah padat
Jenis pelabuhan ini tergantung dari pada jenis muatan yang dilayani, misalnya semen, pupuk, jagung,
gandum dan lain lain. Ukuran dari pelabuhan ini didasarkan atas peralatan yang digunakan. Biasanya
suatu kombinasi dari peralatan penghisap, escalator dan elevator.
d. Pelabuhan peti kemas
Pada pelabuhan ini dikenal suatu apron yang menjadi satu bagian dengan tempat penimbunan terbuka
yang luas, yang diperlukan untuk gerakan peti kemas peti kemas. Peti kemas ini berfungsi pula sebagai
gudang yang dapat dipisahkan. Panjang dermaga untuk satu kapal peti kemas adalah 200,00 m 250,00
m. luas dari lapangan terbuka kurang lebih 40.000m persegi dan bila perlu ditambah dengan stasiun
pengemasan peti kemas.

Dalam merencanakan gudang transito di pelabuhan maka perlu diperhatikan beberapa hal kriteria :
a. Janis barang yang disimpan yaitu apakah merupakan barang umum atau khusus. Bagi barang yang
mudah terbakar perlu disimpan ditempat khusus
b. Penanganan dari barang dari dan ke gudang dapat ditangani dengan tenaga manusia atau mekanis
c. Besar gudang harus dapat menyimpan dengan jumlah minimal disesuaikan dalam 3 hari kerja atau
untuk barang ekspor 1/3 dari jumlah di gudang dapat diangkut kapal pada masa 1 hari kerja
d. Muatan pada lantai gudang tidak melebihi dari yang direncanakan misalnya 3,00 ton/m persegi
e. Besar kapal yang diperkrakan bersandar untuk melakukan bongkar muat muatan.
Dengan dasar kriteria di atas maka dibangun gudang dengan ukuran bentang (sebaiknya tanpa tiang)
antara 5,00 100,00m dengan luas gudang transito biasanya berkisar antara 20,00 30,00 m persegi

Bentuk gudang harus direncanakan sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Lalu lintas dan pergerakan muatan di dalam dan di luar gudang harus lancer\
b. Ukuran pintu minimal harus 4,00m dan tinggi minimum 3,00 m, di dalam gudang hendaknya bebas
hambatan
c. Penerangan baik di siangmaupun dimalam hari harus baik, demikian pula udara lintas perlu
diperhatikan tetapi aman terhadap air hujan
d. Kemiringan lantai harus menjamin tidak tergenangnya air di dalam gudang dan barang dapat
ditumpuk sebaik baiknya
e. Kekuatan daya dukung lantai gedung minimal untuk 1000 kg/m persegi
f. Terjaminnya gedung akan berbahaya kebakaran dan pencurian

Jalan yang menghubungkan dermaga / gudang dengan jaringan jalan di luar pelabuhan di atur dengan
keras jalan 1 dan minimal 2 jalur disesuaikan dengan intensitas ke luar masuknya muatan pelabuhan.
Disarankan lebar minimal adalah 8,00 m