Anda di halaman 1dari 120

BAB I

PENDAHULUAN

1-1. Definisi Bendung


Bendung adalah bangunan pelimpah melintang sungai yang memberikan tinggi air
minimum kepada bangunan pengambilan untuk keperluan irigasi. Bendung merupakan
penghalang selama terjadinya banjir dan dapat menyebabkan genangan luas di daerahdaerah hulu bendung.

1-2.

Bagian-bagian bendung

1-2-1. Tubuh Bendung


Bagian utama bendung adalah tubuh bendung. Dalam perencanaan bendung akan
dihitung berapa lebar efektif tubuh bendung dan berapa elevasi dari mercu bendung yang
merupakan bagian dari tubuh bendung. Tubuh bendung memiliki beberapa model bentuk,
yaitu :

Tipe Ogee
Tipe Bulat

1-2-2. Bangunan Pengambilan dan Pembilasan


Bangunan pengambil merupakan sebuah bangunan berupa pintu air. Air irigasi
dibelokkan dari sungai melalui bangunan ini (pengambil) menuju ke saluran primer yang
letaknya berada pada sisi kiri atau sisi kanan sungai. Pertimbangan utama dalam
merencanakan sebuah bangunan pengambilan adalah debit rencana dan pengelakkan
sedimen.
Bangunan pembilas adalah bangunan yang berguna untuk mencegah masuknya bahan
sedimen kasar ke dalam jaringan irigasi. Bangunan pembilas ditempatkan di hilir
pengambilan. Pembilas direncanakan sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.

Pembilas pada tubuh bendung debit pengambilan


Pembilas bawah (under sluice)
Shunt under sluice
Pembilas bawah tipe boks

1-2-3. Kantong Lumpur


Kantong lumpur merupakan bangunan yang berfungsi mengendapkan fraksi-fraksi
sedimen yang lebih besar dari fraksi pasir halus (0,06-0,07) mm dan biasanya ditempatkan
persis di sebelah hilir pengambilan.

1-2-4. Kolam Olak


Kolam Olak meupakan bangunan yang berada di hilir bendung. Kolam olak berfungsi
untuk meredam energi air yang ditimbulkan oleh loncatan air yang terjadi ketika aliran air
melewati bendung. Kolam olak juga berfungsi untuk meminimalkan terjadinya gerusan atau
erosi pada hilir bendung.

1-2-5. Tanggul pengaman


Tanggul pengaman digunakan untuk melindungi daerah-daerah di sekitar bendung
dari banjir yang disebabkan oleh luapan-luapan aliran sungai. Karena fungsinya untuk
melindungi daerah di sekitar bendung, maka kekuatan dan keamanan tanggul harus benarbenar diselidiki dan direncanakan sebaik-baiknya.

1-2-6. Pekerjaan Pengaturan Sungai


Pembuatan bangunan-bangunan khusus di sekitar bangunan utama untuk menjaga
agar bangunan tetap berfungsi terdiri dari:
a. Pekerjaan dan pengaturan sungai guna melindungi bangunan terhadap kerusakan
akibat penggerusan dan sedimentasi. Pekerjaan ini umumnya berupa krib, matras
batu, pasangan batu kosong, dan dinding pengaruh.
b. Tanggul banjir untuk melindungi lahan yang berdekatan terhadap genangan akibat
banjir.
c. Saringan bongkah untuk melindungi pengambilan/pembilas bawah agar bongkah
tidak menyumbat selama terjadi banjir.
d. Tanggul penutup untuk menutup bagian sungai lama atau bila bangunan pengelak
dibuat di kapur, untuk mengelakkan sungai melalui bangunan tersebut.

1-2-7. Bangunan Pelengkap


Bangunan pelengkap merupakan perlengkapan yang ditambahkan ke bangunan utama
untuk keperluan.
a. Pengukuran debit dan muka air di sungai maupun di saluran.
b. Pengoperasian pintu

c. Peralatan komunikasi, tempat teduh, serta perumahan untuk tenaga eksploitasi,


gedung, dan ruang kerja untuk eksploitasi dan pemeliharaan.
d. Jembatan di atas bendung, agar seluruh bangunan utama mudah dijangkau.
e. Instalasi tenaga air mikro (mini) tergantung pada hasil evaluasi ekonomi serta
kemungkinan hidrolik. Instalasi ini bisa dibangun di dalam bangunan pengelak atau di
ujung kantong lumpur atau di awal saluran.

Bab II
PERHITUNGAN DEBIT ANDALAN

Penjelasan umum daerah bendung


Keadaan Topografi
Topografi pada daerah yang akan direncanakan sangat mempengaruhi perencanaan biaya
pelaksanaan bangunan utama :
Harus cukup tempat di tepi sungai untuk membuat kompleks atau bangunan utama
termasuk kantong lumpur dan bangunan bangunan pembilas
Topografi sangat mempengaruhi panjang serta tata letak tanggul banjir dan tanggul
penutup kalau diperlukan
Topografi berpengaruh terhadap perencanaan trase jalan saluran primer agar tidak terlalu
mahal
Adapun keadaan topografi perencanaan bendung ini sebagai berikut :
Elevasi dasar sungai rencana bendung

910 m

Panjang Saluran dari rencana bendung sampai


lokasi sawah

9300 m

Kemiringan sungai rata-rata di lokasi rencana


bending

0.00045 m

Luas areal sawah sebelah kanan

540 Ha

Luas areal sawah sebelah kiri

920 Ha

Elevasi sawah tertinggi yang akan dialiri

915 m

Elevasi sawah terendah yang akan dialiri

901 m

Tinggi genangan air di sawah

0.15 m

Lebar rata-rata sungai di lokasi rencana


bending

40 m

Kemiringan talud/tebing sungai di lokasi


rencana bending

1 : 1,7

Kegempaan
Dari peta zona seismik untuk perencanaan bangunan tahan gempa diperoleh:
Percepatan gempa dasar

167 cm/s2

Percepatan gempa rencana

ad nac.z

Koefisien gempa

E=ad/g

Gaya horizontal

He = E.G

Koefisien jenis tanah

n=1,54 ; m=0.87

Faktor yang bergantung pada letak


geografis

Z = 0,61

Mekanika Tanah
Penyelidikan di lapangan dilakukan dengan pekerjaan sondir, bor tangan dan tes pit, field
permeability dan hasil laboratorium adalah sebagai berikut:

Kedalaman 0 0,2 m adalah top soil endapan sedimen sungai


Kedalaman 0,2 1,0 m adalah lempung dan pasir lembek hitam abu-abu
Kedalaman 1,0 2,2 m adalah lempung berpasir abu-abu
Kedalaman 2,2 2,6 m pasir sedang sampai kasar abu-abu kehitam-hitaman
Kedalaman 2,6 4,6 m adalah pasir sedang dan kasar bercampur kerikil

Klimatologi
Data kelembaban udara rata-rata dan penyinaran matahari rata-rata:
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember

Kelembaban Udara (%)


81
72
71
90
82
83
82
81
74
90
83
77

Penyinaran Matahari (%)


82
74
71
82
72
68
64
81
71
77
82
85

A.
Catchment Area
Perhitungan Luas daerah aliran Sungai (DAS) atau catchment area adalah sebagai berikut:
No. Luasan
Gambar
Perhitungan
Luas (cm2) Luas (km2)
1.
A11
2

0.5 x 2 x 2,9

2,9

18,125

0.5 x 2,7 x
(3,1+6,1)

12,42

0.5 x 0,5 x 1,3

0,325

2,031

0.5 x 1 x 1.2

0,6

3,75

0.5 x 2,2 x 1

1,1

6,875

0.5 x 2 x (1,7
+ 4,6)

6,3

39,375

0.5 x 2 x (1,9
+ 4,7)

6,4

42,25

0.5 x 3,3 x
(0,4+0,7)

1,815

11,344

2,9
2.

A12
3,1

6,1
2,7

3.

A13
0,5
1,3

4.

A14
1,2

1
5.

A15
1

6.

2,2
4,6

A21
2

7.

1,7
1,9

A22
2

8.

4,7
0,4

A23
3,3

0,7

9.

A24
1,2

0.5 x 1,2 x 3,6

2,16

13,5

0,5 x 0,9 x 1,8

0,81

5,0625

0,5 x 0,8 x 2,8

1,12

0,5 x 1,6 x 0,4

0,32

0,5 x 1,1 x
(3,1+3,4)

3,575

22,34375

4,5 x 1,3

5,85

36,5625

0,5 x 3,1
(0,7+2,1)

4,34

27,125

3,6
10

A25
0,9

1,8
11

A26
0,8

2,8
12

A27
1,6

0,4
13

A31

3,1
1,1

3,4
14

A32
4,5
1,3

15

A33

0,7
3,1

2,1

16

A34

2,1
3,2

17

0,5 x 2,1 x 3,2

3,36

21

0,5 x 5,8 x 2,2

6,38

39,875

4,8 x 1,3

6,24

39

0,5 x 1,1 x
(5,8+5,4)

6,16

38,5

0,5 x 1,7 x 0,9

0,765

4,78125

A35
2,2

5,8
18

A36

4,8
1,3

19

A37

5,8

1,1
5,4
20

A41
0,9

1,7
21

A42

3,2

3,2 x 2

6,4

40

22

A43

0,5 x 1,2 x 8,7 5,22

8,7

1,2

32,625

23

A44

0,5 x 2 x 6,7

6,

6,7
2

Luas Catchment Area stasiun I

A11 A12 A13 A14 A15


18,125 7 2,031 3,75 6,875
37,781km2
Luas Catchment Area stasium II

A21 A22 A23 A24 A25 A26 A27


39,375 41,25 11,344 13,5 5,0625 7 2
107,5315km2
Luas Catchment Area stasiun III

A31 A32 A33 A34 A35 A36 A37


22,34375 36,5625 27,125 21 39,875 39 38,5
224,40625km2
Luas Catchment Area stasiun IV

A41 A42 A43 A44


4,78125 40 32,625 41,875
119,28125km2
Luas Total = 489 km2
Panjang aliran sungai terpanjang = 50 km

6,7

41,875

Tabel Data Curah Hujan Bulanan Stasiun S1


Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005

Januari
123
143
67
28
142
86
105
144
35
50
21
46
38
30
81
96

Februari
34
103
61
84
11
20
8
83
153
0
34
0
12
24
32
53

Maret
157
91
73
112
112
85
0
100
19
42
69
45
43
16
23
59

April
143
53
19
60
41
66
113
16
101
105
24
21
33
5
112
254

Mei
39
185
43
20
111
35
78
38
226
9
57
48
55
9
137
98

Juni
90
35
154
5
122
139
16
96
40
152
111
59
50
78
19
55

Juli
31
83
28
82
244
223
112
189
99
125
153
120
136
31
32
53

Agustus
12
184
84
34
21
121
41
25
58
96
16
157
9
164
49
44

September
133
176
86
339
12
113
126
176
121
72
199
160
136
141
114
154

Oktober
123
159
166
162
142
326
105
175
99
137
159
178
131
217
147
73

November
72
95
45
147
214
127
107
50
38
127
56
95
56
140
56
140

Desember
13
99
183
106
224
330
10
59
147
11
41
58
200
91
31
215

Tabel Data Curah Hujan Bulanan Stasiun S2


Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005

Januari
122
23
80
52
90
24
363
41
37
124
76
118
371
23
31
8

Februari
58
9
27
41
17
40
15
107
152
0
89
51
55
165
90
20

Maret
40
32
150
112
59
34
83
49
72
37
35
53
1
41
100
46

April
27
20
50
241
65
36
122
71
137
18
81
29
56
0
52
86

Mei
113
52
124
111
94
19
163
56
97
44
50
0
91
107
128
49

Juni
89
24
240
224
92
90
61
86
28
126
130
58
111
131
43
43

Juli
128
37
105
112
0
82
56
97
175
237
79
39
72
145
50
49

Agustus
0
84
127
20
46
167
96
77
133
167
83
80
13
73
83
50

September
42
113
95
222
93
62
109
64
23
67
90
384
170
76
100
195

Oktober
30
128
186
215
52
175
60
210
25
78
13
21
202
452
55
61

November
11
102
101
71
83
62
61
63
23
0
23
68
264
229
131
43

Desember
11
86
73
72
23
102
89
43
24
32
150
30
389
675
0
19

Tabel Data Curah Hujan Bulanan Stasiun S3


Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005

Januari
10
26
120
88
51
62
11
128
83
45
126
81
110
123
62
35

Februari
0
23
68
20
108
0
34
37
102
32
66
32
46
22
122
212

Maret
19
66
16
50
80
107
43
153
2
40
188
74
38
37
21
204

April
54
44
41
28
49
18
209
74
30
6
109
51
72
33
81
95

Mei
52
150
82
69
607
0
137
155
76
147
142
62
188
77
160
192

Juni
93
29
67
45
52
53
39
94
27
89
72
54
116
53
124
159

Juli
50
34
9
132
59
160
179
36
24
209
129
71
144
34
23
280

Agustus
4
73
69
103
177
344
214
218
97
103
74
124
0
50
183
135

September
74
149
150
117
117
211
210
234
161
192
231
111
106
164
140
240

Oktober
170
87
246
194
117
152
133
126
215
167
129
122
217
49
317
194

November
88
67
76
186
39
170
89
180
204
177
117
244
94
108
124
201

Desember
81
39
13
0
119
227
166
25
94
50
17
71
275
161
335
90

Tabel Data Curah Hujan Bulanan Stasiun S4


Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005

Januari
98.4
114.4
53.6
22.4
113.6
68.8
84
115.2
28
40
16.8
36.8
30.4
24
64.8
76.8

Februari
27.2
82.4
48.8
67.2
8.8
16
6.4
66.4
122.4
0
27.2
0
9.6
19.2
25.6
42.4

Maret
125.6
72.8
58.4
89.6
89.6
68
0
80
15.2
33.6
55.2
36
34.4
12.8
18.4
47.2

April
114.4
42.4
15.2
48
32.8
52.8
90.4
12.8
80.8
84
19.2
16.8
26.4
4
89.6
203.2

Mei
31.2
148
34.4
16
88.8
28
62.4
30.4
180.8
7.2
45.6
38.4
44
7.2
109.6
78.4

Juni
72
28
123.2
4
97.6
111.2
12.8
76.8
32
121.6
88.8
47.2
40
62.4
15.2
44

Juli
24.8
66.4
22.4
65.6
195.2
178.4
89.6
151.2
79.2
100
122.4
96
108.8
24.8
25.6
42.4

Agustus
9.6
147.2
67.2
27.2
16.8
96.8
32.8
20
46.4
76.8
12.8
125.6
7.2
131.2
39.2
35.2

September
106.4
140.8
68.8
271.2
9.6
90.4
100.8
140.8
96.8
57.6
159.2
128
108.8
112.8
91.2
123.2

Oktober
98.4
127.2
132.8
129.6
113.6
260.8
84
140
79.2
109.6
127.2
142.4
104.8
173.6
117.6
58.4

November
57.6
76
36
117.6
171.2
101.6
85.6
40
30.4
101.6
44.8
76
44.8
112
44.8
112

Desember
10.4
79.2
146.4
84.8
179.2
264
8
47.2
117.6
8.8
32.8
46.4
160
72.8
24.8
172

Curah Hujan Rata-rata Stasiun I, II, III, dan IV


Stasiun
Stasiun I
Stasiun II
Stasiun III
Stasiun IV

Rata-rata

Januari
77.19
98.94
72.56
61.75
310.44
77.61

Februari
44.50
58.50
57.75
35.6
196.35
49.09

Maret
65.38
59.00
71.13
52.3
247.80
61.95

April
72.88
68.19
62.13
58.3
261.49
65.37

Mei
74.25
81.13
143.50
59.4
358.28
89.57

Juni
76.31
98.50
72.88
61.05
308.74
77.18

Juli
108.81
91.44
98.31
87.05
385.61
96.40

Agustus
69.69
81.19
123.00
46.5
320.38
80.09

September
141.13
119.06
162.94
112.9
536.03
134.01

Oktober
156.19
122.69
164.69
124.95
568.51
142.13

November
97.81
83.44
135.25
78.25
394.75
98.69

Desember
113.63
113.63
110.19
90.9
428.34
107.08

Perhitungan Curah Hujan dengan Metode Thiessen


JANUARI
Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005

C1
123
143
67
28
142
86
105
144
35
50
21
46
38
30
81
96

A1
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781

C1 x A1

C2

A2

C2 x A2

C3

A3

C3 x A3

C4

4647.063
5402.683
2531.327
1057.868
5364.902
3249.166
3967.005
5440.464
1322.335
1889.05
793.401
1737.926
1435.678
1133.43
3060.261
3626.976

122
23
80
52
90
24
363
41
37
124
76
118
371
23
31
8

107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315

13118.84
2473.225
8602.52
5591.638
9677.835
2580.756
39033.93
4408.792
3978.666
13333.91
8172.394
12688.72
39894.19
2473.225
3333.477
860.252

10
26
120
88
51
62
11
128
83
45
126
81
110
123
62
35

224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625

2244.0625
5834.5625
26928.75
19747.75
11444.7188
13913.1875
2468.46875
28724
18625.7188
10098.2813
28275.1875
18176.9063
24684.6875
27601.9688
13913.1875
7854.21875

98.4
114.4
53.6
22.4
113.6
68.8
84
115.2
28
40
16.8
36.8
30.4
24
64.8
76.8

A4

C4 x A4

C x A
119.28125 11737.275 31747.24
119.28125 13645.775 27356.25
119.28125 6393.475 44456.07
119.28125
2671.9
29069.16
119.28125 13550.35 40037.81
119.28125 8206.55 27949.66
119.28125 10019.625 55489.03
119.28125 13741.2 52314.46
119.28125 3339.875 27266.59
119.28125 4771.25 30092.49
119.28125 2003.925 39244.91
119.28125 4389.55
36993.1
119.28125 3626.15
69640.7
119.28125 2862.75 34071.37
119.28125 7729.425 28036.35
119.28125
9160.8
21502.25

A
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489

Rn
64.92279
55.94324
90.91221
59.44613
81.8769
57.15677
113.4745
106.9825
55.75991
61.53883
80.25543
75.65051
142.4145
69.67561
57.33405
43.97187

Perhitungan Curah Hujan dengan Metode Thiessen


FEBRUARI
Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005

C1
34
103
61
84
11
20
8
83
153
0
34
0
12
24
32
53

A1
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781

C1 x A1

C2

A2

C2 x A2

C3

A3

C3 x A3

C4

1284.554
3891.443
2304.641
3173.604
415.591
755.62
302.248
3135.823
5780.493
0
1284.554
0
453.372
906.744
1208.992
2002.393

58
9
27
41
17
40
15
107
152
0
89
51
55
165
90
20

107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315

6236.827
967.7835
2903.351
4408.792
1828.036
4301.26
1612.973
11505.87
16344.79
0
9570.304
5484.107
5914.233
17742.7
9677.835
2150.63

0
23
68
20
108
0
34
37
102
32
66
32
46
22
122
212

224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625

0
5161.34375
15259.625
4488.125
24235.875
0
7629.8125
8303.03125
22889.4375
7181
14810.8125
7181
10322.6875
4936.9375
27377.5625
47574.125

27.2
82.4
48.8
67.2
8.8
16
6.4
66.4
122.4
0
27.2
0
9.6
19.2
25.6
42.4

A4

C4 x A4

C x A
119.28125 3244.45 10765.83
119.28125 9828.775 19849.35
119.28125 5820.925 26288.54
119.28125
8015.7
20086.22
119.28125 1049.675 27529.18
119.28125
1908.5
6965.38
119.28125
763.4
10308.43
119.28125 7920.275
30865
119.28125 14600.025 59614.74
119.28125
0
7181
119.28125 3244.45 28910.12
119.28125
0
12665.11
119.28125
1145.1
17835.39
119.28125
2290.2
25876.58
119.28125
3053.6
41317.99
119.28125 5057.525 56784.67

A
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489

Rn
22.01601
40.59171
53.7598
41.07612
56.29688
14.24413
21.08064
63.11861
121.9115
14.68507
59.1209
25.90001
36.47319
52.91734
84.49487
116.1241

Perhitungan Curah Hujan dengan Metode Thiessen


MARET
Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005

C1
157
91
73
112
112
85
0
100
19
42
69
45
43
16
23
59

A1
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781

C1 x A1

C2

A2

C2 x A2

C3

A3

C3 x A3

C4

5931.617
3438.071
2758.013
4231.472
4231.472
3211.385
0
3778.1
717.839
1586.802
2606.889
1700.145
1624.583
604.496
868.963
2229.079

40
32
150
112
59
34
83
49
72
37
35
53
1
41
100
46

107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315

4301.26
3441.008
16129.73
12043.53
6344.359
3656.071
8925.115
5269.044
7742.268
3978.666
3763.603
5699.17
107.5315
4408.792
10753.15
4946.449

19
66
16
50
80
107
43
153
2
40
188
74
38
37
21
204

224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625

4263.71875
14810.8125
3590.5
11220.3125
17952.5
24011.4688
9649.46875
34334.1563
448.8125
8976.25
42188.375
16606.0625
8527.4375
8303.03125
4712.53125
45778.875

125.6
72.8
58.4
89.6
89.6
68
0
80
15.2
33.6
55.2
36
34.4
12.8
18.4
47.2

A4

C4 x A4

C x A
119.28125 14981.725 29478.32
119.28125 8683.675 30373.57
119.28125 6966.025 29444.26
119.28125 10687.6 38182.91
119.28125 10687.6 39215.93
119.28125 8111.125 38990.05
119.28125
0
18574.58
119.28125
9542.5
52923.8
119.28125 1813.075 10721.99
119.28125 4007.85 18549.57
119.28125 6584.325 55143.19
119.28125 4294.125
28299.5
119.28125 4103.275 14362.83
119.28125
1526.8
14843.12
119.28125 2194.775 18529.42
119.28125 5630.075 58584.48

A
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489

Rn
60.28286
62.11363
60.21322
78.08367
80.19618
79.73425
37.98483
108.2286
21.92637
37.93368
112.7673
57.87219
29.37183
30.35403
37.89247
119.8047

Perhitungan Curah Hujan dengan Metode Thiessen


APRIL
Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005

C1
143
53
19
60
41
66
113
16
101
105
24
21
33
5
112
254

A1
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781

C1 x A1

C2

A2

C2 x A2

C3

A3

C3 x A3

C4

5402.683
2002.393
717.839
2266.86
1549.021
2493.546
4269.253
604.496
3815.881
3967.005
906.744
793.401
1246.773
188.905
4231.472
9596.374

27
20
50
241
65
36
122
71
137
18
81
29
56
0
52
86

107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315

2903.351
2150.63
5376.575
25915.09
6989.548
3871.134
13118.84
7634.737
14731.82
1935.567
8710.052
3118.414
6021.764
0
5591.638
9247.709

54
44
41
28
49
18
209
74
30
6
109
51
72
33
81
95

224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625

12117.9375
9873.875
9200.65625
6283.375
10995.9063
4039.3125
46900.9063
16606.0625
6732.1875
1346.4375
24460.2813
11444.7188
16157.25
7405.40625
18176.9063
21318.5938

114.4
42.4
15.2
48
32.8
52.8
90.4
12.8
80.8
84
19.2
16.8
26.4
4
89.6
203.2

A4

C4 x A4

C x A
119.28125 13645.775 34069.75
119.28125 5057.525 19084.42
119.28125 1813.075 17108.15
119.28125
5725.5
40190.83
119.28125 3912.425
23446.9
119.28125 6298.05 16702.04
119.28125 10783.025 75072.03
119.28125
1526.8
26372.1
119.28125 9637.925 34917.81
119.28125 10019.625 17268.63
119.28125
2290.2
36367.28
119.28125 2003.925 17360.46
119.28125 3149.025 26574.81
119.28125 477.125 8071.436
119.28125 10687.6 38687.62
119.28125 24237.95 64400.63

A
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489

Rn
69.67228
39.02745
34.98598
82.18983
47.94867
34.15551
153.5215
53.93066
71.40656
35.31418
74.37071
35.50196
54.34522
16.506
79.11578
131.6986

Perhitungan Curah Hujan dengan Metode Thiessen


MEI
Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005

C1
39
185
43
20
111
35
78
38
226
9
57
48
55
9
137
98

A1
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781

C1 x A1

C2

A2

C2 x A2

C3

A3

C3 x A3

C4

1473.459
6989.485
1624.583
755.62
4193.691
1322.335
2946.918
1435.678
8538.506
340.029
2153.517
1813.488
2077.955
340.029
5175.997
3702.538

113
52
124
111
94
19
163
56
97
44
50
0
91
107
128
49

107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315

12151.06
5591.638
13333.91
11936
10107.96
2043.099
17527.63
6021.764
10430.56
4731.386
5376.575
0
9785.367
11505.87
13764.03
5269.044

52
150
82
69
607
0
137
155
76
147
142
62
188
77
160
192

224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625

11669.125
33660.9375
18401.3125
15484.0313
136214.594
0
30743.6563
34782.9688
17054.875
32987.7188
31865.6875
13913.1875
42188.375
17279.2813
35905
43086

31.2
148
34.4
16
88.8
28
62.4
30.4
180.8
7.2
45.6
38.4
44
7.2
109.6
78.4

A4

C4 x A4

C x A
119.28125 3721.575 29015.22
119.28125 17653.625 63895.69
119.28125 4103.275 37463.08
119.28125
1908.5
30084.15
119.28125 10592.175 161108.4
119.28125 3339.875 6705.309
119.28125 7443.15 58661.36
119.28125 3626.15 45866.56
119.28125 21566.05 57589.99
119.28125 858.825 38917.96
119.28125 5439.225
44835
119.28125
4580.4
20307.08
119.28125 5248.375 59300.07
119.28125 858.825 29984.01
119.28125 13073.225 67918.25
119.28125 9351.65 61409.23

A
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489

Rn
59.33583
130.666
76.61161
61.52177
329.4651
13.71229
119.9619
93.79665
117.7709
79.58683
91.68713
41.52776
121.268
61.31699
138.8921
125.5813

Perhitungan Curah Hujan dengan Metode Thiessen


JUNI

Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005

C1
90
35
154
5
122
139
16
96
40
152
111
59
50
78
19
55

A1
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781

C1 x A1

C2

A2

C2 x A2

C3

A3

C3 x A3

C4

3400.29
1322.335
5818.274
188.905
4609.282
5251.559
604.496
3626.976
1511.24
5742.712
4193.691
2229.079
1889.05
2946.918
717.839
2077.955

89
24
240
224
92
90
61
86
28
126
130
58
111
131
43
43

107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315

9570.304
2580.756
25807.56
24087.06
9892.898
9677.835
6559.422
9247.709
3010.882
13548.97
13979.1
6236.827
11936
14086.63
4623.855
4623.855

93
29
67
45
52
53
39
94
27
89
72
54
116
53
124
159

224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625

20869.7813
6507.78125
15035.2188
10098.2813
11669.125
11893.5313
8751.84375
21094.1875
6058.96875
19972.1563
16157.25
12117.9375
26031.125
11893.5313
27826.375
35680.5938

72
28
123.2
4
97.6
111.2
12.8
76.8
32
121.6
88.8
47.2
40
62.4
15.2
44

A4

C4 x A4

C x A
119.28125 8588.25 42428.62
119.28125 3339.875 13750.75
119.28125 14695.45
61356.5
119.28125 477.125 34851.37
119.28125 11641.85 37813.16
119.28125 13264.075
40087
119.28125
1526.8
17442.56
119.28125
9160.8
43129.67
119.28125
3817
14398.09
119.28125 14504.6 53768.44
119.28125 10592.175 44922.21
119.28125 5630.075 26213.92
119.28125 4771.25 44627.42
119.28125 7443.15 36370.23
119.28125 1813.075 34981.14
119.28125 5248.375 47630.78

A
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489

Rn
86.7661
28.12014
125.4734
71.27069
77.32752
81.97751
35.66986
88.19974
29.44395
109.9559
91.86546
53.6072
91.26262
74.37674
71.53608
97.40445

Perhitungan Curah Hujan dengan Metode Thiessen


JULI
Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005

C1
31
83
28
82
244
223
112
189
99
125
153
120
136
31
32
53

A1
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781

C1 x A1

C2

A2

C2 x A2

C3

A3

C3 x A3

C4

A4

C4 x A4

1171.211
3135.823
1057.868
3098.042
9218.564
8425.163
4231.472
7140.609
3740.319
4722.625
5780.493
4533.72
5138.216
1171.211
1208.992
2002.393

128
37
105
112
0
82
56
97
175
237
79
39
72
145
50
49

107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315

13764.03
3978.666
11290.81
12043.53
0
8817.583
6021.764
10430.56
18818.01
25484.97
8494.989
4193.729
7742.268
15592.07
5376.575
5269.044

50
34
9
132
59
160
179
36
24
209
129
71
144
34
23
280

224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625

11220.3125
7629.8125
2019.65625
29621.625
13239.9688
35905
40168.7188
8078.625
5385.75
46900.9063
28948.4063
15932.8438
32314.5
7629.8125
5161.34375
62833.75

24.8
66.4
22.4
65.6
195.2
178.4
89.6
151.2
79.2
100
122.4
96
108.8
24.8
25.6
42.4

119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125

2958.175
7920.275
2671.9
7824.85
23283.7
21279.775
10687.6
18035.325
9447.075
11928.125
14600.025
11451
12977.8
2958.175
3053.6
5057.525

C x A
29113.73
22664.58
17040.23
52588.05
45742.23
74427.52
61109.55
43685.11
37391.16
89036.62
57823.91
36111.29
58172.78
27351.27
14800.51
75162.71

A
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489

Rn
59.53728
46.34883
34.8471
107.542
93.5424
152.2035
124.9684
89.33561
76.46453
182.079
118.2493
73.84722
118.9627
55.93306
30.26689
153.707

Perhitungan Curah Hujan dengan Metode Thiessen


AGUSTUS

Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005

C1
12
184
84
34
21
121
41
25
58
96
16
157
9
164
49
44

A1
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781

C1 x A1
453.372
6951.7
3173.6
1284.55
793.401
4571.5
1549.02
944.525
2191.3
3626.98
604.496
5931.62
340.029
6196.08
1851.27
1662.36

C2
0
84
127
20
46
167
96
77
133
167
83
80
13
73
83
50

A2
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315

C2 x A2
0
9032.65
13656.5
2150.63
4946.45
17957.8
10323
8279.93
14301.7
17957.8
8925.11
8602.52
1397.91
7849.8
8925.11
5376.58

C3
4
73
69
103
177
344
214
218
97
103
74
124
0
50
183
135

A3
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625

C3 x A3
897.625
16381.66
15484.03
23113.84
39719.91
77195.75
48022.94
48920.56
21767.41
23113.84
16606.06
27826.38
0
11220.31
41066.34
30294.84

C4
9.6
147.2
9.6
27.2
16.8
96.8
9.6
20
9.6
76.8
9.6
125.6
9.6
131.2
9.6
35.2

A4
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125

C4 x A4
1145.1
17558.2
1145.1
3244.45
2003.925
11546.43
1145.1
2385.625
1145.1
9160.8
1145.1
14981.73
1145.1
15649.7
1145.1
4198.7

C x A
2496.1
49924.2
33459.2
29793.5
47463.7
111271
61040.1
60530.6
39405.5
53859.4
27280.8
57342.2
2883.04
40915.9
52987.8
41532.5

A
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489

Rn
5.10449
102.094
68.4238
60.9274
97.0627
227.549
124.826
123.785
80.5838
110.142
55.7889
117.264
5.89578
83.6726
108.36
84.9335

Perhitungan Curah Hujan dengan Metode Thiessen


SEPTEMBER
Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005

C1
133
176
86
339
12
113
126
176
121
72
199
160
136
141
114
154

A1
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781

C1 x A1

C2

A2

C2 x A2

C3

A3

C3 x A3

C4

A4

C4 x A4

5024.873
6649.456
3249.166
12807.76
453.372
4269.253
4760.406
6649.456
4571.501
2720.232
7518.419
6044.96
5138.216
5327.121
4307.034
5818.274

42
113
95
222
93
62
109
64
23
67
90
384
170
76
100
195

107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315

4516.323
12151.06
10215.49
23871.99
10000.43
6666.953
11720.93
6882.016
2473.225
7204.611
9677.835
41292.1
18280.36
8172.394
10753.15
20968.64

74
149
150
117
117
211
210
234
161
192
231
111
106
164
140
240

224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625

16606.0625
33436.5313
33660.9375
26255.5313
26255.5313
47349.7188
47125.3125
52511.0625
36129.4063
43086
51837.8438
24909.0938
23787.0625
36802.625
31416.875
53857.5

106.4
140.8
68.8
271.2
9.6
90.4
100.8
140.8
96.8
57.6
159.2
100
108.8
112.8
91.2
123.2

119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125

12691.525
16794.8
8206.55
32349.075
1145.1
10783.025
12023.55
16794.8
11546.425
6870.6
18989.575
11928.125
12977.8
13454.925
10878.45
14695.45

C x A
38838.78
69031.85
55332.15
95284.36
37854.43
69068.95
75630.2
82837.33
54720.56
59881.44
88023.67
84174.27
60183.43
63757.07
57355.51
95339.87

A
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489

Rn
79.42492
141.1694
113.1537
194.8555
77.41193
141.2453
154.663
169.4015
111.903
122.4569
180.0075
172.1355
123.0745
130.3825
117.2914
194.9691

Perhitungan Curah Hujan dengan Metode Thiessen


OKTOBER
Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005

C1
123
159
166
162
142
326
105
175
99
137
159
178
131
217
147
73

A1
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781

C1 x A1

C2

A2

C2 x A2

C3

A3

C3 x A3

C4

A4

C4 x A4

4647.063
6007.179
6271.646
6120.522
5364.902
12316.61
3967.005
6611.675
3740.319
5175.997
6007.179
6725.018
4949.311
8198.477
5553.807
2758.013

30
128
186
215
52
175
60
210
25
78
13
21
202
452
55
61

107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315

3225.945
13764.03
20000.86
23119.27
5591.638
18818.01
6451.89
22581.62
2688.288
8387.457
1397.91
2258.162
21721.36
48604.24
5914.233
6559.422

170
87
246
194
117
152
133
126
215
167
129
122
217
49
317
194

224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625

38149.0625
19523.3438
55203.9375
43534.8125
26255.5313
34109.75
29846.0313
28275.1875
48247.3438
37475.8438
28948.4063
27377.5625
48696.1563
10995.9063
71136.7813
43534.8125

98.4
127.2
132.8
129.6
113.6
260.8
84
140
79.2
109.6
127.2
142.4
104.8
173.6
117.6
58.4

119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125

11737.275
15172.575
15840.55
15458.85
13550.35
31108.55
10019.625
16699.375
9447.075
13073.225
15172.575
16985.65
12500.675
20707.225
14027.475
6966.025

C x A
57759.35
54467.13
97316.99
88233.46
50762.42
96352.92
50284.55
74167.85
64123.03
64112.52
51526.07
53346.39
87867.51
88505.85
96632.3
59818.27

A
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489

Rn
118.1173
111.3847
199.0123
180.4365
103.8086
197.0407
102.8314
151.6725
131.1309
131.1095
105.3703
109.0928
179.6881
180.9936
197.6121
122.3278

Perhitungan Curah Hujan dengan Metode Thiessen


NOVEMBER
Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005

C1
72
95
45
147
214
127
107
50
38
127
56
95
56
140
56
140

A1
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781

C1 x A1

C2

A2

C2 x A2

C3

A3

C3 x A3

C4

A4

C4 x A4

2720.232
3589.195
1700.145
5553.807
8085.134
4798.187
4042.567
1889.05
1435.678
4798.187
2115.736
3589.195
2115.736
5289.34
2115.736
5289.34

11
102
101
71
83
62
61
63
23
0
23
68
264
229
131
43

107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315

1182.847
10968.21
10860.68
7634.737
8925.115
6666.953
6559.422
6774.485
2473.225
0
2473.225
7312.142
28388.32
24624.71
14086.63
4623.855

88
67
76
186
39
170
89
180
204
177
117
244
94
108
124
201

224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625

19747.75
15035.2188
17054.875
41739.5625
8751.84375
38149.0625
19972.1563
40393.125
45778.875
39719.9063
26255.5313
54755.125
21094.1875
24235.875
27826.375
45105.6563

57.6
76
36
117.6
171.2
101.6
85.6
40
30.4
101.6
44.8
76
44.8
112
44.8
112

119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125
119.28125

6870.6
9065.375
4294.125
14027.475
20420.95
12118.975
10210.475
4771.25
3626.15
12118.975
5343.8
9065.375
5343.8
13359.5
5343.8
13359.5

C x A
30521.43
38658
33909.83
68955.58
46183.04
61733.18
40784.62
53827.91
53313.93
56637.07
36188.29
74721.84
56942.04
67509.43
49372.54
68378.35

A
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489

Rn
62.41601
79.05522
69.34525
141.0135
94.44385
126.2437
83.40413
110.0775
109.0264
115.8222
74.00469
152.8054
116.4459
138.0561
100.9663
139.833

Perhitungan Curah Hujan dengan Metode Thiessen


DESEMBER
Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005

C1
13
99
183
106
224
330
10
59
147
11
41
58
200
91
31
215

A1
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781
37.781

C1 x A1

C2

A2

C2 x A2

C3

A3

C3 x A3

C4

491.153
3740.319
6913.923
4004.786
8462.944
12467.73
377.81
2229.079
5553.807
415.591
1549.021
2191.298
7556.2
3438.071
1171.211
8122.915

11
86
73
72
23
102
89
43
24
32
150
30
389
675
0
19

107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315
107.5315

1182.847
9247.709
7849.8
7742.268
2473.225
10968.21
9570.304
4623.855
2580.756
3441.008
16129.73
3225.945
41829.75
72583.76
0
2043.099

81
39
13
0
119
227
166
25
94
50
17
71
275
161
335
90

224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625
224.40625

18176.9063
8751.84375
2917.28125
0
26704.3438
50940.2188
37251.4375
5610.15625
21094.1875
11220.3125
3814.90625
15932.8438
61711.7188
36129.4063
75176.0938
20196.5625

10.4
79.2
146.4
84.8
179.2
264
8
47.2
117.6
8.8
32.8
46.4
160
72.8
24.8
172

A4

C4 x A4

C x A
119.28125 1240.525 21091.43
119.28125 9447.075 31186.95
119.28125 17462.775 35143.78
119.28125 10115.05
21862.1
119.28125 21375.2 59015.71
119.28125 31490.25 105866.4
119.28125
954.25
48153.8
119.28125 5630.075 18093.16
119.28125 14027.475 43256.23
119.28125 1049.675 16126.59
119.28125 3912.425 25406.08
119.28125 5534.65 26884.74
119.28125
19085
130182.7
119.28125 8683.675 120834.9
119.28125 2958.175 79305.48
119.28125 20516.375 50878.95

A
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489
489

Rn
43.13176
63.77699
71.86867
44.70778
120.6865
216.4957
98.47403
37.00034
88.45854
32.9787
51.95517
54.97901
266.2222
247.1062
162.1789
104.0469

Data Curah Hujan Rata-rata dari Stasiun I, II, III, dan IV Metode Thiessen
Maret

April

Mei

Juni

Juli

Agustus

64.92278
55.94324
90.91221
59.44612

Februar
i
22.0160
40.5917
53.7598
41.0761

5.104492
102.0944
68.42379
60.92735

Septembe
r
79.424915
141.16942
113.15367
194.85553

118.117271
111.384723
199.012254
180.436517

Novembe
r
62.41601
79.05521
69.34524
141.0134

43.13176
63.77698
71.86866
44.70777

TOTAL
730.727
900.291
998.607
1123.07

60.2828
62.1136
60.2132
78.0836

69.67
39.02
34.98
82.19

59.3358
130.666
76.6116
61.5217

86.7661
28.1201
125.473
71.2706

59.53
46.34
34.84
107.5

1994

81.87690

56.2968

80.1961

47.94

329.465

77.3275

93.54 97.06274

77.411927

103.808632

94.44384

120.6865

1260.06

1995

57.15676

14.2441

79.7342

34.15

13.7122

81.9775

152.2 227.5489

141.24529

197.040733

126.2437

216.4957

1341.75

1996

113.4745

21.0806

37.9848

153.5

119.961

35.6698

124.9 124.8263

154.66299

102.831393

83.40413

98.47403

1170.86

1997

106.9825

63.1186

108.228

53.93

93.7966

88.1997

89.33 123.7845

169.40150

151.6725

110.0775

37.00033

1195.52

1998

55.75990

121.911

21.9263

71.40

117.770

29.4439

76.46 80.58383

111.90297

131.130931

109.0264

88.45853

1015.78

1999

61.53882

14.6850

37.9336

35.31

79.5868

109.955

182.0 110.1418

122.45693

131.109453

115.8222

32.97870

1033.60

2000

80.25543

59.1209

112.767

74.37

91.6871

91.8654

118.2 55.78890

180.00751

105.370285

74.00468

51.95516

1095.44

2001

75.65051

25.9000

57.8721

35.50

41.5277

53.6072

73.84 117.2642

172.13553

109.092826

152.8053

54.97901

970.183

2002

142.4145

36.4731

29.3718

54.34

121.268

91.2626

118.9 5.895784

123.07450

179.688149

116.4458

266.2222

1285.42

2003

69.67561

52.9173

30.3540

16.50

61.3169

74.3767

55.93 83.67258

130.38254

180.993550

138.0560

247.1061

1141.29

2004

57.33404

84.4948

37.8924

79.11

138.892

71.5360

30.26 108.3596

117.2914

197.612056

100.9663

162.1789

1185.94

2005

43.97187

116.124

119.804

131.7

125.581

97.4044

153.7 84.93353

194.96905

122.327754

139.8330

104.0469

1434.40

TOTAL
RATARATA

1217.315

823.811

1014.76

1013

1662.70

1214.25

1517 1456.413

2223.5458

2321.62903

1712.959

1704.068

76.08223

51.4881

63.4224

63.35

103.918

75.8911

94.86 91.02581

138.97161

145.10181

107.0599

106.50422

Tahun

Januari

1990
1991
1992
1993

Oktober

Desember

B. Debit Andalan
Debit Andalan atau dependable flow adalah debit minimum sungai untuk kemungkinan
terpenuhnya kebutuhan air irigasi. Probabilitas kemungkinan terpenuhinya diterapkan 80%
(kemungkinan bahwa debit sungai lebih rendah dari debit adalah 20%)
Debit andalan adalah dianalisa sebagai debit rata-rata untuk perriode bulanan, kemungkinan
tidak terpenuhi 20% (kering) untuk nilai tersedianya air yang berkenan dengan kebutuhan air
pengambilan (diversion requirement) untuk nilai tersedianya air yang analisa perhitungan
tersebut dipakai metode Dr.F.J.Mock. Dalam penentuannya dengan menggunakan metode
analisa neraca air (water balance) dihitung dengan cara berikut:
1. Data Meteorologi
Hujan Bulanan rata-rata (mm/hari)
Hari hujan rata-rata tiap bulan (hari)
2. Evapotranspirasi
Diperoleh dengan perhitungan ETo dengan metode Penman
3. Limit Evapotranspirasi
a. Exposed Surface (foto permukaan)
m= 20% (Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni)
m=30% (Juli, Desember)
m=40% (Agustus, November)
m=50% (September, Oktober)
b. E/ETi = (m/20)(18-n)
c. E=(m/20)(18-n)/Eto
d. Limit Evapotranspirasi (Ei) = Eto E
4. Water Balance
Water surplus (P-EI)
5. Run-off dan Ground water storage (R+Bw)
Infiltrasi = 40% water surplus
0.5( I x k) I
Harga faktor Rosesi k diambil 0.6
6. Storage Volum tahun ke n-1
k.Vn-1
7. Storage Volum tahun ke n
Vn=0.15 (I k) I + (k. Vn-1)
Vn dan Vn-1 dihitung dengan cara trial and error
8. Vn = Vn Vn-1
9. Base flow = i Vn

10. Direct Run off = 60% water surplus


11. Run off = Base flow + direct run off
12. Run off = water available

1 ) Menghitung Tekanan Uap maksimum (ea) dan tekanan udara (ed)


Besarnya harga Eto pada rumus penman dipengaruhi oleh kelembaban udara. Dalam hal ini,
kelembaban dinyatakan sebagai defisit kejenuhan (saturated defisit, ea-ed) yaitu perbedaan
antara tekanan udara bila menguap (ed). Tekanan uap dibuat dalam m.bar, ea-ed dihitung
dengan rumus
ea = 6.11 x e(164T/(T+234)
ed = ea x Rh/100
dimana :
T= suhu rata-rata
Rh = kelembaban udara rata-rata
Contoh perhitungan untukbulan Januari
T=29o
Rh=89%
Ea = 6.11 x e(17.4 x 29/(29+234)) = 41.619 mbar
Ed = ea x Rh/100 = 41.619 x 80/100 = 33.295
Dengan cara yang sama, perhitungan (ea-ed) untuk bulan selanjutnya dapat dilihat pada tabel

Perhitungan evapotranspirasi acuan dengan metode penman untuk menghitung


evapotranspirasi potensial pada metode penman digunakan persamaan:
ETo = c [w.Rn + (1-w) . f(u) . (ea ed)]
Dimana :
Eto = evapotranspirasi potensial (mm/hari)
c = faktor koreksi terhadap perbedaan cuaca antara siang dan malam
w = faktor koreksi radiasi terhadap temperatur
f(u) = faktor pengaruh angin
ea = tekanan uap maksimum yang mungkin terjadi (mbar)
ed = tekanan udara bila air menguap (mbar)
Data-data yang diperoleh dan diperlukan terlampir sebagai berikut :

Data Iklim Rata - Rata ( Kelembaban Udara, Suhu, dan Penyinaran Matahari)
Bulan

Kelembaban Udara (%)

Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember

81
72
71
90
82
83
82
81
74
90
83
77

Penyinaran Matahari
(%)
82
74
71
82
72
68
64
81
71
77
82
85

Data Kecepatan Angin Rata-rata Bulanan (Asumsi)


Bulan

Kec. Angin Rata-rata (km/hari)

Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember

140
150
160
170
120
130
150
160
150
180
160
170

Data Expose Surface (Asumsi)


Bulan

(%)

Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember

20
20
20
20
20
20
30
40
30
20
40
30

Suhu Udara ( oC )
Maksimum
Minimum
32
26
33
21
31
22
33
24
31
23
21
18
22
14
24
17
28
21
25
18
24
17
26
18

Rata -Rata
29
27
26.5
28.5
27
19.5
18
20.5
24.5
21.5
20.5
22

Data Curah Hujan Bulanan Rata-rata dan Rata-rata Lamanya Hujan Per Bulan
Bulan

Curah Hujan Ratarata (mm)

Rata-rata Lamanya
Hujan (Hari)

Januari

76.08

16

Februari

51.49

12

Maret

63.42

15

April

63.36

13

Mei

103.92

10

Juni

75.89

10

Juli

94.86

Agustus

91.03

September

138.98

12

Oktober

145.1

12

November

107.06
106.5

14

Desember

10

2. Faktor Angin ( f(u))


Pengaruh kecepatan angin terhadap besarnya reference evapotranspirasi pada rumus
Pennman yang diperhitungkan adalah kecepatan angin pada ketinggiaan 2m diatas muka
tanah. Besaarnya f(u) dapat dihitung dengan rumus
( )

dimana : u = kecepatan angin pada ketinggiaan 2m diatas muka tanah (km/hari)


contoh untuk bulan Januari
u = 140 km/hari
( )

3. Faktor Koreksi Radiasi Terhadap Temeperatur ( w)


Besarnya faktor koreksi radiasi dapat dihitung dengan rumus :

dimana : T = temperatur rata - rata ( ) ; E = elevasi bendung dari muka laut (m)

4. Radiasi Netto / Net Radiation (Rn)


Besarnya harga net radiation dapat dihitung dengan persamaan

dimana :

)
(

)(

)(

dimana :
a dan b = konstanta yang harganya terletak pada letak di bumi
= Albedo (

= 0,25)

= faktor koreksi terhadap permukaan bumi ( = 0,95 - 0,98)


= Energi yang dipantulkan dari pusat bumi
n

= penyinaran matahari

= lama penyinaran matahari per jam

5. Faktor koreksi cuaca ( c )


Untuk memperkirakan besarnya faktor koreksi cuaca perlu diketahui data kecepatana angin
pada sinag hari dan kecepatan angin pada malam hari. Radiasi gelombang pendek (Rs),
kelembaban udara maksimum (RHmax).

6. Evapotranspirasi Acuan
(

) ( )(

Contoh untuk bulsn Januari


Diketahui : c = 1,0

= 41,619

w = 0,791

= 33,711

f(u) = 0,65

Rn = 3,121 mm/hari

) ( )(

)(

)(

Perhitungan Evapotranspirasi (ETo) dengan Metode Pennman

Perhitungan Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock


Dengan metode water balance dari DR. F.J.Mock dapat diperoleh suatu estimasi empiris untuk
mendapatakan debit andalan. Metode ini didasarkan pada parameter data hujan evapotranspirasi
dan karakteristik DAS setempat. Untuk mendapatkan debit andalan, pada pertimbangan hidrologi
daerah irigasi digunakan metode Dr. F. J. Mock dengan langkah - langkah sebagai berikut :
a. Hitugn evapotranspirasi potensial
b. Hitung limited evapotranspirasi
c. Hitung water balance
d. Hitung aliran dasar dan limpasan langsung

1. Data Curah Hujan


Data curah hujan digunakan adalah curah hujan efektif bulanan yang berada dalamDAS. Stasiun
curah hujan yang dipakai adalah stasiun yagn dianggap mewakili kondisi di daerah tersebut.

2. Evapotranspirasi Terbatas (Et)


Evapotranspirasi terbatas adalah evapotrnaspirasi aktual dengan mempertimbangkan kondisi
vegetasi dan permukaan tanah serta frekuensi curah hujan untuk menghitung evapotranspirasi
terbatas diperlukan data :

- Curah hujan tengah bulanan (P)


- Jumlah hari hujan tengah bulanan (n)
- Jumlah permukaan kering setengah bulanan (d)
dihitung asumsi bahwa tanah dalam suatu hari hanya mampu menahan air 12mm dan selalu
menguap sebesar 4mm

Exposed surface (m%) ditaksir berdasarkan peta tata guna lahan atau dengan asumsi
m = 0% untuk lahan dengan hujan lebat
m = 10% pada akhir musim hujan dan bertambah 10% setiap bulan kering untuk lahan sekunder
m =10% - 40% untuk lahan yang tererosi
m = 20% - 50% untuk lahan pertanian yang diolah
Secara matematis, evapotrasnspirasi dirumuskan :
Et = Ep - E
E = Ep x ( )

dimana :
E = beda antara evapotrasnspirasi potensial dengan evapotrasnspirasi terbatas (mm)
Et = evapotrasnspirasi terbatas (mm)
Ep = evapotrasnspirasi potensial (mm)
m = singkapan lahan (%)
n = jumlah hari hujan sebulan

3. Faktor Karakteristik Hidrologi


- Luas daerah pengaliran
Semakin besar daerah pengaliran dari suatu aliran, kemungkinan akan semakin besar pula
ketersediaan debitnya
- Kapasitas Kelembaban tanah (SMC)
Soil Moisture Capacity adalah kapasitas kandungan air pada lapisan tanah permukaan (surface
soil) per m2
Persamaan yang digunakan :
( )

dimana :
SMC = kelmebaban tanah (diambil 50mm - 250mm)

( )

kelembaban tanah bulan ke n

( )
(

= kelembaban tanah bulan ke (n-1)

Is = tampungan awal / initial storage (mm)


As = Air hujan yang mencapai permukaan tanah

4. Keseimbangan air di permukaan tanah


Faktor - faktor yang mempengaruhi :
- Air hujan (As)
As = P - Et
dimana : As = Air hujan yang mencapai permukaan tanah
P = curah hujan bulanan
Et = Evapotranspirasi
- Kandungan air tanah ( Soil Storage )
- Kapasitas Kelembaban tanah ( Soil Moisture Capacity)

5. Aliran dan Penyimpanan Air Tanah ( runoff dan Ground Water Storage)
Data - data yang diperlukan untuk menentukan besarnya aliran air tanah adalah sebagai berikut :
a. Koefisien Infiltrasi
Koefisien nilai infiltrasi diperkirakan berdasarkan kondisi porositas tanah dan kemiringan DAS.
Lahan yang terjal memiliki koefisien infiltrasi yang kecil, dans ebaliknya batasan infiltrasi = 0 1
b. Faktor Resesi Aliran Tanah (k)
yaitu perbandingan antara aliran air tanh pada bulan ke n dengan aliran air tanah pada awal
bulan tersebut. Faktor resesi aliran tanah dipengaruhioleh sifat geologi DAS. Dalam perhitungan
keterseiaan air degan metode F. J . Mock, besarnya nilai K dapat diperoleh dengan cara trial dan
error sehingga dapat dihasilkan seperti yang diharapkan.
c. Penyimpanan Air Tanah ( Ground Water Storage)
Penyimpanan air tanah besarbnya tergantung dari kondisi geologi setempat dan waktu. Sebagai
permulaan dari simulasi harus ditentukan penyimpanan awal (initial storage) terlebih dahulu.
Persamaan yang digunakan :
(

dimana :
Vn = volume air tanah bulan ke - n
k=

= faktor resesi aliran tanah

= aliran air tanah pada waktu bulan ke t


= aliran air tanah pada awal bulan (bulan ke 0)
(

= volume air tanah bulan ke (n -1)

= perubahan volume aliran air tanah

6. Aliran Sungai
Air yang mengalir di sungai merupakan jumlah dari aliran langsung (direct runoff), aliran air
dalanm tanah (interflow)( dan aliran tanah (base flow).
Besarnya masing - masing aliran tersebut adalah :
Interflow = Infiltrasi - volume air tanah
Direct runoff = water surplus - infiltrasi
Base flow = aliran air yang selalu ada di sepanjang tahun
Runoff = Interflow + direct runoff + base flow
Aliran dasar = infiltrasi - perubahan aliran air dalam tanah
Aliran permukaan = volume air lebih - infiltrasi
Aliran sungai = aliran permukaan + aliran dasar
Debit Andalan =

PERHITUNGAN DEBIT ANDALAN DENGAN METODE DR. F. J. MOCK

FLOW DURATION CURVES IN TROPICAL EQUATORIAL REGION

FLOW DURATION CURVES


6000.000
5577.816
5000.000
Discharge (L/s)

4501.395
4000.000

3718.544

3000.000

2720.409
2191.984
1800.558
1506.989
1252.562
1037.278
861.137
684.995
195.713

2000.000
1000.000
0.000
0%

20%

40%

60%

80%

100%

FLOW DURATION CURVES

120%

Percentage Exceedance (%)

Cek Debit Andalan Terhadap Kebutuhan


Diperkirakan kebutuhan pengambilan air untuk sawah tanaman padi (DR) sebesar 1,6 L/detik
Ha. Luas areal sawah yang akan dialiri : 447 Ha + 381 Ha = 828 Ha
Kebutuhan air untuk sawah
Q = A x DR = 828 x 1,6 x 10-3 = 1,3248 m3/detik
Jika mengacu pada pola tanam dimana masa bercocok tanam padi yaitu :
Desember - Maret = 90 hari
Mei - Agustus = 90 hari
Maka diambil debit andalan yaitu debit sungai terkecil pada masa penanaman yaitu 2,72
m3/detik
Cek debit andalan terhadap kebutuhan dan perawatan sungai
Q kebutuhan setelah dibagikan efisien saluran
= 1,3248 / 0,9x0,9x0,9 = 1,817
Q maintenance sungai (30% debit sungai harus dilepas)
= 30% x 2,72 = 0,816 m3/detik
Q kebutuhan total
= 1,817 + 0,816 = 2,633 m3/detik
Q andalan > Qkebutuhan
Kesimpulan : areal sawah yang akan dialiri bisa tercukupi oleh debit air yang ada

BAB III
ANALISA HIDROLOGI

A. Perhitungan Curah Hujan Rencana


Data hidrologi di suatu daerah sangat dibutuhkan sekali dalam perencanaan bangunan bendung. Karakteristik hidrologi suatu daerah
sangat ditentukan oleh iklim, yaitu antara lain curah hujan, sinar matahari, kecepatan angin, temperatur, kelembaban udara. Faktor faktor
dalam perhitungan hidrologi banyak yang tidak dapat ditentukan dengan pasti, sehingga digunakan pendekatan pendekatan empiris untuk
mendapatkan rumusan yang diperlukan.
Umumnya keadaan hidrologi suatu daerah sangat mempengaruhi usaha pengembangan sumber air dan analisa hidrologi sangat
penting untuk menentukan besar dari run off.

Faktor faktor yang mempengaruhi besarnya banjir dari suatu daerah pengaliran antara lain :
Besarnya hujan yang terjadi
Bentuk dan besarnya daerah pengaliran
Kemiringan daerah
Karakteristik tanah dasar yang menentukan kemampuan resapan air
Hujan yang terjadi sebelumnya
Keadaan suhu dan angin yang mempengaruhi besarnya penguapan

Curah Hujan Harian Maksimum


Data curah hujan yang terjadi diperoleh dari empat stasiun. Untuk memperoleh curah hujan rata rata digunakan untuk metode Thiesen.
Setelah diperoleh hujan rata rata, kemudian digunakan untuk menghitung curah hujan harian maksimum.
Curah hujan harian maksimum dapat diperoleh dari perhitungan curah hujan bulanan. Setelah dirata ratakan maka curah hujan yang
diperoleh tersebut merupakan curah hujan harian maksimum rata rata. Untuk perhitungan curah hujan bulanan telah dijelaskan di depan.

CURAH HUJAN MAKSIMUM


Curah Hujan Maksimum
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005

Rx
118.117
141.169
199.012
194.856
329.465
227.549
154.663
169.402
131.131
182.080
180.008
172.136
266.222
247.106
197.612
194.969

No
5
13
14
6
3
15
16
4
10
11
12
8
7
2
9
1

Tahun
1994
2002
2003
1995
1992
2004
2005
1993
1999
2000
2001
1997
1996
1991
1998
1990

Rx
329.465
266.222
247.106
227.549
199.012
197.612
194.969
194.856
182.080
180.008
172.136
169.402
154.663
141.169
131.131
118.117

Analisa Frekuensi Curah Hujan


Analisa frekuensi curah hujan adalah analisa mengenai berulangnya peristiwa hujan, baik jumlah frekuensi persatuan waktu maupun
periode ulang ( return period ). Analisa frekuensi curah hujan secara empiris yang sering digunakan adalah dengan metode Der Weduwen,
sedangkan untuk analisa frekuensi curah hujan secara statistik yang sering dipergunakan untuk menganalisis curah hujan rencana periode (
return period ) untuk 2, 5, 10, 15, 25, 50 dan 100 tahun digunakan metode Hasper dan Log Person serta Metode Gumbel.

1. Analisa Frekuensi Curah Hujan Metode Der Weduwen


Ir. J.P Der Weduwen menghitung curah hujan rencana dengan rumus :

R70

5 6 M1
MP

atau

R70

M2
MP

Rn M n R70

Dimana : R70 = Curah hujan 24 jam sebesar 240 mm yang pernah terjadi satu sekali selama 70 tahun pengamatan (mm).
M1 = Curah hujan maksimum pertama (mm).
M2 = Curah hujan maksimum kedua (mm).
Mp = Koefisien pembanding curah hujan dengan periode ulang P dengan curah hujan periode ulang 70 tahun (mm).
P = n = Periode pengamatan.
Contoh perhitungan curah hujan Metode Der Weduwen.
Diketahui :
M1 = 329.465 mm
M2 = 266.222 mm
P = n = 16 tahun
Dari tabel ditunjukkan : P = 15 tahun
Mp = Mn = 0.766
P = 20 tahun
Mp = Mn = 0.811

Untuk P = 16 tahun dengan cara interpolasi diperoleh :

x x1
y y1

x1 x 2 y1 y 2
x 15
y 0.766

15 20 0.766 0.811
-0.045 x + 5 y = 3.155
x = 16

-0.045 (16) + 5y = 3.155


5y = 3.875
y = 0.775
Maka, didapat Mp = Mn = 0.775 untuk P = 16 tahun
Maka :
5 6 M 1 5 6 .(329.465)
R70

354 ,263 mm
MP
0.775
Atau :
R70

M 2 266 .222

343 ,512 mm
MP
0.775

R70 rata rata

R70 a R70b 354.263 343.512

348.8875 mm
2
2

Harga intensitas curah hujan dengan periode ulang n tahun dapat dihitung. Dari tabel diperoleh harga harga Mn :
P=n=
P=n=
P=n=
P=n=
P=n=
P=n=
P=n=

2 tahun
5 tahun
10 tahun
15 tahun
25 tahun
50 tahun
100 tahun

Mp
Mp
Mp
Mp
Mp
Mp
Mp

= Mn
= Mn
= Mn
= Mn
= Mn
= Mn
= Mn

= 0.492
= 0.602
= 0.705
= 0.766
= 0.845
= 0.945
= 1.050

Rn = Mn . R70
Maka ,
R5 = M5 . R70 = 0.602 ( 348.8875 ) = 210,03 mm
R10 = M10 . R70 = 0.705 ( 348.8875 ) = 245,966 mm
R25 = M25 . R70 = 0.845 ( 348.8875 ) = 294.81 mm
R50 = M50 . R70 = 0.945 ( 348.8875 ) = 330.745 mm
R100 = M100 . R70 = 1.05 ( 348.8875 ) = 366.332 mm

PERHITUNGAN CURAH HUJAN DENGAN METODE WEDUWEN


Perhitungan curah hujan Dengan Metode Weduwen

R . 70

M1
Mp

5
6

Dimana :
R.70 =
M1 =
M2 =

P=n=
Perhitungan
M1 =
M2 =
P=n=

R . 70

R.70
R.rata-rata

M2
Mp

atau

Curah hujan 24 jam sebesar 240 mm yang pernah terjadi 1 kali dlm 70 thn
Curah hujan maximum pertama, mm
Curah hujan maximum kedua , mm
Koefisien Perbandingan curah hujan dengan T ulang, P dengan curah
hujan,
T ulang 70 tahun
Koefisien Perbandingan curah hujan dengan n ulang, P dengan curah
hujan,
T ulang 70 tahun
Periode pengamatan

M.p =

Mn

R.70

atau

5
6

329.465
266.222
16

Dari tabel diperoleh harga-harga :


M.p =
0.775
M.n =
0.775

M1
Mp

354.263

mm ;

M2
Mp

343.512

mm ;

348.8878

mm

Atau

T
5
10
25
50
100

Mn
0.602
0.705
0.845
0.948
1.050

Rrata-rata
348.888
348.888
348.888
348.888
348.888

Rt
210.030
245.966
294.810
330.746
366.332

Rt = Mn x R rata-rata

2. Analisa Perhitungan Curah Hujan Metode Haspers


Susunan data curah hujan maksimum dari urutan yang paling besar ke yang paling kecil, kemudian dihitung sebagai berikut :
i n

R x Ri
100

Rx = Curah Hujan Rata rata


SD

1 Rmax1 R X Rmax2 R X
x

2
1
2

T N 1 / m ; m = nomor urut regresi


Rt Rrata rata S D t

Dimana : = koefisien Haspers


T = Peluang terpenuhi
Perhitungan curah hujan rencana dengan metode Haspers dapat dilihat pada halaman berikut :
R rata rata = 194.094
R max1 = 329.465
R max2 = 266.222

1 1.62
2 1.05

17
8.5

N = 16

SD

1 Rmax1 Rr Rmax2 Rr
x

2
1
2

SD

1 329.465 194 .094 266 .222 194 .094


x

2
1.62
1.05

S D 76 .128
Rt 5 Rr SD * t 194 .094 76 .128 * 0.64 242 .816 mm

PERHITUNGAN CURAH HUJAN DENGAN METODE HASPER


Perhitungan curah hujan dengan Metode Hasper
Tahun

Curah hujan max ( mm )

Rank

Periode
Ulang

1994
2002
2003
1995
1992
2004
2005
1993
1999
2000
2001
1997
1996
1991
1998
1990
Total

X
329.465
266.222
247.106
227.549
199.012
197.612
194.969
194.856
182.080
180.008
172.136
169.402
154.663
141.169
131.131
118.117
3105.497

M
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

T = (n+1) / M
17.000
8.500
5.667
4.250
3.400
2.833
2.429
2.125
1.889
1.700
1.545
1.417
1.308
1.214
1.133
1.063

2.0
5.0
5.5
10.0
11.0
25.0
50.0
100.0

-0.22
0.64
0.73
1.26
1.35
2.10
2.75
3.43

R rata-rata =
R.max1 =
R.max2 =

194.094
329.465
266.222

1 =

1.62

T1 = 17

2 =

1.05

T2 = 8.5

SD = 0.5
x
Maka SD

Tbl Standard Variabel

R max1 Rr R max 2 Rr

1
2

76.128

Rt = Rr + SD* Ut

SD

Rr

Rn

5
10
25
50
100

76.128
76.128
76.128
76.128
76.128

0.64
1.26
2.10
2.75
3.43

194.094
194.094
194.094
194.094
194.094

242.816
290.015
353.963
403.446
455.213

3. Analisa Perhitungan Curah Hujan Metode Log Person


Persamaan persamaan yang digunakan dalam analisa dengan distribusi Log Pearson type III.
Kriteria perhitungan antara lain :
Buat data data curah hujan ke dalam harga harga logaritma.
Hitung logaritma tengah
i n

Log Rr
-

log Ri
i 0

Menghitung harga Standard Deviasi (SD)

log Ri Rr

SX

N 1
Menghitung koefisien a simetri

N . log Ri log Rr

CS
-

N 1N 2 S x 3

Hitung besarnya logaritma curah hujan rencana dengan periode ulang yang dipilih.

log RT log Rr G.S X


Dimana harga S diperoleh dari tabel Pearsons , sesuai dengan nilai Cs.
-

Besarnya curah hujan rencana RT adalah antilog dari log RT .

Analisa perhitungan curah hujan dengan metode Log Persons adalah sebagai berikut :

Log Rr

log Ri 36 .43 2.2767


N

16

log Ri Rr

SD

4.839
0.5679
15

N 1

N . log Ri log Rr

CS

N 1N 2 S D

16.10.344
4.301
3
15.14.0.5679

Log Rt = log Rr + G * SD = 2.2767 + 0.854 * 0.5679 = 2.761786

PERHITUNGAN CURAH HUJAN METODE LOG PERSON


Tahun
1994

Curah Hujan max ( mm


)

No

Log Ri

Log Rr

( Ri Max )

Urut

(A)

(B)

329.465

2.518

2.27355

(A- B )

(A-B)^2

(A-B)^3

0.2443

0.05966

0.014572

2002
2003
1995
1992
2004
2005
1993

266.222
247.106
227.549
199.012
197.612
194.969
194.856

2
3
4
5
6
7
8

2.425
2.393
2.357
2.299
2.296
2.290
2.290

2.27355
2.27355
2.27355
2.27355
2.27355
2.27355
2.27355

1999

182.080

2.260

2.27355

2000

180.008

10

2.255

2.27355

2001

172.136

11

2.236

2.27355

1997

169.402

12

2.229

2.27355

1996

154.663

13

2.189

2.27355

1991

141.169

14

2.150

2.27355

1998

131.131

15

2.118

2.27355

1990
Total

118.117
2987.380

16

2.072
36.377

2.27355

LogRr
LogRr

LogRi
N
36 ,. 377

2 . 27355
16

SD

( LogRi LogRr )
N 1

SD

0 . 19668
15

SD =

0.0131

0.1517
0.1193
0.0835
0.0253
0.0223
0.0164
0.0162
0.0133
0.0183
0.0377
0.0446
0.0842
0.1238
0.1558
0.2012

Cs

Nx ( LogRi LogRr ) 3
( N 1) x ( N 2 ) xSD 3

Cs

16 x ( 0 . 005800 )
15 x14 x 0 . 0 . 0131 3

Cs =

196.03

0.02301
0.01424
0.00698
0.00064
0.00050
0.00027
0.00026

0.003490
0.001699
0.000583
0.000016
0.000011
0.000004
0.000004

0.00018

-0.000002

0.00033

-0.000006

0.00142

-0.000054

0.00199

-0.000089

0.00708

-0.000596

0.01533

-0.001898

0.02429

-0.003785

0.04050
0.19668

-0.008150
0.005800

G' Diambil Dari tabel Log Pearson


G untuk T ulang 100 =
2.065
Log Rt = Log Rr + G * SD
T

Log Rr

Cs

2.27355

196.03

10

2.27355

25

SD

Log Rt

Rt

0.854

0.0131

2.28475

181.00476

196.03

1.238

0.0131

2.28979

226.62614

2.27355

196.03

1.624

0.0131

2.29485

284.07957

50

2.27355

196.03

1.862

0.0131

2.29797

326.55023

100

2.27355

196.03

2.065

0.0131

2.30063

367.74773

4. Analisa Perhitungan Curah Hujan Metode Gumbel


Besarnya curah hujan untuk periode ulang 2, 5, 10, 25, 50 dan 100 tahun dihitung dengan rumus berikut :

Rt Rr K .S D
K

Yt Yt
Sn

Yt dan Yn diperoleh dari tabel ( terlampir )


Rr

N
Yt Ln ln T 1 / T

SD

R R

N 1

Dimana :
Rt = Curah hujan dengan periode ulang T tahun
Rr = Curah hujan rata rata
K = Faktor koefisien
SD = Standard Deviasi
Sn = Pengurangan Standard Deviasi
Yt = Pengurangan Variasi

Yn = Pengurangan Variasi yang nilainya tergantung dengan banyak sampel


N = jumlah data pengukuran
T = lamanya periode ulang
Untuk N = 16 tahun , diperoleh : yn = 0.5157
Sn = 1.0316

Yt ln ln 2 1 / 2 0.3665

Untuk T = 2 tahun

Yt ln ln 5 1 / 5 1.994

Untuk T = 5 tahun

Yt ln ln 10 1 / 10 2.2502

Untuk T = 10 tahun

Yt ln ln 25 1 / 25 3.1985

Untuk T = 25 tahun

Yt ln ln 50 1 / 50 3.9019

Untuk T = 50 tahun

Yt ln ln 100 1 / 100 4.6001

Untuk T = 100 tahun

Rata rata pengamatan (x) = x/n = 3110.0914 / 16 = 194.38071


2

X 1 37783.862
2

X 2 x 2 / N 643042 / 16 40190.103

Standard Deviasi : S X

SX

2
2
N
X 2 X1
N 1

16
40190 .103 37783 .862
15

S X 50 .662

PERHITUNGAN CURAH HUJAN METODE GUMBEL

Tahun

Curah hujan max ( mm )


X
1994
329.465
2002
266.222
2003
247.106
1995
227.549
1992
199.012
2004
197.612
2005
194.969
1993
194.856
1999
182.080
2000
180.008
2001
172.136
1997
169.402
1996
154.663
1991
141.169
1998
131.131
1990
118.117
Total
3105.497
Rata-rata pengamatan ( X ) =
=

X12
X 22

Rank
M
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Periode
Ulang
T = (n+1) / M
17.000
8.500
5.667
4.250
3.400
2.833
2.429
2.125
1.889
1.700
1.545
1.417
1.308
1.214
1.133
1.063

X/N
194.09

37672.311

=
=

X / N
40361.216

N
( X 22 X 12 )
( N 1)

Sx
Standard Deviasi
=

53.555

X
108547.186
70874.153
61061.375
51778.547
39605.776
39050.503
38012.911
37968.861
33153.126
32402.880
29630.802
28697.038
23920.644
19928.687
17195.339
13951.626
645779.454

Rn = X + Sx . K
T
5
10
25
50
100

Sx

0.967
1.703
2.632
3.321
4.005

53.555
53.555
53.555
53.555
53.555

194.094
194.094
194.094
194.094
194.094

245.881
285.298
335.051
371.951
408.582

RINGKASAN PERHITUNGAN CURAH HUJAN

METODE

T. ulang
5
10
25
50
100

GUMBEL

HASPER

L. PEARSON

WEDUWEN

245.881
285.298
335.051
371.951
408.582

242.816
290.015
353.963
403.446
455.213

181.005
226.626
284.080
326.550
367.748

210.030
245.966
294.810
330.746
366.332

455.213

= Data Maksimum

B . Debit Banjir Rencana ( Design Flood Flow )


Debit banjir rencana adalah besarnya debit yang direncanakan untuk melewati bendung. Analisa untuk mencari debit banjir tertentu disebut
frequency analysis dan perhitungan biasanya dilakukan dengan menggunakan beberapa metode antara lain :
1.
2.
3.
4.

Metode Dr. Mononobe


Metode Haspers
Metode M.A.F ( Mean Annual Flood )
Metode J . P Der Weduwen

Analisa dan perhitungan design flood flow dengan metode J . P Der Weduwen.
Untuk menghitung debit banjir pada suatu periode ulang tertentu dari catchment area berkisar antara 0 100 km2. Ir J.P Der Weduwen
menggunakan rumus berikut :

Qn M n . F .q .R70 / 240
Dimana :

Qn = debit banjir yang terjadi pada periode ulang n tahun (m3 / detik)
Mn = koefisien perbandingan yang diambil dari tabel.
q = . . q
= banyaknya air (m3/detik/km2) .. lihat grafik
Rn = curah hujan harian pada periode ulang n tahun (mm)
R70 = curah hujan 24 jam sebelum 240 mm yang pernah terjadi satu

Analisa dan perhitungan design flood flow dengan metode Hasper ( >100 km2).
Untuk menghitung debit banjir rencana, digunakan rumus berikut :

Qt . .q n . A
Dimana :
= koefisien runoff

= koefisien reduksi
qn = hujan maks =

1 0.012 A 0.7
1 0.075 A 0.7

t 3.710
t 2 15

3
4

0.4t

A
12

Rn
3.6 * t

dimana : - t dalam jam


- Rn (curah hujan maksimum) dalam mm / hari
- qn (debit per satuan luas) dalam m3/det km2
Waktu konsentrasi (t)
0.8
0.3
t 0. 1 L I
dengan L = panjang sungai , I = kemiringan
Intensitas hujan terbagi dalam 3 kondisi :
a. t < 2 jam

Rt

t.R24

t 1 0.0008 * 260 R24 2 t


b. 2 jam t 19 jam

kali selama 70 tahun pengamatan (mm).

t.R24
t 1
c. 19 jam t 30 jam
Rt

Rt 0.707 R24 . t 1
t dalam jam dan Rt , R24 dalam mm.
Qt dalam m3/detik dan qn dalam m3/det km2.
Contoh perhitungan :
Diketahui : luas catchment area (km2)
= 630
Panjang sungai (km)
= 52.5
Kemiringan rata rata sungai = 0.0007
Penyelesaian :
t 0. 1 L

I 0.3 dengan L = 52.5 dan I = 0.0007


0.8
0.3
t 0.152 .5 0.0007
0.8

t 21.018 jam

1 0.012 A0.7 1 0.012 630

0.267
1 0.075 A0.7 1 0.0756300.7
0.7

3
4

t 3.710
t 2 15

21.018 3.710
21.0182 15

0.4t

A
12
3
4

0.4 21.018

= 0.6746

630
= 1.482
12

qn
Berarti

Rn
0.0132 Rn
3.6 * t

Qn = . . qn . A = (0.267) (0.6746) (0.0132) (630) Rn = 1.501 Rn

Misalkan Q5 pada metode Hasper yang kita cari : R5 = 238.99


Maka, Q5 = 1.501 R5 = 358.768 m3/detik
Q10 = 1.501 R10 = 423.64 m3/detik
Q25 = 1.501 R25 = 511.53 m3/detik
Q50 = 1.501 R50 = 579.54 m3/detik
Q100 = 1.501 R100 = 650.69 m3/detik
Setelah dilakukan kombinasi kombinasi antara metode Hasper, Weduwen ,Gumbel dan Log Person, maka diambil nilai dari Q100 max = 650.695
m3/detik.
Jadi, debit banjir rencana yang didapat : 650.695 m3/detik.

Perhitungan Debit Banjir

BAB IV
DESIGN HIDROLIS BENDUNG

I.

Elevasi puncak mercu


Elevasi puncak mercu bendung ditentukan dengan muka air rencana pada elevasi tertinggi. Tinggi air sawah, kehilangan tinggi energy,
pada alat ukur, bangunan-bangunan dan saluran ditambah dengan keamanan sebesar 0.05-0.10m.
Elevasi sawah
Tinggi air sawah
Kehilangan energy dari sawah ke saluran tersier
Kehilangan energy dari saluran tersier ke saluran sekunder
Kehilangan energy dari saluran sekunder ke induk
Kehilangan energy akibat kemiringan saluran induk ke sedimen trap
Kehilangan energy akibat bangunan ukur
Kehilangan energy dari sedimen trap ke intake
Kehilangan energy pada intake
Kehilangan energy akibat eksploitasi
Faktor keamanan
Jadi ketinggian elevasi puncak mercu

: 915 m
: 0.15 m
: 0.10 m
: 0.10 m
: 0.10 m
: 0.10 m
: 0.10 m
: 0.10 m
: 0.10 m
: 0.10 m
: 0.10 m
: 916.25 m

II.

Elevasi dasar sungai


berdasarkan data yang tersedia, elevasi dasar sungai rencana adalah 910 m

III.

Tinggi bendung
Perhitungan tinggi bendung adalah selisih antara elevasi puncak mercu dengan elevasi dasar sungai sehingga diperoleh tinggi bendung (D)
adalah sebagai berikut.
Tinggi bendung (D) : elevasi puncak mercu elevasi dasar sungai
: 916.25-910
: 6.25 m

IV.

Lebar bendung
Lebar bendung yaitu jarak antara pangkal pangkalnya (abutment), sebaiknya sama dengan lebar rata-rata sungai pada bagian yang stabil.
Lebar maksimum bendung hendaknya tidak lebih dari 1.2 kali lebar rata rata sungai pada ruas yang stabil
Lebar maksimum bendung 1.2 x lebar rata rata sungai
Lebar maksimum bendung 1.2 x 40
Lebar maksimum bendung 48

V. Lebar efektif bendung


Lebar efektif bendung adalah lebar bendung yang bermanfaat untuk melewatkan debit lebar efektif (Be) dihubungkan dengan mercu yang
sebenarnya (B). Lebar efektif dapat didefinisikan sebagai jarak antara pangkal pangkal bendung atau tiang pancang

Untuk mendapat lebar efektif bendung dapat dihitung dengan rumus :


(
) ;dimana : Be = lebar efektif bendung (m)
n = jumlah pilar
kp = koefisien konstraksi pilar
ka = koefisien pangkal bendung
H1 = tinggi energy diatas mercu (m)
B = b1+b2+b3 = 40.2 m
Maka B = b1+b2+b3+b4

= 1+21,5+21,5+1
= 45 m
(
( (

*) pilar menggunakan pilar berujung bulat, maka Kp=0.01


*) pangkat tembok bulat dengan tembok hulu pada 90o kearah
aliran dengan 0.5 H1> r >0.15 H1 maka Ka=0.10
*) harga Kp dan Ka dapat dilihat pada tabel di hal berikut

)
)

VI. Perencanaan Mercu


Bendung direncanakan dari beton cor 1:2:3, pada bagian luar dipasang tulangan yang berfungsi sebagai pengaku dan menjaga agar beton
tidak retak, dengan mercu bulat, maka hulu tegak lurus dan kemiringan hilir adalah 1:2 (sudut 27o) jari jari mercu bendung diperkirakan
1.5m dan tekanan negative yang bekerja pada mercu akan diperiksa kemudian

Dari rumus debit bendung muka air rencana dapat ditentukan

sebagai langkah awal diambil jari jari mercu bendung

)
misalkan harga Cd diambil 1.224 sehingga :
(
)
(
)(
)

Dengan cara trial and error


Dengan harga H1 = 3,9 m , koreksi kembali harga Cd apakah sama dengan permisalan diatas melalui grafik P/H1
*) untuk P/H1= 6.25/3.9 = 1.603 dan 0,67 H1= r , maka Co=1,24
*) untuk P/H1= 6.25/3.9 = 1.603 maka C1= 0,991
*) untuk P/H1= 6.25/3.9 = 1.603 maka C2= 0,996
Cd = Co x C1 x C2 = 1.224

Untuk menghindari bahaya gravitasi local bila mercu terbuat dari beton, tekanan air minimum pada mercu bendung dibatasi sampai 4 m dan
mercu terbuat dari pasangan batu, maka tekanan minimum sebaiknya dibatasi sampai 1 m. kemudian kita control harga tekanan yang terjadi
pada mercu di mana mercu bendung terbuat dari pasangan batu. Tekanan yang terjadi pada mercu adalah merupakan fungsi dari H1/r , lihat
gambar 5.5 berikut ini :

Gambar 5.5

Untuk H1/r = 3.9 / 2.6 = 1.5


Dari gambar 5.5 didapat harga P/pg/H1= - 0.4 untuk H1 / r = 1,5
P/pg = -0.4 x H1 = -0.4 x 3.9 = -1,56 > -4 (ok)
5.1. Menentukan tinggi muka air di sungai sebelum ada bendung
Koefisien kekasaran Manning (n) diambil 0.030
Perhitungan kedalaman sungai untuk debit banjir dengan periode ulang 100 tahun
Q100 = 705,658
- Lebar sungai
: 40 m
- Kemiringan talud
: (1 : 1,7)
- Koefisien manning
: 0.030
- Kemiringan sungai
: 0.00045
Luas tampang basah

(
(

)
)

Keliling basah

Jari jari hidraulis

Kecepatan aliran (Manning) :


(

(
Debit aliran

:
(

)(

Dengan metode trial dan error didapat harga h = 6.25 m


sebagai tinggi air sebelum bendung (dihulu)
5.2. Menentukan tinggi air diatas mercu bendung
Rumus :
dimana : H1 = Tinggi energy diatas mercu (m)
h1 = Tinggi air diatas mercu (m)
V1 = Kecepatan aliran diatas mercu (m/s)
g = Percepatan gravitasi = 9.81 m/s2
Q = Debit banjir rencana (m3/s)
B = Lebar total bendung (m)
P = Tinggi bendung (m)
q = Debi per satuan lebar (m3/s/m)

Perhitungan :

Dengan metode trial dan error didapat h1 = 3,7 m


jadi tinggi air banjir rencana di atas mercu = 3,7 m
Maka tinggi elevasi muka air maksimum dari dasar hulu bendung :
= elevasi puncak mercu + tinggi air banjir
= 916.25 +3,7 m
= 919.95 m
SKETSA PROFIL BANJIR

Maka rekapitulasi hasil desain hidrolis bendung adalah sebagai berikut :


1. Bendung mempunyai mercu bulat dengan radius
2. Elevasi dasar hulu bendung
Elevasi puncak mercu
Elevasi muka air banjir
3. Tinggi bendung (P)
4. Lebar bendung (B)
Lebar pilar
Lebar mercu
5. Komponen hidraulis bagian hulu (upstream)
lebar sungai
Kemiringan talud
Koefisien Manning (n)

: 3,36 m
: + 910 m
: + 916.25 m
: + 919.95 m
: 6.25 m
: 48 m
:1m
: 21.5 m
: 40 m
: 1 : 1,7
: 0.030

Kemiringan dasar talud (I)


Luas tampang basah (A)
Keliling basah (P)
Jari jari hidraulis (R)
Kecepatan aliran (v)
TInggi muka air hulu sebelum ada bendung (h)
Debit rencana (Q)
6. Parameter hidraulis mercu
Tinggi air diatas mercu
Tinggi energy diatas mercu
Kecepatan aliran diats mercu (V1)
Kedalaman air pada kondisi spill

: 0.00045
: 328.125 m2
: 64.654 m
: 5.0751 m
: 2.089 m/detik
: 6,25 m
: 705,658 m3/s
: 3,7 m
: 3,9 m
: 1,612 m/s
: 1,233 m

Perencanaan kolam olak (peredam energi)


Aliran diatas bendung disungai dapat menunjukkan berbagai pelaku disebelah bendung akibat kedalaman air yang ada (h2). Gamabr ini
menyajikan kemungkinan yang terjadi pada aliran diatas bendung.
Kasus A : menunjukkan aliran tenggelam yang menimbulkan sedikit saja gangguan dipermukaan berupa timbulnya gelombang dan gangguan
pengerusan hanya sedikit.
Kasus B : menunjukkan loncatan tenggelam yang diakibatkan oleh kedalaman air hilir yang lebih besar daripada oleh kedalaman konjugasi
keadaan aliran demikian aman terhadap gerusan.
Kasus C : adalah apabila kedalaman air di hilir sama dengan kedalaman konjugasi. Untuk keadaan demikian masih aman terhadap gerusan.
Kasus D : terjadi apabila kedalaman air dihilir kurang dari kedalaman konjugsi dan dalam hal ini loncatan air akan bergerak ke hilir. Kasus
ini adalah keadaan yang tidak boleh terjadi karena loncatan air akan menghempang bagian sungai yang tidak terlindungi dan
umumnya menyebabkan pengerusan luas
untuk menemukan keadaan debit yang memberikan keadaan terbaik untuk peredam energy, semua debit harus dicek dengan muka air
hilirnya. Jika degradasi mungkin terjadi, maka harus dibuat perhitungan dengan muka air hilir yang terendah yang mungkin terjadi untuk
mencek apakah degradasi mungkn terjadi.

Tipe kolam olak


tipe kolam olak yang akan direncanakan disebelah hilir bendung bergantung kepada energy air yang masuk yang dinyatakan dengan bilang
froude dapat dibuat pengelompokkan berikut daslam perencanaan kolam :
a. Untuk
tidak diperlukan kolam olak ; pada saluran tanah, bagian hilir harus dilindungi dari bahaya erosi. Seluruh pasangan batu
atau beton tidak memerlukan lindungan khusus.
b. Bila
makan kolam olak diperlukan untuk meredam energy secara efektif. Pada umumnya kolam olak dengan ambang
yang mampu bekerja dengan baik, untuk penurunan muka air
dapat dipakai bangunan terjun tegak.
c. Jika
makan akan timbul situasi yang paling sulit dalam memilih kolam olak yang tepat loncatan air tidak terbentuk
dengan baik dan menimbulkan gelombang smpai yang jauh di saluran. Cara mengatasinya adalah dengan mengusahakan agar kolam olak
untuk bilang Froude ini mampu menimbulkan olakan (turbulensi) yang tinggi dengan pemasangan blok depan kolam. Blok ini harus
berukuran besar (USBR tipe IV).
d. Kalau
ini merupakan kolam yang paling ekonomis, karena kolam ini pendek. Tipe ini termasuk kolam dan olak tipe USBR tipe
III yang dilengkapi dengan blok depan dan blok halang. Kolam loncat air yang sama dengan tangga dibagian ujungnya akan jauh lebih
panjang dan mungkin harus digunakan dengan pasangan batu.

Terlepas dari kondisi hidraulis yang dapat dijelaskan dengan bilangan Froude dan kedalaman air hilir, kondisi dasar sungai dan tipe sedimen
yang diangkut memainkan peranan yang penting dalam pemilihan kolam olak.
Perhitungan perencanaan kolam olak :

) ; dimana :

)( (

V1
g
H1
z

= kecepatan awal loncatan (m/s)


= percepatan gravitasi = 9.81 (m/s2)
= tinggi energy diatas ambang (m)
= tinggi jatuh (m)
= D-P/pg = 6.25 - 1.56 = 4.69 m

; dimana

) (

menghitung tinggi ambang ujung (n)


(

menghitung panjang kolam (Lj)


(
)
(
)
Lj adalah panjang kolam dalam kondisi normal, karena desain kolam olak menggunakan tipe maka panjang kolam olak :
(
)
menghitung jarak blok muka dan blok halang (Lh)
(

menghitung tinggi blok halang (n3)


(

menghitung jarak blok halang ujung dengan dinding


(

menghitung jarak antara blok halang

menghitung lebar bagian atas blok halang


(

Perhitungan terhadap rembesan


Berdasarkan dara mekanika tanah dapat diketahui jenis tanah pada lokasi bendung adalah sebagai berikut :
000
020

H1= 0.2 m

000

H1= 0.8 m

100
000

H1= 1.2 m

220

4.6m

00

H1= 0.4 m

260
000

H1= 2 m

460
000

Harga harga koefisien rembesan dapat dilihat pada tabel :


Jenis tanah
Kerikil tanah
Pasir kasar
Pasir halus
Lanau
Lempung

K
1.0 10.00
1.00 0.01
0.01 0.001
0.001 0.00001
< 0.00001

Berdasarkan tabel harga harga koefisien rembesan diatas dapat dirumuskan harga harga koefisien untuk masing masing lapisan tanah
dibawah bendung
Untuk kedalaman
Untuk kedalaman
Untuk kedalaman
Untuk kedalaman
Untuk kedalaman

cm/s
cm/s
cm/s
cm/s
cm/s

Berikut ini adalah skema peristiwa rembesan

KH1

Kv1
Kv2

KH2

Kv3

KH3

Kv4

KH4
KH5

Kv5

Untuk bidang horizontal


(

)
(

Untuk bidang vertical


(

)
(

Banyaknya jumlah air yang mengalir persatuan waktu dan persatuan lebar profil kolam olak adalah sebagai berikut
Untuk bidang horizontal
(

Dimana :
I
= gradient hidrolik saluran beton = 0.0033
KH(eq) = koefisien remebesan horizontal
A
= luas penampang melintang tanah dasar
= 4.6xL = 4.6x 14.7096 = 67.66416 m2

Untuk bidang vertical


(

Dari hasil perhitungan qv dan qh diatas yang sangat kecil, maka dapat disimpulkan bahwa bangunan bendung tahan terhadap rembesan air.

BAB V
ANALISA STABILITAS BENDUNG

1. Anggapan Stabilitas Bendung


Untuk menyederhanakan perhitungan tanpa mengurangi harkat dari perhitungan itu sendiri , maka dilakukan anggapan-anggapan sebagai
berikut:
a. Penampang yang ditinjau adalah bagian penampang yang paling lemah yaitu pada potonan I-I dan II-II seperti dilihat pada gambar.
b. Diperhitungkan pada lantai hulu bendung penuh dengan material lumpur setinggi mercu bendung
c. Peninjauan pada tinggi guling adalah titik k pada potongan II-II
d. Perhitungan dilakukan pada 2 keadaan , yaitu :
Pada waktu air normal
Pada saat air banjir
2. Syarat-syarat stabilitas bendung
a. Pada konstruksi batu kali tidak diizinkan terjadinya tegangan tarik.
Berarti resultan e gaya yang bekerja pada tiap-tiap potongan harus masuk Kern (inti)
b. Momen tahanan (MT) harus lebih besar daripada momen guling (mg) dan factor keamanan untuk itu harus berada paling tidak diantara
1.5-2.0

c. Konstruksi tidak boleh bergeser , factor keamanan diambil 1.5-2.0

Dimana : Fk = factor keamanan


= koefisien geser antara konstruksi dengan dasar perletakan
d. Tegangan tanah yang terjadi tidak boleh melebihi tegangan tanah izin ( Zt < Zt )
e. Setiap pada tiap bidang kontak perletakan tidak boleh terangkat oleh gaya keatas (up lift). Jadi harus selalu dalam keadaan seimbang
antara tekanan keatas dan tekanan ke bawah.

3. Gaya gaya yang bekerja pada bendung


Gaya gaya yang bekerja pada bendung mempunyai air penting dalam perencanaan adalah :
a. Tekanan air
b. Tekanan lumpur
c. Gaya gempa
d. Berat sendiri bendung
e. Reaksi pondasi

A. Tekanan Air
Gaya tekanan air yang bekerja terhadap bangunan dapat dibagi menjadi dua bagian , yaitu :
- Gaya hidrostatik
- Gaya hidrodinamik
Tekanan Hidrostatik adalah suatu fungsi kedalaman dibawah permukaan air. Tekanan air akan bekerja tegak lurus terhadap muka
bangunan. Karena itu agar perhitungan lebih mudah gaya horizontal dan vertical dikerjakan secara terpisah. Tekanan air dinamik jarang
diperhitungan untuk stabilitas bendung. Gaya tekanan ke atas untuk bendung pada permukaan tanah darat (subgrade) lebih rumit. Gaya
angkat pada pondasi itu ditemukan dengan membuat jaringan aliran.
Suatu flownets perkiraan umumnya memadai
jika hanya digunakan untuk mencari jumlah
rembesan , tetapi jika digunakan untuk mencari air
pori maka flownets tersebut harus digambar secara
tepat.
Dari flownets tekanan rembesan pada tanah
dibagian sebelah dalam kira-kira :
Dari ini dapat disimpulkan bahwa rembesan
bawah tanah pada bendung tidak akan terjadi
karena tekanan kebawah lebih besar daripada
tekanan rembesan (flownet) atau dengan asumsiasumsi yang digunakan oleh Lane , untuk teori

angka rembesan (weight creep theory). Untuk pembuatan jaringan aliran bagi bangunan utama yang dijelaskan disini biasanya cukup
dengan plot tangan saja.
Dalam teori angka rembesan lane , diandaikan bahwa bidang horizontal memiliki daya tahan terhadap aliran (rembesan) 3 kali lebih
lama dibandingkan dengan bidang vertical ini untuk menghitung gaya tekanan keatas dibawah bendung dengan cara membagi beda tinggi
pada bendung sesuai dengan bidang vertical ini untuk menghitung panjang relative disepanjang pondasi.
Dari gambar flowness.
Jumlah penurunan energy ( Equipotensial drop) Nd = 16
Jumlah aliran (number of flow ) Nf = 5
Rumus rembesan : q = k.h,Nf/Nd
Dimana : q = debit rembesan (
)
K = koefisien permeabilitas tanah
h = perbedaan tinggi air sepanjang flowness
maka :
q = 2,272 .
x 5 x 5/6
q = 3,55 x
Dari perhitungan diatas terlihat bahwa debit rembesan sangat kecil sekali , maka bendung aman terhadap rembesan
Dalam bentuk rumus ini berarti bahwa gaya angkat pada titik x disepanjang dasar bendung dapat dituliskan :
(

Dimana :

Px = gaya angkat pada titik x


Hx = tinggi energy dihulu bendung , m
L = panajng total bidang kontak bendung dengan tanah bawah . m
Lx = jarak sepanjang bidang kontak dari hulu sampai x
= beda tinggi energy , m
Dan dimana L dan Lx adalah jarak relative yang dihitung menurut cara lane , bergantung pada arah bidang tersebut. Bidang yang membentuk
sudut
atau lebih terhadap bidang horizontal dianggap vertical
B. Tekanan lumpur
Tekanan lumpur yang bekerja terhadap muka hulu bendung atau pintu dapat dihitung sebagai berikut :

Ps =

Dimana : Ps = gaya yang terletak pada 2/3 kedalaman dari atas lumpur yang bekerja secara horizontal
H = kedalaman lumpur , m
= sudut geser dalam ,
C. Gaya gempa
Harga gaya gempa diberikan dalam bagian parameter bangunan. Harga tersebut didasarkan pada peta Indonesia yang menunjukkan
berbagai daerah dan resiko. Factor minimum yang akan diperhitungkan adalah dengan menggunakan data-data kegempaan sebagai berikut
:
Percepatan gempa dasar , , ac = 167 cm/
Percepatan gempa rencana ,
, ad = n (
)
Koefisien gempa
, E = ad / g
Gaya horizontal
, He = E x
Koefisien jenis tanah
, n,m = 1,54 ; 0,87
Factor geografis
, z = 0,61
Perhitungan :
- Percepatan gempa rencana
Ad = n (
)
= 1,54 (
)
= 1,565 m /
-

Koefisien gempa
E=

D. Berat sendiri bendung


Berat bangunan tergantung pada bahan bangunan yang dipakai , untuk tujuan perencanaan pendahuluan , dapat dipakai harga-harga berat
vol dibawah ini :
- Pasangan batu =
kg /
- Beton tumbuk =
kg /
- Beton bertulang =
kg /

E. Reaksi pondasi
Reaksi pondasi dapat diandaikan berbentuk trapezium tersebar secara linier.
Dari gambar tersebut , rumus-rumus dapat
diturunkan dengan mekanika sederhana
tekanan vertical pondasi adalah :
P =

( )

( )

/ s x m

.(1)
Dimana:
P = tekanan vertical pondasi
W = keseluruhan gaya vertical , termasuk
tekanan keatas tapi tidak termasuk reaksi
pondasi
A = luas dasar pondasi ,
E = eksentisitas pembebanan , atau jarak
dari pusat gravitasi dasar (base) sampai
titik potong resultante dengan dasar
I = momen kelembaban (momen inersia)
dasar dipusat grarvitasi
M = jarak dari titik pusat luas dasar sampai
ke titik dimana tekanan dikehendak
Untuk dasar segiempat dengan
panjang L dan lebar 1.0 m
I = /12 dan A=1 , rumus tadi menjadi
P = (w) / 1 (1+12e/ )(2)
Sedangkan tekanan vertical pondasi pada ujung bangunan ditentukan dengan rumus :
P = (w) / L (1+6e/L).(3)
Dengan M = M = L , maka
P = (w) / L (1+6e/L).(4)

Bila harga e dari gambar diatas dan persamaan 2 lebih besar dari 1/6 maka akan dihasilkan tekanan negative pada ujung bangunan. Biasanya
tarikan tidak akan diizinkan yang memerlukan irisan yang mempunyai dasar segiempat sehingga resultante untuk semua kondisi pembebanan jatuh
pada daerah inti.
4. Perlindungan terhadap erosi bawah tanah
Pada saat air terbendung maka akan terjadi perbedaan elevasi permukaan air di depan dan dibelakang bendung yang akan menimbulkan
perbedaan tekanan. Perbedaan tekanan ini akan mengakibatkan adanya aliran dibawah bendung , terlebih jika tanah dasar bendung bersifat
tiris(porcus). Aliran ini akan menimbulkan tekanan pada butir-butir tanah dibawah bendung. Tekanan ini cukup besar untuk mendesak butirbutir tanah yang lama kelamaan akan timbul pengerusan terutama di ujung belakang bendung. Untuk melindungi bendung dari erosi bawah ,
ada beberapa cara yang ditempuh kebanyakan bangunan hendaknya menggunakan kombinasi beberapa konstruksi pelindungnya.
Pertimbangan utama dalam membuat lindungan terhadap erosi bawah tanah adalah mengurangi kehilangan beda tinggi energy persatuan
panjang pada saluran rembesan serta ketidakterusan (discontinuitas) pada gansini. Dalam perencanaan bangunan , pemilihan kosntruksi
lindung berikut dapat dipakai sendiri-sendiri atau kombinasi dengan :
4.1 Lantar muka / hulu
4.2 Lantai hulu akan memperpanjang salur rembesan , karena gaya tekan ke atas dibawah lantai diimbangi oleh tekanan air di atasnya , maka
lantai dapat dibuat tipis. Persyaratan terpenting adalah bahwa lantai ini kedap air demikian bila sambungan lantai dengan tubuh bendung.
Keadaan dasar saluran adalah cukup baik sehingga lantai muka dapat dibuat dari beton kedap air dengan tulangan dan dihubungkan
dengan tubuh bendung.
Salah satu penyebab utama runtuhnya
konstruksi ini adalah bahaya penurunan tidak
merata antara lantai dan tubuh bendung
karena itu sambungan harus direncanakan
dan dilaksanakan dengan amat hati-hati.
Lantai itu sendiri dapat dibuat dari beton
bertulang dengan tebal 0,3m . penting untuk
menggunakan sekat air dari karet yang tidak
akan rusak akibat adanya penurunan yang
tidak merata. Keuntungan dari pembuatan
lantai hulu adalah biaya lebih murah
dibandingkan dengan dinding haling vertical
yang dalam , apalagi jika tanah dasar terdiri
dari pasir , kerikil dan batu-batuan sangat

sulit dalam waktu memasukkan dinding halang vertical.


4.3 Alur pembuang / Filter
Alur pembuang dibuat untuk mengurangi gaya angkat dibawah kolam olak bendung karena ditempat. Tempat ini tidak cukup tersedia
berat pengimbang dari tubuh bendung. Untuk mencegah hilangnya bahan padat melalui lubang ini konstruksi sebaiknya dibuat dengan
filter yang dipasang terbalik dari kerikil atau pasar bergradasi baik atau bahan filter sintesis.
Gambar berikut memperlihatkan lokasi yang umum dipilih untuk mendapatkan filter serta detail konstruksinya
4.4 Stabilitas terhadap erosi bawah tanah ( piping )
Bangunan bangunan utama seperti bendung
harus dicek stabilitasnya terhadap erosi bawah
tanah dan bahaya runtuh akibat naiknya dasar.
Bahaya terjadinya erosi bawah tanah dapat
dicek dengan membuat aliran flownet dan
beberapa metode empiris seperti metode beigh,
metode lane dan metode kashia. Metode lane
atau metode angka rembesan lane ( weighted
creep ratio methode ) adalah metode yang
dianjurkan untuk mengecek bangunan utama
untuk mengetahui adanya erosi bawah tanah.
Persamaan method lane dapat ditulis sebagai
berikut :
CL =

Dimana : CL = angka rembesan lane


= jumlah panjang garis rembesan vertical
= jumlah panjang garis rembesan horizontal
Z = beda tinggi muka air hilir dan hulu bendung
Untuk menentukan panjang lantai muka yang diperlukan guna mencegah bahaya rembesan (seepage) pada ujung hilir bendung dibuat lantai
dan beton cor kedap air setebal 0,3m . panjang lantai muka tergantung [pada jenis tanah pondasi bendung .
Untuk menghitung panjang lantai muka dipakai metode lane.
Berdasarkan hasil penyelidikan geologi dan mekanika tanah dilokasi bendung. Jenis tanah dilokasi bendung terdiri dari tanah lempung pasir
abu-abu dengan koefisien permeabilitas (k) berkisar antara.

no
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Harga-harga Minimum Angka Rembesan Lane ( CL )


Macam tanah
CL
Pasir sangat halus atau lanau
8.5
Pasir halus
7.0
Pasir sedang
6.0
Pasir kasar
5.0
Kerikil halus
4.0
Kerikil sedang
3.5
Kerikil kasar termasuk berangkai
3.0
Bongkahan dengan sedikit berangkal dan kerikil
2.5
Lempung lunak
3.0
Lempung sedang
2.0
Lempung keras
1.8
Lempung sangat keras
1.6

Perhitungan panjanglantai muka dengan metode lane


Menurut metode lane panjang creep lane untuk memenuhi syarat sbb :

Beda tinggi muka air dihulu dan dihilir bendung


a. Pada saat normal dimana elevasi muka air dihulu bendung adalah sama dengan elevasi puncak mercu , sedangkan dihilir dianggap tidak
ada
Perbedaan tinggi air (zn) = elevasi puncak mervu elevasi lantai dasar kolam olak
= 919.95 914.042
= 5.908
b. Pada saat banjir dimana elevasi muka air di hulu atau dihilir bendung diabaikan debit banjir 100 tahun sebelum ada bendung.
Titik

Garis

Panjang horizontal
Lh (m)
1/3 Lh (m)

Panjang vertical
Lv (m)

A
AB

Panjang kumulatif
(m)
0.00

2.00

2.00
BC

1.5

0.5

2.50
CD

3.5
DE

6.5
EF

8.5
FG

9.5
GH

1.5

11
HI

12
IJ

2.5

14.5
JK

16.5
KL

17.5
LM

14.7096

4.9032

22.4032
MN

1.5

23.9032
NO

0.333

24.2362
OP

28.2362
Control harga angka rembesan lane (Cw)
Panjang total creepline

= 28.2362
Perbedaan muka air di hulu dan dihilir bendung Z(Hw) = 5.908
(ok)

Perhitungan Tebal lantai kolam olak


Dari perhitungan da menurut potongan memanjang bendung terdapat data ruang olak sbb:
Elevasi puncak mercu
= 916.25
Elevasi muka air banjir hulu
= 919.95
Elevasi muka air banjir hilir
= 914.042
Elevasi lantai ruang olakan
= 910
Tebal lantai dititik L
= 4.5
Tebal lantai dititik M
=4
Panjang creepline total (Lt)
= 28.2362 m
Panjang creepline sampai di titik L (LL)
= 17.5 m
Panjang creepline sampai di titik M (LM) = 22.4032 m

Perhitungan gaya angkat (uplift pressure)


Perhitungan gaya angkat (uplift pressure) dapat dihitung dengan rumus :
UL = ( HL ( LL/LT ) x
) w
Dimana :
UL = uplist pressure pada titik L ( kg/
)
HL = tinggi muka air dihulu benduung diukur dari titik L (m)
LL = panjang creepline sampai titik L
LT = panjang creepline total (m)
= perbedaan tinggi dihulu

Perhitungan
1. Pada saat air normal
= 2.208
= 10.75
= 10.25
Up pressure dititik L
UL = ( HL (LL/LT) x
) w
= (10.75 (17.5/28.2362) x 2.208 ) 1000

= 9382 kg/
Berat lantai dititik L
WL =
x tL
= 2400 x 4.5
= 10800 kg/
WL > UL 10800 > 9382 . . . . . .ok
Uplift dititik M
Um = (Hm - (LM/LT) x
) w
= ( 10.25 (22.4032/28.2362) x 2.208 ) 1000
= 8498 kg/
Berat lantai dititik M dan berat air
Wm =
x tm
= 2400 x 4
= 9600
WM = 9600 > 8498 . . . . . .ok
2. Pada saat banjir
= 5.908
= 14.45
= 13.95
Up pressure dititik L
UL = ( HL (LL/LT) x
) w
= (14.45 (17.5/28.2362) x 5.908 ) 1000
= 10788 kg/
Berat lantai dititik L
WL =
x tL +
x hw

= 2400 x 4.5 + 1000 x 5.448


= 16248 kg/
WL > UL 16248 > 10788 . . . . . .ok
Uplift dititik M
Um = (Hm - (LM/LT) x ) w
= ( 13.95 (22.4032/28.2362) x 5.908 ) 1000
= 9263 kg/
Berat lantai dititik M dan berat air
Wm =
x tm +
x hw
= 2400 x 4 + 1000 x 5.448
= 15048 kg/
WM > UM 15048 > 9263..... ok

PERHITUNGAN GAYA-GAYA PADA BENDUNG

A. Akibat Berat Sendiri


Tabel perhitungan gaya dan momen akibat berat sendiri tubuh bendung.
Momen terhadap K
Gaya
Besar gaya/berat sendiri (kg)
Lengan gaya (m)
(kg.m)
G1
3x9,25x2400
= 66600
10,5
699300
G2
0.5x3x3.45x2400 = 12420
8
99360
G3
3x4.3x2400
= 30960
7,5
232200
G4
0.5x6x4.3x2400 = 30960
4
123840
G5
6x2.5x2400
= 36000
3
108000
G = 176940
MK = 1262700
B. Akibat Gaya Gempa

Percepatan gempa rencana, ad = 1.565 m/s2


Koefisien gempa, E = 0.1595
Sehingga:
He = E x G = 28221,93 kg

Gaya horizontal = koefisien gempa x massa bangunan elemen gedung


Tabel perhitungan gaya dan momen akibat gaya gempa.
Gaya
R1
R2
R3
R4
R5

Besar gaya (kg)


0.1595x38786
= 10622,7
0.1595x31290
= 1980,99
0.1595x12000
= 30960
0.1595x1200
= 30960
0.1595x36000
= 2779.2
R = 28221,93

Lengan gaya (m)


5.625
7.95
4.65
2.933
1.25

Momen terhadap K
(kg.m)
59752.6875
15748.8705
22962.258
14483.506
7177.5
MK = 120124.822

C. Akibat tekanan lumpur


Dianggap lumpur 1/3 tinggi bendung dari dasar bendung dengan berat isi lumpur sub = 1.2 ton/m3 dan sudut geser dalam = 18o

Untuk perhitungan gaya-gaya akibat tekanan lumpur, akan ditabulasikan berikut.


Lengan momen
Gaya horizontal (H)
Gaya vertikal (V)
No.
[kg]
[kg]
x [m]
y [m]
1

12375

6.083

Momen
Mx [kg.m]
My [kg.m]
-

75277.125

= 12375

= 75277.125

D. Akibat gaya hidrostatis

1. Saat air normal


No.
1

Gaya horizontal (H)


[kg]
0.5x(6.25)2x1000
= 19531.25
= 19531.25

Gaya vertikal (V)


[kg]
-

Lengan momen
x [m]
y [m]
-

6.083

Momen
Mx [kg.m]
My [kg.m]
-

118808.6
= 118808.6

2. Saat air banjir


Gaya horizontal (H)
[kg]

No.

Lengan momen
x [m] y [m]

Momen
Mx [kg.m]
My [kg.m]

H1=(9,95+3,7) (6,25) (0,5)


(1000) = 42656,25

6,083

259478

H2 = 0.5(3,7)2(1000)
= 6845

3.733

25552,385

176396,34

3.5

43270,58

0.5

30940,79

250607,71

285030,385

V1=5,025x3,7x1000
= 18592,5
V2=1,85x5,03x1000
= 9305,5
V3=1,85x5,03x1000
= 9305,5

3
4
5

49501.25

E. Akibat tekanan ke atas (Uplift Pressure)


(

Gaya vertikal (V)


[kg]

37203,5

di mana:
Ux = uplift pressure pada titik x (kg/m2)
Hx = tinggi muka air di hulu bendung diukur dari x (m)
Lx = panjang creep line sampai titik x (m)
Lt = panjang creep line total (m)
H = beda tinggi tekanan di hulu dan di hilir bendung (m)
w = berat jenis air (1000 kg/m3)

1. Pada saat air normal


Lt = 28,2362 m
H = 2,208 m
maka:
UE = (7,25-(6,5/28,2362)x2,208) x1000 = 6741,72 kg/m2
UF = (9,25-(8,5/28,2362)x2,208)x1000 = 8585,32 kg/m2
UG = (9,25-(9,5/28,2362)x2,208)x1000 = 8507,12 kg/m2
UH = (7,75-(7,75/28,2362)x2,208)x1000 = 7360,43 kg/m2
UI = (7.75-(7,75/28,2362)x2,208)x1000 = 7325,01 kg/m2
UJ = (10,25-(14,5/28,2362)x2,208)x1000 = 9736,47 kg/m2
UK = (10,25-(16,5/28,2362)x2,208)x1000 = 9665,64 kg/m2
Gaya horizontal

Gaya
HEF
HEF
HGH
HGH
HIJ
HIJ

Besar gaya (kg)


(2)(6741,72 )
0.5(2)(8585,32 - 6741.72)
-1.5 (8507.12)
-0.5(1.5)(8507.12-7360.43)
(2.5)(7325.01)
0.5(2.5)(9736.47- 7325.01)

= 13483.44
= 1843.6
= -12760.68
= -860.0175
= 18312.525
= 3014.325

36653,89 (+)
13620.6975 (-)

Lengan gaya (m)


2.333
1.583
1.25
1.167
0.75
0.5

Momen terhadap K
(kg.m)
31456.87
3073.28
-25521.36
-1290.03
30526,98
2510.93
67568,06 (+)
26811,39 (-)

Gaya Vertikal
Gaya
VFG
VFG
VHI
VHI
VJK
VJK

2. Pada saat banjir


Lt = 28,2362 m
H = 5,908 m
maka:

Besar gaya (kg)


(3)(8585.32)
0.5(3)(8585,32-8507.12)
3(7360.43)
0.5(3)(7360.43-7325.01)
(6)(9736,47)
0.5(6)(9736,47-9665,64)

= 25755.96
= 117.3
= 22081.29
= 53.13
= 58418.82
= 212.49

106638,99 (+)

Lengan gaya (m)


10
11
7
8
2
4

Momen terhadap K
(kg.m)
257559.6
1290.3
154569.03
425.04
116837.64
849.96
531531,57 (+)

UE = (10,95-(6.5/28,2362)x5,908)x1000 = 9589,97 kg/m2


UF = (12.95-(8.5/28,2362)x5,908)x1000 = 11171,5 kg/m2
UG = (12.95-(9.5/28,2362)x5,908)x1000 = 10962,27 kg/m2
UH = (11,45-(11/28,2362)x5,908)x1000 = 9148,42 kg/m2
UI = (11,45-(12/28,2362)x5,908)x1000
= 8939,18 kg/m2
UJ = (13,95-(14,5/28,2362)x5,908)x1000 = 10916,09 kg/m2
UK = (13,95-(16,5/28,2362)x5,908)x1000 = 10497,62 kg/m2

Gaya horizontal
Gaya
HEF
HEF
HGH
HGH
HIJ
HIJ

Besar gaya (kg)


(2)(9589,97)
= 19179,94
0.5(2)(11171,5-9589.97)
= 1581,53
-1.5(10962,27)
= -16443,405
-0.5(1.5)(10962,27-9148.42) = -1360,3875
(2.5)(8939,18)
0.5(2.5)(10916,09-8939.18)

= 22347,95
= 2471.1375

45580,5575 (+)
17803,7925 (-)

Lengan gaya (m)


2.333
1.667
2
1.5
1.667
0.833

Momen terhadap K
(kg.m)
44746,8
2636,41
-32886,81
-2040,58
37254,03
2058,46
86695,7 (+)
34927,39 (-)

Gaya Vertikal
Gaya
VFG
VFG
VHI
VHI
VJK
VJK

Besar gaya (kg)


(3)(11171,5)
0.5(3)(11171.5-10962,27)
3(9148,42)
0.5(3)(9148,42-8939,18)

= 133514,5
= 313,845
= 27445,26
= 313.86

(6)(10916,09)
0.5(6)(10916,09-10497.62)

= 65496,54
= 1255,41

128339,415

Lengan gaya (m)


10
11
7
8
2
4

Momen terhadap K
(kg.m)
335145
3452,295
192116,82
2510,88
130993,08
5021,64
669239,715

TABEL RESUME GAYA & MOMEN


A. Pada saat air normal
Gaya horizontal (kg)
(+)
(-)

No

Item

1.
2.
3.
4.
5.

Berat sendiri bendung


Gaya gempa
Tekanan lumpur
Gaya hidrostatis
Uplift pressure* (67%)
Dengan gaya gempa
Tanpa gaya gempa

28221,93
12375
19531,25
25546
85674,18
57452,25

8454
8454
8454

Gaya vertical (kg)


(+)
(-)
176940

68385
68385
68385

176940
176940

Momen (kg.m)
Momen tahan Momen guling
1262700
120124,822
75277,125
118808,6
67568,06
26811,39
1861799,63
3431021,94
1861799,63
220897,115

Untuk tanah dasar yang baik disertai dengan drain yang baik pula, maka uplift pressure dianggap bekerja 67% dari yang ada
KONTROL STABILITAS BENDUNG
1. Faktor Keamanan terhadap guling
a. Dengan gempa

b. Tanpa gempa

2. Faktor keamanan terhadap geser

Gaya gesekan = V x f
( V = total gaya vertikal )
( f = koefisien geser tanah dasar dan pondasi bendung = 1.0 [batu cadas] )
Syarat: SF 1.10 dengan gaya gempa
SF 1.30 tanpa gaya gempa

Perhitungan:
a. Dengan gempa

)(

b. Tanpa gempa

)(
(

)
)

B. Pada saat banjir


Gaya horizontal (kg)
(+)
(-)

No

Item

1.
2.
3.
4.

Berat sendiri bendung


Gaya gempa
Tekanan lumpur
Gaya hidrostatis
Uplift pressure*
(67%)
Dengan gaya gempa
Tanpa gaya gempa

5.

28221,93
12375
49501,25

Gaya vertical (kg)


(+)
(-)
176940

37203,5

45581

17804

128339,415

135679,18
107457,25

17804
17804

165543
165543

176940
176940

Momen (kg.m)
Momen tahan Momen guling
1262700
120124,822
75277,125
250607,71
285030,385
86696

34927,4

2269243,4
2269243,4

515359,7
395234,9

Untuk tanah dasar yang baik disertai dengan drain yang baik pula, maka uplift pressure dianggap bekerja 67% dari yang ada
KONTROL STABILITAS BENDUNG
1. Faktor Keamanan terhadap guling
a. Dengan gempa

b. Tanpa gempa

2. Faktor keamanan terhadap geser


a. Dengan gempa

)(

b. Tanpa gempa

)(
(

)
)

BAB VI
PERENCANAAN BANGUNAN

I. Bangunan Pengambilan (intake)


Bangunan pengambilan (intake) berfungsi untuk membelokkan air dari sungai ke saluran dalam jumlah yang ditentukan. Bangunan ini dilengkapi
dengan pintu (gate) dan bagian depannya terbuka untuk menjaga bila terjadi muka air tinggi selama banjir. Kapasitas pengambilan sekurangkurangnya 120% dari kebutuhan pengambilan dengan kecepatan masuk 1,0 2,0 m/detik, bergantung pada ukuran butir bahan yang dapat diangkut
120% kapasitas pengambilan dari dimension requirement ditujukan guna menambah fleksibilitas dan agar dapat memenuhi kebutuhan yang lebih
tinggi selama umur proyek.
Rumus yang digunakan dalam perhitungan adalah:

Dimana ,
Q = debit pengambilan (m3/detik)
M = koefisien debit untuk bukaan di bawah permukaan air dengan kehilangan tinggi energi kecil, M=0,80.
b = lebar bukaan (meter)
d = tinggi bukaan (meter)
g = percepatan gravitasi (9,81 m/detik2)
z = ketinggian tinggi air energi pada bukaan (0,1m)

Dimensi pintu pengambilan di sebelah kanan bendung.


A = 540 Ha
Kebutuhan air,
Debit rencana pada pengambilan

= 120% . 1,3791
= 1,65492 m3/s

Direncanakan lebar pintu, b = h

a = 1,215 m
Maka tinggi bukaan pintu sebelah kanan = 1,215 m

Dimensi pintu pengambilan sebelah kiri bendung


A = 920 Ha
Kebutuhan air,
Debit rencana pada pengambilan
Qp2 = 120%.Q
= 120%.2,35
= 2,8194 m3/s
Direncanakan lebar pintu, b = h

a= 1,586 m
Maka tinggi bukaan pintu sebelah kiri = 1,586 m
Ambil b = 1,59 m

2. Kantong Lumpur

Diperlukan perencanaan kantong lumpur pada bagian awal dari saluran primer tepat dari belakang bangunan pengambil untuk mencegah
partikel-partikel halus ataupun disebut sedimen masuk ke dalam jaringan irigasi. Kantong lumpur itu merupakan pembesaran potongan melintang
saluran sampai panjang tertentu untuk mengurangi kecepatan aliran dan memberi kesempatan kepada sedimen untuk mengendap. Untuk menampung
endapan sedimen ini,dasar bagian tersebut diperdalam ataupun diperlebar.Tampungan ini dibersihkan tiap jangka waktu tertentu dengan cara
membilas sedimennya kembali ke sungai dengan aliran terkonsentrasi yang berkecepatan tinggi.

Dimensi kantong lumpur di kanan bendung.


a.Data data :

-Qn = 1,3791 m3
- Konstruksi adalah pasangan batu kali dengan koef snadder ,K = 45
b.Asumsi-asumsi
-Kecepatan aliran pada kantong lumpur=0,35 m/s
-Debit sedimen yang diendapkan (0,5% Qn)=0,00068955 m3/s
-Frekuensi pembilas= 7 hari
-Diameter yang diendapkan= 0,07 mm
-Temperatur rata rata=20
-Kecepatan air pada pembilasan= 1,0m/s
-Debit pembilasan (120%Qn).(Qs)= 1,655 m3/s

Gambar:

B2

B1

Dengan diameter partikel maksimun yang harus diendapkan =0,07mm dan faktor bentuk pasir alamiah Fb=0,7;maka berdasarkan grafik hubungan
diameter ayakan&kecepatan endap untuk air tenang diperoleh kecepatan endap W = 0,031 m/s

Misalkan waktu dari partikel A dan C adalah t,maka:


L = t.v
H = t .v
Maka:
Sehingga:

Karena L >8,maka taksiran awal dimensi kantong lumpur adalah:


b
(8b)(b)= 44,487
b = 2,358 m

dan h=8b
h=8(2,358)
h= 18,864 m
*diambil b > 2,358 m dan h > 18,864 m
Direncanakan b = 4m ; h = 25 m

a. Eksploitasi normal,kantong sedimen hampir penuh

Luas tampang saluran,An= Qn


V
An=1,3791
0,35
An= 3,9403 m2
Diambil harga b=7,7m;maka kedalaman air hn,yaitu
Hn=An
b

= 3,9403
4

= 0,985 m

B2

hn

B1

Untuk m=1; b = 4 m dan hn= 0,985 m


B=(b1+b2).hn
2

4=(2B1+2m.hn).0,5
8=2b1+2(1)(0,985)
B1= 3,015 m

dan

B2=B1+2mhn

B2= 3,015 + (1)(0,985)


B2= 4,985 m

Keliling basah:

(
Pn = 5,801 m

Jari jari hidrolis:

Kemiringan saluran pada keadaan normal :

b. Pembilasan kantong lumpur ( kantong lumpur kosong )


Agar dapat membilas kantong lumpur maka diusahakan agar kecepatan angin selama pembilasan lebih besar dari Vs=1,0m/s dand debit saluran
pembilasan 120%Qn, yaitu:
Qs=120% Q1
Qs= 1,655 m3/s

Luas tampang basah saat pembilasan


As= Qs
Vs
As= 1,655
1
As= 1,655 m2

Tinggi air pada saat pembilasan


Hs= As
B1
Hs= 1,655
3,015
Hs=0,549 m
Keliling basah saat pembilasan:
Ps =B1+2hs
=3,015 + 2(0,549)
= 4,113 m

Jari-jari hidraulis saat pembilasan :

Kemiringan dasar saluran saat pembilasan :

Agar pembilasan dapat terjadi dengan baik,kecepatan aliran harus dijaga agar tetap dalam kecepatan stabil (subkritis) atau Fr < 1 ;

Volume Kantong Lumpur


.T
= 0,05% . 1,3791 .7.24.3600
= 417,04 m3

417,04 = (0,549.3,015 L)+0,5(Is-In).B1.L2


417,04 = 1,655L +0,5(0,002165 - 0,0001013).3,015 L2
417,04 = 1,655 L+ 0,00233L2
Dengan rumus abc,didapat L = 197 m
d= L(Is-In)
d= 197 (0,00165-0,0001013)
d=0,55m

c. Bangunan Pembilas
Bangunan pembilas diperlukan untuk pembilasan bahan-bahan sedimen kasar yang terdapat di lantai depan atau di dasar bendung. Sedimen yang
terkumpul dapat dibilas dengan membuka pintu pembilas secara berkala, Waktu pembilasan bergantung pada banyaknya sedimen pada dasar
bendung.

Pada saat pintu pembilas dibuka, akan terjadi aliran turbulensi sehingga sedimen-sedimen halus maupun kasar dapat terbongkar dan dilanjutkan
melalui saluran pembilas sampai dasar bendung bersihm dan selanjutnya pintu ditutup kembali.
Bangunan bilas dibuat 2 buah bagian kanan dan kiri pada dasar bendung. Kecepatan aliran yang diperlukan untuk pembilasan dihitung dengan rumus
:
Vc = 1,5C.d0,5
Dimana: Vc = kecepatan kritis yang diperlukan untuk pembilasan (m/s)
C = koefisien yang tergantung dan bentuk sedimen, ambil c = 4,5
d = diameter terbesar sedimen (0,07mm)
maka,
Vc = 1,5 (0,45) (0,07 . 10-3)0,5
Vc = 5,647 x 10-3 m/s
Debit minimum pembilasan qmin =

Kecepatan aliran , V=C.


Dimana : c= koefisien chezy (c=0,62)
h = tinggi muka air diukur dititik berat lubang sluice ( h=16 m)
maka, V= 0,62. (

V = 10,985 m/s > Vc (ok)

F = luas pintu bilas = 4 m2


Q = v.F
Q = 10,985 x 4

Q = 43,94 m3/s
(

D. Desain Saluran Primer


1. Dimensi saluran
B2

h
B1

Rumus Strikler V=k.

Rumus Manning V=

(
P = b+2h
Dimana :
V = kecepatan aliran (m/s)
k = koefisien strickler
n = koefisien kekasaran manning
R = jari-jari hidraulis (m)

I = kemiringan melintang saluran


A = luas penampang saluran (m2)
p = keliling basah (m)
h = tinggi basah saluran
m = kemiringan talud

2. Perhitungan dimensi saluran primer


a. Dimensi saluran primer di sebelah kanan bendung
- Luas areal sawah yang akan dialiri = 540 Ha
- Kebutuhan air = 1,66 L/dtk.ha
- efisiensi pada saluran untuk merencanakan debit pengambilan maksimum yang diperhitungkan
* saluran primer, efisiensinya 90% = 0,9
* saluran sekunder, efisiensinya 90% = 0,9
* saluran tersier, efisiensinya 80% = 0,8
Jadi, efisiensi kebutuhan pada saluran adalah :
n=0,9x0,9x0,8
n=0,648 0,65
Debit pengambilan maksimum

-kemiringan saluran primer (I) = 0,00070


-kemiringan talud 1 : 1,7
-koefisien strickler (k) = 45

*Luas tampang saluran (A)


A=(b+mh).h
A=(1,6h+1,7h)h
A=3,3h2
*keliling basah(P)
P = b+2h
P = 1,6h+2h

P = 5,54h
*jari-jari hidraulis ( R )
R= =

*kecepatan aliran (v)


V= k.R 2/3.I1/2
V= 45(0,596h)2/3(0,0007)1/2
V= 0,843 h2/3
*Debit aliran (Q)
Q=A.V

*Lebar dasar saluran


B=1,6h

1,379=(3,3h2)(0,843 h2/3)

B=1,6(0,769)

0,496= h 8/3

B=1,2304 m

h= 0,769 m

Gambar penampang melintang saluran primer disebelah bendung:


Freeboard/ambang batas direncanakan =0,50m
Tanggul

= 1,0 m

b. Pembilasan Kantong Lumpur ( Kantong Lumpur Kosong )


Qs= 120%.Qn
= 2,82 m3/s

Luas tampang basah saat pembilasan :


As=Qs
Vs
As=2,82
1
As=2,82 m2

Tinggi air pada saat pembilasan


Hs=As

B1
Hs=2,82
2,322
Hs= 1,214 m

Keliling basah saat pembilasan:


Ps=B1+2hs
=2,322+2(1,214)
= 4,75 m

Jari-jari hidraulis saat pembilasan :

Kemiringan dasar saluran saat pembilasan :

Agar pembilasan dapat terjadi dengan baik,kecepatan aliran harus dijaga agar tetap dalam kecepatan stabil (subkritis) atau Fr < 1 ;

Volume Kantong Lumpur

= 0,05% . 2,35 .7.24.3600


=710,64 m3

710,64 = (1,214 . 2,322 L)+0,5(Is-In).B1.L2


710,64 = 4,157 L+0,5(0,000989 - 0,0000648).2,322 L2
710,64 = 2,819 L+ 0,001073 L2
Dengan rumus abc,didapat L = 232 m

b. Dimensi saluran primer di sebelah kiri bendung


- Luas areal sawah yang akan dialiri = 920 Ha
- Kebutuhan air = 1,66 L/dt.ha
- efisiensi pada saluran untuk merencanakan debit pengambilan maksimum yang diperhitungkan
* saluran primer, efisiensinya 90% = 0,9
* saluran sekunder, efisiensinya 90% = 0,9
* saluran tersier, efisiensinya 80% = 0,8
Jadi, efisiensi kebutuhan pada saluran adalah :
n=0,9x0,9x0,8
n=0,648 0,65

Debit pengambilan maksimum

-kemiringan saluran primer (I) = 0,00070


-kemiringan talud 1 : 1,7
-koefisien strickler (k) = 45

*Luas tampang saluran (A)


A=(b+mh).h
A=(1,6h+1,7h)h

A=3,3h2
*keliling basah(P)
P = b+2h
P = 1,6h+2h

P = 5,54h
*jari-jari hidraulis ( R )
R= =

*kecepatan aliran (v)


V= k.R 2/3.I1/2
V= 45(0,596h)2/3(0,00070)1/2
V= 0,843h2/3
*Debit aliran (Q)

*Lebar dasar saluran

Q=A.V

B=1,6h

2,35 =(3,3.h2)(0,843h2/3)

B=1,6(0,939)

0,845= h 8/3

B=1,5024 m

h= 0,939 m

Gambar penampang melintang saluran primer disebelah bendung:


Freeboard/ambang batas direncanakan = 0,50m
Tanggul

= 1,0 m