Anda di halaman 1dari 5

English School merupakan sebuah aliran pemahaman atau ideologi yang lahir di Inggris pada

masa perang dingin. Aliran ini memiliki pemahaman dan perspektif yang berbeda dari aliran
atau ideologi lainnya dalam memandang studi hubungan internasional yaitu penolakan
mereka pada tantangan kaum behavioralis dan menekankan pendekatan tradisional yang
berdasarkan pada pemahaman, penilaian, norma-norma, dan sejarah manusia.Selain itu,
English School dapat menggambarkan perpaduan antara pendekatan moralis dan rasionalis.
Dalam kata lain, English School merupakan sebuah aliran yang fokus pada hal-hal yang
berkaitan dengan moral, politik, sosial dan aturan sistem internasional, serta menunjukkan
bagaimana mereka saling mendesak kepentingan negara serta tindakannya Mereka juga
menolak setiap perspektif yang berbeda antara pandangan kaum realis semata dengan
pandangan kaum liberal tentang hubungan internasional. English school juga memiliki
istilah atau nama lain yaitu Rasionalisme.
Menurut pandangan ini, Hubungan Internasional secara keseluruhan merupakan bidang
yang mencakup hubungan antar manusia, oleh karena itu selalu mengandung nilai. Tidak
pernah ada jawaban ilmiah yang bebas nilai dalam kehidupan manusia karena setiap
jawaban akan dipengaruhi oleh situasi dan dengan demikian pada dasarnya akan selalu
bercirikan sejarah. Berikut ini Asumsi Pandangan English School tentang studi hubungan
internasional :
(1) Bahwa hubungan internasional adalah cabang dari hubungan manusia yang pada intinya
merupakan nilai-nilai dasar seperti kemerdekaan, keamanan, ketertiban dan keadilan
(2) Pendekatan yang digunakan berfokus pada manusia : penstudi HI diminta
menginterpretasikan pemikiran-pemikiran dan aksi-aksi dari masyarakat yang timbul dalam
hubungan internasional
(3) Penerimaan premis anarki internasional
Dalam makalah ini penulis mencoba untuk membahas mengenai konsep-konsep kunci dari
English School dan bagaimana English School memaknai konsep konsep tersebut,serta
manfaat potensial dari konsep-konsep tersebut.
Konsep konsep kunci dari English school
(1) English school, dalam terminologi Martin Wight salah seorang tokoh utamanya,
merupakanvia media antara realisme dan liberalisme. Perspektif ini berada di tengah-
tengah antara kedua perspektif teoretis tersebut. Teori ini berusaha merangkai dan
membuat teorinya sendiri dengan mengambil dan memasukkan unsur-unsur yang positif
dari realisme dan liberalisme. Menurut mereka jika ada konflik pasti juga ada kerjasama, ada
negara juga ada individu, ada kekuatan ada hukum dan unsur-unsur ini tidak bisa dipisahkan
dan disederhanakan kedalam suatu teori tunggal yang hanya menekankan salah satu
elemen. Posisi ini tidak menggambarkan English school sebagai sebuah perspektif teoretis
yang berusaha untuk mengkombinasikan realisme dan liberalisme, melainkan
menggambarkan semata-mata bahwa English school memiliki elemen-elemen penting dari
kedua perspektif teoretis yang berbeda tersebut. Seperti halnya realisme, English school
mengakui adanya anarkhi dalam hubungan internasional dan bahwa setiap negara harus
mengupayakan sendiri sendiri keamanan dan kelangsungan hidupnya dan mengakui bahwa
gagasan moralitas universal terus memeriksa egoisme kedaulatan negara. Oleh karenanya
konflik atau kompetision seringkali terjadi di antara negara-negara yang sama-sama
mengejar kepentingan mereka. Tetapi, English school tidak mengidentikkan kondisi anarkhi
dengan kondisi perang. meskipun rasionalisme memiliki kesamaan dengan realisme
berkenaan dengan kondisi anarki, namun keduanya tetap memiliki perbedaan dalam hal
bagaimana suatu negara mengatur pencarian kekuasaan dalam kondisi anarki. Jika dalam
realisme menaruh perhatian pada bagaimana negara-negara berbuat segala cara agar
national interest-nya dapat tercapai (yaitu dengan saling mengalahkan antara negara satu
dengan negara lain), maka dalam rasionalisme lebih menaruh perhatian pada bagaimana
suatu negara memperoleh dan menggunakan seni ketelitian dari akomodasi serta tidak
berkompromi.
Disamping itu, para pendukung English school menekankan perlunya reformasi global
sehingga memungkinkan tercapainya keadilan sosial internasional dan perlindungan hak
azasi manusia. Adapun pandangan yang ditolak teori English School adalah optimisme kaum
liberal klasik tentang hubungan internasional sebagai komunitas dunia yang berkembang
dan kondusif bagi kemajuan manusia dan perdamaian abadi yang tidak terbatas. Mereka
mengakui adanya organisasi internasional, organisasi non-pemerintah, perusahaan
multinasional, organisasi antarpemerintah dan lainnya namun menurut mereka semua
organisasi itu berada di bawah kedaulatan negara dan merupakan bentuk pinggiran
daripada bentuk utama politik dunia.
Dengan demikian menurut mereka ketertiban dunia ini dapat dicapai bila disandarkan pada
keseimbangan norma-norma universal, terutama budaya dan kepentingan. Namun yang
perlu dicatat dari perspektif English School ini adalah aturan dan norma yang berlaku tidak
mutlak dan tidak dapat dengan sendirinya menjamin harmoni dan kerjasama internasional.
(2) Aspek normatif hubungan internasional
Seperti yang tertera jelas dalam sejarah, mengabaikan aspek ini berarti gagal memahami
karakter manusia dimana negara diumpamakan seperti manusia. Inti pendekatan yang
dipakai oleh perspektif ini adalah menganalogikan negara sebagai manusia yang hidup
dalam masyarakat Internasional dan hubungan internasional merupakan interaksi antara
masyarakat negara-negara berdaulat. Lebih lanjut lagi seperti yang dikatakan Wight
tentang konsep masyarakat negara (society of state). Sebuah masyarakat negara ada
ketika sekelompok negara, sadar akan adanya kepentingan dan nilai-nilai umum tertentu,
membentuk suatu masyarakat dalam artian bahwa mereka menempatkan diri mereka
sendiri sehingga terikat oleh serangkaian peraturan umum dalam hubungan mereka dengan
yang lain, dan bekerja bersama-sama dalam lembaga-lembaga umum.
Menurut paham Rasionalisme negara seperti halnya manusia harus memfokuskan diri pada
bagaimana negara mempelajari seni mengakomodasikan kepentingannya kepada yang lain
dan menciptakan tatanan sipil bahkan dalam kondisi anarkis. Tatanan tersebut tergantung
dari keseimbangan norma-norma universal dan kultur serta kepentingan tertentu masing-
masing bangsa. Tatanan antar bangsa sifatnya tidak absolut, karena tatanan sesuai dengan
sifat dasar manusia dan selalu berubah seiring dengan perubahan iklim politik dunia
(3) Keteraturan dan Keadilan (Order and Justice)
Hadley Bull membedakan tiga macam ketertiban dalam politik dunia (Bull:3-21). Pertama
adalah ketertiban dalam kehidupan sosial, yang merupakan elemen dasar hubungan
manusia selain dari bentuk yang diambil; kedua adalah ketertiban internasional yang
merupakan tatanan antara negara-negara dalam sistem atau masyarakat negara dan yang
terakhir adalah ketertiban dunia yang merupakan tatanan antara manusia secara
keseluruhan.
Selanjutnya Bull juga membedakan tiga tingkatan keadilan dalam politik dunia: keadilan
internasional atau antarnegara, yang pada dasarnya melibatkan pemikiran tentang
kedaulatan negara yang sama; keadilan individu atau manusia, yang pada dasarnya
melibatkan pemikiran hak asasi manusiingka; dan keadilan kosmopolitan atau dunia, yang
pada dasarnya melibatkan apa yang benar atau baik bagi seluruh dunia, jelasnya sebagai
contoh, dalam standar lingkungan global. Secara historis tingkat antarnegara biasanya telah
berjalan dalam politik dunia.
Bull mengakhiri bahasannya tentang ketertiban dan keadilan dengan mempertimbangkan
bobot relatif dari kedua nilai ini dalam politik dunia. Dalam perbandingan tersebut,
ketertiban terlihat lebih fundamental: ketertiban merupakan kondisi bagi perwujudan nilai-
nilai lain (Bull 1995:93). Ketertiban lebih dahulu dari keadilan . Dengan demikian Bull
membuat pernyataan bahwa ketertiban merupakan pernyataan umum, tetapi dalam hal
tertentu keadilan mungkin menjadi yang pertama. Inti pernyataan Bull adalah politik dunia
menimbulkan berbagai permasalahan tentang ketertiban ataupun keadilan, dan bahwa
politik dunia tidak cukup dapat dipahami hanya dengan memusatkan pada salah satu nilai
dan mengabaikan yang lain.
(4) Tatanan Internasional
Secara garis besar, dapat dikatakan bahwa rasionalisme secara khusus tertarik untuk
menjelaskan tatanan internasional. Dan berkenaan dengan perihal tersebut, proyek kaum
rasionalis adalah menjelaskan tingkat tatanan yang sangat tinggi di antara kesatuan-
kesatuan politik yang menolak untuk tunduk kepada otoritas politik yang lebih tinggi. Tetapi
pertanyaannya adalah apakah mungkin membuat suatu tatanan internasional dan
menjadikan satu kesatuan peradaban yang sama mengingat pluralitas bangsa yang ada di
dunia? Memang jika membentuk tatanan dengan peradaban yang sama adalah suatu hal
yang sulit, namun jika menciptakan sebuah tatanan internasional atas dasar perbedaan
tersebut, maka jawaban kaum rasionalis adalah bisa. Hal ini seperti yang telah dijelaskan
oleh Wight yang menyatakan bahwa kesadaran yang besar akan perbedaan budaya dari
orang-orang yang menurut dugaan semi-berperadaban dan barbar, memudahkan sistem
politik berkomunikasi untuk membedakan hak serta kewajiban yang kemudian akan
menghubungkan mereka bersama-sama dalam sebuah masyarakat internasional.
(5) Masyarakat Internasional
Hedley Bull dalam salah satu karyanya menyebutkan bahwa masyarakat internasional
(international society) muncul ketika sekelompok negara sadar akan kepentingan dan nilai
bersama tertentu, membentuk suatu masyarakat dalam artian bahwa mereka meyakini
dirinya sendiri dipersatukan oleh seperangkat aturan bersama dalam hubungannya antara
satu dengan yang lain. Disamping itu, mereka juga saling berbagi dalam menjalankan
institusi bersama. Menurut Bull, elemen suatu masyarakat itu selalu hadir dalam sistem
internasional modern.
Masyarakat internasional pada dasarnya tidak berbeda dari masyarakat domestik karena
keduanya merupakan sarana untuk memenuhi tujuan-tujuan umat manusia. Yang
membedakan masyarakat domestik dan internasional hanyalah ketiadaan otoritas sentral
dalam masyarakat internasional. Sementara masyarakat domestik bersifat hierarkhis,
sedangkan masyarakat internasional bersifat anarchis. Keduanya berjalan dengan aturan-
aturan dasar yang menentukan bagaimana anggota-anggotanya harus bertindak dan
berperilaku ataupun aturan-aturan yang menentukan bagaimana aturan-aturan dasar
tersebut dibuat dan dijalankan. Dengan kata lain, sebagaimana dalam masyarakat domestik,
tatanan dalam masyarakat internasional muncul karena komunitas-komunitas politik yang
menjadi anggota-anggotanya bersedia mengendalikan diri dalam penggunaan kekerasan
dan mengedepankan cara-cara yang beradab dalam hubungan mereka.
English school menempatkan masyarakat internasional bukan hanya sebagai sebuah
kategori yang berbeda, dengan sistem internasional, tetapi juga lebih ideal yang
memungkinkan terpenuhinya keadilan bagi setiap individu. Lebih konkritnya, English school
sangat menaruh perhatian pada upaya-upaya untuk mengubah sistem internasional ke arah
masyarakat internasional: bagaimana norma-norma dan institusi-institusi dikembangkan
untuk mencegah kecenderungan penggunaan power yang terkendali.
Dalam kaitannya dengan transformasi ke arah masyarakat internasional, tatanan (order) dan
keadilan (justice) merupakan dua tujuan yang sangat mengemuka yang seringkali sulit untuk
dikombinasikan. Sejarah memberikan banyak contoh bagaimana prinsip keadilan yang
menuntut semua negara diperlakukan sederajad dikorbankan demi tercapainya
keseimbangan kekuatan (balance of power). Konflik antara keinginan untuk mencapai
tatanan dan keadilan tetap berlangsung sampai sekarang seperti ditunjukkan oleh regim
non proliferasi nuklir. Rejim didasarkan pada Non-Prolifetarian Treaty, yang melarang
pengembangan senjata nuklir diluar kelima Negara yang telah memiliki senjata nuklir.
Kesenjangan antara hak Negara Negara yang telah memiliki senjata nuklir untuk tetap
memiliki senjata pemusnah tersebut dan kewajiban Negara Negara lain yang tidak memiliki
senjata nuklir untuk tidak mengembangkannya cenderung mengurangi legitimasi rezim
tersebut dan menimbulkan perlawanan dari Negara Negara yang merasa diperlakukan tidak
adil, sepeti yang dilakukan oleh Korea Utara dan Iran.
Konflik antara keinginan untuk membangun order dan mencapai keadilan juga muncul
dalam kaitannya dengan perbedaan gagasan mengenai keadilan. Dalam artian ini, upaya
untuk memaksakan sebuah konsepsi keadilan kepada anggota masyarakat yang lain
cenderung memperlemah upaya untuk membangun masyarakat internasional. Oleh
karenanya, posisi English school cenderung pada menolak dua prinsip yang saling
bertentangan: universalisme dan relativisme. Sementara yang pertama menggambarkan
pemikiran mengenai kesatuan nilai, yang kedua menggambarkan partikularisme nilai.
English school menekankan penghargaan kepada pluralitas tanpa terjebak pada relativitas
nilai dan menekankan pentingnya nilai dominan untuk memahami dan mempertimbangkan
nilai-nilai yang berbeda.