Anda di halaman 1dari 5

Realisme pada awalnya muncul sebagai arus utama studi Hubungan Internasional yang

mampu menjelaskan fenomena Perang Dunia I dan II dengan baik. Dominasi realisme ini
muncul saat tokoh-tokoh realisme seperti E.H. Carr, H.J. Morgenthau, Reinhold Niebuhr,
Frederick Schuman, George Kennan, dkk. di akhir 1930-an mampu menjelaskan kondisi
dunia yang anarkhis, penuh konflik dan perang (tidak ada perdamaian). Realisme baik klasik
maupun modern memiliki kesepahaman akan segitiga Tripel S, yaitu Statism, Survival, and
Self-help.[1]

Statism adalah fokus pertama dari realisme, dimana terdapat dua klaim yang dinamis dalam
kestatisan hubungan antar bangsa. First if we see based on theory, dalam world politics,
negara adalah aktor utama yang memiliki tujuan untuk menjadi aktor hegemon sehingga
negara selalu struggle for power untuk meraih hegomoni tersebut.[2] Menurut Keohane and
Gilpin-1986:1989 negara juga dianggap sebagai rasionalitas sekaligus sebagai power
maximizer. Sedangkan aktor-aktor lain tidak memiliki tingkat signifikansi yang sebanding
dengan state. Second, konsep sovereignty negara menjadi penanda adanya komunitas
politik dan negara yang berdaulat. Negara memiliki otoritas hukum di wilayah
kedaulatannya. Namun dua asumsi dalam ranah statism yaitu state as main actor and
sovereignty tersebut saat ini menjadi dipertanyakan relevansinya.Statism realisme
nampaknya kurang memiliki relevansi apabila dihadapkan pada kenyataan bahwa negara
bukan lagi aktor utama dalam hubungan internasional saat ini, dan bahkan peran aktor non-
state justru memiliki pengaruh yang signifikan dalam hubungan antar negara dan
menentukan negara itu sendiri. Sebab apabila kita analisa secara empiris, saat ini peran
aktor non-state seperti MNC maupun NGO sangat dominan dalam menentukan haluan
negara. Peran MNC dan NGO sangat dominan terutama dalam mempengaruhidecision
makers suatu negara untuk membuat kebijakan negara yang sesuai dengan keinginan
mereka.

Kemudian, realisme juga semakin dipertanyakan relevansinya saat ada kenyataan bahwa
kedaulatan dan kekuasaan itu tidak selamanya ada pada negara secara mutlak. Sebab saat
ini Organisasi Internasional (exp: PBB) atau negara lain dapat melakukan intervensi kepada
negara yang dianggap tidak mampu mengatasi problem global kolektif seperti kelaparan,
kemiskinan serta berkurangnya cadangan makanan dunia, degradasi kondisi lingkungan, dan
pelanggaran HAM. Kenyataan ini semakin membuktikan bahwa realisme kurang terbuka
terhadap perubahan konstelasi politik internasional. Sehingga realisme kurang relevan
untuk menjelaskan fenomena hubungan internasional saat ini. Contoh nyatanya adalah
ketika kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Presiden Kosovo Slobodan Miloevid
kemudian PBB dapat melakukan intervensi untuk menyelamatkan rakyat yang mejadi
korban genoside tersebut.[3] Tindakan intervensi yang dilakukan oleh PBB ini tentu tidak
dapat dijelaskan oleh realisme, sebab kenyataannya kedaulatan itu tidak mutlak seperti
asumsi realisme. Contoh lainnya adalah ketika terjadi bencana kelaparan di Afrika tahun
2011 kemarin, PBB beserta negara-negara lain melakukan misi intervensi
kemanusian.[4] Sehingga terlihat jelas dari fakta empiris yang ada saat ini batas-batas
kedaulatan negara seperti yang dikatakan realisme menjadi semakin kabur dan terkadang
tidak relevan ketika menghadapi fenomena-fenomana seperti ini.

Survival merupakan asumsi realis yang kedua, dimana tujuan utama dari dibentuknya
negara adalah untuk mempertahankan kehidupan rakyatnya, negara menentukan sikapnya
sendiri atas keamanan internasional. Apakah suatu negara akan
bersikap offensive atau deffensive.[5] Masalah politik menjadi isu yang sangat penting (high
politics) daripada kepentingan ekonomi, budaya, dll yang menjadi bagian dari low politics.
Asumsi kedua dalam ranah survival ini juga memiliki kelemahan, yaitu pada batasan yang
tidak jelas (bluur), sampai dimana negara harus berperan dalam rangka memenuhi
kebutuhan survival-nya tersebut. Namun dalam asumsi ini relevansi realisme masih dapat
dibuktikan dengan adanya fakta bahwa walaupun hubungan internasional saat ini lebih
didominasi oleh kerjasama (liberalisme) tetapi fenomena perang, konflik, security
dilemma masih tetap ada, gaya survival Korea Utara yang offensive misalnya dalam
hubungannya dengan dunia internasional. Sebagai contoh bahwa realisme sangat dominan
dalam hubungan Korea Utara dengan Korea Selatan pada saat keduanya kembali terlibat
perang baik didunia nyata maupun maya.[6] Militer Korea Utara menembakkan senjata
Artilerinya ke Pulau YeonPyeong di Korea Selatan pada 23 November 2011 kemarin.[7]Selain
itu kedua negara juga terlibat perang cyber (Cyber War) yang dilakukan oleh Pasukan Hacker
Elite kedua negara terhadap website pemerintah masing-masing.[8] Sehingga hubungan
kedua negara ini sangat buruk.[9] Contoh lain yang menunjukan bahwa realisme masih
memiliki relevansi dalam hubungan internasional saat ini adalah ketika tentara Iran baru-
baru ini menggelar latihan perangnya di Selat Hormuz.[10] Hal ini kemudian direspon oleh
AS dengan mengirimkan kapal induknya ke dekat perairan Selat Hormuz sebab AS
menggangap Iran sebagai ancaman. Walaupun AS dengan Iran saat ini hanya terlibat Perang
retorika dan manuver namun tidak menutup kemungkinan akan adanya konfrontasi terbuka
antara kedua negara tersebut.[11] Fenomena-fenomena tersebut menjadi bukti nyata
bahwa relevansi realisme dalam ranah survivalini cukup dominan dalam hubungan
internasional. Kemuadian, sikap defensive China dalam strategi keamanan militernya dan
justru meningkatkan kekuatannya dengan jalan kerjasama perekonomian malah menjadikan
China sebagai negara yang memiliki great power. Defensive realism yang diaplikasikannya
tersebut merupakan cara China untuk mencapai hegemoni dan mempertahankan balace of
power-nya. Hal ini juga merupakan bukti nyata eksistensi sekaligus relevansi pendekatan
realisme dalam hubungan internasional tetap ada.

Self-help, merupakan asumsi realisme yang meyakini bahwa negara tidak dapat
mempercayakan keamanannya kepada negara lain. Sehingga negara harus menolong dirinya
sendiri ketika banyak konflik yang terjadi, baik domestik maupun internasional disebabkan
oleh security dilemma. Hal ini terjadi karena semua negara saling mencurigai dan tidak ada
kepercayaan, tetapi perang atau konflik tersebut secara historis lebih banyak disebabkan
oleh negara predator. Realisme meyakini bahwa dalam politik internasional tidak ada jalinan
persahabatan, kepercayaan, dan kehormatan yang logikanya akan mengurangi power
gain sebuah state. Kemudian, sebagai konsekuensi logis dari adanya security
dilemma adalah kondisi ketidakpastian yang disebabkan tidak adanya pemerintahan global.
Konsep ko-eksistensi yang dimunculkan oleh dilema keamanan hanya diperoleh melalui
pemeliharaan balance of power, dimana balance itu sendiri tidak statis. Dan kerjasama yang
terbatas akan dilakukan hanya jika state menginginkan sesuatu yang lebih dari negara yang
lain. Contoh nyatanya adalah tindakan yang lakukan oleh Korea Utara, konflik atau perang
yang terjadi di Semenanjung Korea disebabkan oleh sifat Korea Utara (predator) yang selalu
mengancam keamanan serta stabilitas Kawasan Semenanjung Korea. Namun, kenyataannya
Korea Utara mau melakukan kerjasama sebagai bentukself help-nya dengan negara-negara
tetangganya dengan konsep relative gain-nya. Negara-negara tetangga seperti Jepang,
China, dan Korea Selatan bersedia memberikan bantuan dengan syarat Korea Utara tidak
melakukan tindakan yang mengancam keamanan dan stabilitas kewasan Semenanjung
Korea. Tetapi, menurut Jackson dan Sorensen realisme telah gagal menangkap perluasan
politik internasional sebab realisme hanya menjelaskan masalah politik internasional melalui
aspek historis.

Tetapi, saya menyimpulkan bahwa relevansi dari realisme itu tergantung pada konteksnya.
Sebab beberapa fenomena dalam hubungan internasional saat ini mungkin memiliki
relevansi apabila dilihat dari pendekatan realisme tetapi beberapa fenomena lainnya tidak.
Namun, faktanya unsur-unsur realisme seperti konflik, perang, dilemma keamanan dan
kondisi yang tidak aman tetap eksis sampai saat ini. Oleh sebab itu, menurut saya relevansi
pendekatan realisme dalam hubungan internasional saat ini masih ada selama fenomena
realisme itu juga masih eksis di dunia.
Liberalisme Dalam Konteks Cold War
Cold War adalah sebutan bagi sebuah periode di mana terjadi konflik, ketegangan, dan
kompetisi antara Amerika Serikat (beserta sekutunya disebut Blok Barat) dan Uni Soviet
(beserta sekutunya disebut Blok Timur) yang terjadi antara tahun 1947-1991. Istilah Perang
Dingin sendiri diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman
dari Amerika Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara kedua negara
adikuasa tersebut.[1] Saat itu, realisme memang sangat tepat untuk menjelaskan fenomena
Perang Dingin. Namun, ketika runtuhnya imperium Uni Soviet yang sekaligus menandai
berakhirnyaPerang Dingin dengan kemenangan di pihak AS, realisme tidak lagi relevan
paska Perang Dingin. Sebaliknya, gelombang optimisme liberalisme muncul paska Perang
Dingin tersebut. Hal ini didorong oleh pimikiran the end of history yang berdasarkan pada
kekalahan komunisme dan kemenangan universal demokrasi liberal yang diidamkan
(Fukuyama 1989; 1992).[2] Pada era pasca Perang Dingin, isu-isu ideologis tidak lagi
mendominasi hubungan internasional. Sebagai gantinya muncul isu-isu seperti hak asasi
manusia, politik-ekonomi dan demokratisasi sebagai salah satu indikator yang menentukan
hubungan internasional sekaligus menandai dominasi liberalisme.

Asumsi dasar liberalisme bertitik tolak pada kebahagian dan kemajuan bagi individu.
Individu-individu ini akan menggunakan rasionalitasnya untuk berkerjasama baik dalam
lingkungan domestik maupun internasional. Begitu juga hubungan yang terjadi antar negara
paska Perang Dingin bersifat lebih damai, kolaboratif dan cooperatif. Masalah politik dan
ekonomi menjadi lebih dominan daripada masalah keamanan dan militer. Selain itu, isu-isu
kemanusiaan seperti hak asasi manusia menjadi semakin diperhatikan. Kemenangan AS
paska Perang Dingin yang sekaligus menjadikan AS sebagai negara yang memiliki power kuat
dengan ideologi liberalnya mulai menyebar nilai-nilai demokrasi ke seluruh penjuru dunia.
Demokratisasi menjadi tujuan utama dalam kebijakan luar negeri AS paska Perang Dingin.
Contoh nyatanya adalah AS selalu memberikan bantuan kepada negara lain dengan syarat
demokratisasi atau paling tidak selalu mengkaitkan bantuan yang diberikankannya dengan
isu-isu diatas. Paska perang dingin AS lebih memfokuskan pada kekuatan ekonominya
daripada kekuatan militernya. Modernisasi industri yang terjadi sebagai konsekuensi logis
dari liberalisme berkembang sangat pesat di AS kala itu. Kemenangan liberalisme juga
sangat terlihat ketika Uni Soviet melakukan suatu pembaharuan dengan dikeluarkannya
program Perestroika, Glasnost, dan Demokratisasye paska Perang Dingin. Program-program
tersebut diambil oleh Michael Gorbachev untuk memperbaiki perekonomian Uni Soviet. Hal
ini sekaligus membuktikan bahwa isu militer dan keamanan seperti asumsi realisme tidak
relevan dalam konteks ini sebaliknya tindakan yang dilakukan oleh Gorbachev tersebut
mendukung asumsi liberalisme. Kemudian, terbentuknya European Union(Uni Eropa) paska
Perang Dingin yang dijadikan wadah kerjasama oleh negara-negara Eropa juga merupakan
bukti nyata bahwa liberalisme memiliki relevansi yang signifikan paska Perang Dingin.

Konstruktivisme dan Dinamika Teori-Teori Hubungan Internasional
Konstruktivisme berasumsi bahwa ide, gagasan, wacana, norma, dan nilai merupakan hal
yang membentuk interaksi antar negara sekaligus mempengaruhi tingkah laku negara juga
membentuk identitas dan kepentingan negara dalam hubungan internasional. Formulasi
teoritik konstruktivisme menyatakan bahwa lingkungan sosial menentukan bentuk identitas
aktor. Identitas kemudian menentukan kepentingan, dan kepentingan akan menentukan
bentuk tingkah laku, aksi maupun kebijakan dari aktor. Pada tahap berikutnya identitas juga
akan mempengaruhi bentuk dari lingkungan sosial.[3]
Konstruktivisme menyatakan bahwa interaksi yang terjadi antar negara membawa
subyektifitas masing-masing berdasarkan pada meanings yang dimiliki dan membuat
kesepahaman tentang persepsi pihak lain yang menghasilkan intersubjektifitas.
Konstruktivisme meyakini bahwa setiap tindakan negara didasarkan padameanings yang
muncul dari interaksinya dengan negara lain atau dengan lingkungan internasional.
Tindakan negara memberikan pengaruh terhadap bentuk sistem internasional, begitupun
sistem internasional yang juga memberikan pengaruh pada perilaku negara-negara. Dalam
proses saling mempengaruhi inilah kemudian menghasilkan collective meanings. Collective
meanings merupakan dasar dari terbentuknya intersubyektifitas dan kemudian membentuk
struktur yang pada akhirnya mengatur tindakan negara-negara. Jadi, intersubjective
understandings dan ekspektasilah yang menentukan konsepsi negara
tentang self (negaranya sendiri) dan other(negara lain). Tidak seperti realisme dan
liberalisme, konstruktivisme melihat bahwa aktor (individu atau kaum elit) merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Dalam ranah teori, konstruktivisme muncul sebagai suatu jalan tengah yang menjembatani
perbedaan tajam antara teori-teori rasionalisme seperti neorealisme dan neoliberalisme
dengan teori-teori reflektifisme seperti postmodernisme, feminisme, teori kritis, sosiologi
historis (historical sociology) dan critical theory. rasionalisme menganggap bahwa fakta itu
ada sedangkan reflektifisme menganggap bahwa fakta itu tidak ada. Konstruktivisme
muncul dengan pandangan bahwa realitas sosial tidak bisa dilihat sebagai suatu yang secara
alamiah (given) ada dengan sendirinya (rasionalisme). Realitas sosial juga tidak dapat dilihat
sebagai sesuatu yang nihil atau tidak ada dan hanya dilihat sebagai refleksi ide-ide manusia
(reflektifisme). Tetapi, konstruktivisme mencoba menyatukan rasionalisme dan reflektifisme
dengan asumsi bahwa realitas sosial yang ada tersebut sebagai sebuah hasil dari konstruksi
fikiran manusia (konstruksi sosial) itu sendiri.

Hubungan internasional selama ini didominasi oleh pemahaman materialis-rasionalis yang
berbasis pada materi. Namun, konstruktivisme memberikan alternatif lain untuk melihat
dan menganalisa secara lebih tepat hubungan internasional saat ini yang semakin kompleks
dan terkadang tidak mampu dijelaskan oleh teori-teori rasionalisme dan reflektivisme.
Konstruktivisme mampu menjadi alternatif tool of analysis yang cukup signifikan ketika pada
saat yang sama teori-teori rasionalisme maupun reflektifisme tidak dapat menjelaskan hal-
hal yang terkait dengan perilaku negara. Sebagai contoh nyata ketika realisme tidak dapat
memberikan penjelasan memuaskan mengapa Amerika Serikat di satu sisi menentang keras
program nuklir Iran tetapi di sisi lain membiarkan program nuklir Israel. Perilaku AS terkait
program nuklir Iran dan Israel dapat dijelaskan dengan sangat memuaskan oleh
konstruktivisme. Hubungan intersubjektif yang terjadi antara Iran dengan AS
merupakan bad intersubjective dimana AS menganggap Iran sebagai musuhnya begitu juga
sebaliknya Iran menggangap AS sebagai musuhnya sehingga program nuklir Iran merupakan
suatu ancaman bagi AS. Sebaliknya, hubungan intersubjektif yang terjalin antara AS dengan
Israel merupakan good intersubjectivedimana AS menganggap Israel sebagai temannya
sehingga program niklir Israel bukan suatu ancaman bagi AS. Perilaku AS tersebut
merupakan suatu bentuk dari intersubjektif yang terjadi serta pemahanan tentangcollective
meanings.

Selain itu, konstruktivisme memberikan sumbangan yang cukup penting bagi perkembangan
teori-teori hubungan internasional terkait dengan munculnya teori-toeri baru dalam
hubungan internasional. Hal ini telah dibuktikan dengan adanya teori sekuritisasi
(securitization theory) oleh Barry Buzan. Securitization Theorymerupakan hasil dari
penggabungan antara pendekatan rasionalisme terutama realisme dengan pendekatan
reflektifisme seperti teori kritis dengan menggunakan asumsi-asumsi yang dibangun oleh
konstruktivisme. Meskipun demikian, sampai saat ini konstruktivisme belum dapat
menciptakan teori baru yang memang murni atau benar-benar berasal dari konstuktivisme
itu sendiri tanpa pengaruh teori lain.