Anda di halaman 1dari 37

1.

Soil transmitted helminths (STH)


2. Non soil transmitted helminths (non STH)


Elita Donanti
Bagian Parasitologi
FKUY 0514



Nematoda usus
Nematoda usus

Nematoda usus
besar & panjang bervariasi
mempunyai kepala, ekor, ro badan & alat lain yg lengkap
sistem pencernaan, ekskresi & reproduksi terpisah
bertelur, ada yang vivipar & partenogenesis
cacing dewasa tidak bertambah banyak dlm bdn manusia
bentuk infektif dapat masuk scr aktif ke badan manusia
atau tertelan




Soil transmitted helminths
(STH)
STH : cacing nematoda usus yang perkembangan
bentuk infektifnya membutuhkan tanah / cacing
nematoda usus yang penularannya melalui tanah

Spesies terpenting bagi manusia :
1. Ascaris lumbricoides
2. Necator americanus (cacing tambang)
3. Ancylostoma duodenale (cacing tambang)
4. Trichuris trichiura
5. Strongyloides stercoralis



Ascaris lumbricoides
Hospes : manusia (satu-satunya)
Penyakit : askariasis
Distribusi geografik : kosmopolit, Indonesia 60 90%
( rural > urban dan anak > dewasa)

jantan
betina
Ascaris lumbricoides
telur dibuahi
telur matang
telur tdk dibuahi
telur decorticated
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Habitat : usus halus
Patologi dan GK :
1. larva
* pada saat berada di paru
* batuk, demam, eosinofilia
* rontgen infiltrat yg menghilang dlm 3
minggu
* sindrom Loeffler

2. cacing dewasa
* asimptomatik (85%)
* gangguan usus ringan
* berat malabsorbsi, obstruksi usus
* saluran empedu, apendiks / bronkus
operatif
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Diagnosis :
* menemukan telur pd pem tinja
* cacing dewasa keluar sendiri mll
mulut, hidung atau tinja

Pengobatan :
* perorangan/massal
* piperasin, pirantel pamoat, mebendazol/albendazol
* pemberian mebendazole 100 mg 2kali/hr, 3 hari
* pemberian albendazol 400 mg 2 kali setahun (SD)
Ascaris lumbricoides
Prognosis : baik
Epidemiologi :
* prevalensi tinggi tu pada anak2
- kurangnya pemakaian jamban keluarga
- kebiasaan memakai tinja sebagai pupuk

* pencegahan




Cacing tambang
Beberapa spesies yang penting :
1. Necator americanus : manusia
2. Ancylostoma duodenale : manusia
Necator americanus & Ancylostoma duodenale
Hospes : manusia
Penyakit : nekatoriasis dan ankilostomiasis
Distribusi geografik :
di seluruh daerah katulistiwa dan di tempat lain dengan
keadaan sesuai (pertambangan dan perkebunan)
Indonesia 40%
Necator americanus & Ancylostoma duodenale
Necator americanus & Ancylostoma duodenale
Habitat : usus halus
Patologi dan GK :
1. larva
* perubahan kulit ground itch
* perubahan paru biasanya ringan
* oral penyakit wakana

2. dewasa anemia hipokrom mikrositer
* gejala tgt : - spesies & jumlah cacing
- gizi penderita (Fe dan prot)
* N. americanus 0,005-0,1 cc/hr
A. duodenale 0,08 0,34 cc/hr

Necator americanus & Ancylostoma duodenale
Diagnosis :
* tinja segar telur
* tinja lama larva
* biakan tinja Harada-Mori

Pengobatan : Pirantel pamoat
Epidemiologi :
* insidens tinggi di pedesaan (perkebunan)
* > 70%
* kebiasaan defekasi di tanah, pemakaian tinja
sbg pupuk penyebaran infeksi
* pencegahan
Trichuris trichiura
Hospes : manusia
Penyakit : trikuriasis
Distribusi geografik :
* bersifat kosmopolit
tu di daerah panas
& lembab spt di
Indonesia


Trichuris trichiura

Trichuris trichiura
Patologi & GK :
* Habitat : sekum / kolon ascendens
* Infeksi berat tu pd anak tersebar di rektum &
kolon dengan gejala :
- diare diselingi sindrom disentri
- anemia
- berat badan turun
- prolaps rektum
* Infeksi ringan tanpa gjl/gjl tidak khas

Trichuris trichiura
Trichuris trichiura
Diagnosis : menemukan telur dalam tinja
Pengobatan : * mebendazol
* albendazol
* oksantel pamoat
Epidemiologi :
* Penyebaran inf kontaminasi tanah dengan tinja
* Pentingnya pencegahan
Strongyloides stercoralis
Hospes : manusia
Penyakit : strongilodiasis
Distribusi geografik : tropik & subtropik
Daur hidup :
1. siklus langsung
2. siklus tidak langsung
3. autoinfeksi

Strongiloides stercoralis
Strongyloides stercoralis
Habitat : vilus duodenum dan jejunum
Patologi & GK :
* creeping eruption
* ringan tanpa gjl
* sedang rasa sakit spt tertusuk2 di epigastrium
tengah & tdk menjalar
* berat dpt ditemukan di seluruh traktus
digestivus dan larva di berbagai alat dalam
(paru, hati, empedu)
* immunocompromised disseminated
strongyloidiasis
Strongyloides stercoralis
Diagnosis :
* larva rhab tinja segar, biakan/aspirasi
duodenum
* larva fil/ cc dws hidup bebas biakan
tinja min 2 x 24 jam

Pengobatan :
* albendazol
* mebendazol
* mengobati penderita tanpa gjl !!
Strongyloides stercoralis
Prognosis : inf berat kematian

Epidemiologi :
* pencegahan tu tergantung pada sanitasi
pembuangan tinja dan melindungi kulit dari
tanah yang terkontaminasi
Soil Transmitted Helminths
Al cc. tambang Tt Ss
1. btk infektif telur matang lar. filariform telur matang lar. filarifom
2. cr infeksi tertelan menembus/
tertelan
tertelan menembus
3. SH siklus paru siklus paru tanpa siklus
paru
siklus paru
4. GK larva & cc
dws
larva & cc
dws
cc dws larva & cc
dws
5. Diagnosis telur (tinja) telur/larva
(tinja)
telur (tinja) telur/larva
(tinja)
EPIDEMIOLOGI STH
EPIDEMIOLOGI STH
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya prevalensi :
1. Usia :
Golongan rawan : anak balita
Termuda :
Infeksi Ascaris : 16 minggu
Infeksi Trichuris : 41 minggu
2. Lingkungan :
.A. lumbricoides dan Trichuris tanah liat
C. tambang dan S.stercoralis tanah gembur
berpasir.
EPIDEMIOLOGI STH
Penting memutuskan daur hidup :
1. pengobatan massal
2. peningkatan HS
3. penyuluhan dgn menitikbaratkan pada perubahan
kebiasaan dan mengembangkan sanitasi lingkungan
yang baik

endemi


morbiditas
Enterobius vermicularis
Tidak termasuk STH ( soiled transmitted helminth )
Hospes dan nama penyakit :
* hospes : manusia ( satu-satunya )
* penyakit : enterobiasis atau oksiuriasis
Distribusi geografik :
* kosmopolit.
* lebih banyak ditemukan di daerah dingin > panas
* penyebaran ditunjang oleh eratnya hubungan antar
manusia serta lingkungan yang sesuai.

Enterobius vermicularis
Enterobius vermicularis
Habitat : rongga sekum, usus besar dan usus halus yang
berdekatan dengan rongga sekum (makanannya
isi usus

Patologi dan gejala klinis :
* tidak berbahaya.
* terutama disebabkan iritasi di daerah anus, perineum &
vagina pruritus lokal ( malam hari ) tidur tgg
lemah, menyebabkan :
- nafsu makan menurun.
- emosi dan aktivitas meningkat.
* migrasi cacing dewasa dan cacing betina gravid

Enterobius vermicularis
Diagnosis :
* menemukan telur dan cacing dewasa
* telur dapat ditemukan dengan anal swab
* anal swab dilakukan pada pagi hari (3 hr berturut2)
Pengobatan terhadap seluruh anggota keluarga.
Prognosis baik.
Self limiting disease asal kontaminasi dengan
telur bisa dihindari.
Enterobius vermicularis
Epidemiologi :
* prevalensi 3-80 %
* penularan dpt terjadi pd keluarga/ klp yg hidup di
limgkungan yang sama (asrama, rumah yatim piatu)
* kelompok usia terbanyak 5-9 tahun.
* penularan dipengaruhi :
- autoinfeksi.
- debu sebagai sumber infeksi.
- retrofeksi.
* kebersihan perorangan penting untuk pencegahan