Anda di halaman 1dari 11

ESSAY PEMILIHAN NASKAH

M. Hasan Suudi
309212416840

Kisah cinta hari rabu, naskah drama komedi satu babak yang di ilhami cerpen karya anton
pavlovich cehkov. Naskah tersebut diadaptasi oleh drs. Sapardi Djoko Damono. Seperti
kebanyakan karya chekov yang lain, kisah cinta hari rabu ini pun diangkat dari kisah-kisah yang
terjadi disekitar kita, kisah-kisah kehidupan sehari-hari. Dalam naskah drama itu dikisahkan
seorang gadis berusia 25 tahun yang begitu berhasrat ingin kawin (menikah). Ia memasukkan
beberapa lamaran ke biro jodoh sebagai usaha untuk mencari calon suami. Namun karena
kesibukanya ia hanya bisa menerima tamu pada hari rabu.
Pada satu hari rabu ia menerima seorang tamu tampan berusia 35 tahun yang datang untuk
menanyakan soal-soal pribadinya, kawin! Mereka kemudian bertransaksi, dalam arti saling
mencari tahu tentang pernikahan dan syarat masing-masing dari mereka. Si gadis mengira bahwa
tamu tampan itu akan melamar dan menjadikannya seorang isrti, tapi ketika deal lamaran
diterima oleh si gadis dan mereka berdua bersepakat tentang masing-masing syarat, si gadis itu
baru mengetahui bahwa tamu yang datang itu hanya seorang makelar! Makelar jodoh. Dan si
gadis baru tahu bahwa laki-laki yang akan menikahinya sudah berusia tua, seusia ayahnya yang
telah meninggal.
Gadis itu terpaksa menerima meskipun dengan berat hati karena perjanjian telah disepakati.
Laki-laki yang akan menikahinya belum bisa menemui dan melamarnya secara langsung karena
sedang pergi ke rumah sakit. Sehingga laki-laki itu menanfaatkan jasa makelar jodoh. Gampang,
tidak usah ketemu sudah dapat calon istri!
Drama itu dibuka oleh seorang pembantu yang berinteraksi dengan penonton. Ia menyampaikan
bahwa ia tengah hidup di tahun 2010, terentang 50 tahun lebih maju dari jaman penonton hidup.
Dan ia menyampaikan pada masa itu, 2010, terjadi kemajuan di segala bidang, baik kebudayaan
maupun eksakta. Begitu juga dengan soal cinta. Soal cinta juga mengalami perubahan. Seperti
dalam kisah si Gadis. Beberapa hal kecil yang ia singgung tentang cara bercinta, mencintai
pasangan, kemesraan-kemesraan jaman dahulu untuk mendapatkan dan merasakan cinta kasih
seolah tergerus dengan berbagai kemajuan yang praktis. Nilai itu bisa dilihat dari bergesernya
pola hidup manusia yang menginginkan segalanya menjadi mudah, praktis! namun tidak semua
yang praktis itu menjadi baik!
Hari ini seolah kita merasakan lingkungan kita seperti dalam kondisi Kisah Cinta Hari Rabu.
Suatu saat ketika kemajuan, baik ilmu pengetahuan maupun teknologi, yang dulu dicita-citakan
akan mempermudah hidup manusia, tetapi yang terjadi malah sebaliknya, berbagai kemajuan
yang dicapai harus ditebus dengan berbagai kehilangan. Berbagai kemajuan, kemudahan
menggerus berbagai nilai yang selama ini membalut hidup kita.
Contoh kecil yang bisa saya sampaikan adalah penurunan kualitas generasi muda kita, meski
tidak semua, tapi rata-rata hal itulah yang terjadi. Mulai dari generasi yang ada dalam sebuah
organisasi kesenian, sekali lagi tidak semua, tapi begitu banyak jumlahnya. Baik itu sanggar seni
teater, tari, maupun musik. Persoalan yang dihadapi biasanya berkisar pada penurunan jumlah
anggota, penurunan kualitas SDM, atau membeludaknya anggota tapi tidak berimbang dengan
meningkatnya kualitas SDM. Hal tersebut tidak hanya pada organisasi kesenian atau sanggar,
namun juga terjadi pada organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan.
Jika ditarik satu garis antara kemajuan zaman saat ini dengan kemajuan peningkatan mutu SDM
terlihat suatu pola ketidak seimbangan antara keduanya. Ternyata kemajuan zaman dengan
kemajuan ilmu pengethuan dan teknologinya tidak berbanding lurus dengan peningkatan SDM.
Hari ini saya melihat seolah generasi muda kita lebih nyaman oleh nina bobo kemudahan yang
ditawarkan saja. Tanpa bisa mengupayakan kemudahan yang ditawarkan itu untuk meningkatkan
kualitas diri.
--- mohon
maaf media massa mempunyai andil besar dalam hal itu. Televisi, majalah, jejaring sosial.
Semuanya adalah produk kemajuan iptek yang seolah menjadi media pengondisian massa kita
secara global untuk menjadi manusia yang lemah, yang hanya ingin menikmati kemudahan-
kemudahan tanpa jerih upaya yang berarti dalam mencapai suatu tujuan.
Dengan begitulah saya melihat naskah ini menjadi naskah yang actual sampai hari ini. Dan layak
untuk disajikan dihadapan teman-teman muda, mahasiswa, maupun teman-teman yang sedang
aktif dalam suatu organisasi.
Selain itu, meski naskah drama kisah cinta hari rabu ini pendek, tapi tidak mengurangi
kedalaman pesan yang coba disampaikan. Naskah ini tidak berbelit-belit dalam menyampaikan
pesanya. Struktur naskahnya memperlihatkan tahapan-tahapan suatu cerita, sepertia yang
dikemukakan baik oleh Aristoteles dalam Poetics-nya maupun Gustav Freytag. Mulai dari
pengenalan tokoh, kemudian masalah yang dihadapi tokoh, klimaks sampai penyelesaian
masalah yang dihadapi tokoh.
Meski dalam naskah ini, endingnya tidak diselesaikan seperti kebanyakan naskah yang memberi
batasan yang jelas dalam mengakhiri cerita. Dalam naskah ini ending yang dipilih adalah
kegelisahan si gadis, yang dengan begitu seolah naskah ini kembali pada kisah awal yaitu
kegelisahan si gadis yang juga menjadi pusat cerita. Dengan begitu naskah ini seolah tiada akhir,
selalu berulang sirkular.
Paling tidak, sepengetahuan saya, itu adalah gaya penulisan Chekov selalu menitik beratkan
karyanya pada sisi psikologis tokohnya. Dalam hal ini kegelisahan si Gadis. Ia berangkat dari
peristiwa sehari-hari yang kadang sering terlupa oleh kita. Namun begitu, peristiwa sehari-hari
itulah yang ternyata punya andil besar dalam hidup kita. Gaya penulisanya yang pendek
dipengaruhi oleh aktivitas menulisnya yang dibatasi oleh Nicolas Leykin, salah seorang penerbit
O ( "F-fragmen"), yang kepadanya
Chekhov mulai memasukkan karya-karyanya yang lebih indah, mengenali bakat si penulis
namun membatasi prosa Chekhov, hanya pada sketsa-sketsa sepanjang satu setengah halaman.
Sebagian percaya bahwa batasan inilah yang mengembangkan ciri khas gaya penulisan Chekhov
yang ringkas padat.
Dari Chekhov, banyak pengarang drama kontemporer belajar bagaimana memanfaatkan suasana
hati, hal-hal yang kelihatannya tidak berarti dan inaksi (berdiam diri) untuk menyoroti psikologi
batin para tokohnya.
Naskah kisah cinta hari rabu ini hanya diperankan oleh tiga orang, pengung, seorang pembantu,
si Gadis, dan seorang tamu. Si Gadis dan seorang tamu menjadi tokoh utamanya dan pengung
menjadi tokoh penyerta, namun dari pengunglah cerita dimulai dan diakhiri.
Secara teknis, naskah ini pun tidak menjadi terlampau sulit untuk divisualkan kedalam
panggung. Setting yang dipakai haya satu tempat, ruang tamu si Gadis.
Dengan naskah pendek ini harapanya proses penggarapanya pun tidak akan terlampau lama yang
malah bisa menjenuhkan actor dan kru, mengingat actor dan kru yang terlibat adalah orang-orang
baru. Namun begitu, dari proses yang tidak terlampau panjang itu diharapkan bisa menanamkan
nilai-nilai proses yang diikuti oleh setiap pihak yang terlibat.
Beberapa alternatif naskah untuk perbandingan dalam pemilihan naskah ini antara lain; 1.
Matahari Disebuah Jalan Kecil karya Arifin C Noor, 2. Orang Kasar karya Anton Pavlovich
Chekov (terjemahan WS. Rendra), 3. Renungan Lukisan Kopi karya Dimas Timus Setyo, 4.
Tanda S E O (j WS R) 5 T-Titik Hitam karya Nasyah
Djamin.
Sapardi sendiri adalah seorang penyair yang banyak mengolah sisi batin dalam setiap karyanya,
kecenderungan atau bahkan kta bisa menyebut ciri khas yang juga melekat pada chekov.
Kecenderungan itulah yang mungkin mendekatkan kedua penulis itu tanpa menafikan berbagai
sisi lain yang bisa mendekatkan keduanya.
Sapardi Djoko Damono dilahirkan di rumah kakeknya dari pihak ayah yang terletak di kampung
Baturono, Solo. Ia merupakan anak sulung dari pasangan Sadyoko dan Sapariah. Sapardi yang
lahir pada tanggal 20 Maret 1940 M ini berdasarkan kalender Jawa bersamaan dengan bulan
Sapar. Mungkin atas dasar itulah orangtuanya memberinya nama Sapardi. Ibunya juga lahir di
bulan yang sama sehingga tak heran jika ibunya kemudian bernama Sapariah. Menurut
kepercayaan orang Jawa, orang yang lahir di bulan Sapar kelak akan menjadi sosok yang
pemberani dan teguh dalam keyakinan.
Sapardi menjalani masa kecilnya bersamaan dengan tengah berkecamuknya perang
kemerdekaan. Sebagai anak yang tumbuh dalam situasi sulit seperti itu, pemandangan pesawat
yang menjatuhkan bom dan membakar rumah-rumah besar merupakan hal yang biasa bagi
Sapardi kecil.
Dalam bukunya, Sapardi mengisahkan bahwa awalnya kehidupan keluarga dari pihak ibunya
terbilang berkecukupan, namun nasib manusia memang bak roda pedati yang terus berputar,
kadang di atas kadang di bawah, demikian halnya dengan keluarga Sapardi, saat Sapardi kecil
hadir keadaan pun berubah, mereka harus menjalani hidup yang sulit. Masih segar dalam ingatan
Sapardi, saking susahnya ia hanya makan bubur setiap pagi dan sore. Untuk menafkahi
keluarganya, ibunda Sapardi, Sapariah, berjualan buku. Sementara ayahnya, Sadyoko, memilih
hidup mengembara dari satu desa ke desa lain untuk menghindari kejaran tentara Belanda yang
kala itu kerap menangkapi kaum laki-laki. Sang ayah memang bukan seorang pejuang, tapi
tentara Belanda kala itu berpikir tentara itu kebanyakan laki-laki.
Pak Sadyoko pada awalnya bekerja sebagai abdi dalem di Kraton Kasunanan, mengikuti jejak
kakeknya. Setelah menikah, ia menjadi pegawai negeri sipil di Jawatan Pekerjaan Umum.
Sementara sang kakek, selain bekerja sebagai abdi dalem Kasunanan Raja Kasunanan Surakarta,
1893-1939, ia juga punya keahlian menatah wayang kulit. Sapardi dan adiknya, Soetipto Djoko
Sasono, mendapatkan seperangkat wayang kulit karya kakeknya sendiri. Tidaklah heran jika
Sapardi bisa sedikit-sedikit memainkan wayang. Sayangnya, akibat zaman yang kacau, wayang
itu tidak bisa terawat dengan baik.
Tahun 1943, keluarga Sadyoko memutuskan untuk memisahkan diri dari keluarga kakeknya.
Saat itu kekuasaan atas Indonesia telah berpindah dari tangan Belanda ke Jepang. Mereka
kemudian menyewa sebuah rumah di kampung Dhawung. Ketika itu, sang ibu hampir saja
direkrut pasukan Jepang untuk menjadi prajurit. Beruntung ia bisa selamat dari perekrutan itu
karena tengah mengandung adik Sapardi, Soetjipto.
Setelah Jepang menyerah pada sekutu pada tahun 1945, keluarga Sadyoko pindah ke Ngadijayan.
Di desa itu Sapardi dan keluarganya tinggal di rumah orangtua dari pihak ibu. Rumah itu sangat
luas. Tapi sayangnya sang kakek tak bisa menata hidup dengan baik hingga akhirnya rumah itu
digadaikan tanpa bisa ditebus hingga akhir hayatnya. Tindakan sang kakek tidak diberitahukan
kepada putra putrinya apalagi cucu-cucunya. Setelah kakeknya meninggal, rumah itu dilelang
dengan harga rendah. Uang hasil penjualan dibagi pada tiga orang anaknya, yakni ibu Sapardi
dan dua orang pamannya.
Pada tahun 1957, sang ayah memutuskan untuk meninggalkan Ngadijayan dan pindah ke sebuah
kampung bernama Komplang. Sapardi menafsirkan, pilihan ayahnya untuk pindah itu merupakan
usaha untuk bisa mendapatkan tanah yang luas dan suasana yang lebih tenang.
Di tempat tinggalnya yang baru, saat itu belum ada listrik. Keadaan desa pun waktu itu masih
sangat sepi, sehingga sempat menimbulkan perasaan aneh di hati Sapardi. Sebab, di kampung
tempatnya tinggal sebelumnya, Ngadijayan, Sapardi kerap keluyuran untuk menonton pagelaran
wayang kulit. Namun lambat laun, Sapardi mulai terbiasa dengan keadaan yang jauh berbeda itu.
Meski demikian, ia memutuskan untuk lebih banyak tinggal di rumah. "Mungkin karena suasana
yang 'aneh' itu menyebabkan saya memiliki waktu luang yang banyak dan 'kesendirian' yang
tidak bisa saya dapatkan di tengah kota," kata Sapardi.
Walaupun memutuskan untuk lebih banyak tinggal di rumah dan menikmati 'kesendirian', hobi
keluyurannya tak lantas berhenti begitu saja. Namun, 'keluyuran'-nya bukan dalam arti fisik di
dunia nyata melainkan dunia batinnya sendiri.
Sambil menikmati masa 'kesendirian'-nya itu, Sapardi mulai menulis puisi. "Saya belajar menulis
pada bulan November 1957," katanya. Sebulan setelah belajar menulis, karyanya berupa sajak
dimuat di majalah kebudayaan yang terbit di Semarang. Tahun berikutnya, sajak-sajaknya mulai
bermunculan di berbagai halaman penerbitan yang antara lain diasuh oleh HB. Jassin.
Kegairahan menulis didapat Sapardi dari hobinya membaca. Sejak kecil Sapardi memang sangat
menyukai buku-buku petualangan. Ia pun sangat menyukai karangan Karl May, William
Saroyan, WS Rendra, dan TS Eliot. Menurut Sapardi, buku-buku itu sangat populer di kalangan
remaja yang suka membaca. Pada waktu itu Sapardi duduk di kelas 2 SMA.
Untuk ukuran seorang pelajar SMA, buku drama puisi karya Eliot sebenarnya tidak terlalu
gampang dicerna. Oleh karena itu Sapardi mengakui bahwa ia hanya bisa memahami sekitar
25% saja. Atau mungkin kurang dari itu. Sapardi memang orang yang memiliki rasa ingin tahu
cukup besar. Uuntuk memuaskan rasa ingin tahunya, ia tak hanya membaca buku tapi juga
membaca gejala-gejala alam.
Salah satu karya terjemahan Sapardi, Murder in Cathedral karangan TS Eliot yang bernuansa
"Kristiani" sempat memunculkan dugaan bahwa Sapardi yang muslim menempuh pendidikan di
Sekolah Dasar Katolik. Tapi dugaan itu ternyata tidak benar, Sapardi tidak pernah masuk sekolah
Katolik, hanya saja ia mengaku waktu kecil sering ikut Sekolah Minggu akan tetapi hanya main-
main saja karena ia memang suka keluyuran.
Di samping itu, menurut pengakuan seorang guru besar Universitas Atmajaya, sewaktu
mahasiswa hubungan Sapardi dekat sekali dengan Pater Theodorus Geldorp SJ atau yang lebih
dikenal dengan sebutan Pater Dick Hartoko. Kedekatan hubungan itu ada kaitannya dengan
majalah kebudayaan Basis yang diasuh oleh pastor itu. Pada waktu Pater Dick menjabat sebagai
pemimpin redaksi dan Sapardi mengasuh rubrik puisi. Pada peringatan satu tahun wafatnya Pater
Dick, Sapardi memberikan uraian kenangannya berkaitan dengan kedekatan hubungan itu.
Bahkan dalam menyelesaikan skripsinya tentang Murder in the Cathedral, ia mendapatkan
pinjaman mesin tik dari Pater Dick.
Dugaan yang mengatakan bahwa Sapardi pernah bersekolah di sekolah Katolik menurut Sapardi
mungkin didasari kumpulan puisi dalam buku duka-Mu abadi yang terbit di tahun 1969. Puisi-
puisi dalam buku itu banyak menyajikan imaji-imaji yang menimbulkan asosiasi kekristenan.
Pada kenyataannya, Sapardi masuk Sekolah Dasar Kasatrian, yakni sekolah dasar yang khusus
diperuntukan bagi kaum laki-laki para kerabat Kraton. Meski berdarah ningrat, jejak-jejak
keningratan tidak tampak pada perilaku dan karya-karyanya. Ini menunjukkan sekolah itu hanya
memberikan pendidikan formal saja. Bedanya, di sekolah itu Sapardi mendapatkan kesempatan
untuk mengikuti pelatihan menabuh gamelan dan menari tari Jawa. Meski demikian, yang
tampak sejak SMA, Sapardi lebih suka main gitar daripada alat musik tradisional Jawa.
Setamat SD, ia melanjutkan ke SMP II di wilayah Mangkunagaran. Kemudian melanjutkan ke
SMA II di Margoyudan. Sewaktu SMA, Sapardi menjalin pertemanan dengan Jeihan
Sukmantoro yang kini dikenal sebagai pelukis ekspresionistik Indonesia terkemuka. Jeihan
adalah salah seorang pengelola majalah dinding dimana Sapardi sering mengisi majalah dinding
itu. Persahabatan itu masih terjalin hingga kini. Bahkan beberapa kegiatan puisinya didanai oleh
Jeihan. Pada pameran lukisan Jeihan di Jakarta, 29 Juli 2005 lalu, Jeihan mempersembahkan
sebuah patung Sapardi telanjang yang khusus diciptakannya.
Tak hanya bersahabat dengan sang pelukis, Sapardi juga memiliki bakat melukis. Lukisannya
bahkan pernah dilelang untuk amal bersama dengan beberapa pelukis lain, di antaranya Danarto.
Selain bakat melukis, ia juga berbakat menjadi seorang sutradara. Pentas drama yang pernah
ditanganinya antara lain Petang di Taman karya Iwan Simatupang. Di samping menjadi tokoh di
balik layar, ia juga pernah beberapa kali tampil sebagai pemain saat tergabung dalam teater
Rendra pimpinan WS Rendra.
Setamat SMA ia melanjutkan studi di Jurusan Sastra Barat Fakultas Sastra dan Kebudayaan
Universitas Gajah Mada (UGM). Catatan itu menunjukan Sapardi tidak pernah sama sekali
masuk sekolah Katolik. Istilah-istilah yang lekat dengan umat Nasrani seperti Yesus, Golgota,
Qain, dan Abil dalam karyanya diduga didapatnya dari buku-buku bacaan.
Sapardi menyelesaikan studi di Jurusan Sastra Barat (-sekarang Jurusan Sastra Inggris) pada
tahun 1964. Sementara duka-Mu abadi ditulis pada 1967 dan 1968. Ini artinya, Sapardi sudah
melewati pergulatan lebih intens dengan Murder in the Cathedral yang menjadi objek materi
skripsinya. Seperti judulnya, lakon itu mengisahkan pembunuhan seorang uskup yang namanya
Becket. Dari hal itu bisa dibayangkan cerita tersebut sarat dengan nuansa Kristiani. Untuk
kepentingan penulisan sikripsinya itu, sudah pasti dibutuhkan pengetahuan yang cukup. Itu
sebabnya Sapardi dipaksa tidak hanya membaca tapi mempelajari kitab suci, yang mungkin tidak
hanya Injil tapi juga kitab-kitab dari agama lain.
Sebagai mahasiswa yang giat berkesenian, Sapardi sering pula mengisi acara semacam puisi. Ia
sering ditemani sahabat-sahabatnya yang memiliki kecintaan seni yang sama di Fakultas Sastra
dan Kebudayaan UGM. Mereka antara lain Ramli Leman Soemowidagdo, Rachmat Djoko
Pradopo, Niniek Koesoemowardhani, Widiati Saebani, Lastri Fardani, dan Ninies C.M Tri
Sudarsi Widagdo.
Sapardi bisa dibilang seorang gitaris yang andal juga. Ia bermain band tatkala di Fakultas Sastra
dan Kebudayaan UGM. Budayawan, Novelis, Cerpenis, Dosen Umar Kayam pernah bercerita
bahwa saat masih menjadi Dekan di Fakultas Sastra UI, Sapardi selalu membawa gitar ke
kantornya.
Dari berbagai kemampuannya di bidang seni, mulai dari menari, bermain gitar, bermain drama,
dan sastrawan, tampaknya bidang sastralah yang paling menonjol dimilikinya. Ia dikenal sebagai
Penyair Legendaris Indonesia papan atas, tak hanya di dalam negeri tapi juga di dunia
internasional. Sajak-sajaknya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, termasuk bahasa
Jawa.
Beberapa di antaranya menjadi lirik lagu-lagu cinta yang sering dinyanyikan paduan suara
kelompok terkemuka pada pesta penikahan bahkan hingga ke Amerika. Salah satu sajaknya yang
berjudul "Pilgrimage" (Suddenly the Night, 1988: 13) yang merupakan terjemahan dari "Ziarah"
(duka-Mu abadi, 1975:30-31) pernah dikutip dalam suatu konferensi internasional oleh Narasima
Rao, Perdana Menteri India. Beberapa sajaknya yang lain sudah diterjemahkan ke dalam bahasa
Inggris dimasukkan ke dalam antologi puisi dunia.
Di dunia akademisi, pria berkacamata ini adalah seorang guru besar ilmu sastra yang beberapa
periode menjabat Pembantu Dekan I, Dekan, serta Ketua Program Pascasarjana yang semuanya
dalam lingkup Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Sapardi sering
memberikan pengarahan kepada mahasiswanya bagaimana cara membacakan puisi yang baik.
Dalam kegiatannya sebagai akademisi, Sapardi juga merupakan seorang penjelajah. Setelah
awalnya ia mengambil kuliah di Jurusan Sastra Barat, Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM,
tapi perhatiannya pada Sastrawan, Pendiri PDS H.B. Jassin juga sangat besar. Kepada dunia
sastra akademik, Sapardi memang menunjukkan minat yang tinggi. Minat itu semakin tampak
dengan didirikannya sebuah organisasi para sarjana sastra yang diberi nama Himpunan Sarjana
Kesusastraan Indonesia (Hiski) yang kegiatannya antara lain menyelenggarakan seminar di
berbagai kota di seluruh Indonesia. Dalam perjalanannya, Hiski ini telah berhasil
memberdayakan para sarjana kesusastraan Indonesia.
Sapardi juga banyak berbicara tentang sastrawan dan khususnya Penyair Legendaris Indonesia.
Dan pada akhirnya memusatkan perhatiannya pada Sastrawan, Pendiri PDS H.B. Jassinsastra
Indonesia. Akan tetapi, ia menulis disertasi tentang sastra Jawa. Beberapa novelnya juga
berbahasa Jawa.
Dalam proses menulis, Sapardi termasuk pengarang yang memulai tulisannya tanpa diawali ide
atau dorongan hati, tapi karena begitu saja. Biasanya, entah bagaimana ia tiba-tiba menggoreskan
penanya atau mengetik beberapa kata pada kertas atau pada layar monitor, baru kemudian ia
mengembangkannya. Tetapi yang jelas, dari mana pun dan bagaimanapun ia memulai tulisannya,
daya cipta Sapardi akan muncul apabila ia berada dalam suatu suasana tertentu.
Dalam tulisan "Permainan Makna" (Sihir Rendra, 1999:255-273) dikatakan oleh Sapardi,
"Ternyata, kemudian, masa kecil yang sama sekali tidak istimewa itu menjadi sumber bagi
sebagian puisi saya; setidaknya bisa dikatakan bahwa beberapa sajak yang saya sukai
mengingatkan saya pada masa kecil tersebut". Dari kalimat yang diucapkannya itu terlihat bahwa
Sapardi ternyata sangat tertarik dengan kehidupan batinnya sendiri. Masa kecil rupanya menjadi
sumber kreativitasnya.
Seperti saat pertama kalinya ia mengirimkan sebuah karangan berupa cerita ke sebuah majalah
anak-anak berbahasa Jawa bernama Taman Putra yang merupakan suplemen untuk majalah
berbahasa Jawa terkenal yang namanya Penyebar Semangat. Redaksinya adalah seorang tokoh
jurnalistik terkenal bernama Subagio Imam Notodidjojo (Pak SIN).
Dalam cerita yang dikirimkannya, Sapardi mengisahkan salah satu peristiwa masa kecilnya,
namun sayang karangan itu ditolak. Menurut Pak SIN, cerita itu tidak masuk akal. Tentu saja
penolakan itu membuat Sapardi kecewa. Tapi yang lebih penting menurutnya adalah secara tidak
langsung untuk pertama kalinya ia 'diberi tahu' dan selanjutnya menyadari bahwa ada peristiwa
dalam hidupnya yang tak masuk akal.
Cerita yang ditulis Sapardi itu mengisahkan saat ia dan adiknya dilepas ibunya untuk pergi
menginap bersama sang ayah di rumah ibu tirinya. Semua berjalan biasa saja, tapi ternyata cerita
itu dikatakan tidak masuk akal. Padahal Sapardi menegaskan tulisan itu dibuat tanpa dilebih-
lebihkan.
Pak SIN ternyata lebih percaya bahwa cerita anak-anak yang baik adalah yang masuk akal.
Padahal menurut Sapardi, bukan hanya cerita, melainkan hidup dan peristiwa dalam kehidupan
yang fantastis justru sangat menarik, indah, dan sangat bagus luar biasa. Yang lebih penting lagi,
kisah-kisah fantastis itulah yang bisa merangsang daya imajinasi anak-anak untuk lebih gemar
membaca, belajar dan melakukan penjelajahan untuk memperkaya pengetahuan dan memperluas
wawasannya, serta mendewasakan hidup batinnya. Seperti kisah para penemu, ide-ide mereka
pada awalnya dianggap tidak masuk akal namun dikemudian hari ide mereka dapat berguna bagi
kehidupan bagi banyak orang di seluruh dunia.
Mungkin sebagian orang menduga, sangat sulit diterima akal sehat jika ada seorang ibu yang
melepaskan anak-anaknya untuk menginap di rumah ibu tiri. Karena pada umumnya istri
pertama sangat benci pada istri kedua, demikian juga sebaliknya. Suami mereka jadi rebutan.
Akan tetapi tidak demikian dengan ibu Sapardi, Sapariah. Sang bundanya itu bahkan berkata
pada Sapardi yang merupakan anak sulung, "Biarkan saja ayahmu. Nanti kalau sudah 'waras'
akan kembali pulang." Di sini letak kesabaran dan keagungan ibu Sapariah.
Bagi perempuan masa kini, apalagi mereka yang disebut Dosen studi feminisme dan filsafat
kontemporer di Universitas Indonesia, sikap ibu Sapariah itu akan sangat disayangkan oleh
sesama kaumnya. Akan tetapi segi positifnya, Ibu Sapariah telah mendidik Sapardi untuk
memahami makna kesabaran dan makna menahan diri. Kesabaran untuk selalu menahan diri
itulah yang akhirnya menjadi kekuatan luar biasa yang mengantarkan Sapardi menjadi salah
seorang Penyair Legendaris Indonesia kaliber dunia.
Menanggapi penolakan itu, ia hanya menulis "Bagi saya, cerita tersebut pernah benar-benar
terjadi -tidak peduli apakah cerita itu masuk akal atau tidak." Tampaknya, penolakan cerita
karyanya tidak membuat Sapardi bergeming. Tapi, itu menumbuhkan suatu sikap baginya yang
kemudian tampaknya menjadi semacam pandangan dunianya. Ini yang kemudian menjadi salah
satu motor penggerak penulisan karyanya, terutama puisi.
Tanpa disadari, Pak SIN telah ikut menggembleng Sapardi. Mungkin Pak SIN dengan
pandangannya yang demikian tidak sendirian, ia mewakili zamannya. Pak SIN telah
menempatkan diri sebagai seorang pendidik yang menerapkan cara berpikir sebagaimana guru-
guru sekolah dasar dan SMP yang harus mendidik murid-muridnya berpikir logis. Itu pula
kemudian yang mengajarkan kepada Sapardi bahwa kenyataan dalam hidup tidaklah nalar, tidak
masuk akal, tidak logis. Hal-hal yang dipandang logis adalah yang muncul dari rumusan logika
yang rasional.
"Kemudian saya berpikir, barangkali dunia nyata boleh tidak masuk akal, tetapi dunia rekaan
harus masuk akal. Dunia nyata lebih tidak masuk akal dibandingkan dunia rekaan. Segala
peristiwa dalam dunia nyata terjadi begitu saja tanpa rancangan pasti sebelumnya, tetapi
rangkaian peristiwa dalam dunia rekaan harus diatur sedemikian rupa agar jelas. Sebab,
akibatnya agar masuk akal. Dengan demikian, dunia nyata harus diedit agar menjadi dunia
rekaan. Hidup ini harus melalui proses pengguntingan, pemolesan, penghapusan, pemilihan dan
penyusunan kembali agar bisa diterima sebagai cerita. Meskipun saya belum berpikir sejauh itu,
sudah sepantasnya kalau waktu itu saya sama sekali tidak berusaha lagi menulis cerita. Saya
merasa lebih tenteram menjalani yang tak masuk akal, setiap hari bermain-main dengan teman
sebaya..." (Sihir Rendra, 1999:258
Dengan mempersoalkan yang masuk akal dan yang tak masuk akal, Sapardi memisahkan antara
puisi dan cerita. Jika orang menulis narasi yang tak masuk akal, segera muncul kritik; tetapi
dalam puisi, hal-hal yang tidak masuk akal tidaklah mendapat gubrisan. Demikian kesan Sapardi
terhadap kritik sastra kita selama ini. Itulah sebabnya, pada awal kariernya, sejak kasus Taman
Putra, Sapardi tidak menulis cerita.
Karena ingin tentram di dunianya yang tak masuk akal, maka ia memilih puisi. Dunia atau jagat
dan suasana masa kecilnya menjadi bagian penting dalam sajak-sajak yang disukainya. Di sana,
dalam jagat dan suasana anak-anak itu, bermunculanlah peristiwa-peristiwa murni yang
kebanyakan tidak masuk akal seperti yang pernah ditulis sewaktu kecil.
Pada tahun 2001, Sapardi menyatakan dalam sebuah surat kepada penyair Lihat Daftar Tokoh
Perempuan Indonesia, Dorothea Rosa Herliany, "Bagi saya garis pemisah antara ketiga jenis
karangan ini (yang dimaksudkannya adalah puisi, cerita dan esai-BS) tidak pernah pasti selalu
bergeser ke sana-s v " ("Sc P"
dalam Sapardi Djoko Darmono, Pengarang Telah Mati, 2001:ix).
Ini menunjukkan bahwa kemerdekaan dan kebebasan kreativitas sangat penting bagi Sapardi.
Walaupun ia berkali-kali menegaskan bahwa dalam penulisan puisi, cerita maupun yang lain
senantiasa dibacanya kembali berulang-ulang sebelum dinyatakan "jadi", ia juga mengakui
bahwa dalam proses penciptaan ada sesuatu yang tak sepenuhnya bisa dikendalikannya sendiri.
Dalam perjalanan hidup dan karier Sapardi, ia menikah dengan seorang Lihat Daftar Tokoh
Perempuan dari Salatiga setelah tamat dari Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. Istrinya
adalah teman satu jurusannya di UGM. Selanjutnya, ia pun menjadi dosen di Madiun, Solo dan
Semarang. Di sela-sela itu, ia juga sempat belajar di Amerika Serikat. Sesudah itu, pada tahun
1973, ia menetap di Jakarta. Pada tahun itu juga, ia diminta membantu Australian Film, membuat
film semi dokumenter mengenai dampak modernisasi bagi kehidupan keluarga di Bali dan di
Solo, masing-masing selama dua bulan.
Ia pernah mondar-mandir Jakarta-Semarang selama hampir dua tahun karena mengajar di
Universitas Pemimpin Perang Diponegoro dan menjadi Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia.
Sambil bekerja di majalah Horison, ia kemudian menjadi pengajar tetap di Fakultas Sastra
(sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya) Universitas Indonesia.
Sapardi juga pernah tercatat sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta dan pelaksana harian
Pusat Dokumentasi Sastrawan, Pendiri PDS H.B. Jassin Pria yang rajin melakukan medical
check-up ini bahkan pernah menjadi pengurus RT. Di samping pernah menjadi anggota redaksi
majalah kebudayaan Basis yang terbit di Jogja, ia pernah pula menjadi country editor untuk
majalah Tenggara, yakni sebuah jurnal sastra Asia Tenggara yang terbit di Kuala Lumpur.
Tugas lain yang pernah diembannya adalah menjadi koresponden untuk Indonesian Circle,
sebuah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh School of Oriental and African Studies (SOAS),
University of London. Lepas dari Horison, ia membantu Kalam, sebuah jurnal kebudayaan.
bersama Budayawan, Novelis, Cerpenis, Dosen Umar Kayam, Subagio Sastrowardoyo,
Goenawan Mohamad, dan John McGlynn, Sapardi mendirikan Yayasan Lontar yang lebih
banyak menerbitkan karya Sastrawan indonesia ke dalam bahasa Inggris. Ia pun memprakarsai
berdirinya Yayasan Puisi dan menerbitkan Jurnal Puisi.
Sapardi tak hanya sastrawan, ia juga seorang pemikir dan kritikus sastra. Bukunya tentang sastra
antara lain adalah: Asisten Wakil Presiden Urusan Kesejahteraan Rakyat (1978-1983)
Asisten Wakil Presiden Urusan Kesejahteraan Rakyat (1978-1983)sosiologi Sastra, Sebuah
Pengantar Ringkas (1978); Novel Indonesia Sebelum Perang (1979); Sastra Indonesia Modern,
Beberapa Catatan (1983); Bilang Begini, Maksudnya Begitu (1990); Politik, Ideologi, dan Sastra
Hibrida (1999); dan Sihir Rendra: Permainan Makna (1999). Buku-buku ini banyak dikutip
mahasiswa untuk mendukung pendapat dalam skripsi, tesis dan disertasi mereka.
Sapardi juga dikenal luas sebagai seorang penerjemah sastra yang piawai. Walaupun mungkin
pada mulanya itu sekadar sebagai kegemaran, kemudian berkembang menjadi semacam profesi.
Tapi mengenai hal yang satu ini, ia mengatakan imbalan penerjemahan di Indonesia terlalu kecil.
Hasil terjemahannya antara lain adalah: Puisi Klasik Cina, Puisi Parsi Klasik, Puisi Brazilia
Modern, Serpihan Sajak George Seferis, Mendorong Jack Kunti-kunti, Sepilihan Sajak Australia,
Afrika yang Resah, Lelaki tua dan Laut (karya Hemingway), Daisy Manis (karya Henry James),
kumpulan cerita pendek karya Albert Wendt dari Samoa, Tiga Sandiwara Ibsen, Duka Cita bagi
Electra (lakon karya Eugene O'Neill), Shakuntala, dan Amarah (The Grapes of Wrath karya John
Steinbeck).
Beberapa karya terjemahannya ada yang belum sempat dibukukan. Tetapi sudah diterbitkan di
majalah atau sudah dimainkan di beberapa tempat antara lain: Pembunuhan di Katedral (karya
T.S Eliot); Singa dan Permata (karya Wole Soyinka); Brown sang Dewa Agung (sebuah lakon
karya O'Neil); Asap Musim Panas (karya Tenesee Williams); dan Di Bawah Langit Afrika
(kumpulan cerpen).
Satu hal lagi yang membuat jasanya besar untuk sastra adalah berkat jasanya merintis dan
memprakarsai Himpunan Sarjana Kesustraan Indonesia (Hiski), setiap tahun dewasa ini ada
penyelenggaraan seminar dan pertemuan para sarjana sastra yang terhimpun di dalam organisasi
tersebut.
Prof Dr Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai salah seorang sastrawan yang memberi
sumbangan besar kepada kebudayaan masyarakat modern di Indonesia. Salah satu sumbangan
terbesar Guru Besar Fakultas Sastra UI ini adalah melanjutkan tradisi puisi lirik dan berupaya
menghidupkan kembali sajak empat seuntai atau kwatrin yang sudah muncul di jaman para
pujangga baru seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar.

Referensi Bacaan
Soemanto, Bakdi. 2006. Sapardi Djoko Damono: Karya dan Dunianya, Jakarta : Grasindo
Harymawan, RMA. ______. Dramaturgi, ______: ______
Dari Wikipedia bahasa Indonesia
www.google.com