Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II

UJI FITOKIMIA RAMBUT JAGUNG


Zea Mays L.


DISUSUN OLEH:
Riska Sulistiana 140210100002
Jefri Lubis 140210100018







LABORATORIUM KIMIA ORGANIK
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS METEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJAJARAN
2013
ABSTRAK

Fitokimia atau kadang disebut fitonutrien, dalam arti luas adalah
segala jeniszat kimiaataunutrienyang diturunkan dari sumber tumbuhan, termasuk
sayurandanbuah-buahan. Dal am penggunaan umum, f i t oki mi a memi l i ki
definisi yang lebih sempit.Fitokimia biasanya digunakan untuk merujuk padasenyawayang
ditemukan pada tumbuhan yang tidak dibutuhkan untuk fungsinormal tubuh, tapi
memiliki efek yang menguntungkan bagi kesehatan ataumemiliki peran aktif bagi
pencegahanpenyakit.Rambut jagung merupakan bunga betina dari jagung yang tersusun
dalam suatu tongkol yang terdapat dalam ketiak daun.Tiap tongkol mempunyai suatu
tangkai yang beruas-ruas pendek dengan daun-daun yang merupakan pembalut dan
tongkol.Tujuandaripercobaaniniadalahuntukmengetahuikandungan alkaloid dari
tumbuhan rambut jagung (Zea Mays L.) denganuji Hager, Wagner, Mayer
danDragendorff; mengujikeberadaantriterpenoid, steroid, dansaponindari tumbuhan
rambut jagung (Zea Mays L) denganuji Liebermann-Buchard; mengujikeberadaan
flavonoid dari tumbuhan rambut jagung (Zea Mays L.).Metode yang
digunakandalampercobaaniniadalahmetodeekstraksidanpengujiandenganbeberapapereaksi
. Dari hasilpercobaan, didapatkanbahwakandungan alkaloid daritumbuhan rambut jagung
(Zea Mays L.) dapatdiketahuidenganuji Wagner (-), uji Mayer (-) danujiDragendorff(-)
dan Hager (-);kebaradaan flavonoid dari tumbuhan rambut jagung (Zea Mays L) dapat
diketahui dan keberadaan steroiddari tumbuhan rambut jagung (Zea Mays L.)
dapatdiketahuidenganuji Liebermann-Buchard.







ABSTRACT

Sometimescalledphytochemicalsorphytonutrients, in its broadest
senseisanyjeniszatkimiaataunutrienyangderivedfromplantsources,
includingfruitssayurandanbuah. Incommon usage, phytochemicalhasa narrower definition.
Phytochemicalsare usuallyusedto referpadasenyawayangfound in plantsthat are not
neededforfungsinormalbody, buthas abeneficial effect
onhealthataumemilikiactiveroleforpencegahanpenyakit.Rambutfemale
flowerofcorniscorncobsarranged inaleafcontained in thearmpit.
Eachfrigatehasajointedstalkshortwithleavesandcobsthat arepads. The
purposeofthisexperimentistodetermine the content ofalkaloidsfrom plantscorn silk(Zea
MaysL.) bytestingHager, Wagner, MayerandDragendorff; examinethe presence
oftriterpenoids, steroids, andsaponinsfromplantcorn silk(Zea MaysL) withLiebermann-test
Buchard; examinethe presence offlavonoidsfromcorn silkplants(Zea MaysL.). methods
usedin these experimentsis themethod ofextractionandtestingwithseveralreagents. From the
experimental results, it was found that thealkaloidcontentofplantscorn silk(Zea MaysL.) can
bein the knowwith theWagnertest(-), Mayertest(-) andDragendorfftest(-) andHager(-);
kebaradaanflavonoidofplanthaircorn(Zea MaysL) can be determinedandthe existenceof
theplantsteroidhaircorn(Zea MaysL.) can be determined bytest-Buchard Liebermann.








UJI FITOKIMIA RAMBUT JAGUNG
Zea Mays L.

I. TUJUAN PERCOBAAN
1.1 Mengidentifikasi kandungan alkaloid dari rambut jagung (Zea mays L.) dengan
uji Hager, Wagner, Mayer dan Dragendorff.
1.2 Menguji keberadaan triterpenoid, steroid, dan saponin dari rambut jagung (Zea
mays L.) dengan uji Liebermann-Buchard.
1.3 Menguji keberadaan flavonoid dari rambut jagung (Zea mays L.).

II. PRINSIP PERCOBAAN
2.1 Ekstraksi
Pemisahan dua senyawa atau lebih melalui penambahan zat ketiga sebagai pelarut
pemisah.
a. Hukum Distribusi Nernst
Jika ke dalam sistem dua campuran senyawa dimasukkan zat ketiga, zat
tersebut akan terdistribusi sedemikian rupa dalam membentuk tetapan
distribusi (K
D
).

konsentrasi zat dalam senyawa 1
KD=
konsentrasi zat dalam senyawa 2

b. Like Dissolve Like
Suatu senyawa lebih mudah larut dalam pelarut yang memiliki kepolaran
relative sama dengan senyawa tersebut.
2.2 Uji Alkaloid
Reaksipengendapankompleks alkaloid yang tidaklarutdalamreagenlogamberat.
2.3 Uji Liebermann-Buchard
Reaksipembentukanwarnakarenaadanyaguguskromofordalamsuatusenyawa.
2.4 UjiSaponin
Reaksi pembentukan busa karena pengocokan dengan air.
2.5 Hidrolisis
Reaksi penguraian suatu senyawa dengan bantuan air.
2.6 Sublimasi
Proses pemurnian suatu fase padat yang berubah kedalam bentuk gas tanpa
meleleh terlabih dahulu.

III. MEKANISME REAKSI
3.1 Uji Wagner

(Miroslav, 1971)
3.2 Uji Mayer

(Miroslav, 1971)
3.3 UjiDragendorff

(Miroslav, 1971)
3.4 Uji Flavonoid








3.5 Uji Liebermann-Burchard








(Miroslav, 1971)

O
O
O
H
2
SO
4

+
HO
O
O
H-O
O
+
O
O
-H
+

+ CH
3
COOH + H
2
SO
4
+ CH
3
COOH


(Miroslav, 1971)
3.6 UjiSaponin

(Miroslav, 1971)
IV. TEORI DASAR
Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari
keluargarumput-rumputan.Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan Afrika
melaluikegiatan bisnis orang-orang Eropa ke Amerika.Sekitar abad ke-16 orang
Portugalmenyebarluaskannya ke Asia termasuk Indonesia. Orang Belanda
menamakannyamais dan orang Inggris menamakannya corn).Sistematika tanaman jagung
adalah sebagai berikut ( Irawan, 2010) :
Familia :Graminaceae
Kingdom : Plantae ( tumbuh tumbuhan)
Divisio : Spermatophyta ( Tumbuhan berbiji )
Sub Divisia : Angiospermae ( Berbiji tertutup )
Classis : Monocotyledone ( berkeping satu )
Genus : Zea
Species : Zea mays L

Fitokimia atau kimia tumbuhan mempelajari aneka ragam senyawa organic yang
dibentuk dan ditimbun oleh tumbuhan yaitu mengenai struktur kimianya, biosintesisnya,
perubahan serta metabolismenya, penyebarannya secara alamiah serta fungsi
biologinya.Tumbuhan menghasilkan berbagai macam senyawa kimia organik, senyawa kimia
ini bias berupa metabolit primer maupun metabolit sekunder. Kebanyakan tumbuhan
menghasilkan metabolit sekunder, metabolit sekunder juga dikenal sebagai hasil alamiah
metabolisme.Hasil dari metabolit sekunder lebih kompleks dibandingkan dengan metabolit
primer. Berdasarkan asal biosintetiknya, metabolit sekunder dapat dibagi ke dalam tiga
kelompok besar yakni terpenoid (triterpenoid, steroid, dan saponin) alkaloid dan senyawa-
senyawa fenol (flavonoid dan tannin) (Simbala,2009).
Alkaloid mencakup senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom
nitrogen, biasanya dalam gabungan sebagai bagian dari system siklik.Alkaloid sering kali
beracun bagi manusia dan banyak mempunyai kegiatan fisiologis yang menonjol, jadi
digunakan secara luas dalam bidang pengobatan. Uji sederhana, tapi sama sekali tidak
sempurna untuk alkaloid dalam daun atau buah segar adalah rasa pahitnya di lidah (Harborne,
1996).
Flavonoid sering terdapat sebagai glikosida, golongan terbesar flavonoid berciri
mempunyai cincin piran yang menghubungkan rantai tiga karbon dengan salah satu dari
cincin benzene.Efek flavonoid terhadap macam-macam organism sangat banyak macamnya
dan dapat menjelaskan mengapa tumbuhan yang mengandung flavonoid dipakai dalam
pengobatan tradisional.Flavonoid tertentu merupakan komponen aktif tumbuhan yang
digunakan secara tradisional untuk mengobati gangguan hati (Robinson & Kumar, 1995).
Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang kuat menimbulkan busa jika dikocok
dalam air dan pada konsentrasi yang rendah sering menyebabkan hemolisis sel darah merah.
Saponin digunakan sebagai bahan baku untuk sintesis hormon steroid yang digunakan dalam
bidang kesehatan. Dua jenis saponin yang sering dikenal yaitu glikosida triterpenoid alkohol
dan glikosida struktur steroid tertentu yang mempunyai rantai samping spiroketal.Kedua jenis
saponin ini larut dalam air dan etanol tetapi tidak larut dalam eter (Ilyas, 2007).
Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan
isoprene dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik yaitu
skualena.Triterpenoid dapat digolongkan menjadi triterpena sebenarnya, steroid, saponin dan
glikosida jantung (Harborne, 1996).
Indikator keberhasilan untuk percobaan uji Liebermann-Burchard yaitu berubahnya
larutan menjadi kegelap-gelapan dari sebelumnya.Warna kehitam-hitaman itu dikarenakan
adanya sistem terkonjugasi dari struktur triterpen dalam percobaan.Sedangkan pada uji busa,
busa yang terbentuk setelah ditambahkan air dan dikocok kuat-kuat sangat banyak dan
mampu bertahan lama dalam tabung reaksi merupakan reaksi positif untuk saponin (Federer,
1963).
Sublimasi merupakan cara yang digunakan untuk pemurnian senyawa senyawa
organic yang berbentuk padatan.pemanasan yang dilakukan tehadap senyawa organic akan
menyebabkan terjadinya perubahan sebagai berikut: apabila zat tersebut pada suhu kamar
berada dalam keadaan padat, pada tekanan tertentu zat tersebut akan meleleh kemudian
mendidih. Disini terjadi perubahan fase dari padat ke cair lalu kefase gas (Ilyas, 2007).

V. ALAT DAN BAHAN
5.1 Alat
a. Batangpengaduk
b. Cawanpenguap
c. Gelaskimia
d. Gunting
e. Kapas
f. Mortar danalu
g. Pemanas
h. Pipetteuji
i. Plat teuji
j. Raktabungreaksi
k. Spatula
l. Tabungreaksi
5.2 Bahan
a. Akuades
b. Asamasetatanhidrat
c. Asamklorida
d. Asamsulfat
e. Etanol
f. Eter
g. Kloroformamoniakal
h. Metanol
i. ReagenDregendorf
j. Reagen Hager
k. Reagen Mayer
l. Reagen Wagner
m. Sampel rambut jagung (Zea Mays L.)
n. Serbuk magnesium

5.3 Gambaralat
1
2
3
4
5 6
7
8
9
1 10
2
3
4
5 6
7
8
9
11
pemanas
cawan penguap

Gambar 5.1 Rangkaianalatpemanasan

VI. PROSEDUR
6.1 Uji Alkaloid
Sampel rambut jagung ( Zea mays L.) ditimbang sebanyak 5 gram, kemudian sampel
digerus sampai halus. Sampel yang sudah di gerus di masukkan ke dalam tabung reaksi
dan ditambahkan kloroform ammoniakal dan diekstrak.Larutan ekstrak yang berwarna
coklat muda ini di tempatkan dalam 2 tabung reaksi yang berbeda. Tabung 1
ditambahkan asam sulfat, lalu lapisan asam dipisahkan dan di uji dengan uji mayer, uji
wagner, dan uji dragendroff. Tabung 2 di tambahkan uji Hager dan diamati.
6.2 Uji Steroid, Triterpenoid, dan Saponin
Sampel rambut jagung ( Zea mays L.) ditimbang sebanyak 5 gram, kemudian sampel
digerus sampai halus. Sampel yang sudah di gerus di masukkan ke dalam tabung reaksi
dan ditambahkan etanol panas dan diekstrak.Larutan ekstrak yang berwarna coklat
muda ini diuapkan sampai terbentuk kerak. Kemudian kerak ditambahkan dengan eter
dan ditambahkan uji Libertmann-Buchart (asam asetat anhibrida 2: asam sulfat 1)
diamati perubahan warnanya. Untuk uji saponin kerak yang terbentuk ditambahkan air
panas dan dikocok selama 15 menit dilihat dan diamati busa yang terbentuk.
6.3 Uji Flavonoid
Sampel rambut jagung ( Zea mays L.) ditimbang sebanyak 5 gram, kemudian sampel
digerus sampai halus. Sampel yang sudah di gerus di masukkan ke dalam tabung reaksi
dan ditambahkan metanol dan diekstrak.Larutan ekstrak yang berwarna coklat muda
ini ditambahkan asam klorida dan ditambahkan serbuk magnesium dan diamati
perubahan warnanya.



VII. DATA PENGAMATAN
7.1 TabelSifatFisik&Sifat Kimia
Zat SifatFisik Sifat Kimia
Air, H
2
O
cairan tidak berwarna; mp=0C;
bp=100C
pelarut polar; tidak reaktif;
stabil
Etanol,
CH
3
CH
2
OH
mp=-117,3C; bp=78,3C volatil; mudahterbakar
Asamklorida,
HCl
Mr=36,5 g/mol larut dalam air; asam kuat
Asamsulfat,
H
2
SO
4

Mr=99,08 g/mol; mp=10,36C;
bp=338C
korosif; asamkuat;
larutdalam air

7.2 TabelPerlakuan
Zat Perlakuan Hasil
a. Uji Alkaloid
Sampel
rambut
jagung
Gerus Sampelhalus

Ekstraksidengankloroformamoniakal;
saringdengankapas
ekstrak kloroform
amoniakal (coklat muda)
Ekstrak
kloroform
amoniakal
(coklat
Tempatkandalamduatabung
muda)
Dalamtabung
1
Tambahkanasamsulfat Faseasam
Faseasam Tambahkanpereaksi Mayer Larutanmerah (-)
Tambahkanpereaksi Wagner Larutanhijau (-)
TambahkanpereaksiDragendorff Larutancoklat muda (-)
Dalamtabung
2
Tambahkanpereaksi Hager Larutanhijau (-)
b. Uji Flavonoid
Sampel Gerus Sampelhalus

Ekstraksidenganmetanol;
saringdengankapas
Larutancoklat muda
Tambahkanasamklorida
Tambahkanbubuk magnesium Larutanorange (+)

c. Uji Steroid, Triterpenoid&Saponin
3 gram
sampel
Gerus Sampelhalus

Ekstraksidenganetanolpanas;
saringdengankapas
Ekstraketanolik (coklat
muda)
Uapkanpelarut Kerak
Tambahkaneter Terbentuklarutandankerak
kerak Kocokdengan air panas (-)saponin
larutan
Tambahkanpereaksi Liebermann-
Buchard
Larutanhijau-biru (+) >>
steroid


Sampel/
uji
Dragendorff Hager Wagner Mayer Flavonoid Saponin Steroid
Rambut
jagung
(-) (-) (-) (-) (+) (-) (+)

VIII. PEMBAHASAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui kandungan alkaloid dari rambut
jagung ( Zea mays L.) dengan uji Hager, Wagner, Mayer dan Dragendorff; menguji
keberadaan triterpenoid, steroid, dan saponin dari rambut jagung ( Zea mays L.) dengan
uji Liebermann-Buchard; menguji keberadaan flavonoid dari rambut jagung ( Zea mays
L.).
Senyawa kimia yang terkandung dalam tumbuhan merupakan hasil metabolisme dari
tumbuhan itu sendiri.Dari hasil penelitian banyak ahli tak jarang senyawa kimia ini
memiliki efek fisiologi dan farmakologi yang bermanfaat bagi manusia.Senyawa kimia
tersebut lebih dikenal dengan senyawa metabolit sekunder yang merupakan hasil dari
penyimpangan metabolit primer tumuhan.Senyawa tersebut adalah golongan alkaloid,
steroid, terpenoid, fenol, flavonoid, dan saponin.
Tumbuhan memiliki berbagai organ utama yang digunakan oleh manusia untuk
memperoleh manfaat dari tumbuhan tersebut.Contohnya adalah biji, biji yang digunakan
yaitu biji alpukat. Bagian dari buah tersebut yang akan kita manfaatkan dan kita gunakan
untuk mengidentifikasi metabolit sekundernya. Pengujian dengan menggunakan sampel
biji yang masih segar dimaksudkan untuk menghindari rusaknya jaringan selnya.
Kerusakan jaringan ini dapat berakibat pada hilang atau rusaknya senyawa aktif yang
dikandung akibat panas atau terlalu lama didiamkan maka dikhawatirkan senyawa
aktifnya akan rusak yang disebabkan oleh enzim atau air yang terdapat pada biji tersebut.
Metabolit sekunder yang akan diuji meliputi alkaloid, flavonoid, triterpenoid, steroid,
dan saponin. Metabolit inilah yang umum ditemukan pada tumbuhan tertentu yang akan
kita uji. Pada penguijiansampel pertama-tama dipotong kemudian digerus dengan mortir.
Metabolit sekunder ini umumnya terperangkap pada dinding sel. Oleh karena itu, untuk
mengisolasi metabolit sekunder dari biji tersebut dinding sel biji itu harus dipecahkan
terlebih dahulu atau di buka pori-porinya dengan cara penumbukkan. Penumbukkan dan
penggerusan dimaksudkan untuk merusak dinding sel sampel yang akan diuji, sehingga
kandungan-kandungan kimia dalam sel tersebut akan keluar dan dapat diuji. Contoh
kandungan-kandungan kimia seperti alkaloid, flavonoid, steroid dan triterpenoid.Hasil
gerusan kemudian dimasukkan kedalam tabung reaksi yang bersih dan kering.
Pengujian pertama yang dilakukan adalah uji alkaloid. Dalam uji ini, digunakan
kloroform amoniakal yang berfungsi untuk membebaskan alkaloid dari bentuk garamnya.
Pada umumnya senyawa alkaloid terikat secara ikatan ionik kompleks parsial dengan
asam organik. Dengan penambahan kloroform amoniakal (dengan kebasaan yang lebih
kuat daripada senyawa alkaloid), asam organik akan terikat dengan kloroform amoniakal
sehingga senyawa alkaloidnya bebas. Ekstrak kloroform amoniakal kemudian ditambah
dengan asam sulfat 2N untuk mengikat alkaloid dan membentuk garam, serta dapat
bereaksi dengan pereaksi-pereaksi logam berat. Setelah pencampuran akan terbentuk dua
fasa, fasa asam akan berada di atas sedangkan fasa kloroform amoniakal berada di bawah
karena perbedaan kepolaran dan densitas antara kloroform amoniakal dan asam sulfat.
Pengujian alkaloid yang positif ditandai dengan adanya endapan. Hal ini terjadi karena
senyawa alkaloid mengandung atom nitrogen yang memiliki pasangan elektron bebas.
Elektron bebas ini akan disumbangkan pada atom logam berat membentuk senyawa
kompleks dengan gugus yang mengandung atom nitrogen sebagai ligannya. Senyawa
kompleks ini tidak larut (mengendap) dan memberikan warna sesuai dengan pereaksi
yang digunakan.
Ekstrak kloroform kemudian ditambahkan dengan pereaksi-pereaksi untuk
mengidentifikasi keberadaan alkaloid. Dengan pereaksi Mayer akan terbentuk endapan
merah, dengan pereaksi Wagner akan terbentuk endapan coklat, dengan pereaksi
Dradendorff akan terbentuk endapan putih kecoklatan, dan dengan pereaksi Hager (asam
pikrat) akan terbentuk endapan kuning.
Reaksi yang terjadi:
Pereaksi Mayers
Alkaloid + H
2
SO
4
+ pereaksi Endapan kompleks
R
3
N + H
2
SO
4
R
3
NH
+
+ H
+
+ SO
4
2-

Pereaksi Wagner

CH
3
CH
3
N
2
OH
CH
3
CH
3
CH
3
N
CH
3
OCH
3
I
2
, KI
Na
CH
3
COOH
CH
3
CH
3
N
CH
3
OCH
3
O
CH
3
CH
3
N
CH
3
OCH
3
O
+ NH
3
Toluena
ROH


Tetapi pada percobaan kali ini denga sempel rambut jagung tidak terdapan
senyawa alkaloid karena ketika diujin uji dengan uji hager larutan berwarna hijau bukan
membentuk endapan kuning yang merupakan hasil positif uji hager, pada uji mayer
larutan berwarna merah tetapi tidak membentuk endapannya, uji wagner larutan berwarna
hijau dan tidak bembentuk endapan, sedangkan untuk uji dragendraff larutan berwarna
coklat dan tidak membentuk endapan. Ini menunjukkan bahwa sampel rambut jagung
(Zea Mays L.) tidak mengandung senyawa alkaloid.
Uji selanjutnya yang dilakukan adalah uji flavonoid. Pada uji ini, sampel diekstraksi
dengan methanol dan disaring dengan menggunakan kapas. Ekstrak metanolik yang
dihasilkan direaksikan dengan asamk lorida dan bubuk magnesium. Pengujian ini positf
jika terbentuk larutan berwarna orange. Dan di buktikan pada sampel rambut jagung ( Zea
Mays L.) yang ketika diuji menghasilkan larutan berwarna orange, sampel sampel rambut
jagung ( Zea Mays L.) mengandung senyawa flavonoid karena memiliki gugus OH yang
merupakan gugus ferol yang terdapat pada flavonoid.
Ujiselanjutnyaadalahuji steroid, triterpenoiddansaponin.Dalamujiini, sampel yang
telahdigerus, diekstraksidenganetanolpanas.Steroid dan triterpenoid bersifat relatif non
polar sedangkan saponin cenderung bersifar polar. Dengan menggunakan etanol, ketiga
CH
3
- CH
2
- OH
Gugus non polar Gugus polar
senyawa tersebut dapat terekstrak karena etanol memiliki dua gugus, yaitu gugus polar
pada bagian alkoholnya dan gugus nonpolar pada bagian hidrokarbonnya.


Penggunaan etanol panas akan meningkatkan kelarutan suatau senyawa sehingga
diharapkan seluruh steroid, triterpenoid dan saponin yang terkandung dalam tumbuhan
akan terekstrak ke dalam etanol. Ekstrak etanolik yang terbentuk kemudian diuapkan
sampai seluruh pelarut habis teruapkan. Selanjutnya ditambahkan eter untuk menarik
komponen nonpolar dalam ekstrak kering sesuai dengan prinsip like dissolve like. Untuk
pengujian kandungan triterpenoid dan streoid dalam sampel, ekstrak eter ditambahkan
pereaksi Liebermann-Buchard.
Pada steroid indikasi positif ditandai dengan perubahan warna menjadi biru-hijau.
Warna biru, hijau bukan merupakan warna yang diserap melainkan warna komplementer.
Warna yang diserap adalah warna jingga sehingga diketahui steroid menyerap pada
panjang gelombang 585-647 nm. Sedangkan pada triterpenoid indikasi positif ditandai
dengan perubahan warna menjadi merah, ungu atau coklat, begitu pula dengan sampel
sampel rambut jagung ( Zea Mays L.) warna yang dihasilkan setelah diuji adalah warna
hijau yang berarti sampel sampel rambut jagung ( Zea Mays L.) mengandung steroid.
Warna yang diserap oleh triterpenoid adalah warna hijau dengan panjang gelombang 491-
570 nm. Gugus OH pada triterpenoid akan mengalami pergeseran panjang gelombang
yang diserap sehingga warna yang ditimbulkan berbeda. Jadi warna merah, ungu atau
coklat adalah warna komplementer. Tetapi pada sampel sampel rambut jagung ( Zea
Mays L.) tidah terbantuk karena larutan hanya menimbulkan warna hijau. Reaksi
pembentukan warna ini dapat terjadi karena adanya gugus kromofor (gugus tak jenuh)
yang disebabkan oleh absorpsi panjang gelombang tertentu oleh senyawa organik.
Senyawa organik dengan konjugasi yang ekstensif menyerap panjang gelombang tertentu
karena adanya transisi elektron ke dan n ke sehingga warna yang diserap bukan
warna yang tampak melainkan warna komplementernya. Jika sampel mengandung
triterpenoid dan steroid sekaligus maka warna yang pertama kali timbul adalah warna
triterpenoid kemudian disusul warna steroid. Hal ini disebabkan karena panjang
gelombang yang diserap oleh triterpenoid lebih panjang artinya energinya lebih rendah
sehingga akan muncul lebih dahulu.
OH
+ H
2
SO
4
CH
3
O CH
3
O O
+
Kompleks warna


Reaksi Lieberman-Buchard







Residu yang tidak larut saat penambahan dietil eter ditambahkan dengan akuades panas
untuk menguji adanya saponin. Adanya saponin ditandai dengan timbulnya busa setelah
pengocokan dengan akuades panas dan busa konstan selama 15 menit. Saponin
merupakan komponen lipida polar yang bersifat ampifilik (memiliki gugus hidrofilik dan
gugus hidrofobik). Di dalam sistem cair, lipida cair secara spontan terdispersi membentuk
misel dengan ekor filik yang bersinggungan dengan medium cair. Misel tersebut dapat
mengandung ribuan molekul lipida. Lipida cair membentuk suatu lapisan dengan
ketebalan satu molekul yaitu lapisan tunggal. Pada sistem tersebut, ekor hidrokarbon
terbuka keudara sehingga terhindar dari air dan lapiasn hidrofilik memanjang ke air yang
bersifat polar, sistem inilah yang disebut denga busa. Tetapi pada sampel sampel rambut
jagung ( Zea Mays L.) tidak terbentuk busa ketika bengocokan yang berarti sampel
sampel rambut jagung ( Zea Mays L.) tidak mengandung saponin.





IX. KESIMPULAN
9.1 Kandungan alkaloid darirambut jagung (Zea Mays L.) dapat diketahui dengan
uji Wagner (-), uji Mayer (-), uji Hager (-) dan ujiDragendorff(-).
9.2 Keberadaan steroid dari rambut jagung (Zea Mays L.) dapat diketahui dengan
uji Liebermann-Buchard.
9.3 Keberadan flavonoid dari rambut jagung (Zea Mays L.) dapat diidentifikasi.



























DAFTAR PUSTAKA


Federer, W. Y. 1963. Experimental Design.Theory and Aplication. New York: Mac.Millan
Publishing.
Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis
Tumbuhan. Bandung: Penerbit ITB.
Ilyas,S. 2007. Analysis of protein fas expression and caspase 3 activated at the suppression
phase to sperm quantity by androgen/progestin combination. Jurnal Biologi
Sumatera. 2(2): 45.
Irawan,F. 2010. J agung.http://id.scribd.com/doc/34448636/Jurnal-Jagung-Febri-Irawan-
05091002006-Teknik-Pertanian-UNSRI
Miroslav, V. 1971.Detection and I dentification of OrganicCompound.Planum Publishing
Corporationand SNTC Publishers of Technical Literatur. New York.
Robbinson, S, L dan Kumar, V. 1995. Buku Ajar Patologi I Edisi 4. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Simbala, E.l. Herny, 2009. Analisis senyawa alkaloid beberapa jenis tumbuhan obat
sebagai bahan aktif fitofarmaka. Pacific Journal 1 (4): 490.










LAMPIRAN



Gambar 1. Hasil positif Steroid uji Liberman-Burchard