Anda di halaman 1dari 18

1422 - 2001

"Kitab ketiga," itulah julukan


sebagian kalangan aktivis HTI
untuk kitab al-Takattul al-Hizbi
(selanjutnya disingkat al-Takattul).
Maklum, kitab karya Taqiyuddin
an-Nabhani ini biasanya dikaji
dalam pembinaan internal HT
setelah kitab Nizham al-Islam dan
kitab Mafahim Hizbut Tahrir.
Jika kitab Nizham al-Islam
menjelaskan Islam sebagai sistem
kehidupan, dan kitab Mafahim
Hizbut Tahrir menjelaskan pokok-
pokok pikiran HT, maka kitab al-
Takattul menjelaskan
pembentukan kelompok Islam
yang ideal serta berbagai tahapan
dan langkah yang akan
ditempuhnya, untuk mewujudkan
sistem kehidupan Islam itu.
Gambaran Isi Kitab

Apa isi kitab al-Takattul (2001)? Kitab ini
pada dasarnya ingin menyampaikan 3
(tiga) penjelasan mendasar menyangkut
gerakan Islam yang bertujuan
membangkitkan umat Islam. Tiga
penjelasan itu adalah mengenai :
Pertama, faktor-faktor yang menyebabkan
gagalnya berbagai gerakan, dari sisi
pembentukan keorganisasiannya (hal. 1-
21).
Kedua, tatacara pembentukan partai
politik yang sahih (hal. 22-30)
Ketiga, tahapan kerja partai, hambatan-
hambatan, serta bahaya-bahaya yang
akan dihadapinya (hal. 30-53). Berikut ini
uraiannya.


Sebab-Sebab Kegagalan
Gerakan
Sejarah telah membuktikan, banyak gerakan
yang berdiri sejak abad ke-19 telah gagal
membangkitkan umat Islam. Dari sisi
pembentukan organisasi, ada 4 (empat) faktor
yang menyebabkan kegagalannya, yaitu
gerakan tersebut : (1) bertumpu pada fikrah
(konsep) yang masih umum, (2) tidak
mengetahui thariqah (metode) untuk
menerapkan fikrahnya, (3) tidak diemban oleh
orang-orang yang matang kesadarannya, dan
(4) tidak mempunyai ikatan yang benar untuk
mengikat anggota-anggotanya
Mengenai fikrah & thariqah
Banyak gerakan tidak didasarkan pada fikrah dan thariqah yang
jelas. Banyak gerakan berdiri hanya karena respon sesaat, misalnya
gerakan nasionalis yang muncul karena penjajahan. Wajar saja bila
gerakan-gerakan ini mengalami kegagalan, sebab gerakan-gerakan
ini tidak bertumpu pada fikrah dan thariqah yang jelas (hal. 4-5).


Sebuah gerakan Islam, sudah semestinya bertumpu hanya pada
ideologi (mabda') Islam. Sebab, falsafah kebangkitan yang hakiki itu
tiada lain adalah ideologi Islam, yang mengintegrasikan fikrah dan
thariqah Islam secara terpadu. Ideologi Islam ini harus
didakwahkan, lalu ditegakkan Daulah Islamiyah di sebuah negeri
untuk menerapkan ideologi Islam itu secara total. Selanjutnya,
Daulah Islamiyah itu akan terus meluas meliputi seluruh negeri-
negeri Islam (hal. 6-7)
pencemaran atau peracunan fikrah-
fikrah asing dari penjajah kafir
Selain tidak jelas, fikrahnya juga mengalami
pencemaran atau peracunan akibat adanya fikrah-fikrah
asing dari penjajah kafir, misalnya fikrah sekularisme,
nasionalisme, patriotisme, dan sosialisme. Fikrah-fikrah
asing ini, jelas akan membuat individu muslim
kehilangan kepribadian Islamnya, sehingga
kepribadiannya akan kacau balau. Secara emosional,
dia mempunyai emosi sebagai muslim, tapi fikrahnya
adalah fikrah penjajah yang kafir. Individu muslim yang
berkepribadian kacau ini, perlu diselaraskan dahulu pola
pikir dan pola jiwanya. Individu yang demikian, jika
membentuk kelompok atau partai politik, mustahil akan
menghasilkan kebangkitan yang sahih (hal. 13-15).
Thariqah yang tidak jelas
Dapat dilihat pada berbagai organisasi sosial (jamiyyah
khairiyah) dan organisasi akhlaq (jamiyyah khuluqiyah).
Organisasi sosial yang aktivitasnya membangun
sekolah, rumah sakit, dan sebagainya, dikhawatirkan
menjadi kanalisasi (penyaluran) dari semangat
kebangkitan Islam yang menggelora di dada umat
Seharusnya semangat itu terwujud dalam sebuah
kelompok berbentuk partai politik (al-takattul al-hizbi)
yang akan membawa kebangkitan. Dengan adanya
organisasi sosial, semangat itu akan tersalurkan hanya
untuk memenuhi kepentingan umat secara parsial,
bukan untuk melahirkan sebuah kebangkitan umat yang
benar (hal. 17-18).

Organisasi akhlak juga menunjukkan
fenomena ketidakjelasan thariqah

Mereka mengedepankan akhlak untuk memperbaiki
masyarakat dengan jalan memperbaiki akhlaq individu
masyarakat. Ini salah. Sebab jalan memperbaiki individu
tidak sama dengan jalan memperbaiki masyarakat.
Memang memperbaiki individu jalannya adalah dengan
memperbaiki akhlaknya. Namun memperbaiki masyakat
bukanlah dengan memperbaiki akhlak individunya,
melainkan dengan memperbaiki pemikiran, perasaan,
dan peraturan yang ada dalam masyarakat (hal. 19-20)
Kegagalan kader
Kegagalan gerakan-gerakan ini juga
dikarenakan individu-individunya bukanlah
individu yang matang dan sadar.
Sebab, model rekrutment atau pengikatan
orang-orang ke dalam gerakan-gerakan tersebut
tidak didasarkan pada kelayakan individu
tersebut, tapi didasarkan pada ketokohanannya
di masyarakat, atau karena kemampuannya
mendatangkan kepentingan sesaat bagi
kelompok, dan sebagainya (hal.20-21}
Ikatan salah
Ikatan yang ada dalam gerakan-gerakan
itu juga tidak benar, yakni hanya sebatas
tata aturan formal organisasi di atas
kertas. Seharusnya ikatan yang benar
adalah Aqidah Islam dan tsaqafah
gerakan (tsaqafah Islam) yang lahir dari
aqidah itu. Ikatan ini, sekaligus juga
menjadi ukuran kematangan seseorang
untuk dapat direkrut ke dalam sebuah
kelompok Islam (hal. 8)
Cara Membentuk Kelompok
Islam Ideal

Ini adalah inti kitab al-Takattul, yakni bagaimana membentuk
sebuah kelompok Islam yang sahih (hal. 22-30). Kelompok Islam
yang sahih ini, adalah sebuah partai politik yang berlandaskan
ideologi Islam. Partai politik Islam ini merupakan sebuah kelompok
yang individu-individunya mengimani Islam sebagai sebuah ideologi
serta berusaha menerapkan ideologi ini ke tengah masyarakat
untuk mengatur berbagai interaksi di tengah masyarakat.
Proses pembentukan partai politik Islam itu mengikuti 4 (empat)
tahapan berikut :
1. sel pertama
2. halaqah ula
3. kutlah hizbiyah
4. hizb mabda'i.
1. Yang dimaksud sel awal (al-khaliyah al-ula), adalah orang pertama,
yang bersih serta telah memahami fikrah dan thariqah Islam dengan
sempurna. Kemudian ia menularkan ideologi ini kepada orang-
orang lain sehingga terbentuk halaqah ula.
2. Halaqah ula adalah kumpulan beberapa orang di bawah
kepemimpinan sel awal tadi secara fikrah dan thariqah. Halaqah ula
ini disebut juga dengan istilah qiyadah al-hizb (pemimpin partai)
atau al-halaqah al-hizbiyah. Halaqah ula ini, akan berkembang
menjadi kutlah hizbiyah (kelompok cikal bakal partai).
3. Kutlah hizbiyah adalah halaqah ula ditambah dengan banyak
individu yang sepakat dengan fikrah dan thariqah yang ada. Kutlah
hizbiyah dicirikan dengan adanya ikatan (rabithah) yang menjadi
pengikat di antara banyak anggota baru tersebut. Ikatan ini adalah,
Aqidah Islam dan Tsaqafah Islam partai yang lahir dari Aqidah
Islam itu (hal. 22). Kutlah hizbiyah selanjutnya akan menjadi sebuah
hizb mabda'i (partai politik ideologis) yang sempurna (hal. 23)
4. Hizb mabda'i, adalah kutlah hizbiyah yang sudah melakukan amal
kepartaian (hal. 23). Jadi ciri yang menunjukkan berubahnya kutlah
hizbiyah menjadi hizb mabda'i, adalah adanya amal kepartaian,
yaitu melakukan pembinaan intensif untuk kalangan internal
sehingga individu partai semakin banyak, dan pembinaan umum
untuk masyarakat sehingga terwujud kesadaran umum di tengah
seluruh masyarakat (hal. 25).
Tahapan dan Kerangka Kerja Partai

Tahapan dan kerangka kerja partai politik ideologis (hizb mabda'i)
tersebut, dijelaskan dalam at-Takattul pada halaman 30-53, yang
terdiri dari 18 (delapan belas) poin.
Sejumlah 18 poin tersebut, dapat dipilah lagi lagi menjadi 4 (empat)
kategori penjelasan, yaitu :
(1) poin nomor 1 - 8, menjelaskan tentang bagaimana pembentukan
dan kemunculan sebuah partai yang benar;
(2) poin nomor 9 - 12, menjelaskan kerja partai pada tahapan
dakwah yang pertama (tahap pembinaan);
(3) poin nomor 13 - 17, menjelaskan kerja partai pada tahapan
dakwah yang kedua (tahap berinteraksi dengan masyarakat);
(4) poin nomor 18, menjelaskan kerja partai pada tahapan dakwah
yang ketiga (tahap ahan kekuasaan ).
Tahap Pembinaan.

Pembinaan dalam partai berbeda dengan
pendidikan di sekolah. Setiap anggota partai
harus melalui proses pembinaan ini. Sebab,
dengan proses ini seseorang akan memahami
fikrah dan thariqah partai. Setiap orang yang
hendak bergabung dengan partai harus
menempuh fase ini, tanpa memandang gelar
dan kedudukan di tengah-tengah masyarakat.
Keberhasilan pada fase ini merupakan jaminan
bagi keberhasilan pada fase berikutnya
Tahap Berinteraksi Dengan Masyarakat

Pada fase ini partai menceburkan diri di tengah-tengah masyarakat untuk
memahamkan fikrah dan thariqah partai kepada umat dan berjuang
bersama-sama umat demi melanjutkan kehidupan Islam.
Pada fase ini partai akan menghadapi hambatan-hambatan dan bahaya-
bahaya.
Hambatan-hambatan yang ada :
(1) pertentangan ideologi partai (Islam) dengan ideologi di masyarakat;
(2) perbedaan tsaqafah partai (Islam) dengan tsaqafah di masyarakat;
(3) adanya orang-orang pragmatis di masyarakat, baik yang pasrah dengan
realitas, maupun orang zalim yang enggan hidup dalam kebenaran;
(4) keterikatan manusia dengan kepentingan-kepentingannya;
(5) sulitnya mengorbankan kehidupan dunia di jalan Islam dan dakwah
Islam,
(6) perbedaan sarana-sarana fisik di masyarakat, yang dapat mendorong
partai membeda-bedakan pembinaan tsaqafah dan arahan ideologi di
antara umat.
Sedangkan bahaya-bahaya ada dua, yaitu :
(1) bahaya ideologis, yakni bahaya yang dapat mengancam fikrah atau
thariqah partai;
(2) Bahaya kelas, yaitu bahaya yang mengakibatkan anggota partai merasa
menjadi kelas yang berbeda dengan masyarakat.
Tahap Penyerahan Kekuasaan

Inilah fase terakhir yang akan ditempuh
oleh partai, yakni, umat menyerahkan
kekuasaan kepada partai demi
menerapkan Islam secara menyeluruh dan
menyebarkan Islam ke seluruh dunia
dalam sebuah Daulah Islamiyah.
Penutup

Kebangkitan umat mutlak memerlukan sebuah
partai politik Islam sejati yang benar-benar
mampu mengantarkan umat meraih tujuan-
tujuannya. Adanya partai politik Islam yang
sahih merupakan jaminan bagi tegaknya Daulah
Islamiyah, serta jaminan bagi penjagaan
eksistensi Daulah Islamiyah.
Walhasil, tegaknya dan terjaganya Daulah
Islamiyah bergantung pada partai politik Islam
sejati itu. Maka memahami bagaimana
membentuk partai politik Islam yang sahih
merupakan keharusan bagi kaum muslimin. [ ]