Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Dalam ilmu kimia,senyawa koordinasi adalah senyawa yang terbentuk dari ion
sederhana (kation maupun anion) serta ion kompleks. Unsur transisi periode keempat
dapat membentuk berbagai jenis ion kompleks. Ion kompleks terdiri dari kation logam
transisi dan ligan. Ligan adalah molekul atau ion yang terikat pada kation logam transisi.
Interaksi antara kation logam transisi dengan ligan merupakan reaksi asam-basa Lewis.
Menurut Lewis, ligan merupakan basa Lewis yang berperan sebagai spesi pendonor
(donator) elektron. Sementara itu,kation logam transisi merupakan asam Lewis yang
berperan sebagai spesi penerima (akseptor) elektron. Dengan demikian, terjadi ikatan
kovalen koordinasi antara ligan dengan kation logam transisi pada proses
pembentukan ion kompleks. Kation logam transisi kekurangan elektron,
sedangkan ligan memiliki sekurangnya sepasang elektron bebas (PEB). Beberapa contoh
molekul yang dapat berperan sebagai ligan adalah H
2
O, NH
3
, CO, dan ion Cl
-
. Bilangan
koordinasi adalah jumlah ligan yang terikat pada kation logam transisi. Sebagai
contoh, bilangan koordinasi Ag
+

pada ion [Ag(NH
3
)
2
]
+
adalah dua, bilangan
koordinasi Cu
2+
pada ion [Cu(NH
3
)
4
]
2+
adalah empat, dan bilangan koordinasi Fe
3+
pada
ion [Fe(CN)
6
]
3-
adalah enam. Bilangan koordinasi yang sering dijumpai adalah 4 dan 6.

Berdasarkan jumlah atom donor yang memiliki pasangan elektron bebas (PEB)
pada ligan, maka ligan dapat dibedakan menjadi monodentat,bidentat,
dan polidentat. H
2
O dan NH
3
merupakan ligan monodentat (mendonorkan satu pasang
elektron). Sedangkan Etilendiamin (H
2
N-CH
2
-CH
2
-NH
2
, sering disebut dengan istilah en)
merupakan contoh ligan bidentat (mendonorkan dua pasang elektron). Ligan bidentat dan
polidentat sering disebut sebagai agen chelat (mampu mencengkram kation logam
transisi dengan kuat). Sedangkan ion kompleks adalah penjumlahan dari muatan kation
logam transisi dengan ligan yang mengelilinginya. Sebagai contoh, pada ion [PtCl
6
]
2-
,
bilangan oksidasi masing-masing ligan (ion Cl
-
) adalah -1. Dengan demikian, bilangan
oksidasi Pt (kation logam transisi) adalah +4. Bentuk ion kompleks dipengaruhi oleh
jumlah ligan, jenis ligan, dan jenis kation logam transisi. Secara umum, bentuk ion
kompleks dapat ditentukan melalui bilangan koordinasi. Beberapa kompleks logam
terbentuk secara irreversibel, dan banyak diantara mereka yang memiliki ikatan yang
cukup kuat.
Banyak sintesis senyawa kompleks yang telah dilakukan menghasilkan senyawa
antara sebagai katalis yang dapat membantu dalam reaksi-reaksi kimia. Salah satu
senyawa yang dapat digunakan dalam sintesis kompleks adalah ligan yang berasal dari
basa Schiff, dimana senyawa kompleks yang terbentuk merupakan salah satu senyawa
antara yang dapat digunakan untuk berbagai macam penerapan ilmu, seperti dalam ilmu
biologi, klinik dan analitik. Kerja dan aktivitas obat menunjukkan kenaikan setelah
dijadikan logam-logam transisi terkhelat yang ternyata lebih baik daripada hanya
menggunakan senyawa organik. Namun dalam beberapa hal, kompleks tidak memberikan
reaksi dalam larutan karakteristik ion logam atau ligan tidak kompleks tetapi stabilitas
termodinamik dan kinetik bervariasi sehingga hal ini bukan merupakan kriteria
pembentukan senyawa koordinasi.
Pada makalah ini, akan dibahas karakter beberapa unsure dari golongan aktinida
yaitu Thorium (Th), Uranium (U), Neptunium (Np), Plutonium (Pu). Dalam tabel
periodik aktinida dicantumkan sebagai unsur golongan IIIB dan termasuk golongan
logam transisi, dikarenakan atom atom tersebut mempunyai konfigurasi elektron terluar

seperti Sc dan Y. Aktinida bersama-sama dengan lantanida digolongkan dalam


unsur blok-f atau sebagai unsur transisi dalam.
A. Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah pada pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa itu senyawa kompleks?
2. Bagaimana pembentukan senyawa kompleks?
B. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui apa itu senyawa kompleks
2. Untuk mengetahui bagaimana pembentukan senyawa kompleks

BAB II
PEMBAHASAN
Susunan horizontal lantanida dan aktinida dalam tabel periodik modern dapat digunakan untuk
memprediksikan perilaku kimia sepanjang deretan yang sejajar dalam kemiripannya dengan
golongan logam transisi maupun golongan logam utama lainnya. Dalam deret aktinida, anggota
awal dari grup ini berada dalam keadaan teroksidasi dalam suatu larutan encer. Dalam oksidasi
tetravalen unsur ini diklasifikasikan sebagai asam Lewis kuat, keasaman Lewis meningkat
dengan penurunan jari-jari ionik. Atau, dalam larutan aktinida tetravalen dapat dijelaskan dalam
hal keasaman Bronsted. Berbeda dengan logam transisi, ion (yaitu, [Rn] pada Th(IV) dan [Rn]
5f
4
pada Pu(IV)) memiliki konfigurasi elektron yang berbeda disebabkan oleh terbatasnya peran
dari elektron yang lebih ter-shield (terlindungi) yaitu elektron pada 5f.
Bagaimanapun secara makroskopik, kuantitas termodinamika tidak memberitahu kita
banyak hal tentang tingkat struktur molekul kimia yang terjadi dan tidak dimungkinkan untuk
mengkorelasikan perubahan struktur kimiadalam larutan dengan sifat kimia secara periodik.
Konstanta kesetimbangan tidak memberikan informasi tentang bagaimana koordinasi
tertentu dari suatu ligan terhadap logam dalam tingkat molekular.
Untuk mengetahui periodisitas struktural pada koordinasi larutan An(IV), Hennig et al telah
melakukan penelitian terkait serangkaian kompleks An(IV) sulfat yang dipelajari secara ekstensif
untuk Th(IV), U(IV), dan Np(IV)
Sifat termodinamika makroskopik dari larutan kompleks An(IV) sulfat diteliti dan ditinjau
dengan jumlah tertentu. Koordinasi dari bisulfat/ sulfat untuk kation logam dalam larutan air
pada umumnya
terjadi dalam dua cara untuk kompleks logam mononuklir, ikatan monodentat ditengah atau pada
tepi yang diikat oleh ligan bidentat.
Secara umum, diharapkan bahwa untuk suatu logam akan membentuk kompleks dengan sistem
ligan polidentat, kompleks khelat akan lebih rendah energinya dari kompleks monodentat,
konsep ini dikenal sebagai efek khelat. Namun, pengamatan efek khelat pada logam yang
berbeda dalam sistem ligan yang sama, dalam hal ini kasus bisulfat / sulfat, dapat
mengungkapkan faktor-faktor kimia lain yang dapat mempengaruhi kimia koordinasi dan
struktur kompleks logam-ligan. Hal ini membuat ligan sulfat berguna untuk menyelidiki
bagaimana perubahan keasaman Lewis, Oleh karena itu digunakan ion pusat dari ion An(IV)
yang akan mempengaruhi koordinasi sulfat dan sebaliknya.

Dalam spektroskopi absorpsi sinar-X (XAS), Hennig et al menggunakan 3 unsur atau elemen
dari deret ini yaitu dengan mengamati pergeseran sifat keperiodikan dari koordinasi anion sulfat
yang mengalami perubahan dari ion aktinida yaitu Th(IV) ke U(IV) dan ke Np(IV).
Bilangan koordinasi rata-rata sulfat meningkat sebagaimana pusat logam dan logam menjadi
lebih kecil. Akhir-akhir ini banyak dilakukan pengujian kecenderungan dalam sintesis dari
serangkaian garam Pu(IV) sulfat ketika dibandingkan dengan An(IV) lainnya maupun dengan
kompleks logam golongan IV sulfat. Keadaan kompleks padat dari rangkaian An(IV) sulfat
tidak dapat dengan mudah dihubungkan dengan pengamatan struktural dalam larutan.
Spektroskopi absorpsi sinar-X mengidentifikasi kekuatan dari struktur rata rata daerah sekeliling
lingkungan koordinasi dari suatu ion logam.Penelitian ini mempelajari Deret periodik yang stabil
padaion tetravalen dalam larutan berair dan menunjukkan bagaimana cara koordinasi sulfat
dengan seluruh deret An (IV) serta mengetahui kecenderungan secara periodik dari deret inipada
tingkat molekular.

Dalam table ditunjukkan secara jelas hubungan antara jari-jari ion dari ion logam dan
meningkatnya konstanta pembentukan kompleks. Dalam aktinida ringan Th, U, dan Np
ditunjukkan oleh Henning et al menggunakan XAS dan DFT bahwa perubahan dari sebagian
besar koordinasi sulfat monodentat pada Th ke sebagian besar koordinasi sulfat bidentat pada Np
terjadi ketika mengalami serangkaian peralihan dari golongan logam transisi menuju unsur
transisi dalam.
Data yang disajikan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kecenderungan koordinasi sulfat
bidentat meningkat pada Pu(IV), data tersebut hanya mencantumkan koordinasi sulfat bidentat
dalam sistem plutonium. Dalam perhitungan DFT, Henning et al menunjukkan preferensi untuk
koordinasi bidentat sulfat pada ion An(IV) dalam fase gas dan sistem terlarut dari Th dan Np,
(persamaan lihat di kertas yag)
Henning et al memperhitungkan bahwa kompleks bidentat lebih stabil daripada kompleks
monodentat dalam fase gas lebih dari 95 dan 109 kJ/mol dalam kompleks monosulfat dari
Th(IV) dan Np (IV). Sedangkan untuk kompleks bis-sulfat bidentat adalah 144-173 kJ/moL lebih
stabil dalam fase gas. Pada pelarutan kompleks ini preferensi koordinasi sulfat bidentat tetap
melalui ion An(IV) tetapi energi relatif mengalami penurunan menjadi 17 (Th) dan 21 kJ/mol
(Np) untuk kompleks mono-sulfat dan 56 (Th) dan 94 (Np) kJ/mol untuk kompleks bis-sulfat..
Dalam pertimbangan empiris dimana efek sterik terhadap ligan menghasilkan kompleks khelat
yang lebih stabil daripada kompleks monodentat nonkhelat, bagaimanapun dalam aktinida
tetravalent dimana derajat kebebasan sterik kemungkinan akan menjadi terbatas seperti ukuran
ion yang menurun dari Th ke Pu dan efek khelat sebagai penyebab dari fenomena ini tidak
sepenuhnya sesuai atau cukup untuk menjelaskan An(IV). Ini adalah berdasarkan data
eksperimen yang menunjukkan partisi dinamis antara jumlah monodentat sulfat dan bidentat
sulfat dengan adanya penurunan secara bersamaan dalam ukuran logam kation. Setidaknya
memiliki kecenderungan sama atau lebih besar Th daripada bidentat sulfat karena ukurannya
yang tidak sterik. Semua faktor lainnya sama, namun tingkat pembentukan kelat, preferensi
untuk koordinasi bidentat sulfat, tampaknya didorong oleh sifat kimia dari ion aktinida
dipisahkan dari kemampuan mereka untuk mengumpulkan ligan. Dengan menggunakan
perbandingan termokimia yang sama untuk penutupan cincin khelat seperti itu digunakan dalam
studi kimia kuantum efek khelat oleh Vallet, Wahlgren, dan Grenthe. Terkait dengan energi
pembentukan cincin kelat dari monodentat ke bidentat atau bidentat ke monodentat harus lebih
kecil daripada energi bebas eksperimen yang ditentukan dari pembentukan kompleks. Dalam
analisis Henning et al dinyatakan bahwa keadaan kepolaran ligan aktinida lebih besar pada
Thorium (Th) daripada Neptunium (Np) tetapi sumbangan untuk energi pelarutan Neptunium
(Np) membentuk kompleks bidentat yang lebih stabil daripada untuk Thorium (Th).
Penyebab yang mendasari perubahan energi adalah energi yang mungkin didominasi hasil dari
peningkatan kecenderungan menuju koordinasi sulfat bidentat, yang akan selalu mengakibatkan
perpindahan molekul air dari An(IV) pusat. Perubahan yang diamati adalah distribusi antara
bidentat dan koordinasi monodentat di golongan aktinida yang menunjukkan bahwa
kesetimbangan berubah sebagai fungsi dari ion logam dan bahwa energy terkait dengan
kesetimbangan pada persamaan 1 mungkin cukup kecil, yang sedikit disukai untuk Th dan paling
disukai untuk Pu.
Peningkatan kecenderungan ke arah ion koordinasi bidentat sulfat bergerak dari Th ke Pu dapat
dijelaskan secara kualitatif sebagai konsekuensi dari meningkatnya keasaman Lewis ion aktinida.
Hal ini didukung oleh populasi Mulliken yang dihitung dari Henning,dimana muatan pada pusat
Th dalam kompleks sulfat lebih positif dari muatan pada kompleks sulfat Np. Hal ini
menunjukkan adanya interaksi elektronik yang lebih besar, atau adanya transfer muatan yang
lebih besar antara atom oksigen sulfat dan beberapa asam ion Np (IV) denganbeberapa basa ion
Th (IV) yang didasarkan pada penelitian untuk plutonium. Ini lebih benar jika teknologi yang
dikembangkan untuk mengeksploitasi kimia dan mengurangi lebih kecil perbedaan energi
seperti yang ditemukan dalam masalah pemisahan kimia trivalen lantanida dan aktinida.
KESIMPULAN
Data eksperimental Pu, menyelesaikan Perubahan tipe koordinasi sulfat antara Th dan Pu di
aktinida (IV) yang dikemukakan oleh Hennig. Tipe ini dikaitkan dengan peningkatan keasaman
Lewis dari Th ke Pu, hasil dari pengisian orbital 5f dan kontraksi yang dihasilkan pada jari-jari
ionic dari ion aktinida.
Memahami perbedaan nampaknya sangat penting dalam pengembangan pemisahan kimia di
mana perubahan tersebut dalam energi dapat mengakibatkan peningkatan substansial dalam
efektifitas pemisahan.