Anda di halaman 1dari 28

Kasus

An. S, usia 2 tahun datang ke UGD RSSA Malang bersama ibunya. Menurut cerita dari
ibunya, An.S sejak 5 hari yang lalu anaknya batuk pilek. Sudah 2 hari ini sering rewel, tidak
mau makan. Sejak kemarin sore badannya panas disertai menggigil, tadi malam sebelum
dibawa ke UGD RSSA suhu anaknya mencapai 40
o
C , muntah 3x dan diare sebanyak 4x,
perut tampak distended sehingga ibunya memutuskan untuk pagi ini dibawa ke RSSA.
Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, didapatkan data An.S pasien dalam kondisi sadar, GCS
456, tampak lemah, gelisah, dyspnea, nafas cepat dan dangkal, RR: 35x/menit, pernafasan
cuping hidung, retraksi pada daerah supraklavikular, ruang-ruang interkostal dan
sternocleiodomastoideus, sianosis sekitar mulut, dan hidung, dan batuk produktif dengan
sekret tidak bisa dikeluarkan. Auskultasi ditemukan suara nafas bronkial, ronki basah halus,
bronkofoni, nadi:110x/menit, reguler, suhu:39,5
o
C. Rontgen thorax:gambaran multiple
infiltrate pada paru sebelah kanan. Laborat leukosit 46.000/mm3, LED:52 mm/jam, terapi: IV
line NaCl 0,9%:10 tts/menit, penisilin 100mg Ivx3/hari, O
2
nasal 2 lpm.
SLO:
A. Definisi
B. Etiologi
C. Epidemio
D. Patofisiologi
E. Manifestasi klinis
F. Komplikasi
G. Pemeriksaan diagnostic
H. Penatalaksanaan
I. Asuhan keperawatan
J. SAP
1. Pengertian
2. Etiologi
3. Tanda dan gejala
4. komplikasi
5. Penatalaksanaan




PNEUMONIA
A. Definisi
Istilah pneumonia melukiskan keadaan peradangan paru, tempat alveolus biasanya terisi
dengan cairan dan sel darah, suatu jenis umum pneumonia adalah pneumonia bakterialis,
yang paling sering disebabkan oleh pneumokokus. Penyakit ini dimulai dengan infeksi
didalam alveolus; membran paru menjadi meradang dan berpori-pori besar sehingga cairan
serta sering sel darah merah dan putih pun keluar dari darah masuk ke dalam alveolus.
Fungsi paru selama pneumonia berubah pada berbagai stadium penyakit ini. Pada stadium
awal, proses pneumonia mungkin terbatas pada hanya sebuah paru, dan ventilasi alveolus
dapat berkurang meskipun aliran darah melalui paru, berlangsung hampir normal. Ini
menyebabkan dua kelainan utama paru: (1) penurunan luas total permukaan membrane
respirasi yang tersedia dan (2) rasio ventilas-perfusi menurun. Kedua efek ini
menyebabkan berkurangnya kapasitas difusi, yang menyebabkan hipoksemia (Guyton,
Arthurc. 1990:380-381). Pneumonia adalah infeksi akut pada jaringan paru oleh
mikroorganisme, merupakan infeksi saluran napas bagian bawah. Sebagian besar
pneumonia disebabkan oleh bakteri yang terjadi secara primer atau sekunder setelah
infeksi virus (Corwin, Elizabeth J. 2009:541). Pneumonia adalah infeksi yang
menyebabkan paru-paru meradang. Menyebabkan kantung-kantung kemampuan menyerap
oksigen menjadi kurang yang dapat menyebabkan sel-sel tubuh tidak bisa bekerja
(Misnadiarly. 2008:11). Mikroplasma Pneumonia merupakan agen etiologic yang paling
sering pada orang yang berumur antara 5 sampai 50 tahun (DELF, Mohlan H.1996:257).
Pada pneumonia akan terjadi konsolidasi parenkim paru-paru yang dapat disebabkan oleh
virus ataupun bakteri. Infeksi bakteri lebih umum terjadi pada Negara berkembang dimana
pneumonia merupakan penyebab penting kematian bayi (Hull, David. 2008:121).

B. Etiologi
Sebenarnya Pneumonia bukan penyakit tunggal. Penyebabnya bisa bermacam-macam dan
diketahui ada 30 sumber infeksi, dengan sumber utama bakteri, virus, mikroplasma, jamur,
dan berbagai senyawa kimia maupun partikel (Misnadiarly. 2008:11). Berikut beberapa
macam agen infeksius pada infeksi pneumonia:
1) Pneumonia karena infeksi virus
Infeksi virus primer dapat menyebar melalui saluran pernapasan hingga ke paru-paru
dan hendaknya hal ini selalu dipikirkan pada setipa anak, khususnya pada tahun
pertama kelahiran. Penyebab tersering adalah influenza, para influenza, adenovirus,
dan RSV. Pemeriksaan klinis hanya sedikit membantu berupa gambaran bercak-bercak
pada rontgen toraks.
2) Pneumonia karena infeksi Streptokokus
Strepkokokus adalah penyebab pneumonia bakteri yang paling sering, terutama pada
anak kecil. Penyakit ini ditandai dengan gejal akut berupa demam, nyeri dada dan
pernapasan cepat yang sering disertai suara mendengkur. Anak tersebut mungkin
mengeluh rasa nyeri di perut atau bahu, tergantung letak infeksi. Pada pemeriksaan
fisik akan ditemukan konsolidasi segmen atau lobus dan dikonfirmasi dengan rontgen.
Efusi pleura mungkin ditemukan. Pemberian penisilin akan menimbulkan perbaikan
klinis yang cepat, dan perubahan radiologis akan menghilang sempurna setelah 3
sampai 4 minggu.
3) Pneumonia karena infeksi Haemophilus influenza tipe B.
Diseluruh dunia dilaporkan bahwa infeksi ini merupakan penyebab kedua tersering
pada pneumonia bakteri. Rongent toraks biasanya memperlihatkan pola
bronkopneumonia yang menyebar dan tidak memperlihatkan bayangan pada lobus.
Umumnya berespon terhadap pengobatan amoksilin oral
4) Mikoplasma Pneumonia
Infeksi mikoplasma cenderung timbul agak tersembunyi dan memiliki perjalanan
penyakit yang subakut. Umumnya ditemukan mengi, dan perubahan pada rongent foto
toraks seringkali lebih luas daripada yang diduga dari penemuan klinis. Penumonia
akibat infeksi Mikoplasma Pneumonia ini sering menyerang pada anak usia 5 sampai
14 tahun. Diagnosis diperkuat dengan adanya suatau respon antibody yang spesifik.
Penyakit berlangsung selama beberapa minggu, dan pengobatan antibiotic mungkin
menyababkan selisih yang kecil, walaupun eritromisin dapat member manfaat
5) Pneumonia karena infeksi stafilokokus
Pneumonia bentuk ini sudah jarang ditemukan, tetapi sebaiknya penyakit ini
dipertimbangkan pada anak kecil yang tampak sakit berat. Penyakit ini biasanya
ditandai dengan demam tinggi dan septicemia, disertai konsolidasi segmen atau lobus
yang mungkin akan mengakibatkan komplikasi empiema atau pneumotoraks yang
memerlukan drainase. Setelah konsolidasi emnghilang, pada gambaran radiologis akan
terlihat pneumotokel yang akan menghilang secara perlahan-lahan dalam beberapa
bulan (Hull, David. 2008:122-123)

C. Epidemiologi
Pneumonia sebenarnya bukanlah penyakit baru. American Lung Assosiation misalnya,
menyebutkan hingga tahun 1963 pneumonia menjadi penyebab kematian nomor satu di
Amerika. Penggunaan antibiotic membuat penyakit ini bisa dikontrol beberapa tahun
kemudian. Namun, pada tahun 2000 kombinasi pneumonia dan influenza kembali
merajalela dan menjadi penyebab kematian ketujuh di Negara itu. Pneumonia merupakan
masalah kesehatan di dunia karena angka kematiannya tinggi, tidak saja di Negara
berkembang tetapi juga di Negara-negara maju. Di Amerika Serikat misalnya, terdapat dua
juta sampai tiga juta kasus pneumonia pertahun dengan jumlah kematian rata-rata 45.000
orang. Di Indonesia, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah
kardiovascular dan tuberculosis. Faktor ekonomi yang rendah mempertinggi angka
kematian (Misnadiarly. 2008:11-12). Seluruh insiden pneumonia yang didapat dari
komunitas adalah 3% per tahun pada lansia berusia >65 tahun; mortalitasnya berkisar dari
5% sampai >30% bergantung pada mikroorganisme penyebab. Infeksi bakteri yang paling
sering meliputi S. Pneumoniae, H. influenza, M. Pneumoniae, C. Pneumoniae, dan M.
catarrhalis; influenza merupakan virus yang paling sering didapat dari komunitas.
Pneumonia nosokomial merupakan infeksi nosokomial tersering kedua tetapi
mortalitasnya paling tinggi (mortalitas keseluruhan 20%-50%). Pneumonia nosokomial
merupakan infeksi tersering di unit rawat insentif (ICU) tempat terjadinya pneumonia
yang berhubungan dengan ventilator (ventilator associated pneumonia, VAP) pada 9%
sampai 68% pasien. Bila terjadi VAP dalam 48 jam pertama rawat inap, penyebab
terseringnya adalah mikroorganisme yang didapat di komunitas; bila awitannya lambat,
penyebab terseringnya adalah staphylococcus aureus dan pseudomonas aerugenosa
(Brashers, Valentina L. 2007:101). Menurut survai kesehatan rumah tangga tahun 2002,
penyakit saluran napas merupakan penyebab kematian nomor 2 di Idonesia. Data dari
SEAMIC Health Staistic tahun 2001 menunjukkan bahwa influenza dan pneumonia
merupakan penyebab kematian nomor 6 di Indonesia, nomor 9 di Brunei, nomor 7 di
Malaysia, nomor 3 di Singapura dan Vietnam. Laporan WHO tahun 1999 menyebutkan
bahwa penyebab kematian akibat infeksi saluran napas akut termasuk influenza dan
pneumonia (Misnadiarly. 2008:20).

D. Patofisiologi
































(Arif, Muttaqin. 2008:101)
Aspirasi bakteri berulang
Obstruksi mekanik saluran
pernapasan karena aspirasi
bekuan darah, pus, bagian
gigi yang menyumbat,
makanan, dan tumor bronkus
Daya tahan saluran pernapasan
yang terganggu
Ada sumber infeksi di saluran pernapasan
Peradangan pada bronkus menyebar ke parenkim paru
Terjadi konsolidasi dan
pengisian rongga alveoli oleh
eksudat
Batuk produktif
Sesak napas
Penurunan kemampuan
batuk efektif
Ketidak efektifan bersihan
jalan napas
Edema
trakeal/faringeal
Peningkatan produksi
sekret
Perubahan pemenuan
gizi kurang dari
kebutuhan
Gangguan pemenuhan
ADL
Gangguan pemenuhan
istirahat dan tidur
Kecemasan
Ketidaktahuan/pemen
uhan informasi
Hipertermia
Peningkatan laju
metabolism umum
Intake nutrisi tidak
adekuat
Tubuh nakin kurus
Ketergantungan
aktivitas sehari-hari
Kurangnya pemenuhan
istirahat dan tidur
Kecemasan
Pemenuhan informasi

Reaksi sistemis:
bakterimia/viremia,
anoreksia, mual, demam,
penurunan BB, kelemahan
Gangguan pertukaran gas
Sesak napas, penggunaan
otot bantu napas, pola
napas tidak efektif
Penurunan jaringan efektif
paru & kerusakan
membrane alveolar-kapiler
E. Manifestasi Klinis
Gejala umum yang dapat terjadi pada penderita infeksi pneumonia diantaranya adalah :
Gejala yang mungkin ada antara lain, demam, batuk, menggigil, dipsnea,
perubahan status mental (terutama pada orang tua), pembentukan sputum, nyeri
dada pleuritik, dan syok
Pada anak-anak, pneumonia seringkali hanya bergejala demam dan takipnea;
ronki mungkin tidak ditemukan pada pemeriksaan. Pemeriksaan fisik mungkin
menunjukkan paru-paru yang bersih pada 50% anak yang menderita pneumonia
pada foto sinar-x dada
Pada neonatus, gejala yang terjadi adalah demam, letargi, takipnea, mendengkur,
napas cuping hidung, retraksi, pernapasan tidak teratur, apnea, sianosis, ronki,.
Pada neonatus jarang jarang terdapat batuk atau pembentukan mucus yang
disebabkan oleh pneumonia. Pada neonates mungkin ditemukan gejala tidak
khas, misalnya sulit makan atau iritabilitas.
(Graber, Mark A. 2006:143-144)
Pneumonia dapat bermanifestasi menjadi pneumonia ruang udara dan pneumonia
interstisial, yaitu :
Pneumonia ruang udara
Pneumonia ruang udara terjadi akibat infeksi oleh bakteri yang berkembangbiak
secara ekstraselular di dalam alveolus. Hal ini menimbulkan peradangan akut
dengan pembesaran kapiler alveolus, eksudasi cairan , dan emigrasi neotrofil ke
dalam alveolus. Pasien pneumonia ruang udara akut muncul dengan awitan
demam, dipsnea, dan batuk akut yang umumnya menghasilkan banyak sputum
purulen berwarna seperti karat. Nyeri dada, gesekan pleura, dan efusi muncul
bila terdapat penyebaran ke pleura.
Pneumonia interstisial/pneumonia atipik
Pneumonia interstisial ini disebabkan oleh infeksi pathogen yang dominan
intraselular obligat. Infeksi oleh organisme ini menimbulkan radang akut yang
terbatas pada interstisium tanpa penyebaran ke rongga alveolus. Mycoplasma
pneumonia merupakan penyebab tersering kasus-kasus pneumonia interstisial
sporadic, sedangkan Pneumocystis carinii merupakan penyebab umum
pneumonia interstisial pada pasien dengan tanggap imun lemah, khususnya
pasien dengan AIDS.
(Chandrasoma, Parakrama. 2005:470-472)
Bila dilihat dari penyebab are infeksi pneumonia dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
Pneumonia dapatan pada komunitas
Sebagian besar pasien yang menderita pneumonia yang didapat dari komunitas
megalami onset demam akut atau sub-akut; batuk dengan atau tanpa produksi
spectrum dan sesak napas. Gejala lain yang juga sering dijumpai adalah
kekakuan, berkeringat, menggigil, rasa tak enak di dada, pleuritis, kelelahan,
mialgia, anoreksia, sakit kepala, dan nyeri perut. Hasil pemeriksaan fisik yang
sering ditemukan meliputi demam atau hipotermi, takiprrea, takikardi, dan
desaturasi oksigen arteri ringan. Beberapa pneumonia akan terlihat sakit yang
mendadak. Pemeriksaan dada sering menguntungkan dengan terdapatnya suara
napas yang berubah dan ronkhi. Pekak pada perkusi dapat dijumpai jika terjadi
efusi pleura parapneumonia.
Pneumonia yang didapat di rumah sakit (nosokomial)
Gejala dan tanda yang berhubungan dengan pneumonia nosokomial tidak
spesifik; namun satu atau lebih temuan klinis (demam, leukositosis, sputum
purulen dan infiltrate paru baru atau progresif pada radiografi dada) dapat muncul
pada sebagian besar pasien. Temuanlain yang berhubungan dengan pneumonia
nosokomial meliputi hal-hal yang terdapat pada pneumonia yang didapat di
komunitas.
(Tierney, Lawrence M.2002:106;112)

F. Komplikasi
1) Komplikasi pneumonia udara diantaranya adalah :
Gangguan ventilasi dan perfusi
Pneumonia ruang udara mempengaruhi pertukaran gas pada daerah paru yang
terserang. Ventilasi tidak terjadi karena alveolus terisi dengan eksudat, dan
perfusi tidak terjadi karena perubahan mikrosirkulasi pada radang akut. Pada
sebagian besar kasus, kapasitas vital berkurang, tetapi gagal napas hanya terjadi
pada penyakit ekstensif yang menyerang kedua paru
Penyebaran ke pleura
Penyebaran infeksi ke pleura, dengan radang akut dan efusi, umumnya menyertai
pneumoniaruang udara. Pada sebagian besar kasus, kelainan ini pulih seiring
dengan perawatan pneumonia . peradangan pleura terkadang menjadi progresif
dan tidak pulih sehingga menyebabkan lokulasi dan akumulasi nanah (empiema )
Bakterimia
Bakterimia merupakan komplikasi dari pneumonia pneumokokus yang paling
serius. Kejadian ini meningkatkan kemungkinan kematian secara bermakna.
Bakterimia juga mungkin menyebabkan infeksi pneumokokus dibagian tubuh
lain, yang paling sering adalah meningitis dan endokarditis
Supurasi (pembentukan abses)
Supurasi yang terkait dengan nekrosis likuefaktif alveolus menyebabkan daerah
paru yang rusak digantikan oleh nanah. Supurasi disebabkan oleh bakteri
piokgenik virulen (seperti: S. aureus, basil gram negative, dan pneumokokus tipe
3). Supurasi dihubungkan dengan tingginya insidensi kegagalan terapi dan
kematian. Pasien yang sembuh, daerah supurasi sembuh dengan parut fibrosa
karena alveolus yang rusak tidak dapat beregenerasi
Pneumonia bakteri nekrotikan
Kelainan ini merupakan komplikasi yang jarang terjadi, dicirikan oleh nekrosis
paru sangat berat yang berkaitan dengan penyakit progresif cepat dan angka
kematian yang tinggi. Kelainan ini dijumpai dengan agen penyebab, seperti
yersinia pestis (plak pneumonia) dan bacillus anthracis (anthrax), yang jarang
menyebabkan pneumonia. Pneumonia nekrotik akut juga dapat terjadi sekunder
akibat pathogen yang lebih umum yaitu pada pasien defisiensi imun dan
malnutrisi
(Chandrasoma, Parakrama. 2005: 470-472).
2) Komplikasi pneumonia interstisial akut diantaranya adalah :
Pneumonia Bakteri Skunder
Kelainan ini merupakan komplikasi tersering pneumonia interstisialis. Penyakit
ini khas merupakan suatu bronkopneumonia dan cenderung menyerang pasien
usia ekstrim (bayi dan orang tua). S. aureus, pneumoniakokus, streptokokus lain,
H. influenza dan Moraxella catarrhalis merupakan penyebab tersering.
Pneumonia bakteri skunder mempunyai angka kematian yang tinggi pada orang
tua, dan merupakan penyebab kematian yang umum selama epidemic influenza;
pneumonia ini dipercaya sebagai penyebab 10 juta kematian di seluruh dunia
selama pandemic influenza tahun 1918, ketika antibiotic tidak tersedia
Penyebaran ke sistem lain
Penyebaran hematogen ke orang lain seperti ensefalitis dan miokarditis virus
jarang terjadi. Komplikasi alergi pascavirus (seperti, sindrom GuillainBarre lebih
sering terjadi)
Pneumonia virus nekrotikan akut
Komplikasi ini jarang ditemukan, paling sering terjadi bersamaan dengan
influenzadan infeksi adenovirus dan baru-baru ini pada epidemic infeksi
hantavirus di Amerika Serikat Barat Daya. Kelainan ini dicirikan oleh kerusakan
alveolus difus yang terkait dengan perdarahan dan pembentukan membrane
hialin, perkembangan klinis yang cepat; dan angka mortalitas yang tinggi
Sindrom reye
Sindrom reye (ensefalopati akut dengan perubahan pelemahan hati dan ginjal
akut) mungkin mempersulit influenza dan cacar air, khususnya bila dosis tinggi
salisilat deberikan pada anak yang menderita dehidrasi disertai infeksi
(Chandrasoma, Parakrama. 2005:473)

G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Laboratorium
Biasanya didapatkan jumlah leukosit 15.000-40.000/mm
3.
Dalam keadaan
leucopenia, laju endap darah biasanya meningkat hingga 100 mm/jam saat dilakukan
biakan sputum, darah, atau jika dimungkinkan cairan efusi pleura, untuk biakan
anaerobic, utnuk selanjutnya dibuat pewarnaan gram sebagai pegangan dalam
pemberian antibioktik. Sebaiknya diusahakan agar biakan dibuat dari sputum saluran
pernafasan bagian bawah. Selain contoh sputum yang diperoleh dari batuk, bahan
dapat diperoleh dari swap tenggorokan atau laring, pengisapan lewat trachea,
bronkhoskopi, atau pengisapan lewat dada bergantung pada indikasinya. Pemeriksaan
gas darah (AGD/Astrup)menunjukkan hipoksemia sebab terdapat ketidakseimbangan
ventilasi-perfusi di daerah pneumonia (Muttaqin, Arif. 2008:104). Pengambilan
sputum dapat dilakukan dengan cara :
Dibatukkan secara langsung (batuk seperti biasa)
Dibatukkan dan didahului dengan proses perangsangan (induksi) untuk
mengeluarkan dahak dengan menghirup NaCL 3%
Dahak dapat diperoleh dengan menggunakan alat tertentu seperti protective
brush (semacam sikat untuk mengambil sputum pada saluran napas bawah)
(Misnadiarly. 2008:21)
2. Pemeriksaan Radiologis
Sebaiknya dibuat foto thoraks posterior-anterior dan lateral untuk melihat
keberadaan konsolidasi retorkardial retrokardial sehingga lebih mudah untuk
menentukan lobus mana yang terkena karena setiap lobus memiliki kemungkinan
untuk terkena. Meskipun lobus inferior lebih sering terkena, lobus atas dan lobus
tengah juga dapat terkena. Yang khas adalah tampak gambaran konsolidasi homogen
sesuai dengan letak anatomi lobus yang terkena. Densitasnya bergantung pada
intensitas eksudat dan hampir selalu ada bronkhogram udara. Pada masa akut,
biasanya tidak ada pengecilan volume lobus yang terkena sedangkan pasa masa
resolusi mungkin ada atelektasis sebab eksudat dalam saluran pernapasan dapat
menyebabkan obstruksi. Kebanyakan lesi terbatas pada satu lobus, tapi juga dapat
mengenai lobus lain. Mungkin ada efusi pleura yang dapat mudah dilihat dengan foto
dekubitus lateral.
(Muttaqin, Arif. 2008:104)

H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pneumonia pada anak, dapat dibagi berdasarkan umur klien, yaitu :
1) Neonatus (awitan ada usia <5 hari); didapat pada masa perinatal atau prenatal
Obati organisme spesifik jika ditemukan dan menurut sepsis neonatorum, misalnya
ampisilin dan gentamisin atau stafilosporin generasi ketiga dengan kerja
antipsidomonas (misalnya seftazidim)
2) Bayi berusai 5 hari sampai <1 bulan
Penisilin sintetik resisten-penisilinase (misalnya nafsilin) dengan gentamisin,
pikirkan vankomisisn jika terdapat prevalensi tinggi Staphylococcus
resistenmetisilin. Jika pada pemeriksaan klinis ditemukan Chlamydia (konjungtivis)
dan tieternya, tambahkan eritromisin
3) Anak (1 bulan sampai 5 tahun)
Pneumonia ringan yang disebabkan oleh virus mungkin tidak memerlukan
pengobatan. Klaritomisin atau amoksisilin merupakan pilihan yang baik untuk pasien
rawat jalan nontoksik, atau pikirkan seftriakson, sefataksim atau penisilin sintetik
resisten-penisilinase (misalnya nafsilin) dengan aminoglikosida antipsedomonas
(misalnya gentamisin) untuk pasien rawat inap
4) Anak >5 tahun
Jika virus, antibiotic tidak diindikasikan. Jika perlu dirawat inap, berikan antibiotic.
Eritromisin oral dapat digunakan dengan dosis 30 sampai 50 mg/kg/hari, dibagi QID,
selama 10 hari. Klaritromisin, yang lebih mahal tetapi efek sampingnya lebih sedikit,
dapat diberikan dengan dosis 15 mg/kg/24 jam dibagi setiap 12 jam. Evaluasi ulang
jika anak tidak berespon terhadap terapi
(Graber, Mark A:147-148)
Obat-obat yang sering digunakan pada kasus-kasus pneumonia diantaranya adalah :
1) Golongan penisilin : Benzil penisilin (penisilin G), Flukiokksasilin, dll
Indikasi : infeksi tenggorokan, otitis media, streptokokus, endokarditis,
meningkokus meningitis, pneumonia, profilaksis amputasi pada lengan atau kaki
Peringatan : riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal
Kontraindikasi : hipersensitivitas (alergi) terhadap penisilin
Efeksamping : reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem,
leucopenia, trombositopenia, syok anafilaktik pada pasien yang alergi, diare apada
pemberian per oral
Golongan penisilin yang sering diberikan pada pasien pneumonia adalah amoksisilin,
merupakan turunan ampisilin yang hanya berbeda pada satu gugus hidroksil dan
memiliki spectrum anti bakteri yang sama. Obat ini diabsorpsi lebih baik bila
diberikan per oral dan menghasilkan kadar yang lebih tinggi dalam plasma dan
jaringan. Tidak seperti ampisilin, absorpsinya tidak terganggu dengan adanya
makanan dalam lambung. Amoksisilin digunakan untuk profilaksis endokarditis, juga
dapat digunakan untuk penyakit lyme pada anak-anak.
2) Flukiokksasilin
Indikasi : infeksi karena stafilokokuspenghasil penisilinase, termasuk otitis
eksterna; terapi tambahan pada pneumonia, impetigo, selulitis, endokarditis
Peringatan : riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal
Kontraindikasi : alergi terhadap penisilin
Efeksamping : alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem, leucopenia,
trombositopenia, syok anafilaktik pada pasien yang alergi, diare apada pemberian per
oral
3) Sefalosporin
Sefalosporin termasuk antibiotic betalaktam yang bekerja dengan cara menghambat
sintesis dinding sel mikroba. Sefalosporin aktif terhadap kuman gram positif dan gram
negative, tetapi spectrum antimikroba masing-masing derivate bervariasi.
Farmakologi sefalosporin mirip dengan penisilin, ekskresi terutama melalui ginjal dan
dapat dihambat oleh probenesid. Sefalos porin terdapat beberapa generasi, dan yang
paling sering digunakan pada infeksi pneumonia adalah sefalosporin generasi ke tiga.
Golongan ini umumnya kurang aktif terhadap kokus gram positif dibandingkan
dengan generasi pertama, tapi jauh lebih aktif terhadap Enterobacteriaceae, termasuk
strain penghasil penisilinase. seftrazidim aktif terhadap pseudomonas dan beberapa
kuman gram negative lainnya. Seftriakson memiliki waktu paruh yang lebih panjang
dibandingkan dengan sefalosporin yang lain, sehingga cukup diberikan satu kali
sehari. Obat ini diindikasikan untuk infeksiberat seperti septicemia, pneumonia dan
meningitis. Garam kalsium seftriakson kadang-kadang menimbulkan presipitasi di
kandung empedu. Tapi biasanya menghilang bila obat dihentikan. Sefoktisin aktif
terhadap flora usus termasuk bacteroides Fragilis, sehingga diindikasikan untuk sepsis
karena peritonitis.
4) Makrolid
Makrolid yang sering digunakan pada infeksi pneumonia adalah Enteromisin,
memiliki spectrum antibakteri yang hampir digunakan sama dengan penisilin,
sehingga obat ini digunakan sebagai alternative penisilin. Indikasi dari pemberian
makrolid adalah untuk alternative untuk pasien yang alergi penisilin untuk pengobatan
enteritis kampilobakter, pneumonia, penyakit legionarie, sifilis, uretritis non
gonokokus, prostatis kronik, akne vulgaris, dan profilaksis difteri dan pertusis.
Pengkonsumsian Enteromisin ini dapat menimbulkan efeksamping berupa mual,
muntah, nyeri perut, diare, urtikaria, ruam dan reaksi alergi lainnya; gangguan
pendengaran yang reversible pernah dilaporkan setelah pemberian dosis besar; ikterus
kolestatik dan gangguan jantung (aritmia dan nyeri dada)
(Sukandar, Elin Yulinah. 2009:772-810)

I. Asuhan Keperawatan
1) Pengkajian
a. Identitas Klien
Nama : An S.
Usia : 2 tahun
Jenis kelamin : -
Keluarga dekat : Ibu klien
b. Stetus kesehatan saat ini
Keluhan utama : batuk, pilek, panas disertai menggigil, muntah 3x, dan
diare 4x perut distanded
Lama keluhan : batuk pilek (5 hari), panas disertai menggigil (sejak
kemarin sore), muntah dan diare (kmaren malam)
Kualitas keluhan : -
Faktor pencetus : batuk dan pilek
Faktor pemberat : sering rewel dan anoreksia
Upaya yang telah dilakukan : membawa kerumah sakit
c. Riwayat kesehatan saat ini :
Batuk dan pilek sejak 5 hari yang lalu, sering rewl dan tidak mau makan sejak 2
hari yang lalu, badan panas dan menggigil mencapai 40
0
C, muntah 3x dan diare
4x sejak semalam.
d. Pemeriksaan fisik :
1. Keadaan umum :
Batuk, pilek, anoreksia, muntah, diare dan mengalami panas serta menggigil,
pernafasan cuping hidung, gelisah, dypsnea, napas dangkal dan cepat.
Kesadaran : kondisi sadar GCS : 456 dan tampak lemah
TTV :
TD : -
ND : 110x/mnt, reguler
Suhu : 39,5
0
C
RR : 35x/mnt
2. Mulut dan tenggorokan : sianosis sekitar mulut dan hidung
3. Thorak & dada : tertraksi pada daerah supraklavikular, ruang-ruang
interkostal dan sternocleidomastoideus, dan batu produktif dengan secret
tidak dapat dikeluarkan
4. Paru : Auskultasi ditemukan suara nafas bronchial, ronki basah halus, dan
bronkofoni
e. Hasil pemeriksaan penunjang
Rongent thorax: gambaran multiple infiltrate pada paru sebelah kanan
Laborat lukosit 46.000/mm
3
, LED : 52 mm/jam
f. Terapi
IV line NaCl 0,9 %: 10 tts/mnt, penisilin 100 mg lvx3/hari, O
2
nasal 2 lpm
2) Analisa data
DATA ETIOLOGI
MASALAH
KEPERAWATAN
DO : dipsnea, ada otot
bantu pernafasan, secret
tidak bisa dikeluarkan, dan
rh basah halus (+),
bronkofoni
DS : mengeluh sesak
napas, pilek, dan panas
Sumber infeksi

Aspirasi bakteri berulang

Peradangan pada bronkus
yg menyebar ke parenkim
paru

Edema trakeal/faringeal
Peningkatan produksi
secret

Batuk produktif, sesak
napas, penurunan
kemampuan batuk efektif

Ketidak efektifan bersihan
jalan napas
Ketidak efektifan bersihan
jalan napas
DO : suhu 39,5
0
C, klien
tampak gelisah dan
mengigil, takipnea,
takikardi
DS: panas dan mengigil,
suhu tadi malam 40
0
C
Sumber infeksi

Aspirasi bakteri berulang

Peradangan pada bronkus
yg menyebar ke parenkim
paru

Terjadi konsolidasi &
prngisian rongga alveoli
oleh eksudat

Hipertermia
Reaksi sistemis:
bakterimia/viremia,
anoreksia, mual, demam,
penurunan BB, &
kelemahan

Peningkatan laju
metabolisme umum

Hipertermi
DO : diare, anoreksia,
sianosis pada sekitar
mulut, muntah, perut
tampak distenden
DS : diare 4x, muntah 3x,
tidak mau makan
Sumber infeksi

Aspirasi bakteri berulang

Peradangan pada bronkus
yg menyebar ke parenkim
paru

Terjadi konsolidasi &
prngisian rongga alveoli
oleh eksudat

Reaksi sistemis:
bakterimia/viremia,
anoreksia, mual, demam,
penurunan BB, &
kelemahan

Intake nutrisi tidak
adekuat

Perubahan pemenuhan
nutrisi kurang dari
Ketidak seimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh
kebutuhan
DO : pernafasan cuping
hidung, suara nafas
bronchial, ronki basah
halus, bonkofoni, rongent
thorax: gambaran multiple
infiltrate pada paru
sebelah kanan, gelisah,
hipoksia, sianosis sekitar
mulut
DS : sesak napas, tidak
mau makan, mudah lelah
Sumber infeksi

Aspirasi bakteri berulang

Peradangan pada bronkus
yg menyebar ke parenkim
paru

Terjadi konsolidasi &
prngisian rongga alveoli
oleh eksudat

Penurunan jaringan efektif
paru & kerusakan
membrane alveolar-
kapiler

Sesak napas, penggunaan
otot bantu pernapasan,
pola napas tidak efektif

Gangguan pertukaran gas
Gangguan pertukaran gas
3) Diagnosa Keperawatan
1. Ketidak efektifan bersihan jalan napas
2. Hipertermia
3. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
4. Gangguan pertukaran gas
4) Intervensi keperawatan
1. Ketidak efektifan bersihan jalan napas
Tujuan : dalam waktu 3x24 jam setelah diberkan intervensi kebersihan jalan
nafas dapat kembali normal
Kriteria hasil : klien mampu melakukan batuk efektif, pernapasan klien normal
(RR : 16-20x/mnt) tanpa penggunaan otot bantu pernapasan, bunyi napas normal,
Rh: (-) dan pergerakan pernapasan normal
Intervensi Rasional
Mandiri
Kaji fungsi pernapasan (bunyi napas,
kecepatan, irama, kedalaman, dan
penggunaan otot bantu napas).
Ronkhi menunjukkan akumulasi secret
dan ketidakefektifan pengeluaran
sekresi yang selanjutnya dapat
menimbulkan penggunaan otot bantu
napas dan peningkatan kerja
pernapasan
Kaji kemampuan mengeluarkan
sekresi, catat karakter dan volume
sputum
Pengeluaran akan sulit bila secret
sangat kental (efek infeksi dan hidrasi
yang tidak adekuat
Berikan posisi fowler/semifowler tinggi
dan bantu klien berlatih napas dalam
dan batuk efektif
Posisi fowler/semifowler
memaksimalkan ekspansi paru dan
menurunkan upaya napas. Ventilasi
maksimal membuka area atelektasis
dan meningkatkan gerakan seklet ke
jalan napas besar untuk dikeluarkan
Pertahankan intake cairan sedikitnya
2500 ml/hari kecuali tidak
diindikasikan
Hidrasi yang adekuat membantu
mengencerkan secret dan
mengefektifkan pembersihan jalan
napas
Bersihkan secret dari dari mulut dan
trakea, bila perlu lakukan penghisapan
(suction)
Mencegah obstruksi dan aspirasi.
Penghisapan perlu dilakukan bila klien
tidak mampu mengeluarkan sekret
Kolaborasi
Pemberian obat sesuai indikasi : obat
antibiotic
Pengobatan antibiotic yang ideal
berdasarkan pada tes uji resistensi
bakteriterhadap jenis antibiotic
sehingga lenig mudah mengobati
pneumonia

Agen mukolitik
Agen mukolitik menurunkan
kekentalan dan perlengketan secret
paru untuk memudahkan pembersihan
2. Hipertermia
Tujuan : setelah diberikan intervensi keperawatan dalam 1x24 jam, suhu tubuh
kembali normal Kriteria hasil : suhu tubuh normal ( 36-37
0
C)

Intervensi Rasional
Mandiri
Kaji tanda-tanda vital tiap 3 jam sekali
atau lebih sering
Acuan untuk mengetahui keadaan
umum klien
Berikan kebutuhan cairan ekstra Peningkatan suhu tubuh
mengakibatkan penguapan cairan tubuh
meningkat, sehingga perlu diimbangi
dengan intake cairan yang banyak
Berikan kompres dingin Konduksi suhu membantu menurunkan
suhu tubuh. Mandi dengan air dingin
dan selimut yang tidak terlalu tebal
memungkinkan terjadinya pelepasan
panas secara konduksi dan evaporasi
(penguapan). Antipiretik dapat
mengontrol demam dengan
mempengaruhi pusat pengaturan suhu
di hipotalamus. Cairan dapat
membantu mencagah dehidrasi karena
meningkatnya metabolism. Menggigil
menandakan tubuh memerlukan panas
banyak
Kolaborasi
Berika terapi cairan intravena RL 0,5
dan pemberian antipiretik
Pemberian cairan sangat penting bagi
klien dengan suhu tinggi bila
diindikasikan oleh dokter
Berikan antibiotic sesuai dengan
anjuran dan evaluasi keefektivannya.
Tinjau kembali semua obat-obatan
yang diberikan. Untuk menghindari
Antibiotic diperlukan untuk mengatasi
infeksi. Efek terapeutik maksimum
yang efektif dapat dicapai, jika kadar
obat yang ada dalma darah telah
efek merugikan akibat interaksi obat,
jadwalkan pemberian obat dalam kadar
darah yang konsisten
konsisten dan dapat dipertahankan.
Risiko akibat interaksi obat-obatan
yang diberikan meningkat dengan
adanya efek farmako terapi berganda.
Efek samping akibat interaksi satu obat
dengan yang lainnya dapat mengurangi
keefektifan pengobatan dari salah satu
obat atau keduanya.
3. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
Tujuan : setelah diberikan intervensi keperawatan intake nutrisi klien akan
seimbang
Kriteria hasil : klien dapat mendemonstrasikan intake makanan yang adekuat
untuk memenuhi kebutuhan dan metabolism tubuh dan intake makanan
meningkat, tidak ada penurunan BB dan mengeluh lemah
Intervensi Rasional
Pantau persentase jumlah makanan
yang dikonsumsi setiap kali makan,
timbang BB tiap hari, hasil
pemeriksaan protein total, albumin, dan
osmolalitas
Mengidentifikasi kemajuan atau
penyimpangan dari sasaran yang
diharapkan
Rujuk kepada alhi diet untuk
membantu memilih makanan yang
dapat memenuhi kebutuhan kebutuhan
gizi selama sakit panas
Ahli diet dapat membantu klien
memilih makanan yang memenuhi
kebutuhan kalori dan kebutuhan gizi
sesuai dengan keadaan sakitnya, usia,
tinggi, dan berat badannya.
Dukung klien untuk mengkonsumsi
makanan tinggi kalori tinggi protein
Peningkatan suhu tubuh meningkatkan
metabolism, intake protein, vitamin,
mineral, dan kalori yang adekuat
penting untuk aktivitas anabolic dan
sintetis antibody
Berikan makanan dengan porsi sedikit
tapi sering dan mudah dikunyah jika
terjadi sesak napas berat
Makanan porsi sedikit tapi sering
memerlukan lebih sedikit energi
4. Gangguan pertukaran gas
Tujuan : dalam waktu 2x24 jam setelah diberikan gangguan pertukaran gas tidak
terjadi
Kriteria hasil :
Klien melaporkan tidak adanya/penurunan dispnea
Klien menunjukkan tidak ada gejala distress pernapasan
Menunjukkan perbaikan ventilasi dan kadar oksigen jaringan adekuat dengan
gas darah arteri dalam rentang normal
Intervensi Rasional
Mandiri
Kaji dispnea, takipnea, bunyi napas,
peningkatan upaya pernapasan,
ekspansi thoraks, dan kelemahan
Pada PPOK terjadi hiperinflasi paru.
Efeknya terhadap pernapasan bervariasi
dari gejala ringan, dispnea berat,
sampai distress pernapasan
Evaluasi perubahan tingkat kesadaran,
catat sianosis, dan perubahan warna
kulit, termasuk membrane mukosa dan
kuku
Akumulasi secret dan berkurangnya
jaringan paru yang sehat dapat
mengganggu oksigenasi organ vital dan
jaringan tubuh
Tunjukkan dan dukung pernapasan
bibir selama ekspirasi khususnya untuk
klien dengan kerusakan parenkim paru
Membuat tahanan melawan udara luar
untuk mencegah kolaps/penyempitan
jalan napas sehingga membantu
menyabarkan udara melalui paru dan
mengurangi napas pendek
Tingkatkan tirah baring, batasi aktivitas Menurunkan konsumsi oksigen selama
periode penurunan pernapasan dan
dapat menurunkan beratnya gejala
Kolaborasi
Berikan Kortikostikoid atau sesuai
indikasi
Kortikosteroid berguna pada
keterlibatan luas dengan hipoksemia
dan bila reaksi inflamasi mengancam
kehidupan
5) Evaluasi
Diagnosis Evaluasi
Ketidak efektifan S: klien tidak lagi merasakan sesak dan dapat melakukan




















(Muttaqin, Arif. 2008:106-108)









bersihan jalan napas

batuk efektif
O: tidak ada penggunaan otot bantu napas, bunyi napas
normal, Rh-
A: masalah teratasi
P: lanjutkan intervensi dan selalu memantau kepatenan jalan
napas klien
Hipertermia S: klien tidak lagi merasa demam
O: suhu badan klien normal (36-37
0
C)
A: masalah teratasi
P: lanjutkan intervensi dan selalu memantau suhu badan
klien
Ketidak seimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan
S: klien tidak lagi merasa lemah
O: tidak ada sianosis, tidak ada muntah, dan diare dapat
berkurang atau tidak ada
A: masalah teratasi
P: lanjutkan intervensi dan tetap memonitor intake nutrisi
klien
Gangguan pertukaran
gas

S: klien tidak lagi merasakan sesak
O: penurunan/ hilangnya dipsnea, tidak ada distress
pernapasan
A: masalah teratasi
P: lanjutkan intervensi dan memonitor klien b.d. dipsnea yg
dialami klien
J. SAP
PNEUMONIA

Pokok bahasan : Pneumonia
Sasaran : Penderita dan keluarga
Tempat : Ruang pertemuan balai desa Tamanharjo
Hari/tanggal : Kamis/4 Maret 2012
Alokasi waktu : 75 menit
Metode : Ceramah, tanya jawab, dan diskusi
Pertemuan ke : Satu
Pemateri/penyuluh : Aliyah Adek Rahmah
A. Tujuan lnstruksional
a. Umum :
setelah mengikuti kegiatan penyuluhan, peserta mengerti dan memahami tentang
penyakit
b. Khusus :
1. Peserta dapat menyebutkan definisi dari Pneumonia
2. Peserta dapat menjelaskan penyebab dari Pneumonia
3. Peserta dapat menyebutkan tanda dan gejala Pneumonia
4. Peserta dapat menjelaskan komplikasi dari Pneumonia
5. Peserta dapat menyebutkan penatalaksanaan (pengobatan) dari Pneumonia
B. Sub Pokok Bahasan
1. Pengertian
2. Etiologi
3. Tanda dan gejala
4. Komplikasi
5. Penatalaksanaan
C. Kegiatan penyuluhan
Tahap Waktu Kegiatan Pemateri Kegiatan Peserta Metode Media
Pendahuluan 10
menit
Pembukaan :
1. Salam pembukaan
2. Memperkenalkan
diri
1. Menjawab
salam
2.Mendengarkan
keterangan
Ceramah Microphone
3. Menjelaskan
maksud dan tujuan
4. Membagikan
leaflet

Penyaji
Penyajian 60
menit
Pelaksanaan :
Menjelaskan tentang
definisi, etiologi,
tanda dan gejala,
komplikasi, dan
penatalaksanaan dari
Pneumonia, serta
tanya jawab seputar
materi penyuluhan

1. Memperhatik
an dan
mendengarka
n keterangan
penyaji
2. Memperhatik
an video dan
peragaan
model
3. Bertanya dan
menjawab
pertanyaan
penyaji
1. Ceramah
2. Peragaan
Model
3. Pemutara
n video
4. Diskusi
Microphon
Proyektor
Laptop
Leaflet

Penutup 5 menit Penutupan:
Evaluasi peserta
tentang materi,
penyampaian
kesimpulan, dan
penutupan
1. Mendengarka
n penyaji
2. Menjawab
pertanyaan
penyaji
1. Diskusi
2. Tanya
jawab
Microphon

D. Evaluasi
1. Evaluasi Proses :
a) perserta mengikuti kegiatan pengajaran dengan baik
b) perserta terlibat aktif dalam pembelajaran
c) perserta aktif bertanya
2. Evaluasi hasil :
a) Perserta mampu memahami tentang penyakit Pneumonia
b) Perserta mampu menyebutkan penyebab dari infeksi Pneumonia
c) Perserta mampu menyebutkan penatalaksanaan dari Pneumonia
d) Perserta mampu maenjawab pertanyaan penyaji, yaitu tentang:
Apa yang dimaksut dengan infeksi Pneumonia
Penyebab dari terjadinya infeksi Pneumonia
Tanda dan gejala seseorang terjadi infeksi Pneumonia
Komplikasi dari infeksi Pneumonia
Penatalaksanaan dari infeksi Pneumonia
E. Materi (terlampir)
F. Daftar Pustaka
Chandrasoma, Parakrama. 2005. Ringkasan Patologi Anatomi. Jakarta: EGC
Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi Napas Pneumonia pada Anak, Orang Dewasa,
Usia Lanjut, Pneumonia Atipik & Pneumonia Atypik Mycobacterium.
Jakarta: Pustaka Obor Populer
Hull, David. 2008. Dasar-dasar Pediatri. Jakarta: EGC
Graber, Mark A. 2006. Buku Saku Dokter Keluarga. Jakarta: EGC
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC
Sukandar, Elin Yulinah, dkk. 2009. ISO Farmakoterapi. Jakarta: PT.ISFI Penerbitan

















MATERI
1. Pengertian
Pneumonia adalah infeksi akut pada jaringan paru oleh mikroorganisme, merupakan
infeksi saluran napas bagian bawah. Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh bakteri
yang terjadi secara primer atau sekunder setelah infeksi virus (Corwin, Elizabeth J.
2009:541). Pneumonia adalah infeksi yang menyebabkan paru-paru meradang.
Menyebabkan kantung-kantung kemampuan menyerap oksigen menjadi kurang yang
dapat menyebabkan sel-sel tubuh tidak bisa bekerja (Misnadiarly. 2008:11).
2. Etiologi
Sebenarnya Pneumonia bukan penyakit tunggal. Penyebabnya bisa bermacam-macam
dan diketahui ada 30 sumber infeksi, dengan sumber utama bakteri, virus, mikroplasma,
jamur, dan berbagai senyawa kimia maupun partikel (Misnadiarly. 2008:11). Berikut
beberapa macam agen infeksius pada infeksi pneumonia:
1) Pneumonia karena infeksi virus
2) Pneumonia karena infeksi Streptokokus
3) Pneumonia karena infeksi Haemophilus influenza tipe B
4) Mikoplasma Pneumonia
5) Pneumonia karena infeksi Stafilokokus
(Hull, David. 2008:122-123)
3. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala yang dapat terjadi diantaranya yaitu :
1) Gejala yang mungkin ada antara lain, demam, batuk, menggigil, dipsnea, perubahan
status mental (terutama pada orang tua), pembentukan sputum, nyeri dada pleuritik,
dan syok
2) Pada anak-anak, pneumonia seringkali hanya bergejala demam dan takipnea; ronki
mungkin tidak ditemukan pada pemeriksaan. Pemeriksaan fisik mungkin
menunjukkan paru-paru yang bersih pada 50% anak yang menderita pneumonia pada
foto sinar-x dada
3) Pada neonatus, gejala yang terjadi adalah demam, letargi, takipnea, mendengkur,
napas cuping hidung, retraksi, pernapasan tidak teratur, apnea, sianosis, ronki,. Pada
neonatus jarang jarang terdapat batuk atau pembentukan mucus yang disebabkan oleh
pneumonia. Pada neonates mungkin ditemukan gejala tidak khas, misalnya sulit
makan atau iritabilitas.
(Graber, Mark A. 2006:143-144)
4. Komplikasi
1) Pneumonia Bakteri Skunder
Kelainan ini merupakan komplikasi tersering pneumonia interstisialis. Penyakit ini
khas merupakan suatu bronkopneumonia dan cenderung menyerang pasien usia
ekstrim (bayi dan orang tua). Pneumonia bakteri skunder mempunyai angka kematian
yang tinggi pada orang tua, dan merupakan penyebab kematian yang umum selama
epidemic influenza.
2) Penyebaran ke sistem lain
Penyebaran hematogen ke orang lain seperti ensefalitis dan miokarditis virus jarang
terjadi. Komplikasi alergi pascavirus (seperti, sindrom GuillainBarre lebih sering
terjadi)
3) Pneumonia virus nekrotikan akut
Kelainan ini dicirikan oleh kerusakan alveolus difus yang terkait dengan perdarahan
dan pembentukan membrane hialin, perkembangan klinis yang cepat; dan angka
mortalitas yang tinggi
4) Sindrom reye
Sindrom reye (ensefalopati akut dengan perubahan pelemahan hati dan ginjal akut)
mungkin mempersulit influenza dan cacar air, khususnya bila dosis tinggi salisilat
deberikan pada anak yang menderita dehidrasi disertai infeksi
(Chandrasoma, Parakrama. 2005:473)
5. Penatalaksanaan
Obat-obat yang sering digunakan pada kasus-kasus pneumonia diantaranya adalah :
1) Golongan penisilin : Benzil penisilin (penisilin G), Flukiokksasilin, dll
Golongan penisilin yang sering diberikan pada pasien pneumonia adalah amoksisilin,
merupakan turunan ampisilin yang hanya berbeda pada satu gugus hidroksil dan
memiliki spectrum anti bakteri yang sama. Obat ini diabsorpsi lebih baik bila
diberikan per oral dan menghasilkan kadar yang lebih tinggi dalam plasma dan
jaringan. Tidak seperti ampisilin, absorpsinya tidak terganggu dengan adanya
makanan dalam lambung. Amoksisilin digunakan untuk profilaksis endokarditis, juga
dapat digunakan untuk penyakit lyme pada anak-anak.
2) Flukiokksasilin
Indikasi : infeksi karena stafilokokuspenghasil penisilinase, termasuk otitis
eksterna; terapi tambahan pada pneumonia, impetigo, selulitis, endokarditis
Peringatan : riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal
Kontraindikasi : alergi terhadap penisilin
Efeksamping : alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem, leucopenia,
trombositopenia, syok anafilaktik pada pasien yang alergi, diare apada pemberian per
oral
3) Sefalosporin
Sefalosporin termasuk antibiotic betalaktam yang bekerja dengan cara menghambat
sintesis dinding sel mikroba. Sefalosporin aktif terhadap kuman gram positif dan gram
negative, tetapi spectrum antimikroba masing-masing derivate bervariasi.
Farmakologi sefalosporin mirip dengan penisilin, ekskresi terutama melalui ginjal dan
dapat dihambat oleh probenesid. Sefalos porin terdapat beberapa generasi, dan yang
paling sering digunakan pada infeksi pneumonia adalah sefalosporin generasi ke tiga.
Golongan ini umumnya kurang aktif terhadap kokus gram positif dibandingkan
dengan generasi pertama, tapi jauh lebih aktif terhadap Enterobacteriaceae, termasuk
strain penghasil penisilinase. seftrazidim aktif terhadap pseudomonas dan beberapa
kuman gram negative lainnya. Seftriakson memiliki waktu paruh yang lebih panjang
dibandingkan dengan sefalosporin yang lain, sehingga cukup diberikan satu kali
sehari. Obat ini diindikasikan untuk infeksiberat seperti septicemia, pneumonia dan
meningitis. Garam kalsium seftriakson kadang-kadang menimbulkan presipitasi di
kandung empedu. Tapi biasanya menghilang bila obat dihentikan. Sefoktisin aktif
terhadap flora usus termasuk bacteroides Fragilis, sehingga diindikasikan untuk sepsis
karena peritonitis.
4) Makrolid
Makrolid yang sering digunakan pada infeksi pneumonia adalah Enteromisin,
memiliki spectrum antibakteri yang hampir digunakan sama dengan penisilin,
sehingga obat ini digunakan sebagai alternative penisilin. Indikasi dari pemberian
makrolid adalah untuk alternative untuk pasien yang alergi penisilin untuk pengobatan
enteritis kampilobakter, pneumonia, penyakit legionarie, sifilis, uretritis non
gonokokus, prostatis kronik, akne vulgaris, dan profilaksis difteri dan pertusis.
Pengkonsumsian Enteromisin ini dapat menimbulkan efeksamping berupa mual,
muntah, nyeri perut, diare, urtikaria, ruam dan reaksi alergi lainnya; gangguan
pendengaran yang reversible pernah dilaporkan setelah pemberian dosis besar; ikterus
kolestatik dan gangguan jantung (aritmia dan nyeri dada)
(Sukandar, Elin Yulinah. 2009:772-810)

DAFTAR PUSTAKA
Brashers, Valentina L. 2007. Aplikasi Klinis Patofisiologi: Pemeriksaan & Manajemen.
Jakarta: EGC
Chandrasoma, Parakrama. 2005. Ringkasan Patologi Anatomi. Jakarta: EGC
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC
DELF, Mohlan H.1996. Major Diagnostik Fisik. Jakarta: EGC
Graber, Mark A. 2006. Buku Saku Dokter Keluarga. Jakarta: EGC
Guyton, Arthur C. 1990. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta: EGC
Hull, David. 2008. Dasar-dasar Pediatri. Jakarta: EGC
Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi Napas Pneumonia pada Anak, Orang Dewasa, Usia
Lanjut, Pneumonia Atipik & Pneumonia Atypik Mycobacterium. Jakarta:
Pustaka Obor Populer
Muttaqin, Arif. 2008. Penyakit Dalam: Perawatan Dan Keperawatan Sistem
Pernafasan. Jakarta: Salemba Medika
NANDA Internasional. 2011. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-
2011. Jakarta: EGC
Sukandar, Elin Yulinah, dkk. 2009. ISO Farmakoterapi. Jakarta: PT.ISFI Penerbitan
Tierney, Lawrence M., dkk. 2002. Diagnosis dan Terapi Kedokteran (Penyakit Dalam).
Jakarta: Salemba Medika