Anda di halaman 1dari 18

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS GADJAH MADA

MAKALAH METODE KOMPUTASI




Dosen Pengampu: Prof. Dr. Kirbani Sri Brotopuspito


Disusun Oleh :

EKRAR WINATA 11/311642/PA/13550
ALUTSYAH LUTHFIAN 11/312776/PA/13577
INDRIANI SAVITRI 11/312781/PA/13579
DANIEK KURNIAWATI 11/312832/PA/13591
KARTIKA PALUPI 11/312888/PA/13597

YOGYAKARTA
2012


ABSTRAK
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi gempa cukup
besar. Hal ini disebabkan karena wilayah negara Indonesia terletak pada
lempeng-lempeng tektonik aktif, diantaranya : lempeng Australia, lempeng
Sumatra, lempeng Eurasia, dan lain-lain. Seperti yang kita ketahui karena
adanya dua lempeng yang saling menunjam maka hal tersebut akan
menimbulkan adanya energi yang besar sehingga menimbulkan suatu
ketidakseimbangan energi di alam. Sehingga dari energi yang besar
tersebut timbul suatu goncangan, dan goncangan ini dapat kita rasakan di
permukaan bumi jika goncangan tersebut cukup besar dan sering disebut
sebagai gempa. Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang
terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-
tiba yang menciptakan gelombang seismik. Gempa bumi biasa terjadi di
sebabkan oleh pergerakan kerak bumi atau lempeng bumi, aktivitas sesar
di permukaan bumi, pergerakan geomorfologi secara lokal contohnya
terjadi runtuhan tanah, aktivitas gunung api, ledakkan nuklir. Kata gempa
bumi juga di gunakan untuk menunjukkan daerah asal terjadinya kejadian
gempa bumi tersebut. Bumi kita walaupun padat, selalu bergerak, dan
gempa bumi terjadi apabila tekanan yang terjadi karena pergerakkan itu
sudah terlalu besar untuk dapat ditahan.
Gempa bumi terjadi setiap hari di bumi, namun kebanyakan yang
terjadi adalah gempa kecil dan tidak menyebabkan kerusakkan apa-apa.
Gempa bumi kecil dapat mengiringi gempa bumi besar, dan dapat terjadi
sebelum atau sesudah gempa bumi besar tersebut. Gempa bumi di ukur
dengan alat Seismometer. Gempa bumi di bagi menjadi berbagai macam,
yaitu : gempa bumi vulkanik, gempa bumi tektonik, gempa bumi runtuhan,
dan gempa bumi buatan.


TINJAUAN PUSTAKA






























BAB II
DASAR TEORI
I. Gempa Bumi
Gempa bumi adalah getaran yang dapat dirasakan di permukaan bumi karena
adanya getaran, terutama yang berasal dari dalam lapisan-lapisan bumi.
Gempa Bumi memiliki hiposentrum atau jarak fokus gempa, yaitu titik atau garis
tempat peristiwa yang menimbulkan terjadinya gempa, letaknya di dalam litosfer pada
kedalaman yang bervariasi, di laut Jawa tercatat hiposentrum dalamnya 700 km,
sedangkan gempa di lepas pantai barat Sumatra, Selatan Jawa, dan Nusa Tenggara
kedalamannya sekitar 50 km. episentrum gempa, yaitu titik atau garis di permukaan bumi
atua permukaan laut tempat gelombang permukaan mulai dirambatkan, atau tempat
gelombang primer dan sekunder pertama kali mencapai permukaan bumi atau laut.
1. Gelombang gempa bumi, dibedakan menjadi 3 macam yaitu :
a) Gelombang longitudinal atau gelombang primer adalah gelombang gempa yang
dirambatkan dari hiposentrum melalui lapisan litosfer secara menyebar dengan kecepatan
antara 7-14 km per detik, mempunyai periode antara 5-7 detik. Gelombang ini adalah
gelombang yang pertama kali dicatat oleh seismograf.
b) Gelombang transversal atau gelombang sekunder adalah gelombang gempa yang
bersama-sama dengan gelombang primer dirambatkan dari hiposentrum ke segala arah
dalam lapisan litosfer dengan kecepatan antara 4-7 km per detik dan mempunyai periode
11-13 detik. Karena kecepatan gelombang transversal lebih kecil daripada gelombang
longitudinal, maka gelombang transversal dicatat di seismograf setelah gelombang primer.
c) Gelombang panjang atau gelombang permukaan adalah gelombang gempa yang
dirambatkan mulai dari episentrum menyebar ke segala arah di permukaan dengan
kecepatan rambat antara 3,5 3,9 km per detik dan mempunyai periode yang besar.
Gelombang gempa panjang inilah yang mengiringi gelombang primer dan gelombang
sekunder dan merupakan gelombang perusak bumi.
Gempa Bumi juga memiliki, Pleistosista yaitu garis khayal yang membatasi sekitar
episentrum yang mengalami kerusakan terhebat akibat dari gempa bumi. Kemudian
Isoseista yang merupakan garis khayal pada permukaan bumi yang mencatat tentang
kerusakan fisik yang sama akibat dari suatu gempa, dan biasanya ditandai dengan angka
romawi yang menunjukkan skala kekuatan gempa. Isoseista yang berdekatan dengan
episentrum diberi angka romawi yang lebih besar dari sekitarnya. Juga Homoseista adalah
garis khayal pada permukaan bumi yang mencatat besarnya gelombang gempa primer
pada waktu yang sama.
A. Faktor Terjadinya Gempa Bumi
1. Berdasarkan peristiwa yang menyebabkan terjadinya gempa dibedakan menjadi 3 yaitu :
d) Gempa vulkanik adalah gempa bumi yang disebabkan oleh aktivitas gunung api. Gempa
ini tidak begitu hebat. Sumber kekuatan gempa bumi vulkanik hanya berasal dari aktivitas
magma gunung api. Gempa vulkanik biasanya hanya dapat dirasakan oleh penduduk
yang tinggal di sekitar gunung yang meletus.
e) Gempa tektonik adalah gempa bumi yang disebabkan oleh dislokasi atau perpindahan
pergeseran lapisan bumi yang tiba-tiba terjadi dalam struktur bumi sebagai akibat adanya
tarikan atau tekanan.
Pergeseran lapisan bumi dapat secara vertikal ataupun secara horizontal. Gempa tektonik
dapat menimbulkan kerusakan yang parah apabila episentrumnya dangkal.
f) Gempa runtuhan atau terban adalah gempa bumi yang disebabkan oleh tanah longsor,
runtuhnya atap gua atau terowongan di bawah tanah. Intensitas gempa runtuhan sangat
kecil sehingga gempa ini tidak akan terasa pada jarak yang jauh.

2. Berdasarkan kedalaman hiposentrumnya gempa bumi dibedakan menjadi 3 yaitu :
a) Gempa dangkal adalah gempa yang kedalaman hiposentrumnya kurang dari 50 km dari
permukaan bumi. Gempa dangkal pada umumnya menimbulkan gempa yang sangat
besar.
b) Gempa intermedier atau gempa sedang adalah gempa bumi yang hiposentrumnya pada
kedalaman antara 50 300 km dari permukaan bumi.
c) Gempa dalam adalah gempa bumi yang kedalaman hiposentrumnya antara 300 700 km
dari permukaan bumi. Gempa bumi dalam pada umumnya tidak membahayakan. Getaran
gempa bumi merambat dari hiposentrum dan menyebar ke segala arah dalam wujud
getaran gelombang primer dan sekunder. Sedangkan dari episentrum terjadi rambatan
getaran gempa di permukaan bumi dalam bentuk gelombang panjang.

B. Skala Kekuatan Gempa Bumi
Skala kekuatan gempa bumi diukur berdasarkan kuat atau lemahnya getaran.
Kekuatan gempa bumi umumnya dinyatakan dengan skala Richter. Skala Richter
didasarkan pada alat pengukur gempa bumi, yaitu seismograf Wood Anderson. Hasil
pengukuran alat pengukur gempa bumi ini dengan cepat dapat diketahui berapa kekuatan
gempa dan jarak antara lokasi pengamat dengan sumber gempa.
Magnitudo gempa adalah sebuah besaran yang menyatakan besarnya energi
seismik yang dipancarkan oleh sumber gempa. Besaran ini akan berharga sma, meskipun
dihitung dari tempat yang berbeda. Skala yang kerap digunakan untuk menyatakan
magnitudo gempa ini adalah Skala Richter (Richter Scale). Secara umum, magnitudo
dapat dihitung menggunakan formula berikut:

dimana
adalah magnitudo, adalah amplitudo gerakan tanah (dalam mikrometer)
adalah periode gelombang
adalah jarak pusat gempa atau episenter
adalah kedalaman gempa
dan adalah faktor koreksi yang bergantung pada kondisi lokal & regional
daerahnya

Skala kekuatan gempa bumi tidak hanya skala Richter saja, tetapi ada juga skala
Mercalli dan skala Omori. Pada skala Richter, kekuatan gempa diukur berdasarkan
getaran magnitudo. Akan tetapi, pada skala Mercalli dan skala Omori berdasarkan
tahapan yang berkaitan dengan intensitas gempa. Untuk mengukur intensitas kekuatan
gempa, ada beberapa macam skala, antara lain :
1. Skala kekuatan gempa bumi menurut C.F. Richter
Skala Richter adalah skala logaritmis, dan setiap selisih satu skala perbedaan
energi adalah 31,5 kali lebih besar.
C.F. Richter menyusun skala gempa bumi berdasarkan skala magnitudo (ukuran
besarnya gempa) dengan menggunakan klasifikasi angka 0 sampai 8. Semakin besar
angkanya, maka semakin besar magnitudonya.
Cara menentukan intensitas gempa menurut Richter adalah menggunakan jarak
dan besaran amplitudo. Berikut ini adalah tabel skala kekuatan gempa bumi menurut C.F.
Richter.
No. Magnitudo Klasifikasi secara umum
1 78 Bencana nasional (national disaster)
2 77 - 8 Gempa besar (major earth quake)
3 76 - 7 Gempa destruktif (destructive earth quake)
4 76 - 6 Gempa merusak (damaging earth quake)
5 74 - 5 Gempa keras (strongly earth quake)
6 73 - 4 Gempa kecil (small quake)
7 0 - 3 Goncangan kecil (small shock quake)

Skala Richter terdapat pada pesawat pengukur antara lain pesawat Anderson.
Dengan model pesawat ini orang dengan cepat dapat membaca kekuatan atau magnitudo
gempa, jarak episentrum dari pengamatan, serta besarnya amplitudo getaran gempa. Jika
jarak episentrum 300 km, dengan arah 3
0
, sedangkan amplitudo menunjukkan 10 mm,
maka kekuatan gempa (magnitudo) gempa adalah 5 pada skala Richter.
2. Skala kekuatan gempa bumi menurut Mercalli
Mercalli menyusun skala gempa bumi berdasarkan skala intensitas gempa.
Intensitas gempa suatu tempat adalah kekuatan gempa ditaksir berdasarkan eek geologis
dan efeknya terhadap bangunan-bangunan dan manusia. Skala Mercalli disusun dengan
menggunakan angka romawi. Berikut ini adalah tabel skala gempa bumi menurut Mercalli :
No. Intensitas Klasifikasi secara umum
1 I Getaran tidak dapat dirasakan oleh semua orang, kecuali orang
yang sangat peka terhadap getaran
2 II Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda ringan yang
bergantung bergoyang
3 III Getaran dirasakan nyata di dalam rumah, terutama lebih satu
lantai dan kendaraan yang sedang berhenti agak bergerak
4 IV Getaran dirasakan oleh banyak orang, pecah belah, daun
jendela bergetar, dinding berbunyi karena pecah
5 V Getaran dirasakan oleh setiap penduduk. Barang-barang
banyak yang berjatuhan, tiang tampak bergoyang, dan bandul
jam dinding berhenti
6 VI Getaran dirasakan oleh setiap penduduk dan pada umumnya
penduduk terkejut. Meja dan kursi bergerak, cerobong asap
pabrik rusak
7 VII Getaran terasa agak kuat dan setiap orang keluar rumah.
Bangunan banyak yang rusak, cerobong asap pabrik pecah
dan getaran dirasakan oleh orang yang sedang naik kendaraan
8 VIII Getaran terasa kuat. Dinding bangunan dapat lepas dari rangka
rumah dan meja kursi terlempar, orang yang sedang naik
kendaraan terganggu keseimbangannya
9 IX Getaran terasa sangat kuat. Kerangka rumah banyak yang
terlepas, rumah tampak bergeser, instalasi air minum banyak
yang putus
10 X Getaran agak dahsyat. Dinding rumah tergeser dari
pondasinya, tanah terbelah, rel kereta api tampak melengkung
dan banyak tanah longsor
11 XI Getaran terasa dahsyat. Bangunan roboh, jembatan putus, rel
kereta api semuanya melengkung, pipa dalam tanah bengkok
12 XII Getaran terasa dahsyat. Bangunan hancur berkeping-keping,
permukaan tanah bergelombang, banyak benda-benda yang
terlempar ke udara

3. Skala kekuatan gempa bumi menurut Omori
Skala gempa menurut Omori secara umum hampir sama dengan skala
kekuatan gempa yang ditulis oleh Mercalli, yaitu :
No. Derajat Klasifikasi secara umum
1 I Getaran lunak, tidak dirasakan oleh semua orang
2 II Getaran sedang, banyak orang terbangun karena bunyi barang-
barang yang pecah dan bunyi jendela atau pintu berderit
karena bergoyang
3 III Getaran yang agak kuat, pintu dan jendela terbuka
4 IV Getaran kuat, gambar di dinding berjatuhan dan dinding retak-
retak
5 V Getaran sangat kuat, dinding dan atap runtuh
6 VI Rumah-rumah banyak yang roboh
7 VII Terjadi kerusakan umum
Dalam menentukan magnitudo, tidak ada keseragaman materi yang dipakai
kecuali rumus umumnya, yaitu persamaan di atas tadi. Untuk menentukan
misalnya, orang dapat memakai data amplitudo gelombang badan (P dan S) dari
sebarang fase seperti P, S, PP, SS, pP, sS (yang jelas dalam seismogram).
Seismogram yang dipakaipun dapat dipilih dari komponen vertikal maupun
horisontal (asal konsisten). Demikian juga untuk penentuan . Oleh karena itu,
kiranya dapat dimengerti bahwa magnitudo yang ditentukan oleh institusi yang
berbeda akan bervariasi, walaupun mestinya tidak boleh terlalu besar.
Namun demikian, tampaknya ada hubungan langsung antara dan , yang secara
empiris ditulis sebagai:

II. Nilai b-value
Istilah b-value berasal dari Hukum Gutenberg-Richter yang menunjukkan
hubungan antara magnitudo dengan jumlah total gempa bumi pada suatu daerah
dan periode waktu tertentu yang mendekati magnitudo tersebut. Hubungan ini
awalnya diusulkan oleh Charles Francis Richter dan Beno Gutenberg. Secara
mengejutkan, hubungan ini ternyata kuat dan tidak bervariasi secara signifikan dari
satu daerah ke daerah lain atau dari waktu ke waktu.
B-value umumnya konstan dan bernilai 1.0 pada daerah yang aktif secara
seismik. Artinya, untuk setiap gempa dengan magnitudo 4, akan ada 10 gempa
dengan magnitudo 3 dan 100 gempa dengan magnitudo 2. Terdapat beberapa
variasi pada nilai b-value dengan jangkauan 0.5 sampai 1.5, tergantung dari keadaan
tektonik dari daerah tersebut. Pengecualian penting adalah selama gempa dalam
kawanan (kejadiannya banyak), dan ketika itulah b-value akan naik sampai 2.5 yang
menandakan proporsi gempa minor yang bahkan lebih besar daripada gempa mayor.
Nilai b-value yang berbeda secara signifikan dari 1 mungkin menunjukkan bahwa
ada masalah dengan kumpulan data. Contohnya, datanya tidak lengkap atau
mengandung kesalahan dalam perhitungan magnitudo.
Untuk mencari nilai b-value dari data yang diperoleh, pertama data
magnitudo dimasukkan pada Microsoft Excel dan diurutkan (mulai dari yang paling
kecil sampai paling besar). Lalu, digunakan fungsi count pada aplikasi tersebut
untuk menghitung jumlah gempa berdasarkan cacah gempa yang diinginkan. Cacah
gempa (Eq) yang digunakan pada pemrosesan kali ini adalah dengan range 0.5.
Kemudian, kedua jenis data tersebut (cacah gempa dengan magnitudo) ditampilkan
dalam bentuk tabel, dan kemudian ditampilkan dalam sebuah histogram (magnitudo
pada sumbu x dan cacah gempa pada sumbu y), lengkap dengan trendline dan
equation. Untuk histogram selanjutnya, nilai magnitudo dibandingkan dengan log Eq
(cacah gempa), juga dengan trendline dan equation.
Melalui equation pada histogram log Eq vs.magnitudo, dapat terlihat nilai b-
value yang mendekati 0.5. Setelah dianalisa lebih lanjut, dapat diduga bahwa nilai
tersebut berhubungan dengan range magnitudo sebesar 0.5. Hal ini berarti nilai b-
value kemungkinan besar akan mengikuti nilai range magnitudo yang digunakan
pada histogram.
Selain itu, pada proses kali ini juga dilakukan plotting data gempa dengan
menggunakan program Surfer. Data pembanding yang digunakan adalah koordinat,
yaitu koordinat lintang untuk nilai x, koordinat bujur untuk nilai y, serta nilai magnitudo
untuk nilai z. Plot yang dihasilkan kemudian dibuat dalam format .dat dan dikisikan
(gridding), agar dapat ditampilkan dalam figur 3D.
III. Plot
Untuk memvisualisasi data secara 2-dimensi ataupun 3-dimensi,kita menggunakan
berbagai command plotting; di mana command yang paling dasar ialah plot.
>> x = 1:8; y=[20 22 25 30 28 25 24 22];
>> plot(x,y)
Akan muncul window baru berisi figure hasil plotting. Perhatikan kegunaan dari ikon
yang ada. Seperti yang Anda lihat, titik (1,20), (2,22), (3,25), (4,30), dll.
terhubung dengan garis lurus. Setiap gambar di figure window , bisa Anda print
melalui menu FilePrint(Ctrl+P), atau Anda simpan sebagai file FIG dengan
FileSave(Ctrl+S), ataupun Anda ekspor sebagai file JPG, EMF,BMP, dsb dengan
FileExport. Untuk menambahkan judul, label, dan grid ke dalam hasil plot Anda,
digunakan command berikut ini.
xlabel memberi label pada sumbu-x
ylabel memberi label pada sumbu-y
titlememberi judul di atas area plot
grid onmemunculkan grid di dalam area plot
grid off menghapus grid
Ketika Anda menggunakan command plot, gambar sebelumnya di figure window
akan terhapus. Lalu bagaimana jika kita ingin memplot beberapa fungsi dalam
satu figure sekaligus? Dalam hal ini kita bisa gunkan command hold.

IV. Time Series
Time series adalah suatu himpunan pengamatan yang dibangun secara berurutan
dalam waktu. Waktu atau periode yang dibutuhkan untuk melakukan suatu
peramalan itu biasanya disebut sebagai lead time yang bervariasi pada tiap
persoalan. Berdasarkan himpunan pengamatan yang tersedia maka time series
dikatakan kontinu jika himpunan pengamatan tersebut adalah kontinu dan dikatakan
diskrit bila himpunan pengatamatan tersebut juga diskrit.
Analisis runtun waktu adalah suatu metode kuantitatif untuk menentukan pola
data masa lalu yang telah dikumpulkan secara teratur. Analisis runtun waktu
merupakan salah satu metode peramalan yang menjelaskan bahwa deretan
observasi pada suatu variabel dipandang sebagai realisasi dari variabel random
berdistribusi bersama. Gerakan musiman adalah gerakan rangkaian waktu yang
sepanjang tahun pada bulan-bulan yang sama yang selalu menunjukkan pola yang
identik. contohnya: harga saham, inflasi. Gerakan random adalah gerakan naik turun
waktu yang tidak dapat diduga sebelumnya dan terjadi secara acak contohnya:
gempa bumi, kematian dan sebagainya.
Asumsi yang penting yang harus dipenuhi dalam memodelkan runtun waktu
adalah asumsi kestasioneran artinya sifat-sifat yang mendasari proses tidak
dipengaruhi oleh waktu atau proses dalam keseimbangan. Apabila asumsi stasioner
belum dipenuhi maka deret belum dapat dimodelkan. Namun, deret yang
nonstasioner dapat ditransformasikan menjadi deret yang stasioner.
Runtun waktu adalah himpunan observasi berurut dalam waktu atau dimensi
apa saja Pola data dalam time series dapat dibedakan menjadi empat jenis siklis
(cyclical) dan trend.

1. Pola Horizontal (H) terjadi bilamana nilai data berfluktuasi di sekitar nilai rata-rata
yang konstan. (Pola seperti itu adalah stasioner terhadap nilai rata-ratanya). Suatu
produk yang penjualannya tidak meningkat atau menurun selama waktu tertentu
termasuk jenis ini. Demikian pula, suatu keadaan pengendalian kualitas yang
menyangkut pengambilan contoh dari suatu proses produksi kontinyu yang secara
teoritis tidak mengalami perubahan juga termasuk jenis ini.
2. Pola Musiman (S) terjadi bilamana suatu deret dipengaruhi oleh faktor musiman
(misalnya kuartal tahun tertentu, bulanan, atau hari-hari pada minggu tertentu).
3. Pola Siklis (C) terjadi bilamana datanya dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi jangka
panjang seperti yang berhubungan dengan siklus bisnis.
4. Pola Trend (T) terjadi bila terdapat kenaikan atau penurunan sekuler jangka
panjang dalam data.
Beberapa definisi tentang runtun waktu :

Definisi 1
Runtun waktu adalah himpunan observasi terurut dalam waktu atau dalam dimensi
lain. Berdasarkan sejarah nilai observasinya runtun waktu dibedakan menjadi dua
yaitu : runtun waktu deterministik dan runtun waktu stokastik.

Definisi 2
Runtun waktu deterministik adalah runtun waktu yang nilai observasi yang akan
datang dapat diramalkan secara pasti berdasarkan observasi lampau.
Definisi 3
Runtun waktu stokastik adalah runtun waktu dengan nilai observasi yang akan
datang bersifat probabilistik, berdasarkan observasi yang lampau.










BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN



Dari gambar 1 dan 2, kita bisa melihat bahwa hubungan antara jumlah
gempa dengan magnitudo adalah serupa dengan fungsi eksponensial. Fungsi
eksponensial yang sesuai untuk gambar 1 adalah y = (2.9/e
2.45317x
)10
9
. Jika
data jumlah tersebut dilogaritmakan dengan basis 10, maka hasilnya adalah
grafik yang kemiringannya sesuai dengan fungsi linear. Fungsi linear yang sesuai
0
2000
4000
6000
8000
10000
12000
14000
16000
5 6 7 8 9 10
Gambar 1. Grafik Jumlah Gempa Berdasar Magnitudo
sum
reg
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
4.5
5 6 7 8
Gambar 2. Grafik log Jumlah Gempa Berdasar Magnitudo
log sum
reg
dengan grafik pada gambar 2 memiliki persamaan y = -1.065397x + 9.473164.
Nilai b = 1.065397, hampir mendekati 1 sebagaimana pada hukum Gutenberg-
Richter.
Proses plot data gempa pada peta dilakukan dengan Matlab. Hasil dari plot
tersebut adalah sebagai berikut.

Gambar 3. Plot posisi, kedalaman, dan magnitudo gempa pada peta dunia.
Dari proses plot tersebut dapat diketahui bahwa kejadian gempa terpusat di
tempat-tempat yang khusus, yakni tempat-tempat yang secara seismik aktif.
Tempat-tempat tersebut adalah wilayah-wilayah yang dilewati punggungan
tengah samudera, palung laut hasil subduksi, dan wilayah-wilayah yang aktif
secara vulkanis. Sebagian kecil gempa terjadi di tempat-tempat yang dilewati
patahan-patahan purba atau di tengah benua. Selain itu, dapat pula diketahui
bahwa gempa dalam atau gempa kuat seringkali terjadi di kawasan palung laut
tempat lempeng samudera tersubduksi masuk ke mantel.
Plot time series dapat dilihat di halaman berikutnya. Plot tersebut
menampilkan tiang-tiang energi gempa. Pengamatan terhadap gempa dapat
dimasukkan sebagai runtun waktu diskrit dengan gerakan random. Apabila
dilakukan transformasi fourier terhadap tiang-tiang energi tersebut, maka akan
membentuk garis-garis zig-zag (sebenarnya sinusoid namun panjang
gelombangnya cukup kecil). Garis zig-zag tersebut mengikuti suatu pola
horizontal yang jelas.

Gambar 4. Plot runtun waktu energi gempa.

Gambar 5. Hasil transformasi fourier dari plot runtun waktu energi gempa pada gambar
4.



BAB IV
KESIMPULAN
1. Data magnitudo gempa berhubungan secara eksponensial dengan data
jumlah gempa bermagnitudo tersebut.
2. Nilai b-value dari data logaritma basis sepuluh jumlah gempa yang kami
dapatkan untuk data gempa global adalah 1.065397, yang sesuai dengan
hukum Gutenberg-Richter.
3. Plot posisi gempa, magnitudo, dan kedalaman gempa pada peta
menunjukkan bahwa gempa lebih sering terjadi di wilayah-wilayah yang aktif
secara seismik ataupun vulkanis.
4. Data runtun waktu energi gempa termasuk ke dalam data runtun waktu
diskrit dengan gerakan random.
5. Transformasi fourier dari data runtun waktu energi gempa menghasilkan
kurva zig-zag dengan pola horizontal.













PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Magnitudo_gempa
http://earthquake.usgs.gov/earthquakes/glossary.php