Anda di halaman 1dari 7

BAB II

TINJAUAN TERHADAP UU NO. 31 TAHUN 1999 TENTANG


PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI SEBAGAIMANA
TELAH DIRUBAH DENGAN UU N0. 20 TAHUN 2001 TENTANG
PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI
A. Konsiderans
Di dalam konsiderans UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi dimuat beberapa pertimbangan sebagai berikut:
1. bahwa tindak pidana korupsi sangat merugikan keuangan negara atau perekonomia
n
negara dan menghambat pembangunan nasional, sehingga harus diberantas dalam
rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD
1945;
2. bahwa akibat tindak pidana korupsi yang terjadi selama ini selain merugikan
keuangan negara atau perekonomian negara, juga menghambat pertumbuhan dan
kelangsungan pembangunan nasional yang menuntut efisiensi tinggi;
3. bahwa UU No. 3 Tahun 1971 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sudah
tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan hukum dalam masyarakat,
karena itu perlu diganti dengan UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang
baru sehingga diharapkan lebih efektif dalam mencegah dan memberantas tindak
pidana korupsi.
Sedangkan di dalam konsiderans UU No. 20 UU Tahun 2001 tentang Perubahan
UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi terdapat
beberapa pertimbangan sebagai berikut:
1. bahwa tindak pidana korupsi yang selama ini terjadi secara meluas, tidak hany
a
merugikan keuangan negara, tetapi juga telah merupakan pelanggaran terhadap hak-
hak sosial dan ekonomi masyarakat secara luas, sehingga tindak pidana korupsi
perlu digolongkan sebagai kejahatan yang pemberantasannya harus dilakukan
secara luar biasa;
2. bahwa untuk lebih menjamin kepastian hukum, menghindari keragaman penafsiran
hukum dan memberikan perlindungan terhadap hak-hak sosial dan ekonomi
masyarakat, serta perlakuan secara adil dalam memberantas tindak pidana korupsi,

perlu diadakan perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi;
3. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf
b, perlu membentuk Undang-undang tentang Perubahan Atas Undang-undang
Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

B. Alasan Perubahan UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi dengan UU No. 20 Tahun 2001
Alasan mengapa UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi diganti dengan UU No. 20 Tahun 2001 dapat diperoleh dalam Penjelasan ata
s
UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU No. 31 tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagai berikut:
1. Sejak UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 140, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3874) diundangkan, terdapat berbagai interpretas
i
atau penafsiran yang berkembang di masyarakat khususnya mengenai penerapan
Undang-undang tersebut terhadap tindak pidana korupsi yang terjadi sebelum UU No
.
31 Tahun 1999 diundangkan. Hal ini disebabkan Pasal 44 Undang-undang tersebut
menyatakan bahwa UU No. 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi dinytakan tidak berlaku sejak UU No. 31 Tahun 1999 diundangkan, sehingga

timbul suatu anggapn adanya kekosongan hukum untuk memproses tindak pidana
korupsi yang terjadi sebelum berlakunya UU No. 31 Tahun 1999.
2. Disamping hal tersebut, mengingat korupsi di Indonesia terjadi secara sistema
tik dan
meluas sehingga tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga telah melangg
ar
hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat secara luas, maka pemberantasan korupsi
perlu dilakukan dengan cara luar biasa. Dengan demikian, pemberantasan tindak
pidana korupsi harus dilakukan dengan cara yang khusus, antara lain penerapan
sistem pembuktian terbalik yakni pembuktian yang dibebankan kepada terdakwa.
3. Untuk mencapai kepastian hukum, menghilangkan keragaman penafsiran dan
perlakuan adil dalam memberantas tindak pidana korupsi.
4. Ketentuan perluasan mengenai sumber perolehan alat bukti yang sah yang berupa

petunjuk, dirumuskan bahwa mengenai petunjuk selain diperoleh dari keterangan
saksi, surat dan keterangan terdakwa, juga diperoleh dari alat bukti lain yang b
erupa
informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik den
gan
optik atau yang serupa dengan itu tetapi tidak terbatas pada data penghubung
elektronik (electronic data inter change), surat elektronik (e-mail), telegram,
teleks,
dan faksimile, dan dari dokumen, yakni setiap rekaman data atau informasi yang
dapat dilihat, dibaca dan atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa

bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik, apapun sel
ain
kertas, maupun yang terekam secara elektronik, yang berupa tulisan, suara, gamba
r,
peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka atau perforasi yang memiliki makna.
5. Ketentuan mengenai pembuktian terbalik perlu ditambahkan dalam Undang-undang
No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagai ketentuan
yang bersifat premium remidium dan sekaligus mengandung sifat prevensi khusus
terhadap pegawai negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 atau terhadap

penyelenggara negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Undang-undang No. 28
Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi,
Kolusi dan Nepotisme untuk tidak melakukan tindak pidana korupsi.
Pembuktian terbalik ini diperlukan pada tindak pidana baru tentang gratifikasi
dan terhadap tuntutan perampasan harta benda terdakwa yang diduga berasal dari
salah satu tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, P
asal
13, Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 16 UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi dan Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 Undang-undang ini.
6. Dalam undang-undang ini diatur pula hak negara untuk mengajukan gugatan perda
ta
terhadap harta benda terpidana yangdisembunyikan atau tersembunyi dan baru
diketahui setelah putsan pengadilan memperoleh kekuatan hukum tetap. Harta benda

yang disembunyikan atau tersembunyi tersebut diduga atau patut diduga nerasal da
ri
tindak pidana korupsi. Gugatan perdata dilakukan terhadap terpidana dan atau ahl
i
warisnya. Untuk melakukan gugatan tersebut, negara dapat menunjuk kuasanya
untuk mewakili negara.
7. Selanjutnya dalam Undang-undang ini juga diatur ketentuan baru mengenai
maksimum pidana penjara dan pedana denda bagi tindak pidana korupsi yang
nilainya kurang dari Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah). Ketentuan ini dmaksudka
n
untuk menghilangkan rasa kekurangadilan bagi pelaku tindak pidana korupsi, dalam

hal nilai yang dikorup relatif kecil.
8. Disamping itu, dalam Undang-undang ini dicantumkan ketentuan Peralihan.
Substansi dalam Ketentuan Peralihan ini pada dasarnya sesuai dengan asas umum
hukum pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 ayat (2) Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana.
C. Pola Formulasi Kebijakan Penal
Apabila pasal-pasal yang memuat ketentuan pidana (Pasal 2 s.d. Pasal 24)
diidentifikasi, maka akan ditemukan pola formulasi kebijakan penal sebagai berik
ut:
1. Tindak pidana yang diatur dalam UU ini terdiri dari tindak pidana korupsi
(Pasal 2 s.d. Pasal 20) dan tindak pidana lain yang berkaitan dengan korupsi
(Pasal 21 s.d. 24).
2. Undang-undang ini menganut single track system (hanya sanksi pidana).
3. Dalam hal menggunakan sanksi pidana, digunakan pidana pokok dan pidana
tambahan.
4. Dalam hal pidana pokok, yang digunakan adalah pidana mati, pidana penjara
dan denda.
5. Dalam hal pidana tambahan, selain yang dimaksud dalam KUHP pidana
tambahan juga dapat berupa:
a. perampasan barang-barang bergerak yang berwujud atau tidak berwujud atau
barang yang tidak bergerak yang digunakan untuk atau yang diperoleh dari
tindak pidana korupsi, termasuk perusahaan milik terpidana di mana tindak
pidana korupsi dilakukan, begitu pula harga dari barang yang menggantikan
barang-barang tersebut.
b. pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama
dengan harta benda yang diperoleh dari tindak pidana korupsi;
c. penutupan seluruh atau sebagaian perusahaan untuk waktu paling lama 1
(satu) tahun.
d. pencabutan seluruh atau sebagian hak-hak tertentu atau penghapusan
seluruh atau sebagian keuntungan tertentu, yang telah atau dapat diberikan
oleh Pemerintah kepada terpidana.
6. Perumusan sanksi pidana di dalam Undang-undang ini dilakukan secara
alternatif.
7. Dalam hal tindak pidana korupsi dilakukan oleh atau atas nama suatu korporasi
,
maka tuntutan dan penjatuhan pidana dapat dilakukan terhadap korporasi dan
atau pengurusnya.
8. Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap suatu korporasi, maka korporasi
tersebut diwakili oleh pengurus.
9. Pengurus yang mewakili korporasi dalam suatu tuntutan pidana dilakukan
terhadap suatu korporasi dapat diwakili oleh orang lain.
10. Pidana pokok yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi hanya pidana denda,
dengan ketentuan maksimum pidana ditambah 1/3 (satu pertiga)