Anda di halaman 1dari 2

Lima Hukum Cerpen Edgar Allan Poe (Esai)

Posted on May 20, 2011 by sastradunia


Lima Hukum Cerpen

Edgar Allan Poe, sastrawan Amerika yang dianggap sebagai bapak cerpen modern mewariskan lima
Hukum Menulis Cerpen yang sampai sekarang masih relevan:

1. Peraturan Pertama

Cerpen itu harus pendek.

Tidak menguras waktu pembacanya, bisa selesai dibaca dalam waktu singkat tapi tetap memberikan
kesan yang mendalam. Cerpen bagaikan kain ketat, tak banyak memberi kelonggaran. Pengarang cerpen
ulung selalu menghindari uraian berkepanjangan tentang tokoh cerita atau pemandangan alam.

2. Peraturan Kedua

Cerpen membuat efek yang tunggal dan unik. Sebuah cerpen yang baik hanya punya satu pikiran utama
dan action yang bisa dikembangkan melalui sebuah garis dari awal hingga akhir. Berbeda dengan novel
yang memungkinkan memiliki garis-garis sampingan atau cerita-cerita penyeling, cerpen tidak punya hak
untuk ngelantur ke berbagai soalan lain.

3. Peraturan Ketiga

Cerpen harus ketat dan padat. Seorang cerpenis harus berusaha memadatkan setiap detil pada ruang
tulisannya sepadat mungkin. Tiada ruang untuk memaparkan serbaneka kejadian atau serba detil
karakter seperti pada novel. Maksudnya tidak lain agar pembaca mendapat kesan tunggal dari
keseluruhan cerita. Inilah sebabnya dalam cerpen amat dituntut ekonomi bahasa. Segalanya harus
diseleksi secara ketat, agar misi yang hendak disampaikan dapat dikemukakan secara tajam, dan
menghunjam ke dalam hati pembacanya.

Sebuah cerita pendek mengenal disiplin waktu, irama, mengenal warna, dibatasi oleh patokan sehingga
memerlukan kelicikan, tetapi juga sekaligus ketegelan dan kebijaksanaan dari penciptanya.

4. Peraturan Keempat

Cerpen harus tampak sungguhan. Cerpen memang karya fiksi tapi harus diupayakan agar terkesan
nyata. Sebab tampak seperti sesungguhnya adalah prinsip seni penceritaan sebuah cerita termasuk
pula cerpen. Semua fiksi tak boleh kentara nilai fiksi atau imajinasinya meskipun semua orang tahu
bahwa itu hanya fiksi belaka. Oleh karena itu, seorang cerpenis jangan membuat plot atau alur cerita
yang mustahil. Jangan pula melebih-lebihkan karakter tokoh ceritanya seperti pada kartun atau
karikatur.

5. Peraturan Kelima

Cerpen harus memberi kesan yang tuntas. Selesai membaca cerpen, pembaca harus merasa bahwa
cerpen itu benar-benar selesai. Tidak boleh tidak cerita itu harus rampung pada suatu titik. Jika tidak,
pembaca akan bertanya-tanya atau bahkan merasa kecewa.

Itu prinsip menulis cerpen rumusan Edgar Allan Poe. Namun pada kenyataannya banyak juga cerpenis
terkenal yang melanggarnya.

Ernest Hemmingway-peraih Nobel sastra atas novel The Old Man and The Sea gemar membuat cerpen
yang panjang-panjang dan memaparkan secara detil sekali karakter atau pemandangan alam pada
cerpen-cerpennya. Bahkan Edgar Allan Poe sendiri yang sering membuat ujung cerita yang tidak
rampung, melambai-lambai ditiup angin alias misterius. Barangkali karena judulnya misteri maka
pembaca justru senang berteka-teki dengan ujung cerpen yang tidak jelas atau tidak rampung tersebut.
(*)