Anda di halaman 1dari 34

Meski bulan puasa bukan berarti penyakit ikutan puasa, kalo masih sakit harus tetap

berobat dan minum obat. Lalu kapan minum obat kalo lagi puasa? Bagaimana
solusinya?
1. Bila aturan pakai 1 kali sehari sebelum makan
Kita bebas memilih setelah minum pembuka puasa (setengah jam sebelum makan berat)
atau setengah jam sebelum sahur. Yang penting pilihan waktu tersebut konsisten.
2. Bila aturan pakai 1 kali sehari setelah makan
Kita bebas memilih setelah berbuka puasa atau saat sahur. Yang penting pilihan waktu
tersebut konsisten.
3. Bila aturan pakai 2 kali sehari setelah makan
Minumlah obat setelah makan berbuka puasa dan setelah makan sahur.
4. Bila aturan pakai 2 kali sehari sebelum makan
Minumlah obat setelah minum berbuka puasa. Setengah jam sesudahnya barulah
menikmati makan berat. Minum obat berikutnya minimal setengah jam sebelum makan
sahur.
5. Bila aturan pakai 3 kali sehari setelah makan
Minumlah obat setelah makan berbuka puasa, sebelum tidur (setelah menyantap sedikit
makanan) dan setelah makan sahur.
6. Bila aturan pakai 3 kali sehari sebelum makan
Minumlah obat setelah minum berbuka puasa lalu setengah jam sesudahnya barulah
menikmati makan berat, saat hendak tidur (perut jangan diisi makanan setengah jam
sebelumnya) dan setengah jam sebelum makan sahur.
Tips untuk jenis obat yang lain:
1. Obat Antihipertensi
Obat antihipertensi kini sudah banyak di formulasi untuk pemakaian sekali dalam
sehari. Obat ini lebih disarankan diminum saat makan sahur sehingga obat tersebut
dapat mengendalikan tekanan darah selama beraktivitas di siang hari. Riset
menunjukkan bahwa tekanan darah mencapai angka paling tinggi pada pukul 9-11 pagi
dan paling rendah pada malam hari setelah tidur. Perlu hati-hati jika obat antihipertensi
diminum malam hari karena mungkin terjadi penurunan tekanan darah yang berlebihan
saat tidur.
2. Obat Maag
Jika dokter telah meresepkan obat yang hanya digunakan sekali dalam sehari, misalnya
omeprazol atau lansoprazol, sebaiknya diminum pada malam hari sebelum tidur.
Sedangkan obat maag yang lazimnya diberikan duak kali dalam sehari, misalnya
ranitidin atau famotidin, maka hendaknya dipilih saat malam hari sebelum tidur dan
pada waktu makan sahur. Hal ini desebabkan asam lambung mencapai kadar paling
tinggi pada saat dinihari, sehingga sebaiknya diminum malam hari untuk mencegah
kenaikan asam lambung berlebihan.
3. Obat Antidiabetes
Obat antidiabetes yang hanya cukup diminum satu kali dalam sehari, misalnya glipizid
sebaiknya digunakan pada saat berbuka puasa untuk mengontrol kadar gula dalam
darah, karena pada saat tersebut ada kecenderungan kadar gula dalam darah akan
meningkat berlebihan.
Namun apabila obat antidiabetes anda diresepkan dua kali dalam sehari, lebih
disarankan diminum saat berbuka puasa dan malam hari sebelum tidur. Hindari
penggunaan obat antidiabetes saat makan sahur agar tidak terjadi keadaan hipoglikemia
pada saat berpuasa pada siang harinya.
4. Obat Penurun Kolesterol
Obat penurun kolesterol paling baik diminum pada pukul 7-9 malam, karena
memberikan efek lebih baik.
5. Obat Antiasma
Sebenarnya waktu yang paling baik meminum obat asma adalah pada pukul 3-4 sore.
Hal ini karena pada saat itu produksi steroid tubuh berurang, dan mungkin akan
menyebabkan serangan asma pada malam hari. Karena itu, jika steroid dihirup sore
hari, diharapkan akan mencegah serangan asma pada malamnya. Obat yang
penggunaannya dihirup boleh digunakan oleh orang yang berpuasa dan tidak
membatalkan puasa.
6. Obat Antianemia
Waktu yang paling baik meminum obat anti anemia adalah pukul 8 malam. Penggunaan
obat anemia seperti Fe glukonat atau Fe sulfat memberikan efek 3-4 kali lebih baik pada
waktu itu daripada diberikan pada siang hari.
Radang pada Tenggorokan
30JUN2011 Tinggalkan Sebuah Komentar
by apotekgriyafarma in info obat
Radang tenggorokan memiliki gejala-gejala badan panas, demam, jika
digunakan untuk menelan rasanya sakit, suara serak bahkan sampai membuat suara
hilang, dan kadang disertai dengan flu. Jika itu semua terjadi dan belum sedemikian
parah, biasanya bisa diatasi dengan menghentikan kegiatan makan dan minum yang
menyebabkan radang (gorengan, dingin, pedas), tapi jika sudah parah maka obat
dibawah ini bisa digunakan untuk mempercepat penyembuhan.
1. Antibiotik
antibiotik yang umum yang bisa di gunakan Amoxicillin dan Cefadroxil. Diminum 2-3
kali sehari dan berhubung ini antibiotik maka harus dihabiskan. Ingat, jika anda minum
obat antibiotik maka itu harus dihabiskan.
2. Analgesik dan Antiperitik
obat ini seperti panadol, aspirin, paracetamol generik. Diminum 3 kali sehari, jika panas
mereda boleh menghentikan minum obatnya. Obat ini berguna sebagai pain killer untuk
mengurangi nyeri dan menurunkan panas. Gunakan obat ini jika sudah benar-benar
tidak bisa mengakomodir panas dan nyeri di badan.
3. Multivitamin
Minum vitamin C dan atau B kompleks. Vitamin berguna untuk segera memulihkan
daya tahan tubuh. Pilih yang murah atau mahal.
Bahaya Antibiotik !!!
04MAR2010 4 Komentar
by apotekgriyafarma in info obat
Antibiotik adalah substansi atau zat yang bisa
membunuh/melemahkan mikroorganisme/jasad renik (bakteri/parasit)
Bakteri/kuman ada dimana-mana. Tubuh kita penuh dengan kuman baik yang
membantu menjaga kesehatan tubuh kita. Pemakaian antibiotok yang berlebihan akan
membunuh kuman baik di tubuh kita.
Sebagian besar penyakit infeksi pada anak disebabkan oleh virus. Antibiotik tidak dapat
membunuh virus maupun mempercepat penyembuhan infeksi virus.
Salesma, flu disebabkan oleh virus. Dan juga bisa menyebabkan penumpukan cairan di
rongga telinga tengah. Sebagian besar radang tenggorokan dan batuk juga disebabkan
oleh virus. Bronkitis juga disebabkan oleh virus. Pada keadaan diatas termasuk juga
sebagian besar sinuitis antibiotik tidak diperlukan.
Antibiotik diperlukan pada :
Infeksi telinga yang tidak terkait flu/salesma
Infeksi sinus yang berat (lebih dari 2 minggu, sakit kepala hebat, wajah bengkak)
Radang tenggorokan akibat kuman streptokokus
Infeksi saluran kemih
Tifus
Tuberkulosis
Diare akibat amoeba
Resistensi antibiotik
Semakin sering mengkonsumsi antibiotik sangat dimungkinkan semakin sering jatuh
sakit. Mengkonsumsi antibiotik secara tidak bijak memposisikan kita kondisi yang
berbahaya yaitu meningkatkan resiko terjadinya resistensi antibiotik pada kemudian
hari.
Infeksi bakteri yang resisten antibiotik dapat menyebabkan :
Lebih sulit disembuhkan
Sakit lebih lama
Butuh antibiotik lebih kuat (lebih toksik)
Butuh biaya pengobatan lebih mahal
Bagimana mencegah resistensi antibiotik
Bagi dokter
Cuci tangan setiap selesai periksa pasien
Jangan mengabulkan permintaan pasien akan antibiotika untuk infeksi virus flu dan
kondisi lain yang tidak membutuhkan antibiotika
Resepkan antibiotika yang sesuai kuman sasaran dan jangan langsung meresepkan
antibiotika spektrum luas.
Isolasi pasien yang terinfeksi kuman yang resisten antibiotika
Ketahui informasi terbaru tentang pola kuman dan kuman yang telah resisten
antibiotika
Bagi pasien
Jangan menuntut dokter meresepkan antibiotika; antibiotika bukan obat dewa
Antibiotika termahal, terkuat, bukan berarti terbaik
Jika perlu antibiotika, konsumsi sesuai anjuran dokter, dan jangan menyimpan
antibiotika
Cuci tangan untuk mengurangi penularan
Cuci buah dan sayur, masak telur dan daging hingga matang
Jangan menggunakan sabun, deterjen, pembersih lantai, atau losion, yang
mengandung antiseptik. Kuman di rumah kuman baik, antiseptik bisa membuat
kuman baik menjadi kuman jahat
sumber :
berbagai su
Pengobatan Mandiri (SWAMEDIKASI)
21JAN2010 Tinggalkan Sebuah Komentar
by apotekgriyafarma in info sehat
Swamedikasi berarti mengobati segala keluhan pada diri
sendiri dengan obat-obat yang dibeli bebas di apotek atau toko obat atas kemauan
sendiri tanpa nasehat dokter Keuntungan swamedikasi adalah tersedia obat yang dapat
digunakan di rumah kita dan akan menghemat waktu yang diperlukan untuk pergi ke
dokter yang jauh dari tempat tinggal. Kerugiannya bila keluhan yang dialami dinilai
salah dan bila penggunaan obat kurang tepat, terlalu lama, atau dalam dosis yang terlalu
besar.
Kapan dan dengan Apa Obat Harus Diminum?
1. Sebelum atau sesudah makan?
Obat diminum sebelum makan, karena adanya makanan di dalam lambung akan
menghambat pelarutan dan penyerapan obat. Obat diminum sesudah makan atau pada
saat makan, karena obat harus melarut dalam lemak agar dapat diserap dengan baik.
Jika obat ini diminum pada saat perut kosong, dapat menimbulkan mual dan muntah
serta akan mmengiritasi lambung.
2. Berapa kali sehari?
Lama kerja obat berbeda-beda. Ada obat yang diminum1,2,3, atapun 4 kali sehari. Obat
yang harus ditelan 1x sehari umumnya ditelan pagi hari, bila tidak diberi petunjuk lain.
2x sehari artinya obat diminum tiap 12 jam, 3x sehari artinya obat diminum tiap 8 jam
dan 4x sehari artinya obat diminum tiap 6 jam. Bila takaran 4x sehari sukar
diwujudkaan, sebaiknya obat diminum sebelum dan sesudah tidur pada malam hari,
serta 2 kali lagi dibagi rata sepanjang hari. 3. Dengan air, limun, atau susu? Sebaiknya
obat diminum dengan air putih. Susu tidak selalu layak diminum dengan obat, karena
mengandung kalsium, khususnya zat-zat antibiotik seperti halnya tetrasiklin. Ini karena
kalsium dapat mengikat tetrasiklin, sehingga obat dari usus/saluran pencernaan tidak
dapat diserap oleh darah.
Cara menggunakan obat
1. Tablet
Ditelan dengan segelas air, sebaiknya dengan posisi tubuh tegak dan setelah digigit
menjadi 3-4 bagian kecil. Jika ditelan tanpa atau terlalu sedikit air atau dalam posisi
terbaring, maka terdapat resiko akan tersangkutnya tablet di kerongkongan.
2. Kapsul
Seperti tablet, kapsul diletakkan di atas lidah dan ditelan dengan cukup banyak air
dengan posisi tegak, berdiri, atau duduk. Bila sukar ditelan, maka kapsul dilunakkan
dalam air untuk beberapa saat dan jangan sampai kedua tabung dibuka untuk
mengeluarkan obatnya.
3. Serbuk
Serbuk ditaburkan pada segelas air, aduk agar obat melarut kemudian baru diminum.
Bilaslah gelas dengan sedikit air untuk sisa obat yang melekat.
4. Obat kumur
Setiap kali berkumur, selama 2-3 menit agar obat diberi kesempatan untuk bekerja.
Sesudahnya obat dikeluarkan dan jangan ditelan.
5. Salep
Dengan tangan yang bersih, keluarkan sedikit obat dan oleskan setipis mungkin pada
kulit.
6. Serbuk tabur
Taburkan sedikit pada serbuk pada kulit dan digosok dengan hati-hati.
7. Tetes mata
Terlebih dahulu tangan dicuci dengan baik, kepala didongakkan dan mata diarahkan ke
atas. Dengan jari telunjuk, kelopak mata bawah ditarik ke bawah sehingga terbentuk
selokan kecil. Wadah dipegang antara jempol, telunjuk, jari tengah dan tangan
disandarkan pada dahi tepat di atas mata. Jatuhkan beberapa tetes ke dalam selokan
kecil dan dengan jari tengah menekan pada hidung di sisi ujung dalam dari mata supaya
tetesan tidak segera mengalir keluar, kemudian mata ditutup selama satu menit. Untuk
anak kecil (kurang dari 10-12 tahun), supaya berbaring dengan mata tertutup rapat.
Kemudian jatuhkan satu atau dua tetes pada ujung mata di sisi hidung. Bila anak
membuka matanya, tetesan akan masuk dengan sendirinya ke dalam mata.
Cara Menyimpan Obat
Semua obat sebaiknya disimpan di tempat yang sejuk, dalam wadah asli dan terlindung
dari lembab cahaya.
Tanda-tanda Kerusakan Obat
Suatu obat telah menjadi rusak bial terjadi perubahan warna, larutan yang bening
menjadi keruh atau berjamur, bentuk dan baunya berubah. Obat yang rusak tidak boleh
diminum, karena akan dapat membentuk zat-zat beracun atau menjadi tidak berefek
pada tubuh. Pada waktu membeli obat, sebaiknya dilihat tanggal kadaluwarsanya, juga
bungkusan aslinya apakah masih dalam keadaan baik atau sudah rusak.
Antibiotik
Obat yang tergolong antibiotic. Dalam pemakaiannya harus dihabiskan untuk
menghindari kambuhnya penyakit. Bila masih ketinggalan sisa akibat dari bagian obat
yang tidak habis, maka sisa obat tersebut tidak boleh disimpan.
Sumber oleh :
Nia Nurbayani
Tips Penyimpanan Obat yang Benar
18JAN2010 Tinggalkan Sebuah Komentar
by apotekgriyafarma in info sehat

Jauhkan dari jangkauan anak-anak.
Simpan obat dalam kemasan aslinya dan dalam wadah tertutup rapat, jangan
mengganti kemasan botol ke botol lainnya.
Jangan pernah mencampur obat dalam bentuk sediaan tablet dan kapsul dalam satu
wadah.
Simpan obat di tempat yang sejuk dan terhindar dari sinar matahari langsung.
Jangan menyimpan kapsul atau tablet di tempat panas dan atau lembab karena
dapat menyebabkan obat tersebut rusak.
Obat dalam bentuk cair jangan disimpan dalam lemari pendingin kecuali disebutkan
pada etiket atau kemasan obat.
Hindarkan obat dalam bentuk cair menjadi beku.
Jangan tinggalkan obat anda di dalam mobil dalam jangka waktu lama, karena
perubahan suhu dapat merusak obat anda.
Jangan simpan obat yang telah kadaluarsa.
Puasa Bukan Halangan Saat Minum Obat
DITULIS OLEH STAFF PADA 5 AUGUST 2011 | 1 KOMENTAR |
(No Ratings Yet)
Ukuran huruf:

Meski bulan puasa bukan berarti penyakit ikutan puasa, kalo masih sakit harus tetap berobat dan
minum obat. Lalu kapan minum obat kalo lagi puasa? Bagaimana solusinya?
1. Bila aturan pakai 1 kali sehari sebelum makan
Kita bebas memilih setelah minum pembuka puasa (setengah jam sebelum makan berat) atau
setengah jam sebelum sahur. Yang penting pilihan waktu tersebut konsisten.
2. Bila aturan pakai 1 kali sehari setelah makan
Kita bebas memilih setelah berbuka puasa atau saat sahur. Yang penting pilihan waktu tersebut
konsisten.
3. Bila aturan pakai 2 kali sehari setelah makan
Minumlah obat setelah makan berbuka puasa dan setelah makan sahur.
4. Bila aturan pakai 2 kali sehari sebelum makan
Minumlah obat setelah minum berbuka puasa. Setengah jam sesudahnya barulah menikmati
makan berat. Minum obat berikutnya minimal setengah jam sebelum makan sahur.
5. Bila aturan pakai 3 kali sehari setelah makan
Minumlah obat setelah makan berbuka puasa, sebelum tidur (setelah menyantap sedikit
makanan) dan setelah makan sahur.
6. Bila aturan pakai 3 kali sehari sebelum makan
Minumlah obat setelah minum berbuka puasa lalu setengah jam sesudahnya barulah menikmati
makan berat, saat hendak tidur (perut jangan diisi makanan setengah jam sebelumnya) dan
setengah jam sebelum makan sahur.
Tips untuk jenis obat yang lain:
1. Obat Antihipertensi
Obat antihipertensi kini sudah banyak di formulasi untuk pemakaian sekali dalam sehari. Obat ini
lebih disarankan diminum saat makan sahur sehingga obat tersebut dapat mengendalikan
tekanan darah selama beraktivitas di siang hari. Riset menunjukkan bahwa tekanan darah
mencapai angka paling tinggi pada pukul 9-11 pagi dan paling rendah pada malam hari setelah
tidur. Perlu hati-hati jika obat antihipertensi diminum malam hari karena mungkin terjadi
penurunan tekanan darah yang berlebihan saat tidur.
2. Obat Maag
Jika dokter telah meresepkan obat yang hanya digunakan sekali dalam sehari, misalnya
omeprazol atau lansoprazol, sebaiknya diminum pada malam hari sebelum tidur. Sedangkan
obat maag yang lazimnya diberikan duak kali dalam sehari, misalnya ranitidin atau famotidin,
maka hendaknya dipilih saat malam hari sebelum tidur dan pada waktu makan sahur. Hal ini
desebabkan asam lambung mencapai kadar paling tinggi pada saat dinihari, sehingga
sebaiknya diminum malam hari untuk mencegah kenaikan asam lambung berlebihan.
3. Obat Antidiabetes
Obat antidiabetes yang hanya cukup diminum satu kali dalam sehari, misalnya glipizid sebaiknya
digunakan pada saat berbuka puasa untuk mengontrol kadar gula dalam darah, karena pada
saat tersebut ada kecenderungan kadar gula dalam darah akan meningkat berlebihan.
Namun apabila obat antidiabetes anda diresepkan dua kali dalam sehari, lebih disarankan
diminum saat berbuka puasa dan malam hari sebelum tidur. Hindari penggunaan obat
antidiabetes saat makan sahur agar tidak terjadi keadaan hipoglikemia pada saat berpuasa pada
siang harinya.
4. Obat Penurun Kolesterol
Obat penurun kolesterol paling baik diminum pada pukul 7-9 malam, karena memberikan efek
lebih baik.
5. Obat Antiasma
Sebenarnya waktu yang paling baik meminum obat asma adalah pada pukul 3-4 sore. Hal ini
karena pada saat itu produksi steroid tubuh berurang, dan mungkin akan menyebabkan
serangan asma pada malam hari. Karena itu, jika steroid dihirup sore hari, diharapkan akan
mencegah serangan asma pada malamnya. Obat yang penggunaannya dihirup boleh digunakan
oleh orang yang berpuasa dan tidak membatalkan puasa.
6. Obat Antianemia
Waktu yang paling baik meminum obat anti anemia adalah pukul 8 malam. Penggunaan obat
anemia seperti Fe glukonat atau Fe sulfat memberikan efek 3-4 kali lebih baik pada waktu itu
daripada diberikan pada siang hari.
KAPAN MINUM OBAT JIKA SEDANG PUASA? Bagian 1


Sejak dahulu, puasa sudah menjadi tradisi, entah untuk tujuan yang berhubungan dengan kepercayaan,
keagamaan, kepentingan medis, atau lainnya. Beberapa orang, misalnya, secara rutin menjalani puasa setiap
hari senin dan kamis. Pada kebudayaan masyarakat jawa dikenal berbagai jenis puasa, seperti ngrowot, mutih,
pati-geni, weton dan masih banyak lagi. Mereka mempercayai bahwa puasa adalah salah satu bentuk tirakat
untuk lebih mendekatkan diri pada sang maha pencipta.
Puasa bagi umat Islam ada yang hukumnya wajib, namun ada pula yang sunah. Khususnya di bulan Ramadhan,
puasa merupakan ibadah wajib, sehingga harus tetap dijalani bagaimanapun kondisinya, termasuk jika sedang
sakit. Secara ilmiah, puasa dapat dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan fisik maupun mental, sehingga apabila
dipersiapkan dengan baik, puasa bahkan bisa ikut mempercepat penyembuhan bermacam penyakit.
Ketika berpuasa kita memberi kesempatan saluran percernaan kita untuk beristirahat. Pada saat seperti ini
metabolisme tubuh umumnya menurun, yang akhirnya dapat menurunkan pula kadar lemak dalam darah, kadar
gula dalam darah, serta tekanan darah sistolik. Sehingga puasa dapat bermanfaat bagi penderita hipertensi atau
tekanan darah tinggi, penderita diabetes melitus atau kencing manis yang tidak tergantung pada insulin, baik
yang ringan maupun yang sedang dan juga penderita asam urat.
Karena dapat menurunkan kadar lemak dalam darah, puasa juga sangat baik untuk penderita obesitas atau
kegemukan yang ingin mencapai kondisi berat badan ideal. Bagi penderita maag atau dispepsia ringan, terutama
yang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor stres, puasa dapat membantu mengendalikannya karena pada saat itu
kondisi kesehatan psikologis sedang meningkat.
Bagi penderita-penderita penyakit tersebut diatas, obat merupakan konsumsi yang tidak kalah pentingnya
dibandingkan dengan konsumsi makanan sehari-hari. Mereka bahkan menjadikan pembelian obat sebagai
prioritas utama budget bulanan. Akan tetapi penderita sering dihadapkan pada kesulitan pengaturan waktu
meminum obat ketika sedang menjalani puasa. Jadi, bisakah mereka tetap berpuasa sementara harus rutin
minum obat? (HPP)
Kita mengenal bahwa obat adalah suatu senyawa yang dapat digunakan untuk tujuan pencegahan, diagnosis
dan pengobatan penyakit. Obat akan memberikan khasiat apabila kadarnya stabil didalam darah. Agar tercapai
kadar yang stabil, maka kita harus menyesuaikan dengan sifat obat. Masing-masing obat mempunyai sifat yang
berbeda-beda, sehingga tidak semua obat dapat diperlakukan sama dalam penggunaannya.
Didalam tubuh, obat akan diserap, kemudian diedarkan oleh darah dan pada akhirnya dibuang jika sudah tidak
lagi digunakan. Semakin cepat obat diserap dan dikeluarkan dari tubuh, kita harus semakin sering minum obat.
Oleh karena itu, jangan heran jika anda mendapati ada obat yang harus diminum sehari tiga kali atau lebih,
namun ada juga yang harus diminum sehari dua kali. Tidak jarang terdapat pula obat yang cukup dikonsumsi
sekali saja dalam sehari.
Bersyukurlah kita bahwa kemajuan teknologi sudah merambah ke dunia kefarmasian, salah satunya ialah telah
dapat membuat obat menjadi lebih praktis untuk dikonsumsi. Sebagai contoh ialah perkembangan formulasi obat
yang mampu mengubah kecepatan pelepasan obat didalam tubuh. Akibatnya, jika dahulu penderita tekanan
darah tinggi harus rutin minum obat sehari sebanyak tiga kali, saat ini sudah telah tersedia obat antihipertensi
yang cukup diminum sekali dalam sehari. Perkembangan ini tidak hanya merupakan berita baik untuk penderita
hipertensi saja. Obat-obat untuk penyakit lain pun telah mengalami kemajuan yang sama. Oleh karena itu, sudah
tidak ada alasan lagi untuk tidak berpuasa hanya karena anda bingung untuk menentukan waktu minum obat.
Sayangnya, jumlah industri farmasi yang telah berkembang saat ini tidak sebanding dengan jumlah obat yang
sangat banyak beredar di pasaran. Sehingga industri-industri farmasi tersebut belum mampu untuk mengubah
obat-obat konvensional menjadi obat formula baru dengan sentuhan teknologi formulasi modern. Alasan lain
ialah bahwa semakin canggih teknologi yang digunakan, semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan.
Inilah yang seringkali menjadi kendala kemajuan. Oleh karena itu, anda tidak perlu berkecil hati apabila
memperoleh resep obat yang frekuensi pemakaiannya tidak praktis (lebih dari sekali pakai setiap hari).
Ketika anda sedang menjalani puasa, apapun jenisnya, pastikan bahwa anda tetap melakukan makan sahur.
Seringkali kita meremehkan arti makan sahur, padahal ini sangat penting, terutama ketika anda harus minum
obat. Jika anda sedang berpuasa tetapi akan minum obat dengan aturan pemakaian sehari tiga kali, maka anda
dapat meminumnya pada waktu makan sahur (jam 4 dini hari), saat berbuka puasa (jam 6 sore) serta malam hari
sebelum tidur, kurang lebih jam 10 malam.
Apabila obat yang anda minum mempunyai aturan pemakaian sehari dua kali, pada umumnya obat tersebut
dapat digunakan pada saat berbuka dan makan sahur. Beberapa obat yang cukup diminum sekali dalam sehari,
misalnya obat penurun kadar asam urat dalam darah, dapat digunakan pada waktu berbuka puasa atau saat
makan sahur.
Pemilihan waktu yang tepat untuk minum obat-obatan juga harus disesuaikan dengan sifat dan cara kerja obat
yang bersangkutan. Sekali lagi, kita tidak bisa memperlakukan satu obat sama dengan yang lain. (HPP)
Penderita Hipertensi
Tekanan darah tinggi dapat digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu berat, sedang dan ringan. Bagi penderita
hipertensi ringan, puasa ialah salah satu cara untuk dapat mengendalikannya. Dengan berpuasa, asupan
makanan, terutama yang merupakan pemicu naiknya tekanan darah seperti makanan dengan kadar garam atau
kandungan lemak tinggi, akan berkurang. Rokok, yang juga dituduh sebagai biang naiknya tensi, pasti akan
dibatasi juga. Sehingga secara tidak langsung puasa merupakan cara untuk membiasakan gaya hidup sehat.
Tetapi jika tekanan darah cenderung sulit ditolerir, mau tidak mau obat adalah jalan keluarnya. Obat
antihipertensi kini sudah banyak yang diformulasi untuk pemakaian sekali untuk satu hari. Jika dokter telah
meresepkan pada anda obat antihipertensi semacam ini, lebih disarankan agar obat diminum saat makan sahur
sehingga obat tersebut dapat mengendalikan tekanan darah selama anda beraktivitas di siang hari.

Penderita Maag
Penyakit maag terjadi apabila jumlah asam lambung meningkat. Pola makan yang tidak teratur, makan makanan
yang terlalu pedas atau terlalu asam serta karena kondisi psikologis seperti stres merupakan hal-hal yang
merangsang peningkatan produksi asam lambung. Untuk mengatasi nyeri lambung, penderita maag sudah tidak
asing lagi dengan obat-obat antasida. Bila diperlukan, obat antasida dapat diminum sampai tiga kali dalam
sehari.
Namun ada pula golongan obat maag bukan antasida yang dosis pemakaiannya hanya satu atau dua kali sehari.
Jika anda adalah penderita maag dan dokter telah meresepkan obat yang hanya digunakan sekali dalam sehari,
misalnya obat yang mengandung omeprazol atau lansoprazol, sebaiknya diminum pada malam hari sebelum
tidur. Sedangkan obat maag yang berisi ranitidin atau famotidin, yang lazimnya diberikan sehari dua kali, maka
hendaknya dipilih saat malam hari sebelum tidur dan pada waktu makan sahur.
(HPP)
Penderita Diabetes

Seperti halnya hipertensi, ada pula kelompok diabetes berat, sedang dan ringan. Anda penderita diabetes
ringan? Jangan khawatir, karena puasa cenderung dapat membantu mengendalikan kadar gula darah anda
tetap normal. Pada umumnya kadar gula darah penderita diabetes ringan dapat dikendalikan hanya dengan
membiasakan gaya hidup sehat. Obat, sepertinya tidak menjadi keharusan untuk dikonsumsi. Tetapi bagaimana
jika anda adalah seorang penderita diabetes yang harus rutin minum obat agar kadar gula darah tetap
terkontrol?
Ada beberapa macam obat antidiabetes yang masing-masing mempunyai cara kerja dan waktu pemakaian yang
berbeda. Sebagai contoh ialah obat antidiabetes yang hanya cukup diminum satu kali dalam sehari, misalnya
obat yang mengandung bahan aktif dengan nama glipizid. Pemilihan waktu mengkonsumsi obat jenis ini
sebaiknya pada saat berbuka puasa, karena pada saat tersebut ada kecenderungan kadar gula dalam darah
akan meningkat berlebihan, sehingga obat ini dapat bekerja untuk mengontrolnya.
Namun apabila obat antidiabetes anda diresepkan untuk pemakaian dua kali dalam sehari, lebih disarankan
untuk diminum saat berbuka puasa dan malam hari sebelum tidur. Hindari penggunaan obat-obat tersebut pada
saat makan sahur agar tidak terjadi keadaan hipoglikemia pada saat berpuasa pada siang harinya.
Hipoglikemia adalah suatu kondisi dimana kadar gula dalam darah dibawah nilai normal. Tanda-tanda
hipoglikemia yang harus diwaspadai oleh penderita diabetes antara lain gelisah, mengeluarkan keringat dingin,
badan lemah dan gemetar, detak jantung meningkat serta lidah dan bibir terasa kesemutan. Selain itu dapat pula
menunjukkan gejala sakit kepala, pucat, pandangan mata kabur sampai dengan kejang-kejang. Hal ini sangat
berbahaya, terutama jika pasokan gula darah ke otak sangat kurang, karena dapat berakibat fatal yang berakhir
dengan kematian.
Apabila hipoglikemia terjadi, hendaknya penderita segera menghentikan puasa dan segera mengkonsumsi 10-20
gram gula (atau setara dengan 2-4 sendok teh gula). Pencegahan bahaya penurunan kadar gula dalam darah
secara mendadak ini sangat penting bagi setiap penderita diabetes, sehingga disarankan agar setiap penderita
selalu membawa gula atau permen kemanapun pergi.
Tidak semua obat bagi penderita diabetes mempunyai mekanisme kerja yang sama. Salah satu diantaranya
ialah metformin, yang cara kerjanya sedikit berbeda dengan obat antidiabetes yang lain yaitu dengan cara
meningkatkan kepekaan jaringan tubuh terhadap glukosa. Karena metformin tidak menyebabkan peningkatan
kadar insulin dalam darah, maka obat ini tidak beresiko menimbulkan kondisi hipoglikemia. Oleh karena itu, jika
anda mengetahui bahwa obat yang rutin anda minum saat ini berisi metformin, maka anda dapat meminumnya
pada saat makan sahur. (HPP)
Sebelum, saat atau setelah makan?

Selain waktu penggunaan obat yang tepat, hal lain yang perlu diperhatikan adalah kapan anda boleh meminum
obat; setelah makan, sebelum makan atau pada saat makan? Beberapa obat yang mempunyai efek iritasi pada
saluran cerna hendaknya digunakan setelah makan atau pada saat makan. Pada umumnya, obat-obat yang
berkhasiat sebagai penghilang rasa sakit, atau disebut analgesik, mempunyai efek iritasi tersebut.
Obat-obat lain justru diberikan untuk mencegah iritasi akibat adanya makanan, contohnya ialah antasida. Untuk
obat jenis ini akan lebih diutamakan jika diminum sebelum makan. Ada pula obat yang dapat berinteraksi dengan
komponen-komponen dalam makanan yang beraneka ragam. Dan perlu anda ketahui, bahwa respon setiap
individu terhadap obat dapat sangat bervariasi. Kebiasaan hidup, pola makan, aktivitas sehari-hari adalah hal-hal
yang sangat berpengaruh terhadap kerja obat dalam tubuh.
Jadi, bagaimana dengan obat yang anda minum saat ini? Jika anda ragu-ragu dengan obat yang anda gunakan,
atau anda tidak tahu apa kandungan bahan aktifnya, bagaimana pengaruhnya dan efek samping apa yang
mungkin muncul setelah penggunaan, hendaknya anda tidak segan-segan untuk berkonsultasi pada dokter atau
apoteker anda. Bukankah takut bertanya, sesat dijalan? Jangan sampai anda tersesat saat menggunakan obat.
Yang perlu selalu diingat ialah bahwa puasa apapun jenisnya dan berapapun lamanya yang terpenting adalah
perlunya ada persiapan yang matang. Menjalankan puasa jangan merupakan hal yang dipaksakan, melainkan
suatu niat dan tekat untuk meraih suatu tujuan yang baik. (HPP)
Jika Harus Minum Obat Ketika Puasa

Kesehatan saat menjalankan ibadah puasa merupakan anugerah yang tak terkira
nilainya. Betapa banyak ibadah dengan janji pahala berlipat ganda yang bisa kita
lakukan jika kondisi tubuh kita prima. Namun bagaimana jika penyakit bertandang dan
tubuh kita dalam kondisi sebaliknya?
Puasa atau Tidak Puasa?
Orang yang sakit dibolehkan untuk berbuka puasa. Yang dimaksud sakit yang
diperbolehkan untuk berbuka adalah jika ada bukti medis (keterangan dari dokter-ed),
pengalaman atau ia yakin bahwa puasa akan memberi suatu madharat, dapat
memperparah penyakitnya atau memperlambat penyembuhannya, barulah ia
diperbolehkan tidak berpuasa. Namun seseorang yang menderita penyakit ringan
tetaplah harus berpuasa dengan tetap meminum obat sebagai sebab untuk
menghilangkan penyakitnya. Nah, bagaimana aturan minum obat ketika berpuasa?
Padahal seseorang bisa minum obat dari waktu berbuka hingga sahur. Pertama-tama,
kita kenali dulu aturan minum obat yang benar.
Salah Kaprah Aturan Minum Obat
Untuk mendapatkan efek obat yang optimal, kita harus minum obat dalam dosis yang
tepat dan waktu yang tepat. Contoh kasus yang sering terjadi adalah sebagai berikut:
Ibu Sofia sedang mengalami demam dan sakit kepala. Dokter memberinya penurun
panas dan penghilang rasa nyeri berupa parasetamol untuk diminum 3 kali sehari
sesudah makan. Ibu Sofia meminum obat tersebut sesudah sarapan jam 6.00, sesudah
makan siang jam 12.00 dan sesudah makan malam jam 18.00. Apa yang terjadi?
Demamnya bisa teratasi dan panasnya langsung turun. Namun sakit kepalanya masih
kambuh di malam hari walaupun sudah reda di siang hari. Hal ini disebabkan jarak
waktu minum obat yang tidak sama. Jaraknya terlalu panjang di malam hari. Sehingga
ketersediaan obat di dalam tubuh menurun dan tidak cukup untuk mengatasi sakit
kepala.
Tujuan obat diminum 2 atau 3 kali adalah untuk menjaga kadar obat dalam tubuh
berada dalam kisaran terapi yaitu kadar obat yang memberikan efek menyembuhkan.
Hal ini tergantung jenis dan sifat obat. Ada obat yang cepat dibuang dari tubuh sehingga
frekuensi minum obat menjadi sering. Ada juga obat yang lambat dibuang dari tubuh
sehingga frekuensi minum obat menjadi jarang. Kadar obat dapat terjaga stabil dalam
tubuh apabila diminum dalam jarak watu yang teratur. Misalnya obat yang diminum 3
kali sehari, maka obat tersebut diminum setiap 8 jam sedangkan obat yang diminum 2
kali sehari maka diminum setiap 12 jam.
Lalu, Mengapa Ada Obat yang Diminum Sebelum dan Sesudah Makan?
Obat merupakan senyawa kimia yang memiliki berbagai sifat dan efek. Ketika diminum,
obat akan melewati lambung dan kemudian masuk ke usus. Sebagian kecil obat diserap
di lambung dan sebagian besar diserap di usus. Obat pada umumnya dapat diserap
dengan baik apabila tidak terdapat gangguan di lambung dan usus misalnya berupa
makanan. Uniknya, ada juga obat-obat yang penyerapannya terbantu oleh makanan. Hal
inilah yang menentukan kapan sebaiknya obat diminum sebelum atau sesudah makan.
Nah, yang dimaksud sebelum makan adalah ketika kondisi perut kosong. Sedangkan
yang dimaksud setelah makan adalah sesaat sesudah makan, ketika perut masih berisi
makanan dan tidak boleh lewat dari 2 jam. Jika lebih dari 2 jam, makanan sudah diolah
dan diserap sehingga kondisinya bisa disamakan dengan sebelum makan.
Ada juga obat-obat yang mengiritasi lambung sehingga dapat menyebabkan tukak
lambung atau memperparah sakit maag, obat-obat tersebut diminum sesudah makan.
Contohnya adalah obat penghilang nyeri aspirin dan obat antiradang diklofenak dan
piroksikam.
Aturan Minum Obat Ketika Puasa
Selama bulan Ramadhan, pola makan dan minum akan berubah. Waktu yang leluasa
untuk minum obat berubah dari 24 jam menjadi hanya 10,5 jam.
Bagaimana cara kita meminum obat agar efek terapi menjadi optimal?
Tanyalah kepada dokter atau apoteker jika anda memiliki penyakit yang khusus
misalnya diabetes tentang petunjuk yang jelas mengenai waktu minum obat agar tidak
terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Karena umumnya pasien diabetes tidak boleh
menggunakan obat setelah sahur untu menghindari terjadinya hipoglikemia yaitu
penurunan kadar gula darah dalam tubuh.
Jika dokter memberikan obat dengan pemakaian 3 atau 4 kali sehari, tanyakan apakah
ada alternatif obat sejenis yang bisa diminum 1 atau 2 kali sehari.
Berikut ini adalah panduan umum minum obat ketika puasa:
Bila aturan pakai 1 kali sehari sebelum makan: Kita bebas memilih setelah
minum pembuka puasa (setengah jam sebelum makan berat) atau setengah jam
sebelum sahur. Yang penting pilihan waktu tersebut konsisten.
Bila aturan pakai 1 kali sehari setelah makan: Kita bebas memilih setelah
berbuka puasa atau saat sahur. Yang penting pilihan waktu tersebut konsisten.
Bila aturan pakai 2 kali sehari setelah makan: Minumlah obat setelah makan
berbuka puasa dan setelah makan sahur.
Bila aturan pakai 2 kali sehari sebelum makan: Minumlah obat setelah minum
berbuka puasa. Setengah jam sesudahnya barulah menikmati makanan berat. Minum
obat berikutnya minimal setengah jam sebelum makan sahur
Bila aturan pakainya 3 kali sehari setelah makan: Minumlah obat setelah makan
berbuka puasa, sebelum tidur (setelah menyantap sedikit makanan) dan setelah
makan sahur
Bila aturan pakai 3 kali sehari sebelum makan: Minumlah obat setelah minum
berbuka puasa lalu setengah jam sesudahnya barulah menikmati makanan berat.
Penggunaan ke dua saat hendak tidur, tapi perut jangan diisi makanan setengah jam
sebelumnya. Penggunaan obat ketiga minimal setengah jam sebelum makan sahur.
Informasi Beberapa Obat
1. Obat antihipertensi
Obat antihipertensi kini sudah banyak di formulasi untuk pemakaian sekali dalam sehari.
Jika dokter telah meresepkan antihipertensi semacam ini, lebih disarankan agar obat
diminum saat makan sahur sehingga obat tersebut dapat mengendalikan tekanan darah
selama beraktivitas di siang hari. Riset menunjukkan bahwa tekanan darah mencapai
angka paling tinggi pada pukul 9 11 pagi dan paling rendah pada malam hari setelah
tidur. Oleh karena itu, sebaiknya obat antihipertensi diminum pada pagi hari. Perlu hati-
hati jika obat anti hipertensi diminum malam hari karena mungkin terjadi penurunan
tekanan darah yang berlebihan pada saat tidur.
2. Obat maag
Jika dokter telah meresepkan obat yang hanya digunakan sekali dalam sehari,
misalnyaomeprazol atau lansoprazol, sebaiknya diminum pada malam hari sebelum
tidur. Sedangkan obat maag yang lazimnya diberikan sehari dua kali,
misalnya ranitidin ataufamotidin, maka hendaknya dipilih saat malam hari sebelum tidur
dan pada waktu makan sahur. Hal ini disebabkan asam lambung mencapai kadar paling
tinggi pada saat dini hari, sehingga sebaiknya diminum malam hari untuk mencegah
kenaikan asam lambung berlebihan.
3. Obat antidiabetes
Obat antidiabetes yang hanya cukup diminum satu kali dalam sehari,
misalnya glipizidsebaiknya digunakan pada saat berbuka puasa untuk mengontrol kadar
gula dalam darah, karena pada saat tersebut ada kecenderungan kadar gula dalam
darah akan meningkat berlebihan.
Namun apabila obat antidiabetes anda diresepkan dua kali dalam sehari, lebih
disarankan untuk diminum saat berbuka puasa dan malam hari sebelum
tidur. Hindari penggunaan obat-obat antidiabetes pada saat makan sahur agar tidak
terjadi keadaan hipoglikemia pada saat berpuasa pada siang harinya.
4. Obat penurun kolesterol
Obat penurun kolesterol paling baik diminum pada pukul 7-9 malam, karena
memberikan efek lebih baik.
5. Obat anti asma
Sebenarnya waktu yang baik meminum obat asma adalah pada pukul 3-4 sore. Hal ini
karena pada saat itu produksi steroid tubuh berkurang, dan mungkin akan menyebabkan
serangan asma pada malam hari. Karena itu, jika steroid dihirup sore hari , diharapkan
akan mencegah serangan asma pada malamnya. Obat yang penggunaannya dengan
cara dihirup boleh digunakan oleh orang yang berpuasa dan tidak membatalkan puasa.
6. Obat anemia
Waktu yang paling baik untuk meminum obat anemia adalah pukul 8 malam.
Penggunaan obat anemia seperti Fe glukonat atau Fe sulfat, dll memberikan efek 3-4
kali lebih baik pada waktu itu daripada jika diberikan pada siang hari.
Bagaimana Penggunaan Sediaan Obat yang Lain?
Mengenai obat intranasal (obat yang dihirup melalui hidung), Al-Lajnah Ad-Daimah Lil
Ifta(Lembaga Fatwa Saudi Arabia) menjelaskan bahwa obat penyakit pilek yang
digunakan dengan cara menghirup melalui hidung masuk ke tenggorokan lalu masuk ke
dalam paru-paru dan tidak menuju ke lambung maka hal ini tidak dinamakan makan
atau minum atau yang serupa dengan keduanya. Sehingga dengan alasan yang sama,
obat intranasal untuk penyakit lain juga tidak membatalkan puasa.
Sedangkan mengenai obat suntik, Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan suntikan pada
urat leher dan otot itu tidak membatalkan puasa. Yang membatalkan puasa khusus pada
jarum infus, yang berfungsi sebagai pengganti makanan. Beliau juga menjelaskan
bahwaobat tetes pada mata dan telinga tidak membatalkan puasa. Jika seseorang
mendapati rasa obat tetes itu pada tenggorokan, maka mengqadha` puasa adalah lebih
baik, tapi tidak diwajibkan. Karena mata dan telinga bukan tempat masuknya makanan
dan minuman.
Sedangkan obat tetes pada hidung tidak boleh digunakan orang yang berpuasa, karena
hidung termasuk tempat masuknya makanan dan minuman. Karena itulah
Rasulullahshallallahu alaihi wa sallam bersabda mengenai tata cara berwudhu yang
artinya,
Dan bersungguh-sungguhlah saat menarik air ke dalam hidung, kecuali jika kamu
berpuasa. (Hadits shahih riwayat Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad )
Jadi, siapa pun yang meneteskan obat ke dalam hidung, maka ia wajib mengqadha`
puasa sesuai hadits di atas. Dan apa pun yang serupa dengan obat tetes pada hidung,
jika seseorang mendapati rasanya dalam tenggorokan, maka ia wajib mengqadha` pula.
Untuk obat yang dimasukkan melalui anus, yang lebih kita kenal dengan suppositoria,
beliau menjelaskan bahwa hukum memberikan suntikan di anus bagi orang berpuasa
adalah tidak mengapa karena menyuntikkan sesuatu di anus sama sekali tidak
menyerupai makan dan minum.
Mengenai oksigen dan obat yang disemprotkan melalui mulut bagi penderita asma,
Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadii menjelaskan bahwa penggunaan oksigen bagi penderita
asma tidak membatalkan puasa karena tidak termasuk makanan dan minuman.
Sementara Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan hukum menggunakan obat yang
disemprotkan melalui mulut untuk asma atau penyakit lain adalah mubah (dibolehkan)
jika ia terpaksa dan harus menggunakannya, ini sesuai dengan firman Allah yang
berbunyi,
Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya
atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. (QS. Al-An`am: 119)
Juga karena penyemprot mulut itu tidak sama dengan makan dan minum, tapi ia lebih
menyerupai dengan mengambil darah untuk diperiksa di lab, atau suntikan yang bukan
infus, yaitu yang bukan menyalurkan makanan atau semisalnya. Jadi ia tetap
diperbolehkan.
Wallahu mustaan. Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita ketika menjalankan puasa.
Penulis: Mutia Nova Abidin, S. Farm, Apt. (Ummu Sofia)
Sudah Tepatkah Penggunaan Antibiotik Pada
Buah Hati Kita?

Beragamnya penyakit infeksi pada anak telah membuat kebanyakan ibu khawatir dan
panik ketika buah hatinya sakit. Bahkan tidak sedikit yang selalu membawa anaknya
berobat ke dokter meski hanya penyakit ringan. Rasanya tidak puas jika dokter tidak
memberi obat apapun dan hanya memberikan edukasi tentang penyakit dan perawatan
anaknya yang sedang sakit. Tidak peduli apakah penyebabnya virus atau bakteri,
kebanyakan ibu akan lebih tenang ketika dokter meresepkan antibiotik untuk anaknya.
Padahal, penggunaan antibiotik yang tidak tepat bukan hanya menghamburkan uang,
namun juga akan berdampak buruk pada kesehatan buah hati kita. Di zaman yang serba
modern seperti sekarang ini, orangtua dituntut untuk pro aktif dan kritis dengan
pengobatan yang diberikan dokter untuk buah hatinya. Salah satunya adalah ketika
dokter meresepkan antibiotik. Sebagai orangtua, kita perlu memastikan, sudah tepatkah
penggunaan antibiotik pada buah hati kita?
Mengenal Antibiotik
Antibiotik merupakan substansi yang dihasilkan oleh mikroorganisme, yang dalam
konsentrasi rendah mampu menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme
lain. Antibiotik adalah obat yang digunakan dalam penanganan pasien yang terbukti atau
diduga mengalami infeksi bakteri dan terkadang juga digunakan untuk mencegah infeksi
bakteri pada keadaan khusus. Penggunaan antibiotik tidak boleh sembarangan dan
hanya bisa didapatkan dengan resep dokter, karena penggunaan yang tidak sesuai
indikasi justru akan menyebabkan resistensi (kebal) obat.
Seperti Apakah Penggunaan Antibiotik yang Tidak Tepat?
Pemakaian antibiotik yang tidak berdasarkan ketentuan (petunjuk dokter) menyebabkan
tidak efektifnya obat tersebut sehingga kemampuan membunuh kuman berkurang atau
bahkan menimbulkan resistensi. Ketidaktepatan penggunaan antibiotik terjadi dalam
situasi klinis yang sangat bervariasi, meliputi :
Pemberian antibiotik pada keadaan tanpa adanya infeksi bakteri.
Pemilihan antibiotik yang salah atau tidak sesuai diagnosis.
Dosis yang tidak tepat atau berlebihan.
Lama penggunaan antibiotik yang tidak tepat.
Penggunaan obat antibiotik suntik yang berlebihan pada penyakit yang dapat
disembuhkan dengan obat yang ditelan (oral).
Pengobatan sendiri oleh pasien dengan cara mengonsumsi antibiotik yang seharusnya
diresepkan oleh dokter.
Penggunaan antibiotik berlebih untuk profilaksis (pencegahan) pada pembedahan
bersih, khususnya pemberian antibiotik yang berlangsung lebih lama dari waktu yang
direkomendasikan (kurang dari 24 jam pasca operasi).
Keadaan ini antara lain disebabkan oleh berbagai faktor seperti pengetahuan dokter
yang kurang, pengalaman masa lalu atau contoh dari kolega senior, harapan dan
permintaan pasien, promosi industri farmasi, dan mudahnya pasien membeli antibiotik
tanpa resep dokter.
Bahaya Penggunaan Antibiotik yang Tidak Tepat
Penggunaan antibiotik pada anak memerlukan perhatian khusus. Mengapa demikian?
Bayi dan anak berisiko paling sering mendapatkan antibiotik, karena daya tahan
tubuhnya yang lebih rentan sehingga lebih sering sakit. Padahal, seperti halnya obat
pada umumnya, antibiotik memiliki efek samping yang bisa muncul jika penggunaannya
tidak tepat.
Efek samping yang sering terjadi pada penggunaan antibiotik adalah gangguan beberapa
organ tubuh. Terlebih lagi bila diberikan kepada bayi dan anak-anak, karena sistem
tubuh dan fungsi organ pada bayi dan anak-anak masih belum tumbuh sempurna.
Gangguan organ tubuh yang bisa terjadi adalah gangguan saluran cerna, gangguan
ginjal, gangguan fungsi hati, gangguan sumsum tulang, gangguan darah dan
sebagainya.
Akibat lainnya adalah reaksi alergi karena obat. Gangguan tersebut mulai dari yang
ringan seperti ruam, gatal sampai dengan yang berat seperti pembengkakan bibir atau
kelopak mata, sesak, hingga dapat mengancam jiwa atau reaksi anafilaksis.
Pemakaian antibiotik berlebihan atau irasional juga dapat membunuh kuman yang baik
dan berguna yang ada didalam tubuh kita. Sehingga tempat yang semula ditempati oleh
bakteri baik ini akan diisi oleh bakteri jahat atau oleh jamur atau
disebut superinfection. Pemberian antibiotik yang berlebihan akan menyebabkan
bakteri-bakteri yang tidak terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kuman yang
resisten atau disebut superbugs.
Penggunaan antibiotik yang irasional menyebabkan bakteri yang awalnya dapat diobati
dengan mudah menggunakan jenis antibiotik ringan akan bermutasi dan menjadi kebal,
sehingga memerlukan jenis antibiotik yang lebih kuat. Bila bakteri ini menyebar ke
lingkungan sekitar, suatu saat akan tercipta kondisi dimana tidak ada lagi jenis antibiotik
yang dapat membunuh bakteri yang terus menerus bermutasi ini.
Makin Dini, Makin Berisiko
Sebagian besar kasus penyakit infeksi pada anak disebabkan oleh virus. Penyakit virus
adalah penyakit yang termasuk self limiting disease atau penyakit yang sembuh sendiri
dalam waktu 5 sampai 7 hari (dengan ijin Allah -red). Sebagian besar penyakit infeksi
diare, batuk, pilek dan panas disebabkan oleh virus. Secara umum, setiap anak akan
mengalami 2 hingga 9 kali penyakit saluran napas karena virus.
Sebuah publikasi dalam Journal Watch Pediatrics and Adolescent Medicine tanggal 18 Juli
2007 melaporkan suatu hasil penelitian population based, dimana dilakukan penelitian
longitudinal yang terhadap 13.116 anak di Kanada yang lahir pada tahun 1995 dan
mendapat pengobatan dengan antibiotik dalam tahun pertama kehidupan untuk
mempelajari faktor-faktor resiko terjadinya asma pada anak. Anak yang didiagnosis
menderita asma dalam tahun pertama kehidupan dikeluarkan dari penelitian. Ternyata
65 % anak mendapat antibiotik dan terbanyak adalah antibiotik berspektrum luas.
Anak yang mendapat antibiotik untuk penyakit infeksi bukan saluran nafas ternyata
mempunyai resiko menderita asma dua kali lebih besar pada usia 7 tahun dibandingkan
yang tidak mendapat antibiotik.
Penelitian ini mengkonfirmasikan hasil penelitian sebelumnya bahwa penggunaan
antibiotik yang terlalu dini pada anak (usia kurang dari 1 tahun) terutama antibiotik
yang berspektrum luas, meningkatkan resiko terjadinya asma pada anak. Sehingga
dianjurkan untuk tidak memberi antibiotik terutama yang bersektrum luas kepada anak
usia kurang dari 1 tahun apabila tidak sangat diperlukan.
Kapan Anak Memerlukan Antibiotik?
Indikasi yang tepat dan benar dalam penggunaan antibiotik pada anak adalah bila
penyebab infeksi tersebut adalah bakteri. Menurut CDC (Centers for Disease Control and
Prevention), indikasi pemberian antibiotik adalah :
Batuk dan pilek yang terjadi sepanjang hari (bukan hanya pada malam hari dan pagi
hari) yang berkelanjutan selama lebih dari 10-14 hari dan disertai dengan cairan
hidung mukopurulen (kuning atau hijau). Bila batuk dan pilek yang berkelanjutan
terjadi hanya pada malam hari dan pagi hari (bukan sepanjang hari) biasanya
berkaitan dengan alergi atau bukan lagi dalam fase infeksi, sehingga tidak perlu
antibiotik.
Bila terdapat gejala infeksi sinusitis akut yang berat seperti panas > 39 C dengan
cairan hidung purulen (kental), nyeri, bengkak di sekitar mata dan wajah.
Radang tenggorokan karena infeksi kuman streptokokus. Penyakit ini pada umumnya
menyerang anak berusia 7 tahun atau lebih. Pada anak usia 4 tahun hanya 15% yang
mengalami radang tenggorokan karena kuman ini. Untuk mengetahui apakah ada
infeksi bakteri biasanya dengan melakukan kultur (pembiakan bakteri) yang
membutuhkan beberapa hari untuk observasi.
Infeksi saluran kemih. Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan
melakukan kultur urin. Setelah beberapa hari akan diketahui bila ada infeksi bakteri
berikut jenis dan sensitivitas terhadap antibiotik.
Penyakit tifus. Selain dari anamnesis (wawancara) dan pemeriksaan fisik, untuk
mengetahui penyakit tifus perlu dilakukan pemeriksaan darah Widal dan kultur darah
gaal.
Gunakan Antibiotik Secara Tepat
Berikut ini beberapa tips penggunaan antibiotik yang benar, sebagai pedoman para
orangtua dalam memberikan antibiotik pada anaknya :
Memberikan antibiotik pada anak hanya dengan resep dokter, yaitu dengan dosis dan
jangka waktu sesuai resep.
Menanyakan pada dokter, obat mana yang mengandung antibiotik.
Tidak menggunakan atau membeli antibiotik berdasarkan resep sebelumnya. Karena
salah menggunakan antibiotik menyebabkan obat menjadi tidak efektif lagi dan
bahkan bisa menimbulkan resisten (kebal) obat.
Pilek, batuk, dan diare pada anak umumnya tidak memerlukan antibiotik. Usahakan
agar anak banyak minum, cukup makan makanan bergizi, dan istirahat. Jika demam
lebih dari 3 hari periksakan anak ke dokter.
***
muslimah.or.id
Penulis : dr. Avie Andriyani Ummu Shofiyyah
Referensi :
Endang Dewi Lestari (editor). Buku Simposium and Workshop Pediatric Update,
Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan I. Bagian Ilmu Kesehatan Anak UNS/RSUD Dr.
Moewardi Surakarta. Tahun 2011.
James Chin, MD, MPH (editor). Buku Manual Pemberantasan Penyakit Menular Edisi
17. Tahun 2000. Penerbit American Public Health Association.
Kementrian Kesehatan RI. Buku Panduan Gunakan Antibitik Secara Tepat Untuk
Mencegah Kekebalan Obat. Tahun 2011.
Prof. Iwan Dwiprahasto, Evidence Based Medicine Guide to Antibiotic Use.
BukuClinical Updates, Practicing Current Issues in Medicine. Tahun 2010. Penerbit
Cendekia Press, Yogyakarta.
Sumarmo S, Buku Infeksi dan Penyakit Tropis Edisi 1, Tahun 2002, Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
www.depkes.go.id
www.idai.or.id
Gatal-Gatal Pada Buah Hati

Tidak jarang kita dapati munculnya bintik atau bentol di kulit buah hati kita. Bintik dan
bentol inipun kadang menimbulkan buah hati kita tidak nyaman karena terrasa gatal.
Bintik dan bentol yang terasa gatal ini ada beberapa penyebabnya, antara lain karena
biang keringat (milliaria), biduran atau kaligata (urtikaria), eksim pada bayi (dermatitis
atopic) dan bisa karena infeksi baik infeksi jamur, virus, bakteri atau parasit.
Biang keringat (milliaria)
Biang ketingat merupakan keadaan tertutupnya pori-pori keringat sehingga
menimbulkanretensi (penumpukan) keringat di dalam kulit. Anak-anak lebih banyak
mengalami milliariadibanding dengan orang dewasa, hal ini dikarenakan pada anak-anak
struktur saluran keringatnya belum terlalu kuat. Milliaria ini ada beberapa jenis dan
tidak semua milliariamenimbulkan gatal.
Milliaria kristalina yaitu biang keringat yang ditandai bintik-bintik kecil, jernih seperti
kristal dengan diameter 1-2mm, menyerupai titik-titik air pada kulit dan tidak
kemerahan, merupakan jenis milliaria yang tidak menimbulkan gatal. Milliaria ini sering
ditemukan di daerah ketiak, leher, badan dan mudah pecah karena gesekan ringan.
Milliaria rubra yaitu biang keringat yang menimbulkan rasa gatal dan kemerahan,
ditandai dengan tonjolan di kulit dengan dasar kemerahan. Milliaria ini ditemukan di
permukaan kulit yang istirahat terutama pada punggung dan leher, dan tidak mengenai
muka. Rasa gatal dan kadang rasa panas seperti terbakar biasanya timbul bersamaan
dengan rangsang yang menimbulkan keringat. Milliaria ini bisa menyebabkan demam
tinggi bila mengenai daerah yang luas dan berat.
Kunci pengobatan milliaria adalah menempatkan penderita di dalam lingkungan yang
dingin, sehingga keringat bisa berkurang. Sumbatan keratin yang menutupi lubang
keringat akan berangsur lepas beberapa hari sampai 2 minggu. AC/ pendingin/ ruang
yang teduh bisa memberi pencegahan pada permulaan milliaria. Obat-obatan yang
dioles seperti salep tidak begitu efektif dan kadang-kadang bisa menambah
banyaknya milliaria.
Beberapa obat lokal yang bisa diberikan untuk menghilangkan sumbatan, misalnya talk
untuk bayi dan tepung kanji. Pemberian vitamin C dapat diberikan untuk mencegah atau
mengurangi timbulnya milliaria.
Biduran atau kaligata (urtikaria)
Biduran merupakan reaksi pada kulit yang timbul mendadak yaitu tampak bentol-bentol
berbatas tegas, berwarna merah dan gatal. Bentol dapat berwarna putih di tengah yang
dikelilingi warna merah. Warna merah bila ditekan akan memutih. Bentol-bentol ini
mempunyai ukuran yang bervariasi dari diameter beberapa millimeter sampai beberapa
sentimeter. Urtikaria dapat berlangsung secara singkat/akut (beberapa jam sampai
beberapa hari), lama/kronik (berlangsung lebih dari 6 minggu) atau berulang/kambuh-
kambuhan.
Urtikaria (biduran) bisa disebabkan karena reaksi alergi pada kulit dan non alergi. Yang
disebabkan karena reaksi alergi bisa berasal dari lingkungan (debu rumah, tungau debu
rumah, tepung sari tumbuh-tumbuhan, bulu binatang) dan dari makanan/obat-
obatan/bahan kimia (bahan penyedap, pengawet dan zat pewarna). Sedangkan yang
non alergi bisa disebabkan karena cahaya, dingin, panas dan bisa karena latihan
jasmani.
Pengobatan urtikaria yang paling baik adalah mencari dan menghilangkan penyebab.
Apabila penyebabnya tidak diketahui, hendaknya dihindari faktor-faktor yang
memperburuk. Sedangkan obat-obatan yang bisa diberikan adalah
agen simpatomimetik,antihistamin dan kortikosteroid.
Eksim pada bayi (dermatitis atopic)
Eksim pada bayi merupakan bentuk eksim yang paling sering dijumpai pada bayi dan
anak yang ditandai dengan adanya bintik dan bentol kemerahan yang tampak basah
atau bisa juga kulit tampak kering, dan terasa gatal di daerah muka, lipatan kulit sepert
di lipatan siku dan lipatan paha, dan sering ada riwayat atopi (alergi) pada dirinya atau
keluarganya seperti asma atau rinokonjungtivitis (radang pada hidung dan konjungtiva
mata).
Ada banyak faktor penyebab dari eksim (dermatitis atopic) ini diantaranya faktor genetik
(keturunan) dan faktor immunologik (alergi). Bisa sembuh seiring bertambahnya usia,
tetapi dapat pula menetap bahkan meluas dan memberat sampai usia dewasa, karena
perjalanan penyakit ini sulit diperkirakan.
Untuk penatalaksanaannya adalah dengan mengenali dan menghindari faktor pencetus
seperti dari makanan (susu, soya, telur, gandum, ikan, udang, ayam, coklat). Hindari
rangsangan pada kulit seperti tidak boleh menggaruk setelah mandi, memakai pakaian
dalam yang lembut, hindari pakaian dari bahan wol, sabun yang digunakan sebaiknya
pH 7 dan jangan yang bersifat alkalis. Untuk eksim yang tampak kering maka gunakan
pelembab kulit. Untuk pengobatannya biasa diberikan kortikosteroid baik yang dioles di
kulit (seperti hydrokortison salep) atau diminum.
Infeksi (jamur, virus, bakteri atau parasit)
Gatal karena jamur
Infeksi jamur kulit cukup banyak ditemukan di Indonesia, yang merupakan negara tropis
beriklim panas dan lembab, apalagi bila higienenya kuarang sempurna. Ada bermacam-
macam jenis infeksi jamur ini, ada yang menginfeksi daerah kepala (tinea kapitis),
badan ( lipatan paha, alat kelamin, anus, perut dan pantat) biasa disebut tinea kruris,
tangan dan kaki daerah telapak dan punggung serta jari jarinya (tinea manus et pedis),
kuku (tinea unguinum) dan ada pula yang berupa bercak putih sampai
coklat/merah/hitam dan bersisik halus yang sering ditemukan di badan (ptiriasis
versikolor atau panu) .
Untuk mengatasinya maka jagalah selalu kebersihan tubuh, misalnya dengan mandi
minimal 2 kali sehari atau segera mengganti baju dan celana buah hati kita tatkala
dirasa kulitnya lembab dan berkeringat karena tempat yang lembab akan memudahkan
tumbuhnya jamur. Pengobatan yang diberikan biasanya dengan diberikan salep anti
jamur seperti mikonazole dan obat telan seperti ketokonazole tablet atau griseovulfin.
Gatal karena virus dan bakteri
Gatal pada jenis ini terkadang disertai dengan demam. Virus dan bakteri adalah kuman
yang berbeda. Jika penyebabnya virus maka tidak membutuhkan antibiotik, sedangkan
jika penyebabnya bakteri maka memerlukan antibiotik.
Contoh penyakit kulit gatal yang disebabkan virus adalah varicella (cacar air), herpes,
HFMD (Hand Foot Mouth Disease yaitu penyakit yang mengenai tangan kaki dan mulut.)
Contoh penyakit kulit gatal yang disebabkan bakteri adalah impetigo (cacar api/cacar
monyet). Akibat impetigo, kulit menjadi gatal, melepuh berisi cairan, dan jadi
kemerahan. Bakteri biasanya masuk ke kulit karena gigitan serangga, luka, atau
goresan. Kebersihan sangat penting bagi orang yang mengalami impetigo.
Gatal karena parasit
Parasit yang bisa menyebabkan gatal misalnya larva cacing tambang anjing dan kucing
yang banyak ditemui di tanah lembab yang telah terkontaminasi dengan kotoran anjing,
kucing, sapi. Larva ini menyebabkan penyakit ruam menjalar (creeping
eruption ataucutaneous larva migrans) yang ditandai dengan lesi yang berkelok-kelok
dengan lebar sekitar 3mm berwarna seperti daging atau merah muda.
Contoh lainnya adalah Sarcoptes scabei (tungau, kutu) yang menyebabkan
penyakitscabies (gudikan=budukan=kudis). Penyakit ini cepat menular dan
menimbulkan rasa gatal terutama di malam hari. Gejala penyakit ini adalah munculnya
gelembung berair pada kulit, warna merah, iritasi dan rasa gatal pada kulit yang
umumnya muncul di sela-sela jari, telapak tangan dan telapak kaki, siku, selangkangan,
dan lipatan paha. Gejala lain adalah munculnya garis halus yang berwarna kemerahan di
bawah kulit yang merupakan terowongan yang digali Sarcoptes betina..
Setelah diketahui beberapa penyebab gatal pada buah hati kita, maka diharapkan para
ummahat/ibunda dapat menanganinya secara tepat dan bijaksana. Karena keluhan yang
sama yaitu gatal menunjukkan penyakit dan penanganan yang berbeda-beda.
***
artikel muslimah.or.id
Penulis: dr.Anaviati Ummu Salma
Sumber:
Prof.dr.Marwali Harahap, Buku Ilmu Penyakit Kulit, tahun 2000, penerbit Hipokrates,
Jakarta
Standar Pelayanan Medis RSUP DR.SARDJITO edisi 2 cetakan I, tahun 2000
Manajemen Farmasi Apotik

PENDAHULUAN

Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan dalam membantu mewujudkan
tercapainya derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Pelayanan kesehatan adalah setiap
upaya yang diselenggarakan secara sendirisendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta
memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan atau masyarakat.
Selain itu juga sebagai salah satu tempat pengabdian dan praktek profesi apoteker dalam
melaksanakan pekerjaan kefarmasiaan. Apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan
pekerjaan kefarmasian dan penyaluran perbekalan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada
masyarakat. Definisi diatas ditetapkan berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan RI No.
1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek pasal 1 ayat (a).
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Apotek, apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus pendidikan
profesi dan telah mengucapkan sumpah berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan
berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesa sebagai Apoteker. Adapun Asisten Apoteker
adalah tenaga kesehatan yang membantu Apoteker. Asisten Apoteker menurut Keputusan Menteri
Kesehatan RI No. 679/MENKES/SK/V/2003 Pasal 1, tentang Registrasi dan Izin Kerja Asisten Apoteker
menyebutkan bahwa Asisten Apoteker adalah Tenaga Kesehatan yang berijasah Sekolah Menengah
Farmasi, Akademi Farmasi Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan, Akademi Analisis Farmasi dan
Makanan Jurusan Analis Farmasi dan Makanan Politeknik Kesehatan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Di Apotek, Asisten Apoteker merupakan salah satu tenaga kefarmasian yang bekerja di
bawah pengawasan seorang Apoteker yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek). Apoteker Pengelola
Apotek (APA) merupakan orang yang bertanggung jawab di Apotek dalam melakukan pekerjaan
kefarmasian. Pelayanan kefarmasian yang dilakukan oleh Apoteker dan Asisten Apoteker di apotek
haruslah sesuai dengan standar profesi yang dimilikinya. Karena Apoteker dan Asisten Apoteker
dituntut oleh masyarakat pengguna obat (pasien) untuk bersikap secara professional.
Kewajiban Asisten Apoteker Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
1332/MENKES/X?2002 adalah melayani resep dokter sesuai dengan tanggung jawab dan
standar profesinya yang dilandasi pada kepentingan masyarakat serta melayani penjualan obat
yang dapat dibeli tanpa resep dokter, serta memberi informasi kepada pasien. Surat Izin Kerja
Asisten Apoteker, dalam Pasal 1 KEPMENKES yaitu bukti tertulis yang diberikan kepada
Pemegang Surat Izin Asisten Apoteker (SIAA) untuk melakukan pekerjaan kefarmasian
di sarana kefarmasian. Dengan begitu, jelas bahwa hanya Asisten Apoteker yang telah memiliki
Surat Izin Asisten Apoteker sajalah yang dapat mengajukan permohonan perolehan Surat Izin
Kerja Asisten Apoteker. Dan juga, hanya Asisten Apoteker yang memiliki Surat Izin Kerja Asisten
Apoteker sajalah yang dapat melakukan pekerjaan kefarmasian seperti pengadaan,
penyimpanan dan distribusi obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta
pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional, baik itu dibawah pengawasan Apoteker,
tenaga kesehatan atau dilakukan secara mandiri sesuai peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Sebagai contoh, pada toko obat berizin, puskesmas atau Pedagang Besar Farmasi
(PBF) dimana seorang Asisten Apoteker dapat melakukan pekerjaan kefarmasian tanpa
pengawasan.Oleh sebab itu, seorang Asisten Apoteker harus memiliki Surat Izin Kerja Asisten
Apoteker, baru dapat melakukan perkerjaan kefarmasian.
A. Pengertian Apotek
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Kepmenkes RI) No.
1332/MENKES/SK/X/2002, tentang Perubahan atas Peraturan MenKes RI No.
922/MENKES/PER/X/1993 mengenai Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, yang
dimaksud dengan apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian
penyaluran perbekalan farmasi kepada masyarakat.
Tugas dan Fungsi apotek

Tugas dan Fungsi Apotek berdasarkan Peraturan Pemerintah No.25 tahun 1980, tugas dan fungsi
apotek adalah sebagai berikut:
Tempat pengabdian profesi apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan.
Sarana farmasi yang telah melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, dan
penyerahan obat atau bahan obat.
Sarana penyaluran perbekalan farmasi yang harus menyalurkan obat yang diperlukan masyarakat
secara luas dan merata.
Sebagai sarana pelayanan informasi obat dan perbekalan farmasi lainnya kepada masyarakat.
Landasan Hukum Apotek
Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang diatur dalam:
1. Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
2. Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika.
3. Undang-Undang No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika.
4. Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 1980 tentang Perubahan atas PP No. 26 tahun 1965 mengenai
Apotek.
5. Peraturan Pemerintah No 41 tahun 1990 tentang Masa Bakti dan Izin kerja Apoteker, yang
disempurnakan dengan Peraturan Menteri kesehatan No. 184/MENKES/PER/II/1995.
6. Peraturan Menteri Kesehatan No. 695/MENKES/PER/VI/2007 tentang perubahan kedua atas
Peraturan Menteri Kesehatan No. 184 tahun 1995 tentang penyempurnaan pelaksanaan masa bakti
dan izin kerja apoteker.
7. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan
Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata
Cara Pemberian Izin Apotek.
8. Keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia No. 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Apotek.
B. Manajemen Apotek
Manajemen Apotek, adalah manajemen farmasi yang diterapkan di apotek. Sekecil apapun
suatu apotek, sistem manajemEnnya akan terdiri atas setidaknya beberapa tipe manajemen, yaitu :
1. Manajemen keuangan
2. Manajemen pembelian
3. Manajemen penjualan
4. Manajemen Persediaan barang
5. Manajemen pemasaran
6. Manajemen khusus
Manajemen keuangan tentunya berkaitan dengan pengelolaan keuangan, keluar masuknya
uang, penerimaan, pengeluaran, dan perhitungan farmako ekonominya.
Manajemen pembelian meliputi pengelolaan defekta, pengelolaan vendor, pemilihan item
barang yang harus dibeli dengan memperhatikan FIFO dan FEFO, kinetika arus barang, serta pola
epidemiologi masyarakat sekitar apotek.
Manajemen penjualan meliputi pengelolaan penjualan tunai, kredit, kontraktor.
Manajemen persediaan barang meliputi pengelolaan gudang, persediaan bahan racikan,
kinetika aarus barang. Manajemen persediaan barang berhubungan langsung dengan manajemen
pembelian.
Manajemen pemasaran , berkaitan dengan pengelolaan dan teknik pemasaran untuk meraih
pelanggan sebanyak-banyaknya. Manajemen pemasaran ini tampak padaapotek modern, tetapi
jarang diterapkan pada apotek-apotek konvensional.
Manajemen khusus, merupakan manajemen khas yang diterapkan apotek sesuai dengan
kekhasannya, contohnya pengelolaan untuk apotek yang dilengkapi dengan laboratorium klinik,
apotek dengan swalayan, dan apotek yang bekerjasama dengan balai pengobatan, dan lain-lain.
Prosedur Pendirian Apotek
Menurut KepMenKes RI No.1332/Menkes/SK/X/2002, disebutkan bahwa persyaratan-persyaratan
apotek adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendapatkan izin apotek, apoteker atau apoteker yang bekerjasama dengan pemilik sarana
yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat, perlengkapan termasuk sediaan
farmasi dan perbekalan farmasi yang lain yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain.
2. Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan pelayanan komoditi yang lain di luar
sediaan farmasi.
3. Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi yang lain di luar sediaan farmasi.Beberapa
persyaratan yang harus diperhatikan dalam pendirian apotek adalah:
Lokasi dan Tempat
Jarak antara apotek tidak lagi dipersyaratkan, namun sebaiknya tetap mempertimbangkan segi
penyebaran dan pemerataan pelayanan kesehatan, jumlah penduduk, dan kemampuan daya beli
penduduk di sekitar lokasi apotek, kesehatan lingkungan, keamanan dan mudah dijangkau
masyarakat dengan kendaraan.
Bangunan dan Kelengkapan
Bangunan apotek harus mempunyai luas dan memenuhi persyaratan yang cukup, serta memenuhi
persyaratan teknis sehingga dapat menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi apotek serta
memelihara mutu perbekalan kesehatan di bidang farmasi.
Bangunan apotek sekurang-kurangnya terdiri dari :
4. Ruang tunggu, ruang administrasi dan ruang kerja apoteker, ruang penyimpanan obat, ruang
peracikan dan penyerahan obat, tempat pencucian obat, kamar mandi dan toilet.
5. Bangunan apotek juga harus dilengkapi dengan : Sumber air yang memenuhi syarat kesehatan,
penerangan yang baik, Alat pemadam kebakaran yang befungsi baik, Ventilasi dan sistem sanitasi
yang baik dan memenuhi syarat higienis, Papan nama yang memuat nama apotek, nama APA, nomor
SIA, alamat apotek, nomor telepon apotek.
Perlengkapan Apotek
Apotek harus memiliki perlengkapan, antara lain:
1. Alat pembuangan, pengolahan dan peracikan seperti timbangan, mortir, gelas ukur dll. Perlengkapan
dan alat penyimpanan, dan perbekalan farmasi, seperti lemari obat dan lemari pendingin.
2. Wadah pengemas dan pembungkus, etiket dan plastik pengemas.
3. Tempat penyimpanan khusus narkotika, psikotropika dan bahan beracun.
4. Buku standar Farmakope Indonesia, ISO, MIMS, DPHO, serta kumpulan peraturan per-UU yang
berhubungan dengan apotek.
5. Alat administrasi, seperti blanko pesanan obat, faktur, kwitansi, salinan resep dan lain-lain.
Prosedur perizinan apotek
Untuk mendapatkan izin apotek, APA atau apoteker pengelola apotek yang bekerjasama dengan
pemilik sarana harus siap dengan tempat, perlengkapan, termasuk sediaan farmasi dan perbekalan
lainnya. Surat izin apotek (SIA) adalah surat yang diberikan Menteri Kesehatan RI kepada apoteker
atau apoteker bekerjasama dengan pemilik sarana untuk membuka apotek di suatu tempat tertentu.
Wewenang pemberian SIA dilimpahkan oleh Menteri Kesehatan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota wajib melaporkan pelaksanaan
pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin, dan pencabutan izin apotek sekali setahun kepada
Menteri Kesehatan dan tembusan disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi.

Sesuai dengan Keputusan MenKes RI No.1332/MenKes/SK/X/2002 Pasal 7 dan 9 tentang Ketentuan
dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, yaitu:
1. Permohonan izin apotek diajukan kepada Kepala Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 hari setelah menerima permohonan dapat
meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM untuk melakukan pemeriksaan setempat
terhadap kesiapan apotek untuk melakukan kegiatan.
2. Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambat-lambatnya 6 hari kerja
setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan hasil
pemeriksaan.
3. Dalam hal pemerikasaan dalam ayat (2) dan (3) tidak dilaksanakan, apoteker pemohon dapat
membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala Kantor Dinas Kesehatan
setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Propinsi.
4. Dalam jangka 12 hari kerja setelah diterima laporan pemeriksaan sebagaimana ayat (3) atau
persyaratan ayat (4), Kepala Dinas Kesehatan setempat mengeluarkan surat izin apotek.
5. Dalam hasil pemerikasaan tim Dinas Kesehatan setempat atau Kepala Balai POM dimaksud (3) masih
belum memenuhi syarat Kepala Dinas Kesehatan setempat dalam waktu 12 hari kerja mengeluarkan
surat penundaan.
6. Terhadap surat penundaan sesuai dengan ayat (6), apoteker diberikan kesempatan untuk
melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam waktu satu bulan sejak
tanggal surat penundaan.
7. Terhadap permohonan izin apotek bila tidak memenuhi persyaratan sesuai pasal (5) dan atau pasal
(6), atau lokasi apotek tidak sesuai dengan permohonan, maka Kepala Dinas Kesehatan Dinas
setempat dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 hari kerja wajib mengeluarkan surat
penolakan disertai dengan alasan-alasannya.
Pelayanan Apotek
1. Pelayanan Resep
1. Skrining Resep Apoteker melakukan skrining resep meliputi :
- Persyaratan Administratif :
Nama, SIP dan alamat dokter
Tanggal penulisan resep
Tanda tangan/paraf dokter penulis resep
Nama, alamat, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien
Cara pemakaian yang jelas
Informasi lainnya
- Kesesuaian farmasetik : bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama
pemberian
- Pertimbangan klinis : adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat
dan lain lain). Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter penulis
resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya bila perlumenggunakan
persetujuan setelah pemberitahuan.
2. Penyiapan obat.
- Peracikan merupakan kegiatan menyiapkan menimbang, mencampur, mengemas dan memberikan
etiket pada wadah. Dalam melaksanakan peracikan obat harus dibuat suatu prosedur tetap dengan
memperhatikan dosis, jenis dan jumlah obat serta penulisan etiket yang benar.
- Etiket harus jelas dan dapat dibaca.
- Kemasan obat yang diserahkan hendaknya dikemas dengan rapi dalam kemasan yang cocok
sehingga terjaga kualitasnya.
- Penyerahan Obat. Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir
terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai
pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien.
- Informasi Obat. Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah dimengerti,
akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya
meliputi: cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta
makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi.
- Konseling. Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan
perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang
bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan obat yang salah. Untuk
penderita penyakit tertentu seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asma dan penyakit kronis lainnya,
apoteker harus memberikan konseling secara berkelanjutan.
- Monitoring Penggunaan Obat. Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus
melaksanakan pemantauan penggunaan obat, terutama untuk pasien tertentu seperti
kardiovaskular, diabetes, TBC, asma, dan penyakit kronis lainnya.
- Promosi dan Edukasi. Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, apoteker harus memberikan
edukasi apabila masyarakat ingin mengobati diri sendiri (swamedikasi) untuk penyakit ringan dengan
memilihkan obat yang sesuai dan apoteker harus berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan
edukasi. Apoteker ikut membantu diseminasi informasi, antara lain dengan penyebaran leaflet
/brosur, poster, penyuluhan, dan lain lainnya.
2. Pelayanan Residensial (Home Care). Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan
pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia dan
pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untuk aktivitas ini apoteker harus membuat
catatan berupa catatan pengobatan (medication record).
EVALUASI MUTU PELAYANAN
Indikator yang digunakan untuk mengevaluasi mutu pelayanan adalah:
1. Tingkat kepuasan konsumen dilakukan dengan survei berupa angket atau wawancara langsung.
2. Dimensi waktuLama pelayanan diukur dengan waktu ( yang telah ditetapkan).
3. Prosedur Tetap ( Protap )Untuk menjamin mutu pelayanan sesuai standar yang telah ditetapkan.
Disamping itu prosedur tetap bermanfaat untuk:
1. Memastikan bahwa praktik yang baik dapat tercapai setiap saat;
2. Adanya pembagian tugas dan wewenang;
3. Memberikan pertimbangan dan panduan untuk tenaga kesehatan lain yang bekerja di apotek;
4. Dapat digunakan sebagai alat untuk melatih staf baru;
5. Membantu proses audit.
Prosedur tetap disusun dengan format sebagai berikut:
1. Tujuan merupakan tujuan protap.
2. Ruang lingkup berisi pernyataan tentang pelayanan yang dilakukan dengan kompetensi yang
diharapkan.
3. Hasil yang dicapai oleh pelayanan yang diberikan dan dinyatakan dalam bentuk yang dapat diukur.
4. Persyaratan hal-hal yang diperlukan untuk menunjang pelayanan.
5. Proses berisi langkah-langkah pokok yang perlu dilkuti untuk penerapan standar. Sifat protap adalah
spesifik mengenai kefarmasian.
C. Tugas dan Tanggung Jawab Personil Apotek
Manejer Apotek Pelayanan
Apotek Rama dipimpin oleh seorang Apoteker sebagai manager pelayanan yang telah
mengucapkan sumpah apoteker yang telah memiliki Surat Izin Kerja (SIK), juga memiliki kemampuan
memimpin dan bertanggung jawab penuh terhadap pekerjaan di apotek. Selain itu juga APA harus
menguasai kemampuan manajemen yaitu, perencanaan, koordinasi, kepemimpinan dan
pengawasan disamping kemampuan di bidang farmasi baik teknis maupun non teknis.
Tugas dan Tanggung Jawab pimpinan Apotek adalah :
1. Memimpin, menentukan kebijaksanaan dan melaksanakan pengawasan dan pengendalian apotek
sesuai UU yg berlaku
2. Menyusun program kerja karyawan untuk mencapai sasaran yang ditetapkan
3. Memberikan pelayanan dan informasi obat dan perbekalan farmasi kepada pasien, dokter, dan
tenaga kesehatan lainnya
4. Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk perkembangan apotek
5. Menguasai dan melaksanakan peraturan perundang-undangan farmasi yang berlaku

Fungsi Administrasi
1. Membuat laporan realisasi data dan anggaran setiap bulan
2. Membuat laporan penutupan buku
3. Melakukan rekaptulasi buku penjualan tunai dihitung
berdasarkan jumlah resep dan rekaptulasi buku pembelian

Fungsi Pembelian
1. Membuat kebutuhan barang pada buku permintaan barang
2. Membuat Bon Permintaan Barang Apotek (BPBA) sesuai dengan data kebutuhan barang yang
tercatat pada buku permintaan barang dan pareto penjualan
3. Membuat retur atau pengembalian barang bila terjadi kesalahan dalam pengiriman barang

Karyawan/ Karyawati
Karyawan/Karyawati mencakup asisten apoteker dan non asisten apoteker.
1) Tugas dan tanggung jawab asisten apoteker antara lain :
a. Mengatur penyimpanan obat dan penyusunan apotek
b. Memberi harga pada setiap resep dokter yang masuk dan memeriksa kelengkapan resep
c. Melayani dan meracik obat sesuai dengan resep dokter
d. Menghitung dosis obat untuk racikan sesuai permintaan resep
e. Menimbang, menyiapkan, mengemas, dan memberi etiket obat yang akan diserahkan pada pasien
f. Memeriksa kebenaran obat sebelum diserahkan pada pasien
g. Menyerahkan obat sekaligus memberi informasi mengenai cara pemakaian dan informasi lainnya
mengenai obat tersebut kepada pasien.
h. Membuat salinan resep bila diperlukan oleh pasien, bila obat hanya ditebus sebagian atau resep
diulang serta membuat kuitansi bila diperlukan.
i. Berpartisipasi dalam pelaksaan dan pemeliharaan kebersihan di apotek.

2) Tugas dan tanggung jawab non apoteker antara lain :
a. Membantu tugas asisten apoteker dalam menyiapkan obat , mengerjakan obat racikan yang telah
disiapkan oleh asisten apoteker sesuai dengan dan jumlah yang diminta
b. Membuat obat racikan standar dibawah pengawasan asisten apoteker dan apoteker
c. Menyusun obat-obat pada rak penyimpanan obat
d. Membersihkan peralatan yang digunakan dan membersihkan ruangan diapotek.


EVALUASI

1. Bagaimana syarat menempatkan obat Narkotik san Psikotropika yang baik ?
2. Apa yang dimaksud dengan manajemen khusus ?
3. Apa perbedaan IFRS dan Apotik ?
4. Berikan contoh aliran masuk dan aliran keluar ?
Jawaban
1. Syarat menempatkan obat Narkotik dan Psikotropika, yaitu :
- Raknya harus menempel.
- Penempatan ruangan harus terpisah dari obat-obat lain.
- Lemari harus terkunci rapat sehingga tidak sembarang karyawan yang mengambilnya.
2. Yang dimaksud dengan Manajemen khusus adalah seni untuk mengatur seseorang untuk mencapai
tujuan sesuai kemampuan spesifiknya.
3. Perbedaan IFRS dan Apotik
IFRS adalah suatu institusi dan komunitas yang dipengaruhi oleh kebutuhan pengharapan
permintaan anggota masyarakat.
Apotik adalah bagian dari pelayanan rumah sakit yang mempunyai berbagai fungsi secara umum.
4. Aliran Barang Masuk :
- Tahap persiapan.
- Tahap pemesanan.
- Tahap penerimaan.
- Tahap penyimpanan barang.
- Pencatatan barang.
Aliran Barang Keluar :
- Penjualan obat bebas.
- Penjualan obat dengan resep dokter.