Anda di halaman 1dari 6

Pertumbuhan mikroba pada umumnya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh faktor

lingkungan, perubahan faktor lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan
fisiologi. Hal ini dikarenakan, mikroba selain menyediakan nutrient yang sesuai untuk
kultivasinya, juga diperlukan faktor lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan mikroba
secara optimum. Mikroba tidak hanya bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi
menunjukkan respon yang menunjukkan respon yang berbeda-beda. Untuk berhasilnya kultivasi
berbagai tipe mikroba diperlukan suatu kombinasi nutrient serta faktor lingkungan yang sesuai
(Pelczar & Chan, 1986).

Kemampuan mikroorganisme untuk tumbuh dan tetap hidup merupakan hal yang penting dalam
ekosistem pangan. Suatu pengetahuan dan pengertian tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi kemampuan tersebut sangat penting untuk mengendalikan hubungan antara
mikroorganisme-makanan-manusia. Beberapa faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan
mikroorganisme meliputi suplai zat gizi, waktu, suhu, air, pH dan tersedianya oksigen
(Buckle, 1985).

Kehidupan bakteri tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, akan tetapi juga
mempengaruhi keadaan lingkungan. Bakteri dapat mengubah pH dari medium tempat ia hidup,
perubahan ini disebut perubahan secara kimia. Adapun faktor-faktor lingkungan dapat dibagi
atas faktor-faktor biotik dan faktor-faktor abiotik. Di mana, faktor-faktor biotik terdiri atas makhluk-
makhluk hidup, yaitu mencakup adanya asosiasi atau kehidupan bersama antara
mikroorganisme, dapat dalam bentuk simbiose, sinergisme, antibiose dan sintropisme.
Sedangkan faktor-faktor abiotik terdiri atas faktor fisika (misal: suhu, atmosfer gas, pH, tekanan
osmotik, kelembaban, sinar gelombang dan pengeringan) serta faktor kimia (misal: adanya
senyawa toksik atau senyawa kimia lainnya (Hadioetomo, 1993).

Karena semua proses pertumbuhan bergantung pada reaksi kimiawi dan karena laju reaksi-
reaksi ini dipengaruhi oleh temperatur, maka pola pertumbuhan bakteri dapat sangat dipengaruhi
oleh temperatur. Temperatur juga mempengaruhi laju pertumbuhan dan jumlah total
pertumbuhan organisme. Keragaman temperatur dapat juga mengubah proses-proses metabolik
tertentu serta morfologi sel (Pelczar & Chan, 1986).

Medium harus mempunyai pH yang tepat, yaitu tidak terlalu asam atau basa. Kebanyakan
bakteri tidak tumbuh dalam kondisi terlalu basa, dengan pengecualian basil kolera (Vibrio
cholerae). Pada dasarnya tak satupun yang dapat tumbuh baik pada pH lebih dari 8.
Kebanyakan patogen, tumbuh paling baik pada pH netral (pH7) atau pH yang sedikit basa (pH
7,4). Beberapa bakteri tumbuh pada pH 6;tidak jarang dijumpai organisme yang tumbuh baik
pada pH 4 atau 5. Sangat jarang suatu organisme dapat bertahan dengan baik pada pH 4;
bakteri autotrof tertentu merupakan pengecualian. Karena banyak bakteri menghasilkan produk
metabolisme yang bersifat asam atau basa (Volk&Wheeler,1993).

PertumbuhanMikroba
Mikroba merupakan mikroorganisme yang perlu diketahui kemampuannya untuk tumbuh
dan hidup sebab beberapa di antaranya sering dimanfaatkan untuk keperluan
penelitian.Sampai sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan terus menggali potensi
apa yang terdapat di dalam mikriba, oleh karena itu perlu diketahui seluk beluk dari mikroba
itu sendiri.Salah satunya yaitu factor- factor apa saja yang dapat mempengaruhi
pertumbuhannya. Setiap mikrioba memiliki karakteristik kondisi pertumbuhan yang berbeda-
beda Pertumbuhan bakteri pada kondisi yang optimum lebih cepat jika dibandingkan dengan
jamur dan kaoang. Hal ini disebabkan karena bakteri memiliki struktur sel yang lebih
sederhana, sehingga sebagian besar bakteri memiliki waktu generasi hanya sekitar 2 menit
jika dibandingkan dengan khamir dan kapang yang struktur selnya lebih rumit dan waktu
generasinya yang cukup lama.
!aktor- faktor yang mempegearuhi pertumbuhan mikroba antara lain "
pH
#ebanyakan mikroba tumbuh baik pada pH sekitar netral dan pH $,% &', merupakan
kondisi optimum untuk pertumbuhan bakteri,sedangkan kapang dan khamir tumbuh pada pH
yang lebih rendah.
Suhu
Suhu merupakan salah satu factor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan
mikroba. Setiap mikroba mempunyai kisaran suhu dan suhu optimum tertentu untuk
pertumbuhannya.
(utrient
Mikroba sama dengan makhluk hidup lainnya, memerlukan suplai nutrisi sebagai sumber
energi dan pertumbuhan selnya. )nsur-unsur dasar tersebut adalah karbon, nitrogen,
hidrogen, oksigen, sulfur, fosfor, *at besi dan sejumlah kecil logam lainnya. #etiadaan atau
kekurangan sumber-sumber nutrisi ini dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba. Hingga
pada akhirnya dapat menyebabkan kematian.
+ksigen
Mikroba mempunyai kebutuhan oksigen yang berbeda-beda untuk pertumbuhannya.
,erdasarkan kebutuhannya akan oksigen, mikroba dibedakan atas $ kelompok sbb"
1. Aerob, yaitu mikroba yang membutuhkan oksigen untuk pertumbuhannya.
2. Anaerob, yaitu mikroba yang tumbuh tanpa membutuhkan oksigen.
3. Anaerob fakultatif, yaitu mikroba yang dapat tumbuh dengan atau tanpa adanya oksigen.
4. Mikroaerofil, yaitu mikroba yang membutuhkan oksigen pada konsentrasi yang lebih
rendah daripada konsentrasi oksigen yang normal di udara.
Di dalam alam yang sewajarnya, bakteri jarang menemui zat-zat kimia yang menyebabkan ia
sampai mati karenanya. Hanya manusia di dalam usahanya untuk membebaskan diri dari
kegiatan bakteri meramu zat-zat yang dapat meracuni bakteri, akan tetapi tidak meracuni diri
sendiri atau meracuni zat makanan yang diperlukannya. Zat-zat yang hanya menghambat
pembiakan bakteri dengan tidak membunuhnya disebut zat antiseptik atau zat bakteriostatik
(Dwidjoseputro,1994).
Desinfektan adalah bahan kimia yang dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan
mikroorganisme. Faktor utama yang menentukan bagaimana desinfektan bekerja adalah kadar
dan suhu desinfektan, waktu yang diberikan kepada desinfektan untuk bekerja, jumlah dan tipe
mikroorganisme yang ada, dan keadaan bahan yang didesinfeksi. Jadi terlihat sejumlah faktor
harus diperhatikan untuk melaksanakan tugas sebaik mungkin dalam perangkat suasana yang
ada. Desinfeksi adalah proses penting dalam pengendalian penyakit, karena tujuannya adalah
perusakan agen agen patogen. Berbagai istilah digunakan sehubungan dengan agen agen
kimia sesuai dengan kerjanya atau organisme khas yang terkena. Mekanisme kerja desinfektan
mungkin beraneka dari satu desinfektan ke yang lain. Akibatnya mungkin disebabkan oleh
kerusakan pada membran sel atau oleh tindakan pada protein sel atau pada gen yang khas
yang berakibat kematian atau mutasi (Volk dan Wheeler, 1993)
Pertumbuhan mikroba dalam suatu medium mengalami fase-fase yang berbeda, yang berturut-
turut disebut dengan fase lag, fase eksponensial, fase stasioner dan fase kematian. Pada fase
kematian eksponensial tidak diamati pada kondisi umum pertumbuhan kultur bakteri, kecuali bila
kematian dipercepat dengan penambahan zat kimia toksik, panas atau radiasi[1].
Semua mahluk hidup membutuhkan nutrien untuk pertumbuhan dan reproduksinya. Nutrien
merupakan bahan baku yang digunakan untuk membangun komponen-komponen seluler baru
dan untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan dalam proses-proses kehidupan sel. Nutrisi
merupakan indikasi dari kompleksitas fisiologis mikroba. Umumnya diketahui nutrien dibutuhkan
oleh mikroba secara langsung mencerminkan kemampuan fisiologisnya. Sebagai contoh
beberapa anggota genus lactobacillus membutuhkan sejumlah asam amino, vitamin B dan
nutrien-nutrien lainnya untuk pertumbuhannya. Sebaiknya mikroba autotrof hanya memerlukan
cahaya dan karbondioksida dan gas nitrogen untuk tumbuh[2].
Dalam pertumbuhannya setiap makhluk hidup membutuhkan nutrisi yang mencukupi serta
kondisi lingkungan yang mendukung demi proses pertumbuhan tersebutt, termasuk juga bakteri.
Pertumbuhan bakteri pada umumnya akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Pengaruh faktor
ini akan memberikan gambaran yang memperlihatkan peningkatan jumlah sel yang berbeda dan
pada akhirnya memberikan gambaran pula terhadap kurva pertumbuhannya[3].
Kebutuhan mikroorganisme untuk pertumbuhan dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu:
kebutuhan fisik dan kebutuhan kimiawi atau kemis. Aspek-aspek fisik dapat mencakup suhu, pH
dan tekanan osmotik. Sedangkan kebutuhan kemis meliputi air, sumber karbon, nitrogen
oksigen, mineral-mineral dan faktor penumbuh[4].
Beberapa faktor abiotik yang dapat mempengaruhi pertumbuhan bakteri, antara lain: suhu,
kelembapan, cahaya, pH, AW dan nutrisi. Apabila faktor-faktor abiotik tersebut memenuhi syarat,
sehingga optimum untuk pertumbuhan bakteri, maka bakteri dapat tumbuh dan berkembang
biak[5].
Bakteri merupakan organisme kosmopolit yang dapat kita jumpai di berbagai tempat dengan
berbagai kondisi di alam ini. Mulai dari padang pasir yang panas, sampai kutub utara yang beku
kita masih dapat menjumpai bakteri. Namun bakteri juga memiliki batasan suhu tertentu dia bisa
tetap bertahan hidup, ada tiga jenis bakteri berdasarkan tingkat toleransinya terhadap suhu
lingkungannya:
1. Mikroorganisme psikrofil yaitu mikroorganisme yang suka hidup pada suhu yang dingin,
dapat tumbuh paling baik pada suhu optimum dibawah 20oC.
2. Mikroorganisme mesofil, yaitu mikroorganisme yang dapat hidup secara maksimal pada
suhu yang sedang, mempunyai suhu optimum di antara 20oC sampai 50oC
3. Mikroorganisme termofil, yaitu mikroorganisme yang tumbuh optimal atau suka pada suhu
yang tinggi, mikroorganisme ini sering tumbuh pada suhu diatas 40oC, bakteri jenis ini dapat
hidup di tempat-tempat yang panas bahkan di sumber-sumber mata air panas bakteri tipe ini
dapat ditemukan, pada tahun 1967 di yellow stone park ditemukan bakteri yang hidup dalam
sumber air panas bersuhu 93-94oC[6].
Dalam menentukan jumlah sel yang hidup dapat dilakukan penghitungan langsung sel secara
mikroskopik, melalui 3 jenis metode yaitu metode: pelat sebar, pelat tuang dan most-probable
number (MPN). Sedang untuk menentukan jumlah total sel dapat menggunakan alat yang
khusus yaitu bejana Petrof-Hausser atau hemositometer. Penentuan jumlah total sel juga dapat
dilakukan dengan metode turbidimetri yang menentukan: Volume sel mampat, berat sel,
besarnya sel atau koloni, dan satu atau lebih produk metabolit. Penentuan kuantitatif metabolit
ini dapat dilakukan dengan metode Kjeldahl[7].
Kondisi lingkungan yang mendukung dapat memacu pertumbuhan dan reproduksi bakteri.
Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan reproduksi bakteri
adalah suhu, kelembapan, dan cahaya[8].
Pada umumnya bakteri memerlukan kelembapan yang cukup tinggi, kira-kira 85%. Pengurangan
kadar air dari protoplasma menyebabkan kegiatan metabolisme terhenti, misalnya pada proses
pembekuan dan pengeringan[9].
Cahaya sangat berpengaruh pada proses pertumbuhan bakteri. Umumnya cahaya merusak sel
mikroorganisme yang tidak berklorofil. Sinar ultraviolet dapat menyebabkan terjadinya ionisasi
komponen sel yang berakibat menghambat pertumbuhan atau menyebabkan kematian.
Pengaruh cahaya terhadap bakteri dapat digunakan sebagai dasar sterilisasi atau pengawetan
bahan makanan. Jika keadaan lingkungan tidak menguntungkan seperti suhu tinggi, kekeringan
atau zat-zat kimia tertentu, beberapa spesies dari Bacillus yang aerob dan beberapa spesies
dari Clostridium yang anaerob dapat mempertahankan diri dengan spora. Spora tersebut
dibentuk dalam sel yang disebut endospora. Endospora dibentuk oleh penggumpalan
protoplasma yang sedikit sekali mengandung air. Oleh karena itu endospora lebih tahan
terhadap keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan dibandingkan dengan bakteri aktif.
Apabila keadaan lingkungan membaik kembali, endospora dapat tumbuh menjadi satu sel
bakteri biasa. Letak endospora di tengah-tengah sel bakteri atau pada salah satu ujungnya

Dalam pertumbuhannya bakteri memiliki suhu optimum dimana pada suhu tersebut pertumbuhan
bakteri menjadi maksimal. Dengan membuat grafik pertumbuhan suatu mikroorganisme, maka
dapat dilihat bahwa suhu optimum biasanya dekat puncak range suhu. Di atas suhu ini
kecepatan tumbuh mikroorganisme akan berkurang. diperlukan suatu metode. Metode
pengukuran pertumbuhan yang sering digunakan adalah dengan menentukan jumlah sel yang
hidup dengan jalan menghitung koloni pada pelat agar dan menentukan jumlah total sel atau
jumlah massa sel. Selain itu dapat dilakukan dengan cara metode langsung dan metode tidak
langsung.

Darkuni, M. N. 2001. Mikrobiologi (Bakteriologi, Virologi, dan Mikologi). Universitas Negeri
Malang. Malang

Pelczar, M.J dan E.C.S Chan. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi 1. UI Press. Jakarta.

Puspitasari, Ninis dan Sidik, Mohammad. 2009. Pengaruh jenis Vitamin B dan Sumber Nitrogen
Dalam Peningkatan Kandungan Protein Kulit Ubi kayu Melalui Proses Fermentasi. Seminar
Tugas Akhir S1 Teknik Kimia. UNDIP. Semarang.

Suharjono, 2006. Komunitas Kapang Tanah di Lahan Kritis Berkapur DAS Brantas Pada Musim
Kemarau. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Brawijaya. Malang.

Suriawiria, U. 1996. Mikrobiologi Air dan Dasar-dasar Pengolahan Buangan Secara Biologis.
Penerbit Alumni. Bandung.

Anda mungkin juga menyukai