Anda di halaman 1dari 30

TUGAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM II

KESEHATAN SEKSUAL DAN REPRODUKSI DALAM ISLAM


Disusun oleh:
Kelompok 6 / IIA
1. Mita Desy Yani 101311123013
2. Intan Indah Kartika Sari 101311123027
3. Riana Anugrah Ananingrum 101311123041
4. Dita Vidya Wijaya 101311123053
5. Dwi Aulia Rifah 101311123061
6. Ninetion Ari Al - Fajrintika 101311123063
7. Indra Dwi Okta 101311123064
8. Faidhotul Khoiriyah 101311123119
9. Vendra Herdinanta 101311123126






FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2014

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat
dan karunia-Nya sehingga kami diberikan kemudahan dalam menyelesaikan
makalah ini.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan
Agama Islam II pada Semester II di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Airlangga. Di dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai Kesehatan Seksual
dan Reproduksi dalam pandangan Islam. Makalah ini juga bertujuan agar kita bisa
menjaga diri dari perbuatan maksiat ini.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah
memberikan bantuan atas penyelesaian makalah ini. Penulis pun sangat terbuka
terhadap saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan kita semua.
Amin


Surabaya, 09 Maret 2014

Kelompok 6

ii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ......................................................................................................... i
Daftar Isi ................................................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Pendahuluan.............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ...................................................................................... 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengertian Kesehatan Reproduksi ............................................................. 3
2.2 Pengertian Kesehatan Seksual .................................................................. 4
2.3 Kajian Kesehatan Reproduksi dalam Islam .............................................. 6
2.4 Pandangan Kesahatan Masyarakat dan Islam terhadap Kesehatan
Reproduksi Remaja ................................................................................ 14
BAB 3 PEMBAHASAN
3.1Kesehatan Reproduksi ............................................................................. 21
3.2 Kesehatan Seksual .................................................................................. 24
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan ............................................................................................. 25
Daftar Pustaka ........................................................................................................ 27



1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara harfiah reproduksi berasal dari kata re yang artinya kembali
dan produksi yang artinya menghasilkan atau memberikan hasil. Jika
demikian reproduksi bisa diartikan dengan menghasilkan kembali.
Selanjutnya istilah reproduksi berarti proses terciptanya generasi baru untuk
meneruskan keturunan atau proses kehidupan manusia untuk menghasilkan
keturunan. Sedangkan kesehatan reproduksi didefinisikan sebagai keadaan
sejahtera fisik, mental, sosial dalam segala hal yang berkaitan dengan kesehatan
reproduksi. Kesehatan reproduksi juga berkaitan dengan kemampuan untuk
memiliki kehidupan seksual yang memuaskan dan aman, serta kemampuan untuk
memiliki keturunan dan bebas menentukan waktu memiliki keturunan dan jumlah
keturunan. Kesehatan reproduksi memiliki tiga komponen yaitu kemampuan
untuk prokreasi, mengatur tingkat kesuburan dan menikmati kehidupan seksual.
Pendidikan kesehatan reproduksi di Indonesia masih dianggap tabu untuk
diperbincangkan. Hal ini menyebabkan para remaja berinisiatif secara sembunyi-
sembunyi mencari tahu sendiri tentang seksualitas dan pendidikan kesehatan
reproduksi. Jika masyarakat pada umumnya masih tabu dan enggan
membicarakan persoalan seks dan reproduksi, sebaliknya dengan masyarakat
pesantren. Masyarakat pesantren telah lama memberikan pendidikan seks dan
reproduksi kepada para santri melalui pengajian kitab kuning, khususnya kitab
fiqih yang menjadi basis keilmuan pesantren. Kitab fiqih pesantren adalah kitab-
kitab yang berisi tentang hukum-hukum islam yang berkaitan dengan perilaku
orang yang secara umum diajarkan di pesantren-pesantren tradisional di Indonesia.
Karena itu, pada dasarnya norma-norma seksualitas dan reproduksi dalam kitab-
kitab fiqih dimaksudkan untuk mewujudkan tujuan syariat islam yakni
memelihara kehormatan dan harga diri dan memelihara kesucian keturunan dan
hak reproduksi. Ini menunjukkan bahwa islam senantiasa mengutamakan aspek
perilaku dan gaya hidup untuk mewujudkan kesehatan reproduksi manusia.
Padahal kesehatan reproduksi berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia

2

dan merupakan awal dari terbentuknya generasi muda yang sehat jasmani dan
rohani. Adapun cakupan kesehatan reproduksi yang akan dikaji dalam makalah ini
mengenai kehamilan, menyusui, metode kontrasepsi, aborsi dan pendidikan
seksual berdasarkan sudut pandang islam.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah berbeda antara definisi kesehatan reproduksi secara umum dan
menurut islam ?
2. Apakah berbeda antara definisi seksualitas secara umum dan menurut
islami ?
3. Bagaimana kajian kesehatan reproduksi mengenai kehamilan, menyusui,
kontrasepsi, aborsi dan pendidikan seksual berdasarkan sudut pandang
islam ?
4. Bagaimana pandangan kesehatan masyarakat mengenai kesehatan
reproduksi ?

1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui definisi kesehatan reproduksi secara umum dan
menurut islam.
2. Untuk mengetahui definisi seksualitas secara umum dan menurut islami.
3. Untuk mengkaji kesehatan reproduksi mengenai kehamilan, menyusui,
kontrasepsi, aborsi dan pendidikan seksual berdasarkan sudut pandang
islam.
4. Untuk mengetahui pandangan kesehatan masyarakat mengenai kesehatan
reproduksi.










3

BAB 2
TI NJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Kesehatan Reproduksi
2.1.1 Kesehatan Reproduksi secara Umum
Dalam ilmu kedokteran, reproduksi bermakna menghasilkan keturunan.
Sedangkan kesehatan reproduksi (kespro) didefinisikan sebagai keadaan sejahtera
fisik, mental, sosial dalam segala hal yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi.
Kesehatan reproduksi juga berkaitan dengan kemampuan untuk memiliki
kehidupan seksual yang memuaskan dan aman, serta kemampuan untuk memiliki
keturunan dan bebas menentukan waktu memiliki keturunan dan jumlah
keturunan. Sebagian orang memandang bahwa kesehatan reproduksi hanya terkait
pada organ reproduksi laki-laki dan perempuan, padahal hal itu tidak sepenuhnya
benar karena cakupan kesehatan reproduksi sangat luas (Asyafha, 2011).
Kesehatan reproduksi memiliki tiga komponen yaitu kemampuan untuk
prokreasi, mengatur tingkat kesuburan, dan menikmati kehidupan seksual;
dampak kehamilan yang baik melalui angka harapan hidup danpertumbuhan bayi
dan balita yang meningkat; serta proses reproduksi yang aman. Adapun cakupan
kesehatan reproduksi meliputi alat reproduksi, kehamilan dan persalinan, kespro
remaja, pencegahan kanker leher rahim, metode kontrasepsi dan KB, kesehatan
seksual dan gender, perilaku seksual yang sehat dan yang berisiko, pemeriksaan
payudara dan panggul, impotensi, HIV/AIDS, infertilitas, kesehatan reproduksi
laki-laki, perempuan usia lanjut, kesehatan reproduksi pengungsi, infeksi saluran
reproduksi, safe motherhood, kesehatan ibu dan anak, aborsi, serta infeksi
menular seksual (Asyafha, 2011).
2.1.2 Kesehatan Reproduksi dalam Islam
Islam sebagai pandangan hidup tentu saja memiliki kaitan dengan
kesehatan reproduksi mengingat Islam berfungsi sebagai pengatur kehidupan
manusia dalam rangka mencapai keadaan sesuai dengan definisi kesehatan
reproduksi itu sendiri. Islam mengatur kesehatan reproduksi manusia ditujukan
untuk memuliakan dan menjunjung tinggi derajat manusia. Dan Islam sejak
belasan abad yang lalu jauh sebelum kemajuan ilmu kesehatan dan kedokteran

4

mengaturnya sesuai dengan Quran, hadits, dan ijma para ulama, yang mencakup
seksualitas, kehamilan, menyusui, kontrasepsi dan KB, dan aborsi, serta hal lain
yang tidak dapat dijelaskan satu-satu persatu. Dan sebagai umat muslim kita wajib
mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan Islam dalam rangka mencapai
kesejahteraan sebagai umat manusia (Asyafha, 2011).
2.2 Pengertian Kesehatan Seksual
2.2.1 Kesehatan Seksual secara Umum
Menurut WHO (dalam Riegos, 2013) Kesehatan
Seksual adalah "Kombinasi dari bagian kegiatan seksual yang bersifat fisik,
emosional, intelektual dan sosial, sehingga seks adalah pengalaman positif yang
dapat meningkatkan kualitas hidup, menjadikan lingkungan kita lebih baik untuk
kehidupan. Berdasarkan hasil Deklarasi Montreal 2005 tentang Kesehatan Seksual
untuk MDGs, lebih menekankan kepada beberapa hal sebagai berikut :
1.) Mengakui, mempromosikan, meyakinkan dan melindungi hak-hak seksual
bagi semua
2.) Berkembang ke arah kesetaraan jender
3.) Menghapuskan semua jenis kekerasan dan pelecehan seksual
4.) Memberikan akses universal unutk pendidikan dan informasi tentang
seksualitas yang menyeluruh
5.) Menjamin bahwa program - program kesehatan reproduktif mengakui betapa
pentingnya kesehatan seksual
6.) Menghentikan dan mengendalikan penyebaran HIV dan AIDS dan Infeksi
Menular Seksual (IMS) lainnya
7.) Mengidentifikasi, menangani dan mengatasi keluhan disfungsi dan gangguan
seksual
8.) Mendapatkan pengakuan bahwa kenikmatan seksual merupan salah satu
unsur kesejahteraan manusia
2.2.2 Islam dan Seksualitas
Seksualitas dalam Islam dapat menjadi hal yang terpuji sekaligus tercela.
Seksualitas menjadi hal yang terpuji jika dilakukan dalam lingkup hubungan yang
sesuai syariat, yaitu hubungan pasangan laki-laki dan perempuan bukan antara
pasangan sejenis (homoseksual) atau dengan binatang (zoofilia) yang telah

5

menikah secara sah. Sebaliknya seksualitas dalam Islam dapat menjadi hal yang
tercela jika hubungan dilakukan di luar pernikahan, antara pasangan sejenis, atau
dengan binatang (Asyafha,2011).
Ayat Quran yang paling terkenal untuk menjelaskan hubungan laki-laki dan
perempuan yang sesuai syariat adalah dalam QS. Ar Ruum: 21 yang mempunyai
arti Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram
kepadanya, dan di jadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi
kaum yang berfikir.
Dalam surat ini menyatakan menyatakan tujuan pernikahan yaitu
dijadikannya rasa cinta dan kasih sayang. Seorang ahli tafsir dalam kitab tafsir Al
Futuhatul Ilahiyah menyatakan bahwa cinta berarti hubungan seksual, dan kasih
sayang berarti hasil hubungan seksual yaitu seorang anak. Hal ini berarti Islam
sangat mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam hal seksualitas
adalah untuk kebaikan bersama secara fisik dan mental serta menghasilkan
keturunan sebagai penerus diinul Islam, bukan hanya untuk kepuasan secara
biologis saja.
Islam melarang hubungan seksual melalui dubur & mulut (anal & oral
sex), homoseksualitas, sodomi, lesbianisme, dan perilaku seksual lain yang tidak
wajar. Kekhawatiran Islam tentang hal ini sangat beralasan mengingat saat ini
perilaku di atas banyak ditemukan di masyarakat di seluruh dunia yang berakibat
pada timbulnya penyakit-penyakit menular seksual dan desakralisasi hubungan
pernikahan dimana hanya mementingkan syahwat semata. Hubungan seksual juga
dilarang untuk dilakukan saat menstruasi yang dijelaskan dalam QS. Al Baqarah:
222 : Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: Haid itu adalah
kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu
haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila
mereka telah suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan
Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang tobat dan menyukai
orang-orang yang menyucikan diri. Penelitian-penelitian di abad modern

6

menunjukkan korelasi positif antara larangan tersebut dengan efek merugikan
yang ditimbulkannya bila dilakukan.
Dalam Islam hubungan seksual pranikah dan perselingkuhan dilarang dan
dapat dihukum sesuai syariat. Bahkan negara kita juga telah memasukkan perihal
ini dalam KUHP. Supaya umat manusia tidak terjebak pada perilaku tercela maka
Islam mengaturnya dalam Quran surat Al Israa: 32 Dan janganlah kamu
menghampiri zina, sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji dan
satu jalan yang jahat (yang membawa kerusakan). Bukan hanya melakukan,
mendekatinya saja dilarang dalam Islam seperti hubungan laki-laki dan
perempuan bukan muhrim yang terlampau bebas.
Hubungan seksual yang bebas (freesex) secara kedokteran dapat
menyebabkan penyakit/ infeksi menular seksual, kehamilan tak diinginkan, aborsi
dan kematian ibu, dan bayi tanpa ibu. Secara sosial maka akan menimbulkan
nasab yang tidak jelas, sehingga kehidupan keluarga dan sosial budaya akan
terganggu. Semua hal itu akan berujung pada penurunan kualitas generasi bangsa
(Asyafha,2011).

2.3 Kajian Kesehatan Reproduksi dalam Islam
2.3.1 Islam dan Kehamilan
Dr Maurice Bucaille, ilmuwan Perancis dalam bukunya yang
fenomenal La Bible Le Coran Et La Science (Bibel, Quran, dan Sains Modern)
menyatakan bahwa sebelum ilmu kedokteran modern berkembang, para ilmuwan
memiliki konsep yang salah tentang penciptaan manusia padahal Quran telah
menyatakannya dengan sangat jelas sejak 14 abad yang lalu. Dalam surat Al
Mukminun: 14 ; Dan janganlah kamu menghampiri zina, sesungguhnya zina itu
adalah satu perbuatan yang keji dan satu jalan yang jahat (yang membawa
kerusakan). dan Al Hajj: 5 ; Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang
kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah
menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari
segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya
dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan
dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang ditentukan, kemudian

7

Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu
sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan
(adapula) diantara kamu yang di panjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia
tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulu telah diketahuinya. Dan kamu
lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air diatasnya,
hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tu,buh-
tumbuhan yang indah.
Quran telah menjelaskan tahap demi tahap perkembangan penciptaan
manusia.Quran menyebutkan tempat - tempat mekanisme yang tepat
dan menyebutkan tahap - tahap yang pasti dalam reproduksi, tanpa memberi
bahan yang keliru sedikitpun. Semuanya diterangkan secara
sederhana dan mudah dipahami oleh semua orang serta sangat sesuai dengan hal-
hal yang ditemukan oleh sains di kemudian hari. Mari kita lihat kandungan surat
Quran di bawah ini yang begitu menakjubkan: Kemudian air mani itu Kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging,
dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu
Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang
(berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik(QS. Al
Muminun: 14)
Hal yang dijelaskan Al Quran di atas sangat sejalan dengan ilmu
kedokteran dan embriologi modern, termasuk diciptakannya pancaindera seperti
tercantum dalam Surat As Sajadah: 9, yang berbunyi: "Kemudian Dia
menyempurnakannya dan meniupkan ke dalam tubuhnya roh (ciptaan)Nya, dan
Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) sedikit
sekali kamu bersyukur."
2.3.2 Islam dan Menyusui
Penelitian ilmiah modern baru dapat menyatakan kelebihan dan manfaat
air susu ibu (ASI) di penghujung abad ke-20. Namun, kajian tentang ASI telah
termaktub di dalam Quran beribu tahun yang lalu sejak diturunkannya pedoman
hidup manusia itu. ASI sebagai makanan terbaik bagi bayi itu telah menjadi
rekomendasi WHO untuk diberikan secara eksklusif selama 4-6 bulan dan
dilanjutkan bersama makanan lain hingga berusia 2 tahun. Hal ini sesuai dengan

8

surat Al Baqarah: 233 yang berbunyi Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah
tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu
itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk
dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kelak kamu akan
menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. yang
secara ilmiah berkaitan erat dengan pembentukan sistem kekebalan tubuh bayi
dalam tahun-tahun pertama kehidupannya.
ASI tidak hanya penting bagi bayi saja tetapi penting pula bagi ibunya.
Hubungan batin antara ibu dan bayinya menjadi lebih terasa karena dekatnya
hubungan mereka melalui proses penyusuan. Secara klinis telah pula diteliti
bahwa penyusuan dapat mengurangi risiko kanker payudara. Selain itu proses
penyusuan berguna pula sebagai kontrasepsi alamiah (Asyafha,2011).
2.3.3 Islam dan Kontrasepsi
Hingga saat ini kontrasepsi sebagai sarana pengaturan jarak kehamilan
masih menjadi perdebatan di kalangan ulama dan ilmuwan Islam. Ada kalangan
yang menentang karena mereka beranggapan kontrasepsi atau keluarga berencana
merupakan produk Yahudi dan kaum kafir untuk melemahkan kaum muslimin
karena mereka takut kalau-kalau pertumbuhan umat Islam akan mengancam
tujuan, dominasi/pengaruh dan kepentingan mereka. Kalangan yang menentang
juga beranggapan bahwa KB bertentangan dengan anjuran Islam untuk
memperbanyak keturunan. Ada pula kalangan yang membolehkan atau
membolehkan dengan syarat.
Kontrasepsi di dunia Islam memiliki sejarah panjang. Dasar penggunaan
kontrasepsi di dalam Islam adalah hadits Rasulullah yang berbunyi, Kami pernah
melakukan azl (senggama terputus) di zaman Rasulullah. Rasul mengetahui hal
itu terapi tidak melarang kami melakukannya. Beberapa ulama menggunakan
qyas, bila azl diperbolehkan, maka metode ikhtiar pengaturan kehamilan lainnya
pun boleh, kecuali sterilisasi. Jarak kehamilan dalam Islam pun telah diatur
melalui program menyusui. Kedokteran Islam sendiri telah mengembangkan
kontrasepsi sejak awal dan memerintahkan Eropa untuk menggunakannya.
Penggunaan kontrasepsi dilarang jika ditujukan untuk menyuburkan
kolonialisme dan imperialism. Intinya ketentuan Islam yang berhubungan dengan

9

kontrasepsi atau KB bergantung kepada niat. Kalau kita menggunakan kontrasepsi
karena ingin anak sedikit, malas mengurus anak, takut kulit rusak, takut organ
reproduksi atau fungsi seksual terganggu, atau takut miskin, tentunya
menggunakan kontrasepsi bertentangan dengan anjuran Islam karena unsurnya
hanyalah egoisme bukan hablumminallah atau hablumminannas. Tentunya
berbeda kalau kita berupaya menjarangkan kehamilan itu karena ikhtiar untuk
dapat mendidik anak dengan lebih sempurna atau karena kita takut lahir anak
yang cacat bila usia kita sudah di atas 35 tahun. Ada baiknya kita renungkan ayat
Quran berikut:
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya
meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir
terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa
kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (QS. An
Nisaa: 9)
2.3.4 Islam dan Aborsi
Permasalahan aborsi atau secara medis berarti penghentian kehamilan di
bawah usia kehamilan 20 minggu masih menjadi perdebatan di kalangan muslim.
Kalangan yang sepenuhnya menentang mendasarkan pendapatnya pada Quran
Surat Ath-Thalaq: 3, yaitu, Dan memberinya rezki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya
Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan
urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan
bagi tiap-tiap sesuatu
Sementara itu kalangan muslim lainnya membolehkan aborsi hanya untuk
alasan berat seperti mengancam nyawa ibu atau kemungkinan janin lahir cacat.
Saat ini berkembang perdebatan di Indonesia tentang akan dikeluarkannya
Undang-Undang (UU) yang cenderung untuk melegalkan bahkan meliberalkan
aborsi, dengan alasan saat ini banyak masyarakat yang terlibat praktik aborsi yang
tidak aman sehingga menimbulkan angka kematian ibu dan bayi tertinggi di
antara negara-negara ASEAN. Tentu saja pembuatan produk legislatif ini harus
disikapi dengan bijaksana dengan melibatkan berbagai unsur dalam masyarakat

10

termasuk kalangan ulama dan agamawan dalam proses pembuatannya (Asyafha,
2011).
2.3.5 Islam dan Pendidikan Seks
1. Pengertian dan Tujuan Pendidikan Seks
Pendidikan seks adalah pendidikan yang mempunyai obyek khusus dalam
bidang perkelaminan secara menyeluruh. Adapula yang mengartikan bahwa
pendidikan seks adalah penerangan yang bertujuan untuk membimbing serta
mengasuh setiap laki-laki dan perempuan sejak dari kanak-kanak sampai
dewasa didalam perihal pergaulan antar kelamin pada umumnya dan kehidupan
seksuil pada khususnya.
Tujuan pendidikan seks dalam Islam adalah untuk mencapai hidup bahagia
dalam membentuk rumah tangga yang akan memberikan ketenangan, kecintaan,
kasih sayang serta keturunan berkualitas yang taat kepada Allah Taala dan
selalu mendoakan kedua Orangtuanya serta berguna bagi masyarakat, (QS. Ar-
Ruum: 21) yang berbunyi Dan di antara tanda-tanda kekusaan-Nya ialah Dia
menciptakan umtukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu
cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu
rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Pada mulanya orang menganggap bahwa pendidikan seks itu amatlah
kotor yang tak patut diajarkan. Golongan yang berpendapat demikian ini
karena mereka anggap bahwa seks adalah masalah tabu yang tak perlu dikenal
apalagi sampai diajarkan.
Namun demikian banyak juga kalangan cendekiawan yang mendukung agar
pendidikan seks disebarluaskan. Dalam survey yang diadakan terhadap anak-
anak gadis yang hamil diluar pernikahan ditemukan bahwa pada umumnya
mereka tidak pernah mendapatkan pendidikan seks disekolah maupun dirumah.
Sekarang masalahnya bagaimana cara memberikan pendidikan seks itu?
Mengingat karena masalah seks ini bagi kita masih begitu rumit, sensitive dan
komplek hendaknya dalam menerapkan pendidikan seks perlu dijunjung
norma-norma agama dan adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat.

11

Ayat-ayat Al-Quran yang memberikan dasar-dasar dan tuntunan-tuntunan
pendidikan seks antara lain:
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka
menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu
adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa
yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman:
Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya,
dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak
daripadanya (pakaian luarnya). Dan hendaklah mereka menutupkan kain
kerudung ke dadanya... (QS. An-Nuur: 31-32).
Allah Taala berfirman:Dan janganlah kamu mendekati zina,
sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.
(QS. Al-Isra: 32).
Allah Taala berfirman: Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat
bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu
bagaimana saja kamu kehendaki. (QS. Al-Baqarah: 223).
Hadis-hadis Nabi ShallallahuAlaihi WaAla Alihi Wa Sallam yang
memberikan dasar-dasar dan tuntunan-tuntunan pendidikan seks antara lain:
Rasulullah ShallallahuAlaihi WaAla Alihi Wa Sallam bersabda: Sungguh
ditusuknya kepala salah seorang dari kalian dengan jarum dari besi lebih baik
baginya daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (HR. Ath-
Thabrani dengan sanad sahih).
Beliau ShallallahuAlaihi WaAla Alihi Wa Sallam bersabda:Tidaklah
seorang laki-laki berkhalwat (berduaan) dengan wanita (bukan mahram)
melainkan pihak ketiganya adalah setan. (HR. At-Tirmidzi dengan sanad
sahih).
Beliau Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam
bersabda:Perempuan manapun yang menggunakan parfum kemudian
melewati suatu kaum agar mereka mencium wanginya maka ia seorang
pelacur. (HR. Imam Ahmad dengan sanad sahih).

12

Beliau Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bersabda: Adapun
zina mata adalah memandang (kepada apa yang diharamkan Allah). (HR.
Imam Ahmad dengan sanad sahih).
2. Cara mengenalkan pendidikan seks kepada anak :
a. Kenalkan bahwa Allah menciptakan laki-laki & perempuan itu berbeda.
Wa laisa dzakaro kal untsaa (QS Al-Imran: 36) berbunyi Maka tatkala
isteri Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: Ya Tuhanku,
sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih
mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti
anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku
mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada
(pemelihara) Engkau daripada syaitan yang terkutuk. Lengkap dengan
tugasnya masing-masing. Dari perbedaan tugas ini dapat
ditanamkan pada anak tentang maskulinitas feminimitas. Jelaskan pula
bahwa Allah melarang Laki-laki menyerupai perempuan, pun sebaliknya
b. Memisahkan tempat tidur mereka.
Jelaskan pada anak bahwa Rosulullah SAW menyuruh kita untuk
memisahkan tempat tidur laki-laki perempuan pada usia 7 tahun. Anak pasti
akan bertanya tentang alasannya. Selain menerangkan tentang perbedaan
laki2 perempuan, berikan jawaban yang bisa mereka terima, dengan
menekankan pada nilai-nilai positif dari pemisahan tempat tidur tersebut
seperti kemandirian, kebebasan untuk berkreasi dikamar sendiri.
c. Meminta ijin pada 3 waktu Tiga ketentuan waktu yang tidak diperbolehkan
anak-anak untuk memasuki ruangan (kamar) orang dewasa kecuali
meminta izin terlebih dulu adalah:
Sebelum sholat subuh, tengah hari, dan setelah sholat isya. Aturan ini
ditetapkan mengingat di antara ketiga waktu tersebut merupakan waktu
aurat,yakni waktu ketika badan atau aurat orang dewasa banyak terbuka, QS
al-Ahzab : 13 yang berbunyi Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara
mereka berkata: Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu,
maka kembalilah kamu. Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi
(untuk kembali pulang) dengan berkata : Sesungguhnya rumah-rumah kami

13

terbuka (tidak ada penjaga). Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka,
mereka tidak lain hanya hendak lari. Jika pendidikan semacam ini ditanamkan
pada anak maka ia akan menjadi anak yang memiliki rasa sopan-santun
dan etika yang luhur.
d. Menjaga aurat.
Jelaskan pada anak didepan siapa saja aurat dalam batasan-batasan yang
sopan boleh
terlihat, dengan merujuk kepada QS 24 : 30-31 yang berbunyi Katakanlah
kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan memelihara kemaluannya ; yang demikian itu adalah lebih
suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka
perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman; Hendaklah mereka
menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka
menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak padanya. Dan
hendaklah mereka menutupkan kain kudung kepadanya, dan janganlah
menampakkan perhiasanya kecuali kepada suami mereka, atau putera-putera
mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki
mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara
perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka
miliki, atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap
wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan
janganlah mereka memukulkan kakinya agar di ketahui perhiasan yang mereka
sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang
yang beriman supaya kamu beruntung. Dari penjelasan ini diharapkan akan
tertanam rasa iffah pada diri anak. Rasa malu yang tepat pada tempatnya
juga diharapkan akan terbentuk pada diri anak
e. Mengenalkan batas pergaulan antara laki-laki & perempuan.
Jelaskan tentang apa yang boleh yaitu hubungan dalam mumalah serta
apa yang tidak boleh yaitu khalwat ikhtilat. Jelaskan juga bencana sosial
akibat rusaknya pergaulan antara laki laki dan perempuan.
f. Mengenalkan ciri-ciri Pubertas.

14

Pengenalan ciri-ciri pubertas ini diberikan kepada anak sesuai dengan
masanya. Perempuan ketika usia atau menjelang- usia 9 tahun sedangkan laki-
laki pada usia 11-14 tahun. Hanya saja perkembangan zaman telah memacu
anak pada pubertas dini. Menurut pengalaman, anak usia 10-11 tahun
sudah mulai bertanya tentang perubahan perbedaan fisik yang terjadi baik pada
laki-laki maupun perempuan.Kenalkan pada anak bagaimana cara
merawat organ vital. Tanamkan pula bahwa organ vital merupakan salah satu
nilai kehormatan yang harus digaja (QS Al-Muminuun :5 yang berbunyi Dan
orang-orang yang menjaga kemaluannya). Jika anak bertanya mudahnya bagi
anak mencari informasi tentang apapun dimana-mana, termasuk
informasi tentang seks, membuat orang tua harus selalu waspada. Bersikap
terbuka barangkali adalah salah satu cara yang bijaksana agar anak selalu
mendapatkan informasi dari sumber yang tepat dengan jawaban yang
benar tentunya.
2.4 Pandangan Kesahatan Masyarakat dan Islam terhadap Kesehatan
Reproduksi Remaja
2.4.1 Kesehatan Reproduksi Remaja dalam Konteks Kesehatan Masyarakat
1. Remaja dan Permasalahannya
Masa remaja merupakan salah satu periode perkembangan
manusia. Masa inimerupakan masa perubahan atau peralihan dari
masa kanak-kanak ke masa dewasa yangmeliputi perubahan biologic,
perubahan psikologik, dan perubahan sosial. Di sebagian
besarmasyarakat dan budaya masa remaja pada umumnya dimulai
pada usia 10-13 tahun dan berakhir pada usia 18-
22 tahun. Sedangkan menurut World Health Organitation (WHO)
remaja merupakan individu yang sedang mengalami masa peralihan
yang secara berangsur-angsur mencapai kematangan seksual,
mengalami perubahan jiwa dari jiwa kanak-kanak menjadi dewasa,
dan mengalami perubahan keadaan ekonomi dari ketergantungan
menjadi relative mandiri (Notoatmodjo, 2007).
Mohammad (dalam Notoatmodjo, 2007) mengemukakan bahwa
remaja adalah anak berusia 13-25 tahun, di mana usia 13 tahun

15

merupakan batas usia pubertas pada umumnya, yaitu ketika secara
biologis sudah mengalami kematangan seksual dan usia 25 tahun
adalah usia ketika mereka pada umumnya secara sosial dan
psikologis mampu mandiri. Berdasarkan uraian di atas ada dua hal
penting menyangkut batasan remaja, yaitu mereka sedang
mengalami perubahan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa dan
perubahan tersebut menyangkut perubahan fisik dan psikologis.
2. Perilaku Seksual Remaja dan Kesehatan Reproduksi
Perilaku seksual remaja terdiri dan tiga buah kata yang
memiliki pengertian yang sangat berbeda satu sama lainnya. Perilaku
dapat diartikan sebagai respons organisme atau respons seseorang
terhadap stimulus (rangsangan) yang ada (Notoatmodjo, 1993).
Sedangkan seksual adalah rangsangan-rangsangan atau dorongan
yang timbul berhubungan dengan seks. Jadi perilaku seksual remaja
adalah tindakan yang dilakukan oleh remaja berhubungan dengan
dorongan seksual yang datang baik dari dalam dirinya maupun dan
luar dirinya.
Adanya penurunan usia rata-rata pubertas mendorong remaja
untuk aktif secara seksual lebih dini. Dan adanya persepsi bahwa
dirinya memiliki risiko yang lebih rendah atau tidak berisiko sama
sekali yang berhubungan dengan perilaku seksual, semakin
mendorong remaja memenuhi dorongan seksualnya pada saat
sebelum menikah. Persepsi seperti ini disebut youth vulnerability
oleh Quadrel et. al. (1993) juga menyatakan bahwa remaja
cenderung melakukan underestimate terhadap vulnerability dirinya.
Banyak remaja mengira bahwa kehamilan tidak akan terjadi pada
intercourse (sanggama) yang pertama kali atau mereka merasa bahwa
dirinya tidak akan pernah terinfeksi HIV/AIDS karena pertahanan
tubuhnya cukup kuat.
3. Risiko Perilaku Seksual Berisiko Remaja Saat Ini
Seperti telah dikemukakan di bagian pendahuluan, banyak
penelitian dan berita di media massa yang menggambarkan

16

fenomena perilaku seksual remaja pranikah di Indonesia. Sebenarnya
perilaku seksual remaja pranikah sudah ada sejak manusia ada.
Tetapi informasi tentang perilaku tersebut cenderung tidak terungkap
secara luas. Sekarang kondisi masyarakat telah berubah, dengan
telah makin terbukanya arus informasi, makin banyak pula penelitian
atau studi yang mengungkap permasalahan perilaku seksual remaja,
termasuk hubungan seksual pranikah Di Indonesia sendiri ada
beberapa penelitian yang menggambarkan fenomena perilaku
seksual remaja pranikah. Berikut ini ada beberapa penelitian
kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan fenomena tersebut
(Notoatmodjo, 2007).
Bila kita lihat kecenderungan perilaku seksual remaja
pranikah berdasarkan tempat tinggal mereka, ternyata baik di desa
maupun- di kota perilaku tersebut juga sangat memprihatinkan.
Penelitian yang dilakukan oleh Faturochman dan Soetjipto di Bali
(1989) menunjukkan bahwa persentase remaja laki-laki di desa dan
di kota yang telah melakukan hubungan seks masing-masing adalah
23,6% dan 38,5%. Sedangkan penelitian Singarimbun (1994)
menemukan 1,8% remaja wanita di desa dan 36% remaja Wanita di
kota pernah melakukan hubungan seks pranikah. Penelitian
dilakukan oleh Laboratorium Antropologi FISIP UI Hidayana dan
Saefuddin, (1997) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan perilaku
seksual yang cukup mencolok pada remaja desa dan remaja kota di
Sumatra Utara dan di Kalimantan Selatan. Di kedua tempat
penelitian itu terlihat adanya kecenderungan perilaku seksual yang
permisif baik di desa maupun di kota (Notoatmodjo, 2007).
2.4.2 Kesehatan Reproduksi Remaja dalam perspektif islam
Dalam tradisi agama dan fiqh, perkembangan seseorang dari anak-
anak menjadi dewasa (aqil- baligh) menjadi isu tersendiri. Masa remaja
yang bagi anak laki-laki ditandai dengan mimpi basah, dan bagi anak
perempuan ditandai dengan menstruasi atau haidh, memberikan pandangan
yang berbeda- beda bagi sebagian kalangan. Sebagian ulama menyatakan

17

bahwa peristiwa haidh terkadang dipandang sebagai kekurangan
perempuan. Bahkan dalam pandangan konservatif (Yahudi, dan sebagian
muslim), perempuan yang sedang haidh terkadang harus dikucilkan karena
dinilai bisa mendatangkan bencana; tidak boleh menginjakkan kaki di
masjid atau di surau-surau, karena darah yang keluar dari rahimnya
dianggap kotor.
Menarik pandangan Badriyah Fayumi tentang haih dalam Tubuh,
Seksualitas, dan Kedaulatan Perempuan, Bunga Rampai Pemikiran Ulama
Muda. Menurutnya, menstruasi atau yang dalam bahasa agama Islam disebut
haidh merupakan siklus reproduksi yang menandai keadaan sehat dan
berfungsinya organ-organ reproduksi remaja perempuan. Haidh dalam
pandangannya juga menandakan kematangan seksual remaja perempuan
dalam arti bahwa ia memiliki ovum yang dapat dibuahi, bisa hamil, dan
melahirkan anak, sebagaimana fungsi-fungsi reproduksinya. Karenanya,
hak-hak reproduksi remaja yang salah satunya mendapatkan informasi yang
benar tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi juga harus segera
dipenuhi dan diperhatikan.
Lebih jauh Badriyah juga menyampaikan, memang dalam Alquran
persoalan haidh, ataupun nifas (darah yang keluar dari rahim perempuan
karena proses melahirkan) dan juga istihadhah (darah yang keluar dari
rahim perempuan di luar haidh dan nifas) tidak dibahas secara mendalam.
Namun sesungguhnya hal-hal terkait reproduksi telah menjadi perhatian
besar bagi Islam. Sebab, persoalan reproduksi bagi remaja dan atau
perempuan ini akan berimplikasi pada ketentuan- ketentuan agama, baik
dalam aspek ibadah, muamalah, maupun munakahat (Fayumi, 2002).

Dalam hal ini Nabi Muhammad saw. pernah mengecam dan menolak keras
tradisi yang mengisolasi remaja maupun perempuan yang sedang haidh atau
menjalani fungsi dan proses reproduksinya. Ini terjadi karena ada seorang
sahabat yang mengadu kepada Nabi tentang kaum Yahudi dan sebagian
muslimin yang selalu memandang buruk, bahkan tidak mau makan bersama
anak perempuan atau istrinya yang sedang haidh. Karenanya, turunlah QS.
Al-Baqarah: 222. Dan Nabi saw. juga bersabda, Berbuat apa sajalah

18

(terhadap istri yang sedang haidh) kecuali berhubungan seks.
Selanjutnya, kaum muslimin sesungguhnya juga meyakini ajaran Islam
adalah ajaran yang mengatur seluruh dimensi kemanusiaan. Tidak ada
satupun persoalan kemanusiaan yang tidak tersentuh oleh pesan ajaran Islam.
Jargon al-Islam shalihun likulli zamanin wa makanin sangat
mengukuhkan universalitas Islam. Dengan misi rahmatan lil alamin Islam
diyakini pula mengemban misi perlindungan terhadap hak kesehatan
reproduksi bagi setiap umat, lelaki dan perempuan; anak-anak, dewasa,
maupun remaja. Sebab itulah seluruh ulama sepakat, bahkan semua agama-
agama, bahwa misi utama agama adalah mewujudkan kemaslahatan seluruh
umat manusia (Nakhai,, 2009).

Kemaslahatan manusia dunia akhirat akan tercapai manakala
kebutuhan dharuri mereka terpenuhi. Kebutuhan dharuri sebagaimana
dirumuskan Al-Ghazali adalah mencakup hifdzu ad- din, hifdzu an-nafsi,
hifdzu al-nasl, hifdzu al-irdhi, hifdzu al-aql, dan hifdzu al-mal. Tak syak
lagi bahwa hifdzu al-nafs, hifdzu an-nasl, dan hifdzu al-irdhi merupakan
bagian dari maqashid asy-syariah yang berkaitan erat dengan upaya
pemeliharaan kesehatan reproduksi.
Demi melindungi an-nafs, Islam melarang segala bentuk tindakan yang
dapat membahayakan atau menghilangkan hak hidup seseorang sebagai hak
dasar dalam kesehatan reproduksi bagi setiap individu. Ketentuan-ketentuan
hukum fiqh juga sepenuhnya melindungi hak hidup semua orang dari
perlakuan sewenang-wenang. Apalagi Alquran juga mengatur setiap proses
reproduksi dengan baik, salah satunya melalui sebuah pernikahan (QS. An-
Nisa: 1; An-Nahl: 72). Islam juga menganjurkan setiap orang melakukan
amal-amal sosial yang dapat mempermudah mereka untuk menjalankan
fungsi hidupnya, termasuk fungsi reproduksinya.
Dalam konteks hifdzu al-nasl, Alquran juga menganjurkan agar setiap orang
menjalankan dan menggunakan fungsi reproduksinya pada saat yang tepat.
Misalnya, hanya mengandung dan melahirkan keturunan yang berkualitas
pada waktunya (tidak di usia remaja); dan sebisa mungkin menghindari
melahirkan keturunan yang lemah (dzurriyatan dhiafa) yang dapat menjadi

19

beban orang lain. Karenanya, remaja yang masih dalam masa tumbuh
kembang diharapkan untuk tidak melahirkan yang dapat menurunkan
rendahnya kualitas keturunan. Bukankah Nabi saw. pernah menyatakan
mukmin yang kuat lebih baik dari mukmin yang lemah, yang hanya akan
menjadi tanggungan bagi orang lain.Demikian pula, proses penciptaan
manusia yang diceritakan dalam Alquran juga mengisyaratkan agar setiap
tahapan penciptaan dan tumbuh kembang manusia mendapatkan perhatian
dan perlindungan. Konsep agama seperti inilah yang sangat mendukung
terciptanya kesehatan reproduksi yang baik bagi setiap umatnya (Almawaliy,
2010).
Salah satu perhatian Islam yang lain adalah hak dalam menentukan
pasangan. Oleh karenanya, Islam sebenarnya tidak menghendaki adanya
kawin paksa. Oleh karena itu, selain menganjurkan adanya pernikahan bagi
umatnya yang telah memiliki kesiapan fisik dan mental; hak menentukan
pasangan juga telah dijamin oleh Islam. Nabi bersabda, Seorang janda
tidak boleh dikawinkan tanpa diajak dahulu bermusyawarah dan seorang
gadis tidak boleh dikawinkan tanpa meminta persetujuannya terlebih
dahulu. (HR Bukhari). Meskipundiam-nya seorang anak gadis bisa
dianggap sebagai persetujuannya, namun yang lebih penting bukanlah
memaknainya sebagai hak untuk memaksa; namun jauh lebih penting tidak
mengawinkan seorang perempuan tanpa mengabaikan hak-haknya dalam
memilih seseorang yang akan menjadi pasangan hidupnya.
Islam juga mengajarkan adanya kehidupan seksual yang sehat. Oleh
karena itu, ia melarang berbagai upaya yang dapat mengurangi atau
menyebabkan seseorang tidak dapat menikmati seksualitas dan kesehatan
reproduksinya dengan baik. Nikah dini, kawin paksa atau terpaksa kawin
yang oleh masyarakat dikenal dengan MBA (Married by
Accident) merupakan contoh persoalan yang berpotensi dihadapi oleh
remaja yang menyebabkan mereka tidak dapat menjalani kehidupan seksual
yang sehat. Tidak dianjurkannya sunat bagi perempuan, juga dapat
dipandang sebagai jaminan bagi perempuan untuk dapat menikmati kegiatan
seksual (Almawaliy, 2010).

20

Islam sesungguhnya tidak anti terhadap kegiatan seksual. Islam
mengaturnya agar kesehatan reproduksi bagi setiap individu terjaga untuk
meneruskan keturunan yang unggul pada saat yang tepat. Inilah
pemahaman-pemahaman yang semestinya diberikan sebagai bekal bagi
setiap remaja agar mereka menjadi generasi penerus yang tidak hanya sehat
secara fisik, jasmani, dan rohani, namun juga sosialnya. Agar mereka juga
menjadi pribadi-pribadi yang lebih bertanggungjawab terhadap fungsi
reproduksi yang Tuhan berikan kepada mereka. Sebab seksualitas dan
reproduksi merupakan fitrah dari Allah swt. kepada setiap individu sebagai
hamba-Nya yang dikasihi (Almawaliy, 2010).


































21

BAB 3
PEMBAHASAN

3.1 Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi berkaitan dengan kemampuan untuk memiliki
kehidupan seksual yang memuaskan dan aman, serta kemampuan untuk memiliki
keturunan dan bebas menentukan waktu memiliki keturunan dan jumlah
keturunan. Islam sebagai pandangan hidup tentu saja memiliki kaitan dengan
kesehatan reproduksi mengingat Islam berfungsi sebagai pengatur kehidupan
manusia dalam rangka mencapai keadaan sesuai dengan definisi kesehatan
reproduksi itu sendiri. Islam mengatur kesehatan reproduksi manusia ditujukan
untuk memuliakan dan menjunjung tinggi derajat manusia. Dan Islam sejak
belasan abad yang lalu jauh sebelum kemajuan ilmu kesehatan dan kedokteran
mengaturnya sesuai dengan Quran, hadits, dan ijma para ulama, yang mencakup
seksualitas, kehamilan, menyusui, kontrasepsi dan KB, dan aborsi, serta hal lain
yang tidak dapat dijelaskan satu-satu persatu. Dan sebagai umat muslim kita wajib
mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan Islam dalam rangka mencapai
kesejahteraan sebagai umat manusia (Asyafha, 2011).
Dalam era modern seperti sekarang ini, berbagai masalah reproduksi telah
menjadi topik hangat yang sedang di bahas. Mulai dari masalah seksualitas,
kehamilan, aborsi, alat kontrasepsi, dan pendidikan seksual. Berdasarkan
permasalahan reproduksi yang sedang marak dikalangan masyarakat saat ini maka
ini merupakan permasalahan dalam kesehatan masyarakat yang perlu diperhatikan.
Dalam mengatasi hal tersebut diperlukan pedoman dalam penyelesainnya. Ilmu
kedokteran dan islam dapat digunakan sebagai pedoman dalam mengatur
kesehatan reproduksi manusia. Seperti yang dibahas sebelumnya bahwa islam
telah mengatur kesehatan reproduksi manusia. Oleh karena itu dengan mengikuti
panduan islam yang diperkuat dengan penemuan dalam ilmu kedokteran dapat
menjadi fondasi dalam mengatasi permaslahan terkait kesehatan reproduksi secara
tepat.
Salah satu kajian dalam kesehatan reproduksi adalah kehamilan. Kehamilan
merupakan suatu yang wajar bagi mereka yang telah menikah dimana kehamilan

22

terjadi karena adanya pertemuan sel sperma atau air mani dengan sel ovum.
Dalam islam hal ini tertuang dalam Al-Quran surat Al Mukminun: 14 yang berisi
larangan melakukan zina. Selain itu dalam islam, kehamilan di ulas dalam Al-
Quran surat Al Hajj: 5, QS. Al Muminun: 14, Surat As Sajadah: 9, di mana dalam
surat-surat tersebut telah dijelaskan tahap demi tahap perkembangan penciptaan
manusia. Al-Quran menyebutkan tempat
tempat mekanisme yang tepat dan menyebutkan tahap-tahap yang pasti
dalam reproduksi, tanpa memberi bahan yang keliru sedikit pun. Dengan
demikian telah dijelaskan dengan sangat rinci mengenai suatu proses kehamilan
mulai dari air mani di jadikan segumpal darah sampai dengan meniupan roh ke
dalam tubuh manusia.
Setelah proses kehamilan tentunya akan melewati proses persalinan yang
kemudian proses menyusui. Semua proses ini tentunya berisiko bagi ibu hamil,
oleh karenanya ilmu kedokteran mencoba mengkajinya untuk meminimalkan
risiko tersebut. Begitu juga dalam islam, quran telah menjelaskan dalam surat Al-
Baqarah: 233 bahwa seorang istri merupakan ladang untuk bercocok tanam.
Artinya, ibu merupakan ladang bagi pembentukan sistem kekebalan tubuh bayi
dalam tahun-tahun pertama kehidupannya melalui pemberian ASI.
ASI tidak hanya penting bagi bayi saja tetapi penting pula bagi ibunya.
Hubungan batin antara ibu dan bayinya menjadi lebih terasa karena dekatnya
hubungan mereka melalui proses penyusuan. Secara klinis telah pula diteliti
bahwa penyusuan dapat mengurangi risiko kanker payudara. Selain itu proses
penyusuan berguna pula sebagai kontrasepsi alamiah.
Kontrasepsi sebagai sarana pengaturan jarak kehamilan masih menjadi
perdebatan di kalangan ulama dan ilmuwan Islam. Ada kalangan yang menentang
karena mereka beranggapan kontrasepsi atau keluarga berencana merupakan
produk Yahudi dan kaum kafir untuk melemahkan kaum muslimin Namum
adapula yang setuju adanya kontrasepsi. Kontrasepsi di dunia Islam memiliki
sejarah panjang. Dasar penggunaan kontrasepsi di dalam Islam adalah hadits
Rasulullah yang berbunyi, Kami pernah melakukan azl (senggama terputus) di
zaman Rasulullah. Rasul mengetahui hal itu terapi tidak melarang kami
melakukannya. Beberapa ulama menggunakan qyas, bila azl diperbolehkan,

23

maka metode ikhtiar pengaturan kehamilan lainnya pun boleh, kecuali sterilisasi.
Jarak kehamilan dalam Islam pun telah diatur melalui program menyusui.
Penggunaan kontrasepsi dilarang jika ditujukan untuk menyuburkan kolonialisme
dan imperialism. Intinya ketentuan Islam yang berhubungan dengan kontrasepsi
atau KB bergantung kepada niat.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa salah satu kajian kesehatan
reproduksi adalah kehamilan. Sayangnya kehamilan ini tidak selamanya
dikehendaki, apabila terjadi kehamilan diluar pernikahan, kerap sekali terjadi
tindak aborsi. Dimana aborsi itu sendiri berarti penghentian kehamilan sebelum
usia 20 minggu. Didalam islam tindak aborsi menimbulkan pro dan kontra.
Dimana ada kalangan yang tidak setuju adanya aborsi dikarenakan telah
melakukan tindakan dosa besar yaitu pembunuhan. Hal ini di jelaskan dalam QS.
Ath-Thalaq: 3. Sementara itu kalangan muslim lainnya membolehkan aborsi
hanya untuk alasan berat seperti mengancam nyawa ibu atau kemungkinan janin
lahir cacat. Secara medis aborsi ada 2 yaitu aborsi profokatus dan aaborsi spontan.
Seperti yang dikemukan dalam islam bahwa aborsi itu di larang karena
membunuh jiwa, dalam medis aborsi yang seperti ini disebut aborsi profokatus.
Aborsi profokstus memang dilarang untuk dilakukan di Indonesia. Tenaga medis
professional dilarang untuk melakukan aborsi ini, sehingga banyak terjadi aborsi
tidak aman.. Hal ini dikarenakan yang melakukan adalah bukan tenaga ahli.
Sedangkan aborsi yang dibolehkan oleh beberapa kalangan muslim untuk alasan
berat seperti mengancam nyawa ibu atau kemungkinan janin lahir cacat, dalam
ilmu kedokteran disebut dengan aborsi spontan.
Jika dilihat dari sudut pandang permasalahan secara global masalah
reproduksi ini baik menurut pandangan islam dan pandangan dari mana saja yang
memandang permasalahan ini akan memiliki satu tujuan yang sama pada akhirnya.
Untuk intervensinya bisa dilakukan dengan pengenalan pendidikan seks dasar dari
masa kanak-kanak dengan bahasa yang baik dan benar, serta pendekatan didalam
keluarga itu sendiri. Dibicarakan sedini mungkin akan memberikan dampak yang
hebat untuk di kemudian harinya.



24

3.2. Kesehatan Seksual
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, masyarakat pesantren telah lama
memberikan pendidikan seks dan reproduksi melalui pengajian kitab kuning.
Khususnya kitab fiqih yang menjadi basis keilmuan pesantren. Namun dalam
kehidupan bermasyarakat ataupun kehidupan sehari hari membicarakan tentang
pendidikan seks masih menjadi hal yang tabu meskipun tujuannya adalah untuk
pendidikan. Akibatnya anak-anak yang berangkat remaja jarang yang mendapat
bekal pengetahuan seks yang cukup dari orang tua.
Dalam ilmu fiqih dijelaskan bahwa proses reproduksi dan seksualitas
bukan hanya biologis namun merupakan perbuatan mulia dan ibadah apabila
dilakukan oleh pasangan laki laki dan perempuan yang sudah menikah secara
sah. Realita yang terjadi sekarang ini adalah banyak remaja yang melakukan
hubungan seksual sebelum menikah dengan tujuan untuk kepuasan saja. Padahal
dalam islam sudah dijelaskan bahwa melakukan hubungan seksual sebelum
menikah sangat dilarang seperti yang sudah dijelaskan dalam Quran surat Al Israa:
32 Dan janganlah kamu menghampiri zina, sesungguhnya zina itu adalah satu
perbuatan yang keji dan satu jalan yang jahat (yang membawa kerusakan).
Dari zaman nabi Luth islam juga melarang hubungan seksual melalui
dubur dan mulut ( anal dan oral seks ), homoseksual, sodomi, lesbianism, dan
perilaku seksual lain yang tidak wajar. Hal ini sekarang sudah terbukti dengan
diadakan penelitian tentang penyebab penyakit kelamin dengan perilaku seksual
yang menyimpang. Dr. Paat dan dr. Boyke menjelaskan mengenai risiko
melakukan hubungan seksual pranikah perlu ditekankan. Umpamanya, kehamilan,
kemungkinan terinfeksi HIV atau tertular penyakit kelamin kalau bergonta-ganti
pasangan. Bila terjadi kehamilan dan kandungan terpaksa digugurkan, mereka
menghadapi kemungkinan perdarahan, infeksi, kemandulan, bahkan kematian.
Belum lagi stres atau rasa berdosa yang akan dihadapi si anak. Juga diingatkan,
dengan anak yang mereka lahirkan di luar nikah, mereka juga yang harus
bertanggungjawab sebagai ayah dan ibunya.




25



BAB IV
KESIMPULAN

Kesehatan reproduksi (kespro) secara umum didefinisikan sebagai
keadaan sejahtera fisik, mental, sosial dalam segala hal yang berkaitan dengan
kesehatan reproduksi. Kesehatan reproduksi memiliki tiga komponen yaitu
kemampuan untuk prokreasi, mengatur tingkat kesuburan, dan menikmati
kehidupan seksual; dampak kehamilan yang baik melalui angka harapan hidup
danpertumbuhan bayi dan balita yang meningkat; serta proses reproduksi yang
aman.
Islam sebagai pandangan hidup tentu saja memiliki kaitan dengan
kesehatan reproduksi mengingat Islam berfungsi sebagai pengatur kehidupan
manusia dalam rangka mencapai keadaan sesuai dengan definisi kesehatan
reproduksi itu sendiri
Sedangkan Kesehatan Seksual secara umum adalah "Kombinasi dari
bagian kegiatan seksual yang bersifat fisik, emosional, intelektual dan sosial,
sehingga seks adalah pengalaman positif yang dapat meningkatkan kualitas hidup,
menjadikan lingkungan kita lebih baik untuk kehidupan. Dalam Islam seksualitas
dapat menjadi hal terpuji maupun tercela. Seksualitas dapat menjadi hal terpuji
jika dilakukan oleh pasangan laki laki dan perempuan bukan antara pasangan
sejenis ( homoseksual ) yang sudah menikah secara sah.dan seksual itu akan
menjadi hal tercela apabila dilakukan di luar pernikahan, antara pasangan sejenis,
atau dengan binatang.
Kajian kesehatan reproduksi dalam islam :
1. Islam dan Kehamilan
2. Islam dan Menyusui
3. Islam dan Kontrasepsi
4. Islam dan Aborsi
5. Islam dan Pendidikan Seks


26

Pandangan kesahatan masyarakat dan islam terhadap kesehatan reproduksi
remaja :
1. Kesehatan Reproduksi Remaja dalam Konteks Kesehatan Masyarakat
2. Kesehatan Reproduksi Remaja dalam perspektif islam





























27

DAFTAR PUSTAKA

Almawaliy, Hafidzoh.2010. Kesehatan Penyakit Remaja (KRR) Perhatian Besar
bagi Islam. Fokus.

Fayumi, Badriyah.2002. Haidh Nifas dan Istihadhah dalam Tubuh Seksualitas
dan KedaulatanPerempuan. Jakarta: LkiS dan The Ford Foundation.

Nakha I Imam.2009. Kesehatan Reproduksi dalam Perspektif Hukum Islam.
Jember:PP.Nuris.

Notoatmodjo, Soekidjo.2007.Kesehatan Masyarakat : Ilmu dan Seni . Jakarta :
Rineka Cipta.

Ronaldo, Romi.2012. Kesehatan Reproduksi Remaja dalam Konteks Kesehatan
Masyarakat. Padang : Universitas Andalas. Makalah.

Asyafa, Annisa Nayya.2010.Islam dan Kesehatan Reproduksi.
http://kesehatandanislam.blogspot.com/2011/10/islam-dan-kesehatan-
reproduksi.html ,diakses tanggal 7 Maret 2014

Mazdien.2013.Pendidikan Seks Dalam Islam.
http://arealv.blogspot.com/2013/01/pendidikan-sex-dalam-pandangan-islam.html,
diakses tanggal 7 Maret 2014

Riegos,Mutiarha.2013. Kesehatan Reproduksi.
http://mutiamuciarha.blogspot.com/2013/02/definisi-kesehatan-reproduksi-
dan.html, diakses tanggal 7 maret 2014

http://pusikon-grep.blogspot.com/2012/06/apa-sih-bedanya-kesehatan-
reproduksi.html, diakses tanggal 7 Maret 2014

http://www.palopopos.co.id/?vi=detail&nid=67802, diakses tanggal 7 Maret 2014

http://azista.blogspot.com/2012/04/kesehatan-reproduksi-remaja-dalam.html,
diakses tanggal 7 Maret 2014

Anda mungkin juga menyukai