Anda di halaman 1dari 19

Karya Komputer Birayang

Kec. Batang Alai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah (Kal-Sel)


A. Komponen Pengembangan Kurikulum 2013
Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan kebudayaan,
sosial, olahraga, dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-
murid di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolongnya untuk
berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku
mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan (Dr. Addamardasyi dan Dr.
Munir Kamil).

Fungsi kurikulum dalam proses pendidikan adalah sebagai alat untuk
mencapai tujuan pendidikan. Dalam hal ini, berarti bahwa sebagai alat
pendidikan kurikulum memiliki komponen-komponen penting dan sebagai
penunjang yang dapat mendukung operasinya secara baik. Komponen-
komponen pembentuk ini satu sama lainnya saling berkaitan. Adapun
komponen-komponen pengembangan kurikulum, yaitu komponen tujuan,
komponen isi, komponen metode, dan komponen evaluasi. Komponen satu
sama lain ini saling berkaitan.

Adapun uraian dari masing-masing komponen tersebut ialah sebagai
berikut:
1. Komponen Tujuan
Komponen tujuan merupakan komponen pembentuk kurikulum
yang berkaitan dengan hal-hal yang ingin dicapai atau hasil yang
diharapkan dari kurikulum yang akan dijalankan. Dengan membuat
Karya Komputer Birayang
Kec. Batang Alai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah (Kal-Sel)
tujuan yang pasti, hal tersebut akan membantu dalam proses
pembuatan kurikulum yang sesuai dan juga membantu dalam
pelaksanaan kurikulumnya agar tujuan yang diharapkan dapat
tercapai.
Tujuan pendidikan diklasifikasikan menjadi empat, yaitu:
a. Tujuan Pendidikan Nasional
Dalam perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan
nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.
b. Tujuan Institusional
Tujuan institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap
lembaga pendidikan. Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007
dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan
dasar dan menengah dirumuskan sebagai berikut.
1) Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk
hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
2) Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk
hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
3) Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan
kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta
keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih
lanjut sesuai dengan kejuruannya.
c. Tujuan Kurikuler
Karya Komputer Birayang
Kec. Batang Alai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah (Kal-Sel)
Tujuan kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang
studi atau mata pelajaran.
d. Tujuan Instruksional atau Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran yang merupakan bagian dari tujuan kurikuler,
dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh
anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam
bidang studi tertentu dalam satu kali pertemuan.
2. Komponen Isi
Isi program kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada
anak didik dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai
tujuan. Isi kurikulum meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan
dan isi program dari masing-masing bidang studi tersebut.
3. Komponen Metode
Komponen metode atau strategi merupakan komponen yang cukup
penting karena metode dan strategi yang digunakan dalam kurikulum
tersebut menentukan apakah materi yang diberikan atau tujuan yang
diharapkan dapat tercapai atau tidak. Dalam prakteknya, seorang guru
seyogyanya dapat mengembangkan strategi pembelajaran secara variatif,
menggunakan berbagai strategi yang memungkinkan siswa untuk dapat
melaksanakan proses belajarnya secara aktif, kreatif dan
menyenangkan, dengan efektivitas yang tinggi. Pemilihan atau
pembuatan metode atau strategi dalam menjalankan kurikulum yang
telah dibuat haruslah sesuai dengan materi yang akan diberikan dan
tujuan yang ingin dicapai.
4. Komponen Evaluasi
Dalam pengertian terbatas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk
memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang ingin
diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Sedangkan dalam
pengertian yang lebih luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk
memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai
kriteria.

Karya Komputer Birayang
Kec. Batang Alai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah (Kal-Sel)
Komponen evaluasi merupakan bagian dari pembentuk kurikulum
yang berperan sebagai cara untuk mengukur atau melihat apakah
tujuan yang telah dibuat itu tercapai atau tidak. Selain itu, dengan
melakukan evaluasi, kita dapat mengetahui apabila ada kesalahan pada
materi yang diberikan atau metode yang digunakan dalam menjalankan
kurikulum yang telah dibuat dengan melihat hasil dari evaluasi
tersebut. Dengan begitu, kita juga dapat segera memperbaiki kesalahan
yang ada atau mempertahankan bahkan meningkatkan hal-hal yang
sudah baik atau berhasil.




B.Empat Belas Prinsip Pengembangan Kurikulum 2013



Pelaksanaan pembelajaran pada pelaksanaan kurikulum 2013 memiliki
karakteristik yang berbeda dari pelaksanaan kurikulum 2006. Berdasarkan
hasil analisis terhadap kondisi yang diharapkan terdapat maka dipeloleh 14
prinsip utama pembelajaran yang perlu guru terapkan.
Ada pun 14 prinsip itu adalah:
1. Dari siswa diberi tahu menuju siswa mencari tahu; pembelajaran
mendorong siswa menjadi pembelajar aktif, pada awal pembelajaran
guru tidak berusaha untuk meberitahu siswa karena itu materi
pembelajaran tidak disajikan dalam bentuk final. Pada awal
pembelajaran guru membangkitkan rasa ingin tahu siswa terhadap
suatu fenomena atau fakta lalu mereka merumuskan
ketidaktahuannya dalam bentuk pertanyaan. Jika biasanya kegiatan
Karya Komputer Birayang
Kec. Batang Alai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah (Kal-Sel)
pembelajaran dimulai dengan penyampaian informasi dari guru
sebagai sumber belajar, maka dalam pelaksanaan kurikulum 2013
kegiatan inti dimulai dengan siswa mengamati fenomena atau fakta
tertentu. Oleh karena itu guru selalu memulai dengan menyajikan
alat bantu pembelajaran untuk mengembangkan rasa ingin tahu
siswa dan dengan alat bantu itu guru membangkitkan rasa ingin tahu
siswa dengan bertanya.
2. Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar
berbasis aneka sumber; pembelajaran berbasis sistem lingkungan.
Dalam kegiatan pembelajaran membuka peluang kepada siswa
sumber belajar seperti informasi dari buku siswa, internet, koran,
majalah, referensi dari perpustakaan yang telah disiapkan. Pada
metode proyek, pemecahan masalah, atau inkuiri siswa dapat
memanfaatkan sumber belajar di luar kelas. Dianjurkan pula untuk
materi tertentu siswa memanfaatkan sumber belajar di sekitar
lingkungan masyarakat. Tentu dengan pendekatan ini pembelajaran
tidak cukup dengan pelaksanaan tatap muka dalam kelas.
3. Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan
penggunaan pendekatan ilmiah; pergeseran ini membuat guru tidak
hanya menggunakan sumber belajar tertulis sebagai satu-satunya
sumber belajar siswa dan hasil belajar siswa hanya dalam bentuk
teks. Hasil belajar dapat diperluas dalam bentuk teks, disain
program, mind maping, gambar, diagram, tabel, kemampuan
berkomunikasi, kemampuan mempraktikan sesuatu yang dapat
dilihat dari lisannya, tulisannya, geraknya, atau karyanya.
4. Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis
kompetensi; pembelajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar,
tetapi dari aktivitas dalam proses belajar. Yang dikembangkan dan
dinilai adalah sikap, pengetahuan, dan keterampilannya.
5. Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu; mata
pelajaran dalam pelaksanaan kurikulum 2013 menjadi komponen
sistem yang terpadu. Semua materi pelajaran perlu diletakkan
dalam sistem yang terpadu untuk menghasilkan kompetensi lulusan.
Karya Komputer Birayang
Kec. Batang Alai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah (Kal-Sel)
Oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran bersama-sama,
menentukan karya siswa bersama-sama, serta menentukan karya
utama pada tiap mata pelajaran bersama-sama, agar beban belajar
siswa dapat diatur sehingga tugas yang banyak, aktivitas yang
banyak, serta penggunaan waktu yang banyak tidak menjadi beban
belajar berlebih yang kontraproduktif terhadap perkembangan siswa.
6. Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju
pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;
di sini siswa belajar menerima kebenaran tidak tunggul. Siswa
melihat awan yang sama di sebuah kabupaten. Mereka akan
melihatnya dari tempatnya berpijak. Jika ada sejumlah siswa yang
melukiskan awan pada jam yang sama dari tempat yangberjauhan,
mereka akan melukiskannya berbeda-beda, semua benar tentang
awan itu, benar menjadi beragam.
7. Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;
pada waktu lalu pembelajaran berlangsung ceramah. Segala sesuatu
diungkapkan dalam bentuk lisan guru, fakta disajikan dalam bentuk
informasi verbal, sekarang siswa harus lihat faktanya, gambarnya,
videonya, diagaramnya, teksnya yang membuat siswa melihat,
meraba, merasa dengan panca indranya. Siswa belajar tidak hanya
dengan mendengar, namun dengan menggunakan panca indra
lainnya.
8. Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal
(hardskills) dan keterampilan mental (softskills); hasil belajar
pada rapot tidak hanya melaporkan angka dalam bentuk
pengetahuannya, tetapi menyajikan informasi menyangku
perkembangan sikapnya dan keterampilannya. Keterampilan yang
dimaksud bisa keterampilan membacan, menulis, berbicara,
mendengar yang mencerminkan keterampilan berpikirnya.
Keterampilan bisa juga dalam bentuk aktivitas dalam menghasilkan
karya, sampai pada keterampilan berkomunikasi yang santun,
keterampilan menghargai pendapat dan yang lainnya.
Karya Komputer Birayang
Kec. Batang Alai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah (Kal-Sel)
9. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan
pemberdayaan siswa sebagai pembelajar sepanjang hayat; ini
memerlukan guru untuk mengembangkan pembiasaan sejak dini
untuk melaksanakan norma yang baik sesuai dengan budaya
masyarakat setempat, dalam ruang lingkup yang lebih luas siswa
perlu mengembangkan kecakapan berpikir, bertindak, berbudi
sebagai bangsa, bahkan memiliki kemampuan untuk menyesusaikan
dengan dengan kebutuhan beradaptasi pada lingkungan global.
Kebiasaan membaca, menulis, menggunakan teknologi, bicara yang
santun merupakan aktivitas yang tidak hanya diperlukan dalam
budaya lokal, namun bermanfaat untuk berkompetisi dalam ruang
lingkup global.
10. 10. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan
memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun
kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan
kreativitas siswa dalam proses pembelajaran (tut wuri
handayani); di sini guru perlu menempatkan diri sebagai fasilitator
yang dapat menjadi teladan, meberi contoh bagaimana hidup selalu
belajar, hidup patuh menjalankan agama dan prilaku baik lain. Guru di
depan jadi teladan, di tengah siswa menjadi teman belajar, di
belakang selalu mendorong semangat siswa tumbuh mengembangkan
pontensi dirinya secara optimal.
11. Pembelajaran berlangsung di rumah, di sekolah, dan di
masyarakat; karena itu pembelajaran dalam kurikulum 2013
memerlukan waktu yang lebih banyak dan memanfaatkan ruang dan
waktu secara integratif. Pembelajaran tidak hanya memanfaatkan
waktu dalam kelas.
12. Pembelajaran menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah
guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas.
Prinsip ini menadakan bahwa ruang belajar siswa tidak hanya
dibatasi dengan dinding ruang kelas. Sekolah dan lingkungan sekitar
adalah kelas besar untuk siswa belajar. Lingkungan sekolah sebagai
ruang belajar yang sangat ideal untuk mengembangkan kompetensi
Karya Komputer Birayang
Kec. Batang Alai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah (Kal-Sel)
siswa. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya dapat
mengembangkan sistem yang terbuka.
13. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (tIK)
untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; di
sini sekolah perlu meningkatkan daya guru dan siswa untuk
memanfaatkan TIK. Jika guru belum memiliki kapasitas yang
mumpuni siswa dapat belajar dari siapa pun. Yang paling penting
mereka harus dapat menguasai TIK sebabab mendapatkan pelajaran
dengan dukungan TIK atau tidak siswa tetap akan menghadapi
tantangan dalam hidupnya menjadi pengguna TIK. Jika sekolah tidak
memfasilitasi pasti daya kompetisi siswa akan jomplang daripada
siswa yang memeroleh pelajaran menggunakannya.
14. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang
budaya siswa; cita-cita, latar belakang keluarga, cara mendapat
pendidikan di rumah, cara pandang, cara belajar, cara berpikir,
keyakinan siswa berbeda-beda. Oleh karena itu pembelajaran harus
melihat perbedaan itu sebagai kekayaan yang potensial dan indah jika
dikembangkan menjadi kesatuan yang memiliki unsur keragaman.
Hargai semua siswa, kembangkan kolaborasi, dan biarkan siswa
tumbuh menurut potensinya masing-masing dalam kolobarasi
kelompoknya

C. LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
a. Filosofis
1) Filosofi pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai
akademik, kebutuhan peserta didik dan masyarakat
2) Kurikulum berorientasi pada pengembangan kompetensi

Dari aspek filosofis, Nampak terlihat jelas bahwa rancangan kurikulum
ini berlandaskan pada filsafat pragmatis, yang kemudian dalam pendidikan
dikenal aliran progresif. Aliran ini menentang dan menolak otoritarisme dan
absolutism dalam pendidikan, sebagai implikasi dari fahamnya adalah
Karya Komputer Birayang
Kec. Batang Alai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah (Kal-Sel)
bahwa pendidikan haruslah dirancang sesuai kebutuhan subjek didik dan
kebutuhan masyarakat dan lingkungan.
b. Yuridis
1) RPJM 20120-2014 Sektor Pendidikan
Perubahan metodologi pembelajaran
Penataan kurikulum
Menurut hemat Penulis, produk pemikiran tentang landasan filosofis
tadi adalah hasil pemikiran dari orang-orang yang memiliki wewenang
dalam menentukan kebijakan dalam pendidikan di Indonesia. Lalu
kemudian, lahirlah RPJM yang di dalamnya memuat aturan untuk
mereformulasi metodologi pembelajaran dalam sekolah. Sesuai dengan
landasan filosofis, maka meode pembelajaran yang akan digunakan
adalah model student sentries, yaitu model pembelajaran yang terfokus
pada siswa. Hal ini akan kita temukan pada poin rasionalitas
penambahan jam pelajaran, di mana di dalamnya terdapat suatu ide
tentang perubahan proses pembelajaran (dari siswa diberi tahu menjadi
siswa mencari tahu). Model pembelajaran semacam ini kita kenal
dengan metode pembelajaran inkuiri. Strategi pembelajaran inkuiri ini
berangkat dari asumsi bahwa sejak manusia lahir ke dunia, menusia
memiliki dorongan untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa
ingin tahu tentang keadaan alam di sekelilingnya merupakan kodrat
manusia sejak ia lahir ke dunia.

2) INPRES nomor 1 tahun 2012
Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional:
penyempurnaan Kurikulum dan Metode Pembelajaran aktif
berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing
karakter bangsa

c. Konseptual
1) Relevansi
2) Model kurikulum berbasis kompetensi
3) Kurikulum lebih dari sekedar dokumen
Karya Komputer Birayang
Kec. Batang Alai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah (Kal-Sel)
4) Proses pembelajaran
5) Penilaian
Secara umum, kurikulum 2013 berlandaskan pada tiga hal, yaitu aspek
filosofis, yuridis, dan konseptual. Hasil analisa Penulis memberika suatu
kesimpulan umum bahwa kurikulum ini akan melakukan perubahan dalam
hal materi, metode pembelajaran, pengembangan kompetensi, relevansi
dengan kodisi masyarakat tiap satuan pendidikan, proses pembelajaran
(input, proses, output), dan sistem evaluasi dan penilaian.
Selanjutnya akan dibahas masalah strategi pengembangan kurikulum
ini, kira-kira langkah-langkah dan strategi pengembangan pendidikan di
Indonesia.


D. IMPLEMENTASI KTSP KURIKULUM 2013
Kurikulum 2013 diluncurkan secara resmi pada tanggal 15 Juli
2013. Sedangkan implementasinya telah diterapkan pada tahun pelajaran
2013/2014 di sekolah-sekolah tertentu atau masih terbatas. Dulu dan
sekarang, kita sudah mengenal dengan yang namanya KTSPatau
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang mulai diberlakukan sejak
tahun ajaran 2007/2008. Kalau kita cermati bersama, perbedaan paling
mendasar antara Kurikulum 2013 dengan KTSP. Dalam KTSP, kegiatan
pengembangan silabus merupakan kewenangan satuan pendidikan, namun
dalam Kurikulum 2013 kegiatan pengembangan silabus beralih menjadi
kewenangan pemerintah, kecuali untuk mata pelajaran tertentu yang secara
khusus dikembangkan di satuan pendidikan yang bersangkutan.
Namun dibalik perbedaan yang ada, sebenarnya juga terdapat
kesamaan esensi antara Kurikulum 2013 dengan KTSP. Misalnya tentang
pendekatan ilmiah (Scientific Approach) yang pada hakekatnya adalah
pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa mencari pengetahuan bukan
menerima pengetahuan. Pendekatan ini mempunyai esensi yang sama
dengan Pendekatan Keterampilan Proses (PKP). Masalah pendekatan
sebenarnya bukan masalah kurikulum, tetapi masalah implementasi yang
tidak jalan di kelas. Bisa jadi pendekatan ilmiah yang diperkenalkan di
Karya Komputer Birayang
Kec. Batang Alai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah (Kal-Sel)
Kurikulum 2013 akan bernasib sama dengan pendekatan-pendekatan
kurikulum terdahulu bila guru tidak paham dan tidak bisa menerapkannya
dalam pembelajaran di kelas.
Berikut ini adalah perbedaan antara Kurikulum 2013 dengan KTSP
No Kurikulum 2013 KTSP
1
SKL (Standar Kompetensi
Lulusan) ditentukan terlebih
dahulu, melalui Permendikbud
No 54 Tahun 2013. Setelah itu
baru ditentukan Standar Isi,
yang bebentuk Kerangka Dasar
Kurikulum, yang dituangkan
dalam Permendikbud No 67, 68,
69, dan 70 Tahun 2013
Standar Isi ditentukan
terlebih dahulu melaui
Permendiknas No 22 Tahun
2006. Setelah itu
ditentukan SKL (Standar
Kompetensi Lulusan)
melalui Permendiknas No 23
Tahun 2006
2
Aspek kompetensi lulusan ada
keseimbangan soft skills dan
hard skills yang meliputi aspek
kompetensi sikap, keterampilan,
dan pengetahuan
lebih menekankan pada
aspek pengetahuan
3
di jenjang SD Tematik Terpadu
untuk kelas I-VI
di jenjang SD Tematik
Terpadu untuk kelas I-III
4
Jumlah jam pelajaran per
minggu lebih banyak dan jumlah
mata pelajaran lebih sedikit
dibanding KTSP
Jumlah jam pelajaran lebih
sedikit dan jumlah mata
pelajaran lebih banyak
dibanding Kurikulum 2013
5
Proses pembelajaran setiap tema
di jenjang SD dan semua mata
pelajaran di jenjang
SMP/SMA/SMK dilakukan
dengan pendekatan ilmiah
(saintific approach), yaitu
standar proses dalam
Standar proses dalam
pembelajaran terdiri dari
Eksplorasi, Elaborasi, dan
Konfirmasi
Karya Komputer Birayang
Kec. Batang Alai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah (Kal-Sel)
pembelajaran terdiri dari
Mengamati, Menanya, Mengolah,
Menyajikan, Menyimpulkan, dan
Mencipta.
6
TIK (Teknologi Informasi dan
Komunikasi) bukan sebagai mata
pelajaran, melainkan sebagai
media pembelajaran
TIK sebagai mata pelajaran
7
Standar penilaian menggunakan
penilaian otentik, yaitu
mengukur semua kompetensi
sikap, keterampilan, dan
pengetahuan berdasarkan proses
dan hasil.
Penilaiannya lebih dominan
pada aspek pengetahuan
8
Pramuka menjadi ekstrakuler
wajib
Pramuka bukan
ekstrakurikuler wajib
9
Pemintan (Penjurusan) mulai
kelas X untuk jenjang SMA/MA
Penjurusan mulai kelas XI
10
BK lebih menekankan
mengembangkan potensi siswa
BK lebih pada
menyelesaikan masalah
siswa




E.MODEL PENGEMBANGAN KTSP KURIKULUM 2013
1. Definisi model pengembangan kurikulum
Model pengembangan kurikulum merupakan berbagai model dalam
pengembangan kurikulum dimana yang didalamnya berisi berbagai
hal tentang alternatif prosedur dalam rangka mendesain (designing),
menerapkan (impelementation), dan mengevaluasi (evaliatoon) suatu
kurikulum. Oleh karena itu, model pengembangan kurikulum harus
Karya Komputer Birayang
Kec. Batang Alai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah (Kal-Sel)
dapat menggambarkan suatu proses sistem perencanaan
pembelajaran yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar
keberhasilan dalam pendidikan.

2. Macam macam model pengembangan kurikulum:
a. The administrative model
The administrative model atau line staff adalah pengembangan
kurikulum yang pelaksanaannya dimulai dari para pejabat tingkat
atas pembuat keputusan atau kebijakan berkaitan dengan
pengembangan kurikulum. Dengan wewenang administrator
pendidikan yakni dirjen, direktur, dan kepala kantor wilayah
pendidikan serta kebudayaan kemudian membentuk suatu tim yang
terdiri dari pejabat di bawahnya, dan para tokoh dari dunia kerja dan
perusahaan. Tugas tim atau komisi ini adalah merumuskan konsep-
konsep dasar, landasan-landasan, kebijaksanaan, dan strategi utama
dalam pengembangan kurikulum. Selanjutnya menyususn kurikulum
secara operasional berkaitan dengan memilih dan menyususn
sekuens bahan pengajaran, memilih strategi pengajaran dan evaluasi,
serta menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan kurikulum tersebut
bagi guru-guru.

b. The grass roots model
Model pengembangan grass roots ini merupakan lawan dari model
adminitratif. Inisiatif dan pengembangan kurikulum model yang
pertama, yang digunakan dalam sistem pengelolaan
pendidikan/kurikulum yang bersifat sentralisasi, sedangkan model
grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat
desentralisasi. Dalam model pengembangan yang bersifat grass roots
seorang guru, sekelompok guru atau keseluruhan guru di suatu
sekolah mengadakan upaya pengembangan kurikulum.model grass
roots memungkinkan terjadinya kopetisi di dalam meningkatkan
mutu dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan melahirkan
Karya Komputer Birayang
Kec. Batang Alai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah (Kal-Sel)
manusia-manusia yang lebih mandiri dan kreatif.

c. Beauchamps system
Model pengembangan kurikulum beauchamps system, dikembangkan
oleh Beauchamp seorang ahli kurikulum, dan beliau mengemumakan
lima hal dalam pengembangan kurikulum:
1. Menetapkan arena atau lingkup wilayah.
Yakni yang dicakup oleh kurikulum, baik dari tingkat sekolah;
kecamatan; kabupaten; propinsi; ataupun seluruh negara.
2. Menetapkan personalia.
Yakni orang orang yang mengambil andil dalam
penegembangan kurikulum. Ada empat kategori orang yang turut
berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum, yaitu: para ahli
pendidikan/ kurikulum yang ada pada pusat pengembangan
kurikulum, para ahli pendidikan perguruan tinggi atau sekolah
dan guru-guru, para profesional dalam sistem pendidikan, dan
tokoh masyarakat.
3. Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum.
Berkenaan dengan prosedur yang harus ditempuh dalam
merumuskan tujuan, memilih isi pengalaman belajar, serta
kegiaatan evaluasi, dalam menentukan keseluruhan desain
kurikulum.
4. Implementasi kurikulum. (melaksanakan kerikulum)
5. Evaluasi kurikulum.

Mencakup evaluasi tentang pelaksanaan kurikulum oleh guru-
guru, desain kurikulum, hasil belajar siswa, dan dari keseluruhan
sistem kurikulum.

d. The demonstration model
Model pengembangan kurikulum idenya datang dari bawah (Grass
Roots). Semula merupakan suatu upaya inovasi kurikulum dalam
skala kecil yang selanjutnya digunkan dalam skala yang lebih luas,
Karya Komputer Birayang
Kec. Batang Alai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah (Kal-Sel)
tetapi dalam prosesnya sering mendapat tantangan atau
keidaksetujuan dari pihak-pihak tertentu. Menurut Smith, Stanley,
dan Shores, ada dua bentuk model pengembangan ini. Pertama;
sekelompok guru dari satu sekolah atau beberapa sekolah yang
diorganisasi dan ditunjuk untuk melaksanakan suatu uji coba atau
eksperimen suatu kurikulum. Kedua; dari bebrapa orang guru yang
merasa kurang puas tentang kurikulum yang sudah ada, kemudian
mereka mengadakan eksperimen, uji coba, dan mengadakan
pengembangan secara mandiri.
Ada beberapa kebaikan dalam penerapan model pengembangan ini, di
antaranya adalah : 1) kurikulum ini akan lebih nyata dan praktis
karena dihasilkan melalui proses yang telah diuji dan diteliti secara
ilmiah; 2) perubahan kurikulum dalam skala kecil atau pada aspek
yang lebih khusus kemungkinan kecil akan ditolak oleh pihak
administrator, akan berbeda dengan perubahn kurikulum yang
sangat luas dan kompleks;
3) hakikat model demonstrasi cerskala kecil akan terhindar dari
kesenjangan dokumen dan pelaksanaan di lapangan; 4) model ini
akan menggerakkan inisiatif, kreativitas guru-guru serta
memberdayakan sumber-sumber administrasi untuk memenuhi
kebutuhan dan minat guru dalam mengembangkan program yang
baru.

e. Rogers interpersonal relations model.
Menurut Rogers manusia berada dalam proses perubahan (becoming,
developing, changing) yang mempunyai kekuatan dan potensi untuk
berkembang sendiri. Guru bukan pemberi informasi apalagi penentu
perkembangan anak, mereka hanyalah pendorong dan pemelancar
perkembangan anak.
Ada empat langkah pengembangan kurikulum model Rogers.
a) Pemilihan target dari sistem pendidikan
b) Partisipasi guru dalam pengalaman kelompok intensif.
c) Pengembangan pengalaman kelompok yang intensif untuk satu
Karya Komputer Birayang
Kec. Batang Alai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah (Kal-Sel)
kelas atau unit pengajaran.
d) Partisispasi orang tua dalam kegiatan kelompok.
model ini berbeda dengan model-model lainnya yakni tidak ada suatu
perencanaan kurikulum tertulis, tetapi yang ada hanyalah rangkaian
kegiatan kelompok.

f. Model Hilda Taba
Hilda Taba mengikuti cara pengembangan kurikulum yang berlaku
secara umum yang mengikut langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menentukan tujuan pendidikan
2. Menseleksi pengalaman belajar
3. Organisasi bahan kurikulum dan legiatan belajar
4. Evaluasi hasil kurikulum
Untuk mengadakan pembaharuan kurikulum Hilda Taba
menganjurkan cara berlainan dengan yang lazim dilakukan dalam
pengembangan kurikulum pada umumnya. Ia justru memulai satuan
pelajaran untuk meningkat kepada kurikulum yang lengkap, setelah
cukup jumlah satuan pelajaran yang diujicobakan.

3. Model Perkembangan Kurikulum di Indonesia
a) Kurikulum tahun 1964
Bersifat tradisonal yaitu pendidikan dan pengajaran dimaksudkan
untuk memberi pelajaran kepada siswa dengan ciri khusus yakni:
Tujuan pembelajaran hanya memberi bekal kepada siswa agar
mampu melanjutkan kejenjang selanjutnya.
Pembelajaran hanya menekankan penguasaan materi saja.
Pola pembelajaran satu arah (guru aktif siswa pasif)
Organisasi kurikulumnya bervariasi
Khusus untuk sekolah kejuruan antara teori dan praktik dipisahkan.
Mata pelajaran PAI masuk kedalam pelajaran budi pekerti.

b) Kurikulum tahun 1968
Mata pelajaran PAI yang awalnya masuk dalam pelajaran budi pekerti
Karya Komputer Birayang
Kec. Batang Alai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah (Kal-Sel)
pada tahun 1968 resmi menjadi mata pelajaran sendiri yakni mata
pelajaran PAI karna PKI dibubarkan, sehingga lebih mengarah kepada
Pancasila sebagai dasar Negara RI.

c) Kurikulum tahun 1975
Adanya kurikulum yang mengajarkan bahwa pembelajran harus
memperhatikan lingkungan yang ada disekitar dimana tempat
pembelajaran dilaksanakan. Kurikulum 1975 mulai mengenal
PPSI(Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)
d) Kurikulum tahun 1984
Pola pembelajaran dua arah yakni siswa ikut aktif dalam mempelajari
mata pelajaran tertentu. Kurikulum 1984 mengenal adanya sistem
semester untuk jenjang SMP dan SMA sedangkan SD catur wulan
(cawu).

e) Kurikulum tahun 1994
Ada pengembangan kurikulum pada tahun 1994 yakni:
1. Adanya penerapan muatan lokal
2. Konsep link dan match (keterkaitan dan kesepadanan) antara
penddikan dengan dunia kerja.
3. Peningkatan wajib belajar yang awalnya 6 tahun menjadi 9 tahun.

f) Kurikulum tahun 1999
Karena adanya era reformasi maka Kurikulum 1999 disebut
kurikulum suplemen yaitu adanya pelajaran yang bisa tetap diajarkan
dan ada yang tidak yakni pelajaran P4 (Pedoman Penghayatan dan
Pengamalan Pancasila.

g) Kurikulum tahun 2004, Kurikulum Berbasis Kopetensi (KBK)
Ciri khusus KBK yakni:
1. Lebih memgutamakan kemampuan
2. Menekankan bantuan alat
3. Evaluasi lebih menekankan kepada kemampuan atau percepatan
Karya Komputer Birayang
Kec. Batang Alai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah (Kal-Sel)
masing-masing siswa.
4. Berbasis kinerja: lebih menekankan kinerja.

h) Kurikulum tahun 2006/2007, Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP)
KTSP memberikan kebebasan pada masing masing sekolah, KTSP
memberikan kebebasan atau otonomi pada tingkat sekolah. Artinya
kepada sekolah dan guru memiliki keluasan dalam mengembangkan
kurikulum secara tepat dan proporsional.



F. KENDALA / HAMBATAN KTSP / K13
Kelemahan pertama, kurikulum 2013 bertentangan dengan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional karena penekanan pengembangan kurikulum hanya
didasarkan pada orientasi pragmatis. Selain itu, kurikulum 2013
tidak didasarkan pada evaluasi dari pelaksanaan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 sehingga dalam
pelaksanaannya bisa membingungkan guru dan pemangku
pendidikan.
pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa memiliki
kapasitas yang sama dalam kurikulum 2013. Guru juga tidak
pernah dilibatkan langsung dalam proses pengembangan
kurikulum 2013.
Kelemahan penting lainnya, pengintegrasian mata pelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam
mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk jenjang pendidikan dasar.
Dewan Pendidikan DIY menilai langkah ini tidak tepat karena
rumpun ilmu mata pelajaran-mata pelajaran itu berbeda.



Karya Komputer Birayang
Kec. Batang Alai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah (Kal-Sel)
G. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN KURIKULUM
Menurut Soetopo dan Soemanto, ada sejumlah faktor yang dipandang
mendorong terjadinya perubahan kurikulum pada berbagai Negara
dewasa ini.
a. Bebasnya sejumlah wilayah tertentu di dunia ini dari kekuasaan kaum
kolonialis. Dengan merdekanya Negara-negara tersebut, mereka
menyadari bahwa selama ini mereka telah dibina dalam suatu sistem
pendidikan yang sudah tidak sesuai lagi dengan cita-cita nasional
merdeka. Untuk itu , mereka mulai merencanakan adanya perubahan
yang cukup penting di dalam kurikulum dan sistem pendidikan yang
ada.
b. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat sekali. Di
satu pihak, perkembangan dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan
yang diajarkan di sekolah menghasilkan diketemukannya teori-teori
yang lama. Di lain pihak, perkembangan di dalam ilmu pengetahuan
psikologi, komunikasi, dan lain-lainnya menimbulkan diketemukannya
teori dan cara-cara baru di dalam proses belajar mengajar. Kedua
perkembangan di atas, dengan sendirinya mendorong timbulnya
perubahan dalam isi maupun strategi pelaksanaan kurikulum.
c. Pertumbuhan yang pesat dari penduduk dunia. Dengan
bertambahnya penduduk, maka makin bertambah pula jumlah orang
yang membutuhkan pendidikan. Hal ini menyebabkan bahwa cara atau
pendekatan yang telah digunakan selama ini dalam pendidikan perlu
ditinjau kembali dan kalau perlu diubah agar dapat memenuhi
kebutuhan akan pendidikan yang semakin besar. Ketiga faktor di atas
itulah yang secara umum banyak mempengaruhi timbulnya perubahan
kurikulum yang kita alami dewasa ini.