Anda di halaman 1dari 31

M.

Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 68


4. Persamaan Diferensial

Banyak problem fisika yang membutuhkan persamaan
diferensial parsial, terutama pada sistem fisika kontinu
- fluida
- medan elektromagnetik persamaan Maxwell
- badan manusia
- meteorologi
- heat transfer

Beberapa contoh spesifik:

(1) Persamaan Laplace
2
=0

Persamaan ini sangat umum dan menjadi persamaan
yang cukup penting dalam bidang:
a) Fenomena elektromagnetik yang meliputi
elektrostatika, dielektrik, arus steady dan
magnetostatika
b) Hidrodinamika
c) Aliran panas
d) Gravitasi

(2) Persamaan Poisson
2
= /
0


Serupa dengan persamaan Laplace namun ada suku
sumber /
0


(3) Persamaan gelombang (Helmholtz) dan difusi tak
bergantung waktu
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 69

2
=0

Persamaan ini tampak pada fenomena:
a) Gelombang elastik
b) Suara dan akustik
c) Gelombang elektromagnetik
d) Reaktor nukler

4. Persamaan difusi bergantung waktu


2
=
2
1
a
t



5. Persamaan gelombang bergantung waktu

2
=
2
1
v
2
2
t



dengan v merupakan konstanta (disini kecepatan).

6. Persamaan Gelombang Schrodinger:

m 2
2
h

2
+V =E

Penyelesaian:
Separasi variabel lalu metode Frobenius
Fungsi Green
Transformasi Integral
Solusi Numeris
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 70
Namun sebelum membicarakan persamaan diferensial
parsial orde tinggi, terlebih dahulu akan diungkapkan
persamaan diferensial orde-pertama

4.1. Persamaan Diferensial Orde-pertama

Cukup banyak contoh-contoh Fisika yang melibatkan
persamaan diferensial orde-pertama seperti rangkaian RL,
RC, peluruhan inti etc.

Bentuk umum persamaan diferensial orde-pertama

) , (
) , (
) , (
y x Q
y x P
y x f
dx
dy
= =

Kadang-kadang ada bentuk spesial yang dapat dipisahkan
(separable variable) yaitu:

) (
) (
) , (
y Q
x P
y x f
dx
dy
= =

sehingga dapat dituliskan:

P(x) dx +Q(y) dy =0

Solusi didapat dengan integrasi:


= +
y
y
x
x
dy y Q dx x P
0 0
0 ) ( ) (

Contoh: hukum Boyle

Dalam bentuk diferensial
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 71

P
V
dP
dV
=

dengan pemisahan variabel dapat dituliskan:


P
dP
V
dV
=

integrasikan akan diperoleh
ln V = ln P +C
selanjutnya:
ln V +ln P =C
ln PV =ln k
sehingga:
PV =k solusi persamaan yang kita kenal sebagai
hukum Boyle.

Sekarang kita bahas bentuk khusus lainnya yaitu persamaan
diferensial orde pertama (PD O-1) linear:

) ( ) ( x q y x p
dx
dy
= +

Untuk penyelesaian PD O-1 linear ini, persamaan tersebut
kalikan dengan suatu fungsi (x):

) ( ) ( ) ( ) ( ) ( x q x y x p x
dx
dy
x = +

sehingga dapat ditulis:

) ( ) ( ] ) ( [ x q x y x
dx
d
=

artinya:

) ( ) (
) (
x p x
dx
x d

=


M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 72
(mengingat
y
dx
x d
dx
dy
x y x
dx
d ) (
) ( ] ) ( [

+ =
)

(x) dapat dicari dengan integrasi:

dx x p
x
x d
) (
) (
) (
=


atau

=
x
dx x p x ] ) ( exp[ ) (


Setelah (x) diketahui maka y dapat dicari:

x
dx
d
[(x)y] dx =

x
(x) q(x) dx
atau
(x)y =

x
(x) q(x) dx +C
sehingga
y(x) =
-1
[

x
(x) q(x) dx +C]

(x) sering disebut sebagai faktor integrasi.










M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 73
Contoh kasus: Rangkaian RL

Dari hukum Kirchhoff pada rangkaian resistan-induktansi
dapat ditulis:
L
dt
t dI ) (
+R I(t) =V(t)







Faktor integrasi:
(t) =exp

t
L
R
dt
=
L Rt
e
/

Kemudian
I(t) =
L Rt
e
/

+
t L Rt
C dt
L
t V
e
) (
/

Pada kondisi khusus tegangan tetap V(t) =V
0

I(t) =
L Rt
e
/

+
t L Rt
C dt
L
V
e
0 /

=
L Rt
e
/

+ C e
R
L
L
V
L Rt /
0

=
L
V
0
+C
L Rt
e
/



R
L
V(t)
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 74
Kalau kondisi awal I(0) =0, maka C =V
0
/R
Sehingga:
I(t) =
R
V
0
[1
L Rt
e
/
]

Latihan: Tinjau apabila sumber tegangan adalah AC, tinjau
pula untuk rangkaian RC.




4.2. Metode Separasi Variabel

Setelah studi tentang PD O-1 linear, sekarang kita bahas
persamaan diferensial dengan orde lebih tinggi dengan
metode separasi/pemisahan variabel.

Contoh kasus persamaan diferensial berikut:

2
+k
2
=0
Kita gunakan terlebih dahulu sistem cartesian dan pisahkan
variabel-variabelnya atas x, y dan z:
= (x,y,z) =A(x) B(y) C(z)
Lalu kembalikan ke persamaan diferensial asal:
BC
2
2
dx
A d
+AC
2
2
dy
B d
+AB
2
2
dz
C d
+k
2
ABC =0
Dibagi dengan =A(x) B(y) C(z) diperoleh:
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 75
A
1
2
2
dx
A d
= k
2

B
1
2
2
dy
B d

C
1

2
2
dz
C d


Ruas kiri hanya mengandung fungsi x sementara ruas kanan
fungsi y dan z. Hal ini tampak paradoks, namun karena x, y
dan z saling independen maka hal tersebut dapat
diselesaikan dengan membuat kedua ruas sama dengan
suatu konstanta.
A
1
2
2
dx
A d
=konstanta = k
2

B
1
2
2
dy
B d

C
1

2
2
dz
C d

dapat dipilih, misalnya, konstanta ini =a
2

A
1
2
2
dx
A d
=a
2

dari hal ini A(x) dapat diselesaikan. Salah satu solusi A(x)
dapat disebutkan A(x) =sin (ax), solusi lainnya cos (ax).

Sisa fungsi yang belum diselesaikan:

B
1
2
2
dy
B d
= k
2
+ a
2

C
1

2
2
dz
C d

dan akhirnya dapat ditulis:
B
1
2
2
dy
B d
= b
2
serta
C
1

2
2
dz
C d
=c
2


a, b dan c merupakan konstanta-konstanta yang
dihubungkan k
2
=a
2
+b
2
+c
2


M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 76
Dengan demikian fungsi =A(x) B(y) C(z) dapat
ditentukan.

Hal yang serupa dapat dilakukan pada koordinat sferis:
= (r, , ) =R(r) T() P()

Ekspresi Laplacian dalam koordinat sferis sbb:

2
=
sin
1
2
r

) ( sin
2
r
r
r
+r ) (sin

+
sin
1

2
2



dimasukkan ke
2
+k
2
=0 menjadi:
(langsung dibagi dengan RTP)


) (
1
2
2
dr
dR
r
dr
d
Rr
+
sin
1
2
Tr

d
d
(sin
d
dT
)
+
2
2
2 2
sin
1
d
P d
Pr
= k
2


Pisahkan variabel!
2
2
1
d
P d
P
=r
2
sin
2
[ k
2
) (
1
2
2
dr
dR
r
dr
d
Rr

) (sin
sin
1
2

d
dT
d
d
Tr
]

konstan

Anggab:
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 77

2
2
1
d
P d
P
= m
2
konstan
maka solusi P()

e
+im
atau e
- im


Fungsi-fungsi yang tergantung r dan :

r
2
sin
2
[k
2
) (
1
2
2
dr
dR
r
dr
d
Rr
) (sin
sin
1
2

d
dT
d
d
Tr
] =m
2


Fungsi-fungsi ini juga dapat dipisahkan:
) (
1
2
dr
dR
r
dr
d
R
+r
2
k
2
= ) (sin
sin
1

d
dT
d
d
T
+

2
2
sin
m



a (konstan)
dari hal itu:
) (sin
sin
1

d
dT
d
d

2
2
sin
m
T +a T =0 (1)
) (
1
2
2
dr
dR
r
dr
d
r
+k
2
R a R/r
2
=0 (2)

J adi ternyata metode separasi variabel dapat digunakan
disini.

M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 78
Pers. (1) adalah Legendre asosiasi bila a =l(l+1) sedangkan
pers. (2) merupakan Bessel sferis.


4.3. Metode Frobenius Solusi Deret

Telah kita ketahui bahwa banyak problem fisika yang
membutuhkan penyelesaian persamaan diferensial.
Beberapa diantaranya dapat diselesaikan dengan metode
sederhana, namun apabila metode tersebut tidak dapat
digunakan, solusi deret dapat dipakai.

Contoh permasalahan sederhana (yang sebenarnya
dapat diselesaikan dengan metode elementer):

y' = 2 xy (1.1)

solusi persamaan ini membentuk deret tak berhingga:
y =a
o
+a
1
x +a
2
x
2
+a
3
x
3
++a
n
x
n
+..
=

=0
a

(1.2)
disini nilai-nilai a yang akan ditentukan/dicari, sering
disebut dengan metode Frobenius.

Diferensiakan persamaan (1.2):

y' =a
1
+2a
2
x +3 a
3
x
2
++n a
n
x
n-1
+..
=

=1
a

x
-1
(1.3)

M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 79
Persamaan (1.2) dan (1.3) dimasukkan ke (1.1):

=1
a

x
-1
=2

=0
a

x
+1


Koefisien yang berkaitan dengan x berpangkat sama harus
sama:
a
1
=0, a
2
=a
o
, a
3
=
2
3
a
1
=0, a
4
= a
o
,
atau secara umum
a

=2 a
-2
, a

genap untuk ,
ganjil untuk , 0
2
2

a

ambil =2m (karena hanya suku genap yang ada):
a
2m
=
m 2
2
a
2m-2
=
m
1
a
2m-2
=
m
1
1
1
m
a
2m-4
=
!
1
m
a
o

sehingga:
y =a
o
+a
o
x
2
+
1
2!
a
o
x
4
++
!
1
m
a
o
x
2m
+.
=a
o

=0
2
!
m
m
m
x
=a
o

2
x
e

Latihan:
Selesaikan dengan metode deret:
(1). y" = 4y
(2). y' =xy +x
(3). y" +xy =0

4.4. Solusi Kedua

Pada persamaan diferensial orde-2
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 80
ada dua solusi yang saling bebas (bebas linear)

Terlebih dahulu kita definisikan "bebas linear":

Tinjau himpunan fungsi:

:
1
,
2
,
3
,
4
,.

Pada fungsi-fungsi tersebut dikatakan "bergantung linear"
bila ada persamaan:
k

=0
ada harga k

yang 0

Sebaliknya, akan bebas linear bila semua k

=0

Contoh sederhana:
(1) Tiga vektor dalam dalam bidang:
z



y
B
A C
x

Bila C terletak pada bidang xy, maka C =aA +bB
Atau aA +bB +cC =0 A, B, C tidak bebas linear

(2) Kasus yang sama tetapi dalam ruang:
z

M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 81
C

y
B
A
x
Tidak dimungkinkan terjadi aA +bB +cC =0
kecuali kalau a =b =c =0
J adi A, B, C bebas linear

Bila ada empat vektor A, B, C dan D,
Selalu dapat dibuat D =aA +bB +cC
A, B, C dan D tidak pernah bebas linear

Sekarang kembali ke ketentuan fungsi

:
Misal fungsi ini diferensiabel:
Maka dari k

=0
dapat diturunkan:
k

' =0
k

'' =0
k

''' =0
.
.
k

(n-1)
=0
merukan persamaan linear homogen dengan k

tak
diketahui

k

0 bila determinan:
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 82

) 1 ( ) 1 (
3
) 1 (
2
) 1 (
1
3 2 1
3 2 1
3 2 1
... ... ...
... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ...
' ' ... ... ' ' ' ' ' '
' ... ... ' ' '
... ...
n
n
n n n
n
n
n




=0

Determinan ini disebut Wronskian/W:
1. Bila W 0 maka k

=0 tak mempunyai solusi


kecuali kalau k

=0 (semua ), jadi

bebas linear.
2. Bila W =0 untuk semua jangkauan, maka

tak bebas
linear (bergantung linear).

Contoh-contoh:
(1) Kasus bebas linear

1
=sin ax dan
2
=cos ax

Lihat Wronskian:
W =
2 1
2 1
' '

=
ax a ax a
ax ax
sin cos
cos sin

=a 0

J adi kedua solusi tersebut bebas linear saling
independen

(2) Kasus tak bebas linear

1
=e
x
;
2
=e
-x
dan
3
=cosh (x)
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 83
W =
x e e
x e e
x e e
x x
x x
x x
cosh
sinh
cosh

=0 tak bebas linear



Latihan apakah solusi-solusi ini bebas linear?
1.
1
=e
ix
dan
2
=e
-ix

2.
1
=e
ix
;
2
=e
-ix
dan
3
=cos x



Setelah kita tinjau masalah bebas linear, sekarang kita lihat
solusi kedua.

Persamaan diferensial orde-2 homogen dalam bentuk
umum:
y" +P(x) y' + Q(x) y =0

Misal y
1
dan y
2
merupakan solusi persamaan ini yang saling
independen, maka Wronskian:
W =
2 1
2 1
' ' y y
y y
=y
1
y'
2
y'
1
y
2


Diferensiasikan Wronskian ini:
W' =y'
1
y'
2
+y
1
y''
2
y'
1
y'
2
y''
1
y
2

=y
1
y''
2


y''
1
y
2

=y
1
[P(x) y'
2
Q(x) y
2
] y
2
[P(x) y'
1
Q(x) y
1
]
=P(x)( y
1
y'
2
y'
1
y
2
)
=P(x) W
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 84

Kalau P(x) =0 (sering dijumpai di Fisika) maka
W =y
1
y'
2
y'
1
y
2
= konstan

Secara umum yakni P(x) 0 dapat dicari nilai W(x):
W' =P(x) W

dx
dW
=P(x) W

W
dW
=P(x) dx
Integrasikan dari a ke x:
ln
) (
) (
a W
x W
=

x
a
x P ) (
1
dx
1

atau
W(x) =W(a) exp (

x
a
x P ) (
1
dx
1
)
Nilai W(x) ini dapat digunakan untuk mencari solusi kedua
(y
2
) sebagai berikut:
W(x) =y
1
y'
2
y'
1
y
2

=
2
1
y

1
2
y
y
dx
d

1
2
y
y
dx
d
=
2
1
) (
y
x W

Dari hal tersebut dapat diperoleh:
y
2
=y
1

x
b
y
x W
2
1
2
) (
dx
2

Masukkan nilai W(x) yang sudah didapat:
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 85
y
2
(x) =y
1
(x)W(a)

x
b
x
a
x y
dx x P
2
2 1
1 1
)] ( [
) ( exp[
2
dx
2

disini a dan b sebarang, sehingga dapat dipilih sedemikian
rupa sehingga W(a) =1, seterusnya:
y
2
(x) =y
1
(x)

x
x
x y
dx x P
2
2 1
1 1
)] ( [
) ( exp[
2
dx
2


Sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, di Fisika
seringkali dijumpai kasus khusus, yaitu ketika P(x) =0,
contoh pada
2
+k
2
=0
(Pada dasarnya semua persamaan diferensial orde-2 linear
dapat diubah sehingga P(x) =0).

Dalam kasus P(x) =0 maka:
y
2
(x) =y
1
(x)

x
x y
dx
2
2 1
2
)] ( [

Contoh soal:
Persamaan diferensial orde dua y" + y =0 memiliki salah
satu solusi y
1
=sin x, solusi kedua dapat dicari sbb:
y
2
(x) =sin x

x
x
dx
2
2
2
] [sin

=sin x ( cot x) = cos x
(sesuai dengan yang kita harapkan)

M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 86
Soal-soal latihan:
1. Salah satu solusi dari persamaan:
R" +
r
1
R'
2
2
r
m
R =0
adalah R =r
m
, tunjukkan bahwa solusi kedua dapat
dinyatakan R =r
m


2. Persamaan diferensial Hermite dapat dinyatakan
y" 2xy' +2y =0
(a) untuk =0, y
1
(x) =1, cari y
2
(x)
(b) untuk =1, y
1
(x) =x, cari y
2
(x)
3. Salah satu solusi persamaan Chebyshev
(1x
2
) y" xy' +n
2
y =0
untuk n =1 adalah y
1
(x) =x. Carilah solusi kedua!


4.5. Fungsi Green (Untuk Tugas Baca)

Dalam elektrostatika kita kenal bentuk persamaan
diferensial:

2
= /
0

persamaan ini disebut persamaan Poisson.

Apabila dalam suatu ruang tidak ada kerapatan muatan,
potensial akan memenuhi persamaan Laplace:


2
=0

Solusi persamaan Poisson dengan mudah didapatkan untuk
untuk potensial dihitung pada r =0 dan muatan pada r:
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 87
=
0
4
1


r
) (r
d
(Ingat untuk satu muatan titik: =
0
4
1
r
q
)
Untuk potensial pada r =r
1
dan muatan pada r =r
2
:


(r
1
) =
0
4
1


| |
) (
2 1
2
r r
r
d
2



Kita pelajari juga kaitan fungsi delta Dirac dengan operator

2
dalam persamaan:

2
(1/r) = 4(r)

atau secara umum


2

| ' |
1
r r
= 4(r-r)

Dengan demikian sebuah fungsi G:

2
G =(r
1
r
2
)
memenuhi persamaan Poisson.

Secara fisis fungsi G adalah potensial pada r
1
yang
berkaitan dengan sumber pada posisi r
2.

r
2
r
1
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 88
Dengan menggunakan teorema Green dan fungsi delta
Dirac, akan didapat:
(r
1
) =
0
1


) ( ) , (
2 2 1
r r r G d
2


Fungsi G inilah yang disebut sebagai fungsi Green.

Lebih lanjut mengenai fungsi Green dapat dilihat pada
Arfken hlm. 510 sampai 525.
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 89
4.6. Solusi Numeris

Penyelesaian persamaan diferensial secara numeris
dilakukan apabila solusi secara analitis tidak dapat
dilakukan atau ketika seseorang harus menyelesaikan
perhitungan yang serupa secara berulang-ulang.

4.6.1. Diferensiasi Numeris

Sebelum pembahasan solusi persamaan diferensial, terlebih
dahulu kita tinjau diferensiasi numeris yakni mencari
diferensial apabila data berbentu numeris (bukan fungsi).

Untuk fungsi-fungsi analitik, diferensial dapat dilakukan
dengan mudah, sebagai contoh:
y =sin x y' =cos x
y =a x
2
y' =2 ax
dan sebagainya

Bagaimana diferensiasi untuk data numerik? hasil
eksperimen?

Contoh:








I
H
dH
dI
=?
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 90
Untuk hal tersebut digunakan model pendekatan "finite
difference" sesuai dengan definisi asal diferensial.

y

dx
dy
=?




y




x
x

y'(x
i
) =
x
y
x

0
lim


Apabila dibuat pembagian mesh seragam sebesar x =h,
maka:
y
Pada pendekatan pertama
y'(x
i
)
h
y y
i i

+1

dapat juga didekati dengan:
y'(x
i
)
h
y y
i i
2
1 1 +





h h x
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 91
Perambatan kesalahan:

Kita gunakan deret Taylor (lihat Matematika Dasar II)
f(x+h) =f(x) +h f' (x) +
! 2
2
h
f"(x) +
! 3
3
h
f''' (x) +. .
dari hal tersebut didapat:
f' (x) =
h
x f h x f ) ( ) ( +
+kesalahan dengan orde-h

O(h)

dan juga dari kombinasi f(x+h) dan f(x-h) dapat dibuktikan:
f' (x) =
h
h x f h x f
2
) ( ) ( +
+O(h
2
)
seringkali disebut dengan "formula dua titik". Tampak
disini formula dua titik lebih teliti dibandingkan
pendekatan pertama.

Lebih lanjut, dapat digunakan formula "empat titik" yang
lebih teliti lagi:
f' (x) =
h
h x f h x f h x f h x f
12
) 2 ( ) ( 8 ) ( 8 ) 2 ( + + +
+O(h
4
)
(buktikan!)

Untuk titik ujung dapat digunakan:

f'(x) =
h
x f h x f h x f
2
) ( 3 ) ( 4 ) 2 ( + + +
+O(h
2
)


M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 92
Sekarang untuk turunan kedua, dapat digunakan perumusan
sebagai berikut:

Titik ujung:
f'' (x) =
2
) ( ) ( 2 ) 2 (
h
x f h x f h x f + + +
+O(h)
Formula "Dua titik":

f''(x) =
2
) ( ) ( 2 ) (
h
h x f x f h x f + +
+O(h
2
)

"Perbaikan" titik ujung

f''(x) =
2
) 3 ( ) 2 ( 4 ) ( 5 ) ( 2
h
h x f h x f h x f x f + + + +
+O(h
2
)
Formula "empat titik":

f'' (x) =
2
12
) 2 ( ) ( 16 ) ( 30 ) ( 16 ) 2 (
h
h x f h x f x f h x f h x f + + + +

+O(h
4
)


Setelah diferensiasi numeris, sekarang kita lanjutkan
dengan persamaan diferensial numeris.

Latihan:
Kerjakan dengan program Excel atau spreadsheet lainnya:
Buatlah fungsi y =2 e
3x
secara numeris dari x=0 sampai x=2
dengan mesh h=0,05 (50 data). Gunakan formula 4 titik dan
titik ujung untuk diferensiasi numeris! Bandingkan dengan
diferensiasi analitis!
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 93

4.6.2. Solusi Numeris Persamaan Diferensial Sederhana

Cukup banyak cara untuk menyelesaikan persamaan
diferensial secara numeris. (Lebih lanjut dapat dibaca di
berbagai buku analisis numerik misal Press et al.
Numerical Recipes)


4.6.2.1. Metode Euler/Metode Satu Langkah

Tinjau suatu persamaan diferensial orde satu (boleh tidak
linear):

dx
dy
=f(x,y)
dengan kondisi inisial y(x
0
) =y
0
. Secara prinsip, solusi
langkah demi langkah (step-by-step) dapat dikembangkan
dari deret Taylor:
y(x
0
+h) =y(x
0
) +h y'(x
0
) +
! 2
2
h
y''(x
0
) ++
! n
h
n
y
(n)
(x
0
)+
Kalau suku-suku tinggi diabaikan, maka:
y(x
0
+h) =y(x
0
) +h y'(x
0
)

Misal ada harga inisial x
0
, y
0
, maka akan diperoleh
sederetan solusi numeris:
x
0
, y
0

x
0
+h , y(x
0
+h)
x
0
+2h , y(x
0
+2h)
x
0
+3h , y(x
0
+3h)
, dan seterusnya
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 94
bila x
0
, y
0
diketahui, maka y(x
0
+h) dapat dicari dengan:
y(x
0
+h) =y(x
0
) +h y'(x
0
)

disini y'(x
0
) =f(x
0
,y
0
) sesuai dengan persamaan asal.

Dari hal tersebut dengan cara serupa dapat juga dicari
y(x
0
+2h), y(x
0
+3h) dst. Sehingga seluruh solusi numerik
dapat dicari.

Formula umum untuk metode satu satu langkah:

dx
dy
=f(x,y)
y
i+1
=y
i
+f(x
i
,y
i
) h ; f(x
i
,y
i
) merupakan slope pada x
i


Dari deret Taylor, jelas kesalahan yang timbul adalah O(h
2
).
J elas bahwa metode Euler tidak akurat dan tidak stabil.

4.6.2.2. Perbaikan Metode Euler

Kelemahan metode Euler tampak jelas secara visual:











x
i
+h x
i
Euler
Sebenarnya
Slope f(x
i
,y
i
)
y
i
y
i+1
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 95

Tampak secara gambar metode Euler/satu langkah
memiliki kesalahan, hal ini dapat dikoreksi:

y
i+1
=y
i
+
2
) , ( ) , ( kh y h x f y x f
i i i i
+ + +
h
disini k =f(x
i
,y
i
)

Metode ini disebut sebagai pendekatan prediktor-korektor/
metode Heun

prediktor : y
i
+kh
korektor : y
i+1


Penulisan lain
y
i+1
=y
i
+ (k
1
+k
2
) h

dengan k
1
=f(x
i
,y
i
)
k
2
=f(x
i
+h,y
i
+hk
1
)

4.6.2.3. Metode RK (Runge-Kutta)

RK orde 2








x
i
+h x
i
y
i
y
i+1
Titik tengah
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 96

k
1
=f(x
i
,y
i
)
k
2
=f(x
i
+h , y
i
+hk
1
)

Formula RK-2:
y
i+1
=y
i
+ k
2
h

Formula ini diperbaiki dengan orde yang lebih tinggi sbb:

RK orde ketiga:

y
i+1
=y
i
+
6
1
(k
1
+4k
2
+k
3
)h
dengan:
k
1
=f(x
i
,y
i
)
k
2
=f(x
i
+h , y
i
+hk
1
)
k
3
=f(x
i
+h , y
i
hk
1
+2hk
2
)

RK orde keempat:

y
i+1
=y
i
+
6
1
(k
1
+2k
2
+2k
3
+k
4
)h
dengan:
k
1
=f(x
i
,y
i
)
k
2
=f(x
i
+h , y
i
+k
1
)
k
3
=f(x
i
+h , y
i
+k
2
)
k
4
=f(x
i
+h , y
i
+k
3
)

Kesalahan RK orde-4 ini O(h
5
).

Metode ini cukup stabil dan sering digunakan di Fisika.
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 97
Metode Runge Kutta ini (khususnya RK-4) dapat
digunakan untuk penyelesaian pasangan persamaan
(simultan) ndiferensial orde-1, misal:

dx
du
=f
1
(x,u,v) (1)

dx
dv
=f
2
(x,u,v) (2)
harga inisial x
0
, u
0
, v
0
.

Masukkan harga inisial ke persamaan (1) akan diperoleh
nilai u
1
.
Lalu masukkan harga ini ke persamaan (2), akan didapat v
1
.

Setelusnya dari x
0
+h, u
1
, v
1
akan didapat u
2
dan v
2
dan
seterusnya sampai semua titik didapat.

4.6.3. Persamaan Diferensial Numeris Orde 2

Contoh kasus getaran teredam:
Gaya gesek: bv
Gaya pegas: kx
Gaya penggetar:f(y,t)

F =ma
m
2
2
dt
y d
+b
dt
dy
+k y =f(y,t)
Cara penyelesaian, dibuat persamaan:
2
2
dt
y d
=F(t, y,
dt
dy
)
M. Hikam, Fisika Matematika I: Persamaan Diferensial Parsial 98
Sehingga didapatkan dua persamaan simultan:
dt
dy
=v
2
dt
dv
=F(t, y, v)
dari hal ini satu demi satu dapat diselesaikan dengan
metode RK-4.

Secara umum:
y''(x) +P(x)y'(x) +Q(x)y =F(x)
ambil z(x) =y'(x), sehingga didapat dua pasangan simultan:
z'(x) = P(x) z(x) Q(x)y =F(x)
y'(x) =z(x)
seterusnya gunakan RK-4.

4.6.4. Metode Fox-Goodwin (Tugas baca)

Untuk menyelesaikan persamaan Schrdinger dengan
potensial sebarang.

4.6.5. Persamaan Diferensial Parsial Numeris (Tugas Baca)

Analisis numeris untuk menyelesaikan persamaan semacam
persamaan Laplace:
2
T =0 etc.