Anda di halaman 1dari 118

ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR

YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG


USAHATANI PADI LADANG
DI KABUPATEN KARAWANG





HENDRI METRO PURBA
A07498176















FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2 0 0 5
RINGKASAN

HENDRI METRO PURBA. Analisis Pendapatan dan Faktor- faktor Yang
Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang
(Di bawah bimbingan NUNUNG KUSNADI).

Kebutuhan bahan pangan masyarakat Indonesia masih sangat tergantung
pada beras. Produksi beras nasional sebagian besar disumbangkan oleh produksi
padi sawah, sementara itu ketersediaan lahan sawah dan efisiensi usahatani padi
sawah cenderung mengalami penurunan. Sumbangan padi ladang terhadap
produksi padi nasional masih sangat rendah karena produktivitas padi ladang yang
jauh lebih rendah daripada produktivitas padi sawah. Jika dibandingkan dari segi
laju pertumbuhan produksi, padi ladang juga masih jauh lebih rendah daripada
padi sawah. Mengingat ketersediaan lahan kering bagi usahatani padi ladang
masih sangat besar, maka pengembangan produktivitas usahatani padi ladang
memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Oleh karena itu menarik untuk dikaji
bagaimana meningkatkan produktivitas cabang usahatani padi ladang. Penelitian
ini bertujuan untuk (1) menganalisis penyebab rendahnya produktivitas padi
ladang, (2) menganalisis faktor- faktor yang mempengaruhi produksi padi ladang
(3) menganalisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor-faktor produksi pada
cabang usahatani padi ladang.
Pengumpulan data dilakukan dari bulan Mei hingga Juni 2005 di Desa
Wanajaya, Kecamatan Teluk Jambe, Kabupaten Karawang. Data yang digunakan
adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan
melakukan pengamatan dan wawancara langsung dengan petani responden
dengan mengajukan pertanyaan yang dibuat dalam bentuk kuesioner yang telah
dipersiapkan sebelumnya. Data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran
kepustakaan buku, laporan penelitian, artikel, majalah, karya ilmiah yang
berkaitan dengan masalah penelitian dan melalui internet. Selain itu data
sekunder juga diperoleh dari Biro Pusat Statistik, Departemen Pertanian, Balai
Penelitian Tanaman Pangan, Pusat Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, dan
Pemerintah Daerah di lokasi penelitian. Pengolahan data dilakukan dengan
menggunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio),
pendekatan fungsi produksi Cobb-Douglas, dan analisis efisiensi ekonomi dengan
rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dan Biaya Korbanan Marjinal (BKM).
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program Microsoft Excel dan
Minitab 13 for Windows.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) dengan analisis imbangan
penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio), diperoleh nilai rasio R/C atas biaya
total sebesar 0.76 (lebih kecil dari satu), sehingga dapat disimpulkan bahwa
cabang usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak menguntungkan bagi
petani, (2) faktor- faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi
ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dan tenaga kerja dalam keluarga, yang
signifikan pada taraf kepercayaan 99 persen. Sedangkan faktor pupuk, benih, dan
pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan yang ditetapkan, (3)
penggunaan faktor-faktor produksi yang efisien secara ekonomis dicapai pada saat
penggunaan faktor pupuk sebesar 282.51, faktor tenaga kerja luar keluarga
sebesar 146.33 HOK, penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus
ditingkatkan menjadi 69.69 kilogram, penggunaan tenaga kerja dalam keluarga
harus dikurangi dari yang semula sebesar 237.37 HOK menjadi sebesar 59.94
HOK, faktor produksi pestisida harus ditingkatkan dari sebesar 1.7 liter dalam
penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2.47 liter.
Berdasarkan hasil penelitian di atas maka disarankan agar (1) penggunaan
faktor produksi pupuk, benih, pestisida tenaga kerja luar harus ditingkatkan dari
penggunaan aktualnya supaya usahatani padi ladang yang dilakukan lebih efisien
dan menguntungkan bagi petani, (2) pemberian bimbingan dan penyuluhan dari
instansi terkait mengenai teknik budidaya padi ladang yang tepat seperti
kombinasi penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat dan pola tanam yang tepat
untuk mencapai usahatani padi ladang yang lebih produktif dan menguntungkan.





ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI
PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG




Oleh
HENDRI METRO PURBA
A07498176





Skripsi
Sebagai Bagian Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pertanian


pada
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor










FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2 0 0 5
DEPARTEMEN ILMU-ILMU SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh :
Nama : Hendri Metro Purba
NRP : A07498176
Program Studi : Manajemen Agribisnis
Judul Skripsi : Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten
Karawang

dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Menyetujui,
Dosen Pembimbing




Dr. Ir. Nunung Kusnadi.MS
NIP. 131 415 082





Mengetahui,
Fakultas Pertanian
Dekan




Prof. Dr. Ir. H. Supiandi Sabiham, M.Agr
NIP. 130 422 698



Tanggal Lulus : 20 Desember 2005
PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL
ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI
KABUPATEN KARAWANG BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA
PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK
TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA
MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA
SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG
PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI
SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.



Bogor, Desember 2005



Hendri Metro Purba
A07498176

















RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Dolok Sanggul pada tanggal 16 Juli 1980. Penulis
adalah anak pertama dari enam bersaudara pasangan Bapak T. Purba dan Ibu H.
Situmorang.
Penulis memulai pendidikan dasarnya pada tahun 1986 di SD Negeri 3
Dolok Sanggul, dan menyelesaikannya pada tahun 1992. Penulis melanjutkan
pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 1 Dolok Sanggul, dan lulus tahun
1995. Kemudian, penulis diterima di SMU Katolik Santo Agustinus Jakarta, dan
lulus pada tahun 1998.
Penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen Agrinisnis,
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, pada tahun 1998 melalui jalur
UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri).






















KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Allah Yang Maha Kuasa atas
berkat dan karunia-Nya yang besar yang memberikan segala hikmat dan kekuatan
sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Judul skripsi ini adalah Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang
Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang di Kabupaten
Karawang. Sesuai dengan judul tersebut, skripsi ini menganalisis pendapatan
yang diperoleh petani dari kegiatan berusahatani padi ladang, menganalisis faktor-
faktor yang mempengaruhi produiksi dalam usahatani padi ladang, dan melakukan
analisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor produksi pada cabang usahatani
padi ladang.
Penulis menyadari kekurangan dalam penulisan skripsi ini sehingga
diperlukan kritik dan saran untuk perbaikan skripsi ini. Penulis berharap penelitian
yang dilakukan dapat diterima dan dimanfaatkan bagi perkembangan ilmu
pengetahuan dan pihak lain yang berkepentingan.








Bogor, Desember 2005


Penulis






UCAPAN TERIMA KASIH

Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih dan
penghargaan kepada :
1. Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS. selaku dosen pembimbing yang dengan
kesabaran telah memberikan bimbingan, arahan, kritik dan saran dalam
melakukan penelitian dan penyusunan skripsi ini.
2. Ir. Anna Fariyanti, MS. atas kesediaan menjadi dosen penguji utama.
3. Amzul Rifin, SP, MA. atas kesediaannya menjadi dosen penguji komisi
pendidikan.
4. Orang Tuaku, Bapa dan Uma dan adik-adikku Duddy, Sartika, Markos, Nita,
dan Kardinal atas keberadaan, doa dan dukungannya.
5. Keluarga Tulang Donal, Tulang Suci, dan Tulang Hendra.
6. Ompung Suhut, dan semua keluarga besar di Dolok Sanggul.
7. Keluarga Ompung Berthold di Depok, Ompung Arif di Bandung, dan
Ompung Josua di Pekan Baru.
8. Keluarga Amangboru Mario, Namboru Patar, dan Amangboru Sagala di
Jakarta.
9. Sahabat-sahabatku yang tak tergantikan di Base One : Cay, Edo, Gaga,
Halashon, Victor, Donal, Appara Frenky, John Freddy, Nipar, Ucok, Ogem,
John Wisnu, Echa , Rikky Sitorus, Bang Ivan, Bang Tamlin, dan Maria
Margareth.
10. Lae Viston, Namboru, dan Chamber yang telah menyediakan fasilitas
penginapan, makan gratis, dan dukungan berharga selama turun lapang di
Karawang.
11. Ramaijon Purba atas bimbingan dan bantuannya, beserta semua teman-teman
di Parmasi.
12. Arif Karya Kusuma, teman satu bimbingan dan seperjuangan selama kuliah
dan penulisan skripsi.
13. Pak Enong sebagai penerjemah dan pendamping penulis selama turun lapang.
14. Marta Sundari atas bantuannya selama mengolah data dan penulisan skripsi.
15. Teman-teman di Darmaga, Bray, Tulus, penghuni Perwira 100, beserta semua
kawan sesama Himaba.
16. Semua pihak lain yang belum saya sebutkan yang telah membantu saya
selama mengikuti perkuliahan dan penulisan skripsi.










































DAFTAR ISI



Halaman

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i
UCAPAN TERIMA KASIH ........................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL ........................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... ix
BAB I. PENDAHULUAN .............................................................................. 1
1.1. Latar Belakang ................................................................................... 1
1.2. Perumusan Masalah ........................................................................... 3
1.3. Tujuan Penelitian ............................................................................... 7
1.4. Kegunaan Penelitian .......................................................................... 8
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 9
2.1. Karakteristik Biologis Tanaman Padi Ladang .................................. 9
2.2. Syarat Tumbuh dan Kelayakan Lahan Tanaman Padi Ladang........... 9
2.3. Budidaya Padi Ladang........................................................................ 11
2.3.1. Pengolahan Tanah ................................................................... 11
2.3.2. Pemilihan Benih ...................................................................... 12
2.3.3. Penanaman ............................................................................... 12
2.3.4. Pemupukan .............................................................................. 13
2.3.5. Pemeliharaan ........................................................................... 15
2.3.6. Panen dan Pengolahan Hasil Panen.......................................... 15
2.3.7. Hama dan Penyakit ................................................................... 16
2.4. Sistem Perladangan di Indonesia dan Perkembangannya ................... 16
2.5. Perilaku Ekonomi Petani..................................................................... 21
2.6. Hasil Penelitian Terdahulu.................................................................. 22
BAB III. KERANGKA PEMIKIRAN ............................................................ 29
3.1. Konsep Usahatani .............................................................................. 29
3.2. Pendapatan Usahatani......................................................................... 30
3.3. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio) ..................... 32
3.4. Teori Produksi ................................................................................... 33
3.5. Efisiensi Ekonomi .............................................................................. 37
BAB IV. METODE PENELITIAN ................................................................ 40
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................. 40
4.2. Metode Pengumpulan Data dan Penentuan Sampel .......................... 40
4.3. Metode Analisis Data ......................................................................... 41
4.3.1. Analisis Pendapatan Usahatani ................................................ 41
4.3.2. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio)............ 41
4.3.3. Pendugaan Fungsi Produksi...................................................... 43
4.3.4. Analisis Efisiensi Ekonomi....................................................... 48
4.4. Definisi Operasional ......................................................................... 50
BAB V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN ........................... 54
5.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian................................................... 54
5.2. Karakteristik Petani Responden.......................................................... 58
BAB VI. GAMBARAN USAHATANI PADI LADANG
DI DESA WANAJAYA................................................................... 66
6.1. Budidaya Padi Ladang ....................................................................... 66
6.1.1. Persiapan Lahan........................................................................ 66
6.1.2. Penanaman................................................................................ 68
6.1.3. Pemupukan............................................................................... 69
6.1.4. Pengobatan............................................................................... 70
6.1.5. Penyiangan............................................................................... 71
6.1.6.Pemanenan................................................................................. 71
6.2. Struktur Biaya ..................................................................................... 72
6.3. Analisis Pendapatan............................................................................ 73
6.4. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (Analisis R/C ratio) ........ 74
BAB VII. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI DAN EFISIENSI
EKONOMI CABANG USAHATANI PADI LADANG................ 76
7.1. Analisis Fungsi Produksi ................................................................... 76
7.2. Elastisitas Produksi dan Skala Usaha ................................................ 78
7.3. Analisis Efisiensi Ekonomi ................................................................ 83
BAB VIII. KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................... 88
8.1. Kesimpulan ........................................................................................ 88
8.2. Saran .................................................................................................. 89
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 90
LAMPIRAN .................................................................................................... 93























DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Volume Beras yang Diperdagangkan di Dunia dan Impor Beras Indonesia
Tahun 1990-2001 ............................................................................................ 2
2. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Padi Indonesia Tahun 2004............ 4
3. Produksi Gabah Kering Giling di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, dan
Indonesia Tahun 2004...................................................................................... 6
4. Klasifikasi Kriteria Lingkungan Tumbuh Tanaman Padi Ladang................... 9
5. Penggunaan Lahan di desa Wanajaya Tahun 2004 ......................................... 54
6. Topografi atau Bentang Lahan Desa Wanajaya ............................................ 55
7. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Kelompok Umur
Tahun 2005 ...................................................................................................... 56
8. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Mata Pencaharian....... 57
9. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Tingkat Pendidikan.... 58
10. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Umur ....................................... 58
11. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ............... 59
12. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan............... 61
13. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Usahatani ............ 62
14. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga....... 63
15. Biaya-biaya yang Dikeluarkan Petani Padi Ladang
per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 ...................... 73
16. Analisis Pendapatan Cabang Usahatani Padi Ladang
per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 ...................... 74
17. Analisis Ragam Produktivitas Cabang Usahatani Padi Ladang
di Desa Wanajaya ............................................................................................ 76
18. Hasil Analisis Pendugaan Fungsi Produksi Usahatani Padi Ladang
di Desa Wanajaya ........................................................................................... 77
19. Rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dengan Biaya Korbanan Marjinal
(BKM) Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya Tahun 2005 .................. 84
20. Kombinasi Optimal Penggunaan Faktor-faktor Produksi ............................... 86
DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Kurva Fungsi Produksi Total dan Hubungannya Dengan Produk Marjinal
dan Produk Rata-rata (Doll dan Orazem, 1984) ............................................... 34

2. Bagan Prosedur Analisis Pendapatan dan Faktor- faktor Yang
Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang ............................... 53



































DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Analisis Regresi Faktor- faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas
Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya ......................................... 94
2. Pertumbuhan Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Padi
Di Indonesia, Tahun 2001-2005 ....................................................................... 95
3. Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia,
Tahun 2001-2005 (Kwintal/Ha) ....................................................................... 96
4. Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia,
Tahun 2001-2005 (Dalam Ton) ........................................................................ 97
5. Penggunaan Faktor- faktor Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa
Wanajaya, Musim Tanam November-April Tahun 2005 ................................. 98
6. Pengeluaran Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Musim
Tanam November-April Tahun 2005 ............................................................... 99
7. Kuesioner Analisis Pendapatan dan Faktor- faktor yang Mempengaruhi
Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang................ 100













I. PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara konsumen beras terbesar ketiga di dunia
setelah China dan India
1
. Apabila salah satu dari negara tersebut mengalami
penurunan produksi dan harus mengimpor untuk mencukupi kebutuhan
domestiknya, maka harga beras dunia akan segera mengalami kenaikan secara
signifikan. Impor beras terbesar dialami Indonesia pada tahun 1999 dimana
Indonesia mengimpor sekitar 4.7 juta ton beras meskipun harus membayar 280
Dollar AS per ton beras untuk mencukupi kebutuhan beras domestik. Pemerintah
karenanya harus mengeluarkan biaya sekitar 1.3 miliar Dollar AS untuk
mengimpor 4.7 juta ton beras
1
.
Permintaan terhadap beras terus meningkat sejalan dengan pertambahan
populasi dan kenaikan tingkat pendapatan penduduk. Sedangkan pertambahan
produksi beras senderung lebih kecil dan tidak mampu mengimbangi pertambahan
tingkat permintaan beras (Sidik, 2004). Impor beras nasional cenderung
meningkat misalnya dari 615 ribu ton pada tahun 1991 menjadi sekitar 3 juta ton
pada tahun 1995 dan pada tahun 1996 mencapai sekitar 3 juta ton akibat musim
kemarau panjang dan bahkan sempat meningkat drastis hingga sekitar 6 juta ton
pada tahun 1998 akibat terjadinya krisis moneter yang mengakibatkan kenaikan
secara drastis pada harga input pertanian seperti pupuk dan pestisida yang bahan
bakunya sebagian besar diimpor. Laju peningkatan produksi padi cenderung
menurun, sedangkan laju permintaan beras akan selalu meningkat seiring
peningkatan laju pertumbuhan penduduk.

1
www.faostat.fao.org, 2005
Belum berhasilnya upaya diversifikasi, baik dari sisi produksi maupun
konsumsi pangan, menyebabkan sebagian besar masyarakat Indonesia masih
sangat tergantung pada satu jenis bahan pangan yaitu beras. Hingga saat ini
lebih dari setengah jumlah kalori dan lebih dari 40 persen karbohidrat yang
dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia berasal dari beras. Menurut FAO
(2004)
1
, rata-rata penduduk Indonesia mengkonsumsi sekitar 200 kilogram
beras per kapita per tahun . Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan
produksi dan produktivitas beras dianggap masih relevan untuk mengatasi
masalah peningkatan tingkat permintaan beras dan tingginya impor beras
Indonesia.
Tabel 1. Volume Beras yang Diperdagangkan di Dunia dan Impor Beras
Indonesia Tahun 1991-2000

Tahun
Perdagangan Beras
Dunia (Ton)
Impor Beras
Indonesia (Ton)
Persentase Terhadap
Beras Dunia
1991 58.578.212 615.385 10,51
1992 5.263.940 2.615.384 49,68
1993 252.121 156.846 61,02
1994 4.293.138 1.076.924 25,08
1995 6.486.440 3.076.924 47,43
1996 15.389.948 4.615.304 29,99
1997 5.856.188 3.480.750 59,44
1998 28.025.000 6.080.000 21,70
1999 25.150.000 4.183.000 16,50
2000 22.350.000 1.513.000 6,70
Sumber : Situs FAO (http//www.FAO.org/trade/balance), 2000.
Untuk memenuhi kebutuhan beras dalam jangka panjang, pemerintah
mulai mengarahkan perhatiannya kepada pengembangan pertanian di daerah lahan
kering, mengingat ketersediaan lahannya yang cukup luas (Ruchyat, 1993 dalam
Maryono, 1996). Berdasarkan potensi, 80 persen dari luas lahan pertanian
Indonesia adalah lahan kering. Untuk tetap mempertahankan swasembada pangan,
maka corak pertanian di masa yang akan datang adalah pertanian lahan kering
(Dwijatmiko, 1991 dalam Maryono, 1996).
Sutari (1982) dalam Netty (1996) mengatakan bahwa lahan kering yang
diusahakan dengan tepat dapat menghasilkan berbagai komoditas
dengan produktivitas yang lebih besar dibandingkan lahan sawah (basah). Selain
itu lahan kering memiliki kedudukan strategis karena :
(a) Lahan kering menempati areal terluas dibandingkan dengan lahan jenis air
seperti sawah, rawa, dan pasang surut.
(b) Lahan kering diperkirakan seluas 123 juta hektar atau 62 persen dari luas
total daratan Indonesia.
(c) Lahan kering merupakan sumber utama penghasil komoditi pertanian untuk
tanaman pangan, sandang, perumahan, dan lain- lain.
(d) Pemanfaatan lahan kering yang semakin meningkat merupakan
pertimbangan penting dalam program pemerintah selanjutnya.
1.2. Perumusan Masalah

Produksi padi nasional masih didominasi padi sawah sedangkan
sumbangan padi ladang masih sangat rendah karena produktivitas dan luas
tanam padi ladang yang jauh lebih rendah daripada produktivitas dan luas
tanam padi sawah. Produktivitas rata-rata padi ladang pada tahun 2004 baru
mencapai 25.68 kwintal per hektar, sementara sumbangan padi ladang
terhadap produksi padi nasional pada tahun yang sama hanya sekitar 5.3
persen dengan luas panen sekitar 9.4 persen dari total luas panen padi
nasional
2
.

Tabel 2. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Padi Indonesia Tahun
2004

Jenis
Luas Panen
(Ha)
Produktivitas*
(Ku/Ha)
Produksi*
(Ton)
Padi Sawah 10.843.004 47,45 51.446.191
Padi Ladang 1.127.034 25,68 2.895.112
Padi Total 11.970.038 45,40 54.341.303
Sumber : Situs Deptan (www.deptan.go.id/ditjentp), 2004
*
)
Gabah Kering Giling

Jika dibandingkan dari segi laju pertumbuhan produksi, padi ladang juga
masih jauh lebih rendah daripada padi sawah, dimana dari tahun 1969 hingga
1989 produksi padi ladang hanya mengalami peningkatan kira-kira sebesar 45
persen yaitu dari 1.622 ribu ton pada tahun 1969 menjadi 2.345 ribu ton pada
tahun 1989, sementara produksi padi sawah mengalami peningkatan kira-kira
sebesar 140 persen atau meningkat sebesar 24.6 juta ton.
Menurut Ruchyat (1993) dalam Maryono (1996), rendahnya produktivitas
padi ladang tidak terlepas dari keterbatasan faktor tanah, topografi dan iklim pada
lahan kering. Lahan kering mempunyai karakteristik antara lain : (1) tanah kurang
subur, (2) topografi umumnya berlereng sehingga mudah tererosi, (3) curah hujan
rendah. Di samping itu kenyataan juga menunjukkan bahwa keterbatasan faktor
produksi usahatani (lahan, tenaga kerja dan modal) serta pengetahuan petani di
daerah lahan kering menyebabkan pola tanam yang selama ini diusahakan masih
bersifat subsisten. Dari kenyataan tersebut adalah hal yang wajar bila
produktivitas rata-rata padi ladang jauh lebih rendah daripada produktivitas rata-

2
www.deptan.go.id/ditjentp, 2004
rata padi sawah dengan tingkat kesuburan tanah yang jauh lebih tinggi, pengairan
yang lebih teratur, dan topografi yang lebih baik untuk usahatani padi.
Tingkat produktivitas padi ladang yang rendah dan laju perkembangan
produksi padi ladang yang relatif lamban juga diakibatkan permasalahan yang
dihadapi usahatani padi ladang relatif lebih kompleks daripada permasalahan padi
sawah. Kebijakan pemerintah yang lebih berpihak pada peningkatan produksi dan
produktivitas padi sawah dibandingkan padi ladang merupakan salah satu
contohnya, meskipun hal ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat
produktivitas padi sawah yang jauh lebih tinggi dengan kendala peningkatan
produktivitas padi sawah yang jauh lebih ringan daripada kendala peningkatan
produktivitas padi ladang.
Meskipun sumbangan padi ladang terhadap produksi nasional relatif kecil,
tetapi padi ladang ditanam hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Bahkan
sebagian daerah sangat menggantungkan ketersediaan dan kebutuhan berasnya
pada produksi padi ladang. Pertanian padi ladang banyak dijumpai di daerah
transmigrasi lahan kering dan daerah yang topografi lahannya didominasi
perbukitan atau lahan kering dan tidak mendapat fasilitas irigasi (Wana, 2000).
Berdasarkan uraian di atas, maka posisi usahatani padi ladang akan
semakin penting bagi masa depan pertanian Indonesia secara umum dan sangat
potensial bagi peningkatan ketahanan pangan nasional. Permasalahan usahatani
padi ladang relatif lebih kompleks daripada padi sawah. Usahatani padi ladang
memerlukan identifikasi lebih rinci dan jelas pada masing- masing daerah
produsen padi ladang. Identifikasi yang dimaksud antara lain meliputi penelitian
tentang peningkatan teknik budidaya yang ada supaya produktivitas lahan kering
terutama padi ladang dapat ditingkatkan hingga dapat mengimbangi produktivitas
padi sawah bahkan mungkin melampauinya.
Analisis terhadap aspek produksi merupakan salah satu pendekatan yang
penting dalam kebijaksanaan pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan terutama
yang menjadi makanan pokok masyarakat. Pendekatan ini dilakukan untuk
mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi produktivitas dan efisiensi ekonomi
pengusahaan padi ladang. Dengan pendekatan ini akan diketahui alternatif
produksi yang paling tepat dalam waktu yang telah ditentukan sehingga nantinya
dapat menjadi salah satu informasi yang berguna dalam pembuatan kebijakan
pertanian seperti halnya dalam usahatani padi ladang. Penentuan alternatif
produksi padi ladang tentu juga harus mempertimbangkan karakteristik
agroklimat yang khas atau unik pada masing- masing daerah produksi disamping
karakteristik sosial ekonominya.
Karawang merupakan salah satu sentra produksi padi di Indonesia. Tabel 5
menunjukkan perbandingan produksi gabah kering giling Kabupaten Karawang
dengan Propinsi Jawa Barat dan produksi total keseluruhan di Indonesia. Pada
tahun 1992 total produksi Kabupaten Karawang mencapai 1,007 juta ton atau
mencapai 8,89 persen total produksi Jawa Barat dan 2,08 persen dari seluruh total
produksi di Indonesia.
Tabel 3. Produksi Padi Gabah Kering Giling di Kabupaten Karawang, Jawa
Barat, dan Indonesia Tahun 2004
Tahun
Karawang
(Ton)
Jawa Barat
(Ton)
Indonesia
(Ton)
1992 1.007.499 11.320.445 48.240.009
1993 1.007.689 11.188.421 48.181.087
1994 997.796 10.218.744 46.641.524
1995 991.974 11.094.735 49.744.140
1996 997.071 11.152.628 51.101.506
1997 989.304 10.746.730 49.377.000
1998 737.429 10.209.499 49.237.000
1999 917.879 10.400.411 50.866.000
2000 917.951 11.154.267 51.898.852
Sumber : Situs Deptan (www.deptan.go.id/ditjentp), 2004

Pada tahun 2000 produksi Kabupaten Karawang mencapai 917 ribu ton
sehingga memberikan kontribusi sebesar 8,22 persen dari produksi Jawa Barat dan
1,76 persen dari seluruh total produksi padi nasional yang mencapai 51,8 juta ton.
Dari tabel tersebut juga dapat dilihat mengenai adanya fluktuasi produksi yang
terjadi tahun demi tahun yang menggambarkan adanya ketidakstabilan produksi
padi yang disebabkan oleh banyak faktor. Beberapa faktor yang mempengaruhi
antara lain
2
:
a. Semakin berkurangnya lahan pertanian yang ada yang disebabkan oleh
berubah fungsinya lahan pertanian menjadi kawasan perumahan dan industri.
b. Belum berfungsinya saluran irigasi secara maksimal untuk mengairi lahan
sawah dengan merata. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengawasan yang
ketat sehingga saluran irigasi banyak dikuasai oleh beberapa orang untuk
kepentingan sendiri dan kelompok tertentu.
c. Pengaruh faktor cuaca dan iklim yang terus berfluktuasi.
Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan yang akan dibahas pada
penelitian ini adalah :
1. Mengapa produktivitas padi ladang lebih rendah dari padi sawah ?
2. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi produktivitas padi ladang ?
3. Bagaimana mencapai tingkat penggunaan faktor- faktor produksi yang efisien
secara ekonomis pada cabang usahatani padi ladang ?
1.3.Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah maka tujuan
penelitian ini adalah :
1. Menganalisis penyebab rendahnya produktivitas padi ladang.
2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas padi ladang.
3. Menganalisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor- faktor produksi pada
cabang usahatani padi ladang.
1.4. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi beberapa pihak, sebagai
berikut:
1. Sebagai bahan kajian bagi pemerintah dalam merumuskan program dan
kebijakan di bidang pertanian dalam usaha penyempurnaan sistem pertanian
terutama untuk usahatani padi ladang.
2. Sebagai masukan bagi petani agar dapat mengelola usahataninya secara
efektif dan efisien.
3. Sebagai bahan rujukan bagi penelitian yang akan datang agar dapat
memperbaiki kesalahan dan kekurangan yang ada.







II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Karakteristik Biologis Tanaman Padi Ladang
Padi ladang merupakan tanaman yang biasa ditanam di lahan kering.
Tanaman ini merupakan tanaman semusim jenis padi (Oryza sativa L.) yang
diusahakan di tanah tegalan kering secara menetap dan kebanyakan ditanam di
daerah tropika. Jenis tradisional (varietas Genjah) memiliki ciri-ciri : berbatang
tinggi, berumur sedang, anakan sedikit, bentuk gabah bulat dan tahan terhadap
kekeringan (Chang dan Vergara dalam Setiawan, 2000).
Basyir et al., (1995) mengemukakan bahwa siklus hidup tanaman padi
ladang berkisar antara 90 hingga 140 hari, tergantung pada varietasnya. Masa
pertumbuhan padi ladang terdiri dari tiga fase : (1) fase vegetatif, (2) fase
reproduktif, dan (3) fase pemasakan. Fase vegetatif merupakan masa pertumbuhan
batang dan daun (55 hari), sejak masa perkecambahan benih sampai pembentukan
primordial bunga pada ujung batangnya. Fase reproduktif adalah masa dari tahap
munculnya primordia bunga sampai waktu keluar bunga (35 hari). Pada fase ini
tanaman padi ladang sangat sensitif terhadap cekaman lingkungan. Fase
pemasakan adalah masa keluarnya bunga sampai gabah masak, sementara tahapan
yang dilalui adalah masak susu sekitar 92 hingga 110 hari setelah tanam, masak
padat sekitar 102 hingga 120 hari setelah tanam, dan masa penuh sekitar 112
hingga 120 hari setelah tanam.

2.2. Syarat Tumbuh dan Kelayakan Lahan Tanaman Padi Ladang

Keberhasilan budidaya tanaman padi ladang ditentukan oleh penyesuaian
tanaman terhadap lingkungan, iklim, dan cuaca. Jika pertumbuhannya baik, hasil
panen juga akan baik. Menurut Bey dan Las dalam Setiawan (2000), curah hujan
merupakan unsur iklim yang besar pengaruhnya terhadap suatu sistem usahatani,
terutama pada lahan kering dan tadah hujan. Pada Lahan tersebut padi ladang
lebih banyak ditanam pada musim hujan karena kebutuhan air bagi tanaman
tergantung sepenuhnya pada curah hujan. Gupta dan OToole (1986) menyatakan
bahwa curah hujan merupakan unsur agroklimat berpengaruh dominan terhadap
pertumbuhan dan produkisi padi ladang.
Kelayakan lahan untuk pertanaman padi ladang menurut Jones dan Garrity
dalam Setiawan (2000) didasarkan pada kecukupan dan ketersediaan air.
Kecukupan dan ketersediaan air ditentukan oleh empat faktor yaitu : curah hujan,
lamanya musim tanam, kemiringan lahan, dan tekstur tanah. Atas dasar keempat
faktor tersebut, lahan tanaman padi ladang dikelompokkan menjadi empat kelas
yaitu : sesuai, agak sesuai, kering, dan sangat kering.
Tabel 4. Klasifikasi Kriteria Lingkungan Tumbuh Tanaman Padi Ladang
Nilai

No
Kelas
Kesesuaian
Elevasi
(m dpl)
Lereng
(%)
MT
(Bulan)
CH
(mm/th)
Jenis
Tanah
Faktor
Pembatas
1 Sangat Sesuai < 700 < 5 9 1500-3500
Med, Gru,
And, Al
Tidak ada
2 Sesuai < 700 < 5 8-May 1500-3500 Med, Gru MT pendek
3 Sesuai < 700 < 5 > 4 1500-3500
And, La,
Pod, Al
Kesuburan tanah
rendah-sedang
4 Agak Sesuai < 700 20 May > 4 1500-3500
Med, Gru,
And, La,
Pod, Al
Keterbatasan air
5 Agak Sesuai 700-900 < 20 > 4 > 1500
Med, Gru,
And, La,
Pod, Al
Suhu, RH, dan
topografi
6 Tidak Sesuai < 900 20 > 4 > 1800 Reg
Fisik dan kimia
tanah
7 Tidak Sesuai > 900 > 20 - > 3500 - Suhu dan radiasi
8 Tidak Sesuai - - < 4 < 1500 - Kekurangan air
Sumber : Jones and Garrity dalam Setiawan (2000)
Keterangan : MT = musim tanam, periode saat air tanah
cukup bagi pertumbuhan tanaman,
Med = mediteran, Gru = grumosol, And = andosol, La = latosol,
Pod = podsolik, Al = aluvial, Reg = regosol, CH = curah hujan,

Lingkungan tumbuh akan mendukung pertumbuhan padi ladang apabila
memiliki tekstur tanah halus hingga sedang, kemiringan lahan 0 sampai 8 persen,
curah hujan tinggi (lebih besar dari 1500 mm per tahun) dan musim tanaman
panjang, yaitu 5 hingga 12 bulan per tahun. Ketinggian areal pertanaman padi
ladang bervariasi mulai dari dataran rendah sampai dataran dengan ketinggian
1500 meter di atas permukaan laut, bertopografi datar, bergelombang, dan
berbukit.
Unsur iklim yang berperan dalam keberhasilan budidaya tanaman padi
ladang adalah radiasi dan suhu udara (Basyir et al., 1995). Intensitas radiasi
matahari yang rendah, menurut Gupta dan OToole (1986) merupakan penyebab
rendahnya produksi padi ladang. Sedangkan suhu udara berkorelasi positif dengan
produksi padi selama fase vegetatif melalui jumlah tunas yang dihasilkan, tetapi
berkorelasi negatif dengan produksi gabah selama fase pengisian gabah hingga
masa panen (Murata 1976 dalam Setiawan, 2000).
Padi ladang dapat tumbuh hampir pada semua jenis tanah. Menurut
Madkar et al., dalam Setiawan (2000), pertumbuhan dan hasil padi ladang
dipengaruhi oleh tekstur, struktur, unsur hara, dan pH tanah. Tekstur tanah dengan
kemampuan menyimpan air yang tinggi merupakan kondisi yang sesuai bagi
tanaman padi ladang. Tanah dengan kemampuan menyimpan air yang rendah
dapat menimbulkan masalah kelembabam yang rendah setelah hujan berhenti. Hal
ini dapat menyebabkan ketersediaan unsur hara dalam tanah akan menurun (Gupta
dan OToole, 1986). Menurut De Datta dalam Setiawan (2000), perubahan unsur
hara dalam tanah merupakan salah satu faktor yang membatasi produktivitas
tanaman pada lahan kering. PH tanah yang sesuai untuk pertumbuhan padi ladang
berkisar antara 5.5 hingga 6.5. pada pH yang lebih rendah dari 5.0 padi ladang
dapat mengalami gangguan kekahatan unsur P, keracunan Fe dan Al, sedangkan
bila lebih dari 7.0 dapat menyebabkan tanaman padi ladang mengalami kekahatan
unsur Zn (Gupta dan OToole, 1986).
2.3. Budidaya Padi Ladang
2.3.1. Pengolahan tanah
Pengolahan tanah dilakukan pada musim kering sebelum hujan turun, atau
segera setelah tanaman yang mendahuluinya dipanen. Teknih pengolahan tanah
adalah sebagai berikut :
(1) Tanah dibajak atau dicangkul dua kali atau lebih hingga tanah cukup gembur
dan bersih dari rerumputan. Pengolahan tanah harus sampai kedalaman
sedikitnya 25 sentimeter. Pada tanah yang berat (tanah padat dan keras),
dilakukan pengolahan pendahuluan dengan menggunakan garpu. Tanah
lapisan bawah sedapat mungkin terangkat dan dibalik ke bagian atas.
(2) Pada waktu membajak atau mencangkul yang kedua kali, pupuk organik
ditebarkan sebanyak sekitar 20 ton per hektar dengan menggunakan pupuk
hijau, pupuk kandang atau kompos.
(3) Setelah tanah dibajak, tanah harus dihaluskan dengan garpu atau cangkul satu
atau dua kali hingga tanah cukup halus.
(4) Dijaga agar tidak terjadi penggenangan air, karena dapat mengancam
kehidupan sekeliling petak, dengan cara membuat petakan-petakan berukuran
10 5 meter atau dengan membuat bagian tengah tegalan lebih tinggi
daripada pinggirannya.
(5) Tanah dibiarkan saja sambil menunggu benih ditanam pada waktu permulaan
musim hujan.

2.3.2. Pemilihan Benih
Benih yang bermutu adalah yang murni dengan kandungan air maksimal
14 persen, bersih dari campuran atau kotoran-kotoran, bebas dari hama dan
penyakit, segar dan daya berkecambah tinggi (minimal 80 %). Benih yang dipilih
adalah benih yang tenggelam apabila benih dimasukkan dalam larutan garam atau
larutan abu dapur, yang berat jenisnya sekitar 1.01. Benih yang melayang atau
terapung jangan dijadikan benih.

2.3.3. Penanaman
a. Waktu tanam
Waktu tanam sebaiknya dalam bulan Oktober dan November, tetapi
tergantung pada awal musim penghujan, yaitu setelah dua atau tiga kali turun
hujan. Jika menanamnya bersamaan periode berlangsungnya hujan yang terus
menerus, ada kemungkinan benih tersebut terbawa air atau terdorong lebih jauh
masuk ke dalam tanah dan juga dapat berakibat kurang baik untuk tanaman muda
karena akan mengakibatkan gangguan hama dan penyakit yang hebat.
b. Cara menanam
Ada berbagai cara yang dapat digunakan dalam menanam, diantaranya
adalah :
1. Disebar merata langsung ke permukaan tanah. Cara ini kurang lazim karena
membutuhkan banyak benih yaitu sekitar 50 sampai 100 kilogram per hektar.
2. Membuat aluran dengan kayu berujung runcing yang digariskan di atas tanah
atau dengan cangkul atau kored dengan jarak antara aluran sekitar 60
sentimeter sedalam 3 sentimeter. Ke dalam aluran ditaburkan benih kemudian
ditutup dengan tanah. Pemakaian benih kurang lebih 30 sampai 40 kilogram
per hektar.
3. Dengan tugal. Pada jarak tertentu dibuat lubang dengan tugal, sedalam 3
hingga 5 sentimeter. Untuk tiap lubang ditanam benih sebanyak 5 hingga 7
butir. Jarak tanam pada tanah yang subur 15 20 sentimeter, sedangkan pada
tanah yang kurang subur 15 40 sentimeter. jarak tanam yang terbaik adalah
20 20 sentimeter. setelah benih dimasukkan, lubang benih ditutup dengan
campuran pupuk P, K, dan pupuk kandang, atau campuran antara pupuk P, K,
dan abu (debu atau tanah halus).
4. Tumpangsari dengan tanaman lain dengan pengaturan sebaik-baiknya
sehingga tidak merugikan tanaman pokok. Tumpangsari dengan jagung dapat
diatur dengan jarak tanam jagung 150 60 sentimeter. Pengaturan jarak
tanam yang sebaik-baiknya disamping akan mempertinggi hasil, juga akan
memudahkan dalam melakukan kegiatan lain di dalam pertanaman seperti
penyiangan, pemberantasan hama, dan lain- lain.

2.3.4. Pemupukan
a. Pemupukan dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk organik (pupuk
hijau, pupuk kandang atau pupuk kompos). Pupuk hijau misalnya dengan
menggunakan Crotalaria juncea ditanam 4 hingga 6 bulan sebelum tanah
ditanami padi ladang. Pupuk hijau ini ditanam berbaris dengan jarak antar
barisan sekitar 90 hingga 120 sentimeter. Di sela-selanya dapat ditanami
jagung, ketela, kacang hijau dan sebagainya. Pada permulaan musim hujan
pupuk hijau ditebang dan dikuburkan pada waktu pengolahan tanah.
b. Pupuk kandang dan kompos diberikan dengan pengolahan tanah karena pupuk
tersebut lama hancurnya. Kebutuhan pupuk kandang atau kompos sekitar 15
hingga 20 ton setiap hektar.
c. Pupuk organik (pupuk buatan) pada umumnya diberikan dengan dosis 60
sampai 90 kilogram N, 30 kilogram P
2
O
5
, dan 30 kilogram K
2
O tiap hektar.
Pupuk N (1,5 hingga 2 kwintal urea per hektar) diberikan dua kali, setengah
pada saat 3 sampai 4 minggu sesudah benih ditugalkan dan setengah sisanya
pada umur 6 sampai 7 minggu, yaitu masing- masing pada saat dilakukan
penyiangan (dua bulan sejak benih ditugalkan). Pupuk fosfat (0.75 kwintal
TSP) bersama dengan pupuk K (0.5 kwintal KCl) diberikan waktu penanaman
sebagai pupuk dasar setelah dicampur dengan pupuk kandang, abu atau debu
atau tanah halus. Perbandingan campuran pupuk fosfat, kalium, dan pupuk
kandang adalah 0.75 : 1 : 20 (0.75

kwintal TSP + 1 kwintal ZK + 20 kwintal
pupuk kandang). Jika abu atau debu halus sebagai campuran digunakan, maka
perbandingannya adalah 1 : 1 : 5.
Cara pemberiannya adalah dengan membuat garitan sepanjang barisan
tanaman, diisi dengan pupuk lalu ditutup lagi dengan tanah. Bila pada pemberian
pertama di sisi yang satu dari tanaman, maka pada pemberian kedua hendaklah
pada sisi lain yang berlawanan. Pupuk organik meliputi sisa-sisa tanaman atau
hewan. Pupuk organik sangat bermanfaat pada tanah-tanah kering untuk
memperbaiki struktur tanah. Tanah yang cukup mengandung bahan organik akan
lebih remah dan memiliki daya menahan air yang lebih besar. Tanah dengan sifat
yang demikian sangat sibutuhkan untuik tanaman padi ladang. Pupuk organik
terdiri dari kompos ataupun pupuk kandang. Salah satu kelemahan pupuk organik
adalah kadar haranya yang rendah. Untuk mencukupi kebutuhan hara bagi
tanaman dalam satu hektar, diperlukan sekitar 10 sampai 30 ton bahan organik. Di
samping itu pupuk organik sering mengandung biji-biji gulma sehingga dapat
mengganggu pertumbuhan tanaman. Kompos disebar pada waktu pembajakan
terakhir, dan pupuk buatan disebar pada waktu penggaruan terakhir.

2.3.5. Pemeliharaan
a. Penyulaman
Sejak tanaman berumur seminggu sampai umur tiga minggu tanaman padi
ladang masih boleh disulam, kadang-kadang sesudah umur satu bulan masih
disulam, tetapi yang digunakan untuk menyulam adalah bibit yang diambil dari
rumpun yang besar.
b. Penyiangan
Penyiangan atau pemberantasan gulma dapat dilakukan dengan cara
mekanis atau dengan cara kimiawi. Penyiangan pertama dilakukan pada waktu
tanaman berumur tiga sampai empat minggu. Setelah penyiangan, tanah di
sekeliling tanaman padi dibumbun (didangir) atau dihancurkan sedikit agar
pembuangan air lebih mudah. Penyiangan kedua pada saat tanaman berumur 60
hari. Tanah di sela-sela tanaman dicangkul supaya renggang dan gembur. Kira-
kira satu hingga dua minggu sebelum malai padi keluar, tanaman sebaiknya
dibumbun.

2.3.6. Panen dan Pengolahan Hasil Panen
Untuk jenis-jenis yang mudah rontok, panen dilakukan pada stadia masak
kuning yaitu apabila seluruh pertanaman nampak kuning, kecuali buku-buku
sebelah atas yang masih hijau. Isi gabah sudah mengeras tetapi bila dipijit dengan
tangan isi gabah mudah pecah. Sedangkan untuk jenis-jenis yang tidak mudah
rontok, panen dilakukan pada stadia masak penuh. Cara mengetam,
menggabahkan, mengeringkan dan mengolahnya selanjutnya sama dengan cara-
cara pada padi sawah.

2.3.7. Hama dan Penyakit
Hama yang sering mendatangkan bahaya pada tanaman padi ladang dan
perlu diperhatikan antara lain: lalat bibit yang dapat mengurangi kemampuan
bertunas bahkan mematikan tanaman berumur setengah hingga satu setengah
bulan, walang sangit yang menyebabkan kosongnya sebagian dari malai, kepik
padi hijau, penggerek batang, ulat tentara, tikus, babi hutan, burung, dan lain- lain.
Sedangkan penyakit yang umumnya menyerang padi ladang adalah penyakit
bercak daun (Pyricularia oryzae), penyakit bercak daun Helminthosporium
oryzae, Phytium sp, dan lain- lain.

2.4. Sistem Perladangan di Indonesia dan Perkembangannya
Menurut Soekartawi (1986), ladang atau tegalan adalah suatu lahan
usahatani pada lahan kering yang biasa dipakai untuk usaha bercocok tanam.
Tanaman yang biasa dibudidayakan adalah tanaman yang berumur pendek seperti
padi ladang, jagung, tanaman jenis kacang-kacangan dan umbi- umbian.
Perladangan merupakan wujud dari peradaban jaman dulu yang berlangsung turun
temurun dan masih berkembang hingga sekarang. Praktek perladangan menurut
data arkeologi sudah dimulai pada saat manusia pertama kali mengubah jaman
berburu dan mengumpulkan tanaman liar ke sistem berproduksi tanaman dan
beternak dengan budidaya yang masih primitif.
Demikian pula Pelzer dalam Geertz (1963) mengatakan bahwa
perladangan itu ditandai oleh tidak adanya pembajakan, input tenaga-tenaga
sedikit dibandingkan dengan bercocok tanam yang lain, tidak menggunakan
tenaga hewan ataupun pemupukan dan tidak adanya konsep pemilikan tanah
pribadi. Peladang pada umumnya hidup berpencar berjauhan satu dengan yang
lain, baik antara tempat tinggal di dalam desa maupun antar desa yang satu
dengan lainnya. Hal ini bukan karena sifat peladang yang enggan untuk hidup
berdekatan, melainkan merupakan usaha ntuk menyesuaikan antara kepentingan
beercocok tanam dengan keadaan alamnya (Soemarwoto, 1978 dalam Hariyanto,
1994).
Berdasarkan jangka waktu rotasinya, Dinas Kehutanan Kalimantan Barat
(1981) dalam Hariyanto (1994), mengelompokkan pola perladangan menjadi:
a. Berladang berpindah tanpa siklus dan tidak memiliki pemukiman tetap.
b. Berladang dengan siklus panjang, terkadang memiliki pemukiman tetap.
c. Berladang dengan siklus sedang diatas tujuh tahun dan memiliki pemukiman
tetap, terkadang memiliki kebun.
d. Berladang dengan siklus pendek sekitar lima tahun, memiliki pemukiman
tetap dan kebun.
e. Berladang setiap tahun.
Menurut Ditjen Kehutanan Direktorat Reboisasi dan Rehabilitasi
(1981) dalam Hariyanto (1994) beberapa sistem perladangan yang ada di
Indonesia adalah :
a. Sistem rotasi alami, yang merupakan sistem yang paling sederhana. Lahan-
lahan bekas perladangan yang sedang menurun produktivitasnya, baik karena
tingkat kesuburannya sudah berkurang atau besarnya gangguan gulma,
diserahkan begitu saja kepada kekuatan alam untuk merehabilitasi dirinya
melalui suksesi alami. Sistem ini terdapat dipedalaman Kalimantan.
b. Sistem tanaman sela, merupakan suatu peningkatan dari sistem rotasi alami.
Lahan- lahan perladangan pada saat penggarapan pertama sudah ditanami
tanaman sela yang ditanam dalam bentuk larikan sejajar kontur, sehingga
dapat berfungsi sebagai pencegah erosi serta penyubur tanah. Tanaman sela
itupun dibiarkan tumbuh sehingga suksesi alami berjalan lebih cepat. Sistem
ini ditemui di Nusa Tenggara Timur terutama Kupang.
c. Sistem tumpang sari. Sejak saat pertama penggarapan ladangnya, para
peladang menanam tanaman keras secara bersamaan dengan tanaman
pangan. Jenis-jenis tanaman keras yang dipilih adalah yang mempunyai
prospek ekonomis baik seperti karet, kelapa, lada, kopi dan cengkeh. Sistem
ini terdapat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, Lampung dan
Sumatera Selatan.
d. Sistem talun, yang merupakan perkembangan dari sistem rotasi alami,
sebagai akibat masuknya pertimbangan pemilihan jenis tanaman yang
disesuaikan dengan keadaan pasar dan kondisi fisik lahannya. Yang
dimaksud dengan talun adalah lapangan yang ditanami dengan berbagai
macam pohon, baik kayu-kayuan maupun buah-buahan. Jenis dan susunan
pepohonan tersebut dibuat sedemikian sehingga mempunyai prospek
ekonomis serta sesuai dengan kebutuhan pemiliknya. Sistem talun ini muncul
atau dikenal terdapat di daerah Jawa Barat.
Simon (1981) dalam Hariyanto (1994), mengemukakan bahwa
perladangan hampir selalu dilakukan dengan cara yang sama. Secara kronologis
pekerjaan yang dilakukan adalah :
a. Pemilihan tempat, dengan urutan prioritas dari yang paling disukai : hutan
perawan, hutan sekunder, belukar dan yang terakhir padang alang-alang.
b. Menebas, yaitu : pemotongan belukar kecil dengan menggunakan parang
c. Menebang, yaitu : memotong pohon berdiameter besar dengan menggunakan
kapak (beliung).
d. Membakar daun dan ranting yang sudah kering. Pembakaran ini selain
ditujukan untuk membersihkan lahan dari sisa-sisa penebasan dan
penebangan, juga berguna untuk mengurangi keasaman tanah.
e. Menugal dan menanam biji. Menugal adalah membuat lubang- lubang pada
permukaan tanah dengan menggunakan ranting atau dahan yang
diruncingkan ujungnya (tugal) dimana biji-biji padi kemudian dimasukkan.
f. Merumput, yaitu : pekerjaan mencabut/membunuh rumput-rmput yang
tumbuh diantara tanaman padi, karena bila rumput dibiarkan tumbuh lebat,
maka tanaman padi akan tertekan sehingga hasilnya sangat rendah.
g. Menjaga tanaman dari serangan hama seperti babi hutan.
h. Mengetam atau memanen hasil padi.
Selain itu ada kegiatan lain yang menurut Dove (1988) dalam Hariyanto
(1994), pada dasarnya tidak berurutan yaitu : (a) memanen hasil tanaman bukan
padi, (b) membat pondok diladang, (c) membuat alat-alat untuk bekerja di ladang.
Bila ditinjau dari aspek ekonomi peladang berpindah (perladangan) dicirikan oleh
produktivitas yang rendah. Rendahnya produksi yang dihasilkan oleh peladang
juga ditunjukkan oleh ketidakpastian hasil yang disebabkan tingginya pengaruh
iklim, hama dan penyakit. Dengan sifat perladangan yang masih tradisional upaya
pengendalian terhadap hama dan penyakit juga dilaksanakan dengan cara yang
sederhana. Padahal bila dilihat dari lingkungan sistem perladangan kemungkinan
uuntuk terserang hama dan penyakit sangat tinggi dan upaya pengendalian lebih
sulit.
Produktivitas yang rendah cenderung diikuti pula oleh rendahnya kualitas
produksi yang dihasilkan. Akibatnya harga jual produksi yang dihasilkan rendah,
ditambah lagi dengan belum adanya prospek pemasaran hasil produksi dan sifat
komoditi yang dihasilkan masih bersifat musiman. Keseluruhan faktor- faktor di
atas menyebabkan rendahnya tingkat pendapatan usahatani peladang berpindah
(Simon, 1981 dalam Hariyanto, 1994).
Dari aspek sosial peladang dicirikan oleh rendahnya tingkat pendidikan,
tingkat ketrampilan dan pengetahuan yang dimiliki peladang dalam pengelolaan
lahan serta tingginya angka kelahiran dan kematian penduduk karena masih
rendahnya tingkat kesehatan. Tempat tinggal yang berpencar dan kemungkinan
pindah mengikuti rotasi perladangan, menyebabkan anak-anak peladang sangat
sulit untuk mengikuti pendidikan formal secara teratur. Bagi pemerintah pun tidak
mudah untuk menyelenggarakan fasilitas pendidikan dan fasilitas sosial lainnya,
bukan karena biayanya yang menjadi mahal, tetapi juga kegunaannya tidak
mencapai tingkat optimal yang diharapkan. Oleh karena itu sebagian dari
peladang tidak berpendidikan sama sekali. Masyarakat di Kalimantan Timur,
seperti yang dikemukakan Simon (1981) dalam Hariyanto (1994), 61 persen tidak
pernah sekolah, sedang 27 persen hanya pernah sekolah tidak lebih dari kelas tiga
sekolah dasar.
2.5. Perilaku Ekonomi Petani
Perilaku ekonomi mempunyai tiga hal yang patut diperhatikan (Scott,
1981), yaitu resiko, ketidakpastian, serta keuntungan. Istilah resiko dimaksudkan
kepada terjadinya kemungkinan merugi atau possibility of loss, jadi peluang akan
terjadinya merugi akan diketahui terlebih dahulu. Sedangkan ketidakpastian
adalah sesuatu yang tidak bisa diramalkan sebelumnya, karena peluang terjadinya
merugi belum diketahui sebelumnya (Soekartawi et al., dalam Satria, 1995).
Dillon et al. dalam Soekartawi (1986) memberikan indikasi bahwa
sebagian besar petani subsistem mempunyai keengganan memikul resiko, dengan
kecenderungan yang lebih besar pada pemilik lahan sempit dan umumnya dari
petani penyakap. Pada petani kecil perolehan pendapatan usahataninya akan lebih
banyak digunakan untuk mengembangkan usahataninya. Dalam banyak hal,
sering ditemui bahwa semakin kecil petani melakukan capital formation dalam
usahataninya, karena kelebihan pendapatan sering digunakan untuk kepentingan
lainnya.
Scott (1981), menjelaskan adanya perilaku enggan menerima resiko dalam
pengambilan keputusan petani disebabkan oleh adanya dilema ekonomi petani
sentral yang dihadapi oleh kebanyakan rumah tangga petani. Kehidupan petani di
pedesaan begitu dekat dengan batas subsistensi, serta selalu mengalami
ketidakpastian cuaca dan tuntutan-tuntutan dari pihak luar, dan karena itu kondisi
tersebut menyebabkan rumah tangga petani tidak banyak mempunyai peluang
untuk menerapkan keuntungan maksimal dalam berusahatani. Sifat khas yang
senantiasa ada pada diri petani ialah berusaha menghindari kegagalan yang akan
menghancurkan kehidupannya dan bukan berusaha memperoleh keuntungan besar
dengan mengambil resiko. Dengan kata lain petani berusaha meminimumkan
keuntungan subjektif dari kerugian maksimum. Perilaku demikian yang disebut
juga perilaku safety first atau mendahulukan keamanan merupakan ciri umum
petani. Bukan saja petani miskin yang memiliki perilaku tersebut, tetapi sebagian
besar petani menengah juga bertindak serupa.

2.6. Hasil Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu mengenai usahatani padi ladang atau padi gogo
dilakukan oleh Susanto (2004). Penelitian ini melakukan analisis tentang
pendapatan dan efisiensi penggunaan faktor produksi usahatani padi ladang secara
tumpangsari dengan jagung di Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penerimaan petani dari produksi
padi ladang per hektar per musim tanam sebesar Rp.1.348.100,- dengan harga jual
rata-rata sebesar Rp.1.700,- per kilogram dan produksi padi ladang per hektar
rata-rata sebesar 793 kilogram dalam bentuk gabah kering panen. Sedangkan rata-
rata jagung yang dihasilkan per hektar sebesar 1.438 kilogram dengan harga jual
rata-rata Rp.450,- per kilogram, sehingga penerimaan dari produksi jagung
sebesar Rp.647.100,-. Jadi, total penerimaan petani dari usahatani padi ladang
yang ditumpangsari dengan jagung sebesar Rp.1.995.200,-.
Biaya tunai yang dikeluarkan dalam usahatani padi ladang tumpangsari
dengan jagung sebesar Rp.683.091,- sedangkan biaya total sebesar Rp.1.824.575,-
. Dengan komposisi biaya seperti ini, pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh
petani adalah sebesar Rp.1.312.109,- sedangkan pendapatan atas biaya total
sebesar Rp.170.625,- Jadi rasio R/C atas biaya tunai diperoleh sebesar 2.92, dan
rasio R/C atas biaya total sebesar 1.09. Hal ini berarti dari segi analisis pendapatan
usahatani padi ladang secara tumpangsari dengan jagung menguntungkan karena
penerimaan yang lebih besar dari biaya total yang dikeluarkan.
Dari analisis model fungsi produksi Cobb-Douglas yang dilakukan
Susanto (2004), diperoleh hasil F-hitung yang nyata pada taraf kepercayaan 95
persen, dan nilai koefisien determinasi (R
2
) sebesar 74.5 dengan nilai koefisien
determinasi terkoreksi (R
2
-adjusted) sebesar 67.8. Nilai R
2
-adjusted sebesar 67.8
berarti bahwa 67.8 persen kergaman pada nilai produksi dapat dijelaskan oleh
variabel bebas yang digunakan dalam fungsi produksi yaitu luas lahan, jumlah
benih, pupuk Urea, pupuk KCl, pupuk TSP, dan tenaga kerja. Sedangkan 32.2
persen lainnya dari keragaman nilai produksi dipengruhi faktor- faktor lain di luar
model regresi. Faktor- faktor lain di luar model yang diduga berpengaruh tersebut
adalah tingkat kesuburan lahan, intensitas serangan hama, dan faktor iklim.
Berdasarkan hasil uji-t yang dilakukan Susanto (2004), diperoleh hasil
bahwa faktor produksi jumlah benih, pupuk Urea, dan pupuk TSP berpengaruh
nyata terhadap nilai produksi. Sedangkan faktor produksi luas lahan, puuk KCl
dan tenaga kerja tidak berpengaruh nyata terhadap nilai produksi pada taraf
kepercayaan yang ditentukan.
Berdasarkan analisis efisiensi dengan rasio NPM dan BKM, diperoleh
hasil bahwa penggunaan faktor produksi pupuk Urea, KCl, TSP, dan tenaga kerja
tidak efisien (berlebihan), yang ditunjukkan oleh rasio NPM dan BKM yang lebih
kecil dari satu. Sedangkan penggunaan faktor produksi luas lahan dan jumlah
benih masih kurang untuk mencapai level efisien. Penggunaan faktor produksi
yang tidak efisien ini diduga disebabkan oleh pengetahuan petani yang terbatas
akibat tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi yang rendah serta status
penguasaan lahan.
Penelitian lain mengenai padi ladang dilakukan oleh Rahayu (2001)
dengan judul Perbandingan Usahatani Padi Ladang Baduy Luar dan Luar Baduy
Dilihat Dari Tingkat Efisiensi dan Subsistensi Usahatani di Desa Kanekes dan
Desa Jalupang Mulya, Kecamatan Leuwi Damar, Kabupaten Lebak, Banten.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa teknologi usahatani padi ladang yang
digunakan di wilayah Luar Baduy (Jalupang Mulya) lebih maju dibandingkan
dengan Baduy Luar. Hal ini dilihat dari : tingkat pendidikan, luas lahan garapan,
status penguasaan lahan, pengalaman bertani, jenis alat pengolahan lahan, jenis
varietas padi, pupuk, obat dan cara pengobatan hama dan penyakit tanaman, serta
alat pengolahan padi. Namun dari segi analisis pendapatan dengan menggunakan
analisis rasio R/C, usahatani padi ladang di wilayah Baduy Luar (Kanekes)
menghasilkan nilai rasio R/C yang lebih tinggi daripada Luar Baduy (Jalupang
Mulya), dimana rasio R/C atas biaya total untuk Baduy Luar sebesar 0.26
sedangkan R/C atas biaya total untuk luar baduy sebesar 0.11. Demikian juga
dengan R/C atas biaya tunai untuk wilayah Baduy Luar sebesar 1.22, lebih besar
daripada R/C atas biaya tunai untuk Luar Baduy yang sebesar 0.39.
Rendahnya nilai rasio R/C untuk usahatani padi ladang di wilayah Luar
Baduy diduga disebabkan oleh :
(1) Tingkat kesuburan lahan di wilayah Baduy Luar yang lebih subur
dibandingkan dengan wilayah Luar Baduy, dilihat dari segi intensitas
penggunaan lahan.
(2) Tingkat upah tenaga kerja luar keluarga di wilayah Luar Baduy lebih tinggi
daripada wilayah Baduy Luar.
(3) Kondisi lingkungan usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy yang
sedang terserang hama dan penyakit.
(4) Penggunaan pupuk dan pestisida yang belum tepat untuk wilayah Luar
Baduy, sementara usahatani padi ladang di wilayah Baduy Luar tidak
menggunakan pupuk dan pestisida sama sekali.
Dilihat dari segi tingkat subsistensi, usahatani padi ladang di wilayah Luar
Baduy tergolong usahatani semi- subsisten mengarah ke komersial (Transisi-
Dinamis), sedangkan usahatani padi ladang untuk wilayah termasuk dalam
usahatani semi-subsisten mengarah ke subsisten (Transisi-Statis). Kesimpulan ini
diambil berdasarkan analisis terhadap : tujuan produksi, nilai rasio upah tenaga
kerja dan rasio faktor input, serta tingkat pendayagunaan lembaga pertanian.
Penelitian yang dilakukan Wana (2000) dengan judul Analisis Faktor-
faktor Produksi Padi Lahan Kering di Indonesia, melakukan analisis pendugaan
model respon areal luas panen dan produktivitas padi lahan kering di seluruh
Indonesia. Wana (2000) mengelompokkan Indonesia menjadi tiga daerah regional
yaitu :
Regional I meliputi seluruh provinsi Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.
Regional II meliputi seluruh provinsi di pulau Sumatera dan Kalimantan.
Regional III meliputi seluruh provinsi di pulau Sulawesi, NTT, Maluku, Timtim,
dan Irian Jaya.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor- faktor yang mempengaruhi
produksi luas areal panen padi lahan kering (ladang) di seluruh regional adalah :
harga beras, luas lahan kering, harga jagung, harga ubikayu, harga kedelai, dan
luas areal panen padi tahun sebelumnya. Sedangkan faktor- faktor yang
mempengaruhi produktivitas padi lahan kering (ladang) di seluruh regional adalah
harga pupuk urea, curah hujan, varietas unggul, dan harga pupuk TSP. Penelitian
ini juga memperoleh kesimpulan bahwa peningkatan produksi dengan
mengupayakan peningkatan luas areal dan produktivitas padi ladang pada
umumnya tidak responsif terhadap faktor- faktor yang berpengaruh, yang memberi
indikasi bahwa di Indonesia terutama di Jawa peningkatan luas areal panen dan
produktivitas sudah hampir mendekati level optimum. Akan tetapi dalam upaya
memenuhi kebutuhan beras nasional dan mengurangi impor beras, kegiatan
produksi harus tetap ditingkatkan.
Yelni (1999) meneliti tentang faktor- faktor yang mempengaruhi
produksi dan pendapatan usahatani padi sawah pada jaringan irigasi teknis (Desa
Tinggar Jaya, Kecamatan Jatilawang) dan irigasi sederhana (Desa Losari,
Kecamatan Rawalo), Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Penelitian ini
menyimpulkan bahwa tingkat produksi per hektar di daerah irigasi teknis lebih
tinggi daripada daerah irigasi sederhana. Perbedaan tingkat produksi tersebut
24.947 kwintal dalam satu tahun (dua musim tanam). Pendapatan atas biaya tunai
dan biaya total yang diperoleh daerah dengan lahan sawah yang menggunakan
irigasi teknis juga lebih tinggi daripada lahan sawah beririgasi sederhana. Rasio
R/C atas biaya tunai di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis) sebesar 2.7554,
sedangkan di Desa Losari (irigasi sederhana) sebesar 2.4193. Rasio R/C atas biaya
total di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis) sebesar 1.5574 dan di Desa Losari
(irigasi sederhana) sebesar 1.4637. Berdasarkan analisis model fungsi produksi
dengan menggunakan analisis model Cobb-Douglas, diperoleh hasil bahwa untuk
usahatani padi sawah di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis), faktor-faktor yang
berpengaruh nyata pada a = 0.05 adalah benih dan pupuk, sedangkan faktor- faktor
yang berpengaruh nyata pada 0.05 < a = 0.10 adalah penggunaan pestisida dan
dummy luas lahan. Sedangkan untuk usahatani padi sawah di Desa Losari (irigasi
sederhana), faktor- faktor yang berpengaruh nyata adalah penggunaan tenaga kerja
dan dummy luas lahan.
Wijaya (2002) melakukan penelitian tentang perbandingan pendapatan
dan efisiensi usahatani padi sawah organik (input rendah) dan usahatani padi
sawah konvensional di Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang. Penelitian
ini menyimpulkan bahwa produktivitas padi organik (input rendah) lebih kecil
dibandingkan padi konvensional. Produktivitas padi organik sebesar 4.569 kg/ha
sedangkan produktivitas padi sawah konvensional sebesar 5.263 kg/ha. Rasio R/C
atas biaya tunai dan atas biaya total pada usahatani padi sawah organik didapat
sebesar 2.68 dan 1.72, sedangkan rasio R/C atas biaya tunai dan atas biaya total
pada usahatani padi sawah konvensional sebesar 2.14 dan 1.63.
Berdasarkan analisis fungsi produksi dengan menggunakan model fungsi
produksi Cobb-Douglas, disimpulkan bahwa usahatani padi organik berada pada
kondisi decreasing return to scale (hasil yang semakin menurun). Faktor- faktor
yang berpengaruh nyata terhadap produksi pada usahatani padi sawah organik
luas lahan, jumlah pupuk TSP yang digunakan, dan tenaga kerja. Sedangkan
faktor- faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi pada usahatani padi
sawah konvensional adalah luas lahan, jumlah benih yang digunakan, pupuk urea,
pestisida butir, dan penggunaan tenaga kerja.
Berdasarkan analisis efisiensi ekonomi dengan menggunakan rasio Nilai
Produk Marjinal dan Biaya Korbanan Marjinal (NPM/BKM) untuk usahatani padi
sawah organik, diketahui bahwa penggunaan faktor-faktor produksi belum efisien.
Hal ini terbukti dari nilai NPM/BKM semua faktor produksi yang tidak sama
dengan satu. Faktor-faktor yang penggunaannya harus ditingkatkan agar dicapai
level efisien adalah luas lahan, pupuk organik, pupuk daun, pestisida butir, dan
tenaga kerja. Sedangkan faktor- faktor yang penggunaannya berlebihan adalah
pupuk urea dan TSP. Untuk faktor benih dan pestisida cair didapat nilai rasio
NPM dan BKM yang negatif, artinya syarat keharusan untuk mencapai level
efisien tidak teroenuhi sehingga penggunaannya untuk mencapai efisien tidak
dapat diramalkan karena rasio NPM dan BKM tidak akan pernah sama dengan
satu (NPM/BKM ? 1).












III. KERANGKA PEMIKIRAN


3.1. Konsep Usahatani

Usahatani adalah setiap kombinasi yang tersusun (terorganisasi) dari alam,
kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian (T.B.
Bachtiar Rifai dalam Hernanto, 1988). Berdasarkan pengertian di atas, maka
suatu usahatani dapat digambarkan lebih rinci sebagai berikut :
a. Adanya lahan dalam luasan dan produk
yang tertentu, unsur ini dalam usahatani
mempunyai fungsi sebagai tempat
diselenggarakannya usaha bercocok
tanam, pemeliharaan hewan ternak dan
tempat keluarga tani bermukim.
b. Adanya bangunan yang berupa rumah petani, gudang, kandang, lantai jemur,
dan lain- lain.
c. Adanya alat-alat pertanian seperti cangkul, parang, garpu, linggis, penyemprot,
traktor, pompa air dan lain- lain.
d. Adanya pencurahan kerja untuk mengolah tanah, menanam, memelihara dan
lain- lain.
e. Adanya kegiatan petani yang menetapkan rencana usahataninya, mengawasi
jalanya usahatani dan menikmati hasil usahataninya.
Soeharjo dan Patong (1973) dalam Soekartawi (1986), mengatakan bahwa
ada dua pola usahatani yang sangat pokok yaitu pola usahatani lahan basah dan
lahan kering. Sedangkan bentuk usahatani terdapat tiga jenis yang menunjukkan
bagaimana suatu kondisi diusahakan yaitu : (1) bentuk khusus dimana petani
hanya mengusahakan satu jenis usaha dari sebidang tanah, (2) bentuk tidak khusus
yaitu usahatani yang terdiri dari berbagai cabang usaha pada berbagai bidang
tanah, dan (3) bentuk campuran yaitu usahatani yang memadukan beberapa
cabang usaha secara bercampur, dimana penggunaan faktor- faktor produksi
cenderung bersaing dan batas pemisahan antara cabang usahatani kurang jelas.
Secara umum dalam setiap rumahtangga usahatani pada hakekatnya
terdapat dua kegiatan ekonomi yaitu kegiatan usaha dan kegiatan rumahtangga
atau keluarga. Keluarga usaha menghasilkan produksi, baik yang dijual maupun
untuk dikonsumsi keluarga atau dipergunakan lagi dalam proses produksi
selanjutnya. Untuk kegiatan rumahtangga pada umumnya bersifat konsumtif.

3.2. Pendapatan Usahatani
Pemenuhan kebutuhan hidup rumahtangga usahatani dicukupi dari
pendapatan usahatani. Soeharjo dan Patong (1973) menyatakan bahwa
pendapatan adalah balas jasa dari kerjasama faktor- faktor produksi lahan, tenaga
kerja, modal dan jasa pengelolaan. Pendapatan usahatani tidak hanya berasal dari
kegiatan produksi saja tetapi dapat juga diperoleh dari hasil menyewakan atau
menjual unsur- unsur produksi, misalnya menjual kelebihan alat-alat produksi,
menyewakan lahan dan lain sebagainya.
Berkaitan dengan ukuran pendapatan dan keuntungan, Soekartawi (1986)
mengemukakan beberapa definisi :
a. Penerimaan tunai usahatani merupakan nilai uang yang diterima dari
penjualan produk usahatani.
b. Pengeluaran tunai usahatani adalah jumlah uang yang dibayarkan untuk
pembelian barang dan jasa bagi usahatani.
c. Pendapatan tunai usahatani adalah produk usahatani dalam jangka waktu
tertentu, baik yang dijual maupun tidak dijual.
d. Penerimaan total usahatani merupakan nilai semua yang habis terpakai
atau dikeluarkan dalam produksi termasuk biaya yang diperhitungkan.
e. Pengeluaran total usahatani merupakan selisih antara penerimaan kotor
usahatani dan pengeluaran total usahatani.
Secara harfiah pendapatan dapat didefenisikan sebagai sisa dari
pengurangan nilai penerimaan yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan.
Pendapatan yang diharapkan tentu saja memiliki nilai positif dan semakin besar
nilainya semakin baik, meskipun besar pendapatan tidak selalu mencerminkan
efisiensi yang tinggi karena pendapatan yang besar mungkin juga diperoleh dari
investasi yang jumlahnya besar pula.
Untuk mengukur keberhasilan usahatani biasanya dilakukan dengan
melakukan analisis pendapatan usahatani. Dengan melakukan analisis pendapatan
usahatani dapat diketahui gambaran keadaan aktual usahatani sehingga dapat
melakukan evaluasi dengan perencanaan kegiatan usahatani pada masa yang akan
datang.
Untuk menganalisis pendapatan usahatani diperlukan informasi mengenai
keadaan penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu yang ditetapkan.
Penerimaan usahatani adalah nilai produksi yang diperoleh dalam jangka waktu
tertentu dan merupakan hasil perkalian antara jumlah produksi total dengan harga
satuan dari hasil produksi tersebut. Sedangkan biaya atau pengeluaran usahatani
adalah nilai penggunaan faktor- faktor produksi dalam melakukan proses produksi
usahatani.
Biaya dalam usahatani dapat dibedakan menjadi biaya tunai dan biaya
yang diperhitungkan. Biaya tunai usahatani merupakan pengeluaran tunai yang
dikeluarkan oleh petani. Sedangkan biaya yang diperhitungkan merupakan
pengeluaran yang secara tidak tunai dikeluarkan petani, biaya ini dapat berupa
faktor produksi yang digunakan petani tanpa mengeluarkan uang tunai seperti
sewa lahan yang diperhitungkan atas lahan milik sendiri, penggunaan tenaga kerja
dalam keluarga, penggunaan benih dari hasil produksi dan penyusutan dari sarana
produksi. Pengeluaran usahatani secara umum meliputi biaya tetap (fixed cost)
dan biaya variabel (variable cost). Biaya tetap adalah biaya yang sifatnya tidak
dipengaruhi oleh jumlah produksi yang dihasilkan. Biaya tetap dapat berupa biaya
sewa lahan, pajak dan bunga pinjaman. Biaya variabel adalah biaya yang sifatnya
dipengaruhi jumlah produksi yag dihasilkan. Biaya variabel dapat berupa biaya
yang dikeluarkan unt uk benih, pupuk, pestisida dan upah tenaga kerja.
Pendapatan usahatani terbagi atas pendapatan kotor usahatani dan
pendapatan bersih usahatani. Pendapatan kotor usahatani mengukur pendapatan
kerja petani tanpa memasukkan biaya yang diperhitungkan sebagai komponen
biaya. Pendapatan kotor usahatani merupakan selisih dari penerimaan usahatani
dengan biaya tunai usahatani. Sedangkan pendapatan bersih usahatani mengukur
pendapatan kerja petani dari seluruh biaya usahatani yang dikeluarkan.
Pendapatan bersih usahatani diperoleh dari selisih penerimaan usahatani dengan
biaya total usahatani.
3.3. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio Analysis)
Menurut Soeharjo dan Patong (1973),
pendapatan yang besar bukanlah sebagai
petunjuk bahwa usahatani efisien. Suatu
usahatani dikatakan layak apabila
memiliki tingkat efisiensi penerimaan
yang diperoleh atas setiap biaya yang
dikeluarkan hingga mencapai
perbandingan tertentu.
Kriteria kelayakan usahatani dapat diukur dengan menggunakan analisis
imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio analysis) yang didasarkan pada
perhitungan secara finansial. Analisis ini menunjukkan besar penerimaan
usahatani yang akan diperoleh petani untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan
untuk kegiatan usahatani. Semakin besar nilai R/C maka akan semakin besar pula
penerimaan usahatani yang diperoleh untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan
atau usahatani dikatakan menguntungkan.
Kegiatan usahatani dikategorikan layak jika memiliki nilai R/C ratio lebih
besar dari satu, artinya setiap tambahan biaya yang dikeluarkan akan
menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih besar daripada tambahan biaya
atau secara sederhana kegiatan usahatani menguntungkan. Sebaliknya kegiatan
usahatani dikategorikan tidak layak jika memiliki nilai R/C ratio lebih kecil dari
satu, yang artinya untuk setiap tambahan biaya yang dikeluarkan akan
menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih kecil daripada tambahan biaya
atau kegiatan usahatani merugikan. Sedangkan untuk kegiatan usahatani yang
memiliki nilai R/C ratio sama dengan satu berarti kegiatan usahatani berada pada
keuntungan normal.

3.4. Teori Produksi
Setiap proses produksi melibatkan suatu hubungan yang erat antara faktor-
faktor produksi yang digunakan dengan produk yang dihasilkan . Faktor- faktor
produksi seperti lahan, pupuk, tenaga kerja, modal dan sebagainya sangat
mempengaruhi terhadap besar kecilnya produksi yang diperoleh. Keputusan
penggunaan sumber daya atau input, baik dalam kuantitas maupun kombinasi
yang dibutuhkan dalam suatu tingkat produksi ditentukan oleh petani (produsen).





I II III
TP
Y (Produksi)





















Keterangan : TP = Total Produksi
MP = Marginal Product (Produk Marjinal)
AP = Average Product (Produk Rata-rata)
Fungsi produksi secara sederhana dapat digambarkan sebagai hubungan
fisik atau hubungan teknis antara jumlah faktor produksi yang digunakan dengan
jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu tanpa memperhatikan faktor
harga.
Seperti ditunjukkan dalam Gambar 1, fungsi produksi didefinisikan
sebagai hubungan antara input dengan output yang menunjukkan suatu tingkat
dimana sumberdaya dapat diubah sehingga menghasilkan produk tertentu (Doll
dan Orazem, 1984). Dengan kata lain fungsi produksi menggambarkan kombinasi
penggunaan beberapa faktor produksi untuk menghasilkan suatu tingkat produksi
tertentu.
Secara matematis, fungsi produksi dapat dinyatakan sebagai berikut (Doll
dan Orazem, 1984) :
Y = f(X
1
, X
2
, X
3
,,X
n
) .......................................................... (3.1)
Keterangan :
Y : Jumlah produksi yang dihasilkan dalam proses produksi
X
1
,X
2
,..,X
n
: Faktor- faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi
f : Bentuk hubungan yang mentransformasikan faktor- faktor
produksi ke-n dalam hasil produksi

Menurut Doll dan Orazem (1984),
suatu fungsi produksi dapat dibagi ke
dalam tiga daerah produksi. Daerah
produksi tersebut dapat dibedakan
berdasarkan elastisitas produksi dari
faktor-faktor produksi. Pada Gambar 1,
ketiga daerah tersebut adalah daerah
dengan elastisitas produksi yang lebih
besar dari satu (daerah I), antara nol dan
satu (daerah II), dan lebih kecil dari nol
(daerah III).
Daerah produksi I yang terletak antara 0 dan X2, mempunyai nilai
elastisitas produksi lebih besar dari satu, yang berarti bahwa penambahan faktor
produksi sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi yang
selalu lebih besar dari satu persen. Keuntungan maksimum belum tercapai, karena
produksi masih dapat diperbesar dengan pemakaian faktor produksi yang lebih
banyak. Oleh karena itu daerah I disebut sebagai daerah irrasional (irrational
region atau irrational stage of production).
Syarat keharusan untuk tercapainya keuntungan maksimum adalah tingkat
produksi yang terjadi harus berada pada daerah II dalam kurva fungsi produksi.
Pada daerah ini yang terletak antara X2 dan X3, elastisitas produksi bernilai antara
nol dan satu, artinya setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan
menyebabkan penambahan produksi paling tinggi satu persen dan paling rendah
nol. Daerah ini dicirikan oleh penambahan hasil produksi yang peningkatannya
makin berkurang (decreasing return to scale). Pada tingkat tertentu dari
penggunaan faktor-faktor produksi di daerah ini akan memberikan keuntungan
maksimum. Hal ini berarti bahwa penggunaan faktor- faktor produksi sudah
optimal. Oleh karena itu daerah II disebut sebagai daerah rasional (rational region
atau rational stage of production).
Daerah Produksi III mempunyai elastisitas produksi lebih kecil dari nol,
artinya setiap penambahan faktor- faktor produksi akan menyebabkan penurunan
jumlah produksi yang dihasilkan. Daerah produksi ini mencerminkan pemakaian
faktor- faktor produksi yang sudah tidak efisien, sehingga daerah ini disebut juga
sebagai daerah irrasional.

3.5. Efisiensi Ekonomi
Usahatani akan mencapai efisiensi ekonomi jika tercapai keuntungan
maksimum. Syarat untuk mencapai keuntungan maksimum adalah turunan
pertama dari fungsi keuntungan terhadap masing- masing faktor produksi sama
dengan nol (Doll dan Orazem, 1984). Fungsi keuntungan yang diperoleh
usahatani dapat dinyatakan sebagai berikut :

+ =

=
TFC X . Px Y . Py
n
1 i
i i
.. (3.2)
Keterangan :
= pendapatan usahatani Py = harga per unit produksi
i = 1,2,3,.,n Y = hasil produksi

i
Px = harga pembelian faktor produksi ke i

i
X = jumlah faktor produksi ke- i yang digunakan dalam proses produksi
TFC = Total Fixed Cost (Biaya Tetap Total)
Dengan demikian untuk memenuhi syarat tercapainya keuntungan
maksimum, maka turunan pertama dari fungsi keuntungan adalah :
0 =

i
i
y
i
Px
X
Y
P
X


= 0 =

i
i
Px
X
Y

i
i
Px
X
Y
Py =

.. (3.3)
Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa level penggunaan faktor
produksi ke-i yang efisien merupakan fungsi dari harga output, harga faktor
produksi ke- i dan jumlah output yang dihasilkan, atau secara matematis dapat
dituliskan :
( ) Y , Px , Py f X
i i
= (3.4)
Dengan mengetahui
i
X
Y

sebagai Marginal Product (MPxi) faktor


produksi ke-i, maka persamaan diatas menjadi :
i i
Px MPx Py = . (3.5)
Sesuai dengan prinsip keseimbangan marjinal (equi-marginal principle),
bahwa untuk mencapai keuntungan maksimal, tambahan nilai produksi akibat
tambahan penggunaan faktor produksi ke- i (Py.MP
i
x ) harus lebih besar daripada
tambahan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian faktor produksi ke- i tersebut
(P
i
x ). Penambahan penggunaan faktor produksi berhenti ketika Py.MP
i
x = P
i
x .
Pada saat inilah keuntungan maksimal tercapai. Secara matematis keuntungan
maksimum dari penggunaan faktor produksi ke-i dinyatakan sebagai berikut :
1
.
=
i
i
Px
MPx Py
.. (3.6)
keterangan :
Py.MP
i
x = Nilai Produk Marjinal (NPM) faktor produksi ke-i
P
i
x = Biaya Korbanan Marjinal (BKM) faktor produksi ke-i

Artinya keuntungan maksimum tercapai pada saat tambahan nilai produksi akibat
tambahan penggunaan faktor produksi ke-i harus sama dengan biaya korbanan
marjinal atas faktor produksi ke-i tersebut atau rasio keduanya sama dengan satu.
Jadi secara umum keuntungan maksimum dari penggunaan n faktor
produksi akan diperoleh pada saat :
1 ....
3
3
2
2
1
1
= = = = =
n
n
Px
PyMPx
Px
PyMPx
Px
PyMPx
Px
PyMPx
. (3.7)
Dengan asumsi Py dan P
i
x merupakan nilai yang konstan, maka hanya
i
X
Y

yang mengalami perubahan . Ketika Py.MP


i
x > P
i
x , maka penggunaan
faktor produksi harus ditambah agar tercapai keuntungan maksimum. Sebaliknya,
jika Py.MPx
i
< Px
i
maka penggunaan faktor produksi harus dikurangi.













IV. METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Pengumpulan data dilakukan dari
bulan Mei hingga Juni 2005 sekitar satu
bulan setelah musim panen padi ladang di
lokasi penelitian. Pemilihan lokasi
dilakukan secara purposive yaitu di Desa
Wanajaya, Kecamatan Teluk Jambe,
Kabupaten Karawang. Alasan memilih
Desa Wanajaya sebagai desa tempat
pengambilan data adalah karena desa
tersebut memiliki luas lahan padi ladang
yang paling besar diantara desa-desa lain
di Kecamatan Teluk Jambe.
Pemilihan Kecamatan Teluk Jambe
didasarkan pada pertimbangan bahwa
kecamatan ini merupakan salah satu
penghasil padi ladang di Kabupaten
Karawang. Penelitian ini didesain untuk
mengetahui tingkat pendapatan usahatani
padi di lahan kering, selain itu juga untuk
mengetahui tingkat efisiensi penggunaan
faktor-faktor produksi agar usahatani
berada pada skala optimal.

4.2. Metode Pengumpulan Data dan Penentuan Sampel
Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan
sekunder . Data primer yang dikumpulkan dengan melakukan pengamatan dan
wawancara langsung dengan petani responden dengan mengajukan pertanyaan
yang dibuat dalam bentuk kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Jumlah petani contoh sebanyak 40 orang yang merupakan petani pemilik,
petani penggarap dan petani pemilik penggarap. Pemilihan petani contoh
dilakukan secara acak sederhana (simple random) dari suatu daftar petani yang
telah dipersiapkan sebelumnya. Di samping wawancara terstruktur, dilaksanakan
pula wawancara tidak terstruktur dengan sejumlah perangkat desa, anggota Badan
Perwakilan Desa (BPD) serta kelembagaan lain di desa.
Data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran kepustakaan buku,
laporan penelitian, artikel, majalah, karya ilmiah yang berkaitan dengan masalah
penelitian dan melalui internet. Selain itu data sekunder juga diperoleh dari Biro
Pusat Statistik, Departemen Pertanian, Balai Penelitian Tanaman Pangan, Pusat
Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, dan Pemerintah Daerah
di lokasi penelitian.

4.3. Metode Analisis Data
Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif
digunakan untuk mengetahui gambaran umum usahatani padi dan keragaan
usahatani padi lahan kering di Desa Wanajaya, Kecamatan Teluk Jambe,
Kabupaten Karawang. Sedangkan analisis kuantitatif dilakukan untuk mengetahui
faktor- faktor yang mempengaruhi produksi dan tingkat efisiensi usahatani padi
ladang dengan menggunakan analisis pendapatan usahatani, analisis fungsi
produksi dan analisis efisiensi.
Data yang telah terkumpul kemudian mengalami tahapan pengeditan,
pengolahan dan penyusunan dalam bentuk tabulasi untuk selanjutnya dianalisis.
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program Microsoft Excel dan
Minitab 13 for Windows.

4.3.1. Analisis Pendapatan Usahatani
Untuk menganalisis pendapatan usahatani dilakukan pencatatan terhadap
seluruh penerimaan dan pengeluaran usahatani dalam satu musim tanam. Data
pengeluaran biaya dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu biaya tunai dan
biaya yang diperhitungkan. Kemudian dilakukan penghitungan pendapatan
usahatani atas biaya tunai atau pendapatan kotor usahatani dan penghitungan
pendapatan usahatani atas biaya total atau pendapatan bersih.
Penghitungan pendapatan usahatani dirumuskan secara matematis seperti
pada persamaan berikut :
GFI = NP - BT .. (4.1)
NFI = NP - (BT + BD) . (4.2)
Keterangan :
GFI = Gross Farm Income (Pendapatan kotor usahatani)
NFI = Net Farm Income (Pendapatan bersih usahatani)
NP = Nilai Produksi
BT = Biaya Tunai Usahatani
BD = Biaya yang Diperhitungkan

atau bisa juga ditulis secara singkat sebagai berikut :
NFI = GFI BD .. (4.3)
dimana Pendapatan Bersih Usahatani (NFI) merupakan hasil pengurangan biaya
diperhitungkan dari Pendapatan Kotor Usahatani (GFI).

4.3.2. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio Analysis)
Analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio analysis) digunakan
sebagai alat untuk mengukur kriteria kelayakan dari kegiatan usahatani yang
dilakukan. Dalam analisis ini data penerimaan usahatani dan pengeluaran
usahatani dibandingkan ke dalam satu rasio. Analisis imbangan penerimaan dan
biaya dilakukan berdasarkan jenis biaya yang dikeluarkan, yaitu dibedakan
menjadi R/C atas biaya tunai dan R/C atas biaya total.

Secara matematis R/C ratio dapat dirumuskan dalam persamaan sebagai
berikut :
R/C ratio =
TC
TR
(4.4)
Keterangan :
TR = Total Revenue (Total Penerimaan)
TC = Total Cost (Total Biaya)


4.3.3. Pendugaan Fungsi Produksi
Analisis fungsi produksi adalah analisis yang menjelaskan hubungan
antara produksi dengan faktor- faktor produksi yang mempengaruhinya. Fungsi
produksi yang dipakai untuk menjelaskan parameter Y dan X adalah analisis
fungsi Cobb-Douglas.
Fungsi produksi Cobb-Douglas dapat dirumuskan sebagai berikut :

u
bn
n
b b b b
o
e X X X X X b Y .......
4
4
3
3
2
2
1
1
= .......... (4.5)
Keterangan :
Y = produksi

0
b = intersep

i
b = koefisien regresi penduga variable ke-i
i
X = jenis faktor produksi ke-i, dimana i =1,2,3, n
e = bilangan natural (e = 2,7182)
u = unsur sisa (galat)

Penggunaan fungsi ini didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan
sebagai berikut :
1. Penggunaan fungsi Cobb-Douglas adalah dalam keadaan The Law of
Diminishing Return untuk masing- masing input sehingga informasi yang
diperoleh dapat digunakan untuk melakukan upaya agar setiap penambahan
input dapat menghasilkan tambahan output yang lebih besar.
2. Parameter penduga (b
i
) dapat langsung menunjukkan elastisitas produksi dari
input
yang bersangkutan (X
i
).
3. Jumlah elastisitas dari masing- masing faktor produksi yang diduga
merupakan
pendugaan skala usaha (return to scale). Bila jumlah b
i
< 1, maka proses
produksi berada pada skala yang menurun. Bila jumlah b
i
= 1, maka proses
produksi terjadi pada skala yang konstan. Dan bila jumlah b
i
> 1, maka
proses produksi terjadi pada skala yang menaik.
4. Perhitungan fungsi produksi Cobb-Douglas sederhana karena dapat ditransfer
dengan mudah ke dalam bentuk linier.
5. Bentuk fungsi Cobb-Douglas dapat mengurangi kemungkinan terjadinya
masalah heterokedastisitas.
6. Fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan fungsi produksi yang sering
digunakan
dalam penelitian optimalisasi produksi usahatani.
Untuk menganalisis hubungan antara faktor- faktor produksi dan produksi
digunakan analisis regresi dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Menurut
Gujarati (1978), metode ini dapat dipakai jika asumsi-asumsi sebagai berikut :
1. Variasi unsur sisa menyebar normal.
2. Nilai rata-rata dari unsur sisa sama dengan nol.
3. Tidak ada korelasi berangkai/autokorelasi antara nilai- nilai sisa pada setiap
pengamatan.
4. Homoskedastisitas atau ragam merupakan bilangan tetap.
5. Tidak ada hubungan linier sempurna antara peubah bebas.
6. Tidak ada korelasi diri (multikolinearitas).
Variabel-variabel dugaan yang digunakan dalam menganalisis fungsi
produksi dan penggunaan faktor-faktor produksi usahatani padi adalah sebagai
berikut :
1. Benih
Penggunaan benih dalam satu musim tanam diukur dalam satuan kilogram
(kg). Benih diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi, secara teori bila
jumlah benih yang digunakan bertambah sebesar satu persen maka akan
meningkatkan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus).
2. Pupuk
Penggunaan pupuk dalam satu musim tanam diukur dalam satuan
kilogram (kg). Pupuk diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi, secara
teori bila jumlah pupuk yang digunakan meningkat sebesar satu pesen maka akan
meningkatkan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus).
3. Pestisida
Penggunaan pestisida tidak dibedakan berdasarkan jenisnya seperti
insektisida, rodentisida, moluskisida atau herbisida untuk memudahkan
pencacatan satuan pestisida tersebut yang berbeda. Penggunaan pestisida dalam
satu musim tanam diukur dalam satuan liter (l). Pestisida diduga berpengaruh
positif terhadap produksi padi, secara teori bila jumlah pestisida yang digunakan
meningkat sebesar satu persen maka akan meningkatan produksi padi sebesar nilai
elastisitasnya (ceteris paribus).
4. Tenaga Kerja Dalam Keluarga
Penggunaan tenaga kerja dalam keluarga diukur dalam satuan hari orang
kerja (HOK). Tenaga kerja dalam keluarga diduga berpengaruh positif terhadap
produksi padi, secara teori bila jumlah penggunaan tenaga kerja dalam keluarga
ditingkatkan sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar
elastisitasnya (ceteris paribus).
5. Tenaga Kerja Luar Keluarga
Penggunaan tenaga kerja luar keluarga diukur dalam satuan hari orang
kerja (HOK). Tenaga kerja luar keluarga diduga berpengaruh positif terhadap
produksi padi, secara teori bila jumlah penggunaan tenaga kerja luar keluarga
ditingkatkan sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar
elastisitasnya (ceteris paribus).
Analisis fungsi produksi digunakan untuk melihat tingkat penggunaan
faktor- faktor produksi optimal. Dalam analisis ini dilakukan analisis fungsi
produksi dan analisis regresi untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor produksi
terhadap produksi padi di lahan kering.
Adapun langkah- langkah dalam menganalisis fungsi produksi adalah
sebagai berikut :
1. Identifikasi variabel bebas dan variabel terikat
Identifikasi variabel dilakukan dengan mendaftar faktor- faktor produksi
yang digunakan dalam proses produksi padi di lahan kering. Faktor- faktor
produksi tersebut adalah benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja dalam keluarga, dan
tenaga kerja luar keluarga. Faktor-faktor produksi ini merupakan variabel bebas
yang akan diuji pengaruhnya terhadap variabel terikat yaitu hasil produksi.
2. Pendugaan fungsi produksi
Dalam analisis fungsi produksi digunakan pendekatan Cobb-Douglas,
yaitu :

5
5
4
4
3
3
2
2
1
1 0
b
b b b b
X X X X X b Y =
Model fungsi produksi ditransformasikan ke dalam bentuk linier
logamatrik untuk menduga fungsi produksi.
u X b X b X b X b X b b LnY + + + + + + =
5 5 4 4 3 3 2 2 1 1 0
ln ln ln ln ln ln . (4.6)
Keterangan :
Y = Hasil produksi padi lahan kering (Kilogram)
1
X = Benih (Kilogram)
2
X = Pupuk (Kilogram)
3
X = Pestisida (Liter)
4
X = Tenaga Kerja Dalam Keluarga (HOK)
5
X = Tenaga Kerja Luar Keluarga (HOK)
0
b = Variabel intersep
u = Unsur galat
7 6 5 4 3 2 1
b , b , b , b , b , b , b = koefisien regresi masing-masing variabel


3. Analisis regresi
Analisis regresi bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel
terikat dengan variabel bebas. Dari analisis dengan OLS (Ordinary Least Square)
ini diperoleh nilai P (P-value) untuk uji t dan uji F, juga dapat diketahui nilai
2
R .
P-value untuk uji t digunakan untuk mengetahui secara statistik apakah masing-
masing variabel bebas (
i
X ) secara terpisah berpengaruh nyata terhadap variabel
terikat (Y). Apabila P-value untuk uji t lebih kecil daripada nilai yang
ditentukan (selang kepercayaan tertentu) maka variabel bebas dugaan berpengaruh
nyata terhadap variabel terikat, tetapi sebaliknya jika P-value untuk uji t lebih
besar daripada nilai yang ditentukan maka variabel bebas dugaan berpengaruh
nyata terhadap variabel terikat.
P-value untuk uji F digunakan untuk mengetahui kelayakan model dari
parameter dan fungsi produksi atau untuk mengetahui apakah variabel bebas (
i
X )
secara bersamaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. Jika P-value untuk
uji F lebih kecil daripada nilai yang ditentukan (selang kepercayaan tertentu)
maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat, tetapi
sebaliknya jika P-value untuk uji F lebih besar daripada nilai yang ditentukan
maka variabel bebas dugaan tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.
Sedangkan
2
R merupakan koefisien determinasi yang menunjukkan keragaman
model produksi dilapangan yang dapat diterangkan oleh model terpilih.

4.3.4. Analisis Efisiensi Ekonomi
Usahatani akan mencapai efisiensi ekonomi jika tercapai keuntungan
maksimum. Syarat untuk mencapai keuntungan maksimum adalah turunan
pertama dari fungsi keuntungan terhadap masing- masing faktor produksi sama
dengan nol (Doll dan Orazem, 1984). Fungsi keuntungan yang diperoleh
usahatani dapat dinyatakan sebagai berikut :

+ =

=
TFC X Px Y Py
n
i
i i
1
. . ..... (4.7)
Keterangan :
= pendapatan usahatani
Py = harga per unit produksi
Y = hasil produksi
i = 1,2,3,.,n

i
Px = harga pembelian faktor produksi ke-i

i
X = jumlah faktor produksi ke-i yang digunakan dalam proses produksi
TFC = Total Fixed Cost (Biaya Tetap Total)
Dengan demikian untuk memenuhi syarat tercapainya keuntungan
maksimum, maka turunan pertama dari fungsi keuntungan adalah :
0 =

i
i
y
i
Px
X
Y
P
X


= 0 =

i
i
Px
X
Y

i
i
Px
X
Y
Py =

.. (4.8)
Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa level penggunaan faktor
produksi ke-i yang efisien merupakan fungsi dari harga output, harga faktor
produksi ke-i dan jumlah output yang dihasilkan, atau secara matematis dapat
dituliskan :
( ) Y Px Py f X
i i
, , = (4.9)
Dengan mengetahui
i
X
Y

sebagai Marginal Product (MP) faktor produksi


ke-i, maka persamaan diatas menjadi :
i i
Px MPx Py = . (4.10)
Sesuai dengan prinsip keseimbangan marjinal (equi-marginal principle),
bahwa untuk mencapai keuntungan maksimal, tambahan nilai produksi akibat
tambahan penggunaan faktor produksi ke- i (PyMP
i
x ) harus lebih besar daripada
tambahan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian faktor produksi ke-i tersebut
(P
i
x ). Penambahan penggunaan faktor produksi berhenti ketika VMP
i
x =MFC
i
x .
Pada saat inilah keuntungan maksimal tercapai. Secara matematis keuntungan
maksimum dari penggunaan faktor produksi ke-i dinyatakan sebagai berikut :
1 =
i
i
Px
PyMPx
.. (4.11)
keterangan :
PyMP
i
x = Nilai Produk Marjinal (NPM) faktor produksi ke-i
P
i
x = Biaya Korbanan Marjinal (BKM) faktor produksi ke-i

Artinya keuntungan maksimum tercapai pada saat tambahan nilai produksi akibat
tambahan penggunaan faktor produksi ke-i harus sama dengan biaya korbanan
marjinal atas faktor produksi ke-i tersebut atau rasio keduanya sama dengan satu.
Jadi secara umum keuntungan maksimum dari penggunaan n faktor
produksi akan diperoleh pada saat :
1 ....
3
3
2
2
1
1
= = = = =
n
n
Px
PyMPx
Px
PyMPx
Px
PyMPx
Px
PyMPx
. (4.12)
Dengan asumsi Py dan P
i
x merupakan nilai yang konstan, maka hanya
i
X
Y

yang mengalami perubahan. Ketika PyMP


i
x > P
i
x , maka agar diperoleh
tingkat keuntungan maksimum penggunaan faktor produksi harus ditingkatkan.
Sebaliknya, jika PyMPx
i
< Px
i
maka penggunaan faktor produksi harus dikurangi.


4.4. Definisi Operasional
Untuk menghindari ketidaksamaan pandangan dalam pengertian, maka
terdapat beberapa hal yang perlu diberi batasan sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai dari penelitian. Batasan-batasan tersebut meliputi :
1. Petani padi di lahan kering adalah petani yang melaksanakan budidaya pada
areal tanam berupa ladang (lahan kering/upland), satuannya orang.
2. Luas lahan garapan areal usahatani padi ladang merupakan lahan yang
digunakan untuk menanam padi ladang, satuannya Hektar (ha).
3. Tenaga kerja adalah tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi.
Tenaga kerja ini dibedakan menjadi dua, yaitu tenaga kerja dalam keluarga
(TKDK) dan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Seluruh tenaga kerja
disetarakan dengan ukuran Hari Orang Kerja (HOK).
4. Jumlah produksi adalah jumlah panen padi ladang yang dihasilkan dari luas
lahan, satuannya kilogram.
5. Produktivitas adalah hasil bagi antara jumlah panen dengan luas lahan dengan
satuannya Ton per Hektar.
6. Pemilik penggarap adalah petani yang menggarap lahan miliknya sendiri.
Satuannya orang.
7. Penyakap adalah petani yang menggarap lahan milik orang lain dengan
pembayaran sewanya berdasarkan bagi hasil. Satuannya orang.
8. Biaya tunai adalah besarnya nilai uang tunai yang dikeluarkan petani untuk
membeli pupuk, benih, pestisida, upah tenaga kerja luar keluarga, sewa
traktor/ternak, dan lain- lain. Untuk petani penyakap maka komponen biaya
tunainya ditambah dengan biaya sakap. Satuannya Rupiah.
9. Biaya yang diperhitungkan adalah pengeluaran untuk input milik sendiri
meliputi tenaga kerja dalam keluarga dan penyusutan. Satuannya adalah
Rupiah.
10. Biaya usahatani total adalah merupakan penjumlahan antara biaya tunai dan
biaya yang diperhitungkan . Satuannya adalah Rupiah.
11. Penerimaan (nilai produksi) adalah nilai yang diperoleh dari hasil kali antara
jumlah produksi dengan dengan harga jualnya. Satuannya adalah Rupiah.
12. Pendapatan kotor usahatani adalah selisih antara penerimaan usahatani dan
biaya tunai usahatani. Satuannya Rupiah.
13. Pendapatan bersih usahatani adalah selisih antara penerimaan usahatani
dengan biaya usahatani total (biaya tunai dan diperhitungkan). Satuannya
Rupiah.


















Gambar 2. Bagan Prosedur Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang
Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang








Produktivitas Padi Ladang
Analisis Fungsi Produksi
Cobb-Douglas
Pupuk
Benih
Pestisida
Tenaga Kerja dalam
Rumah Tangga
Tenaga Kerja Luar
Rumah Tangga
Analisis Pendapatan

Elastisitas Faktor-faktor
Produksi
Kesimpulan
Analisis Efisiensi Ekonomis
Faktor-faktor Produksi
Analisis R/C
V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

5.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Desa Wanajaya termasuk dalam wilayah Kecamatan Teluk Jambe,
Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Jarak desa Wanajaya dengan ibukota
kecamatan sekitar 11 kilometer dengan waktu tempuh selama kurang lebih satu
jam. Sedangkan jarak ke ibukota kabupaten sekitar 13 kilometer dengan waktu
tempuh kurang lebih selama satu setengah jam.
Batas-batas administrasi Desa Wanajaya adalah Desa Wanakerta di
sebelah utara, Desa Taman Mekar di sebelah selatan, Kali Cibeet Bekasi di
sebelah barat, dan Kehutanan di sebelah timur. Secara keseluruhan luas wilayah
Desa Wanajaya adalah sekitar 1.065,07 hektar yang terdiri atas 147.07 hektar
(13.809 %) lahan yang telah digunakan dan sekitar 918 hektar merupakan (86.19
%) lahan terlantar. Gambaran secara rinci mengenai luas Desa Wanajaya
berdasarkan penggunaan lahan ditunjukkan dalam Tabel 5.
Tabel 5. Penggunaan Lahan di Desa Wanajaya Tahun 2004
Penggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase
Sawah irigasi teknis 18.61 1.75
Sawah irigasi 1/2 teknis 13.80 1.30
Sawah tadah hujan 21.50 2.02
Tegalan/Ladang 38.10 3.58
Pemukiman umum 50.00 4.69
Pasar 0.20 0.02
Tempat ibadah 0.17 0.02
Kuburan/makam 1.78 0.17
Tempat rekreasi dan olahraga 0.92 0.09
Perkantoran pemerintah 0.74 0.07
Sekolah/lainnya 1.23 0.12
Lahan Terlantar 918.00 86.19
Total 1,065.07 100.00
Sumber : Profil Desa Wanajaya, 2004.
Secara umum topografi Desa Wanajaya sebagian besar merupakan daerah
perbukitan. Desa Wanajaya terdiri atas daerah dataran seluas sekitar 187.07
hektar dan daerah perbukitan sekitar 878 hektar seperti ditunjukkan dalam Tabel
6 berikut.
Tabel 6. Topografi atau Bentang Lahan Desa Wanajaya Tahun 2004
Jenis daratan Luas (Ha) Persentase
Dataran 187.07 17.56
Perbukitan/pegunungan 878.00 82.44
Total 1065.07 100.00
Sumber : Profil Desa Wanajaya, 2004.
Dari kondisi geografis, Desa Wanajaya berada pada ketinggian sekitar 700
meter di atas permukaan laut dengan kemiringan lahan 30 sampai 40 persen yang
merupakan daerah perbukitan. Curah hujan rata-rata sekitar 1454.5 mm per tahun
berdasarkan data tahun 2002 dan termasuk dalam kelas iklim B atau daerah
beriklim basah dengan vegetasi hujan tropis berdasarkan standar Schmidt dan
Ferguson (BAPPEDA Kabupaten Karawang, 2003). Jumlah bulan basah rata-rata
tujuh bulan, bulan lembab rata-rata dua bulan, dan jumlah bulan kering rata-rata
tiga bulan dengan suhu rata-rata sekitar 27C dan intensitas penyinaran matahari
sekitar 66 persen. Tanah di Desa Wanajaya memiliki pH sekitar empat sampai
lima, dengan kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) yang
tergolong sedang. Berdasarkan ketiga indikator kesuburan tanah tersebut,
disimpulkan bahwa tingkat kesuburan tanah di Desa Wanajaya termasuk dalam
golongan rendah dan memiliki ciri-ciri bertekstur lempung, struktur gumpal atau
keras, dan solum dalam.
Jumlah penduduk desa Wanajaya hingga Januari 2005 tercatat sebanyak
4024 jiwa (1237 kepala keluarga) dan komposisi penduduk tergolong merata
antara laki- laki dan perempuan dimana penduduk dengan jenis kelamin laki- laki
berjumlah 2033 orang (50.52 %), dan penduduk jenis kelamin perempuan
berjumlah 1991 orang (49.48 %). Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 1971
Tarigan JJ. (1997) dalam BAPPEDA Kabupaten Karawang (2003), batas usia 10
tahun ke atas digunakan untuk menentukan apakah seseorang termasuk dalam
angkatan kerja atau bukan. Dalam Tabel 7 dapat dilihat bahwa dari seluruh
penduduk di Desa Wanajaya terdapat 3114 orang (77.39 %) angkatan kerja
sehingga dari segi jumlah angkatan kerja Desa Wanajaya tergolong cukup
potensial.
Tabel 7. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Kelompok
Umur Tahun 2005

Kelompok Umur
(Tahun)
Jumlah
(orang)
Persentase

0 - 9 910 22.61
10 - 19 775 19.26
20 29 791 19.66
30 39 667 16.58
40 49 416 10.34
50 59 278 6.91
= 59 187 4.65
Total 4.024 100.00
Sumber : Monogafi Desa Wanajaya, 2004.
Dari segi mata pencahariannya, penduduk Desa Wanajaya cukup beragam
tetapi sebagian besar penduduk desa atau sebanyak 2343 orang (58.23 %) masih
bekerja di bidang pertanian baik sebagai petani ataupun buruh tani. Penduduk
yang bermata pencaharian sebagai buruh tani sebanyak 748 orang (18.59 %)
sementara penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani (pemilik) sebanyak
1595 orang (39.64 %) dan sebagian kecil penduduk atau sebanyak 125 orang
(3.11 %) bekerja sebagai peternak.
Kelompok penduduk lain yang proporsinya tergolong cukup besar adalah
kelompok penduduk yang bermata pencaharian sebagai buruh swasta yaitu
sebanyak 879 orang (21.84 %) karena lokasi Desa Wanajaya masih dekat dengan
kawasan industri Kabupaten Karawang. Penduduk lainnya bekerja di berbagai
bidang diantaranya PNS, TNI/POLRI, Bidan desa, dokter, mantri kesehatan,
pedagang, pengrajin, montir, dan kelompok yang tergolong berstatus sebagai
pengangguran sebanyak 405 orang (10.06 %). Gambaran penduduk Desa
Wanajaya berdasarkan mata pencaharian disajikan dalam Tabel 8.
Tabel 8. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Mata
Pencaharian Tahun 2005
Sumber Monografi Desa Wanajaya, 2004.
Dari segi pendidikan Desa Wanajaya tergolong rendah karena sebagian
besar penduduk atau sekitar 80 persen penduduk hanya mengikuti pendidikan
formal hingga tamat sekolah dasar. Sisanya sekitar 20 persen dari penduduk
menyelesaikan pendidikan hingga tamat sekolah lanjutan pertama atau sederajat
dan memenuhi program pendidikan wajib 9 tahun yang digerakkan pemerintah.
Gambaran secara rinci tentang penduduk Desa Wanajaya berdasarkan tingkat
pendidikan ditunjukkan dalam Tabel 9.

Jenis Mata Pencaharian Jumlah (orang) Persentase
Petani 1595 39.64
Buruh Tani 748 18.59
Buruh/swasta 879 21.84
PNS 75 1.86
Pengrajin 8 0.20
Pedagang 175 4.35
Peternak 125 3.11
Montir 3 0.07
Dokter 1 0.02
Bidan Desa 2 0.05
Mantri Kesehatan 2 0.05
Polisi 6 0.15
Pengangguran 405 10.06
Total 4024 100.00
Tabel 9. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Tingkat
Pendidikan Tahun 2004

Tingkat Pendidikan Jumlah (orang) Persentase
Belum Sekolah 502 12.48
Usia 7-45 thn tidak pernah sekolah 30 0.75
Pernah sekolah SD tetapi tidak tamat 905 22.49
Tamat SD/sederajat 1785 44.36
SLTP/sederajat 455 11.31
SLTA/sederajat 332 8.25
D-1 2 0.05
D-2 3 0.07
D-3 5 0.24
S-1 5 0.25
Total 4024 100.24
Sumber : Monografi desa Wanajaya, 2004.
5.2. Karakteristik Petani Responden
Karakteristik petani responden akan diuraikan berdasarkan umur petani,
tingkat pendidikan, status dan luas lahan garapan, pengalaman berusahatani padi
gogo atau padi ladang, jumlah anggota keluarga, status usahatani padi ladang,
pekerjaan sampingan, keputusan bertani padi ladang, dan kondisi tempat tinggal.
Karakteristik petani responden selengkapnya sebagai berikut :
1. Umur Petani
Tenaga kerja produktif umumnya berada pada selang 25 hingga 40 tahun,
sedangkan jika kurang atau lebih dari selang umur tersebut akan tergolong sebagai
tenaga kerja kurang produktif tetapi masih termasuk dalam usia kerja.
Karakteristik petani responden berdasarkan umur ditunjukkan pada Tabel 10.
Tabel 10. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Umur
Kelompok Umur
(tahun)
Jumlah Responden
(orang)
Persentase
20-30 5 12.50
31-45 13 32.50
46-50 6 15.00
51-60 1 2.50
> 60 15 37.50
Total 40 100.00

Berdasarkan umur, sebagian besar responden terdiri atas petani dari
kelompok umur di atas 60 tahun atau yang sudah berusia lanjut yaitu sebanyak 15
orang atau 37.5 persen dari keseluruhan responden. Sedangkan petani responden
yang paling sedikit berasal dari kelompok umur antara 51 hingga 60 yaitu hanya
sebanyak 1 orang (2.5 %). Petani responden lainnya yang juga jumlahnya
tergolong sedikit berasal dari kelompok umur 20 hingga 30 tahun yang berjumlah
5 orang (12.5 %).
2. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap tingkat adopsi teknologi
dan inovasi yang sedang berkembang. Pada umumnya, semakin tinggi tingkat
pendidikan, maka proses adopsi teknologi akan semakin cepat. Adapun tujuan
teknologi dan inovasi adalah untuk memperbaiki usahatani baik dari segi produksi
atau produktivitas.
Berdasarkan tingkat pendidikan, petani responden lebih banyak
terkonsentrasi pada kelompok tidak tamat SD yaitu sebanyak 18 orang (45 %) dan
kelompok yang tidak pernah mengikuti sekolah formal sama sekali yaitu sebanyak
12 orang (30 %). Hanya satu orang diantara petani responden yang menyelesaikan
pendidikan SLTP hingga tamat. Karakteristik petani responden berdasarkan
tingkat pendidikan selengkapnya disajikan dalam Tabel 11.
Tabel 11. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan Jumlah Responden (Orang) Persentase
Tidak Pernah Sekolah 12 30.00
Tidak Tamat SD 18 45.00
Tamat SD 9 22.50
Tamat SLTP 1 2.50
Tamat SLTA 0 0.00
Total 40 100.00


3. Status dan Luas Lahan Garapan
Status lahan garapan berpengaruh kepada produktivitas usahatani. Lahan
berstatus sewa menyebabkan petani penyewa akan lebih terpacu untuk selalu lebih
efisien dalam mengelola lahan agar produktivitas lahan lebih tinggi. Hal ini
disebabkan karena petani penyewa mempunyai kewajiban untuk memperhatikan
nilai biaya sewa yang harus dibayar kepada pemilik lahan. Sementara itu lahan
yang berstatus milik sendiri pada umumnya relatif kurang produktif daripada
lahan yang berstatus sewa karena petani pemilik tidak pernah memperhitungkan
biaya sewa lahan yang harus dikeluarkan. Petani responden berdasarkan status
pemilikan lahan dikelompokkan atas petani pemilik dan petani penggarap.
Semua petani responden merupakan petani pemilik karena petani
responden menggarap lahan tanpa mengeluarkan biaya sewa lahan. Sementara
luas lahan garapan berpengaruh positif terhadap produktivitas usahatani dimana
usahatani dengan luas lahan yang lebih besar akan memiliki produktivitas yang
relatif lebih tinggi daripada usahatani dengan luas lahan yang lebih kecil. Luas
lahan garapan petani responden bervariasi mulai dari petani yang memiliki luas
lahan garapan kurang dari 0.5 hektar hingga petani yang memiliki luas lahan
garapan lebih dari satu hektar. Sebagian besar petani responden memiliki luas
lahan garapan antara 0.5 sampai 1 hektar yaitu sebanyak 25 orang (62.5 %).
Sedangkan petani yang memiliki luas lahan garapan lebih dari satu hektar hanya
sebanyak 7 orang (17.5 %). Petani responden yang memiliki luas lahan garapan
kurang dari 0.5 hektar sebanyak 8 orang (20 %), dan tidak ada diantara petani
responden yang memiliki luas lahan garapan lebih dari 2 hektar. Data secara rinci
mengenai karakteristik petani responden berdasarkan luas lahan garapan disajikan
dalam Tabel 12.
Tabel 12. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan
Garapan

Luas Lahan
(ha)
Jumlah Responden
(orang)
Persentase

< 0.5 8 20.00
0.5 - 1 25 62.50
1 2 7 17.50
> 2 0 0.00
Total 40 100.00

4. Pengalaman Berusahatani Padi Ladang
Petani yang memiliki pengalaman berusahatani lebih lama akan lebih baik
dan lebih matang dalam hal perencanaan usahatani karena lebih memahami
berbagai aspek teknis dalam berusahatani. Demikian juga dengan berbagai
masalah non teknis yang biasanya dihadapi dalam berusahatani sehingga pada
akhirnya produktivitasnya akan lebih tinggi.
Kelompok petani responden dengan jumlah yang paling banyak
berdasarkan pengalaman berusahatani adalah kelompok petani yang telah
berusahatani padi ladang selama lebih dari 20 tahun yaitu sebanyak 15 orang (37.5
%). Hanya sebagian kecil dari petani responden yang memiliki pengalaman
berusahatani padi ladang kurang dari 5 tahun yaitu sebanyak 2 orang (5 %).
Sedangkan petani yang lain selebihnya tersebar dalam kelompok dengan
pengalaman berusahatani padi ladang antara 5 hingga 10 tahun sebanyak 6 orang
(15 %). Kelompok antara 11 hingga 15 tahun sebanyak 9 orang (22.5 %), dan
kelompok antara 16 hingga 20 tahun sebanyak 8 orang (20 %). Gambaran petani
berdasarkan pengalaman berusahatani secara rinci disajikan dalam Tabel 13.
Tabel 13. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pengalaman
Usahatani
Pengalaman Berusahatani
Padi Ladang (Tahun)
Jumlah Responden
(Orang)
Persentase

< 5 2 5.00
5 -10 6 15.00
11-15 9 22.50
16-20 8 20.00
> 20 15 37.50
Total 40 100.00

Seluruh petani responden menyatakan bahwa berusahatani padi ladang
merupakan usaha pokok untuk memenuhi kebutuhan beras sehingga rumah tangga
petani tidak perlu membeli beras untuk pangan sehari- hari. Selain itu para petani
juga berusahatani padi ladang karena tidak memiliki keahlian lain selain bertani
dan juga karena kondisi alam seperti ketersediaan air, kesuburan tanah, dan
ketersediaan modal yang hanya sesuai dengan komoditas padi ladang. Bertani
padi ladang juga dilakukan secara turun temurun juga oleh karena faktor faktor
yang telah disebutkan di atas. Petani yang memiliki usaha sampingan selain
usahatani padi ladang memiliki usaha sampingan sebagai perangkat desa seperti
Ketua RT ataupun sebagai Hansip atau Linmas (Perlindungan Masyarakat).
5. Jumlah Anggota Keluarga
Jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi tingkat produktivitas kerja
dikaitkan dengan jumlah penggunaan (sumbangan) tenaga kerja terhadap kegiatan
produksi usahatani. Semakin banyak jumlah anggota keluarga maka semakin
banyak pula tenaga kerja yang dapat digunakan dalam kegiatan produksi
usahatani sehingga produktivitas akan lebih tinggi, dan demikian juga sebaliknya.
Jumlah anggota keluarga juga akan berpengaruh terhadap jumlah tanggungan
keluarga atau tingkat konsumsi rumahtangga.
Sebagian besar responden atau sebanyak 27 rumahtangga (67.5 %)
tergolong ke dalam kelompok dengan anggota keluarga antara 3 hingga 5 orang,
dan hanya sebanyak 5 rumah tangga (12.5 % ) dari keseluruhan responden yang
memiliki anggota keluarga lebih dari 5 orang, sedangkan rata-rata rumah tangga
petani responden memiliki sebanyak sekitar 4 orang. Gambaran secara rinci
mengenai karakteristik petani responden berdasarkan jumlah anggita keluarga
disajikan dalam Tabel 14.
Tabel 14. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Jumlah Anggota
Keluarga
Kelompok Jumlah Anggota RT Persentase
< 3 orang 8 20.00
3 - 5 orang 27 67.50
> 5 orang 5 12.50
Total 40 100.00

6. Status Usahatani Padi Ladang
Status Usahatani padi ladang, dalam artian apakah usahatani padi ladang
merupakan mata pencaharian utama atau sampingan, akan mempengaruhi sikap
petani dalam menentukaan komoditi usahatani mana yang akan menjadi prioritas
(fokus) yang mendapat perhatian atau alokasi sumberdaya yang relatif lebih besar
dan yang lebih kecil. Petani yang bermatapencaharian utama usahatani padi
ladang akan lebih memfokuskan pekerjaan atau sumberdayanya terhadap
usahatani padi ladang, sehingga petani akan lebih mengusahakan peningkatan
produksi dan produktivitas padi ladang daripada komoditi yang menjadi usahatani
sampingan. Seluruh petani yang menjadi responden menyatakan bahwa mereka
memilih berusahatani padi ladang sebagai matapencaharian utama sehingga
sumberdaya yang dimiliki petani dialokasikan terutama untuk usahatani padi
ladang.
7. Pekerjaan Sampingan
Jenis pekerjaan sampingan yang dimiliki petani akan berpengaruh
terhadap pendapatan tambahan yang diperoleh rumahtangga, sehingga tingkat
pendapatan tersebut akan berpengaruh terhadap produktivitas usahatani.
Pendapatan dari pekerjaan sampingan akan digunakan sebagai tambahan modal
dalam penyediaan sarana produksi yang lebih banyak sehingga hasil produksi
yang diperoleh akan lebih besar. Selain bertani, responden pada umumnya tidak
memiliki pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan rumahtangga karena
tidak mempunyai keahlian lain selain bertani. Sehingga sumber pendapatan yang
menjadi penunjang usahatani padi ladang adalah dengan dengan berkebun tetapi
umumnya tidak dikelola secara baik atau tidak diusahakan secara kontinyu.
8. Keputusan Bertani Padi Ladang
Keputusan bertani padi ladang dalam menentukan jenis, pola tanam, dan
teknik produksi lainnya petani bebas menentukan sendiri atau dipengaruhi adat
istiadat setempat yang mengikat kebebasan petani dalam mengambil keputusan
usahatani. Keputusan yang diambil akan berpengaruh terhadap produktivitas dan
kemajuan usahatani karena petani yang dinamis akan lebih mampu mengadopsi
teknologi usahatani. Teknologi dan inovasi bertujuan untuk meningkatkan
produktivitas padi ladang dan taraf hidup petani.
Keseluruhan petani responden menyatakan bahwa keputusan dalam
berusahatani diambil sendiri dengan kebebasan berdasarkan pemahaman dan
pengalaman petani dan tidak terikat dengan aturan atau adat istiadat setempat.
Segala usaha yang bertujuan untuk peningkatan produktivitas usahatani terutama
padi ladang akan dilakukan petani sesuai dengan kemampuan sumberdayanya
tanpa dipengaruhi faktor adat istiadat setempat.
9. Kondisi Tempat Tinggal
Karakteristik petani responden berdasarkan kondisi tempat tinggal dilihat
berdasarkan kondisi atap, dinding, dan lantai rumah. Atap petani responden
seluruhnya masih menggunakan atap rumbia. Dinding atau tembok rumah petani
responden dibedakan menjadi dinding permanen, semi permanen, papan/kayu, dan
bilik bambu. Semua petani responden mempunyai tempat tinggal dengan dinding
yang terbuat dari bilik bambu. Kondisi tempat tinggal petani responden dilihat
berdasarkan kondisi lantai dibedakan menjadi lantai keramik, semen atau ubin,
kayu atau papan, dan tanah. Semua petani responden memiliki tempat tinggal
dengan lantai beralaskan tanah. Dari semua petani responden juga tidak ada yang
mempunyai fasilitas kamar mandi atau WC yang tergolong layak.
















VI. GAMBARAN USAHATANI PADI LADANG
DI DESA WANAJAYA

6.1. Budidaya Padi Ladang
Kegiatan berusahatani padi ladang di Desa Wanajaya dilakukan mulai dari
kegiatan persiapan lahan dalam dengan mengolah lahan pada saat datangnya
musim hujan sekitar bukan Oktober atau November tergantung perkiraan petani
berdasarkan pengalamannya sampai dengan masa panen sekitar bulan Maret atau
April. Kegiatan berusahatani padi ladang di Desa Wanajaya umumnya dilakukan
dengan sistem monokultur dan tanam gilir. Jenis tanaman yang biasanya ditanam
setelah padi ladang antara lain kacang tanah, kacang panjang, ubi kayu, dan
tanaman palawija lainnya.
Varietas padi ladang yang digunakan petani adalah jenis Ciherang yang
sebenarnya merupakan varietas padi sawah. Berdasarkan pengalaman petani di
Desa Wanajaya varietas padi sawah jenis Ciherang dapat memberikan hasil yang
relatif lebih tinggi jika ditanam di lahan kering daripada varietas pai ladang
lainnya. Varietas jenis Ciherang juga dianggap sesuai dengan kondisi tanah dan
iklim di Desa Wanajaya oleh para petani.
6.1.1. Persiapan Lahan
Penentuan waktu yang paling tepat untuk mengolah tanah dilakukan
petani berdasarkan pengalaman dari masa tanam sebelumnya. Berdasarkan
pengalaman tersebut jika petani memperkirakan bahwa musim hujan akan mulai
berlangsung secara merata pada bulan tertentu, maka sekitar dua minggu hingga
satu bulan sebelum bulan tersebut merupakan saat yang paling tepat untuk
melakukan pengolahan lahan.
Pengolahan tanah dilakukan petani responden dengan cara mencangkul
dengan menggunakan cangkul dan tidak ada petani responden yang menggunakan
mesin atau ternak untuk membajak karena biaya penggunaan mesin pembajak
(traktor) yang sangat tinggi dan karena tidak ada petani memiliki ternak pembajak
sehingga kegiatan mencangkul tanah dilakukan hanya dengan mengandalkan
tenaga manusia dari dalam maupun dari luar keluarga.
Pada pengolahan pertama, mencangkul dilakukan sedemikian rupa
sehingga tanahnya terbalik, yaitu yang semula di atas atau di permukaan menjadi
di bagian bawah dan demikian sebaliknya yang semula di bagian bawah menjadi
di bagian atas. Pengolahan ini dimaksudkan untuk mematikan dan membusukkan
rerumputan yang semula terdapat di permukaan tanah dan kemudian akan
terbenam ke bagian bawah tanah. Pembalikan tanah bagian bawah ke atas
betujuan untuk menganginkan tanah memberikan kesempatan bagi tanah untuk
melepaskan racun-racun yang sangat mungkin terbentuk dalam tanah. Keadaaan
ini dibiarkan selama dua minggu hingga rerumputan yang terbenam dianggap
sudah membusuk atau melapuk dan racun-racun yang ada sudah menguap ke
udara.
Pengolahan kedua merupakan penyisiran tanah yaitu mengusahakan agar
tanah yang sebelumnya merupakan bongkahan atau gumpalan-gumpalan besar
dipecahkan dan diremukkan hingga sekecil-kecilnya. Bagian atas tanah juga
diolah sedemikian rupa dengan menggunakan garpu atau garu sehingga lahan
yang akan ditanami padi menjadi sedatar mungkin. Kemudian sekitar dua minggu
setelah pengolahan kedua, dilakukan pengolahan ketiga yang merupakan kegiatan
mencangkul tanah yang sebelumnya telah diremukkan dan diratakan pada
pengolahan pertama dan kedua.
Pengolahan ketiga ini dilakukan sedemikian rupa sehingga arah dari
pembajakan tanah pertama membentuk siku dengan arah dari pembajakan tanah
kedua. Kemudian pada tahap pengolahan ini juga diusahakan sedemikian rupa
sehingga bagian tengah dari lahan yang diolah sedikit lebih tinggi daripada bagian
pinggir lahan dengan maksud agar bagian tengah lahan tidak tergenang air jika
hujan turun secara berlebihan tetapi akan mengalir ke bagian pinggir lahan, sebab
walaupun padi ladang sangat tergantung pada air hujan dalam pertumbuhannya
namun air yang berlebihan juga akan menyebabkan kerusakan pada padi ladang.
Untuk lahan yang permukaannya miring, terutama pada daerah berbukit, lahan
dibuat berbentuk terasering untuk mencegah pengendapan air dan membentuk
parit-parit untuk mencegah erosi agar kesuburan tanah tetap terjaga. Biaya upah
yang berlaku secara umum bagi para buruh tani untuk proses pengolahan tanah
adalah Rp. 20 ribu per hari dengan jam kerja selama 6 jam.
6.1.2. Penanaman
Penanaman dilakukan dengan menggunakan alat tugal yang terbuat dari
kayu untuk membuat lubang- lubang tanam pada kedalaman sekitar 2 hingga 5 cm
pada lahan yang sebelumnya sudah diolah terlebih dahulu, kemudian ke dalam
lubang dimasukkan sekitar 5 sampai 7 bulir padi jenis Ciherang dengan jarak
tanam pada umumnya kira-kira 20 X 20 sentimeter hingga 30 X 30 sentimeter.
Setelah bulir ditugalkan ke dalam tiap-tiap lubang tanam kemudian ditutup
kembali dengan maksud agar bulir yang ditugalkan tidak diganggu oleh burung
atau binatang-binatang perusak atau pemakan bulir lainnya.
Pola tanam yang umumnya digunakan petani responden adalah dengan
sistem tanam gilir dan monokultur dengan menanam padi ladang kemudian
menanam pisang di sekeliling lahan sebagai tanaman pencegah erosi. Penanaman
padi ladang pada umumnya dilakukan dengan sistem padi-palawija atau padi-bera.
Pola tanam padi-bera yang dilakukan sebagian petani responden disebabkan
modal awal untuk penanaman palawija setelah panen padi yang tidak mencukupi
sehingga setelah masa panen padi ladang para petani lebih banyak yang
memberakan lahannya untuk kemudian ditanami padi lagi pada musim hujan
berikutnya.
6.1.3. Pemupukan
Pemupukan sangat perlu dilakukan untuk memperoleh hasil gabah yang
maksimal terutama di lahan kering yang memiliki karakteristik marjinal.
Pertanaman padi ladang yang ideal yaitu yang mampu menghasilkan padi dalam
bentuk gabah kering sebanyak 5 ton per hektar menyerap unsur hara dari dalam
tanah antara lain sebanyak 40 kilogram N yang setara dengan 90 kilogram pupuk
Urea, 10 kilogram P yang setara dengan 50 kilogram pupuk TSP, dan 75 kilogram
K yang setara dengan 180 kilogram pupuk KCl per hektar per musim tanam, dan
agar lahan tetap subur dan hasil gabah tetap tinggi maka jerami juga harus
dikembalikan ke lahan dan tanaman harus dipupuk (Hermawan, 2000).
Pemupukan pertama dilakukan dengan menggunakan pupuk Urea dan
TSP umumnya diberikan dengan cara disebarkan ke dalam lahan secara merata
setelah penanaman benih, dan sebagian petani memberikan pupuk Urea dan TSP
dalam bentuk campuran dengan cara mencampurkan pupuk dengan benih padi
pada saat penanaman. Sementara untuk meningkatkan efisiensi pemupukan pupuk
nitrogen harus diberikan secara split atau terpisah (Puslitbang Tanaman Pangan,
1989).
Harga pupuk yang sangat tinggi bagi petani menyebabkan penggunaan
pupuk yang tidak optimal karena tidak sesuai dengan dosis pupuk ideal, bahkan
sebagian petani tidak menggunakan pupuk sama sekali. Petani di Desa Wanajaya
umumnya membeli pupuk dalam bentuk campuran pupuk Urea dan TSP dan tidak
ada petani responden yang menggunakan pupuk TSP. Harga pupuk campuran
Urea dan TSP rata-rata sekitar Rp 1400 per kilogram dengan cara membeli petani
di kios tani yang terletak di ibukota kecamatan dengan uang tunai.
6.1.4. Pengobatan
Pengobatan dilakukan untuk mencegah atau membasmi hama dan penyakit
yang menyerang tanaman padi ladang. Jenis pestisida yang banyak digunakan
petani responden adalah decis untuk mencegah penyakit kungkang atau blast
yang sering menyerang tanaman padi ladang di Desa Wanajaya. Jenis penyakit ini
menyebakan pembusukan pada batang padi sehingga mematikan tanaman padi.
Jenis penyakit lain yang sering menyerang tanaman padi ladang di desa ini adalah
wereng, mentul, dan lain- lain. Jenis obat lain yang juga digunakan petani
adalah sidametrin, trobos, azodrin, akodan, elsan, dan hanya sebagian kecil petani
yang menggunakan furadan. Pestisida jenis decis dibeli petani sekitar Rp. 22 ribu
per 100 mililiter di kios tani yang terletak di ibukota kecamatan. Pengobatan
dilakukan dengan cara penyemprotan antara sekali hingga dua kali penyemprotan
dalam satu masa tanam tergantung kemampuan keuangan petani.


6.1.5. Penyiangan
Penyiangan dilakukan untuk membersihkan lahan dari gulma atau tanaman
pengganggu tanaman utama (padi ladang). Proses penyiangan dilakukan sekitar
sebulan setelah benih ditanamkan atau ditugalkan dengan menggunakan sabit atau
kored dan cangkul. Pada periode ini benih mulai bertumbuh sehingga
pertumbuhan tanaman pengganggu seperti rerumputan, semak belukar, akan
menjadi saingan berat bagi tanaman utama dalam memperoleh unsur hara dari
dalam tanah bahkan dapat mematikan tanaman utama. atau gulma jika tidak
segera dimusnahkan.
Proses penyiangan sebagian besar dilakukan oleh tenaga kerja wanita baik
dari dalam maupuan dari luar keluarga. Petani melakukan penyiangan antara satu
kali hingga dua kali berdasarkan intensitas serangan gulma. Upah yang berlaku
secara umum untuk proses penyiangan adalah sekitar Rp.6000 untuk setiap tenaga
kerja yang umumnya adalah wanita, per hari dengan jam kerja selama 6 jam kerja
per hari.
6.1.6. Pemanenan
Umur panen untuk varietas Ciherang yang digunakan petani responden
rata-rata berumur 120 hingga 150 hari sejak ditanam. Hasil panen padi ladang
digunakan untuk kebutuhan makanan pokok dan sebagian disimpan di lumbung
padi untuk nantinya digunakan sebagai benih di musim tanam berikutnya jika
tidak memiliki uang tunai untuk membeli benih dari kios atau toko dengan resiko
kualitas yang jelas lebih rendah. Sebagian padi yang disimpan juga digunakan
untuk tujuan berjaga-jaga atau untuk mengantisipasi kebutuhan mendesak rumah
tangga sehari- hari seperti biaya pendidikan anak, biaya pengobatan dan
kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Proses pemanenan dilakukan dengan menggunakan alat-alat yang masih
tradisional seperti sabit atau kored, cangkul, dan lain- lain. Pemanenan biasanya
dilakukan dengan mengupah buruh tani dengan sistem bawon yaitu dengan
menggunakan seperlima dari hasil panen keseluruhan sebagai upah keseluruhan
pekerja pemanen dalam bentuk gabah kering panen. Proses pengeringan padi
dilakukan pada media tikar atau kuda-kuda bambu atau plastik terval di halaman
rumah masing- masing petani. Padi yang sudah kering dan siap untuk digiling
dibawa ke tempat penggilingan padi dan diolah hingga dalam bentuk beras dengan
biaya pengolahan sebesar 100 kilogram beras untuk setiap satu ton beras yang
telah diolah dengan menyesuaikan harga beras pada saat itu atau dalam bentuk
uang tunai.
6.2. Struktur Biaya
Biaya yang dikeluarkan petani terdiri dari biaya tunai dan biaya
diperhitungkan. Biaya tunai didefinisikan sebagai biaya untuk pupuk, pestisida
atau obat-obatan pemberantas hama dan penyakit tanaman, tenaga kerja luar
keluarga, dan pajak usahatani yang dikeluarkan petani selama proses produksi
padi ladang. Pengeluaran usahatani yang termasuk dalam biaya diperhitungkan
adalah pengeluaran usahatani yang dikeluarkan petani tetapi tidak secara tunai
seperti biaya benih, nilai tenaga kerja dalam keluarga, dan penyusutan alat-alat
pertanian. Biaya-biaya yang dikeluarkan petani padi ladang dapat dilihat dalam
Tabel 15.

Tabel 15. Biaya-biaya yang Dikeluarkan Petani Padi Ladang per Hektar per
Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005
Komponen Satuan Jumlah
Harga/satuan
(Rp)
Nilai
(Rp)
Persentase
BIAYA TUNAI
Pupuk Kg 110.8 1.454,- 161.103,- 7.41
Pestisida Liter 1.7 46.724,- 79.431,- 3.65
Tenaga Kerja Luar Keluarga HOK 48.34 6.000,- 290.040,- 13.34
Pajak Usahatani Rp 20.000,- 0.92
Total Biaya Tunai Rp 550.574,- 25.33
BIAYA DIPERHITUNGKAN
Benih Kg 60 2.407,- 144.420,- 6.64
Tenaga Kerja Dalam Keluarga HOK 237.37 6.000,- 1.424.220,- 65.53
Penyusutan Peralatan Rp 54.200,- 2.49
Total Biaya Diperhitungkan Rp 1.622.840,- 74.67
BIAYA TOTAL Rp 2.173.414,- 100.00


6.3. Analisis Pendapatan
Analisis pendapatan dilakukan untuk menentukan nilai yang diperoleh
petani dari kegiatan berusahatani padi ladang. Analisis yang dilakukan meliputi
analisis pendapatan atas biaya total dan analisis pendapatan atas biaya tunai.
Perhitungan pendapatan usahatani padi ladang ini dilakukan untuk rata-rata per
satu hektar lahan.
Dalam penelitian ini, analisis pendapatan dilakukan untuk satu musim
tanam. Karena sifat padi ladang yang menggantungkan pengairan pada curah
hujan, dalam satu tahun, seperti di daerah lain pada umumnya, maka kegiatan
usahatani padi ladang di Desa Wanajaya dilakukan dalam satu musim tanam.
Kegiatan usahatani padi ladang dimulai dari awal musim hujan sekitar bulan
Oktober dan November hingga masa panen pada bulan April.


Tabel 16. Analisis Pendapatan Cabang Usahatani Padi Ladang per Hektar
per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005
Komponen
Nilai
(Rupiah)
TOTAL PENERIMAAN 1.654.900,-
Total Biaya Tunai 550.574,-
Total Biaya Diperhitungkan 1.625.180,-
BIAYA TOTAL USAHATANI 2.175.754,-
PENDAPATAN ATAS BIAYA TOTAL -520.854,-
PENDAPATAN ATAS BIAYA TUNAI 1.104.326,-
R/C ATAS BIAYA TUNAI 3.01
R/C ATAS BIAYA TOTAL 0.76

Produksi rata-rata padi ladang yang dihasilkan sebesar 1,273 kilogram per
hektar per musim tanam dalam bentuk gabah kering giling. Harga jual gabah
kering pada masa panen rata-rata sebesar Rp 1,300 per kilogram, sehingga rata-
rata penerimaan petani sebesar Rp 1,654,900 per hektar per musim tanam. Biaya
total yang dikeluarkan petani dalam proses produksi rata-rata sebesar Rp
2,175,754 per hektar per musim tanam sehingga pendapatan atas biaya totalnya
sebesar Rp -520,854. Sedangkan, besar rata-rata biaya tunai yang dikeluarkan
petani di daerah penelitian sebesar Rp 550,574 per hektar per musim tanam
sehingga pendapatan atas biaya tunai sebesar Rp 1,104,326. Sehingga jika dilihat
dari sisi pendapatan atas biaya total, maka usahatani padi ladang tidak
menguntungkan bagi petani.
6.4. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (Analisis R/C ratio)
Dari hasil analisis pendapatan dan biaya usahatani padi ladang didapat
rasio R/C atas biaya total sebesar 0,76. Artinya bahwa untuk setiap satu rupiah
biaya total yang dikeluarkan dalam usahatani padi ladang, maka petani akan
memperoleh penerimaan sebesar Rp 0.76. Sedangkan rasio R/C atas biaya tunai
adalah sebesar 3.01 yang berarti bahwa untuk setiap satu rupiah biaya tunai yang
dikeluarkan untuk usahatani padi ladang, maka petani akan memperoleh
penerimaan sebesar Rp 3,01.
Berdasarkan nilai rasio R/ C atas biaya total yang lebih kecil dari 1 yaitu
sebesar 0.76, maka dapat disimpulkan bahwa usahatani padi ladang di daerah
penelitian tidak menguntungkan bagi petani. Syarat suatu usahatani dikatakan
menguntungkan jika rasio R/C atas biaya total lebih besar dari 1.



































VII. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI
DAN EFISIENSI EKONOMI CABANG USAHATANI
PADI LADANG

7.1. Analisis Fungsi Produksi
Model fungsi produksi yang digunakan untuk menduga fungsi produksi
dalam penelitian ini adalah model fungsi produksi Cobb-Douglas. Faktor- faktor
produksi yang diduga berpengaruh dalam usahatani padi ladang adalah pupuk,
tenaga kerja luar keluarga, tenaga kerja dalam keluarga, benih, dan pestisida.
Hasil pendugaan model dan hubungan antara variabel bebas yaitu faktor- faktor
produksi dengan variabel dependen yaitu produksi padi ladang dapat dilihat dalam
Tabel 17.
Tabel 17. Analisis Ragam Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang di Desa
Wanajaya
Sumber
Ragam
Derajat
Bebas
Jumlah
Kuadrat
Kuadrat
Tengah
F - hitung Peluang
Regresi 5 11.2161 2.2432 8.83 0.000
Galat 30 7.6180 0.2539
Total 35 18.8341

Berdasarkan pendugaan model produksi yang diperoleh, seperti yang
ditunjukkan dalam Tabel 17, didapat nilai F- hitung sebesar 8.83 yang signifikan
pada taraf kepercayaan 95 persen. Ini berarti bahwa faktor- faktor produksi yang
digunakan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap produksi padi
ladang.


Tabel 18. Hasil Analisis Pendugaan Fungsi Produksi Usahatani Padi Ladang
di Desa Wanajaya

Variabel

Koefisien
Regresi

Simpangan
Baku
Koefisien

T
Hitung

P-
value

VIF
Konstanta 0.004 1.989 0.00 0.999
Ln Pupuk 0.248 0.405 0.61 0.545 1.3
Ln Tenaga Kerja Luar RT 0.530 0.196 2.69 0.011 1.8
Ln Tenaga Kerja Dalam RT 0.217 0.068 3.19 0.003 1.2
Ln Benih 0.101 0.209 0.48 0.632 2.3
Ln Pestisida 0.069 0.065 1.06 0.296 1.3
R-Sq = 59.6% R-Sq (adjusted) = 52.8%
Berdasarkan data pada Tabel 18, maka model fungsi produksi padi ladang
per hektar dapat diduga dengan persamaan sebagai berikut :
Ln Produktivitas = 0.004 + 0.2484 Ln Pupuk + 0.5302 Ln Tenaga Kerja Luar
Keluarga + 0.21728 Ln Tenaga Kerja Dalam Keluarga
+ 0.1013 Ln Benih + 0.06968 Ln Pestisida
Dari hasil pendugaan model ditunjukkan juga bahwa nilai koefisien
determinasi (R
2
) didapat sebesar 59.6 persen dengan nilai koefisien determinasi
terkoreksi (R
2
-adjusted) sebesar 52.8 persen. Nilai koefisien determinasi (R
2
)
tersebut berarti bahwa sebesar 59.6 persen dari variasi produksi dapat dijelaskan
secara bersama-sama oleh faktor pupuk, tenaga kerja luar keluarga, tenaga kerja
dalam keluarga, benih, dan pestisida sedangkan sebesar 40.4 persen lagi
dipengaruhi oleh faktor- faktor lain di luar model.
Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian, faktor- faktor lain di luar
model fungsi produksi yang diduga juga berpengaruh terhadap produksi padi
ladang adalah tingkat kesuburan lahan, intensitas serangan hama dan penyakit
tanaman. Di samping itu faktor iklim, dan ketertarikan petani yang kurang untuk
meningkatkan produksi dan produktivitas usahatani padi ladang akibat
ketidakjelasan status kepemilikan atas lahan yang diusahakan petani dan karena
cabang usahatani padi ladang tidak menguntungkan turut mempengaruhi produksi
padi ladang.
Nilai t-hitung untuk tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar
keluarga berpengaruh nyata terhadap nilai produksi pada taraf kepercayaan 99
persen (a = 0.05). Sedangkan pengaruh faktor pupuk, benih, dan pestisida tidak
signifikan pada taraf kepercayaan yang ditetapkan.
7.2. Elastisitas Produksi dan Skala Usaha

Dalam model fungsi produksi Cobb-Douglas nilai koefisien regresi
merupakan nilai elastisitas dari masing- masing variabel tersebut. Pengaruh
masing- masing variabel terhadap produksi adalah sebagai berikut : Berdasarkan
Tabel 18 didapat bahwa jumlah nilai elastisitas faktor-faktor produksi sebesar
1.17. Angka ini merupakan penjumlahan dari koefisien regresi faktor produksi
yang dalam hal ini dianggap sebagai nilai elastisitas dari faktor tersebut. Karena
jumlah nilai elastisitas faktor produksi lebih besar dari 1, maka dapat disimpulkan
bahwa usahatani padi ladang berada dalam daerah produksi increasing return to
scale. Dengan nilai elastisitas produksi sebesar 1.17, berarti setiap penambahan
faktor produksi secara bersama-sama sebesar 1 persen, maka akan meningkatkan
produksi sebesar 1.17 persen.
Nilai elastisitas pupuk sebesar 0.2484, berarti jika penggunaan pupuk
ditingkatkan sebesar satu persen, maka produksi padi ladang akan meningkat
sebesar 0.2484 persen dengan asumsi ceteris paribus. Namun berdasarkan uji t
diperoleh bahwa faktor produksi pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap
produksi padi ladang. Hal ini dikarenakan penggunaan pupuk diantara petani
cenderung sama, sehingga tidak ditemukan adanya variasi data penggunaan
pupuk.
Menurut Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten
Karawang dalam Laporan Studi Penanganan dan Pemanfaatan Lahan Kritis di
Kabupaten Karawang Tahun 2003, tanah di daerah penelitian termasuk jenis
latosol. Jenis latosol merah coklat kekuningan, bertekstur lempung, struktur
gumpal/keras, dan solum dalam. Kesuburan tanah diukur dengan menggunakan
tiga indikator yaitu nilai pH, kapasitas tukar kation (KTK), dan kejenuhan basa
(KB).
Dengan menggunakan ketiga indikator tersebut, nilai pH di lokasi
penelitian adalah 4 sampai 5 sehingga termasuk tanah asam. Sedangkan kapasitas
tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) di lokasi penelitian termasuk dalam
kelompok sedang. Sehingga secara keseluruhan disimpulkan bahwa tingkat
kesuburan tanah di lokasi penelitian tergolong rendah.
Pada tanah-tanah asam banyak ditemukan unsur Aluminium dapat ditukar
(Aldd). Unsur Al ini selain bersifat racun bagi tanaman juga bersifat mengikat
fosfor (P
2
O
5
), sehingga menjadi tidak tersedia atau tidak dapat diserap tanaman.
Pada tanah asam biasa dijumpai gejala keracunan unsur Fe yang dicirikan adanya
bercak-bercak pada daun berwarna kuning kemerahan. Derajat keasaman (pH)
tanah yang rendah dapat ditingkatakan dengan program pengapuran.
Tindakan untuk mengatasi masalah KTK (Kapasitas Tukar Kation), KB
(Kejenuhan Basa), dan pH (derajat keasaman) yang merupakan tiga indikator
kesuburan tanah, cukup dengan tindakan yang sama yaitu dengan pemupukan
bahan organik (pupuk kandang). Selain itu dapat juga dilakukan dengan
pengapuran menggunakan jenis kapur tanah CaCO
3
sebelum penanaman karena
ketiga parameter kesuburan tersebut intinya saling berhubungan.
Dosis pemberian kapur adalah 0.4 sampai 0.5 ton per hektar, sedangkan
untuk pupuk kandang nilai rata-ratanya adalah tiga kali dari dosis pengapuran,
tetapi bila sudah diberi kapur tidak perlu lagi menggunakan pupuk kandang.
Sedangkan untuk dosis atau takaran pupuk yang dianjurkan BAPPEDA dalam
budidaya padi ladang adalah Urea sebanyak 100 kilogram per hektar dengan tiga
kali pemberian, masing- masing sepertiga bagian untuk pupuk dasar, pada stadia
vegetatif (umur tanaman 14,35, dan 49 hari setelah tanam). Pupuk TSP sebanyak
100 kilogram per hektar, dan KCl 100 kilogram per hektar yang masing- masing
diberikan sekaligus saat tanam.
Pupuk yang digunakan di lokasi penelitian rata-rata sebanyak 110.8
kilogram per hektar Urea dan TSP dalam bentuk campuran yang diberikan
sekaligus pada saat penanaman, dan tidak ada petani yang menggunakan pupuk
KCl. Pemberian pupuk kandang atau pengapuran sebelum penanaman juga tidak
dilakukan petani. Hal ini menyebabkan faktor produksi pupuk tidak elastis
terhadap peningkatan hasil produksi padi ladang.
Tenaga kerja luar keluarga mempunyai nilai elastisitas sebesar 0.5302,
berarti setiap penambahan faktor tenaga kerja luar keluarga (ceteris paribus)
sebesar satu persen, maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 0.5302
persen. Berdasarkan uji t diperoleh bahwa faktor tenaga kerja luar keluarga
berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan 98
persen. Budaya gotong royong para petani dalam melakukan penanaman di lokasi
penelitian diduga menjadi penyebab elastisnya peningkatan faktor tenaga kerja
luar keluarga terhadap peningkatan produksi.
Seperti halnya tenaga kerja luar keluarga, tenaga kerja dalam keluarga
juga berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan 99
persen. Adapun nilai elastisitas tenaga kerja dalam keluarga adalah sebesar
0.21728, yang berarti jika faktor tenaga kerja dalam keluarga ditingkatkan sebesar
sepuluh persen, maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 2.1728 persen
(ceteris paribus). Dalam melakukan pengolahan mulai dari persiapan lahan,
penyiangan, hingga pemanenan petani lebih banyak mengandalkan tenaga kerja
dalam keluarga.
Namun tidak demikian halnya dengan faktor produksi benih. Faktor ini
tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan
sebesar 90 persen. Penambahan faktor produksi benih sebesar satu persen akan
cenderung meningkatkan produksi padi ladang sebesar 0.1013 persen dengan
asumsi ceteris paribus. Elastisitas faktor produksi benih yang rendah terhadap
peningkatan produksi diduga disebabkan karena penggunaan varietas benih yang
tidak tepat. Petani di lokasi penelitian menggunakan benih jenis Ciherang yang
sebenarnya adalah benih yang umumnya digunakan dalam padi sawah. Menurut
petani setempat benih jenis ini menghasilkan gabah yang lebih banyak daripada
varietas padi yang disarankan untuk padi ladang dalam kondisi normal, tetapi
kelembaban yang tinggi dan periode pengembunan yang panjang akan
menyebabkan resiko untuk terserang penyakit blast (bercak putih pada akar)
menjadi lebih besar. Penyakit blast merupakan jenis penyakit yang paling penting
dan paling sering dijumpai dalam budidaya padi ladang pada umumnya, demikian
juga di lokasi penelitian. Penyakit blast dapat menurunkan hasil panen bahkan
menggagalkan pertanaman padi ladang. Petani tidak menggunakan varietas padi
ladang karena produktivitas yang lebih rendah.
Faktor produksi pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan
90 persen tetapi berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 70 persen terhadap
produksi padi ladang. Elastisitas faktor produksi pestisida adalah sebesar
0.06968, yang berarti setiap kenaikan penggunaan pestisida sebesar satu persen
akan cenderung meningkatkan produksi padi ladang sebesar 0.06986 persen
dengan asumsi ceteris paribus. Rendahnya elastisitas faktor produksi pestisida
terhadap peningkatan produksi menunjukkan bahwa penggunaan pestisida oleh
petani tidak berfungsi secara efektif dalam mengurangi atau membasmi hama dan
penyakit yang menyerang padi ladang karena jumlah atau jenis pestisida yang
belum tepat.
Jadi jika dilihat secara keseluruhan, maka faktor yang berpengaruh nyata
terhadap produksi padi ladang di Desa Wanajaya adalah faktor tenaga kerja dalam
dan luar keluarga. Dan jika dilihat dari besaran nilai elastisitas, maka faktor yang
paling responsif terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga
dengan nilai elastisitas sebesar 0.5302. Hal ini disebabkan oleh tenaga kerja luar
keluarga akan bekerja lebih optimal dibandingkan dengan tenaga kerja dalam
keluarga. Tenaga kerja luar keluarga akan bekerja lebih optimal dibandingkan
dengan tenaga kerja dalam keluarga. Tenaga kerja luar keluarga melakukan
pekerjaan dengan jam kerja yang telah ditentukan sebelumnya, upah yang telah
disepakati, dan juga target kerja yang ditentukan sebelumnya. Petani yang
menggunakan tenaga kerja luar keluarga akan mengoptimalkan kerja buruh tani
agar target kerja yang diinginkan tercapai.

7.3. Analisis Efisiensi Ekonomi

Menurut Doll dan Orazem (1984), untuk mencapai keuntungan yang
maksimal, suatu usahatani harus memenuhi dua syarat yaitu syarat keharusan
(Necessary Condition) dan syarat kecukupan (Sufficient Condition). Syarat
keharusan (Necessary Condition) dipenuhi pada saat tidak ada lagi kemungkinan
lain dalam penggunaan input yang lebih sedikit untuk menghasilkan nilai produksi
yang sama, atau ketika elastisitas produksi lebih besar atau sama dengan nol dan
lebih lebih kecil atau sama dengan satu ( p 1).
Berbeda dengan syarat keharusan yang objektif, syarat kecukupan dapat
berbeda pada setiap usahatani atau individu dan merupakan efisiensi yang
subjektif. Terpenuhi atau tidaknya kedua syarat tersebut dapat diketahui dengan
menggunakan sebuah persamaan yaitu perbandingan antara Value Marginal
Product (PyMPxi) atau disebut juga Nilai Produk Marjinal (NPM), dan Marginal
Factor Cost (MFC) atau yang sering disebut dengan Biaya Korbanan Marjinal
(BKM). Nilai Produk Marjinal merupakan hasil kali antara harga produk dengan
Produk Marjinal (PM) sementara Biaya Korbanan Marjinal (BKM) sama dengan
harga dari masing- masing faktor produksi itu sendiri.
Tingkat efisiensi ekonomis dari penggunaan faktor- faktor produksi dapat
dilihat dari besarnya rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal
per periode produksi. Faktor- faktor produksi yang dapat dianalisis adalah faktor-
faktor produksi yang bersifat fisik dan yang dapat dinilai dengan rupiah. Jika
rasio NPM dengan BKM lebih besar dari satu, maka penggunaan faktor- faktor
produksi disebut belum efisien dan perlu ditingkatkan penggunaannya untuk
mencapai keuntungan maksimum. Rasio NPM dengan BKM yang lebih kecil dari
satu menunjukkan bahwa penggunaan faktor- faktor produksi telah melebihi batas
optimal sehingga untuk mencapai keuntungan maksimum maka penggunaannya
harus dikurangi.
Rasio NPM dengan BKM yang sama dengan satu untuk semua faktor-
faktor produksi menunjukkan bahwa penggunaan faktor- faktor produksi dalam
usahatani tersebut tepat berada pada kondisi optimal dan telah mencapai
keuntungam maksimum sehingga usahatani dapat dikatakan telah efisien secara
ekonomis. Rasio NPM dan BKM usahatani padi ladang di Desa Wanajaya
ditunjukkan dalam Tabel 21.
Tabel 19. Rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal
Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya
Variabel
Penggunaan
Rata-rata
Aktual
Koefisien
Regresi
NPM BKM
NPM/
BKM
Pupuk 110.81 0.2484 3712.05 1454 2.553
Tenaga Kerja Luar RT 48.34 0.5302 18162.44 6000 3.027
Tenaga Kerja Dalam RT 237.37 0.2172 1515.22 6000 0.252
Benih 60.00 0.1013 2795.75 2407 1.162
Pestisida 1.70 0.0696 67873.50 46724 1.453
Produksi Rata-rata (Kg/Ha) 1273.79
Harga Rata-rata/unit Output (Rp/Kg) 1300
Keterangan : NPM = Nilai Produk Marjinal
BKM = Biaya Korbanan Marjinal

Tabel 19 menunjukkan penggunaan faktor-faktor produksi aktual dan rasio
Nilai Produk Marjinal (NPM) dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM) pada
usahatani padi ladang di Desa Wanajaya. Rasio-rasio NPM dengan BKM dari
setiap faktor produksi menunjukkan bahwa penggunaan faktor- faktor produksi
dalam usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak efisien secara ekonomis,
karena nilai- nilai rasio NPM dan BKM tidak ada yang sama dengan satu. Rasio
ini juga berarti bahwa penggunaan faktor- faktor produksi pada usahatani padi
ladang belum optimal pada jumlah produksi yang sama.
Pada Tabel 19 dapat dilihat bahwa rasio NPM dan BKM untuk faktor
produksi pupuk, tenaga kerja luar keluarga, benih, dan pestisida masing- masing
lebih besar dari satu. Nilai rasio ini mengandung arti bahwa penggunaan faktor
faktor produksi tersebut masih kurang dan masih dapat ditingkatkan lagi agar
dicapai tingkat penggunaan yang efisien atau optimal. Penggunaan faktor
produksi pestisida dan pupuk yang rendah ini disebabkan oleh keterbatasan modal
yang dimiliki petani untuk membeli pupuk dan pestisida dalam jumlah yang lebih
besar yang sesuai dengan kebutuhan usahatani berdasarkan kondisi kesuburan dan
kandungan hara tanah, sehingga pupuk dan pestisida hanya digunakan
berdasarkan kemampuan finansial petani. Penggunaan benih yang tidak efisien
juga disebabkan oleh ketidakmampuan petani secara finansial untuk membeli
benih yang memiliki harga beli yang tinggi, sehingga benih yang digunakan
petani adalah gabah yang merupakan sisa hasil panen dari musim tanam
sebelumnya dengan mutu yang lebih rendah daripada benih komersial.
Rasio NPM dan BKM yang paling besar adalah pada faktor tenaga kerja
luar keluarga yaitu sebesar 3.027. Berdasarkan nilai rasio ini, maka penggunaan
tenaga kerja luar keluarga memerlukan penambahan yang relatif lebih besar agar
dicapai tingkat efisien. Rendahnya penggunaan tenaga kerja luar keluarga
disebabkan oleh keterbatasan modal petani untuk mengupah tenaga kerja luar
keluarga yang lebih besar.
Sedangkan untuk faktor tenaga kerja dalam keluarga didapat nilai rasio
NPM dan BKM yang lebih kecil dari satu, yang berarti bahwa penggunaan faktor
produksi ini berlebihan atau tidak efisien, sehingga untuk mencapai tingkat
efisien, maka penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi.
Penggunaan yang berlebih ini terjadi karena usahatani padi ladang merupakan
usahatani utama dan sumber makanan pokok keluarga petani sehingga alokasi
tenaga kerja untuk usahatani padi ladang relatif lebih besar. Rendahnya tingkat
pendidikan petani menyebabkan mereka tidak memiliki keahlian atau pekerjaan
lain selain berusahatani padi ladang sehingga tenaga kerja dalam keluarga yang
digunakan dalam usahatani menjadi relatif lebih besar.
Efisiensi penggunaan faktor- faktor produksi dapat dicapai dengan
menggunakan kombinasi optimal dari faktor-faktor produksi. Kombinasi optimal
dari penggunaan faktor-faktor produksi akan diperoleh jika Nilai Produk Marjinal
sama dengan Biaya Korbanan Marjinal atau jika rasio Nilai Produk Marjinal dan
Biaya Korbanan Marjinal sama dengan satu. Pada Tabel 20 dapat dilihat
kombinasi faktor- faktor produksi yang menghasilkan penggunaan input yang
efisien.
Tabel 20. Kombinasi Optimal dari Faktor-Faktor Produksi Usahatani Padi
Ladang Di Desa Wanajaya


Variabel
Penggunaan
Optimal
Koefisien
Regresi
NPM BKM
NPM/
BKM
Pupuk 282.51 0.2484 1454 1454 1
Tenaga Kerja Luar RT 146.33 0.5302 6000 6000 1
Tenaga Kerja Dalam RT 59.94 0.2172 6000 6000 1
Benih 69.69 0.1013 2407 2407 1
Pestisida 2.47 0.0696 46724 46724 1
Produksi Rata-rata (Kg/Ha) 1273.79
Harga Rata-rata/unit Output (Rp/Kg) 1300
Keterangan : NPM = Nilai Produk Marjinal
BKM = Biaya Korbanan Marjinal

Berdasarkan Tabel 20 di atas diperoleh nilai penggunaan optimal dari
faktor pupuk sebesar 282.51. Nilai ini berarti untuk mencapai tingkat efisien,
penggunaan pupuk harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya sebesar 110.81
kilogram menjadi sebesar 282.51 kilogram. Nilai penggunaan optimal dari faktor
tenaga kerja luar keluarga adalah sebesar 146.33, yang berarti bahwa penggunaan
tenaga kerja luar keluarga yang semula sebesar 48.34 HOK harus ditingkatkan
menjadi 146.34 HOK agar dicapai tingkat efisien.
Jika dilihat dari segi rasio NPM dan BKM, penggunaan benih yang semula
sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69.69 kilogram agar dicapai
tingkat efisiensi. Sementara nilai penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus
dikurangi dari yang semula sebesar 237.37 HOK menjadi sebesar 59.94 HOK agar
penggunaan faktor produksi ini efisien. Untuk faktor produksi pestisida,
penggunaannya harus ditingkatkan dari sebesar 1.7 liter dalam penggunaan
aktualnya menjadi sebesar 2.47 liter agar dicapai tingkat efisiensi.























VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

8.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dalam penelitian ini, maka dapat
diambil beberapa kesimpulan yaitu :
1. Pendapatan atas biaya tunai adalah Rp.1.104.326,- sedangkan pendapatan atas
biaya total adalah Rp.-520.854,-. Kemudian dengan analisis imbangan
penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio), diperoleh nilai rasio R/C atas biaya
total sebesar 0.76 (lebih kecil dari satu), sehingga dapat disimpulkan bahwa
cabang usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak menguntungkan bagi
petani.
2. Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang
adalah tenaga kerja luar keluarga dan tenaga kerja dalam keluarga, yang nyata
pada taraf kepercayaan 99 persen. Sedangkan faktor pupuk, benih, dan
pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan yang ditetapkan.
3. Penggunaan faktor-faktor produksi yang efisien secara ekonomis dicapai pada
saat penggunaan faktor pupuk sebesar 282.51, faktor tenaga kerja luar
keluarga sebesar 146.33 HOK, penggunaan benih yang semula sebesar 60
kilogram harus ditingkatkan menjadi 69.69 kilogram, penggunaan tenaga
kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237.37 HOK
menjadi sebesar 59.94 HOK, faktor produksi pestisida harus ditingkatkan dari
sebesar 1.7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2.47 liter.



8.2. Saran
Berdasarkan hasil dan pembahasan serta simpulan, maka disarankan untuk:
1. Penggunaan faktor produksi pupuk, benih, pestisida tenaga kerja luar harus
ditingkatkan dari penggunaan aktualnya supaya usahatani padi ladang yang
dilakukan lebih efisien dan menguntungkan bagi petani.
2. Pemberian bimbingan dan penyuluhan dari instansi terkait mengenai teknik
budidaya padi ladang yang tepat seperti kombinasi penggunaan pupuk dan
pestisida yang tepat dan pola tanam yang tepat untuk mencapai usahatani padi
ladang yang lebih produktif dan menguntungkan.





























DAFTAR PUSTAKA


Ahmad, Tauhid. 2002. Analisis Pendapatan Usahatani Padi dan Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Marketed Supply Gabah di Kabupaten Magelang
dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Skripsi. Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Ariyanti, Diana. 1998. Perkembangan Tingkat Produksi, Produktivitas dan
Pendapatan Petani Padi Dihubungkan Dengan Kebijaksanaan Harga
Dasar Gabah dan Harga Sarana Produksi (Studi Kasus : Desa Sukatani,
Kecamatan Cimalaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat). Skripsi.
Fakultas Petanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Badan Perencana Pembangunan Daerah Pemerintah Kabupaten Karawang, 2003.
Laporan Draft Final Studi Penanganan dan Pemanfaatan Lahan Kritis Di
Kabupaten Karawang Tahun Anggaran 2003. PT. Sadhya Grahacara,
Karawang.
Basyir, Amir., Punarto S., Suyamto dan Supriyatin. 1995. Padi Gogo. Balai
Penelitian Tanaman Pangan Malang, Pusat Penelitian dan Pengembangan
Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian,
Malang.
Dahlia, Noorsanti Uceu. 1999. Analisis Peningkatan Pendapatan Petani Melalui
Penyimpanan Gabah di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Karawang,
Propinsi Jawa Barat. Skripsi. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Departemen Pertanian Satuan Pengendali Bimas. 1983. Pedoman bercocok tanam
padi, palawija, sayur-sayuran. Departemen Pertanian, Jakarta.

Direktorat Jenderal Pertanian. 1995-1998. Vademekum Sumberdaya, Jakarta.

Doll, P. John dan Frank Orazem. 1984. Production Economic Theory with
Aplications. Edisi Kedua. John Wiley and Sons, Kanada.
Geertz, C. 1963. Involusi Pertanian : Proses Perubahan Ekologi di Indonesia.
Yayasan Obor Bhratara Karya Aksara, Jakarta.
Gujarati, Damodar N. 1988. Basic Econometric. Second Edition. Mc.Graw Hill,
New York.
Gupta PC, OToole JC. 1986. Upland rice : a global perspective. International
Rice Research Institute, Los Banos, Philippines.

Hariyanto, A.B. 1994. Pola Adaptasi Peladang Berpindah di Pemukiman (Kasus
Peladang Berpindah di Perkebunan HTI, Sumatera Selatan. Tesis.
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Harsono, S. 1995. Sambutan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN.
PILMITANAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Ilmu Tanah Nasional). Bogor.

Hernanto, Fadholi. 1988. Ilmu Usahatani. PS. Penebar Swadaya. Cetakan kedua.
IKAPI, Jakarta.
Maryono, 1996. Pemanfaatan dan Peranan Lahan Kering Dalam Pembangunan
Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Mubyarto. 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. Penerbit LP3S, Jakarta.

Netty, D. 1996. Potensi Lahan Kering Dalam Pembangunan Pertanian di
Indonesia. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Rahardjo, M. D. 1993. Politik Pangan dan Industri Pangan di Indonesia. Prisma,
(5): 13-12, Jakarta.

Rahayu, Yayu Sri. 2001. Perbandingan Usahatani Padi Ladang Baduy Luar dan
Luar Baduy Dilihat Dari Tingkat Efisiensi dan Subsistensi Usahatani
(Studi Kasus di Desa Kanekes dan Desa Jalupang Mulya, Kec. Leuwi
Damar, Kab. Lebak, Jawa Barat). Skripsi. Jurusan Ilmu- ilmu Sosial
Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Satria, Arif. 1995. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Petani
Dalam Pemasaran Gabah (Kasus Desa Majosen, Tenggeng Kulon dan
Yosorejo, Kecamatan sragi, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah).
Skripsi. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Scott, James. 1981. Moral Ekonomi Petani. LP3ES, Jakarta.
Setiawan, Chandra Arief. 2000. Analisis Wilayah Rawan Kekeringan Untuk
Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Padi Gogo di Sulawesi
Tenggara. Tesis. Program Studi Agroklimatologi, Program Pascasarjana,
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sidik, Mulyo. 2004. Indonesia Rice Policy In View of Trade Liberalization. FAO
Rice Conference. 12-13 February, Rome, Italy.

Siregar, Hadrian. 1981. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Penerbit Sustra
Hudaya, Jakarta.
Soeharjo, Ahmad dan Dahlan Patong. 1973. Sendi-Sendi Pokok Ilmu Usahatani.
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Soekartawi. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani
Kecil. UI-Press, Jakarta.

Susanto, Harry. 2004. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Penggunaan Faktor
Produksi Usahatani Padi Gogo Secara Tumpangsari Dengan Jagung di
Kecamatan Kadipaten Tasikmalaya Propinsi Jawa Barat. Skripsi. Jurusan
Ilmu- ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.

Wana, Hermawan. 2000. Analisis Faktor- faktor Produksi Padi Lahan Kering di
Indonesia. Tesis. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Wijaya, Andri. 2002. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Usahatani Padi Input
Rendah di Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang. Skripsi. Jurusan
Ilmu- ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.

Yanuar, Rahmat. 1999. Analisis Pendapatan dan Produksi Usahatani Padi Lahan
Gambut (Studi Kasus : Desa Blang Ramee, Kecamatan Tounom,
Kabupaten Aceh Barat). Skripsi. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor, Bogor.

Yelni. 1999. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi dan Pendapatan
Usahatani Padi Sawah Pada Jaringan Irigasi Teknis dan Irigasi
Sederhana. Skripsi. Jurusan Ilmu- ilmu Sosial Ekonomi Pertanian,
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.












































L A M P I R A N






















Lampiran 1. Analisis Regresi Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
Produktivitas Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa
Wanajaya


The regression equation is
Ln Produktivitas = 0.00 + 0.248 Ln Pupuk + 0.530 Ln TK Luar
+ 0.217 Ln TK Dalam + 0.101 Ln Benih + 0.0697 Ln
Pestisida

Predictor Coef SE Coef T P VIF
Konstanta 0.004 1.989 0.00 0.999
Ln Pupuk 0.2484 0.4056 0.61 0.545 1.3
Ln TK Luar 0.5302 0.1969 2.69 0.011 1.8
Ln TK Dalam 0.21728 0.06819 3.19 0.003 1.2
Ln Benih 0.1013 0.2092 0.48 0.632 2.3
Ln Pestisida 0.06968 0.06548 1.06 0.296 1.3

S = 0.5039 R-Sq = 59.6% R-Sq(adj) = 52.8%
PRESS = 10.3546 R-Sq(pred) = 45.02%

Analysis of Variance

Source DF SS MS F P
Regression 5 11.2161 2.2432 8.83 0.000
Residual Error 30 7.6180 0.2539
Total 35 18.8341

Source DF Seq SS
Ln Pupuk 1 1.8846
Ln TK Luar 1 5.6600
Ln TK Dalam 1 3.2221
Ln Benih 1 0.1619
Ln Pestisida 1 0.2875

Unusual Observations
Obs Ln Pupuk Ln Prod Fit SE Fit Residual St
Resid
6 4.61 5.3000 6.5712 0.1876 -1.2712 -
2.72R
7 4.61 7.8200 6.8251 0.1803 0.9949
2.11R

Durbin-Watson statistic = 1.77
















Lampiran 2. Pertumbuhan Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Padi di
Indonesia, Tahun 2001-2005
Tahun
No Komoditi
2001 2002 2003 2004 2005
Pertumbuhan
(2004-2005)
1 Padi
Produksi (000 Ton) 50.461 51.490 52.138 54.088 53.008 -2,00
Luas Panen (000 Ha) 11.500 11.521 11.488 11.922 11.604 -2,67
Produktivitas (Ku/Ha) 43,88 44,69 45,38 45,36 45,68 0,71

2 Padi Sawah
Produksi (000 Ton) 47.896 48.899 49.378 51.209 50.185 -2,00
Luas Panen (000 Ha) 10.419 10.457 10.395 10.799 10.498 -2,79
Produktivitas (Ku/Ha) 45,97 46,76 47,50 47,42 47,80 0,80

3 Padi Ladang
Produksi (000 Ton) 2.565 2.591 2.759 2.879 2.822 -1,95
Luas Panen (000 Ha) 1.081 1.064 1.094 1.123 1.105 -1,56
Produktivitas (Ku/Ha) 23,74 24,34 25,23 25,63 25,52 -0,43
Sumber : www.bps.go.id, 2005




























Lampiran 3. Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia,
Tahun 2001-2005 (Kwintal/Ha)

Tahun
No. Propinsi 2001 2002 2003 2004 2005*)
Pertumbuhan
(2004-2005)
1 NAD 22.45 21.54 22.25 22.02 22.14 0.54
2 Sumatera Utara 24.75 24.75 25.03 25.14 26.33 4.73
3 Sumatera Barat 22.15 24.06 25.65 27.11 27.84 2.69
4 Riau 19.66 19.88 19.95 21.32 21.47 0.70
5 Jambi 21.97 21.85 22.27 23.76 23.99 0.97
6 Sumatera Selatan 20.89 20.93 22.22 23.67 23.33 -1.44
7 Bengkulu 20.21 20.22 20.41 20.66 20.75 0.44
8 Lampung 24.75 24.78 26.12 26.15 26.27 0.46
9 Bangka Belitung 20.16 20 19.86 20.55 17.67 -14.01
10 DKI Jakarta - - - 0 0 -
11 Jawa Barat 24.8 24.66 26.53 25.19 26.31 4.45
12 Jawa Tengah 30.36 30.49 31.21 31.82 32.01 0.60
13 DI Yogyakarta 31.42 31.42 35.16 37.27 33.9 -9.04
14 Jawa Timur 34.21 34.33 35.8 35.29 35.3 0.03
15 Banten 21.37 20.65 28.87 28.86 28.76 -0.35
16 Bali 16.36 22.18 16.61 18.7 18.6 -0.53
17 Nusa Tenggara Barat 23.13 23.8 24.19 25.03 26.35 5.27
18 Nusa Tenggara Timur 17.92 19.94 20.57 21.12 20.3 -3.88
19 Kalimantan Barat 17.17 20.31 19.53 19.99 19.89 -0.50
20 Kalimantan Tengah 19.32 21.56 21.45 21.96 20.09 -8.52
21 Kalimantan Selatan 24.15 23.83 23.71 25.53 24.58 -3.72
22 Kalimantan Timur 22.11 22.31 22.55 23.55 24.03 2.04
23 Sulawesi Utara 23.19 23.21 23.57 23.9 24.2 1.26
24 Sulawesi Tengah 20.89 22.95 23.28 21.59 23.45 8.62
25 Sulawesi Selatan 21.62 20.31 18.41 23.56 25.5 8.23
26 Sulawesi Tenggara 20.85 24.06 20.84 26.33 23.47 -10.86
27 Gorontalo 22.07 22.77 29.49 23.18 23.35 0.73
28 Maluku 18.47 18.57 22.52 21.25 21.84 2.78
29 Maluku Utara - - 22.56 20.66 20.72 0.29
30 Papua 26.82 24.85 26.21 30 29.21 -2.63
Indonesia 23.74 24.34 25.23 25.63 25.52 -0.43
Sumber : www.bps.go.id, 2005

*)
Angka ramalan
-) Data tidak tersedia












Lampiran 4. Produksi Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia
Tahun 2001-2005 (Dalam Ton)

Tahun
No. Propinsi 2001 2002 2003 2004 2005 Pertumbuhan
1 NAD 4,240 8,763 2,693 7,550 6,882 -8.85
2 Sumatera Utara 180,900 171,416 82,908 204,000 227,663 11.60
3 Sumatera Barat 13,497 20,175 8,234 23,957 25,307 5.64
4 Riau 44,621 39,925 16,454 46,301 44,407 -4.09
5 Jambi 59,612 59,882 26,892 59,892 65,681 9.67
6 Sumatera Selatan 158,614 139,771 83,450 169,945 167,754 -1.29
7 Bengkulu 34,959 41,938 17,692 37,363 39,333 5.27
8 Lampung 252,962 195,556 77,970 183,806 185,076 0.69
9 Bangka Belitung 11,199 6,702 3,331 8,308 6,226 -25.06
10 DKI Jakarta - - - - - -
11 Jawa Barat 340,042 295,491 132,055 302,796 306,578 1.25
12 Jawa Tengah 192,725 219,699 60,773 198,254 184,434 -6.97
13 DI Yogyakarta 119,723 115,622 36,052 133,717 121,108 -9.43
14 Jawa Timur 303,576 304,418 94,801 358,618 356,136 -0.69
15 Banten 73,861 56,788 31,778 107,676 105,144 -2.35
16 Bali 1,574 1,404 1,016 2,560 1,659 -35.20
17 NTB 78,036 86,190 40,647 121,486 99,878 -17.79
18 NTT 102,181 113,848 58,375 137,898 115,347 -16.35
19 Kalimantan Barat 175,530 200,522 100,290 209,978 231,530 10.26
20 Kalimantan Tengah 111,842 143,386 80,423 215,204 181,500 -15.66
21 Kalimantan Selatan 110,190 134,086 39,291 116,182 113,073 -2.68
22 Kalimantan Timur 107,169 154,951 61,872 132,903 128,246 -3.50
23 Sulawesi Utara 12,365 10,889 5,248 10,967 13,917 26.90
24 Sulawesi Tengah 7,726 16,162 5,177 14,194 16,368 15.32
25 Sulawesi Selatan 29,016 20,203 7,225 22,615 28,323 25.24
26 Sulawesi Tenggara 11,814 16,838 9,621 27,998 26,414 -5.66
27 Gorontalo 1,333 995 1,465 2,281 3,187 39.72
28 Maluku 13,910 1,978 1,468 4,844 4,656 -3.88
29 Maluku Utara - - 1,750 5,827 6,288 7.91
30 Papua 12,053 13,031 4,567 11,915 10,659 -10.54
Indonesia 2,565,270 2,590,629 1,093,518 2,879,035 2,822,774 -1.95
Sumber : www.bps.go.id, 2005













Lampiran 5. Penggunaan Faktor-faktor Produksi Cabang Usahatani Padi
Ladang Di Desa Wanajaya, Musim Tanam November-April
Tahun 2005

No Nama
Luas
(Ha)
Produksi
(Kg)
TK Dlm
(HOK)
TK Luar
(HOK)
Benih
(Kg)
Pestisida
(Liter)
Pupuk
(Kg)
1 Sakam 1.5 1.500 186.6 44 50 1.1 100
2 Acim 0.75 .500 105.8 25 2.1 70
3 Madhari 1 1.500 150.4 26 50 0.6 100
4 Ladi 0.5 400 172 27.4 50 2 100
5 Kiwan 0.5 400 150 30.6 50 0.15 100
6 Walim 1 200 84.8 28 50 0.15 100
7 Kamin 1 2.500 220.6 37 50 0.08 100
8 Natong 1 800 196.4 29 25 0.16 150
9 Onang 1 1.000 82.8 40
10 Rakim 2 1.300 269.6 38.4 100 0.15
11 Bodeh 0.5 500 125.6 40 40 2.2 250
12 Ayat 0.4 500 117.2 30 1.1 25
13 Aman 1 800 112 31 80 2.24 30
14 Adon 0.75 1.000 390.4 48 50 1.1 100
15 Icis 0.5 900 409.8 35.6 25 0.74 100
16 Cilan 1 400 146.8 43.2 50 0.1 100
17 Hidayat 1 1.000 174.2 26 50 0.15 200
18 Enan 0.5 1.000 311.4 20.4 50 2.16 40
19 Asmur 1 900 155.8 33 50 0.1 100
20 Karsim 0.8 900 231.6 45.2 50 0.5 200
21 Madhawi 0.4 400 142 26 20 0.16 30
22 Asim 0.5 1.000 104.6 27.4 50 0.25 100
23 Mamat 0.4 900 141.4 46 30 0.24 150
24 Enong 0.4 500 155.4 18.2 20 0.32 50
25 Amud 1 800 157.2 36 50 0.2 200
26 Murdi 0.5 1.500 141.2 154 60 0.24 200
27 Hardi 0.1 400 141.4 50 0.1 30
28 Ganda 0.5 800 174.2 26.4 30 5.24 100
29 Keming 0.6 500 125.8 35 80 4.1 100
30 Dulhamid 1 800 192.4 28 50 200
31 Sadum 0.4 200 413 40 0.1 80
32 Kadim 0.4 500 162.2 17.4 50 1.05 80
33 Misjah 0.5 280 173.8 37.6 40 80
34 Iwan 2 1.000 172.6 48 50 2.15 200
35 Sahir 0.5 200 109 30 0.15
36 Walim 0.5 500 114.6 15.2 40
37 Narmin 0.6 150 30 0.05
38 Neman 0.5 500 195.4 26 30 0.2 80
39 Namun 1 700 166.2 80 7
40 Samad 0.5 200 20 0.1
Rata-rata 0.75 954.75 178.03 36.25 45 1.27 83.1
Rata-rata per Hektar 1273 237.37 48.34 60 1.7 110.8


Lampiran 6. Pengeluaran Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya
Musim Tanam November-April Tahun 2005

Tenaga Kerja Saprotan
No Nama
Luas
(ha)
Produksi
(Kg)
Dalam RT Luar RT Benih Pestisida Pupuk
1 Sakam 1.5 1.500 1,119,600,- 264,000,- 120,000,- 46,000,- 130,000,-
2 Acim 0.75 500 634,800,- 60,000,- 48,000,- 104,000,-
3 Madhari 1 1.500 902,400,- 156,000,- 120,000,- 80,000,-
4 Ladi 0.5 400 1,032,000,- 164,400,- 120,000,- 69,000,- 140,000,-
5 Kiwan 0.5 400 900,000,- 183,600,- 120,000,- 33,000,- 175,000,-
6 Walim 1 200 508,800,- 168,000,- 120,000,- 33,000,- 175,000,-
7 Kamin 1 2.500 1,323,600,- 222,000,- 120,000,- 15,000,- 150,000,-
8 Natong 1 800 1,178,400,- 174,000,- 60,000,- 30,000,-
9 Onang 1 1.000 496,800,- 56,000,-
10 Rakim 2 1.300 1,617,600,- 230,400,- 240,000,- 33,000,-
11 Bodeh 0.5 500 753,600,- 240,000,- 56,000,- 74,000,- 60,000,-
12 Ayat 0.4 500 703,200,- 72,000,- 29,500,- 60,000,-
13 Aman 1 800 672,000,- 186,000,- 192,000,- 60,000,- 72,000,-
14 Adon 0.15 1.000 2,342,400,- 288,000,- 75,000,- 55,000,- 130,000,-
15 Icis 0.5 900 2,458,800,- 213,600,- 60,000,- 80,000,- 150,000,-
16 Cilan 1 400 880,800,- 259,200,- 70,000,- 22,000,- 135,000,-
17 Hidayat 1 1.000 1,045,200,- 156,000,- 120,000,- 30,000,- 300,000,-
18 Enan 0.5 1.000 1,868,400,- 122,400,- 120,000,- 48,000,- 140,000,-
19 Asmur 1 900 934,800,- 198,000,- 74,000,- 22,000,- 160,000,-
20 Karsim 0.8 900 1,389,600,- 271,200,- 72,000,- 108,000,- 272,000,-
21 Madhawi 0.4 400 852,000,- 156,000,- 48,000,- 30,000,- 60,000,-
22 Asim 0.5 1.000 627,600,- 164,400,- 70,000,- 60,000,- 175,000,-
23 Mamat 0.4 900 848,400,- 276,000,- 72,000,- 45,000,- 250,000,-
24 Enong 0.4 500 932,400,- 109,200,- 48,000,- 60,000,- 7,000,-
25 Amud 1 800 943,200,- 216,000,- 70,000,- 44,000,- 150,000,-
26 Murdi 0.5 1.500 847,200,- 924,000,- 144,000,- 40,000,- 300,000,-
27 Hardi 0.1 400 848,400,- 70,000,- 72,000,-
28 Ganda 0.5 800 1,045,200,- 158,400,- 72,000,- 89,000,- 150,000,-
29 Keming 0.6 500 754,800,- 210,000,- 192,000,- 122,000,- 175,000,-
30 Dulhamid 1 800 1,154,400,- 168,000,- 120,000,-
31 Sadum 0.4 200 2,478,000,- 56,000,- 22,000,- 130,000,-
32 Kadim 0.4 500 973,200,- 104,400,- 70,000,- 21,000,- 56,000,-
33 Misjah 0.5 280 1,042,800,- 225,600,- 112,000,-
34 Iwan 2 1.000 1,035,600,- 288,000,- 70,000,- 51,000,- 300,000,-
35 Sahir 0.5 200 654,000,- 42,000,- 33,000,-
36 Walim 0.5 500 687,600,- 91,200,- 56,000,-
37 Narmin 0.6 150 42,000,- 11,000,-
38 Neman 0.5 500 1,172,400,- 156,000,- 30,000,- 44,000,- 70,000,-
39 Namun 1 700 997,200,- 112,000,- 315,000,-
40 Samad 0.5 200 28,000,- 22,000,-
Rata-rata 0.75 954 1,016,430,- 168,600,- 89,275,- 54,985.- 146,482,-
Rata-rata per Hektar 1273 1,355,240,- 224,800,- 119,033,- 73,313,- 195,309,-