Anda di halaman 1dari 15

RINGKASAN

BAB DUA PULUH DELAPAN


KRISTALISASI



Disusun oleh

Rizki Hariyandi / 110140006
Hayati Putri Melati Ginting / 110140008
Etty Centaury Siregar /110140016
Ika Fitrianti / 1100140026
Ani Saadah / 110140028
Lizaul Qadri / 080140038

OPERASI TEKNIK KIMIA II
UNIVERSITAS MALIKUSSALEH
2013
KRISTALISASI

Kristalisasi atau penghabluran ialah proses embentukan partikel-partikel
zat padat didalam suatu fase homogen. Kristalisasi dapat terjadi sebagai
pembentukan partikel padat didalam uap, seperti dalam hal pembentukan salju,
sebagai pembekuan dadalam lelehan cair sebagaimana dalam pembuatan kristal
tunggal yang besar, atau kristalisasi dari larutan cair.
Kristalisasi dari larutan sangatlah penting dalam idustri karena banyaknya
ragam bahan yang dipasarkan dalam bentuk kristal.penggunaannya sangat luas
karena kristal yang terbentuk dari larutanyang tak murni selalu murni (kecuali
jika terjadi pembentukan kristal campuran), dan kristalisasi merupakan metode
yang praktis untuk mendapatkan bahan-bahan kimia murni dalam kondisi yang
memenuhi syarat untuk pengemasan dan penyimpanan.

Pentingnya ukuran kristal
Tujuan utama dalam kristalisasi adalah untuk mendapatkan perolehan
yang memuaskan serta kemurnian yang tinggi, tetapi rupa dan jangkau ukuran
kristal juga cukup menentukan dalam kristal hasil.

Geometri kristal
Kristal adalah suatu benda mati yang sangat terorganisasi. Kristal dicirikan
oleh kenyataan bahwa partikel-partikel pembentuknya yang tersusun dalam suatu
ssunantiga dimensi yang beraturan yang disebut kisi (lattice).
Sistem kristalografi
Oleh karena semua kristal dari setiap bahan tertentu mempunyai sudut
antar muka yang sama walaupun terdapat perbedaan besar dalam tingkat
perkembangan masing-masing muka, bentuk kristal diklasifikasikan atas dasar
sudut-sudut ini, yaitu: kubus, hexagonal, trigonal,tetragonal, otorombik, monoklin
dan triklin.
Kristal invarian
Pada keadaan ideal, kristal yang tumbuh setiap memelihara keserupaan
geometriknya selama pertumbuhan. Kristal demikian disebut kristal invarian.

Ukuran kristal dan faktor bentuk
Satu dimensi saja sudah cukup untuk menentukan ukuran kristal invarian,
bagaimanapun bentuknya.
Pada kebanyakan kristalisator, kondisinya tentulah tidak ideal, dan
pertumbuhan kristal itu jauh dari invarian. Dalam kasus ekstrem, satu mka
mungkin tumbuh jauh lebih cepat dari muka yang lain, sehingga menghasilkan
kristal yang panjang dan berbentuk jarum, namun, konsep pertumbuhan invarian
itu ssangat bermanfaat dalam menganalisis proses kristalisasi.

PRINSIP KRISTALISASI
Kristalisasi dapat dianalisi dari kemurnian, perolehan, kebutuhan energi,
laju nukleasi dan laju pertumbuhan.

Kemurnian hasil
Kristal yang baik, terbentuk dengan baik, biasanya hampir murni, tetapi
masih mengandung cairan nduk bila dikeluarkan dari magma akhir, dan jika
panen itu mengandung agregat kristal, massa zat padat tu mungkin mengandung
cairan induk bersama kristal. Bila cairan induk yang terkandung yang
kemurniannya rendah itu dikeringkan, terjadi kontaminasi, dan derajat
kontaminasi ini bergantung pada banyak dan derajat kemurnian cairan induk yang
terkandung bersama kristal.
Dalam praktenya, sebagian besar cairan induk yang terkandung itu
dipisahkan dari kristal dengan cara filtrasi dan sentrifugasi, sedang sisanya
dikeluarkan dengan mencucinya dengan pelarut segar.efektivitas langkah
pemurnian bergantung pada ukuran dan keseragaman kristal.

Keseimbangan dan Perolehan
Keseimbangan dalam proses kristalisasi dapat dicapai bila larutan itu
jenuh, dan hubungan keseimbangan untuk kristal lindak adalah kurva kelarutan.
Banyak bahan anorganik yang penting-penting mengkristalisai dengan air kristal.
Pada beberapa sistem, terbentuk beberapa macam hidrat, bergantung pada
konsentrasi dan suhu, dan keseimbangan dalam sistemitu bisa sangat murni.

Perolehan
Pada kebanyakan proses kristaalisasi, kristal dan cairan induk berada pada
waktu yang cukup lama sehingga mencapai keseimbangan, dan cairan induk itu
jenuh pada suhu akhir proses itu. Perolehan dari proses itu dapat dihitung dari
konsentrasi larutan awal dan kelarutan pada suhu akhir. Jika selama proses itu
terjadi penguapan yang sangat besar, kuantitasnya harus siketahui atau dapat
diperkirakan. Bila laju pertumbuhan kristal itu lambat, diperlukan waktu yang
agak panjang untuk mencapai keseimbangan. Hal ini sangat besar bila larutan itu
viskos sehingga sangat sedikit saja permukaan kristal yang terkena larutan lewat
jenuh. Dalam kondisi demikian cairan induk akhir mungkin sangat jenuh, dan
perolehan yang didapat akan lebih kecil dari menurut hasil perhitungan dari kurva
larutan.
Jika kristal itu bebas air, perhitungan perolehan itu sederhana, karena fase
padat tidak mengandung pelarut. Bila panen itu mengandung air kristalisasi, air
yang terdapat bersama kristal itu harus diperhitungkan, karena air ini tidak
terkandung didalam larutan. Dat kelarutan itu biasanya diberikan sebagai bagian
massa bahan bebas air per seratus bagian dari massa pelarut total atau dalam
persen massa zat terlarut bebas air.
Neraca entalpi
Kalor kristalisasi sangat diperlukan dalam perhitungan neraca kalor untuk
kristalisasi. Kalor ini adalah kalor laten yang keluar karena pembentukan zat padat
dari larutan. Biasanya kristalisasi itu eksoterm, dan kalor kristalisasi itu berubah
menurut suhu dan konsentrasi.
Keadaan lewat jenuh
Neraca massa dan entalpi tidak dapat memberikan tentang distribusi
ukuran kristal (CSD) hasil yang keluar dari kristalisator. Hukum kekekalan tidak
akan berbeda baik untuk kristal kecil maupun kristal besar.
Dalam pembentukan kristal diperlukan dua langkah: (1) Lahirnya suatu
partikel baru (nukleasi) dan (2) Tumbuhnya partikel itu menjadi sesuatu yang
makroskopik. Laju nukleasi dan laju pertumbuhan tidak dapat berlangsung dalam
larutan jenuh maupun tak-jenuh. Keadaan lewat jenuh bisa diciptakan dengan
salah satu dari tiga metode. Jika kelarutan zat terlarut itu meningkat banyak
dengan kenaikan suhu, larutan jenuh menjadi lewat jenuh hanya dengan
pendinginan dan penurunan suhu. Jika pengaruh kelarutan terhadap suhu relatif
kecil kita dapat menciptakan larutan lewat jenuh dengan menguapkan sebagian
pelarut. Jika kita tidak menginginkan pendinginan atau penguapan, misalnya bila
kelarutannya sangat tinggi, keadaan lewat jenuh dapat dibuat dengan
menambahkan komponen ketiga.
Satuan untuk keadaan lewat jenuh
Keadaan lewat jenuh adalah selisih konsentrasi antara larutan lewat jenuh
dimana kristal bertumbuh dengan konsentrasi larutan yang dalam keseimbangan
dengan kristal. Keadaan lewat jenuh dapat didefenisikan oleh persamaan:
y y - y
s

c c - c
s

Dimana:
y =lewat jenuh, fraksi mol zat terlarut
Y = fraksi mol zat terlarut di dalam larutan
y
s
= fraksi mol zat terlarut di dalam larutan jenuh
c = lewat jenuh molar, mol per satuan volume
C = konsentrasi mol zat terlarut di dalam larutan
c
s
= konsentrasi molar zat terlarut di dalam larutan jenuh
keadaan diatas dihubungkan oleh persamaan
c =
M
y
s
y
s

Dimana
M
dan
s
masing-masing ialah densitas molar larutan dan larutan
jenuh. Karena pada kristalisator
M
dan
s
dapat dianggap sama, maka:
c =
M
y
Rasio konsentrasi dan lewat-jenuh fraksional s didefenisikan oleh:

= 1 +

= 1 +

1 + s
Lewat jenuh biasanya dinyatakan dalam beda-suhu ekivalen dan bukan
dalam beda konsentrasi.

Nukleasi
Laju nukleasi ialah banyaknya partikel baru yang terbentuk persatuan
waktu persatuan magma atau larutan induk bebas zat padat. Besaran ini
merupakan parameter kinetik pertama yang mengendalikan CSD(distribusi ukuran
kristal).
Asal kristal dalam kristalisator
Nukleasi dibagi menjadi tiga kelompok yaitu, nukleasi palsu, nukleasi primer dan
nukleasi sekunder.
Salah satu asal kristal adalah atrisi makroskopik, yang lebih berdekatan
dengan kominusi dari pada nukleasi. Atrisi adalah salah satunya sumber kristal
baru yag tidak bergantung padda lewat jenuh.

Nukleasi palsu
Nukleasi palsu yang berhubungan dengan pertumbuhan terjadi bila
keadaan lewat jenuh itu besar. Cirinya ialah terdapatnya pertumbuhan abnormal
berupa jarum atau sungut pada ujung ujung krisal. Proses ini disebut pembiakan
jarum. Bentuk nukleasi palsu dapat dihindarkan dengan menumbuhkan kristal itu
pada lewat jenuh rendah da dengna menggunakanpompa dan agitator yang
dirancang baik da dioperasikan sebagaimana mestinya.
Nukleasi primer
Pada dasarnya fenomena nukleasi sama dengan peristiwa kristalisasi dari
larutan, kristalisasi dari cairan, kondensasi tetesan kabut didalam uap yang lewat
dingin, dan pembangkit gelembung didalam zat cair panas lanjut.dalam semua hal
itu, nukleasi merupakan akibat dari fluktuasi lokal yang berlangsung cepat pada
skala molekul didalam fase homogen yang berada pada ketimbangan metastabil,
fenomena dasarnya disebut nukleasi homogen. Variasi dari nukleasi homogen
terjadi apabila partikel zat padat asing masih mempengaruhi proses nukleasi
dengan mengkatalisasi laju pertambahan nukleaasi pada suatu keadaan lewat
jenuh tertentu atau memberikan suatu laju tertentu pada lewat jenuh dimana
nukleasi homogen hanya akan berlangsung sesudah memakan waktu yang lama
proses ini disebut nukleasi heterogen.
Inti kristal dapat terbentuk dari berbagai jenis partikel molekul, atom atau
ion. Inti-inti itu berada dalam kesetimbangan tak stabil. Jadi, urutan tahap evolusi
kristal adalah
Gerombolan (klaster) embrio inti(nukleasi) kristal
Keseimbangan
Kristal kecil dapat berada dalam keseimbangan dengan larutan lewat
jenuh. Keseimbangan itu tidak stabil, oleh karena jika disitu terdapat pula kristal
besar, kristal kecil akan larut dan kristal besar akan tumbuh hingga kristal kecil
besar akan tumbuh hingga kristal kecil itu akan pupus . fenomena ini disebut
pematangan otswald. Pengaruh ukuran partikel terhadap kelarutan merupakan
faktor yang menentukan dalam nukleasi.
Kelarutan suatu zat dihubungkan dengan ukuran partikelnya oleh persamaan
kelvin
ln =
4


dimana,
L = ukuran kristal
= rasio konsentrasi larutan lewat jenuh dan larutan jenuh

= volume molar kristal


= tegangan antar muka rata-rata antara zat padat dan zat cair
v= banyaknya ion per molekul zat terlarut (untuk kristal molekular v=1)

laju nukleasi dinyatakan dalam persamaan berikut
B = C exp [-
16
3

2
3
2
()
3
(ln )
2

Dimana,
B= laju nukleasi, jumlah /
3
-det

=tetapan avogadro 6,0222 x10


23
molekul / g. Mol
R = tetapan gas 8,3143 x 10
7
erg/g mol-k
C= faktor frekuensi

Nukleasi sekunder
Pembentukan inti yang dapat dikatakan dipengaruhi oleh kristal kristal
makroskopik yang sudah ada didalam magma dinamakan nukleasi sekunder.
Nukleasi sekunder dikenal dua macam yaitu nukleasi yang disebabkan digeser
oleh fluida dan nukleasi yang disebabkan oleh tubrukan antar sesama kristal yang
ada.
Pertumbuhan Kristal
Pertumbuhan kristal adalah suatu proses difusi, yang dimodifikasi oleh
pengaruh permukaan padat tempat pertumbuhan itu berlangsung. Molekul-
molekul atau ion-ion zat terlarut mencapai muka kristal yang bertubuhan itu
dengan cara difusi melalui fase zat cair. Koefisien perpindahan massa yang biasa,
yaitu

, berlaku pada langkah ini. Setelah mencapai permukaan, molekul atau


ion itu harus ditampung oleh kristal dan disusun di dalam kisi ruang. Reaksi ini
berlangsung dengan laju tertentu pada permukaan dan keseluruhan proses itu
terdiri dari dua langkah.
Koefisien pertumbuhan individu dan menyeluruh. Dalam oprasi
perpindahan massa biasanya diandaikan bahwa terdapat keseimbangan pada antar
muka kedua fase.
Koefisien perpindahan massa dapat ditulis:

(28-12)
Dimana :

= fluks molar, mol per satuan waktu per satuan luas


m = laju perpindahan massa, mol/jam

= luas permukaan Kristal


= koefisien perpindahan massa


Koefisien untuk reaksi permukaan

diberikan oleh

(28-13)
Tahanan dari kedua langkah itu dapat berjumlahkan untuk memberikan
koefisien meyeluruh K yang didefinisikan oleh

(28-14)
Eliminasi y, dari persamaan (28-12) dan (28-13) diikuti dengan subsititusi
dalam persamaan (28-14) menghasilkan
=
1
1/

+ 1/

(18-15)
Laju pertumbuhan. Untuk Kristal invariant volume kristal

sebanding
dengan kubus yang panjang karakteristiknya L, yaitu

=
3
(28-16)
Dimana a ialah suatu tetapan. Jika M ialah densitas molar, massa kristal
m menjadi
=

=
3

(28-17)
Diferensial persamaan (28-17) terhadap waktu memberikan
=

3
2

(28-18)
Laju pertumbuhan dL/dt ditandai dengan lambing G.
Dari persamaan 28-2),

= 6

/ = 6
2
subsititusi ini terhadap

dan
dari persamaan (28-18) ke dalam persamaan (28-14) memberikan
=
3
2

6
2

(28-19)
Sehingga
=
2


Koefisien perpindahan massa. Untuk partikel berbentuk bola, koefisien
perpindahan massa

dapat kita ramalkan dengan menggunakan persamaan (21-


53)
Koefisien pertumbuhan permukaan. Sudah banyak penelitian mengenai
pertumbuhan Kristal dengan reaksi antarmuka yang dilakukan dan dilaporkan
dalam monograf standar tentang kristalisai.
Salah satu teori yang didasarkan atas konsep bahwa pertumbuhan itu
berlangsung lapis demi lapis pada permukaan kristal, dan bahwa setiap lapisan
baru mulai sebagai inti dua dimensi yang melekat pada permukaan itu.
Selisih antara laju pertumbuhan menurut pengamatan dan yang menurut
teori telah dijelaskan oleh teori dislokasi-sekrup Frank (Frank screw-dislocation
theory) kisi ruang sebenarnya pada kristal nyata jauh dari pada sempurna, dan
kristal banyak mempunyai ketaksempurnaan yang disebut dislokasi (dislocation).
Persamaan laju pertumbuhan. Metode umum untuk menaksir nilai

tidak
ada. Untuk laju pertumbuhan Kristal yang disinggung dalam pembahan mengenai
nukleasi didapatkan bahwa untuk zat anorganik yang terhidrasi
=
1
(28-21)
Untuk Kristal organik
=
1

2
/
(28-22)
Laju pertumbuhan semua Kristal bergantung pada suhu dan mematuhi
persamaan Arrhenius
=
3

/
(28-23)
Hukum L tentang pertumbuhan kristal. Jika semua kristal dalam megma
tumbuh dalam bidang lewat jenuhya yang seragam dan pada suhu yang sama, dan
jika semua kristal itu tumbuh sejak mula menurut persamaan (28-21) atau (28-22),
maka semua kristal itu tidak saja akan invarian, tetapi akan mempunyai laju
pertumbuhan yang sama tidak bergantung pada ukuran kristal. Pertumbuhan ini
disebut hukum L. Bila berlaku Gf (L), pertumbuhan total masing-masing
kristal didalam magma selama interval waktu t yang sama adalah sama, dan
= (28-24)
Bila persamaan (28-24) tidak berlaku, G = f (L) dan pertumbuhan itu
dikatan bergantung besarnya kristal (size dependent). Mungkin karena kesalahan-
kesalahan yang saling menghapus, hukum L cukup tetap dalam berbagai situasi
sehingga dapat diguakan, dan dengan demikian dapat menyederhanakan
perhitungan pada proses-proses industri.
Peralatan Kristalisasi
Kristalisasi komersial ada yang berporasi secara kontinu (sinambung) dan
ada pula lebih disukai. Persyaratan pertama dari setiap katalisator ialah
kemampuan membuat larutan lewat jenuh, karena kristalisasi tidak akan dapat
berlangsung tanpa lewat jenuh.
Ada 3 metode yang dapat digunakan untuk membuat keadaan lewat jenuh,
bergantung terutama pada sifat kurva larutan zat terlaru
1. Zat terlarut seperti kalium nitrat dan natrium sulfit sangat tidak mudah
terlarut pada suhu rendah dibandingkan dengan suhu tinggi, sehingga
lewat jenuh dapat diciptakan hanya dengan pendinginan.
2. Bila larutan dapat dikatakan tidak tergantung pada suhu, bagaimana halnya
pada garam dapur, atau berkurang bila suhu dinaikkan, keadaan lewat
jenuh dapat dibuat dengan penguapan (evaporasi) .
3. Dalam kasus antara, kombinasi antara evaporasi dan pendinginanlah yang
efektif.

Macam- macam Kristalisasi
Kristalisator komersial dapat pula dibeda-bedakan menurut beberapa cara.
Salah satu perbedaan adalah dalam caranya kristal itu dikontakkan dengan zat cair
jenuh. Dalam teknik pertama, yang disebut metode zat cair sirkulasi (circulating-
liquid method) , arus larutan lewat jenuh dilewatkan melalui hamparan fluidisasi
yang terdiri dari kristal-kristal yang sedang bertumbuh, dimana kelewt jenuhan
dilepaskan dengan nukleasi dan pertumbuhan. Dalam teknik kedua yang disebut
metode magma-sirkulasi (circulating-magma metod) keseluruhan magma itu
disirkulasi melalui langkah kristalisasi maupun langkah lewat jenuh tanpa
pemisahan zat cair dari zat padat. Pada kedua metode itu larutan umpan
ditambahkan ke dalam arus sirkulasi antara zone supersaturasi (pembuatan lewat
jenuh).
Banyaknya katalisator mempunyai suatu cara pengadukan untuk
memperbaiki laju pertumbuhan, mencegah pemisahan larutan lewat jenuh yang
menyebabkan terjadinya nuklesi yang berlebihan, secara untuk menjaga kristal-
kristal agar tetap berata dalam suspensi dikeseluruhan zone kristalisasi.
Satu keuntunag dari unit sirkulasi paksa yang menggunakan pemanas luar
adalah bahwa beberapa unit yang identik dapat lalu dihubungkan dalam efek
berganda dengan menggunakan uap dari satu unit untuk memanaskan unit
berikutnya dalam deretan itu, sistem seperti ini dinamakan evaporator-
kristalisator (evaporator-crystallizer).

Katalisatoer Vakum
Kebanyakan katalisator modren termasuk dalamkatagori unit vakum
dimana digunakan pendinginan evaporasi adiabatik untuk meciptakan keadaan
lewat jenuh, katalisator itu berupa suatu bejana tertutup dimana vakum dijaga
dengan kondensor. Larutan jenuh yang panas yang suhunya jauh diatas titik didih
pada tekanan didalam katalisator diumpankan ke dalam bejana. Larutan umpan
mendingin secara spontan menjadi suhu keseimbangan. Keadaan lewat jenuh yang
dibangkitkan oleh pendinginan dan penguapan itu menyebabkan timbulnya
nukleasi dan pertumbuhan.magma hasil dikeluarkan dari kristalisator.
Sebuah kristalisator vokum kontinu dengan unit pelengkap yang
konvensional untuk mengumpan unit dan mengolah magma yang dihasilkan .
Magma disirkulasi dari dasar kristalisator. Yang berbentuk kerucut,memalui pipa
turun ke pompa sirkulasi, mengalir ke atas melalui pemanas tabung vertikal yang
dipananskan oleh uap yang kondensasi di dalam selongkongan dan kemudian ke
dalam tabung alat. Uap panas masuk melalui pemanas tangensial.
Larutan umpan masuk ke dalampipa turun disedot oleh pompa di sedot
oleh pompa sirkulasi cairan induk dan kristal ditarik keluar melalui pipa pengeluar
yang ditempatkan di ataspemasuk umpan di dalam pipa turun. Cairan induk
dipisahkan dari kristal di dalam pemisah- sentrifugal kontinu; kristal dibawa
keluar ebagai hasil atau untuk diolah lebih lanjut, dan cairan induk didaurkan
kembali ke dalam pipa turun.
Kristalisator vakum dalam bentuknya yang sederhana mempunyai
keterbatasan dari segi kristalisasi. Pada tekanan rendah seperti yang terdapat di
dalam unit, pengaruh tinggi-tekan statik terhadap titik didih cukup penting.
Misalnya, air pada 45
o
F mempunyai tekanan uap 0,30 in , Hg, yang merupakan
tekanan yang dapat yang dapat dicapai dengan mudah didalam penggalak jek-uap.
Tinggi-tekan statik besar 1 ft akanmeningkatkan tekanan absolut menjadi 1,18 in.
Hg dimana titik didih air adalah 84
o
F. Umpan pada suhu ini tidak akan mengalami
kilatan jika dimasukkan pada titik yang lebih dari 1 ft di bawah permukaan
magma.

Kristalisator Tabung-Jujut-Sekat
Alat yang lebih efektif dan serbaguna ialah kristalisator tabung-jujut-sekat
(draft-tube-baffle) .Tubuh kristal sator ini diperlengkapi dengan tabung-jujut,
yang juga berfungsi sebagai sekat untuk memberikan sirkulasi magma, dan
agitator propeler yang mengarah kebawah untuk memberikan sirkulasi yang
terkendali di dalam kristalisator.
Kristalisator tabung-jujut-sekat dapat pula diperlengkapi lagi dengan kaki
elutriasi di bawah tubuh untuk mengklasifikasi kristal menurut ukuran, dan dapat
pula dilengkapi dengan zone pengendapan yang bersekat untuk pengeluaran
halusan.
Perolehan dan Kristalisator Vakum
Perolehan dari kristalisator vakum dapat dihitung dengan neraca entalpi
dan neraca bahan. Kalkulasi grafik yang didasarkan atas grafik. Proses merupakan
pembelahan adiabatik umpan itu menjadi magma hasil dan uap, maka titik b untuk
umpan, amagma uap, dan e untuk magma terletak pada satu garis lurus. Isotrem
yang menghubungkan titik d untuk krstal dengan titik f untuk cairan induk juga
melalui titik e, dan titik ini di tentukan letaknya oleh perpotongan antara garis ab
dan df. Dari segmen garis dan prinsip titik berat, rasio sebagai arus itu dapat
dihitung.
Contoh soal: sebuah kristalisator kontinu di umpankan dengan larutan MgSO
4
31
persen. Suhu keseimbangan magma di dalam kristalisator itu adalah 86
o
F (30
o
C)
dan kenaikan titik didih larutan adalah 2
o
F (1,11
o
C). Mgma yang dihasilkan ialah
5 ton (4,536 kg) MgSO
4
7H
2
perjam. Rasio volume zat padat terhadap magma
adalah 0,15 densitas kristal dan cairan induk masing-masing adalah 105 dan 82,5
lb/ft
3
. Berapakah suhu umpan ,laju umpan, dan laju evaporasi ?
Penyelesaian :
Rasio massa kristal terhadap cairan induk adalah
0,15 105
0,85 82,5
= 0,224
Larutan produksi cairan induk adalah 10.000/224 =44.lb/jam, magma total
yang dihasilkan adalah 10,000 + 44,520=54,520 lb/jam .Kosentrasi rata-rata
MgSO
4
di dalam magma adalah;
0,224 0,448+0,285
1,224
= 0,322
Entalpi magma adalah
54,520
12 149(49)
1,224
= 62,4 Btu/lb
Menurut prinsip titik berat, laju evaporasi adalah
54,520
21 (62, 4)
1098(21)
= 2,017

(915

)
Laju umpan total adalah 54,520 + 2,017 = 56,537 lb/jam (25, 645 kg/jam)

PENERAPAN PRINSIP PADA BIDANG RANCANG
Dalam pengerjaan ini dilakukan perkiraan terhadap CSD (ditribusi ukuran
kristal) dan diidealisasikan oleh oleh model suspensi campur pengeluaran hasil
campur (mixed suspension mixed product-removal model) atau disingkat dengan
MSMPR.
Kristalisator MSMPR beroprasi dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
Operasi dalam keadaan steady
Kristalisator selalu berisi magma suspensi campuran tanpa klasifikasi hasil
Magma memiliki keadaan lewat jenuh yang seragam
Tidak mengunakan sisitem klasifikasi menurut ukurannya
Umpan tidak mengandung kristal
Magma hasil keluar katalisator dalam keadaan seimbang
Tidak ada kristal yang pecah menjadi partikel dalam ukuran tertentu
Model MSMPR dapat dikembangkan sehingga mencakup opresai keadaan
Non Steady dengan menggunakan penurunan berikut
Densitas populasi ialah kemiringan kurva distribusi kumulatif pada
ukuran L ,atau :
n =
(

=
1


Dimana :
n : Jumlah atau Volume panjang

Untuk menetukan umur kristal dalam model MSMPR menggunakan
persamaan:
L = G t
m
Persamaan momen merupakan hubungan fundamental dalam katalisator
MSMPR,
Koefisien kinetik yaitu jumlah kristal n
c
persatuan massa volume zat cari
, maka diperoleh persamaan :
n
c
= =

0
=
Jika ukuran terbanyak digunakan sebagai parameter rancang, maka :

=
9
2 ()