Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam upaya menjadikan subsektor peternakan sebagai pendorong
kemandirian Pertanian Nasional, dibutuhkan terobosan pengembangan sistem
peternakan. Dalam percepatan penciptaan bibit unggul ternak, aplikasi
bioteknologi reproduksi pada taraf rekayasa proses dan rekayasa genetik seperti
MOET (Multiple Ovulation and Embyo Transfer) , IVF (In Vitro Vertilization),
transfer inti, menjadi pilihan strategis yang sangat tepat.
Ternak sapi secara alami hanya dapat menghasilkan anak 6-8 ekor sepanjang
hidupnya, meskipun sebenarnya memiliki puluhan ribu potensi oosit. Dalam
ovarium sapi terdapat sekitar 140.000 oosit sampai sapi mencapai umur empat
sampai enam tahun dan kemudian jumlahnya menurun sampai 25.000 pada umur
10 sampai 14 tahun dan mendekati nol pada umur 20 tahun.
Potensi oosit sapi yang cukup banyak tersebut dapat dioptimalkan dengan
introduksi bioteknologi reproduksi antara lain melalui superovulasi (SOV),
sehingga sapi unggul dapat menghasilkan anak jauh lebih banyak semasa
hidupnya. Superovulasi adalah upaya stimulasi perkembangan folikel dan induksi
ovulasi ganda dengan penggunaan hormonal seperti gonadotrophin.
Salah satu masalah utama dalam program transfer embrio adalah tingginya
variabilitas respon terhadap superovulasi pada induk donor. Padahal kuantitas
dan kualitas embrio donor sangat berpengaruh terhadap keberhasilan transfer
embrio. Superovulasi merupakan kunci keberhasilan transfer embrio dan tidak
hanya ditentukan oleh tingginya laju ovulasi dan jumlah embrio yang diperoleh,
tetapi superovulasi dipengaruhi juga oleh berbagai faktor seperti faktor-faktor
yang mempengaruhi respon superovulasi pada induk donor, faktor yang
mempengaruhi fertilisasi dan viabilitas embrio serta faktor yang berhubungan
2

dengan manajemen induk donor. Hormon yang umum digunakan untuk
menginduksi superovulasi pada sapi adalah Follicle Stimulating Hormone (FSH)
yang berasal dari hipofisa. FSH merupakan hormon glikoprotein yang
mempunyai waktu paruh yang pendek, sehingga memerlukan pemberian secara
berulang untuk merangsang aktivitas folikel secara lebih efisien. Berbagai
penelitian pengaruh pemberian hormon terhadap respon superovulasi pada induk
donor telah dilakukan yaitu dengan menggunakan PMSG, FSH Ovagen, FSH-
PTM (FSH from pituitary) baik pada sapi potong maupun sapi perah .
Berdasarkan latar belakang tersebut, memerlukan pembahasan lebih lanjut.
1.2. Tujuan
1. Mengetahui fungsi dari pengaplikasian teknik super ovulasi dan induksi
ovulasi.
2. Mengetahui hormon- hormon yang di gunakan dalam teknik super ovulasi.
3. Mengetahui cara melakukan superovulasi dan induksi ovulasi pada ternak.
1.3. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud superovulasi?
2. Hormon apa saja yang digunakan dalam teknik superovulasi?
3. Faktor apa saja yang dapat mempengaruhi keberhasilan superovulasi?
4. Bagaimana tingkat keberhasilan teknik superovulasi?









3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Superovulasi adalah ovulasi sejumlah besar ovum dari seekor betina pada
suatu saat dengan penggunaan berbagai hormone. Hormone-hormon tersebut
adalah Pregnant Mare Serum (PMSG) atau Follicle Stimulating Hormone (FSH),
untuk merangsang pertumbuhan folikular yang di ikuti oleh luteinizing hormone
(LH) atau human chorionic gonadotrophin (HCG) untuk merangsang ovulasi
(Frandson,1992)
Sampai saat ini terdapat 2 tipe hormon yang paling sering digunakan untuk
tujuan superovulasi yakni pregnant mare serum gonadotrophin (PMSG) dan
follicle stimulating hormone (FSH). Kedua hormon ini masing-masing
mempunyai kelebihan dan kekurangan. Bila dibandingkan dengan penggunaan
PMSG, respon ovarium terhadap hormon FSH biasanya lebih baik karena lebih
banyak menghasilkan ovulasi, jumlah folikel anovulasi lebih sedikit, lebih banyak
embrio yang dapat diperoleh, dan kualitas embrio lebih baik. Kelemahan dari
FSH adalah dapat sukar diperoleh di pasar domestik, harganya relatif mahal, dan
pemberiannya harus berulang-ulang sehingga mengakibatkan stress dan
menurunkan kualitas embrio (Putro, 1996).
Menurut Hunter (1995), hormon yang umum digunakan untuk menginduksi
superovulasi pada sapi adalah Follicle Stimulating Hormone (FSH) yang berasal
dari hipofisa. FSH merupakan hormone glikoprotein yang mempunyai waktu
paruh yang pendek, sehingga memerlukan pemberian secara berulang untuk
merangsang aktivitas folikel secara lebih efisien. Tahapan superovulasi adalah
sebagai berikut:
1. Sinkronisasi berahi; Penyuntikan hormone Prostaglandin (PG) sebanyak 2 kali
dengan jarak waktu 11 hari.
2. Superovulasi; Penyuntikan PMSG pada hari ke-10 setelah terjadi berahi,
dilanjutkan dengan penyuntikan Prostaglandin pada hari ke-2 setelah
4

penyuntikan PMSG dan langsung dicampur dengan pejantan (dilakukan
pengamatan perkawinan).
Faktor intrinsik meliputi genetika (keturunan dan individu hewan yang lebih
atau kurang sensitif terhadap gonadotropin), fisiologis karakteristik (termasuk
usia, kondisi ovarium atau folikular dominasi, dan populasi folikel pada saat
superovulasi), status gizi (tubuh kondisi dan defisit atau kelebihan zat gizi) dan
kondisi sanitasi (ovarium, rahim dan saluran telur patologi).
Faktor ekstrinsik mencakup penggunaan berbeda komersial persiapan FSH
(rekombinan atau hipofisis yang diturunkan FSH dengan berbagai jumlah LH,
EKG, HMG, dan inhibin), dosis, rute dari aplikasi, musim, dan manajemen
pertanian (Sorensen, 1979). Ketat evaluasi pengaruh ini faktor produksi embrio
dapat memberikan kontribusi yang lebih baik merencanakan program transfer
embrio, dengan lebih perhatian diberikan kepada faktor yang paling relevan.
Inisiasi sebuah folikel gelombang menggunakan perawatan ini memungkinkan
awal superstimulation pada tahap acak dari oestrous siklus (Lauria, 1982). GnRH
pengobatan dan ablasi folikel pada setiap tahap dari siklus oestrous menawarkan
keuntungan dari initiating superstimulatory pengobatan segera dan memastikan
bahwa pengobatan bertepatan dengan saat munculnya gelombang folikel
sehingga suatu respon superovulatory yang optimal dapat dicapai. Selanjutnya,
siklus oestrous seluruh tersedia untuk superstimulation, menghilangkan
kebutuhan untuk deteksi estrus dan menunggu 8 sampai 12 hari sebelum
memulai pengobatan gonadotropin (Amstrong, 1983.).
Jumlah embrio ditransfer dikumpulkan tidak meningkat oleh pengobatan
GnRH dan follicular aspirasi 2 hari sebelum superstimulation, meskipun respon
ovulasi meningkat perawatan ini (Lauria, 1982). Efeknya sinkronisasi folikular
dengan GnRH pada horMonal dan folikel respon sebelum dan selama
superovulasi telah ditandai (Lauria, 1982.) tetapi pengaruhnya terhadap produksi
embrio memilikibelum didefinisikan dengan jelas.

5

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil



(gambar 1) (gambar 2)

Keterangan : Gambar 1 ( Hormon FSH untuk injeksi )
Gambar 2 ( Hormon FSH untuk implant)
Metode yang digunakan : Injeksi dan Implan
3.2. Pembahasan
Superovulasi masih merupakan suatu cara yang paling umum digunakan
untuk meningkatkan jumlah keturunan dari sapi betina unggul secara cepat,
selain itu superovulasi sering juga disebut multipleovulasi yaitu salah satu upaya
meningkatkan efisiensi reproduksi, terutama terhadap hewan yang secara alami
tergolong beranak tunggal. Istilah superovulasi lebih populer daripada
multipleovulasi. Pada multipleovulasi cenderung hanya mengacu pada arti
kwantitas atau jumlah yang lebih banyak. Sedang superovulasi dapat meliput
kedua pengertian, yaitu kwantitas dan kwalitas atau lebih baik dan lebih banyak,
dengan pengertian bahwa dalam program superovulasi sekaligus melakukan
6

seleksi, memilih hanya terhadap hewan yang mempunyai nilai genetis superior
(dijadikan induk donor) yang dilipatgandakan jumlah sel telurnya setiap kali
peristiwa ovulasi. Kemudian dilakukan insemenasi buatan, IB (fertilisasi in vivo)
sehingga diperolah embrio dengan kwalitas unggul dan jumlah lebih banyak,
yang selanjutnya dicangkok (transfer embrio) pada induk-induk resipen.
Sementara ini superovulasi baru diterapkan pada spesies sapi dalam program
breeding untuk menunjang pemberdayaan bioteknologi reproduksi transfer
embrio. Berbagai faktor banyak yang mempengaruhi keberhasilan perolehan
embrio, antara lain adalah respon individu dari sapi donor tersebut terhadap
perlakuan hormonal. Respon individu sapi donor banyak dipengaruhi kecermatan
memilih waktu yang tepat, saat terjadinya gelombang folikuler yang terjadi pada
setiap siklus birahi.
Berdasarkan teori masa lalu, gelombang folikuler diperkirakan terjadi pada
pertengahan siklus birahi yang sekaligus pertengahan fase luteal, yaitu berkisar
antara hari ke 9 sampai ke 12 mengacu pada lamanya siklus birahi sapi yang rata-
rata 21 hari (18-24 hari). Hari-hari antara 9-12 itulah yang sementara ini diyakini
sebagai hari-hari baik untuk melaksanakan program superovulasi, yang hasilnya
ternyata juga tidak pasti atau bersifat untung-untungan. Pada penelitian terbaru
ternyata gelombang folikuler tidak selalu terjadi pada petengahan siklus birahi
dan pertengahan fase luteal sebagaimana keyakinan selama ini. Lebih dari itu
gelombang folikuler juga tidak hanya teradi satu kali saja. Tergantung fertilitas
masing-masing individu, pada sapi terdapat tiga pola gelombang folikuler, yaitu
masing-masing satu, dua atau tiga gelombang folikuler .
Superovulasi adalah suatu usaha yang dilakukan untuk mendapatkan ovum
lebih banyak dibandingkan dengan keadaan normalnya dengan memberikan
hormon dari luar , untuk merangsang terjadinya ovulasi ganda, maka diberikan
hormon superovulasi sehingga diperoleh ovulasi sel telur dalam jumlah besar.
Hormon yang banyak digunakan untuk rekayasa superovulasi adalah hormon
gonadotropin seperti Pregnant Mares Serum Gonadotripin (PMSG) dan Follicle
7

Stimulating Hormone (FSH). Penyuntikan hormon gonadotropin akan
meningkatkan perkembangan folikel pada ovarium (folikulogenesis) dan
pematangan folikel sehingga diperoleh ovulasi sel telur yang lebih banyak.
Hormon FSH mempunyai waktu paruh hidup dalam induk sapi antara 2-5 jam.
Pemberian FSH dilakukan sehari dua kali yaitu pada pagi dan sore hari selama 4
hari dengan dosis 28 - 50 mg (tergantung berat badan). Perlakuan superovulasi
dilakukan pada hari ke sembilan sampai hari ke 14 setelah berahi.
Menurut Hunter (1995), FSH berfungsi merangsang pertumbuhan
folikel yang muda menjadi matang, sehingga dapat diovulasikan dan siap
difertilisasi setelah inseminasi. Penyuntikan FSH (pituitary FSH) dengan dosis
menurun dan pada 48 jam sesudahnya diberi pada sapi Holstein juga
menghasilkan jumlah embrio hasil koleksi dan jumlah embrio layak transfer yang
lebih tinggi dibandingkan dengan penyuntikan tunggal (Takedomi et al., 1993).
Dhanani et al. (1991) melakukan penyuntikan FSH terhadap sapi Brahman
menghasilkan jumlah CL rata-rata sebesar 10,6 per induk, jumlah embrio koleksi
sebanyak 7,2 dan jumlah embrio layak transfer sebanyak 5,5 embrio per induk.
Superovulasi di Balai Embrio Ternak sudah lama dilakukan sejak Balai
Embrio Ternak tersebut berdiri. Superovulasi yang telah dilakukan menggunakan
2 metode yaitu metode injeksi dan implan. Metode injeksi dengan menyuntikkan
ternak sapi di bagian subcutan dan metode implant dengan cara memasukkan
sidar yang telah mengandung hormon FSH ke bagian tuba fallopi ternak sapi
tersebut.
Superovulasi dapat diinduksi secara buatan melalui pemberian hormon
gonadotropin eksogen (berasal dari luar tubuh), misalnya Follicle Stimulating
Hormon (FSH) dan Pregnant Mare Serum Gonadotropine (PMSG). Pemberian
hormon tersebut dengan dosis tertentu akan menstimulasi proses pertumbuhan,
perkembangan, pematangan dan ovulasi dari sejumlah besar folikel pada ternak
sapi. Betina donor diinjeksikan setiap hari dengan FSH yang dapat berasal dari
ekstrak hipofise babi dan domba atau dari ekstrak hipofise sapi. Donor tertentu
8

akan memerlukan penambahan LH selain FSH, namun umumnya preparat FSH
yang dijual sudah ditambahkan dengan LH. (Lopez, 2005)
Preparat hormon yang sudah sering digunakan dan diteliti untuk
superovulasi adalah preparat hormon PMSG.Tetapi memiliki beberapa efek
samping yang dapat menyebabkan gangguan reproduksi seperti terjadinya folikel
sistik. Dosis yang terlalu tinggi pada superovulasi dapat menyebabkan stimulasi
ovarium yang berkepanjangan, hal ini dapat menimbulkan sistik folikel dan
dapat pula menimbulkan berkurangnya kualitas sel telur yang dihasilkan
(Hermadi et al., 2005). Maka diperlukan hormon alternatif seperti hMG (Human
Menopause Gonadotropin)yang memiliki fungsi FSH-LH like dengan proporsi
yang lebih seimbang dan diharapkan dapat memperkecil ataupun meniadakan
jumlah folikel yang tidak terovulasikan.
Parameter keberhasilan suatu usaha superovulasi dapat dilihat dari beberapa
faktor. Salah satu faktor yang diperiksa untuk menentukan faktor keberhasilan
superovulasi adalah penghitungan korpus luteum (CL) yang ada. Penghitungan
CL sering dipakai pada penelitian mengenai superovulasi untuk mengukur
keberhasilan superovulasi. Korpus luteum merupakan kelanjutan dari rongga
folikel yang telah berovulasi yang mengalami proses luteinisasi yang
membentuk tenunantenunan dan mensekresikan hormon progesteron.
(Hardopranjoto, 1995). Sehingga dengan menghitung jumlah CL yang ada maka
dapat diketahui tingkat keberhasilan hormon gonadotropin dalam menginduksi
folikel-folikel yang berovulasi pada usaha superovulasi. Faktor lainnya adalah
jumlah embrio yang didapat setelah diflushing. Efisiensi dari usaha superovulasi
sendiri terpengaruhi oleh adanya abnormalitas yang muncul, seperti adanya
folikel anovulatorik atau folikel sisa / yang tidak terovulasikan dari superovulasi
(Lopez A. et al., 2005).



9

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Superovulasi merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk mendapatkan
ovum lebih banyak dibandingkan dengan keadaan normalnya dengan
memberikan hormon dari luar, Tahapan superovulasi adalah sebagai berikut:
1. Sinkronisasi berahi; Penyuntikan hormone Prostaglandin (PG) sebanyak
2 kali dengan jarak waktu 11 hari.
2. Superovulasi; Penyuntikan PMSG pada hari ke-10 setelah terjadi berahi,
dilanjutkan dengan penyuntikan Prostaglandin pada hari ke-2 setelah
penyuntikan PMSG dan langsung dicampur dengan pejantan (dilakukan
pengamatan perkawinan).
Hormon yang banyak digunakan untuk rekayasa superovulasi adalah hormon
gonadotropin seperti Pregnant Mares Serum Gonadotripin (PMSG) dan Follicle
Stimulating Hormone (FSH).
3.2. Saran
1. Metode superovulasi tidak boleh terlalu sering dilakukan karena dapat
merusak siklus ovulasi terhadap ternak tersebut.









10

DAFTAR PUSTAKA
Hunter, R. H. F., 1995. Fisiologi dan Teknologi Reproduksi Hewan Betina Domestik.
Penerbit ITB. Bandung.p: 42, 51 56, 73 97, 281
Lopez.A, Veiga., Bulnes A., Gonzales et al. 2005. Causes, characteristics and
consequences of anovulatory follicles in superovulated sheep. Domestic
Animal endocrinology Feb; 30 (2); 76-78.
Hermadi HA, 2003. Ujicoba PMSG Trans Ovari untuk Kasus Hypofungsi Ovarium
Sapi Perah. Hibah Bersaing 2003 Universitas Airlangga.
Hardjopranjoto, S., 1995. Ilmu Kemajiran Pada Ternak. Airlangga University Press,
Surabaya
Frandson,R.D.1992.Anatomi dan fisiologi ternak. Gajah Mada University perss:
Yogyakarta
Putro, P.P. 1996. Teknik superovulasi untuk transfer embrio pada sapi. Bull. FKH
UGM XIV(1):1-20.
Sorensen, A.M. 1979. Animal Reproduction Principles and Pratices. H.C. Grow
Hill Book Company P. 212,346 353.
Lauria, A.A., A. Genazzani, O. Oliva, P. Inandi, F. Cremonesi, and C. Monitola.
1982a. Clinical and endocrinological investigations on superovulation induced
in heifers by human menopausal gonadotropin (HMG). J. Reprod. Fertil.
66.219