Anda di halaman 1dari 4

SPONDILOSIS LUMBALIS

A. PENGERTIAN
Spondilo berasal dari bahasa Yunani yang berarti tulang belakang.
Spondilosis lumbalis dapat diartikan perubahan pada sendi tulang belakang
dengan ciri khas bertambahnya degenerasi discus intervertebralis yang diikuti
perubahan pada tulang dan jaringan lunak. Spondilosi lumbalis juga dapat
diartikan pertumbuhan berlebihan dari tulang (osteofit), yang terutama
terletak di aspek anterior, lateral, dan kadang-kadang posterior dari tepi
superior dan inferior vertebra centralis (corpus). Jadi dapat disimpulkan,
sponsylosis adalah kondisi dimana telah terjadi degenerasi pada sendi
intervertebral yaitu antara diskus dan corpus vertebra .
B. PATOFISOLOGI
Diskus intervertebralis mengalami kehilangan cairan dan elastisitas seiring
dengan usia, sehingga terjadi retakan dan fisura.
Ligamen-ligamen di sekitarnya juga kehilangan elastisitasnya dan
membentuk traction spurs.
Diskus menjadi kolaps sebagai akibat dari inkompetensi biomekanikal,
menyebabkan anulus bulging keluar.
Seiring dengan penyempitan ruang diskus, anulus mengalami bulging, dan
facet (permukaan sendi) saling menumpuk
Pada saat annulus mengalami bulging, irisan melintang dari kanalis
menyempit.
Efek ini dapat diperberat dengan adanya hipertrofi dari facet joints
(posterior) dan ligamentum flavum, yang menjadi semakin tebal seiring
dengan usia.
Ekstensi leher menyebabkan ligamentum untuk melipat ke dalam,
mengurangi diameter anteroposterior (AP) dari kanalis spinalis.2
Osteofit-osteofit ini menstabilkan corpus vertebra yang berdekatan dengan
tingkat dimana terjadi degenerasi diskus dan meningkatkan weight-bearing
surface dari vertebral endplates.
Akibatnya adalah penurunan dari gaya tekan pada masing-masing struktur
ini.
C. PEMERIKSAAN RADIOLOGIS
Foto X-ray Polos
Foto X-ray polos dengan arah anteroposterior, lateral dan oblique
berguna untuk menunjukkan lumbalisasi atau sakralisasi, menentukan
bentuk foramina intervertebralis dan facet joint, menunjukkan spondilosis,
spondiloarthrosis, retrolistesis, spondilolisis, dan spondilolistesis. Stenosis
spinalis centralis atau stenosis recessus lateralis tidak dapat ditentukan
dengan metode ini.
CT scan
Beberapa ahli menganggap CT scan adalah gold standar untuk
pencitraan vertebra lumbaliss, terutama untuk spondilosis dan penyakit
lain pada diskus. Pada CT scan, herniasi diskus dan cekungan-cekungan
akibat spondilosis terlihat jelas dan dapat diketahui hubungan
kelainan-kelainan tersebut dengan serat saraf maupun medulla spinalis.

Irisan yang terbuat tipis (1,5 sampal 2 mm) dengan resolusi tinggi cocok
untuk pasien dengan radikulopati lumbaliss, karena teknik ini dapat
memperlihatkan spur formation pada bagian lateral tulang serta stenosis
foramina. CT yang dilakukan setelah kontras intrathekal juga dapat
menunjukkan anatomi tulang belakang serta medulla spinalis secara detil.
MRI
MRI dapat menunjukkan batas-batas jaringan lunak dan penekanan
diskus. Selain itu dapat juga ditentukan perubahan intensitas sinyal dari
medula spinalis sehingga dapat diketahui seberapa besar / parahnya
kerusakan medulla spinalis. Sinyal terang pada medula spinalis pada
tempat terjadinya penekanan adalah tanda bahwa prognosisnya lebih
buruk. Selain itu adanya atrofi yang berat pada medulla spinalis juga
mengarah pada prognosis yang buruk. Dengan diperkenalkannya
pencitraan gradient-echo yang menggunakan sudut yang terbatas sehingga
terjadi kontras yang tinggi antara cairan serebrospinal yang hiperintens dan
medula spinalis, jaringan lunak intraspinal, struktur tulang yanng
hipointens telah meningkatkan sensitivitas MRI dalam mendeteksi adanya
gangguan kanalis neuralis akibat pembentukan osteofit atau hemiasi
nukleus pulposus.
D. PERANAN FISIOTERAPI
Tujuan tindakan fisioterapi pada kondisi ini yaitu untuk meredakan nyeri,
mengembalikan gerakan, penguatan otot, dan edukasi postur. Adapun
intervensi yang bias digunakan dalam kondisi ini, adalah sebagai berikut:
Heat , heat pad dapat menolong untuk meredakan nyeri yang terjadi pada
saat penguluran otot yang spasme.
Ultrasound, sangat berguna untuk mengobati thickening yang terjadi pada
otot erector spinae dan quadratus lumborum dan pada ligamen
(sacrotuberus dan saroiliac)
Corsets, bisa digunakan pada nyeri akut
Relaxation, dalam bermacam-macam posisi dan juga pada saat istirahat,
maupun bekerja. Dengan memperhatikan posisi yang nyaman dan support.
Posture education, deformitas pada postur membutuhkan latihan pada
keseluruhan alignment tubuh.
Mobilizations, digunakan untuk stiffness pada segment lumbar spine,
sacroiliac joint dan hip joint.
Soft tissue technique, pasif stretching pada struktur yang ketat sangat
diperlukan, friction dan kneading penting untuk mengembalikan mobilitas
supraspinous ligament, quadratus lumborum, erector spinae dan glutei.
Traction, traksi osilasi untuk mengurangi tekanan pada akar saraf tetapi
harus dipastikan bahwa otot paravertebral telah rileks dan telah terulur.
Hydrotherapy, untuk relaksasi total dan mengurangi spasme otot. Biasanya
berguna bagi pasien yang takut untuk menggerakkan spine setelah nyeri
yang hebat.
Movement, hold relax bisa diterapkan untuk memperoleh gerakan fleksi.
Bersamaan dengan mobilitas, pasien melakukan latihan penguatan untuk
otot lumbar dan otot hip.
Advice , Tidur diatas kasur yang keras dapat menolong pasien yang
memiliki masalah sakit punggung dan saat bangun, kecuali pada pasien
yang nyeri nya bertambah parah pada gerakan ekstensi. Jika pasien
biasanya tidur dalam keadaan miring, sebaiknya menggunakan kasur yang
lembut.