Anda di halaman 1dari 53

RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN

TENTANG
BATAS SEMPADAN PANTAI
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Disampaikan pada Rapat
di Kementerian Koordinartor Bidang Perekonomian
2 Mei 2014
UU NO.26/2007
Tentang
PENATAAN RUANG
UU No.27/2007
Tentang
PWP3K
PP No.26/2008
Tentang
RTRWN

Penjelasan Pasal 5 Ayat (2)
huruf b:

kawasan perlindungan
setempat, antara lain,
SEMPADAN PANTAI,
sempadan sungai,
kawasan sekitar danau /
waduk, dan kawasan
sekitar mata air.


Pasal 1 angka 21:

Sempadan pantai adalah
daratan sepanjang tepian
yang lebarnya proporsional
dengan bentuk dan kondisi
fisik pantai, minimal 100
meter dari titik pasang
tertinggi ke arah darat.

Dalam Penjelasan:
Cukup jelas.


Pasal 56 Ayat (1):

Sempadan pantai sbgmn
dmksd dalam Pasal 52 Ayat
(2) huruf a ditetapkan
dengan kriteria:
a. daratan sepanjang
tepian laut dengan
jarak paling sedikit 100 m
dari titik pasang air laut
tertinggi ke arah darat;
atau
b. daratan sepanjang tepian
laut yang bentuk dan
kondisi fisik pantainya
curam atau terjal dengan
jarak proporsional
terhadap bentuk dan
kondisi fisik pantai.
PERATURAN PERUNDANG2AN YANG TERKAIT DENGAN
DEFINISI SEMPADAN PANTAI


Pasal 31

(1) Pemerintah Daerah menetapkan batas sempadan pantai yang
disesuaikan dengan karakteristik topografi, biofisik, hidro-
oseanografi pesisir, kebutuhan ekonomi dan budaya, serta
ketentuan lain.

(2) Penetapan batas sempadan pantai mengikuti ketentuan :
a. Perlindungan terhadap gempa dan/atau tsunami;
b. Perlindungan pantai dari erosi atau abrasi;
c. Perlindungan sumberdaya buatan di pesisir dari badai,
banjir, dan bencana alam lainnya;
d. Perlindungan terhadap ekosistem pesisir seperti lahan
basah, mangrove, terumbu karang, padang lamun, gumuk
pasir, estuaria, dan delta;
e. Pengaturan akses publik; serta
f. Pengaturan untuk saluran air dan limbah.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai batas sempadan pantai
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan
Presiden.





UU No.27/2007 tentang PWP3K
UU No.27/2007
Pasal 31
Faktor
Kerentanan
(internal)
Ayat (1) :
Pem.Daerah menetapkan
Batas Sempadan Pantai
yang disesuaikan dengan
KARAKTERISTIK (pantai)
Ayat (2):
Penetapan Batas
Sempadan Pantai
mengikuti ketentuan a - f
Faktor
Ancaman
(eksternal)

Ayat (3):
Ketentuan ayat (2) diatur
dengan Peraturan
Presiden
Bagaimana:
Cara menghitung
lebar batasnya
Tata cara penetapannya
RANCANGAN PERPRES
TENTANG
BATAS SEMPADAN
PANTAI
1. PERPRES tentang Batas Sempadan Pantai (Perpres BSP) tidak hanya mengatur
tentang cara menghitung lebar Batas Sempadan Pantai ( psl 2 - 23 Raperpres
BSP), tetapi juga memberikan norma-norma yang akan menjadi acuan seluruh
Daerah dalam pengaturan kegiatan di kawasan sempadan pantai yang telah
ditentukan lebar batas sempadan pantainya.

2. Batas Sempadan Pantai yang telah ditentukan oleh Pemda Provinsi (khusus DKI)
dan Pemda Kab/Kota perlu ditetapkan ke dalam bentuk Perda karena bukan
hanya mengatur ketentuan mengenai garis batas sempadan pantai tetapi juga
memuat pengaturan yang akan mengikat publik terkait kepentingannya di
kawasan sempadan pantai, membatasi / bahkan menghilangkan hak-hak publik
di kawasan sempadan pantai, menimbulkan kewajiban untuk menaati ketentuan
pengaturan, serta adanya sanksi pelanggaran.

3. Perda RTRW / RZWP3K hanya mengatur pengalokasian ruang sebagai kawasan
sempadan pantai, namun belum mengatur secara detail lebar batas sempadan
pantai dan ketentuan pemanfaatan di kawasan sempadan pantai.

4. Pemda Provinsi (khusus DKI) dan Pemda Kab/Kota perlu diberikan batas waktu
dalam menetapkan batas sempadan pantai (paling lama 5 (lima) tahun terhitung
sejak Peraturan Presiden ini diundangkan) agar Perpres ini dapat ditaati dan
mempunyai kekuatan memaksa.
URGENSI PENGATURAN PENETAPAN
BATAS SEMPADAN PANTAI

BAB I KETENTUAN UMUM

BAB II PENETAPAN BATAS SEMPADAN PANTAI
Pasal 2 23

BAB III PEMANFAATAN SEMPADAN PANTAI
Pasal 24 25

BAB IV KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 26 27

BAB VI KETENTUAN PENUTUP
Pasal 28 29

OUTLINE RAPERPRES
BAB II
PENETAPAN BATAS SEMPADAN PANTAI
Pasal 2

1) Setiap Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang mempunyai
Sempadan Pantai di wilayah administratifnya wajib menetapkan Batas
Sempadan Pantainya.

2) Penetapan Batas Sempadan Pantai sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan oleh Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya.

3) Penetapan Batas Sempadan Pantai sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) dituangkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

Pasal 3

1) Penetapan Batas Sempadan Pantai untuk wilayah administratif
Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta dilakukan oleh Gubernur Daerah
Khusus Ibu Kota Jakarta.

2) Penetapan Batas Sempadan Pantai sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dituangkan dalam Peraturan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibu
Kota Jakarta.
Pasal 4

Penetapan Batas Sempadan Pantai sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 dan paal 3 dilakukan dengan tujuan untuk melindungi
dan menjaga:
a.kelestarian fungsi Ekosistem dan segenap sumber daya di
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
b.kehidupan Masyarakat di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
dari Ancaman bencana alam;
c.alokasi ruang untuk akses publik melewati Pantai; dan
d.alokasi ruang untuk saluran air dan limbah.

TUJUAN PENETAPAN BATAS SEMPADAN PANTAI
Pasal 5

Penetapan Batas Sempadan Pantai oleh Pemerintah Daerah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3 dilakukan berdasarkan
penghitungan Batas Sempadan Pantai.

Pasal 6

1)Penghitungan Batas Sempadan Pantai sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 harus disesuaikan dengan karakteristik Topografi, Biofisik, Hidro-
oseanografi pesisir, kebutuhan ekonomi dan budaya, serta ketentuan
lain.

2)Penghitungan Batas Sempadan Pantai sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) harus mengikuti ketentuan:
a.perlindungan terhadap gempa dan/atau tsunami;
b.perlindungan Pantai dari erosi atau abrasi;
c.perlindungan sumber daya buatan di pesisir dari Badai, banjir, dan
bencana alam lainnya;
d.perlindungan terhadap Ekosistem pesisir, seperti Lahan Basah,
Mangrove, Terumbu Karang, padang Lamun, Gumuk Pasir, Estuaria, dan
Delta;
e.pengaturan akses publik; dan
f.pengaturan untuk saluran air dan limbah.
PENGHITUNGAN BATAS SEMPADAN PANTAI
Psl 6 Ayat (2):
Penetapan BSP mengikuti ketentuan a - f
a; b; c d e; f
Ditentukan berdasarkan
tingkat risiko bencana
(Tinggi; Sedang; Rendah)
Indeks
KERENTANAN
Indeks
ANCAMAN
Ditentukan
berdasarkan
batas akhir
keberadaan
ekosistem
pesisir ke arah
darat
Ekosistem
pesisir :
a. Lahan basah
b. Mangrove
c. Terumbu
karang
d. Padang
lamun
e. Gumuk
pasir
f. Estuaria;dan
g. Delta
Ditentukan
berdasarkan
jenis dan
intensitas
aktivitas di
wilayah
pesisir
Psl 7 ayat (1)
Psl 7 ayat (2)
Psl 19
R = A * K

R = tingkat risiko
A = tingkat ancaman
K = tingkat kerentanan

Psl 20
Psl 6
ayat (2)
huruf d
Tinggi;
Sedang;
Rendah
Tinggi;
Sedang;
Rendah
Psl 7 ayat (3)
Aman
Bijak
Cuai
R= A*K
ANCAMAN
- Gempa,
-Tsunami
-Erosi / Abrasi
-Banjir dari laut
-Badai
KERENTANAN
-karakteristik Topografi,
-Biofisik,
-Hidro-oseanografi pesisir,
-kebutuhan ekonomi dan
budaya, dan/atau
- ketentuan lain
R = Risiko Bencana
A = Ancaman
K = Kerentanan
Ancaman = suatu kejadian
atau peristiwa yang
mempunyai potensi untuk
menimbulkan kerusakan atau
kehilangan jiwa manusia atau
kerusakan lingkungan.
Kerentanan = suatu kondisi
dari suatu komunitas atau
Masyarakat yang mengarah
atau menyebabkan
ketidakmampuan dalam
menghadapi Ancaman
bencana
Subandono - KKP
Risiko bencana = potensi kerugian
yang ditimbulkan akibat bencana
pada suatu kawasan dan kurun
waktu tertentu yang dapat berupa
kematian, luka, sakit, jiwa
terancam, hilangnya rasa aman,
mengungsi, kerusakan atau
kehilangan harta, dan gangguan
kegiatan masyarakat.
Tsunami
- BSP minimal 100 m.


-BSP ditentukan minimal sampai jangkauan rayapan
tsunami
Surut terendah
Pasang tertinggi
Tsunami
- BSP minimal 100 m


-BSP ditentukan minimal sampai jarak abrasi.
Surut terendah
Pasang tertinggi
Abrasi
- BSP minimal 100 m.


-BSP ditentukan minimal sampai tinggi genangan banjir
rob.
Surut terendah
Pasang tertinggi
Rob
z
Surut terendah
Pasang tertinggi
- BSP minimal 100 m.


-BSP ditentukan minimal sampai batas akhir ekosistem
pesisir ke arah darat.
Gumuk Pasir
z
Surut terendah
Pasang tertinggi
-BSP minimal 100 m.

-BSP ditentukan minimal sampai batas akhir dari kondisi eksisting
ekosistem pesisir ke arah darat
Hutan Pantai
Indeks ANCAMAN
Pendekatan
PRAKTIS
Pendekatan ANALITIK /
NUMERIK
Rekaman/
riwayat/
kejadian
Psl 8 huruf a
Psl 9 ayat 2
huruf a
Erosi dan Abrasi :
data, informasi,
dan peta yang
menggambarkan
laju perubahan Grs
pantai.
Badai :
data, informasi,
dan peta yang
menggambarka
n kec. angin
Banjir Rob :
data, informasi,
dan peta yang
menggambarkan
tinggi genangan
yang pernah
terjadi
Psl 10
Gempa:
a. Zona
penunjaman
dan zona
tumbukan
b. Sesar di
dasar laut
dan /atau
pesisir
Tsunami :
a. Zona
penunjaman
b. Sesar di dasar
laut dan/
c. Gunung api
dasar laut
Erosi dan Abrasi :
a. Tinggi gel
b. Arah datang
gel dan/
c. Kecuraman gel
Badai :
Kondisi angin
Banjir Rob :
a. Pemanasa
n global
b. Amblesan
/penuruna
n tanah
Psl 11
Psl 8 huruf b
Parameter2
Ancaman:
a. Gempa:
Kekuatan gempa
b. Tsunami :
1) Tinggi gel dari
muka air laut
sebelum
tsunami
2) Tinggi
genangan
c. Erosi dan Abrasi :
Per. Grs pantai
(longshore
transport) dan
(crossshore
transport) dengan
memperhitungkan
SLR
d. Badai :
Kondisi angin
e. Banjir Rob :
Laju kenaikan
muka air laut
Psl 12
ayat 4
Tsunami :
data, informasi,
dan peta yang
menggambarkan
tinggi gelombang
Gempa:
data, informasi,
dan peta
magnitude gempa
Keberadaan
faktor
ancaman
Psl 9 ayat 2
huruf b
Parameter kerentanan
masing2 Jenis Bencana
Ditentukan oleh
KARAKTERISTIK topografi;
biofisik; hidrooseanografi
pesisir, kebutuhan ekonomi dan
budaya; dan/ ket. lain.
Indeks KERENTANAN
Psl 13 ayat 1
Gempa:
a. Topografi (kemiringan pantai dan elevasi)
b. Biofisik (material penyusun pantai)
c. Keb. Ekonomi (kerugian ekonomi dari
pemanfaatan ruang)
Tsunami :
a. Topografi (kemiringan pantai dan elevasi)
b. Biofisik (ketebalan dan kerapatan hutan
pantai ; ketinggian gumuk pasir atau beting
gisik; morfologi pantai, material penyusun
pantai)
c. Keb. ekonomi (kerugian ekonomi dari
pemanfaatan ruang)
d. Keb. Sosbud (keberadaan cagar budaya dan
aktifitas ritual keagamaan atau kepercayaan)
e. Ketentuan lain (jumlah penduduk, jenis dan
material bangunan; dan benda-benda yang
mudah hanyut)
Erosi dan Abrasi :
a. Biofisik (material penyusun pantai;pelindung
alami pantai/vegetasi)
b. Keb. ekonomi (kerugian ekonomi dari
pemanfaatan ruang)
c. Keb. Sosbud (keberadaan cagar budaya dan
aktifitas ritual keagamaan, budaya, dan
kepercayaan)
d. Ketentuan lain (bangunan pelindung pantai
terhadap erosi/abrasi)
Badai :
a. Biofisik (keberadaan mangrove)
b. Keb. ekonomi (kerugian ekonomi dari
pemanfaatan ruang)
c. Keb. Sosbud (keberadaan cagar budaya dan
aktifitas ritual keagamaan, , budaya, dan
kepercayaan)
d. Ketentuan lain (posisi infrastruktur thd garis
pantai)
Banjir dari laut :
a. Topografi (elevasi)
b. Biofisik (material penyusun pantai)
c. Keb. ekonomi (kerugian ekonomi dari
pemanfaatan ruang)
d. Keb. Sosbud (keberadaan cagar budaya dan
aktifitas ritual keagamaan, budaya, atau
kepercayaan)
e. Ketentuan lain (bangunan pelindung pantai
terhadap banjir dari laut)
Psl 14
Psl 13 ayat 2
Psl 16
Psl 17
Psl 15
Psl 18
Pasal 21

Penetapan Batas Sempadan Pantai untuk daerah rawan
bencana di Wilayah Pesisir dapat dilakukan kurang dari
hasil penghitungan dengan ketentuan wajib
menerapkan pedoman bangunan (building code)
bencana.

Pasal 22

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penghitungan
Batas Sempadan Pantai sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6 sampai dengan Pasal 21 diatur dengan
Peraturan Menteri.
ESCAPE CLAUSE
PENETAPAN BATAS SEMPADAN PANTAI
- BSP minimal 100 m

-BSP ditentukan minimal sampai jangkauan rayapan
tsunami

- BSP kurang dari jangkauan rayapan tsunami dengan
menerapkan Building Code
Building Code
Surut terendah
Pasang tertinggi
Pasal 23

1) Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3 menyusun Rancangan
Peraturan Daerah tentang Batas Sempadan Pantai berdasarkan hasil penghitungan Batas
Sempadan Pantai.

2) Rancangan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilakukan
konsultasi publik kepada Masyarakat untuk mendapatkan masukan tanggapan, atau saran.

3) Hasil konsultasi publik Rancangan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
disampaikan kepada:
a. Gubernur, Menteri, dan menteri yang meyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
dalam negeri untuk mendapatkan masukan, tanggapan, atau saran untuk Rancangan
Peraturan Daerah Kabupaten/Kota; dan
b. Menteri, dan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang dalam
negeri untuk mendapatkan masukan, tanggapan, atau saran untuk Rancangan Peraturan
Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta

4) Pemberian masukan, tanggapan, atau saran atas Rancangan Peraturan Daerah oleh
Gubernur, Menteri, dan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan dalam jangka waktu 30 (tiga
puluh) hari kerja terhitung sejak diterimanya Rancangan Peraturan Daerah dimaksud.

5) Apabila dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja Gubernur, Menteri, dan menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang dalam negeri sebagaimana dimaksud pada
ayat (4) tidak memberikan masukan, tanggapan, atau saran, Gubernur atau Bupati/Walikota
dapat menyampaikan Rancangan Peraturan Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
untuk diproses lebih lanjut.
PROSES PENETAPAN BATAS SEMPADAN PANTAI
Pasal 24

1) Sempadan Pantai yang telah ditetapkan, diprioritaskan untuk:
a.ruang terbuka hijau; dan/atau
b.mitigasi bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

2) Sempadan Pantai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dimanfaatkan untuk:
a. perikanan;
b. pertanian;
c. rekreasi Pantai;
d. kehutanan;
e. kegiatan penelitian;
f. pertahanan dan keamanan;
g. objek vital nasional;
h. kepelabuhanan;
i. bandar udara;
j. perlindungan maritim; dan/atau
k. ritual keagamaan.
BAB III
PEMANFAATAN SEMPADAN PANTAI
3) Pemanfaatan Sempadan Pantai selain sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh Menteri.

4) Pemanfaatan Sempadan Pantai sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) wajib
memenuhi persyaratan:
a. memberikan akses publik untuk melewati Pantai;
b. membangun struktur dan sistem perlindungan Pantai
yang memadai;
c. memberikan alokasi ruang untuk saluran air dan
limbah; dan
d. dilarang menurunkan luas, nilai ekologis, dan
estetika kawasan.

Pasal 25

Ketentuan lebih lanjut mengenai pemanfaatan
Sempadan Pantai diatur dengan Peraturan Menteri
Pasal 26

1)Pada saat Peraturan Presiden ini ditetapkan semua pemanfaatan
sempadan pantai yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 24 tidak boleh dikembangkan lagi.

2)Pemanfaatan sempadan pantai sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dapat terus berlangsung dengan kewajiban melakukan:
a. rekayasa teknis untuk perlindungan pantai;
b. penanaman vegetasi pelindung pantai; dan/atau
c. pemberian akses publik melewati pantai.

Pasal 25

Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal
3 wajib menetapkan batas sempadan pantai paling lama 5 (lima)
tahun terhitung sejak Peraturan Presiden ini diundangkan.
BAB IV
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 28

Pada saat Peraturan Presiden ini berlaku, semua peraturan
pelaksanaan yang mengatur batas sempadan pantai yang
telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan
Peraturan Presiden ini.

Pasal 29

Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Presiden ini dengan penempatannya dalam
Lembaran Negara Republik Indonesia.
BAB IV
KETENTUAN PENUTUP
INDEKS ANCAMAN BENCANA
(Per. Kepala BNPB No. 2 tahun 2012)
4
5
INDEKS KERENTANAN
(Per. Kepala BNPB No. 2 tahun 2012)

4
INDEKS PENDUDUK TERPAPAR
(Per. Kepala BNPB No. 2 tahun 2012)
INDEKS KERUGIAN
(Per. Kepala BNPB No. 2 tahun 2012)
4
5

Pantai tebing : bentuk pantai curam sampai sangat curam,
terbentuk oleh batuan yang keras atau gampang lepas.
Kecuraman yang terjadi biasanya diakibatkan oleh
pengaruh faktor-faktor alam : angin, pukulan gelombang ;
atau juga dapat disebabkan oleh pengaruh manusia.
Bentuk dan tipe pantai (morfologi pantai)

Pantai berpasir : pantai dengan
substrat didominasi oleh pasir yang
berasal dari laut (berupa hancuran
biota laut : karang, cangkang kerang
laut, alga berkapur, dll), maupun
yang berasal dari daratan (terbawa
sungai atau sedimentasi maupun
erosi pantai)
Pantai batu cadas (Rocky Beach),
merupakan pantai dengan substart
didominasi oleh batuan cadas yang
terkadang gampang rapuh. Dapat
dijumpai pada daerah pantai dengan
bentuk pantai tebing maupun yang
hanya dalam bentuk batuan cadas
yang tajam. Ekosistem khas :
Estuaria : pantai rawa dengan kadar salinitas
rendah karena campuran air laut dan air tawar
(biasa disebut air payau) yang dibawa oleh
aliran air sungai. Pada saat pasang, air laut
akan masuk dan mempengaruhi kadar
salinitas serta kualitas air yang ada didalam
estuaria tersebut. Biasanya, daerah hilir
sungai atau estuaria selalu dihubungkan
dengan biota atau organisme yang hidup di air
tawar.
Laguna, dapat ditemukan dekat atau jauh
dari daerah pantai. Secara geografis, laguna
terpisah dengan laut oleh endapan pasir atau
batu/kerikil. Hubungan dengan air laut
tergantung pada lajur-lajur sempit atau
tidak ada sama sekali. Sustrat yang terdapat
pada laguna lebih banyak dipengaruhi oleh
daratan dari pada yang datang dari laut..
Diseluruh dunia, hanya terdapat sekitar 13
% daerah laguna.
Pantai Berbatu, biasanya berasal dari
sungai besar, dan menyebar sepanjang
pantai dekat dengan aliran sungai.
Jenis batuan lebih banyak terdiri dari
batu granit dengan ukuran dari
beberapa centimeter hingga lebih dari
1 meter. Substrat yang mendominasi
tipe pantai berbatu terdiri atas batu
bercampur pasir serta sedikit pecahan
karang atau biota laut.
Gumuk Pasir/Dune, fenomena
alam, dimana angin yang
bertiup membawa pasir ke
arah daratan, hanya dapat
dijumpai pada pantai yang
mempunyai pengaruh angin
keras dari laut. Gumuk pasir
dapat mencapai ketinggian
hingga ratusan meter dan
dapat mencapai jarak puluhan
kilometer dari garis pantai.
Delta adalah endapan dan akumulasi sedimen di muara sungai Dapat dijumpai
pada sungai besar dan kecil. Selain berasal dari daratan (lewat aliran sungai),
sedimen yang membentuk delta juga dapat berasal dari daerah pantai
sekitarnya, antara lain berasal dari erosi pantai maupun yang dibawa langsung
oleh arus dan ombak pantai. Karakteristik dari suatu delta adalah bentukan
pulau-pulau kecil yang berkumpul didepan muara sungai. Terbentuknya delta
dapat terjadi ratusan bahkan ribuan tahun. Semua delta yang terdapat di bumi
berasal dari jaman holocen, yang kemudian berkembang sehubungan dengan
perkembangan dan aktivitas manusia.
Sebagai contoh, sungai Solo,
di Jawa Timur, perkembangan
delta yang terjadi dalam
kurun waktu 21 tahun, sejak
tahun 1915 1936 adalah 8
km2. Sedangkan pada sungai
Mahakam Balikpapan,
perkembangan yang terjadi
sejak 5000 tahun lampau
adalah sepanjang 10 km dan
lebar 20 km, yang saat ini
mencapai 40 km panjang dan
lebar kurang lebih 60 70
km.
HUTAN MANGROVE
Solusi
perlindungan
pantai
BALI
Meningkatnya
wisatawan di Pulau
Bali menyebabkan
Pemerintah harus
membangun fasilitas
publik di wilayah
pantai.
Batas sempadan pantai
Pemanfaatan kawasan gumuk
pasir oleh penduduk untuk
pengembangan pertanian dan
budidaya ikan

Usaha perlindungan bagi
kawasan gumuk pasir dengan
penanaman pohon pelindung
BANGKA BELITUNG
Aktivitas penambangan timah oleh masyarakat menjadi penyebab
degradasi lingkungan pesisir
PANTAI IDEAL DENGAN SEMPADAN PANTAI
Cancun, Meksiko
DI ANTARA 7 KOTA PANTAI TERINDAH DI DUNIA
Rio de Janeiro, Brazil
Sydney, Australia
Miami, AS
Beirut, Libanon
Barcelona, Spanyol