Anda di halaman 1dari 8

1

USULAN MAKALAH SEMINAR KELAS



Pemanfaatan Biomassa Jamur Dalam Proses Biosorpsi Chromium
Pada Limbah Cair





Diusulkan oleh:
Hardita Libriasanti Sudarmawan
(09/284130/PN/11798)



PROGRAM STUDI MIKROBIOLOGI PERTANIAN
JURUSAN MIKROBIOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
2

Pemanfaatan Biomassa Jamur Dalam Proses Biosorpsi Chromium Pada
Limbah Cair


A. Pendahuluan
Chromium (Cr
6+
) merupakan salah satu senyawa logam yang banyak
dimanfaatkan pada berbagai sektor industri, seperti industri kulit, pewarna
dan pembuatan campuran logam (stainless stell). Chromium dapat ditemukan
dalam berbagai bentuk dengan derajat valensi yang berbeda beda, dari Cr
-4

sampai dengan Cr
+6
. Cr
6+
terutama benyak terdapat pada molekul molekul
air yang mengisi pori pori tanah (akuifer). Cr
6+
memiliki sifat beracun,
mutagenik dan karsinogenik sehingga berbahaya apabila sampai mencemari
lingkungan.
Selain memiliki tingkat toksisitas yang tinggi, Cr
6+
juga bersifat
mudah larut dalam air dan secara alami tersedia di ekosistem. Sementara
chromium dalam bentuk trivalen (Cr
3+
) menunjukkan afinitas yang tinggi
terhadap senyawa organik sehingga dapat membentuk kompleks endapan
amorphous hydroxide yang tidak larut dalam air. Karena itulah penting untuk
dilakukan suatu transformasi logam chromium dari bentuk hexavalen menjadi
bentik trivalen sebelum dilepaskan ke lingkungan sehingga dapat
meminimalisir dampak negatifnya.

B. Toksisitas Logam Cr
6+

Chromium merupakan trace elemen esensial yang diperlukan oleh
makhluk hidup. Namun, adanya sedikit kenaikan pada jumlah Cr
6+
di alam
akan menyebabkan permasalahan lingkungan dan kesehatan, dikarenakan
sifat toksisitas, mutagenik dan karsinogeniknya yang amat tinggi. Hampir
seluruh badan pengawas menyatakan Cr
6+
sebagai prioritas bahan kimia
beracun untuk dikontrol, dengan batas cemaran maksimum pada air minum
sebesar 50 100 mg/l (LaGrega et al., 2001). The United States
Environmental Protection Agency (US EPA) telah mengidentifikasi Cr
6+

3

sebagai salah satu dari 17 senyawa kimia yang merupakan ancaman paling
berbahaya bagi manusia (Marsh dan McInerney, 2001).
Chromium (Cr) dijumpai secara alami di alam pada batuan, tanah,
tanaman, hewan, debu vulkanik dan gas. Chromium terdapat terutama dalam
bentuk anion Cr
6+
terlarut yang toksik dan bentuk Cr
3+
yang lebih aman dan
tidak larut. Garam Cr
6+
menunjukkan mobilitas yang relatif lebih tinggi
sehingga dianggap lebih berbahaya bagi manusia dan hewan, dan juga
dikaitkan dengan penurunan pertumbuhan tanaman serta terjadinya perubahan
pada morfologi tanaman (Kumar et al., 2008)
Cr
6+
diserap dari dalam tanah melalui suatu membran saluran
transport sulfat dalam sel pada organisme pereduksi sulfat (Silver et al.,
2001). Pada kondisi fisiologi normal, Cr
6+
bereaksi spontan dengan reduktan
di dalam sel (seperti askorbat dan glutatione) untuk menghasilkan Cr
5+
atau
Cr
4+
, radikal bebas serta produk akhir yang berbentuk Cr
3+
(Costa, 2003).
Cr
5+
mengalami satu siklus redoks untuk membentuk Cr
6+
dan mentransfer
elektron oksigen. Proses tersebut menghasilkan reactive oxygen species
(ROS) yang bergabung dengan kompleks DNA-protein. Cr
4+
akan terikat
pada material sel dan menghalangi terjadinya fungsi fisiologis normal
(Cervantes et al., 2001). Pada manusia, diketahui beberapa penyakit yang
diakibatkan oleh adanya kontak dengan Cr
6+
, seperti luka pada saluran
pernafasan, iritasi kulit, munculnya lubang pada gendang telinga dan kanker
paru paru (Gibb et al., 2000). Lebih jauh lagi, Cr
6+
dapat terakumulasi pada
plasenta, menghambat pertumbuhan janin pada mamalia. Di lingkungan,
kontaminasi Cr
6+
mengubah struktur komunitas mikrobia tanah (Turpeinen et
al., 2004). Pada gambar 1 ditunjukkan berbagai jalur masuknya Cr
6+
ke dalam
sel (Cheung dan Gu, 2007).

C. Bioadsorpsi Cr
6+
oleh Biomassa Jamur
Teknik penghilangan logam seperti reverse osmosis, ekstraksi
pelarut, lime coagulation, pertukaran ion dan presipitasi senyawa kimia
dihadapkan pada kelemahan kelemahan tertentu seperti kebutuhan energi
4

yang tinggi, penghilangan logam tidak sempurna dan timbulnya limbah
beracun dalam jumlah besar sebagai akibat digunakannya berbagai macam
reagen selama proses reduksi, netralisasi dan presipitasi (Park et al., 2005).
Metode biologis seperti biosorpsi untuk penghilangan ion logam
berat menyediakan alternatif yang menarik dibandingkan metode kimia-
fisika. Kemampuan biosorpsi logam berat oleh sel inaktif bisa jadi lebih
besar, sama atau kurang dari kemampuan sel aktif yang telah ditemukan.
Namun demikian metode ini lebih menguntungkan karena sel inaktif tidak
terpengaruh oleh toksisitas limbah itu sendiri, tidak membutuhkan asupan
nutrisi secara konstan serta dapat digunakan berkali kali (Akzu, 2002).
Rhizopus, Aspergillus niger, Penicillium janthinellum adalah contoh
species yang umumnya dimanfaatkan biomassanya untuk penyerapan ion
Cr
6+
karena permukaan dinding selnya mengandung gugus karboksil,
hidroksil, sulfhidril dan gugus amino. Selain itu, gugus fosfat dari lemak,
protein dan polisakarida memiliki kemampuan untuk mengikat ion logam
(Volesky, 2003).
Cr
6+
dihilangkan dari suatu larutan melalui mekanisme penjerapan
dimana anion kromat terikat pada gugus bermuatan positif pada biomassa
jamur. Chromium menunjukkan tipe yang berbeda beda tergantung pada
keseimbangan pH pada larutan. Pada rentang pH 2.0 6.0, HCrO
4
-
dan
Cr
2
O
7
2-
berada pada kesetimbangan. Pada pH lebih besar dari 8.0 maka CrO
4
-
adalah satu satunya jenis yang dapat dijumpai pada larutan tersebut. Pada
pH yang masam (pH> 2.0), Cr
3
O
10
2-
dan Cr
4
O
13
2-
terbentuk yang
menghasilkan penurunan tingkat biosorpsi. Maka penurunan pH larutan akan
mengakibatkan terjadinya permbentukan senyawa kromium oksida yang lebih
terpolimerisasi (Kumar et al., 2008).
Cr
6+
dapat dilihangkan dari limbah cair dengan memanfaatkan
biomassa jamur melaui dua mekanisme yaitu mekanisme I dan mekanisme II
yang diilustrasikan pada Gambar I. Pada mekanisme I, Cr
6+
direduksi menjadi
Cr
3+
pada larutan melalui kontak langsung dengan biomassa jamur.
Sementara pada mekanisme II, perlakuan dapat dibagi menjadi tiga tahap
5

utama: (1) pengikatan Cr
6+
pada gugus gugus yang terdapat di dinding sel
jamur, (2) Reduksi Cr
6+
menjadi Cr
3+
dengan mendekatkan pada gugus
fungsioanl dengan potensial reduksi yang lebih rendah, (3) pelepasan Cr
3+

tereduksi ke larutan dengan memanfaatkan daya tolak menolak
elektromagnetis antara gugus bermuatan positif dengan kation Cr
3+
(Park et
al., 2005).


Gambar 1. Mekanisme Transformasi Kromium Oleh Biomassa Jamur

Pada limbah cair yang diberi perlakuan penambahan biomassa
jamur, akan tampak bahwa konsentrasi Cr
6+
menurun secara signifikan,
bahkan hilang sama sekali. Sementara Cr
3+
yang awalnya tidak ada akan
muncul dan bertambah jumlahnya seiring dengan berkurangnya Cr
6+
. Selain
itu berdasarkan percobaan percobaan yang telah dilakukan, diketahui bahwa
tingkat reduksi Cr
6+
sangat dipengaruhi oleh parameter lingkungan tertentu,
seperti berikut (Park et al., 2005):


6

1. pH
Proses bioadsorpsi Cr
6+
secara prinsip membutuhkan proton,
serta telah diuji pada berbagai nilai pH. Diperoleh hasil bahwa
dengan biomassa jamur, ion Cr
6+
dapat dihilangkan dari limbah
cair dengan baik bahkan pada nilai pH tinggi, namun pH akan
berpengaruh terhadap lama waktu yang dibutuhkan. Meskipun
banyak studi sebelumnya yang menyatakan bahwa tingkat
bioadsorpsi meningkat seiring peningkatan pH namun Cr
6+
dapat
dihilangkan secara sempurna pada lingkungan asam kuat dengan
pH berkisar 2.0 (Bai dan Abraham, 2001; Merrin et al., 1998;
Nourbakhsh et al., 1994; Sag and Kutsal, 1996 cit Park et al.,
2005).
2. Konsentrasi Cr
6+
awal
Dilakukan pengujian mengenai hubungan antara konsentrasi Cr
6+

dan waktu. Dari pengujian yang dilakukan didapatkan hasil
bahwa hubungan antara keduanya adalah berbanding lurus.
Semakin tinggi konsentrasi awal logam maka semakin lama
waktu kontak yang dibutuhkan untuk menghilangkan ion logam
tersebut secara sempurna.
3. Konsentrasi biomassa
Tingkat bioadsorpsi Cr
6+
meningkat seiring dengan peningkatan
konsentrasi biomassa. Selain itu, waktu kontak yang dibutuhkan
untuk penghilangan sempurna ion Cr
6+
berkurang.
4. Suhu
Suhu bukan merupakan parameter yang signifikan pada
mekanisme bioadsorpsi. Namun berdasarkan percobaan yang
telah dilakukan oleh Park et al. (2005) pada pH 2.0 didapatkan
hasil bahwa bioremediasi secara sempurna terjadi pada suhu 5
45 C. Peningkatan temperatur berpengaruh relatif besar
terhadap aktifitas penghilangan ion Cr
6+
serta mempercepat
berlangsungnya proses bioadsorpsi.
7

Daftar pustaka
Aksu, Z. 2002. Determination of the equilibrium, kinetic and thermodynamic
parameters of the each biosorption of nickel(II) ions onto Chlorella
vulgaris. Process Biochemistry 1: 111.

Cervantes, C., J. Campos-Garcia, S. Devars, F. Gutierrez-Corona, H. Loza-
Tavera, J. C. Torres-Guzma dan R. Moreno-Sanchez. 2001. Interactions
of chromium with microorganisms and plants. FEMS Microbiology
Reviews 25: 335347.

Cheung, K. H. dan J. D. Gu. 2007. Mechanism of hexavalent chromium
detoxification by microorganisms and bioremediation application
potential: A review. International Biodeterioration & Biodegradation 59:
815.

Costa, M. 2003. Potential hazards of hexavalent chromium in our drinking water.
Toxicology and Applied Pharmacology 188: 15.

Gibb, H. J., P. S. Lees, P. F. Pinsky dan B. C. Rooney. 2000. Lung cancer among
workers in chromium chemical production. American Journal of
Industrial Medicine 38: 115126.

Kumar, R., N. R. Bishnoi dan G. K. Bishnoi. 2008. Biosorption of chromium(VI)
from aqueous solution and electroplating wastewater using fungal
biomass. Chemical Engineering Journal 135: 202208.

LaGrega, M.D., P. L. Buckingham, dan J. C. Evans. 2001. Hazardous Waste
Management, second ed. McGraw-Hill, New York.

Marsh, T.L. dan M. J. McInerney. 2001. Relationship of hydrogen bioavailability
to chromate reduction in aquifer sediments. Applied and Environmental
Microbiology 67: 15171521.

Park, D., Y. S. Yun dan J. M. Park. 2005. Use of dead fungal biomass for the
detoxification of hexavalent chromium: screening and kinetics. Process
Biochemical 40: 25592565.

Sawyer, C.N., P. L. McCarty dan G. F. Parkin. 1994. Chemistry for
Environmental Engineering, fourth ed. McGraw-Hill, New York.

Silver, S., J. Schottel, dan A. Weiss. 2001. Bacterial resistance to toxic metals
determined by extrachromosomal R factors. International
Biodeterioration and Biodegradation 48: 263281.

Turpeinen, R., T. Kairesalo dan M. M. Haggblom. 2004. Microbial community
structure and activity in arsenic-, chromium- and copper contaminated
8

soils. FEMS Microbiology Ecology 47: 3950.

Volesky, B. 2003. Sorption Biosorption. BV Sorbex Inc, Canada..