Anda di halaman 1dari 32

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

REMAJA DENGAN PERGAULAN BEBAS












OLEH :
SUHENDRIK ADI P.
NIM 2010 08 0023





PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS GRESIK
2014


KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan
karuniaNya penulis akhirnya dapat menyelesaikan tugas makalah ini tepat waktu.
Dan dengan mengucap puji syukur atas curahan kasih karunia-Nya kepada
penulis, terutama ilmu dan akal sehat sehingga dengan ijin-Nya penulis dapat
menyusun dan menyelesaikan makalah yang berjudul ASUHAN
KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA ANAK USIA REMAJA dengan
tepat waktu. Makalah ini disusun sebagai tugas mata kuliah KOMUNITAS II.
Segala upaya telah penulis lakukan dan tidak lupa penulis ucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Diantaranya :
1. Zahid Fikri S.Kep, Ns selaku Dosen Pembimbing mata kuliah Komunitas II
2. Teman-teman yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.

Penulis dengan segala kerendahan hati merasa bahwa dalam
penyusununan makalah ini kurang sempurna, walaupun makalah ini telah
diseleseikan dengan segenap kemampuan, pemikiran dan usahanya, dan kiranya
sangatlah membantu penyempurnaan makalah ini jika pembaca yang budiman
bersedia memberi masukan, saran serta kritikan yang jelasnya mendukung bagi
karya penulis. Seperti kata pepatah bahwa tiada gading yang tak retak begitu
juga dengan keadaan makalah ini sekali lagi penulis mohon maaf jika makalah ini
kurang sempurna. Dan semoga makalah dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Gresik, 14 Februari 2014

Penulis




BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Remaja sebagai calon penerus bangsa, aset bangsa. Tahap
perkembangan yang rawan. Masalah yang paling banyak ditemukan : kehamilan,
penyalahgunaan obat dan alkohol, kecelakaan, bunuh diri, penyakit karena
hubungan sex ( Lancaster, 1996). Di Indonesia, masalah remaja : penyalahgunaan
obat dan alkohol, kehamilan, perilaku kekerasan dan malnutrisi.
Pada masa remaja terjadi perubahan psikologis maupun fisiknya.
Perubahan psikologis meliputi kondisi intelektual, emosi dan sosial. Sedangkan
perubahan fisik meliputi perubahan alat-alat reproduksi maupun fungsinya.
Dengan segala perubahan yang terjadi pada masa remaja ini, banyak
terjadi masalah-masalah yang berkaitan dengan seksual. Sexualitas dalam arti
yang luas adalah semua aspek badaniah, psikologik dan kebudayaan yang
berhubungan langsung dengan sex dan hubungan sex manusia.
Dengan demikian maka sex juga bio-psiko-sosial, karena itu
pendidikan sex yang harus diberikan pada remaja ini harus holistik pula. Bila
dititikberatkan hanya pada salah satu aspek saja, maka akan terjadi gangguan
keseimbangan. Umpamanya hanya aspek biologi saja yang diperhatikan atau
hanya aspek psikologik ataupun sosial saja yang dipertimbangkan. Sehingga perlu
mendapat perhatian khusus dari keluarga untuk penanganan yang serius. Asuhan
keperawatan kepada keluarga dengan remaja yang mempunyai masalah seksual
dilakukan mulai dengan pengkajian kepada seluruh anggota keluarga dan
intervensi yang dilakukan ditujukan kepada remaja pada khususnya dan keluarga
pada umumnya.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui perkembangan masa remaja dan perilakunya.
2. Mengetahui berbagai masalah seksual yang terjadi pada remaja sebagai
anggota keluarga dan peran keluarga.
3. Mengetahui asuhan keperawatan keluarga dengan remaja yang mempunyai
masalah seksual.

1.3 Rumusan Masalah
Bagaimana cara memberikan asuhan keperawatan komunitas
remaja dengan pergaulan bebas?
























BAB II
ISI


2.1 PENGERTIAN
Remaja : masa transisi/ peralihan dari masa kanak-kanak menujudewasa yang
ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik,psikis & psikososial.
Remaja awal (13-14 thn)
Remaja Tengah (15-17 Thn)
Remaja akhir (18-21 Thn)

2.2 PERKEMBANGAN
a. Perkembangan Kognitif Remaja
Abstrak. (teoritis) menghubungkan ide,pemikiran atau konsep pengertian guna
menganalisa dan memecahkan masalah. Contoh pemecahan masalah abstrak ;
aljabar.
Idealistik. berfikir secara ideal mengenai diri sendiri, orang lain maupun
masalah social kemasyarakatan yang ditemui dalam hidupnya.
Logika. berfikir seperti seorang ilmuwan, membuat suatu perencanaan
untukmemecahkan suatu masalah. Kemudian mereka menguji cara pemcahan
secara runtut, tratur dan sistematis.
b. Perkembangan Psikososial Remaja
Tugas Perkembangan (Menurut Havighurst)
Menyesuaikan diri dengan perubahan fisiologis psikologis
Belajar bersosialisasi sebagai seorang laki-laki maupun wanita
Memperoleh kebebasan secara emosional dari orang tua dan orang dewasa
lain
Remaja bertugas untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab.
Memperoleh kemandirian dan kepastian secara ekonomis
c. Perkembangan Identitas Diri
1. Konsep diri
2. Evaluasi diri
3. Harga diri
4. Efikasi diri
5. Kepercayaan diri
6. Tanggung jawab
7. Komitmen
8. Ketekunan
9. Kemandirian

2.3 REMAJA DALAM KELUARGA
Masalah penting hubungan keluarga adalah apa yang disebut dengan
kesenjangan generasi antara remaja dengan orang tua mereka (menonjol terjadi
dibidang norma-norma sosial).
Sebab-sebab umum pertentangan dengan keluarga adalah :
standart perilaku
Metode disiplin
Hubungan dengan saudara kandung
Merasa jadi korban
Sikap yang sangat kritis
Besarnya kelurga
Perilaku yang kurang matang
Memberontak terhadap sanak keluarga
Konflik Konflik Remaja Dalam Keluarga (Dariyo, 2004)
1. Konflik Pemilihan Teman atau pacar.
Bila remaja wanita ; anaknya diharapkan dapat menjaga diri agar
jangan sampai terlibat dalam pergaulan bebas (free-sex, narkoba)
Bila remaja laki-laki; anaknya diharapkan selalu waspada
2. Konflik pemilihan jurusan atau program studi
3. Konflik dengan saudara kandung (Biasa terjadi pertengkaran,
percekcokan atau konflik antara anak yang satu dengan yang lain)



Pola Asuh Orang Tua
Menurut Baumrind (1967), terdapat 4 macam pola asuh orang tua:

1. Pola asuh Demokratis
Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan
kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua
dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio
atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap
kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan
anak. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih
dan melakukan suatu tindakan, dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat.

2. Pola asuh Otoriter
Pola asuh ini cenderung menetapkan standar yang mutlak harus
dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Orang tua tipe ini
cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau
melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan
menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi dan dalam
komunikasi biasanya bersifat satu arah. Orang tua tipe ini tidak memerlukan
umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai anaknya.

3. Pola asuh Permisif
Pola asuh ini memberikan pengawasan yang sangat longgar.
Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa
pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur atau
memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit
bimbingan yang diberikan oleh mereka. Namun orang tua tipe ini biasanya
bersifat hangat, sehingga seringkali disukai oleh anak.

4. Pola asuh Penelantar
Orang tua tipe ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang
sangat minim pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk
keperluan pribadi mereka, seperti bekerja, dan juga kadangkala biaya pun
dihemat-hemat untuk anak mereka. Termasuk dalam tipe ini adalah perilaku
penelantar secara fisik dan psikis pada ibu yang depresi. Ibu yang depresi pada
umumnya tidak mampu memberikan perhatian fisik maupun psikis pada anak-
anaknya.
Menurut Diane Baumrind dalam Djiwandono (1989: 23-24) pola asuh orang
tua dapat diidentifikasikan menjadi 3, yaitu:

1. Pola asuh Demokratis
Pola asuh orang tua yang demokratis pada umumnya ditandai dengan
adanya sikap terbuka antara orang tua dan anak. Mereka membuat semacam
aturan-aturan yang disepakati bersama. Orang tua yang demokratis ini yaitu orang
tua yang mencoba menghargai kemampuan anak secara langsung.

2. Pola asuh Otoriter
Pola asuh otoriter ditandai dengan orang tua yang melarang anaknya
dengan mengorbankan otonomi anak. Menurut Danny (1986: 96), pola asuh
otoriter mempunyai aturan-aturan yang kaku dari orang tua.

3. Pola asuh Permisif
Pola asuh permisif ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas
kepada anak untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan keinginan anak.
Moesono (1993: 18) menjelaskan bahwa pelaksanaanpola asuh permisif atau
dikenal pula dengan pola asuh serba membiarkan adalah orang tua yang bersikap
mengalah, menuruti semua keinginan, melindungi secara berlebihan, serta
memberikan atau memenuhi semua keinginan anak secara berlebihan.


2.4 Faktor- Faktor terjadinya Kenakalan Remaja
1.Kondisi keluarga yang berantakan (Broken Home)
2. Kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua
3. Status sosial ekonomi orang tua rendah
4. Penerapan disiplin keluarga yang tidak tepat
2.5 Secara Umum Mekanisme Koping pada remaja
1. Penguasaan Kognitif
Usaha untuk belajar terhadap sistuasi atau stresor
Perbaiki informasi dengan sharing, diskusi.
2. Conformity (penyesuaian)
pengakuan kelompok
3. Perilaku terkontrol
Remaja butuh perubahan dalam hidupnya
Tidak dapat menerima peraturan keluarga dan sekolah tanpa
bertanya.
4. Fantasi
Membantu mengembangkan berfikir fantasi yang kreatif.
5. Aktivitas gerak


















BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN REMAJA


3.1 Pengkajian
Identitas
Riwayat & tahap perkmbangan keluarga
Lingkungan
Struktur keluarga
Fungsi keluarga
Penyebab masalah keluarga dan koping yang dilakukan keluarga
Status kesehatan sekarang dan masalalu
Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Pola aktivitas dan latihan
Pola nutrisi
Pola eliminasi
Pola istirahat
Pola kognitif persepsual
Pola toleransi stress/koping
Pola seksualitas dan reproduksi
Pola peran dan hubungan
Pola nilai dan kenyakinan
Penampilan umum
Perilaku selama wawancara
Pola komunikasi & Pola asuh orang tua
Kemampuan interaksi
Stresor jangka pendek & jangka panjang

3.2 Masalah keperawatan yang muncul
Koping individu tidak efektif
Perilaku destruktif
Depresi
Nutrisi kurang/lebih
Resiko terjadi cedera
Resiko terjadi penyimpangan seksual
Kurang perawatan diri
Distress spritual
Resiko penyalahgunaan obat
Potensial peningkatan kebugaran fisik
Potensial peningkatan aktualitasi diri.
Konflik keluarga
Gangguan citra tubuh

3.3 Rencana Asuhan Keperawatan Keluraga
Resiko Tinggi Konflik keluarga (hubungan keluarga tidak harmonis)
berhubungan dengan ketidakmampuan mengenal masalah yang terjadi pada
remaja.
Perencanaan.
Diskusikan faktor penyebab
Diskusikan tugas perkembangan keluarga
Diskusikan tugas perkembangan anak yang harus di jalani
Diskusikan cara mengatasi masalah yang terjadi pada remaja
Diskusikan tentang alternatif mengurangi atau menyelesaikan masalah
Ajarkan cara mengurangi atau menyelesaikan masalah
Berikan pujian bila keluarga dapat mengenali penyebab atau mampu membuat
alternatif

3.4 Implementasi
Mendiskusikan faktor penyebab
Mendiskusikan tugas perkembangan keluarga
Mendiskusikan tugas perkembangan anak yang harus di jalani
Mendiskusikan cara mengatasi masalah yang terjadi pada remaja

3.5 Evaluasi
Koping individu efektif
Perilaku konstruktif
Tidak terjadi depresi
Nutrisi terpenuhi
Tidak terjadi terjadi cedera


























DAFTAR PUSTAKA


http://ayam65.wordpress.com/2008/06/16/askep-remaja-2/
http://materi-kuliah-akper.blogspot.com/2010/05/askep-keluarga-dengan-remaja-
askep.html
http://materi-kuliah-akper.blogspot.com/2010/04/asuhan-keperawatan-
keluarga.html
http://organisasi.org/jenis-macam-tipe-pola-asuh-orangtua-pada-anak-cara-
mendidik-mengasuh-anak-yang-baik
















Asuhan Keperawatan Keluarga Masalah Seks






BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada masa remaja terjadi perubahan psikologis maupun fisiknya.
Perubahan psikologis meliputi kondisi intelektual, emosi dan sosial. Sedangkan
perubahan fisik meliputi perubahan alat-alat reproduksi maupun fungsinya.
Dengan segala perubahan yang terjadi pada masa remaja ini, banyak
terjadi masalah-masalah yang berkaitan dengan seksual. Sexualitas dalam arti
yang luas adalah semua aspek badaniah, psikologik dan kebudayaan yang
berhubungan langsung dengan sex dan hubungan sex manusia.
Dengan demikian maka sex juga bio-psiko-sosial, karena itu pendidikan sex yang
harus diberikan pada remaja ini harus holistik pula. Bila dititikberatkan hanya
pada salah satu aspek saja, maka akan terjadi gangguan keseimbangan.
Umpamanya hanya aspek biologi saja yang diperhatikan atau hanya aspek
psikologik ataupun sosial saja yang dipertimbangkan. Sehingga perlu mendapat
perhatian khusus dari keluarga untuk penanganan yang serius. Asuhan
keperawatan kepada keluarga dengan remaja yang mempunyai masalah seksual
dilakukan mulai dengan pengkajian kepada seluruh anggota keluarga dan
intervensi yang dilakukan ditujukan kepada remaja pada khususnya dan keluarga
pada umumnya.
B. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui perkembangan masa remaja dan perilakunya.
2. Mengetahui berbagai masalah seksual yang terjadi pada remaja sebagai anggota
keluarga dan peran keluarga.
3. Mengetahui asuhan keperawatan keluarga dengan remaja yang mempunyai
masalah seksual.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Remaja
Masa remaja adalah masa peralihan dimana terjadi perubahan secara pisik dan
psikologis dari masa kanak-kanak ke masa dewasa(Hurlock, 1973). Perubahan
psikologi meliputi intelektualnya, kehidupan emosinya, kehidupan sosialnya,
sedangkan fisiknya mencakup juga seksualnya dimana alat-alat reproduksi sudah
mencapai kematangan dan mulai berfungsi.
WHO menetapkan batas 10-20 tahun sebagai batasan usia remaja. Dan membagi
kurun usia tersebut dalam dua kelompok usia yaitu usia remaja awal (10-14 tahun)
dan usia remaja akhir (15-20 tahun).
Terdapat ciri-ciri tertentu pada kedua kelompok usia remaja tersebut :
1. Usia remaja awal
a). Keadaan perasaan dan emosi
Keadaan perasaan dan emosinya tidak stabil. Remaja awal dilanda pergolakan
sehingga selalu mengalami perubahan dalam perbuatannya.
b). Keadaan mental
Kemampuan mental khususnya kemampuan berfikir mulai sempurna atau kritis
dan dapat melakukan abstraksi, mulai menolak hal-hal yang kurang dimengerti
sehingga terjadi pertentangan dengan orang tua, guru maupun orang dewasa
lainnya. Biasanya memasuki kelompok sebaya yang sama jenisnya.
c). Keadaan kemauan
Kemauan atau keinginan untuk mengetahui berbagai hal dengan jalan mencoba
segala hal yang dilakukan orang dewasa. Anak pria mencoba merokok, anak
wanita bersolek mereka ada yang mencoba melakukan hubungan seks.
d). Keadaan moral
Pada awal remaja dorongan seks sudah cenderung memperoleh pemuasan
sehingga mulai berani menunukkan sikap-sikap menarik perhatian (seks appearl).
2. Usia remaja akhir
a). Keadaan perasaan dan emosi
Emosi dan kestabilannya meningkat, namun sesekali masih tampak luapan
emosinya. Remaja akhir lebih dapat mengadakan penyesuaian diri kedalam
berbagai aspek kehidupan.
b). Keadaan mental
Kemampuan berfikir lebih sempurna, kritis. Kemampuan berfikir secara abstrak
sudah mencapai kesempurnaan.
c). Keadaan kemauan
Kemauannya telah terarah sesuai dengan cita-cita dan kemampuannya. Langkah-
langkah makin terkendal sesuai dengan situasi dan kondisi. Remaja telah dapat
merencanakan langkah-langkah mana yang harus ditempuh.
d). Keadaan moral
Moral sudah pada tingkat post konvensional atau penilaian moral yang prinsip.
Mereka telah melakukan tingkah laku moral yang bertanggung jawab. Remaja
akhir lebih realistis pada keadaan yang senyatanya baik mengenai dirinya, hal-hal
umum, keluarga maupun terhadap benda.



B. Masalah seksual Remaja
Sexualitas dalam arti yang luas adalah semua aspek badaniah, psikologik dan
kebudayaan yagn berhubungan langsung dengan sex dan hubungan sex
manusia.(Maramis,1998).
Seksualitas, reaksi dan tingkah laku seksual didasari dan dikuasai oleh nilai-nilai
kehidupan manusia yang lebih tinggi. Jadi seksualitas dapat dipandang sebagai
pencetusan dari hubungan antar individu, dimana daya tarik rohaniah dan
badaniah menjadi dasar kehidupan bersama. Dengan demikian hubungan seksual
tidak hanya alat kelamin dan daerah erogen yang pegang peranan, melainkan juga
psikik dan emosi,(Wiknjosastro,1997).
Perilaku sexual yang normal ialah yang dapat menyesuaikan diri, bukan saja
dengan tuntutan masyarakat, tetapi juga dengan kebutuhan individu mengenai
kebahagiaan dan eprtumbuhan yaitu perwujudan diri sendiri atau peningkatan
kemampuan individu untuk mengembangkan kepribadian individu untuk
mengembangkan kepribadiannya menjadi lebih baik.
Dorongan sex seperti dorongan-dorongan lain pada manusia merupakan kejadian
yang normal dan netral. Tergantung pada manusialah dorongan itu akan
disalurkan dengan cara yang bagaimana. Dorongan sex menimbulkan rasa ingin
tahu pada remaja dan yang sedang berkembang. Bila rasa ingin tahu ini tidak
dipenuhi secara baik maka anak akan mendapatkannya dari sumber-sumber lain
yang diragukan efek edukatifnya dan yang senantiasa siap untuk memberi
penerangan itu seperti majalh, komik, film dan lain-lain. Karena itu remaja perlu
diberi pendidikan sex.
Masalah-masalah yang banyak dibicarakan dikalangan remaja sendiri diantaranya
1. Perkosaan
Perkosaan yang terjadi pada remaja akan menimbulkan banyak masalah terkait
dengan aspek fisik maupun psikologisnya. Trauma fisik tentunya akan
mempengaruhi kondisi kesehatannya, apalagi bila sampai terjadi kehamilan resiko
terjadi aborsi yang bisa membahayakan. Sedangkan trauma psikologis akan
mengancam timbulnya berbagai masalah kejiwaan.
2. Masturbasi
Masturbasi ialah menimbulkan rangsangan dan kepuasan sexual pada diri
sendiri.(Maramis,1998). Pemuasan sendiri secara sexual tanpa koitus biasanya
dengan tangan atau benda lain sering dilakukan oleh anak dan muda-mudi dalam
perkembangan fisik dan psikoseksualnya.
Dalam pubertas waktu hormon sex dan ciri-ciri sex sekunder mulai berkembang,
maka rasa ingin tahu lebih besar dan masturbasi bertambah banyak. Masturbasi
menjadi patologik bila dilakukan secara kompulsif sehingga merupakan suatu
gejala gangguan jiwa bukan karena sexual, tetapi karena impulsif.
Penyimpangan ini tidak dilakukan oleh kelainan psikis, akan tetapi sebaliknya
kadang-kadang dapat menimbukan konflik emosional di kemudian hari karena
yagn bersangkutan merasa berbuat salah dan berdosa. Penyuluhan yang bijaksana
dapat menghindari atau menghilangkan konflik.
3. Homoseks
Merupakan hubungan seksual antara dua orang pria. Dalam arti yang luas istilah
ini sebenarnya berlaku pula bagi pasangan wanita-wanita. Untuk ini lazim dipakai
istilah lesbianisme. Pencegahan dapat dilakukan dengan mengenal dan mengobati
anak-anak dengan tanda-tanda feminin sebelum terjadi aktivitas seksual. Untuk
mengenal ini perlu diberi penerangan kepada para orang tua, dokter, pendidik dan
kaum rohaniwan.
4. Disfungsi seksual
Pada pria disfungsi sexual ini diantaranya impotensi dan ejakulasi dini.
Sedangkan pada wanita meliputi frigiditas, disparenia dan vaginismus.
5. Eksploitasi seksual
Eksploitasi seksual disini bisa berupa senangnya remaja mencoba-coba menikmati
perubahan fisik dan psikologisnya yang terkait dengan seksualitas. Dorongan-
dorongan sex pada remaja timbul dan hal ini adalah normal. Tetapi penyaluran
yang tidak wajar inilah seringkali menimbulkan terajdinya eksploitasi seksual.
Jadi remaja cenderung menyalurkan seksualitas dengan mengeksploitasi dirinya
sendiri salah satunya dengan pergaulan bebas yang cenderung akrab dengan free
seks.


C. Keluarga dengan anak remaja
1. Peran dan Tanggungjawab Orang Tua
Duvall (1997) mengidentifikasi tugas-tugas perkembangan yang penting
pada masa ini yang menyelaraskan kebebasan dengan tanggungjawab ketika
remaja menjadi matang dan mengatur diri mereka sendiri. Friedman (1995):
bahwa tugas orang tua selama tahap ini adalah belajar menerima penolakan tanpa
meninggalkan anak.
Ketika orangtua menerima remaja apa adanya, dengan segala kelemahan
dan kelebihan mereka dan ketika mereka menerima sejumlah peran mereka pada
tahap perkembangan ini tanpa konflik atau sensitivitas yang tidak pantas, mereka
membentuk pola untuk semacam penerimaan diri yang sama.
Orang tua merasa berkompetisi dengan berbagai kekuatan sosial dan
institusi mulai dari otoritas sekolah dan konselor hingga keluarga berencana dan
seks pra nikah dan pilihan kumpul kebo. Mobilitas penduduk dan kurangnya
hubungan orang dewasa yang kontinu bagi remaja dan orang tua untuk
mendiskusikan masalah-masalah yang berkaitan dengan obat-obatan secara
terbuka dan tidak menghakimi bersama anak-anak mereka juga memberikan
kontribusi pada masalah-masalah orangtua remaja.

2. Tugas-tugas Perkembangan Keluarga
a). Menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab ketika remaja
matur dan semakin mandiri.
Orangtua harus mengubah hubungan mereka dengan remaja putri atau
putranya secara progresif dari hubungan dependen yang dibentuk sebelumnya ke
arah hubungan yang semakin mandiri. Agar keluarga dapat beradaptasi dengan
sukses selama tahap ini semua anggota keluarga khususnya orangtua harus
membuat perubahan sistem utama yaitu membentuk peran-peran dan norma-
norma baru dan membiarkan remaja.
b). Memfokuskan kembali hubungan perkawinan.
Banyak sekali pasangan suami istri yang telah begitu terikat dengan
berbagai tanggungjawab sebagai orangtua sehingga perkawinan tidak lagi
memainkan suatu peran utama dalam kehidupan mereka. Akan tetapi di sisi lain
karena anak anak lebih bertanggungjawab, mereka dapat mulai membangun
fondasi untuk tahap siklus kehidupan keluarga berikutnya.
c). Berkomunikasi secara terbuka antara orang tua dan anak.
Karena adanya kesenjangan antar generas, komunikasi terbuka seringkali
hanya merupakan suatu cita-cita bukan suatu realita. Seringkali terdapat saling
tolak-menolak antara orang tua dan remaja menyangkut nilai dan gaya hidup.
Memperhatikan etika dan standar moral keluarga merupakan tugas
perkembangan keluarga lainnya. Sementara remaja mencari nilai-nilai dan
keyakinan-keyakinan mereka sendiri, adalah sangat penting bagi orangtua untuk
mempertahanan dan mengetatkan prinsip-prinsip dan standar mereka.

3. Masalah-masalah kesehatan
Penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, keluarga berencana, kehamilan
yang tidak dikehendaki, dan pendidikan dan konseling seks merupakan bidang
perhatian yang relevan.


BAB III
STUDI KASUS
I. Kasus dengan masalah seks bebas pada remaja

Keluarga Tn. A hidup bersama istri dan seorang anaknya Y. pekerjaan Tn.
A adalah sopir taksi gelap yang beroperasi pada malam hari hingga pagi hari. Ny.
A bekerja sebagai karyawati pada sebuah perusahaan garmen dengan jam kerja
08.00 14.00, terkadang lembur hingga malam.
An. Y pelajar kelas 3 SMU sering bermain diluar rumah dengan teman laki-
lakinya pulang sampai larut malam. Pergaulan bebas dengan teman-temannya
akhirnya menjadi kebiasaan. Tn. A sudah menegur berulang kali tapi anak Y tetap
melakukannya. Suatu hari Tn. A memergoki anaknya bersama teman pria
wanitanya nonton VCD porno di rumah, langsung Tn. A memarahi anaknya dan
melarang pergaulan si anak. Sejak itu percekcokan sering terjadi antara Tn. A dan
An. Y diantara mereka tidak pernah ada komunikasi yang terbuka, sementara itu
Ny. A lebih banyak diam dan terkadang membela anaknya. Tn. A makin keras
melarang anaknya bergaul dengan teman-temannya ketika pada suatu malam
melihat anaknya berada di sebuah hotel bersama temannya yang berpasang-
pasangan.
Sementara itu An. Y mengatakan bahwa ia pernah mencoba melakukan hubungan
seks dengan pacarnya sebanyak 2 kali
II. Asuhan Keperawatan Keluarga pada Keluarga dengan Masalah Sexual
pada remaja (seks bebas pada remaja)
A. Pengkajian
a. Data Umum
1.Nama kepala keluarga : Tn. A
2.Pekerjaan : Karyawan PT Haruka
3.Alamat : Jl. Perintis Kemerdekaan 103 Semarang
4.Komposisi keluarga :

No

Nama Umur

Sex

Tgl lahir Pendidikan

Pekerjaan

Ket.
1.
2.
3.
Tn. A
Ibu N
An. Y
40 th
37 th
17 th
L
P
P
4-8-1963
5-7-1966
2-4-1986
SMA
SMA
SMA kls III

IRT
Pelajar
Suami
Istri
Anak


Genogram :


















Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Tinggal dalam satu rumah




5. Tipe keluarga
Keluarga Bp. H merupakan keluarga inti yang terdiri dari suami, istri dan satu
orang anak.
6. Suku bangsa
Tn. A dan Ny. R berasal dari suku yang sama yaitu suku jawa. Budaya keluarga
Tn. A mengikuti kebiasaan serta budaya suku jawa.
7. Agama
Agama seluruh anggota keluarga adalah islam.
8. Status sosial ekonomi
Keluarga di lingkungannya tergolong keluarga dengan status sosial kebanyakan
seperti keluarga lain. Sedang status ekonomi cukup dimana Tn. A bekerja sebagai
sopir taksi gelap dan Ny. R sebagai karyawan pabrik.
9.Aktivitas rekreasi
Keluarga jarang melakukan rekreasi bersama. Karena selain ekonomi yang kurang
begitu baik juga masing-masing sibuk dengan urusannya masing-masing.

b. Riwayat tahap perkembangan keluarga
10. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Keluarga mencapai tahap perkembangan dengan anak pertama usia remaja.
11. Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Tugas-tugas perkembangan pada tahap ini telah dilaksanakan oleh keluarga Tn. A
dengan baik. Tidak ada tugas perkembangan yang belum terpenuhi.
12. Riwayat keluarga inti
Keluarga Tn. A tidak memiliki riwayat penyakit keturunan seperti DM,
Hipertensi, epilepsi dll. Dalam keluarga mereka tidak pernah mengalami kondisi
sakit yang berat, hanya kadang flu serta lemas karena kecapekan.
13. Riwayat keluarga sebelumnya
Yn. A merupakan anak pertama dari dua bersaudara dan adik perempuannya juga
sudah menikah. Hubungan keluarga mereka cukup baik, kalau ada waktu luang
mereka saling berkunjung. Sedang Ny. A anak terakhir dari tiga bersaudara.
Kakak laki-lakinya sudah menikah dengan dua anak sedangkan kakak
perempuannya juga sudah menikah dengan anak satu. Hubungan kekluargaa
merak juga baik tetap ada komunikasi.
c. Lingkungan
14. Karakteristik rumah
Keluarga Tn. A tinggal di rumah permanen dengan luas tanah 150 m
2
dan luas
bangunan 100 m
2
terdiri dari 75 % berlantai plester dan semen 25 %( ruang dapur
dan kamar mandi). Ventilasi cukup baik cahaya matahari bisa masuk melalui
jendela maupun pintu. Penerangan dengan menggunakan listrik. Sedangkan air
bersih diperoleh dari PAM. Pengelolaan sampah dilakukan dengan penempatan di
tempat tertutup yang selanjutnya diambil oleh petugas sampah. Limbah keluarga
langsung terbuang melalui selokan di belakang rumah yang mengalir ke sungai.
WC terletak didalam kamar mandi dengan septik tank berada di luar rumah.
Denah rumah :







Keterangan :



a. Ruang tamu
b. Ruang tidur I
c. Ruang tidur II
d.Ruang santai keluarga
e. Ruang makan
f. Ruang dapur
g. Kamar mandi dan WC

15. Karakteristik tetangga dan komunitas RW
Tetangga keluarga Tn. A pada umumnya bekerja sebagai karyawan swasta. Jarak
rumah mereka agak berdekatan. Ikatan antar keluarga baik, saling tolong
menolong masih menjadi kebiasaan di wilayah tersebut.
16. Mobilitas geografis keluarga
Keluarga Tn. A merupakan salah satu keluarga yang bertempat tinggal menetap
jadi belum pernah pindah dari rumah yang sekarang.
17. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Keluarga dapat saling bertemu pada sore hari setelah anak pulang dari sekolah
serta ibu pulang dari bekerja. Sedangkan malam harinya Tn. A bekerja sebagai
sopir taxi. Untuk mengikuti perkumpulan di limgkungan masyarakat Tn. A
menyempatkan diri sebelum dia bekerja
18. Sistem pendukung keluarga
Seluruh anggota keluarga sekarang ini dalam keadaan yang sehat, jika ada salah
satu dari anggota keluarga yagn sakit maka segera dibawa ke pelayana kesehatan.

d. Struktur keluarga
19. Pola komunikasi keluarga
Pola komunikasi dalam keluarga Tn. A saat ini mengalami gangguan, karena ada
masalah komunikasi antara Tn. A dan An. Y. Mereka sama-sama keras dalam
berkomunikasi. Masing-masing merasa benar dengan cara mereka.


20. Struktur kekuatan keluarga
Kekuatan keluarga untuk mengendalikan perilaku anak kurang begitu baik.
Karena anak masih dengan perilakunya yagn bertentangan dengan nilai-nilai yang
ada yaitu melakukan pergaulan bebas (free seks).
21. Struktur peran
Tn. A berperan sebagai kepala rumah tangga yang mencari nafkah untuk
keluarganya dengan dibantu oleh istrinya. Sedangkan Ny. A masih bisa berperan
sebagai ibu dan istri selain harus mencari nafkah mambantu suami.
22. Nilai atau norma keluarga
Keluarga Tn. A percaya bahwa kesehatan sangat penting sehingga berusaha
mempertahankan kondisi sehat.

e. Fungsi keluarga
23. Fungsi afektif
Anggota keluarga saling menyayangi dan memperhatikan. Tapi kadang karena
kesibukan masing-masing hal itu susah dilakukan. Persoalan dalam keluarga
jarang dibicarakan bersama sehingga memicu terjadinya masalah komunikasi.
24. Fungsi sosialisasi
Sosialisasi dilakukan denga mengikuti kegiatan di lingkungan seperti arisan,
kebersihan lingkungan. Sedangkan anaknya sulit untuk melakukan sosialisasi
dengan tetangga karena sering pergi dengan temannya hingga larut malam. An. Y
telah terlibat dalam pergaulan bebas dan keluarga tidak bisa menanamkan
nilai/norma kepada anaknya.
25. Fungsi perawatan kesehatan
Keluarga belum mengenal masalah komunikasi sehingga konflik selalu terjadi
pada keluarga. Keluarga belum mengenal bagaimana cara berkomunikasi yang
efektif sehingga apa yang dibicarakan dapat dipahami oleh keluarga. Selain itu
keluarga juga belum dapat mengambil tindakan yang seharusnya sehubungan
dengan perilaku anaknya. Keluarga merasakan bahwa anaknya keliru dalam
pergaulan dan keluarga takut anaknya nanti hamil karena pergaulan bebas yang
mengarah ke free seks. Keluarga tidak tahu apa yang seharusnya ia sampaikan
pada anak sehingga keluarga belum bisa mengambil keputusan untuk memberikan
bimbingan.
26. Fungsi reproduksi
Keluarga Tn. A baru memiliki seorang anak yang berumur 17 tahun. Rencana
untuk memiliki anak lagi sebenarnya ada tapi belum dikaruniai meskipun Ny. A
sudah tidak KB.
27. Fungsi ekonomi
Keluarga Tn. A secara ekonomi telah mampu memenuhi kebutuhan hidup
keluarga sehari-hari, juga telah memiliki tabungan meskipun jumlahnya tidak
seberapa.

f. Stress dan Koping keluarga
28. Stressor jangka pendek dan panjang
Stressor jangka pendek yaitu komunikasi yang buruk antara ayah dan anak serta
adanya perilaku anak dengan pergaulan bebas yang cenderung ke seks bebas.
Sedang stressor jangka panjang kebutuhan ekonomi yang masih belum sesuai
dengan keinginan keluarga
29. Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/stressor
keluarga telah melarang anaknya dari pergaulan bebas, tapi tidak mampu untuk
memberikan pengarahan/bimbingan pada anak. Sedangkan ibu tidak mampu
bersikap atau tidak konsisten dengan perilaku anaknya dengan sering membela
bila ditegur ayahnya.
30. Strategi koping yang digunakan
Tn. A cenderung melampiaskan kekecewaan terhadap anaknya dengan memarahi
anaknya tanpa menggunakan cara yang bijaksana. Sedang anak karena kondisi
rumah yang tidak memuaskan dia lari ke pergaulan yang tidak benar dan teguran
keluarga dihadapi dengan emosi pula dan cenderung melawan.
31. Strategi adaptasi disfungsional
Keluarga tidak mamapu untuk beradaptasi dengan permasalahan yang dihadapi.
Menyadari masalah ada tapi kurang mampu mengambil tindakan.

g. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik Tn. A
Keadaan umum : baik, tampak sehat.
Kesadaran : komposmentis
Tanda-tanda vital:TD : 130/90 mmHg ; N: 84 x/menit; RR : 20x/menit; S : 36,8C
Kepala : rambut: hitam, lurus, tidak muntah rontok; mata : sklera tidak ikterik, kornea
jernih, konjungtiva merah muda, pupil isokor, fungsi penglihatan normal; hidung:
bersih, septum simetris, tidak ada polip; telinga: tidak ada serumen, mampu
mendengar normal; mulut: bersih , tidak berbau, tidak ada karies, lidah bersih.
Dada : bentuk normal, suara nafas vesikuler, irama nafas teratur, tidak ada ronkhi,
denyut jantung normal.
Abdomen : agak cembung, tidak ada massa, tidak ada nyeri tekan.
Genetalia : tidak ada hemoroid dan bersih.
Ekstremitas : tidak ada edema, tidak ada keterbatasan gerak.

Pemeriksaan fisik Ny. A
Keadaan umum : baik
Kesadaran : komposmentis
Tanda-tanda vital:TD : 120/80 mmHg ; N: 80 x/menit; RR : 18x/menit; S : 36,5C
Kepala : rambut: hitam, ikal, tidak muntah rontok; mata : sklera tidak ikterik, kornea
jernih, konjungtiva merah muda, pupil isokor, fungsi penglihatan normal; hidung:
bersih, septum simetris, tidak ada polip; telinga: tidak ada serumen, mampu
mendengar normal; mulut: bersih , tidak berbau, tidak ada karies, lidah bersih.
Dada : bentuk normal, suara nafas vesikuler, irama nafas teratur, tidak ada ronkhi,
denyut jantung normal.
Abdomen : agak cembung, tidak ada massa, tidak ada nyeri tekan.
Genetalia : tidak ada hemoroid dan bersih.
Ekstremitas : tidak ada edema, tidak ada keterbatasan gerak.

Pemeriksaan fisik An. Y
Keadaan umum : baik
Kesadaran : komposmentis
Tanda-tanda vital:TD : 110/90 mmHg ; N: 78 x/menit; RR : 20x/menit; S : 36,6C
Kepala : rambut: merah, ikal, tidak muntah rontok; mata : sklera tidak ikterik, kornea
jernih, konjungtiva merah muda, pupil isokor, fungsi penglihatan normal; hidung:
bersih, septum simetris, tidak ada polip; telinga: tidak ada serumen, mampu
mendengar normal; mulut: bersih , tidak berbau, ada karies, lidah bersih.
Dada : bentuk normal, suara nafas vesikuler, irama nafas teratur, tidak ada ronkhi,
denyut jantung normal.
Abdomen : datar, tidak ada massa, tidak ada nyeri tekan.
Genetalia : tidak ada hemoroid dan bersih.
Ekstremitas : tidak ada edema, tidak ada keterbatasan gerak

h. Harapan keluarga
Keluarga mengharapkan permasalahan dalam keluarganya segera teratasi dan
masing-masing dapat menata kembali hubungan dalam keluarga dengan baik.


B. ANALISA DATA

No Data Masalah Penyebab
1. Subyektif :
An.Y mengatakan merasa jengkel
karena keluarga terlalu membatasi
pergaulan dan tidak dapat
meyakinkan keluarga bahwa
pergaulannya masih wajar.
Keluarga tidak suka dengan tingkah
laku anaknya.
Keluarga mengatakan tidak tahu
kenapa antara Tn. A dan An. Y
selalu ribut bila bertemu.
Obyektif :
Hubungan keluarga dan anak
terlihat kaku
Keluarga berbicara kepada anak
Konflik pada
keluarga Tn. A
Ketidakmampuan
keluarga mengenal
masalah
komunikasi
dengan nada tinggi.
2. Subyektif :
An. Y mengatakan senang dengan
pergaulan bebas karena bagi remaja
hal itu adalah wajar dan
mengatakan sering keluar rumah
dengan teman laki-lakinya sampai
larut malam.
Keluarga mengatakan tidak mampu
untuk memberikan nasehat pada
anak agar tidak terlibat pergaulan
bebas seperti menginap di hotel
bersama temannya.
Obyektif :
Keluarga tampak tidak konsisten
dalam menanggapi masalah
anaknya.

Resiko terjadi
kehamilan pra
nikah
Ketidakmampuan
keluarga
mengambil
tindakan
mengarahkan
pergaulan yang
sehat.

DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL :
Konflik pada keluarga TN. A berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga
mengenal masalah komunikasi.
Resiko terjadi kehamilan pra nikah berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga
mengambil tindakan mengarahkan pergaulan yang sehat.
SKALA PRIORITAS MASALAH
1. Konflik pada keluarga Tn. A
Kriteria Bobo
t
Perhitungan Pembenaran
1.Sifat masalah :
Aktual (3)
1 3/3 x 1 = 1 Masalah ini merupakan
masalah aktual, telah terjadi
konflik pada keluarga Tn. A
2.Kemungkinan
masalah dapat di
rubah :
sebagian (1)
2 1/2 x 2 = 1 Dengan adanya kerjasama
antar anggota keluarga
masalah dapat teratasi

3.Potensi masalah
untuk dicegah :
Cukup (2)
1 2/3 x 1 = 2/3 Konflik sulit dicegah karena
cara komunikasi yang buruk
4.Menonjolnya masalah
Harus ditangani (2)
1 2/2 x 1 = 1 Masalah sudah aktual dan
perlu segera ditangani
Skor 3 2/3


2. Resiko terjadi kehamilan pra nikah
Kriteria Bobo
t
Perhitunga
n
Pembenaran
1.Sifat masalah :
Ancaman kesehatan
1 2/3 x 1 =
2/3
Hal ini bisa menimbulkan
masalah psikologis dan
kesehatan
2.Kemungkinan
masalah dapat di
rubah :
Sebagian
2 1/2 x 2 = 1 Masalah dapat teratasi bila
keluarga mampu melakukan
bimbingan pada anak agar
meninggalkan pergaulan bebas.

3.Potensi masalah
untuk dicegah :
Cukup
1 2/3 x 1 =
2/3
Dengan timbulnya kesadaran
pada anak maka pergaulannya
dapat dikendalikan
4.Menonjolnya masalah
:
Harus segera
1 2/2 x 1 = 1 Keluarga merasa perlu merubah
perilaku anaknya tapi tidak tahu
cara yang tepat.
ditangani
Skor 31/3