Anda di halaman 1dari 18

MESIN GREEN-WASHING

SEBAGAI INOVASI MESIN CUCI


UNTUK USAHA LAUNDRY RAMAH LINGKUNGAN



Oleh :
M. Rasyid Ridha
NIM. H1E110006



PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2013

iii

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. iv
DAFTAR TABEL ................................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................. 2
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................................... 2
1.4 Manfaat Penulisan ............................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 3
2.1 Detergen dan Limbah Laundry ......................................................................... 3
2.2 Zeolit Alam sebagai komponen Filtrasi ............................................................ 4
2.3 Studi Terkait Mengenai Pengolahan Limbah Menggunakan Membran ........... 5
2.4 Pengertian Inovasi ............................................................................................. 6
2.5 Teknologi Tepat Guna ....................................................................................... 6
BAB III PEMBAHASAN ....................................................................................... 8
3.1 Ide Studi ....................................................................................................... 8
3.2 Alat dan Bahan .................................................................................................. 8
3.3 Rancangan Alat ................................................................................................. 8
3.4 Prinsip kerja Mesin Green-Washing ............................................................... 10
BAB IV PENUTUP .............................................................................................. 12
4.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 12
4.2 Saran ..................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 12

iv


DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Desain Mesin Green Washing .................................................... 9
Gambar 2 Mesin Green-Washing Dan Bak yang Bisa Dibongkar Pasang 10
Gambar 3 Konsep Kerja Mesin Green-Washing ...................................... 11

v

DAFTAR TABEL
Tabel 1 Kandungan Limbah Laundry ......................................................... 4

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Usaha laundry (binatu) merupakan usaha yang sedang berkembang pesat
di masyarakat. Dalam prosesnya mencuci pakaian, laundry sangat memerlukan
air. Air merupakan komponen vital dalam operasi suatu industri
laundry.Kebutuhan air untuk industri laundry rata-rata 15 L untuk memproses 1
kg pakaian dan menghasilkan 400 m3 limbah cair per hari (Ciabatti, 2010). Air
buangan Detergen/laundry dapat menimbulkan permasalahan serius karena
produk Detergen dan bahan-bahan ingredientnya dapat menyebabkan toxic bagi
kehidupan dalam air. Air buangan sisa detergen yang dihasilkan dalam volume
besar sangat berbahaya untuk kelestarian sungai dan tanah. Surfaktan anionik dan
nonionik merupakan komponen utama dalam Detergen. Karena sifatnya yang
kompleks, air limbah Detergen/laundry sangat sukar untuk diolah.
Pengolahan limbah cair hasil industri laundry sering menghadapi berbagai
kesulitan diantaranya tingginya konsentrasi surfaktan, tingginya kadar zat organik
dan anorganik. Metoda yang dapat diterapkan untuk mereduksi surfaktan
mencakup proses-proses kimia dan oksidasi elektrokimia, teknologi membran,
presipitasi secara kimia, degradasi fotokatalitik, adsorbsi dan berbagai metoda
biologis yang tidak begitu efektif karena proses yang berlangsung lambat.Untuk
melindungi lingkungan terhadap pengaruh air limbah khususnya Detergen/laundry
maka perlu dicari metode pengolahan yang efisien. Filter keramik yang dibuat
dari campuran tanah liat alam, zeolit dan serbuk besi dengan komposisi 77,5%
tanah liat, 20% zeolit dan 2,5% dapat menurunkan kadar Detergen, COD dan
BOD yang terdapat dalam air buangan proses laundry dan memberikan hasil fluks
permeat yang cukup baik (Ir. Subriyer Nasir, 2011)
Mesin Green-Washing merupakan ide penulis sendiri. Inovasi dari mesin
cuci ini adalah memodifikasi mesin cuci yang mana hasil buangan airnya berupa

2

air bersih dan dapat digunakan kembali untuk mencuci. Diharapkan dapat
dilakukan cukup satu kali penggunaan air. Air yang telah dipakai atau dibuang
setelah mencuci akan keluar dengan menjadi air bersih dan dapat digunakan lagi
untuk membilas. Dengan modifikasi pada alat (mesin cuci) maka diharapkan air
limbah tidak terlalu mencemari lingkungan serta menambah efisiensi air. Dengan
adanya efisiensi air maka diharapkan menambah keuntungan secara ekonomi bagi
usaha laundry. Dalam hal ini penggunaan teknologi tepat guna merupakan solusi yang
cerdas untuk masalah limbah laundry.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang terjadi pada usaha laundry adalah pemakaian air yang
cukup besar serta limbah buangan Detergen yang dapat mencemari lingkungan.
Penggunaan Mesin Green-Washing sebagai inovasi dari mesin cuci merupakan
salah satu alternatif untuk mengatasi kedua permasalahan tadi sekaligus.
Permasalahan dalam tulisan ini adalah bagaimana konsep Mesin Green-Washing
dan cara kerjanya untuk mewujudkan usaha laundry ramah lingkungan.
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui konsep Mesin Green-Washing dan
cara kerjanya untuk mewujudkan usaha laundry ramah lingkungan
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan ini adalah untuk memberikan ide kreatif pada pelaku
industri untuk membuat mesin cuci untuk usaha yang ramah lingkungan.


3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Detergen dan Limbah Laundry
Detergen merupakan suatu senyawa sintetis zat aktif muka (surface active
agent) yang dipakai sebagai zat pencuci yang baik untuk keperluan rumah tangga,
industri tekstil, kosmetik, obat-obatan, logam, kertas, dan karet. Detergen
memiliki sifat pendispersi, pencucian dan pengemulsi. Penyusun utama senyawa
ini adalah Dodecyl Benzena Sulfonat (DBS) yang memiliki kemampuan untuk
menghasilkan busa (Ginting, 2007).
Limbah laundry yang dihasilkan oleh detergen mengandung pospat yang
tinggi. Pospat ini berasal dari Sodium Tripolyphospate (STPP) yang merupakan
salah satu bahan yang kadarnya besar dalam detergen (HERA, 2003). Dalam
detergen, STPP ini berfungsi sebagai builder yang merupakan unsur terpenting
kedua setelah surfaktan karena kemampuannya menonaktifkan mineral kesadahan
dalam air sehingga detergen dapat bekerja secara optimal. STPP ini akan
terhidrolisa menjadi PO4 dan P2O7 yang selanjutnya juga terhidrolisa menjasi PO4
(HERA, 2003).
Pemutih, air sorftener, surfaktan merupakan bahan terpenting pada
detergen laundry (Jakobi dan Lohr, 1987). Kandungan limbah laundry yang
sangat kotor mengandung mineral oil, logam berat, dan senyawa berbahaya di
mana harga COD mencapai 1200 sampai 20.000 mg O2/L. Limbah laundry dari
hotel, harga COD mencapai 600-2500 mg O2/L (Gosolits dkk, 1999). Kandungan
limbah laundry dapat dilihat pada tabel 1

4

Tabel 1 Kandungan Limbah Laundry

2.2 Zeolit Alam sebagai komponen Filtrasi
Akhir akhir ini membran zeolit banyak memperoleh perhatian para peneliti
karena struktur porinya yang uniform, stabilitasnya terhadap panas dan kekuatan
mekanisnya yang baik serta tahan terhadap lingkungan kimia yang ekstrim.
Struktur pori zeolit yang berbeda-beda membuat zeolit banyak digunakan untuk
pemisahan berbagai molekul kecil.
Zeolit alam merupakan mineral yang tersedimentasi atau ada di alam yang
utamanya merupakan persenyawaan aluminosilicates yang membentuk kerangka
struktur tiga dimensi antara AlO
4
dan SiO
4
tetrahedral. Zeolit alam merupakan
bahan yang cocok dalam fabrikasi membran keramik karena sifatnya yang tidak
mudah mengembang dalam air dan mudah membentuk suspensi untuk melapisi
membran sebagai support. Zeolit alam mempunyai karakteristik yang berbeda
dengan membran konvensional yang dibuat dari senyawa-senyawa yang umum
digunakan seperti Al
2
O
3
atau ZrO
2
. Zeolit alam akan membentuk pori-pori antar
partikel (inter- particle active pores) ketika disintering dalam keadaan kering.

5

Membran berbasis zeolit banyak dimanfaatkan untuk pemisahan gas dari
hidrokarbon, dehidrasi pelarut, katalis untuk konversi kimia, remediasi polutan
dan untuk produksi air bersih.(Ir. Subriyer Nasir, 2011)
2.3 Studi Terkait Mengenai Pengolahan Limbah Menggunakan Membran
Pengolahan limbah cair menggunakan membran merupakan suatu upaya
yang banyak dilakukan akhir-akhir ini dan telah menjadi fokus perhatian para ahli
dalam decade terakhir. Kebanyakan penelitian yang ada menggunakan membran
yang terbuat dari komposit polimer. Membran yang akan digunakan dalam mesin
ini adalah jenis Mikrofiltrasi/Ultrafiltrasi yang dibuat dari tanah liat dan zeolit
dengan pertimbangan bahwa material ini banyak terdapat di Indonesia sehingga
kemungkinan aplikasi komersialnya akan lebih luas.
Dalam beberapa tahun terakhir, penyiapan dan aplikasi potensial membran
keramik porous berbasis mineral yang merupakan komponen alami telah menarik
perhatian peneliti karena harganya yang relatif murah. Pengembangan membran
keramik berbasis mineral akan membawa revolusi teknologi dan menambah nilai
ekonomi yang besar terhadap mineral-mineral alami seperti zeolit (Dong, 2006)
Membran keramik juga telah dimanfaatkan dalam mengolah air backwash
dari sand filter. Penelitian yang pernah dilakukan dengan menggunakan membran
keramik (Nasir, 2010) memperlihatkan bahwa membran keramik yang dibuat
dengan perbandingan tertentu dari tanah liat dan abu batu bara dan
dikombinasikan dengan pre treatment awal menggunakan silika, zeolit dan karbon
aktif ternyata cukup efektif dalam menurunkan TDS, logam berat dan juga
Amonia dari limbah cair industri pupuk urea. Filter keramik yang dibuat dari
campuran tanah liat alam, zeolit dan serbuk besi dengan komposisi 77,5% tanah
liat, 20% zeolit dan 2,5% dapat menurunkan kadar Detergen, COD dan BOD yang
terdapat dalam air buangan proses laundry dan memberikan hasil fluks permeat
yang cukup baik (Ir. Subriyer Nasir, 2011).



6


2.4 Pengertian Inovasi
Inovasi adalah ide atau gagasan yang muncul atas permasalahan yang
banyak terjadi di lingkungan sekitar kita. Permasalahan yang timbul bisa dari
lingkungan sekitar, masalah sosial budaya, atau masalah ekonomi. Konsep inovasi
yang dianggap suatu kebaruan ini ternyata berbeda bagi kebanyakan orang karena
sifatnya relatif (apa yang dianggap baru oleh seseorang atau pada suatu konteks
dapat jadi merupakan sesuatu yang lama bagi orang lain atau dalam konteks yang
lain). Untuk menghasilkan perilaku inovatif, seseorang harus melihat inovasi
secara mendasar sebagai proses yang dapat dikelola.
Inovasi dan kreativitas berada dalam wilayah domain yang sama, tetapi
memiliki batasan yang tegas.Kreativitas merupakan langkah pertama menuju
inovasi yang terdiri atas berbagai tahap. Kreativitas berkaitan dengan produksi
kebaruan dan ide-ide yang bermanfaat sedangkan inovasi berkaitan dengan
produksi/ adopsi ide-ide bermanfaat dan implementasinya. Perilaku inovasi
dimulai dari pengenalan masalah dan penghimpunan ide atau solusi, dapat berupa
sesuatu yang baru atau merupakan adaptasi dari situasi yang lain. Lalu berusaha
mencari dukungan untuk ide tersebut dan mencoba membangun kerjasama antar
pendukung ide. Tahap selanjutnya adalah menyelesaikan ide tersebut dengan
membuat modul atau prototipe inovasi dalam wujud nyata yang dapat dirasakan/
disentuh dan mengubahnya ke arah penggunaan yang produktif atau
terlembagakan (Adair, 1996)
2.5 Teknologi Tepat Guna
Tujuan pengembangan suatu teknologi pada dasarnya adalah untuk
menjawab kebutuhan-kebutuhan, baik yang telah nyata, ataupun yang dirasakan
dan diinginkan adanya, dan bahkan yang diantisipasi akan diinginkan, maka suatu
upaya pengembangan teknologi yang efektif, pertama-tama harus didasarkan pada
permintaan pasar, baik yang telah nyata ada, atau yang mulai tampak dirasakan
adanya (Besari, 2008)

7

Teknologi tepat guna adalah yang teknologi cocok dengan kebutuhan
masyarakat sehingga bisa dimanfaatkan pada saat rentang waktu tertentu. Teknologi
tepat guna sebagai salah satu jalur penting untuk mencapai tujuan yang mendasar,
yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Teknologi Tepat Guna berarti
teknologi yang sesuai dengan kondisi budaya, dan kondisi ekonomi serta
penggunaannya harus ramah lingkungan (Dicky R. Munaf, 2008)
Terkait dengan teknologi tepat guna, ada beberapa kemungkinan potensi yang
terkandung dalam masyarakat, antara lain : Pertama, teknologi tersebut mungkin
sudah ada/tersedia dalam masyarakat setempat, namun belum sempurna. Maka,
teknologi tersebut dapat dikaji/didalami lebih lanjut untuk dikembangkan menjadi
teknologi tepat guna yang lebih baik, sehingga dapat memberikan manfaat yang
optimal bagi masyarakat. Kedua, Teknologinya belum ada di masyarakat
setempat. Akan tetapi potensi sumber daya cukup tersedia. Maka, teknologi dapat
diadopsi dari teknologi yang sudah ada yang berasal dari daerah lain/lembaga
perguruan tinggi/lembaga penelitian atau yang diproduksi oleh industri. Ketiga,
Potensi sumber daya di masyarakat cukup tersedia. Akan tetapi teknologinya
belum tersedia di masyarakat setempat, dan juga belum ada diproduksi oleh
lembaga perguruan tinggi/lembaga penelitian dan industri. Maka, perlu dilakukan
penelitian/pengkajian secara seksama oleh lembaga/pusat kajian yang terkait
untuk dapat menginovasi penciptaan teknologi tepat guna yang baru. (Dicky R.
Munaf, 2008)



8

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Ide Studi
Pemikiran ini berawal dari penulis yang ditawari membuka usaha laundry
oleh seorang teman. Dengan latar belakang pendidikan Teknik Lingkungan,
penulis ingin menerapkan ilmunya pada usaha tersebut dengan menonjolkan citra
usaha laundry ramah lingkungan. Pemikiran ini juga didapat penulis saat mencuci
pakaian di mesin cuci yang memerlukan kuantitas air yang sangat banyak untuk
dua kali bilas sampai bersih. Mesin Green-Washing diharapkan dapat mencuci
pakaian dengan satu kali pemakaian air yang disirkulasikan. Dalam
penggunaannya diharapkan menggunakan detergen yang rendah fosfat untuk
mengurangi beban kerja Mesin Green-Washing.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam pembuatan mesin green-washing ini adalah
mesin cuci yang telah dimodifikasi dengan bak penampung di bawahnya serta
dilengkapi rangkaian elektronika yang memungkinkan air dapat naik ke atas
kembali. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan mesin green-
washing ini adalah :
1. Pasir kerikil ukuran diameter 2mm
2. Karbon Aktif, bisa terbuat dari batok kelapa, sekam padi, serbuk arang,
kulit singkong, dsb yang sudah teruji.
3. Filter keramik yang terbuat dari tanah liat alam dan zeolit

3.3 Rancangan Alat
Mesin cuci diberikan inovasi berupa saringan berupa pasir kerikil, karbon
aktif, dan filter keramik. Saringan ini semua dapat diganti secara berkala jika

9

mulai jenuh sehingga dalam perancangannya, saringan mudah dibongkar pasang
dari mesin cuci.

Gambar 1 Desain Mesin Green Washing
Pasir Kerikil
Karbon
Aktif Filter Keramik
Bak Tampungan
Tuas Sirkulasi
Bak Pengering
Pakaian
Bak Cuci
Pakaian

10


Gambar 2 Mesin Green-Washing Dan Bak yang Bisa Dibongkar Pasang

3.4 Prinsip kerja Mesin Green-Washing
Pakaian dicuci dengan detergen rendah fosfat. Apabila setelah selesai
diputar di dalam mesin cuci, pakaian diangkat lalu katup air dibuka sehingga air
limbah detergen jatuh ke bawah. Air limbah tersaring di lapisan pertama yaitu
pasir kerikil, cara ini mengurangi kekeruhan warna dan memisahkan koloid sabun
dengan air. Lalu air tersaring ke karbon aktif. Karbon aktif dapat menyerap zat-
zat kimia berbahaya seperti fosfat dan surfaktan. Cara ini juga agar COD dan TSS
mengalami penurunan sehingga air menjadi lebih bersih. Penyaringan terakhir
adalah dengan filter keramik. Dengan membran ini dapat dipastikan air limbah
telah menjadi air bersih.

11


Gambar 3 Konsep Kerja Mesin Green-Washing
Air saringan berupa air yang lebih bersih masuk ke dalam bak penampung
di bawah mesin cuci. Air yang bersih ini kemudian disirkulasikan lagi naik ke atas
dengan cara disedot oleh mesin kembali dengan memutar tuas sirkulasi air.
Sirkulasi ini dapat diatur sesuai kehendak pemakai. Dalam kerjanya, volume air
berkurang sedikit sehingga ada saat air harus ditambahkan kembali. Untuk bahan-
bahan penyaringan dapat diganti secara rutin setelah beberapa kali pemakaian jika
kinerja teknologi ini menurun.
Pasir Kerikil
Karbon
Aktif
Filter Keramik

12

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang ada maka mesin Green-washing sangat
bagus diterapkan untuk mengolah limbah laundry lalu mensirkulasikannya
kembali sebagai air untuk pembilas cucian. Diperlukan penggantian bahan
penyaring dengan yang baru apabila kinerja teknologi ini menurun.
4.2 Saran
Saran dari penulis adalah :
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang prototype mesin Green-
washing terutama rangkaian elektronik untuk mensirkulasikan mesin agar
didapatkan mesin dengan daya listrik yang lebih rendah
2. Diharapkan ada perusahaan atau instansi yang dapat mencoba inovasi
mesin cuci ini untuk direalisasikan dan diproduksi secara massal.
3. Diharapkan usaha laundry lebih memperhatikan lingkungan hidup.

2

DAFTAR PUSTAKA
Adair, J. (1996). Effective Innovation: How to Stay Ahead of the Competition.
London: Pan Books Ltd.
Besari, M. S. (2008). Teknologi di Nusantara. Jakarta: Salemba Teknika.
Dicky R. Munaf, T. S., Rizaldi Indra Janu, Aulia M. Badar. (2008). Peran
Teknologi Tepat Guna untuk Masyarakat Daerah Perbatasan. Jurnal
Sosioteknologi edisi 13.
Dong, Y., S. Chena, X. Zhang, J. Yang , X. Liu. (2006). Fabrication and
characterization of low cost tubular mineral-based ceramic membranes for
micro-filtration from natural zeolite. Membrane Science, 281, 592-599.
Ir. Subriyer Nasir, M., PhD. dan Ir. Teguh Budi SA,MT. (2011). Pengolahan Air
Limbah Hasil Proses Laundry Menggunakan Filter Keramik Berbahan
Campuran Tanah Liat Alam Dan Zeolit. Palembang: Unsri.
Nasir, S. (2010). Aplikasi Membran Jenis Spiral Wound dalam Pengolahan
Limbah Cair Sekunder. Jurnal Purifikasi, 11(1).