Anda di halaman 1dari 7

Fenomena Kewarganegaraan Ganda

di Indonesia dan Dampaknya


Abstrak:
Kewarganegaraan ganda merupakan sebuah fenomena yang sudah terjadi sejak lama. Realitas
sekarang ini, khususnya di Indonesia anak dengan kewarganegaraan ganda populasinya semakin
meningkat seiring semakin maraknya terjadi pernikahan beda kewarganegaraan. Berhubungan
dengan hal tersebut, Indonesia telah memiliki aturannya sendiri yang tercantum dalam UU
nomor 12 Tahun 2006 yang juga sebagai penyempurna UU yang telah ada sebelumnya, yang
mengatur masalah kewarganegaraan ganda. Fenomena kewarganegaraan ini sudah pasti memberi
dampak, baik itu kepada pasangan suami-istri yang berbeda kewarganegaraan dan juga kepada
anak yang dihasilkan dari hubungan tersebut.

PENDAHULUAN
Kita tidak bisa memilih akan lahir menjadi laki-laki maupun perempuan, sama halnya
dengan orang tua, kita tentu tidak bisa memilih bahwa saya akan lahir dari ayah ini dan ibu yang
itu. Semuanya merupakan takdir dari Sang Maha Pencipta. Lahir dari orang tua dengan
kewarganegaraan yang berbeda juga merupakan takdir-Nya. Dengan memiliki dua
kewarganegaraan sekaligus, dapat menimbulkan berbagai dampak, baik itu dampak positif
maupun negatif. Dalam suatu perkawinan campuran biasanya akan timbul masalah, baik sebelum
menikah maupun setelah menikah, apalagi setelah nantinya mempunyai anak. Permasalahan
pada anak yang paling utama dan paling sering terjadi adalah masalah status kewarganegaraan si
anak tersebut.
Kewarganegaraan Ganda
Kewarganegaraan ganda merupakan status yang diberikan kepada seseorang yang secara
hukum merupakan warga negara sah di beberapa negara. Secara umum, kewarganegaraan ganda
berarti orang-orang yang "memiliki" kewarganegaraan ganda yang secara teknis diklaim atau
diakui sebagai warga negara oleh masing-masing pemerintah dari negara bersangkutan. Oleh
karena itu, mungkin saja bagi seseorang untuk menjadi seorang warga negara di satu negara atau
lebih, atau bahkan tanpa kewarganegaraan sama sekali. Dikenal juga istilah kewarganegaraan
ganda terbatas, yaitu status dwi (dua) kewarganegaraan yang diberikan kepada seorang anak
sampai tiba saatnya anak tersebut mencapai usia 18 (delapan belas) tahun yang dinilai bahwa
pada usia tersebut ia sudah dewasa dan bisa menentukan keputusan dengan baik.
Bila dikaji dari segi hukum perdata internasional, kewarganegaraan ganda memiliki
potensi masalah, seperti dalam hal penentuan status personal yang didasarkan pada asas
nasionalitas, maka seorang anak artinya akan tunduk pada ketentuan negara nasionalnya. Bila
ketentuan antara hukum negara yang satu dengan yang lain tidak bertentangan maka tidak ada
masalah, namun bagaimana jika terdapat pertentangan antara hukum negara yang satu dengan
yang lain, lalu pengaturan status personal anak itu akan mengikuti peraturan negara yang mana?
Lalu bagaimana bila ketentuan yang satu melanggar asas ketertiban umum pada ketentuan negara
yang lain?
Aturan Tentang Kewarganegaraan Ganda di Indonesia
Dalam UU Nomor 62 Tahun 1958, anak yang lahir dari perkawinan campur hanya
bisa memiliki satu kewarganegaraan dan ditentukan hanya mengikuti kewarganegaraan
ayahnya. Ketentuan dalam UU Nomor 62 Tahun 1958, dianggap tidak memberikan perlindungan
hukum yang cukup bagi anak yang lahir dari perkawinan campur dan itu merupakan sebuah
diskriminasi hukum terhadap WNI Perempuan. Dalam ketentuan UU kewarganegaraan ini, anak
yang lahir dari perkawinan campuran untuk bisa menjadi warganegara Indonesia ataupun
warganegara asing, semuanya berpatokan pada status kewarganegaraan dari ayahnya (Ius
Songuinis).
Dengan lahirnya UU Kewarganegaraan yang baru, anak yang lahir dari perkawinan
seorang Perempuan WNI dengan Pria WNA, maupun anak yang lahir dari perkawinan
seorang Pria WNI dengan Perempuan WNA, diakui sebagai Warga Negara Indonesia. Undang-
Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan RI menggantikan Undang-Undang
Kewarganegaraan yang lama (Undang-Undang No. 62 Tahun 1958). Hal ini dimaksud untuk
tetap memberikan perlindungan hukum kepada anak-anak yang lahir dari perkawinan campuran
antara WNI dengan WNA atau anak-anak yang karena tempat kelahirannya mendapatkan
kewarganegaraan dari negara tempat kelahirannya.
Penerapan Pasal 41 merupakan bentuk perubahan asas yang diterapkan dari Undang-
Undang No. 62 Tahun 1958 yang secara murni menganut asas Ius Songuinis, dimana penentuan
status kewarganegaraan ditarik dari garis keturunan ayah. Ketentuan tersebut dirasa tidak
memberikan perlindungan bagi anak-anak yang lahir dari perkawinan campur antara ibu yang
berkewarganegaraan Indonesia dengan ayahnya yang berkewarganegaraan asing. Dengan
diterapkannya pasal 41, maka anak yang menjadi subyek pasal tersebut dapat memperoleh
kewarganegaraan Indonesia dengan mengajukan permohonan.
Subyek dari Pasal 41 adalah anak-anak yang termasuk dalam ketentuan Pasal 4, yaitu :
o Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang Ayah WNI dengan Ibu WNA
(Pasal 4 huruf c).
o Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang Ayah WNA dengan Ibu WNI
(Pasal 4 huruf d).
o Lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang Ibu WNA yang diakui oleh seorang ayah
WNI sebagai anaknya dan pengakuan itu dilakukan sebelum anak tersebut berusia 18
(delapan belas) tahun atau belum kawin (Pasal 4 huruf h).
o Anak yang dilahirkan di luar wilayah Negara Republik Indonesia dari seorang ayah dan
ibu WNI yang karena ketentuan dari negara tempat anak tersebut dilahirkan memberikan
kewarganegaraan kepada anak yang bersangkutan (Pasal 4 huruf l).

Kritisi Terhadap UU Kewarganegaraan yang Baru
Walaupun banyak menuai pujian, lahirnya UU baru ini ternyata masih menuai kritik dari
berbagai pihak. Salah satu pujian sekaligus kritik yang terkait dengan status kewarganegaraan
anak perkawinan campuran dalam UU tersebut datang dari ketua KPC Melati (organisasi para
istri warga negara asing).
Ketua KPC Melati mengatakan bahwa, Undang-Undang Kewarganegaraan menjamin
kewarganegaraan anak hasil perkawinan antar bangsa. Ia memuji kerja DPR yang
mengakomodasi prinsip dwi kewarganegaraan, seperti yang mereka usulkan, dan menilai
masuknya prinsip ini ke UU yang baru merupakan bentuk langkah maju. Sebab selama ini, anak
hasil perkawinan campur selalu mengikuti kewarganegaraan ayah mereka. Hanya saja KPC
Melati menyayangkan aturan warga negara ganda bagi anak hasil perkawinan campur hanya
terbatas hingga si anak berusia 18 tahun. Padahal KPC Melati berharap aturan tersebut bisa
berlaku sepanjang hayat si anak.
Tetapi kalau kita telaah lebih dalam lagi, dengan menyandang status kewarganegaraan
ganda sepanjang hayat akan menimbulkan kerancuan dalam menentukan hukum yang mengatur
status personal seseorang. Karena begitu seseorang mencapai taraf dewasa, ia akan banyak
melakukan perbuatan hukum, dimana dalam setiap perbuatan hukum tersebut, untuk hal-hal yang
terkait dengan status personalnya akan diatur dengan hukum nasionalnya, maka akan
membingungkan bila hukum nasionalnya ada dua, apalagi bila hukum yang satu bertentangan
dengan hukum yang lain.
Dampak dari Kewarganegaraan Ganda
- Dampak Terhadap Anak

1. Anak Hasil Perkawinan Campuran Ibu WNI dan Bapak WNA.
Di Indonesia, hanya Bapak yang menentukan kewarganegaraan anaknya. Menurut
salah satu lembanga yang telah diratifikasi RI, pembedaan Bapak atau Ibu sebagai
penentu kewarganegaraan anak-anaknya seharusnya dihapus. Sampai sekarang UU
kewarganegaraan Indonesia masih belum disesuaikan.

Hak asuh bagi anak WNA. Seorang ibu WNI membutuhkan ijin dari kementrian
terkait untuk mendapatkan hak asuh bagi anak-anaknya (WNA) yang di bawah umur.
Izin tinggal yang diberikan bagi anak-anak WNA hanya berlaku satu tahun. Selain itu
ia diharuskan melapor ke kepolisian, juga ke berbagai tingkat administrasi dari
tingkat Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten sampai ke Kantor Urusan Kependudukan
tingkat provinsi. Setiap tahun pengurusan surat-surat ini menghabiskan waktu yang
lama dan biaya yang besar . Misalnya re-entry visa. Setiap keluar negeri, anak-anak
(WNA) tersebut memerlukan re-entry visa.

Anak-anak WNA Tidak Dapat Bersekolah di Sekolah Negeri. Anak-anak WNA
tidak dapat bekerja di Indonesia. Bagi anak-anak WNA yang sudah dewasa, selesai
SMA dan Universitas, dan ingin menetap Indonesia, mereka tidak dapat bekerja di
Indonesia tanpa ijin kerja dari Departemen Ketenagakerjaan. Ijin kerja biasanya
disponsori oleh perusahaan, tetapi perusahaan pada umumnya menuntut pengalaman
kerja. Biaya untuk surat ijin kerja ini tinggi di samping itu mereka akan dikenakan
pajak sebagai pekerja WNA. Mereka terpaksa keluar dari Indonesia untuk hidup
mandiri dan akibatnya Indonesia kehilangan sumber daya manusia yang berkualitas.

2. Anak Hasil Perkawinan Campur Ibu WNA dan Bapak WNI.
Anak-anak tersebut akan mengikuti kewarganegaraan dari ayahnya (WNI). Kalaupun
ibu ingin memberikan kewarganegaraanya, sang anak terpaksa harus kehilangan
kewarganegaraan Indonesianya. Nantinya akan terjadi ketidakjelasan nasib apakah ibu
(WNA) dapat menjadi wali bagi anak-anaknya di Indonesia bila ayah (WNI) menginggal
dan anak-anak mereka masih di bawah umur dan belum dapat menentukan status
kewarganegaraanya. Tidak jelas juga apakah ibu (WNA) dapat memperoleh pensiun
suaminya yang pegawai negeri untuk biaya hidup anaknya, jika saja suaminya
meninggal.

- Dampak Terhadap Pasangan Suami Istri (Orang Tua)

1. Perempuan WNA yang Menikah dengan Laki-Laki WNI.
Istri (WNA) tidak dapat menjadi WNI tanpa melepas kewarganegaraan asalnya
(walaupun negara asalnya memperbolehkan kewarganegaraan ganda). Permohonan untuk
menjadi WNI pun harus dilakukan maksimal dalam waktu satu tahun setelah pernikahan.

2. Perempuan WNI yang Menikah dengan Laki-Laki WNA
Perempuan WNI tidak dapat mensponsori suami maupun anak-anaknya yang
sudah dewasa untuk mengajukan permohonan ijin tinggal di Indonesia. Pada situasi di
mana suami kehilangan pekerjaan di Indonesia, maka suami dan anak-anak harus keluar
dari Indonesia. Bila keluarga ingin menetap di Indonesia mereka hanya dapat
memperoleh visa turis atau visa kunjungan sosial budaya yang masa berlakunya hanya
dua bulan.
Perempuan WNI tidak dapat memiliki tanah dengan sertifikat hak milik kecuali
telah membuat perjanjian pisah harta sebelum perkawinan. Hak-hak perempuan tentang
kepemilikan warisan menjadi hilang sejak perempuan menikah dengan WNA.
Perempuan WNI seringkali menjadi korban, karena harus mengikuti suami (yang tidak
mendapat pekerjaan / kehilangan pekerjaan di Indonesia) dan terpaksa juga kehilangan
pekerjaannya di Indonesia. Padahal ternyata mereka ini mayoritas merupakan sumber
daya manusia yang unggul di bidangnya.

Tidak Ada Perlindungan Hukum di Luar Negeri
Karena azas kewarganegaraan tunggal yang dianut Indonesia, maka
perempuan/istri WNI yang tinggal di luar negeri dan mempertahankan
kewarganegaraan Indonesia susah mendapat perlindungan hukum bila menghadapi
masalah dalam perceraian atau kematian suami.
Suami WNA tidak dapat menjadi WNI tanpa melepas kewarganegaraan asal
(walaupun negara asalnya memperbolehkan kewarganegaraan ganda). Bila ingin
memperoleh kewarganegaraan Indonesia ia harus memenuhi persyaratan
pewarganegaraan yang ditentukan bagi WNA biasa (yang tanpa hubungan
perkawinan atau darah dengan orang Indonesia).

Keluarga Tercerai - Berai
Karena sulitnya mendapat ijin tinggal di Indonesia (bagi laki-laki WNA yang
tidak disponsori perusahaan) sementara istri (WNI) tidak bisa meninggalkan
Indonesia karena berbagai faktor (bahasa, budaya, keluarga besar, pekerjaan,
pendidikan, dll) maka banyak pasangan dan anak-anaknya dengan terpaksa
berpisah. Dalam hal ini, terutama anak-anak yang menjadi korban.
Bila istri (WNI) meninggal, suami / anak WNA tidak dapat mewarisi tanah /
bangunan dengan sertifikat hak milik yang ditinggalkan istri / ibunya atau dalam
kurun waktu satu tahun sejak kematian istri / ibu tanah / bangunan tersebut harus
dialihnamakan atau dialih sertifikatkan.

3. Masa Pensiun di Indonesia
Bila suami (WNA) dan istri (WNI) ataupun sebaliknya, memasuki masa pensiun
dan bermaksud untuk menghabiskan masa pensiun di Indonesia ternyata juga tidak
mudah karena persyaratan yang ditentukan berbeda-beda dan pengurusannya yang
rumit.
Kritik :
Kewarganegaraan ganda merupakan suatu fenomena yang tidak dapat dihindari. Jika
dilihat dari peraturan yang dibuat pemerintah Indonesia, sepertinya pelaku perkawinan
campuran dan anak yang dihasilkan akan mengalami banyak kendala untuk berkumpul
dengan keluarganya dan mewujudkan keluarga yang bahagia. Dengan realitas ini, jika
ada pasangan beda kewarganegaraan yang memiliki keinginan untuk menikah, mereka
bisa saja mengurungkan niatnya untuk itu. Ini membuka peluang besar untuk terjadinya
hubungan yang layaknya pasangan suami istri yang tidak melalui jalur pernikahan yang
dapat membuka peluang besar datangnya masalah yang jauh lebih parah lagi.
Saran :
Peraturan yang dibuat berkenaan dengan kewarganegaraan ganda hendaknya dapat
dipertegas lagi dan dibuat agar pihak yang bersangkutan bisa nyaman dengan peraturan
tersebut sehingga dapat menikmati manfaat dari status kewarganegaraan ganda yang
dimilikinya tanpa harus pusing dengan masalah yang akan timbul dari status yang
dimilikinya tersebut.