Anda di halaman 1dari 5

108 ISSN 0216 - 3128 Joko Supriyadi

Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah - Penelitian Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir 2012
Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 4 Juli 2012

FITUR DAN ISU KESELAMATAN TERKAIT AQUEOUS
HOMOGENEOUS REACTOR (AHR)
Joko Supriyadi
Direktorat Inspeksi Instalasi dan Bahan Nuklir-BAPETEN
Jl. Gajah Mada No. 8, Jakarta Pusat 10120
Email :j.supriyadi@bapeten.go.id
ABSTRAK
FITUR DAN ISU KESELAMATAN TERKAIT AQUEOUS HOMOGENEOUS REACTOR (AHR).Untuk
memenuhi kebutuhan dunia akan radiofarmaka, saat iniAqueous Homogeneous Reactor (AHR)
dikembangkan sebagai reaktor produksi isotop terutama Mo-99 sebagai induk dari Tc-99m. AHR memiliki
fitur yang berbeda dengan reaktor nondaya saat ini beroperasi dan kekhususan tersebut berdampak kepada
isu keselamatannya. Tulisan ini merupakan hasil kajian pustaka terkait AHR yang dilakukan dengan
menganalisis kekhasan sistem pada AHR dan kaitannya dengan keharusan menjalankan fungsi keselamatan
reaktor. Di antara kekhasan AHR adalah bahan bakarnya yang homogen dan cair, produksi gas berupa
produk fisi dan hasil radiolisis, keberadaan sistem manajemen gas, dan fasilitas pemisah isotop. Kekhususan
tersebut membawa isu keselamatan sebagai berikut: 1) potensi bahaya ledakan akibat reaksi hidrogen
dengan oksigen, 2) potensi bahaya reaksi kimia eksotermis dari gas hasil elektrolisis selain hidrogen, 3)
osilasi daya, 4) pendidihan curah larutan bahan bakar, 5) pengendapan larutan bahan bakar dan produk fisi,
6) penurunan kemampuan pendinginan, dan 7) kejadian yang merembet dari fasilitas pemisah isotop dengan
reaktor atau antar reaktor untuk instalasi dengan multireaktor. Semua isu keselamatan tersebut harus
dihadapkan dengan persyaratan desain reaktor untuk menjalankan fungsi keselamatan reaktor, yakni
mengendalikan reaktivitas, mengambil panas yang dibangkitkan reaktor, dan mengungkung zat radioaktif.
Kata Kunci:aqueous homogeneous reactor (AHR), sistem manajemen gas, produksi isotop, isu keselamatan,
fungsi keselamatan reaktor.
ABSTRACT
FITUR AND SAFETY ISSUES OF AQUEOUS HOMOGENEOUS REACTOR (AHR).To meetthe high
demands of medical isotopes, nowadays Aqueous Homogeneous Reactors (AHR) are developed as a medical
isotope production reactro, primarily isotope Mo-99 as a parent of Tc-99m. AHRs have different features
with non-power reactors currently in operation and the peculiarities have implications on the safety issues.
This paper is result of study on literatures related to AHR. The study held by analyse the peculiarities of
systems in AHR and the relation of the peculiarities with the provisions to conduct reactor safety functions.
Among the AHRs peculiarities are the fuel is homogen and liquid, the liquid fuel produce gas of fission
products and gas resulted from radiolysis, the presence of gas management system, and the presence of
isotope separation facility. The peculiarities have implications on the safety issues as follows: 1) prevention
of explosion due to the reaction of hydrogen with oxygen, 2) the hazard of exothermic chemical reaction of
gases other than hydrogen, 3) the oscillation power, 4) the bulk boiling of fuel solvent, 5) precipitation of the
fuel solvent and fission products, 6) reduction of cooling, and 7) the propagation of incident from the isotope
separator to the reactor or inter-reactor for installation with multireactors. The safety issues must be faced
with the provision in reactor design of reactor safety functions, namely to control reactivity, to remove
generated heat, and to contain the radioactive materials.
Keywords: aqueous homogeneous reactor (AHR), gas management system, isotop production, safety issues,
reactor safety functions.

PENDAHULUAN
alah satu pemanfaatan tenaga nuklir dalam
bidang kesehatan adalah kedokteran nuklir,
yakni kegiatan medis yang melibatkan penggunaan
zat radioaktif untuk diagnosa atau terapi. Dalam
kedokteran nuklir zat radioaktif dijadikan senyawa
radiofarmaka yang dapat dilokalisasi pada organ
atau sel tertentu. Salah satu isotop yang banyak
digunakan dalam kedokteran nuklir untuk
kepentingan diagnosis adalah Technetium-99m (Tc-
99m)
(1)
.
Hingga saat ini, kebutuhan dunia akan Tc-99m
untuk digunakan dalam bidang kedokteran nuklir
sangatlah tinggi. Isotop hasil peluruhan
Molybdenum-99 (Mo-99) tersebut pada tahun 2008
saja digunakan lebih dari dua puluh lima juta
prosedur medis, atau sekitar 80% dari keseluruhan
prosedur radiofarmaka
(4)
. Bahkan di Amerika
Serikat, keandalan pasokan Mo-99 masih menjadi
persoalan
(3)
.
Melihat pasar Tc-99m yang begitu besar,
P.T. Batan Teknologi (Persero) sebagai BUMN
yang memproduksi radiofarmaka berencana untuk
S
Joko Supriyadi ISSN 0216 - 3128 109



Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah Penelitian Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir 2012
Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 4 Juli 2012

mengoperasikan reaktor homogen berbahan
bakargaram uranium yang larut di dalam air sebagai
reaktor produksi isotop Mo-99. J enis reaktor
tersebut di dunia dikenal dengan sebutan Aqueous
Homogeneous Reactor (AHR).
Walau terdapat kurang lebih 30 buah AHR
yang pernah beroperasi ketika negara-negara di
dunia mengawali program nuklir pada tahun
1940an-1950an, baru pada tahun 1990an minat
terhadap AHR bangkit kembali terutama untuk
produksi isotop medis. Mengingat kekhasan AHR
dalam hal desain dan operasi, tulisan ini dibuat
dalam rangka menginventarisasi isu-isu
keselamatan yang khusus terkait AHR tanpa
mengesampingkan isu-isu keselamatan terkait
reaktor nondaya pada umumnya. Hal tersebut perlu
dilakukan dalam rangka familiarisasi atas teknologi
reaktor yang relatif baru ini. Dengan familiarisasi
tersebut, siapapun yang terlibat dalam pemanfaatan
teknologi ini, baik Pengusaha Instalasi Nuklir atau
Badan Pengawas dapat memastikan keselamatan
pengoperasiannya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, dalam
menyusun tulisan ini penulis melakukan studi
pustaka terhadap berbagaipustaka terkait AHR
menjadi rujukan. Terhadap pustaka-pustaka
tersebut, dilakukan abstraksi kekhasan fitur yang
dimiliki oleh AHR dan analisis isu keselamatan
terkait kekhasan AHR tersebut dengan cara
menghadapkannya dengan ketentuan keselamatan
desain terutama persyaratan pemenuhan fungsi
keselamatan reaktor
(6)
.Daftar lengkap pustaka
rujukan tersedia di dalam Daftar Pustaka. Dalam
tulisan ini, pembahasan dibatasi hanya pada AHR
yang digunakan untuk produksi radioisotop
terutama untuk kebutuhan medis.
Fitur Umum AHR
Mo-99 sebagai induk dari Tc-99m pada
umumnya diproduksi dengan mengiradiasi
Uranium-235 (U-235) sebagai target di dalam teras
reaktor. U-235 target tersebut mengalami fisi dan
Mo-99 merupakan salah satu produk fisinya.AHR
dipilih sebagai reaktor produksi isotop karena tidak
memerlukan U-235 target karena bahan bakar
reaktor itu sendiri yang menjadi bahan baku
produksi Mo-99. Di samping itu, untuk
menghasilkan jumlah Mo-99 yang sama AHR
memerlukan daya yang lebih rendah dibandingkan
dengan reaktor yang mengiradiasi target
(4)
. Namun
demikian, AHR bisa digunakan juga untuk produksi
isotop selain Mo-99, misalnya I-131 atau Sr-89.
AHR memiliki fitur khusus yang
membedakanya dengan reaktor nuklir pada
umumnya
(4)
. Bahan bakar AHR tidak terdapat di
dalam batang-batang kelongsong. Bahan bakar
AHR biasanya berupa larutan homogen bahan
bakar di dalam teras berupa bejana dengan
pengayaan rendah. Bahan bakar tersebut umumnya
berupa garam uranium dalam senyawa sulfat
UO
2
SO
4
atau nitrat UO
2
(NO
3
)
2
.
AHR dioperasikan pada daya yang relatif
rendah, yaitu antara 50-300 kW termal. Namun
demikian, sebuah instalasi bisa memiliki beberapa
reaktor kecil yang terkoneksi satu sama lain dengan
fasilitas pemisahan isotop. Untuk mengendalikan
reaktivitas, di dalam teras AHR juga terdapat
batang kendali yang bisa keluar masuk bejana
seperti umumnya jenis reaktor nuklir yang lain.
Terkait umpan balik reaktivitas, umumnya AHR
memiliki koefisien hampa dan suhu yang nilainya
sangat negatif.
Bejana AHR tidak penuh terisi bahan
bakar cair, bagian atas dari bejana tersebut
merupakan ruang yang berisi gas. Gas tersebut
merupakan produk fisi dalam wujud gas dan gas
hasil radiolisis. Untuk mengelola gas tersebut, AHR
memiliki sistemmanajemen gas yang salah satu
fungsi utamanya adalah merekombinasi gas
hidrogen dan oksigen hasil radiolisis untuk
mencegah terjadinya ledakan hidrogen. Air hasil
rekombinasi kemudian dikembalikan ke dalam
teras.
Pada umumnya, pengambilan panas dari
teras AHR dilakukan oleh penukar panas berupa
pipa/tabung berbentuk kumparan yang terletak didi
dalam bejana reaktor. Panas yang diambil oleh
sistem primer tersebut kemudian dipindahkan ke
sistem sekunder yang kemudian melepas panas
tersebut ke lingkungan. Di samping sistem
pendingin primer, sistem manajemen gas juga
digunakan untuk mengambil panas dari teras
reaktor. Begitu pula kolam pendingin di luar bejana
reaktor juga digunakan untuk mendinginkan bejana
reaktor.
Pada setiap AHR, bejana reaktor
terhubung dengan sistem pemisahan yang berfungsi
mengambil isotopdari cairan bahan bakar dan
fasilitas dan/atau dari gas di bagian atas bejana.
Desain sistem pemisahan ada yang on-line ada juga
yang off-line. Di samping itu, sistem manajemen
gas juga bisa difungsikan untuk meningkatkan
pengambilan isotop yang diproduksi
(4)
.
Beberapa Contoh AHR
Di dunia ini ada beberapa negara yang
mendesain atau mengoperasikan AHR untuk
keperluan produksi isotop, di antaranya adalah
China, Prancis, Rusia, dan Amerika.
China mendesain medical isotope
production reactor (MIPR) untuk memproduksi
Mo-99 dan I-131. Reaktor dengan daya termal 200
kW ini menggunakan UO
2
(NO
3
)
2
sebagai bahan
bakar dan masih dengan pengayaan tinggi sebesar
90%. Namun demikian mereka berencana untuk
menurunkan pengayaan menjadi rendah (low
enriched uranium / LEU) jika persoalan utama
terkaitLEU terpecahkan. Densitas daya MIPR
110 ISSN 0216 - 3128 Joko Supriyadi



Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah - Penelitian Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir 2012
Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 4 Juli 2012

sekitar 2,5 kW/L.MIPR memiliki tiga buah batang
kendali untuk mengendalikan reaktor dan
mengembalikan ke dalam keadaan shutdown
selamat. Di samping itu MIPR juga memiliki sistem
shutdown darurat dengan metode pasif
pengambilan larutan bahan bakar dari bejana
reaktor. Setiap tahun reaktor dioperasikan dalam
100 siklus yang terdiri dari 24 jam operasi dan 48
jam shutdown. Setelah 1 jam shutdown, larutan
bahan bakar dialirkan ke tempat penyimpanan
dengan melewati sistem ekstraksi yang
menghasilkan 500 Ci isotop Mo-99 sebesar dan 100
Ci isotop I-131.
Amerika Serikat juga mengembangkan
Medical Isotope Production System (MIPS)untuk
produksi isotop Mo-99. Reaktor AHR dengan daya
200 kW ini memproduksi Mo-99 sebanyak 1100 x
6 hari Ci per minggu. Reaktor ini menggunakan
bahan bakar uranium nitrat UO
2
(NO
3
)
2
.
Sementara negara lain masih dalam
pengembangan, Rusia sejak tahun 1981 telah
mengoperasikan reaktor ARGUS sebagai reaktor
produksi isotop Mo-99 dan Sr-89. Reaktor dengan
tingkat daya 20 kW ini menggunakan UO
2
SO
4

sebagai bahan bakar. Pengayaan masih tinggi yakni
90%. Reaktor ARGUS juga telah digunakan untuk
penelitian penambahan reaktivitas positif tanpa
scram. Data yang diperoleh dalam eksperimen
tersebut bisa menjadi benchmark coode yang
digunakan untuk mengevaluasi keselamatan AHR
yang lain.
Di samping reaktor ARGUS, Rusia juga
mengembangkan reaktor produksi isotopSR-RN
(Solution Reactor- Radionuclides) yang berbasis
AHR. Reaktor tersebut digunakan untuk
memproduksi Mo-99, Sr-89, Xe-133, dan campuran
isotop Iodine I-131, I-132, dan I-133. Reaktor
dengan daya termal 50 kW ini menggunakan
UO
2
SO
4
sebagai bahan bakar dan masih dengan
pengayaan tinggi sebesar 90%. Densitas daya SR-
RN sekitar 1,5 kW/L.Pipa berbentuk kumparan
masuk ke bejana reaktorsebagai penukar panas
sistem pendingin primer yang mengambil panas
dari teras. Reaktor SR-RN memiliki dua sistem
pemisahan isotop, di mana sistem yang satu
memanen isotop Mo-99 dari cairan bahan bakar
sementara sistem yang lain memanen isotop Sr-89,
Xe-133, I-131, I-132, dan I-133 dari gas di bagian
atas dari bejana reaktor.
Prancis juga berpengalaman menggunakan
AHR untuk percobaan kecelakaan kritikalitas
dengan instalasi CRAC pada tahun 1967-1972 dan
kemudian dilanjutkan dengan reaktor SILENE
mulai tahun 1974. Hingga sekarang SILENE masih
beroperasi. Kedua instalasi tersebut menggunakan
uranium sulfat sebagai bahan bakar. Reaktor
SILENE bisa digunakan untuk pelatihan dan
pemeliharaan kemampuan yang diperlukan dalam
mengelola kecelakaan kritikalitas AHR
(4)
.
PEMBAHASAN
Berdasarkan Peraturan
Ketenaganukliran
(6)
, Pemegang Izin harus
mendesain reaktor dengan tingkat keandalan tinggi
untuk mencapai tujuan keselamatan nuklir.Tujuan
keselamatan nuklir tersebut diwujudkan melalui
penerapan pertahanan berlapis untuk memenuhi
fungsi keselamatan reaktor. Ada tiga fungsi
keselamatan reaktor, yaitu mengendalikan
reaktivitas, memindahkan panas dari teras reaktor,
dan mengungkung zat radioaktif dan menahan
radiasi. Sebagaimana diuraikan dalam bagian 2
dalam tulisan ini, AHR memiliki fitur yang unik
serta fenomena yang terjadi dalam
pengoperasiannya juga berbeda dengan reaktor
heterogen pada umumnya. Oleh karena itu, AHR
memiliki isu keselamatan yang khas pula.
Kekhususan isu keselamatan ini perlu diperhatikan
baik oleh calon operator maupun badan pengawas,
terutama terkait ketiga fungsi keselamatan reaktor
di atas.
Berbeda dengan reaktor heterogen, AHR
tidak memiliki kelongsong yang mengungkung
bahan bakar dan produk fisi. Kedua kelompok zat
radioaktif tersebut dikungkung di dalam batas
reaktor (reactor boundary) itu sendiri. Penghalang
utama tersebut terdiri dari bejana reaktor, sistem
manajemen gas, dan sistem pendingin primer. Oleh
karena itu, di samping menjalankan fungsinya
masing-masing, ketiga sistem tersebut harus
melaksanakan fungsi keselamatan reaktor yakni
sebagai pengungkung pertama zat radioaktif
sebagaimana kelongsong bahan bakar dalam
reaktor heterogen untuk mencegahnya terlepas ke
lingkungan.
Salah satu hal yang mengancam
kemampuan pengungkung zat radioaktif adalah
peningkatan tekanan di dalam instalasi
(2)
. Di dalam
teras AHR terjadi radiolisis yang menghasilkan
hidrogen dan oksigen serta NO
x
jika menggunakan
larutan nitrat. Hidrogen yang dihasilkan dari
peristiwa radiolisis bisa mengalami deflagarasi dan
detonasi. Deflagarasi adalah istilah untuk
pembakaran di mana gelombang eksotermisnya
merambat dengan kecepatan subsonik yang
biasanya merambat dengan konduktivitas termal.
Sementara itu detonasi adalah pembakaran yang
merambat dengan kecepatan supersonik.
Keberadaan gas produksi radiolisis
tersebut membuat AHR harus memiliki sistem
manajemen gas yang merekombinasi hidrogen dan
oksigen, mencegah bahaya detonasi dan deflagarasi
hidrogen, mengungkung zat kimia berbahaya
(misalnya gas NO
x
) dan produk fisi (Kr, Xe, I), dan
melakuan venting tekanan berlebih di dalam bejana
reaktor
(2)
. Tekanan berlebih bisa merusak batas
reaktor (reactor boundary) sebagai penghalang
pertama zat radioaktif dan bisaberakibat terjadi
Joko Supriyadi ISSN 0216 - 3128 111



Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah Penelitian Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir 2012
Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 4 Juli 2012

lepasan produk fisi. Sehingga harus dipastikan tidak
terjadi pelampauan batas desain dari batas reaktor
tersebut.
Di samping itu, peningkatan tekanan dan
detonasi atau deflagarasi bisa meningkatkan
densitas cairan bahan bakar di dalam teras dan
dengan demikian terjadi peningkatan densitas
daya
(2)
.Oleh karena itu, hal tersebut harus
diantisipasi dalam desain dalam rangka
mengendalikan reaktivitas teras dan kemampuan
sistem untuk memadamkan reaktor.
Peningkatan produksi gas radiolisis yang
sangat besar dan melampaui kemampuan
rekombinasi juga akan meningkatkan tekanan di
dalam batas utama reaktor
(2)
. Hal ini bisa memicu
umpan balik reaktivitas yang positif akibat tekanan.
Hal tersebut terjadi karena peningkatan densitas
cairan bahan bakar sementara AHR memiliki
koefisien hampa yang sangat negatif. Peningkatan
tekanan yang cepat atau terlalu besar akan
mengancam integritas batas reaktor yang berfungsi
mengungkung produk fisi. Di samping itu,
peningkatan produksi gas hasil radiolisis yang
melampaui kemampuan rekombinasi juga bisa
mengakibatkan akumulasi hidrogen dan oksigen di
dalam sistem manajemen gas. Ledakan hidrogen di
dalam sistem tersebut bisa mengakibatkan
tertembusnya batas reaktor utama di posisi yang
agak jauh dari teras.
Pada kondisi normal, daya AHR tidak
tunak tapi sedikit berosilasi seiring dengan
kemunculan dan lepasnya gas dari cairan bahan
bakar
(2)
. Hal ini tidak berbahaya asal osilasi tersebut
tidak berkembang menuju kondisi tidak stabil di
mana osilasi menjadi sangat besar dan tidak
teredam.Mengingat umpan balik reaktivitas positif
bisa muncul ketika produksi gas hasil radiolisis
melampaui kemampuan rekombinasi, bisa muncul
keadaan tidak stabil di mana secara timbal balik
daya dan tekanan meningkat terus.Kondisi-kondisi
ketidakstabilan ini harus dievaluasi untuk
memastikan kestabilan reaktor. J ika ternyata reaktor
pada suatu kondisi tidak stabil, ketidakstabilan
tersebut harus bisa dideteksi dan diredam sehingga
fungsi keselamatan reaktor untuk mengendalikan
reaktivitas bisa mengatasi tantangan tersebut.
Isu keselamatan terkait kenaikan densitas
daya dan osilasi daya telah dibahas secara
mendalam oleh Lane
(6)
. Suatu AHR bisa selamat
saat mengalami surja daya, tapi tetap tidak stabil
sehingga tidak selamat saat mengalami surja daya
berikutnya. Sebaliknya, AHR bisa saja stabil tapi
tidak selamat, yakni reaktor bisa mencapai
kestabilan setelah mengalami surja daya tapi tidak
selamat karena surja daya tersebut mengakibatkan
pelampauan nilai batas desain suatu parameter
reaktor, misalnya tegangan luluh bejana reaktor.
Dalam hal ini desain AHR harus
mempertimbangkan batas maksimum kenaikan
reaktivitas (dikaitkan dengan batas maksimum
kenaikan daya di dalam teras) dengan kemungkinan
maksimum kenaikan reaktivitas.
Larutan bahan bakar AHR bisa mengalami
pendidihan curah (bulk boiling) di mana terjadi
perubahan fase dari cair menjadi gas
(2)
. Hal ini bisa
mengakibatkan terjadinya peningkatan lepasan
produk fisi dan peningkatan reaktivitas. Barbry
(4)

menunjukkan bahwa berbagai kondisi, di antaranya
apakah larutan bahan bakar under-moderated
ataukah over-moderated,sangat menentukan apakah
pendidihan curah bisa mengakibatkan kenaikan
atau penurunan reaktivitas pasca kecelakaan.
Konsekuensi lain dari pendidihan curah adalah
redistribusi bahan bakar dan produk fisi, suatu
kondisi yang bisa membahayakan integritas batas
reaktor yang memiliki fungsi keselamatan
mengungkung zat radioaktif.
Pada AHR, larutan bahan bakar dan
produk fisi bisa mengalami pengendapan
(2)
.
Pengendapan tersebut terutama terjadi pada larutan
bahan bakar nitrat. Pembentukan NO
x
akan
meningkatkan pH dan jika nilai pH melewati nilai 3
pengendapan akan terjadi. Pengendapan harus
dihindari untuk mencegah pemanasan lokal pada
bejana reaktor dan tabung kumparan pendingin. Hal
tersebut dapat mengancam integritas pengungkung
zat radioaktif. Namun demikian, nilai pH yang
terlalu rendah juga dapat meningkatkan korosi.
Oleh karena itu, nilai pH harus di sekitar angka 1
sebagai nilai optimum
(4)
.
Pada AHR, gas hasil radiolisis selain
hidrogen dan oksigen seperti NO
x
bisa mengalami
reaksi kimia yang eksotermis
(2)
. Misalnya, reaksi
oksidasi NO
x
merupakan reaksi eksotermis.
Oksidasi yang cepat tersebut bisa meningkatkan
tekanan dan mengancam integritas sistem
manajemen gas dan kalau ada komponen sistem
manajeme gasyang gagal bisa terjadi lepasan
produk fisi dari sistem pengungkung utama.
Isu keselamatan yang lain terkait
kemampuan pendinginan adalah berkurangnya
kemampuan pendinginan
(2)
. Sebagaimana
disampaikan dalam bagian 2, panas yang
dibangkitkan di dalam teras AHR diambil oleh
pendingin primer, sistem manajemen gas dan oleh
kolam di sekeliling bejana reaktor. Kegagalan pada
salah satu sistem pendinginan akan mengakibatkan
kenaikan suhu atau pengaruh kimia, tegangan
termal berlebih, atau tambahan reaktivitas yang
pada gilirannya akan membahayakan integritas
batas pengungkung zat radioaktif.
Karena AHR memiliki fasilitas pemisah
isotop yang terkoneksi dengan reaktor AHR,
kegagalan fasilitas tersebut bisa berpengaruh
terhadap reaktor
(2)
.Di sisi lain, jika terdapat
multireaktor yang terkoneksi, propagasi kejadian
dari satu reaktor dengan reaktor lain juga harus
dipertimbangkan di dalam analisis kecelakaan.
112 ISSN 0216 - 3128 Joko Supriyadi



Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah - Penelitian Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir 2012
Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 4 Juli 2012

KESIMPULAN
Untuk memenuhi kebutuhan radiofarmaka
terutama senyawa yang mengandung isotop Mo-99,
AHR merupakan jenis reaktor nuklir yang dapat
dijadikan reaktor produksi isotop. AHR memiliki
fitur/sistem yang khas dan fenomena yang terjadi di
dalamnya juga memiliki kekhususan.Dalam
desainnya, beberapa isu keselamatan terkait
kekhasan AHR tersebut harus menjadi perhatian
utama karena umumnya kita hanya memiliki
pengalaman dengan reaktor heterogen. Di antara isu
keselamatan tersebut adalah: 1) pencegahan
ledakan akibat reaksi hidrogen dengan oksigen, 2)
reaksi kimia eksotermis dari gas hasil elektrolisis
selain hidrogen, 3) osilasi daya, 4) pendidihan
curah larutan bahan bakar, 5) pengendapan larutan
bahan bakar dan produk fisi, 6) penurunan
kemampuan pendinginan, dan 7) kejadian yang
merembet dari fasilitas pemisah isotop dengan
reaktor atau antar reaktor untuk instalasi dengan
multireaktor. Semua isu keselamatan tersebut harus
dihadapkan dengan persyaratan ketenaganukliran
bahwa desain reaktor nuklir harus mampu
menjalankan fungsi keselamatan reaktor, yakni
mengendalikan reaktivitas, mengambil panas yang
dibangkitkan reaktor, dan mengungkung zat
radioaktif. Kesemuanya adalah untuk menjamin
keselamatan masyarakat, pekerja, dan lingkungan
dari bahaya radiasi dalam pemanfaatan tenaga
nuklir.

DAFTAR PUSTAKA
1. http://en.wikipedia.org/wiki/Nuclear_medicin
e
2. BAJ OREK, S. dkk., Aqueous Homogeneous
Reactor Technical Panel Report, Brookhaven
National Laboratory, 2010
3. CAVERA, M.,
99m
Tc Production Processes:
An Examination of Proposals to Ensure Stable
North American Medical Supplies, Colorado
State University, 2009
4. IAEA, Homogeneous Aqueous Solution
Nuclear Reactors for the Production of Mo-99
and other Short Lived Radioisotopes, 2008
5. LANE, J .A. (ed.), Fluid Fuel Reactors,
Addison-Wesley, 1958, Part I: Aqueous
Homogenous Reactors.
6. PERATURAN KEPALA BAPETEN No. 1
tahun 2011 tentang Keselamatan Desain
Reaktor Non Daya
TANYAJAWAB
Sriyono
Mengapa pada reaktor AHR tidak dibutuhkan
fluks neutron yang tinggi?
JokoSupriyadi
Karena bahan bakar itu sendiri yang menjadi
bahan baku atau target produksi isotop,
sehingga untuk mendapatkan laju produksi
radioisotop yang tinggi tidak memerlukan
fluks neutron yang tinggi.