Anda di halaman 1dari 7

PERHITUNGAN NERACA MASSA & PANAS

Massa uap solvent




Massa solvent Massa Kristal
Feed Produk kristal
Massa solute Massa air kristal & solvent

Mother Liquor
Massa solute
Massa solvent

Data-data yang perlu diketahui :
Feed : suhu feed,
konsentrasi solute dalam feed
kapasitas panas larutan

Kristaliser : type pendinginan penguapan solvent reaksi kimia
suhu dan tekanan operasi kristaliser
kapasitas panas larutan

Mother liquor : suhu biasa dianggap sama dengan suhu kristaliser
kapasitas panas larutan

Produk : jumlah air kristal
suhu biasa dianggap sama dengan suhu kristaliser

Data pendukung : steam table untuk solvent air
H-x diagram untuk perhitungan grafis
Data kelarutan fungsi suhu.

Contoh :

Suatu kristaliser kontinyu digunakan untuk memproduksi CaCl
2
.4H
2
O dari larutan
dengan konsentrasi solute 40 % dan bersuhu 180
o
F. System vacuum dapat
menghasilkan suhu slurry dalam kristaliser bertahan pada 90
o
F.
a. Berapa kisaran panas yang harus ditambahkan utk setiap lbm feed untuk bisa
menghasilkan produk kristal semuanya bertype 4 hidrate.
b. Berapa maximum produk kristal lbm CaCl
2
bentuk kristal/lbm CaCl
2
dlm feed.

Solusi :
Data pendukung yang diperlukan : diagram H-x untuk CaCl
2
air dan steam table
Dari diagram H-x dapat diketahui enthalpy Feed : - 8 Btu/Lbm larutan.
Aliran keluar kristaliser berupa uap air bersuhu 90
o
F dan slurry kristal CaCl
2
.4H
2
O dalam
larutan jenuh CaCl
2
yang bersuhu sama 90
o
F.

kristaliser

Enthalpy uap air jenuh pada 90
o
F hanya bisa ditemui dalam steam table : H
v
: 1100,9
Btu/lbm.
Produk slurry yang keluar kristaliser semestinya terletak pada garis tie-line suhu 90
o
F di
kurva larutan jenuh dengan titik kristal CaCl
2
.4H
2
O. dengan demikian didapat kisaran
konsentrasi larutannya antara 52 sampai 61 % dan kisaran enthalpy antara 90 hingga 120
Btu/lbm larutan.
Untuk memperjelas penyelesaian secara grafis, perlu dibuatkan grafik tersendiri yang bisa
memasukkan data-data yang diperoleh dari steam table, seperti gambar dibawah ini.
Kondisi Feed terletak di titik (x
F
,h
F
) ; kondisi uap terletak dititik ( y
v
, H
v
) dan kondisi slurry
produk terletak disepanjang garis dari (x
s
, h
s
) yaitu larutan jenuh 90
o
F hingga titik (x
c
, h
c
)
yaitu kondisi kristal CaCl
2
.4H
2
O.
Sedangkan pemanasan feed semestinya berkisar antara titik ( x
F+h
, h
F+h
).
Sehingga kisaran jumlah panas untuk feed bisa dihitung sbb.
a. Minimum feed heating : 185 ( -8 ) = 193 Btu/lbm feed.
Maksimum feed heating : 305 ( -8 ) = 313 Btu/lbm feed.
b. Bila menggunakan maksimum feed heating maka produk keluar reaktor hanyalah
berupa kristal kering dan uap air. Hal ini tidak mungkin terjadi. Kristal kering
tidak mungkin keluar kristaliser.
Kondisi produk maksimum terjadi bila tie-line uap-slurry melewati titik d.
Sehingga bisa dibuat garis dari ( y
v
, H
v
) d yang memotong di (x
L
, h
L
) .
Dengan demikian keluaran kristaliser berupa uap air dan slurry dengan komposisi
di titik (x
L
, h
L
).
Feed heating yang dibutuhkan : 270 (-8) = 278 Btu/lbm feed.
Air yang teruapkan : (58,5 40)/58,5 = 0,316 lbm/lbm feed.



58,5 - 52
Kristal yang diperoleh : ( 1 0,316 ) ---------------- = 0,494 lbm kristal/lbm feed.
61 52

0,494 x (111/183)
Maksimum yield CaCl: ------------------------- = 0,75 lbm CaCl
2
dalam kristal / lbm CaCl
2

0,40 dalam feed.


Note : dalam praktek kondisi slurry ini dinilai terlalu tinggi kandungan kristalnya,
yang akan mempersulit pengeluaran slurry dari kristaliser. Sehingga
seharusnya operasi dilakukan dibawah titik d.


YIELD KRISTALISASI
Kristalisasi dengan metoda cooling ataupun evaporating secara teoritik dapat dengan
mudah dihitung dengan menggunakan data-data kelarutan baik berupa tabel maupun grafik.
Untuk larutan dengan solven air dapat dirumuskan sbb.

Dimana :
c1 : konsentrasi solute mula-mula, kg solute anhydrous /kg air.
c2 : konsentrasi akhir solute, kg solute anhydrous/kg air
W : massa air mula-mula, kg
V : air yang menguap, kg air menguap/kg air mula-mula.
R : rasio berat molekul kristal hidrat/kristal unhidrat.
Y : yield kristal, kg
Untuk penerapan dalam kristalisasi vacuum ( flash cooling ), harga V dihitung dulu dengan
rumus :

Dimana :
: panas latent penguapan solvent, J/kg solvent.
q : panas kristalisasi , J/kg kristal terbentuk.
t
1
: suhu larutan mula-mula,
o
C
t
2
: suhu akhir larutan ,
o
C
C : kapasitas panas larutan , J/kg.
o
K
Contoh soal :
Hitunglah yield teoritis kristal sodium acetat 3 hidrat, bila digunakan kristaliser vacuum
yang beroperasi pada tekanan internal 20 mbar. Feed 2000 kg/jam dengan konsentrasi solute
40 % berat pada suhu 80
o
C.
Data-data lainnya :(bisa juga dicari sendiri)
Kenaikan titik didih (boiling point elevation) : 11,5
o
C
Panas kristalisasi : 144 kJ/kg kristal trihidrat.
Kapasitas panas larutan : 3,5 kJ/kg.
o
K
Panas latent air pada 20 mbar : 2,46 MJ/kg
Suhu didih air pada 20 mbar : 17,5
o
C
Suhu evaporator-kristaliser : suhu didih air + kenaikan titik didih = 17,5 + 11,5 = 29
o
C
Konsentrasi solute dalam Feed : c
1
= 0,4/0,6 = 0,667 kg solute/kg solvent.
Dari data kelarutan pada 29
o
C didapatkan konsentrasi larutan c
2
: 0,539 kg solute/kg air
Air mula-mula : 0,6 x 2000 kg = 1200 kg
Rasio berat molekul kristal hidrat/unhidrat = 136/82 = 1,66
Harga V dapat dihitung dg rumus diatas, V = 0,153 kg/kg air mula-mula.
Sehingga dengan rumus Yield dapat dihitung :
Y = 660 kg kristal sodium acetat trihidrat.

BATCH SEEDED CRYSTALLIZER ( GROWTH CRYSTALLIZATION ).
Dalam sistem batch dengan penambahan seed-bibit kristal, dapat dilakukan perhitungan
distribusi ukuran produk kristal ( CSD =crystal size distribution ) dengan beberapa asumsi
(idealisasi) antara lain : tidak terbentuk inti kristal baik primer maupun sekunder; bentuk
(habit) kristal tetap sama untuk berbagai ukuran; dan kecepatan tumbuh kristal tidak
tergantung ukuran, dan selalu sama kecepatannya. Sehingga ukuran produk kristal dapat
dituliskan menggunakan dimensi spesifik partikel kristal D:
D
p
= D
s
+ D
Dan massa produk kristal dapat dituliskan dengan :
m
p
= D
P
3


= ( D
S
+ D)
3

m
S
= D
S
3



sehingga : m
p
= m
s
(1 + D/D
s
)
3

rumus terakhir diatas berlaku untuk total massa produk kristal, bila diinginkan rumusan
untuk ukuran kristal tertentu, maka perlu didifferensialkan. Dan dari differensial untuk
masing-masing ukuran ini bila diintegralkan untuk kisaran keseluruhan distribusi ukuran
partikel kristal-CSD, dapat dituliskan :

3
dms = mp
Contoh :
Suatu solute akan dikristalkan berbentuk kubus. Kapasitas produk ditentukan 10,000 lbm
dengan menambahkan seed seberat 1000 lbm. Data distribusi ukuran seed yang digunakan :
No Fraksi Berat Seed
(m
s
)
Ukuran rata-rata
(D
s
) inch.
1 0,1 0,0099
2 0,3 0,0070
3 0,5 0,0050
4 0,05 0,0035
5 0,05 0,0025
total 1,00
Tentukan CSD - distribusi ukuran produk kristalnya.
Untuk menghitung distribusi ukuran produk kristal dari seeded batch kristaliser ini dilakukan
dengan metoda trial & error, mengasumsi harga D, sehingga dapat dihitung dari rumusan
diatas pertambahan dimensi produk kristal Trial pertama dicoba D = 0,005 inch.
No Fraksi berat Seed
(m
s
)
(1 + D/D
s
)
3
Pertambahan dimensi produk
m
p
*
1 0,1 3,37 0,337
2 0,3 4,94 1,480
3 0,5 8,00 4,00
4 0,05 14,45 0,723
5 0,05 27,0 1,35
total 1,00 7,89
Dari perhitungan diatas, pertambahan berat fraksi dari 1 menjadi 7,89 sedangkan yang
diminta dari 1000 lbs menjadi 10,000 lbs atau 10 kali lipat, artinya trial D terlalu kecil.
Karena itu dilakukan trial lagi dengan D yang lebih besar sehingga diperoleh jumlah m
p
*
=
10.
Trial lagi dengan D = 0,0058 kemudian dihitung lagi seperti diatas :
No Fraksi Berat Seed
(m
s
)
(1 + D/D
s
)
3
m
p
*
D
p
= D
s
+ D
1 0,1 3,95 0,39 0,0157
2 0,3 6,00 1,80 0,0128
3 0,5 10,10 5,05 0,0108
4 0,05 18,70 0,94 0,0093
5 0,05 36,60 1,83 0,0083
total 1,00 10,01

Dari hasil perhitungan diatas dapat dihitung fraksi berat produk m
p
= (m
p
*
/ m
p
) dan
berat kumulatif produk berukuran kurang dari D
p
yang biasa digunakan untuk membuat
grafik CSD.

No Seed Size
D
s
Fraksi berat
Seed - m
s

Produk Size
D
p
= D
s
+ D
Fraksi Berat
Produk - m
p

Kumulatif
< D
p
1 0,0099 0,1 0,0157 0,039 0,961
2 0,0070 0,3 0,0128 0,180 0,781
3 0,0050 0,5 0,0108 0,504 0,277
4 0,0035 0,05 0,0093 0,094 0,183
5 0,0025 0,05 0,0083 0,183 0,000
total 1,00 1,00

Dibuatkan grafiknya, akan diperoleh gambaran lebih jelas perbedaan CSD seed dan CSD
produk.

Persoalan bisa diperluas dengan menggabungkan neraca massa bahkan neraca panas. Neraca
massa bisa menggunakan data kelarutan fungsi suhu. Dari soal diatas diketahui solute yang
mengkristal sejumlah 10,000 lbm dan berat seed 1,000 lbm. Maka solute yang mengkristal
sejumlah 9,000 lbm. Maka bila kristalisasi dilakukan dengan sistem pendinginan dengan data
kelarutan bisa dihitung dari suhu berapa ke suhu berapa feed harus didinginkan.
Demikian pula bila data-data kapasitas panas & panas kristalisasi diketahui dapat dihitung
berapa banyak panas yang harus diambil.