Anda di halaman 1dari 2

PENDAHULUAN

Sejak nenek moyang kita mulai menjinakkan dan memelihara hewan liar
serta mengubahnya menjadi ternak, secara tidak sadar mereka telah melaksanakan
program pemuliaan secara sederhana. Bila dipandang dari sudut genetika
kuantitatif, nenek moyang kita itu telah melaksanakan peningkatan mutu genetik
ternak yang dipeliharanya, meskipun masih dalam bentuk yang sederhana, yaitu
dengan memilih hewan-hewan tertentu yang dianggapnya lebih sesuai dengan
kebutuhannya atau hewan yang disenanginya. Hewan-hewan pilihan tersebut
kemudiaan dipelihara lebih lama dari hewan-hewan lain dan dikawinkan untuk
memperoleh keturunan.
Peningkatan produktivitas ternak dapat dilakukan melalui perbaikan mutu
pakan dan program pemuliaan melalui seleksi dan persilangan. Perbaikan mutu
pakan dan manajemen dapat meningkatkan produktivitas, tapi tidak meningkatkan
mutu genetik Perbaikan tersebut sering kali bersifat sementara dan tidak
diwariskan pada turunannya. Perkawinan silang dapat meningkatkan produktivitas
dan mutu genetik, namun membutuhkan biaya besar dan harus dilakukan secara
bijak dan terarah, karena dapat mengancam kemurniaan ternak asli. Perbaikan
mutu genetik biasanya bersifat permanen dan dapat diwariskan dari generasi ke
generasi berikutnya.
Crossbreeding merupakan persilangan antar ternak dari bangsa (breed)
yang berbeda. Namun, tidak sembarangan menunjukkan pencampuran bangsa,
tetapi lebih merupakan sebuah pemanfaatan sistematis sumber daya jenis bangsa
berbeda untuk menghasilkan persilangan progeni dari jenis tertentu. Persilangan
digunakan secara luas di industri domba komersial. Crossbreeding menawarkan
dua keunggulan yang berbeda: 1) heterosis, dan 2) saling melengkapi bangsa yang
disilangkan. Heterosis or hybrid vigor adalah keunggulan keturunan persilangan.
Secara matematis, heterosis adalah perbedaan kinerja antara persilangan dan
kinerja rata-rata indukan. Ada efek heterosis pada keturunan persilangan, dari
pejantan dan indukannya. Secara umum, persilangan individu cenderung lebih
kuat, lebih subur dan tumbuh lebih cepat dari purebreds.
Crossbreeding sapi potong mempunyai tujuan antara lain: a) membentuk
bangsa teranak baru (composite breed), b) meningkatkan produksi ternak lokal, c)
mendapatkan efek heterosis (sifat yang muncul dari persilangan yang berbeda dari
induknya), d) mendapatkan komplementari bangsa (breed complementary). Di
dunia sapi potong praktek persilangan ini banyak dilakukan untuk
membentuk terminal cross atau composite breed antara Bos taurus dan Bos
indicus. Australia merupakan negara peternakan yang banyak melakukan praktek
ini untuk membentuk bangsa sapi baru yang tahan panas, tahan kering dan tahan
caplak, namun mempunyai produktivitas yang tetap tinggi. Tercatat antara lain
muncullah bangsa sapi baru silangan Bos taurus-Bos indicus, antara lain Simbrah
(Simmental-Brahman), Brangus (Brahman-Angus), Australian Milking Zebu,
Draught Master, Brahman Cross, Sahiwal Cross. Sejauh ini tidak dilaporkan
adanya penurunan tingkat fertilitas secara signifikan bangsa sapi silangan tersebut
di Australia dengan manajemen peternakan pastura ekstensif.

Tujuan
1. Menggabungkan keunggulan dari dua bangsa ternak dalam suatu upaya
untuk menghasilkan generasi baru yang secara fenotip superior (unggul)
terhadap rerata bangsa tertua akibat heterosis atau hybrid vigor.
2. Menggabungkan bangsa-bangsa yang berbeda sekali karakteristik dan
adaptabilitasnya untuk menghasilkan bangsa baru dengan yang memiliki
beberapa karakteristik terbaik dari masing-masing tertuanya.
3. Menghasilkan keturunan superior (lebih unggul) dari bangsa tetua karena lebih
mampu beradaptasi dengan lingkungan atau memiliki karakteristik khusus
yang tidak dimiliki bangsa tetuanya.