Anda di halaman 1dari 49

KONSEP DAN APLIKASI MODEL KEPERAWATAN MENURUT DOROTHEA OREM

DALAM KEPERAWATAN KOMUNITAS


BAB I
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
Keperawatan sebagai pelayanan profesional, dalam aplikasinya harus dilandasi oleh dasar
keilmuan keperawatan yang kokoh. Dengan demikian perawat harus mampu berfikir logis,dan
kritis dalam menelaah dan mengidentifikasi fenomena respon manusia. Banyak bentuk bentuk
pengetahuan dan ketrampilan berfikir kritis harus dilakukan pada setiap situasi klien, antara lain
degan menggunakan model model keperawatan dalam proses keperawatan. Dan tiap model
dapat digunakan dalam praktek keperwatan sesuai dengan kebutuhan.

Pemilihan model keperawatan yang tepat dengan situasi klien yang spesifik, memerlukan
pengetahuan yang mendalam tentang variable variable utama yang mempengaruhi situasi kilen.
Langkah langkah yang harus dilakukan perawat dalam memilih model keperawatan yang tepat
utk kasus spesifik adalah sebagai berikut :
1. Mengumpulkan informasi awal tentang focus kesehatan klien,umur, pola hidup dan aktivitas
sehari hari untuk mengidentifikasi dan memahami keunikan pasien.
2. Mempertimbangkan model keperawatan yang tepat dengan menganalisa asumsi yang
melandasi, definisi konsep dan hubungan antar konsep.

Dari beberapa model konsep, salah satu diantaranya adalah model self care yang diperkenalkan
oleh Dorothea E. Orem. Orem mengembangkan model konsep keperawatan ini pada awal tahun
1971 dimana dia mempublikasikannya dengan judul Nursing Conceps of Practice Self Care.
Model ini pada awalnya berfokus pada individu kemudian edisi kedua tahun 1980 dikembangkan
pada multi person s unit (keluarga, kelompok dan komunitas) dan pada edisi ketiga sebagai
lanjutan dari 3 hubungan konstruksi teori yang meliputi : teori self care, teori self care deficit dan
teori nursing system.



BAB II
TEORI MODEL KEPERAWATAN MENURUT DOROTHEA E.OREM

A. Biografi Dorothea E. Orem
Dorothea E. Orem pendidikan sekolah perawatan di rumah sakit Providence di Washington DC.
Lulus Sarjana Muda tahun 1930. Lulus Master tahun 1939 pendidikan keperawatan. Tahun 1945
bekerja di Universitas Katolik di Amerika selama perjalanan kariernya ia telah bekerja sebagai
staf perawat, perawat tugas pribadi, pendidik, administrasi keperawatan dan sebagai konsultan
(1970).
a. Tahun 1958- 1959 sebagai konsultan di Departemen kesehatan pada bagian pendidikan
kesejahteraan dan berpartisipasi pada proyek pelatihan keperawatan
b. Tahun 1959 konsep perawatan Orem dipublikasikan pertama kali
c. Tahun 1965 bergabung dengan Universitas Katolik di Amerika membentuk model teori
keperawatan komunitas
d. Tahun 1968 membentuk kelompok konferensi perkembangan keperawatan, yang
menghasilkan kerja sama tentang perawatan dan disiplin keperawatan
e. Tahun 1976 mendapat gelar Doktor Honoris Causa
f. Tahun 1980 mendapat gelar penghargaan dari alumni Universitas Katolik Amerika tentang
teori keperawatan.
g. Selanjutnya Orem mengembangkan konsep keperawatan tentang perawatan diri sendiri dan
dipulikasikan dalam keperawatan (Concept of Pratice tahun 1971).
h. Tahun 1980 mempublikasikan buku kedua yang berisi tentang edisi pertama diperluas pada
keluarga, kelompok dan masyarakat.
i. Tahun 1985 mempublikasikan buku kedua yang berisi tentang tiga teori, yaitu ; Theory self
care, theory self care deficit, theory system keperawatan.
B. Pengertian
Keperawatan mandiri (self care) menurut Orems adalah : Suatu pelaksanaan kegiatan yang
diprakarsai dan dilakukan oleh individu sendiri untuk memenuhi kebutuhan guna
mempertahaankan kehidupan, kesehatan dan kesejahteraannya sesuai dengan keadaan, baik sehat
maupun sakit (Orems, 1980).
Pada dasarnya diyakini bahwa semua manusia itu mempunyai kebutuhan kebutuhan self care
dan mereka mempunyai hak untuk mendapatkan kebtuhan itu sendiri, kecuali bila tidak mampu.

C. Teori Sistem Keperawatan Orem
Teori ini mengacu kepada bagaimana individu memenuhi kebutuhan dan menolong
keperawatannya sendiri, maka timbullah teori dari Orem tentang Self Care Deficit of Nursing.
Dari teori ini oleh Orem dijabarkan ke dalam tiga teori yaitu ;
1. Self Care
Teori self care ini berisi upaya tuntutan pelayanan diri yang The nepeutic sesuai dengan
kebutuhan
Perawatan diri sendiri adalah suatu langkah awal yang dilakukan oleh seorang perawat yang
berlangsung secara continue sesuai dengan keadaan dan keberadannya , keadaan kesehatan dan
kesempurnaan.
Perawatan diri sendiri merupakan aktifitas yang praktis dari seseorang dalam memelihara
kesehatannya serta mempertahankan kehidupannya. Terjadi hubungan antar pembeli self care
dengan penerima self care dalam hubungan terapi. Orem mengemukakan tiga kategori /
persyaratan self care yaitu : persyaratan universal, persyaratan pengembangan dan persyaratan
kesehatan.
Penekanan teori self care secara umum :
a. Pemeliharaan intake udara
b. Pemeliharaan intake air
c. Pemeliharaan intake makanan
d. Mempertahankankan hubungan perawatan proses eliminasi dan eksresi
e. Pemeliharaan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat
f. Pemeliharaan keseimbangan antara solitude dan interaksi social
g. Pencegahan resiko-resiko untuk hidup, fungsi usia dan kesehatan manusia
h. Peningkatan fungsi tubuh dan pengimbangan manusia dalam kelompok social sesuai dengan
potensinya.

2. Self Care Deficit
Teori ini merupakan inti dari teori perawatan general Orem. Yang menggambarkan kapan
keperawatan di perlukan.Oleh karena perencanaan keperawatan pada saat perawatan yang
dibutuhkan.
Bila dewasa (pada kasus ketergantungan, orang tua, pengasuh) tidak mampu atau keterbatasan
dalam melakukan self care yang efektif
Teori self care deficit diterapkan bila ;
- Anak belum dewasa
- Kebutuhan melebihi kemampuan perawatan
- Kemampuan sebanding dengan kebutuhan tapi diprediksi untuk masa yang akan datang,
kemungkinan terjadi penurunan kemampuan dan peningkatan kebutuhan.

3. Nursing system
Teori yang membahas bagaimana kebutuhan Self Care patien dapat dipenuhi oleh perawat,
pasien atau keduanya. Nursing system ditentukan / direncanakan berdasarkan kebutuhan Self
Care dan kemampuan pasien untuk menjalani aktifitas Self Care.
Orem mengidentifikasikan klasifikasi Nursing System :
a. The Wholly compensatory system
Merupakan suatu tindakan keperawatan dengan memberikan bantuan secara penuh kepada
pasien dikarenakan ketidakmampuan pasien dalam memenuhi tindakan keperawtan secara
mandiri yang memerlukan bantuan dalam pergerakan, pengontrolan dan ambulasi, serta adanya
manipulasi gerakan.
b. The Partly compensantory system
Merupakan system dalam memberikan perawatan diri secara sebagian saja dan ditujukan pada
pasien yang memerlukan bantuan secara minimal seperti pada pasien post op abdomen dimana
pasien ini memiliki kemampuan seperti cuci tangan, gosok gigi, akan tetapi butuh pertolongan
perawat dalam ambulasi dan melakukan perawatan luka.
c. The supportive Educative system
Dukungan pendidikan dibutuhkan oleh klien yang memerlukannya untuk dipelajari, agar mampu
melakukan perawatan mandiri.
Metode bantuan :
Perawat membantu klien denagn mengguanakn system dan meallaui lima metode bantuan yang
meliputi :
Acting atau melakukan sesuatu untuk klien
Mengajarkan klien
Menagarahkan klien
Mensuport klien
Menyediakan lingkungan untuk klien agar dapat tumbuh dan berkembang.

D. Keyakinan dan nilai nilai
Kenyakianan Orems tentang empat konsep utama keperawatan adalah :
1. Klien : individu atau kelompok yang tidak mampu secara terus menerus memperthankan self
care untuk hidup dan sehat, pemulihan dari sakit atau trauma atu koping dan efeknya.
2. Sehat : kemampuan individu atau kelompoki memenuhi tuntutatn self care yang berperan
untuk mempertahankan dan meningkatkan integritas structural fungsi dan perkembangan.
3. Lingkungan : tatanan dimana klien tidak dapat memenuhi kebutuhan keperluan self care dan
perawat termasuk didalamnya tetapi tidak spesifik.
4. Keperawatan : pelayanan yang dengan sengaja dipilih atau kegiatan yang dilakukan untuk
membantu individu, keluarga dan kelompok masyarakat dalam mempertahankan self care yang
mencakup integritas struktural, fungsi dan perkembangan.

E. Tiga kategori self care
Model Orems menyebutkan ada beberapa kebutuhan self care / hyang disebutkan sebagai
keperluan self care ( self care requisite ), yaitu :
1. Universal self care requisite
Keperluan self care uiniversal aadan oada setiap manusia dan berkaitan dengan fungsi
kemanusiaan dan proses kehidupan, biasanya mengacu pada kebutuhan dasar manusia. Universal
requisite yang dimaksudkan adalah :
Pemeliaharaan kecukupan intake udara
Pemeliharaan kecukupan intake cairan
Pemeliaharaan kecukupan makanan
Pemeliaharaan keseimabnagn antara aktifitas dan istirahat
Mencegah ancaman kehidupan manusia, fungsi kemanusiaan dan kesejahteraan manusia
Persediaan asuhan yang berkaitan dengan proses- proses eliminasi.
Meningkatkan fungsi human fungtioning dan perkembangan ke dalam kelompok sosial sesuai
dengan potensi seseorang, keterbatasan seseorang dan keinginan seseorang untuk menjadi
normal.
2. Developmental self care requisite
Terjadi berhubungn dengan tingkat perkembangn individu dan lingkunag dimana tempat mereka
tinggal yang berkaitan dengan perubahan hidup sseseorang atau tingkat siklus kehidupan.
3. Health deviation self care requisite
Timbul karena kesehatan yang tidak sehat dan merupakan kebutuhan- kebutuhan yang menjadi
nyata karena sakit atau ketidakmampuan yang menginginkan perubahan dalam prilaku self care.
F. Hubungan Model Dengan Paradigma Keperawatan
1. Manusia
Model Orem membahas dengan jelas individu dan berfokus pada diri dan perawatan diri. Namun
demikian, seseorang dianggap paling ekslusif dalam kontek ini sedangkan kompleksitas
perawatan manusia dan tindakan manusia tidak dipertimbangkan. Dalam hal ini, model tersebut
berada dalam kategori yang didefinisikan sebagai paradigma total, bahwa manusia dianggap
sebagai sejumlah kebutuhan perawatan diri.

2. Lingkungan
Lingkungan juga dibahas dengan jelas dalam model ini. Namun, hal ini terutama dianggap
sebagai situasi tempat terjadinya perawatan diri atau kurangnya perawatan diri.

3. Sehat dan Sakit
Ide ini juga terdapat dalam model tersebut, namun dibahas dalam kaitannya dengan perawatan
diri. Alasannya bahwa jika individu dalam keadaan sehat mereka dapat memenuhi sendiri deficit
perawatan diri yang mereka alami. Sebaliknya jika mereka sakit atau cedera, orang tersebut
bergeser dari status agens perawtan diri menjadi status pasien atau penerima asuhan. Penyamaan
sehat dengan perawatan diri dalam hal ini berarti sehat sakit tidak dibahas dalam konsep yang
berbeda. Akan timbul masalah disini jika orang yang sehat tidak dapat melakukan perawatan
untuk dirinya sendiri.

4. Keperawatan
Model ini membahas dengan cara yang jelas dan sistematik sifat dari keperawatan dan kerangka
kerja untuk memberikan asuhan keperawatan. Harus diketahui bahwa hal tersebut ditampilkan
dalam bentuk pendekatan mekanistik berdasarkan pendekatan supportif-edukatif, kompensasi
partial, dan kompensasi total. Pendekatan tersebut merupakan pendekatan langsung yang dapat
ditatalaksanakan.

G. Tujuan
Tujuan keperawatan pada model Orems secara umum adalah :
1. Menurunkan tuntutan self care pada tingkat diamna klien dapat memenuhinya, ini berarti
menghilangkan self care deficit.
2. Memungkinkan klien meningkatkan kemampuannya untuk memenuhi tuntutan self care.
3. Memungkinkan orang yang berarti (bermakna) bagi klien untuk memberikan asuhan dependen
jika self care tidak memungkinkan, oleh karenanya self care deficit apapun dihilangkan.
4. Jika ketiganya ditas tidak tercapai perawat secara lngsung dapat memenuhi kebutuhan-
kebutuhan self care klien.

Tujuan keperawatan pada model Orems yang diterapkan kedalam praktek keperawatan
keluarga/ komunitas adalah :
1. Menolong klien dalam hal ini keluraga untuk keperawatan mandiri secara terapeutik
2. Menolong klien bergerak kearha tidaakan- tidakan asuahan mandiri
3. Membantu anggota keluarga untuk merawat anggota keluraganya yang mengalami gangguan
secara kompeten.
4. Dengan demikian maka focus asuhan keperawatan pada model orems yang diterapkan pada
praktek keperawtan keutrga/ mkomunitas adalah:
aspek interpersonal : hubungna didalam kelurga
aspek social : hubungan keurga dengan masyarakat disekitarnya.
aspek procedural ; melatihn ketrampilan darar keuraga sehingga mampu mengantisipasi
perubahan yang terajdi
aspek tehnis : mengajarkan keapda keluarga tentang tehnik dasar yang dialkukan di rumah,
misalnya melakukan tindakan kompres secra benar.



BAB III
PENUTUP

Dengan mempelajari model kosep atau teori keperawatan sebagaimana disampaikan dimuka
maka dapat disimpulkan bahwa perawat harus memahami apa yang harus dilakukan secara tepat
dan akurat sehingga klien dapat memperoleh haknya secara tepat dan benar. Asuhan
keperawatan dengan pemilihan model konsep atau teori keperawatan yang sesuai dengan
karakteristik klien dapat memberikan asuhan keperawatan yang relevan .
Model konsep atau teori keperawatan self care mempunyai makna bahwa semua manusia
mempunyai kebutuhan - kebutuhan self care dan mereka mempunyai hak untuk memperolehya
sendiri kecuali jika tidak mampu. Dengan demikian perawat mengakui potensi pasien untuk
berpartisipasi merawat dirinya sendiri pada tingkat kemampuannya dan perawatan dapat
menentukan tingkat bantuan yang akan diberikan.
Untuk dapat menerapkan model konsep atau teori keperawatan ini diperlukan suatu pengetahuan
dan ketrampilan yang mendalam terhadap teori keperawatan sehingga diperoleh kemampuan
tehnikal dan sikap yang therapeutik.
Dibuat Oleh Trinoval Yanto Nugroho di Senin, Oktober 12, 2009
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google
Buzz
Menurut Anda
TEORI OREM
Posted by ariestaqyu | s3jarah keperawatan | Friday 29 January 2010 3:45 pm
Model Konsep dan Teori Keperawatan Dorothea Orem
A. Biografi Orem
Dorothea Orem lahir di Baltimore, Maryland pada tahun 1914. Beliau wafat pada tanggal 22 Juli
2007 di Skidaway. Selama hidupnya, beliau pernah mengikuti pendidikan Diploma (1903),
kemudian meanjutkan pendidikannya di Providence School of Nursing di Washington DC dan
mendapatkan gelar B.S.NE, kemudian melanjutkan pendidikannya lagi di Catholic University of
America di Washington DC dan mendapatkan gelar M.S.NE.
B. Model Konsep Keperawatan Orem
Model Keperawatan menurut Orem dikenal dengan Model Self Care. Model Self Care ini
memberi pengertian bahwa bentuk pelayanan keperawatan dipandang dari suatu pelaksanaan
kegiatan dapat dilakukan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar dengan tujuan
memperthankan kehidupan, kesehatan, kesejahteraan sesuai dengan keadaan sehat dan sakit.
Model keperawatan ini berkembang sejak tahun 1959-2001.
Model Self Care (perawatan diri) ini memiliki keyakinan dan nilai yang ada dalam keperawatan
diantaranya dalam pelaksanaan berdaarkan tindakan atas keampuan. Self Care didasarkan atas
kesengajaan serta dalam pengambilan keputusan dijadikan sebagai pedoman dalam tindakan.
Dalam pemahaman konsep keperawatan khususnya dalam pandangan mengenai pemenuhan
kebutuhan dasar, Orem membagi dalam konsep kebutuhan dasar yang terdiri dari:
1. Air (udara): pemelihraan dalam pengambian udara.
2. Water (air): pemeliaraan pengambilan air
3. Food (makanan): pemeliharaan dalam mengkonsumsi makanan
4. Elimination (eliminasi): pemeliharaan kebutuhan proses eliminasi
5. Rest and Activity (Istirahat dan kegiatan): keseimbangan antara istirahat dan
aktivitas.
6. Solitude and Social Interaction ( kesendirian dan interaksi sosial): pemeliharaan
dalam keseimbangan antara kesendirian dan interaksi sosial.
7. Hazard Prevention (pencegahan risiko): kebutuhan akan pencegahan risiko pada
kehidupan manusia dalam keadaan sehat .
8. Promotion of Normality
C. Teori Keperawatan Orem
Pandangan teori Orem dalam tatanan pelayanan keperawatan ditujukan kepada kebutuhan
individu dalam melakukan tindakan keperawatan mandiri serta mengatur dalam kebutuhannya.
Dalam konsep praktik keperwatan Orem mengembangkan tiga bentuk teori Self Care, di
antaranya:
1. Perawatan Diri Sendiri (Self Care)
Teori Self Care meliputi:
Self Care: merupakan aktivitas dan inisiatif dari individu serta dilaksananakan oleh
individu itu sendiri dalam memenuhi serta mempertahankan kehidupan, kesehatan serta
kesejahteraan.
Self Care Agency: merupakan suatu kemampuan individu dalam melakukan perawatan
diri sendiri, yang dapat dipengaruhi oeh usia, perkembangan, sosiokultural, kesehatan dan
lain-lain.
Theurapetic Self Care Demand: tuntutan atau permintaan dalam perawatan diri sendiri
yang merupakan tindakan mandiri yang dilakukan dalam waktu tertentu untuk perawatan
diri sendiri dengan menggunakan metode dan alat dalam tindakan yang tepat.
Self Care Requisites: kebutuhan self care merupakan suatu tindakan yang ditujukan pada
penyediaan dan perawatan diri sendiri yang bersifat universal dan berhubungan dengan
proses kehidupan manusia serta dalam upaya mepertahankan fungsi tubuh. Self Care
Reuisites terdiri dari beberapa jenis, yaitu: Universal Self Care Requisites (kebutuhan
universal manusia yang merupakan kebutuhan dasar), Developmental Self Care
Requisites (kebutuhan yang berhubungan perkembangan indvidu) dan Health Deviation
Requisites (kebutuhan yang timbul sebagai hasil dari kondisi pasien).
2. Self Care Defisit
Self Care Defisit merupakan bagian penting dalam perawatan secara umum di mana segala
perencanaan keperawatan diberikan pada saat perawatan dibutuhkan. Keperawatan dibutuhkan
seseorang pada saat tidak mampu atau terbatas untuk melakukan self carenya secara terus
menerus. Self care defisit dapat diterapkan pada anak yang belum dewasa, atau kebutuhan yang
melebihi kemampuan serta adanya perkiraan penurunan kemampuan dalam perawatan dan
tuntutan dalam peningkatan self care, baik secara kualitas maupun kuantitas. Dalam pemenuhan
perawatan diri sendiri serta membantu dalam proses penyelesaian masalah, Orem memiliki
metode untuk proses tersebut diantaranya bertindak atau berbuat untuk orang lain, sebagai
pembimbing orang lain, memberi support, meningkatkan pengembangan lingkungan untuk
pengembangan pribadi serta mengajarkan atau mendidik pada orang lain.
3. Teori Sistem Keperawatan
Teori Siste Keperawatan merupakan teori yang menguraikan secara jelas bagaimana kebutuhan
perawatan diri pasien terpenuhi oleh perawat atau pasien sendiri. Dalam pandangan sistem ini,
Orem memberikan identifikasi dalam sistem pelayanan keperawatan diantaranya:
Sistem Bantuan Secara Penuh (Wholly Copensatory System ). Merupakan suatu tindakan
keperawatan dengan memberikan bantuan secara penuh pada pasien dikarenakan
ketidamampuan pasien dalam memenuhi tindakan perawatan secara mandiri yang
memerlukan bantuan dalam pergerakan, pngontrolan, dan ambulansi serta adanya
manipulasi gerakan. Contoh: pemberian bantuan pada pasien koma.
Sistem Bntuan Sebagian (Partially Compensatory System). Merupakan siste dalam
pemberian perawatan diri sendiri secara sebagian saja dan ditujukan kepada pasien yang
memerlukan bantuan secara minimal. Contoh: perawatan pada pasien post operasi
abdomen di mana pasien tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perawatan luka.
Sistem Supportif dan Edukatif. Merupakan sistem bantuan yang diberikan pada pasien
yang membutuhkan dukungan pendidikan dengan harapan pasien mampu memerlukan
perawatan secara mandiri. Sistem ini dilakukan agara pasien mampu melakukan tindakan
keperawatan setelah dilakukan pembelajaran. Contoh: pemberian sistem ini dapat
dilakukan pada pasien yang memelukan informasi pada pengaturan kelahiran.
D. Aplikasi Model Keperawatan Orem
Aplikasi Model Keperawatan Orem, dapat dilihat dari contoh kasus berikut:
Kasus:
Tn. J (50 th), didiagnosis DM tipe 2. Dia memiliki riwayat hipertensi dan dia seorang perokok
berat (30 batang per hari). Perawatan yang dapat diberikan epada Tn. J berdasarkan model
keperawatan Orem adalah:
1. Air (educative/supportif). Perawat harus mampu memberikan informasi tentang
hubungan hipertensi dengan merokok.
2. Water (educative/supportif). Perawat harus mampu meykinkan adanya hydration-
risk yang cukup dari polydipsia yang memicu hyperglycaemia (kadar gula yang tinggi dalam
darah)
3. Food (partial compensatory). Perawat memberikan diet yan cocok untuk hipertensi
dan diabetes, serta mengontrol gula darah setelah makan.
4. Elimination (educative/supporif). Klien membutuhkan monitoring.
5. Activity and Rest (adecative/ suportif). Perawat menginformasikan pada pasien
tentang kegiatan yang cocok untuk pasien diabetes.
6. Solitude and Social Interaction (partial compensatory). Interaksi social dengan
perawat dapat memberikan perubahan interaksi dan tigkah sosial.
7. Hazard Prevention (partial compensatory). Perawat memberikan pendidikan pada
pasien tentang kelebihan dan kekurangan pengobatan yang akan diambil oleh pasien.
8. Promote Normality (partial compensatory). Perawat diharapkan dapat membantu
pasien untuk mengembalikan pola hidup pasien, sehingga menjadi normal kembali.
Minggu, 04 Oktober 2009
Tahap Perkembangan Erikson dan Freud
3.0 (Win32)">
TEORI PERKEMBANGAN SIGMUND FREUD :
TAHAPAN PSIKOSEKSUAL

Sigmund Freud percaya bahwa orang dilahirkan dengan dorongan biologis yang harus diarahkan
kembali agar dapat hidup dalam masyarakat. Ia berpendapat bahwa karakteristik dibentuk pada
masa kanak-kanak, ketika anak-anak berhadapan dengan konflik bawah sadar antara dorongan
bawaan dan tuntutan hidup budaya.
Freud membagi perkembangan kepribadian menjadi 3 tahapan yakni tahap infatil (0 - 5 tahun),
tahap laten (5 - 12 than) dan tahap genital (> 12 tahun). Tahap infatil yang faling menentukan
dalam membentuk kepribadin, terbagi menjadi 3 fase, yakni fase oral, fase anal, dan fase falis.
Perkembangan kepribadian ditentukan oleh perkembangan insting seks, yang terkait dengan
perkembangan bilogis, sehingga tahp ini disebut juga tahap seksual infatil. Perkembangan insting
seks berarti perubahan kateksis seks dan perkembangan bilogis menyiapkan bagian tubuh untuk
dipilh menjadi pusat kepuasan seksul (arogenus) zone). Pemberian nama fase-fase
perkembangan infatil sesuai dengan bagian tubuh daerah erogen yang menjadi kateksis
seksual pada fase itu. Pada tahap laten, impuls seksual mengalami represi, perhatian anak banyak
tercurah kepada pengembangan kognitif dan keterampilan. Aru sesudah itu, secara bilogis terjadi
perkembangan puberts yang membangunkan impuls seksual dari represinya untuk berkembang
mencapai kemasakan. Pada umumnya kemasakan kepribadian dapat dicapi pada usia 20 tahun.
1. Tahap Oral (mulut)
Tahapan ini berlangsung dari lahir sampai18 bulan pertama kehidupan. Mulut merupakan
sumber kenikmatan utama. Dua macam aktivitas oral di sini, yaitu menggigit dan menelan
makanan, merupakan prototype bagi banyak ciri karakter yang berkembang di kemudian hari.
Kenikmatan yang diperoleh dari inkorporasi oral dapat dipindahkan ke bentuk-bentuk
inkorporasi lain, seperti kenikmatan setelah memperoleh pengetahuan dan harta.
Contoh: Bayi yang meminum ASI, ia akan menghisap puting ibu.

2. Tahap Anal
Tahapan ini berlangsung antara usia 1 dan 3 tahun. Kenikmatan akan dialami anak dalam fungsi
pembuangan, misalnya menahan dan bermain-main dengan feces, atau juga senang bermain-
main dengan lumpur dan kesenangan melukis dengan jari.
Contoh: Anak sudah bisa mengatur kapan ia ingin buang air.

3. Tahap Phallic
Tahapan ini berlangsung antara usia 3 dan 6 tahun. Tahap ini sesuai dengan nama genital laki-
laki (phalus), sehingga meupakan daerah kenikmatan seksual laki-laki. Sebaliknya pada anak
wanita merasakan kekurangan akan penis karena hanya mempunyai klitoris, sehingga terjadi
penyimpangan jalan antara anak wanita dan laki-laki. Lebih lanjut, pada tahap ini anak akan
mengalami Oedipus complex, yaitu keinginan yang mendalam untuk menggantikan orang tua
yang sama jenis kelamin dengannya dan menikmati afeksi dari orang tua yang berbeda jenis
kelamin dnegannya. Misalnya anak laki-laki akan mengalami konflik oedipus, ia mempunyai
keinginan untuk bermain-main dengan penisnya. Dengan penis tersebut ia juga ingin merasakan
kenikmatan pada ibunya.
Contoh:
kateksis obyek kepada orang tua yang berlawanan jenis serta permusuhan terhadap orang
tua sejenis. Anak laki-laki ingin memiliki ibunya dan menyingkirkan ayahnya; sebaliknya
anak perempuan ingin memilki ayahnya dan menyingkirkan ibunya yang disebut odipus
kompleks.

4. Tahap Latency
Tahapan ini berlangsung antara kira-kira usia 6 tahun dan masa pubertas. Merupakan tahap yang
paling baik dalam perkembangan kecerdasan (masa sekolah), dan dalam tahap ini seksualitas
seakan-akan mengendap, tidak lagi aktif dan menjadi laten.

5. Tahap Genital
Tahapan ini berlangsung antara kira-kira dari masa pubertas dan seterusnya. Bersamaan dengan
pertumbuhannya, alat-alat genital menjadi sumber kenikmatan dalam tahap ini, sedangkan
kecenderungan-kecenderungan lain akan ditekan.

TEORI PERKEMBANGAN ERIKSON :
TAHAPAN PSIKOSOSIAL

Teori perkembangan Erik Erickson ini merupakan pengembeangan lanjut teori perkembangan
Freud, karena tidak terbatas sampai masa genital saja dan Erikson adalah murid Freud.
Perkembangan Psikososial menurut Erikson didasarkan atas prinsip Epigenetik yakni bahwa
perkembangan manusia itu terbagi atas beberapa tahap dan setiap tahap mempuyai masa optimal
atau masa kritis yang harus dikembangkan dan diselesaikan.
Perkembangan ini dibagi dalam beberapa tahap, sebagai berikut :
1. Basic Trust vs Basic Mistrust (Kepercayaan vs Ketidak percayaan).
Periode perkembangan terjadi pada masa bayi (lahir hingga 12-18 bulan).Bayi mengembangkan
perasaan nyaman pada suatu tempat yang baik dan aman. Perasaan nyaman secara fisik dan
sejumlah harapan yang akan terjadi keesokan harinya atau dikemudian hari. Pada masa tahapan
ini peranan orang tua sangat di butuhkan untuk cepat tanggap dan peka terhadap setiap kejadian
yang di alami si bayi. Jika si bayi sudah merasa nyaman dan aman akan memiliki rasa percaya
kepada dunia luar maupun diri sendiri.
Contoh:
Anak akan menangis saat tau dirinya tidak ada di pelukan ibunya karena ia merasa asing
dengan orang yang menggendongnya.
Anak yang sadar bahwa ibunya tidak ada disampingnya saat ia bangun tidur ia akan
menangis tetapi saat ibunya menggendongnya ia akan kembali tenang, karena ia sudah
merasa terbiasa dengan pelukan ibunya.

2. Autonomy vs Shame and Doubt (Otonomi vs Rasa Malu dan Ragu-ragu).
Periode perkembangan terjadi pada masa bermain (12-18 bulan hingga 3 tahun).Pada tahap ini
menentukan tumbuhnya kemauan baik dan kemauan keras, anak mempelajari apa yang
diharapkan, apa kewajiban dan haknya disertai batasan-batsannya yang dikenakan pada dirinya.
Sebaiknya para orang tua mampu membantu dan memberi dorongan kepada anak sesuai dengan
kemampuan dan keinginan tanpa paksaan yang membuatnya tertekan.
Jika orang tua terlalu membatasi, terlalu keras memberikan hukuman atau pun terlalu melindungi
anak secara berlebihan akan menimbulkan rasa malu dihadapan orang lain, seakan-akan anak
tidak dapat melakukan sesuatu dengan baik dan perilaku tersebut dapat menimbulkan pribadi
pemalu dan ragu-ragu yang besifat menetap. Pada periode ini sebaiknya orang tua harus sering
berbicara dengan anak, mananyakan pendapat anak, selalu menciptakan suasana yang
menyenangkan atau memberikan nilai-nilai moral secara tidak langsung, berikan pujian jika anak
melakukan sesuatu yang bersifat positif sehingga anak dapat mengembangkan dirinya dan
percaya diri, dan kurangi berkata yang kurang menyenangkan.
Contoh:
Anak menggambar pemandangan, ibu memuji anak gambar adik bagus ya? Mau jadi
pelukis ya? Hebat dengan kata-kata tersebut dapat memotivasi anak terus berkarya.
Anak yang senang memukul-mukul kaleng seakan- akan kaleng itu adalah drum yang ia
lihat ditelevisi dan ia ingin menirunya tetapi dimarahi oleh orang tuanya. Ia akan merasa
tidak mampu dan tidak berani untuk mencobanya.

3. Initiative vs Guilt (Inisiatif vs Rasa Bersalah).
Periode perkembangan pada masa awal anak-anak (tahun pertama pra-sekolah 3-6 tahun). Tahap
ini menumbuhkan inisiatif anak pada masa awal anak masuk sekolah atau taman kanak-
kanak(play group), suatu masa untuk mengembangkan perilaku yang bertujuan untuk mengatasi
tantangan-tantangan dan tanggung jawab. Anak akan lebih kreatif dan secara fisik akan lebih
seimbang maupun kejiwaannya. Ditambah lagi jika orang tua mampu memberikan dorongan dan
mengasah kemampuan dalam berkreativitas atau membantu anak untuk melaksanakan tugasnya,
dan jika orang tua tidak memberikan dorongan atau tidak membantu anak untuk menyelesaikan
tugas-tugasnya ataupun orang tua terlalu keras mendidik dengan banyak hukuman saat anak
sedang berusaha menunjukkan dirinya bahwa ia bisa atau pun ia ingin, maka anak akan tumbuh
sebagai pribadi yang selalu takut salah dan tidak ingin mencoba sesuatu yang baru.
Contoh:
Saat anak melihat pensil warna tergeletak ia akan mengambilnya dan mencoret-coret
tembok. Orang tua yang melihatnya langsung memberikan buku gambar agar ia tidak
mencoret-coret tembok dan agar anak terbiasa menggambar di buku gambar.
Anak senang menuru gaya penyanyi diatas panggung, dan anak senang menirunya
denngan naik keatas meja. Tetapi anak tidak sadar telah mengganggu ibunya beristirahat,
dan ibunnya memarahinya karena mengganggunya dengan suaranya yang dianggap
ibunya kebisingan, tanpa penjelasan ibunya memarahinya. Anak akan diam dan tidak
ingin mencobanya lagi dikarenakan ibunya menganggap bernyanyi adalah hal yang
mengganggu ibunya.
4. Industry vs Inferiority (Tekun vs Rasa Rendah Diri).Periode perkembangan pada masa
pertengahan dan akhir anak-anak (tahun- tahun sekolah, 6 tahunpubertas). Pada masa ini
berkembang kemampuan berfikir deduktif, disiplin diri dan kemampuan berhubungan
dengan teman sebaya serta rasa ingin tahu akan meningkat. Ia mengembangkan suatu
sikap rajin dan mempelajari sebab akibat dari apa yang mereka lakukan. Lebih
memperhatikan apa yang trejadi disekitarnya, anak-anak berimajinasi memperoleh
kemampuan 1 langkah berpikir mengkoordinasi pemikiran & idenya dengan peristiwa
tertentu ke dalam sistem pemikirannya sendiri. Yang sangat dikhawatirkan pada tahap ini
adalah jika anak tidak dapat menyesuaikan diri atau tidak dapat mengembangkan dirinya
anak tidak akan merasa kemampuan lebih yang dapat ia lakukan dan merasa tidak yakin
atas apa yang kerjakan.
5.
6.
7.
Contoh:
Anak akan mencoba sesuatu yang ia inginkan, seperti berorganisasi dan selalu
menyumbangkan ide-idenya untuk memajukan organisasi yang ia jalani.
Anak yang selalu berdiam diri dan tidak ingin membaur dengan lingkunan baru ia tidak
dapat mengembangkan dirinya seperti anak yang lain. Ia merasa dirinya tidak seperti
anak-anak yang sering berkumpul atau pun berorganisasi padahal ia berhal
melakukannya.

5. Ego-Identity vs Role Confusion (Identitas Diri vs Kekacauan Peran)
Periode perkembangan pada masa remaja 12 -20 tahun. Pada tahap ini
remaja atau individu dapat mengenal lebih dalam tentang dirinya, sifat-
sifat mereka, keinginan atau cita-cita, tujuan mereka hidup, dan lain-lain
yang bersifat mengenal pribadi masing-masing. Masa ini mengembangkan
perasaan identitas ego yang mantap pada kutup positif dan identitas ego
yang kacau pada kutub negatif. Erickson menegaskan bahwa ada tiga
unsur yang merupakan persyaratan didalam pembentukan identitas ego,
yaitu :
a. Individu yang bersangkutan harus menerima atau menggangap dirinya itu
sama didalam berbagai situasi pengalaman dengan teman sebayanya.
b. Orang orang disekitarnya, dalam satu lingkungan sosial harus memiliki
persepsi yang sama terhadap diri individu tersebut.
c. Persepsi diri individu yang bersangkutan harus memdapat uji validitas
dalam pengalaman hubungan antara manusia. Jadi, identitas ego positif
akan menggambarkan kemampuan pemuda pemudi yang memahami dan
menyakini tuntutan norma norma sosial, sehingga tumbuh rasa
kesetiaan.
6. Intimacy vs Isolation (Keintiman vs Pengasingan)
Periode perkembangan pada masa awal dewasa (20-24 tahun). Menurut Erickson,
masa ini menumbuhkan kemampuan dan kesediaan meleburkan diri dengan diri
orang lain, tanpa merasa takut merugi atau kehilangan sesuatu yang ada pada
dirinya yang disebut Intimasi. Ketidak mampuan untuk masuk kedalam hubungan
yang menyenangkan serta akrab dapat menimbulkan hubungan sosial yang hampa
dan terisolasi atau tertutup ( menutup diri ).
Contoh:
Orang yang senang mengikuti organisasi kebanyakan dari mereka lebih mudah
bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dengan mudah, karena ia sudah terbiasa
berkomunikasi ataupun berhadapan dengan orang banyak yang menjadikan ia terbiasa
berbaur dengan sesuatu hal yang baru.
Orang yang pendiam bukan berarti tidak dapat berorganisasi tetapi kebanyakan dari
mereka tidak bisa mencairkan suasana dalam suatu suasana, mereka takut di anggap sok
kenal atau jika ingin membaur terkadang tidak tau bagaimana cara yang tepat.

7. Generativity vs Stagnation (Perluasan vs Stagnasi).
Periode perkembangan pada masa pertengahan dewasa (sekitar 25 -50an).
Masa dewasa tengah, berlangsung pada usia 25-45 tahun. Generativitas
yang ditandai jika individu mulai menunjukkan perhatiannya terhadap apa
yang dihasilkan, keturunan, produk-produk, ide-ide, dan keadaan
masyarakat yang berkaitan dengan kehidupan generasi-generasi
mendatang adalah merupakan hal yang positif. Sebaliknya, apabila
generativitas lemah atau tidak diungkapkan maka kepribadian akan
mundur dan mengalami pemiskinan serta stagnasi, jika pada usia ini
kehidupan individu didominasi oleh pemuasan dan kesenangan diri sendiri
saja. Individu negatif tidak menunjukkan fungsi-fungsi produktif, baik
sebagai perseorangan maupun sebagai anggota masyarakat.
Contoh:
Seorang yang berprofesi sebagai perancang busana ia harus menambahkan atau
memberikan koreksi-koreksi dari desain pakaiannya agar telihat lebih idah jika digunakan
oleh pemesannya.
Dalam acara 17 Agustus di RT-nya ia tidak ikut meramaikan acara yang diadakan 1 tahun
sekali di lingkungan rumahnya, padahal jika ia mau ia bisa ikut meramaikannya.

8. Integrity vs Despair (Integritas dan Kekecewaan).
Periode perkembangan pada masa akhir dewasa (60 tahunan). Masa untuk melihat
kembali apa yang telah kita lakukan dalam kehidupan kita, harapan positif. Kehidupan
baik akan merasa puas atau yang disebut integritas. Masa lalu negatif akan timbul rasa
keputusasaan. Integritas paling tepat dilukiskan sebagai suatu keadaan yang dicapai
seseorang setelah memelihara benda -benda dan orang- orang, produk-produk dan ide-
ide, dan setelah berhasil menyesuaikan diri dengan keberhasilan- keberhasilan dan
kegagalan-kegagalan dalam hidup. Sedangkan keputusasaan tertentu menghadapi
perubahan-perubahan siklus kehidupan individu, terhadap kondisi-kondisi sosial dan
historis.
Contoh:
Seorang HRD yang bekerja disuatu perusahaan tidak akan merasakarirnya atau
pekerjaannya akan tamat saat ia pensiun, karena selama ia bekerja ia sudah
mempersiapkan dirinya dengan membangun toko kecil-kecilan untuk usahanya jika ia
sudah tidak bekerja.
Seorang karyawan suwasta merasa was-was karena ia belum memiliki tunjangan hari tua.



Referensi:
Dennis Adrian.PsikoMedia.com Media Artikel PsikoMedia. 3 September 2009.
Tahapan Perkembangan Menurut Freud
.http://74.125.153.132/.multiply.multiplycontent.com/. 30 September 2009
Wiratih Rahayu. Artikel Psikologi Perkembangan(Teori Erikson).
www.bintangbangsaku.com. 31 Mei 2008.
Ihsanto Rachat Septian.Teori Psikososial Tentang Perkembangan (Erik Erickson ).
www.wartawarga.gunadarma.ac.id. 12 September 2009.
TANYA JAWAB


Tahapan Perkembangan menurut Freud
Posted on Maret 31, 2008 by Bintang Bangsaku
a. Tahap Oral (mulut)
Tahapan ini berlangsung selama 18 bulan pertama kehidupan.
Mulut merupakan sumber kenikmatan utama. Dua macam aktivitas oral di sini, yaitu menggigit
dan menelan makanan, merupakan prototype bagi banyak ciri karakter yang berkembang di
kemudian hari. Kenikmatan yang diperoleh dari inkorporasi oral dapat dipindahkan ke bentuk-
bentuk inkorporasi lain, seperti kenikmatan setelah memperoleh pengetahuan dan harta.
Misalnya, orang yang senang ditipu adalah orang yang mengalami fiksasi pada taraf kepribadian
inkorporatif oral. Orang seperti itu akan mudah menelan apa saja yang dikatakan orang lain.
b. Tahap Anal
Tahapan ini berlangsung antara usia 1 dan 3 tahun. Kenikmatan akan dialami anak dalam fungsi
pembuangan, misalnya menahan dan bermain-main dengan feces, atau juga senang bermain-
main dengan lumpur dan kesenangan melukis dengan jari.
c. Tahap Phallic
Tahapan ini berlangsung antara usia 3 dan 6 tahun. Tahap ini sesuai dengan nama genital laki-
laki (phalus), sehingga meupakan daerah kenikmatan seksual laki-laki. Sebaliknya pada anak
wanita merasakan kekurangan akan penis karena hanya mempunyai klitoris, sehingga terjadi
penyimpangan jalan antara anak wanita dan laki-laki. Lebih lanjut, pada tahap ini anak akan
mengalami Oedipus complex, yaitu keinginan yang mendalam untuk menggantikan orang tua
yang sama jenis kelamin dengannya dan menikmati afeksi dari orang tua yang berbeda jenis
kelamin dnegannya. Misalnya anak laki-laki akan mengalami konflik oedipus, ia mempunyai
keinginan untuk bermain-main dengan penisnya. Dengan penis tersebut ia juga ingin merasakan
kenikmatan pada ibunya.
d. Tahap Latency
Tahapan ini berlangsung antara kira-kira usia 6 tahun dan masa pubertas. Merupakan tahap yang
paling baik dalam perkembangan kecerdasan (masa sekolah), dan dalam tahap ini seksualitas
seakan-akan mengendap, tidak lagi aktif dan menjadi laten.
e. Tahap Genital
Tahapan ini berlangsung antara kira-kira dari masa pubertas dan seterusnya. Bersamaan dengan
pertumbuhannya, alat-alat genital menjadi sumber kenikmatan dalam tahap ini, sedangkan
kecenderungan-kecenderungan lain akan ditekan.
ditulis oleh Wiratih Rahayu untuk tugas kuliah
Filed under: Teori Psikologi Ditandai: | Freud, Tahap Anal, Tahap Genital, Tahap Latency,
Tahap Oral, Tahap Phallic, Tahapan Perkembangan





Insomnia dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang mana seseorang mengalami kesulitan untuk
tidur atau tidak dapat tidur dengan nyenyak. Rata rata setiap orang pernah mengalami insomnia
sekali dalam hidupnya. Bahkan ada yang lebih ekstrim menyebutkan 30 50% populasi
mengalami insomnia.
Insomnia dapat menyerang semua golongan usia. Meskipun demikian, angka kejadian insomnia
akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Hal ini mungkin disebabkan oleh stress yang
sering menghinggapi orang yang berusia lebih tua. Disamping itu, perempuan dikatakan lebih
sering menderita insomnia bila dibandingkan laki laki.
Berikut beberapa tips yang bisa anda lakukan untuk mengurangi serangan insomnia.
1. Berolah raga teratur. Beberapa penelitian menyebutkan berolah raga yang teratur dapat
membantu orang yang mengalami masalah dengan tidur. Olah raga sebaiknya dilakukan
pada pagi hari dan bukan beberapa menit menjelang tidur. Dengan berolah raga,
kesehatan anda menjadi lebih optimal sehingga tubuh dapat melawan stress yang muncul
dengan lebih baik.
2. Hindari makan dan minum terlalu banyak menjelang tidur. Makanan yang terlalu banyak
akan menyebabkan perut menjadi tidak nyaman, sementara minum yang terlalu banyak
akan menyebabkan anda sering ke belakang untuk buang air kecil. Sudah tentu kedua
keadaan ini akan menganggu kenyenyakan tidur anda.
3. Tidurlah dalam lingkungan yang nyaman. Saat tidur, matikan lampu, matikan hal hal
yang menimbulan suara, pastikan anda nyaman dengan suhu ruangan tidur anda. Jauhkan
jam meja dari pandangan anda karena benda itu dapat membuat anda cemas karena
belum dapat terlelap sementara jarum jam kian larut.
4. Kurangi mengkonsumsi minuman yang bersifat stimulan atau yang membuat anda terjaga
seperti teh, kopi. alkohol dan rokok. Minuman ini akan menyebabkan anda terjaga yang
tentu saja tidak anda perlukan bila anda ingin tidur.
5. Makananlah makanan ringan yang mengandung sedikit karbohidrat menjelang tidur, bila
tersedia, tambahkan dengan segelas susu hangat.
6. Mandilah dengan air hangat 30 menit atau sejam sebelum tidur. Mandi air hangat akan
menyebabkan efek sedasi atau merangsang tidur. Selain itu, mandi air hangat juga
mengurangi ketengangan tubuh.
7. Hentikan menonton TV, membaca buku, setidaknya sejam sebelum tidur.
8. Gunakanlah tempat tidur anda khusus untuk tidur. Hal ini akan membantu tubuh anda
menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tidur. Saat anda berbaring di tempat tidur,
maka akan timbul rangsangan untuk tidur.
9. Lakukan aktivitas relaksasi secara rutin. Mendengarkan musik, melatih pernafasan,
meditasi dan lain lain akan membantu memperlambat proses yang terjadi dalam tubuh
sehingga tubuh anda menjadi lebih santai. Keadaan ini akan mempemudah anda untuk
tidur.
10. Jernihkan pikiran anda. Enyahkan segala kekhawatiran yang menghinggapi pikiran anda.
Salah satu cara untuk ini adalah menuliskan semua pikiran anda lewat media blog.
11. Tidur dan bangunlah dalam periode waktu yang teratur setiap hari. Waktu tidur yang
kacau akan mengacaukan waktu tidur anda selanjutnya.
Demikianlah tips mengurangi masalah tidur anda. Selalulah ingat bahwa tidur merupakan
kebutuhan pokok tubuh untuk pertumbuhan dan memperbaiki fungsi organ yang terganggu.
Insomnia bukan merupakan penyakit bawaan dan dengan demikian tentu akan mudah
disembuhkan.
Jika dengan langkah diatas anda masih merasa gagal mengatasi masalah tidur, segeralah
berkonsultasi ke dokter untuk mencari jalan keluar.
TIDAK BISA TIDUR = INSOMNIA???
Harus tidur supaya esok hari bugar dan siap untuk
menghadapi segala tantangan pekerjaan, tetapi rasa kantuk tidak datang, mata tidak dapat
terpejam sepanjang malam, dan terkadang membuat frustrasi untuk memaksakan diri tidur.
Padahal kurang tidur dapat menyebabkan berbagai hal yang mengganggu aktivitas esok harinya,
seperti sulit untuk berkonsentrasi, hilang mood, kurang bersemangat, dan emosi yang sulit
dikendalikan.
Gangguan sulit tidur ini biasa disebut dengan insomnia. Insomnia merupakan gejala kelainan
tidur, berupa sulit untuk merasa ingin tidur (memerlukan waktu lebih dari 30 menit untuk merasa
ingin tidur), sering terbangun dari tidur (total waktu terbangun lebih dari 30 menit), dan bangun
pada pagi subuh dan sulit untuk kembali tidur (total waktu tidur kurang dari 6,5 jam).
Insomnia dapat disebabkan oleh bebagai hal. Beberapa penyakit dapat menyebabkan insomnia,
yaitu Parkinson, sesak nafas, flu, hipertiroid, hipotiroid, hipoglikemi, batuk, gangguan fungsi
hepar, gangguan fungsi ginjal, gagal jantung, pikun, hipertensi, dan beberapa penyakit lain.
Nyeri kronik akibat rematik, menopausal, kolik, neuralgia, kanker juga dapat menyebabkan
insomnia. Suasana yang dapat mengganggu tidur di waktu malam adalah nokturia (berkemih di
waktu malam), suhu udara yang terlalu panas atau terlalu dingin, bising (tinggal di dekat rel
kereta api, pabrik). Ketergantungan obat atau alkohol atau tembakau atau kafein (kopi) juga
dapat menyebabkan insomnia, beberapa obat lain seperti antidepresan, kortikosteroid, reserpin.
Penyebab lain yaitu depresi, stress berkepanjangan, kecemasan, skizofrenia (gangguan jiwa),
hipomania, dan berita buruk atau kegagalan memperoleh sesuatu.
Insomnia ada 3 jenis, yaitu insomnia kronis, insomnia transien, dan insomnia jangka pendek.
Insomnia transien terjadi pada beberapa hari. Insomnia jangka pendek terjadi pada beberapa
minggu dan dapat kembali seperti biasa. Insomnia kronis terjadi lebih dari 3 minggu.
Penyembuhan insomnia akan lebih efektif apabila penyebab insomnia diatasi terlebih dahulu.
Ada 12 aturan tidur yang sehat (menurut WHO):
1. Berbaring di tempat tidur ketika benar-benar ingin tidur. Tetapi usahakan pada waktu
yang sama ketika akan pergi tidur.
2. Jangan menggunakan ranjang untuk aktivitas lain selain untuk tidur. Aktivitas lain seperti
membaca, nonton TV, makan, telepon. Kebiasaan menggunakan ranjang untuk aktivitas
lain membuat kebiasaan untuk terjaga ketika berbaring di ranjang.
3. Pasang alarm untuk bangun pada waktu yang sama. Tanpa memandang lama waku tidur
malam.
4. Usahakan untuk tidak tidur siang.
5. Jangan minum alkohol beberapa jam sebelum tidur. Alkohol dapat membuat tidur
gelisah.
6. Jangan mengkonsumsi kafein atau obat mengandung kafein beberapa jam sebelum waktu
tidur. Karena kafein sebagai stimulan, dapat meningkatkan denyut jantung sehingga
tubuh dapat terjaga sepanjang malam.
7. Jangan merokok beberapa jam sebelum tidur. Rokok mengandung nikotin yang dapat
meningkatkan semangat karena berefek sebagai neurostimulan.
8. Olahraga pada sore hari (6 jam sebelum tidur). Latihan peregangan otot atau jalan kaki
secukupnya selama 20 menit. Hal ini akan meningkatkan metabolisme dan suhu badan,
lalu akan menurun sekitar 6 jam kemudian yang berefek pada tidur yang nyenyak.
9. Sediakan waktu transisi untuk tidur degan mengurangi tingkat aktivitas sebelum tidur,
hilangkan rasa cemas akan pekerjaan yang belum selesai, hari esok dan pikiran lainnya.
Melakukan akivitas dengan tenang dan santai.
10. Membersihkan diri sebelum tidur, memastikan pintu telah terkunci, dan menyesuaikan
pencahayaan lampu, supaya merasa aman dan nyaman pada saat tidur.
11. Memastikan tidak ada cahaya terang atau suara yang dapat mengganggu dan pastikan suhu
ruang tidur nyaman.
12. Keadaan lapar atau setelah makan banyak dapat menghambat tidur. Bagaimanapun jika
merasa lapar sebaiknya makan makanan kecil atau minum segelas susu hangat sangat tepat untuk
mengatasi masalah ini.
Selain itu, kebutuhan magnesium dan kalsium sebaiknya dipenuhi, karena kekurangan keduanya
dapat meyebabkan tidur tidak nyenyak. Magnesium dapat merelaksasikan otot dan kalsium
berefek sebagai penenang pikiran. Kedua zat ini dapat diperoleh salah satunya pada susu.
Karbohidrat kompleks yang terdapat pada roti dapat memacu pengeluaran serotin yang dapat
merangsang rasa kantuk. Serotin juga dapat dipicu oleh asam amino triptofan yang terdapat pada
susu, selain itu triptofan juga memicu pengeluaran hormon melatonin yang memerintahkan tubuh
untuk untuk istirahat. Hormon ini akan dikeluarkan ketika sinar matahari mulai redup.
Dengan tidur yang berkualitas dan cukup, kita dapat lebih siap dan berkonsentrasi penuh untuk
melakukan aktivitas esok harinya.
Apnea tidur (bahasa Inggris: sleep apnea atau sleep apnoea) adalah gangguan tidur dengan
kesulitan bernapas (apnea = "tanpa napas") berulang kali ketika sedang tidur. Ada dua jenis sleep
apnea: Central dan Obstructive. Terdapat juga jenis campuran. Orang yang menderita hal ini
biasanya tidak sadar, walaupun setelah bangun. Sleep apnea dikenali sebagai masalah oleh orang
lain yang mengamati, atau dapat dikenali dari akibatnya terhadap tubuh (sequelae). Diagnosa
sleep apnea dilakukan dengan polysomnography. Apnea dapat juga diartikan sebagai berhentinya
pernapasan untuk sementara. Dyspnea yang dibarengi dengan apnea dapat menyebabkan
terjadinya awal sebuah kematian.
Daftar isi
[sembunyikan]
Narkolepsi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari

Wikipedia Indonesia tidak dapat bertanggung jawab dan tidak bisa menjamin bahwa
informasi kedokteran yang diberikan di halaman ini adalah benar.
Mintalah pendapat dari tenaga medis yang profesional sebelum melakukan pengobatan.

Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia
Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel.
Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini.
Narkolepsi dalam bahasa awam, bisa dikatakan sebagai serangan tidur, dimana penderitanya
amat sulit mempertahankan keadaan sadar. Hampir sepanjang waktu ia mengantuk. Rasa kantuk
biasanya hilang setelah tidur selama 15 menit, tetapi dalam waktu singkat kantuk sudah
menyerang kembali. Sebaliknya di malam hari, banyak penderita narkolepsi yang mengeluh
tidak dapat tidur.
Gangguan terjadi pada mekanisme pengaturan tidur. Tidur, berdasarkan gelombang otak, terbagi
dalam tahapan-tahapan mulai dari tahap 1, 2, 3, 4 dan Rapid Eye Movement (REM.) Tidur REM
adalah tahapan dimana kita bermimpi. Pada penderita narkolepsi gelombang REM seolah
menyusup ke gelombang sadar. Akibatnya kantuk terus menyerang, dan otak seolah bermimpi
dalam keadaan sadar.
Untuk mengenali penderita narkolepsi, terdapat 4 gejala klasik (classic tetrad):
1. Rasa kantuk berlebihan (EDS)
2. Katapleksi (cataplexy)
3. Sleep paralysis
4. Hypnagogic/hypnopompic hallucination.
Katapleksi merupakan gejala khas narkolepsi yang ditandai dengan melemasnya otot secara
mendadak. Otot yang melemas bisa beberapa otot saja sehingga kepala terjatuh, mulut membuka,
menjatuhkan barang-barang, atau bisa juga keseluruhan otot tubuh. Keadaan ini dipicu oleh
lonjakan emosi, baik itu rasa sedih maupun gembira. Biasanya emosi positif lebih memicu
katapleksi dibanding emosi negatif. Pada sebuah penelitian penderita narkolepsi diajak menonton
film komedi, dan saat ia terpingkal-pingkal tiba-tiba ia terjatuh lemas seolah tak ada tulang yang
menyangga tubuhnya.
Kondisi mimpi yang menyusup ke alam sadar bermanifestasi sebagai halusinasi. Penderita
narkolepsi biasanya berhalusinasi seolah melihat orang lain di dalam ruangan. Orang lain
tersebut bisa orang yang dikenal, teman, keluarga, sekedar bayangan, hantu atau bahkan makhluk
asing, tergantung pada latar belakang budaya penderita.
Dengan gejala-gejala yang tidak biasa ini, tidak jarang keluarga menganggap penderita
narkolepsi mengidap gangguan jiwa.

Narkolepsi (Narcolepsy) - Serangan Tidur
Narkolepsi (Narcolepsy) - Serangan Tidur
06.06.06 (12:23 pm) [edit]
Narkolepsi (narcolepsy) adalah gangguan tidur yang cukup umum diderita, namun seperti
gangguan tidur lainnya ia juga amat jarang dikenali oleh masyarakat.
Narkolepsi dalam bahasa awam, bisa dikatakan sebagai serangan tidur dimana penderitanya amat
sulit mempertahankan keadaan sadar. Hampir sepanjang waktu ia mengantuk. Rasa kantuk dapat
dipuaskan setelah tidur selama 15 menit, tetapi dalam waktu singkat kantuk sudah menyerang
kembali. Sebaliknya di malam hari, banyak penderita narkolepsi yang mengeluh tidak dapat
tidur.
Yang terutama terganggu adalah mekanisme pengaturan tidur, dimana tahap tidur REM dapat
menembus kesadaran disaat kita terjaga. Tahap tidur REM adalah tahap dimana kita bermimpi
(lihat bagian Gambaran Pola Tidur.) Tidak jarang penderitanya berada dalam kondisi tidak
sepenuhnya terjaga atau tidak sepenuhnya tertidur.
Untuk mengenali penderita narkolepsi, terdapat 4 gejala klasik (classic tetrad):
1. Rasa kantuk berlebihan (EDS)
2. Katapleksi (cataplexy)
3. Sleep paralysis
4. Hypnagogic/hypnopompic hallucination.
Rasa kantuk yang berlebihan di siang hari merupakan gejala umum gangguan tidur. Tetapi jika
rasa kantuk ini timbul pada orang yang tidak menderita OSA (Obstructive Sleep Apnea) ataupun
PLMS (Periodic Limb Movements) dengan disertai gejala lain (4 gejala klasik,) narkolepsi harus
dipertimbangkan sebagai diagnosa.
Katapleksi merupakan gejala khas narkolepsi yang ditandai dengan melemasnya otot secara
mendadak. Otot yang melemas bisa beberapa otot saja sehingga kepala terjatuh, mulut membuka,
menjatuhkan barang-barang, atau bisa juga keseluruhan otot tubuh. Keadaan ini dipicu oleh
lonjakan emosi, baik itu rasa sedih maupun gembira. Biasanya emosi positif lebih memicu
katapleksi dibanding emosi negatif. Pada sebuah penelitian penderita narkolepsi diajak menonton
film komedi, dan saat ia terpingkal-pingkal tiba-tiba ia terjatuh lemas seolah tak ada tulang yang
menyangga tubuhnya.
Penderita narkolepsi dapat mengingat semua kejadian selama serangan yang berlangsung selama
beberapa detik hingga menit. Tetapi, dalam suasana yang kondusif dan nyaman, ketika
mengalami serangan katapleksi seorang penderita dapat langsung tertidur pulas. Kondisi ini perlu
dibedakan dengan sinkop atau serangan kejang dimana penderitanya tidak dapat mengingat
segala kejadian selama serangan.
Tidak semua penderita narkolepsi mengalami katapleksi. Beberapa orang tidak mengalami
katapleksi sama sekali atau baru merasakannya setelah beberapa tahun.
Hypnagogic / hypnopompic hallucination merupakan halusinasi yang sering kali muncul begitu
saja saat penderita hendak tidur. Isi halusinasi secara misterius sering kali menyeramkan. Yang
paling sering dilaporkan adalah kehadiran orang asing di sudut kamar. Tidak jarang penderita
menceritakan kehadiran seorang teman di kamar tidurnya yang sebenarnya tidak sedang
berkunjung. Kondisi ini sering kali mengarahkan diagnosa pada gangguan-gangguan kejiwaan.
Padahal yang terjadi adalah kesadaran mimpi yang menerobos kesadaran terjaga, sehingga
muncul sebagai halusinasi. Ini biasanya terjadi pada saat peralihan dari sadar ke tidur
(hypnagogic) atau dari tidur ke sadar (hypnopompic.)
Sleep paralysis adalah keadaan lumpuh dimana penderitanya tidak dapat menggerakkan
tubuhnya sama sekali. Di saat peralihan dari sadar ke tidur, sleep paralysis bisa menyerang
berbarengan dengan halusinasi sehingga menimbulkan pengalaman yang menakutkan bagi
penderitanya. Ini terjadi karena gelombang tidur REM (mimpi) yang menerobos ke kesadaran
sehingga seolah penderita bermimpi di siang bolong. Anda tentu ingat, bahwa dalam tahap tidur
REM seluruh otot tubuh (kecuali mata dan pernafasan) menjadi lumpuh total.
Untuk menegakkan diagnosa, selain keempat gejala klasik tadi diperlukan juga pemeriksaan
Polysomnografi (sleep study.) Pemeriksaan dilakukan semalaman dan dilanjutkan dengan
Multiple Sleep Latency Test (MSLT.) MSLT adalah sleep study yang dilakukan di pagi hingga
sore hari untuk mengetahui seberapa lama seseorang dapat tertidur di pagi/siang hari.
Pemeriksaan dibagi menjadi 5 kali tidur siang, dimana setiap kalinya pasien diberi waktu 20
menit untuk jatuh tidur dengan tidur pertama berjarak 1,5 hingga 3 jam setelah bangun pagi.
Penderita narkolepsi tertidur kurang dari 5 menit dan biasanya dari 5 tidur siang terdapat 2 sleep
onset REM (SOREM.) SOREM adalah kondisi dimana gelombang otak penderita berubah
langsung dari terjaga ke REM.
Pada narkolepsi yang tidak disertai dengan katapleksi, selain menggunakan MSLT diagnosa
dapat juga ditegakkan dengan ditemukannya antigen khusus (HLA DQB1*0602) atau rendahnya
kadar hipokretin (orexin) dalam cairan serebro spinal. Walaupun tidak spesifik untuk memeriksa
narkolepsi, pemeriksaan ini dapat membantu diagnosa. Biasanya pasien tanpa katapleksi yang tes
DQB1*0602-nya positif, baru akan diperiksakan kadar hipokretin.
Sleep paralysis dan hypnagogic hallucination tidak hanya terjadi pada penderita narkolepsi. Anda
tentu pernah mengalaminya, setidaknya sekali dalam sepanjang hidup. Saat kelelahan dan
mempunyai hutang tidur yang menumpuk, tanpa disadari Anda pun langsung jatuh pada tahap
tidur REM (SOREM.) Antara sadar dan bermimpi Anda seolah melihat bayangan gelap melintas
di depan, dalam ketakutan Anda ingin beranjak, tetapi seluruh tubuh lumpuh tak mau bergerak
hingga akhirnya Anda tersadar penuh dan bertanya-tanya tentang kejadian yang baru saja
dialami. Pengalaman mistis?
Narkolepsi merupakan gangguan yang penyebabnya masih belum diketahui secara pasti.
Penelitian dengan menggunakan anjing-anjing narkoleptik masih terus dilakukan dan mulai
menampakkan titik terang.
Walau demikian, dengan perawatan yang tepat dan penuh disiplin, seorang penderita narkolepsi
dapat hidup normal. Apalagi dengan disertai dukungan dari keluarga dan para sahabat yang siap
menjaga keselamatan si penderita. Kecelakaan sering terjadi karena serangan lumpuh (paralysis)
yang muncul tiba-tiba saat memasak, mengendara, menyetrika atau berendam.
Penderita narkolepsi yang berada dalam pengobatan dapat mengendara jarak dekat secara aman.
Bahkan dikatakan bahwa mereka berada dalam kondisi yang lebih aman dibandingkan dengan
orang normal yang sedang kurang tidur!
Penyakit ini juga tidak dapat dikatakan penyakit keturunan. Meskipun ada anak yang menderita
narkolepsi seperti orang tuanya, kebanyakan penderita mempunyai anak-anak yang normal. Jadi
jika pasangan Anda menderita narkolepsi jangan ragu untuk menikahinya.



Medicastore > Kategori Penyakit > Penyakit Otak dan Saraf

Narkolepsi

DEFINISI
Narkolepsi merupakan gangguan tidur yang jarang terjadi, yang ditandai dengan serangan
tidur berulang yang tak tertahankan pada jam-jam kerja, kelumpuhan dan halusinasi.
PENYEBAB
Penyebabnya tidak diketahui, tetapi kelainan ini cenderung ditemukan dalam satu keluarga,
Membership full akses

Email :


Password :


Sign-Up
LOG IN

Lupa Password?



Ingin mendapat newsletter & promosi
Medicastore? Join:

sehingga diduga merupakan penyakit keturunan.
GEJALA
Gejala biasanya dimulai pada masa remaja atau dewasa muda dan menetap seumur hidup.

Penderita menghadapi serangan kantuk mendadak yang tak tertahankan, yang bisa terjadi
setiap saat.
Rasa ingin tidur hanya dapat ditahan untuk sementara waktu; tetapi sekali tertidur, penderita
biasanya dapat dengan mudah dibangunkan.

Serangan bisa terjadi beberapa kali dalam sehari, dan setiap serangan biasanya berlangsung
selama 1 jam atau kurang.
Serangan lebih sering terjadi pada keadaan yang monoton, seperti rapat yang membosankan
atau mengemudi mobil dalam jarak jauh.

Penderita merasakan kesegaran ketika terbangun, tetapi beberapa menit kemudian akan
tertidur kembali.

Penderita bisa mengalami kelumpuhan sementara tanpa disertai penurunan kesadaran
(keadaan ini disebut katapleksi), sebagai respon terhadap suatu reaksi emosional mendadak,
seperti kemarahan, ketakutan, kegembiraan, tertawa atau kejutan.
Berjalan menjadi timpang, menjatuhkan barang yang sedang dipegang atau terjatuh ke tanah.

Penderita juga bisa mengalami episode kelumpuhan tidur, dimana ketika baru saja tertidur
atau segera sesudah terbangun, penderita merasakan tidak dapat bergerak.

Halusinasi (melihat atau mendengar benda yang sesungguhnya tidak ada) bisa terjadi pada
awal tidur atau ketika terbangun.
Halusinasi ini menyerupai mimpi biasa, tetapi lebih hebat.
DIAGNOSA
Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya, tetapi gejala yang serupa tidak
selalu menunjukkan bahwa orang tersebut menderita narkolepsi.
Katapleksi, kelumpuhan tidur dan halusinasi, biasa ditemukan pada anak-anak dan kadang
terjadi pada orang dewasa yang sehat.

Elektroensefalogram (EEG), yang merupakan rekaman aktivitas listrik otak, bisa
menunjukkan bahwa pola tidur REM terjadi pada saat penderita mulai tertidur. Hal ini khas
untuk narkolepsi.

Tidak ditemukan perubahan struktural dalam otak dan tidak ditemukan kelainan dalam hasil
pemeriksaan darah.
PENGOBATAN
Obat perangsang (stimulan), seperti efedrin, amfetamin, dekstroamfetamin dan metilfenidat,
Email:
Daf tar

Kunjungi grup kami

bisa membantu mengurangi narkolepsi.
Dosisnya disesuaikan agar tidak terjadi efek samping yang tidak diinginkan, seperti
kegelisahan, terlalu aktif atau penurunan berat badan.

Untuk mengurangi katapleksi, biasanya diberikan obat anti-depresi, yaitu imipramin.
PENCEGAHAN
Modifikasi gaya hidup yang penting dalam mengelola gejala narkolepsi. Anda bisa
mendapatkan manfaat dari langkah-langkah ini:
1. Tetaplah pada jadwal. Tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari, termasuk
akhir pekan.
2. Ambil tidur siang. Jadwalkan tidur siang pendek secara teratur sepanjang hari. Tidur
siang 20 menit pada waktu strategis sepanjang hari mungkin akan menyegarkan dan
mengurangi kantuk selama satu sampai tiga jam.
3. Hindari nikotin dan alkohol. Dengan menggunakan bahan ini, terutama pada malam
hari, dapat memperburuk tanda-tanda dan gejala Anda.
4. Dapatkan olahraga secara teratur. Moderat, olahraga teratur setidaknya empat sampai
lima jam sebelum tidur dapat membantu Anda merasa lebih terjaga di siang hari dan
tidur lebih baik di malam hari.
Artikel Terkait
Tidur yang Tak Lelap


Dokter Terkait

Obat Terkait
PROHIPER 10





asuhan keperawatan (ASKEP) berbagai penyakit..
Jumat, 20 November 2009
TUGAS TERSTRUKTUR
KEPERAWATAN ANAK II
KEBUTUHAN ISTIRAHAT DAN TIDUR USIA 0-18 TAHUN














Disusun Oleh :
1. Apriliani Yulianti W G1D007060
2. Rodiyati G1D007063
3. Dewi Purwanti G1D007064
4. Dayan Hisni G1D007073
5. Mufid Masud G1D007089
6. Hastin Wulansari G1D007091
7. Imam prastawa G1D007079
8. M. Adi Nurhidayat N1A006070




DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
PURWOKERTO
2009
BAB I
PENDAHULUAN

Istirahat dan tidur yang sesuai adalah sama pentingnya bagi kesehatan yang baik dengan
nutrisi yang baik dan olahraga yang cukup. Tiap individu membutuhkan jumlah yang berbeda
untuk istirahat dan tidur. Kesehatan fisik dan emosi tergantung kemampuan untuk memenuhi
kebutuhan dasar manusia. Tanpa jumlah istirahat dan tidur yang cukup, kemampuan untuk
berkonsentrasi, membuat keputusan, dan berpartisipasi dalam aktivitas harian akan menurun, dan
meningkatkan iritabilitas.
Pengidentifikasian dan penanganan gangguan pola tidur klien adalah tujuan penting
perawat untuk membantu klien mendapatkan keutuhan istirahat dan tidur, maka perawat harus
memahami sifat alamiah dari tidur, factor yang mempengaruhi, dan kebiasaan tidur klien. Klien
membutuhkan suatu pendekatan individual berdasarkan kebiasaan pribadi meraka dan pola tidur
serta masalah khusus yang mempengaruhi tidur mereka. Intervensi keperawatan dapat menjadi
efektif dalam mengatasi gangguan tidur jangka pendek dan jangka panjang. Satu teori fungsi
tidur adalah berhubungan dengan penyembuhan (Evans dan French, 1995). Memperoleh kualitas
tidur terbaik adalah penting untuk peningkatan kesehatan yang baik dan pemulihan individu yang
sakit. Perawat memperhatikan klien yang seringkali mengalami ganggan tidur yang ada
sebelumnya dan klien yang mengalami masalah tidur karena penyakit atau hospitalisasi. Kadang-
kadang klien mencari pelayanan kesehatan karena mereka mengalami masalah tidur yang
mungkin telah hilang tanpa disadari untuk beberapa tahun. Klien yang sakit seringkali
membutuhkan lebih banyak tidur dan istirahat daripada klien yang sehat. Akan tetapi, sifat
alamiah dari penyakit yang mencegah klien mendapatkan istirahat dan tidur yang cukup.
Lingkungan institusi rumah sakit atau fasilitas perawatan jangka panjang dan aktivitas petugas
pelayanan kesehatan dapat menyebabkan sulit tidur.
Setiap orang membutuhkan istirahat dan tidur agar dapat mempertahankan status
kesehatan pada tingkat yang optimal. Selain itu, proses tidur dapat memperbaiki berbagai sel
dalam tubuh.
BAB II
PEMBAHASAAN

A. PENGERTIAN ISTIRAHAT DAN TIDUR
Istirahat merupakan keadaan relaks tanpa tekanan emosional, bukan hanya dalam
keadaan tidak beraktivitas tetapi juga kondisi yang membutuhkan ketenangan. Kata istirahat
berarti berhenti sebentar untuk melepaskan diri dari segala hal yang membosankan,
menyulitkan, bahkan menjengkelkan.
Karakteristik Istirahat
Narrow (1967) yang dikutip oleh perry dan potter 1993 mengemukakan enam karakteristik
yang berhubungan dengan istirahat, diantaranya:
1. Merasakan bahwa segala sesuatu dapat diatasi.
2. Merasa diterima.
3. Mengetahui apa yang sedang terjadi.
4. Bebas dari gangguan ketidaknyamanan.
5. Mempunyai sejumlah kepuasan terhadap aktivitas yang mempunyai tujuan.
6. Mengetahui adanya bantuan sewaktu memerlukan.
Kebutuhan istirahat dapat di rasakan apabila semua karakteristik tersebut di atas
dapat terpenuhi. Hal ini dapat dijumpai apabila pasien merasakan segala kebutuhannya dapat
diatasi dan adanya pengawasan maupun penerimaan dari asuhan keperawatan yang
diberikan sehingga dapat memberikan kedamaian. Apabila pasien tidak merasakan 6 kriteria
terseut di atas maka kebutuhan istirahatnya masih belum terpenuhi sehingga diperlukan
tindakan keperawatan yang dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan istiahat dan tidur,
misalnya mendengarkan secara hati-hati tentang kekhawatiran personal pasien dan mencoba
meringankannya jika memungkinkan.
Tidur merupakan kondisi tidak sadar dimana individu dapat dibangukan oleh
stimulus atau sensoris yang sesuai (Guyton, 1986), atau dapat dikatakan sebagai keadaan
tidak sadarkan diri yang relatif, bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan,
tetapi lebih merupakan suatu urutan siklus yang berulang, dengan ciri adanya aktivitas yang
minim, memiliki kesadaran yang bervariasi, terdapat perubahan proses fisiologis dan terjadi
penurunan respon terhadap rangsangan dari luar.

B. FISIOLOGI TIDUR
Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur oleh adanya hubungan
mekanisme serebral yang secara bergantian untuk mengaktifkan dan menekan pusat otak
agar dapat tidur dan bangun. Salah satu aktivitas tidur ini diatur oleh sistem pengaktivasi
retikularis yang merupakan sistem yang mengatur seluruh tingkatan kegiatan susunan saraf
pusat termasuk pengaturan kewaspadaan dan tidur. Pusat pengaturan aktivitas kewaspadaan
dan tidur terletak pada mesensefalon dan bagian atas pons. Selain itu, Retikularactivating
System (RAS) dapat memberikan rangsangan visual, pendengaran, nyeri, dan perabaan juga
dapat menerima stimulasi dai korteks serebri termasuk rangsangan emosi dan proses fikir.
Dalam keadaan sadar, neuron dalam RAS akan melepaskan kotekolamin seperti
noreprineprin. Demikian juga pada saat tidur, kemungkinan disebabkan karena adanya
pelepasan serum serotonin dari sel khusus yang berada di pons dan batang otak tengah, yaiu
bulbar synchronizing regional (BSR), sedangkan bangun tergantung dari keseimbangan
impls yang diterima di pusat otak dan sistem limbik. Dengan demikian, sistem pada batang
otak yang mengatur siklus atau perubahan dalam tidur adalah RAS dan BSR.
Irama sirkadian, orang mengalami irama siklus sebagai bagian dari kehidupan
mereka yang setiap hari. Irama yang paling dikenal adalah siklus 24 jam, siang-malam yang
diknal dengan irama diurnal atau sirkardian. Siklus menstruai wanita adalah sebuah iram
infradian, siklus yang terjadi dalam siklus yang lebih lama dari 24 jam. Siklus biologis
berakhir kurang dari 24 jam disebut irama ultradian. Irama sirkardian mempengaruhi pola
fungsi biologis utama dan funfsi perilaku. Fluktuasi dan prakiraan suhu tubuh, denyut
jantung, tekanan darah, sekresi hormone, kemampuan sensori dan suasana hati tergantung
pada pemeliharaan siklus sirkadian 24 jam.
Irama sirkardian termasuk sklus tidur bangun harian, dipengaruhi oleh cahaya dan
suhu juga factor-faktor eksternal seperti aktivitas social dan rutinitas pekerjaan. Semua
orang mempunyai jam yang sinkron dengan siklus tidur mereka. Beberapa orang dapat
tertidur pada pukl 8 malam, sementara yang lain tidur ada tengah malam atau dini hari.
Orang yang berbeda juga berfungsi terbaik pada waktu yang berbeda dalam satu hari. Horne
dan Ostberg (1976) menguraikan 2 kelompok orang, jenis pagi dan malam. Orang pagi
menyukai pergi tidur dan bangun pagi melakukan kegiatan pada pagi hari adalah paling baik
orang malam menyukai tidur dan bangun lambat, paling baik berfungsi pada malam hari.
Rumah Sakit atau fasilitas perawatan lanjutan biasanya tidak mengadaptasikan perawatan
dengan pilihan untuk siklus tidur bangun klien. Rutinitas yang tipikal menyebabkan
gangguan dalam tidur atau mencegah klien tertidur pada waktu biasanya. Jika siklus tidur
bangun seseorang berubah secarabermakna, maka akan menghasilkan kualitas tidur yang
buruk. Sebaliknya dalam siklus tidur bangun seperti tetidur pada siang hari (atau sebaliknya
untuk orang yang kerja pada malam hari) dapat menunjukkan penyakit yang serius.
Kecemasan, kurang istirahat, mudah tersinggung, dan gangguan penilaian adalah gejala
umum gangguan dalam siklus tidur. Irama biologis tidur seringkali menjadi singkron dengan
fungsi tubuh yang lain. Perubahan dalam suhu tubuh, sebagai contoh, berkorelasi dengan
pola tidur. Secara normal, suhu tubuh meningkat memuncak pada siang hari, menurun
secara berahap, dan kemudian turun secara tajam setelah seseorang tertidur. Jika siklus tidur
bangun menjadi terganggu fungsi fisiologis lain dapat juga berubah. Sebagai contoh
seseorang mungkin mengalami penurnan nafsu makan dan kehilangan berat badan.
Kegagalan untuk mempertahankan siklus tidur bangun individual yang biasanya dapat
secara berlawanan mempengaruhi keselurhan kesehatan seseorang.

C. FUNGSI DAN TUJUAN
Tidur dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan mental, emosional, kesehatan,
mengurangi stres pada paru, kardiovaskuler, endokrin, dan lain-lain. Energi disimpan selama
tidur, sehingga dapat diarahkan lagi pada fungsi seluler yang penting. Secara umum,
terdapat dua efek fisiologi dari tidur yaitu pertama; efek pada sistim saraf yang diperkirakan
dapat memulihkan kepekaan normal dan keseimbangan di berbagai susunan saraf dan kedua;
efek pada struktur tubuh dengan memulihkan kesegaran dan fungsi dalam organ tubuh
karena selama tidur terjadi penurunan.
Tidur dipercaya mengontribusi pemulihan fisiologis dan psikologis (Oswald, 1984:
ANCH DKK, 1988). Menurut teori tidur adalah waktu perbaikan dan persiapan untuk
periode terjaga berikutnya. Selama tidur NREM, fungsi biologis menurun. Laju denyut
jantung normal pada orang dewasa sehat sepanjang hari rata-rata 70 hingga 8 denyut per
menit atau lebih rendah jika individu berada pada kondisi fisik yang sempurna. Akan tetapi
selama tidur laju denyut jantung turun hingga 60 denyut per menit atau lebih rendah. Hal ini
berarti bahwa denyut jantung 10 hingga 20 kali lebih sedikit dalam setiap menit selama tidur
atau 60 hingga 120 kali lebih sedikit dalam stiap jam. Secara jelas, tidur yang nyenyak
bermanfaat dalam memelihara fungsi jantung.
Tidur nampaknya diperlukan untuk memperbaiki proses biologis secara rutin.
Selama tidur gelombang rendah yang dalam (NREM tahap 4), tubuh melepaskan hormone
pertumbuhan manusia untuk memperbaki dan memperbaharui sel epitel dan khusus untuk
sel otak (Horne, 1983, Mandleson, 1987; Born, Muth, Fehm, 1988). Akan tetapi, Horne
(1983) juga berpendapat bahwa peran hormone pertumbuhan yang umum sebagai suatu
promotor sintesis protein adalah terbatas dikarenakan pelepasannya tidak berhubungan
dengan kadar glukosa darah dan asam amino. Penelitian lain menunjukkan bahwa sintesis
protein pada kulit, mukosa, sumsum tulang, mukosa lambung, dan otak terjadi selama
istirahat dan tidur (Oswald, 1984). Tidur NREM menjadi sangat penting khususnya pada
anak-anak yang mengalami lebih banyak tidur tahap 4.
Teori lain tentang kegunaan tidur adalah tubuh menyimpan energy saat tidur. Otot
skelet berelaksasi secara progresif dan tidak adanya kontraksi ototmenyimpan energy kimia
untuk proses seluler. Penurunan laju metabolic basal lebih jauh menyimpan persediaan
energy tubuh Anch dkk, 1988).
Tidur REM terlihat penting untuk pemulihan kognitif. Tidur REM dihubungkan
dengan perubahan dalam aliran darah serebral, peningkatan aktivitas kortikal, peningkatan
konsumsi oksigen, dan pelepasan epinefrin. Hubungan ini dapat membantu penyimpanan
memori dan pembelajaran. Selama tidur, otak menyaring informasi yang disimpan tentang
aktivitas hari tersebut.
Kegunaan tidur pada perilaku seringali tidak diketahui sampai seseorang mengalami
suatu masalah akibat deprivasi tidur. Kurangnya tidur REM dapat mengarah pada perasaan
bingung dan curiga. Tidak ada hubungan sebab akibat yang jelas antara kehidupan tidur dan
fungsi tubuh yang spesifik (Webster dan Tompson, 1986). Akan tetapi, berbagai fungsi
tubuh (misalnya penampilan motorik, memori dan keseimbangan) dapat berubah ketika
terjadi kehilangan tidur yang memanjang.

D. MACAM-MACAM TIDUR
Berdasarkan prosesnya tidur dibagi ke dalam dua jenis, berikut ini penjelasannya :
1. Tidur non rapid eyes movement (NREM) yaitu jenis tidur yang disebabkan oleh
menurunnya kegiatan dalam system pengaktivasi retikularis, disebut dengan tidur
gelombang lambat (slow wave sleep) atau tidur gelombang delta karena gelombang otak
bergerak lambat. Jenis tidur ini dikenal dengan tidur yang dalam, istirahat penuh, tidur
nyenyak. Gelombang otak yang bergerak lebih lambat sehingga menyebabkan mimpi tapi
tidak nyata.
Ciri-ciri tidur NREM:
a. Betul-betul istirahat penuh.
b. Tekanan darah menurun.
c. Frekuensi nafas menurun.
d. Pergerakan bola mata melambat.
e. Mimpi berkurang.
f. Metabolisme turun.
Perubahan selama proses tidur gelombang lambat adalah melalui
elektroensefalografi dengan mempelihatkan gelombang otak berada pada setiap tahap
tidur. Pertama; kewaspadaan penuh dengan gelombang beta yang berfrekuensi tinggi dan
bervoltase rendah, kedua; istirahat tenang yang diperlihakan pada gelombang alfa, ketiga;
tidur ringan karena terjadi perlambatan gelombang alfa ke jenis teta atau delta yang
bervoltase rendah dan keempat; tidur nyenyak karena gelombang lambat dengan
gelombag delta bervoltase tinggi dengan kecepatan 1-2/detik.
2. Tidur rapid eyes ovement (REM), yaitu jenis tidur yang disebabkan oleh penyaluran
abnormal dari isyarat-isyarat dalam otak meskipun kegiatan otak mungkin tidak tertekan
secara berarti, disebut juga jenis tidur paradoks. Berlangsung pada tidur malam yang
terjadi selama 5-20 menit, rata-rata timbul 90 menit. Periode pertama terjadi selama 80-
100 menit, akan tetapi apabila kondisi orang sangat lelah, maka awal tidur sangat cepat
bahkan jenis tidur ini tidak ada.
Ciri tidur paradoks sebagai berikut :
a. Biasanya disertai dengan mimpi aktif.
b. Lebih sulit dibangukan daripada selama tidur nyenyak gelombang lambat.
c. Tonus otot selama tidur nyenyak sangat tertekan, menunjukan inhibsi kuat proyeksi
spinal atas sistim pengktivasi retikularis.
d. Frekuensi jantung dan pernafasan menjadi tidak teratur.
e. Pada otot perifer terjadi beberapa gerakan otot yang idak teratur.
f. Pada otot perifer terjadi beberapa gerakan otot yang tidak teratur.
g. Mata cepat tertutup dan terbuka, nadi cepat dan ireguller, tekanan darah meningkat
atau berfluktuasi, sekresi gaster meningkat, dan metabolisme meningkat.
h. Tidur ini penting untuk keseimbangan mental, emosi, juga berperan dalam belajar,
memori, dan adaptasi.



E. KEBUTUHAN TIDUR NORMAL
Durasi dan kualitas tidur beragam di antara orang-orang dari kelompok usia atau
bergantung pada tingkat perkembangan. Seseorang mungkin merasa cukup berisirahat dengan 4
jam tidur, sementara yang lain membutuhkan 10 jam.

Tabel 1. Kebutuhan tidur manusia berdasarkan usia/tingkat perkembangan
Usia Tingkat Perkembangan Kebutuhan Tidur
0 bulan 1 bulan
1 bulan - 18 bulan
18 bulan - 3 tahun
3 bulan - 6 tahun
6 bulan - 12 tahun
12 bulan - 18 tahun
Masa neonatus
Masa bayi
Masa anak
Masa prasekolah
Masa sekolah
Masa remaja
14-18 jam/hari
12-14 jam/hari
11-12 jam/hari
11 jam/hari
10 jam/hari
8,5 jam/hari

Masa Neonatus, Rata-rata tidur sekitar 14-18 jam/hari atau 16 jam/hari. Bayi yang lahir
dari ibu tanpa medikasi lahir dalam keadaan terjaga. Mata terbuka lebar dan mengisap kencang.
Setelah satu jam bayi baru lahir mejadi diam dan kurang responsif terhadap stimulus internal dan
eksternal. Periode tidur berakhir beberapa menit sampai 4 jam setelahnya (Wong, 1995).
Kemudian bayi terangun lagi dan serigkali menjadi terlalu responsif terhadap stimulus. Stimulus
lapar, nyeri, dingin, atau yang lain seringkali menyebabkan tangisan. Pada minggu pertama, bayi
baru lahir tidur dengan konstan. Kira-kira 50% dari tidur ini adalah tidur REM, yang
menstimulasi pusat otak tertinggi. Hal ini dianggab esensial bagi perkembangan karena eonatus
tidak terjaga cukup lama untuk stimulasi eksternal yang bermakna.
Masa Bayi, Bayi tidur beberapa kali pada siang hari tetapi biasanya tidur rata-rata 12-14
jam sehari dan 8-10 jam pada malam hari. Sekitar 30% dari waktu tidur dihabiskan dalam siklus
REM. Bangun biasanya terjadi pada pagi hari, meskipun tidak umum bagi bayi untuk terjaga
selama malam hari. Jika bangun selama malam hari menjadi rutin, masalahnya pada diet karena
lapar seringkali membangunkan anak. Bayi yang minum ASI biasanya tidur selama periode yang
lebih pendek dengan lebih sering terbangun, daripada bayi yang minum susu botol (Wong,1995).
Bayi yang lebih besar lebih lama daripada bayi yang lebih kecil karena kapasitas lambungnya
yang lebih besar. Seorang bayi antara usia 1 bulan dan 1 tahun tidur rata-rata 14 jam sehari.
Dibandingkan dengan anak-anak yang lebih besar, tidur aktif (REM) membentuk proporsi tidur
yang lebih besar. Sebaliknya pada bayi yang baru lahir yang tidur dan bangun bergantian
sepanjang perode 24 jam, setelah usia empat bulan periode tidur terpanjang terlihat pada malam
hari.
Masa Todler, pada usia 2 tahun, anak-anak biasanya tidur sepanjang malam dan tidur
siang setiap hari. Total tidur arta-rata 12 jam sehar. Tidur siang dapat hilang pada usia 3 tahun.
Hal yang umum pada todler terbangun pada malam hari.persentase tidur REM berlanjut
menurum. Selama periode ini todler todler tidak ingin tidur pada malam hari. Ketidakinginan ini
berhubungan dengan kebutuhan untuk otonomi atau takut perpisahan. Todler mempunyai
kebutuhan untuk mengeksplorasi dan memuaskan kweingintahuannya yang dapat menjelaskan
mengapa beberapa dari mereka mencoba untuk menunda waktu untuk tidur.
Masa Prasekolah, rata-rata tidur anak usia prasekolah sekitar 12 jam semalam (sekitar
20% adalah REM). Pada usia 5 tahun, anak prasekolah jarang tidur siang (Wong, 1995). kecuali
pada kebudayaan yaitu siesta yaitu kebiasaan. Anak usia prasekolah biasanya mengalami
kesulitan untuk relaks atau diam setelah hari-hari aktif, panjang. Anak usia prasekolah juga
mempunyai masalah dengan ketakutanwaktu tidur, terjaga pada malam hari, atau mimpi buruk.
Orang tua paling berhasil membawa anak prasekolah untuk tidur dengan membina ritual yang
konsisten yang menyangkut aktivitas waktu tenaang sebelum waktu tidur. Biasanya, para ahli
tidak merekomendasikan seorang anak diperbolehkan tidur dengan orang tuanya. Akan tetapi
dibeberapa kebudayaan, berbagi tempat tidur dan ruangan dengan orang tua telah diterima
sebagai praktik tidur.
Masa Anak Usia Sekolah, jumlah tidur yang diperlukan pada usia sekolah bersifat
individual karena status aktivitas dan tingkat kesehatan yang bervariasi. Anak usia sekolah
biasanya tidak membutuhkan tidur siang. Pada usia 6 tahun akan tidur rata-rata 11-12 jam;
sementara anak usia 11 tahun tidur sekitar 9 sampai 10 jam (Wong, 1995). anak usia 6 atau 7
tahun biasanya bisa dibujuk untuk tidur dengan mendorong melakukan aktivitas yang tenang.
Anak yang lebih tua sering kali menolak tidur karena ketidaksadaran terhadap kelelahan atau
kebutuhan mandiri. Anak usia sekolah akan merasa lelah pada hari berikutnya jika diizinkan
untuk tinggal lebih lama dari biasanya. Anak yang lebih tua meminta waktu tidur yang lebih larut
sebagai suatu simbol dominan dari anak yang lebih muda. Orang tua biasanya berhasil membuat
anak yang lebih tua untuk tidur dengan menggunakan pendekatan tegas dan konsisten. Anak usia
sekolah yang lebih tua diperbolehkan tidur lebih larut, tetapi hak istimewa ini tergantung pada
anak untuk tidur segera tanpa keluhan.
Masa Remaja, remaja memperoleh sekitar 7,5 jam untuk tidur setiap malam (carscadon,
1990). pada saat kebutuhan tidur yang aktual meningkat, remaja umumnya mengalami sejumlah
perubahan yang seringkali mengurangi waktu tidur yang spesifik. Tuntutan sekolah, kegiatan
sosial setelah sekolah, dan pekerjaan paruh waktu menekan waktu yang tersedia untuk tidur.
Remaja pergi tidur lebih larut dan terbangun lebih cepat pada waktu sekolah menengah atas.
Harapan sosial yang umum adalah remaja membutuhkan waktu tidur yang lebih sedikit daripada
praremaja. Akan tetapi, data laboratorium menunjukkan bahwa remaja mempunyai kebutuhan
fisiologis untuk tidur lebih banyak bila dibandingkan dengan praremaja (Carskado,1990). Karena
tuntutan gaya hidup yang memperpendek waktu yang tersedia untuk tidur dan kemungkinan
kebutuhan fisiologis, maka remaja seringkali mengantuk berlebihan pada siang hari. Penampilan
di sekolah, kerentanan kecelakaan, dan masalah perilaku dan suasana hati berkaitan dengan
kebutuhan tidur yang kurang. Orang tua, guru, dan remaja itu sendiri seringkali kekurangan
pengetahuan tentang apa itu tidur yang tepat. Mereka perlu pendidikan untuk meningkatkan apa
yang menjadi masalah kesehatan yang penting bagi remaja.

F. GANGGUAN TIDUR
1. Insomnia
Merupakan suatu keadaan ketidakmampuan mendapatkan tidur yang adekuat, baik
kualitas maupun kuantitas, dengan keadaan tidur yang hanya sebentar atau susah tidur. Insomnia
terbagi menjadi 3 jenis, yaitu: initialinsomia merupakan ketidakmampuan untuk jatuh tidur atau
mengawali tidur, intermitten insomnia merupakan ketidakmampuan tetap tidur karena selalu
terbangun di malam hari; dan terminal insomnia, merupakan ketidakmampuan untuk tidur
kembali setelah bangun tidur pada malam hari. Proses gangguan tidur ini kemungkinan besar
disebabkan oleh adanya rasa khawatir, tekanan jiwa, ataupun stress.
2. Hipersomnia
Merupakan gangguan tidur dengan criteria tidur berlebihan, pada umumnya lebih dari 9
jam pada malam hari, disebabkan oleh kemungkinan adanya masalah psikologis, depresi,
kecemasan, gangguan susunan saraf pusat, ginjal, hati, dan gangguan metabolisme.
3. Parasomnia
Merupakan kumpulan beberapa penyait yang dapat mengganggu pola tidur seperti
somnambolisme (berjalan-jalan dalam tidur) yang banyak terjadi pada anak-anak, yaitu pada
tahap tiga dan empat dari tidur NREM. Somnambolisme ini dapat menyebabkan cedera.
4. Enuresa
Buang air kecil yang tidak disengaja ada waktu tidur, atau bias juga disebut dengan istilah
mengompol. Enuresa dibagi enjadi 2 jenis, yaitu: enuresa nocturnal, merupakan mengompol
diwaktu tidur; dan enuresa diurnal, mengompol pada saat bangun tidur. Enuresa nocturnal
umumnya merupakan gangguan pada tidur REM.
5. Apnea tidur dan mendengkur
Mendengkur pada umumnya tidak termasuk dalam gangguan tidur, tetapi mendengkur
yang disertai dengan keadaan apnea dapat menjadi masalah. Mendengkur sendiri disebabkan
oleh adanya rintangan dalam pengaliran udara. Di hidung dan mulut pada waktu tidur, biasanya
disebabkan oleh adanya adenoid, atau mengendurnya otot di belakang mulut. Terjadinya apnea
dapat mengacaukan jalannya pernapasan sehingga dapat mengakibatkan henti napas. Bila
kondisi ini berlangsung lama, maka dapat menyebabkan kadar oksigen dalam darah menurun dan
denyut nadi menjadi tidak teratur.
6. Narkolepsi
Merupakan keadaan tidak dapat mengendalikan diri untuk tidur. Misalnya tertidur dalam
keadaan berdiri, mengemudikan kendaraan, atau disaat sedang membicarakan sesuatu. Hal ini
merupakan gangguan neurologis.
7. Mengigau
Dikategorikan dalam gangguan tidur bila terlalu sering dan di luar kebiasan. Dari hasil
pengamatan, ditemukan bahwa hamper semua orang pernah mengigau dan terjadi sebelum tidu
REM.
8. Gangguan pola tidur secara umum
Gangguan pola tidur secara umum merupakan suatu keadaan di mana individu
mengalami atau mempunyai risiko perubahan dalam jumlah dan kualitas pola istrahat yang
menyebabkan ketidaknyamanan atau mengganggu gaya hidup yang diinginkan (karpenito, LJ,
1995). Gangguan ini terlihat pada pasien dengan kondisi yang mmperlihatkan perasaan lelah,
mudah terangsang dan gelisah, lesu dan apatis kehitaman di daerah mata, kelopak mata bengkak,
konjunctiva merah, mata perih, perhatian terpecah-pecah, sakit kepala, dan sering menguap atau
mengantuk. Penyebab dari gangguan tidur ini anatara lain kerusakan transfer oksigen, gangguan
metabolism, kerusakan eliminasi, pengaruh obat, imobilitas, nyeri pada kaki, takut operasi, factor
lingkungan yang mengganggu dan lain-lain.
9. Deprivasi Tidur
Deprivasi tidur adalah masalah yang dihadapi banyak klien sebagai akibat disomnia.
Penyebabnya dapat mencakup penyakit (misalnya, demam, sulit bernafas, atau nyeri), stress
emosional, obat-obatan, gangguan lingkungan (misalnya asuhan keperawatan yang sering
dilakukan), dan keanekaragaman waktu tidur yang terkait dengan waktu kerja. Dokter dan
perawat cenderung mengalami deprivasi tidur karena jadwal kerja yang panjang dan rotasi jam
dinas. Deprivasi tidur melibatkan penurunan kuantitas dan kualitas tidur secara konsistenan
waktu tidur. Apabila tidur mengalami gangguan atau terputus-putus, dapat terjadi perubahan
urutan siklus tidur normal. Terjadi deprivasi tidur kumulatif. Keparahan gejala sering
berhubungan dengan deprivasi tidur. Terapi yang paling efektif untuk deprivasi tidur adalah
menghilangkan atau memperbaiki factor-faktor yang mengganggu pola tidur. Perawat dapat
memainkan peranan penting dalam mengidentifikasi masalah-masalah deprivasi tidur yang dapat
diobati.
10. Broke Seasion
Gangguan tidur berupa menggeretakan gigi secara tidak sadar dalam beberapa waktu tertentu.



























BAB III
PENUTUP

Istirahat merupakan keadaan relaks tanpa tekanan emosional, bukan hanya dalam
keadaan tidak beraktivitas tetapi juga kondisi yang membutuhkan ketenangan. Kata istirahat
berarti berhenti sebentar untuk melepaskan diri dari segala hal yang membosankan, menyulitkan,
bahkan menjengkelkan. Sedangkan tidur merupakan kondisi tidak sadar dimana individu dapat
dibangukan oleh stimulus atau sensoris yang sesuai (Guyton, 1986).
Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur oleh adanya hubungan mekanisme
serebral yang secara bergantian untuk mengaktifkan dan menekan pusat otak agar dapat tidur dan
bangun. Salah satu aktivitas tidur ini diatur oleh sistem pengaktivasi retikularis yang merupakan
sistem yang mengatur seluruh tingkatan kegiatan susunan saraf pusat termasuk pengaturan
kewaspadaan dan tidur. Pusat pengaturan aktivitas kewaspadaan dan tidur terletak pada
mesensefalon dan bagian atas pons. Secara umum, terdapat dua efek fisiologi dari tidur yaitu
pertama; efek pada sistim saraf yang diperkirakan dapat memulihkan kepekaan normal dan
keseimbangan di berbagai susunan saraf dan kedua; efek pada struktur tubuh dengan
memulihkan kesegaran dan fungsi dalam organ tubuh karena selama tidur terjadi penurunan.
Tidur dapat berfungsi untuk menjaga keseimbangan mental, emosional, kesehatan,
mengurangi stres pada paru, kardiovaskuler, endokrin, dan lain-lain. Tidur juga dipercaya
mengontribusi pemulihan fisiologis dan psikologis, tidur nampaknya diperlukan untuk
memperbaiki proses biologis secara rutin, dan tubuh dapat menyimpan energy saat tidur.
Sedangkan fungsi dari tidur REM yaitu untuk pemulihan kognitif.
Berdasarkan prosesnya tidur dibagi ke dalam dua jenis, berikut ini penjelasan dari
masing-masing jenis diantaranya yaitu tidur non rapid eyes movement (NREM) yaitu jenis tidur
yang disebabkan oleh menurunnya kegiatan dalam system pengaktivasi retikularis, dan tidur
rapid eyes ovement (REM).
Kebutuhan istirahat dan tidur tiap tahapan usia berbeda diantaranya yaitu pada masa
neonates rata-rata tidur sekitar 14-18 jam/hari atau 16 jam/hari, pada masa bayi, bayi biasanya
tidur beberapa kali pada siang hari tetapi biasanya tidur rata-rata 12-14 jam sehari dan 8-10 jam
pada malam hari. Pada masa tolder, pada usia 2 tahun, anak-anak biasanya tidur sepanjang
malam dan tidur siang setiap hari, total tidur rata-rata 12 jam sehari. Masa prasekolah, rata-rata
tidur sekitar 12 jam semalam (sekitar 20% adalah REM). Masa Anak Usia Sekolah, jumlah tidur
yang diperlukan pada usia ini bersifat individual karena status aktivitas dan tingkat kesehatan
yang bervariasi. Anak usia sekolah biasanya tidak membutuhkan tidur siang. Pada usia 6 tahun
akan tidur rata-rata 11-12 jam, sementara anak usia 11 tahun tidur sekitar 9 sampai 10 jam. Masa
Remaja, remaja memperoleh sekitar 7,5 jam untuk tidur setiap malam. Durasi dan kualitas tidur
beragam di antara orang-orang dari kelompok usia atau bergantung pada tingkat perkembangan.
Seseorang mungkin merasa cukup berisirahat dengan 4 jam tidur, sementara yang lain
membutuhkan 10 jam.
Dalam kebutuhan istirahat dan tidur juga bisa terjadi gangguan tidur yang dapat
mengganggu. Gangguan tidur ada bermacam-macam dengan penyebab yang berbeda-beda pula.
Gangguan tidur yang dapat terjadi diantaranya yaitu Insomnia, Hipersomnia, Deprivasi Tidur,
Broke Seasame, Parasomnia, Enuresa, Apnea tidur dan mendengkur, Narkolepsi, Mengigau,
serta adanya gangguan pola tidur secara umum yang bisa terlihat pada pasien dengan kondisi
yang memperlihatkan perasaan lelah, mudah terangsang dan gelisah, lesu dan apatis kehitaman
di daerah mata, kelopak mata bengkak, konjunctiva merah, mata perih, perhatian terpecah-pecah,
sakit kepala, dan sering menguap atau mengantuk.










DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. kebutuhan Istirahat dan Tidur. Http://kdmrehat.blogspot.com. Diakses tanggal 20
september 2009.
Arty Melanie. 2006. Anak tidur Mendengkur dan Mengingau. Http://www.mail.archive.com.
Diakses tanggal 20 september 2009.
Erfandi. 2008. Konsep Dasar Istirahat dan Tidur. Http://puskesmas-oke.blogspot.com. Diakses
tanggal 20 september 2009.
Hidayat. 2009. Konsep Aktivitas, Istirahat, dan Tidur. Http://hidayat2.wordpress.com. Diakses
tanggal 20 september 2009.
Hull, David. 1999. Kesehatan Anak. Jakarta : Arcan.
Potter, Patricia A. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC.

me love pooh

Template Picture Window. Gambar template oleh sasimoto. Didukung oleh Blogger.


Parasomnia
Parasomnia
09.04.06 (3:21 pm) [edit]
Banyak gangguan tidur yang heboh dan misterius, seperti berjalan sewaktu tidur, mengigau,
teror saat tidur (night terrors) dan gangguan perilaku saat tidur REM (REM Behavior Disorder -
RBD.) Semua gangguan ini masuk dalam kategori parasomnia (dari bahasa latin yang berarti
menjelang / hampir tidur.) Menurut Prof. Dement, perekaman gelombang otak penderita
parasomnia tampak bolak-balik antara tidur dan bangun, seolah otak cukup terjaga untuk
mengirimkan impuls-impuls gerakan, tetapi tidak cukup untuk mengingat atau sadar akan
keadaan sekeliling. Inilah sebabnya penderita parasomnia tidak ingat akan kejadian sewaktu
serangan.
Sleepwalking & Sleeptalking
Sleepwaking, somnabulism atau tidur berjalan adalah gangguan dimana penderitanya berjalan
dalam tidur. Fenomena yang dikenal di Indonesia sebagai ngelindur ini cukup sering terjadi.
Yang khas, saat bangun penderitanya tidak ingat sama sekali akan kejadian itu, maupun mimpi
yang berkaitan dengan gerakan yang ia lakukan malam sebelumnya. Ini karena gangguan terjadi
pada tahap tidur NREM, dan terutama pada awal-awal tidur dimana hutang tidur masih banyak
menumpuk. Tidur NREM adalah fase tidur tanpa mimpi (meskipun beberapa literatur
mengatakan bahwa mimpi bisa terjadi di semua tahapan tidur.)
Begitu pula dengan mengigau, somniloquy atau sleeptalking. Mengigau merupakan vokalisasi
saat tidur, bisa berupa kata-kata yang jelas atau hanya sekedar gumaman. Kondisi ini bisa dipicu
oleh keadaan emosional-psikologis, demam atau tidur yang terganggu.
Mengigaui biasanya berlangsung pada tahap tidur dangkal, atau kadang kala pada tahap mimpi
(tidur REM.) Jika terjadi dalam tahap tidur mimpi, biasanya terjadi bersesuaian dengan mimpi
yang mengejutkan, seperti melihat pencuri atau melihat sebuah kecelakaan. Kata-kata yang
keluar bisa berkaitan erat dengan mimpi atau bahkan berlainan sama sekali, misalkan dalam
mimpi meneriakkan maling! tetapi kata yang keluar adalah mama! Walau demikian,
biasanya si pengigau tidak ingat apa yang dikatakan atau bahkan mimpinya sendiri.
Kedua gangguan ini sering terjadi pada usia muda, bahkan pernah dilaporkan kejadian
sleepwalking pada balita yang baru bisa berjalan, meskipun lebih sering tejadi pada anak usia 4
hingga 7 tahun. Kebanyakan kebiasaan ini hilang sendiri setelah menginjak dewasa. Tetapi saat
dalam kondisi kurang tidur yang ekstrem, gangguan sewaktu-waktu bisa menyerang.
Pavor Nocturnus
Sebuah parasomnia lainnya yang sering terjadi pada anak-anak adalah night terror, sleep terror,
pavor nocturnus atau teror malam. Seorang anak bisa terbangun dengan tangisan histeris dan
pandangan yang mengarah ke satu titik seolah takut akan sesuatu yang tak terlihat oleh kita.
Kejadian ini begitu menakutkan karena anak sama sekali tidak merespon pelukan atau belaian
orang tua untuk menenangkan. Setelah berlangsung sekitar 5-15 menit si anak, terdiam,
memejamkan mata dan kembali tidur.
Bagi orang tua anak yang menderita night terror, tetap dianjurkan untuk memeluk dan
menenangkan anak yang sedang mengalami serangan walaupun usaha Anda sepertinya sia-sia.
Jika si anak akhirnya bangun dalam keadaan disorientasi, peran Anda untuk menenangkan amat
penting. Bimbing ia kembali tidur, dan baru tanyakan tentang kejadian semalam di pagi harinya.
Pavor nocturnus sering terjadi pada usia antara 2-5 tahun, dan biasanya hilang dengan sendirinya
di usia 7 tahun. Seperti tidur berjalan dan mengigau, pavor nocturnus juga dapat ditemukan
riwayatnya dalam keluarga, meskipun tidak dikatakan menurun secara genetis.
Perawatan
Jika dalam keluarga Anda ada penderita parasomnia, perawatan terbaik adalah dengan
memberikan pengertian dan support baginya. Buatlah lingkungan tidur yang aman, dengan
memastikan tidak ada benda-benda pecah belah yang dapat tersenggol. Tidak jarang penderita
sleepwalking tidur di kamar yang berperabotan minimal. Biasakan juga menempatkan kunci di
tempat yang cukup rumit untuk mengambilnya, misalkan dalam kotak di dalam laci lemari
tempat tidur. Karena biasanya penderita parasomnia kurang sadar dengan lingkungan sekitarnya,
ia dapat mengenali sebuah pintu, tapi tidak dapat membuka atau mengambil kuncinya. Ini juga
penting agar penderita tidak berjalan keluar rumah.
Kebanyakan kasus parasomnia tidak memerlukan pengobatan. Gangguan yang diderita bukanlah
suatu bentuk gangguan psikologis maupun suatu penyakit yang berbahaya. Hanya saja ada
beberapa hal yang harus dihindari, yaitu narkotika, alkohol dan kondisi kekurangan tidur. Karena
ini semua dapat memicu serangan. Sedangkan terapi-terapi tambahan seperti psikoterapi,
relaksasi, hipnotis dan meditasi dilaporkan cukup membantu sebagai perawatan jangka panjang.
Menarik untuk disimak bahwa serangan parasomnia (tidur berjalan, mengigau maupun night
terror) terjadi pada saat-saat awal tidur dimana hutang tidur masih tinggi. Dengan demikian,
kondisi tersebut dapat memicu episode parasomnia. Untuk penderita sleepwalking usia remaja
atau dewasa muda harus benar-benar memperhatikan jadwal tidurnya. Pahami jam biologis dan
kebutuhan tidur satu harinya, dan hindari beraktivitas melewati waktu istirahat (baca bagian:
Tidur pada Remaja Dewasa Muda.)