Anda di halaman 1dari 3

TUGAS PRAKTIKUM PPJP

Alfika Dinar Fitri | 09/280578/KG/8408


SPLINTING
Kegoyangan gigi merupakan salah satu gejala penyakit periodontal yang ditandai dengan
hilangnya perlekatan serta kerusakan tulang vertikal (Strassler, 2001). Kegoyangan dapat disebabkan
adanya kerusakan tulang yang mendukung gigi, trauma dari oklusi, dan adanya perluasan
peradangan dari gingiva ke jaringan pendukung yang lebih dalam, serta proses patologik rahang
(Fedi, 2000). Kegoyangan gigi diklasifikasikan menjadi tiga derajat. Derajat 1 yaitu kegoyangan
sedikit lebih besar dari normal. Derajat 2 yaitu kegoyangan sekitar 1 mm, dan derajat 3 yaitu
kegoyangan > 1 mm pada segala arah dan/atau gigi dapat ditekan ke arah apikal. Salah satu cara
untuk mengontrol dan menstabilisasi kegoyangan gigi adalah splinting (Strassler, 2004)
Splinting diindikasikan pada keadaan kegoyangan gigi derajat 3 dengan kerusakan tulang
berat (Fedi, 2000). Adapun indikasi utama penggunaan splint dalam mengontrol kegoyangan yaitu
imobilisasi kegoyangan yang menyebabkan ketidaknyamanan pasien serta menstabilkan gigi pada
tingkat kegoyangan yang makin bertambah (Mc-Guire, 1996). Ditambahkan oleh Strassler, splinting
juga digunakan untuk mengurangi gangguan oklusal dan fungsi mastikasi.
Splinting dilakukan pada terapi inisial (fase etiotropik) dalam rencana perawatan penyakit
periodontal. Tindakan yang dilakukan pada fase pertama adalah pemberian kontrol plak yang
meliputi motivasi, edukasi dan instruksi, skeling dan penghalusan akar, splinting dan terapi oklusal,
serta pemberian terapi penunjang berupa antimikroba (Strassler, 2001).
Kegoyahan gigi dapat terjadi pada jaringan periodonsium yang sehat, yaitu bila terjadi
pelebaran ligamen periodontal dan berkurangnya tinggi tulang alveolar. Keadaan ini dianggap
sebagai kegoyahan fisiologis. Kegoyahan fisiologis dapat juga dikurangi dengan pemasangan splint
dan melakukan penyesuaian oklusi.
Splinting dapat dijadikan perawatan pendukung yang dilakukan bersamaan dengan
perawatan periodontal lainnya, dapat juga sebagai fase pertama perawatan periodontal sebelum
tindakan bedah dilakukan. Splint periodontal dapat bersifat temporer ataupun permanen. Bentuk
splint dapat berupa alat cekat atau lepasan, dan dapat diletakkan ekstrakoronal maupun
intrakoronal. Splint permanen antara lain berupa fixed bridge, protesa sebagian lepasan, atau
penggabungan bahan tambalan resin komposit.
Splint permanen diindikasikan jika perawatan periodontal tidak mengurangi mobilitas gigi,
sehingga gigi tidak dapat berfungsi baik tanpa dukungan tambahan. Splint permanen berfungsi
untuk menstabilkan gigi, mendistribusikan kekuatan oklusi, mengurangi trauma, dan membantu
dalam perbaikan jaringan periodontal. Splint permanen dipasang untuk memperpanjang fungsi gigi
dalam mulut lebih lama.
Splint permanen dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Lepasan-eksternal
Continuous claps device, Swing-look device, Overdenture (full atau partial)
2. Cekat-internal
Full coverage, coverage crowns dan inlay, Post in root canal , Horizontal pin splints Cast-
metal resin bonded fixed partial denture (maryland splint)
3. Kombinasi
Partial denture and splint abuntments, Removable-fix splint, Full or partial denture or
splinted root, Fixed bridges incorporated in partial denture, sealed on post or copings
4. Endodontik
Berikut ini merupakan beberapa contoh splint :
1. Splint Lepasan Eksternal
Splint lepasan permanen dalam hal ini adalah splint continuous clasp dapat mengikat gigi
yang goyah. Alat ini mirip dengan gigi tiruan lepasan sebagian. Splint ini memberikan dukungan pada
gigi dari permukaan lingual dan dimungkinkan adanya tambahan dukungan dari permukaan labial
atau dengan menggunakan landasan intrakoronal. Palatal bar juga mungkin ditambahkan untuk
mendukung efek splintingnya. Beberapa gigi tiruan menggunakan pin yang ditancapkan dalam
cekungan atau lubang pada inlay.
2. Cast Metal Resin Bonded Fixed Partial Denture
Cast metal resin bonded fixed partial denture digunakan dengan mengurangi sedikit lapisan
email. Tipe ini merupakan jenis protesa yang fungsional, estetis, reversibel, dan murah. Protesa ini
terdiri dari kerangka logam yang dilapisi dengan resin yang menempel pada email gigi. Ikatan email
sangat kuat, meskipun demikian gigi yang goyah bila mendapat tekanan oklusal yang sangat kuat
maka dapat lepas dari kerangka logamnya.
3. Splint Cekat Internal
Alat permanen cekat dapat dibuat dengan logam yang disolder, seperti mahkota penuh,
mahkota 3/4 , inlay, splint pin horizontal, dan pin ledge. Splint kemudian disementasi pada
tempatnya. Mahkota penuh merupakan alat yang paling mudah jika resesi tidak bertambah dan gigi
dibuat sejajar. Splint jenis ini bentuknya kaku dan ukuran splint harus sesuai dengan diameter
bukolingual. Sambungan interproksimal jangan sampai mengenai papila interdental, dan hubungan
oklusalnya harus harmonis. Splint cekat merupakan suatu restorasi yang paling efektif untuk
stabilisasi gigi.


4. Splint Kombinasi
Meskipun splint cekat banyak keuntungannya, tetapi terdapat kelemahan dari segi
periodontal, sehingga kombinasi dari splint cekat dan partial denture merupakan pilihan yang tepat.
Gigi tiruan sebagian menggunakan gigi pegangan yang merupakan splint yang paling baik dan dapat
dikerjakan dengan mudah dengan klamer dan sandaran sehingga stabilisasi dapat tercipta ke segala
arah. Gigi tiruan dapat didukung oleh mahkota gigi atau pasak logam yang ditanam ke dalam akar
gigi.
Berikut ini merupakan jalannya Perawatan splint eksternal fiber-reinforced composite resinpada gigi
anterior:
1. Membersihkan gigi yang akan displint dengan scaler ultrasonik kemudian menyikat
denganbrush dan pumice.
2. Setelah gigi bebas dari deposit kemudian dikeringkan dengan semprotan udara dan
meletakkan kapas disekitar gigi yang akan displint agar tetap bebas dari saliva.
3. Mengaplikasikan etsa pada bagian palatal atau lingual di bawah 1/3 incisal gigi selama 5
menit, kemudian dibilas dengan semprotan air lalu mengeringkan dengan semprotan udara.
4. Mengaplikasikan bonding pada area yang telah dietsa, kemudian melakukan penyinaran
dengan light curing unit selama 10 detik.
5. Mengaplikasikan net fiber pada area gigi yang telah dibonding (termasuk area interdental),
kemudian melakukan penyinaran selama 10 detik.
6. Mengaplikasikan resin komposit diatas net fiber agar splint melekat lebih kuat, kemudian
melakukan penyinaran selama 20 detik.
7. Melakukan finishing dan polishing pada resin komposit dengan bur finishing.
8. Mengecek adanya traumatik oklusi. Menyarankan pasien untuk menjaga kebersihan
mulutnya dan kontrol 1 minggu kemudian.
9. Setelah dilakukan splinting pasien diinstruksikan untuk lebih memperhatikan kebersihan gigi
dan mulutnya, terutama pada regio gigi yang displinting, karena pada regio tersebut lebih
mudah terjadi akumulasi plak dan debris yang akan menyebabkan inflamasi kronis yang
terjadi dapat semakin parah.
(Arfani, 2010)




Daftar Pustaka

Strassler HE., Brown C. Periodontal splinting with a thin high modulus polyethylene ribbon.
Compend Contin Educ Den 2001; 22: 610-20.
Strassler HE. Periodontal splinting with fiber reinforced composite resin. Compend Contin Educ Dent
2004; 25: 53-9.
Fedi PF, Vernini AR, Gray JL. The Periodontics syllabus. Lippincott : Williams and Wilkins; 2000: p. 52.
Mc-Guire MK. Periodontal-restorative interrelationships. Dalam: Carranza FA, Newman MG, (eds).
Clinical periodontology. Ed ke-8. Philadelphia: WB Saunders; 1996. p. 739-40.
Arfani, Asnul. 2010. Splint. http://asnuldentist.blogspot.com/2010/08/splint.html diakses 21
Oktober 2012

Anda mungkin juga menyukai