Anda di halaman 1dari 39

Arsitektur Nusanatara Page 1

ARSITEKTUR NUSANTARA

Sejarah Perkembangan Arsitektur Nusantara

A. Sejarah Nusantara
Ancangan Sejarah manapun tidak akan mencapai tujuannya jika tidak
memperhatikan faktor geografis. Berdasarkan latar belakang historis bahwa tata
Nusantara adalah sebuah kata majemuk yang diambil dari bahasa Jawa kuno.
Kata ini terdiri dari kata-kata nusa yang berarti pulau dan antara berarti lain.
Istilah ini digunakan dalam konsep kenegaraan Jawa artinya daerah di luar
pengaruh budaya Jawa. Dalam penggunaan bahasa modern, istilah nusantara
biasanya meliputi daerah kepulauan Asia Tenggara atau wilayah Austronesia.
Sehingga pada masa sekarang ini banyak orang menggunakan istilah geografis ini
untuk menunjukkan sebagai satu kesatuan pulau di Nusantara termasuk wilayah-
wilayah di Semenanjung Malaya (Malaysia, Singapura) dan Filipina bahkan
beberapa negara di wilayah Indochina seperti Kamboja akan tetapi tidak termasuk
wilayah Papua.
Di sisi lain, istilah geografis Nusantara saat ini sering diartikan sebagai
Indonesia yang merupakan satu entitas politik. Fokus dari diskusi buku ajar ini
adalah kepada istilah geografis Nusantara sebagai wilayah Indonesia pada masa
sekarang ini.
1. Sejarah Singkat Nusantara
Wilayah Nusantara terletak pada persilangan jalan, antara Samudera
Hindia dan Samudera Pasifik, atau lebih khusus, Benua Asia dan Australia.
Persilangan ini telah menjadikan wilayah Nusantara sebagai tempat
persinggahan bagi pelayar dan pedagang terutama dari China ke India atau
sebaliknya. Persinggahan para pelayar dan pedagang dari berbagai
mancanegara telah menjadikan Nusantara sebagai tempat kehadiran semua
kebudayaan besar didunia. Bukti-bukti penemuan artefak-artefak seperti
prasasti, uang logam dan gerabah memberikan informasi kehadiran bangsa-
bangsa besar tersebut. Seperti prasasti berbahasa Tamil ditemukan di desa
Arsitektur Nusanatara Page 2

Lobu Tua pesisir Barat Sumatra (Barus), porselin dan gerabah Cina
ditemukan di Palembang, nisan dan uang logam Arab ditemukan di Aceh.
Dari penemuan-penemuan tersebut, para arkeolog dan sejarahwan menyusun
kronologis sejarah Indonesia. Dapat dikatakan bahwa sekitar seribu tahun
lamanya, dari abad ke-5 sampai ke-15, kebudayaan-kebudayaan India
mempengaruhi Sumatra, Jawa dan Bali, dan Kalimantan bersamaan dengan
dataran-dataran rendah yang luas di Semenanjung Indocina. Kebudayaan
India ini awalnya pada penyebaran agama Hindu dan Buddha dan Islam di
Indonesia. Di Jawa Tengah, candi Borobudur dan Prambanan adalah
monumen yang sama nilainya dengan Angkor dan Pagan.
Pada abad ke-7 hingga ke-14, kerajaan Budha Sriwijaya berkembang pesat di
Sumatra. Penjelajah Tiongkok I Ching mengunjungi ibukotanya Palembang
sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah
sejauh Jawa Barat dan Semenanjung Melayu. Pada abad ke-14 juga menjadi
saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih
Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh
kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta
hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada
termasuk kodifikasi hukum dalam kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat
dalam wiracarita Ramayana. Islam tiba di Indonesia sekitar abad ke-12,
menggantikan Hindu sebagai kepercayaan utama pada akhir dekad ke-16 di
Jawa dan Sumatra.
Hanya Bali yang tetap mempertahankan mayoriti Hindu. Agama Islam
ini dibawa oleh pedagang Arab dari Parsi dan Gujarat melalui pembauran.
Kesultanan kecil Samudra Pasai disebelah utara Sumatra menjadi bandar
yang ramai pada masa itu. Berdasarkan catatan Gastaldi (1548), seorang ahli
kosmografi dan enjineer dari Italia, pelabuhan atau bandar kesultanan
Samudra sebagai yang terbaik di pulau tersebut, dan melalui proses evolusi
nama, istilah Sumatra dikenalkan pertama kali oleh orang Eropa Nichol de
Conti, sebelumnya Marcopolo menyebut dengan Samara, kemudian Friar
dan Odoric menyebut dengan Sumoltra, Ibnu Battuta menyebut Samudra.
Melalui evolusi yang sama, nama Borneo pada mulanya adalah nama sebuah
Arsitektur Nusanatara Page 3

pelabuhan Brunei, yang pada masa itu merupakan nama kerajaan terpenting
di Kalimantan Barat. Di kepulauan-kepulauan di timur, rohaniawan-
rohaniawan Kristen dan Islam diketahui sudah aktif pada abad ke-16 dan 17,
dan saat ini ada mayoritas yang besar dari kedua agama di kepulauan-
kepulauan tersebut. Penyebaran Islam didorong hubungan perdagangan di
luar Nusantara; umumnya pedagang dan ahli kerajaan lah yang pertama
mengadopsi agama baru tersebut. Kerajaan penting termasuk Mataram di
Jawa Tengah, dan Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore di Maluku di
timur.
Peradaban Eropa, hadir sejak abad ke-16, mula-mula dalam bentuk
peradaban Iberia (Spanyol dan Portugis), kemudian Britania Raya, dan
Belanda. Marcopolo menjadi orang Eropa pertama yang bercerita tentang
perjalanannya ke bandar-bandar pantai utara Samara pada tahun 1291.
Mulai tahun 1602 Belanda secara perlahan-lahan menjadi penguasa wilayah
Nusantara dengan memanfaatkan perpecahan di antara kerajaan-kerajaan
kecil yang telah menggantikan Majapahit. Pada dekad ke-17 dan 18 Hindia-
Belanda tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh
perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (Verenigde
Oostindische Compagnie atau VOC). VOC telah diberikan hak monopoli
terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh
parlemen Belanda pada tahun 1602. Markasnya berada di Batavia, yang kini
bernama Jakarta. VOC menjadi terlibat dalam politik internal Jawa pada masa
itu dan bertempur dalam beberapa peperangan yang melibatkan pemimpin
Mataram dan Banten. Setelah VOC jatuh bangkrut pada akhir dekad ke-18
dan setelah kekuasaan Britania yang pendek di bawah Thomas Stamford
Raffles, pemerintah Belanda mengambil alih kepemilikan VOC pada tahun
1816. Pada 1901 pihak Belanda melancarkan Politik Etis (Ethische Politiek),
yang termasuk investasi yang lebih besar dalam pendidikan bagi orang-orang
pribumi, dan sedikit perubahan politik. Di bawah gubernur-jendral J.B. van
Heutsz pemerintah Hindia-Belanda memperpanjang kekuasaan kolonial
secara langsung di sepanjang Hindia-Belanda, dan dengan itu mendirikan
fondasi bagi negara Indonesia saat ini. Pada saat ini, Pemerintah Hindia
Arsitektur Nusanatara Page 4

Belanda mendirikan kota-kota dengan berbagai macam fasilitas seperti
bangunan perkantoran, rumah sakit, bangunan ibadah (masjid dan gereja) dan
lain sebagainya.
Penetrasi Jepang di Asia Tenggara pada tahun 1941 disambut pada
bulan yang sama dengan menerima bantuan Jepang untuk mengadakan
revolusi terhadap pemerintahan Belanda. Pasukan Belanda terakhir
dikalahkan Jepang pada Maret 1942.
2. Geografi dan Lingkungan
Nusantara beriklim tropis sesuai dengan letaknya yang melintang di
sepanjang garis khatulistiwa. Dataran Indonesia kurang lebih 1.904.000
kilometer persegi terletak antara 60 garis lintang utara dan 110 garis lintang
selatan serta 950 dan 1400 garis bujur timur. Dataran ini dibagi menjadi
empat satuan geografis yaitu kepulauan Sunda Besar (Sumatra, Jawa, Bali,
Kalimantan, Sulawesi), Kepulauan Sunda Kecil (Lombok, Sumba, Sumbawa,
Komodo, Flores, Alor, Savu, dan Lembata), Kepulauan Maluku (Halmahera,
Ternate, Tidore, Seram dan Ambon), dan Irian Jaya beserta kepulauan Aru.
Seluruh pulau di Indonesia termasuk dalam zona iklim khatulistiwa dengan
suhu yang hampir konstan serta dipengaruhi oleh angin musim dan angin
pasat. Secara geologis, Nusantara terdiri dari bentukan vulkanik dan
nonvulkanik yang saling berjalin, sehingga Indonesia merupakan wilayah
seismik paling aktif di dunia, tercatat kira-kira 500 gempa bumi setahun.
Sejak akhir tahun 2004 hingga 2006 tercatat lebih dari 1000 kali gempa bumi.
Selain gempa bumi, wilayah Nusantara juga merupakan wilayah yang rawan
tsunami, berdasarkan katalog gempa (1629 - 2002) di Indonesia pernah terjadi
Tsunami sebanyak 109 kali, terakhir kali bencana tsunami yang paling besar
terjadi akhir 2004 melanda wilayah Naggroe Aceh Darussalam.
3. Keragaman Budaya
Indonesia memiliki 18,018 buah pulau yang tersebar di sekitar khatulistiwa
mulai dari 60 garis lintang utara dan 110 garis lintang selatan serta 950 dan
1400 garis bujur timur. Diantara puluhan ribu pulau tersebut terdapat lima
pulau besar, yaitu: Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya,
dengan pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, di mana lebih dari
Arsitektur Nusanatara Page 5

setengah (65%) populasi Indonesia hidup dipulau ini. Flora dan fauna
Indonesia sangatlah beragam jenisnya. Setiap pulau memiliki kekhasan
sendiri dan sering menjadi ikon dalam perkembangan wilayah atau daerah
tersebut. Selain itu, Indonesia juga kaya dengan keberagaman etnis, terdapat
kurang lebih 300 suku yang berbicara dalam 500 bahasa dan dialek.
Berdasarkan sosial linguistik, kebanyakan orang Indonesia berbahasa
Austronesia yang kelompok wilayahnya persebarannya meliputi banyak
pulau di Asia Tenggara, sebagian dari Vietnam Selatan, Taiwan Mikronesia,
Polinesia dan Madagaskar sehingga memiliki banyak kesamaan warisan
budaya. Pengaruh budaya Austronesia pada budaya Indoenesia terlihat dalam
budaya materi, organisasi sosial, kepercayaan, mitos, serta bahasa. Indonesia,
selain kekayaan bahasa, masing-masing etnis memiliki keunikan adat istiadat
dan budaya yang sering direfleksikan dalam keunikan arsitektur lokal atau
vernakular. Apabila setiap etnik memiliki satu karakteristik arsitektur
vernakular, maka terdapat kurang lebih 500 arsitektur vernakular di Indonesia
yag merupakan kekayaan tiada tara bagi bangsa Indonesia.

B. Nusantara dan Jaringan Asia
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, wilayah Nusantara terletak pada
persilangan jalan, antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, atau lebih
khusus, Benua Asia dan Australia. Persilangan ini telah menjadikan wilayah
Nusantara sebagai tempat persinggahan bagi pelayar dan pedagang terutama
dari China ke India atau sebaliknya. Selain kedua bangsa Asia ini, terdapat
juga pengaruh lain dari berbagai budaya hebat di dunia seperti peradaban
Iberia (Spanyol dan Portugis), kemudian Britania Raya, dan Belanda. Dari
luas dan letak wilayahnya, Indonesia dikategorikan sebagai negara besar yang
cukup berpengaruh di Asia. Jaringan ini telah berlangsung beratus tahun
lamanya, beberapa peninggalan budaya yang nampak atas pengaruh yang
pernah singgah masih ada seperti misalnya kebudayaan India pengaruhnya
mencakup terhadap penyebaran dan perkembangan Hindu Buddha dan Islam
di Indonesia yang bisa diketahui dari tinggalan budayanya yaitu arsitektur
candi dan arsitektur masjid bergaya Moghul di Indonesia. Sama halnya
Arsitektur Nusanatara Page 6

dengan India, pengaruh kebudayaan China hingga sekarang ini masih sangat
besar dapat terlihat dalam berbagai sapek kehidupan; kepercayaan, bahasa,
makanan, sistem pertanian dan lain sebagainya. Kemajuan maritim di China
pada masa Dinasti Ming telah membawa pelayar-pelayar tangguh mengarungi
wilayah Nusantara. Perdagangan silang antara China dan India telah membuat
Nusantara dan Asia Tenggara menjadi tempat persinggahan setiap kali
berlayar. Pertukaran budaya terjadi dengan adanya interaksi perdagangan
antara pedagang atau pelayar China dengan penduduk setempat yang
disinggahi. Terdapat banyak tinggalan sejarah yang mendapat pengaruh
peradaban Cina di Indonesia terutama pada klenteng dan bangunan pertokoan
yang tersebar pada kota-kota lama di seluruh wilayah Indonesia.
Budaya Jepang pertama kali masuk ke Nusantara pada sepertiga abad ke 20.
Melalui propaganda militer saudara tua Jepang dengan leluasa masuk ke
wilayah Nusantara. Penetrasi politik Jepang selama 3,5 tahun tidak banyak
meninggalkan monumen atau tinggalan bangunan bersejarah di Indonesia
seperti halnya India dan Cina, akan tetapi kemiripan pada arsitektur
vernakular yang sangat dipengaruhi oleh budaya Austronesia menjadi
pembahasan yang menarik dalam buku ajar ini. Sebagai salah satu negara
besar dengan konsep arsitektur timur yang kuat pernah menduduki Nusantara
maka sangat penting untuk diketahui bagaimana sejarah perkembangan dan
konsep arsitektur Jepang. Pembahasan buku ajar ini selain menjabarkan
sejarah perkembangan arsitektur di Indonesia yang mendapatkan pengaruh
dari peradaban Asia (India, Cina dan Jepang) di Indonesia juga membahas
konsep dan perkembangan arsitektur di ketiga negara tersebut. Arsitektur
Nusantara, dan Arsitektur Asia : India, Cina dan Jepang mewakili pemikiran
tentang arsitektur timur.
Sejarah Perkembangan Arsitektur Indonesia
Perkembangan kebudayaan erat kaitannya dengan sejarah kebangsaan. Secara
umum periodisasi sejarah budaya Indonesia dibagi atas tiga bagian besar
yaitu Zaman Hindu-Budha, Zaman Islamisasi dan Zaman Modern, dengan
proses oksidentalisasi. Sebenarnya terdapat satu zaman lagi sebelum zaman
Hindu Buddha yaitu Zaman prasejarah akan tetapi pembahasan serta diskusi
Arsitektur Nusanatara Page 7

tentang zaman ini tidak banyak contoh yang tersisa dalam bidang arsitektur
terutama pada masa prasejarah awal.
Perkembangan arsitektur mulai dari masa Prasejarah Akhir yang
ditandai dengan ditemukannya kubur batu di Pasemah, Gunung Kidul dan
Bondowoso. Kemudian situs-situs megalitikum punden berundak di
Leuwilang, Matesih, Pasirangin. Sebagaimana diketahui bahwa sejarah
budaya yang melahirkan peninggalan budaya termasuk arsitektur sejalan
dengan periodisasi tersebut diatas, maka dapat dikategorikan sebagai
arsitektur percandian, arsitektur selama peradaban Islam (bisa termasuk
arsitektur lokal atau tradisional, dan pra modern) dan arsitektur modern
(termasuk arsitektur kolonial dan pasca kolonial). Keberadaan arsitektur lokal
yang identik dengan bangunan panggung berstruktur kayu telah ada sebelum
atau bersamaan dengan pembangunan candi-candi. Hal ini ditunjukkan dari
berbagai keterangan pada relief candi-candi dimana terdapat informasi
tentang arsitektur lokal/domestik atau tradisional atau vernakular nusantara.
Akan tetapi jikalau menilik usia dari bangunan vernakular yang ada di
Indonesia, tidak ada yang lebih dari 150 tahun. Pembahasan pada buku ajar
ini tentang perkembangan arsitektur Indonesia dapat diurutkan sebagai
berikut
o Arsitektur vernacular
o Arsitektur klasik atau candi
o Arsitektur pada masa perabadan atau kebudayaan Islam
o Arsitektur Kolonial
o Arsitektur Modern (pasca kemerdekaan)








Arsitektur Nusanatara Page 8

Pengaruh Kepercayaan/Keyakinan Terhadap Arsitektur Nusantara

A. Pengaruh Aritektur Islam Pada Arsitektur Indonesia
Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak
kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha seperti yang
terlampir sebelumnya. Dengan masuknya Islam, Indonesia kembali mengalami
proses akulturasi (proses bercampurnya dua (lebih) kebudayaan karena
percampuran bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi), yang melahirkan
kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia. Masuknya Islam tersebut
tidak berarti kebudayaan Hindu dan Budha hilang. Ajaran Islam mulai masuk ke
Indonesia sekitar abad Penyebaran awal Islam di Nusantara dilakukan pedagang-
pedagang Arab, Cina, India dan Parsi. Setelah itu, proses penyebaran Islam
dilakukan oleh kerajaan-kerajaan Islam Nusantara melalui perkawinan,
perdagangan dan peperangan. Banyak masjid yang diagungkan di Indonesia tetap
mempertahankan bentuk asalnya yang menyerupai (misalnya) candi
Hindu/Buddha bahkan pagoda Asia Timur, atau juga menggunakan konstruksi
dan ornamentasi bangunan khas daerah tempat masjid berada. Pada
perkembangan selanjutnya arsitektur mesjid lebih banyak mengadopsi bentuk dari
Timur Tengah, seperti atap kubah bawang dan ornamen, yang diperkenalkan
Pemerintah Hindia Belanda. Kalau dilihat dari masa pembangunannya, masjid
sangat dipengaruhi pada budaya yang masuk pada daerah itu. Masjid dulu,
khususnya di daerah pulau Jawa, memiliki bentuk yang hampir sama dengan
candi Hindu Budha. Hal ini karena terjadi akulturasi budaya antara budaya
setempat dengan budaya luar.Antar daerah satu dengan yang lain biasanya juga
terdapat perbedaan bentuk. Hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan
budaya setempat. Bentuk budaya sebagai hasil dari proses akulturasi tersebut,
tidak hanya bersifat kebendaan/material tetapi juga menyangkut perilaku
masyarakat Indonesia. Wujud akulturasi dalam seni bangunan dapat terlihat pada
bangunan masjid, makam, istana. Untuk lebih jelasnya silakan Anda simak
gambar berikut:
Arsitektur Nusanatara Page 9


''Masjid Aceh merupakan salah satu masjid kuno di Indonesia.''

Wujud akulturasi dari masjid kuno seperti yang tampak pada gambar
memiliki ciri sebagai berikut: Atapnya berbentuk tumpang yaitu atap yang
bersusun semakin ke atas semakin kecil dari tingkatan paling atas berbentuk
limas. Jumlah atapnya ganjil 1, 3 atau 5. Dan biasanya ditambah dengan
kemuncak untuk memberi tekanan akan keruncingannya yang disebut dengan
Mustaka.Tidak dilengkapi dengan menara, seperti lazimnya bangunan masjid
yang ada di luar Indonesia atau yang ada sekarang, tetapi dilengkapi dengan
kentongan atau bedug untuk menyerukan adzan atau panggilan sholat. Bedug dan
kentongan merupakan budaya asli Indonesia.Letak masjid biasanya dekat dengan
istana yaitu sebelah barat alun-alun atau bahkan didirikan di tempat-tempat
keramat yaitu di atas bukit atau dekat dengan makam.
Selain bangunan masjid sebagai wujud akulturasi kebudyaan Islam, juga terlihat
pada bangunan makam. Untuk itu silahkan Anda simak gambar 2 makam Sendang
Duwur berikut ini:
Arsitektur Nusanatara Page 10


''Makam Sendang Duwur (Tuban)''

Ciri-ciri dari wujud akulturasi pada bangunan makam terlihat dari:
makam-makam kuno dibangun di atas bukit atau tempat-tempat yang keramat.
makamnya terbuat dari bangunan batu yang disebut dengan Jirat atau Kijing,
nisannya juga terbuat dari batu.di atas jirat biasanya didirikan rumah tersendiri
yang disebut dengan cungkup atau kubba,dilengkapi dengan tembok atau gapura
yang menghubungkan antara makam dengan makam atau kelompok-kelompok
makam. Bentuk gapura tersebut ada yang berbentuk kori agung (beratap dan
berpintu) dan ada yang berbentuk candi bentar (tidak beratap dan tidak
berpintu).di dekat makam biasanya dibangun masjid, maka disebut masjid makam
dan biasanya makam tersebut adalah makam para wali atau raja. Contohnya
masjid makam Sendang Duwur seperti yang tampak pada gambar tersebut.

1. Masjid Agung Demak

''Tampak depan Masjid Agung Demak ''
Arsitektur Nusanatara Page 11


Masjid Agung Demak adalah sebuah mesjid tertua di Indonesia. Masjid ini
terletak di desa Kauman, Demak, Jawa Tengah. Masjid ini dipercayai pernah
menjadi tempat berkumpulnya para ulama (wali) penyebar agama Islam, disebut
juga Walisongo, untuk membahas penyebaran agama Islam di Tanah Jawa
khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah
Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak. Masjid ini mempunyai
bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang
utama yang disebut saka guru. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka.
Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka
Majapahit. Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa
makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di sana juga terdapat
sebuah museum, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat berdirinya Masjid
Agung Demak.

2. Masjid Menara Kudus



Masjid Menara Kudus (disebut juga sebagai mesjid Al Aqsa dan Mesjid Al
Manar) adalah mesjid yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 Masehi
Arsitektur Nusanatara Page 12

atau tahun 956 Hijriah dengan menggunakan batu dari Baitul Maqdis dari
Palestina sebagai batu pertama dan terletak di desa Kauman, kecamatan Kota,
kabupaten Kudus, Jawa Tengah.Yang paling monumental dari bangunan masjid
ini adalah menara berbentuk candi bercorak Hindu Majapahit, bukan pada
ukurannya yang besar saja, tetapi juga keunikan bentuknya yang tak mudah
terlupakan. Bentuk ini tidak akan kita temui kemiripannya dengan berbagai
menara masjid di seluruh dunia.Keberadaannya yang tanpa-padanan karena
bentuk arsitekturalnya yang sangat khas untuk sebuah menara masjid itulah yang
menjadikannya begitu mempesona. Dengan demikian bisa disebut menara masjid
ini mendekati kualitas genius locy.
''Menara Masjid Kudus merupakan
bangunan menara masjid paling unik di Kota Kudus karena bercorak Candi
Hindu Majapahit''

Bangunan menara berketinggian 18 meter dan berukuran sekitar 100 m persegi
pada bagian dasar ini secara kuat memperlihatkan sistem, bentuk, dan elemen
bangunan Jawa-Hindu. Hal ini bisa dilihat dari kaki dan badan menara yang
dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya
bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat
semen, namun konon dengan dengan digosok-gosok hingga lengket serta secara
khusus adanya selasar yang biasa disebut pradaksinapatta pada kaki menara yang
Arsitektur Nusanatara Page 13

sering ditemukan pada bangunan candi. Teknik konstruksi tradisional Jawa juga
dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan
berkonstruksi kayu jati dengan empat soko guru yang menopang dua tumpuk atap
tajuk. Sedangkan di bagian puncak atap tajuk terdapat semacam mustoko (kepala)
seperti pada puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di
Jawa yang jelas merujuk pada elemen arsitektur Jawa-Hindu.

1. Masjid Agung Banten


Kompleks bangunan masjid di Desa Banten Lama, sekitar 10 km sebelah utara
kota Serang, ibu kota Provinsi Banten ini menjadi obyek wisata ziarah arsitektur
yang sangat menarik, karena gaya seni bangunan yang unik dan terdapat elemen
arsitektur menarik. Sisi menarik pertama dari bangunan utama masjid, yang
dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sutan
pertama Kasultanan Demak yang juga putra pertama Sunan Gunung Jati itu
adalah atapnya yang tumpuk lima. Menurut tradisi, rancangan bangunan utama
masjid yang beratap tumpuk lima ini dipercayakan kepada arsitek Cina bernama
Cek Ban Cut. Selain jumlah tumpukan, bentuk dan ekspresinya juga menampilkan
keunikan yang tidak ditemui kesamaannya dengan masjid-masjid di sepanjang
Pulau Jawa, bahkan di seluruh Indonesia. Yang paling menarik dari atap Masjid
Arsitektur Nusanatara Page 14

Agung Banten adalah justru pada dua tumpukan atap konsentris paling atas yang
samar-samar mengingatkan idiom pagoda Cina. Kedua atap itu berdiri tepat di
atas puncak tumpukan atap ketiga dengan sistem struktur penyalur gaya yang
bertemu pada satu titik. Peletakan seperti itu memperlihatkan kesan seakan-akan
atap dalam posisi kritis dan mudah goyah, namun hal ini justru menjadi daya tarik
tersendiri. Dua tumpukan atap paling atas itu tampak lebih berfungsi sebagai
mahkota dibanding sebagai atap penutup ruang bagian dalam bangunan. Tak
heran jika bentuk dan ekspresi seperti itu sebetulnya dapat dibaca dalam dua
penafsiran: masjid beratap tumpuk lima atau masjid beratap tumpuk tiga dengan
ditambah dua mahkota di atasnya sebagai elemen estetik. Elemen menarik lainnya
adalah menara di sebelah timur yang besar dan monumental serta tergolong unik
karena belum pernah terdapat bentuk menara seperti itu di Jawa, bahkan di
seluruh Nusantara. Dikarenakan menara bukanlah tradisi yang melengkapi masjid
di Jawa pada masa awal, maka Masjid Agung Banten termasuk di antara masjid
yang mula-mula menggunakan unsur menara di Jawa. Tradisi menyebutkan,
menara berkonstruksi batu bata setinggi kurang lebih 24 meter ini dulunya konon
lebih berfungsi sebagai menara pandang/pengamat ke lepas pantai karena
bentuknya yang mirip mercusuar daripada sebagai tempat mengumandangkan
azan. Yang jelas, semua berita Belanda tentang Banten hampir selalu
menyebutkan menara tersebut, membuktikan menara itu selalu menarik perhatian
pengunjung Kota Banten masa lampau.
2. Masjid Sultan Suriansyah


Arsitektur Nusanatara Page 15

Masjid Sultan Suriansyah adalah sebuah masjid bersejarah yang merupakan
masjid tertua di Kalimantan Selatan. Masjid ini dibangun di masa pemerintahan
Sultan Suriansyah (1526-1550), raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam.
Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota
Banjarmasin. Masjid bergaya tradisional Banjar pada bagian mihrabnya memiliki
atap sendiri terpisah dengan bangunan induk. Masjid ini didirikan di tepi sungai
Kuin. Pola ruang pada Masjid Sultan Suriansyah merupakan pola ruang dari
arsitektur Masjid Agung Demak yang dibawa bersamaan dengan masuknya
agama Islam ke daerah ini oleh Khatib Dayan. Arsitektur mesjid Agung Demak
sendiri dipengaruhi oleh arsitektur Jawa Kuno pada masa kerajaan Hindu.
Identifikasi pengaruh arsitektur tersebut tampil pada tiga aspek pokok dari
arsitektur Jawa Hindu yang dipenuhi oleh masjid tersebut. Tiga aspek tersebut :
atap meru, ruang keramat (cella) dan tiang guru yang melingkupi ruang cella.
Meru merupakan ciri khas atap bangunan suci di Jawa dan Bali. Bentuk atap yang
bertingkat dan mengecil ke atas merupakan lambang vertikalitas dan orientasi
kekuasaan ke atas. Bangunan yang dianggap paling suci dan dan penting memiliki
tingkat atap paling banyak dan paling tinggi. Ciri atap meru tampak pada Masjid
Sultan Suriansyah yang memiliki atap bertingkat sebagai bangunan terpenting di
daerah tersebut. Bentuk atap yang besar dan dominan, memberikan kesan ruang
dibawahnya merupakan ruang suci (keramat) yang biasa disebut cella. Tiang guru
adalah tiang-tiang yang melingkupi ruang cella (ruang keramat). Ruang cella yang
dilingkupi tiang-tiang guru terdapat di depan ruang mihrab, yang berarti secara
kosmologi cella lebih penting dari mihrab.

B. Pengaruh India di Bidang Arsitektur
Arsitektur atau seni bangunan ala masa India juga bertahan hingga kini.
Meski tampilannya tidak lagi serupa benar dengan bangunan Hindu-Buddha
(candi), tetapi pengaruh Hindu-Buddha membuat arsitektur bangunan yang ada di
Indonesia menjadi khas.
Salah satu cirri bangunan Hindu-Buddha adalah berundak. Sejumlah undakan
umumnya terdapat di struktur bangunan candi yang ada di Indonesia. Undakan
Arsitektur Nusanatara Page 16

tersebut paling jelas terlihat di Candi Borobudur, bangunan peninggalan Dinasti
Syailendra yang beragama Buddha.
Hal yang khas dari arsitektur candi adalah adanya 3 bagian utama yaitu kepala,
badan dan kaki. Ketiga bagian ini melambangkan triloka atau tiga dunia,
yaitu: bhurloka (dunia manusia), bhuvarloka (dunia orang-orang yang tersucikan),
dan svarloka (dunia para dewa). Untuk lebih jelasnya, lihat Figure 1.




Pengaruh sistem 3 tahap hidup religious manusia ini bertahan cukup lama.
Bahkan ia banyak diadaptasi oleh bangunan-bangunan yang dibangun pada masa
yang lebih kekinian. Bangunan-bangunan yang memiliki ciri seperti ini beranjak
dari bangunan spiritual semisal masjid maupun profan (biasa) semisal Gedung
Sate di Bandung.
Arsitektur semacam candi ini sebagian terus bertahan dan mempengaruhi
bangunan-bangunan lain yang lebih modern. Misalnya, Masjid Kudus
mempertahankan pola arsitektur bangunan Hindu ini. Masjid Kudus aslinya
bernama Masjid Al Aqsa, dibangun Jafar Shodiq (Sunan Kudus) tahun 1549 M.
Yang unik adalah, sebuah menara di sisi timur bangunan masjid menggunakan
arsitektur candi Hindu.
Arsitektur Nusanatara Page 17

Selain bentuk menara, sisa lain arsitektur Hindu pun terdapat pada gerbang
masjid yang menyerupai gapura sebuah pura. Juga tidak ketinggalan lokasi
wudhu, yang pancurannya dihiasi ornament khas Hindu.
Banyak hipotesis yang diutarakan mengapa Jafar Shodiq menempatkan arsitektur
Hindu ke dalam sebuah masjid. Hipotesis pertama mengasumsikan pembangunan
tersebut merupakan proses akulturasi antara budaya Hindu yang banyak
dipraktekkan masyarakat Kudus sebelumnya dengan budaya Arab-Persia yang
hendak dikembangkan. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi Cultural Shock yang
berakibat terasingnya orang-orang pemeluk Islam baru sebab tercerabut secara
tiba-tiba dari budaya mereka.
Hipotesis kedua menyatakan bahwa penempatan arsitektur Hindu
diakibatkan para arsitek dan tukang yang membangun masjid menguasai gaya
bangunan Hindu. Ini berakibat hasil pembangunan mereka bercorak Hindu.
Pengaruh arsitektur Hindu pun terjadi pada bangunan yang lebih kontemporer
semisal Gedung Sate yang terletak di Kota Bandung. Gedung Sate didirikan tahun
1920-1924 dengan arsiteknya Ir. J. Gerber. Ornamen-ornamen di bawah dinding
gedung secara kuat bercirikan ornament masa Hindu Indonesia. Termasuk pula,
menara yang terletak di puncak atas gedung yang mirip dengan menara masjid
Kudus atau tumpak yang ada di bangunan suci Hindu di daerah Bali.
Jika lebih didekati, maka bagian bawah dinding Gedung Sate memuat ornament-
ornamen khas Hindu. Tentu saja, arsitektur Gedung Sate tidak murni berisikan
arsitektur Hindu. Ia merupakan perpaduan antara arsitektur Belanda dengan Lokal
Indonesia.
Bangunan modern lain yang memiliki nuansa arsitektur Hindu juga
ditampakkan Masjid Demak. Nuansa arsitektur Hindu pada masjid yang didirikan
tahun 1466 M misalnya tampak pada atap limas yang bersusun tiga, mirip dengan
candi dimana bermaknakan bhurloka, bhuvarloka, dan svarloka. Namun, tiga
makna tersebut kemudian ditransfer kearah aqidah Islam menjadi islam, iman, dan
ihsan.
Ciri lainnya adalah bentuk atap yang mengecil dengan kemiringan lebih
tegak ketimbang atap di bawahnya. Atap tertinggi yang berbentuk limasan
Arsitektur Nusanatara Page 18

ditambah hiasan mahkota pada puncaknya. Komposisi ini mirip meru, bangunan
tersuci di pura Hindu.

Pengaruh Bidang Pertanian Terhadap Arsitektur Nusantara

A. Arsitektur Dayak
1. Sekilas Tentang Dayak
Dayak merupakan nama kolektif untuk demikian banyak suku asli di
Kalimantan, yang sebagian besar menghuni daerah pedalaman. Daerah
hilir atau daerah pantai yang mengitari mereka dihuni oleh orang Melayu,
Banjar, Bugis, Jawa, Madura, dan lain-lain.
Suku Dayak, sebagaimana suku lainnya , memiliki kebudayaan dan
adat istiadat yang berlaku bagi mereka. Kebudayaan Dayak terus
mengalami perubahan karena pengaruh dari luar dan dalam. Beberapa
program pembangunan dan pembaharuan, kurang menghargai nilai-nilai
budaya yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat Dayak. Pada
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kurang memahami pola
kehidupan dan cara berpikir masyarakat Dayak. Contohnya adalah
rumah panjang atau rumah betang orang Dayak, yang dipandang
sebagai salah satu faktor penghambat dalam pembinaan dan
pembangunan masyarakat yang modern.
2. Makna Rumah
Rumah betang yang merupakan rangkaian tempat tinggal yang
bersambung telah dikenal hampir oleh seluruh suku Dayak. Orang Iban
menyebutnya betai panjae, dan orang Banuaka menyebutnya sao
langke.
Rumah betang memberikan makna tersendiri bagi penghuninya.
Bagi masyarakat Dayak, rumah betang adalah pusat kebudayaan mereka
karena hampir seluruh kegiatan hidup mereka berlangsung disana. Ralp
Linton ( dalam The Culture Background of Personality, New York:
Appleton-Century-Croft, 1945, yang dimuat oleh editor T.O Ilrohmi
Arsitektur Nusanatara Page 19

dalam buku yang disuntingnya dan diberi judul Pokok-Pokok
Antropologi Budaya ) mengatakan :
Kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang
manapun dan tidak hanya mengenai sebagian dari cara hidup itu yaitu
bagian yang oleh masyarakat dianggap lebih tinggi atau lebih diinginkan.
Keseluruhan ini mencakup kegiatan-kegiatan dunia seperti mencuci
piring atau menyetir mobil dan untuk tujuan mempelajari kebudayaan,
hal ini sama derajatnya dengan hal-hal yang lebih halus dalam
kehidupan. Karena itu, bagi seorang ilmu ahli sosial tidak ada masyarakat
atau perorangan yang tidak memiliki kebudayaan. Tiap masyarakat
mempunyai kebudayaan, bagaimanapun sederhananya kebudayaan itu
dan setiap manusia adalah makhluk berbudaya, dalam arti mengambil
bagian dari suatu kebudayaan.
3. Kehidupan Komunal Di Rumah Betang
Rumah betang yang tersisa pada masyarakat Dayak merupakan
contoh kehidupan budaya tradisional yang mampu bertahan dan
beradaptasi dengan lingkungan. Kiranya perlu diungkapkan lebih jauh
faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat Dayak dapat
mempertahankan rumah betang mereka.
Masyarakat Dayak memiliki naluri untuk selalu hidup bersama
secara berdampingan dengan alam dan warga masyarakat lainnya.
Mereka gemar hidup damai dalam komunitas yang harmonis sehingga
berusaha terus bertahan dengan pola kehidupan rumah betang. Harapan
ini didukung oleh kesadaran setiap individu untuk menyelaraskan
kepentingannya dengan kepentingan bersama. Kesadaran tersebut
dilandasi oleh alam pikiran religio-magis, yang menganggap bahwa
setiap warga mempunyai nilai dan kedudukan serta hak hidup yang sama
dalam lingkungan masyarakatnya.
Dengan mempertahankan rumah betang, masyarakat Dayak tidak
menolak perubahan, baik dari dalam maupun dari luar, terutama
perubahan yang menguntungkan dan sesuai dengan kebutuhan rohaniah
dan jasmaniah mereka.
Arsitektur Nusanatara Page 20

Pola pemukiman rumah betang erat hubungannya dengan sumber-
sumber makanan yang disediakan oleh alam sekitarnya, seperti lahan
untuk berladang, sungai yang banyak ikan, dan hutan-hutan yang dihuni
binatang buruan. Namun dewasa ini, ketergantungan pada alam secara
bertahap sudah mulai berkurang. Masyarakat Dayak telah mulai
mengenal perkebunan dan peternakan.
Rumah betang menggambarkan keakraban hubungan dalam keluarga
dan pada masyarakat.
4. Bagian Bagian Pada Rumah Betang Suku Dayak
a. Tangga
Tangga untuk naik ke rumah betang berjumlah tiga, yaitu di
ujung kiri kanan dan satu di bagian depan yang menandakan untuk
pengungkapan rasa komunitas dan solidaritas warga yang berada di
dalam rumah tersebut. Anak tangga biasanya mempunyai hitungan
mistik yaitu tonggak(ganjil), tunggak dan tidak boleh jatuh pada
hitungan tinggal (genap). Hitunggan anak tangga dimulai dari
hitunggan dari tonggak dan seterusnya sesuai tinggi rendahnya
rumah, kepala tangga dibuat patung kepala manusia yang dalam
mistiknya sebagai penunggu, penjaga rumah beserta isi keluarga
yang mendiami agar yidak diganggu oleh roh ataupun marabahaya.
b. Posisi tangga
Ada rumah betang yang memiliki tangga di kedua sisi ujung
rumah panjang. Biasanya untuk rumah yang ukurannya sangat
panjang (300 400 m) biasanya dibuat dengan tujuan
memudahkan akses dari kedua sisi masing-masing rumah.
Ada juga rumah betang yang memiliki hanya 1 tangga dan
terletak di depan dan tengah tengah. Ukuran panjang rumah ini
pun hanya mencapai 200 m.
Pada rumah betang yang baru (kepentingan pariwisata),
biasanya di bangun tiga tangga. Dua tangga di sisi kiri dan
kanan dan satu tangga di tengah bagian depan.
c. Pante
Arsitektur Nusanatara Page 21

Merupakan lantai yang berada didepan bagian luar atap yeng
menjorok ke luar, berfunggsi sebagai tempat antara lain: menjemur
padi, pakaian, untuk mengadakan upacara adat lainya. Lantai pante
berasal dari bahan bambu, belahan batang pinang, kayu bulatan
sebesar pergelangan tangan atau dari batang papan.
d. Serambi
Merupakan pintu masuk rumah setelah melewati pante yang
jumlahnya sesuai dengan jumlah kepala keluarga. Di depan serambi
ini apabila ada upacara adat kampung dipasang tanda khusus seperti
sebatang bambu yang kulitnya diarut halus menyerupai jumbai-
jumbai ruas demi ruas ( semacam janur ).
e. Sami
Merupakan ruangan terbuka milik bersama, digunakan sebagai
tempat menerima tamu, menyelenggarakan kegiatan warga yang
memerlukan. Ditempat ini biasanya para tamu yang datang
dipersilahkan duduk dan disuguhi hidangan oleh tuan rumah di bilik
yang didatangi sedangkan keluarga yang lain biasanya juga ikut
memberikan suguhan sebagai tanda kebersamaan antar keluarga
dalam komunitas di rumah panjang ini.
f. Dapur
Disudut ruangan dalam bilik masing-masing keluarga ada
dapur dengan kelengkapannya ( para api ).
g. Jungkar
Merupakan ruangan tambahan dibagian belakang bilik
keluarga masing-masing yang atapnya menyambung atap rumah
panjang atau ada kalanya bumbung atap berdiri sendiri tapi masih
merupakan bagian dari rumah panjang. Jungkar ini terkadang
ditempatkan di tangga masuk atau keluar bagi satu keluarga, agar
tidak mengganggu tamu yang sedang bertandang. Jungkar yang
atapnya menyambung pada atap rumah panjang dibuatkan tingaatn (
ventilasi pada atap yang terbuka dengan ditopang/disanggah kayu )
yang sewaktu hujan atau malam hari dapat ditutup kembali.[4]
Arsitektur Nusanatara Page 22

5. Bangunan-Bangunan Tambahan Selain Rumah Betang
Jurokng (lumbung padi) ; biasa berbentuk bujur sangkar dan
berukuran 4x4 atau 5x5 m. Di kalangan Dayak, lumbung merupakan
tempat menyimpan padi cadangan sekaligus tempa diadakan upacara
panen padi tempat bersyukur kepada Ponompa(Tuhan) atas hasil
panen yang ada.
Pelaman ;gubuk tempa peristirahatan yang terdapat di ladang.
Sandong ; beberapa sub suku Dayak mempunyai tradisi seperti suku
Indian yakni Totem. Dengan tiang penuh ukiran yang dipuncaknya
terdapat patung enggang mereka meyakini tempat itu adalah
penghubung antara dunia dan dunia di atas dunia. Biasanya juga ada
yang menyimpan tulang para leluhurnya di atas sandong.
6. Konstruksi Rumah Betang Secara Umum
Ada beberapa jenis rumah betang yang tersebar di kalimantan.
Sesuai dengan yang telah diungkap di atas, masing-masing sub suku yang
beragam (hingga 450 sub suku) membangun rumah panjang sesuai dengan
karakteristik budaya dan kondisi alam. Secara umum bentuk rumah betang
antar sub suku dibedakan dengan :



Arsitektur Nusanatara Page 23






Tanpa hiasan
Rumah betang dengan atap tanpa hiasan merupakan rumah betang yang
terbanyak yang masih dapat ditemui sekarang. Biasanya masih dihuni
sampai sekarang. Seperti di daerah Kapuas Hulu, Sanggau dan Pontianak
Kalimantan Barat.
Arsitektur Nusanatara Page 24


B. Perkembangan Rumah Adat Toraja atau Tongkonan
Rumah Adat Suku Toraja mengalami perkembangan terus menerus sampai
kepada rumah yang dikenal sekarang ini. Perkembangan itu meliputi penggunaan
ruangan, pemakaian bahan, bentuk, sampai cara membangun. Sampai pada
keadaannya yang sekarang rumah adat suku Toraja berhenti dalam proses
perkembangan. Walaupun mengalami perkembangan terus menerus, tetapi rumah
adat Toraja atau Tongkonan tetap mempunyai ciri yang khas. Ciri ini terjadi
karena pengaruh dari lingkungan hidup dan adat istiadat suku Toraja sendiri.
Seperti halnya rumah adat suku-suku lain di Indonesia yang umumnya dibedakan
karena bentuk atapnya, rumah adat Toraja inipun mempunyai bentuk atap yang
khas. Memang mirip dengan rumah adat suku Batak, tetapi meskipun begitu
rumah adat suku Toraja tetap memiliki ciri-ciri tersendiri.



Arsitektur Nusanatara Page 25

Pada mulanya rumah yang didirikan masih berupa semacam pondok yang
diberi nama Lantang Tolumio. Ini masih berupa atap yang disangga dangan dua
tiang + dinding tebing.



Bentuk kedua dinamakan Pandoko Dena. Bentuk ini biasa disebut pondok
pipit karena letak-nya yang diatas pohon. Pada prinsipnya rumah ini dibuat atas 4
pohon yang berdekatan dan berfungsi sebagai tiang. Hal pemindahan tempat ini
mungkin disebabkan adanya gangguan binatang buas.



Perkembangan ketiga ialah ditandai dengan mulainya pemakaian tiang
buatan. Bentuk ini memakai 2 tiang yang berupa pohon hidup dan 1 tiang buatan.
Mungkin ini disebabkan oleh sukarnya mencari 4 buah pohon yang berdekatan.
Bentuk ini disebut Re'neba Longtongapa.

Arsitektur Nusanatara Page 26



Berikutnya adalah rumah panggung yang seluruhnya mempergunakan tiang
buatan. Dibawahnya sering digunakan untuk menyimpan padi (paliku), ini bentuk
pertama terjadinya lumbung.



Perkembangan ke-5 masih berupa rumah pangqung sederhana tetapi dengan tiang
yang lain. Untuk keamanan hewan yang dikandangkan dikolong rumah itu. Tiang-
tiang dibuat sedemikian rupa, sehingga cukup aman. Biasanya tiang itu tidak
dipasang dalam posisi vertikal tetapi merupakan susunan batang yang disusun
secara horisontal .


Lama sesudah itu terjadi perubahan yang banyak. Perubahan itu sudah
meliputi atap, fungsi ruang dan bahan. Dalam periode ini tiang-tiang kembali
dipasang vertikal tetapi dengan jumlah yang tertentu. Atap mulai memakai bambu
Arsitektur Nusanatara Page 27

dan bentuknya mulai berexpansi ke depan (menjorok). Tetapi garis teratas dari
atap masih datar. Dinding yang dibuat dari papan mulai diukir begitu juga tiang
penyangga. Bentuk ini dikenal dengan nama Banua Mellao Langi.



Berikutnya adalah rumah adat yang dinamakan Banua Bilolong Tedon.
Perkembangan ini terdapat pada Lantai yang mengalami perobahan sesuai
fungsinya.



Pada periode ini hanya terjadi perkembangan pada lantai dan tangga yang
berada di bagian depan.



Arsitektur Nusanatara Page 28

Pada periode ini letak tangga pindah ke bawah serta perubahan permainan
lantai
Banua Diposi merupakan nama yang dikenal untuk perkembangan
kesembilan ini. Perubahan ini lebih untuk menyempurnakan fungsi lantai
(ruang).
Berikutnya adalah perobahan lantai yang menjadi datar dan ruang hanya
dibagi dua. Setelah periode ini perkembangan selanjutnya tidak lagi
berdasarkan adat, tetapi lebih banyak karena persoalan kebutuhan akan ruang
dan konstruksi. Begitu juga dalam penggunaan materi mulai dipakainya
bahan produk mutakhir, seperti seng, sirap, paku, dan sebagainya. Jadi dapat
disimpulkan bahwa perkembangan yang terakhir merupakan puncak
perkembangan dari rumah adat Toraja.













Arsitektur Nusanatara Page 29

Pengaruh Suku Primitif Terhadap Arsitektur Nusantara

A. Arsitektur Rumah Adat Kajang

Gbr. Rumah Adat Suku Kajang

1. Proporsi dan Harmoni
Di Tana Toa, arah rumah semua menghadap Barat. Barat adalah
sebuah arah di mana simbol dari nenek moyang pertama Tana Toa
(Pakrasangan Iraya).


2. Keseimbangan, Ritme
Di Tana Toa, semua rumah warga dibangun dengan bentuk yang
sama. Konsep ini menunjukkan kesederhanaan dan sebagai simbol
keseragaman.
Arsitektur Nusanatara Page 30

3. Bagian Rumah Adat Kajan
Secara vertikal, rumah adat Kajang dapat dibagi 3 bagian, yaitu:




4. Bagian atas/atap



Bagian atas rumah kajang disebut Para yang merupakan tempat
menyimpan bahan makanan. Di bawah atap bagian kiri dan kanan terdapat
loteng yang berfungsi sebagai rak (para-para) tempat penyimpanan barang
dan alat.
5. Bagian tengah/badan
Bagian tengah atau Kale Balla berfungsi sebagai tempat hunian.
6. Bagian Bawah/kaki

Arsitektur Nusanatara Page 31


Bagian bawah atau kaki rumah (kolong) berfungsi sebagai tempat
melakukan kegiatan menenun, menumbuk padi atau jagung dan tempat
ternak.
7. Bagian Atas/Atap


Atap terbuat dari daun rumbia dan lembaranlembarannya kurang lebih
1,5 m. Pada bubungan atas depan dan belakang dipasang hiasan kayu
(anjong) berupa ekor ayam.
8. Bagian Tengah/Badan
Arsitektur Nusanatara Page 32


Gbr. Denah rumah adat kajang

Secara horisontal, rumah adat Kajang juga terdiri atas 3 bagian, yaitu:
Ruang depan (latta riolo) yang digunakan sebagai dapur dan ruang
tamu.
Ruang tengah (latta tangaga) digunakan untuk ruang makan, ruang
tamu adat, dan juga ruang tidur untuk anggota keluarga.
Ruang belakang (Tala) menjadi bilik kepala keluarga dan dibatasi
oleh dinding papan atau bambu. Lantai bilik ini lebih tinggi sekitar 30
cm (3 latta = genggam pemilik rumah) dari lantai ruang tengah dan
dapur.




Arsitektur Nusanatara Page 33



Dinding terbuat dari papan yang di ketam dan di pasang melintang.
Jendelajendela kecil yang berukuran 40 x 60 cm yang diletakkan sedikit
lebih tinggi dari lantai. Pintu keluar hanya ada satu buah, yaitu yang
diletakkan pada bagian tengah muka bangunan. Cat sama sekali tidak
mereka gunakan. Mereka banyak menggunakan pasak dan tali sembilu
bambu.
9. Bagian Bawah/Kaki

Tiangtiangnya ditanam ke dalam tanah dan kayunya hanya dapat
bertahan kurang lebih 10 tahun. Kayu ini biasanya disebut Nanasayya dan
istimewanya bila ada yang lapuk bisa langsung diganti tanpa perlu
Arsitektur Nusanatara Page 34

membongkar rumah. Tinggi tiang ke lantai kurang lebih 2 meter, sehingga
di bagian bawah rumah dimungkinkan melakukan kegiatan, seperti :
menenun, menumbuk padi atau jagung, tempat ternak, dan sebagainya.
Jumlah tiang 16 buah (4 x 4) dengan jarak antar tiang 12 meter. Luas
rumah sekitar 6 x 9 meter. Pada tiang tengah, benteng tangngaya biasanya
digantungkan tanduk kerbau yang pernah dipotong untuk upacara,
misalnya : upacara perkawinan.






Arsitektur Nusanatara Page 35

B. Rumah Tradisional Papua

Sebagai salah satu rumah khas tradisional asal Tanah Papua, Honai
memang tergolong unik. Selain menjadi istana pemberi kenyamanan bagi
penghuninya, di dalam Honai pun terkandung nilai-nilai filosofis budaya yang
tinggi.

o Perlengkapan Dan Bahan Pembuat Honai
Kebiasaaan dari suku atau orang dani dalam membangun honai yaitu
mereka mencari kayu yang memang kuat dan dapat bertahan dalam waktu
yang lama atau bertahun-tahun. Bahan yang digunakan sebagai berikut:
Kayu besi (oopir) digunakan sebagai tiang tengah
Kayu buah besar
Kayu batu yang paling besar
Kayu buah sedang
Jagat (mbore/pinde)
Tali
Alang-alang
Papan yang dikupas
Papan las,dll


Arsitektur Nusanatara Page 36



Honai sejak lama dikenal sebagai rumah tradisional suku Dani di
Kabupaten Jayawijaya dan suku-suku asli yang mendiami wilayah
pegunungan tengah Papua. Hingga kini, masyarakat di wilayah ini masih
membangun honai secara turun temurun sesuai tradisi budaya dan kondisi
setempat. Istilah honai berasal dari dua kata, yakni Hun yang berarti pria
dewasa dan Ai yang berarti rumah. Dari klasifikasinya, terdapat dua
jenis honai, yakni honai bagi kaum laki-laki dan perempuan.
o Atap
Honai memiliki bentuk atap bulat kerucut. Bentuk atap ini berfungsi
untuk melindungi seluruh permukaan dinding agar tidak mengenai dinding
ketika hujan turun.
Atap honai terbuat dari susunan lingkaran-lingkaran besar yang terbuat
dari kayu buah sedang yang dibakar di tanah dan diikat menjadi satu di
bagian atas sehingga membentuk dome. Empat pohon muda juga diikat di
tingkat paling atas dan vertikal membentuk persegi kecil untuk perapian.
Penutup atap terbuat dari jerami yang diikat di luar dome. Lapisan
jerami yang tebal membentuk atap dome, bertujuan menghangatan
ruangan di malam hari.
Jerami cocok digunakan untuk daerah yang beriklim dingin. Karena
jerami ringan dan lentur memudahkan suku Dani membuat atap serta
jerami mampu menyerap goncangan gempa.
Secara umum honai merupakan rumah adat tempat bermusyawarah
untuk kepentingan mengadakan pesta adat dan perang suku. Honai bagi
Arsitektur Nusanatara Page 37

kaum perempuan disebut Ebeai, yang terdiri dari dua kata, yakni
Ebe atau tubuh dalam pengertian kehadiran tubuh dan Ai yang berarti
rumah. Nama honai laki-laki dalam bahasa Lani disebut ap inakunu dan
honai perempuan disebut kumi inawi. Orang Lani mempunyai tiga
honai, yakni honai bagi kaum laki-laki, honai perempuan dan honai yang
dikhususkan untuk memberi makan atau memelihara ternak seperti babi.


Jadi tidak benar jika sejauh ini ada anggapan miring bahwa
masyarakat asli di Pegunungan Tengah Papua biasanya tidur bersama
ternak babi di dalam honai mereka. Sebab ada honai yang dibangun khusus
untuk memelihara babi. Dari modelnya, honai sering dibangun berbentuk
bulat dan pada atap bagian atasnya yang berbentuk kerucut atau kubah
(dome) di tutup dengan alang-alang. Garis tengah (diameter) mencapai 5
sampai 7 meter, tergantung tujuan pemanfaatannya. Honai bagi kaum
perempuan, bentuknya lebih pendek.












Arsitektur Nusanatara Page 38

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan dalam kajian ini dapat ditarik dua simpulan sebagai
berikut.
1. Tekanan rasionalitas atas moralitas arsitektur Nusantara dalam modernisme
menjadikan fungsi dan makna esensial (moralitas) dari berarsitektur bukan
lagi menjadi pertimbangan dominan untuk menjaga keselarasan alam dan
ruang bersama masyarakatnya, tetapi digantikan oleh pertimbangan nilai
tukar yang akan diperoleh. Oleh karenanya, moralitas yang dikandung
arsitektur Nusantara hendaknya senantiasa dipertahankan dan dikembangkan
dalam konteks kekinian sehingga arsitektur Nusantara tidak lagi diposisikan
sebagai produk budaya kuno yang eksistensinya begitu terikat pada masa lalu,
namun dimaknai sebagai arsitektur masa depan yang mampu menjaga
keselarasan alam dan ruang bersama masyarakat.
2. Arsitektur Nusantara sebagai bahasa (sarana komunikasi visual) dalam
membangun kesadaran kolektif masyarakatnya memerlukan bahasa yang
dikuasai dan dipahami oleh masyarakat itu sendiri yang lazim disebut bahasa
ibu, yaitu bahasa yang bersumber pada lokalitas dan moralitas masyarakat
pendukungnya yang selanjutnya disebut dengan kearifan lokal. Oleh
karenanya, kearifan lokal hendaknya dijadikan dasar pengembangan
arsitektur Nusantara yang selalu berorientasi pada kebenaran, keindahan, dan kebaikan
dalam menjaga keselarasan alam dan ruang hidup bersama masyarakat.










Arsitektur Nusanatara Page 39



Daftar Pustaka

o http://queensha66.blogspot.com/2010/07/sejarah-perkembangan-
arsitektur.html
o http://arsitektur.blog.gunadarma.ac.id/?p=292
o http://arsitektur.blog.gunadarma.ac.id/?p=292
o http://adhycoken.blogspot.com/2012/10/arsitektur-rumah-adat-betang-
suku-dayak.html
o http://elliana063.blogspot.com/2013/02/arsitektur-islam-di-indonesia.html
o http://chandrati09.blogspot.com/2011/05/pengaruh-india-di-bidang-
arsitektur.html
o http://adhycoken.blogspot.com/2012/10/arsitektur-tradisional-tongkonan-
toraja.html