Anda di halaman 1dari 32

Strategi umum Pengembangan

Lingkungan

Drs. Soendjojo Dirdjosoemarto, M.Pd
Ir. H. Taufik Kamil, MM
Deviyani, S.Si, M.T
Latar belakang
Konferensi stockholm 1972
April 1987, World Commission on Environment and Development
menyelesaikan tugasnya menyusun konsep pembangunan berkelanjutan
Dunia yang saat itu sedang dirundung kemelut lingkungan menyambut
konsep baru ini dengan penuh harapan.
35 juta orang menderita Kekeringan di Afrika, juga di beberapa
bagian di India
Tumpahan bahan kimkia di sungai Rhine
Kebocoran nuklir di Cernobyl
Kebocoran gas beracun di Bhopal India
Pembangunan Berkelanjutan
(sustanaibility Development)
pembangunan yang dapat memenuhi
kebutuhan dan aspirasi manusia saat ini,
tanpa mengurangi potensi pemenuhan
kebutuhan dan aspirasi manusia masa men
datang (Our Common Future).
Perlu sebuah upaya pengembangan
lingkungan

Strategi pengembangan lingkungan
Global
Nasional (Indonesia)
inti pokok yaitu bagaimana mempertahankan
lingkungan agar dapat dimamfaatkan didayagunakan
untuk kelangsungan saat ini dan seterusnya.
Landasan dari strategi pengembangan lingkungan ini
adalah pasal 33 UUD 1945 ayat 3 yang berbunyi
bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung
didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan
sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat .
Tujuan pengembangan lingkungan
1. Membina hubungan keselarasan antara manusia dengan lingkungan
1. Antara manusia dan masyarakat
2. Antara manusia dan lingkungan
3. Antara manusia dengan tuhan penciptanya
2. Melestarikan sumber-sumber alam agar bisa dimamfaatkan terus-menerus
oleh generasi demi
3. Mencegah kemerosotan mutu dan meningkatkan mutu lingkungan
sehingga menaikan kualitas mutu hidup indonesia
4. Membimbing manusia dari proses perusak lingkungan menjadi pembina
lingkungan karena manusia kurang informasi dan kurang
pengetahuan,manusia merusak lingkungan karena manusia menjadi
sasaran pembangunan perlu diusahakan agar sekaligus manusia menjadi
pembina lingkungan

Strategi tingkat Global:
Agenda 21 Global
Konferensi Tingkat Tinggi Bumi Konferensi tersebut merupakan
konferensi PBB tentang lingkungan dan Pembangunan (The United
Nations Conference on Environment and Development = UNCED)
Konferensi tersebut dihadiri oleh 179 negara badan-badan PBB,
organisasi internasional, organisasi non pemerintah, merupakan
tonggak sejarah untuk menyatukan pendapat para peserta.
menegaskan dan secara jelas dinyatakan bahwa antara
pembangunan lingkungan, ekonomi, serta sosial harus dilihat
sebagai suatu kesatuan yang tidak dipisahkan.
Konferensi menyadari bahwa komitmen dan kerja sama dunia
menjadi sangat penting untuk mewujudkan keberlanjutan
perekonomian dan masyarakat yang berwawasan lingkungan.

Agenda 21 Global
Terdiri dari 300 halaman dan 40 bab
Section I: Social and Economic Dimensions
This section is directed toward combating poverty, especially developing countries,
changing consumption patterns, promoting health, achieving a more sustainable
population, and sustainable settlement in decision making
Section II: Conservation and Management of Resources for Development
Includes atmospheric protection, combating deforestation, protecting fragile
environments, conservation of biological diversity, control of pollution and the
management of biotechnology, and radioactivewashes.
Section III: Strengthening the Role of Major Groups
Includes the roles of children and youth,woman, NGOs, local authorized, business
and workers and strengthening the role of indigenous peoples their communities,
and farmers
Section IV: Means of Implementation
Implementation includes science, technology transfer, education, international
institutions and financial mechanisms.

Deklarasi Rio tentang lingkungan dan pembangunan yang
menekankan keterkaitan antara pembangunan dan lingkungan.

Pernyataan tentang prinsip-prinsip kehutanan yang memberikan
landasan kesadaran bahwa hutan merupakan sumber daya penting
bagi pembangunan ekonomi, penyerapan CO2 dan untuk
perlindungan keanekaragman hayati dan pengelolaan DAS.

Konvensi tentang perubahan iklim: peerjanjian ini ditujukan
untuk menurunkan emisi CO2, CH4 dan GRK lainnya.

Konvensi tentang keanekaragaman hayati ditujukan untuk
mencegah kerusakan keanekaragaman hayati serta untuk
memperkenalkan dasar-dasar pelaksanaan kerja sama penelitian,
informasi, kegunaan dan teknologi untuk sumber daya genetik.

B. Penyusunan Agenda 21 Indonesia
Berdasarkan Agenda 21 Global Indonesia menyusun dokumen Agenda
21 Indonesia yang merupakan strategi nasional menuju pembangunan
berkelanjutan.

Tujuan Agenda 21 Indonesia adalah:

Untuk mengintegrasikan pembangunan ekonomi sosial dan lingkungan
ke dalam satu paket kebijakan dalam melanjutkan pembangunan
berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.
Memberikan serangkaian pandangan dan inspirasi yang dimasukkan
dalam proses perencanaan dan program pembangunan baik jangka
pendek maupun jangka panjang
Memberikan seperangkat saran dan rekomendasi bagi penyusunan
strategi pembangunan dan penyusunan GBHN.

Strategi tingkat Indonesia
Tepat 10 tahun
koneferesni Lingkungan
tingkat Dunia UNCHE
produk Undang-
Undang
UU no 4 tahun 1982
tentang ketentuan
pokok pengelolaan
lingkungan hidup
(UKPPLH)
undang-undang pokok yang merupakan dasar-dasar peraturan
pelaksanaan bagi semua sektor yang menyangkut lingkungan
hidup.Undang-undang ini berfungsi sebagai ketentuan payung bagi
peraturan lingkungan yang sudah ada maupun pengaturan lebih
lanjud bagi lingkungan hidup.
Kebijakan Lingkungan Hidup dan
Kependudukan
Tindak Lanjut
-Pertemuan tentang pengelolaan lingkungan hidup dan
pencegahan pencemaran (Menteri Negara PAN, 1971)

-Seminar pengelolaan lingkungan hidup dan
pembangunannasional (UNPAD, 1972)
Menjelang Konferensi
Stockholm (5 Juni 1972)
Perumusan program pembangunan lingkungan hidupdalam GBHN (1993
sekarang) antara lain pendidikan PKLH secara formal, informal dan non formal

Terbentuknya Menteri Negara Pengawasan Pembangunandan Lingkungan
Hidup (PPLH) pada kabinet Pembangunan III
Terbentuknya Menteri Negara Pengawasan Pembangunan danLingkungan
Hidup (PPLH) pada kabinet Pembangunan III
Terbentuknya Menteri KLH (Kabinet Pembangunan IV-VI) sampai
sekarang
terbentuknya Menteri Negara Lingkungan Hidup
kabinetPembangunan VII dituangkan dalam Agenda 21 Indonesia.
Masalah Pembangunan dan
Lingkungan Hidup di Indonesia
a. Perkembangan penduduk dan masyarakat
Pertumbuhan penduduk cepat dan masyarakat penduduk banyak
Sebagian besar penduduk (68%) usia muda
Jumlah pencari kerja banyak (50-60 juta) persebaran
penduduk tidak merata
80% penduduk hidup dari pertanian sederhana sampai
pendapatan rendah
Kesehatan dan gizi balita rendah rentanpenyakit
b. Perkembangan teknologi dan kebudayaan
Sebagai negara berkembang: kurang modal + kurang teknologi yang
serasi
Terpengaruh negara maju (padat modal, sedikit tenaga
kerja)
1. JUMLAH PENDUDUK BESAR
1.266,80
998,1
276,2
237
1.480,40
1.330,40
325,6
270,8
0,00
200,00
400,00
600,00
800,00
1.000,00
1.200,00
1.400,00
1.600,00
China India USA Indonesia
1999
2025
Empat negara yang memiliki penduduk terbanyak di dunia:
2010
T
r
e
n

L
P
P

1971-
1980
1980-
1990
1990-
2000
2000-
2010
2010-
2020
2020-
2025
Est. LPP 2.32 1.98 1.47 1.14 1.1 0.98
LPP Real 2.32 1.97 1.45 1.49
2.32
1.98
1.47
1.27
1.1
0.98
2.32
1.97
1.45
1.49
0.00
0.50
1.00
1.50
2.00
2.50
Est. LPP
LPP Real
1.27
KUANTITAS PENDUDUK INDONESIA
-Proyeksi Penduduk Bkl Sensus 2000 = 1.784.500
-Jlh Penduduk Bkl (10 %) Sensus 2011 = 1.713.393
Kelahiran = 71.107
-LPP Bengkulu = 1,64 % = 28.009,64
2,6%
Bali dan Nusa
Tenggara
5,5%
Jawa 57,49%
21,31%
Sumatera
5,8%
Kalimantan
7,31%
Sulawesi

Persentase Kepadatan Penduduk Indonesia menurut Pulau, 2010

14
14%
16%
18%
19%
20% 20%
21%
69%
65% 64%
62% 60% 60%
58%
4%
4% 4% 5% 5% 5%
6%
7% 7% 7% 7% 7% 7%
7%
7% 7% 7% 8% 7% 7% 8%
1930 1961 1971 1980 1990 2000 2010
Sumatera Jawa & Madura Kalimantan Sulawesi Lainnya
Konsentrasi penduduk tetap di Jawa,
walaupun persentasenya menurun tetapi sangat lamban
PERSEBARAN PENDUDUK
15
KUALITAS PENDUDUK INDONESIA/BKL

1. MMR : 228/100.000 kelahiran hidup/Bkl 157,49
2. IMR : 34 per 1.000 kelahiran hidup/Bkl 46
3. 60% penduduk hanya tamat SD atau lebih rendah
4. HDI peringkat ke 108 dari 188 Negara (thn 2009) dan urutan
ke 6 dari 10 Negara ASEAN
5. Angka Harapan Hidup Indonesia: 68/72 Tahun/Bkl 68,8/72
6. Angka kemiskinan: 31,02 juta jiwa (13,3% dari total penduduk
Indonesia) *BPS 2010/Bkl 18,3 %
7. Indikator kesejahteraan sosial lainnya
Indeks Pembangunan Gender: 66,38 % (thn 2008)
Indeks Pemberdayaan Gender: 62,27% (thn 2008)
8. Angka pengangguran: 7,14% dari angkatan kerja 116,5 juta
(BPS, Agustus 2010)
16
STRATEGI PENGEMBANGAN
LINGKUNGAN HIDUP

Kebijakan
Pengembangan
lingkungan
Kebijakan
kependudukan
Kebijakan
pengelolaan
lingkungan hidup
Jumlah penduduk
Kualitas penduduk
pendidikan, kesehatan, kesejahteraan
Pemukiman
penduduk(perkotaan/pedesaan)
Peningkatan pengetahuan dan kesadaran
terhadap pelestarian lingkungan hidup :-
monolitik-integartif


- Pengelolaan pertanian
Pertambangan dan industri
Pendayagunaan kekayaan laut
Kegiatan penunjang (ilmu,
teknologi, peraturan, sanksi)

Cakupan Agenda 21 Indonesia
Bagian I : Pelayanan Masyarakat, meliputi berbagai aspek sosial, ekonomi, dan
lingkungan hidup untuk meningkatkan kualitas masyarakat
pengentasan kemiskinan
perubahan pola konsumsi
dinamika kependudukan
pengelolaan dan peningkatan kesehatan
pengembangan perumahan dan pemukiman
sistem perdagangan global dan lingkungan terpadu
Bagian II : Pengelolaan Limbah, berisi strategi perlindungan global yang
ditimbulkan oleh limbah global dan nasional, meliputi :

perlindungan atmosfer
pengelolaan bahan kimia beracun
pengelolaan limbah B3
pengelolaan limbah radioaktif
pengelolaan limbah padat dan cair
Bagian III : Pengelolaan Sumber Daya Lahan, mencakup
pengelolaan sumber daya lahan, hutan, pertanian, dan air secara
berkelanjutan
Bagian IV : Pengelolaan Sumber Daya Alam, yang menguraikan
strategi untuk melestarikan keanekaragaman hayati, bioteknologi
dan sumber daya pesisir dan laut
penatagunaan sumber daya tanah
pengelolaan hutan
pengembangan pertanian dan pedesaan
Pengelolaan sumber daya air

konservasi keanekaragaman hayati
pengembangan bioteknologi
pengelolaan terpadu wilayah pesisir dan lautan
AMDAL
AMDAL diperkenalkan pertama kali th 1969 oleh National
Environmental Policy Act di Amerika Serikat. Menurut UU
No. 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan PP
No. 27/1999 tentang Analisis mengenai dampak lingkungan
hidup:
(AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan
penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan
pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha
dan/atau kegiatan.
Hal yang dikaji dalam proses AMDAL: aspek fisik-kimia,
ekologi, sosial-ekonomi, sosialbudaya,dan kesehatan
masyarakat sebagai pelengkap studi kelayakan suatu
rencanausaha dan/atau kegiatan.
Tujuan
Tujuan secara umum AMDAL adalah menjaga
dan meningkatkan kualitas lingkungan serta
menekan pencemar an sehingga dampak
negatifnya menjadi serendah mungkin.
Dengan demikian AMDAL diperlukan bagi
proses pengambilan keputusan tentang
pelaksanaan rencana kegiatan yang
mempunyai dampak terhadap lingkungan
hidup.
Analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL)
di Indonesia diberlakukan berdasar PP 51 tahun
1993 (sebelumnya PP 29 tahun 1986) sebagai
realisasi pelaksanaan UU no. 4 tahun 1982
tentang Lingkungan Hidup yang saat ini telah
direvisi menjadi UU no. 23 tahun 1997. AMDAL
merupakan instrumen pengelolaan lingkungan
yang diharapkan dapat mencegah kerusakan
lingkun gan dan menjamin upaya-upaya
konservasi.
Indikator dampak
Besarnya jumlah manusia yang terkena
dampak rencana usaha dan/atau kegiatan
Luas wilayah penyebaran dampak
Intensitas dan lamanya dampak
Banyaknya komponen lingkungan hidup lain
yang akan terkena dampak
Sifat kumulatif dampak

Proses AMDAL
pelingkupan
Kerangka acuan
ANDAL
ANDAL
RKL
RPL
Jenis jenis Amdal
Amdal
Proyek
Amdal yang berlaku bagi suatu kegiatan yang berada dalam
satu kegiatan sektoral.
Amdal
Terpadu
Amdal
kawasan
Amdal
Regional
Amdal yang berlaku bagi suatu rencana kegiatan
pembangunan yang bersifat terpadu, yaitu adanya keterkaitan
dalam proses perencanaan, pengelolaan dan proses produksi,
serta berada dalam satu ekosistem dan melibatkan
kewengangan lebih dari satu instansi
Kelemahan AMDAL Indonesia
1. AMDAL belum
terintegrasi dalam
mekanisme perizinan
2. Proses partisipasi
masyarakat belum
optimal
3. Terdapat kelemahan
dalam studi AMDAL,
tidak ada jaminan UPL
dan UPK akan dilakukan
4. Masih lemahnya
metode penyusunan
AMDAl
Hambatan :
1. Tidak memadainya aturan
hukum dan lingkungan
2. Kekuatan institusi
3. Pelatihan ilmiah dan
profesionalisme
4. Ketersediaan data
Beberapa kondisi AMDAL di Indonesia
575 perusahaan di Batam dari 719 perusahaan
tidak mengantongi dokumen AMDAL
Hanya 54 perusahaan yang mengahsilkan
limbah B3 dari 525 perusahaan mengelola
limbah dengan baik
Mc. Dermot salah satu perusahaan
penghasil limbah B3 yang tidak memiliki
pengolahan limbah B3 (Kompas 18 Maret
2003 dari
Kondisi eksisting
Time telah mengeluarkan edisi khususnya
(Apri l-Mei 2000) tentang lingkungan hidup.
Salah satu artikelnya yang berjudul " Condition
Criticalantara lain 50% lahan basah
(wetland) sudah musnah, 58% terumbu
karang dalam keadaan terancam, 80%
grassland terancam penurunan kualitas, 20%
lahan terancam menjadi padang pasir dan
penyediaan air tanah makin menipis dimana -
mana
Pendidikan Lingkungan Hidup
Sebuah upaya kebijakan lingkungan dalam pelibatan peran
serta masyrakat untuk aktif menjaga lingkungan
Pendidikan lingkungan salah satu faktor penting dalam
meraih keberhasilan dalam pengelolaan lingkungan hidup,
juga menjadi sarana yang sangat penting dalam
menghasilkan sumber daya manusia yang dapat
melaksanakan prinsip pembangunan berkelanjutan.
pendidikan lingkungan hadir sebagai upaya untuk
meningkatkan pemahaman dan kepedulian akan
lingkungan.
Pendidikan lingkungan tidak akan merubah situasi dan
kondisi yang telah rusak menjadi baik dalam waktu sekejap,
melainkan membutuhkan waktu, proses dan sumber daya.
Prinsip-prinsip Pendidikan Lingkungan
Hidup
Mempertimbangkan lingkungan sebagai suatu totalitas alami dan
buatan, bersifat teknologi dan sosial (ekonomi, politik, kultural, historis,
moral, estetika);
Merupakan suatu proses yang berjalan secara terus menerus dan
sepanjang hidup, dimulai pada jaman pra sekolah, dan berlanjut ke tahap
pendidikan formal maupun non formal;
Mempunyai pendekatan yang sifatnya interdisipliner, dengan
menarik/mengambil isi atau ciri spesifik dari masing-masing disiplin ilmu
sehingga memungkinkan suatu pendekatan yang holistik dan perspektif
yang seimbang.
Meneliti (examine) issue lingkungan yang utama dari sudut pandang lokal,
nasional, regional dan internasional, sehingga siswa dapat menerima
insight mengenai kondisi lingkungan di wilayah geografis yang lain;
Memberi tekanan pada situasi lingkungan saat ini dan situasi lingkungan
yang potensial, dengan memasukkan pertimbangan perspektif historisnya;
Prinsip (2)
Mempromosikan nilai dan pentingnya kerjasama lokal, nasional dan
internasional untuk mencegah dan memecahkan masalah-masalah
lingkungan;
Secara eksplisit mempertimbangkan/memperhitungkan aspek lingkungan
dalam rencana pembangunan dan pertumbuhan;
Memampukan peserta didik untuk mempunyai peran dalam
merencanakan pengalaman belajar mereka, dan memberi kesempatan
pada mereka untuk membuat keputusan dan menerima konsekuensi dari
keputusan tersebut;
Menghubungkan (relate) kepekaan kepada lingkungan, pengetahuan,
ketrampilan untuk memecahkan masalah dan klarifikasi nilai pada setiap
tahap umur, tetapi bagi umur muda (tahun-tahun pertama) diberikan
tekanan yang khusus terhadap kepekaan lingkungan terhadap lingkungan
tempat mereka hidup;


Prinsip (3)
Membantu peserta didik untuk menemukan (discover)
gejala-gejala dan penyebab dari masalah lingkungan;
Memberi tekanan mengenai kompleksitas masalah
lingkungan, sehingga diperlukan kemampuan untuk
berfikir secara kritis dengan ketrampilan untuk
memecahkan masalah.
Memanfaatkan beraneka ragam situasi pembelajaran
(learning environment) dan berbagai pendekatan
dalam pembelajaran mengenai dan dari lingkungan
dengan tekanan yang kuat pada kegiatan-kegiatan yang
sifatnya praktis dan memberikan pengalaman secara
langsung (first hand experience).