Anda di halaman 1dari 29

Oleh :

Mochamad Rizal
102011010101

Pembimbing:
dr. Ali Santoso Sp.PD
INTOKSIKASI PESTISIDA
Pestisida
Secara harfiah, pestisida berarti pembunuh hama
(pest: hama dan cide: membunuh). Pestisida
mencakup bahan-bahan racun yang digunakan
untuk membunuh hama, baik insekta, jamur
maupun gulma.
Penggolongan Pestisida
Insektisida (pembunuh insekta)
Kelompok pestisida terbesar terbagi menjadi
beberapa sub kelompok kimia:
1. Organofosfat
2. Karbamat
3. Organoklorin
4. Piretroid
Merupakan racun pembasmi serangga paling toksik
paling banyak digunakan.
Bekerja dengan mengikat kolinesterase sehingga
tidak terjadi hidrolisis Asetilkolin dan terjadi
penumpukkan Asetilkolin di berbagai jaringan.





Asetilkolin merupakan neurotransmiter yang terdapat
di antara ujung-ujung saraf dan otot. Apabila terjadi
penumpukkan Asetilkolin diberbagai jaringan maka
akan terjadi rangsangan terus menerus pada jaringan
tsb.














Organofosfat
Secara Farmakologik efek Asetilkolin dapat dibagi
dalam 3 bagian, yaitu:
1. Muskarinik: Biasa disingkat DUMBELS
(Defecation, Urination, Miosis,
Bradycardia/Bronchospasme, Emesis,
Lacrimation, Salivation)
2. Nikotinik: Otot-otot skelet, bola mata, lidah, otot
pernafasan. Biasa disingkat MATCH (Muscle
weakness, adrenal medulla activity,
Tachycardia, Cramping, Hipertension)
3. SSP: Rasa nyeri kepala, perubahan emosi,
kejang sampai koma.

Hambatan oleh organofosfat bersifat
Irreversible dikarenakan kerusakan dari
kolinesterase dan perbaikkan baru timbul saat
tubuh mensintesis kembali.

Terapi
Resusitasi : Infus Dextrosa 5% dengan 15-20 tpm
Pada penderita kejang : Diaxepam 10 mg iv atau
phenytoin (bolus 18 mg/kg BB)
Antidotum :
1. Atropin Sulfat merupakan antagonis kompetitif
Akh.
- Diberikan bolus intravena 1-2,5 mg
- Dilanjutkan 0,5-1 mg setiap 5-10-15 menit
- Kemudian interval diperpanjang 15-30-60 menit
selanjutnya setiap 2-4-6 dan 12 jam
- Dihentikan minimal 2x24 jam. Penghentian
mendadak dapat menimbulkan rebound effect
berupa edema paru dan kegagalan nafas akut
2. Reaktivator KhE
Bekerja dengan memotong ikatan Organofosfat
dengan Kolinesterase.
Contoh: 2 PAM (pyridine-2-aldoxime methiodide =
protopam = Pralidoxime)
Dosis 1 gram iv perlahan (10-20 menit), diulang
setelah 6-8 jam.

Contoh golongan organofosfat:
Malathion, Parathion, Diazinon, Paraoxon,
Phosdrin.
Karbamat
Bekerja seperti dengan golongan organofosfat
tetapi pengaruhnya tidak berlangsung lama,
karena prosesnya cepat dan reversibel.
Bertahan di dalam tubuh antara 1 sampai 24 jam
sehingga cepat dieksresikan.
Gejala dan Terapi sama dengan golongan
organofosfat .
Organoklorin
Golongan insektisida yang relatif stabil dan lama
terurai di lingkungan.
Bekerja dengan merangsang sistem saraf dan
menyebabkan parastesia.
Gambaran klinis:
Ringan : Muntah-muntah (1/2 1 jam setelah
terpapar), lemah, lumpuh dan diare
Sedang-berat : tremor otot mulai dari kepala dan
leher kemudian diikuti kejang yang berat hingga
kehilangan kesadaran.
Contoh : DDT, Aldrin, Endrin, Dieldrin, Klordan,
Heptaklor dan Endosulfan.
Piretroid
Memiliki toksisitas rendah pada manusia karena
tubuh dapat memetabolisme dan
mendetoksifikasi cepat toksin dari insektisida ini.
Gejala Klinik : Terutama dihubungkan dengan
reaksi hipersensitivitas dan iritasi langsung.
1. Kulit: Eritema dan vesikulasi
2. Sal. Nafas: Aspirasi paru dapat menimbulkan
pneumonitis hipersensitif.

Fungisida (pembunuh jamur)
Pengawet Kayu (Kreosol): Iritasi kulit, mata,
saluran pernafasan, rasa kaku pada hidung,
timbul bercak biru kehitaman-hijau kecoklatan
pada kulit

Pentaklorofenol: Demam, Sakit kepala,
berkeringat bnyak, kejang otot, tremor, sulit
bernafas

Arsenik: Mual, diare, nyeri perut, kejang,
penurunan kesadaran
Herbisida (pembunuh gulma)
Klorfenoksi Herbisida:
Iritasi sedang pada kulit, rasa terbakar pada mukosa
hidung, sinus, dan dada. Timbul batuk, iritasi perut,
pusing dan tidak sadar

Herbisida arsenik (Ansar dan Motar):
Pengelupasan kulit, pengelupasan kuku, rambut
rontok.
Kerusakan pada pencernaan: radang pada mulut,
perut nyeri terbakar, haus, muntah, diare berdarah
Kerusakan pada SSP: Kejang otot, hipotermia,
mengigau, koma
Kerusakan darah : Pengurangan sel darah merah,
putih, dan platelet
Khas: Seperti bau bawang pada pernafasan, Gejala
muncul 1-3 jam setelah paparan, Kematian terjadi 1-3
hari kemudian karena kegagalan sirkulasi
Jalur Masuk
Oral
Sering terjadi karena kecelakaan dan
kecerobohan. Seperti: Merokok atau makan
tanpa mencuci tangan dengan sabun setelah
menyemprotkan pestisida.

Dermal
Sekitar 90% kasus intoksikasi pestisida terjadi
karena paparan lewat kulit. Tingkat absorbsi pada
kulit berbeda-beda pada masing-masing bagian
tubuh.

Inhalasi
Paparan terjadi saat menghirup uap, debu, atau
semprotan partikel dari pestisida. Biasanya terjadi
saat proses penyemprotan atau saat mencampur
pestisida dengan bahan pelarut tanpa memakai
alat pelindung yang cukup.
Efek Pestisida pada sistem tubuh
Paru paru dan sistem pernafasan
Fase Akut : Iritasi sal. nafas atas (rinitis, nyeri
telan, edema mukosa laring) dan bawah (batuk-
batuk, nyeri dada)
Fase Kronis : Iritasi berlanjut akan terjadi
penimbunan debu kimia pada jaringan paru
fibrosis
Pneumonitis maupun edema pulmoner juga bisa
terjadi pada fase kronis karena iritasi jangka
panjang .
Hati
Bahan kimia kebanyakan dimetabolisme di hati
sehingga berpotensi hepatotoksik
Fase Akut : Inflamasi sel-sel (hepatitis kimia) dan
nekrosis
Fase Kronis : Dapat berlanjut menjadi sirosis
hepatis atau juga hepatoma




Sistem saraf
Bahan kimia yang neurotoksin dapat
memperlambat fungsi otak. Gejala yang
diperoleh:
1. Penurunan kewaspadaan sampai penurunan
kesadaran.
2. Kejang otot
3. Paralisis (lumpuh)
4. Mati rasa pada ekstrimitas
J antung dan pembuluh darah
- Bahan pelarut seperti trikloroetilena
menyebabkan gangguan fatal terhadap ritme
jantung
- Karbon disulfida menyebabkan peningkatan
penyakit pembuluh darah

Kulit
Umumnya pada kulit akan timbul iritan atau
dermatitis kontak akan tetapi yang berbahaya
adalah jika terabsobsi dan masuk ke aliran darah
sehingga berefek sistemik.

Darah dan sumsum tulang
- Dapat merusak sel sel darah merah yang
menyebabkan anemia hemolitik



Faktor yang mempengaruhi keracunan
pestisida
Dosis dan Toksisitas
- Pestisida dengan daya bunuh tinggi dengan
penggunaan dosis yang rendah menimbulkan
sedikit gangguan dari pada yang memiliki daya
bunuh rendah dengan dosis tinggi.
- Tingkat toksisitas dapat dilihat dari
perbandingan LD50/LC50
*LD50: Dosis yang diberikan pada makanan
hewan coba yang menyebabkan 50% hewan
coba mati
*LC50: Konsentrasi pestisida diudara yang
mengakibatkan 50% hewan coba mati
- Semakin kecil nilai LD50/LC50 maka makin
toksik pestisida tersebut
Jangka waktu atau lama terpapar
Paparan terus-menerus menjadi berbahaya karena
paparan berulang dan berlangsung lama dapat
menimbulkan keracunan kronis

Jalur masuk pestisida
- Keracunan lewat kulit jauh lebih berbahaya karena
selain berefek lokal sebagai iritasi kulit. Racun juga
mudah terabsorbsi masuk ke aliran darah.

- Keracunan lewat inhalasi atau oral waspadai
aspirasi pada paru. Perhatikan tanda-tanda distress
nafas.
Petunjuk bagi pengguna
pestisida
Selalu menyimpan pestisida dalam wadah asli yang
berlabel
Jangan menggunakan mulut untuk meniup lubang pada
alat semprot
Jangan makan, minum atau merokok disekitar tempat
penyemprotan dan sebelum mencuci tangan
Gunakan alat pelindung diri yang benar
Waktu yang baik untuk penyemprotan adalah pada waktu
terjadi aliran udara naik (thermik) yaitu antara pukul 08.00-
11 WIB atau sore hari pukul 15-18.00 WIB. Penyemprotan
terlalu pagi atau terlalu sore mengakibatkan pestisida yang
menempel pada bagian tanaman akan terlalu lama untuk
mengering.
Perhatikan arah angin sewaktu akan menyemprot
Segera mandi dengan bersih menggunakan sabun dan
pakaian yang digunakan segera dicuci

APD untuk penyemprotan
Pestisida
Helm (helmet), berfungsi untuk melindungi kepala dari segala
jenis benturan sehingga cedera otak dapat di minimalkan.
Kaca Mata (google), berfungsi untuk melindungi mata dari
serpihan benda-benda kecil seperti abu, bunga kelapa sawit,
bahan kimia dan sepihan potongan benda lain.
Masker, berfungsi untuk menghindari terhirupnya bahan kimia
yang beracun.
Clemet (apron), berfungsi agar tubuh tim semprot tidak terpapar
bahan kimia karena terbuat dari bahan yang tahan air.
Sarung tangan kain (gloves), berfungsi untuk menyerap
keringat dan menghindari kerusakan tangan (kapalan) karena
bekerja dengan benda keras.
Sarung tangan karet (gloves), tangan karet berfungsi untuk
menghindari tangan terpapar bahan kimia.
Sepatu AV/safety, berfungsi untuk melindungi bagian kaki
terkena duri, terjepit, dan benda tumpul lainnya.

Arti Warna pada Label Pestisida
Pencucian alat-alat aplikasi
Bekas wadah pestisida harus dirusak agar tidak
dimanfaatkan untuk keperluan lain.
Wadah bekas pestisida harus ditanam jauh dari
sumber air.
Alat penyemprot segera dibersihkan setelah
selesai digunakan. Air bekas cucian sebaiknya
dibuang ke lokasi yang jauh dari sumber air dan
sungai.
Penyemprot segera mandi dengan bersih
menggunakan sabun dan pakaian yang telah
digunakan segera dicuci.

Cara Menyemprot Yang
Salah
Cara Menyemprot Yang
Benar
TERIMA KASIH