Anda di halaman 1dari 32

REAKSI-REAKSI KHUSUS SENYAWA YANG MENGANDUNG UNSUR

C, H, O, N YANG LAIN
A. TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini, yaitu untuk mengetahui reaksi-reaksi khusus
senyawa yang mengandung unsur C, H, O, N yang lain.
B. LANDASAN TEORI
Ada dua jenis model analisis, yaitu analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis
kualitatif membahas mengenai identifikasi zat zat. Urusannya adalah unsur atau
senyawa apa yang terdapat dalam suatu sampel atau contoh. Pada pokoknya tujuan
analisis kualitatif adalah memisahkan dan mengidentifikasi sejumlah unsur (Vogel,
1985).
Ada 3 pendekatan analisis kualiataif yaitu; pertama perbandingan antara data
retensi solute yang tidak diketahui dengan data retensi baku yang sesuai pada kondisi
yang sama. Kedua dengan cara spiking, yaitu dilakukan dengan menambah sampel
yang mengandung senyawa tertentu yang akan diselidiki pada senyawa baku pada
kondisi yang sama. Ketiga dengan nggabungkan alat kromatografi dengan
spectrometer massa (Gandjar, 2007).
Senyawa adalah zat yang terbentuk dari penggabungan unsur-unsur dengan
pembentuknya. Senyawa dihasilkan dari reaksi kimia antara dua unsur atau lebih
melalui reaksi pembentukan. Senyawa organik atau senyawa karbon adalah suatu
senyawa yang unsur-unsur penyusunnya terdiri dari atom karbon dan atom-atom
hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, halogen, atau fosfor. Senyawa anorganik adalah
senyawa yang terdiri dari unsur logam. Pembeda senyawa organik dan non organik
terletak pada ada tidaknya ikatan karbon-hidrogen. Sehingga asam karbonat termasuk
anorganik dan asam format dan asam lemak pertama masuk dalam organik
(Riswiyanto, 2009).
Vitamin C adalah salah satu zat gizi yang berperan sebagai antioksidan dan
efektif mengatasi radikal bebas yang dapat merusak sel atau jaringan, termasuk
melindungi lensa dari kerusakan oksidatif yang ditimbulkan oleh radiasi. Status
vitamin C seseorang sangat tergantung dari usia, jenis kelamin, asupan vitamin C
harian, kemampuan absorpsi dan ekskresi, serta adanya penyakit tertentu (Schetman,
1989). Rendahnya asupan serat dapat mempengaruhi asupan vitamin C karena bahan
makanan sumber serat dan buah-buahan juga merupakan sumber vitamin C (Karinda,
2013).
Vitamin C disebut juga asam askorbat, merupakan vitamin yang paling sederhana,
mudah berubah akibat oksidasi, tetapi amat berguna bagi manusia. Struktur kimianya terdiri
dari rantai 6 atom C dan kedudukannya tidak stabil (C6H8O6), karena mudah bereaksi dengan
O2 di udara menjadi asam dehidroaskorbat. Vitamin ini merupakan fresh food vitamin karena
sumber utamanya adalah buah-buahan dan sayuran segar. Berbagai sumber nya adalah jeruk,
brokoli, brussel sprout, kubis, lobak dan straberi ( Syafaryani dkk, 2007).
Fungsi vitamin C bagi tumbuhan adalah sebagai agen antioksidan yang dapat
menetralkan singlet oksigen yang sangat reaktif, berperan dalam pertumbuhan sel, berfungsi
seperti hormon, dan ikut berperan dalam proses fotosintesis. Vitamin C hanya dapat dibentuk
oleh tumbuhan dan terdapat pada sayuran serta buah-buahan dalam jumlah yang besar. Hal
ini disebabkan karena tumbuhan memiliki enzim mikrosomal L-gulonolakton oksidase,
sebagai komponen dalam pembentukan asam askorbat (Kurniawan, 2010).
Antibiotika, yang pertama kali ditemukan oleh Paul Ehlrich pada 1910,
sampai saat ini masih menjadi obat andalan dalam penanganan kasus-kasus penyakit
infeksi. antibiotik memberikan manfaat yang tidak perlu diragukan lagi. Namun bila
dipakai atau diresepkan secara tidak tepat (irrational prescribing) dapat menimbulkan
kerugian yang luas dari segi kesehatan, ekonomi bahkan untuk generasi mendatang
(Utami, 2012).
Turunan penisilin merupakan pilihan pertama untuk infeksi bakteri yang peka
terhadap penisilin karena efek toksiknya terhadap organ tubuh relative kecil bila
dibandingkan dengan antibiotik lain. Perubahan struktur senyawa penisilin
berpengaruh dalam mempertahankan kestabilan terhadap asam dan ketahanan
terhadap - laktamase (1). Perkembangan senyawa turunan penisilin dimulai dari
benzilpenisilin yang berspektrum sempit, tidak tahan terhadap asam lambung
sehingga diberikan secara injeksi, dan tidak tahan terhadap enzim -laktamase yang
dihasilkan Staphylococcus aureus. Perkembangan dilanjutkan dengan penambahan
gugus penarik electron pada posisi struktur benzilpenisilin, seperti pada ampisilin,
senyawa ini meningkat stabilitasnya terhadap hidrolisis asam lambung, sehingga
senyawa dapat diberikan secara oral. Ampisilin adalah antibiotik dengan spektrum
luas, merupakan turunan penisilin yang tahan asam tetapi tidak tahan terhadap enzim
penisilinase (Kusumowati, 2011).
Strain Penicillium digunakan pertama kali dalam produksi penisilin F. Dalam
perkembangan selanjutnya ternyata yang banyak digunakan dan merupakan penisilin
paling aktif adalah penisilin G. Dalam industry penisilin G dihidrolisis secara
enzimatik oleh penicillin G acylase (PGA) dan menghasilkan asam 6-amino
penilsilanat (6-APA)(Gambar 1.), senyawa antara dalam produksi penisilin
semisintetik, diantaranya metilsilin, kloksasilin, ampisilin dan karbenisilin.

Pemutusan enzimatik penisilin G menjadi asam 6-amino penilsilanat (Susanti, 2003).
C. URAIAN BAHAN
Uraian bahan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Air Suling (Dirjen POM, 1973)
Nama Lain : Aqua Destillata
Berat Molekul : 18,02
Rumus Molekul : H
2
O
Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai
rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai pelarut.
2. Vitamin C (Dirjen POM, 1973)
Nama Lain : Acidum Ascorbium
Berat Molekul : 176, 13
Rumus Molekul : C
6
H
8
O
6

Kelarutan : Mudah larut dalam air; agak sukar larut dalam etanol
(95% P) praktis tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P
dan dalam benzene P.
Pemerian : Serbuk atau hablur; putih atau agak kuning; tidak berbau;
rasa asam. Oleh pengauh cahaya lambat laun menjadi gelap.
Dalam keadaan kering mantap di udara, dalam larutan cepat
teroksidasi.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya.
Kegunaan : antiskorbut, sebagai sampel.
3. CTM (Dirjen POM, 1973)
Nama Lain : Cholrpheniramini Maleas
Berat Molekul : 390,87
Rumus Molekul : C
16
H
19
ClN
2
.C
4
H
4
O
4

Kelarutan : Larut dalam 4 bagian air, dalam 10 bagian etanol (95%) P
Dan dalam 10 bagian kloroform P; sukar larut dalam eter P.
Pemerian : Serbuk hablur; putih; tidak berbau; rasa pahit.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
Kegunaan : sebagai sampel.
Khasiat : antihistaminikum.
4. Difenhidramin HCl (Dirjen POM, 1995)
Nama Lain : Diphenhydramini Hydrochloridum
Berat Molekul : 291,82
Rumus Molekul : C
17
H
21
NO.HCl
Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol dan dalam kloroform;
agak sukar larut dalam aseton; sangat sukarlarut dalam
benzene dan dalam eter.
Pemerian : Serbuk hablur; putih; tidak berbau. Jika kena cahaya,
perlahan-lahan warnanya akan semakin gelap. Larutannya
praktis netral terhadap kertas lakmus P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya.
Kegunaan : sebagai sampel.
Khasiat : antihistaminikum.
5. Streptomisin (Dirjen POM, 1973)
Nama Lain : Streptomycini Sulfas
Berat Molekul : 1457,40
Rumus Molekul : C
42
H
78
N
14
O
24
.
3
H
2
O
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air; praktis tidak larut dalam
etanol (95%) P, dalam kloroform P dan eter P.
Pemerian : Hablur berbentuk prisma tidak berwarna atau serbuk
hablur putih; sangat pahit.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya.
Kegunaan : antibiotik, stimulan susunan saraf pusat, sebagai sampel.
6. Tetrasiklin (Dirjen POM, 1973)
Nama Lain : Tetracyclinum
Berat Molekul : 444,44
Rumus Molekul : C
22
H
24
N
2
O
8

Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air; larut dalam 50 bagian etanol
(95%) P, praktis tidak larut dalam kloroform P dan dalam eter
P; larut dalam asam encer; larut dalam alkali disertai
peruraian.
Pemerian : Serbuk hablur; kuning; tidak berbau atau sedikit berbau
lemah.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
Jika dalam udara lembab terkena sinar matahari langsung,
warna menjadi gelap; larutan dengan pH tidak lebih dari 2
menjadi inaktif dan rusak pada pH 7 atau lebih.
Kegunaan : sebagai sampel.
Khasiat : antibiotika.
7. Penisilin (Dirjen POM, 1973)
Nama Lain : Phenoxymethylpenicillinum
Berat Molekul : 350,40
Rumus Molekul : C
16
H
18
N
2
O
5
S
Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air; mudah larut dalam etanol
(95%) P, praktis tidak larut dalam parafin P dan dalam minyak
lemak.
Pemerian : Hablur bentuk jarum atau massa hablur; tidak berwarna
atau merah jambu; bau khas; kaustik.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya,
ditempat sejuk.
Kegunaan : sebagai sampel.
Khasiat : antiseptikum ekstern.
8. Kloramfenikol (Dirjen POM, 1973)
Nama Lain : Chloramphenicolum
Berat Molekul : 323,13
Rumus Molekul : C
11
H
12
C
l2
N
2
O
5

Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 400 bagian air; dalam 2,5 bagian
etanol (95%) P dan dalam 7 bagian propilenglikol P, sukar
larut dalam kloroform P dan dalam eter P.
Pemerian : Hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang;
putih sampai putih kelabu atau putih kekuningan; tidak
berbau; rasa sangat pahit. Dalam larutan asam lemah,mantap.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
Kegunaan : Sebagai sampel.
9. Ampisilin (Dirjen POM, 1973)
Nama Lain : Ampicillinum
Berat Molekul : 349,41
Rumus Molekul : C
16
H
19
N
3
O
4
S
Kelarutan : Larut dalam 170 bagian air; praktis tidak larut dalam 2,5
bagian etanol (95%) P, dalam kloroform P , dalam eter P,
dalam aseton P dan dalam minyak lemak.
Pemerian : Serbuk hablur renik; putih; tidak berbau atau hamper tidak
berbau; rasa pahit.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : sebagai sampel.
Khasiat : Antibiotikum.
10. Tembaga Sulfat (Dirjen POM, 1995)
Nama Lain : Kupri (II) Sulfat
Berat Molekul : 159,60
Rumus Molekul : CuSO
4

Kelarutan : Larut dalam air.
Pemerian : Serbuk putih atau keabuan, bebas dari sedikit warna biru.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai sampel.
11. Asam Sulfat (Dirjen POM, 1995)
Nama Lain : Acidum Sulfuricum
Berat Molekul : 98,07
Rumus Molekul : H
2
SO
4

Kelarutan : Bercampur dengan air dan dengan etanol, dengan
menimbulkan panas.
Pemerian : Cairan jernih seperti minyak, tidak berwarna, bau sangat
tajam dan korosif. Bobot jenis lebih kurang 1,84.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Sebagai sampel.
12. Asam Klorida (Dirjen POM, 1995)
Nama Lain : Acidum Hydrochloridum
Berat Molekul : 36,46
Rumus Molekul : HCl
Kelarutan : Bercampur dengan air dan dengan etanol, dengan
menimbulkan panas.
Pemerian : Cairan tidak berwarna; berasap; bau merangsang;
Jika diencerkan dengan 2 bagian volume air, asap hilang.
Bobot jenis lebih kurang 1,18.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Zat tambahan.
13. Perak Nitrat (Dirjen POM, 1973)
Nama Lain : Argenti Nitras
Berat Molekul : 169,87
Rumus Molekul : AgNO
3

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air; larut dalam etanol (95%) P.
Pemerian : Hablur transparan atau serbuk hablur berwarna putih;
tidak berbau; menjadi gelap jika kena cahaya.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
Kegunaan : Antiseptikum ekstern, kaustikum.
14. Kloroform (Dirjen POM, 1973)
Nama Lain : Chloroformum
Berat Molekul : 119,38
Rumus Molekul : CHCl
3

Kelarutan : Sukar larut dalam air, dapat bercampur dengan etanol,
dengan eter, dengan benzena, dengan heksana, dan dengan
lemak dan minyak menguap.
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, mudah mengalir;
mempunyai sifat khas; bau eter; rasa manis dan membakar.
Mendidih pada suhu lebih kurang 61
0
dipengaruhi oleh cahaya.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, pada
suhu tidak lebih dari 30
0
.
Kegunaan : Zat tambahan.
15. Natrium Hidroksida (Dirjen POM, 1979)
Nama : Natrii Hydroxydum
Sinonim : Natrium Hidroksida
Berat Molekul : 40,00
Romus Molekul : NaOH
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air dan etanol (95%) P
Pemerian : bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping, kering,
keras, rapuh dan menunjukkan susunan hablur; putih, mudah
meleleh basah. Sangat alkalis dan korosif. Segera menyerap
karbondioksida.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : zat tambahan.
16. Besi (III) Klorida (Dirjen POM, 1979)
Nama : Besi (III) Klo rida P
Rumus Molekul :


Kelarutan : larut dalam air, larutan beropalesensi berwarna jingga.
Pemerian : hablur atau serbuk hablur; hitam kehijauan; bebas warna
jingga dari garam hidrat yang telah terpengaruh oleh
kelembaban.
Kegunaan : zat tambahan.
17. Asam Nitrat (Dirjen POM, 1979)
Nama : Asam Nitrat
Rumus Molekul :


Pemerian : cairan jernih berasap, hampir tidak berwarna sampai berwarna
kuning
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, tidak tembus cahaya.
Kegunaan : sebagai zat tambahan.

18. Iodium (Dirjen POM, 1995)
Nama Lain : Iodum
Berat Molekul : 126,90
Rumus Molekul : I
Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air; mudah larut dalam karbon
disulfida, dalam kloroform, dalam karbon tetraklorida dan
dalam eter; larut dalam etanol dan dalam larutan iodide; agak
sukar larut dalam gliserin.
Pemerian : Keping atau granul, berat, hitam keabu-abuan,; bau khas;
berkilau seperti metal.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Zat tambahan.
D. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini, yaitu :
Gelas Kimia 500 ml
Mortil dan Alu
Tabung Reaksi
Gegep
Pipet Tetes
Batang Pengaduk
Sendok Tanduk
Hot Plate
Filler
Pipet ukur
2. Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini, yaitu :
Vitamin C murni
Vitamin C dalam sampel
CTM (Klorfeniramin Maleat) murni
CTM (Klorfeniramin Maleat) dalam sampel
Kloramfenikol murni
Kloranfenikol dalam sampel
Streptomisin dalam sampel
Tetrasiklin murni
Tetrasiklin dalam sampel
Penicillin dalam sampel
Difenhidramin-HCL dalam sampel
Ampisilin Na dalam sampel
Aquadest
Pereaksi Fehling


NaOH 10%


HCl Pekat
HCl encer

pekat

encer
Iodium
CH
3
COOH

E. PROSEDUR KERJA
1. Vitamin C Dalam Sampel


- Digerus dengan mortil dan alu
- Dimasukkan ke dalam 3 tabung reaksi
- Dilarutkan masing-masing dengan
aquadest
- Diaduk









Warna merah bata warna abu-abu warna kuning


Vitamin C dalam Sampel
Vitamin C dalam
tabung reaksi
Vitamin C dalam
tabung reaksi
Vitamin C dalam
tabung reaksi
- Ditambahkan
Larutan fehling
- Dipanaskan diatas
hot plate
- Diaduk
- Ditambahkan
Larutan AgNO
3

- Dipanaskan diatas
hot plate
- Diaduk
- Ditambahkan
Larutan KMnO
3

- Dipanaskan diatas
hot plate
- Diaduk
2. CTM (Klorfeniramin Maleat)
CTM dalam sampel
- Digerus dengan tumpang alu
- Dimasukkan ke dalam tabung
reaksi
- Dilarutkan dengan aquadest
- Ditambahkan NaOH 10%
- Ditambahkan CuSO4 1 M
- Dipanaskan diatas hot plate
- Diaduk menggunakan batang
pengaduk
- Diulangi prosedur di atas untuk
CTM murni

CTM dalam sampel = berwarna kehitam-hitaman, terbentuk endapan
CTM murni = endapan biru, terbentuk endapan



3. Difenhidramin HCl
Difenhidramin HCl














Putih keruh Bening Putih Keruh putih terbentuk endapan






- Dimasukkan
ke dalam tabung
reaksi
- Ditambahkan
dengan H
2
SO
4

pekat
- Dipanaskan
diatas hot plate
- Diaduk

- Dimasukkan
ke dalam tabung
reaksi
- Ditambahkan
dengan HNO
3

- Ditambahkan
dengan H
2
SO
4
pekat
- Ditambahkan air
dan kloroform
- Dipanaskan
diatas hot plate
- Diaduk
- Dimasukkan
ke dalam tabung
reaksi
- Ditambahkan
dengan HCl
pekat
- Dipanaskan ditas
hot plate
- Didinginkan

- Dimasukkan
ke dalam tabung
reaksi
- Ditambahkan
dengan H
2
SO
4

pekat

4. Streptomisin
Streptomisin dalam sampel
- Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
- Dilarutkan aquadest
- Ditambahkan NaOH 10%
- Ditambahkan HCl
- Ditambahkan FeCl3
- Diaduk

Endapan Biru

5. Tetrasiklin
Tetrasiklin dalam sampel
- Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
- Ditambahkan aquadest
- Ditambahkan H2SO4 pekat
- Diulangi prosedur di atas untuk
Tetrasiklin murni
Tetrasiklin dalam sampel = kuning tua
Tetrasiklin murni = orange




6. Penisilin
penisilin dalam sampel










coklat merah bata terbentuk endapan kuning terbentuk endapan

7. Kloramfenikol
Kloramfenikol dalam sampel
- Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
- Ditambahkan aquadest
- Ditambahkan HCl dan FeCl3
- Dipanaskan
- Diaduk
- Diulangi untuk Kloramfenikol murni
- Dimasukkan
ke dalam tabung
reaksi
- Diencerkan dengan
aquadest
- Ditambahkan FeCl
3

- Dipanaskan diatas hot
plate
- Diaduk

- Dimasukkan
ke dalam tabung
reaksi
- Ditambahkan HCl dan
iodium
- Dipanaskan diatas hot
plate
- Diaduk
- Dimasukkan
ke dalam tabung
reaksi
- Diencerkan dengan
aquadest
- Ditambah CH
3
COOH
- Ditambah K
2
Cr
2
O
7

- Diaduk

Kloronfenikol murni = kuning keruh, terbentuk endapan
Kloronfenikol dalam sampel = kuning bening terbentuk endapan.



F. HASIL PENGAMATAN
NO PERLAKUAN HASIL PENGAMATAN
1








2









Vitamin C
a. Vitamin C dalam sampel
- Ditambah Pereaksi Fehling
- Ditambah AgNO
3

- Ditambah KMnO
4

b. Vitamin C Murni
- Ditambah Pereaksi Fehling
- Ditambah AgNO
3

- Ditambah KMnO
4

Antihistamin
1. CTM (Klorfeniramin Maleat)
a. CTM dalam sampel + NaOH 10% +
CuSO
4
1 M

b. CTM murni + Larutan NaOH + CuSO
4
2. Difenhidramin-HCL
Difenhidramin dalam sampel
- ditambah HNO
3
+ H
2
SO
4
pekat +
Aquadest + Kloroform
- ditambah H
2
SO
4
pekat + aquadest


Berwarna merah bata
Berwarna abu-abu
Berwarna kuning

Berwarna merah bata
Berwarna abu-abu
Berwarna bening


Berwarna biru terbentuk
endapan


Berwarna kehitam-hitaman
terbentuk endapan


Berwarna merah

Berwarna putih keruh


3





- ditambah HCL pekat


- ditambah H
2
SO
4
pekat
Antibiotika
a. Streptomisin dalam sampel + aquadest +
NaOH 10% + HCl + FeCl
3
b. Tetrasiklin
1. Tetrasiklin + H
2
SO
4
pekat + aquadest
2. Tetrasiklin murni + H
2
SO
4
pekat
c. Penicillin dalam sampel
- Ditambah FeCl
3

- Ditambah HCl encer + Iodium

- Ditambah CH
3
COOH + K
2
Cr
2
O
7

d. Kloramfenikol
- Kloramfenikol dalam sampel +
aquadest + HCl encer + FeCl
3


- Kloramfenikol murni + aquadest
+ HCl encer
e. Ampisilin dalam sampel + Aquadest +
FeCl
3
Berwarna putih keruh
Berwarna putih terbentuk
endapan

Berwarna Merah Bata
terbentuk endapan


Berwarna kuning
Berwarna orange

Berwarna coklat
Berwarna merah bata
terbentuk endapan

Berwarna kuning keemasan
terbentuk endapan


Berwarna kuning keruh
terdapat endapan

Berwarna kuning bening
terdapat endapan


Berwarna orange keruh
G. PEMBAHASAN
Untuk mengidentifikasi atau mengetahui keberadaan senyawa yang
mengandung C,H,O,N dapat dilakukan dengan banyak metode,salah satunya
dengan metode secara kualitatif. Cara mengidentifikasi dengan menggunakan
metode analisis kualitatif cukup menambahkan reagen-reagen yang secara
spesifik. Ada tidaknya senyawa yang mengandung C,H,O,N pada suatu sampel
kita cukup memperhatikan ada tidaknya perubahan warna, terdapatnya endapan
maupun eksoterm dan endoterm.
Analisis kualitatif adalah pekerjaan yang bertujuan untuk mengetahui
senyawa-senyawa yang terkandung dalam sampel uji. Metode yang dipakai
untuk tujuan ini bisa secara klasik atau instrumen, metoda klasik yang paling
utama adalah analisis warna atau reaksi warna, metode ini dipakai untuk senyawa
anorganik (kation dan anion), atau juga untuk senyawa organik seperti sering
digunakan untuk skrining fitokimia dalam penentuan metabolit sekunder
tumbuhan. Metoda lain dalam tujuan ini adalah uji warna nyala, kedua metoda
tersebut diawali dengan analisis organoleptis atau uji pendahuluan.
Pada percobaan ini dilakukan analisis kualitatif reaksi-reaksi senyawa
yang mengandung unsur C, H, O,N yang lain. Dimana bahan yang digunakan
pada analisis kali ini diantaranya Vitamin C, antihistamin yaitu CTM dalam
sampel, CTM murni dan Difenhidramin-HCl dalam sampel, serta antibiotika
yaitu streptomisin dalam sampel, tetrasiklin dalam sampel, tetrasiklin murni,
penisilin dalam sampel, kloramfenikol dalam sampel, kloramfenikol murni, dan
ampisilin dalam sampel.
Bahan-bahan yang digunakan untuk analisis dihaluskan terlebih dahulu
agar bahan tersebut homogen dan juga untuk memperluas permukaannya agar
dapat mempercepat reaksi yang terjadi. Setelah bahan dihaluskan, langkah
selanjutnya yaitu memasukkan bahan ketabung reaksi kemudian diencerkan
dengan menggunakan aquadest.
Setelah semua bahan telah diencerkan, bahan yang pertama yaitu Vitamin
C dalam sampel ditambah pereaksi Fehling reaksi kimia yang terjadi yaitu
Larutan berubah menjadi warna merah bata, hal ini terjadi karena larutan dengan
pereaksi dapat beaksi sempurna atau dengan kata lain larutan mengandung
unsure C, H, O, N yang lain. Selanjutnya, masih dengan larutan yang sama yaitu
larutan Vitamin C dalam sampel kemudian ditambahkan larutan

Maka
reaksi kimia yang terjadi yaitu larutan berwarna abu-abu, perubahan warna ini
menunjukkan adanya unsure C, H, O, N yang lain yang terkandung dalam
sampel. Perlakuan yang terakhir terhadap larutan Vitamin C dalam sampel yaitu
penambahan larutan

Reaksi kimia yang terjadi yaitu perubahan warna


larutan menjadi warna kuning perubahan kimia ini terjadi karena larutan dengan
zat pereaksi dapat bereaksi sempurna selain itu hal ini juga diakibatkan karena
pada sampel mengandung unsure C, H, O, N, yang lain.

Selanjutnya, bahan yang akan dianalisis yaitu obat antihistamin dalam
hal ini CTM dan defenhidramin-HCl. Dimulai dari CTM dalam sampel yang
telah dilarutkan dengan aquadest lalu ditambah NaOH 10% dan

1 M,
reaksi kimia yang terjadi yaitu perubahan warna larutan menjadi warna biru
dan terdapatnya endapan, hal ini terjadi karena pada larutan sampel
mengandung unsur C, H, O, N yang lain. Masih dengan larutan yang sama
yaitu CTM murni yang ditambahkan dengan NaOH 10% dan

1 M,
reaksi kimia yang terjadi yaitu perubahan warna larutan menjadi kehitam-
hitaman dan terbentuknya endapan.
Antihistamin yang kedua, yaitu senyawa Defenhidramin-HCl dalam
sampel perlakuan pertama yaitu larutan sampel yang telah dilarutkan aquadest
ditambahkan

pekat, dan kloroform reaksi kimia yang terjadi


yaitu perubahan warna larutan menjadi warna merah, masih dengan larutan
sampel yang sama namun perlakuan yang berbeda yaitu larutan
defenhidramin-HCl ditambahkan

pekat, maka reaksi kimia yang


terjadi yaitu perubahan warna larutan menjadi warna putih keruh, selanjutnya
perlakuan yang ketiga yaitu larutan defenhiramin-HCl ditambahkan dengan
larutan HCl pekat, reaksi kimia yang terjadi yaitu perubahan warna larutan
menjadi warna putih keruh. Perlakuan yang terakhir yaitu larutan sampel
ditambahkan dengan

pekat, maka reaksi kimia yang terjadi yaitu


perubahan warna menjadi putih dan terdapatnya endapan. Perubahan warna
dan terdapatnya endapan setelah dilakukan penambahan larutan tertentu
menunjukkan bahwa larutan sampel mengandung unsur C, H, O, N yang lain.
Sampel berikutnya yaitu senyawa yang memiliki aktivitas antibiotika,
yang pertama, obat streptomisin dalam sampel ditambah aquadest, NaOH
10%, HCL, dan FeCl
3
, hasil reaksi yang terjadi yaitu perubahan warna
menjadi merah bata dan terbentuknya endapan. Reaksi kimia ini terjadi karena
hasil reaksi antara streptomisin dan FeCl
3
yang menghasilkan senyawa
kompleks, dimana Fe sebagai atom pusat dan streptomisin sebagai ligan.
Terbentuknya senyawa kompleks ditandai dengan adanya perubahan warna.
Senyawa obat antibiotika yang kedua yaitu terasiklin, tetrasiklin dalam
sampel ditambah H
2
SO
4
pekat dan aquadest larutan berwarna kuning.
Sedangkan pada terasiklin murniditambah H
2
SO
4
larutan berwarna orange.
Hal ini terjadi karena tetrasiklin teroksidasi oleh H
2
SO
4
.
Senyawa obat antibiotika yang ketiga yaitu penisilin, penisilin dalam
sampel ditambah FeCl
3,
larutan menjadi warna coklat, apabila ditambah HCl
encer daiodium larutan berwarna merah bata dan terdapat endapan,
selanjutnya apabila ditambah CH
3
COOH dan K
2
Cr2O7 larutan berwarna
kuning keemasan dan terbentuk endapan. Semua reaksi kimia ini terjadi
karena didalam senyawa obat mengandung unsur C, H, O, N yang lain.
Senyawa obat antibiotika yang keempat kloramfenikol, reaksi kimia
yang terjadi pada kloranfenikol dalam sampel ditambah aquadest, HCl encer
dan FeCl
3
larutan berwarna kuning keruh terbentuk endapan, sedangkan
kloranfenikol murni ditambah aquadest dan HCl encer larutan menjadi warna
kuning bening dan terbentuk endapan. Reaksi kimia ini menandakan bahwa
sampel positif mengandung unsur C, H, O, N yang lain.
Senyawa obat antibiotika yang terakhir, ampisilin dalam sampel yang
ditambahkan aquadest dan FeCl
3,
reaksi kimia yang terjadi yaitu perubahan
warna larutan menjadi orange keruh. Hal ini menandakan bahwa senyawa
sampel positif mengandung unsur C, H, O, N dilihat dari reaksi kimia yang
terjadi.







H. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan
bahwa pada obat yang diambil sebagai sampel merupakan senyawa obat yang
mengandung unsur C, H, O, N yang lain ditandai dengan reaksi kimia yang
terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
Dirjen POM, 1979, Farmakope Indonesia, edisi III, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
Dirjen POM, 1995, Farmakope Indonesia, edisi IV, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta
Gandjar, Ibnu Gholib dan Abdul Roman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka
Pelajar. Yogyakarta.

Karinda, Monalisa, dkk, 2013, Perbandingan Hasil Penetapan Kadar Vitamin C
Mangga Dodol Dengan Menggunakan Metode Spektrofotometri Uv-Vis Dan
Iodometri, Jurnal Ilmiah Farmasi, Volume 2 Nomor 01, Universitas Sam
Ratulangi Manado

Kurniawan, Madha, dkk, 2010, Kandungan Klorofil, Karotenoid, dan Vitamin C
pada Beberapa Spesies Tumbuhan Akuatik, jurnal Buletin Anatomi dan
Fisiologi, Volume 18, Nomor 1, Universitas Diponegoro, Semarang.

Kusumowati, Ika Trisharyanti Dian, dkk, 2011, Hubungan Struktur Turunan N-
Klorobenzoilamoksisilin Dan Aktivitas Antibakterinya Terhadap
Pseudomonas Aeruginosa Atcc 27853, Jurnal Farmasi Indonesia, Volume 5,
Nomor 3, Universitas Airlangga, Surabaya.

Riswiyanto, 2009, Kimia Organik, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Safaryani, Nurhayati, dkk, 2007, Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan terhadap
Penurunan Kadar Vitamin C Brokoli (Brassica oleracea L), jurnal Buletin
Anatomi dan Fisiologi, Volume 15, Nomor 2, Universitas Diponegoro,
Semarang.

Susanti, Elfi, 2003, Isolasi dan Karakterisasi Protease dari Bacillus subtilis 1012M15,
Jurnal Biodiversitas, Volume 4, Nomor 1, Universitas Sebelas Maret,
Surakarta.

Utami, Eka Rahayu, 2012, Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi, Jurnal
Sainstis. Volume 1, Nomor 1, UIN Maliki, Malang.

Vogel. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro, Bagian 1. Jakarta
: PT. kalman Media Pustaka.