Anda di halaman 1dari 7

Syamsuddin:TingkahLakuTikusdanPengendaliannya

179

TINGKAH LAKU TIKUS DAN PENGENDALIANNYA

Syamsuddin
Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros


ABSTRAK
Hama tikus sangat sulit dikendaliakn karena hewan ini mempunyai kemampuan
berkembang biak dengan cepat dan mempunyai adaptasi yang tinggi terhadap
lingkungan serta memiliki indera peraba, perasa dan pendengaran yang baik atau
digolongkan sebagai hewan yang cerdik, walaupun demikian, usaha untuk
menentukan teknologi yang tepat dalam mengendalikan hama tikus tersebut pada
suatu agroekosistem tertentu terus berlansung melalui beberapa penelitiann disajikan
dalam tulisan ini dalam berbagai cara-cara pengendalian hama tikus. Disamping itu
juga diuraikan sebagian tentang perkembangbiakan dan prilaku tikus sebagai bahan
pertimbangan dalam menentukan strategi pengendalian. Dari hasil penelitian
diketahui bahwa puncak perkembangbiakan tikus terjadi pada saat padi stadia
bunting dan bermalai dan populasi tertinggi terjadi pada saat panen. dengan demikian
hasil penelitian pengendalian hama tikus telah diketahui antara lain : Pola tanam,
Sanitasi lingkungan, Mekanis/fisik, Zat kimia dan Biologis. Pengendalian hama tikus
tersebut tidak dapat dilakukan oleh sebagian petani, harus terorganisasi secara baik
dalam wilayah yang luas. Tanpa organisasi pengendalian yang baik, maka teknologi
pengendalian hama tikus yang efektif tidak akan berhasil menekan populasi hama
tikus.

Kata kunci: Tingkah laku, tikus, pengendalian


PENDAHULUAN
A. Tingkah Laku Tikus
Tikus adalah makhluk yang berkemampuan tinggi bila dibandingkan dengan
serangga lain, dan juga tergolong hewan menyusui. Dalam banyak hal tikus juga
bereaksi dan bertingkah laku seperti manusia, dan ini menjadi pegangan dalam
merancang metode pengendaliannya (Brook dan Rowe, 1979). Tikus mempunyai/
memililki indera peraba, dan pendengaran yang baik sehingga digolongkan hewan cerdik
karena memiliki otak yang berkembang baik, ini berarti tikus dapat belajar. Tingkah laku
tikus dapat ditentukan oleh naluri dan faktor luar seperti suhu, panjang hari, curah
hujan, serta pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Tikus adalah hewan yang lebih maju yang dapat mempelajari dengan cepat apa
yang baik dan apa yang tidak baik untuk kepentingan dirinya sendiri (Ismail et al., 1990
). Jika tikus telah memiliki pengalaman memakan suatu jenis makanan tertentu akan
menyebabkan sakit perut yang parah, maka mereka tidak akan memakan makanan
sampai kedua kalinya, akan tetapi setelah beberapa lama hal tersebut dilupakan,
sehingga mungkin dia mencoba memakan lagi (Van Vreden dan Rochman, 1990 ).
Tikus untuk bertahan hidup hampir sepenuhnya bergantung pada banyaknya
makanan yang dapat ditemukan di lingkungannya Petani sangat berperan dalam
persediaan makanan tikus, apalagi bila petani tersebut melindungi tanaman mereka,
akibatnya populasi tikus akan meningkat (Manwan et al., 1992). Kejadian yang sama
berlaku pada tanaman yang sedang tumbuh, tikus akan berkembang sangat cepat dan
menyebabkan kerusakan yang lebih parah jika mereka memiliki jalan menuju persediaan
makanan yang tidak ada habisnya (Boeadi, 1980). Dalam hal tersebut petani dapat
mengendalikan dan menjaga populasi tikus di bawah batas yang dapat diterima,
Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XVIII Komda Sul-Sel, 2007
180
pertama-tama harus dilakukan melalui manajemen pertanian yang lebih baik, bukan
saja lahan perorangan akan tetapi di seluruh masyarakat pertanian (Direktorat
Perlindungan Tanaman Pangan, 1986).
Hasil penelitian Sukarna et al. (1986) sawah pasang surut yang baru dibuka telah
mengindentifikasi adanya tiga jenis tikus, yaitu tikus sawah (Rattus Argentiventer), tikus
ladang (Rattus exulans) dan tikus rumah (Rattus diardi). Kompotisi populasi dari ketiga
jenis tikus tersebut adalah masing-masing 49%, 44%, dan 6,2% (Ismail et al., 1993 ).
Perkembangbiakan tikus betina (Rattus argentiventer) mampu melahirkan 10 12
anak, sementara dalam rahimnya mampu mengakomodasikan 18 embrio (calon anak
tikus), sehingga memiliki potensi reproduksi tinggi.
Tikus dapat beranak empat kali dalam setahun, pada kondisi yang baik dan dari
3 pasang tikus selama 13 bulan akan melahirkan 2046 ekor tikus (Sama dan Rochman,
1988). Tikus rumah dan tikus ladang rata-rata mampu beranak 7 8 ekor tiap
melahirkan dan pada masa puncak perkembangbiakan, tikus betina sangat berperan
aktif. Tikus siap bunting lagi sementara anak pertama masih disusui, dengan demikian
setiap betina dapat melahirkan 2 3 generasi anak dengan selisih umur diantara
generasi sekitar sebulan. Masa menyusui berlansung 3 - 4 minggu dan kemudian disapih
setelah anak berumur satu bulan dan anak tikus menjadi dewasa.
Dinamika populasi tikus didaerah endemis, populasi sangat erat kaitannya
dengan situasi stadia tanaman sebagai pakan utamanya. Dengan pola tanam teratur dan
serentak populasi tikus mudah dipantau sedangkan apabila tidak teratur perkembangan
populasi tikus akan lebih cepat. Menurut Rochman et al. (1982) tersedianya padi
bermalai merupakan paduan bagi terjadinya peningkatan populasi tikus. Pada awalnya
pertanaman musim hujan populasi tikus jumlahnya sedikit karena sawah bera
sebelumnya yang relative lama. Pada saat itu tikus berdomisili di tanggul irigasi primer,
sekitar pekarangan, gudang atau tegalan dan tepi rawa.
Ruang gerak setiap hari tikus menempuh perjalanan secara teratur untuk
mencari pakan, pasangan, sekaligus orientasi kawasan sekitarnya .Perjalanan harian
tersebut menempuh jalan yang sama hingga terbentuk lintasan tetap (run ways). Rentang
lintasannya ditentukan oleh jarak pakan, tempat bersembunyi atau lubang. Dengan alat
Radio tracking jarak tersebut biasa diketahui.
Batas ruang kerak tikus apabila cukup tersedia makanan dan perlindungan,
biasanya tidak lebih dari 50 m, tetapi apabila makanan tidak cukup maka tikus akan
mengembara dan dapat mencapai jarak 700 m (Rochman dan Sukarna, 1991).
Habitat agrosistem tanaman pangan merupakan habitat yang cocok bagi
perkembangan populasi tikus . Untuk mengendalikan tikus secara dini diperlukan
pelacakan terhadap tempat perlindungan yang disenanginya. Hasil pengamatan Rochman
1994, dapat dikemukakan bahwa selama priode sawah bera hingga padi bertunas (stadia
vegetatif) lubang tikus dengan hunian tertinggi berada tanggul irigasi, sedang pada waktu
padi saat bunting dan bermalai sebagian besar populasi tikus bermigrasi ke sawah. Pada
periode tersebut tikus betina menggunakan lubang dipematang sebagai tempat
memelihara anaknya.
Tikus aktif pada malam hari (nocturnal), dan pada siang hari mereka berlindung
di dalam lubang atau semak. Tempat tinggal tikus biasanya dipilih habitat yang cukup
memberikan perlindungan dan aman terhadap predator, makanan tersedia dan dekat
sumber air. Lubang tikus berfungsi sebagai tempat berlindung, memelihara anak dan
anggota kelompok. Sejalan dengan bertambahnya anggota kelompok, maka jaringan
lubang akan semakin luas. Tikus membuat jalan keluar yang ujungnya masih tertutup
oleh rumput-rumputan, yang tebalnya berkisar 1 2 cm, jalan keluar tersebut dibuka
pada keadaan darurat. Lubang tikus mampu membuat sarang dengan kedalaman antara
30 150 cm dan panjangnya dapat mencapai 10 m dengan diameter 10 cm (Rochman
dan Sukarna, 1986). Tikus akan meninggalkan lubangnya apabila kekurangan makanan

Syamsuddin:TingkahLakuTikusdanPengendaliannya
181

atau banjir, dan mengembara kedaerah di sekitar sawah seperti tanggul irigasi,
pekarangan gudang, kebun, semak belukar,atau permukaan tanah yang agak tinggi.
Tikus termasuk binatang omnivore, supaya mempunyai variasi makanan yang
luas seperti padi, ubi-ubian, kacang-kacangan, berbagai jenis rumput, teki, serangga,
siput dan ikan kecil. Sebagai binatang pemakan segala (omnivora) maka tikus mampu
memamfaatkan berbagai makanan yang tersedia, sehingga tikus dapat lebih mudah dan
cepat beradaptasi dalam lingkungan, serta selektif dalam memilih makanan apabila
makanan banyak tersedia.
Kemampuan tikus menghabiskan beras dan ubi jalar masing-masing sekitar 10-
23,6 gr/hari. Sedangkan ubi kayu, jagung pipil, kacang tanah dan ikan asin dapat
dihabiskan masing masing 20,6, 8,2, 7,2 dan 4,2 gr/hari. Menurut Rochman dan
Suwalan (1993) apabila beberapa jenis makanan yang disiapkan pada saat bersamaan
maka beras merupakan pilihan utama karena paling banyak dimakan.
Kebutuhan pakan kering bagi seekor tikus setiap harinya kurang lebih 10 % dari
bobot tubuhnya, akan tetapi jika pakan tersebut berupa pakan basah dapat ditingkatkan
sampai 15 % dari bobot tubuhnya. Sedangkan kebutuhan minum seekor tikus setiap
harinya sekitar 15 30 ml air. Jumlah ini dapat berkurang jika pakan dikomsumsi
sudah mengandung banyak air.
Proses mengenali dan mengambil pakan yang diumpan oleh manusia, tikus tidak
lansung makan seluruhnya, tetapi terlebih dahulu dicicipi untuk merasakan reaksi yang
terjadi didalam tubuhnya. Jika beberapa saat tidak terjadi reaksi yang membahayakan
bagi tubuhnya, maka tikus akan memakan sampai pakan tersebut habis. Perilaku makan
seperti ini, maka pengendalian tikus secara kimiawi dapat dilakunan dengan
memberikan umpan pendahuluan yang tidak mengandung racun, kemudian diganti
dengan menggunakan umpan yang mengandung racun akut (racun yang bekerja cepat).
Hal ini bertujuan agar tikus sudah terbiasa dengan umpan yang diberikan sehingga pada
saat diberi umpan yang mengandung racun akut tikus tersebut langsung memakannya
dalam jumlah yang cukup banyak sampai pada dosis yang mematikan. Umpan
pendahuluan tersebut tidak perlu diberikan jika jenis racun yang digunakan adalah
racun kronis atau antikoagulan yang bekerja lambat.
Sifat tikus yang mudah curiga terhadap setiap benda yang ditemuinya, termasuk
pakannya, disebut dengan neophobia, dan sifat tikus yang enggan memakan umpan
beracun yang diberikan karena tidak melalui umpan pendahuluan disebut dengan jera
umpan. Tikus muda selalu dijumpai berkelompok dalam satu lubang, namun setelah
dewasa hanya dijumpai satu ekor tikus dalam satu lubang. Jarang sekali terdapat satu
pasang tikus dalam satu lubang, hanya pada musim kawin tikus tinggal berpasangan
dalam satu lubang. Akan tetapi hal ini jarang ditemukan dan bilamana ditemukan
bersama dalam satu lubang terjadi sangat singkat. Masa aktif pada tikus jantan
berlansung cukup lama, (kurang lebih 3 bulan) atau sejak fase generatif sampai panen,
sehingga tikus jantan yang berpisah dengan pasangannya berpeluang mencari pasangan
lain. Perilaku tikus yang demikian perlu diteliti, walaupun sebagian pakar berpendapat
bahwa tikus semasa hidupnya mempunyai pasangan hidup yang tetap. Tikus adalah
salah satu hewan pengerat yang sangat bermasalah, bukan saja sebagai perusak
tanaman tetapi juga dapat merusak bangunan, lingkungan dengan pencemaran dan
dapat bertindak sebagai vector penyakit manusia.

B. Cara Pengendaliannya
1. Pola tanam
Tanam serempak dan diupayakan keserentakan pada saat bunting dan bermalai
padi pada areal meliputi satu WKPP (200 ha) dengan selisih waktu tanam antar
hamparan kurang dari satu bulan.

Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XVIII Komda Sul-Sel, 2007
182
2. Sanitasi
Membersihkan lingkungan dan rerumputan, semak-semak dan tempat
persembunyian tikus.

3. Mekanis
Membongkar liang, mengguyur liang dengan air, membunuh dengan gropyokan,
pengemposan (asap blerang) dan tanaman perangkap/TBS. Pengemposan lubang tikus
yang aktif dianjurkan untuk dilakukan selama masa reproduksi pada tanaman, yaitu
pada saat umpan beracun menjadi tidak efektif. Akan tetapi harus dihentikan bahwa
pada tingkat ini tikus pada umumnya tidak lagi hidup dilubang karena tanaman yang
mulai dewasa menyediakan tempat berlindung memadai. Oleh karena itu pengemposan
sarang ikus hanya berpengaruh sebahagian saja karena hanya tikus yang masih tinggal
disarangnya saja mati. Tikus betina dengan anak biasanya lebih menyukai lubang
sebagai tempat bersarang. Pengemposan tidak hanya akan membunuh tikus dewasa
tetapi juga anak-anak tikus.
Cara kerja membuat TBS (Traf Barrier System ) adalah (Gambar 1 ).




















1. Bubu perangkap
Bubu perangkap berukuran 25 cm x 25 cm x 25 cm terbuat dari ram kawat
dengan diameter 1 cm dan dibentuk dengan rangka penguat dari kawat berdiameter 0,3
cm. Pada sisi depan bagian bawah terdapat lubang masuk kedalam berukuran 10 cm x
10 cm dengan sistem bubu (corong) masuk kedalam perangkap. Sitem bubu perangkap
menyebabkan tikus yang telah masuk perangkap tidak dapat keluar lagi. Perangkap juga
dilengkapi pintu berukuran 10 cm x 10 cm untuk mengambil tikus dari dalam
perangkap. Pintu dilengkapi dengan pintu pengait. Pegangan terletak di bagian atas
untuk memudahkan pemindahan.

2. Pagar Plastik
Plastik untuk pagar dapat digunakan dari jenis plastik tipis transparan atau
plastik tebal berwarna gelap. Plastik tipis hanya dapat dipakai dalam satu musim tanam,
sedangkan plastik tebal dapat bertahan lebih dari tiga tahun. Tinggi pagar plastik 60 cm
dengan panjang sesuai dengan kebutuhan. Pagar plastik ditegakkan dengan ajir bambu
lebar 3-4 cm dengan bantuan tali atau dibuat jahitan kantong pada pagar plastik untuk

Syamsuddin:TingkahLakuTikusdanPengendaliannya
183

tempat ajir bambu. Ajir dipasang setiap jarak 1 m dengan menempel pada bagian dalam
pagar plastik agar tikus tidak dapat memanjat melalui ajir bambu. Pada setiap jarak 2 m
pada pagar plastik dibuat lubang berukuran 10 cm x 10 cm untuk masuk tikus. Pagar
plastik bagian bawah dibenamkan kedalam tanah 5 cm dan digenangi air agar tikus tidak
melubangi pagar atau membuat lubang dibawah pagar plastik. Bubu perangkap dipasang
pada tiap lubang masuk di dalam pagar, sedangkan di depan lubang pintu masuk
dibuatkan jalan dari tanah yang tingginya untuk memudahkan tikus masuk kedalam
perangkap.

3. Tanaman perangkap
Agar system bubu perangkap dapat menarik tikus dari sekitarnya, maka didalam
pagar ditanam tanaman perangkap. Pada perinsipnya tikus lebih tertarik pada padi yang
sedang bunting atau matang susu lebih dahulu ditanam diantara padi di sekitarnya
(early crop). Oleh karena itu tanaman perangkap ditanam 3 minggu lebih awal dari
tanaman sekitarnya. Tanaman perangkap tetap akan menghasilkan padi secara normal
karena tidak mengalami kerusakan oleh tikus ( terlindung oleh system pagar perangkap).
Tiga komponen tersebut membentuk system bubu perangkap yang dapat
diterapkan di lapangan dari pesemaian hingga padi bera. Ukuran petak perangkap dapat
bervariasi tergantung kebutuhan dan kondisi lapangan. Petak pagar perangkap dapat
dibuat berukuran 25 m x 25 m, atau 30 m x 30 m. Pemasangannya dapat dilaksanakan
hanya selama 1 musim tanam saja atau secara permanen sepanjang tahun. Penetapan
system bubu perangkap sebaiknya berdasarkan pada hasil pengamatan dimana daerah
tersebut merupakan daerah kronis dan dekat dengan habitat/sarang tikus. Penentuan
lokasi agar dimusyawarakan pada setiap kelompok tani. Berdasarkan hasil penelitian
petak tanaman perangkap berukuran 30 m x 30 m dapat melindungi tanaman padi dari
serangan tikus seluas 40 ha disekelilingnya (halo effect). Bubu perangkap juga dapat
diterapkan dengan system baris ( line trap barrier system = LTBS ).
Penerapannya dengan cara membentangkan pagar plastik dengan bubu
perangkap dipasang berselang seling sehingga tikus dari dua arah dapat tertangkap.
Pemasangan sebaiknya dilakukan pada daerah terdekat dengan habitat/sarang tikus.

4. Zat kimia
Jika tingkat populasi tikus menjadi tinggi diluar batas toleransi selama fase
vegetatif, metode pengendalian dengan rodentisida adalah satu satunya jalan yang effektif
untuk mengurangi populasi tikus hingga ketingkat kerusakan minimum. Berdasarkan
cara kerjanya racun tikus dapat dibagi dua kelompok yakni :
Racun akut adalah Racun cepat bereaksi memiliki pengaruh yang cepat terhadap
tikus setelah memakannya. Sebelum menggunakan racun akut, penting untuk
diketahui bahwa tikus adalah binatang yang sangat mudah curiga. Mereka tidak akan
segera makan suatu sumber makanan yang baru dalam jumlah besar, tetapi terlebih
dahulu mencoba dalam jumlah kecil. Dengan rodentisida akut, gejala gejala
keracunan timbul begitu cepat sehingga tikus mungkin berhenti memakan umpan
sebelum dosis mematikan terkonsumsi. Tikus dengan segera menghubungkan gejala
gejala yang tidak menyenangkan tersebut dengan bahan makanan yang baru mereka
konsumsi. Inilah yang disebut tikus jera yang sering berlangsung terus selama
hidup mereka. Bahkan tikus yang tidak makan umpan beracun akan menjauhdari
tempat umpan oleh karena teriakan temanteman mereka yang keracunan. Jika kita
ingin tikus makan umpan beracun dalam jumlah besar sekaligus, kita harus
membuat mereka terbiasa makan umpan tanpa racun terlebih dahulu. Racun akut
yang paling dikenal di Indonesia adalah Zink phosphide.
Racun kronis, adalah Racun yang bereaksi lambat, tikus merasakan pengaruhnya
setelah beberapa hari, dibutuhkan waktu antara 5 sampai 7 hari sebelum tikus mati.
Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XVIII Komda Sul-Sel, 2007
184
Seluruh racun kronis yang tersedia di Indonesia adalah antikoagulan. Racun ini
membuat darah menjadi berkurang kekentalannya dan semakin lama semakin encer
sehingga pada akhirnya tikus akan mati karena pendarahan didalam tubuhnya.
Antikoagulan tidak menyebabkan rasa sakit terhadap tikus beberapa hari setelah
makan umpan beracun mereka akan menjadi lelah dan lesu dan tidak akan
meninggalkan lubang mereka lagi akhirnya mati dengan tenang. Tikus lain tidak
mendapat peringatan dan akan terus memakan umpan beracun. Antikoagulan tidak
membutuhkan pengumpanan awal dan tidak menyebabkan tikus jera seperti halnya
racun akut.
Ada dua jenis antikoagulan yaitu : antikoagulan dosis tunggal dan antikoagulan dosis
ganda. Antikoagulan dosis tunggal lebih beracun dan biasanya setelah makan satu
kali, tikus telah mengkonsumsi racun dalam jumlah yang cukup untuk
membunuhnya beberapa hari kemudian. Sedang antikoagulan dosis ganda selama
beberapa hari berturut-turut makan sehingga tertimbun cukup racun didalam tubuh
tikus untuk mebunuhnya( pengumpanan jenuh).

5. Biologis
Musuh alami tikus yang paling dikenal adalah kucing, anjing, ular, dan burung
hantu. Predator ini sangat membantu usaha menjaga tetap rendahnya tingkat populasi
tikus. Sayangnya predator berkembang biak jauh lebih lambat dibandingkan tikus. Oleh
karena itu mereka tidak dapat mengurangi populasi tikus yang tinggi dalam jumlah
besar. Pertama tama petani harus mengurangi jumlah tikus hingga ke tingkat yang
dapat diterima dengan menggunakan pendekatan pengendalian terpadu seperti yang
dijelaskan diatas, predator akan membantu petani menjaga populasi tikus agar tetap
rendah. Predator juga mungkin memakan tikus yang keracunan, oleh karena itu
diperlukan perhatian besar untuk memusnahkan bangkai tikus dari sawah sesudah tiap
pengumpanan guna menghindari keracunan pada predator dan hewan pemakan bangkai.


KESIMPULAN
Tikus seperti hewan lainnya yang memiliki kemampuan indera yang sangat tajam
menunjang setiap aktivitas kehidupannya.Diantara kelima organ inderanya, hanya indera
penglihatan yang berkembang kurang baik, tetapi kekurangan ini ditutupi oleh keempat
indera lainnya yang berkembang sangat baik Tikus mempunyai keterampilan dalam segi
kelincahan bergerak, mencari makan pasangan dan perlindungan untuk melepaskan
dirinya dari bahaya musuh alaminya. Keterampilan tersebut dimungkinkan oleh adanya
indera yang sangat terlatih, alat penciuman, peraba pendengaran, dan perasa/pengecap.
Pengendalian hama tikus tidak dapat dilakukan hanya oleh sebagian petani.
Pengendaliannya harus terorganisasi secara baik dalam wilayah yang luas. Tanpa
organisasi pengendalian yang baik, maka teknologi yang efektif tidak akan berhasil
menekan populasi hama tikus. Sanitasi dan waktu tanam serentak adalah komponen
pengendalian yang harus dilakukan oleh semua petani. Namun dalam mengatur setiap
komponen pengendalian diperlukan adanya keterlibatan pengambil kebijakan yang
bersama dengan penanggung jawab tehnis agar pengendalian dapat diorganisasi secara
baik.







Syamsuddin:TingkahLakuTikusdanPengendaliannya
185

DAFTAR PUSTAKA
Boeadi, 1980. Invetarisasi R. rattus argentiventer dan studi perkembang-biakannya di
Pamanukan, Subang dan Randudongkal Pemalang. Lokakarya Pengendalian
Hama Terpadu. Yokyakarta : 42 hal.
Brook, J.E. and F.P.Rowe, 1979. Commensal Rodent Control Mimmeograph
WHO/VBC/79.726:109 hal.
Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, 1986. Tikus sawah dan Pengendaliannya
pada Tanaman Pangan Seminar Penggunaan Klerat RMB dalam Pengendalian
Tikus dan ICI Pestisida Indonesia.
Ismail, G.I.Basa, Soetjipto Ph, TJ. 1990. Tinjauan Hasil Penelitian Usaha Lahan Pasang
Surut di Sumatera Selatan. Usahatani dilahan Pasang surut dan Rawa. Badan
Litbang Pertanian : 1-29.
Ismail. G.I, T.Alihamsyah IPG Wijaya A, Suwaarno, Tati.H, R.Thahir, dan
D.E.Sianturi,.1993. Sewindu penelitian Pertanian dilahan Rawa ( 1985 1993).
Badan Litbang Pertanian : 128 hal.
Manwan. I, I.G. Ismail, T. Alihamsyah dan S. Soetjipto. 1992. Teknologi untuk
pengembangan pertanian lahan rawa pasang surut. Prosiding Pertemuan Nasional
Pengembangan Pertanian Lahan Rawa Pasang Surut dan Lebak. Cisarua 3-4
Maret 1992.
Rochman, Dandi, S. dan Suwalan. 1982. Pola perkembangbiakan tikus sawah Rattus
argentiventerpada daerah berpola tanam padi- padi di Subang. Penelitian
Pertanian 3(2):77-80.
Rochman dan Suwalan.1991. Pola sebaran umpan dalam pengendalian tikus, Seminar
Hasil Penelitian Tanaman Pangan. Balittan Bogor vol. 2:203-245.
Rochman dan Suwalan S. 1993. Pengendalian hama utama tanaman pangan pada usaha
tani didaerah pasang surut Karang Agung Ulu, Sumatera Selatan. Reviw Hasil
Penelitian Proyek SWAMPS II Bogor 19- 20 Pebruari 1993.
Rochman. 1994. Pola perpindahan populasi tikus sawah di pamanukan MT 1992/1993.
Seminar Hasil Penelitian Tanaman Pangan Bogor : 17 hal
Sukarna, D. Rochman, Mukelar, Juhani, Sutrisna, dan Solihin. 1986. Masalah hama
dan penyakit serta pengendaliannya di lahan pasang surut. Risalah lokakarya
Pola Usahatani , Badan litbang Pertanian : 205 218
Sama S. dan Rochman. 1988. Penerapan komponen dalam pengendalian tikus pada
tanaman padi simposium penelitian tanaman pangan II. Bogor. 21 hal.
Van Vreden, G. dan Rochman. 1990. Rat damage of vegetable in the berebes area, Central
Java. Report on a preliminary survey desember 19 21 , 1989 . Internal
Communication LEHTI/ATA 395 No. 15:12 hal